USULAN PERANCANGAN SISTEM PENERANGAN
PADA NEW LINE 2B ASSEMBLING UNIT
PT ASTRA HONDA MOTOR
Frans Dory
1; Budi Aribowo
2ABSTRACT
One of important factor to design line assembling is by designing lightning system design and the system will effect on the quality of the operator performance. Therefor, it need to design a lightning that will be used in new line 2B assembling unit of Astra Honda Motor company.
Keywords: design, lighting system, company
ABSTRAK
Salah satu unsur penting untuk merancang line assembling, adalah perancangan sistem penerangan. Sistem penerangan akan berpengaruh tehadap kualitas kerja operator. Untuk itu, perlu dirancang suatu sistem penerangan yang akan digunakan di new line 2B assembling unit PT Astra Honda Motor.
Kata kunci: perancangan, sistem penerangan, perusahaan
1
Sarjana Teknik, Jurusan Teknik Industri, Ubinus, Jakarta 2
PENDAHULUAN
PT Astra Honda Motor merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perakitan komponen mesin dan rangka yang bermerk “Honda” yang pada saat ini merupakan perusahaan dengan jumlah produksi terbesar di Indonesia. Pada saat ini, PT Astra Honda Motor mengutamakan kualitas dalam setiap produk yang dihasilkannya. Untuk mendukung hal itu, di Pegangsaan Plant direncanakan akan diadakan relayout line 2B assembling unit unit pada tahun 2007.
Salah satu unsur penting untuk merancang line assembling, yaitu desain sistem penerangan dan sistem penerangan akan berpengaruh tehadap kualitas kerja operator. Untuk itu, perlu dirancang suatu sistem penerangan yang akan digunakan di new line 2B assembling unit PT Astra Honda Motor.
PEMBAHASAN
Pemberian Nama/Identifikasi
Pemberian nama atau simbol berfungsi untuk mempermudah dalam perhitungan yang akan dilakukan. Untuk arah penyebaran intensitas cahaya armatur Pacific II- TCW097, akan diberi nama arah penyebaran intensitas cahaya bidang X dan Y (lihat Gambar 1).
Gambar 1 Arah Penyebaran Intensitas Cahaya Armatur Pacific II-TCW097
Arah X
Titik Cahaya yang berada di sepanjang area Conveyor pada deret pertama diberi nama A dan deret kedua diberi nama B. Untuk armatur yang berada di setiap deret berjumlah 30 unit diberi nama 1 sampai dengan 30. Contoh penamaan titik cahaya dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Arah Penyebaran Intensitas Cahaya Sepanjang Area Conveyor dengan Arah X dan Y
Bidang kerja yang akan dihitung intensitas penerangannya berada di bawah armatur dengan nama digit pertama E, digit kedua sesuai dengan posisi armatur (1-30), dan digit ketiga deret (A/B). Contoh penamaan titik pada bidang kerja dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4.
Gambar 3 Posisi titik Intenstitas Penerangan (E) yang akan Dihitung pada Bidang X
Arah penyebaran intensitas cahaya arah X
Arah penyebaran intensitas cahaya arah Y
Gambar 4 Posisi Titik Intenstitas Penerangan (E) yang Akan Dihitung pada Bidang Y
Menghitung Intensitas Penerangan
Menghitung Intensitas penerangan (E) disepanjang new line assembling unit 2B dilakukan untuk membuktikan intenstitas penerangan tersebar secara merata. Langkah pertama yang diambil adalah menghitung intensitas penerangan yang jatuh pada bidang datar. Penyebaran intensitas cahaya lampu 1A pada bidang X sama dengan penyebaran cahaya lampu 1B.
Gambar 5 Penyebaran Intensitas Cahaya Lampu 1A pada bidang X
Armatur 1A memancarkan intensitas penerangan ke titik E1A, E2A, E3A. intensitas penerangan yang didapat pada titik E1A dari armatur 1A dengan r = 2.2m (Gambar 5) dapat dihitung dengan dengan rumus berikut.
Pada titik E1A sudut a = 0°, dalam grafik pada sudut 0° intensitas cahaya yang didapat adalah 150 cd/lumen (lihat Gambar 6).
E
=
r
2I
Cos a lux
Bidang X (garis putus-putus) Sudut 0° = 150 cd/1000lumen Gambar 6 Diagram Polaritas pada Sudut 0°
Armatur Pacific II – TCW097 menghasilkan 6500 lumen/armatur jadi:
Intensitas Penerangan yang didapat pada titik E1A dari penerangan armatur 1A adalah 201.45 lux. Untuk Intensitas penerangan pada titik E2A dari armatur 1A dengan r = 3.06m (lihat Gambar 6) dan dengan hukum cosinus sebagai berikut.
I
=
1000 cd
150 cd
x 6500 lumen
I
=
975 cd
E
=
r
2I
Cos a lux
E
=
(2.2)
2975
Cos 0 lux
E
= 201.45 lux
Cos a
=
r
h
Cos a
=
3.06
2.2
Cos a
= 0.719
a
= 44.03°
Pada titik E2A sudut a = 44.03°, dalam grafik pada sudut 44.03° intensitas cahaya yang didapat adalah 145 cd/lumen (lihat Gambar 7).
Intensitas Penerangan yang didapat pada titik E2A dari penerangan armatur 1A adalah 72.4 lux. Begitu pula perhitungan titik yang lain dilakukan dengan cara yang sama dan diringkas berdasarkan tabel berikut.
Bidang X (garis putus-putus) Sudut 44.03° = 145 cd/1000lumen Gambar 7 Diagram Polaritas pada Sudut 44.03°
I
=
1000 cd
145 cd
x 6500 lumen
I
= 942.5 cd
E
=
r
2I
Cos a lux
E
=
(3.06)
2942.
5
Cos 44.03 lux
E
= 72.4 lux
Tabel 1 Intensitas Penerangan Sepanjang Bidang X
Posisi
titik E Distribusi Intensitas penerangan (E) dari Armatur
Total E
(lux)
E1A
Posisi Armatur (gambar
4.18) 1A 2A 3A 1B
E dari armatur (lux) 201.45 72.4 15.62 0 168.09 457.56
E2A
Posisi Armatur (gambar
4.19) 1A 2A 3A 4A 2B
E dari armatur (lux) 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 529.96
E3A
Posisi Armatur (gambar
4.20) 1A 2A 3A 4A 5A 3B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
E4A Posisi Armatur 2A 3A 4A 5A 6A 4B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
E5A Posisi Armatur 3A 4A 5A 6A 7A 5B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
E6A Posisi Armatur 4A 5A 6A 7A 8A 6B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
E7A Posisi Armatur 5A 6A 7A 8A 9A 7B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
E8A Posisi Armatur ( 6A 7A 8A 9A 10A 8B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
E9A Posisi Armatur 7A 8A 9A 10A 11A 9B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
E10A Posisi Armatur 8A 9A 10A 11A 12A 10B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
E11A Posisi Armatur 9A 10A 11A 12A 13A 11B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
E12A Posisi Armatur 10A 11A 12A 13A 14A 12B
E dari armatur (lux) 15.62 72.4 201.45 72.4 15.62 168.09 545.58
Dari tabel hasil perhitungan total intensitas cahaya pada bidang kerja E1A, E1B, E30A, dan E30B adalah 457.56 lux yang berasal dari 4 unit armatur yang dapat dihitung. Untuk total intensitas cahaya pada bidang kerja E2A, E2B, E29A, dan E29B adalah 529.96 lux yang berasal dari 5 armatur yang dapat dihitung. Untuk bidang kerja E3A-E28A, dan E3B-E28B, intensitas penerangan totalnya adalah 545.58 lux yang berasal dari 6 armatur yang dapat dihitung. Dari Tabel perhitungan menunjukan bahwa desain penerangan telah sesuai dengan intensitas penerangan yang diinginkan untuk penerangan yang baik yaitu sekitar 500 lux.
PENUTUP
Berdasarkan pengolahan data dan analisis, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut.
1. Intensitas penerangan yang dibutuhkan di new line 2B assembling unit adalah intensitas penerangan untuk industri dengan jenis pekerjaan biasa sekitar 500 lux. 2. Jenis armatur dan yang digunakan adalah armatur Pacific II – TCW097 dan lampu
yang digunakan adalah lampu TL’D 36 W.
3. Jumlah Armatur yang dibutuhkan untuk penerangan new line 2B assembling unit adalah 60 unit armatur dan jumlah lampu TL’d 36 W sebanyak 120 pcs. Periode pengantian/depresiasi setiap 2 tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
_______. 2005. Waterproof Luminare TCW097 Pacific II. www.philips.com.
Nurmianto, Eko. 2004. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasi. Edisi Kedua. Surabaya: Guna Widya.
Rusmadi, Dedy. 2001. Belajar Instalasi Listrik. Bandung: Pionir Jaya.
Van Harten. 2002. Instalasi Listrik Arus Kuat 2. Jakarta: Trimitra Mandiri. Edisi Keempat.