87
KAJIAN TEKNIS PRODUKSI ALAT GALI-MUAT DAN ALAT ANGKUT
PADA PENGUPASAN OVERBURDEN DI TAMBANG BATUBARA
PT. RIAN PRATAMA MANDIRI KABUPATEN TANAH LAUT
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Ardyan Febrianto, Edy Nursanto, Dwi Poetranto W.A. Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Jl. SWK 104 (Lingkar Utara), Yogyakarta 55283 Indonesia
Abstrak
PT. Rian Pratama Mandiri (RPM) adalah salah satu perusahaan kontraktor pertambangan yang bergerak dalam penambangan batubara. PT. Rian Pratama Mandiri melaksanakan kegiatan penambangan di lokasi izin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) site Asam-Asam Timur milik PT. Arutmin Indonesia dengan luas area 2.498 Ha di Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Sistem penambangan yang dipakai adalah open pit mining.
Pit RPM adalah salah satu pit yang ada di PT. Rian Pratama Mandiri. Kegiatan penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan overburden sebelum melakukan coal getting. Dalam melakukan pengupasan overburden di pit RPM, peralatan yang digunakan adalah backhoe Doosan S500LC-V dengan kapasitas bucket 3,2 m3 yang
menggunakan metode pemuatan single back-up dan top loading. Alat angkut yang digunakan adalah truk jungkit Hino 700ZS 4141 dengan kapasitas bak 18 m3. Pit RPM akan meningkatkan nilai stripping ratio sehingga target produksi pengupasan overburden yang harus dicapai adalah 515 BCM/jam.
Perhitungan produksi pengupasan menggunakan simulasi teori antrian yang memasukkan parameter waktu tunggu alat angkut pada waktu edar alat angkut. Setelah dilakukan perhitungan dengan simulasi teori antrian diketahui produksi pengupasan saat ini yaitu 385,00 BCM/jam dengan angka keserasian kerja alat pada fleet 1 0,64; fleet 2 0,81 dan fleet 3 0,68. Faktor teknis yang mempengaruhi produksi adalah kondisi kerja, volume penggalian serta pemuatan, efisiensi operasi dan keserasian kerja alat. Rekomendasi yang diberikan untuk meningkatkan produksi yaitu perbaikan geometri jalan dan area pemuatan yang tidak sesuai standar, penambahan jumlah curah bucket pada material claystone dari 4 curah menjadi 5 curah, mengurangi hambatan kerja mekanis dan operasi, dan penambahan jumlah alat angkut masing-masing satu unit pada fleet 1 dan fleet 3. Produksi pengupasan berdasarkan simulasi dengan teori antrian akan meningkat menjadi 520,38 BCM/jam dengan angka keserasian kerja alat pada fleet 1 1,01; fleet 2 0,97 dan fleet 3 0,91.
Kata kunci: Produksi Overburden, Alat Gali-Muat, Alat Angkut, Simulasi Antrian
1. PENDAHULUAN
PT. Rian Pratama Mandiri (RPM) menerapkan sistem tambang terbuka dengan bahan galian yang ditambang adalah batubara. Kegiatan penambangan dimulai dengan pengupasan overburden dan kemudian dilakukan produksi batubara dengan menerapkan stripping ratio 2:1 dengan produksi pengupasan overburden 345 BCM/jam dan produksi batubara 170 BCM/jam. Pada proses pengupasan overburden digunakan alat mekanis yaitu alat gali-muat dan alat angkut. Alat gali-gali-muat yang digunakan berupa backhoe dan alat angkut berupa dump truck. Produksi alat gali-muat dan alat angkut yang ada harus memenuhi stripping ratio yang diterapkan. PT. RPM merencanakan untuk meningkatkan nilai stripping ratio menjadi 3:1. Peningkatan nilai stripping ratio akan mengubah sasaran produksi pengupasan overburden menjadi 515 BCM/jam. Dengan peningkatan tersebut maka perlu dilakukan
kajian terhadap produksi alat gali-muat dan alat angkut yang ada saat ini untuk memenuhi sasaran produksi yang direncanakan.
Kemampuan produksi alat gali-muat dan alat angkut saat ini belum diketahui dan akan dilakukan peningkatan nilai stripping ratio yang berdampak pada peningkatan sasaran produksi pengupasan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas alat adalah hambatan kerja, kondisi kerja dan keserasian kerja alat gali-muat dan alat angkut.
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah bahwa penelitian dilakukan di Pit RPM, alat gali-muat yang digunakan adalah backhoe Doosan S 500LC-V Giant dengan kapasitas bucket 3,2 m3, alat
angkut yang digunakan adalah dump truck Hino 700ZS 4141 dengan kapasitas bak 18 m3, dan tidak memperhatikan faktor ekonomis dalam analisis.
Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah mengetahui kemampuan produksi alat gali-muat dan alat angkut saat ini, menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi alat gali-muat dan alat angkut., memberikan rekomendasi perubahan pada parameter produktivitas alat untuk mencapai sasaran produksi yang direncanakan.
Lokasi daerah penelitian PT. RPM secara administratif terletak di Desa Pandansari, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Secara astronomis terletak pada koordinat 3°48’44,48” – 3°54’39,53” LS, dan 115°05’43,91” – 115°15’51,52” BT.
2. HASIL PENELITIAN Peralatan
Pekerjaan pengupasan overburden di Pit RPM dilakukan dengan tiga fleet kombinasi backhoe berupa backhoe Doosan S500LC-V Giant dengan kapasitas bucket 3,2 m3 dan dump truck berupa dump
truck Hino 700 ZS4141 dengan kapasitas bak 18 m3. Unit yang bekerja setiap fleet terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Unit yang Bekerja di Fleet
Fleet Backhoe Dump Truck
1 EX-001 DT-001, DT-002, DT-003
2 EX-002 DT-004, DT-005, DT-006,
DT-007
3 EX-003 DT-008, DT-009, DT-010
Kondisi Jalan Angkut
Fleet pertama melakukan kegiatan penggalian dan pemuatan overburden di Loading Point 1 (LP 1) dan melakukan dumping di Dumping Point 1 (DP 1). Fleet kedua melakukan kegiatan penggalian dan pemuatan overburden di Loading Point 2 (LP 2) dan melakukan dumping di Dumping Point 2 (DP 2). Fleet ketiga melakukan kegiatan penggalian dan pemuatan overburden di Loading Point 3 (LP 3) dan melakukan dumping di Dumping Point 3 (DP 3). Lokasi loading point, dumping point dan jalan angkut yang dilalui terlihat pada gambar 1. Terdapat beberapa segmen jalan yang sama digunakan oleh fleet pertama dan fleet kedua. Jumlah jalur yang ada di setiap segmen jalan bervariasi yang terdiri atas satu dan dua jalur. Panjang jalan yang dilalui fleet pertama adalah sepanjang 895 m, fleet kedua sepanjang 1.681 m dan fleet ketiga sepanjang 780 m. Secara umum kondisi jalan angkut baik yaitu rata dan tidak adanya amblesan.
Metode Pemuatan
Metode pemuatan yang diterapkan adalah top loading dan single back-up.
Kondisi Area Pemuatan
Kondisi area pemuatan secara umum memiliki permukaan kerja yang rata dan tidak terdapat genangan air, namun pada beberapa kondisi undulasi
satu adalah selebar ±21 m, loading point dua selebar ±15 m dan loading point tiga selebar ±17 m. Lebar area pemuatan dibentuk oleh backhoe dan dibantu oleh bulldozer.
Gambar 1. Skema Jalan Angkut Tambang Pit RPM
Waktu Edar
Data waktu edar alat gali-muat dan data waktu edar alat angkut terlihat pada tabel 2.
Tabel 2. Waktu Edar Alat Gali-Muat dan Alat Angkut
Unit Fleet 1 2 3
Backhoe
Penggalian,
detik 15,35 20,14 18,01
Swing Isi, detik 4,84 4,20 3,45 Penumpahan, detik 4,40 4,13 3,85 Swing Kosong, detik 3,96 3,16 3,66 TOTAL, detik 28,56 31,63 28,97 Dump Truck Pemuatan, detik 114,25 126,50 115,88 Travel dengan muatan, detik 184,39 207,05 143,31 Mengambil posisi dumping, detik 42,22 46,32 42,85 Dumping, detik 42,84 42,97 40,45 Travel tanpa muatan, detik 106,46 134,30 113,85 Mengambil posisi pemuatan, detik 48,71 63,76 54,31 TOTAL, detik 538,88 620,91 510,65 Hambatan Kerja
Waktu kerja yang diterapkan di Pit RPM adalah 10 jam per shift. Pengamatan dilakukan selama 100 (seratus) jam dengan menghitung hambatan-hambatan yang terjadi terlihat pada tabel3.
LP 2 LP 1
LP 3
DP 1 DP 2
89
Tabel 3. Hambatan KerjaFleet 1 2 3 Unit BH DT BH DT BH DT Waktu Pengamatan (He), menit 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 6.000 Hambatan Tidak Terkendali (Hds), menit 180 180 180 180 180 180 Waktu Terjadwal (Hs), menit 5.820 5.820 5.820 5.820 5.820 5.820 Hambatan Mekanis (Hdm), menit 810 135 780 555 245 750 Waktu Tersedia (Ha), menit 5.010 5.685 5.040 5.265 5.575 5.070 Hambatan Operasi (Hdu), menit 365 460 410 460 420 475 Waktu Penggunaan (Hu), menit 4.645 5.225 4.630 4.805 5.155 4.595
Kesediaan dan Penggunaan Alat
Kesediaan/availibility (A) adalah jumlah waktu alat tersedia (tidak mengalami kerusakan) terhadap waktu yang dijadwalkan. Penggunaan/utilization (U) adalah jumlah waktu alat digunakan untuk melakukan pekerjaannya (tanpa hambatan operasi) terhadap waktu yang tersedia. Efisiensi Operasi (OE) adalah tingkat efisiensi melakukan pekerjaan yang ditugaskan terhadap waktu yang dijadwalkan. Kesediaan, penggunaan dan efisiensi operasi terlihat pada tabel 4.
Tabel 4. Penggunaan, Kesediaan dan Efisiensi Operasi Alat Fleet 1 2 3 Unit (%) BH (%) DT (%) BH (%) DT (%) BH (%) DT Avail 86,08 97,68 86,60 90,46 95,79 87,11 Usage 92,71 91,91 91,87 91,26 92,47 90,63 Eff Op 79,81 89,78 79,55 82,56 88,57 78,95 EO Rata-rata 84.79 84,79 81,06
Volume Penggalian serta Pemuatan
Material overburden di loading point satu dan loading point dua adalah material claystone dalam kondisi asli sedangkan material di loading point tiga adalah material timbunan berupa claystone dan sandstone dalam kondisi lepas dan terpadatkan.
Jumlah Curah Material
Jumlah curah material rata-rata dengan bucket pada alat gali-muat yang diterapkan di loading point satu sampai loading point tiga berjumlah 4 (empat) curah.
Faktor Penyusutan Material
Faktor penyusutan material di loading point satu bernilai 0,68; loading point dua bernilai 0,68 dan di loading point tiga bernilai 0,80.
Faktor Pengisian Bucket
Faktor pengisian bucket di loading point satu bernilai 0,90; loading point dua bernilai 0,90 dan loading point tiga bernilai 0,96.
Produksi Pengupasan
Produktivitas Alat Gali-Muat dan Alat Angkut Produktivitas alat gali-muat dan alat angkut terlihat pada tabel5 sebagai berikut:
Tabel 5. Produktivitas Alat Gali-Muat dan Alat Angkut Saat Ini
Fleet Unit Jml (BCM/jam) Prod (BCM/jam) Tot Prod 1 Backhoe 1 196,26 644,60 2 1 176,51 3 1 271,84 1 Dump Truck 3 140,42 454,66 2 4 149,28 3 3 164,96
Faktor Keserasian Kerja Alat
Keserasian kerja alat gali-muat dan alat angkut saat ini terlihat pada tabel 6.
Tabel 6. Keserasian Kerja Alat Gali-Muat dan Alat Angkut Saat Ini
Fleet 1 2 3
Jumlah Backhoe 1 1 1
Jumlah Dump Truck 3 4 3
Match Factor 0,64 0,81 0,68 Faktor Kerja Dump
Truck 100% 100% 100%
Faktor Kerja Backhoe 64% 81% 68%
Waktu Tunggu Backhoe,
detik 65 29 54
Produksi Fleet
Produksi fleet dihitung dengan simulasi teori antrian yang merupakan sistem antrian pelayanan tunggal dengan kapasitas terbatas setiap fleet-nya dengan sistem kerja dengan sistem kerjanya terdiri dari dua tahap. Produksi fleet menjadi hasil akhir dari simulasi teori antrian dengan memasukkan parameter efisiensi operasi rata-rata dari alat gali-muat dan alat angkut. Produksi fleet didasarkan pada tingkat kedatangan alat angkut di loading point dan volume penggalian yang dilakukan setiap siklus kerja. Hasil perhitungan terlihat di tabel 7.
Tabel 7. Produksi Fleet Saat Ini
Fleet Jml BH Jml DT Produksi, BCM/jam 1 1 3 115,23 2 1 4 122,75 3 1 3 147,02 TOTAL 385,00
3. PEMBAHASAN
Kemampuan Produksi Alat Gali-Muat dan Alat Angkut
Kemampuan produksi pengupasan berdasarkan produktivitas alat gali-muat dan alat angkut secara terpisah memiliki kekurangan maka produksi fleet dengan simulasi antrian dapat menjadi parameter produksi pengupasan yang lebih tepat dan lebih mendekati keadaan asli di lapangan. Gambar 2 menggambarkan produktivitas alat angkut dan produksi fleet belum mencapai sasaran produksi yang direncanakan.
Gambar 2. Grafik Produksi Alat Saat Ini terhadap Sasaran Produksi berdasarkan Nilai Stripping Ratio Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Metode Pemuatan
Metode pemuatan yang diterapkan sudah sesuai dengan alat gali-muat yang tersedia. Tinggi jenjang pemuatan rata-rata saat ini adalah lebih tinggi dari dasar bak dump truck dan lebih pendek dari panjang stick backhoe. Metode double back-up tidak tepat diterapkan karena membutuhkan jumlah dump truck yang cukup banyak yang tidak tersedia saat ini. Kondisi Jalan Angkut
Lebar jalan untuk dua jalur yang didapat dari hasil perhitungan dengan mendasarkan pada AASHTO Manual Rural High Way Design (2001) pada jalan lurus adalah 10 meter dan untuk jalan pada tikungan adalah 15 meter. Perbandingan terlihat pada tabel 8. Kondisi jalan yang baik adalah rata dan tidak terdapat amblesan. Pekerjaan perawatan jalan secara berkala perlu ditingkatkan dan pekerjaan perbaikan jalan akibat amblesan juga perlu ditingkatkan.
Kondisi Area Pemuatan
Lebar minimum area pemuatan berdasarkan Komatsu Application and Performance Handbook (2009) adalah 20 m. Lebar area pemuatan yang tidak standar akan menyebabkan waktu manuver yang lebih besar. Kondisi area pemuatan dengan adanya undulasi perlu diperbaiki.
Volume Penggalian serta Pemuatan
Perhitungan jumlah curah maksimal didapatkan jumlah curah maksimal adalah 6 (enam) curah untuk
digunakan dengan beberapa pertimbangan. Pertimbangannya adalah jenis bak dump truck, grade jalan maksimal yang diijinkan dan kapasitas dump truck terlihat pada tabel 10.
Tabel 8. Perbandingan Lebar dan Grade Jalan Saat Ini dengan Standar
Seg Lebar Jalan (m) Grade Jalan (%) Keterangan Skrg Stand Skrg Maks
C-C' 11 6 16 15 Grade perlu diperbaiki
I'-I 11 6 -18 -15 Grade perlu diperbaiki
K-K' 12 10 17 15 Grade perlu diperbaiki
L-L' 11 10 15 15 Grade perlu diperhatikan
M-M' 20 15 19 15 Grade perlu diperbaiki
P-P' 11 10 19 15 Grade perlu diperbaiki
Q-Q' 11 15 14 15 Lebar perlu diperbaiki
R-R' 11 10 16 15 Grade perlu diperbaiki
T-T' 6 6 19 15 Grade perlu diperbaiki
U-U' 6 7 15 15 Grade perlu diperhatikan, lebar perlu diperbaiki
V'-V 6 7 -19 -15 Grade dan lebar perlu diperbaiki
X'-X 6 6 -15 -15 Grade perlu diperhatikan
Tabel 9. Lebar Area Pemuatan Saat Ini dan Standar Minimum
Loading
Point ini, m Saat Minimum, m Standar Keterangan
1 ±21 20
2 ±15 20 Perlu
diperbaiki
3 ±17 20 Perlu
duperbaiki
Tabel 10. Perbandingan Volume dan Berat Material setiap Jumlah Curah
Fleet curah Jml Material V (LCM) Kap DT (LCM) Tonase Material (Ton) Kap DT (Ton) 1 4 11,49 18,00 14,17 30,53 5 14,36 18,00 17,71 30,53 6 17,23 18,00 21,25 30,53 2 4 11,50 18,00 14,18 30,53 5 14,37 18,00 17,72 30,53 6 17,24 18,00 21,26 30,53 3 4 12,32 18,00 16,25 30,53 5 15,40 18,00 20,32 30,53 6 18,48 18,00 24,38 30,53 Efisiensi Operasi
Waktu perbaikan alat sebagian besar dihabiskan bukan untuk melakukan pekerjaan perbaikan tetapi menunggu spare part yang tidak tersedia di workshop dapat dikurangi dengan merubah sistem penyediaan spare part. Hambatan operasi yang dapat dihindari seperti pemanasan dan pendinginan yang terlalu lama dapat dikurangi dengan menetapkan aturan maksimal
91
Tabel 11. Efisiensi Operasi Alat Saat Ini dan RencanaFleet Unit Skrg Eff Op (%) Rencana Skrg Eff Op rata2 (%) Rencana
1 BH DT 79,81 89,78 87,29 90,21 84,79 88,75
2 BH DT 79,55 82,56 87,20 87,34 81,06 87,27
3 BH DT 88,57 78,95 89,43 85,57 83,76 87,50
Keserasian Kerja
Menggunakan grafik efisiensi kerja alat dengan jumlah yang berbeda dapat menunjukkan faktor kerja backhoe yang kurang dari 80 % dengan waktu tunggu lebih dari satu menit yang berarti kurang baik. Perlu dilakukan penambahan jumlah dump truck di fleet pertama dan fleet ketiga agar faktor kerja backhoe dapat meningkat menjadi lebih dari 80 %.
Tabel 12. Keserasian Kerja Alat Saat Ini dan Rencana
Fleet 1 2 3
Kond Skrg Renc Skrg Renc Skrg Renc Jmlh
BH 1 1 1 1 1 1
Jml
DT 3 4 4 4 3 4
MF 0,64 0,85 0,81 0,81 0,68 0,91 Rekomendasi untuk Peningkatan Produksi Setelah dilakukan analisa data yang ada maka untuk meningkatkan kemampuan produksi pengupasan yang ada di Pit RPM dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Memperbaiki kondisi area pemuatan dan jalan angkut yang belum mencapai standar agar mendukung kegiatan pemuatan dan pengangkutan.
2) Meningkatkan jumlah curah backhoe dari empat curah menjadi lima curah pada material clasytone yaitu pada loading point satu dan loading point dua sehingga meningkatkan material yang diangkut tiap siklus kerja. Pilihan ini dapat meningkatkan produksi fleet sebesar 8,35 %, tetapi belum mencapai sasaran produksi yang diinginkan.
3) Meningkatkan efisiensi operasi yang sebelumnya berada di bawah standar 85 % dengan melakukan pengurangan hambatan kerja sebesar 50 % pada waktu perbaikan dan menerapkan aturan pemanasan dan pendinginan masing-masing maksimal lima menit setiap shift, pilihan ini dapat meningkatkan produksi sebesar 5,54 %, tetapi belum mencapai sasaran produksi yang diinginkan.
4) Meningkatkan keserasian kerja untuk fleet yang memiliki faktor kerja backhoe di bawah 80 % dengan menambah masing-masing satu unit dump truck di fleet pertama dan fleet ketiga. Pilihan ini dapat meningkatkan produksi sebesar 19,28 %,
tetapi belum mencapai sasaran produksi yang diinginkan.
Rekomendasi akhir yang diberikan adalah melakukan pilihan pertama hingga pilhan keempat dengan pertimbangan memasukkan pilihan pertama adalah kondisi kerja yang baik akan menjaga maksimalnya pekerjaan produksi. Rekomendasi akhir akan meningkatkan produksi sebesar 35,16 % dan telah mencapai sasaran produksi yang diinginkan.
Gambar 3. Grafik Peningkatan Produksi dengan Rekomendasi Akhir
Tabel 13. Pengaruh Rekomendasi Akhir terhadap Faktor Produksi
Fleet 1 2 3
Jumlah Backhoe 1 1 1
Jumlah Dump Truck 4 4 4
Jumlah Curah Bucket 5 5 4
Efisiensi Operasi, % 88,75 87,27 87,50% Produktivitas Backhoe, BCM/jam 214,63 193,47 274,48 Produktivitas Dump Truck, BCM/jam 221,19 179,64 239,36 Produksi Fleet, BCM/jam 175,33 149,15 195,89 Match Factor 1,01 0,97 0,91
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sasaran produksi Pit RPM dengan peningkatan nilai stripping ratio adalah 515 BCM/jam. Produksi total dengan tiga fleet saat ini yang terdiri atas satu unit alat gali-muat backhoe Doosan S 500LC-V Giant dan tiga unit alat angkut dump truck Hino 700ZS 4141 di fleet pertama, satu unit alat gali-muat backhoe Doosan S 500LC-V Giant dan empat unit alat angkut dump truck Hino 700ZS 4141 di fleet kedua, satu unit alat gali-muat backhoe Doosan S 500LC-V Giant dan tiga unit alat angkut dump truck Hino 700ZS 4141 di fleet ketiga pada saat ini adalah sebesar 385,00 BCM/jam, sehingga produksi pengupasan pada saat ini belum mencapai sasaran produksi sebesar 515 BCM/jam.
2. Faktor teknis yang mempengaruhi produksi fleet adalah:
a. Kondisi kerja yang mempengaruhi produksi terdiri atas kondisi jalan angkut dan kondisi area pemuatan. Segmen jalan C, I, K, M, P, Q, R, T, U, V, W belum memenuhi standar minimum lebar jalan yaitu 15 meter pada tikungan dan 10 meter pada jalan lurus serta grade jalan maksimal yang diijinkan 15 %. Lebar area pemuatan di loading point 2 dan loading point 3 kurang dari standar minimum lebar area pemuatan standar yaitu 20 m. b. Volume penggalian serta pemuatan yang
belum optimal dengan jumlah curah mangkuk backhoe saat ini berjumlah empat curah yang dapat ditambah hingga lima curah pada loading point satu dan loading point dua dan masih dapat diatasi baik volume ataupun tonase oleh dump truck.
c. Efisiensi operasi yang terdiri atas kesediaan dan penggunaan alat. Efisiensi operasi unit backhoe pada fleet pertama dan kedua serta unit dump truck pada fleet kedua dan ketiga belum mencapai standar minimum operasi yang baik yaitu sebesar 85 %. Hal tersebut disebabkan oleh besarnya hambatan kerja mekanis dan operasi.
d. Keserasian kerja alat di loading point satu dan loading point tiga rendah dengan nilai masing-masing 0,64 dan 0,68 yang menyebabkan faktor kerja alat di bawah 80 % dan waktu tunggu di atas 60 detik. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya jumlah alat angkut.
3. Rekomendasi peningkatan produksi:
a. Perbaikan lebar dan grade jalan angkut yang belum memenuhi standar minimum serta perbaikan lebar area pemuatan sesuai standar minimum.
b. Penambahan jumlah curah pada material claystone di loading point satu dan loading point dua dari empat curah menjadi lima curah.
c. Pengurangan hambatan kerja mekanis sebesar 50 % pada hambatan yang memiliki hambatan mekanis lebih dari 300 menit, pengaturan waktu pemanasan dan pendinginan masing-masing maksimal lima menit per shift untuk mengurangi hambatan operasi.
d. Penambahan satu unit alat angkut masing-masing pada fleet pertama dan fleet ketiga untuk meningkatkan keserasian kerja.
Produksi fleet total dengan tiga fleet rencana yang terdiri atas satu unit alat gali-muat backhoe Doosan S 500LC-V Giant dan empat unit alat angkut dump truck Hino 700ZS 4141 di fleet pertama, satu unit alat gali-muat backhoe Doosan S 500LC-V Giant dan empat unit alat angkut dump truck Hino 700ZS 4141 di fleet kedua, satu unit alat gali-muat backhoe Doosan S 500LC-V Giant dan empat unit alat angkut dump truck Hino 700ZS 4141 di fleet ketiga yang dihasilkan adalah sebesar 520,38 BCM/jam dan mencapai sasaran produksi yang diinginkan sebesar 515 BCM/jam. Saran
Saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan adalah:
1. Peningkatan pengawasan terhadap pekerjaan penggalian, pemuatan, pengangkutan dan penimbunan diperlukan agar produksi pengupasan overburden berjalan sesuai dengan rencana. 2. Pengadaan pelatihan untuk operator dan driver
yang diperlukan untuk menunjang pekerjaan di lapangan.
3. Pengadaan standar prosedur untuk operasi pengupasan sehingga pekerjaan pengupasan memiliki acuan kerja.
5. DAFTAR PUSTAKA
Abramson, W.L., Thomas S.L., Sharma S., dan Boyce G.M., 1996, Slope Stability and Stabilization Methods, Canada, John Wiley & Sons Inc, Edisi I.
Departemen Pekerjaan Umum, 1987, Perencanaan Penanggulangan Longsoran, Yayasan Badan Penerbit PU, Jakarta.
Bieniawski, Z.T., 1973, Engineering rock mass classifications, Professor of Mineral Engineering and Director Mining and Resources Research Institute The Pennsylvia State University.
Giani Paolo Gian, 1992, Rock Slope Stability Analysis, AA Balkema, Rotterdam.
Made Astawa Rai, 1993, Pit Design (Analisis Kemantapan Lereng), Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Pusat Pengembangan Tenaga Pertambangan, Bandung.
Sitanala Arsyad, 2006, Konservasi Tanah dan Air, IPB Press, Bogor.
_______, 2008, Diktat Kuliah Geoteknik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Yogyakarta.
_______, 2014, Biro Perencanaan dan Pengawasan Tambang, PT. Semen Indonesia (Persero).