• Tidak ada hasil yang ditemukan

trormasi Teknologi Pert- -l

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "trormasi Teknologi Pert- -l"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Kata Pengantar

Pembaca yang Budiman

Ass, wr,wb

Kebijakan pembangunan terutama untuk

pengembangan lahan telah dicoba didekati

melalaui teknologi tepat guna. Kebijakan ini

dapat saudara ikuti dalam bulletin 01 tahun

2004 ini. Pemberdayaan petani miskin melalui

inovasi terutama untuk lokasi Lombok Timur

secara konsepsional dan rencana operasional

juga anda dapat cermati.

Selain warna kebijakan dalam bulletin kita tetap

memotret dan merekam dinamika para petani di

lokasi Lombok Timur ini, di samping kondisi

serta peluang pengembangannya melalui

berbagai teknologi yang cocok yang

kesemuannya kami coba suguhkan menjadi

bacaan pembaca.

Tidak kalah penting adalah beberapa kondisi

sosial ekonomi budaya serta kelembagaan petani

serta desa juga disajikan dalam artikel ini.

Disamping warna pertanian, peternakan,

bulletin ini juga kami coba untuk memberikan

nuansa nelayan khususnya dari Teluk Ekas.

Selamat membaca.

Wass, wr wb

R

EDAKSI

.

Daftar isi

Kebijakan Pengembangan Lahan Marginal Berbasis Teknologi Tepat Guna di NTB

2

Pemberdayaan Petani Miskin Melalui Inovasi Teknologi Pertanian di Lombok Timur

3

Alhamdulillah Panen Langsung Angkut 6

Harapan Petani Sukamulia Terhadap Proyek Poor Farmers

7

Perkembangan Proyek Poor Farmers di Lotim s/d Oktober 2004

8

Petani Sambelia Merasakan Manfaat Proyek Poor

Farmers

9

Teknologi Merubah Pola Tanam di Anjani 10

Mengubah Padang Alang-alang Menjadi Kebun Pisang Komersial

11

Kiat Meningkatkan Pendapatan Petani di Lahan Kering

13

Teknologi Budidaya Kangkung Khas Lombok di Lahan Sawah Irigasi

15

Agensia Hayati Penyakit CVPD pada Tanaman Jeruk di temukan di NTB

16

Pembibitan Ayam Potong Lokal pada Petani Miskin di Lahan Marginal

17

Potensi Manggis (Garcia mangostana L) di P. Lombok 20 Temu Informasi Pertanian Lahan Kering Wilayah

PFI3P Lombok Timur

21

Temu Lapang Kelembagaan SUT Ternak Kambing di desa Sambelia

22

Mobilisasi Petani Miskin 22

Pola Konsumsi Pangan dan Non Pangan Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Lombok Timur

24

Kearifan Lokal Masyarakat desa Sukaraja dalam

Pengelolaan Sumberdaya Air

26

Peta Zona Agroekologi

27

Usaha Penangkapan dan Pembesaran Lobster

di Teluk Ekas, Lombok Timur

29

Transformasi Sosio Budaya dalam

Pembangunan Pedesaan di Lahan Marginal

33

Waspadai Penyakit Antraks di NTB

34

Apa dan Bagaimana Antraks ?

34

Tembakau “Senang”

36

SK Mentan No.238/SE/TU.320/10/2004

37

Bulletin Informasi Teknologi Pertanian diterbitkan 2 kali setahun oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.

Pengarah : Mashur. Tim Penyunting : Ketut Puspadi, A. Muzani, L. Wirajaswadi, Irianto Basuki, M. Sofyan

Souri, N. Mansyur, M. Nazam, Prisdiminggo. Penyunting Pelaksana : Andri Nurwati, Sasongko WR, L.A. Jupri;

Diterbitkan setahun 2 kali, Tanda Terbit :

ISSN : 1829-6947

. ; Alamat Penyunting BPTP NTB Jalan Raya

Peninjauan Narmada, Kotak Pos 1017 Mataram, Telp. 0370 671312, Fax. 0370 671620, E-mail :

[email protected],

[email protected],

[email protected], . Infotektan tersedia

dalam bentuk elektronis yang dapat diakses secara on-line pada. http:\\www.ntb.litbang.net.id.

Redaksi berisikan tentang hasil-hasil pengkajian BPTP NTB, berita-berita aktual dan kegiatan diseminasi

lainnya yang disajikan dalam bentuk tulisan ilmiah populer, berita.

(3)

PENDAHULUAN

Pembangunan pertanian selama ini lebih diprioritaskan pada pengembangan pertanian lahan kering (untuk selanjutnya digunakan istilah: lahan kering), dan mengesampingkan pengembangan potensi lahan marginal yang sangat luas. Akibatnya terjadi ketimpangan perkem bangan pertanian antar wilayah dan ketimpangan kesejahteraan antara pengguna lahan sawah dan lahan kering. Untuk mengatasi ketimpangan tersebut dalam rangka mengejar ketertinggalan pembangunan pertanian lahan kering, maka kedepan hendaknya menjadikan pembangunan pertanian lahan kering sebagai prioritas program. Hal ini tidak berlebihan mengingat potensi lahan kering dan lingkungannya sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal, sedang disisi lain semakin terbatasnya lahan sawah sebagai sumber produksi pertanian, pendapatan dan penyediaan kesempatan kerja. Propinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai keunggulan komparatif berupa wilayah lahan kering yang cukup luas dan berpeluang besar untuk dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama petani lahan kering. Data dari Kanwil BPN Propinsi NTB (2001) dalam Bappeda Propinsi NTB (2002) menunjukkan bahwa Propinsi NTB seluas 2.015.315,000 hektar, sebagian besar (1.673.476,307 ha atau 83,04%) berupa lahan kering sedang sisanya berupa lahan sawah dan pengguna lainnya (16,96%). Dari potensi lahan kering yang cukup luas di Propinsi ini, ada pada agroekosistem yang cukup beragam dan sangat cocok untuk pengembangan berbagai komoditas tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan yang mempunyai arti ekonomi penting, sehingga dapat menjadi komoditas unggulan daerah dalam menghadapi pasar nasional dan global di masa datang.

Kondisi tersebut di atas memberikan gambaran bahwa untuk pemanfaatan dan pengembangan potensi wilayah lahan kering di Propinsi NTB, diperlukan adanya dukungan investasi dan peningkatan partisipasi

masya-rakat, sehingga wilayah lahan kering bukan lagi menjadi hambatan tetapi merupakan harapan. Agar keunggulan komparatif wilayah lahan kering di Propinsi NTB dapat dikelola secara efisien, efektif dan optimal serta dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi pengembangan ekonomi wilayah dan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat, maka menyusun Rencana Strategis Pengem bangan Wilayah Lahan Kering Propinsi NTB Tahun 2003-2004” merupakan suatu langkah awal yang mutlak perlu dilakukan.

PROGRAM DAN KEGIATAN PENGEMBANGAN WILAYAH LAHAN KERING PROPINSI NTB

Pembangunan berbagai sumber daya wilayah lahan kering Propinsi NTB harus direncanakan secara terarah, terpadu dan berkelanjutan, sehingga dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Rencana program dan kegiatan pengembangan wilayah lahan kering Propinsi NTB dapat disajikan sebagai berikut:

A. Program dan Kegiatan Pem bangunan Sumberdaya Alam

Potensi sumberdaya alam yang dimiliki suatu wilayah merupakan pendorong utama bagi pengembangan wilayah tersebut. Beberapa rencana program dan kegiatan strategis pembangunan sumberdaya alam dalam rangka mempercepat pengembangan wilayah lahan kering Propinsi NTB sebagai berikut: (1). Pengembangan Pola Gerakan Selama ini gerakan pengembangan lahan kering lebih populer di kalangan pemerintahan. Peran aktif masyarakat selama ini belum optimal. Ketika sebuah program pemerintah dijalankan masih banyak masyarakat belum memahami permasalahan yang terkait dengan lahan kering tetap ada. Oleh karena itu peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang pengembangan dan peman faatan lahan kering adalah mutlak diperlukan. Disamping itu pula pihak swasta selaku pemilik modal masih belum

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN LAHAN MARGINAL

BERBASIS TEKNOLOGI TEPAT GUNA DI NTB

(Bagian I)

Drs H. L. Fathurahman, MSc.

(4)

melakukan investasi secara optimal untuk pengembangan produk lahan kering. Harus segera dibangun pola gerakan bersama antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.

(2). Program Penghijauan: Kegiatan reboisasi yang telah

berjalan selama ini harus terus ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Masih banyak lahan-lahan marginal yang belum tertangani.Disamping itu, peningkatan kesadaran kepada masyarakat untuk tidak melakukan penebangan liar masih perlu ditingkatkan sehingga program yang dijalankan pemerintah da pat berjalan. Keikutsertaan semua pihak sangat diperlukan. Gerakan penanaman sejuta pohon adalah contoh nyata kebersamaan dalam melakukan penhijauan. (3). Program Penataan Ruang, tujuan dari program ini adalah meningkatkan sistem pengelolaan rencana tata ruang dan mewujudkan keserasian antara daya dukung dan kesesuaian lahan dengan penggunaannya untuk berbagai kegiatan pembangunan. Beberapa jenis kegiatan strategis untuk mewujudkan program tersebut adalah (a) pemberian sanksi tegas terhadap pengguna lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang; (b) penyusunan rencana tata ruang yang spesifik lahan kering berdasarkan keunggulan komparatifnya; (c) penetapan kawasan sentra produksi (KSP) pengembangan komoditas pertanian berdasarkan keung-gulan komparatif lahan kering dan (d) penyusunan rencana operasional dalam pemanfaatan ruang sesuai keunggulan komparatifnya. (4). Program Pengelolaan

Pertanahan/Sumberdaya Lahan, tujuan dari program ini

adalah meningkatkan sistem pengelolaan pertanahan, terutama lahan kering yang mempunyai potensi sangat luas dengan mempertimbangkan kemampuan fisik lahan dan kepentingan pengguna lahan, sehingga dihasilkan manfaat ekonomi yang optimal. Beberapa jenis kegiatan strategis untuk mewujudkan program tersebut adalah (a) pengu-sahaan tanaman perkebunan dan kehutanan secara campuran pada lahan miring/berbukit; (b) pengusahaan tanaman palawija dengan sistem konservasi pada lahan kering dengan lapisan olah tipis dan kandungan bahan organik rendah; (c) rehabilitasi lahan kering yang telah rusak; (d) pemeliharaan secara intensif berbagai tanaman pertanian lahan kering dan (e) pe-ngaturan status dan sistem pemilikan/penguasaan lahan kering. (5). Program

Peningkatan Ketahanan Pangan, tujuan dari program ini

adalah meningkatkan produksi berbagai komoditas pertanian sumber pangan melalui pening katan luas areal tanam dan pertumbuhan sentra produksi komoditas unggulan/andalan Propinsi NTB, baik untuk komoditas pertanian, pangan, hortikultura (buah-buahan) maupun perkebunan.

Beberapa jenis kegiatan strategis untuk mewujudkan program tersebut adalah :

(a) pengusahaan tanaman perkebunan dan tanaman pangan unggulan/andalan secara campuran pada lahan relatif datar; (b) pelatihan perbanyakan tanaman buah-buahan dan perkebunan secara vegetatif; (c) demonstrasi usahatani (demfarm) untuk luasan 5-10 hektar; (d) pengembangan demfarm menjadi skala usaha agribisnis 50-100 hektar. (5) Program Konservasi Sumber daya Air, tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan sumberdaya air guna dapat menyediakan air pengairan untuk mendukung berbagai kegiatan pembangunan, terutama pengembangan pertanian lahan kering.

Beberapa jenis kegiatan strategis untuk mewujudkan program tersebut adalah: (a) pengelolaan sumberdaya air melalui reha bilitasi daerah aliran sungai (DAS) kritis; (b) penerapan teknik konservasi air dengan permanen air hujan menggunakan embung atau bak-bak penampung; (c) kampanye penyelamatan hutan dan sumber air dan (d) pengembangan pemanfaatan air hujan dengan teknologi

pemanenan air (water harvesting). (7). Fasilitasi

Capitalisasi Exploitasi Lahan Kering, Menciptakan iklim

yang baik bagi tumbuhnya investasi pada lahan kering adalah salah satu langkah yang diperlukan. Iklim yang baik akan membuka peluang selebar-lebarnya bagi pemilik modal untuk terjun menggarap lahan kering. Upaya penciptaan iklim yang sehat tersebut dapat dilakukan dengan reformasi kebijakan pengembangan lahan kering, pengembangan kebijakan investasi maupun pengembangan pola kemitraan antara masyarakat dengan dunia usaha. Pengembangan kebijakan investasi mengarah kepada pemberian insentif dan disinsentif baik mencakup fiscal, teknis maupun administrasi dalam pengembangan lahan kering. Hal ini selanjutnya diharapkan mampu mendorong semua pihak untuk terlibat dan berkompetisi dalam pengembangan lahan kering.

(bersambung pada bulletin 02 ta 2004)

Pendahuluan

Undang-Undang No. 25 tahun 2000 tentang Program pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000–2004, telah menggariskan arah kebijakan dalam pembangunan ekonomi nasional. Salah satu diantaranya adalah“ Melakukan berbagai upaya terpadu untuk

mempercepat proses pengentasan kemiskinan dan mengurangi pengangguran yang merupakan dampak krisis ekonomi”. Lebih lanjut dokumen tersebut menyebutkan

bahwa kemiskinan merupakan masalah pokok nasional

yang penanggulangannya tidak dapat ditunda-tunda dan harus menjadi prioritas pembangunan nasional.

Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu provinsi dengan prevalensi kemiskinan tertinggi di Indonesia. Sudah selayaknya prioritas utama pembangunan Nusa Tenggara Barat adalah juga pengentasan penduduk dari kemiskinan. Karena sebagian besar penduduk Nusa Tenggara Barat menggantungkan hidupnya pada usaha pertanian (agribisnis dalam arti luas), maka upaya pengentasan penduduk dari kemiskinan akan lebih efektif bila sektor pertanian dijadikan sebagai prioritas pembangunan.

Dalam hal ini diuraikan secara ringkas, khususnya yang berkenaan dengan pemberdayaan petani miskin melalui inovasi teknologi pertanian. Dalam hal ini peranan BPTP Nusa Tenggara Barat sangat menentukan, utamanya dalam menyediakan teknologi inovatif tepat guna dan spesifik lokasi bagi petani miskin di kabupaten ini.

Perkembangan jumlah penduduk miskin

Berdasarkan kabupaten/kota, jumlah penduduk miskin tertinggi pada tahun 2003 adalah di kabupaten Lombok Timur, yaitu sebanyak 278.500 orang, diikuti oleh berturut-turut Lombok Barat (232.100 orang), Lombok Tengah (215.500 orang) dan kabupaten Sumbawa (122.600 orang). Berdasarkan data tersebut, maka tidak salah jika

PEMBERDAYAAN PETANI MISKIN MELALUI

INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN

DI LOMBOK TIMUR

Oleh : Pantjar Simatupang, dkk.

(5)

kabupaten Lombok Timur mendapat prioritas dalam proyek

peningkatan pendapatan petani miskin melalui inovasi (P4M2I).

Suhartini, dkk. (1995) melaporkan bahwa penyebab utama kemiskinan di provinsi ini adalah gabungan dari berbagai faktor antara lain: rendahnya mutu sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, serta masih terbatasnya sarana/prasarana yang tersedia, terutama sarana transportasi. Swastika et.al. (2003) melaporkan bahwa sebagian besar jalan di desa-desa Lombok Timur dalam kondisi sedang sampai rusak, dengan alat transportasi yang terbatas, yaitu ojeg dan alat angkut tradisional dokar, meskipun jalan-jalan dari kota kabupaten ke kota kecamatan umumnya sudah diaspal (hot-mixed).

Distribusi penduduk miskin berdasarkan lapangan pekerjaan

Data primer dari penelitian terakhir di kabupaten Lombok Timur menunjukkan bahwa sebagian besar kepala keluarga contoh (84-97%) mempunyai pekerjaan utama sebagai petani konsisten dengan kondisi tingkat provinsi NTB. Sementara itu selain menjadi petani sebagai pekerjaan utama, juga sebagian besar kepala keluarga (30-53%) mempunyai pekerjaan sampingan sebagai buruh tani. Penduduk miskin yang bekerja di sektor industri hanya ada di satu desa dari lima desa contoh, dengan persentase yang sangat kecil (3,33%).

Tingginya persentase penduduk miskin yang bekerja di sektor pertanian mencerminkan betapa penting-nya sektor ini sebagai sumber penghidupan mereka. Oleh karena itu, sudah selayaknya sektor pertanian menjadi prioritas pembangunan ekonomi, termasuk pembangunan infrastruktur penunjang pertanian di perdesaan.

Kondisi Sumberdaya Lahan

Sampai saat ini sektor pertanian masih merupakan bagian yang sangat penting, bagi provinsi NTB. Hal ini tercermin dari tingginya sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB, yaitu mencapai sekitar 36 persen dari total PDRB provinsi ini. Bahkan di kabupaten Lombok Timur, kontribusi sektor pertanian mencapai lebih dari 40 persen dari PDRB Kabupaten. Sebagian besar lahan di Lombok Timur merupakan lahan kering. Data BPS Kabupaten menunjukkan bahwa di Lombok Timur sekitar 71,8 persen dari lahan pertanian merupakan lahan kering, dan hanya sekitar 28 persen merupakan lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan.

Karakteristik lahan kering di provinsi Nusa Tenggara Barat (termasuk Lombok Timur) dicirikan oleh tingkat kesuburan yang rendah dan distribusi curah hujan yang sangat fluktuatif, sehingga pada musim kemarau tanaman sering menghadapi masalah kekeringan. Musim hujan dimulai bulan November hingga Maret, kemudian pada bulan berikutnya berkurang hingga musim kering selama bulan Juni sampai Oktober.

Di lima desa contoh Kabupaten Lombok Timur, luas penguasaan lahan tergolong sempit. Penguasaan lahan sawah tadah hujan berkisar antara 0.1-1.8 ha dengan rata-rata 0.45 ha, sedangkan luas penguasaan lahan sawah irigasi sederhana berkisar antara 0.05-3.00 ha, dengan rata-rata 0.64 ha. Lahan tegalan atau ladang berkisar

0.02-4.00 ha, dengan luas rata-rata 0.45 ha. Rentang luas penguasaan lahan sangat lebar, namun rataannya cenderung bias ke arah penguasaan sempit, yaitu dibawah satu hektar. Angka ini mencerminkan bahwa sebagian besar petani menguasai lahan sempit yang merupakan salah satu ciri petani miskin.

Pada agroekosistem lahan sawah, pola tanam yang paling umum dilakukan petani adalah padi-palawija, sedangkan pada lahan kering lebih banyak diusahakan tanaman palawija dan tembakau di dataran rendah, serta sayuran dan palawija di dataran tinggi. Kecuali sayuran dan tembakau, kegiatan usahatani padi dan palawija pada dasarnya lebih ditujukan pada upaya pemenuhan kebutuhan pangan keluarga (subsisten) dari pada pemenuhan permintaan pasar. Pengembangan komoditas yang sesuai dengan kondisi agroekosistem yang ada dengan memanfaatkan teknologi hasil rakitan BPTP diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sumberdaya yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani.

Sumberdaya Teknologi

Selain sumberdaya lahan, teknologi juga merupakan sumberdaya yang sangat menentukan produktivitas usahatani. Perakitan dan pengkajian teknologi pertanian di Nusa Tenggara, termasuk NTB, telah dila-kukan, terutama oleh Badan Litbang Pertanian sejak didirikannya Sub Balai Penelitian Peternakan, adanya Proyek NTASP/P3NT, sampai pada pembentukan BPTP di NTB. Berbagai penelitian dan pengkajian (litkaji) di wilayah ini diyakini telah menghasilkan berbagai paket atau reko-mendasi teknologi yang sudah siap untuk didiseminasikan kepada petani. Saat ini, BPTP-NTB adalah satu-satunya lembaga dibawah Badan Litbang Pertanian yang mempunyai mandat merakit, menguji adaptasi, serta menyebarkan teknologi pertanian unggulan di provinsi ini. Oleh karena itu, adalah kewajiban BPTP menghimpun semua asset Badan Litbang Pertanian berupa teknologi siap pakai atau teknologi setengah jadi yang masih perlu dikaji sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial ekonomi petani di NTB. Dengan perakitan dan kaji ulang daya adaptasi teknologi, diharapkan dihasilkan teknologi yang benar-benar tepat guna spesifik lokasi dan sesuai dengan kebutuhan petani di NTB.

Kelembagaan

Kelembagaan yang banyak mendukung kegiatan usahatani di perdesaan diantaranya pasar, kios saprodi, para pedagang pengumpul, kelembagaan keuangan, serta kelembagaan informal lainnya. Studi kasus di Lombok Timur menunjukkan bahwa kelembagaan formal yang banyak terkait dengan kegiatan usahatani adalah petugas pertanian di tingkat kecamatan, aparat desa serta kelompok tani.

Pasar sebagai kelembagaan penyedia sarana produksi dan pemasaran hasil pertanian saat ini sangat besar perannya bagi petani. Begitu pula peran pedagang pengumpul yang datang ke lokasi usahatani membantu pemasaran hasil secara cepat. Kelembagaan di tingkat petani, seperti kelompok tani pada sebagian lokasi telah berjalan walaupun belum optimal dan terbatas pada transfer

(6)

informasi secara tidak langsung diantara petani anggota. Namun demikian, dalam penumbuhan modal usahatani, lembaga keuangan formal belum terlihat peranannya. Begitu pula halnya sistem kemitraan dengan lembaga modal lainnya, termasuk peran serta koperasi masih sangat terbatas. Oleh karena itu, pemberdayaan petani melalui penyediaan modal usaha sangat diperlukan.

Informasi Teknologi Pertanian

Proses alih teknologi dapat berjalan dengan baik jika tersedia media informasi yang memadai dan dapat diakses oleh petani. Pada dasarnya informasi teknologi pertanian di lokasi penelitian Lombok Timur diperoleh petani dari berbagai sumber, baik yang formal maupun informal. Petani umumnya mencari informasi tentang bagaimana meningkatkan produksi dari komoditas yang ditanam diluar pendekatan harga. Jadi pendekatan produksi masih merupakan orientasi utama selain untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.

Dari hasil survai 2004 diperoleh gambaran bahwa sumber informasi utama bagi petani adalah sumber formal (PPL/Dinas) dan sumber informal yaitu orang tua atau dari sesama petani, Oleh karena itu, pendekatan kerjasama petani dalam pengembangan inovasi teknologi pertanian sejak identifikasi masalah, perencanaan pengkajian, peng-ujian/pengkajian dan diseminasi teknologi merupakan pendekatan yang strategis dan diyakini dapat mempercepat proses alih teknologi. Sebab, dengan kerjasama pengkajian petani dapat secara langsung menerapkan dan meng-evaluasi keunggulan teknologi yang diintroduksikan, sehingga proses diseminasi berjalan bersamaan dengan pelaksanaan litkaji.

Diseminasi menjadi penting sebagai tolok ukur dalam operasionalisasi hasil paket teknologi. Untuk itu, belajar dari pengalaman di BPTP-NTB, Basuno (2003) mengemukakan beberapa saran tentang diseminasi paket teknologi sebagai berikut: (1) perlu dilakukan sosialisasi sistem diseminasi versi Badan Litbang Pertanian bagi seluruh BPTP, agar paket teknologi dari BPTP dapat dengan cepat sampai ke masyarakat pengguna; (2) perlu dirancang dan diujicobakan program diseminasi dengan menggunakan petani sebagai “penyuluh” sebagai mitra kerja penyuluh profesional (agar diseminasi itu sendiri tidak hanya tergantung pada penyuluh lapangan. tapi juga pada petani); (3) perlu diupayakan peningkatan proses adopsi teknologi antara lain dengan upaya khusus untuk “menggerakkan kembali” penyuluh yang sebelumnya bertugas di BIP melalui pendekatan partisipatif agar potensi penyuluh dapat dimanfaatkan secara optimal; (4) perlu mendekatkan paket teknologi pertanian ke pengguna akhir dengan melakukan penyuluhan secara terbatas. terutama di zona-zona farming sistem yang sedang dikembangkan (untuk membuktikan bahwa rakitan paket teknologi memberi manfaat bagi pengguna akhir); dan (5) perlu diidentifikasi berbagai kendala administrasi yang selama ini secara signifikan mempengaruhi kinerja BPTP.

Pemberdayaan Petani Miskin Melalui Pengembangan Teknologi Tepat Guna

Salah satu upaya penemuan paket teknologi lahan kering baik untuk komoditas tanaman pangan maupun peternakan telah dirintis oleh Badan Litbang Pertanian

melalui program penelitian NTASP/P3NT. Upaya ini dilakukan dalam rangka memenuhi persyaratan kriteria rekayasa teknologi yang menjamin kelestarian sumberdaya dan lingkungan, disamping layak secara teknis, menguntungkan secara ekonomis, dan dapat diterima secara sosial. Adapun sasaran akhirya adalah : (1) menemukan paket teknologi usahatani rekomendasi sesuai dengan basis agro-ekosistem; dan (2) meningkatkan produktivitas pertanian, pendapatan petani, konservasi lahan, dan kelestarian lingkungan (Pasandaran, dkk, 1991).

Dengan dibentuknya BPTP, maka litkaji selanjutnya adalah berupa penelitian terapan atau uji adaptasi dari teknologi siap pakai yang dihasilkan oleh berbagai lembaga penelitian, terutama yang bernaung di bawah Badan Litbang Pertanian. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengembangkan teknologi yang telah dihasilkan kepada pengguna langsung, yaitu petani.

Penyediaan Sarana dan Prasarana Pendukung

Terkait dengan pengembangan lahan marjinal, upaya yang ditempuh tidak hanya pengenalan teknologi dan proses adopsi semata, tetapi juga harus mempertimbangkan penyediaan atau perbaikan sarana dan prasarana pendukung. Sebagaimana diketahui, wilayah lahan marjinal umumnya memiliki keterbatasan dalam fasilitas infrastruktur. Oleh karena itu, keberadaan salah satu program saat ini yaitu Poor Farmers’ Income

Improvement through Innovation Project (PFI3P) dipandang

dan diharapkan sebagai suatu langkah yang cukup strategis dalam upaya pemberdayaan petani miskin.

Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Miskin melalui Inovasi atau PFI3P merupakan proyek yang pelaksanaannya ditangani oleh Badan Litbang Pertanian (executing agency) dengan bantuan dana dari Asian

Development Bank (Anonymous, 2003). Dalam

pelaksanaan nya di lapangan lebih banyak melibatkan institusi pemerintah daerah dan non pemerintah seperti lembaga konsultan dan LSM.

Dalam jangka 5 tahun, kegiatan proyek ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani miskin di lahan marjinal (marginal

rainfed areas) melalui pengembangan inovasi produksi dan

pemasaran hasil pertanian. Dengan kata lain, kegiatan proyek mencakup pembangunan sistem agribisnis di lahan marjinal melalui pemberdayaan petani, inovasi teknologi, pengembangan kelembagaan desa, perbaikan sarana/prasarana (infrastruktur) pendukung pertanian secara partisipatif, dan peningkatan akses pada jaringan informasi. Ringkasnya, komponen proyek terdiri dari: (1) pemberdayaan petani; (2) pengembangan informasi nasional dan lokal; (3) dukungan infrastruktur untuk pengembangan inovasi pertanian dan diseminasi; serta (4) manajemen proyek.

Pemberdayaan petani ditempuh melalui kegiatan: (1) mobilisasi kelompok tani; (2) pengembangan kelembagaan; dan (3) investasi sarana dan prasarana (infrastruktur) penunjang inovasi pertanian. Mobilisasi petani ditujukan untuk pengelolaan produksi dan pemasaran hasil pertanian dalam rangka pengembangan sistem agribisis dan peningkatan pendapatan petani. Untuk pengembangan kelembagaan, secara berlapis mulai dari desa, kecamatan, sampai kabupaten masing-masing

(7)

dibentuk Komisi Investasi Desa (KID) dan Fasilitator Desa (FD), Forum Antar Desa (FAD), dan Komisi Koordinasi Kabupaten.

Untuk investasi sarana dan prasarana penunjang inovasi pertanian, peran ini diemban oleh institusi pemerintah daerah, LSM lokal, dan rekanan swasta, sebagai lembaga pendukung kegiatan lembaga-lembaga perencana dan pelaksana investasi desa. Sebagai catatan, investasi desa yang sesuai dengan ketentuan proyek adalah jalan usahatani dan jembatan, gudang desa, irigasi kecil, diseminasi teknologi pertanian, pelatihan petani, pengembangan informasi, konswervasi tanah dan air, dan pasar desa.

Kegiatan proyek dilakukan melalui pendekatan partisipatif mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Dengan demikian diharapkan proyek ini dapat mencapai sasaran dalam upaya peningkatan inovasi produksi dan pemasaran hasil pertanian yang bermuara pada peningkatan pendapatan petani miskin secara berkelanjutan.

Kabupaten Lombok Timur di propinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu lokasi proyek oleh karena itu, investasi sarana dan prasarana desa yang sangat besar serta mobilisasi kelompok tani dalam rangka pengembangan kelembagaan agribisnis sangat diperlukan dalam implementasi proyek ini.

Akhirnya, peran BPTP khususnya di Nusa Tenggara Barat (BPTP-NTB) sebagai lembaga penyedia paket teknologi mendapatkan mandat dalam implementasi proyek PFI3P ini. Keterlibatan BPTP-NTB sejak dini dalam kegiatan PRA (Participatory Rural Appraisal) dapat dikatakan sebagai titik awal kegiatan menuju kegiatan selanjutnya, yaitu dalam hal penyediaan paket teknologi tepat guna dan proses diseminasi yang efektif dan efisien.

Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa petani miskin (termasuk di NTB) terkonsentrasi pada lahan kering marginal dengan produktivitas rendah, serta fasilitas kredit dan infrastruktur yang tidak memadai, sehingga mereka kurang akses terhadap pasar input dan pasar produk. Kondisi tersebut menyebabkan mereka melakukan usahatani subsisten dengan penerapan teknologi sederhana sehingga produktivitasnya masih rendah. Implikasinya ialah bahwa rekayasa dan introduksi teknologi tepat guna sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial ekonomi petani sangat diharapkan dalam upaya meningkatkan produtivitas sumberdaya pertanian. Selain itu, penyediaan infrastruktur yang memadai dan kredit lunak usahatani sangat diperlukan dalam upaya mempermudah petani memperoleh modal usaha dan sarana produksi untuk menerapkan teknologi baru, serta memasarkan hasil pertanian.

Proyek “Poor Farmers” yang dilaksanakan saat ini memprioritaskan curahan dana pada investasi desa berupa pembangunan dan rehabilitasi sarana/prasarana (jalan usahatani dan saluran irigasi desa) untuk mendukung penerapan inovasi teknologi pertanian. Dalam hal inovasi teknologi pertanian, BPTP-NTB memegang peran sangat penting terutama dalam rekayasa dan penyebaran teknologi tepat guna yang spesifik lokasi. Sebab, lembaga ini adalah satu-satunya lembaga penelitian yang mempunyai mandat

untuk merakit, mengkaji, dan menyebarkan teknologi tepat guna yang spesifik untuk provinsi ini. Kebutuhan mendesak petani yang saat ini belum terprogram adalah penyediaan kredit lunak usahatani dengan prosedur administrasi yang sederhana bagi petani miskin di perdesaan. Tanpa kredit lunak, sangat sulit bagi petani dapat menerapkan teknologi pertanian yang lebih modern, karena masih lemahnya kemampuan modal petani. (Diedit dari Makalah PEMBERDAYAAN PETANI MISKIN MELALUI INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN DI NUSA TENGGARA BARAT)

Alhamdulillah

demikian ungkapan rasa syukur yang berkali kali keluar dari mulut Haji Abdul Azis Azhar, setelah melihat dan merasakan langsung berbagai hasil Proyek Poor Farmers yang dilaksanakan di desa Dasan Lekong Lombok Timur yang dampaknya sangat terasa bukan saja untuk masyarakat petani lahan kering namun juga dinikmati masyarakat petani lahan basah di desa Dasan Lekong. Menurut Haji Azis Azhar di desanya ter-dapat perbedaan yang cukup mencolok terutama dari segi

A

LHAMDULILLAH

,

PANEN LANGSUNG ANGKUT

OELH : IRIANTO B DAN JOKO.

Penyampaian makalah pada Seminar Nasional Pemberdayaan Petani Miskin Melalui Inovasi Teknologi Pertanian di Auditorium UNRAM.

(8)

pola tanam di mana hanya dibatasi jalan raya saja sudah jauh berbeda pendapatannya sebab ada yang di lahan kering dan lahan basah .

Untuk saat ini Proyek Poor Farmers sebagian besar dilaksanakan di lahan kering dengan membangun fasilitas jalan usaha tani dan Irigasi desa termasuk fasilitas bak penampung air hujan. Saat ini seluruh fasilitas bangunan fisik sudah hampir rampung dan bahkan sebagian sudah dapat dinikmati masyarakat terutama jalan usahatani yang telah mampu memudahkan angkutan hasil produksi petani yang tidak lagi dipikul seperti sebelumnya tapi sekarang sudah kendaraan roda empat sudah dapat masuk langsung sampai ke areal persawahan petani .

Dari hasil pemantauan dan penuturan langsung masyarakat petani selalu diawali dengan ungkapan Alhamdulillah sebab kesulitan yang selama ini dialami sudah tidak lagi tinggal sekarang bagaimana upaya peningkatan hasil panen baik untuk tanaman padi maupuin tanaman palawija di saat musim kering saat ini. Berbagai hasil pembangunan fisik Proyek Poor Farmers di Dasan Lekong merupakan hasil keputusan bersama masyarakat petani sehingga saat ini tidak ada protes maupun keluhan dari petani lainnya, walaupun belum seluruh areal pertanian dapat menikmati Proyek, namun paling tidak sudah dapat mengurangi tingkat kesulitan masyarakat. Proyek Poor

Farmers walaupun dana keseluruhannya mencapai 217

Juta Rupiah yang diusulkan, yang terealisasi baru men-capai 95 Juta telah mampu membangun Irigasi desa sepanjang 900 meter, sedangkan jalan usaha tani sepanjang 1 kilo meter. Apabila seluruh dana Poor Farmer tersebut dapat direalisasikan menurut Haji Abdul Aziz akan lebih banyak lagi program yang akan dilaksanakan sehingga dapat menjangkau areal persawahan yang lebih luas dan dinikmati petani di pedalaman.

Dampak lain yang dirasakan masyarakat petani saat ini adalah semakin ramainya angkutan umum yang masuk ke berbagai lokasi dusun yang ada di Desa Dasan Lekong baik untuk mengangkut hasil pertanian maupun angkutan pupuk sampai ke sawah petani sehingga tidak capek capek lagi dipikul dan membutuhkan dana tambahan untuk ongkos buruh .

Kalau hasil tanaman di lahan basah sebagian besar tanaman padi dan tembakau sementara dilahan kering beruntung kalau dapat tanam padi satu kali dan dilanjutkan dengan palawija dan buah – buahan seperti semangka dan Tomat. Khusus untuk tanaman lahan kering belajar dari keikutsertaan KID dan petani melalui Temu Usaha yang dilaksanakan BPTP di berbagai lokasi termasuk pengenalan teknologi terapan bagi peningkatan hasil dilahan kering, saat ini di Desa Dasan Lekong sebagian petani telah melakukan apa yang dilakukan Petani di Sambelia dengan tanaman jagungnya, dan pemeliharaan kambing serta budidaya tanaman pisang yang hasilnya belum dapat dinikmati sebab masih baru memulai tanam dan masih terus melakukan Konsultasi dengan petani lainnya diwilayah Binaaan BPTP.

Memang ungkapan Alhamdulillah seperti judul tulisan tersebut memang patut untuk diungkapkan dengan melihat hasil yang cukup bagus dan berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Sebab manfaat yang dirasakan lebih besar nilainya dari pengeluaran yang diberikan. Dengan demikian masyarakat secara langsung saat ini merasakan dampaknya terutama dari nilai harga tanah di sekitar Jalan usaha tani yang nilainya meningkat cukup drastis dari tahun sebelumnya bahkan para petani sekarang enggan untuk menjual tanahnya dengan melihat prosfek cerah yang nantinnya akan mereka nikmati dari hasil bantuan Proyek

Poor Farmers terutama pembukaan jalan usaha tani

termasuk irigasi.

Melihat perkembangan pelaksanaan Proyek Poor

Farmers di sepuluh desa percontohan di Kabupaten

Lombok Timur saat dilakukan temu informasi dan Temu Lapang yang diselenggarakan oleh BPTP NTB petani di Desa Sukamulia berharap Pimpinan Proyek Poor Farmers Lotim secepatnya merealisasikan pendanaan, sebab cukup banyak program yang direncanakan melalui Komite Investasi Desa (KID) yang sudah diseleksi melalui musya-warah dengan seluruh petani lahan kering.

Ketua KID Desa Sukamulia Lombok Timur Sayuti.S menjelaskan seluruh rencana kegiatan hasil musyawarah KID dengan petani telah dituangkan dalam bentuk Proposal dan diserahkan ke Koodinator Proyek Poor Farmers Bappeda Lombok Timur, namun hingga saat ini realisasi proyek belum terlaksana. Menurut Sayuti pihaknya sangat berharap proyek dapat cepat dilaksanakan namun menurut keterangan pengelola Poor Farmer Lotim masih ada hal yang belum di selesaikan menyangkut persyaratan dari penyandang dana yang harus disiapkan oleh masing masing KID. Sehingga Hampir seluruh KID yang telah mengajukan proposal hingga saat belum ada yang dire-alisasikan sambil menunggu perubahan yang dilakukan masing masing KID .

KID Desa Sukamulia sudah membuat rencana kegiatan meliputi pembuatan jalan usaha tani dan Irigasi termasuk bak penampungan air disaat musim kering ini sangat dibutuhkan Petani untuk mengairi sawah maupun untuk kebutuhan lainnya sehingga kalau bisa secepatnya Proyek Poor Farmers diturunkan di desanya. Apabila nantinya jalan usahatani yang direncanakan tersebut terealisir betapa bahagianya masyarakat yang selama ini berharap turunnya hujan baru mulai bercocok tanam. Setelah melihat keberhasilan petani lainnya di desa yang telah memperoleh Proyek Poor Farmers termasuk bantuan teknis penerapan teknologi pertanian oleh BPTP NTB, Petani Desa Sukamulia yang kondisi lahannya hampir sama dengan lahan pertanian yang ada di desa yang diuji coba/pengembangan teknologi BPTP semakin memberi semangat para petani untuk mengembangkan berbagai terapan teknoloogi untuk mendukung peningkatan produksi hasil pertanian sehingga berdampak terhadap pendapatan petani lahan kering. Sayuti juga berharap nantinnya apabila hasil penerapan teknologi tanaman jagung khususnya dapat di terapkan di desanya tidak mustahil desa Sukamulia akan menjadi pemasok jagung terbesar bagi pabrik pakan ternak yang saat ini sedang di bangun salah satu Investor kerjasama dengan Pemda Kabupaten Lombok Timur. Lahan kering di Desa Sukamulia cukup luas bahkan lebih luas dari lahan pertanian yang ada di desa desa lainnya di Kabupaten Lombok Timur yang menjadi lahan pengembangan teknologi Proyek Poor Farmers. Selain itu juga desa Sukamulia memiliki akses yang cukup bagus dengan jalur transportasi jalan utama sehingga sangat

HARAPAN PETANI SUKAMULIA

TERHADAP PROYEK POOR FARMERS

(9)

mudah untuk dijadikan pusat pengembangan tanaman jagung .

KID Sukamulia juga berharap dengan proyek Poor Farmers yang difokuskan pada upaya pembangunan jalan usahatani dan irigasi Desa termasuk pengembangan teknologi terapan pertanian akan semakin memacu tingkat pendapatan masyarakat petani lahan kering di desanya serta tidak lagi berharap terhadap hasil tanaman padi yang hanya dapat tumbuh di sebagian kecil areal persawahan di Desa Sukamulia.

Kalau saja irigasi desa yang akan dibangun melalui dana Poor Farmer sudah dapat direalisasikan akan semakin mempercepat perubahan petani di Sukamulia sebab air yang saat ini lama bisa sampai ke sawahnya dan kebanyakan merembes saat dialiri, mungkin setelah irigasi selesai akan cepat diterima di masing masing persawahan petani secara otomatis akan berpengaruh terhadap produksi. Kalau saat ini sebagian petani lahan kering di Desa Sambelia menanam tanaman yang kurang mendfapat tempat di pasaran seperti tebu dan ubi namun khusus untuk tahun ini dengan kondisi kekeringan yang cukup panjang dibanding tahun sebelumnya tebu maupun ubi tidak dapat tumbuh bahkan mengalami kekeringan karena kurang air, Namun para petani di Sukamulia saat ini memiliki harapan yang cukup besar melalui penerapan tehknologi pertanian yang telah di kembangkan di beberapa desa yang kondisi lahannya sama dengan Sukamulia dapat mentransfer Tekhnologi yang dilakukan sehingga petani dapat meningkatkan pendapatannya sama seperti desa-desa yang lebih dulu menerapkan teknologi pertanian khususnya jagung.

Proyek Poor Farmers yang dilaksanakan di lima Kabupaten di Indonesia termasuk Kabupaten Lombok Timur, saat ini sudah dapat dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat khususnya pada sepuluh Desa yang menjadi pilot proyek. Untuk kegiatan tahap pertama 10 desa yang menjadi sasaran kegiatan Poor Farmers di antaranya desa Dasan Lekong , Korleko, Swangi, Selebung Ketangga, Montong Betok, Sambelia, Sembalun, Anjani, Mamben Lauk, dan desa Wanasabe. Desa-desa sasaran sebagian besar merupakan desa kritis dalam arti hampir seluruh lahannya merupakan lahan marginal, sehingga selain memerlukan perhatian untuk sektor pengairan juga sarana Fisik lainnya serta penerapan teknologi pertanian lahan kering .

Koordinator Proyek Poor Farmers bahwa

kabupaten Lombok Timur DIMYATI, menjelaskan ke 10 desa percontohan pelaksanaan Proyek Poor Farmers dari segi fisik hampir seluruhnya mencapai 95% dan sudah dapat dinikmati masyarakat sasaran terutama

pembangunan jalan usahatani, yang hampir dilaksanakan di seluruh desa sasaran, belum lagi pembangunan dua jembatan di desa Korleko dan desa Swangi yang dulunya kedua desa ini untuk akses ke luar sangat sulit terutama untuk membawa hasil produksi pertanian ke pasar harus menempuh jalan berliku dan tidak bisa dilalui kendaraan . Namun saat ini seluruh jalan desa sudah dapat dihubungi termasuk pemasaran hasil produksi semakin lancar . Selain itu juga biaya pengeluaran petani kalau dulunya dalam setiap musim tanam untuk pupuknya saja per karung mencapai 15 ribu Rupiah kini sudah dapat ditekan menjadi 5 ribu Rupiah belum lagi ongkos angkutan sudah dapat ditekan menjadi lebih dari 50% dari sebelum adanya jembatan maupun jalan usahatani .

Menurut Dimyati dampak lain yang saat ini dirasakan masyarakat desa sasaran Poor Farmers adalah harga tanah di sekitar jalan usaha tani semakin tinggi bahkan melebihi pendapatan petani per tahunnya. Hal itu terjadi di desa Swangi dengan adanya jembatan dan jalan usaha tani yang sudah jadi selain itu juga arus transportasi dan keterbukaan desa dengan dunia luar termasuk mempermudah anak-anak pergi ke sekolah. Kalau dulunya harus menyeberangi sungai dengan resiko basah dan hanyut kini sudah tidak lagi sebab jalan maupun jembatan yang dibangun sudah dapat dilalui .

Sedangkan Proyek Poor Farmers akan dilaksanakan selama 5 Tahun dengan sasaran hampir seluruh desa yang ada di Kabupaten Lombok Timur sebanyak 106 desa, sedangkan 10 desa sasaran awal telah mendapat penilaian dari pihak penyandang dana dan hasilnya cukup baik dan dianggap tepat sasaran, sehingga untuk pelaksanaan tahap kedua Tahun 2004 yang ditargetkan akan mampu melayani 33 desa sasaran. Hingga kini seluruh pendanaannya belum dapat dicairkan karena masih adanya perbaikan-perbaikan terhadap sistim pengajuan pendanaan yang disesuaikan dengan proposal yang telah di bahas ditingkat Desa atau oleh KID. DIMYATI menjelaskan dari hasil seleksi terhadap proposal yang masuk dari 33 Desa sasaran belum satupun proposal yang lolos dan mendapatkan dana, hal tersebut berkaitan dengan kurangnya beberapa hal menyangkut sistim pengajuan yang harus dilengkapi oleh masing masing KID, sehingga terjadi kelambatan pencairan tidak seperti pelaksanaan awal .

Untuk Realisasi Proyek tahap ke dua dengan 33 Desa sasaran untuk Tahun 2004 di prediksikan akan terjadi kelambatan disebabkan adanya perubahan sistim pengajuan Proposal tidak seperti tahap awal. Walaupun terjadi kelambatan realisasi proyek namun secara keseluruhan tidak mempengaruhi dana yang di alokasikan untuk masing masing desa sekitar 227 juta rupiah untuk masing masing KID sama seperti dana proyek tahap awal . Sementara itu kalau dari segi non fisik terutama hasil binaan BPTP yang dilaksanakan di lahan kering seperti di desa Sambelia dengan jagungnya, dengan pemeliharaan Kambing dan budidaya tanaman pisang dinilai sangat berhasil bahkan mampu menjadi pemacu semangat masyarakat setempat yang hampir putus asa dengan kondisi cuaca dan kekeringan saat ini. Dari hasil pisang saja di lahan yang hanya 17 are yang dimiliki salah seorang petani mampu menghasilkan pisang beraneka jenis dengan nilai 3 Juta rupiah, belum lagi hasil tanaman sela berupa

PERKEMBANGAN

PROYEK POOR FARMERS

DI LOTIM S/D OKTOBER 2004

(10)

kacang panjang, cabe dan tomat sekitar 2,5 Juta rupiah belum termasuk bibit anakan pisang yang nilainya satu buah saja lebih dari seribu rupiah merupakan hasil tambahan petani setelah tanaman pokok. Kalau kita lihat sebelum adanya tanaman pisang melalui penerapan jarak tanam yang dibina langsung BPTP NTB areal tersebut merupakan areal yang ditumbuhi ilalang yang hanya di tanami pada saat musim hujan dengan tanaman seperti ubi kayu yang hasilnya tidak seberapa, namun kini telah menghasilkan jutaan rupiah bukan saja dari tanaman pokok tetapi juga dari tanaman tambahan yang diuji coba dan ter-nyata berhasil menambah penghasilan petani di Sambelia Sedangkan dari hasil budidaya tanaman jagung ternyata tidak kalah hasilnya dengan tanaman di lahan basah sehingga Bupati Lombok Timur melakukan berbagai terobosan dengan mendekatkan investor jagung ke daerahnya untuk di manfaatkan langsung sebagai pakan ternak dan berbagai produk lainnya dengan membangun pabrik pengolahan jagung di sekitar kawasan pengem-bangan tanaman jagung .

Masyarakat Petani di desa Sambelia Lombok Timur saat ini tidak terlalu merasakan perbedaan adanya musim kering dibanding dengan tahun tahun sebelumnya. Hal ini merupakan dampak adanya Proyek Poor Farmers yang dilaksanakn sejak January 2004 lalu terutama untuk pembangunan jalan usahatani, saluran irigasi, dan bak penampungan air termasuk pembinaan penerapan tekno-logi pertanian lahan kering yang dilakukan BPTP NTB. Ketua Komite Investasi Desa (KID) HM. Saleh menjelaskan kalau dari segi fisik terutama saluran irigasi di desa Sambelia tinggal melanjutkan pembangunan yang sudah ada dan masih aktif sehingga kedatangan proyek

Poor Farmers sangat membantu sekali kalangan petani

yang dulunya kalau kita lihat air sangat lambat untuk masuk kesawah-sawah petani karena

sebagian besar air telah merembes dijalan namun setelah pembangunan dan rehabilitasi saluran Irigasi desa yang panjangnya sekitar 1,5 kilometer, aliran air menjadi cepat. Selain air dapat cepat masuk ke sawah petani juga hasil produksi semakin meningkat sehingga berdampak terhadap pendapatan petani. Menurut HM.Saleh kalau dari segi fisik proyek di Sambelia sudah mencapai seratus persen bahkan bukan saja desa Sambelia yang

menikmati namunnya juga desa desa pemekaran seperti desa Sugian dan desa Labuan Pandan terutama keberadaan jalan usaha tani dan irigasi desa.

Dampak lain yang dirasakan masyarakat petani saat ini terhadap pola tanam kalau dulunya di lahan basah dengan tanaman padi padi palawija kini di lahan kering sebagian bisa ditanami padi sehingga sangat dirasakan manfaat Poor Farmers. Kalau dulunya tanaman bisa dilaksanakan hanya dua kali setahun di lahan kering kini sudah dapat tiga kali baik dengan melakukan pola tanam yang sudah ada maupun dengan penerapan teknologi pertanian lahan kering binaan BPTP.

Hasil pengamatan KID pada saat panen palawija sebagian besar para petani sudah merasa bersyukur dengan adanya proyek Poor Farmer terutama adanya jalan desa atau jalan usaha tani yang dapat menghubungkan langsung pembeli hasil produksi dengan petani. Hasil usahatani tidak perlu dipikul oleh petani sebab kendaraan sudah dapat masuk langsung hingga ke lahan persawahan yang baru saja panen palawija sehingga pengeluaran petani dapat diminimalisir sementara pendapatan semakin meningkat .

Kalau dilihat secara keseluruhan Proyek Poor

Farmers di desa Sambelia telah mampu membangun jalan

usaha tani sepanjang 1,5 Km, 9 paket bak penampungan air, dan 7 saluran irigasi yang rata-rata panjangnya 250 meter sementara dana keseluruhannya yang telah terealisasi di desa Sambelia senilai 227 juta 100 ribu Rupiah . Itu baru kita lihat dari segi fisiknya saja belum lagi non fisik yang dirasakan masyarakat petani lahan kering di desa Sambelia.

Melalui pola tanam yang hampir seluruhnya berubah melalui penerapan teknologi pertanian, mampu menghasilkan berbagai produk unggulan lahan kering seperti Jagung dan Budidaya tanaman Pisang me-lalui penerapan jarak tanam serta dengan sistim tumpang sari berhasil meningkatkan pendapatan petani .

Selain itu teknologi pemeliharaan kambing di lahan kering secara terpadu dengan pertanian yang dilaksanakan di salah satu kelompok di desa Sambelia ternyata perkembangannya cukup baik dan menjadi pusat pem-belajaran kelompok tani lainnya di Daerah NTB. Masyarakat petani di desa Sambelia saat ini sangat berharap Poor Farmers dapat dilanjutkan lagi bukan untuk satu tahun saja namun kalau

PETANI SAMBELIA

MERASAKAN MANFAAT

PROYEK POOR FARMERS

OLEH : IRIANTO BASUKI DAN JOKO

(11)

bisa dilanjutkan lagi sehingga saluran irigasi lainnya diperbaiki sehingga lebih banyak lagi petani yang khususnya berada di Daerah pedalaman dapat menikmati hasilnya. Apabila Poor Farmer untuk Tahun 2004/2005 tidak lagi dilaksanakan di desa Sambelia, Harapan petani nantinya program lainnya dapat cepat diturunkan sehingga berbagai kebutuhan sarana fisik irigasi dan jalan usahatani terutama kelanjutan dari pembangunan sebelumnya yang menghubungkan dusun-dusun terpencil dapat terlaksana .

Melihat keberhasilan yang dilakukan oleh kelompok tani di desa Sambelia dengan bimbingan dari BPTP NTB Untuk penerapan teknologinya, kini cukup banyak kelompok tani desa lain di Lombok Timur yang kondisi lahannya hampir sama dengan desa Sambelia melakukan kunjungan sekaligus meminta berbagai petunjuk dari petani setempat tentang pola tanam, sistim dan tata cara penanaman jagung termasuk pisang serta pemeliharaan kambing di Lahan kering. Sementara itu dari hasil panen tahun ini rata-rata petani di desa Sambelia memperoleh harga juga mendukung sehingga petani tidak mengalami kerugian seperti sebelumnya .

Komite Investasi Desa (KID) dI desa Anjani Lombok Timur baru terbentuk satu tahun lalu. Di usia yang masih muda tersebut terus berupaya melakukan berbagai terobosan dan melakukan kunjungan kepada petani. Peran KID sebenarnya sangat strategis bagi upaya pemacu dan meningkatkan partisipasi masyarakat petani dalam kegiatan pembangunan, lebih lebih adanya program Poor Farmers sebagai salah satu program penyambung aspirasi masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan peningkatan produksi hasil pertanian dan transportasi desa. Ketua KID Anjani Muhammad Ali menyebutkan walau-pun baru setahun terbentuk, namun berkat dukungan masyarakat dan aparat desa setempat berbagai program yang didukung melalui Proyek Poor Farmers dapat berjalan sesuai harapan. Sebagian besar lahan pertanian merupakan lahan marginal yang kesulitan air dan jalan usaha tani sehingga adanya proyek Poor Farmers dinilai sebagai suatu yang kebetulan, sebab sudah lama masyarakat mendambakan adanya perubahan dari tahun sebelumnya. Menurut M. Ali, saat ini kalau kita melihat areal persawahan di Anjani sedang mengalami kekeringan yang luar biasa sebab hampir seluruh tanaman yang ditanam petani pertumbuhannya sangat lamban akibat kekurangan air. Hasil peninjauan ke Sambelia dan ke desa lainnya yang telah dibina BPTP dengan menerapkan berbagai hasil tehnologi temuan BPTP, kembali ada harapan para petani di Anjani untuk mencoba menanam apa yang ditanam petani di Sambelia terutama jagung, yang ternyata hasilnya cukup menggembirakan .

Melihat keberhasilan masyarakat petani di Anjani tanam jagung, salah satu Investor di NTB secara spontan

ingin menanamkan investasinya dan hal tersebut disambut antusias masyarakat setempat sehingga terjadi kesepakatan antara pengusaha dan masyarakat petani di Anjani untuk melakukan kemitraan usaha dimana pembiayaan seluruhnya di keluarkan pengusaha dari mulai tanam bibit sampai pemupukan sementara pemeliharaan dilakukan langsung masyarakat setempat. Hasilnya nanti dilihat dari jumlah pengeluaran pengusaha dan sisanya untuk petani, sementara pemasaran jagung akan dibeli langsung oleh pengusaha dengan harga sesuai pasar. Dengan adanya Proyek Poor Farmers yang membangun fasilitas jalan usaha Tani dan Irigasi semakin membuka peluang bagi masyarakat dan mempersingkat atau memperkecil pengeluaran petani termasuk pengusaha untuk angkutan produksi .

Selama ini petani di Anjani memang tidak terlalu mengandalkan tanaman padi namun sudah terbiasa dengan menanam tanaman Palawija seperti jagung dan ubi termasuk tanaman Tomat dan kacang kacangan , sebab disesuaikan dengan kondisi lahan yang ada. Dalam waktu dekat ini petani di Anjani akan mengembangkan budidaya tanaman pisang seperti yang dilakukan di desa Sambelia bahkan petani Anjani sudah memesan anakan pisang sebagai bibit sebanyak 1.200 batang yang akan ditanam di Areal persawahan tadah hujan dan disesuaikan dengan apa yang telah dilakukan di Desa Sambelia , melalui penerapan treknologi jarak tanam dan lainnya yang sesuai dengan petunjuk tim pengkaji dari BPTP NTB .

Menurut M. Ali saat ini Poor Farmers telah melaksa-nakan pembangunan fisik berupa 6 saluran irigasi masing masing sepanjang 200 meter termasuk pintu air sebanyak 6 buah yang dipasang untuk pengaturan air irigasi sampai ke sawah-sawah. Pengerjaan Proyek selain dibantu langsung oleh tukang yang berasal dari Anjani juga termasuk oleh masyarakat petani setempat yang secara spontan bergotong-royong melaksanakan pengerjaan proyek hal tersebut sebagai bentuk dari partisipasi masyarakat untuk

Poor Farmers.

Untuk memantau pelaksanaan kegiatan proyek khususnya partisipasi dari masyarakat secara aktif KID melakukan absensi sehingga masyarakat tidak terkesan main main dalam membantu belum lagi kerelaan masayarakat petani menyerahkan tanahnya yang terkena proyek sebagai bentuk dari partisipasi masyarakat secara langsung terhadap kegiatan proyek.

Perkembangan yang yang lebih menggembirakan lagi saat ini KID Desa Anjani sedang mengupayakan pem-bangunan kios untuk memenuhi kebutuhan pupuk bagi waga masyarakat petani, namun pupuk yang dimaksud bukan pupuk kimia yang selama ini selalu digunakan untuk tanaman namun pupuk hasil terapan tekhnologi tanpa bahan kimia atau semacam pupuk kompos Bokasi yang secara bertahap sudah mulai digunakan oleh masyarakat di Anjani. Untuk penggunaan pupuk saat ini, masyarakat di Desa Anjani sudah mulai menggunakan pupuk non kimia walaupun masih ada juga yang menggunaan pupuk kimia namun relatif kecil. Perubahan tersebut sebagai dampak dari hasil Temu Lapang yang selalu diikuti oleh KID dan disampaikan langsung ke masyarakat petani di Desa Anjani.

TEKNOLOGI MERUBAH

POLA TANAM DI ANJANI

(12)

PENDAHULUAN

Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki lahan kering yang cukup luas yang sebagian besar merupakan lahan marginal mencapai + 1,7 juta hektar. Dari total lahan kering di NTB yaitu sebesar 9,1% berada di wilayah Kabupaten Lombok Timur. Lahan kering ini belum banyak digarap oleh masyarakat/petani, sehingga lahan-lahan tersebut banyak ditumbuhi oleh alang-alang dengan ketinggian 1 – 2 m. Hal ini tentunya akan sangat merugikan karena menyebabkan tanah semakin kurus dan produktivitas tanah rendah. Berdasarkan kondisi demikian diupayakan suatau cara untuk merubah lahan alang-alang tersebut menjadi kebun pisang yang komersial, agar lebih bermanfaat bagi petani, tanah dan lingkungan. Pemilihan komoditi pisang pada lahan bekas alang-alang tersebut disebabkan karena pisang memiliki ketahan yang cukup baik terhadap kekeringan. Disamping itu pisang juga memiliki nilai jual yang cukup ekonomis dalam artian peluang pasar cukup tinggi, dan permintaan konsumen cukup banyak.

Di NTB tanaman pisang pada umumnya masih dibudidayakan sebagai tanaman pekarangan atau sambilan. Hal ini tentunya belum dapat dinikmati hasilnya dengan maksimal oleh petani, karena selama ini penanaman pisang masih bersifat tradisional, perawatan tanaman sangat jarang dilakukan misalnya dalam satu rumpun terdiri dari belasan pohon pisang, tidak pernah dilakukan pembersihan/pemangkasan daun-daun kering dan tidak dilakukan pemupukan maupun pengendalian hama penyakit. Pertanaman pisang biasanya ditanam dengan jarak tanam yang tidak teratur sehingga masih tersedia ruang tumbuh (tanah sela) yang belum dimanfaatkan. Kondisi demikian menyebabakan usahatani budidaya pisang kurang efisien sehingga pendapatan petani belum optimal.

Dari kebiasaan usahatani yang tradisional tersebut, maka peluang untuk perbaikan teknologi pemeliharaan pisang sangat memungkinkan dilakukan. Pemeliharaan tanaman pisang yang diikuti dengan pemanfaataan lahan sekitar dengan tanaman sela dengan lebih intensif dapat meningkatkan pendapatan petani secara lumintu 57%

lebih tinggi dari petani pada umumnya. Waktu berbuah pisang yang tidak tergantung musim berpeluang untuk dapat melakukan panen sepanjang masa sehingga dapat memenuhi kontinuitas permintaan pasar.

Untuk itu diperlukan suatu konsep baru, untuk mengubah lahan alang-alang menjadi kebun pisang, dengan manajemen pengaturan waktu panen dan pemilihan jenis pisang yang tepat dan berusaha meningkatan produktivitas lahan dengan penanaman tanaman sela berupa kacang panjang dan kacang hijau diantara tanaman pisang, yang penanamannya diatur secara bertahap dengan luasan tertentu, yaitu sekitas 5 –10 are per komoditi.

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN PISANG

(1). Penyiapan lahan. Persiapan lahan dengan menggunkan herbisida, untuk mematikan atau membersihkan lahan dari rumput-rumput/tanaman yang tidak diinginkan. Membuat sistem drainase yang baik agar tidak terjadi genangan air pada lahan pertanaman pisang. Lubang tanam dibuat: ukuran 50x50x40 cm dengan jarak tanam 4x4 m, lubang dibiarkan terbuka selama 2 minggu.Dipisahkan antara tanah bagian atas (kedalaman 20 cm) dan tanah bagian bawah (kedalaman 20 cm). (2). Penanaman pisang. Bibit pisang yang dipergunakan adalah anakan sedang (medium sucker), berupa tunas pisang yang telah berdaun mekar sehelai dengan tinggi 101–105 cm. Penanaman pisang dilakukan menjelang musim hujan. Pada tiap lubang hanya ditanam satu bibit pisang. Jarak tanam pisang 4x 4 m (4 m dalam barisan dan 4 m antar barisan). Jarak antar baris dimanfaatkan untuk penanaman tanaman sela berupa kacang panjang atau kacang hijau. Menjelang tanam pisang, tanah bagian atas dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 10–20 kg, kemudian dimasukkan kedalam lubang tanam. Tanah bagian bawah tetap dibiarkan di atas, untuk digunakan sebagai pembumbun. Lubang tanam dibiarkan tertutup selama 2–3 hari. Pada saat tanam, cangkul lubang dengan ukuran lebih besar dari bibit, kemudian masukkan bibit kedalam lubang tanam dengan posisi tegak. Padatkan tanah agar tanaman dapat berdiri kokoh. Tutup tanah sekitar tanaman dengan mulsa. (3). Pemupukan Pisang. Pemupukan dilakukan 6 bulan sekali, yaitu pada saat awal

MENGUBAH PADANG ALANG-ALANG MENJADI

KEBUN PISANG KOMERSIAL

(13)

musim hujan dan akhir musim hujan dengan dosis: ZA 400 gr/rumpun per aplikasi, SP36 400 g/rumpun per aplikasi KCl 300 g/rumpun per aplikasi. Cara pemupukan dilakukan dengan membenamkan pupuk pada empat lubang sedalam +20 cm sesuai arah mata angin, dan lubang ditutup kembali. (4). Pemeliharaan pisang. a. Pengairan diatur jangan sampai tergenang. b. Penyiangan dan

Penda-ngiran Rumput dan gulma dibersihkan disekitar tanaman.

Tanah digemburkan di sekitar tanaman, agar perakaran mendapatkan cukup udara. c. Pembersihan tanaman meliputi pembersihan daun kering dan pembuangan sisa tanaman bekas panen. (5). Pengendalian hama dan penyakit pisang. Pengendalian hama dan penyakit penting seperti kumbang dan sebagainya dengan cara terpadu, antara lain dengan sanitasi kebun dan penyemprotan pestisida jika diperlukan. Aerasi tanah perlu diperhatikan agar tidak becek atau air tanah menggenang yang memudahkan penyakit busuk batang coklat mudah menyerang. Pemotongan Jantung Pisang. Setelah

pembentukan sisir berhenti, maka bunga/jantung dipotong dengan sabit atau parang yang telah disterilkan terlebih dahulu dengan alkohol atau formalin. Kemudian pada bekas pemotongan jantung diberikan pupuk Urea 1 genggam, yang dibungkus dengan plastik, kemudian diikat dengan tali. Dalam melakukan pemotongan jantung sebaiknya digunakan alat bantu jenjang atau tangga guna memudahkan dalam pekerjaan tersebut dilapangan.

(6) Panen. Tentukan derajat ketuaan dengan cara : (a).

Umur buah dari saat bunga mekar 3–4 bulan. (b). Bentuk buah bulat, bentuk tepi buah masih jelas atau untuk pasar lokal tingkat kematangan penuh (100%), tepi buah sudah tidak tampak lagi. (c). Bunga yang mengering pada ujung buah mudah dipatahkan. (d). Warna kulit buah dari hijau tua menjadi hijau muda. (e).Daun bendera pada tanaman sudah mengering. Cara Panen : Tebanglah batang pisang kira-kita dua pertiga dari atas tanah, kemudian tarik daun-nya yang kering secara perlahan-lahan.

KACANG PANJANG SEBAGAI TANAMAN SELA

Tanaman sela berupa tanaman yang mudah dijual meskipun dalam jumlah terbatas (sekitar 5 are) diusahakan oleh petani, yaitu menanam kacang panjang, yang penanamannya diatur secara bertahap. Cara tanam dilaku-kan diantara barisan tanaman pisang, jumlah tanaman adilaku-kan disesuaikan dengan ruang (space) lahan yang tersedia. Jarak tanam kacang panjang: 80 x40 cm, 2 biji/lubang (80 cm antar baris dan 20 cm dalam baris tanaman).

PELAKSANAAN TANAM DAN PEMELIHARAAN KACANG PANJANG

Tanah diantara barisan pisang diolah dan dibuat guludan yang panjangnya disesuaikan dengan ukuran lahan. Setiap 2 baris dibuat saluran drainase selebar 30 cm, dengan dalam 30 cm. Kacang panjang ditanam dalam guludan secara tugal dengan jarak tanam 80x40 cm, 2 biji/lubang. Diberi Furadan atau Petrofur 8–10 butir ke dalam lubang benih. Pemupukan dilakukan dengan memberikan 200 kg ZA + 62,25 kg SP 36 + 75 kg KCl per hektar (dosis pupuk akan dikonversi sesuai dengan luasan yang ditanam petani). Pupuk SP 36 dan KCl diberikan 2/3 takaran secara tugal saat tanam. Kemudian 1/3 takaran lagi diberikan pada umur 10 minggu setelah tanam. Lanjaran/anjang-anjang dipasang pada umur 3 minggu setelah tanam, satu lubang satu lanjaran, dan diberi tali antara satu lanjaran dengan lanjaran lainnya. Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan pestisida dengan jenis dan dosis disesuaikan dengan keadaan serangan. Pada saat berbunga disemprot dengan Gandasil B seminggu sekali hingga umur 80 hari. Dosis

serta volume semprot sesuai anjuran/label. Panen dilakukan secara bertahap 2–3 hari sekali pada polong muda yang dicirikan polong masih kaku, permukaan licin dan bentuk biji belum jelas.

PELAKSANAAN TANAM DAN PEMELIHARAAN KACANG HIJAU

(a). Persiapan lahan Lahan/tanah diantara barisan pisang

diolah dengan menggunakan bajak atau cangkul. Kemudian tanah digemburkan dan diratakan.

(b). Penanaman Penanaman dilakukan secara tugal, 2

biji/lubang dengan jarak tanam 40x20 cm, dengan kedalaman 3–5 cm. (c). Penyiangan dan pembumbunan.

(d). Penyiangan pertama dilakukan pada umur 10 atau 15

hst. (e). Penyiangan kedua dilakukan pada umur 25 atau 30 hst (hari setelah tanam sekaligus dilakukan pembumbunan. (f). Pengendalian Hama dan Penyakit. Penyemprotan (pestisida) untuk pengendalian aphis (kutu daun) dilakukan seminggu sekali ( 1x seminggu) sejak umur tanaman 7 hari setelah tumbuh sampai umur tanaman 30 hst. (g). Panen dan Pasca Panen. Panen dilakukan pada saat biji masak fisiologi, dengan tanda-tanda polong kering dan mudah pecah, warna polong hitam dan kuning jerami. Polong dipanen dengan cara dipetik 1–2 kali. Setelah dilakukan perontokan, biji kacang hijau dijemur hingga kadar air 10%.

HASIL YANG DICAPAI :

Pemilihan jenis pisang berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan dan hasil. Untuk itu dianjurkan menanam pisang dengan jenis sebagai berikut ; pisang ketip, pisang susu, dan pisang raja. Penanaman jenis pisang yang berbeda dengan tujuan yaitu: (1) Antisipasi penurunanan harga terhadap salah satu jenis pisang, (2) Kontinyunitas waktu panen, karena umur tanaman yang berbeda, (3) peluang pasar tinggi, karena masing-masing jenis memiliki konsumen yang berbeda, (4) ketiga jenis pisang ini memiliki harga yang relatif tinggi dan stabil ditingkat pasar, dan (5) mencegah timbulnya dan berkembangnya penyakit terutama penyakit Layu Fusarium dan Penyakit Bakteri.

Penggunaan jarak tanam memberikan pertumbuhan tanaman lebih baik, karena tanaman memperoleh sinar matahari secara merata, sehingga proses fotosintesis berjalan baik dan lancar, sehingga pembentukan makanan (karbohirat dan unsur lain yang dibutuhkan tanaman) lebih tersedia. Disamping itu juga penggunaan jarak tanam dapat mempermudah dalam perawatan tanaman.

Pemberian pupuk organik/pupuk kandang berpengaruh terhadap tanah dan pertumbuhan tanaman. Hal ini dapat dilihat pada waktu musim kering tanaman masih dapat tumbuh dengan baik, ditandai dengan warna daun masih segar dan cerah dengan batang yang kokoh. Sedangkan tanaman tanpa pemberian pupuk organik/kandang penampilan tanaman agak layu, warna daun hijau pucat dan agak mengering.

Untuk tanaman yang diberikan pupuk an-orgaink (ZA, SP 36, dan KCl) mengalami pertumbuhan lebih cepat, terutama pembentukan daun dan tinggi tanaman. Dengan pemberian pupuk an-organik dapat mempercepat terbentuknya daun, semakin banyak daun yang terbentuk maka akan semakin banyak zat makanan yang dihasilkan, sehingga berpengaruh terhadap percepatan pertumbuhan batang dan akar tanaman.

Untuk tanaman yang diberi pupuk organik dan an-organik memiliki penampilan batang tanaman yang besar dan kokoh, sehingga pada waktu angin kencang tanaman tidak mudah roboh. Tinggi tanaman proporsional dalam arti

(14)

tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, sehingga mempemudah dalam pembrongsongan buah dan pelaksanaan panen. Pembentukan jantung pisang lebih besar dan panjang, hal ini berpengaruh terhadap pembentukan jumlah sisir/tandan. Jumlah sisir/tandan yang dihasilkan pada 3 jenis pisang yang ditanam di petani kooperator adalah rata-rata 8–10 sisir. Sedangkan pada petani non kooperator, jumlah sisir/tandan yang dihasilkan tanaman cukup bervariasi antara 5–10 sisir/tandan. Dimana harga per-tandan antara Rp. 15.000,- sampai Rp. 25.000,-. Untuk Harga Rp. 15.000,/tandan (jumlah sisir/tandan berkisar 5–7) sedangkan harga Rp. 25.000,- /tandan (jumlah sisir/tandan berkisar 8–10). Dalam hal ini dapat dilihat adanya peningkatan produksi dan pendapatan pada petani kooperator. Karena semakin banyak jumlah sisir/tandan maka harga akan semakin tinggi.

Untuk tanaman sela khususnya kacang panjang mampu memberikan tambahan pendapatan bagi petani kooperator sekitar Rp. 1.500.000,- (dalam jangka waktu 2 bulan) dengan luasan sekitar 10 are. Dan untuk kacang hijau mampu memberi tambahan pendapatan sekitar Rp. 500.000 (dalam jangka waktu 60– 0 hari).

Jika dibandingkan dengan tanaman sela yang ditanam oleh petani non kooperator yang berupa ; kacang tanah dan jagung, maka pendapatan petani kooperator yang menanam kacang panjang relatif lebih tinggi. Pendapatan petani non kooperator yang menanam kacang tanah hanya menambah pendapatan petani sekitar Rp. 600.000,-, sedangkan untuk tanaman jagung dapat menambah pendapatan petani sebesar Rp. 500.000,-

Berdasarkan hal tesebut , diperoleh bahwa pemanfaatan lahan sekitar tanaman pisang dengan menanam tanaman sela yang berupa kacang panjang khususnya, mampu memberi tambahan pendapatan kepada petani sebesar Rp. 1.500.000,-, sebelum dilakukannya panen pisang.

PENDAHULUAN

Dalam rangka meningkatkan produktivitas lahan guna pengentasan kemiskinan di lahan kering, maka tujuan dan sasaran makro pengembangan lahan kering di NTB adalah menghasilkan berbagai komoditas pertanian dengan produktivitas tinggi melalui pemanfaatan potensi lahan kering yang cukup luas sesuai keunggulan komparatifnya. Peningkatan produktivitas lahan kering ini diharapkan mencapai 7% per tahun (Bappeda NTB, 2002).

Pola tanam usahatani tanaman pangan yang banyak diterapkan oleh petani di lahan kering adalah pola tanam monokultur dan multiple croping. Kegiatan usahatani biasanya dimulai sebelum hujan tiba yaitu mulai bulan Oktober untuk persiapan lahan sampai dengan bulan April. Pola tanam yang biasa dilakukan adalah : (1) jagung (monokultur) ; (2) padi gogo (monokultur) ; (3) jagung -

kacang hijau +cabe; (4) jagung - kacang tunggak + kacang hijau; dan (5) jagung // kacang tanah.

Pengaturan pola tanam dimaksudkan untuk memanfaatkan sisa hujan, agar dapat menghasikan beberapa komoditas pada lahan yang sama. Komoditas yang berpeluang untuk diusahakan adalah cabai dengan pola tanam tumpang sisip, dimana tanaman cabai ditanam pada saat tanaman jagung berumur 2 bulan. Sedangkan komoditas kacang hijau dan kacang tunggak ditanam sebagai tanaman relay (pola tumpang gilir) pada saat jagung menjelang panen yaitu pada umur 85 HST. Awaludin et al (2001) melaporkan bahwa penerapan pola tanam tumpang gilir dengan teknologi budidaya yang intensif (penggunaan varietas unggul, pemeliharaan dan waktu panen yang tepat) dapat meningkatkan produktivitas kacang hijau dari 420 kg/ha manjadi 1078–1235 kg/ha.

Teknologi yang diterapkan

Teknologi Budidaya Jagung dengan Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)

• Penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan stabil. Respon varietas unggul berdaya hasil tinggi dan stabil sangat diperlukan sebagai komponen utama PTT jagung, baik dalam bentuk varietas unggul hibrida maupun bersari bebas. Jenis varietas unggul yang akan digunakan disesuaikan dengan lingkungan pertumbuhan setempat, kondisi sosial ekonomi petani dan dukungan swasta sebagai pemasok sarana teknologi dan kepentingan petani.

• Benih berkualitas (daya tumbuh minimal 90% dan vigornya cukup tinggi)

Benih dengan kualitas prima diperlukan untuk memacu keseragaman dan kecepatan pertumbuhan. Benih dengan kualitas fisiologi yang tinggi lebih toleran terhadap kondisi biofisik yang kurang optimal dan lebih efektif dalam memanfaatkan pupuk dan unsur hara lain dalam tanah.

• Penyiapan lahan yang hemat biaya secara TOT dengan menggunakan herbisida dari golongan

paraquat, glifosat maupun sulfosat.

• Populasi tanaman yang optimum

Populasi tanaman sangat tergantung dari jenis varietas, lingkungan pertumbuhan (tingkat kesuburan tanah dan distribusi curah hujan/ ketersediaan air). Untuk mencapai populasi optimum pada penanaman dilakukan dengan jarak tanam 80 x 40 cm (2 tanaman/lubang).

• Rasionalisasi penggunaan pupuk didasarkan pada kebutuhan tanaman, tingkat kesuburan tanah, jenis varietas yang di tanam dan dampak negatif dari penggunaan pupuk yang berlebihan. Penentuan takaran pupuk terutama P dan K dapat berdasarkan hasil analisis kandungan dan kadar hara tanah.

• Penggunaan pupuk organik

Pemberian pupuk organic di aplikasikan pada lubang tanam dengan takaran 1000 kg/ha.

• Pengendalian gulma secara intensif

• Pengendalian hama penyakit berdasarkan konsep PHT

• Penggunaan alat pemipil untuk mengurangi kehilangan hasil dan untuk mendapatkan hasil biji dengan mutu yang baik terutama untuk benih.

KIAT MENINGKATKAN

PENDAPATAN PETANI

DI LAHAN KERING

(15)

Pengaturan pola tanam tumpang sisip dan tumpang gilir

Kegiatan ini dilakukan setelah penanaman jagung dengan menanam komoditas cabai diantara tanaman jagung pada fase pertumbuhan dan komoditas kacang hijau diantara jagung pada fase pemasakan buah. Rakitan teknologi dari masing-masing komoditas adalah sebagai berikut :

Komoditas cabai :

• Pembersihan lahan dibawah jagung termasuk daun jagung dibawah tongkol.

• Penggunaan varietas cabai rawit • Pembuatan persemaian

• Penanaman dilakukan diantara tanaman jagung pada saat jagung berumur +2 BST (bulan setelah tanam dengan jarak antar tanaman 50 cm

• Pemupukan yang berimbang

• Pengendalian hama penyakit dilakukan berdasarkan konsep PHT

• Panen dilakukan tepat waktu dengan interval panen 3 – 7 hari

Komoditas kacang hijau dan kacang tunggak :

• Pembersihan lahan dibawah jagung termasuk daun jagung dibawah tongkol.

• Varietas disesuaikan dengan kebutuhan petani • Penanaman dilakukan pada saat tongkol jagung

mulai menguning (+ 85 HST), dengan jarak tanam 40 x 15 cm, sehingga terdapat 2 baris diantara jagung. • Penanaman dilakukan pada saat tongkol jagung

mulai menguning (+ 85 HST), dengan jarak tanam disesuaikan dengan jarak tanam jagung. Tanaman jagung digunakan sebagai tempat menjalarnya tanaman kacang tunggak

• Penyiangan dilakukan sesuai liputan gulma dilapang • Pengendalian hama dan penyakit sesuai konsep

PHT

• Panen tepat waktu pada saat polong berwarna coklat kehitaman.

HASIL-HASIL KAJIAN

Tabel Analisis usahatani jagung di lahan kering Sambelia. MH. 2003/2004

Uraian Kooperator Non Kooperator Fisik Nilai (Rp) Fisik Nilai (Rp) INPUT 1. Saprodi a. Benih (kg/ha) 20.40 102.000 20 50.000 b. Pupuk Urea (kg/ha) 306.25 321.563 310 325.000 SP-36 (kg/ha) 76.35 137.438 61 109.800 KCl (kg/ha) 25.52 44.661 -

Pupuk organik (kg/ha) 1000 200.000 - Insektisida (kg/ha) 8.13 73.125 - d. Herbisida (ltr) : Round Up Lindomin Gramoxone 2 1 1 85.000 34.000 42.500 0.5 20.140 2.Tenaga kr. Persiapan tanam (HOK) 1.04 12.500 - - Pengolahan tanah Ternak (psng.hari) 10 220.000 Penanaman (HOK) 10.94 131.250 8 96.000 Pemupukan (HOK) 10.00 120.000 4.5 54.000 Penyiangan (HOK) 17.60 211.250 15 180.000 Panen dan angkut 273.770 11.300

Total Input 1.789.053 1.166.240 OUTPUT a. Hasil riel 5.297 3.072.260 2.331 1.351.980 b. euntungan 1.283.208 185.740 c. R/C ratio 1.72 1.16 d. MBCR 2,76

Ket : Tenaga kerja dalam keluarga belum diperhitungkan

Hasil kajian di Sambelia lombok Timur

Secara umum usahatani jagung dengan teknologi anjuran, lebih menguntungkan dibanding teknologi petani. Walaupun dari komponen biaya terlihat bahwa teknologi anjuran lebih tinggi dari teknologi petani, namun dari segi produktivitas lebih tinggi sehingga dapat memberikan keuntungan kepada petani. Total biaya yang diperlukan pada teknologi anjuran adalah sebesar Rp. 1.789.053/ha, dimana terjadi penambahan biaya untuk pupuk organik dan tenaga kerja.

Selain pendapatan dari komoditas jagung, untuk peningkatan produktivitas lahan kering dan pendapatan petani juga akan diperoleh dari komoditas cabai, kacang hijau dan kacang tunggak. Dengan kombinasi beberapa komoditas ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani di lahan marginal, sehingga teknologi dapat diterapkan secara lumintu.

Komoditas kacang hijau atau kacang tunggak yang ditanam sebagai tanaman sisipan saat tanaman jagung akan dipanen

Gambar

Tabel   Analisis usahatani jagung di lahan kering Sambelia.
Tabel  Analisis usahatani tanaman sisipan pada pola tanam  tumpang sisip dan tumpang gilir dilahan kering  Sambelia
Tabel 1. Analisis Usaha Memproduksi Telur Tetas (100  ekor/6 bulan)  NO URAIAN  Prod. Telur  Tetas  Prod
Tabel 2. Analisis Usaha Memproduksi Anak Ayam  (penetasan)     U r a i a n  Alat Penetas  Mesin  (Pemula)  Mesin (Ahli)  Induk Input  :
+2

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Kotler dan Keller (2016), faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen terdiri dari faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Sedangkan

1) Surat Keputusan BAP-S/M tentang hasil akreditasi sekolah/madrasah. 2) Rekomendasi tindak lanjut hasil akreditasi sekolah/madrasah. 3) E-file raw data hasil

Guru meminta siswa mengerjakan tugas yang terdapat di buku Aktivitasku Tematik, Jilid 3D, Penerbit Ganeca Exact, halaman 9 untuk dikerjakan di rumah.... Guru

Saya percaya program ini dapat menjadi icon baru bagi dunia pendidikan di Indonesia, dimana muatan praktis menjadi penyeimbang kurikulum yang ada, sehingga para lulusan lebih siap

In the main activities, the lecturer performed 64 utterances of illocutionary acts during teaching and learning process. The researcher found four types

Diberitahukan bahwa setelah diadakan penelitian oleh Pejabat Pengadaan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku, Pejabat Pengadaan Barang dan Jasa di lingkungan Dinas Pekerjaan

Dari 15 responden pendaki gunung wanita, menemukan bahwa terdapat perbedaan denyut jantung, rating of perceived exertion, dan ketidaknyamanan yang signifikan

Kelapa gading yang digunakan dalam pembuatan es krim adalah kelapa muda, karena kelapa muda memiliki kadar gula lebih tinggi dibandingkan kelapa tua, sehingga dapat