1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar BelakangPada kehidupan sehari-hari, memerlukan pengangkutan barang atau disebut pengiriman barang dilakukan oleh orang per orang, ataupun orang dengan menggunakan jasa layanan pengantar barang.
Kegiatan pengangkutan harus dijalankan dengan selamat. Apabila No table of contents entries found. Pengangkutan berjalan dengan tidak selamat maka itu menjadi tanggungjawab pengangkut.1 Keadaan tidak selamat memliki dua artian yaitu barang tidak ada, atau musnah, atau barangnya ada tetapi rusak sebagian atau keseluruhan diakibatkan oleh berbagai kemungkinan.2 Setiap barang yang diangkut dengan menggunakan jasa pengangkutan haruslah dijalankan dengan selamat. Seperti yang dimaksud dalam Pasal 499 dan 500 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata:
“Pasal 499 benda (zaken) adalah setiap barang (geoderen)dan tiap hak (rechten) yang dapat menjadi obyek hak milik. Pasal 500 segala sesuatu yang termasuk dalam suatu barang karena hukum perlekatan, begitu pula segala hasilnya, baik hasil alam, maupun hasil kerajinan, selama nelekat pada dahan dan akarnya, atau terpaut pada tanah, adalah bagian dari barang itu.”3
Pengertian yang telah diuraikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu barang dalam wujud yang dapat menjadi obyek dari hak milik, yang dimiliki karena hukum perlekatan. Jadi, suatu pengiriman barang objeknya harus mempunyai wujud fisik, bukan dinamakan barang apabila berwujud non fisik.
1 Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga (Bandung, 1998), hlm. 13 2 Ibid. 21
2 Pengangkutan barang pada era teknologi informasi yang sudah sangat canggih di masa sekarang, sudah sangat mudah hanya dengan menekan smartphone, maka dengan itu seseorang dapat menggunakan jasa angkutan barang.
Pengangkutan adalah salah satu bidang kegiatan yang sangat esensial dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dapat dlihat dari berbagai faktor seperti keadaan geografis, menunjang pembangunan berbagai menunjang pembangunan berbagai sektor, keselarasan antara kehidupan kota dan desa, dan pengembangan ilmu dan teknologi. 4
Pengangkutan menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah perpindahan orang dan/atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan di ruang lalu lintas.5
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hukum pengangkutan adalah hukum yang mengatur perjanjian timbal balik antara pengangkut dan pengirim, dimana pengangkut mengingatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat, sedangkan pengirim mengingatkan diri dengan membayar ongkos pengiriman atau pengangkutan.
Adapun arti hukum pengangkutan ditinjau dari segi keperdataan, dapat kita tunjuk sebagai keseluruhannya peraturan-peraturan, di dalam dan diluar kodifikasi Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berdasarkan atas dan tujuan untuk mengatur hubungan-hubungan hukum yang terbit karena keperluan pemindahan barang-barang dan/atau orang-orang dari suatu tempat ke tempat lain untuk memenuhi perikatan-perikatan yang lahir dari segi perjanjian-perjanjian tertentu, termasuk juga perjanjian-perjanjian untuk memberikan perantaan mendapatkan.6
4 Abdulkadir Muhammad, SH, Hukum Pengangkutan Darat, Laut, Dan Udara (Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 1991), hlm 1.
5 Undang-Undang No 22 Tahun 2009, Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
6 Sution Usman Adji,Djoko Prakoso,Hari Pramono. 1991. Hukum Pengangkutan Di Indonesia. Jakarta. PT RINKA CIPTA. Hal. 5.
3 Hukum pengangkutan tidak lain ialah sebuah perjanjian timbal balik, pada mana pihak pengangkut mengikat dirinya untuk menyelenggarakan pengangkutan barang atau orang ke tempat tujuan tertentu, sedangkan pihak lainnya berkeharusan untuk menunaikan pembayaran biaya tertentu untuk pengangkutan tersebut.7
Adapun sifat-sifat hukum pengangkutan menurut Pasal 1601 b KUHPerdata dapat dikemukakan bahwa pada pemborongan itu pihak pemborong harus menciptakan sesuatu tertentu bagi pihak yang memborongkan, jadi sebuah benda baru yang tadinya belum ada, kenyataannya sukar dapat digunakan pada pengangkutan, dalam mana sama sekali tidak diperjanjikan perwujudan benda baru melainkan pengangkut yang baik akan sekeras-kerasnya berusaha, supaya benda-benda yang dipercayakan kepadanya secara utuh dan lengkap, tidak berubah sampai di tempat tujuan.
Pada umumnya hubungan hukum antara pengangkut dengan pihak yang memakainya itu adalah bermacam-macam yaitu sama tinggi sama rendah atau kedua belah pihak adalah gecoordineerd. Tidak ada imbangan majikan terhadap buruh imbangan pada hubungan hukum pemakai pengangkutan dan pengangkut. Karena itu sifat perjanjian pengangkutan adalah sebuah perjanjian untuk melakukan pelayanan berkala Pasal 1601 KUHPerdata.8
Berhubungan dengan perjanjian pengangkutan mempunyai banyak sifat hukumnya maka sebagai akibatnya pengangkut dapat mempunyai kewajiban-kewajiban dan hak-hak sebagai berikut:
1. Sebagai pemegang kuasa, pengangkut melakukan perbuatan hukum atas nama pengirim. Dengan ini maka dia tunduk pada ketentuan mengenai pemberian kuasa Pasal 1792 – 1819 KUHPerdata.
2. Sebagai komisioner, jika pengangkut berbuat atas dasar namanya sendiri, maka berlakulah ketentuan Pasal 76 KUHD.
3. Penyimpanan barang, sebelum pengangkut mendapat atau menemukan pengangkut yang memenuhi syarat, maka sering pengangkut terpaksa harus
7 Sution Usman Adji, Djoko Prakoso, Hari Pramono, Hukum Pengangkutan di Indonesia, (Jakarta : PT. Rinka Cipta, 1991), hal. 5-6.
4 menyimpan dulu barang-barang pengirim digudangnya berlaku Pasal 1694 KUHPerdata.
4. Sebagai penyelenggara urusan, untuk melaksanakan amanat pengirim, pengangkut banyak sekali harus berurusan dengan pihak ketiga untuk kepentingan barabg-barang tersebut ketentuan ini berlaku pada Pasal 1354 KUHPerdata.
5. Registrasi dan surat muatan, sebagai pengusaha seorang pengangkut harus memelihara register harian tentang macam dan jumlah barang dagangannya dan barang lainnya yang harus diangkut, begitu pula harganya, seperti pada Pasal 86 ayat 2 KUHD.
6. Hak retensi, berdasarkan fungsinya atau sifatnya perjanjian pengangkutan terjadi karena persialan apakah pengangkutan mempunyai hak retensi. Sebagai yang telah diketahui, pemegang kuasa mempunyai hak retensi Pasal 85 KUHD, penyimpan barang Pasal 1729 KUHPerdata, penyelenggara urusan maka pada hemat pengangk pun mempunyai hak retensi.
Tanggung jawab ekspeditur Pasal 87 KUHD menetapkan tanggung jawab pengangkut terhadap barang-barang yang telah diserahkan pengirimnya kepada untuk:
a. Menyelenggarakan pengiriman selekas-lekasnya dengan rapi pada barang-barang yang telah diterimanya pada pengirim.
b. Mengindahkan segala upaya untuk menjamin keselamatan barang tersebut. c. Pengambilan barang-barang dari gudang pengirim
d. Bila perlu penyimpanan digudang pengangkutan
e. Pengambilan barang muatan dari tempat tujuan untuk diserahkan pada penerima yang berhak atau kepada pengangkut selanjutnya.
Mengenai peraturan-peraturan tentang pengangkutan dengan kendaraan bermotor, tidak ada dalam KUHD yang ada hanya KUHPerdata Pasal 1338 – 1339. Karena ada baiknya kita memulai dengan sekedar uraian mengenai hukum pengangkutan orang pada umumnya. Tercantum didalamnya dapat ditemukan kembali dalam peraturan khusus termasuk diatas atau ada pentimpangan.
5 Angkutan barang berurusan dengan benda. Dimana pengirim diserahkan pada pengangkut, yang akhirnya pengangkut yang bertanggungjawab.
b. Tanggung jawab pengusaha atas kelalaian pegawainya
Pengusaha adalah bertanggungjawab untuk akibat perbuatan atas kelalaian pegawainya. Hal ini sesuai dengan Pasal 1366 KUHPerdata. Sedangkan jumlah penggantian ruginya diatur dalam Pasal 1246 – 1248 KUHPerdata. Jadi mengenai unsur-unsur kehilangan yang dideritanya dan laba yang tidak diperoleh dengan pembatasan bahwa kerugian dapat diperkirakan pada saat perjanjian pengangkutan di adakan, dan harus merupakan akibat pada saat perjanjian pengangkutan yang diadakan, dan lagi pula harus merupakan akibat langsung dari wanprestasi pengangkut.9 c. Pengangkutan cuma-cuma.
1) Jika pengangkutan hanya berdasarkan kesukarelaan dari pihak pengangkut tanpa mengahrapkan pembayaran biaya.
2) Bukan karena tidak ada keharusan pembayaran biaya, hal mana merupakan suatu syarat mutlak untuk melakukan perjanjian pengangkutan yang termasuk perjanjian untuk melakukan pelayanan berkala.
3) Meskipu bukan perjanjian yang menurut hukum merupakan perjanjian pengangkutan, tetapi menurut pendapat saya kesukarelaan pihak pengangkut.
Pengangkutan atau yang biasa disebut dengan transportasi, merupakan bidang kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pengangkutan adalah kegiatan dari transportasi memindahkan barang (commondity of goods) dan penumpang dari satu tempat ke tempat lain (orign
atau port of call) ke tempat lain atau part of destination, maka demikian
pengangkut menghasilkan jasa angkutan atau dengan perkataan lain produksi jasa bagi masyarakat yang membutuhkan sangat bermanfaat untuk pemindahan atau pengiriman barang ketempat lain. 10
9 Sution Usman Adji, Djoko Prakoso, Hari Pramono ,Op.Cit, hlm. 84
10Soegijatna Tjakranegara, Hukum pengangkutan Barang Dan Penumpang, (Jakarta, Rieneka Cipta, 1995), hlm 1
6 Pada dasarnya fungsi pengangkutan yaitu memindahkan barang atau orang dari suatu tempat yang lain dengan maksud untuk meningkatkan daya guna dan nilai. Jadi dengan pengangkutan ini dapat diadakan perpindahan barang-barang dari suatu tempat yang dirasa barang tersebut kurang bergua ketempat di mana barang-barang tadi dirasa lebih bermanfaat.11
Adapun tujuan dari proses pengangkutan sendiri yaitu pemindahan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lain menggunakan alat angkut untuk memenuhi kebutuhan perseorangan atau pribadi, yaitu agar tiba di tempat tujuan dengan selamat dan meningkatkan nilai guna atau nilai tukar dari barang atau orang yang diangkut.12 Sebagaimana dengan alat transportasi yang berbasis aplikasi, tujuan utamanya agar pengangkutan berbasis aplikasi ini untuk memberi kemudahan pada masyarakat dalam melakukan kegiatan transportasi atau pengiriman barang dari satu tempat tujuan ke tempat tujuan lain dengan cara yang lebih praktis. Dengan menggunakan alat transportasi secara online ini dinilai memiliki kelebihan dalam memberikan pelayanan berupa pengangkutan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lain karena pemesanannya yang mudah dan praktis.
Barang-barang yang diangkut akan dirasa lebih bermanfaat di tempat yang lebih membutuhkan. Ketentuan-ketentuan dalam proses pemindahan barang atau orang tentu harus diperhatikan dan tidak dapat dikesampingkan, yaitu pengangkut harus dilaksanakan dengan aman, selamat, cepat, dan tidak berubah bentuk, tempat, serta waktu.
Peristiwa hukum pengangkutan meliputi tiga kajian, antara lain:13 1. Serangkaian perbuatan hukum mengenai cara perjanjian pengangkutan. 2. Saat terjadinya perjanjian pengangkutan.
3. Pembuktian dengan dokumen pengangkutan.
11Paramitha Rahma Ristyanti, 2016, Tanggung Jawab Para Pihak terhadap kerugian dalam Pengangkutan Sepeda Motor (Studi PT.Astra Honda Motor), Universitas Diponegoro : Diponegoro Law J ournal, Vol.5, No.5, ISSN: 2527-4031, Hlm.2.
12Wuri Adriyani dan Samzari Boentoro, Buku ajar Hukum Pengangkutan (Universitas Airlangga 2007, Hlm.1.
13Salim H. S., Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2003, hlm. 35.
7 Jumlah pengguna jasa pengangkutan mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini mempengaruhi perkembangan yang di alami oleh perusahaan pengangkutan, pengangkutan yang dilaksanakan di Indonesia terdiri dari tiga jenis, antara lain :14
1. Pengangkutan Darat. 2. Pengangkutan Laut, dan 3. Pengangkutan Udara.
Sejak zaman dahulu, manusia telah melakukan kegiatan pengangkutan. Sebelum perusahaan pengangkutan populer seperti sekarang, manusia mengangkut suatu barang ke daerah tertentu dengan tenaga mereka sendiri. Hal tersebut tentu mempunyai banyak kelemahan karena mereka harus mempersiapkan banyak hal untuk melakukan pengangkutan barang antara lain mereka harus meluangkan waktu untuk melakukan pengangkutan. Semakin jauh jarak yang ditempuh semakin banyak pula waktu yang dibutuhkan.
Kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan di atas menjadi salah satu faktor munculnya berbagai macam perusahaan pengangkutan. Perusahaan-perusahaan pengangkutan tersebut berlomba-lomba dalam menarik pengguna jasa pengiriman barang. Banyak promosi yang di tawarkan khususnya yang berkitan dengan biaya pengangkutan yang murah dan ketepatan suatu barang untuk sampai pada tujuan.
Seiring berkembangnya teknologi modern yang didukung dengan media sosial membuat informasi dapat menyebar luas dan mendorong kegiatan usaha berbagai bidang. Hal ini membuat pelaku usaha melebarkan sayapnya. Pelaku usaha secara bersamaan memanfaatkan media sosial sebagai tempat promosi usahanya ditambah dengan karakter manusia modern yang terkena oleh hedonisme yang tidak pernah puas dengan kebutuhan materi.15
Sebagian besar masyarakat sangat bergantung dengan angkutan umum bagi penyempurna aktivitas, karena sebagian besar masyarakat tidak memiliki kendaraan pribadi. Sangat disayangkan sekali angkutan umum hanya ada
14Ridwan Khairandy, Machsun Tabroni, Ery Arifuddin, Djohari Santoso, Pengantar Hukum Dagang Indonesia, Gama Media, Yogyakarta, 1999, hlm. 196.
15Absori, Deklarasi Pembangunan Berkelanjutan dan Implikasinya di Indonesia, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 9, No.1, Maret 2006: 39-52 diakses tanggal 24 Juni 2020.
8 dijalan-jalan besar tidak bisa sampai masuk ke jalan kecil, gang kecil atau komplek tertentu. Peluang ini membuat pelaku usaha memanfaatkan keadaan tersebut untuk menyediakan jasa transportasi yang mudah dan cepat bagi masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi dan masyarakat yang tidak memiliki efisiensi waktu dengan menaiki angkutan umum.
Trasnportasi dan pengangkutan online ini sudah menjadi kebutuhan manusia setiap hari, terlebih dalam hal kirim-mengirim dan pindah-memindah barang. Khususnya dalam mengenai perpindahan barang-barang, kualitas jasa transportasi barang harus dikerjakan dengan efektif dan efisien dengan lancar, aman, teratur, bertanggungjawab, dan murah.
Dengan menggunakan sepeda motor sebagai sarana angkut pengiriman barang, maka pengendara motor tersebut harus mematuhi setiap peraturan lalu lintas yang terdapat pada Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Nomor 22 Tahun 2009.
Go-jek merupakan perusahaan yang bersifat kemanusiaan, yang memimpin revolusi industri transportasi ojek. Go-jek bekerjasama dengan pengendara ojek berpengalaman diberbagai daerah di seluruh Indonesia, dapat dijadikan solusi utama dalam pengiriman barang, pesan antar makanan, belanja, dan berpergian.16
PT.GOJEK Indonesia adalah salah satu perusahaan aplikasi penyedia jasa transportasi berbasis online asli indonesia yang terbesar se-Indonesia karena bekerja sama dengan kurang lebih 400.000 pengemudi yang tersebar di kepulauan Indonesia dengan layanan yang terdapat didalam satu aplikasi.17
Go-jek cenderung mengemukakan konsep inovatif untuk produknya. Sejalan dengan itu, jika mengacu pada teori pemasaran, Jonathan Sarwono dan Tutty Matadiredja mengemukakan bahwa keterlibatan pihak Go-jek sebagai merchant penting untuk menawarkan jasa yang dijual sehingga bisa mempertahankan statusnya di mata publik.18
16https://www.academia.edu/30194878/Sejarah_Berdirinya_Gojek. pada hari Senin, 22 Juni 2020, pukul 11.00 WIB
17Anonim, “Tentang Go-Jek” https://www.go-jek.com/ diakses pada tanggal 25 Juni 2020 18Jonathan Sarwono dan Tutty Martadiredja, 2008, “Teori E-Commerce, Kunci Sukses Berdagang
9 Go-jek sangat berbeda dengan ojek pada umumnya karena fasilitas Go-jek ini hanya bisa digunakan melalui aplikasi pada smartphone. Selain itu ojek online tidak hanya melayani jasa angkut orang, seperti ojek pada umumnya, tetapi juga melayani jasa pesan antar makanan, belanja di toko-toko. Dari pernyataan tersebut secara keseluruhan aplikasi Go-jek memiliki 12 (dua belas) fitur layanan transportasi dan pengangkutan serta layanan online lainnya, diantaranya:
1. Go-Send, atau lebih sering disebut dengan layanan pengiriman barang. 2. Go-Ride, jasa transportasi roda dua online
3. Go-Car, jasa transportasi roda empat online. 4. Go-Food, layanan pesan antar makanan 24 jam. 5. Go-Shopping, layanan pengiriman belanjaan online. 6. Go-Bluebird, layanan pemesanan taksi online. 7. Go-Pulsa, layanan beli pulsa online.
8. Go-Tix, layanan membeli tiket bioskop online.
9. Go-Mart, layanan belanja kebutuhan sehari-hari online.
10. Go-Box, layanan pengiriman barang dengan skala besar online. 11. Go-Massage, layanan pemesanan fasilitas pijat dengan online. 12. Go-Clean, layanan pemesanan fasilitas kebersihan online.
Dengan semua fasilitas-fasilitas yang telah diberikan oleh layanan Go-jek ini dapat memudahkan masyarakat dalam menjalani aktivitas kesehariannya baik dalam aspek transportasi maupun pengangkutan. Layanan Go-send merupaka program baru yang memberikan perubahan dalam pengangkutan dan pengiriman karena lebih praktis dan mudah dalam pelaksanaannya.
Bentuk hubungan kemitraan pada kegiatan usaha jasa transportasi Go-jek adalah pola sharing economy. Pola sharing economy atau secara umum
collaborative economy beroperasi diatas berbasis keuntungan efisiensi
(efficiency gains) dari proses mengolaborasikan aset-aset yang menganggur, platform seperti Go-jek tidak perlu melakukan investasi infrastruktur seperti dalam model bisnis konvensional. Aset-aset itu di mobilisasi dari masyarakat yang belum didayagunakan (idle). Masyarakat, dalam konteks ini mempeoleh manfaat sebagai mitra, ia mempeoleh nilai tambahan dari penyewaan aset.
10 Sebagai konsumen, ia peroleh harga lebih murah (low price) dibanding layanan konvensional.19
Pihak Go-jek dalam aplikasi jasa transportasi tersebut dapat dikenali dalam klausula mengenai perjanjian antara para pihak. Dalam Pasal 1313 KUHPerdata dijelaskan bahwa perjanjian itu harus dilandasi oleh kesepakatan antara dua belah pihak yang menyetujuai adanya perjanjian atau kesepakatan tersebut.20
Kesesuaian suatu kontrak dapat kita lihat pada Pasal 1320 KUHPerdata mengenai sahnya suatu perjanjian. Suatu perjanjian tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas ditentukan didalamnya tetapi juga segala sesuatu yang menurut sifatnya perjanjian dituntut berdasarkan keadilan. Syarat-syarat yang selalu diperjanjikan menurut Pasal 1320 KUHPerdata harus ada dalam ketentuan pengguna pada aplikasi Gojek. Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat :
1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. Suatu pokok persoalan tertentu;
4. Suatu sebab yang tidak terlarang.21
Oleh karena itu dapat dikaji lebih lanjut tentang ketegasan syarat sah perjanjian dalam ketentuan penggunaan aplikasi Go-jek. Kesepakatan kontrak elektronik sebagai dasar dari perjanjian antara dua belah pihak yang mengadakan perjanjian.
Sifat hukum perjanjian pengangkutan pelayanan berkala. Dalam melaksanakan perjanjian pengangkutan itu, hubungan kerja antara pengirim dengan pengangkut tidak terus menerus, tetapi hanya kadang kala, jika pengirim membutuhkan pegangkutan untuk mengirim barang. Hubungan serupa ini disebut “pelayanan berkala” karena pelayanan tidak bersifat tetap, hanya kadang kala saja, sebab pengirim membutuhkan pengangkutan. Perjanjian yang bersifat “pelayanan berkala” ini disinggung dalam Pasal 1601 KUHPerdata yang
19Firdaus Putra, 2017, Kotak Pandora “Sharing Economy”,
https://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/02/090000826/kotak-pandora-sharing-economy-, diakses pada tanggal 22 Juli 2020 pukul 16.20
20 Lihat Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata 21 Lihat Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
11 bunyinya : “selain persetujuan untuk menyelenggarakan beberapa jasa yang
diatur oleh ketentuan-ketentuan khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang diperjanjikan, dan bila ketentuan-ketentuan yang syarat-syarat ini tidak ada persetujuan yang diatur menurut kebiasaan, ada dua macam persetujuan dengan mana pihak kesatu mengikatkan diri untuk mengerjakan suatu pekerjaan bagi pihak lain dengan menerima upah, yakni : perjanjian kerja dan perjanjian pemborongan kerja. 22”
Perjanjian pengangkutan tidak bersifat pemborongan. Sifat hukum perjanjian pengangkutan bukan pelayanan berkala tapi pemborongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1601 B KUHPerdata yang berbunyi : “perjanjian pemborongan kerja ialah suatu persetujuan bahwa pihak kesatu,
yaitu pemborong, mengikatkan diri untuk menyelesaikan suatu pekerjaan bagi pihak lain, yaitu memberi tugas, dengan harga yang telah ditentukan.23”
Sifat hukum perjanjian pengangkutan adalah campuran. Perjanjian pengangkutan merupakan perjanjian campuran karena mempunyai unsur pelayanan berkal (Pasal 1601 B KUHPerdata), unsur penyimpanan (bewargeving), dan unsur pemberian kuasa (lastgeving).
R.Subekti mengatakan yang dimaksud dengan perjanjian pengangkutan yaitu suatu perjanjian dimana satu pihak menyanggupi untuk dengan aman membawa orang atau barang dari satu tempat ke tempat lain, sedangkan pihak lain menyanggupi akan membayar ongkosnya.24
Ada empat dasar pokok yang mendasari perjanjian pengangkutan, yaitu : 1. Asas konsensial
2. Asas koordinasi 3. Asas campuran
4. Asas tidak ada hak retensi
Asas tersebut merupakan asas yang timbul sebagai akibat dari terjadinya suatu perjanjian. Dalam suatu perjanjian asas tersebut secara tidak langsung pasti muncul karena hakekatnya dari suatu perjanjian adalah timbulnya hak dan
22 Lihat Pasal 1601 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata 23 Lihat Pasal 1601 B Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
12 kewajiban dari masing-masing pihak. Oleh karena itu maka semua asas tersebut muncul sebagai akibat dari terjadinya suatu perjanjian.
Go-jek di Indonesia berdiri pada tahun 2011 oleh Nadiem Makarim. Sebagai social enterpreneurship inovatif untuk mendorong perubahan sektor transportasi informasi agar dapat beropersai secara profesional. Go-jek perusahaan memiliki slogan An Ojek For Every Need yang melayani angkutan manusia dan barang melalui jasa ojek melalui aplikasi yang dengan teknologi
location based akan mencarikan driver yang posisinya paling dekat dengan
pemesan.
Pada tahun 2015 Go-jek, mulai dikenal dengan ojek online yang menjadikan aktivitas masyarakat Indonesia lebih mudah. Ojek online adalah jasa transportasi menggunakan kendaraan roda dua yaitu sepeda motor.
Pengiriman barang merupakan hal yang sering dilakukan oleh sebagian besar masyarakat modern. Pengiriman barang dilakukan dengan memanfaatkan jasa pengiriman barang yang disediakan oleh setiap perusahaan jasa. Saat ini pengiriman barang cenderung dilakukan secara online dengan memanfaatkan fitur Go-send pada Go-jek Indonesia.
Layanan Go-send adalah jalan keluar pengiriman paket berskala kecil yang berkomitmen untuk mengantarkan barang atau dokumen yang lebih praktis, mudah, dan cepat dengan menggunakan sistem canggih mempermudah untuk menginformasikan alamat lengkap dan jenis barang yang hendak dikirimkan, serta memantau lokasi pengendara Go-jek pada saat pengiriman barang.25
Layanan Go-send ini memungkinkan para konsumen mengirimkan barangnya melalui jasa pengirim ojek. Pengemudi ojek yang bekerja pada perusahaan Go-jek ini menjemput barang pada tempat yang ditentukan, serta mengirimkannya ketempat tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Layanan Go-send milik PT. GOJEK Indonesia ini dapat mempermudah proses pengangkutan menjadi lebih cepat dan mudah. Layanan Go-send yang dimiliki oleh PT. GOJEK Indonesia ini dinilai lebih cepat dari pada layanan pengangkutan milik perusahaan jasa pengangkutan barang konvensional karena
25Anonim,”Kini Kirim Barang dengan Go-Send tanpa Batas Jarak”
https://www.gojek.com/blog/kini-kirim-barang-dengan-go-send-tanpa-batas-jarak diakses pada tanggal 29 Juni 2020
13 barang akan langsung diangkut ke tempat tujuan setelah di ambil oleh driver, sedangkan perusahaan jasa pengangkutan barang konvensional menunggu seluruh barang yang akan diangkut ke suatu tempat terkumpul di terminal pemberangkatan.
Layanan Go-send milik PT. GOJEK Indonesia juga dinilai lebih memudahkan dari pada layanan angkutan milik jasa pengangkutan barang konvensional karena konsumen tidak diharuskan untuk mengantarkan barang yang hendak diangkut ke tempat agen pengangkutan. Konsumen hanya perlu memesan layanan Go-send melalui smartphone yang telah tersambung dengan layanan internet lalu driver akan menerima pesanan konsumen dan mengambil barang dan diangkut dari suatu alamat ke alamat yang telah ditentukan.
Sistem pembayaran tergantung pada kesepakatan pengirim dan penerima. Apabila pengirim dan penerima sepakat melakuka pembayaran ada pengiriman maka seorang pengemudi Go-send menerima pembayaran diawal. Namun jika pengirim dan penerima sepakat pembayaran ada pada penerima, maka pengemudi Go-send menerima pembayaran diakhir setelah barang telah sampai pada si penerima.
Pemerintah dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan Pasal 10 ayat (4) memberikan petunjuk mengenai syarat teknis pengguna motor sebagai angkutan barang, antara lain : 1. Muatan memiliki lebar tidak melebihi stang kemudi.
2. Tinggi muatan tidak melebihi 900 milimeter dari atas tempat duduk pengemudi.
3. Barang muatan ditempatkan di belakang pengemudi.
Dengan banyaknya pengguna layanan yang mempercayai barang yang akan dikirimkan menggunakan layanan jasa Go-send tidak berbanding lurus terhadap pelayanan yang diberikan. Tingkat kepuasan pelayanan Go-send menjadi berkurang dengan adanya barang yang tidak selamat, karena masih terdapat konsumen yang mendapati barang yang dikirim dalam keadaan baik dan setelah diterima dalam keadaan tidak baik atau rusak sebagian/seluruhnya bahkan hilang. Kejadian tersebut sangat merugikan konsumen, nama baik kurir
14 pengirim dan perusahaan, dalam hal ini konsume yang paling dirugikan karena barang yang tidak selamat saat dikirimkannya.
Kejadian tersebut berdampak kerugian pada pemilik barang sehingga pengangkut wajib bertanggungjawab sesuai dengan ketentuan pada Pasal 1366 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata : “Setiap orang bertanggungjawab tidak
saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurangnya kehati-hatian.”26
Masyarakat merasa resah karena kurang kehati-hatiannya para kurir dalam mengirimkan barang melalui Go-send dengan ketidak sesuaian barang yang dikirim, seperti barang terlalu besar, barang mudah mencair, barang mudah pecah, barang lunak dengan demikian harus ada tindakan tegas yang dilakukan, dapat dilihat beberapa hak konsumen yag terdapat pada Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen :
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. Hak unduk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barangdan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
15 i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.27
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1313 menyatakan bahwa persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Kata persetujuan merupakan terjemahan dari kata overeekomst dalam bahasa Belanda, jadi persetujuan dalam Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sama artinya dengan perjanjian.
Adapun yang berpendapat bahwa perjanjian tidak sama dengan persetujuan. 28 Perjanjian merupakan terjemahan dari Oveereenkomst yang ditafsirkan sebagai wilsovereenstemming (persesuaian kehendak/ kata kesepakatan).
Dapat disimpulkan dari pengertian yang telah diuraikan diatas bahwa suatu perjanjian terdiri dari beberapa unsur berikut penjelasannya : kata sepakat dari dua belah pihak, “ Dalam kata sepakat dapat di maknai sebagai dasar pernyataan kehendak suatu perjanjian terhadap apabila terdapat dua pihak atau lebih menyatakan kehendak satu sama lain untuk berbuat suatu”, kata sepakat yang tercapai harus bergantung kepada para pihak tidaklah cukup untuk mrmbrntuk suatu perjanjian. Kehendak tersebut harus di ungkapkan, sehingga para pihak saling menyatakan kehendaknya dan terdapat kesepakatan diantara para pihak, terbentuklah suatu perjanjian diantara mereka.
Tujuan para pihak untuk timbulnya akibat hukum, janji atau pernyataan kehendak tidak harus menimbulkan akibat hukum. Terkadang perkataan kehendak hanya menimbulkan kewajiban sosial atau kesusilaan. Akibat hukum untuk kepentingan pihak yang satu atas beban yang lain. Yang harus diperhatikan adalah akibat hukum dari suatu perjanjian hanya berlaku bagi pihak-pihak tidak boleh merugikan pihak ketiga (Pasal 1340 KUHPerdata). Dibuat dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan. Pada umumnya
27 Lihat Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen 28 Sudikno Mertokusumo, (1985), Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty: Yogyakarta, hlm. 97
16 para pihak bebas menentukan bentuk yang harus dipenuhi. Misalnya untuk pendirian sebuah perseroan terbatas harus di munculkan dengan akta notaris.29
Menurut pendapat yang banyak dianut, perjanjian adalah perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan suatu akibat hukum. Hak itu sependapat pula dengan Sudikno, “perjanjian merupakan hubungan hakum antara dua pihak atau lebih berdasar kata sepakat untuk menimbulkan suatu akibat hukum”.30
Menurut Subekti, suatu perjanjian merupakan suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada oranglain, atau dimana dua orang saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.31 Perjanjian merupakan semua bentuk hubungan antara dua belah pihak dimana satu pihak berjanji kepada pihak yang satu lainnya untuk melakukan sesuatu hal. Mengenai itu juga dapat dikatakan dalam peranjian Layanan Transportasi dengan Aplikasi Online adalah bentuk hubungan hukum antara dua belah pihak.
Menurut David Baum yaitu : E-Commerce merupakan satu set dinamis teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas tertentu memalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelayanan, dan infotmasi yang dilakukan secara elektronik. (diterjemahkan oleh Onno. W. Purbo). 32
Esensi dari diundangkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah untuk mengatur perilaku usaha dengan tujuan agar konsumen dapat terlindungi secara hukum. Hal ini berarti bahwa upaya untuk melindungi kepentingan konsumen yang dilakukan melalui perangkat hukum diharapkan mampu menciptakan norma hukum perlindungan konsumen. Pada sisi lain diharapkan dapat menumbuh kembangkan sikap usaha yang bertanggungjawab, serta peningkatan harkat dan martabat konsumen.
29Herlien Budiono, (2010), Ajaran Umum Hukum perjanjian dan penerapannya di bidang kenotariatan, Citra Aditya: Bandung, hlm 5-13
30Ibid, hlm 97-98
31Subekti, (2001), Pokok-Pokok Hukum Perdata, PT. Intermasa: Jakarta, hlm. 36
32Deny Bagus, (2017), E-Commerce: Definisi, Fungsi, dan Tujuamn Menggunakan E-Commerce, http://jurnal-sdm.blogspot.co.id/2009/08/ecommerse-definisi-jenis-tujuan.html (diakses pada 20 Juli 2020)
17 Pengertian konsumen menurut ketentual Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah setiap orang pemakai barang/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan sendiri, keluarga, orang lain, maupun mahkluk hidup dan tidak untuk diperdagangkan.
Ketentuan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyebutkan frase “ bagi kepentingan sendiri, keluarga, orang lain, maupun mahkluk hidup lain”. Ketentuan ini dimaksud untuk melindungi kepentingan orang yang tidak membeli barang namun turut merasakan manfaat atau kerugian yang timbul dari pengguna barang tersebut.
Pihak Go-jek dalam aplikasi jasa transportasi tersebut dapat dikenali dalam klausula mengenai perjanjian antara pihak. Dalam pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dijelaskan bahwa perjanjian itu harus dilandasi oleh kesepakatan antara dua belah pihak yang menyetujui adanya perjanjian atau kesepakatan tersebut. Usaha pengantaran yang dimiliki oleh Go-jek terletak pada ketentuan dalam Kitab Undang Hukum Perdata serta Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.
Kesesuaian suatu kontrak dapat dilihat dari Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengenai sahnya suatu perjanjian. Suatu perjanjian tidak hanya mengikat apa yang dengan tegas ditentukan di dalamnya melainkan juga segala sesuatu yang menurut sifatnya perjanjian dituntut berdasarkan keadilan. Syarat-syarat yang selalu diperjanjikan menurut Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, garus ada dalam ketentuan penggunaan pada aplikasi Go-jek.
Oleh karena itu sangatlah dapat dikaji lebih lanjut tentang ketegasan syarat sah perjanjian dalam ketentuan penggunaan aplikasi Go-jek. Kesepakatan kontrak elektronik sebagai dasar dari perjanjian antara dua belah pihak yang mengadakan perjanjian. Disamping itu, dengan semakin pesatnya teknologi saat ini, memberi berbagai dampak pada tata cara perjanjian tersebut diantaranya bahwa perjanjian dalah arti para pihak yang melakukan perjanjian bertatap muka secara langsung, melainkan dapat juga dilakukan dengan aplikaasi Go-jek secara
18 Beberapa pihak yang berada dalam lingkup pengangkutan/transportasi tersebut adalah :
1. Pengangkut, dalam perjanjian pengangkutan penumpang, pihak pengangkut yakni pihak yang berkewajiban memberikan jasa angkutan penumpang dan berhak atas pembayaran ongkos angkutan yang sesuai dengan yang telah ditetapkan.
2. Penumpang, yang mempunyai arti pihak yang berhak menerima jasa angkutan penumpang dan berkewajiban membayar ongkos angkutan sesuai dengan yang ditetapkan dari awal transaksi. Dalam perjanjian pengangkutan, penumpang mempunyai dua status, yaitu sebagai subyek karena dia sebagai pihak dalam perjanjian dan sebagai objek karena dia adalah muatan yang diangkut. Istilah pengangkutan dapat diartikan sebagai pembawaan barang-barang atau orang.
Perjanjian secara elektronik cenderung menggunakan sistem hukum yang mengacu kepada norma atau kaidah yang berlaku di suatu negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan ketentuan hukum perjanjian yang berlaku, ada beberapa hal penting dan harus diperhatikan dalam kegiatan perjanjian antara lain hak dan kewajiban para pihak yang ditegaskan pada saat perjanjian termasuk dalam bisnis secara elektronik.
Keberadaan kontrak elektronik pada dasarnya merupakan perwujudan inisiatif para pihak untuk membuat suatu perjanjian. Hal ini sangat dilindungi oleh Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang memberlakukan asas kebebasan dalam berkontrak. Setiap pihak sangatlah terikat pada kontrak yang dibuat dalam bentuk kontrak elektronik sekalipun seperti undang-undang (Pasal 1338 jo Pasal 1340 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Oleh karena itu jelas sekali kontrak elektronik telah mendapatkan perlindungan hukum.
Mengenai keabsahan kontrak elektronik di tinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka harus dikaji satu persatu empat syarat sah kontrak seperti diatur dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata antara lain :
19 1. Kontrak elektronik itu harus memenuhi syarat subyektif, yang mewujudkan kesepakatan para pihak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu guna memenuhi suatu tujuan.
2. Para pihak juga harus cakap berbuat, dalam artian memiliki kewenangan berbuat untuk melakukan keputusan dan selanjutnya melakukan tanggungjawab ata perikatan yang disetujuinya.
3. Sedangkan syarat obyektif, pada kontrak elektronik itu harus menyatakan obyek perjanjian yang jelas, tidak boleh abstrak.
4. Sebagai syarat terakhir kontrak tersebut haruslah berisikan hal-hal yang diperbolehkan oleh hukum, tidak melanggar norma susila, hukum, kesopanan dan peraturan perundang-undangan. Apabila kontrak elektronik ini memenuhi keempat syarat ini maka kontrak tersebut dapat dinyatakan sah.
Hubungan hukum antara penumpang dengan perusahaan penyedia aplikasi merupakan hubungan hukum atas dasar perjanjian dari kontrak elektronik dimana perusahaan penyedia aplikasi merupakan pihak pelaku usaha yang memberikan aplikasi untuk jasa layanan transportasi yang digunakan oleh penumpang selaku konsumen, jadi hubungan hukumnya yaitu hubungan antara konsumen dengan pelaku usaha. Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, disebutkan bahwa konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga , orang lain maupun mahkluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. 33
Hadirnya ojek online turut membantu perkembangan sistem belanja online. Barang yang dikirim kini semakin mudah, tidak perlu menunggu berhari-hari dan berlama-lama, bahkan dalam hitungan jam sudah sampai ke tujuan lokasi. Seperti paada kasus Tahun 2017 yang terjadi oleh seorang pengguna jasa aplikasi Go-send yang bernama Steven pada kamis pukul 16:48 WIB terdapat beberapa kasus pada fitur Go-send ketika barang yang diantarkan tidak sampai ke lokasi penerima seperti halnya pencurian Iphone 7 plus yang dilakukan oleh
20 seorang Driver Gojek bernama Fahriz Noor Rochman, pada 13 Juli 2017 Steven membeli sebuah Iphone 7 plus dari aplikasi Tokopedia, pada pukul 16:48 WIB driver gojek telah mengambil dan mengantar barang ke tempat tujuan, lalu pada pukul 16:53 WIB pemberitahuan aplikasi mengatakan barang tersebut telah sampai tujuan tetapi pelanggan belum menerima barang tersebut. Ketika Steven menghubungi driver tetapi sang driver tidak dapat dihubungi kembali.34 Steven langsung menghubungi customer service Gojek dan customer service berkata akan menghubungi driver, sampai berita ini ditayangkan kasus tersebut terjadi pada tahun 2017, pada saat itu harga Iphone 7 plus berkisar 12,3 juta, konsumen merasa sangat dirugikan yang diinginkan konsumen menggunakan aplikasi gosend yaitu adanya rasa aman dan tidak ada rasa risau akan takut kehilangan barang miliknya. Padahal pertanggungjawaban merupakan mutlak yang seharusnya dipenuhi oleh perusahan jika hendak melakukan sebuah usaha. Telah diputuskan bahwa pelaku usaha wajib memberikan ganti rugi untuk pengguna jasa diadakannya. Berkenaan dengan itu, lemahnya pertanggungjawaban yang terjadi sebuah kendala dalam menegakan hukum dan memberikan akses kepada masyarakat untuk mencapai keadilan.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, diatur lebih jelas mengenai hal ini. Dalam Pasal 1482 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dikatakan bahwa kewajiban menyerahkan suatu barang meliputi segala sesuatu yang menjadi pelengkapnya dan dimaksudkan bagi pemakaiannya yang tetap beserta surat bukti milik jika ada.35
Dimana hal-hal yang berkaitan dengan perlindungan konsumen diatur pada Pasal 1 Ayat (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, yang berkaitan dengan arti dari konsumen itu sendiri, bahwasanya konsumen ialah “setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik itu bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain tidak untuk diperdagangkan” dan pada Pasal 4 dan 5 mengatur tentang Hak dan Kewajiban konsumen.
34Yulistyo Pramono, 2018, “Bukan Antarkan Pesanan, Driver Gojek Jurstru Bawa Lari iPhone 7+”, diakses dari https://feed.merdeka.com/rumpi/bukanny aantarkan-pesanan-driver-ojek-online-bawa-lariiphone-7-1707218.html, pada hari Senin, 22 Juni 2020, pukul 10.48 WIB.
21 Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, melihat betapa pentingnya perlindungan hukum bagi konsumen terdapat permasalahan yang terjadi, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang dituangkan dalam bentuk proposal dengan judul : “PERLINDUNGAN KONSUMEN BAGI PENGGUNA ANGKUTAN BARANG MELALUI LAYANAN OJEK ONLINE (GO-SEND)”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana perlindungan hukum bagi konsumen terhadap pengguna jasa aplikasi Go-send dalam kegiatan pengangkutan barang berdasarkan undang-undang tentang lalu lintas dan pengangkutan barang?
2. Bagaimana bentuk ganti kerugian yang diberikan oleh pihak Gojek atas klaim kehilangan barang yang terjadi pada jasa Gosend yang di tawarkan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dalam penelitan ini adalah: 1. Menganalisis dan memahami bagaimana perlindungan hukum bagi
konsumen terhadap pengguna jasa aplikasi Go-send dalam kegiatan pengangkutan barang berdasarkan undang-undang tentang lalu lintas dan pengangkutan barang.
2. Menganalisis bentuk ganti kerugian yang diberikan oleh pihak Gojek atas klaim kehilangan barang yang terjadi pada jasa Gosend yang di tawarkan.
D. Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Kegunaan Teoritis
a) Penelitian ini dapat menambah literatur tentang perkembangan hukum perdata dalam kaitannya dengan hukum pengangkutan barang, perlindungan hukum bagi konsumen, dan pertanggungjawaban jasa pengiriman barang terhadap hilang/atau rusaknya barang melalui jalur darat.
22 b) Agar dapat digunakan oleh pihak yang membutuhkan sebagai kajian ilmu hukum perdata, khususnya pada pengangkutan melalui transportasi
online, terlebih lagi pada Gosend.
c) Serta dapat memberikan bahan dan masukan serta referensi bagi penelitian yang dilakukan selanjutnya.
b. Kegunaan Praktis
a) Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi pengetahuan tentang pelaksanaan pertanggungjawaban para pihak dalam perjanjian pengangkutan darat.
b) Memberikan informasi yang jelas kepada para pembaca proposal skripsi dan agar diketahui masyarakat tentang kewajiban pertanggungjawaban yang diberikan oleh PT. Gojek Indonesia terhadap ganti rugi yang diderita oleh pemilik barang.
c) Sebagai pengembangan kemampuan dan pengetahuan hukum bagi penulis khusunya mengenai pengangkutan barang melalui Go-send. d) Sebagai bahan informasi bagi pihak yang memerlukan atau
membutuhkan referensi yang dapat digunakan untuk penelitian lanjutan yang berkaitan.
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian Normatif. Penelitian hukum normatif adalah metode atau cara yang dipergunakan dalam penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti dari bahan pustaka yang ada.
2. Pendekatan yang Dipergunakan
Dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Dengan pendekatan tersebut, penelitian akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabannya.36 Penelitian ini menggunakan Pendekatan Perundang-Undangan (statute
approach), dan pendekatan konsep (conceptual approach).
36 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Edisi Revisi, Prenada Media Group, Jakarta, 2016, h. 133
23 3. Bahan Hukum
Bahan hukum yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
Bahan Hukum Primer :
1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 2. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.
3. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 4. Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan. Bahan Hukum Sekunder :
Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang tidak mengikat. Yang dimaksud dengan bahan sekunder disini ialah doktrin-doktrin yang ada di dalam buku, jurnal hukum, dan internet.
F. Keaslian Penelitian
Dari keaslian penulisan ini, penulis melihat skripsi yang pernah ditulis oleh:
Penulis Joy Islamikov (14410265)
Judul HUBUNGAN HUKUM PARA PIHAK
DAN PERTANGGUNGJAWABAN PADA JASA GO-SEND PT.GOJEK INDONESIA Rumusan Masalah 1.Bagaimana hubungan hukum para pihak
yang terdapat dalam jasa Go-send PT. Gojek Indonesia?
2.Bagaimana pertanggungjawaban mengenai risiko yang terjadi terhadap barang yang diangkut melalui jasa Go-send PT. Gojek Indonesia?