• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Jakarta, Januari 2017 Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara. Sofian Effendi,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR. Jakarta, Januari 2017 Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara. Sofian Effendi,"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karuniaNya, Laporan Kinerja KASN Tahun 2016dapat diterbitkan.

Laporan Kinerja ini merupakan gambaran tentang kiprah dan peran KASN dalam masa kerjanya yang baru menginjak 2 tahun dalam mendukung terbangunnya sistem merit manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) sesuai Undang-undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Di sisi lain juga, Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 ini dapat menjadi barometer terimplementasikannya UU ASN No 5 Tahun 2014 di seluruh instansi pemerintah di Indonesia dan menjadi bahan yang sangat bermanfaat untuk penyusunan program kerja dan kegiatan KASN pada tahun berikutnya.

Akhir kata, kepada semua pihak yang turut membantu proses penyusunan Laporan Kinerja KASN Tahun 2016, saya ucapkan banyak terima kasih.

Jakarta, Januari 2017 Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara

(2)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 ii  

RINGKASAN EKSEKUTIF

 

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) memiliki tujuan untuk menciptakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki integritas, professional, netralitas dan bebas dari intervensi politik, bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

UU-ASN mengamanatkan pembentukan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), lembaga mandiri yang bertanggung jawab kepada Presiden, dan mempunyai tugas pokok yakni: (a) pengawasan dalam penerapan Nilai Dasar ASN pada instansi pemerintah; (b) pengawasan dalam pelaksanaan Kode Etik dan Kode Perilaku Pegawai ASN; (c) pengawasan netralitas Pegawai ASN; (d) pengawasan atas pelaksanaan sistem merit dalam manajemen sumber daya ASN; dan (e) pengawasan atas pelaksanaan seleksi terbuka dan kompetitif pada Jabatan Pimpinan Tinggi.

Pelaksanaan tugas KASN tersebut, sangat mendukung percepatan Reformasi Birokrasi Nasional (RBN) yang menjadi prioritas pemerintah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2015-2019. Pentingnya RBN dalam rangka mengatasi masalah: (1) rendahnya efektivitas pemerintahan, termasuk di dalamnya kualitas kebijakan, kualitas pelayanan publik, dimana posisi Indonesia jauh tertinggal dari Negara tetangga di ASEAN, (2) rendahnya daya saing Indonesia secara global sehingga dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi akan terganggu dan Indonesia terancam masuk dalam middle

income trap, dan (3) masih tingginya tingkat korupsi yang telah

menghambat pertumbuhan ekonomi dan membuat pelayanan publik menjadi tidak efektif.

Kondisi ASN saat ini memang belum ideal. Jumlah PNS sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya 4.538.154 orang atau 1,78 % total penduduk (BKN, 2016) yang tersebar di 728 kementerian, lembaga non kementerian, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Sekitar 21 persen dari total PNS tersebut merupakan pegawai pusat, sedangkan sisanya sebanyak 79 persen merupakan PNS daerah. Mereka inilah yang menjadi kekuatan utama dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional. Permasalahan PNS di Indonesia bukan terletak pada jumlahnya, tapi lebih pada distribusi, komposisi dan kompetensinya. Saat ini distribusi PNS di Indonesia masih belum sesuai kebutuhan, dimana sekitar 47,66 persen PNS berada di Jawa dan daerah perkotaan. Di daerah yang jauh dari

(3)

perkotaan, terutama daerah pemekaran, jumlah PNS yang ada masih sangat terbatas sehingga sering terjadi kesulitan dalam mengisi jabatan yang ada.Kondisi seperti ini tentunya membuat pelayanan publik menjadi tidak optimal. Selain itu, kualifikasi pegawai yang ada tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Hampir semua instansi di pusat maupun daerah mengalami kelebihan tenaga administrasi dan kekurangan tenaga fungsional seperti tenaga kesehatan, dan tenaga teknis lainnya.

Sejak dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada bulan November 2014, KASN telah melakukan pengawasan penerapan system merit, melalui pendekatan preventif dengan menerbitkan rekomendasi sebelum seleksi dan setelah seleksi dilaksanakan oleh instansi. Selain itu juga dilakukan pengawasan represif dengan menindaklanjuti pengaduan yang disampaikan berbagai pihak terkait dengan pelanggaran system merit, serta kode etik dan kode perilaku ASN. Sampai Desember 2016 KASN telah mengeluarkan lebih kurang 1.330 rekomendasi, antara lain berupa: (1) ijin untuk melakukan seleksi JPT; (2) tindak lanjut hasil penyekidikan atas pelanggaran terhadap sistem merit; (3) tindak lanjut hasil penyelidikan terhadap pelanggaran netralitas yang terjadi pada Pilkada Serentak 2015 dan Pilkada Serentak 2017; dan (4) tindak lanjut penyelidikan atas pelanggaran kode etik dan kode perilaku.

Selama periode tersebut KASN telah melakukan 230 pertemuan dengan K/L dan Pemda untuk sosialisasi UU ASN, tata cara pengisian JPT, maupun sistem pengawasan pelaksanaan seleksi terbuka. Salah satu pertemuan yang telah dilaksanakan, diantaranya: High Level Dialogue on

Public Service Reform in Indonesia” yang diselenggarakan KASN

bekerjasama dengan Australian Public Service Commission (APSC) di Istana Wakil Presiden pada tanggal 16 November 2016. Acara tersebut, diikuti para stakeholder bidang Aparatur Sipil Negara (ASN) dari unsur K/L dan Pemda (Prov/kab/Kota), serta akademisi.

Kinerja KASN selama 2 (dua) tahun sejak didirikan sesungguhnya cukup baik. Semua kementerian sudah menerapkan seleksi terbuka dalam pengisian JPT, sedangkan LPNK sudah sekitar 94 persen, provinsi 97 persen, dan sekitar 75% kabupaten dan kota telah pula menerapkan seleksi terbuka. Hal ni menggambarkan tingkat kepatuhan instansi pemerintah dalam melaksanakan UU-ASN sangat tinggi, dan terus meningkatkan kualitasnya.

Adapun indikator di bawah ini menunjukkan pencapaian kinerja KASN selama 2 tahun:

a. Indikator Seleksi Terbuka (IST) menunjukkan persentase kementerian,

LPNK, Provinsi, dan Kabupaten dan Kota yang telah menerapkan Seleksi Terbuka.

(4)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 iv  

b. Indikator Mutu Pelaksanaan Seleksi Terbuka(IMPST) menunjukkan

persentase tingkat kepatuhan (compliance) tentang tata cara pelaksanaan Seleksi Terbuka;

c. Indikator Aduan Pelanggaran (IAP) Nilai Dasar, Kode Etik, dan Kode

Perilaku, Pelanggaran Netralitas, dan Pelanggaran Sistem Merit menunjukkan persentasi aduan yang telah diproses dan diberikan sanksi oleh PPK atas rekomendasi dari KASN.

Tabel 1: Indikator Pelaksanaan Seleksi Terbuka JPT per Kementerian, LPNK, Provinsi, dan Kabupaten dan Kota, Tahun 2015-2016 (dalam %)

Sumber: KASN, 2016

Tabel 2: Indikator Mutu Pelaksanaan Seleksi Terbuka (dalam %)

Sumber: KASN, 2016

Kementrian LPNK Provinsi Kab/Kota

100.00 83.87 97.06 52.72 16.13 23.54 2.94 23.74

Selesai Konsultasi Belum Melaksanakan

Kementerian/Lembaga Provinsi Kabupaten/Kota

64.6 65.1 64.2 63.8 55.9

73.7

(5)

Tabel 3: Penanganan Laporan Pengaduan, Penyelidikan dan Pelanggaran Netralitas 2015 - 2016

Sumber: KASN, 2016

Berdasarkan pelaksanaan tugas sebagaimana data capaian kinerja di atas, beberapa manfaat positif yang telah terwujud dari pelaksanaan tugas KASN, antara lain:

a. Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) pada instansi pemerintah dapat

berjalan secara transparan, adil (fair), bersih dari nepotisme dan mengurangi secara drastis praktek pungli atau “transaksi” dalam pengangkatan, promosi dan mutasi dalam jabatan birokrasi.

b. Keberadaan KASN telah membuat karier pegawai terlindungi karena

para ASN hanya dapat diberhentikan dari jabatan apabila ada alasan yang kuat, didukung data penilaian kinerja, dan dilaksanakan sesuai prosedur sebagaimana diatur dalam UU dan ketentuan terkait lainnya.

c. Meskipun KASN didukung anggaran yang kecil dan personalia yang

minim, namun KASN telah mampu mengendalikan pelanggaran netralitas pegawai ASN, dan melindungi ASN dari intervensi kepentingan politik khususnya selama pelaksanaan Pilkada 2015 dan menghadapi Pilkada 2017.

d. Keberadaan KASN telah mengembalikan penghargaan terhadap

kompetensi sebagai syarat utama menduduki JPT. Marwah akan sistem manajemen kinerja dan penghargaan “the right man on the right place”

Selesai Ditangani Proses Selesai Ditangani Proses Pengaduan & Penyelidikan Pelanggaran Netralitas 87 104 9 20 205 73 35 18 2015 2016

(6)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 vi  

terbukti ikut didukung oleh pimpinan instansi pemerintah, terutama pada PNS yang telah lama membina karir dalam birokrasi.

Dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, KASN senantiasa melaksanakan koordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait, diantaranya Kementerian PAN-RB, Kementerian Dalam Negeri, Badan Kepegawaian Negara, Lembaga Administrasi Negara, dan instansi lainnya. Koordinasi tersebut, sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong percepatan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan yang lebih baik dengan prinsip: Common goals different responsibility. Kementerian PAN-RB adalah regulator dari pelaksanaan reformasi birokrasi, sementara KASN adalah boundary agency yang tidak mengeluarkan regulasi namun hanya memiliki fungsi pengawasan dan rekomendasi atas dilaksanakan atau tidaknya regulasi itu. Koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Dalam Negeri sebagai instansi pembina dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, sebagaiamna diatur dalam UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Pada tahun 2017, pelaksanaan tugas dan program/kegiatan KASN akan difokuskan pada aspek: (a) pengawasan netralitas terhadap pelaksanaan Pilkada 2017, (b) peningkatan kepatuhan dan kualitas seleksi terbuka JPT; (c) pengembangan parameter penerapan sistem merit dalam manajemen ASN; (d) penyelesaian pengaduan secara cepat, akurat dan berlandaskan ketentuan UU-ASN; (e) peningkatan efektivitas mediasi dalam penanganan permasalahan dan “konflik” dalam penerapan manajemen ASN; dan (f) sosialisasi, promosi dan advokasi kebijakan dan manajemen ASN. Dengan dukungan dari Presiden, Wakil Presiden dan seluruh jajaran Kementerian/Lembaga dan pimpinan instansi pemerintah daerah, maka pelaksanaan kegiatan prioritas tersebut, diyakini dapat mendukung percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi nasional khususnya dalam meningkatkan peran ASN dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik.

(7)

A. KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN ASN15  B. PELAKSANAAN SISTEM MERIT16  C. NILAI DASAR, KODE ETIK, DAN KODE PERILAKU PEGAWAI ASN24  D. INTEGRITAS DAN NETRALITAS 27  E. PENGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN KASN 30  A. PENDAHULUAN  1  B. PROFIL ASN INDONESIA  2  C. PERANAN KASN DALAM MEMBANGUN ASN YAN BERKUALITAS  6  A. DAYA SAING NASIONAL 8  B. PERINGKAT KEMUDAHAN BERUSAHA10  C. PERANAN KASN DALAM MEMBANGUN ASN YANG BERKUALITAS 12 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i RINGKASAN EKSEKUTIF ii DAFTAR ISI  vii  

BAB I

KONDISI APARATUR SIPIL NEGARA

BAB II

KINERJA SEKTOR PUBLIK DI INDONESIA DAN

PERBANDINGAN BERBAGAI NEGARA

BAB III

IMPLEMENTASI UNDANG‐UNDANG NOMOR 5

TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

BAB IV

PERMASALAHAN DAN REKOMENDASI

A. PERMASALAHAN 32  B. REKOMENDASI 36 

BAB V

PENUTUP

(8)
(9)

BAB I

KONDISI APARATUR SIPIL NEGARA

A. PENDAHULUAN

Dalam rangka melaksanakan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan Negara sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 maka perlu dibangun birokrasi yang efisien dan efektif. Sehubungan dengan itu, di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 - 2019 dan Program Kerja Presiden dan Wakil Presiden Nawacita pada butir kedua, disebutkan bahwa reformasi birokrasi menjadi salah satu program prioritas. Pentingnya reformasi birokrasi terutama dalam rangka mengatasi masalah:

1) rendahnya efektivitas pemerintahan, termasuk di dalamnya kualitas kebijakan, kualitas pelayanan publik, dimana posisi Indonesia jauh tertinggal dari Negara tetangga di ASEAN,

2) rendahnya daya saing Indonesia secara global sehingga dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi akan terganggu dan Indonesia terancam masuk dalam middle income trap, dan

3) masih tingginya tingkat korupsi yang telah menghambat pertumbuhan ekonomi dan membuat pelayanan publik menjadi tidak efektif.

Untuk percepatan proses reformasi birokrasi, pemerintah telah menetapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU-ASN). Undang-undang tersebut bertujuan untuk menciptakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki integritas, professional, netralitas dan bebas dari intervensi politik, bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Perubahan mendasar yang diamanatkan oleh UU-ASN, antara lain: menetapkan ASN sebagai profesi; mengklasifikasikan ASN dalam 2 (dua) kategori yakni Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK); mengatur pengelompokan jabatan ASN menjadi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT), Jabatan Fungsional dan Jabatan Administrasi; penerapan manajemen ASN berbasis merit; pengisian JPT melalui seleksi terbuka dan kompetitif; dan mengamanatkan pembentukan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN). Perubahan mendasar tersebut, diharapkan dapat mendorong peran ASN dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, serta peningkatan kualitas pelayanan publik.

(10)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 2  

B. PROFIL ASN INDONESIA

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara bahwa pegawai ASN terdiri dari PNS dan PPPK. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) per Juni 2016, jumlah PNS sebanyak 4.538.154 orang yang tersebar di 728 kementerian, lembaga non kementerian, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Sekitar 21 persen dari total PNS tersebut merupakan pegawai pusat, sedangkan sisanya sebanyak 79 persen merupakan PNS daerah. Mereka inilah yang menjadi kekuatan utama dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional.

Jumlah PNS dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia tidak terlalu besar, dimana jumlah PNS hanya sekitar 1,78 persen dari jumlah penduduk. Sementara itu persentase PNS terhadap penduduk di Singapura sudah mencapai 2,5 persen, Malaysia sekitar 3,7 persen, Filipina 2,9 persen dan Brunei Darussalam mencapai 11,4 persen.

Gambar 1

Peta Persebaran PNS di Indonesia

Sumber: BKN, Juni 2016 (data terolah )

Namun demikian, permasalahan PNS di Indonesia bukan terletak pada jumlahnya, tapi lebih pada distribusi dan komposisinya. Saat ini distribusi PNS di Indonesia masih belum sesuai kebutuhan, dimana sekitar 47,66 persen PNS berada di Jawa dan daerah perkotaan. Di daerah yang jauh dari perkotaan, terutama daerah pemekaran, jumlah PNS yang ada masih sangat terbatas sehingga sering terjadi kesulitan dalam mengisi jabatan yang ada. Kondisi seperti ini tentunya membuat pelayanan publik menjadi tidak optimal.

(11)

Grafik 1

Struktur PNS di Indonesia

Sumber: BKN, Juni 2016

Dari segi komposisi, masih terdapat kesenjangan antara kualifikasi pegawai yang ada dan kualifikasi serta kompetensi yang dibutuhkan. Dari 4.538.154 PNS sekitar 50,90 persen adalah tenaga fungsional tertentu, seperti tenaga pendidik, tenaga kesehatan dan tenaga teknis lainnya. Sekitar 39,33 persen adalah tenaga fungsional umum atau tenaga administrasi. Sisanya 9,77 persen adalah pejabat struktural, yaitu pejabat pimpinan tinggi, administrator dan pengawas. Untuk tenaga fungsional tertentu, 74,15 persen diantaranya adalah tenaga pendidik, 8,36 persen merupakan tenaga kesehatan dan 17,43 persen adalah tenaga teknis lainnya.

Keberadaan tenaga administrasi yang hampir mencapai 40 persen sebenarnya jauh di atas kebutuhan. Hampir semua instansi dan pemerintah daerah mengalami kelebihan tenaga administrasi dan kekurangan tenaga fungsional tertentu. Hal ini disebabkan oleh kebijakan rekrutmen di masa lalu yang belum sepenuhnya didasarkan kebutuhan.

Jika dilihat dari tingkat pendidikannya, masih terdapat sejumlah PNS yang pendidikannya rendah yaitu SLTP ke bawah sebanyak 130.073 orang. Meskipun jumlah PNS yang berpendidikan tinggi sudah mencapai 53 persen, namun seperti dinyatakan sebelumnya bahwa sebagian besar tidak mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan yang dituntut oleh jabatannya. Hal ini tentu mempengaruhi penyelenggaraan pelayanan publik, yang menjadi perhatian khusus Agenda Nawacita pemerintahan saat ini.

(12)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 4  

Grafik 2

Jumlah PNS Menurut Tingkat Pendidikan, 2016

Sumber: BKN, Juni 2016

Disisi lain, masih terdapat pegawai honorer dan pegawai kontrak yang jumlahnya cukup besar. Padahal, antara tahun 2006 sd 2014 Pemerintah telah mengangkat PTT (Pegawai Tidak Tetap) tanpa melalui seleksi sebanyak 1.185.974 orang. Namun menurut data yang tercatat di BKN (kondisi 6 Oktober 2016, yang disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat di DPR tanggal 10 Oktober 2016), ternyata masih banyak yang belum diangkat menjadi CPNS. Sebagaimana tercatat dalam tabel di bawah ini:

Grafik 3

Jumlah Tenaga Honorer di Seluruh Instansi Pemerintah

Sumber: BKN, Oktober 2016 SD SLTP SLTA DIPLOMA S1 S2 S3 50,077  79,996  1,151,527  852,066  2,109,318  280,545  14,625  139.609 48.098 41.898 41.307 648.465 209.872 202.117 195.592 Usulan Instansi Memenuhi Kriteria Usulan Masuk Ditetapkan NIP K2 K1

(13)

Hal yang perlu menjadi perhatian dalam pengambilan kebijakan adalah manakala wacana pengangkatan terhadap seluruh pegawai honorer tersebut dilakukan, hal utama yang wajib dikedepankan adalah mutu dan kualitas perekrutannya, harus didasarkan pada kebutuhan sehingga diharapkan mampu meningkatkan pelayanan publik yang handal, bersih dari KKN, sehingga dapat terwujud aparatur sipil negara yang berkelas dunia.

Gambar 2

Manajemen ASN Menurut UU Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

  Pelaksanaan manajemen aparatur sipil negara sebagai implementasi UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN masih menghadapi berbagai permasalahan utama, antara lain: (a) kompetensi yang dimiliki oleh ASN belum sesuai dengan kebutuhan untuk melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan; (b) distribusi PNS masih timpang, sebagian besar berada di Jawa dan daerah perkotaan; (c) manajemen kinerja yang belum diterapkan dengan baik sehingga kurang dapat memacu peningkatan profesionalisme dan kinerja organisasi; (d) penempatan dalam jabatan yang belum berdasarkan pada kesesuaian kualifikasi dan standar kompetensi jabatan, sehingga belum sepenuhnya terlaksana the right man on the right

place; dan (e) intervensi politik yang masih kuat dan netralitas yang belum

terbangun dengan baik.

Adapun tantangan ke depan yang harus dijawab guna mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) kelas dunia, adalah;

(14)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 6  

a. Membangun ASN sebagai profesi dengan mengacu pada nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN dan mewujudkan netralitas ASN.

b. Membangun prakondisi bagi penerapan sistem merit secara efektif, seperti penyiapan standar kompetensi jabatan, pembangunan manajemen kinerja, pembangunan talent pool, dan penerapan sistem penggajian yang didasarkan pada beban kerja, resiko, tanggung jawab dan kinerja.

c. Memastikan sekitar 30.585 Jabatan Pimpinan Tinggi (data BKN, Juni 2016) diisi oleh ASN terpilih yang benar-benar berkualitas dan dapat menjadi pemimpin yang mendorong terbangunnya birokrasi kelas dunia di Indonesia.

d. Membangun sistem diklat yang efektif untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan wawasan strategis bagi pejabat pimpinan tinggi utama, madya dan pratama;

e. Mengurangi kesenjangan antara kualifikasi dan kompetensi pegawai yang ada dan kualifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan melalui perbaikan dalam sistem pengadaan pegawai ASN dan penyelenggaraan Diklat teknis/fungsional.

f. Mendorong terjadinya distribusi ASN yang lebih merata secara nasional, sesuai kebutuhan instansi dan daerah.

C. PERANAN KASN DALAM MEMBANGUN ASN YANG BERKUALITAS KASN dibentuk berdasarkan Pasal 27 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Menurut Pasal 29 UU-ASN tersebut, KASN berkedudukan di ibukota negara. Fungsi KASN, menurut Pasal 30, adalah mengawasi pelaksanaan norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN serta penerapan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN pada instansi Pemerintah. Sedangkan tugas KASN, menurut Pasal 31 Ayat (1) sebagai berikut : (a) menjaga netralitas Pegawai ASN; (b) pengawasan atas pembinaan profesi ASN; dan (c) melaporkan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan manajemen ASN kepada Presiden.

UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara juga menegaskan bahwa pendirian KASN bertujuan untuk:

1. Meningkatkan kualitas implementasi sistem merit dalam manajemen ASN (non diskriminatif, profesional dan kinerja)

2. Meningkatkan kepatuhan pegawai ASN terhadap nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN.

3. Menciptakan ASN yang netral, bebas dari pengaruh politik serta berfungsi sebagai perekat pemersatu bangsa

(15)

Peran KASN yang sangat strategis dalam mengawasi pelaksanaan nilai-nilai dasar, kode etik, kode perilaku dan sistem merit dalam manajemen ASN diharapkan dapat menghasilkan ASN yang: berintegritas, profesional, netral, bersih dari praktek KKN; mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat; dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

Adapun kewenangan yang dimiliki KASN sebagaimana diamanatkan dalam UU-ASN meliputi:

a. mengawasi setiap tahapan proses pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi mulai dari pembentukan panitia seleksi instansi, pengumuman lowongan, pelaksanaan seleksi, pengusulan nama calon, penetapan, dan pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi;

b. mengawasi dan mengevaluasi penerapan asas, nilai dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN;

c. meminta informasi dari pegawai ASN dan masyarakat mengenai laporan pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN;

d. memeriksa dokumen terkait pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN; dan

e. meminta klarifikasi dan/atau dokumen yang diperlukan dari Instansi Pemerintah untuk pemeriksaan laporan atas pelanggaran norma dasar serta kode etik dan kode perilaku Pegawai ASN.

KASN telah melaksanakan tugasnya sejak pelantikan Ketua, Wakil Ketua dan anggotanya pada tanggal 27 November 2014. Dalam rentang waktu dua tahun tersebut, banyak kegiatan yang telah dilakukan dalam upaya melaksanakan tugas KASN sebagaimana digariskan dalam UU-ASN tersebut. Fokus utama saat ini adalah pada pengawasan pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi. Saat ini hampir semua Kementerian dan LPNK, Pemerintah Provinsi dan sekitar 75 persen Pemerintah Kabupaten/Kota sudah melaksanakannya, walaupun dengan kualitas yang berbeda. Disamping itu, yang juga mendapat prioritas adalah pengawasan dalam rangka peningkatan netralitas PNS, khususnya menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada). Untuk itu pengawasan terhadap pelaksanaan norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN terus ditingkatkan. Tantangan ke depan adalah bagaimana agar KASN dapat mendorong terwujudnya ASN sebagai tenaga profesional yang mendukung terwujudnya birokrasi kelas dunia di Indonesia.

(16)
(17)

BAB II

KINERJA SEKTOR PUBLIK DI INDONESIA DAN

PERBANDINGAN DENGAN BERBAGAI NEGARA

Keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pencapaian sasaran pembangunan sangat terkait dengan kualitas tata kelola pemerintahan. Berbagai kajian internasional memperlihatkan bahwa terdapat korelasi yang positif antara tingkat kualitas tata kelola pemerintahan dengan kemajuan suatu negara khususnya dalam pencapaian perkembangan ekonomi dan tingkat kualitas kehidupan masyarakatnya. Kualitas tata kelola sektor pubik dapat dilihat dari berbagai indikator atau parameter, seperti indeks daya saing nasional (competitiveness index), indeks kemudahan berusaha (Ease of Doing Business, EODB), indeks efektivitas pemerintah (Government

Effectivenenss Index), dan indeks persepsi korupsi (Corruption Perceptions Index, CPI).

Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kancah persaingan global dalam berbagai bidang, khususnya perekonomian. Oleh karena itu, Indonesia dituntut untuk terus berbenah dan berpacu menghadapi persaingan global yang semakin kompetitif. Reformasi birokrasi yang saat ini sedang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia tidak lepas dari upaya untuk melakukan pembenahan dan peningkatan kinerja sektor publik di Indonesia.

A. DAYA SAING NASIONAL

Daya saing suatu Negara merupakan salah satu faktor penting dalam menarik investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Laporan Indeks Daya Saing Global (Global Competitivenenss Report) 2016-2017 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum; (WEF), menunjukkan bahwa daya saing Indonesia dari berbagai parameter hanya mencapai skor 4,52. Laporan tersebut bahkan menunjukkan bahwa posisi daya saing Indonesia merosot 4 (empat) tingkat ke bawah, dari peringkat ke-37 pada tahun lalu (2005-2016) menjadi peringkat ke-41 tahun ini (2016-2017) dari 138 negara yang dinilai. Walaupun indikator pengembangan sektor keuangan dinilai cukup baik, yakni naik tujuh peringkat, namun untuk sektor kesehatan dan pendidikan posisi Indonesia turun 20 peringkat. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia berada di peringkat ke-91 atau turun 6 (enam) peringkat. Hal ini disebabkan oleh penetrasi TIK di Indonesia masih sangat rendah.

(18)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 2  

Perkembangan daya saing Indonesia dibandingkan dengan berbagai Negara dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2

Indeks Daya Saing Global Dan Posisi Indonesia Dibandingkan Dengan Negara Asean Dan Negara Kawasan Lainnya

NEGARA TAHUN 2016-2017 TAHUN 2015-2016 (TURUN) NAIK

PERINGKAT)

PERINGKAT SKOR PERINGKAT SKOR

Negara ASEAN Singapura 2 5,72 2 5,68 - Malaysia 25 5,16 18 5,23 (7) Thailand 34 4,64 32 4,64 (2) Indonesia 41 4,52 37 4,52 (4) Philipina 57 4,36 47 4,39 (10) Brunei Darussalam

58 4,35 n/a n/a n/a

Vietnam 60 4,31 56 4,30 (4) Kamboja 89 3,98 90 3,94 1 Negara Terpilih Swiss 1 5,81 1 5,76 - USA 3 5,70 3 5,61 - Jepang 8 5,48 6 6,47 (2) Hongkong 9 5,48 7 5,46 (2) Selandia Baru 13 5,31 16 5,25 3 Taiwan 14 5,28 15 5,28 (1) Australia 22 5,19 21 5,15 (1) Korea Selatan 26 5,03 26 4,99 - China 28 4,95 28 4,89 - Negara Melewati Indonesia Polandia 36 4,56 41 4,49 5 Azerbaijan 37 4,55 40 4,50 3 India 39 4,52 55 4,31 16 Malta 40 4,52 48 4,39 8 Indonesia 41 4,52 37 4,52 (4)

Sumber: Global Competitivenenss Report, 2016-2017

Berdasarkan tabel di atas terliat bahwa posisi daya saing Indonesia di kawasan Negara ASEAN masih tertinggal apabila bandingkan dengan Singapora, Malaysia dan Thailand, meskipun Malaysia dan Thailand juga mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Singapura tetap menduduki peringkat 2 dengan skor 5,72, Malaysia peringkat 25 dengan skor 5,16, dan Thailand peringkat 34 dengan skor 4,64. Posisi

(19)

Indonesia lebih baik apabila dibandingkan dengan negara Philipina, Brunai Darussalam, Vietnam dan Negara ASEAN lainnya.

Laporan WEF tersebut juga menyebutkan bahwa faktor permasalahan utama dalam berusaha di Negara Indonesia, adalah (i) korupsi; (ii) inefisiensi birokrasi, (iii) ketersediaan infrastuktur. Berdasarkan permasalahan utama tersebut, maka Pemerintah Indonesia harus memprioritaskan praktek korupsi dalam berbagai bidang khususnya yang terkait dengan pengembangan dunia usaha dan investasi, dan memfokuskan pelaksanaan reformasi birokrasi untuk melakukan pembenahan inefisiensi birokrasi pemerintah, dan meningkatkan pembangunan infrastruktur.

Pembenahan di bidang birokrasi pemerintah tidak dapat dilepaskan dari pembenahan dalam manajemen Apratur Sipil Negara. Oleh karena itu, penerapan sistem merit dalam manajemen ASN sebagaimana amanat UU Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, merupakan keniscayaan guna mendukung peningkatan daya saing Indonesia.

B. PERINGKAT KEMUDAHAN BERUSAHA

Salah satu parameter yang dipakai oleh kalangan dunia usaha dalam memutuskan untuk membuat keputusan melakukan investasi adalah indeks kemudahan berusaha. Berdasarkan survei kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EODB) tahun 2017 yang diterbitkan oleh Grup Bank Dunia, kemudahan berusaha di Indonesia naik dari peringkat 109 yang disurvey pada tahun 2016. Pencapaian kenaikan peringkat tersebut menjadi rekor dan merupakan hasil positif yang dicapai dari deregulasi yang dilakukan oleh pemerintah. Bahkan menurut World Bank, kenaikan 15 peringkat dalam waktu satu tahun adalah lonjakan peringkat terbesar dalam sejarah Ease of Doing Business - World Bank.

Kenaikan peringkat kemudahan berusaha di Indonesia dikarenakan terjadinya perbaikan terhadap 7 (tujuh) dari 10 indikator utama yang dinilai. Indikator memulai bisnis naik tertinggi 16 peringkat, dari peringkat ke-167 menjadi peringkat ke-151. Indikator lain yang membaik adalah permohonan listrik, pembayaran pajak, pencatatan tanah dan properti, pengajuan kredit, perdagangan lintasnegara, serta pelaksanaan kontrak. Sedangkan 3 indikator yang mengalami penurunan turun peringkat adalah permohonan izin konstruksi, perlindungan investor minoritas, dan penyelesaian kepailitan.

Meskipun Indonesia mengalami kenaikan peringkat yang cukup tinggi, namun kondisi tersebut masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh berbagai kalangan khususnya para pelau usaha.

(20)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 4  

Kemudahan berusaha di Indonesia masih kalah dibanding negara-negara ASEAN seperti Singapura yang di peringkat ke-2, Malaysia ke-23, Thailand ke-46, Brunei Darussalam ke-72, dan Vietnam ke-82. Namun, RI lebih baik dari Filipina yang menduduki peringkat 99, Kamboja 131, Laos ke-139, dan Myanmar ke-170. Sementara itu, Tiongkok yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar di dunia berada di peringkat ke-78.

Tabel 3

Peringkat Kemudahan Berusaha di Indonesia dan Perbandingan Berbagai Negara

NO NEGARA TAHUN 2016 TAHUN 2015

PERINGKAT SKOR PERINGKAT SKOR

1 New Zealand 1 87.01 2 86,79 2 Singapore 2 85.05 1 87,34 3 Denmark 3 84.87 3 84,40 4 Hong Kong 4 84.21 5 83,67 5 Korea Selatan 5 84.07 4 83,88 6 Taiwan 11 81.09 11 80,55 7 Australia 15 80.26 13 80,08 8 Malaysia 23 78.11 18 79,13 9 Japan 34 75.53 34 74,22 10 Thailand 46 72.53 49 71,42 11 Brunei Darussalam 72 65.51 84 62,93 12 China 78 64.28 84 62,93 13 Vietnam 82 63.83 90 62,10 14 Indonesia 91 61.52 109 58,12 15 Philippines 99 60.40 103 60,07 16 Brazil 123 56.53 116 57,67 17 India 130 55.27 130 54,68 18 Lao PDR 139 53.29 134 53,77

Sumber: diolah dari ‘Doing Business 2017, the World Bank Group.

Keberhasilan Indonesia dalam menaikkan peringkat kemudahan berusaha tidak lepas dari pelaksanaan program prioritas keberhasilan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir dalam melaksanakan reformasi birokrasi, khususnya upaya memperbaiki proses perizinan yang kondisinya semakin membaik, terutama di kota-kota besar. Peningkatan peringkat kemudahan berusaha diharapkan dapat mendorong masuknya investasi di berbagai bidang di Indonesia.

(21)

C. INDEKS EFEKTIVITAS PEMERINTAH

Bank Dunia setiap tahunnya menerbitkan laporan hasil penelitian yang berkaitan dengan perkembangan indikator tata kelola diseluruh dunia (Worldwide Governance Indicators; WGI). Indikator tersebut mencakup enam dimensi utama dari penyelenggaraan pemerintahan, yakni (1) Voice &

Accountability, (2) Political Stability and Lack of Violence; (3) Government Effectiveness; (4) Regulatory Quality; (5) Rule of Law, dan (6) Control of Corruption.

Secara umum, penilaian indikator tata kelola tersebut untuk menggambarkan kondisi dan kinerja dari institusi-institusi pemerintahan dalam menjalankan tugas, fungsi dan kewenangan pada suatu negara. Penilaian tersebut juga mencakup proses dimana penyelenggara pemerintahan dipilih, dipantau dan diganti; kapasitas pemerintah untuk secara efektif merumuskan dan melaksanakan kebijakan yang sehat; dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan dalam mengatur kehidupan ekonomi dan sosial di negara tersebut serta interaksi antar warga negara.

Salah satu indikator yang mencerminkan kinerja birokrasi pemerintah adalah indeks efektifitas pemerintah (Government Effectiveness). Penilaian indeks efektivitas pemerintah diformulasikan dari beberapa parameter yakni persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik, penyelenggaraan kualitas pelayanan publik dan tingkat independensinya dari tekanan politik, kualitas perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan komitmen pemerintah dalam menjalankan kebijakan tersebut.

Tabel 4

Indeks Efektivitas Pemerintah Negara Indonesai dan Perbandingan dengan Negara ASEAN Tahun 2014 dan 2015

No NEGARA INDEKS EFFEKTIVITAS PEMERINTAH 2015 INDEKS EFFEKTIVITAS PEMERINTAH 2014

INDEKS(*) SKOR INDEKS (*) SKOR

1 SINGAPURA 2,25 100 2,19 100 2 MALAYSIA 0,96 77 1,14 84 3 THAILAND 0,36 66 0,34 65 4 VIETNAM 0,08 55 -0,06 53 5 FILIPINA 0,11 58 0,19 62 6 INDONESIA -0,22 46 -0,01 56

Sumber: WGI Bank Dunia, 2016,

Keterangan: (*) adalah rentang antara -2,5 (nilai indeks terendah/paling tidak efektif) sampai dengan +2,5 (nilai indeks tertinggi/paling efektif)

(22)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 6  

Berdasarkan hasil penilaian Bank Dunia, maka nilai indeks efektivitas pemerintah Negara Indonesia dibandingkan dengan Negara ASEAN dapat dilihat pada tabel 4. Tabel di atas memperlihatkan bahwa kinerja tata kelola pemerintah Indonesia dibandingkan dengan Negara-negara di kawasan ASEAN masih jauh tertinggal. Dari indeks dengan rentang -2,5 sampai dengan 2,5, posisi Indonesia pada tahun 2015 adalah 0,22, turun dari -0,01 pada tahun 2014. Angka tersebut memberi indikasi bahwa penyelenggaran pemerintahan di Indonesia masih belum efektif. Kualitas pelayanan publik masih rendah, independensi birokrasi dari tekanan politik juga rendah, dan kualitas perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik juga masih rendah. Permasalahan tersebut harus menjadi agenda utama yang harus ditangani pemerintah saat ini, khususnya melalui perbaikan dalam bidang manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) karena meningkatnya kualitas aparatur merupakan faktor utama pendorong percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi dan peningkatan kinerja pemerintahan.

 

D. INDEKS PERSEPSI KORUPSI

Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perception Index (CPI) merupakan indeks komposit yang mengukur persepsi pelaku usaha dan pakar terhadap korupsi di sektor publik, yaitu korupsi yang dilakukan oleh pegawai negeri, penyelenggara negara dan politisi. Sejak diluncurkan pada tahun 1995, skor IPK dengan rentang nilai 0 (sangat tinggi praktek korupsi) sampai dengan nilai 100 (sangat rendah) telah digunakan oleh banyak negara sebagai rujukan tentang situasi korupsi dalam negeri dibandingkan dengan negara lain. Tingginya IPK di suatu negara dapat menjadi penghambat pengembangan dunia usaha di negara tersebut.

Pengukuran terhadap IPK tahun 2015 menunjukkan ada enam (6) negara yang memiliki skor tertinggi. Negara-negara tersebut adalah Denmark (Skor 91/ Peringkat 1), Finlandia (Skor 90/ Peringkat 2), Swedia (89/3), Selandia Baru (88/4), Belanda (87/5), dan Norwegia (87/5). Negara dengan skor terendah terdapat 5 negara yaitu; Sudan Selatan (15/163), Sudan (12/165), Afghanistan (11/166), Korea Utara (8/167) dan Somalia (8/167).

Pada tahun 2015,IPK Indonesia mencapai skor 36. Angka tersebut naik 2 poin dari tahun sebelumnya dan membuat Indonesia menempati peringkat 88 dari 168 negara yang di survei. Meskipun IPK Indonesia mengalami kenaikan namun kenaikannya tidak signifikan.

(23)

Adapun skor dan peringkat IPK Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di Kawasan ASEAN Tahun 2015, sebagaimana tabel di bawah ini.

Tabel 5

Peringkat dan Skor Negara Indonesia dibandingkan Negara ASEAN No Negara Peringkat IPK 2015 Skor Peringkat Tahun 2014 Skor Keterangan

1 Singapura 8 85 7 84 Ranking Turun, Skor Membaik

2 Malaysia 54 50 50 52 Ranking Turun, Skor Turun

3 Thailand 76 38 85 38 Ranking Naik, Skor Tetap

4 Indonesia 88 36 107 34 Ranking Naik, Skor naik

5 Philipna 95 35 85 38 (Ranking Turun, Skor Turun)

6 Vietnam 112 31 119 31 Ranking Naik, Skor tetap

7 Myanmar 147 22 156 21 Ranking naik, Skor Naik

Sumber: IPK, Transparansi Indonesia, 2015

Dari data di atas terlihat bahwa pemberantasan korupsi masih menjadi salah satu masalah yang perlu diprioritaskan dalam agenda pemerintah. Disamping penegakan hukum dalam kasus korupsi harus terus ditingkatkan, upaya pencegahan praktek korupsi di lingkungan birokrasi melalui pembenahan dalam manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagaimana digariskan dalam UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara harus dilaksanakan secara lebih konsisten. Perbaikan peringkat atau skor IPK Indonesia akan berdampak positif pada meningkatnya kepercayaan publik terhadap pemerintah dan dapat memperbaiki iklim usaha di Indonesia.

             

(24)
(25)

 

BAB III

IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014

TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

A. KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN ASN

Kebijakan dan manajemen ASN telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU-ASN) yang diberlakukan sejak tanggal 15 Januari 2014. UU-ASN ditetapkan dengan tujuan untuk menciptakan Aparatur Sipil Negara yang memiliki integritas, profesional, netralitas dan bebas dari intervensi politik, bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

UU-ASN memuat ketentuan pokok antara lain sebagai berikut: (1) menjadikan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai profesi yang didasarkan pada nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN; (2) membedakan dua kategori pegawai ASN, yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK); (3) mengatur kembali pengelompokan jabatan ASN menjadi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT), Jabatan Fungsional dan Jabatan Administrasi; (4) menerapkan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN; (5) mewajibkan pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi melalui seleksi terbuka dan kompetetif, kecuali bagi instansi yang sudah menerapkan sistem merit; (6) mengamanatkan pembentukan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), yaitu lembaga mandiri yang berfungsi mengawasi pelaksanaan norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN serta penerapan system merit dalam kbijakan dan manajemen ASN.

Presiden selaku pemegang kekuasaan pemerintah merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam kebijakan, pembinaan profesi, dan manajemen ASN. Untuk menyelenggarakan kekuasaan tersebut, Presiden mendelegasikan sebagian kekuasaannya kepada:

1. Kementerian PANRB, berkaitan dengan kewenangan perumusan dan penetapan kebijakan, koordinasi dan sinkronisasi kebijakan, serta

(26)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 2  

pengawasan atas pelaksanaan kebijakan ASN; 


2. KASN, berkaitan dengan kewenangan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan manajemen ASN untuk menjamin perwujudan sistem merit serta pengawasan terhadap penerapan asas serta kode etik dan kode perilaku ASN; 


3. LAN, berkaitan dengan kewenangan penelitian, pengkajian kebijakan manajemen ASN, pembinaan, dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan ASN; dan

4. BKN, berkaitan dengan kewenangan penyelenggaraan manajemen ASN, pengawasan dan pengendalian pelaksanaan norma, standar, prosedur, dan kriteria manajemen ASN.

Selain itu, Presiden juga dapat mendelegasikan kewenangan kepada:

a.

Pejabat Pembina Kepegawaian, yaitu menteri, pimpinan lembaga di

lembaga pemerintah nonkementerian; sekretaris jenderal di sekretariat lembaga negara dan lembaga nonstruktural; gubernur di provinsi; dan bupati/walikota di kabupaten/kota, untuk menetapkan pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian pejabat selain pejabat pimpinan tinggi utama dan madya, dan pejabat fungsional keahlian utama;

b.

Pejabat yang Berwenang, yaitu sekretaris jenderal/sekretariat

lembaga negara, sekretariat lembaga nonstruktural, sekretaris daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk pembinaan manajemen ASN. 


B. PELAKSANAAN SISTEM MERIT

Sistem merit adalah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja, yang diberlakukan secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama dan asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan. Penerapan sistem merit dimaksudkan untuk:

1) menempatkan ASN yang profesional dan berintegritas pada jabatan-jabatan birokrasi pemerintah sesuai kompetensinya;

2) mempertahankan ASN melalui pemberian kompensasi yang layak; 3) mengembangkan kemampuan ASN melalui bimbingan dan diklat; dan 4) melindungi karier ASN dari diskriminasi, primordialisme dan kebijakan

lainnya yang bertentangan dengan prinsip merit.

Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan kinerja birokrasi dalam memberi pelayanan kepada masyarakat dan mendukung peningkatan daya saing nasional.

(27)

mendelegasikan kekuasaannya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam kebijakan, pembinaan profesi, dan manajemen ASN kepada KASN untuk kewenangan yang terkait dengan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan manajemen ASN untuk menjamin perwujudan sistem merit serta pengawasan terhadap penerapan asas serta kode etik dan kode perilaku ASN.

Dalam melakukan pengawasan, KASN menggunakan dua pendekatan

sebagai berikut:

1) Preventif, melalui:

a. penerbitan rekomendasi terhadap instansi yang akan melaksanakan seleksi terbuka didasarkan pada evaluasi terhadap dokumen yang disampaikan kepada KASN;

b. monitoring selama proses seleksi berlangsung;

c. penerbitan rekomendasi atas laporan pelaksanaan dan hasil seleksi yang dilaksanakan instansi.

2) Represif, dengan menindaklanjuti pengaduan yang disampaikan kepada KASN yang terkait dengan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan system merit, netralitas, serta norma dasar, kode etik dan kode perilaku ASN dengan meminta klarifikasi, melakukan penyelidikan dan penerbitan rekomendasi atas dasar hasil penyelidikan.

Sesuai kewenangan yang diamanatkan UU-ASN, KASN telah melaksanakan tugas dan fungsi pengawasan terhadap penerapan sistem merit dalam kebijakan dan manajemen ASN. Sampai saat ini, prioritas terutama ditujukan pada pengawasan terhadap pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) baik Pratama, Madya, dan Utama pada kementerian, lembaga non kementerian, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

Sehubungan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, kegiatan KASN selama tahun 2016 sebagaimana diuraikan di bawah ini.

1. Promosi dan Advokasi Implementasi UU-ASN

a. Menyelenggarakan “High Level Dialogue on Public Service Reform in

Indonesia” yang dilaksanakan di Kantor Wakil Presiden pada

tanggal 16 Nopember 2016 yang diikuti sekitar 250 peserta dari unsur K/L dan Pemda.

b. Melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan terkait pelaksanaan seleksi terbuka dan kompetetitif bagi pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi pada Instansi Pemerintah melalui workshop, seminar, forum diskusi dengan mengundang pihak

(28)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 4  

yang berkepentingan, khususnya para pengelola kepegawaian dari instansi pusat dan daerah.

c. Melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan terkait manajemen ASN dan penerapan sistem merit melalui media

elektronik (Facebook), Talkshow di Radio dan TV, media cetak(advetorial, surat kabar, majalah Gatra), leaflet dan booklet. d. Melakukan program kerjasama dengan pihak terkait seperti

KemenPANRB, BKN, LAN, Kemendagri, Bawaslu dan instansi lainnya yang terkait, untuk memperkuat pengawasan

Boks 1. 

Banyak Pertanyaan tentang Sistem Merit, KASN Gelar Forum 

 

BANDUNG,  (PR).‐  Komisi  Aparatur  Sipil  Negara  (KASN)  menyoroti  pelaksanaan  Sistem  Merit  yang  telah  diberlakukan  sejak  2014.  Sistem  Merit  adalah  kebijakan  dan  manajemen  SDM  Aparatur  Negara berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar tanpa membedakan  latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal‐usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, dan  kondisi kecacatan. 

Sorotan  itu  disampaikannya  dalam  Forum  Diskusi  &  Sosialisasi  bertajuk  "Membangun  Kepatuhan  Implementasi UU No 5 Tahun 2014 BAN PP No 18 Tahun 2016" di Hotel Savoy Homann, Jalan Asia  Afrika, Kota Bandung, Kamis 10 November 2016. 

Forum diskusi  yang dihadiri 82 Sekretaris Daerah dan Kepala Badan Kepegawaian Daerah Pemkab  dan Pemkot seluruh Indonesia itu dipimpin langsung Wakil Ketua  KASN Irham Dilmy bersama dua  anggota komisioner, Nuraida Moeksen dan Prijono Tjiptoharijanto. 

Irham  Dilmy  mengatakan,  banyaknya  pertanyaan  dan  masalah  di  daerah  membuat  KASN  perlu  menggelar forum diskusi. 

”Kami  hampir  setiap  hari  menghadapi  berbagai  macam  pertanyaan,  masalah,  problematika  di  daerah. Satu atau tiga daerah minta diskusi ke Jakarta. Terkadang pertanyaannya pun itu‐itu juga.  Maka dari itu, alangkah lebih baik jika dibahas bersama dalam waktu yang sama,” katanya. 

Forum  diskusi  itu  juga  diadakan  supaya  mengurangi  potensi  pelanggaran  Sistem  Merit  seperti  politisasi pegawai Aparatur Sipil Negara. 

”Banyak  terjadi  politisasi  terhadap  Aparatur  Sipil  Negara.  Pelanggaran  Merit  itu  biasanya  seperti  orang  diturunkan  jabatannya  tanpa  alasan  yang  jelas  dan  mutasi.  Kepala  daerah  baru  biasanya  membongkar  pegawainya  dengan  orang‐orang yang  dia  kenal. Semuanya  masih  berkaitan  dengan  balas budi dan balas dendam,” ujar Irham. 

KASN  yang  memiliki  fungsi  pengawasan  dan  evaluasi  mengharapkan  forum  diskusi  itu  bisa  meningkatkan kepatuhan seluruh Aparatur Sipil Negara. 

”Inti paling utama adalah supaya instansi pemerintahan, khususnya daerah bisa menjadikan mereka  lebih  patuh.  Agar  ke  depan,  kinerja  dan  pelayanan  lebih  baik  dan  rakyat  jadi  lebih  senang,”  kata  Irham. (Surya Fikri Asshidiq)*** 

Sumber: http://www.pikiran‐rakyat.com/nasional/2016/11/10/banyak‐pertanyaan‐tentang‐sistem‐ merit‐kasn‐gelar‐forum‐384426 

(29)

pelaksanaan sistem merit dalam manajemen ASN, dan netralitas dalam Pilkada.

e. Melakukan program kerja sama dengan mitra internasional, antara lain: Australian Public Service Commission (APSC), MSI, KOICA dalam rangka mendukung pengembangan sistem dan dukungan kapabilitas organisasi KASN.

Sepanjang tahun 2016, KASN telah melaksanakan kegiatan sosialisasi di Provinsi DI Yogyakarta, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Provinsi Kalimantan Utara, Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Sumatera Barat, Kota Depok, Kota Bandung, Kabupaten Pandeglang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Barat, dan daerah lainnya.

Disamping itu, KASN telah melakukan dialog dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pakar dan praktisi di bidang manajemen SDM serta media guna mendapatkan masukan bagi penyempurnaan sistem merit dalam manajemen ASN.

2. Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan UU ASN

a. Menyusun Pedoman Pengawasan KASN dalam pelaksanaan Seleksi Pengisian JPT di lingkungan Instansi Pemerintah.

b. Menyempurnakan SOP Monev yang dilengkapi dengan Petunjuk Teknis bagi penyusunan Rekomendasi KASN.

c. Melakukan review terhadap dokumen perencanaan seleksi terbuka pengisian JPT yang diajukan oleh Instansi Pemerintah sebelum rekomendasi KASN untuk memulai seleksi diterbitkan. d. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan seleksi secara

langsung ke instansi yang sedang melakukan seleksi maupun secara tidak langsung melalui media serta penanganan pengaduan yang disampaikan masyarakat. Tujuannya adalah memastikan pelaksanaan seleksi berjalan sesuai ketentuan dan menghindari terjadinya penyimpangan dalam proses seleksi yang dilakukan Panitia Seleksi (Pansel). Pengawasan langsung dapat berupa inisiatif sendiri, khususnya bagi pengisian jabatan yang dianggap strategis atau atas permintaan instansi yang melaksanakan seleksi.

e. Melakukan evaluasi terhadap dokumen hasil seleksi terbuka pengisian JPT untuk memastikan pelaksanaan seleksi sudah

(30)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 6  

sesuai ketentuan dan untuk menerbitkan rekomendasi KASN bagi penetapan dan pelantikan pejabat yang terpilih.

f. Menyusun pedoman penilaian kualitas pelaksanaan seleksi terbuka pada instansi pemerintah.

g. Mengembangkan sistem pengawasan seleksi JPT berbasis teknologi informasi dan komunikasi secara online, yang akan memudahkan instansi dalam menyampaikan rencana seleksi dan laporan hasil seleksi kepada KASN (kegiatan akan berlanjut pada tahun 2017).

h. Melaksanakan pengawasan pengisian JPT pada organisasi perangkat daerah yang baru pada instansi pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, sebagai implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.

Tabel 6

Kemajuan Pelaksanaan Seleksi Terbuka JPT di Kementerian, LPNK, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten dan Kota s.d. Tahun 2016

(dalam %)

Sumber: KASN, 2016

Dari data tersebut atas terlihat bahwa kebijakan mengisi JPT melalui seleksi terbuka sudah dilaksanakan secara luas. Semua kementerian sudah menerapkan seleksi terbuka dalam pengisian JPT, sedangkan LPNK hampir 94 persen, provinsi 97 persen, dan lebih tiga perempat kabupaten dan kota telah menerapkan seleksi terbuka. Ini menunjukkan bahwa kebijakan seleksi terbukadapat

Kementrian LPNK Provinsi Kab/Kota

100.00 83.87 97.06 52.72 16.13 23.54 2.94 23.74

(31)

diterima oleh hampir semua instansi pemerintah di pusat maupun di daerah.

Selain itu, jumlah rekomendasi KASN yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pengisian JPT melalui seleksi terbuka pada tahun 2016 meningkat dibandingkan tahun 2015. Hal ini memperlihatkan kepatuhan instansi pemerintah untuk melaksanakan seleksi terbuka makin meningkat pula. Adapun perbandingan rekomendasi yang diterbitkan oleh KASN pada tahun 2015 dengan tahun 2016 (status s.d. 31 Oktober 2016), sebagaimana di bawah ini.

Tabel 7

Rekomendasi KASN atas Pengisian JPT Melalui Seleksi Terbuka Tahun 2015 dan 2016

No Instansi Persetujuan Perbaikan Penundaan Jumlah

2015 2016 2015 2016 2015 2016 2015 2016 1 Kementerian/ Lembaga 117 127 64 64 - 4 181 195 2 Pemerintah Provinsi 34 39 17 11 2 4 53 54 3 Pemerintah Kabupaten/ Kota 233 355 108 79 24 48 365 482 Jumlah 384 521 189 154 26 56 599 731 Sumber: KASN 2016.

Rekomendasi yang diterbitkan KASN sebagaimana data tabel di atas, dilakukan setelah KASN melakukan review dan evaluasi terhadap dokumen yang disampaikan oleh instansi pemerintah kepada KASN. Selanjutnya apabila dokumen rencana seleksi terbuka tersebut telah lengkap dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dan PermenpanRB nomor 13 tahun 2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi pada Instansi Pemerintah, maka akan diterbitkan rekomendasi persetujuan. Apabila belum memenuhi dan masih harus dilakukan perbaikan, maka KASN akan menerbitkan surat kepada instansi pemerintah agar dokumen tersebut dilakukan perbaikan. Evaluasi juga dilakukan terhadap laporan pelaksanaan seleksi yang disampaikan oleh instansi. Apabila pelaksanaan seleksi terbuka

(32)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 8  

dilaksanakan tidak sesuai dengan ketentuan, maka KASN akan menerbitkan surat yang berisi permintaan klarifikasi, penundaan, atau bahkan pembatalan seleksi, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh KASN.

Berdasarkan perkembangan rekomendasi yang diterbitkan oleh KASN pada tahun 2015 dan 2016 tersebut, selanjutnya dapat dihitung Indikator Mutu Pelaksanaan Seleksi Terbuka sebagaimana di bawah ini.

Tabel 8

Indikator Mutu Pelaksanaan Seleksi Terbuka (dalam %)

Sumber: KASN, 2016.

3. Pengelolaan Pengaduan dan Penyelidikan terhadap Pelanggaran Sistem Merit

a. Menerima layanan pengaduan terkait pelanggaran terhadap sistem merit yang diduga dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian baik pada Instansi Pemerintah Pusat maupun Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota). Untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat untuk melaporkan dugaan pelanggaran sistem merit dalam manajemen ASN kepada KASN, masyarakat dapat mengajukan laporan secara langsung datang ke Kantor KASN atau melalui aplikasi Lapor KASN dengan alamat situs http://lapor.kasn.go.id.

b. Melakukan perbaikan SOP Penyelidikan yaitu Pedoman

Penyusunan Rekomendasi Hasil Pengawasan KASN terhadap pelanggaran sistem merit, nilai dasar, kode etik dan kode perilaku

Kementerian/Lembaga Provinsi Kabupaten/Kota

64.6 65.1 64.2 63.8

55.9

73.7

(33)

serta netralitas ASN. Metode penyelidikan yang diterapkan yaitu melakukan penelusuran data, permintaan klarifikasi, pemeriksaan dokumen baik dilakukan di Kantor KASN maupun melakukan investigasi langsung ke instansi pemerintah yang diduga melakukan pelanggaran sistem merit. Pedoman penyusunan rekomendasi dimaksud memuat deskripsi kasus, fakta hukum, dasar aturan, temuan, analisis dan kesimpulan serta rekomendasi.

c. Melakukan koordinasi mitra kerja dengan Kementerian PANRB,

Kemendagri, BKN dalam penanganan pengaduan dan penyelidikan serta tindak lanjut hasil pengawasan KASN terhadap pelanggaran sistem merit.

d. Grafik penyelesaian kasus pengaduan, penyelidikan dan pelanggaran netralitas di tahun 2015 dan 2016, dapat dilihat di bawah ini:

Grafik 3

Penanganan Laporan Pengaduan, Penyelidikan dan Pelanggaran Netralitas 2015 - 2016

Sumber: KASN, 2016

Note: Data untuk pelanggaran netralitas sudah termasuk ke dalam total jumlah kasus

4. Perlindungan dan Mediasi sebagai Tindak Lanjut Rekomendasi KASN

Selesai Ditangani Proses Selesai Ditangani Proses Pengaduan & Penyelidikan Pelanggaran Netralitas 87 104 9 20 205 73 35 18 2015 2016

(34)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 10  

a. Melakukan mediasi atas tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi KASN terhadap pelanggaran sistem merit yang tidak dilaksanakan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian yang dalam hal ini Gubernur atau Bupati/Walikota.

b. Menjadi saksi ahli dalam sengketa kepegawaian pada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

c. Melayani gugatan dari pelapor di PTUN Lampung terhadap rekomendasi KASN yang saat ini sudah dalam proses Kasasi di Mahkamah Agung (MA).

Pelaksanaan mediasi telah dilakukan di sejumlah instansi, antara lain BMKG, BIG, Provinsi Aceh, Provinsi Kalimantan Tengah, Kota Tegal, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Keerom, Provinsi Bengkulu, Kota Bengkulu, dan lain-lain. Sementara itu, KASN telah pula menjadi saksi ahli dalam sengketa kepegawaian di PTUN Palembang, Jakarta, Makassar, dan Denpasar.

5. Pengkajian dan Pengembangan Sistem untuk Mendukung Efektivitas Pelaksanaan UU ASN

a. Menyusun rancangan Pedoman Evaluasi Sistem Merit dalam manajemen ASN di Instansi Pemerintah, dalam rangka penerapan pasal 111 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.

b. Melaksanakan evaluasi pelaksanaan sistem merit, khususnya pengisian JPT melalui seleksi terbuka dan kompetitif melalui pertemuan dengan para pengelola kepegawaian dan para akademisi di beberapa daerah.

c. Melaksanakan kerjasama dengan APSC dalam penyelenggaraan training "Getting That Selection Right" yang diselenggarakan sebanyak 2 (dua) angkatan di Jakarta, yang diikuti peserta dari unsur kementerian, LPNK, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.

d. Melakukan studi awal dalam rangka penyusunan Pedoman Pengawasan KASN dalam Penerapan Nilai Dasar, kode Etik, dan Kode Perilaku di lingkungan Instansi Pemerintah yang akan disusun pada tahun 2017.

Untuk mendapatkan masukan bagi penyempurnaan pelaksanaan sistem merit, khususnya pengisian JPT melalui seleksi terbuka dan kompetitif, KASN telah melaksanakan kegiatan seminar di Nias, Denpasar dan Makassar dalam rangka uji publik, yang pesertanya

(35)

dari unsur pemerintah provinsi, kabupaten dan kota. Selain itu telah pula dilakukan survei dengan menyebarkan kuesioner singkat pada setiap acara yng dilaksanakan oleh KASN di pusat dan di daerah.

C. NILAI DASAR, KODE ETIK, DAN KODE PERILAKU PEGAWAI ASN

Pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN merupakan amanah Pasal 4 dan Pasal 5 dari UU-ASN. Hingga saat ini, sebagian besar instansi pemerintah belum memberikan perhatian pada pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku, walau sesungguhnya keberadaannya sangat dibutuhkan dalam kerangka mewujudkan ASN yang profesional dan berkualitas.

Untuk melaksanakan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN secara efektif, setidak-tidaknya ada 2 (dua) hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah yakni :

1. Menyusun pedoman operasionalisasi nilai dasar, kode etik dan kode perilaku dan melakukan sosialisasi pedoman tersebut agar lebih dipahami dan ditaati ASN.

2. Meningkatkan penegakan hukum dan memperbaiki proses penanganan pelanggaran terhadap nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN.

KASN sebagai lembaga yang memiliki tugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku telah menyusun rencana untuk menjadikan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku sebagai pondasi penting dalam membentuk ASN yang professional dan berintegritas. Rencana implementasi atau road map penegakan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN dapat digambarkan sebagai berikut :

1) Memberikan kontribusi kepada Kementerian PANRB dalam menyusun RPP tentang pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku ASN untuk menggantikan PP 42 tahun 2004 tentang kode etik PNS; dan,

2) Menyusun Pedoman KASN dalam melakukan pengawasan

(36)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 12  

“High Level Dialogue on Public Service Reform in Indonesia” 

Pelaksanaan reformasi birokrasi di Indonesia diharapkan dapat menjadi modal utama dalam mendorong pertumbuhan  ekonomi nasional. Konsolidasi demokrasi, pembangunan nasional yang inklusif, yang membuat Indonesia lebih mampu  menghadapi  perubahan  geopolitik  yang  sangat  dahsyat  pada  tiga  dekade  mendatang.  Dengan  dukungan  tata  kelola  pemerintahan  yang  baik  dan  bersih,  niscaya  target‐target  pertumbuhan  ekonomi  dan  pembangunan  nasional  seperti  peningkatan kesejahteraan rakyat, peningkatan kualitas pelayanan publik, akan dapat dicapai secara optimal. 

Semangat reformasi birokrasi menjadi isu sentral dalam pembahasan “High Level Dialogue on Public Service Reform in  Indonesia” yang diselenggarakan oleh Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) bekerjasama dengan Australian Public Service 

Commission (APSC) yang bertempat di Auditorium Sekretariat Wakil Presiden pada Rabu, (16/11/2016) pukul 10.00 WIB. 

Diskusi diikuti oleh para stakeholder bidang Aparatur Sipil Negara (ASN) yakni, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara  dan  Reformasi  Birokrasi  (Menteri  PAN  RB),  Ketua  dan  Komisioner  KASN,  Kepala  Badan  Kepegawaian  Negara  (BKN),  Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), APSC dan para Sekretaris Jenderal, Sekretaris Utama di lingkungan instansi  pemerintah  pusat,  Sekretaris  Daerah  pada  instansi  pemerintah  daerah  (Prov/Kab/Kota)  dan  pejabat  pengelola  kepegawaian K/L/Pemda serta akademisi. 

Tak dapat dipungkiri, reformasi birokrasi yang telah berjalan dalam sepuluh tahun terakhir, telah membawa perubahan  pemerintahan  ke  arah  yang  lebih  baik,  meskipun  belum  sepenuhnya  berhasil  mewujudkan  kondisi  yang  diinginkan.  Salah satu contoh paling aktual, usaha pemerintah memperbaiki pelayanan dalam kemudahan berusaha (Ease of doing 

business) kepada para investor dan dunia usaha, tampaknya belum membuahkan hasil yang memadai. Hal ini, tercermin 

dari  penilaian  peringkat  easy  of  doing  business  yang  dilakukan  oleh  Bank  Dunia  pada  tahun  2016,  dimana  Indonesia  menempati peringkat ke 109 dari 189 negara, sehingga posisinya berada di bawah Vietnam (peringkat 90) dan Malaysia  (peringkat 18). 

 

rmasi birokrasi menuntut pemerintah untuk memperbaiki kualitas sumber daya Aparatur Sipil Negara (ASN) agar mampu  daya  saing  Indonesia  dalam  percaturan  ekonomi  global.  Menurut  laporan  International  Institute  for  Management  IMD) tahun 2016, peringkat daya saing Indonesia mengalami penurunan dari sebelumnya berperingkat ke 42 menjadi 48.  kan daya saing merupakan kunci bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kualitas pembangunan.“KASN mengemban  na  mengakselerasi  implementasi  UU  ASN  agar  terbentuk  aparatur  pemerintah  yang  profesional  ke  depan,”  tegas  Ketua  fendi. 

Lebih  jauh,  pengembangan  potensi  modal  sumber  daya  manusia  merupakan  salah  satu  upaya  birokrasi  untuk  mendukung  tujuan  nasional  Indonesia  pada  tahun  2025  yakni  melepaskan  diri  dari  jebakan  pendapatan  menengah  (middle  income  trap)  dengan  mencapai  pendapatan  rata‐rata  US$  14.900/tahun.  Peran  strategis  ASN,  sebagai  key 

leverage reformasi birokrasi, sangat penting untuk mencapai dynamic governance. Penerapan sistem merit dan seleksi 

terbuka  dalam  pengisian  Jabatan  Pimpinan  Tinggi  (JPT),  sebagaimana  diamanatkan  UU  Nomor  5  Tahun  2014  tentang  Aparatur  Sipil  Negara,  merupakan  transformasi  kebijakan  secara mendasar  untuk  mendukung  reformasi  birokrasi  dan  tata kelola pemerintahan. “Diharapkan pada tahun 2025, Indonesia memiliki pemerintahan yang dinamis dan terbuka,  dengan daya saing tinggi,” ungkap Sofian Effendi. 

Pada kesempatan sebelum forum “High Level Dialogue on Public Service Reform”, Komisoner KASN dan APSC diterima  oleh  Wakil  Presiden  dalam  sebuah  courtesy  call  sebagai  bentuk  keberpihakan  pemerintah  terhadap  upaya  reformasi  birokrasi di Indonesia, dan keberlanjutan kerjasama sinergis antara Indonesia dan Australia dalam pengembangan ASN.  (Sumber: www.kasn.go.id)  

(37)

Gambar 3

Roadmap Implementasi Nilai Dasar, Kode Etik dan Kode Perilaku 2016 - 2020

   

Road Map Implementasi Nilai Dasar, Kode etik dan Kode perilaku

akan diawali dengan penyusunan Draf RPP Perubahan PP 42 Tahun 2004 tentang Kode Etik PNS, dan penyusunan Pedoman KASN terhadap pelaksanaan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku yang ditargetkan selesai pada tahun 2017 mendatang. Selanjutnya pada tahun 2018 diharapkan terdapat 75 K/L, 19 Provinsi dan 275 Kab/Kota telah mulai menyusun dan menetapkan nilai dasar, kode etik dan kode perilaku dengan mengacu pada UU-ASN dan peraturan pelaksanaannya. Ditargetkan pada tahun 2019, semua instansi Pemerintah telah memiliki dan melaksanakan internalisasi nilai dasar, kode etik dan kode perilaku. Pada tahun 2020 diharapkan telah terwujud gerakan nasional internalisasi nilai dasar, kode etik dan kode perilaku yang selanjutnya menjadi pondasi utama terwujudnya ASN kelas dunia dan pemerintahan berbasis pada Dinamic Government sejalan dengan tujuan Road Map Reformasi Birokrasi.

D. INTEGRITAS DAN NETRALITAS

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara Pasal 1 angka 5 menyebutkan bahwa pengelolaan ASN

(38)

Laporan Kinerja KASN Tahun 2016 14  

diperuntukkan untuk menghasilkan ASN yang bebas dari intervensi politik. Selanjutnya pasal 2 menyatakan bahwa salah satu asas dalam manajemen ASN adalah asas “netralitas” yang memiliki maksud bahwa setiap pegawai ASN tidak berpihak dari segala bentuk pengaruh manapun dan tidak memihak kepentingan siapapun. Pasal ini mensyaratkan bahwa pegawai ASN harus tetap loyal hanya pada satu pihak yaitu Pemerintah, demi kepentingan umum.

Sehubungan dengan itu, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Pasal 31 ayat (1) huruf a bahwa KASN bertugas menjaga netralitas pegawai ASN. Dalam menjalankan tugasnya tersebut untuk menjaga netralitas pegawai ASN, KASN melakukan pengawasan bersama Bawaslu, KemenPANRB, Kemendagri dan BKN yang diperkuat melalui

Memorandum of Understanding (MoU) pada tanggal 2 Oktober 2015

yang merupakan dasar dalam penerapan pengawasan netralitas terhadap ASN.

Dalam rangka melakukan pengawasan terhadap netralitas pegawai ASN, pada tahun 2016, KASN telah melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanganan atas pelanggaran netralitas yang dilakukan ASN dengan kegiatan sebagai berikut:

a. Tindakan pencegahan melalui kegiatan sosialisasi

Kegiatan pencegahan pelanggaran netralitas pegawai ASN pada pelaksanaan Pilkada tahun 2017 yang telah dilaksanakan oleh KASN kerjasama dengan Bawaslu sebagai berikut:

Dalam rangka meningkatkan kepatuhan pelaksanaan UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN dan menghadapi Pilkada 2017, KASN menyelenggaran Forum Diskusi dan Sosialisasi : "Menjaga Netralitas ASN dan Implementasi PP No. 18 Tahun 2016" di Depok, Jawa Barat, yang diikuti 90 instansi pemerintah kota/kab dan provinsi. Selanjutnya, merespon permintaan beberapa daerah, maka KASN menyelenggarakan acara lanjutan yakni

(39)

Tabel 9

Kegiatan pencegahan pelanggaran netralitas pegawai ASN pada pelaksanaan Pilkada tahun 2017

No Kegiatan Keterangan

1 Forum Diskusi dan Sosialisasi "Menjaga Netralitas ASN dan Implementasi PP No. 18 Tahun 2016"

Dilaksanakan di Kota Depok, Jawa Barat pada tanggal 24 Oktober 2016 yang dihadiri 90 instansi pemerintah, yakni Sekda, Kepala BKD dan unit kerja terkait lainnya yang berasal dari Provinsi, Kabupaen dan Kota.

2 Forum Diskusi dan Sosialisasi "Membangun Kepatuhan Implementasi UU No.5 Tahun 2014 dan PP No. 18 Tahun 2016"

Dilaksanakan di Kota Bandung, Jawa Barat pada tanggal 10 Nopember 2016 yang dihadiri 59 instansi pemerintah, yakniSekda, Kepala BKD dan unit kerja terkait lainnya yang berasal dari Provinsi, Kabupaen dan Kota.

3 Diskusi Netralitas ASN

dalam Pilkada DKI Jakarta Dihadiri oleh ASN di lingkungan Pemda DKI Jakarta yang diselenggarakan oleh Bawaslu Provinsi DKI Jakartasebanyak 8 kali kegiatan dan diselenggarakan oleh Forum Wartawan Balai Kota DKI Jakarta.

4 Diskusi Netralitas ASN dalam Pilkada Provinsi Sulawesi Barat

Dihadiri oleh anggota Panwaslu, Wartawan, dan ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulbar. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bawaslu RI pada tanggal 22 Oktober 2016. 5 Diskusi Netralitas ASN

dalam Pilkada Provinsi DI Aceh

Dihadiri oleh anggota Panwaslu, Wartawan, dan ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota penyelenggara Pilkada di Aceh. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bawaslu RI pada tanggal 10 Oktober 2016. 6 Diskusi Netralitas ASN

dalam Pilkada Kabupaten Kota Waringin Barat

Dihadiri oleh anggota Panwaslu, Wartawan, dan ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulbar dan Kabupaten Kota Waringin Barat. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bawaslu RI pada tanggal 29-30 November 2016. 7 Diskusi Netralitas ASN

dalam Pilkada Provinsi Bangka Blitung

Dihadiri oleh anggota Panwaslu, Wartawan, dan ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bawaslu RI pada tanggal 31 Oktober 2016.

b. Penanganan Kasus Pelanggaran Netralitas

Disamping dilakukan upaya pencegahan pelanggaran netralitas, pada tahun 2016, KASN telah menerima 53 (lima puluh tiga) laporan dugaan pelanggaran netralitas ASN pada Pilkada tahun 2017 yang

Gambar

Tabel 1: Indikator Pelaksanaan Seleksi Terbuka JPT per Kementerian,  LPNK, Provinsi, dan Kabupaten dan Kota, Tahun 2015-2016 (dalam %)
Tabel 3:  Penanganan Laporan Pengaduan, Penyelidikan dan  Pelanggaran Netralitas 2015 - 2016

Referensi

Dokumen terkait

 Karena data yang didapatkan oleh peneliti bukan merupakan data lengkap, maka prototipe sistem hanya mampu menganalisis kemiripan antar data berdasarkan nama,

“Dana PPMK harus betul-betul dimanfaatkan agar tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Camat Tebet, Mahludin didampingi Lurah Tebet Barat, Ita Marsitah saat

Dari latar belakang dapat dirumuskan suatu permasalahan bagaimana dapat mendesain bangunan yang menggunakan struktur baja dengan metode SRMPK untuk mendapatkan penampang

Pengembangan lebih lanjut badan antariksa india ISRO menandatangani beberapa kerjasama antara lain di bidang keantariksaan dengan badan antariksa Eropa( 1993), India dan Amerika

Yang dimaksud dengan "internalisasi biaya lingkungan hidup" adalah memasukkan biaya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup daiam perhitungan biaya

Coaching pada penelitian ini adalah proses interaktif antara coach dalam hal ini pengawas dengan guru sebagai coachee untuk memberdayakan potensi yang dimiliki

[r]

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar perbedaan hasil tes pada mata pelajaran fiqh materi pokok puasa ramadhan antara alat tes completion test