• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESISTENSI BAKTERI PENAMBAT NITROGEN NON- SIMBIOTIK TERHADAP LOGAM Fe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RESISTENSI BAKTERI PENAMBAT NITROGEN NON- SIMBIOTIK TERHADAP LOGAM Fe"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1

RESISTENSI BAKTERI PENAMBAT NITROGEN

NON-SIMBIOTIK TERHADAP LOGAM Fe

Alifatita Ayundani1), Dr. Tetty Marta Linda, M.Si2) 1)Mahasiswa Program Studi S1 Biologi 2)Dosen Bidang Mikrobiologi Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau Kampus Bina Widya Pekanbaru. 28293, Indonesia.

[email protected]

ABSTRACT

Free-living nitrogen fixing bacteria is a group of bacteria that can fix nitrogen from the atmosphere and change it into ammonium without the help of other organisms. These bacteria have been known to be resistance to various metals. Iron (Fe) is a micro-nutrient needed by plants for their growth and development. However, the high level of iron can lead to toxicity to others living things. This research aimed to know the resistance of these bacteria to iron so they could be used as bioremediation and biofertilizer agent. Thirteen free-living nitrogen fixing bacteria were NR 10, NR 12, NR 15, NR 18, NR 19, NR 22, NR 24, NR 27, NR 28, NR 30, NR 31, R 41 and R 47. Each bacteria was grown on

Nitrogen Free Bromothymolblue (NFB) medium with various iron concentrations

(200, 300, 400, 500, 700, 900 and 1000 ppm). The growth of these bacteria was analyzed descriptively by observing their colony growth on streak quadrant line and the color-change of the medium. Three bacterial isolates that grew well in 1000 ppm concentration were NR 27, NR 28, and NR 31.

(2)

2 ABSTRAK

Bakteri fiksasi nitrogen non-simbiotik merupakan kelompok bakteri yang yang mampu mengikat nitrogen bebas di atmosfer dan mampu mengubahnya menjadi ammonium tanpa bergantung organisme lain dan diketahui mampu resisten terhadap beberapa jenis logam. Logam Fe merupakan unsur hara mikro yang dibutuhkan oleh pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kadar Fe yang terlalu tinggi ditanah dapat menyebabkan toksisitas bagi makhluk hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi bakteri penambat nitrogen terhadap logam Fe sehingga dapat dimanfaatkan sebagai agen bioremediasi sekaligus biofertilizer. Tiga belas bakteri penambat nitrogen non-simbiotik yaitu isolat NR 10, NR 12, NR 15, NR 18, NR 19, NR 22, NR 24, NR 27, NR 28, NR 30, NR 31, R 41 dan R 47. Setiap isolat ditumbuhkan pada media Nitrogen Free

Bromothymolblue (NFB) dengan konsentrasi 200, 300, 400, 500, 700, 900 dan

1000 ppm. Pertumbuhan isolat pada media dianalisis secara deskriptif dengan melihat pertumbuhan koloni pada garis streak kuadran serta perubahan warna media yang terjadi. Tiga isolat yang memiliki kemampuan tumbuh paling baik pada konsentrasi 1000 ppm adalah isolat NR 27, NR 28, dan NR 31.

(3)

3 PENDAHULUAN

Besi (Fe) merupakan salah satu unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman dalam melangsungkan

proses metabolisme seperti

fotosintesis, respirasi serta sebagai penyusun utama protein sel (Mehraban et al. 2008). Toksisitas besi terjadi jika tanah berada dalam keadaan tergenang dalam waktu lama sehingga menyebabkan penurunan potensial redoks dari Fe3+ menjadi Fe2+ yang dapat larut dalam air. Kadar ferro (Fe2+) dalam tanah yang

tinggi dapat mengganggu

pertumbuhan tanaman berupa

terhambatnya pertumbuhan akar, perubahan warna daun, penurunan tinggi tanaman, luas daun, kandungan klorofil, serta penurunan biomassa tanaman (Effendi et al. 2015). Parulian (2009) menyatakan kadar besi yang tinggi akan menyebabkan rasa mual jika dikonsumsi, menimbulkan iritasi mata dan kulit, merusak dinding usus

halus dan bahkan dapat

menyebabkan kematian.

Standar pemerintah melalui

PERMENKES No.

416/MENKES/PER/IX/1990

mengenai baku mutu air bersih

dengan kadar maksimum Fe sebesar 1 mg/L. Menurut Peraturan Menteri

Lingkungan Hidup Republik

Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah, baku mutu logam Fe terlarut yakni sebesar 7 mg/L.

Mekanisme penanganan pada lingkungan yang tercemar logam dapat dilakukan secara fisika, kimia dan biologi. Remediasi logam secara fisika dan kimia akan menghasilkan pemulihan lingkungan dengan cepat, namun hal ini akan membutuhkan biaya yang besar, tidak ramah lingkungan dan menghasilkan polutan baru (Mahar et al. 2016). Pemulihan lingkungan secara biologi dapat dilakukan dengan teknik bioremediasi. Singh et al. (2011) menyatakan bahwa bioremediasi merupakan proses penguraian polutan yang berasal dari limbah organik maupun anorganik dengan menggunakan makluk hidup seperti bakteri, fungi, tanaman atau enzimnya dalam pengendalian lingkungan yang tercemar sehingga menjadi suatu bahan yang tidak berbahaya atau konsentrasinya dibawah ambang batas. Hardiani et

(4)

4

keuntungan pengunaan teknik bioremediasi diantaranya yakni biayanya yang murah, ramah lingkungan dan pengendalian pencemaran juga dilakukan secara

in-situ di lingkungan yang tercemar.

Beberapa isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik yang diisolasi dari rhizosfer dan non rhizosfer tanaman kemangi mampu tumbuh baik pada medium Nfb+Pb hingga konsentrasi 600 ppm (Ulfa 2016). Mekanisme adaptasi mikroba pada lingkungan tercemar logam dapat dilakukan dengan berbagai

cara diantaranya dengan

memanfatkan logam tersebut

menjadi sumber energi,

mempresipitasi logam tersebut menjadi bentuk garam-logam yang tidak larut, memproduksi agen pengkelat, mengimobilisasi logam ke dalam dinding sel, mereduksi logam menjadi bentuk tidak toksik atau mengubah permeabilitas membran sel mikroba terhadap logam (Figuera

et al. 2005). Mikroba juga dapat

melangsungkan proses metilasi, reaksi reduksi-oksidasi, merubah pH tanah serta melepaskan agen chelator berupa siderophore dan asam organik (Ma et al. 2011). Mikroba dapat

meningkatkan mobilisasi logam dengan mengubah logam menjadi bentuk yang mudah larut dan dapat diserap dalam siklus biogeokimia. Siklus biogeokimia yang terjadi meliputi imobilisasi, khelasi,

translokasi, transformasi,

solubilisasi, penguapan, dan kompleksasi logam. Bakteri akan mensekresikan siderophore, asam organik, zat polimer, biosurfaktan dan glikoprotein dalam menangani lingkungan dengan kadar logam tinggi (Rajkumar et al. 2012).

Laboratorium Mikrobiologi Universitas Riau memiliki 13 isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik yang berasal dari rhizosfer dan non rhizosfer tanaman kemangi yang telah diketahui toleran terhadap logam timbal (Pb) hingga konsentrasi 600 ppm (Ulfa 2016). Hal tersebut mendasari peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi bakteri tersebut dan toleransinya terhadap logam Fe

sehingga kedepannya dapat

dimanfaatkan untuk mengatasi masalah lingkungan yang tercemar logam Fe.

(5)

5 METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2019 hingga Februari 2020 yang bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau.

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain autoklaf,

shaker incubator, oven sterilisasi, microwave, neraca analitik, hotplate,

labu ukur, gelas beaker, erlenmeyer, gelas ukur, bunsen, cawan petri, pH meter, pipet volume, jarum ose, spatula, sprayer, aluminium foil, pemantik api, log book, kertas label, alat tulis dan alat dokumentasi.

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain tiga belas isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik yaitu isolat NR 10, NR 12, NR 15, NR 18, NR 19, NR 22, NR 24, NR 27, NR 28, NR 30, NR 31, R 41 dan R 47, medium Nutrient Agar (NA),

medium Nitrogen Free

Bromothymolblue (Nfb), media

Nutrient Broth (NB), logam FeCl3, akuades, alkohol 70 % dan spiritus.

Pembuatan Larutan Stok Fe

Logam FeCl3.6H2O sebanyak 2.41 gram ditimbang menggunakan neraca analitik dan dimasukkan ke dalam labu ukur 500 ml. Akuades selanjutnya ditambahkan hingga tanda batas. Larutan yang terbentuk merupakan larutan induk dengan konsentrasi 1000 ppm (Febrianti 2017).

Pembuatan Medium

Medium NA dibuat dengan melarutkan bubuk NA sebanyak 28 gram dan dilarutkan ke dalam 1000 ml akuades. Larutan kemudian

diaduk hingga homogen dan

dipanaskan hingga mendidih

menggunakan microwave.

Selanjutnya, medium disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit dengan tekanan 15 psi.

Medium NB dibuat dengan melarutkan bubuk NB sebanyak 8 gram dan dilarutkan ke dalam 1000 ml akuades. Medium kemudian

diaduk hingga homogen dan

dipanaskan dalam microwave hingga mendidih. Sterilisasi medium dilakukan menggunakan autoklaf

(6)

6

pada suhu 121ºC selama 15 menit dengan tekanan 15 psi.

Medium Nfb dibuat dengan melarutkan 0,5 gram KH2PO4; 0,1 gram MgSO4.7H2O; 0,01 gram MnSO4.H2O; 0,02 gram NaCl; 0,01 gram CaCl2.2H2O; 0,05 gram

FeSO4.7H2O; 0.002 gram

Na2MO4.2H2O; 5 gram DL-asam

malat; 4 gram KOH; 2 ml

Bromothymolblue dalam 1000 ml

akuades. Pembuatan media Nfb padat dibuat dengan menambahkan 15 gram agar pada media. Semua bahan dipanaskan hingga mendidih dan pH media diatur menjadi 6,8. Media disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit dengan tekanan 15 psi (Raffi dan Charyulu 2012).

Peremajaan Isolat

Setiap isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik yang tersimpan di dalam gliserol diambil sebanyak 100 µl menggunakan mikropipet. Selanjutnya, isolat diinokulasikan ke dalam 10 ml media NB dan diinkubasi ke dalam shaker

incubator selama 24 jam pada suhu

28ºC dengan kecepatan 150 rpm. Inokulum yang telah dibuat diambil sebanyak 1 ml kemudian dimasukkan

ke dalam media Nfb cair sebanyak 10 ml. Inokulum dalam Nfb cair ini diinkubasi ke dalam shaker incubator selama 7 hari pada suhu

28ºC dengan kecepatan 150 rpm hingga inokulum berubah warna dari hijau menjadi biru.

Inokulum yang telah berubah warna pada media Nfb cair selanjutnya diambil sebanyak 100 µl dan diinokulasikan secara spread

plate ke atas permukaan media Nfb

padat. Media kemudian diinkubasi selama 7 hari hingga koloni tampak. Koloni yang terbentuk selanjutnya diinokulasikan ke dalam media NA secara streak quadran. Koloni yang didapat selanjutnya diinokulasikan ke dalam NA miring untuk disimpan sebagai stok kultur.

Uji Kemampuan Tumbuh Isolat pada Medium Nfb Padat + Fe

Setiap isolat bakteri penambat nitrogen diinokulasikan ke dalam cawan petri yang berisi medium Nfb padat+Fe dengan variasi konsentrasi 200, 300, 400, 500, 700, 900 dan 1000 ppm secara streak quadran. Setiap isolat diinokulasi ke dalam medium sebanyak 3 kali ulangan. Seluruh isolat yang telah diinokulasi

(7)

7

kemudian diinkubasi selama 3 hari pada suhu ruang.

Pertumbuhan koloni setelah 3 hari inkubasi diamati dan diberi keterangan. Isolat tumbuh sangat subur dengan koloni tebal, koloni tumbuh hingga garis kuadran ketiga, media berubah menjadi berwarna biru diberi kode (+++). Isolat tumbuh subur dengan koloni yang tidak terlalu tebal, koloni tumbuh hingga garis kuadran kedua, media berubah menjadi berwarna biru diberi kode (++). Isolat tumbuh kurang subur dengan koloni tipis, koloni tumbuh hanya pada garis kuadran pertama, media tetap berwarna hijau kekuningan diberi kode (+). Jika koloni bakteri tidak tumbuh diberi kode (-).

Analisis Data

Data hasil pertumbuhan isolat bakteri fiksasi N non-simbiotik pada medium Nfb padat+Fe dianalisis secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tiga belas bakteri penambat nitrogen non-simbiotik diremajakan dengan mengambil sebanyak 0.1 ml stok kultur untuk diinokulasikan ke dalam media NB dengan tujuan

untuk memperbanyak kultur terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam media Nfb. Masing-masing inokulum

sebanyak 1 ml selanjutnya

diinokulasikan ke dalam media Nfb cair dan diinkubasi selama 7 hari pada shaker incubator hingga media Nfb yang semula berwarna hijau berubah menjadi biru. Mallombasi (2018) menyatakan media Nfb merupakan media selektif untuk menumbuhkan bakteri penambat nitrogen dimana pada media tersebut tidak mengandung unsur nitrogen sehingga bakteri yang dapat tumbuh merupakan bakteri yang dapat menambat nitrogen bebas diatmosfer.

Hidayat (2009) menambahkan

perubahan warna yang terjadi pada media Nfb yang semula berwarna hijau kekuningan menjadi biru menandakan adanya aktivitas bakteri dalam menambat nitrogen bebas di atmosfer. Kelompok bakteri ini akan mengikat nitrogen dan mengubahnya menjadi ammonium (NH4+) yang bersifat basa sehingga menyebabkan indikator bromothymol blue yang terdapat dalam media berubah menjadi biru. Inokulum yang telah berubah warna diinokulasikan secara

(8)

8

bertujuan untuk mendapatkan koloni tunggal dari isolat yang akan digunakan. Koloni tunggal yang

didapat kemudian dimurnikan pada media NA dengan cara streak

quadran.

Tabel 1. Uji Kemampuan Tumbuh Bakteri Penambat Nitrogen Non-Simbiotik

pada Medium Nfb Padat+Fe Setelah 3 Hari Inkubasi

NO Kode Isolat Konsentrasi Logam Fe (ppm) 200 300 400 500 700 900 1000 1 NR 10 ++ + - - - - - 2 NR 12 ++ + - - - - - 3 NR 15 +++ +++ +++ ++ ++ ++ + 4 NR 18 ++ ++ ++ ++ ++ ++ + 5 NR 19 ++ ++ ++ ++ ++ ++ + 6 NR 22 +++ +++ +++ +++ ++ ++ + 7 NR 24 +++ +++ +++ +++ ++ ++ + 8 NR 27 +++ +++ +++ +++ ++ ++ ++ 9 NR 28 +++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ 10 NR 30 + - - - - 11 NR 31 ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ 12 R 41 + + + + + - - 13 R 47 + + + + + + +

Tabel 1. menunjukkan hasil

kemampuan tumbuh bakteri pada berbagai konsentrasi Fe. Seluruh isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik mampu hidup pada pengujian awal konsentrasi Fe 200 ppm. Hal serupa dalam penelitian Pamungkas dan Enny (2015) dimana

Azotobacter mampu tumbuh baik

pada media NA-FeCl3.6H2O hingga konsentrasi 200 mg/L selama 24 jam inkubasi. Pengujian berikutnya, isolat bakteri NR 30 tidak mampu

tumbuh pada media dengan

konsentrasi logam Fe 300 ppm. Isolat NR 10 dan NR 12 tidak mampu

(9)

9

tumbuh pada konsentrasi Fe 400 ppm. Sedangkan isolat R 41 tidak mampu tumbuh pada media dengan konsentrasi Fe 900 ppm.

Pertumbuhan bakteri yang sangat subur (+++) hanya dimiliki oleh lima isolat bakteri pada pengujian awal konsentrasi 200 ppm diantaranya yakni isolat NR 15, NR 22, NR 24, NR 27 dan NR 28. Seiring peningkatan konsentrasi logam Fe pada media, pertumbuhan bakteri (+++) hanya ditemukan hingga konsentrasi 500 ppm pada kelompok isolat bakteri NR 22, NR 24 dan NR 27. Pertumbuhan bakteri yang subur (++) pada pengujian awal konsentrasi 200 ppm dimiliki oleh lima isolat bakteri penambat nitrogen diantaranya isolat NR 10, NR 12, NR 18, NR 19 dan NR 31. Pertumbuhan bakteri (++) ditemukan hingga pengujian akhir konsentrasi 1000 ppm pada isolat bakteri NR 27, NR 28 dan NR 31. Pertumbuhan bakteri kurang subur (+) dimiliki oleh isolat bakteri lainnya yakni NR 15, NR 18, NR 19, NR 22, NR 24 dan R 47 pada pengujian akhir dengan konsentrasi 1000 ppm.

Pengujian kemampuan tumbuh isolat bakteri secara umum dapat

disimpulkan bahwa sebanyak

sembilan isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik yang hanya mampu tumbuh hingga konsentrasi 1000 ppm diantaranya NR 15, NR 18, NR 19, NR 22, NR 24, NR 27, NR 28, NR 31 dan R 47. Isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik yakni NR 27, NR 28 dan NR 31 berturut-turut merupakan 3 isolat yang mampu tumbuh paling baik pada media Nfb padat+Fe konsentrasi 1000 ppm berdasarkan sembilan isolat yang mampu tumbuh hingga konsentrasi 1000 ppm.

Pereiraa et al. (2009) menjelaskan bahwa ketahanan mikroorganisme terhadap logam bergantung pada aktivitas bakteri tersebut dalam menghilangkan efek toksik dari logam. Kemampuan bakteri untuk tumbuh pada media yang mengandung Fe didasari oleh kebutuhan logam tersebut dalam proses metabolisme sel bakteri. Forget et al. (2003) menyatakan bahwa bakteri membutuhkan Fe dalam proses metabolismenya

sebagai komponen penyusun

periplasma, sitokrom dan koenzim hidrogenase.

(10)

10

Kadar Fe yang berlebih pada lingkungan juga akan menyebabkan toksisitas bagi mikroorganisme maupun makhluk hidup lainnya. Baby et al. (2013) menyatakan bahwa resistensi bakteri terhadap logam didasari oleh adanya perbedaan kromosomal, transposon dan plasmid pada masing-masing bakteri. Nithya et al. (2011) menambahkan bahwa terdapat suatu protein yang dikenal sebagai protein RND (Resistance, Nodulation, Cell

Division) yang berperan dalam mengontrol mekanisme resistensi bakteri terhadap logam.

Menurut Silva et al. (2009), mikroba yang bersifat resisten dan tahan terhadap keberadaan logam berat berpotensi sebagai agen bioremediasi. Penelitian terdahulu Ulfa (2016) menyatakan bahwa beberapa isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik yang diisolasi dari rhizosfer dan non rhizosfer tanaman kemangi tersebut juga mampu tumbuh baik pada media Nfb+Pb hingga konsentrasi 600 ppm. Ketahanan isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik terhadap logam Pb tersebut menyebabkan peneliti melakukan uji lanjut

terhadap kemampuan tumbuh isolat tersebut pada media Nfb+Fe sehingga dapat dimanfaatkan sebagai agen bioremediasi dua logam sekaligus disamping kemampuannya sebagai penambat nitrogen. Isolat yang mampu tumbuh baik pada medium Nfb+Pb tidak sejalan dengan isolat yang tumbuh baik pada medium Nfb+Fe. Isolat yang tumbuh paling baik pada media Nfb padat+Pb pada konsentrasi 600 ppm diantaranya NR 30, NR 15 dan NR 18. Isolat bakteri NR 30 hanya mampu tumbuh hingga konsentrasi 200 ppm pada media padat Nfb+Fe, sedangkan isolat NR 15 dan NR 18 mampu tumbuh hingga konsentrasi

1000 ppm namun dengan

pertumbuhan yang kurang subur.

KESIMPULAN

Hasil penelitian ini diperoleh sembilan isolat yang mampu tumbuh pada media yang mengandung Fe hingga konsentrasi 1000 ppm diantaranya isolat NR 15, NR 18, NR 19, NR 22, NR 24, NR 27, NR 28, NR 31 dan R 47. Tiga isolat yang memiliki kemampuan tumbuh paling baik diantaranya NR 27, NR 28 dan NR 31.

(11)

11 SARAN

Perlu dilakukan uji lanjut terhadap 13 isolat bakteri penambat nitrogen non-simbiotik dalam mereduksi logam pencemar lain sehingga dapat dijadikan sebagai agen bioremediasi beberapa jenis logam.

DAFTAR PUSTAKA

Baby V, Rajakumar S dan Ayyasamy PM. 2013. Reduction of Ferric Ion in Synthetic Medium Amended with Acetate as a

Sole Carbon Source.

International Journal of Current Microbiology and Applied Science. 2(12):

501-513

Effendi MI, Priyo C dan Budi P. 2015. Pengaruh Toksisitas Besi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Biomassa pada Tiga Klon Tanaman Nanas. Jurnal

Tanahdan Sumberdaya Lahan.

2(2): 179-189

Febrianti NA. 2017. Analisa Pengaruh Campuran Ion Zn2+ dan Cd 2+ pada Penentuan

Kadar Fe2+ secara

Spektrofotometri UV-Vis.

SKRIPSI. Institut Teknologi

Sepuluh Nopember. Surabaya Figuera EMAP, AIG Lima dan SIA

Pereira. 2005. Cadmium Tolerance Plasticity in

Rhizobium leguminosarum bv.

Viciae: Glutathione as a Detoxifying Agent. Journal

Microbiol. 51: 7-14

Forget N, Rousset M, Monlet Y, Guiarelli B, Betrand M, Fonticicilia P dan Hatchikian EC. 2003. Biochemistry (3Fe-4S) to (4Fe-SS) Cluster Conversion in Desulvofibrio

Fructosoxorans (NiFe) Hydrogenase by Site-Directed Mutageneses. Proc. Nalt. Acad. USA

Hardiani, Henggar, Teddy K dan Susi S. 2011. Bioremediasi

Logam Pb dalam Tanah

Terkontaminasi Limbah

Sludge Industri Kertas Proses

Deinking. Jurnal Selulosa.

1(1): 31-41

Hidayat AT. 2009. Potensi Pelepasan N-NH4+ dan N-NO3- Tanah

Andisol yang ditanami

Sayuran di Daerah Dataran Tinggi. SKRIPSI. Institut Pertanian Bogor

Ma Y, Prasad MNV, Rajkumar M dan Freitas H. 2011. Plant

Growth Promoting

Rhizobacteria and Endophytes Accelerate Phytoremediation of Metalliferous Soils.

Biotechnol Adv. 29: 248-258

Mahar A, Wang P, Ali A, Awasthi MK, Lahori AH, Wang Q, Li R dan Zhang Z. 2016. Challenges and Opportunities in the Phytoremediation of Heavy Metals Contamined Soil. A Review Exotoxicol

Environ Saf. 126: 111-121

Mallombasi NA. 2018. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Penambat

Nitrogen Non-Simbiotik

(12)

12 sativa) di Kelurahan Balang

Kecamatan Binamu

Kabupaten Jeneponto.

SKRIPSI. UIN Alauddin Makassar

Mehraban P, Zadeh AA dan

Sideghipour HR. 2008. Iron Toxicity in Rice (Oryza sativa L.) under Different Potassium Nutrition. Asian Journal of

Plant Science.7: 251-259

Nithya C, B Gnanalakshmi dan SK Pandian. 2011. Assesment and Characterization of Heavy Metal Resistance in Palk Bay Sediment Bacteria. Marine

Environmental Research:

283-294

Pamungkas A dan Enny Z. 2015. Viabilitas Azotobacter pada

Medium yang Terpapar

Logam Besi (Fe). Jurnal Sains

dan Seni ITS. 4(1): 2337-2340

Parulian A. 2009. Monitoring dan

Analisis Kadar Aluminium (Al) dan Besi (Fe) pada Pengolahan Air Minum PDAM Tirtanadi Sunggal.

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Medan Pereiraa Sa, Rodriguesab M,

Simoesa F dan Dominguesb L. 2009. Bacterial Activity in Heavy Metals Polluted Soils: Metal Efflux Systems in Native Rhizobial Strains.

Geomicrobiology Journal. 26:

281-288

Raffi MM dan Charyulu. 2012. Nitrogen Fixation by the Native Azospirillum spp. Isolated From Rhizosphere and Non-rhizosphere of

Foxtail Millet. Asian Journal

of Biological and Life Sciences. 1(3): 213-218

Rajkumar M, SandhyaS, Prasad MNV dan Freitas H. 2012. Perspectives of Plant-Associated Microbes in Heavy Metal Phytoremediation. Biotechnol Adv. 30: 1562-1574

Silva RMP, Rodriguez AA, Oca JMGMD dan Moreno DC.

2009. Biosorption of

Chromium, Copper,

Manganese, and Zinc by

Pseudomonas aeruginosa

AT18 Isolated from A Site Contamined with Petroleum.

Bioresource Technology. 100:

1533-1538

Singh DP, JIS Khattar, J Nadda. 2011. Clorpyrifos Degradation by the Cyanobacterium synechocystis sp. strain PUPCCC 64. Environ Sci

Pollut Res. 18: 1351-1359

Ulfa G. 2016. Seleksi Bakteri

Penambat Nitrogen

Non-Simbiotik sebagai Agen Bioremediasi Logam Timbal (Pb). SKRIPSI. Universitas Riau

Gambar

Tabel  1.  Uji  Kemampuan  Tumbuh  Bakteri  Penambat  Nitrogen  Non-Simbiotik   pada Medium Nfb Padat+Fe Setelah 3 Hari Inkubasi

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 05 Tahun 2012, migas non konvensional adalah minyak dan gas bumi yang diusahakan dari reservoir tempat

Prosedur analisa untuk menentukan kadar emas dan perak secara fire assay baik yang dilakukan peleburan memakai tungku dengan bahan bakar gas maupun dengan bahan bakar solar

Sedangkan dari data perancangan penataan lampu penerangan jalan yang telah dilakukan dengan kondisi lebar jalan yang sama, yaitu 6 meter dan menggunakan jenis dan tinggi

Terkait dengan perlindungan terhadap upah borong yang terjadi di proyek Swakelola Kabupaten Deli Serdang adalah perlindungan terhadap hak yang semestinya Penyedia

Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pembangunan nasional, karena kesehatan sangat terkait dalam konotasi dipengaruhi dan

Penelitian yang dilakukan oleh Michel and Shaked (1984) menemukan bahwa perusahaan memperoleh kinerja unggul dengan diversifikasi melalui tindakan akuisisi yang

Masalah pertambahan angkatan kerja baru sebagai dampak dari struktur penduduk usia muda yang cukup besar merupakan persoalan tersendiri dalam pembangunan ketenagakerjaan, karena

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan (1) untuk mengetahui tingkat kecerdasan spiritual pada siswa SMA Muhammadiyah 2 Genteng, (2) untuk mengetahui tingkat Kenakalan