• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Tempat penelitian dilakukan di Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Lokasi ini berada sekitar 10 km dari ibukota Kabupaten Jeneponto, yaitu Jeneponto. Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu kabupaten dari empat kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan dan terletak di ujung bawah pulau Sulawesi. Jarak tempuh dari Makasar, ibukota Sulawesi Selatan ke Jeneponto kurang lebih dua jam perjalanan dengan jarak ±100 km. Kabupaten Jeneponto berbatasan dengan Kabupaten Gowa di sebelah utara, sebelah selatan berbatasan dengan laut Flores, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng.

Kondisi topografi lahan wilayah Kabupaten Jeneponto pada umumnya memiliki permukaan yang sifatnya bervariasi, ini dapat dilihat bahwa pada bagian Utara terdiri dari dataran tinggi dan bukit-bukit yang membentang dari Barat ke Timur dengan ketinggian 500 sampai dengan 1.400 meter diatas permukaan laut (dpl). Di bagian tengah Kabupaten Jeneponto meliputi wilayah-wilayah dataran dengan ketinggian 100 sampai dengan 500 meter dpl, dan bagian selatan meliputi wilayah-wilayah dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai dengan 100 meter dpl. Suhu di lokasi penelitian pada saat siang berkisar antara 29-330C, sedangkan pada waktu malam berkisar antara 24-270C dengan kelembaban udaranya kurang lebih 60%.

Kabupaten Jeneponto terkenal dengan kuda. Hal ini diabadikan dengan patung kuda yang dibuat menjadi simbol kabupaten ini dan beberapa makanan khas yang berasal dari daging kuda dan selalu dihidangkan saat adanya acara keluarga, yaitu gantala jarang, coto kuda, dan bakso kuda. Selain dijadikan makanan, kuda juga dimanfaatkan sebagai alat transportasi (delman) menuju desa atau kecamatan yang tidak bisa dilewati oleh kendaraan bermotor dan juga dijadikan sebagai pekerja lahan (membajak sawah). Kepemilikan kuda juga dilatarbelakangi oleh faktor sosial yang semakin baik berkaitan dengan kepemilikan kuda.

(2)

23 Asal Ternak Kuda

Populasi kuda di Kabupaten Jeneponto mencapai 63.689 ekor pada tahun 2008 dengan jumlah pemotongan 976 ekor. Populasi kuda mengalami peningkatan 196,03% dari tahun 2007 dengan jmulah pemotongan yang juga meningkat 9,27% (Ditjenak, 2009).

Pemotongan kuda yang meningkat dilatarbelakangi oleh jalan yang mulai diperbaiki sehingga alat transportasi mulai bergeser dari delman ke angkutan umum yang lebih modern seperti ojek dan pete-pete (angkutan umum). Hal ini menyebabkan kuda yang biasa dimanfaatkan sebagai penarik delman, kemudian dipotong untuk dijadikan konsumsi daging bagi masyarakat setempat. Selain karena pergeseran alat transportasi, pemotongan kuda juga didasarkan oleh permintaan mendesak dari suatu acara pernikahan atau acara lainnya yang mewajibkan sajian makanan kuda. Banyak masyarakat yang sengaja memelihara kuda untuk dipotong jika ada acara keluarga atau keadaan ekonomi mendesak.

Kuda yang dipelihara di daerah ini adalah kuda lokal Indonesia, yaitu kuda Sumba dan kuda Sulawesi atau yang biasa disebut oleh masyarakat setempat sebagai kuda Bugis. Kuda di daerah oleh masyarakat setempat diberi nama sesuai daerah kuda tersebut berasal. Beberapa kuda disubsidi oleh pemerintah sebagai salah satu program kerja dinas pertanian bagian peternakan. Kuda dari pemerintah merupakan kuda Sumba yang didatangkan dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kuda yang berasal dari luar daerah diperjualbelikan di pasar hewan (kuda) Tolo yang dilaksanakan sekali seminggu pada hari Minggu (Gambar 2). Kuda yang diperjualbelikan mempunyai kartu identitas (Gambar 3) yang wajib dimiliki oleh pembeli dan penjual kuda di pasar Tolo. Kartu identitas ini berisi tanda morfologi kuda, umur, penjual serta pembeli kuda.

Pemeliharaan Kuda

Secara umum kuda dipelihara dengan manajemen yang sederhana sesuai dengan kesanggupan pemilik. Beberapa pemilik kuda memelihara kudanya di bawah rumah dengan cara diikat pada tiang-tiang rumah. Model rumah masyarakat menggunakan sistem panggung dengan memanfaatkan lahan dibawah rumah sebagai tempat pemeliharaan kuda (Gambar 4a). Pemeliharaan kuda

(3)

24 dengan cara lain di daerah ini adalah dengan dikandangkan, yaitu berupa kandang individu yang terletak tidak jauh dari rumah pemilik (Gambar 4b). Kuda yang dipekerjakan sebagai alat transportasi diumbar di padang penggembalaan saat istirahat (Gambar 5). Kandang berukuran 2 x 2,5 m dengan tinggi 1,5 m.

Gambar 2. Suasana Pasar Hewan (Kuda) Tolo, Kabupaten Jeneponto

(a) (b)

Gambar 3. Kartu Identitas Kuda; (a) Tampak Depan; (b) Tampak Isi

(a) (b)

(4)

25 Gambar 5. Kuda Delman yang Diumbarkan

Secara umum, kuda yang dipelihara di daerah ini tidak dibedakan antara kuda jantan dengan kuda betina, kecuali kuda yang dimanfaatkan sebagai penarik delman. Kuda potong tidak diumbarkan di padang penggembalaan melainkan dikandangkan atau diikat dibawah rumah dengan pemberian pakan sekali sehari dan pemberian air ad libitum. Konsentrat diberikan tiap dua hari sekali. Pakan yang diberikan adalah batang, bonggol, daun jagung, daun kacang, dan rumput lapang. Pakan ini berasal dari limbah hasil pertanian pemilik kuda karena sebagian dari mereka juga bekerja sebagai petani. Kuda potong tidak dipekerjakan untuk menarik delman atau membajak sawah karena pemeliharaannya memang ditujukan khusus untuk dipotong.

Kuda pekerja, yaitu kuda delman yang dipekerjakan mulai dari pukul 05.00-12.00. Delman digunakan untuk mengangkut warga menuju pasar. Kuda diumbarkan saat kusir sedang istirahat, yaitu pada pukul 12.00-14.00 dan kembali bekerja pada sore hari saat pedagang pasar pulang ke rumahnya, yaitu sekitar pukul 14.00-16.00. Kuda delman dikandangkan dibawah rumah saat malam hari atau setelah dipekerjakan dengan pemberian pakan sama seperti kuda tipe pedaging. Gambar kuda delman dan pedaging diperlihatkan pada Gambar 6.

O$OOOOO

(a) (b) Gambar 6. Pemanfaatan Kuda (a) Kuda Delman; (b) Kuda Pedaging

(5)

26 Keadaan Umum Tempat Pemotongan Kuda (TPK)

Penelitian dilakukan di empat Tempat Pemotongan Kuda (TPK) yang berbeda. Keadaan umum dari keempat TPK tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kondisi Empat Tempat Pemotongan Kuda di Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto

Variabel yang diamati

Tempat Pemotongan Kuda

Dullah H.Jumali Hamzah H.Turani

Pemilik Dullah H.Jumali Hamzah H.Turani

Letak 11 km dari ibukota Kabupaten

11 km dari Ibu kota Kabupaten

(jalan Trans Makasar)

11 km dari ibukota Kabupaten

10 km dari Ibu kota Kabupaten

(jalan Trans Makasar)

Tahun Berdiri 2000 1998 2000 2002

Jenis Kuda yang Dipotong

Kuda Makasar Kuda Makasar dan Sumba

Kuda Makasar dan Sumba

Kuda Makasar dan Sumba Asal Kuda Pemilik delman dari

dalam dan luar kabu-paten, membeli di peternak.

Pasar Tolo, peternak dan pemilik delman.

Pasar Tolo, peternak dan pemilik delman.

Pasar Tolo, peternak dan pemilik delman.

Kandang Dibawah rumah Dibawah rumah Dibawah rumah dan kandang individu

Kandang individu

Pakan Konsentrat, batang, daun, dan bonggol jagung, daun kacang, dan rumput lapang.

Konsentrat, batang, daun, dan bonggol jagung, daun kacang, dan rumput lapang.

Konsentrat, batang, daun, dan bonggol jagung, daun kacang, dan rumput lapang.

Konsentrat, batang, daun, dan bonggol jagung, daun kacang, dan rumput lapang. PemberianPakan Hijauan ; dua kali

sehari

Konsentrat ; sehari sekali

Air minum ; ad

libitum

Hijauan ; dua kali sehari

Konsentrat ; sehari sekali

Air minum ; ad

libitum

Hijauan ; dua kali sehari

Konsentrat ; sehari sekali

Air minum ; ad

libitum

Hijauan ; dua kali sehari

Konsentrat ; sehari sekali

Air minum ; ad

libitum

Kegiatan TPK Memelihara dan memotong Memelihara dan memotong Memelihara dan memotong Memelihara dan memotong

Pegawai 3 orang 2 orang 4 orang 2 orang

Waktu Pemotongan

Pukul 02.00-selesai Pukul 23.00-selesai Pukul 03.00-selesai Pukul 05.00-selesai

Distribusi Daging Kuda

Industri rumah makan (kontrak), pasar, pe-mesanan untuk pesta

Pasar, pemesanan untuk pesta

Industri rumah makan (kontrak), pasar, pe-mesanan khusus pesta

Rumah makan sen-diri, pasar, peme-sanan untuk pesta Adaptasi Dua bulan Kuda Makasar : dua

hingga empat bulan Kuda Sumba : enam hingga sepuluh bulan

Kuda Makasar : empat bulan

Kuda Sumba : enam hingga sepuluh bulan

Kuda Makasar : empat bulan

Kuda Sumba : enam hingga sepuluh bulan Pemotongan /hari 3 ekor 2 ekor 3 ekor 2 ekor

(6)

27 TPK Dullah

Tempat Pemotongan Kuda (TPK) Dullah berdiri sejak tahun 2000 dan diberikan nama yang sama dengan nama pemiliknya. Letak TPK ini berada 11 km dari ibukota Kabupaten Jeneponto dan satu km dari jalan trans Makasar. Kuda yang berada di TPK Dullah dipelihara dan diadaptasikan selama rata-rata dua bulan sebelum dipotong. Jenis kuda yang dipelihara hanya kuda Makasar karena pemilik TPK hanya membeli dari peternak sekitar, bukan dari pasar Tolo. Kuda di TPK Dullah dipelihara dengan mengikat kuda dibawah rumah tanpa mengumbarkan. Kuda diberikan pakan hijauan, yaitu daun kacang, rumput lapang, daun, batang, dan bonggol jagung yang diberikan tiap dua kali sehari sebanyak 20 kg/hari/kuda. Pemberian konsentrat sehari sekali sebanyak 2 kg/hari/kuda. Kuda pekerja diberikan konsentrat pada pagi hari sebelum dipekerjakan sedangkan kuda potong diberikan pada sore hari. Air diberikan ad

libitum.

Tenaga kerja di TPK Dullah berjumlah tiga orang yang semuanya merupakan anggota keluarga. Tenaga kerja ini bertugas mengurus kuda pada pagi hingga sore hari dan membantu proses pemotongan kuda pada malam hingga dini hari. Setiap tenaga kerja mampu menyelesaikan proses pemotongan satu ekor kuda. Daging dan tulang kuda dikemas dalam karung yang berbeda lalu didistribusikan ke industri rumah makan yang berada di Makasar dan sisanya dijual di pasar. Selain itu, TPK Dullah juga sering menerima pemesanan daging untuk pesta sehingga pemotongan kuda dilakukan hampir tiap malam.

TPK H. Jumali

Tempat Pemotongan Kuda (TPK) H. Jumali merupakan salah satu TPK yang sudah lama berdiri, yaitu sejak tahun 1998. Letaknya 11 km dari ibokota Kabupaten Jeneponto dan berada di jalan trans Makasar. Pemiliknya, H. Jumali adalah pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) yang memang sejak dulu memelihara kuda. Walaupun tidak pernah melakukan kerjasama (kontrak) dengan industri pengolahan daging kuda atau rumah makan daging kuda, TPK ini memotong kuda hampir tiap hari sejak didirikan. Kuda dipotong pada pukul 23.00-selesai dan didistribusikan ke pasar Jeneponto.

(7)

28 Kuda yang berada di TPK H. Jumali merupakan kuda Sumba dan kuda Makasar. Semua kuda yang dipotong di TPK ini dipelihara terlebih dahulu selama dua sampai empat bulan sebelum dipotong kecuali kuda Sumba dipelihara selama enam hingga sepuluh bulan untuk kuda yang berumur tiga hingga empat tahun dan dipelihara empat bulan untuk kuda yang umurnya sudah mencapai lima tahun. Semua kuda dipelihara dengan sistem perkandangan dibawah rumah. Pakan yang diberikan yaitu konsentrat dengan pemberian sekali sehari sebanyak 2-3 kg/ekor/hari, hijauan berupa batang, daun, dan bonggol jagung yang diberikan dua kali sehari sebanyak 20 kg/ekor/hari sedangkan air diberikan ad libitum.

Kuda berjumlah 30 ekor pada awal penelitian dan tinggal 28 ekor pada akhir penelitian. Hampir tiap minggu pegawai dari TPK membeli kuda di pasar Tolo atau peternak sekitar sehingga stok kuda tetap mencukupi ketika ada pemesanan mendadak untuk pesta.

TPK Hamzah

Tempat Pemotongan Kuda (TPK) Hamzah merupakan salah satu TPK yang tidak hanya menyediakan jasa pemotongan kuda, tetapi juga memelihara kuda dalam kurun waktu satu sampai dua tahun. Kuda yang dipelihara di TPK ini yaitu kuda Sumba dan Makasar. Kuda Sumba diperoleh dari pasar Tolo, sedangkan kuda Makasar diperoleh dari peternak-peternak sekitar yang menjual kudanya. Kuda Sumba dipelihara selama enam hingga sepuluh bulan dan kuda Makasar selama rata-rata empat bulan sebelum dipotong. Kuda dipelihara dengan cara dikandangkan dan sebagian diikat dibawah rumah dengan pemberian pakan berupa konsentrat yang diberikan sekali sehari sebanyak 2-3 kg/ekor/hari, hijauan yaitu daun kacang, rumput lapang, batang, daun dan bonggol jagung yang diberikan dua kali sehari sebanyak 20 kg/ekor/hari.

Letak TPK Hamzah berjarak 11 km dari ibukota Kabupaten Jeneponto dan sudah ada sejak tahun 2000. Jumlah tenaga kerja di TPK ini adalah empat orang. Mereka bertugas memelihara kuda dan membantu proses pemotongan pada dini hari. TPK Hamzah memotong kuda pada pukul 03.00-selesai. Daging dan tulang kuda didistribusikan khusus ke industri rumah makan yang mengolah daging dan tulang kuda dan selebihnya dijual ke pasar Jeneponto.

(8)

29 TPK H. Turani

Tempat Pemotongan Kuda (TPK) H. Turani berjarak 10 km dari ibukota Kabupaten Jeneponto dan berada di jalan trans Makasar. H. Turani sebagai pemilik TPK ini juga memiliki rumah makan sendiri yang menyediakan makanan dari daging kuda, yaitu coto dan konro kuda sehingga pemotongan kuda selain ditujukan untuk memenuhi kebutuhan rumah makan juga untuk dijual ke pasar.

Tempat Pemotongan Kuda (TPK) H. Turani berdiri sejak tahun 2002 oleh H. Turani. Kuda yang dipelihara adalah kuda Sumba dan Makasar yang diperoleh dari pasar Tolo dan peternak sekitar. Kuda dipelihara dengan sistem perkandangan individu. Pakan yang diberikan berupa konsentrat dan hijauan yaitu rumput lapang, daun kacang, batang, daun, dan bonggol jagung. Konsentrat diberikan sekali sehari sebanyak 2-3 kg/ekor/hari sedangkan hijauan diberikan sehari dua kali sebanyak 20 kg/ekor/hari.

Pemotongan kuda dilakukan pada pagi hari, yaitu pukul 05.00-selesai. Total tenaga kerja yang mengurus pemeliharaan dan pemotongan kuda adalah dua orang. Tenaga kerja ini merupakan tenaga kerja keluarga yang bekerja selain pemelihara juga sebagai pemotong kuda sehingga pemanfaatan tenaga kerja cukup efisien dalam TPK ini.

Jumlah Pemotongan Kuda

Pemotongan kuda dilakukan di Tempat Pemotongan Kuda (TPK) milik warga. Jumlah kuda yang dipotong saat penelitian dapat dilihat pada Tabel 5 sedangkan jumlah pemotongan di TPK yang berbeda menurut umur, jenis kelamin, dan pemanfaatan kuda dapat dilihat pada Tabel 6.

Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto memiliki 11 TPK tetapi hanya ada enam yang aktif. Penelitian ini dilakukan di empat TPK yang masih beroperasi ketika penelitian berlangsung, yaitu TPK Dullah, H. Jumali, Hamzah, dan H. Turani. Tabel 5 memperlihatkan, bahwa jumlah kuda yang dipotong saat penelitian sebanyak 99 ekor. Pemotongan kuda di daerah ini dilakukan pada kisaran umur 3 hingga 5 tahun atau lebih dengan pertimbangan berdasarkan pengalaman masyarakat setempat bahwa umur potong tersebut menghasilkan persentase daging yang lebih banyak daripada umur potong yang lain. Selain itu, tekstur dan keempukan daging lebih disukai masyarakat.

(9)

30 Tabel 5. Jumlah Kuda yang Dipotong Saat Penelitian Menurut Umur, Jenis

Kelamin dan Pemanfaatannya

Umur JK Pemanfaatan Kuda Umur x JK Total

Potong Pekerja ---(ekor)---I2 Jantan 12 10 22 Betina 10 8 17 I3 Jantan 5 3 9 Betina 6 7 13 I4 Jantan 10 6 16 Betina 15 7 22 Umur x PK Umur I2 22 18 40 I3 11 10 21 I4 25 13 38 JK x PK JK Jantan 27 19 46 Betina 31 22 53 Tipe 58 41 99

Keterangan : I2 = Umur 3-4 Thn, I3 = 4-5 Thn, I4 = 5 Thn atau lebih, JK = Jenis Kelamin, PK = Pemanfaatan

Kuda.

Tabel 6. Jumlah Pemotongan Kuda di TPK yang Berbeda

Umur Jenis Pemanfaatan TPK Jumlah

Kelamin 1 2 3 4 ---(ekor)--- I2 Jantan Pekerja 5 1 4 1 22 Potong 7 2 2 0 Betina Pekerja 4 2 2 0 17 Potong 3 3 3 0 I3 Jantan Pekerja 1 1 2 0 9 Potong 3 0 2 0 Betina Pekerja 4 1 1 1 13 Potong 3 0 2 1 I4 Jantan Pekerja 2 2 2 0 16 Potong 4 3 1 2 Betina Pekerja 3 1 3 0 22 Potong 5 1 4 5 Jumlah 44 17 28 10 99

Keterangan : TPK 1 = TPK Dullah, TPK 2 = TPK H. Jumali, TPK 3 = TPK Hamzah, TPK 4= TPK H. Turani I2 = Umur 3-4 Thn, I3 = 4-5 Thn, I4 = 5 Thn atau lebih.

(10)

31 Pemotongan tidak mempertimbangkan jenis kelamin terlihat dari rasio jantan dan betina yang dipotong saat penelitian, yaitu 46 : 53 ekor. Kondisi ini sebenarnya tidak menguntungkan karena pada umur 3 hingga 5 tahun, kuda betina berada pada masa yang baik untuk dikawinkan atau dengan kata lain kuda tersebut masih merupakan betina produktif sehingga pemotongan kuda betina pada kisaran umur tersebut dapat mengganggu keberlanjutan populasi kuda.

Pemanfaatan kuda cukup diperhatikan oleh pemiliknya untuk dipotong. Jumlah kuda potong yang dipotong saat penelitian adalah 58 ekor lebih banyak daripada kuda pekerja yaitu sebanyak 41 ekor. Kuda potong memang dipelihara khusus dengan tujuan dipotong untuk menghasilkan daging sehingga umur saat dipotong sudah diperkirakan oleh pemilik, yaitu pada kisaran umur 3 hingga 5 tahun.

Jumlah kuda yang dipotong berdasarkan umur lebih banyak pada umur I2 (40 ekor) daripada I4 (38 ekor) dan I3 (21 ekor). Kuda dengan kelompok umur I2 dipotong paling banyak karena pemilik ingin memperoleh keuntungan lebih cepat sehingga kuda dipotong secepat mungkin saat umurnya mencapai tiga tahun. Pemotongan kuda pada umur I4 lebih banyak daripada I3 karena taring kuda dikhawatirkan akan tumbuh pada kisaran umur I4 atau lebih sehingga pemilik segera memotong kudanya. Taring ternak berkaitan dengan kehalalan dagingnya. Masyarakat setempat percaya bahwa kuda yang sudah tumbuh taringnya haram untuk dikonsumsi.

Kuda potong yang dipotong pada kelompok umur I2, I3, dan I4 masing-masing 22, 11, dan 25 ekor. Jumlah kuda kelompok umur I4 (±5 tahun atau lebih) yang dipotong adalah yang paling banyak (25 ekor) bertujuan menghasilkan persentase daging yang lebih tinggi sesuai dengan pengalaman pemotong kuda.

Pemotongan kuda pekerja tidak pernah memperhitungkan umurnya. Pemotongan dilakukan jika keadaan mendesak, kuda afkir atau sudah tidak lagi digunakan sebagai penarik delman. Pemotongan kuda pekerja (40 ekor) yang relatif tinggi saat penelitian dilatarbelakangi oleh waktu yang bertepatan dengan musim pesta di daerah setempat, yaitu pada bulan Juli-Agustus sehingga permintaan daging kuda meningkat. Permintaan yang tinggi menyebabkan kuda

(11)

32 yang tadinya dipekerjakan sebagai penarik delman juga dipotong ketika mencapai umur 3 hingga 5 tahun. Penyebab lain yang melatarbelakangi tingginya pemotongan kuda pekerja, yaitu infrastruktur jalan yang mulai diperbaiki sehingga terjadi pergeseran alat transportasi dari delman ke alat transportasi bermesin.

Tabel 6 memperlihatkan bahwa pemotongan kuda tertinggi selama penilitian terdapat pada TPK Dullah, yaitu sebanyak 44 ekor. Pemotongan terendah terdapat pada TPK H.Turani sebanyak 10 ekor. TPK Dullah dan TPK Hamzah telah bekerjasama dengan salah satu industri pengolahan daging kuda yang berada di Makasar, sehingga tiap harinya dapat mendistribusikan daging kuda masing-masing sebanyak 100 kg/hari ke industri tersebut. Namun, dampak yang ditimbulkan adalah pemotongan kuda yang tidak memperhatikan umur, jenis kelamin bahkan pemanfaatan kuda itu sendiri. Selain untuk mendistribusikan daging ke industri, TPK ini juga menjual daging dan tulang kuda di pasar Jeneponto. Sementara TPK H. Jumali dan H. Turani tidak terikat pada suatu industri yang mengharuskan pendistribusian daging kuda setiap hari, melainkan melakukan pemotongan kuda dengan tujuan untuk dijual ke pasar Jeneponto dan memenuhi permintaan khusus untuk pesta.

Tempat Pemotongan Kuda (TPK) H. Turani memiliki rumah makan sendiri sehingga rasio kuda potong dan pekerja yang dipotong di TPK ini adalah yang paling tinggi yaitu 8:2 dibandingkan dengan TPK Dullah, Hamzah dan H. Jumali yang masing-masing rasionya 25:19, 9:8 dan 1:1. Tempat Pemotongan Kuda (TPK) H. Turani sangat memperhatikan kebutuhan daging kuda untuk rumah makannya sehingga mempertimbangkan umur dan pemanfaatan kuda yang dipotongnya. Kuda di TPK H. Turani yang paling banyak dipotong adalah kelompok umur I4 yaitu sebanyak tujuh ekor, sedangkan I3 dan I2 masing-masing sebanyak dua dan satu ekor.

Proses Pemotongan Kuda

Proses pemotongan kuda di empat TPK penelitian dapat dikatakan hampir sama. Pemotongan kuda dilakukan pada malam hingga dini hari, meskipun proses pemotongan dilakukan pada waktu yang tidak bersamaan. Pemotongan kuda di TPK H. Jumali dimulai pada malam hari pukul 23.00-selesai, TPK Dullah pukul

(12)

33 02.00-selesai, TPK Hamzah pukul 03.00-selesai dan TPK H.Turani pukul 05.00-selesai. Proses pemotongan dilakukan pada waktu yang tidak bersamaan bertujuan agar pegawai dari Dinas Peternakan dapat mengawasi proses pemotongan di tiap TPK tersebut. Pegawai ini bertindak sebagai pengawas yang menentukan layak tidaknya kuda dipotong. Hal yang dilakukan oleh pengawas adalah memeriksa umur berkaitan dengan tumbuhnya taring untuk menjamin kehalalan daging kuda, proses pemotongan hingga pendistribusian daging dan tulang kuda.

Kuda yang dipotong tidak dipuasakan terlebih dahulu, padahal pemuasaan ternak sebelum dilakukan pemotongan adalah penting untuk mengurangi kontaminasi karkas dari saluran pencernaan. Rosmawati (2003) menyebutkan bahwa total bakteri baik Staphylococcus sp. maupun Esheria coli pada daging kuda di Kabupaten Jeneponto yang disimpan pada suhu normal, masing-masing 4,91±0,54 x107 dan 7,65±0,17x107/gram daging. Total dari kedua jenis bakteri ini melebihi jumlah yang direkomendasikan oleh Standar Nasional Indonesia (2000) yang menyatakan bahwa kontaminasi bakteri tidak boleh lebih dari 102-103/gram daging.

Sebelum dipotong penjatuhan kuda dilakukan dengan cara tradisional yaitu menggunakan ikatan tali pada keempat kakinya lalu ditarik sehingga kuda jatuh dan rebah diatas lantai. Namun sering terjadi kesulitan dalam menjatuhkan kuda karena tidak dilakukan pemuasaan dan pemingsanan terlebih dahulu. Soeparno (2005) menyebutkan bahwa ternak yang dipuasakan cenderung lebih tenang sehingga mudah ditangani dan tidak banyak terbanting atau terbentur benda keras pada saat penjatuhan. Pemotongan kuda dilakukan secara langsung setelah dijatuhkan dengan menyembelih pada bagian leher yaitu memotong arteri

karotis dan vena jugularis serta oesofagus. Kuda disembelih dalam kondisi

berbaring mengarah ke kiblat dan pemotong membaca basmalah sehingga daging yang dihasilkan dapat dikategorikan kedalam daging yang halal.

Kuda yang telah disembelih disiram air untuk menjaga sanitasi, namun tidak dilakukan penggantungan ternak sehingga pengeluaran darahnya tidak maksimal. Pengeluaran darah dilakukan selama 20 menit setelah penyembelihan dengan membiarkan kuda dalam keadaan masih terbaring diatas lantai. Darah

(13)

34 yang keluar ditampung pada tempat penampungan khusus yang terbuat dari ban mobil besar.

Proses selanjutnya adalah pemisahan kepala yang dilakukan dengan menggunakan kapak. Kaki depan dan kaki belakang dipotong mulai dari carpus ke metacarpus dan carpal ke metacarpal. Kuda yang telah disembelih dan sudah terpisah kepala dan kakinya, kemudian dilakukan pengulitan dengan menyayat bagian antara kaki belakang lalu ke bagian perut, kaki belakang, bahu, kaki depan dan bagian sekitar leher. Pengulitan ini dilakukan secara manual yaitu menggunakan pisau yang sangat tajam.

Pengeluaran jeroan dilakukan dengan menyayat bagian diantara kaki belakang. Jeroan dikeluarkan secara perlahan agar perut tidak pecah dan isinya keluar yang dapat mengotori karkas. Jeroan yang telah terpisah dibersihkan pada tempat yang berbeda. Saluran pencernaan kuda masih banyak mengandung isi, yaitu air dan sisa makanan (feses) karena pemuasaan tidak dilakukan sebelum penyembelihan.

Karkas kuda lalu dibelah menjadi dua bagian, bagian depan (bagian rusuk dan paha depan) dan belakang (bagian panggul dan paha belakang) lalu dilakukan

deboning (pemisahan daging dari tulang). Daging yang dihasilkan ada empat

bagian, yaitu bagian depan kiri, depan kanan, belakang kiri, dan belakang kanan. Tulang yang dihasilkan dari karkas adalah tulang rusuk, tulang panggul, tulang paha depan, dan tulang paha belakang. Daging yang dihasilkan tidak dilayukan terlebih dahulu melainkan langsung didistribusikan ke pasar atau industri-industri pengolahan daging kuda.

Daging, tulang, jeroan, dan kepala kuda dijual ke pasar. Kulit tidak dipasarkan karena sudah ada pengolah kulit kuda yang mengambil kulit tiap harinya. Tulang dan kepala dijadikan bahan utama masakan konro kuda oleh masyarakat sedangkan daging diolah seperti mengolah daging sapi.

Pendugaan Bobot Potong

Kendala yang dihadapi dalam penelitian ini adalah keterbatasan alat khususnya timbangan sehingga bobot potong ternak penelitian diperoleh dari pendugaan bobot potong. Pendugaan dilakukan dengan menggunakan rumus Piliner, 1992. Selain itu, dilakukan pula penimbangan seluruh organ kuda untuk

(14)

35 memperoleh bobot potong recover yang selanjutnya dapat dibandingkan dengan hasil pendugaan bobot potong Piliner (1992). Tabel 7 memperlihatkan pendugaan bobot potong (Piliner, 1992) dan bobot potong recover.

Tabel 7. Perbandingan Bobot Potong Recover dan Estimasi Bobot Badan

Variabel Estimasi Bobot Badan Bobot Potong Recover Bias

---(kg)--- Umur I2 244,00±66,70 153,99±29,58 94,63±39,64 I3 253,22±58,81 155,93±25,48 101,97±39,16 I4 251,28±52,13 156,66±25,95 99,32±32,86 Jeni Kelamin Jantan 246,63±63,70 155,47±28,44 95,82±38,21 Betina 250,59±55,78 155,39±26,23 99,86±35,70 Pemanfaatan Kuda Potong 251,52±59,41 155,76±27,58 91,53±37,30 Pekerja 246,71±59,69 155,18±27,05 95,76±34,93 Rataan 248,75±59,32 155,43±27,14 93,32±36,90

Tabel 7 memperlihatkan terdapat bias yang cukup tinggi (93,32±36,90 kg)

antara bobot potong recover dengan pendugaan bobot badan menggunakan rumus Piliner (1992). Perbedaan ini dapat disebabkan ternak kuda yang digunakan dalam penelitian adalah kuda lokal Indonesia yang termasuk kedalam kuda poni dengan tinggi badan berkisar 1,15-1,35 m (Jacoebs, 1994).

Ukuran kuda lokal Indonesia lebih kecil daripada kuda yang digunakan oleh Piliner (1992) yaitu jenis kuda Thoroughbred, Quarter, Standarbred, dan kuda Inggris lainnya yang memiliki ukuran tubuh dengan tinggi berkisar 1,55-1,65 m dan bobot badan berkisar 450-650 kg (Ensminger, 1962). Berdasarkan hasil ini maka dalam penelitian ini digunakan bobot potong recover yang mendekati sebenarnya.

Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Potong

Kuda yang akan dipotong tidak ditimbang terlebih dahulu karena tidak tersedianya timbangan besar untuk kuda sehingga bobot potong yang diperoleh adalah bobot potong recover (penjumlahan semua komponen tubuh ternak). Rataan bobot potong recover kuda saat penelitian selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 8.

(15)

36 Tabel 8. Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Potong Kuda

Keterangan : Koefisien keragaman = 17,46%

JK = Jenis Kelamin, PK = Pemanfaatan Kuda, I2 = Umur 3-4 Thn, I3 = 4-5 Thn, I4 = ±5 Thn Tabel 8 menunjukkan bahwa umur, jenis kelamin, dan pemanfaatan kuda serta semua interaksinya tidak berpengaruh nyata terhadap bobot potong. Rataan umum bobot potong dalam penelitian ini adalah 155,43±27,14 kg. Rataan bobot potong kuda meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Bobot potong kelompok umur I2,I3 dan I4 masing-masing 153,99±29,58, 155,93±25,48, dan 156,66±25,95 kg. Hasil penelitian ini didukung oleh Tulloh (1978) yang menyatakan bobot potong akan meningkat dengan bertambahnya umur. Pertambahan umur akan meningkatkan bobot komponen-komponen tubuh sampai fase dimana beberapa komponen tubuh akan melambat bahkan berhenti pertumbuhannya setelah mencapai kedewasaan.

Bobot potong kuda potong (156,48±27,52 kg) tidak beda nyata dengan kuda pekerja (154,68±27,08 kg) begitupun dengan jenis kelamin. Bobot potong kuda jantan (155,47±28,44 kg) tidak beda nyata dengan kuda betina (155,39±26,23 kg). Kuda potong dipelihara oleh pemilik dengan tujuan khusus dipotong untuk menghasilkan daging sehingga tidak dipekerjakan. Energi yang diperoleh dari pakan didistribusikan untuk pertumbuhan dan perkembangan komponen tubuh. Hal yang berbeda terjadi pada kuda pekerja yang mana kuda kuda pekerja tersebut dipelihara oleh pemilik untuk dimanfaatkan tenaganya

Umur PK Pemanfaatan Kuda Umur X PK

Potong Pekerja ---(kg)---I2 Jantan 153,52±28,56 155,69±31,12 154,51±29,04 Betina 154,59±29,78 151,84±34,59 153,37±31,05 I3 Jantan 147,94±24,27 157,39±25,95 151,48±23,51 Betina 158,61±32,82 158,72±24,05 158,67±27,17 I4 Jantan 158,40±31,36 159,45±33,56 158,79±31,08 Betina 153,88±23,55 157,73±20,30 155,11±22,15 JK x PK Rataan JK Jantan Betina 154,29±28,11 155,02±26,60 157,14±29,58 155,90±26,30 155,47±28,44 155,39±26,23

Umur x PK Rataan Umur

I2 I3 I4 154,00±28,42 153,76±28,38 155,69±26,41 153,98±31,77 158,32±23,14 158,52±26,00 153,99±29,58 155,93±25,48 156,66±25,95 Rataan PK 156,48±27,52 154,68±27,08 155,43±27,14

(16)

37 sebagai sarana transportasi. Energi yang diperoleh dari pakan sebahagian didistribusikan untuk tenaga yang digunakan untuk menarik delman. Namun, koefisien keragaman yang tinggi (17,46%) menyebabkan tidak berbeda nyatanya bobot potong yang diperoleh pada tipe kuda yang berbeda.

Short (1980) menyatakan bahwa hormon kelamin memberi pengaruh yang menonjol terhadap pertambahan bobot badan ternak yang sekaligus memberikan perbedaan bobot dan persentase karkas. Padang (2005); Chaniago dan Boyes (1980) menyatakan bahwa jenis kelamin dapat menyebabkan perbedaan laju pertumbuhan. Jenis kelamin jantan memiliki performa produksi (pertambahan bobot badan, konsumsi bahan kering dan efisiensi penggunaan pakan) dan status faal (suhu tubuh, respirasi dan pulsus) yang lebih tinggi dibanding ternak betina. Bobot potong

recover kuda penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata pada

jenis kelamin yang berbeda yang disebabkan oleh tingginya keragaman yaitu 17,46%.

Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot dan Persentase Karkas

Bobot karkas merupakan salah satu indikator untuk dapat melihat kualitas karkas. Pengaruh perlakuan terhadap bobot karkas kuda dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Karkas Kuda

Umur JK Pemanfaatan Kuda Umur x JK

Potong Pekerja ---(%)---I2 Jantan 91,08±18,44 90,90±20,42 91,00±18,89 Betina 94,95±20,29 91,75±24,10 93,53±21,44 I3 Jantan 87,10±14,95 91,83±17,29 88,87±14,85 Betina 101,70±21,50 94,65±16,51 97,36±18,05 I4 Jantan 94,45±21,45 92,17±23,73 93,59±21,57 Betina 95,49±15,38 96,00±13,34 95,65±14,44 JK x PK Rataan JK Jantan 91,59±18,56 91,45±19,96 91,53±18,93 Betina 96,34±17,65 94,05±17,78 95,35±17,66

Umur x PK Rataan Umur

I2 92,84±18,93 91,28±21,45 92,14±19,85

I3 94,40±19,08 93,88±15,88 94,13±17,03

I4 95,07±17,63 94,23±18,19 94,78±17,55

Rataan PK 94,09±18,09 92,87±18,27 93,57±18,27

Keterangan : Koefisien keragaman = 19,53%

(17)

38 Ternak pada umumnya mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dimana pada fase permulaan kelahiran (post natal) diarahkan kepada pertumbuhan dan perkembangan organ-organ pencernaan, sirkulasi/respirasi dan sistem saraf. Ternak yang dipotong pada fase pertumbuhan dan perkembangan komponen fisik karkas yang telah optimum maka bobot karkas yang dihasilkan juga akan mengalami peningkatan.

Analisis keragaman memperlihatkan bahwa faktor umur, jenis kelamin dan pemanfaatan kuda serta berbagai interaksinya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot karkas kuda. Rataan umum bobot karkas kuda pada penelitian adalah 93,57±18,27 kg. Rataan bobot potong ini jauh lebih rendah daripada rataan bobot potong yang biasanya dipotong di Spanyol (270,94 kg). Perbedaan ini disebabkan oleh pengaruh bangsa kuda. Bangsa kuda penelitian merupakan kuda lokal Indonesia yang morfometrik tubuhnya lebih kecil daripada kuda Spanyol, yaitu Burguete. Kuda Burguete merupakan kuda tipe ringan dengan berat 460 kg (Sarries dan Beriain, 2005).

Rataan bobot karkas kuda yang diperoleh dari penelitian menunjukkan peningkatan pada tiap kelompok umur. Bobot potong karkas kuda pada kelompok umur I2, I3, dan I4 masing-masing adalah 92,14±19,85, 94,13±17,03, dan 94,78±17,55 kg. Rataan bobot karkas kuda potong dan pekerja masing-masing adalah 94,09±18,09 dan 92,87±18,27 kg. Besarnya keragaman dari bobot karkas kuda yang dipotong pada penelitian ini yaitu 19,53% mengakibatkan tidak terdapat perbedaan yang nyata. Bobot karkas kuda mengalami peningkatan dengan bertambahnya bobot potong sesuai dengan Berg dan Butterfield (1976) yang menyatakan bahwa bobot karkas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya bobot potong dimana lemak jeroan juga meningkat dengan laju pertumbuhan yang tetap. Terdapat hubungan yang erat antara bobot karkas dan komponen-komponennya dengan bobot tubuh

Karkas dapat pula dinyatakan dalam persentase karkas, yaitu perbandingan antara bobot karkas dengan bobot potong (Forrest et al., 1975; Tulloh, 1978). Tabel 10 menunjukkan pengaruh perlakuan terhadap persentase karkas kuda selama penelitian.

(18)

39 Tabel 10. Pengaruh Perlakuan terhadap Persentase Karkas Kuda

Umur JK Pemanfaatan Kuda Umur x JK

Potong Pekerja ---(%)---I2 Jantan 61,99±1,29 58,69±1,99 60,49±1,69 Betina 61,93±1,37 59,17±2,66 60,71±2,08 I3 Jantan 57,59±0,75 61,35±1,45 58,99±1,02 Betina 57,80±1,24 63,08±1,21 60,64±1,71 I4 Jantan 59,92±1,84 58,01±3,43 59,21±2,66 Betina 61,13±1,37 60,20±0,96 60,84±1,37 JK x PK Rataan JK Jantan 60,41±1,41 58,89±2,38 59,78±1,96B Betina 60,75±1,36 60,74±1,82 60,74±1,63A

Umur x PK Rataan Umur

I2 57,70±1,66 58,90±2,45 58,39±2,12

I3 60,65±2,05 59,19±2,99 60,02±2,44

I4 61,97±1,68 62,56±1,90 60,15±1,73

Rataan PK 60,59±1,86A 59,88±2,52B 60,29±2,22

Superscript huruf kapital yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menandakan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) Keterangan : Koefisien keragaman = 3,59%

JK = Jenis Kelamin, PK = Pemanfaatan Kuda, I2 = Umur 3-4 Thn, I3 = 4-5 Thn, I4 = ±5 Thn

Tabel 10 memperlihatkan rataan persentase karkas kuda penelitian adalah 60,29±2,22%. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor umur dan berbagai interaksinya tidak berbeda nyata terhadap persentase karkas kuda dimana persentase karkas kuda kelompok umur I2, I3, dan I4 masing-masing 58,39±2,12, 60,02±2,44, dan 60,15±1,73%. Secara umum, persentase karkas dalam kelompok umur yang berbeda mengindikasikan bahwa bobot potong dan persentase karkas memiliki korelasi positif, hal ini sesuai dengan pernyataan Devendra (1983) bahwa persentase karkas dipengaruhi oleh bobot karkas, bobot dan kondisi ternak, bangsa, proporsi bagian-bagian non karkas, ransum, umur, jenis kelamin, dan kastrasi.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis kelamin berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap persentase karkas kuda begitupun dengan pemanfaatan kuda yang mana kuda potong (60,59±1,86%) memiliki persentase karkas yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi daripada kuda pekerja (59,88 ± 2,52%). Perbedaan ini disebabkan pemeliharaan khusus yang dilakukan untuk

(19)

40 kuda potong karena akan dipotong untuk menghasilkan daging dan tidak digunakan bekerja. Persentase karkas kuda betina sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi (60,74±1,63%) daripada jantan (59,78±1,96%). Hasil penelitian ini didukung dengan hasil penelitian Sarries dan Beriain (2005) dimana persentase karkas kuda yang dipotong pada umur 16 bulan pada betina (63,88%) lebih tinggi daripada jantan (63,43%). Lemak pada kuda betina diduga lebih tinggi dibandingkan dengan kuda jantan yang mana dalam penelitian ini terhitung sebagai bagian dari karkas. Lemak pada betina dipicu oleh adanya hormon estrogen.

Persentase karkas pada ternak betina yang lebih tinggi juga terjadi pada hasil penelitian Padang dan Irmawaty (2007) dimana kambing kacang betina memiliki persentase karkas yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dibandingkan kambing kacang jantan. Tingginya persentase karkas betina disebabkan oleh adanya pengaruh hormon terhadap produktivitas ternak terutama hormon-hormon kelamin, seperti testosteron pada ternak jantan dan hormon progesteron pada ternak betina. Hormon yang paling menonjol pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan ternak adalah hormon estrogen dan testosteron. Hormon estrogen dapat menghambat pertumbuhan tulang, sehingga ternak betina memiliki kerangka tubuh yang lebih kecil dibanding kerangka ternak jantan, akan tetapi hormon estrogen dapat memacu pertumbuhan lemak tubuh, karena itu ternak betina akan menimbun lemak dalam tubuhnya lebih tinggi dibanding ternak jantan. Sebaliknya hormon testosteron dapat memacu pertumbuhan tulang dan menekan pertumbuhan lemak tubuh. Olehnya, persentase karkas ternak betina lebih tinggi dibanding persentase karkas ternak jantan (Turner dan Bagnara, 1976; Edey et al., 1981).

Pengaruh Perlakuan terhadap Persentase Daging Kuda

Persentase daging merupakan perbandingan antara bobot daging dengan bobot karkas (Kempster et al., 1982). Pengaruh perlakuan terhadap persentase daging kuda dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 menunjukkan rataan persentase daging kuda untuk tiap perlakuan. Rataan umum persentase daging kuda pada penelitian ini adalah 67,73 ± 6,02%. Hasil analisis ragam memperlihatkan tidak ada perbedaan yang nyata

(20)

41 untuk setiap interaksi dari faktor jenis kelamin dengan pemanfaatan kuda, jenis kelamin dengan umur, pemanfaatan kuda dengan umur serta jenis kelamin dengan umur dan pemanfaatan kuda terhadap persentase daging kuda.

Tabel 11. Pengaruh Perlakuan terhadap Persentase Daging Kuda

Umur JK Pemanfaatan Kuda Umur x JK

Potong Pekerja ---(%)---I2 Jantan 63,33±7,87 64,79±4,41 63,99±6,43 Betina 65,02±5,51 65,41±3,86 65,19±4,70 I3 Jantan 68,95±5,53 67,72±4,70 68,49±4,92 Betina 69,46±4,72 68,81±4,57 67,74±5,36 I4 Jantan 68,99±5,93 65,65±3,82 67,74±5,36 Betina 73,23±5,22 70,79±4,29 72,46±4,98 JK x PK Rataan JK Jantan 66,47±7,16 65,52±4,17 66,08±6,06 Betina 69,85±6,25 68,20±4,64 69,17±5,65

Umur x PK Rataan Umur

I2 64,18±6,79 65,06±4,07 64,53±5,68 B I3 69,23±4,84 68,48±4,38 68,87±4,53 AB I4 71,54±5,790 68,42±4,74 70,47±5,59 A Rataan PK 68,28±6,84 66,96±4,58 67,73±6,02

Superscript pada kolom yang sama menandakan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) Keterangan : Koefisien keragaman = 8,89%

JK = Jenis Kelamin, PK = Tipe Kuda, I2 = Umur 3-4 Thn, I3 = 4-5 Thn, I4 = ±5 Thn

Persentase daging untuk kuda betina dan jantan masing-masing 69,17±5,65 dan 66,08±6,06%. Rataan ini berbanding lurus dengan persentase karkas yang juga lebih tinggi pada kuda betina daripada kuda jantan. Jones et al. (1983) menjelaskan bahwa jenis kelamin bisa tidak berpengaruh nyata terhadap komponen karkas, termasuk distribusi tulang, daging dan lemak. Perbedaan komposisi karkas karena jenis kelamin dapat terjadi setelah mencapai fase pertumbuhan penggemukan. Sama halnya dengan jenis kelamin, faktor pemanfaatan kuda juga tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap persentase daging. Persentase daging pada kuda potong dan pekerja masing-masing adalah 68,28±6,84 dan 66,96±4,57, hasil ini berbanding lurus dengan persentase karkas pada Tabel 8.

Faktor umur berpengaruh sangat nyata (P<0,01) antara kelompok umur I2 (64,53±5,68%) dengan I4 (70,47±5,59%) namun tidak berbeda nyata dengan I3

(21)

42 (68,87±4,52%). Persentase daging kuda meningkat seiring bertambahnya umur potong. Hasil penelitian ini didukung dengan pendapat Hedrick (1968) yang menyatakan bahwa peningkatan pertumbuhan organ-organ serta komponen lainnya seperti otot dipengaruhi oleh bertambahnya umur. Komponen lemak selain lemak sub kutan dalam penelitian ini penimbangannya tidak dipisahkan dengan daging sehingga lemak terhitung dalam komponen daging. Hal ini menyebabkan persentase daging kuda pada tiap umur berbeda nyata sesuai dengan pernyataan Wilson et al. (1981) bahwa proporsi lemak semakin meningkat dengan bertambahnya umur sehingga mempengaruhi persentase karkas dan komponennya. Dalam hal ini, persentase daging yang meningkat seiring bertambahnya umur dipengaruhi oleh proporsi lemak yang bertambah.

Distribusi Daging Kuda

Daging hasil pemotongan kuda di Kabupaten Jeneponto dibagi menjadi empat bagian, yaitu daging bagian depan (kiri dan kanan) dan bagian belakang (kiri dan kanan). Daging kuda bagian depan meliputi daging bahu dan daging yang melekat pada tulang rusuk. Daging kuda bagian belakang meliputi daging paha. Distribusi daging kuda pada bobot karkas yang sama dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Distribusi Daging Kuda pada Bobot Karkas yang Sama (76 Kg)

Superscript pada baris yang sama menandakan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)

Peubah Distribusi Daging

Bagian Depan Bagian Belakang

---(Kg)--- Pemanfaatan Kuda Potong 28,50±3,00 20,12±1,44 Pekerja 31,67±2,52 21,33±1,54 Jenis Kelamin Jantan 29,00±3,00 20,17±1,75 Betina 30,50±3,41 21,00±1,15 Umur I2 28,50±2,83 20,00 I3 30,50±2,12 21,00±1,41 I4 30,66±4,16 20,83±2,02 Rataan 29,86±3,08 A 20,64±1,37 B

(22)

43 Tabel 12 menunjukkan distribusi daging pada bobot karkas kuda yang sama yaitu 76 kg. Bobot karkas ini dipilih karena memenuhi ulangan yang diinginkan yaitu lebih daripada dua kali ulangan pada umur, jenis kelamin dan pemanfaatan kuda. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa distribusi daging kuda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot daging bagian depan dan belakang. Namun, pada bagian yang sama, umur, jenis kelamin dan pemanfaatan kuda tidak berpengaruh nyata terhadap bobot daging. Rataan umum daging kuda pada bagian depan (29,86±3,08 kg) sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi daripada bagian belakang (20,64±1,37 kg). Perbedaan ini dipengaruhi oleh proses pemisahan daging dari tulang (deboning). Deboning untuk ternak kuda yang dilakukan di daerah ini tidak mengikuti potongan komersial seperti pada ternak sapi atau domba melainkan hanya membagi menjadi dua, yaitu bagian depan dan bagian belakang lalu dibagi dua lagi menjadi bagian depan kanan dan kiri serta bagian belakang kanan dan kiri.

Daging kuda bagian depan, meliputi chuck, brisket, shank, rib, shortloin dan sebagian flank. Daging belakang meliputi sirloin, sebagian flank, sirloin,

tenderloin, top and bottom sirloin, round, dan shank. Pembagian ini

menyebabkan proporsi daging kuda bagian depan lebih banyak daripada bagian belakang sehingga hasil analisis ragam menunjukkan perbedaan yang sangat nyata.

Pengaruh Perlakuan terhadap Persentase Tulang

Tulang adalah jaringan pembentuk kerangka tubuh yang mempunyai peranan penting bagi pertumbuhan ternak. Menurut Pulungan dan Rangkuti (1981), pertumbuhan tulang relatif lebih kecil dibandingkan dengan bobot karkas atau dengan kata lain persentase tulang berkurang dengan meningkatnya karkas. Tulang merupakan komponen karkas yang tumbuh paling dini, tapi tulang merupakan komponen karkas yang memiliki pertumbuhan yang lambat. Persentase tulang diperoleh dari perbandingan bobot tulang dengan bobot karkas. Pengaruh perlakuan terhadap persentase tulang dapat dilihat pada Tabel 13.

Persentase tulang kuda pada penelitian ini adalah 32,27±6,02%. Analisis ragam memperlihatkan bahwa faktor pemanfaatan kuda dan berbagai interaksinya

(23)

44 tidak berpengaruh nyata terhadap persentase tulang kuda. Rataan persentase tulang untuk kuda potong adalah 31,72 ± 6,84% dan kuda pekerja 33,04 ± 4,58%.

Tabel 13. Pengaruh Perlakuan terhadap Persentase Tulang Kuda

Keterangan : Superscript pada kolom yang sama menandakan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) pada rataan umur dan nyata (P<0,05) pada jenis kelamin

Koefisien keragaman = 18,65%

JK = Jenis Kelamin, PK = Pemanfaatan Kuda, I2 = Umur 3-4 Thn, I3 = 4-5 Thn, I4 = ±5 Thn Rataan persentase tulang untuk kuda jantan (34,92±6,06%) nyata lebih tinggi (P<0,05) daripada betina (29,83±5,65%). Perbedaan ini dipengaruhi oleh hormon estrogen. Hormon estrogen pada betina dapat menghambat pertumbuhan tulang, akan tetapi hormon estrogen dapat memacu pertumbuhan lemak tubuh, karena itu ternak betina akan menimbun lemak dalam tubuhnya lebih tinggi dibanding ternak jantan. Sebaliknya hormon testosteron dapat memacu pertumbuhan tulang dan menekan pertumbuhan lemak tubuh sehingga ternak betina memiliki kerangka yang lebih kecil daripada ternak jantan (Turner dan Bagnara, 1976).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok umur kuda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap persentase tulang. Persentase tulang pada kelompok umur I2 (35,47±5,68%) sangat nyata lebih tinggi daripada kelompok umur I4 (29,53± 5,95%) tetapi keduanya tidak berbeda dengan kelompok umur I3

Umur Jenis Kelamin Pemanfaatan Kuda Umur X JK Potong Pekerja ---(%)---I2 Jantan 35,21 ± 4,41 36,67 ± 7,87 36,00 ± 6,43 Betina 34,59 ± 3,86 34,98 ± 5,50 34,81 ± 4,71 I3 Jantan 31,19 ± 4,57 31,05 ± 5,53 31,51 ± 4,92 Betina 34,45 ± 3,82 30,05 ± 4,71 30,89 ± 4,45 I4 Jantan 29,21 ± 4,29 31,01 ± 5,92 32,26 ± 5,36 Betina 29,21 ± 4,29 26,78 ± 5,22 27,54 ± 4,98 JK x PK Rataan JK Jantan 34,53 ± 7,16 35,47 ± 4,17 34,92 ± 6,06 a Betina 29,15 ± 6,25 30,80 ± 4,64 29,83 ± 5,65 b

Umur x PK Rataan Umur

I2 35,90 ± 6,79 34,93 ± 4,07 35,47 ± 5,68 A I3 30,77 ± 4,84 31,52 ±4,38 31,13 ± 4,53 AB I4 28,46 ± 5,79 31,58 ± 4,74 29,53 ± 5,59 B Rataan PK 31,72 ± 6,84 33,04 ± 4,58 32,27 ± 6,02

(24)

45 (31,13±4,52%). Hasil penelitian ini didukung dengan pernyataan Berg dan Butterfield (1976) bahwa persentase tulang pada kelompok umur yang lebih tua lebih rendah daripada kelompok umur yang muda, karena pertumbuhan tulang sangat cepat pada masa awal pertumbuhan, kemudian setelah pubertas, laju pertumbuhannya menjadi sangat lambat.

Pengaruh Perlakuan terhadap Persentase Non Karkas

Komponen non karkas kuda yang dimaksud pada penelitian ini adalah kepala, leher, kaki bagian carpus ke meta carpus dan carpal ke meta karpal, kulit, dan tulang. Persentase non karkas kuda dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Pengaruh Perlakuan terhadap Persentase Non Karkas

Umur JK Pemanfaatan Kuda Umur X JK

Potong Pekerja ---(%)--- I2 Jantan 38,99±1,29 40,09±1,98 39,49±1,70 Betina 36,89±1,37 38,15±2,66 37,45±2,08 I3 Jantan 39,36±0,75 39,99±1,46 39,59±1,02 Betina 36,63±1,31 37,03±1,14 36,88±1,17 I4 Jantan 38,82±1,84 40,95±3,43 39,62±2,67 Betina 36,09±1,37 37,32±0,97 36,48±1,37 JK x PK JK Jantan 36,53±1,38 39,29±1,39 37,67±1,94B Betina 37,44±1,55 40,11±2,51 38,54±2,39A Umur x PK Umur I2 37,27±1,80 40,70±2,29 38,81±2,64 A I3 36,15±1,05 38,51±1,78 37,27±1,86 AB I4 37,16±1,36 39,32±1,37 37,90±1,70 B Rataan PK 37,01 ± 1,53B 39,73±2,09A 38,14 ± 2,22

Keterangan : JK = Jenis Kelamin, PK = Pemanfaatan Kuda, I2 = Umur 3-4 Thn, I3 = 4-5 Thn, I4 = ±5 Thn

Superskript pada baris dan kolom yang sama menandakan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)

Rataan umum persentase non karkas pada penelitian ini adalah 38,14±2,22%. Analisis ragam memperlihatkan bahwa interaksi tiap faktor tidak berpengaruh nyata terhadap persentase non karkas kuda kecuali pada faktor umur, jenis kelamin dan pemanfaatan kuda. Kuda betina (38,54±2,39%) memiliki persentase non karkas yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi daripada jantan (37,67±1,94%). Kuda pekerja (39,73±2,09%) memiliki persentase non karkas yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi daripada kuda potong (37,01±1,53%). Persentase non karkas pada kelompok umur I2 (38,81±2,64%) sangat nyata lebih

(25)

46 tinggi daripada kelompok umur I4 (37,90±1,70%) tetapi keduanya tidak berbeda nyata dengan persentase non karkas kelompok umur I3 (37,27±1,86%).

Perbedaan persentase non karkas pada ternak kuda saat penelitian disebabkan oleh persentase karkas yang berbeda nyata (P<0,01) terhadap jenis kelamin dan pemanfaatan kuda. Persentase karkas pada kuda betina lebih tinggi daripada jantan. Kuda potong juga memiliki persentase karkas yang lebih tinggi daripada kuda pekerja. Forrest et al. (1975) menyatakan bahwa persentase karkas biasanya meningkat seiring dengan bertambahnya bobot tubuh, namun persentase non karkas akan menurun. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Herman (1981) yang menyatakan bahwa persentase karkas domba pada umumnya bertambah dengan meningkatnya bobot potong dan persentase karkas, namun persentase non karkas dan isi saluran pencernaan akan berkurang.

Gambar

Gambar 3. Kartu Identitas Kuda; (a) Tampak Depan; (b) Tampak Isi
Gambar 5. Kuda Delman yang Diumbarkan
Tabel  4.  Kondisi  Empat  Tempat  Pemotongan  Kuda  di  Kecamatan  Binamu,  Kabupaten Jeneponto

Referensi

Dokumen terkait

Keuntungan dari AS sendiri pun bisa berupa dengan penempatan pasukan militernya di wilayah Turki atau di perbatasan di Turki itu sendiri, yang kedua AS juga

Tahapan kegiatan pemberdayaan tersebut dimulai dari analisa kebutuhan masyarakat kemudian dilanjutkan dengan membentuk kelompok-kelompok sosial di masyarakat sebagai mitra

Sudaryanto mengungkapakan “Di samping perekaman itu, dapat pula dilakukan pecatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi” (Sudaryanto, 1993 :135),

Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Jembrana adalah rencana yang mencakup sistem perkotaan wilayah Kabupaten Jembrana yang berkaitan dengan kawasan perdesaan

Perencanaan dan persiapan pembelajaran yang baik akan menghasilkan proses pembelajaran yang baik pula sehiungga diperoleh nilai akademik yang meningkat

dengan warga negara mayoritas muslim, tentunya menjadi tolak ukur tersendiri bagi pelaku usaha dalam memproduksi produk yang halal dan boleh dikonsumsi sesuai dengan syar’i, oleh

Beberapa upaya yang telah dilakukan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang dipengaruhi banjir rob adalah dengan memilih bibit padi yang dapat beradaptasi

Jumlah mahasiswa yang mengisi instrumen untuk setiap mata kuliah sangat beragam, baik menurut fakultas maupun berdasarkan seksi mata kuliah. Kenyataan menunjukkan masih ada