• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pajak Penghasilan Maret 2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pajak Penghasilan Maret 2010"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Pajak Penghasilan

24 – 25 Maret 2010

(2)

Agenda

• Pendahuluan

• Pembayaran Sendiri vs Pemotongan/Pemungutan • Penghitungan Pajak Penghasilan:

- Norma Penghitungan Penghasilan Neto

- Penghitungan Pajak berdasarkan Pembukuan - Penghasilan bersifat Final

• Lebih Lanjut Mengenai Penghitungan Pajak berdasarkan Pembukuan • Contoh Soal

(3)

Pendahuluan

• Pajak Subjektif: pajak yang mempertimbangkan keadaan pribadi WP sebagai faktor utama dalam pengenaan pajak

• Subyek Pajak: Orang Pribadi, Badan (CV, PT, Firma, dll)

• Objek Pajak: Penambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Subyek Pajak baik dari dalam maupun luar negeri

• Bukan Objek Pajak:

- Bantuan/Sumbangan/Hibah yang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak Second level bullet point

- Warisan

- Imbalan dalam bentuk natura

- Deviden yang diterma oleh PT (berasal dari cadangan laba ditahan dan mempunyai kepemilikan di atas 25%)

(4)

Pembayaran Sendiri

Menghitung dan membayar pajak sendiri • Pajak atas keuntungan

• PPh WP Pribadi :

s/d Rp50 juta = 5%

> Rp50 juta – Rp250 juta = 10% > Rp250 juta – Rp500 juta = 25%

> Rp500 juta = 30%

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) = Rp15.840.000 + Rp1.320.000 per tanggungan (max. istri dan 3 anak)

• PPh WP Badan : 28% (tahun 2009), 25% (tahun 2010)

(5)

Pembayaran Sendiri vs Pemotongan

Pemotongan

WP tetap menghitung PPh Badan sesuai dengan tarif Ps.17

PPh yang dipotong pihak lain akan menjadi kredit pajak.

WP tidak akan memperhitungan lagi sebagai penghasilanyang dikenakan pajak yang dikenakan tarif Ps.17

PPh yang dipotong pihak lain tidak dapat dijadikan kredit pajak

(konstruksi, sewa tanah/ bangunan, penjualan tanah/ bangunan,,bunga deposito, penjualan saham di bursa)

Pajak disetorkan oleh pihak lain (PPh 21, PPh 23, PPh 4(2))

(6)

Norma Penghitungan Penghasilan Neto

• WP Pribadi

• Peredaran bruto kurang dari Rp4,8 milyar per tahun

• Memberitahukan kepada DJP dalam 3 bulan pertama dari tahun pajak • Pencatatan harus dilakukan, mencakup:

- Peredaran bruto yang diterima dari kegiatan usaha (kas masuk)

- Peredaran bruto yang diterima selain dari kegiatan usaha dan biaya yang bersangkutan

- Penghasilan yang bukan objek pajak/final - Harta dan Kewajiban

• Mencakup periode 1 Januari – 31 Desember

• Dicatat dalam mata uang Rp dan dalam bahasa Indonesia • Disimpan selama 10 tahun

• Penghasilan Tidak Kena Pajak • Membayar angsuran PPh Ps 25

(7)

Norma Penghitungan Penghasilan Neto

Dasar Peraturan untuk % Penghasilan Neto? KEP-536/2000 – tidak jelas

Penghitungan Pajak Penghasilan

Penjualan dari pengolahan ikan Rp15 juta per bulan Penjualan dari bumbu penyedap: Rp5 juta per bulan Status Kawin dengan 2 anak

Jumlah peredaran setahun - dari pengolahan ikan

12 x Rp.15 juta = 180,000,000 persentase penghasilan menurut norma 15% penghasilan neto setahun 27,000,000

dari bumbu penyedap

12 x Rp5 juta = 60,000,000 persentase penghasilan menurut norma 17% penghasilan neto setahun 10,200,000

Total Penghasilan Neto 37,200,000 Penghasilan Tidak Kena Pajak (K2) 19,800,000 Penghasilan Kena Pajak 17,400,000 Pajak terutang (5%) 870,000.00

(8)

Norma Penghitungan Penghasilan Neto

• WP Pribadi (SPT 1770) • WP Badan (SPT 1771)

• Wajib menyelenggarakan pembukuan sesuai dengan standar akuntansi • Dapat memperhitungkan kompensasi kerugian – 5 tahun ke depan

• Pajak yang dipotong oleh pihak lain dapat dikreditkan sepanjang bukan dari PPh Final

• Dari bagian peredaran bruto Rp.4,8 milyar, mendapat pengurangan tarif PPh sebesar 50% (berlaku untuk total peredaran bruto tidak lebih Rp50 milyar per tahun)

• Membayar angsuran PPh Ps 25

(9)

Pph Final

• Penghasilan tidak akan dikenakan pajak berdasarkan tarif Ps 17 • Penghasilan tetap harus dilaporkan di dalam SPT Tahunan

• Seluruh biaya yang berhubunagan dengan penghasilan PPh Final tidak dapat dibiayakan

• Tidak ada kompensasi kerugian fiskal

• PPh yang dipotong tidak dapat dikreditkan

• Bukti potong dari pemotong harus selalu didokumentasikan • Tidak ada angsuran PPh Ps 25

• Tetap wajib menyelenggarakan pembukuan sesuai dengan prinsip akuntansi

Penghitungan Pajak Penghasilan

Jenis Penghasilan Tarif Pajak

Konstruksi 3% - 6%

Sewa Tanah dan/atau Bangunan 10% Penjualan Tanah dan/atau Bangunan 5%

Bunga Deposito 20%

(10)

Gambaran umum

Penghitungan Pph berdasarkan pembukuan

Laporan Keuangan (angka komersial)

Laporan Keuangan

(angka komersial) Koreksi FiskalKoreksi Fiskal

• Neraca • Laporan Laba/Rugi • Neraca Percobaan • Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final • Penghasilan bukan objek Pajak

• Biaya yang tidak

dapat dikurangkan • Depresiasi/Amortisasi • Penghasilan Kena Pajak • Kredit Pajak • Kompensasi Kerugian • Angsuran PPh Ps. 25 Perhitungan PphPerhitungan Pph

(11)

Koreksi Fiskal

Penghitungan Pph berdasarkan pembukuan

• Perbedaan Penghasilan berdasarkan akuntansi dan penghasilan yang dikenakan pajakLaporan Laba/Rugi

• Perbedaan pengakuan biaya berdasarkan akuntansi dan biaya yang diperkenankan untuk penghitungan pajak

• Koreksi fiskal tetap dan beda waktu

• Koreksi fiskal positif = koreksi fiskal yang menambah penghasilan kena pajak

• Koreksi fiskal negatif = koreksi fiskal yang mengurangi penghasilan kena pajak

(12)

Koreksi Fiskal

Penghitungan Pph berdasarkan pembukuan

Penghasilan

Penghasilan Umum Penghasilan PPh Final Penghasilan Bukan Objek

Biaya

Biaya Pengurang Penghasilan Biaya Tdk Boleh Sebagai Pengurang Penyusutan/ Amortisasi Koreksi Fiskal Koreksi Fiskal Koreksi Fiskal Berdasarkan Masa Tidak Ada Koreksi

Fiskal

Tidak Ada Koreksi Fiskal

(13)

Koreksi Fiskal

Penghitungan Pph berdasarkan pembukuan

• Biaya yang tidak dapat dikurangkan

- Biaya yang tidak berhubungan langsung untuk mendapatkan, memelihara, menagih penghasilan

- Pembagian laba

- Biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pribadi - Pemberian imbalan secara natura (non kas)

- Pemberian hibah/sumbangan/bantuan/warisan - Pajak Penghasilan

- Sanksi pajak

- Penghapusan piutang yang tidak memenuhi persyaratan - Biaya promosi yang tidak memenuhi persyaratan

- 50% dari biaya telepon genggam dan mobil untuk jabatan tertentu

(14)

Penyusutan/Amortisasi

Penghitungan Pph berdasarkan pembukuan

Aset yang dapat disusutkan:

• Aset yang dimiliki untuk keperluan kegiatan usaha

• Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun

• Tidak ada batasan nilai minimum

• Depresiasi dilakukan pada saat bulan pembelian (dihitung satu bulan penuh)

• Depresiasi atas bangunan di mulai pada saat konstruksi telah selesai

• Tanah tidak dapat disusutkan

• Metode penyusutan dengan garis lurus atau saldo menurun (khusus untuk bangunan – wajib menggunakan metode garis lurus)

(15)

Penyusutan/Amortisasi

Penghitungan Pph berdasarkan pembukuan

Masa Manfaat dan Tarif Penyusutan:

Kelompok Aset Masa Manfaat Tarif Penyusutan GL SM ---I. Non Bangunan Kelompok 1 4 tahun 25% 50% Kelompok 2 8 tahun 12.5% 25% Kelompok 3 16 tahun 6.25% 12.5% Kelompok 4 20 tahun 5% 10% ---II. Bangunan Permanen 20 tahun 5% -Tidak permanen 10 tahun 10% -

(16)

Perhitungan Pph Tahunan

Penghitungan Pph berdasarkan pembukuan

Penghasilan Komersial -/- Biaya Kormersial -/+ Koreksi Fiskal

---= Penghasilan Neto Fiskal -/- Kompensasi Kerugian ---= Penghasilan Kena Pajak x Tarif Pajak

---= PPh Terutang

-/- Kredit Pajak dipotong pihak lain -/- Angsuran PPh Ps 25 & Fiskal LN

(17)

---Angsuran Pph Ps 25

Penghitungan Pph berdasarkan pembukuan

Penghasilan Kena Pajak

-/- Penghasilan tidak teratur

-/- Sisa kompensasi kerugian untuk tahun berikutnya

---= Penghasilan yang menjadi dasar penghitungan PPh Ps 25 x Tarif Pajak

---= PPh yang harus dibayar sendiri / 12

(18)
(19)

Terima Kasih

Presentasi ini dibuat sebagai petunjuk umum dari topik yang dibawakan dan bukan merupakan nasihat profesional. Tidak ada keterwakilan atau jaminan (baik secara jelas maupun tersirat) terhadap keakuratan atau kelengkapan informasi yang terkandung dalam presentasi ini, dan sejauh yang diperbolehkan oleh undang-undang, KAP Tanudiredja, Wibisana & Rekan, PT Prima Wahana Caraka dan PT PricewaterhouseCoopers FAS (PricewaterhouseCoopers Indonesia), anggotanya , para karyawannya dan para agennya tidak mempunyai kewajiban, dan menolak semua tanggung jawab atas akibat perbuatan yang Anda atau orang lain lakukan atau tidak lagi dilakukan, terkait dengan informasi yang terkandung dalam presentasi ini atau pada setiap keputusan yang diambil berdasarkan presentasi ini .

Referensi

Dokumen terkait

Objek dan Subjek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Terhadap Pegawai Kantor PTP Nusantara III Medan. Objek Pajak Penghasilan PPh

Dalam hal ini menganalisis jumlah penerimaan pajak penghasilan khususnya PPh final sebelum dan sesudah kenaikan BBM, di perlukan data penerimaan PPh final pada Kantor Pelayanan

: bahwa koreksi objek PPh Pasal 21 dilakukan oleh Terbanding berdasarkan ekualisasi dengan pos-pos biaya di PPh Badan yang memiliki kecenderungan sebagai objek PPh Pasal 21

a) Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha;.. b) Penyusutan atau pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi

Perusahaan tidak melakukan koreksi fiskal dalam menghitung besarnya penghasilan netto fiskal yang akan dijadikan dasar perhitungan besarnya pajak terutang perusahaan

Atas penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 23/2018 yang merupakan objek pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final,

Pajak Penghasilan yang dibayarkan perusahaan tersebut merupakan biaya bagi perusahaan tetapi tidak dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam

Objek penelitian berupa pertumbuhan investor ritel pada masa pandemi dan implikasinya terhadap penerimaan PPh final atas penjualan saham di bursa 2 Analisis Penerimaan Pajak