• Tidak ada hasil yang ditemukan

VERA MAHDALENA skripsi vera mahdalena

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "VERA MAHDALENA skripsi vera mahdalena"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN SUMBER INFORMASI

DENGAN PENGETAHUAN BIDAN TENTANG WATER BIRTH

DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK BANDA ACEH

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Diploma IV Kebidanan STIKes U’Budiyah Banda Aceh

OLEH :

VERA MAHDALENA NIM :121010210136

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN U’BUDIYAH PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN BANDA ACEH

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai secara spontan,

beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan, bayi

lahir secara spontan dalam presentasi belakang kepala pada usia kehamilan 37-42

minggu lengkap dan setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi sehat.

Menurut WHO sehat adalah suatu bentuk kedaan sempurna fisik, mental dan sosial serta

tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.

Menurut APN (2008), Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput

ketuban keluar dari uterus ibu. Perslinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada

usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai penyulit. Sedangkan

menurut Sarwono (2009), persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan aman selama

persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama

perdarahan pasca persalinan.

Saat ini proses persalinan pevaginam telah berkembang, bertujuan memberi rasa

nyaman, aman dan menyenangkan, serta dapat mengurangi dan bila mungkin

meniadakan rasa cemas dan menegangkan. Ada beberapa metode nonfarmakologis yang

dapat diterapkan dalam mengurangi nyeri persalinan, yaitu pendampingan saat

persalinan, teknik pernapasan saat persalinan "Lamaze", hidroterapi (bersalin dalam air

"water birth", mandi, aromaterapi, audioanalgesia, akupuntur, Transcutaneus Electric

Nerve Stimulation (TENS), kompres dengan suhu dingin panas, sentuhan pijatan dan

(3)

Menurut Hariyasa Sanjaya (2010), salah satu hal penting yang terjadi pada proses

persalinan adalah nyeri persalinan. Dalam proses persalinan hal inilah yang paling

dirasakan tidak menyenangkan bahkan menakutkan bagi ibu. Saat ini proses persalinan

pervaginam telah berkembang yang bertujuan memberi rasa nyaman aman dan

menyenangkan serta dapat mengurangi bahkan meniadakan perasaan cemas dan

menegangkan. Salah satu metode alternative yang saat ini populer adalah persalinan

dalam air hangat atau dikenal sebagai water birth.

Menurut Aprillia (2013), Water birth merupakan salah satu metode alternatif

persalinan pervaginam, di mana ibu hamil aterm (normal) tanpa komplikasi melahirkan bayinya melalui media air (yang dilakukan pada bathtub atau kolam). Secara prinsip,

persalinan dengan metode waterbirth tidaklah jauh berbeda dengan metode persalinan

normal di atas tempat tidur, hanya saja pada metode water birth persalinan dilakukan di

dalam air sedangkan pada persalinan biasa dilakukan di atas tempat tidur. Perbedaan

lainnya adalah pada persalinan di atas tempat tidur, calon ibu akan merasakan jauh lebih

sakit jika dibandingkan dengan persalinan menggunakan metode waterbirth. Ada yang

mengatakan persalinan dengan waterbirth dapat mengurangi rasa sakit hingga mencapai

40-70 %.

Metode ini merupakan metode waterbirth persalinan baru yang dipercaya dapat

melahirkan sang bayi dengan selamat, tanpa membuat sang ibu merasa kesakitan.

Metode ini biasa dilakukan oleh para ibu yang tinggal di kota besar, di dalam sebuah

kolam air hangat. Dengan demikian, rumah sakit bersalin yang melayani metode ini

wajib memiliki sebuah tempat yang menyerupai kolam air hangat sebagai tempat

persalinan (Garland D, 2010).

Menurut Aggus Subawa (2012) bahwa dalam hal trauma perineum, dukungan air

(4)

mengurangi keperluan akan tindakan episiotomi. Dalam literatur water birth bahkan

tidak ditemukan angka kejadian episiotomi. Selain hal tersebut trauma perineum yang

terjadi dilaporkan tidak berat, dengan dijumpai lebih banyak kejadian intak perineum,

tetapi beberapa literatur mendapatkan frekuensi robekan sama pada persalinan primipara

di dalam maupun di luar air. The Birth Centre Network UK Nicoll a. et al mendapatkan

300 kelahiran pertahun, 150 diantaranya menggunakan water birth dengan episiotomy

rate 2%.

Menurut WHO (2007) sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan

atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara

berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100 ribu kelahiran

bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51

negara persemakmuran.

Menurut Dian Widyatun (2012), metode water birth lebih menguntungkan ibu dan

bayi berupa pengurangan penggunaan analgesik, pemendekan persalinan kala I dan

pengurangan angka episiotomi. Retrospektif dilaporkan berkurangnya nyeri dan

meningkatnya kepuasan. Water birth merupakan suatu bentuk hydrotherapy, metode

penanganan nyeri yang efektif dan bermanfaat pada kondisi seperti low back pain (yang

umumnya menjadi keluhan ibu saat persalinan). Evaluasi terhadap 17 Randomized

Controlled Trial (RCT), 2 Contro- lled Studies, 12 Cohort Studies, dan 2 laporan kasus,

menyimpulkan terdapat keuntungan hydroterapy dalam penanganan nyeri, ber manfaat,

manjur dan memiliki efek mobilitas, kekuatan, dan keseimbangan, terutama pada ibu

dengan rematik dan nyeri pinggang bawah kronik.

Selama tahun 1980-1990, water birth bertumbuh pesat di Inggris, Eropa, dan

Kanada. Pada tahun 1985, The family Birthing di Upland, California Selatan yang di

(5)

di air. Setelah 5 tahun akumulasi pengalaman water birth, pada tahun 1993 telah terjadi 1000 kelahiran, di Odent’s Birthing Center Pithiviers tanpa komplikasi atau infeksi pada

ibu atau bayi. Pada tahun 1989 Water Birth International Project, Barbara Harper mengembangkan “Topic Of Gentle Alternatives In Childbirth”. Pada tahun 1991,

Monadnock Community Hospital di Peterborough, New Hampshire menjadi rumah sakit

pertama yang membuat protokol water birth. Pada tahun 1990, The Scientific Advisory

Committee membuat pernyataan tentang water birth dengan penekanan pada pentingya

penelitian ilmiah. Pernyataan tersebut di revisi tahun 1994 tentang pentingnya keamanan

persalinan dan kelahiran di air, serta perlunya informasi yang tepat tentang manfaat dan

risiko water birth. Pada 1-2 april 1995 pada Wembley Conference Center di London,

Inggris, menggelar konferensi pertama water birth untuk mengekplorasi

masalah-masalah yang berkembang, dihadiri 39 negara dengan data 19.000 persalinan di dalam

air. Konferensi berlanjut tahun 1996, 2004, dan bulan September 2007 (Febrina, 2010).

Water Birth telah diterima dan dipraktekkan di banyak Negara seperti Amerika

Serikat, Kanada, Australia, dan New Zealand. Di Negara-negara Eropa termasuk Inggris

dan Jerman terdapat banyak Maternity Clinics yang menggunakan birthing tubs. Pada

tahun 2006 Water Birth Internasional mencatat lebih dari 300 rumah sakit di Amerika

Serikat menawarkan fasilitas tersebut. The Royal College of Obstetricans and

Gynecologist dan The Royal College of Midwife mendukung persalinan dalam air bagi

wanita yang sehat tanpa komplikasi pada kehamilannya. Jika petunjuk praktis dijalankan

dengan baik dalam hal mengontrol infeksi, manajemen rupture tali pusat dan dengan

kepatuhan pada persyaratan yang ada, komplikasi akan dapat dikurangi (Febrina, 2010)

Di Bali telah ada sejak tahun 2003, Robin Lim dari klinik Yayasan Bumi Sehat

(6)

tahun. Sementara Rumah Sakit Umum di Bali yang pertama kali menyediakan fasilitas

Water Birth adalah Rumah Sakit Umum harapan Bunda (Rhudy, 2011).

Di Jakarta metode ini sudah diterapkan dibeberapa rumah sakit, salah satunya di

SamMary Family Healtcare pada tanggal 4 Oktober 2006 pukul 06.05 WIB. Liz Adianti

menjadi ibu pertama di Indonesia yang melakukan persalinan di air dengan bantuan

dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Hingga saat ini telah tercatat sekitar 130 bayi

yang lahir dalam air di SamMary Family Healtcare.

Meski proses persalinan dalam air alias Water Birth sudah menjadi trend di

kota-kota besar tanah air, tak terkecuali di provinsi Aceh yang sudah mengenal teknik tersebut

sejak setahun belakangan, nyatanya Water Birth belum banyak diaplikasikan oleh

bidan-bidan lokal. Meski untuk pengetahuan dasarnya sudah diberikan saat perkuliahan, namun

teknik menyeluruh mengenai penanganan persalinan dalam air belum masuk di

kurikulum ilmu kebidanan. Hal tersebut tak dipungkiri oleh bidan senior Sumiatun

Sudemba, S.ST, S.Pd. Karena itulah, wanita yang akrab disapa Demba itu berharap banyak pada kegiatan seminar maupun penyuluhan soal Water Birth. “Memang belum

semua bidan tahu. Saya setuju bila sosialisasi Water Birth terus digalakkan di kalangan

mahasisiwa maupun praktisi kebidanan karena banyak manfaat yang akan diperoleh

(Sulis Tiyani, 2012).

Di Aceh tidak ada data persalinan dengan water brith karena belum ada

penerapannya. Berdasarkan dari hasil survei di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh,

jumlah bidan yang ada di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh berjumlah 70 orang.

Peneliti melakukan wawancara terhadap 5 bidan mengenai Water Birth dan didapatkan

bahwa hampir semuanya tidak mengetahui apa itu Water Birth.

Dari hasil penelitian Rosmawar (2013) dengan judul Hubungan Pengetahuan

(7)

Anak Banda Aceh terdapat 49 bidan. Hasil penelitian menyatakan bahwasanya yang

berpengetahuan kurang tentang water birth sebanyak 41 orang (83,7%) sedangkan yang

berpengetahuan baik tentang water birth hanya 8 orang (16,3%).

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang Hubungan

Tingkat Pendidikan Dan Sumber Informasi Dengan Pengetahuan Bidan Tentang Water

Birth Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh .

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka rumusan penelitian adalah “Adakah Hubungan Tingkat Pendidikan dan Sumber Informasi Dengan

Pengetahuan Bidan Tentang Water BirthDi Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh “.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pendidikan Dan Sumber Informasi Dengan

Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Pengetahuan Bidan

Tentang Water Birth di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh.

b. Untuk mengetahui Hubungan Sumber Informasi Dengan Pengetahuan Bidan

Tentang Water Birth di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang di peroleh dari penelitian adalah :

(8)

Dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, serta dapat mengaplikasikan

dan mendukung ilmu yang di pelajari di bangku kuliah serta dapat membandingkan

teori-teori yang dipelajari dengan kenyataan dilapangan.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Peneliti berharap semoga hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan menjadi referensi

tambahan perpustakaan yang telah ada.

3. Bagi Tempat Penelitian

Dapat dijadikan bahan masukan bagi tempat penelitian dalam usaha meningkatkan

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Water Birth

1. Pengertian Water Birth

Metode persalinan waterbirth atau persalinan dalam air sejak beberapa dekade

lalu telah ada di beberapa negara, seperti Prancis, Rusia, dan Selandia Baru. Namun

di Indonesia baru di kenal bulan Oktober 2006, sementara di Bali populer 20 Juli

2007.

Water Birth merupakan salah satu metode alternative persalinan pervaginam,

dimana ibu hamil aterm tanpa komplikasi bersalin dengan jalan berendam di air

hangat (yang dilakukan pada bathtub atau kolam) dengan tujuan mengurangi rasa

nyeri kontraksi dan memberi rasa nyaman (Bayuningrat, 2008).

Water birth adalah proses persalinan yang dilakukan dalam air. Sang ibu yang

akan melakukan proses persalinan memasuki air kolam saat mulut rahim sudah

tahap pembukaan 6 (Anik maryunani, 2010).

Waterbirth merupakan salah satu metode alternatif persalinan pervaginam, di

mana ibu hamil aterm (normal) tanpa komplikasimelahirkan bayinya melalui media

air (yang dilakukan pada bathtub atau kolam). Secara prinsip, persalinan dengan

metode waterbirth tidaklah jauh berbeda dengan metode persalinan normal di atas

tempat tidur, hanya saja pada metode waterbirth persalinan dilakukan di dalam air

sedangkan pada persalinan biasa dilakukan di atas tempat tidur. Perbedaan lainnya

adalah pada persalinan di atas tempat tidur, calon ibu akan merasakan jauh lebih

(10)

yang mengatakan persalinan dengan waterbirth dapat mengurangi rasa sakit hingga

mencapai 40-70 persen.

2. Metode Water Birth Ada 2 metode water birth :

a. Water birth murni, ibu masuk ke kolam persalinan setelah mengalami pembukaan

6 sampai proses melahirkan terjadi.

b. Water birth emulsion, ibu hanya berada di dalam kolam hingga masa kontraksi

akhir. Proses melahirkan tetap dilakukan di tempat tidur (Rhudy, 2011).

3. Keuntungan Water Birth

Banyak manfaat dan keuntungan yang bisa diperoleh ketika melahirkan di

dalam air (waterbirth). Dengan adanya peningkatan jumlah rumah sakit yang secara

rutin telah menyediakan fasilitas ini di Amerika Serikat, Eropa bahkan di Indonesia,

ditambah lagi berbagai data tentang keamanannya, dengan penyedia layanan yang

lebih berpengalaman terhadap risiko dan keuntungannya, serta bagaimana

menanganinya dengan prosedur monitoring yang lebih ketat, sehingga mampu

berkontribusi dalam meningkatkan keamanan metode ini.

Metode Water Birth memiliki banyak keuntungan bagi ibu dan bayi

dibandingkan dengan metode persalinan tradisional. Ini dihubungkan secara

signifikan dengan adanya pengurangan penggunaan analgesic pemendekan

persalinan kala I dan pengurangan angka episiotomi jika dibandingkan dengan

persalinan lainnya ( Rhudy, 2011 ).

(11)

2). Meningkatkan efek relaksasi

3). Meningkatkan Privasi dan Kontrol diri

4). Mempersingkat lama kala I

5). Mengurangi resiko robekan jalan lahir

6). Mengurangi trauma lahir/birth trauma

7). Mengurangi resiko penggunaan intervensi

8). Menurunkan dan menstabilkan tekanan darah ibu

9). Memungkinkan ibu bersalin untuk tetap melakukan mobilisasi selama proses

persalinan

10).Mampu merubah atmosfer ruang persalinan lebih nyaman

11).Membantu ibu untuk menghemat energinya.

12).Memfasilitasi persalinan disfungsional.

13).Memfasilitasi tahap kedua (kala II) persalinan.

14).Meningkatkan kepuasan saat melahirkan

15).Menciptakan pengalaman positif melahirkan

16).Keterlibatan ayah yang Lebih besar.

17).Menyediakan alternatif yang aman & higienis

b. Keuntungan bagi Bayi

Persalinan sendiri dapat menjadi masalah, mungkin juga mengganggu dan

merupakan pengalaman bagi bayi. Water Birth memberikan keuntungan terutama

saat kepala bayi masuk ke jalan lahir, dimana persalinan akan menjadi lebih

mudah. Air hangat dengan suhu yang tepat suasananya menyerupai lingkungan

intrauterine sehingga memudahkan transisi dari jalan lahir ke dunia luar. Air

(12)

bagi ibu dan bayi, sehingga bayi lahir kurang mendapatkan trauma (oleh karena

adanya efek dapat melenturkan dan meregangkan jaringan perineum dan vulva)

dibandingkan pada persalinan air dingin dan tempat bersalin umumnya (

Rhudy.2011).

Bayi yang lahir di dalam air tidak segera menangis, bayi tampak menjadi

tenang. Bayi tidak tenggelam jika dilahirkan di air, karena selama kehamilan bayi

hidup dalam lingkungan air (amnion) sampai terjadi transisi persalinan dari uterus

ke permukaan air. Demikian pula masalah lilitan tali pusat di leher, tidak menjadi

masalah, sepanjang tidak ada deselerasi denyut jantung bayi (yang menunjukkan

fetal distress) sebagai akibatnya ketatnya lilitan tali pusat di leher. Pemendekan

persalinan kala I selain memudahkan persalinan bagi ibu juga baik untuk bayi

yaitu mencegah trauma atau resiko cedera kepala bayi, kulit menjadi lebih bersih,

menurunkan risiko bayi keracunan air ketuban ( Rhudy,2011 ).

4. Patofisiologi

a. Pengurangan Rasa Nyeri menurut Siswosuhardjo (2011)

Keuntungan yang diperoleh dengan motede persalinan ini adalah

berkurangnya rasa nyeri ketika persalinan berlangsung. Hal ini disebabkan oleh

keadaan sirkulasi darah uterus yang menjadi lebih baik, berkurangnya tekanan

abdomen, serta meningkatnya produksi endorphin (stress related hormone).

Berendam dalam air selama persalinan akan mengurangi tekanan pada

abdomen ibu, dan mengapung mengakibatkan kontraksi uterus lebih efisien dan

sirkulasi darah lebih baik. Ini menyebabkan sirkulasi dan oksigenasi darah otot

uterus menjadi lebih baik. Persalinan dalam air memberi keleluasaan ibu untuk

(13)

mampu berkonsentrasi pada persalinannya dan oleh karena itu kondisi ibu

nyaman, maka sirkulasi darah dan oksigen dari plasenta ke janin berlangsung

lebih baik, suhu tubuh bayi menjadi hangat sesuai suhu tubuh ibu. Suhu tubuh

yang baik ini akan mempengaruhi oksigenasi bayi, sehingga bayi mampu

beradaptasi terhadap lingkungan di luar rahim dengan baik.

Air hangat dan tekanan dari pusaran air kolam tersebut merupakan salah

satu sumber penghilang rasa sakit selama persalinan dengan jalan mengurangi

beban gravitasi secara alami, sehingga ibu hamil dapat berubah posisi tanpa

beban saat berendam di air. Berendam dalam air hangat dapat merangsang respon

fisiologi pada ibu hamil, sehingga dapat mengurangi nyeri termasuk redistribusi

volume darah, yang mana akan merangsang pelepasan oksitosin dan vasopressin,

sehingga akan meningkatkan level oksitosin dalam darah. Selain itu ada hipotesa

yang menyatakan bahwa air hangat akan dapat merelaksasi otot-otot dan mental

selanjutnya menyebabkan peningkatan pelepasan katekolamin, yang

memungkinkan peningkatan perfusi, relaksasi dan kontraksi uterus, sehingga

dapat mengurangi nyeri kontraksi dan pemendekan fase persalinan.

b. Pengurangan Risiko Aspirasi menurut Rosanna (2007)

Ada beberapa faktor yang mencegah bayi menghirup air sewaktu bersalin.

Pertama, terdapat faktor penghambat yang secara normal ada pada setiap bayi.

Bayi dalam kandungan mendapatkan oksigen dari plasenta melalui tali pusat dan

bernapas dengan menggerakkan otot-otot intercostal dan diafragma dengan pola

teratur sejak usia kehamilan 10 minggu.

Janin menerima oksigen selama kehamilan melalui tali pusat sampai waktu

ketika tali pusat dipotong atau plasenta terlepas dari dinding rahim, rata-rata 2-10

(14)

menyebabkan lebih banyak darah mengalir ke organ vital termasuk otak sehingga

dapat dilihat penurunan Fetal Beat Movement (FBM) pada profil biofisik. Pada

24-48 jam sebelum onset persalinan spontan, bayi mengalami peningkatan level

prostaglandin E2 dari plasenta yang menyebabkan perlambatan dan penghentian

gerakan napas. Secara normal terlihat pergerakan otot kira-kira 40%. Ketika bayi

lahir dan level prostaglandin masih tinggi, otot bayi untuk pernapasan sederhana

belum bekerja, hal tersebut merupakan respon penghambatan pertama.

Respon penghambat kedua adalah fakta bahwa bayi-bayi yang lahir

mengalami hipoksia akut atau kekurangan oksigen, ini merupakan respon proses

kelahiran.Hipoksia menyebabkan apnea dan menelan bukan bernapas ataupun

mengap-mengap. Jika janin mengalami kekurangan oksigen berat dan lama, maka

mengap-mengap dapat terjadi setelah lahir, mungkin air akan terhirup ke dalam

paru-paru. Jika bayi bermasalah selama persalinan, variabilitasnya akan melebar

yang tercatat pada Fetal Heart Rate, hal ini mengakibatkan prolonged bradicardia,

sehingga penolong akan meminta ibu untuk meninggalkan kolam sebelum bayi

lahir.

Faktor ketiga yang menghambat bayi dalam pernapasan ketika berada di

dalam air adalah perbedaan temperatur. Temperatur air dibuat sesuai temperatur

badan ibu. Temperatur air kolam serupa dengan cairan amnion yang dapat

menjadi faktor penghambatan. Penelitian terbaru dan observasi di Jerman,

Jepang, dan Rusia memberi kesan bahwa temperatur rendah pada waktu lahir

berkontribusi pada vigorous baby.

Cairan paru diproduksi dalam paru-paru dan secara kimia menyerupai

cairan lambung. Cairan ini akan keluar melalui mulut dan ditelan oleh janin. Bayi

(15)

dapat membedakan antara cairan amnion, air, susu, dan ASI yang diakibatkan

oleh adanya Dive Reflex. Pada kondisi bayi normal (dilihat dari monitoring Fetal

Heart Rate selama persalinan), kombinasi faktor-faktor tersebut mencegah bayi

bernapas di dalam air sampai bayi berada di atas permukaan air, dimana akan

merangsang mammalian diving reflex yang berhubungan dengan tekanan udara

daerah nervus trigeminus wajah.

Pada pernapasan bayi pertama kali terjadi adalah dengan merubah sirkulasi

bayi, penutupan shunt pada jantung, membuat sirkulasi pulmonal, merubah

tekanan pada paru-paru, mendorong cairan keluar yang akan mempersiapkan

ruangan paru-paru dan mengizinkan pertukaran oksigen dan karbondioksida.

Proses ini memerlukan beberapa menit untuk memulai secara lengkap. Selama

waktu tertentu bayi masih menerima oksigen dari tali pusat. Tidak ada ancaman

bahwa bayi akan menghirup air selama proses kelahiran karena factor pencetus

untuk menghirup oksigen tidak aka nada sampai kepala bayi kontak dengan

udara.

c. Pemendekan Fase Persalinan menurut Rosanna (2007)

Persalinan dalam air kadangkala dihubungkan dengan penurunan intensitas

kontraksi, sehingga menyebabkan perlambatan persalinan. Tidak ada bukti kuat

kriteria kapan saat yang tepat untuk berendam pada persalinan kala I, sehingga

persalinan awal akan lebih baik jika ditangani dengan mobilisasi daripada

berendam.Ada juga laporan bahwa air kadang-kadang memberi efek

melambatkan bahkan menghentikan persalinan jika digunakan terlalu dini dan

banyak dilaporkan bahwa kontraksi kurang efektif jika ibu berendam terlalu awal.

(16)

Hilangnya darah ibu selama water birth sangat sedikit. Rata-rata darah yang

hilang paa water birth 5,26 g/l secara bermakna lebih rendah daripada land birth

8,08 g/l. Kehilangan darah pada persalinan ini sukar dinilai terutama jika

diakibatkan oleh penolong yang kurang berpengalaman pada persalinan dalam

air.

5. Kekurangan Water birth Menurut Anik maryunani (2010)

a. Rasa nyaman pada sang ibu saat berendam di dalam air membuat ibu malas untuk

mengejan.

b. Persalinan di air menyebabkan terbatasnya pemberian analgesia yang lain.

c. Peningkatan resiko infeksi.

d. Pada saat melahirkan, sulit mengontrol jumlah darah yang hilang.

e. Monitoring janin jadi lebih longgar.

f. Air dapat memberikan efek sebaliknya, yaitu kontraksi menjadi tidak aktif.

g. Peningkatan bayi menjadi beresiko, seperti ; aspirasi air (air terhisap masuk ke

paru-paru), hipoksia (kekurangan oksigen), peningkatan infeksi, keterlamatan

pertolongan apabila terjadi gawat janin (fetal distress).

6. Syarat-syarat water birth Menurut Anik maryunani (2010) a. Kehamilan tunggal > 37 minggu.

b. Hasil pemeriksaan CTG menunjukan janin non-reassuring.

c. Ibu dan janin harus dapat dimonitor dengan baik.

(17)

e. Ibu memiliki kemauan yang kuat dan rajin berlatih dirumah, latihan dilakukan

rutin dari awal kehamilan.

f. Keberhasilan metode ini sangat trgantung pada keseriusan ibu dalam

mempersiapkan kelahiran.

g. Lebih baik selalu didampingi suami, karena peran suami sangat penting dalam

memberikan dukungan bagi ibu dan janin.

7. Indikasi

a. Merupakan pilihan ibu

b. Kehamilan normal ≥ 37 minggu

c. Fetus tunggal presentasi kepala

d. Tidak menggunakan obat-obat penenang

e. Ketuban pecah spontan < 24 jam

f. Kriteria non klinik seperti staf atau peralatan

g. Tidak ada komplikasi kehamilan (preeklampsia, gula darah tak terkontrol, dll)

h. Denyut jantung normal

i. Cairan amnion jernih

j. Persalinan spontan atau setelah menggunakan misoprostol atau pitocin

(Rhudy,2011).

8. Kontraindikasi

a. Infeksi yang dapat ditularkan melalui kulit dan darah

b. Infeksi dan demam pada ibu

c. Herpes genitalis

(18)

e. Denyut jantung abnormal

f. Perdarahan pervaginam berlebihan (Rhudy,2011).

9. Prosedur Persalinan

a. Beberapa instrument essential yang harus dipersiapkan pada persalinan dengan

metode water birth antara lain:

1). Termometer air

2). Termometer ibu

3). Doppler anti air

4). Sarung tangan

5). Apron

6). Jaring untuk mengangkat kotoran

7). Alas lutut kaki, bantal, instrument partus set

8). Shower air hangat, portable/permanent pool

9). Handuk

10).Selimut

11).Warmer dan peralatan resusitasi bayi

b. Selama Berlangsungnya Persalinan

1). Ibu masuk berendam ke dalam air direkomendasikan saat pembukaan 4-5 cm

dengan kontraksi uterus baik, ibu dapat mengambil posisi persalinan yang

disukainya.

2). Volume air di dalam kolam berada di bawah pusar ibu, di isi air dengan suhu

tubuh sekitar 37º C (sesuai dengan suhu air ketuban dalam rahim).

(19)

(a) Fetal Heart Rate (FHR) dengan doopler atau fetoskop setiap 30 menit

selama persalinan kala I aktif, kemudian setiap 15 menit selama

persalinan kala II. Auskultasi dilakukan sebelum, selama, setelah

kontraksi.

(b) Penipisan dan pembukaan serviks dan posisi janin. Pemeriksaan vagina

(VT) dapat dilakukan di dalam air atau pasien di minta sementara keluar

dari air untuk diperiksa.

(c) Status ketuban, jika terjadi ruptur ketuban, periksa FHR dan periksa

adanya prolaps tali pusat. Jika cairan ketuban mekonium pasien harus

meninggalkan kolam.

(d) Tanda vital ibu diperiksa setiap 3 jam, dengan suhu setiap 2 jam (atau

jika diperlukan). Jika ibu mengalami pusing, periksa vital sign, ajarkan

ibu mengatur napas selama kontraksi.

(e) Dehidrasi ibu. Dehidrasi dibuktikan dengan adanya takikardi ibu dan

janin dan peningkatan suhu badan ibu. Jika tanda dan gejala dehidrasi

terjadi, ibu diberikan cairan. Jika tidak berhasil pasang infus ringer laktat

(RL).

4). Manajemen Kala II

(a) Mengedan seharusnya secara fisiologis. Ibu diperkenankan mengedan

spontan, risiko ketidakseimbangan oksigen dan karbondioksida dalam

sirkulasi maternal-fetal berkurang, dan juga akan dapat melelahkan ibu

dan bayi.

(b) Persalinan, bila mungkin metode “hand off”. Ini akan meminimalkan

(20)

(c) Tidak diperlukan palpasi tali pusat ketika kepala bayi lahir, karena tali

pusat dapat lepas dan melonggar ketika bayi lahir. Untuk meminimalkan

risiko tali pusat terputus dengan tidak semestinya hindari tarikan ketika

kepala bayi ke permukaan air. Tali pusat jangan diklem dan dipotong

ketika bayi masih ada di dalam air.

(d) Bayi seharusnya lahir lengkap dalam air. Kemudian sesegera mungkin

dibawa kepermukaan. Pada saat bayi telah lahir kepala bayi berada

diatas permukaan air dan badannya masih di dalam air untuk

menghindari hipotermia. Sewaktu kepala bayi telah berada di atas air,

jangan merendamnya kembali.

5). Manajemen Kala III

(a) Manajemen aktif dan psikologi tetap diberikan sampai ibu keluar kolam.

(b) Saat manajemen aktif kala III, syntometrine dapat diberikan.

(c) Estimasikan perdarahan.

(d) Penjahitan perineum dapat di tunda sekurang-kurangnya 1 jam untuk

menghilangkan retensi air dalam jaringan (jika perdarahan tidak

berlebihan).

B. Pengetahuan 1. Pengertian

Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan (knowledge) adalah hasil “tahu”

dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui

(21)

untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavoir). Karena dari pengalaman

dan penelitian ternyata perilaku yang di dasarkan oleh pengetahuan akan lebih

langgeng dari pada perilaku yang tidak di sadari oleh pengetahuan.

Menurut Lukman (2008), hal-hal yang mempengaruhi pengetahuan seseorang

itu adalah umur, intelegensi, sosial budaya, lingkungan, pendidikan, informasi, dan

pengalaman.

Sedangkan menurut Mubarak (2007) ada tujuh faktor-faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu: Pendidikan, Pekerjaan, Umur, Minat,

Pengalaman, Kebudayaan, dan Informasi.

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba (Notoatmodjo, 2005).

Menurut Wikipedia (2013) yang mempengaruhi pengetahuan adalah

pendidikan, media, informasi. Sedangkan menurut Notoatmodjo. S, (2007)

pengetahuan dipengaruhi oleh usia, pendidikan, pekerjaan, lingkungan, pengalaman,

informasi, sosial budaya, ekonomi.

Suatu perbuatan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada

perbuatan yang tidak didasari oleh pengetahuan, dan orang yang mengadopsi

perbuatan dalam diri seseorang tersebut akan terjadi proses sebagai berikut:

a. Kesadaran (Awareness) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui

terlebih dahulu terhadap obyek (Stimulus).

b. Merasa tertarik (Interest) terhadap Stimulus atau obyek tertentu. Disini sikap

(22)

c. Menimbang-nimbang (evaluation) terhadap baik dan tidaknya terhadap

Stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah tidak baik

lagi.

d. Trial, dimana subyek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang

dikehendaki oleh Stimulus.

e. Adopsi(adoption), dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap Stimulus.

2. Tingkat Pengetahuan

Notoatmodjo, (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif

mempunyai 6 tingkatan yaitu:

a. Tahu ( Know )

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari

sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau

rangsangan yang telah diterima

b. Memahami (Comperehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar.

c. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajaripada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi ini dapat

diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,

prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

(23)

Analisis adalah kemampuan untuk mengambarkan suatu materi atau suatu

objek kedalam suatu organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

Kemampuan analisis dapat dilihat dengan menggunakan kata kerja seperti

penggambaran, membedakan, mengelompokan dan sebagainya.

e. Sintesis (Syntesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru,

dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru

dari formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penelitian

terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu

kriteria yang ditentukan.

C. Hubungan Tingkat Pendidikan Dan Sumber Informasi Dengan Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth

1. Tingkat Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi

dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya

dan masyarakat (Wikipedia, 2012).

Pendidikan adalah proses pertumbuhan seluruh kemampuan dan perilaku

melalui pengajaran sehingga dalam pendidikan perlu dipertimbangkan umur dan

(24)

faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih mudah menerima ide-ide

dan teknologi baru (Arikunto, 2008).

Menurut Notoadmojo (2005), tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap

pengetahuan, khususnya dalam pembentukan prilaku semakin tinggi tingkat

pendidikan seseorang semakin tinggi kesadaran seseorang tentang sesuatu hal dan

semakin matang pertimbangan seseorang dalam mengambil keputusan.

Notoatmodjo (2005), juga menyatakan bahwa tingkat pendidikan merupakan

landasan seseorang dalam berbuat sesuatu. Pendidikan responden yang mayoritas

tinggi dapat mempengaruhi pengetahuan dalam pembentukan sikap mereka tentang

tindakan persalinan.

Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauhmana

tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan

pendidikannya (Akiraali, 2010).

Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang

nyata (manifes). Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah, fungsi

laten lembaga sebagai wadah pendidikan, melalui pendidikan di sekolah orang tua

melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah (Bagus,

2012).

Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di

masyarakat. Hal ini tercermin dengan danya perbedaan pandangan antara sekolah

dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.

Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya

untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam

(25)

Faktor Pendidikan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang kepada

sesuatu yang baru. Semakin tinggi pendidikan seseorang, informasi yang dimiliki

lebih luas dan lebih mudah diterima termasuk informasi tentang water birth.

Sedangkan bila tingkat pendidikan seseorang rendah maka informasi yang diberikan

akan dibiarkan begitu saja. Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk

mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok dan masyarakat, sehingga

mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Notoatmodjo,

2007).

Latar belakang pendidikan akan mempengaruhi kualitas kerja bidan.

Kualifikasi pendidikan bidan berdasarkan Men Kes No 369/Menkes/SK/III/2007

adalah:

a. Lulusan pendidikan bidan sebelum tahun 2000 dan Diploma III kebidanan,

merupakan bidan pelaksanan, yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan

praktiknya baik di institusi pelayanan maupun praktik perorangan.

b. Lulusan pendidikan bidan setingkat Diploma IV/S1 merupakan bidan profesional,

yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan praktiknya baik di institusi

pelayanan maupun praktik perorangan. Mereka dapat berperan sebagai pemberi

layanan, pengelola dan pendidik.

c. Lulusan pendidikan bidan setingkat S2 dan S3, merupakan bidan profesional

yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan praktiknya baik di institusi

pelayanan maupun praktik perorangan. Mereka berperan sebagai pemberi

layanan, pengelola, pendidik, peneliti, pengembang dan konsultan.

2. Sumber Informasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal

(26)

menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan

tersedia macam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan

masyarakat tentang informasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk

media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain, mempunyai

pengaruh besar terhadap pembentukan pendapat dan kepercayaan masyarakat

(Notoatmodjo, 2007).

Jajang (2005), mengemukakan bahwa, informasi adalah suatu keterangan,

penerangan, atau data yang telah diproses kedalam suatu bentuk yang mempunyai

arti bagi penerima dan mempunyai nilai yang nyata, sehingga dapat dipakai sebagai

dasar untuk mengambil keputusan untuk massa yang akan datang. Informasi

mempengaruhi pengetahuan seseorang, semakin sering seseorang mendapat

informasi maka akan semakin baik pada pengetahuannya. Informasi yang didapat

dari seseorang tergantung pada tiga hal yaitu:

a. Akurat, berarti informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan yang

menyesatkan. Akurat juga berarti harus jelas mencerminkan maksudnya.

b. Tepat pada waktunya berarti informasi yang datang pada penerima tidak boleh

terhambat.

c. Relevan, berarti informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakainya.

Informasi dapat diperoleh melalui berbagai sumber dalam bentuk lisan

maupun tulisan yang disebut dengan sumber informasi. Sumber informasi dapat

berbentuk media tulis cetak, seperti buku, koran, tabloid, majalah, ensiklopedia,

surat, buletin, jurnal, dan selebaran. Sumber informasi dapat pula berbentuk media

elektronik, seperti radio, televisi, internet. Sumber informasi juga didapat langsung

(27)

seminar, dan lain-lain. Narasumber tentunya orang-orang yang dianggap ahli

dibidangnya, seperti tokoh agama, para guru, dan ilmuwan (Kusuma, 2012).

D. Kerangka Teoritis

(28)

F. Kerangka Konsep Penelitian

Menurut APN (2008) Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput

ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada

usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai penyulit.

Aprillia (2013) mengatakan bahwa Waterbirth merupakan salah satu metode

alternatif persalinan pervaginam, di mana ibu hamil aterm (normal) tanpa komplikasi melahirkan bayinya melalui media air (yang dilakukan pada bathtub atau kolam).

Menurut Mubarak (2007) ada tujuh faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

seseorang, yaitu: Pendidikan, Pekerjaan, Umur, Minat, Pengalaman, Kebudayaan, dan

Informasi.

Karena keterbatasan waktu dan tenaga, maka peneliti hanya meneliti variable

Tingkat Pendidikan dan Sumber Informasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

kerangka konsep dibawah ini :

Variabel Independen Variabel Dependen

B.

Gambar 2.1 Kerangka konsep G. Hipotesa

a. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan bidan tentang

Water Birth di Rumah sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh. Tingkat Pendidikan

Sumber Informasi

Pengetahuan Bidan Tentang Water

(29)

b. Ada hubungan antara sumber informasi dengan pengetahuan bidan tentang Water

Birth di Rumah sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh.

(30)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat analitik dengan menggunakan

desain cross sectional yaitu variable dependen dan variable independen dilakukan pada

waktu yang sama (Notoatmodjo, 2010).

Dalam penelitian ini peneliti ingin melihat Hubungan Tingkat Pendidikan Dan

Sumber Informasi Dengan Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth di Rumah Sakit Ibu

Dan Anak Banda Aceh.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang berada Rumah Sakit

Ibu dan Anak Banda Aceh yaitu sebanyak 70 bidan.

2. Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Total

Sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota populasi

sebagai responden atau sampel (Sugiyono, 2009)

C. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh.

2. Waktu Penelitian

(31)

D. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah

data yang langsung di peroleh dari responden dengan cara menyebarkan kuesioner yang

berisi pertanyaan yang telah di sediakan dan selanjutnya oleh responden sesuai dengan

petunjuk. Sedangkan data sekunder adalah data yang di tinjau dari laporan yang berada

di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh.

E. Pengolahan dan Analisa Data 1. Pengolahan Data

Analisa data dilakukan secara bivariat menggunakan chi-square test dan diolah

secara SPSS.

Setelah dilakukan pengumpulan data, maka selanjutnya data tersebut di

rencanakan akan diolah secara komputerisasi menggunakan SPSS dengan tahapan :

a. Editing yaitu kegiatan memeriksa data yang telah terkumpul apakah sudah terisi

secara sempurna atau belum.

b. Coding yaitu member kode-kode tertentu kepada masing-masing katagori atau

jawaban yang diberikan oleh responden.

c. Transfering yaitu data yang telah diberikan kode di susun secara berurutan dari

responden pertama sampai responden terakhir, selanjutnya dimasukkan dalam

table.

d. Tabulating yaitu memasukkan data kedalam bentuk table dengan teliti dan teratur,

kemudian dihitung dalam satu katagori.

2. Analisis Data

Analisis data yang digunakan untuk melihat distribusi frekuensi

(32)

variable independen, Analisa data yang dilakukan pada penelitian ini secara bertahap

dari analisa univariat dan bivariat.

a. Analisa Univariat

Analisa univariat yaitu untuk mengetahui distribusi frekuensi dan rata-rata.

Hasil dari analisa ini berupa distribusi frekuensi dan presentase dari variabel.

Selanjutnya analisa ini akan ditampilkan distribusi frekuensi dalam bentuk tabel,

untuk penentuan persentase dalam penelitian ini digunakan rumus menurut rumus

icham (2008) adalah :

% 100

x n

f p

Keterangan : p = persentase

f = jumlah frekuensi

n = jumlah responden

Kemudian peneliti akan menghitung distribusi frekuensi dan mencari

persentasi pada setiap variabel dengan menggunakan komputer program SPSS 16.

b. Analisa Bivariat

Analisa data dalam penelitian ini dengan menggunakan analisa data Bivariat

yaitu untuk mengetahui data dalam bentuk tabel silang dengan melihat hubungan

antara variabel independen dan variabel dependen, mengggunakan uji statistik

chi-square. Dengan batas kemaknaan (α = 0,05) atau Confident level (CL) = 95%

diolah dengan komputer menggunakan program SPSS 16,0.

Data masing-masing subvariabel dimasukkan ke dalam tablecontingency,

kemudian tabel-tabel contingency tersebut di analisa untuk membandingkan antara

nilai P value dengan nilai alpha (0,05), dengan ketentuan :

1) Ha diterima dan Ho di tolak :Jika P value ≤ 0,05 artinya ada hubungan antara

(33)

2) Ha ditolak dan Ho diterima :Jika P value > 0,05 artinya tidak ada hubungan

antara variabel independen dengan variabel dependent.

Analisa hasil dari veriabel bebas yang diduga mempunyai hubungan dengan

veriabel terikat. Analisa yang digunakan adalah tabulasi silang dengan

menggunakan rumus Chi-Squere pada tingkat kemaknaannya 95% ( P≤ 0,05),

sehingga dapat di ketahui ada tidaknya hubungan yang bernakna secara statistik

dengan menggunakan program komputer SPSS for windows.

Melalui perhitungan ujic hi-square test selanjutnya ditarik pada kesimpulan

bila nilai p lebih kecil dari alpha (<0,05) maka Ho di tolak dan Ha diterima, yang

menunjukan ada hubungan bermakna antara variabel bebas.

a. Bila pada table contingency 2x2 dijumpai nilai E (harapan) kurang dari 5,

maka uji yang digunakan adalah Ficher exact test.

b. Bila pada tabel contigency 2x2, dan tidak dijumpai nilai E kurang dari 5, maka

hasil yang digunakan sebaiknya continuty correction.

c. Bila pada tabel-tabel contigency lebih dari 2x2, misalnya 2x3, 3x3, dan

(34)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh. Pelayanan terdiri

dari rekam medik, ugd, apotik, poli bedah, poli laktasi, poli Kb, poli kebidanan, poli anak,

poli penyakit dalam, poli mata dan poli gigi, poli imunisasi, poli wanita, kemudian ada

ruang rawat inap kelas I, II, III, vip, ruang rawat ibu, ruang rawat anak, ruang rawat icu,

ruang bersalin dan ruang rawat nicu/picu.

Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh yang berada di Jl. Prof. A. Majid Ibrahim

No.3 Banda aceh, dengan luas area + 726 m dengan berbatasan :

1. Bagian Utara berbatasan dengan lorong Bonsai.

2. Bagian Selatan berbatasan dengan rumah panglima kodam Iskandar Muda.

3. Bagian Barat berbatasan dengan Sungai.

4. Bagian Timur berbatasan dengan Jl. Prof. A. Majid Ibrahim.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 20 s/d 21 Februari

2014, dengan jumlah responden sebanyak 70 bidan yang berada di Rumah Sakit Ibu Dan

Anak Banda Aceh. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner yang

berisi pertanyaan tentang Hubungan Tingkat Pendidikan Dan Sumber Informasi Dengan

pengetahuan Bidan Tentang Water Birth Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Banda Aceh.

Sebelum memberikan kuesioner peneliti memberikan penjelasan mengenai tujuan

penelitian, kerahasiaan identitas responden dan cara pengisian kuesioner kepada

responden.

Pengisian kuesioner dilakukan sendiri oleh responden, setiap data yang terkumpul

(35)

1. Data Demografi

Data Demografi dalam penelitian ini yaitu umur dan persepsi bidan terhadap water

birth, data demografi tersebut dapat dilihat pada tabel distribusi berikut ini :

a. Umur

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden Berdasarkan Umur Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh

No Umur f %

Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)

Dari tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa, dari 70 responden yang diteliti

mayoritas umur responden berada pada kategori >35 tahun sebanyak 27 orang

(38,6%).

b. Persepsi Bidan Terhadap Water Birth

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Persepsi Bidan Terhadap Water Birth Di Rumah Sakit Ibu dan anak Banda Aceh

Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)

Berdasarkan tabel 4.2 diatas menunjukkan bahwa dari 70 responden, 31

orang (44%) yang menyatakan belum direkomendasikan dan 28 orang (40%)

menyatakan belum ada pelatihan. Sedangkan 11 orang (16%) menyatakan

belum ada fasilitas.

(36)

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh

No Tingkat Pendidikan f (%)

Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)

Berdasarkan tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa dari 70 responden

terdapat 56 orang (80%) yang berpendidikan menengah.

b. Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth

Tabel 4.4

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh

No Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth

Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)

Berdasarkan tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa dari 70 responden

terdapat 36 orang (51.4%) yang berpengetahuan kurang.

c. Sumber Informasi

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Sumber Informasi Tentang Water Birth Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh

No Sumber Informasi f (%)

Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)

Berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa dari 51 responden

terdapat 40 orang (78.43%) yang bersumber informasi dari media dan 11 orang

(37)

3. Analisa Bivariat

Tabulasi silang hubungan antara tingkat pendidikan dan sumber informasi dengan

pengetahuan bidan tentang water birth di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh dapat

dilihat dari tabel dibawah ini :

a. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth

Tabel 4.6

Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh

No Tingkat

Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)

Dari tabel 4.6 diatas dapat diketahui bahwa dari 56 responden dengan

pendidikan menengah sebanyak 29 orang (51.8%) yang berpengetahuan kurang.

Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% dimana nilai P≤0,05 didapatkan bahwa nilai pada P-Value

1,000 (P≥0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan

antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan bidan tentang water birth di Rumah

Sakit Ibu dan anak Banda Aceh.

b. Hubungan Sumber Informasi Dengan Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth

Tabel 4.7

Hubungan Sumber Informasi Dengan Pengetahuan Bidan Tentang Water Birth Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh

No Sumber

Informasi

Pengetahuan Bidan

Tentang Water Birth Jumlah

P

Baik Kurang

f % f % f %

(38)

2.

Sumber Data: Data Primer (diolah 2014)

Dari tabel 4.7 diatas dapat diketahui bahwa dari 40 responden yang bersumber

informasi dari media terdapat 25 orang (62.5%) yang berpengetahuan baik dan dari

19 responden yang tidak pernah mendapatkan informasi tentang water birth terdapat

15 orang (78.9%) yang berpengetahuan kurang. Sedangkan dari 11 responden yang

bersumber informasi dari narasumber terdapat 6 orang (54.5%) yang berpengetahuan

kurang.

Setelah dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% dimana nilai P ≤0,05 didapatkan bahwa nilai pada P-Value

0,012 (P<0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara

sumber informasi dengan pengetahuan bidan tentang water birth di Rumah Sakit Ibu

dan Anak Banda Aceh.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian dengan melakukan analisa tentang hubungan tingkat

pendidikan dan sumber informasi dengan pengetahuan bidan tentang water birth di

Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh, maka didapatkan :

1. Hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan bidan tentang water birth Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 56 responden dengan

pendidikan menengah sebanyak 29 orang (51.8%) yang berpengetahuan kurang.

Sedangkan dari 14 responden dengan pendidikan tinggi terdapat 7 orang (50%) yang

berpengetahuan kurang.

(39)

(P≥0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara

tingkat pendidikan dengan pengetahuan bidan tentang water birth di Rumah Sakit Ibu

dan anak Banda Aceh.

Menurut Notoadmojo (2005), tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap

pengetahuan, khususnya dalam pembentukan prilaku semakin tinggi tingkat

pendidikan seseorang semakin tinggi kesadaran seseorang tentang sesuatu hal dan

semakin matang pertimbangan seseorang dalam mengambil keputusan.

Faktor Pendidikan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang kepada

sesuatu yang baru. Semakin tinggi pendidikan seseorang, informasi yang dimiliki

lebih luas dan lebih mudah diterima termasuk informasi tentang water birth.

Sedangkan bila tingkat pendidikan seseorang rendah maka informasi yang diberikan

akan dibiarkan begitu saja. Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk

mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok dan masyarakat, sehingga mereka

melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Notoatmodjo, 2007).

Penelitian sejenis juga pernah dilakukan oleh Elsya (2013) tentang

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Persalinan Water

Birth Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh dengan jumlah responden

32 orang. Dari 19 reponden yang berpendidikan menengah terdapat 11 orang (57,9%)

yang berpengetahuan rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan

antara pendidikan dengan pengetahuan ibu hamil tentang persalinan water birth

P=0,798.

Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Rosmawar (2013) tentang Hubungan

Pengetahuan Dengan Motivasi Bidan Dalam meaksanakan water birth di RSIA

dengan jumlah responden 49 orang. Tedapat 41 responden dengan pelaksanaan water

(40)

ada hubungan motivasi dengan pelaksanaan water birth di RSIA B.aceh tahun 2013

P=0,601.

Menurut asumsi peneliti dengan melihat hasil pengolahan data tersebut

menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak ada hubungan dengan pengetahuan

bidan tentang water birth di sebabkan karena water birth adalah metode persalinan

yang terbaru dan belum diterapkan di Aceh. Oleh karena itu bidan di Aceh terutama

bidan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh masih banyak yang belum

mengetahui tentang water birth. Berdasarkan hasil wawancara pada saat penelitian

sebagian bidan mengatakan belum mengetahui apa itu water birth.

2. Hubungan sumber informasi dengan pengetahuan bidan tentang water birth Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 40 responden yang

bersumber informasi dari media terdapat 25 orang (62.5%) yang berpengetahuan baik

dan dari 19 responden yang tidak pernah mendapatkan informasi tentang water birth

terdapat 15 orang (78.9%) yang berpengetahuan kurang. Sedangkan dari 11 responden

yang bersumber informasi dari narasumber terdapat 6 orang (54.5%) yang

berpengetahuan kurang.

Hasil statistik dengan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% dimana nilai P ≤0,05 didapatkan bahwa nilai pada P-Value 0,012 (P<0,05).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara sumber informasi

dengan pengetahuan bidan tentang water birth di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda

Aceh.

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat

memberikan pengaruh jangka pendek (Immediate Impact) sehingga menghasilkan

perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia

(41)

informasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti

televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain, mempunyai pengaruh besar terhadap

pembentukan pendapat dan kepercayaan masyarakat (Notoatmodjo, 2007).

Penelitian sejenis juga pernah dilakukan oleh Elsya (2013) tentang

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Persalinan Water

Birth Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh dengan jumlah responden

32 orang. Dari 25 reponden yang informasinya dalam kategori pernah ternyata

sebanyak 14 responden (56%) yang berpengetahuan rendah. Hasil penelitian ini

menunjukkan tidak ada hubungan antara informasi dengan pengetahuan ibu hamil

tentang persalinan water birth P=0,678.

Informasi dapat diperoleh melalui berbagai sumber dalam bentuk lisan maupun

tulisan yang disebut dengan sumber informasi. Sumber informasi dapat berbentuk

media tulis cetak, seperti buku, koran, tabloid, majalah, ensiklopedia, surat, buletin,

jurnal, dan selebaran. Sumber informasi dapat pula berbentuk media elektronik,

seperti radio, televisi, internet. Sumber informasi juga didapat langsung dari

narasumber yang bersangkutan dengan melalui percakapan, wawancara, diskusi,

seminar, dan lain-lain. Narasumber tentunya orang-orang yang dianggap ahli

dibidangnya, seperti tokoh agama, para guru, dan ilmuwan (Kusuma, 2012).

Menurut asumsi peneliti dengan melihat hasil pengolahan data tersebut

menunjukkan bahwa sumber informasi ada hubungan dengan pengetahuan bidan

tentang water birth. Sumber informasi sangat mempengaruhi pengetahuan bidan

tentang water birth, karena semakin banyak sumber informasi maka semakin banyak

informasi tentang water birth yang akan diperoleh oleh bidan.

(42)

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 70 responden, 31 orang

(44%) yang menyatakan belum direkomendasikan dan 28 orang (40%) menyatakan

belum ada pelatihan. Sedangkan 11 orang (16%) menyatakan belum ada fasilitas. Pada pertanyaan “apakah cocok jika water birth diterapkan di Aceh, apabila

dilihat dari segi budaya dan apa alasannya?”, berdasarkan hasil dari jawaban

responden terdapat 44 orang (63%) menyatakan cocok karena metode water birth

mempunyai fungsi untuk menghilangkan rasa nyeri saat persalinan. Sedangkan 26

orang (37%) menyatakan tidak cocok, karena tidak sesuai dengan adat dan budaya

masyarakat Aceh.

Dan pada pertanyaan “bagaimana menurut anda jika water birth dilihat dari segi

agama?”, berdasarkan hasil dari jawaban responden terdapat 50 orang (71.4%)

menyatakan boleh-boleh saja, selama dilakukan sesuai prosedur dan dalam ruangan

tertutup. Sedangkan 20 orang (28.6%) menyatakan tidak cocok, karena water birth

adalah metode pesalinan orang barat dan juga belum ada pembahasan dari MUI.

Menurut asumsi peneliti dengan melihat hasil penelitian tersebut water birth

boleh dilakukan di Aceh selama proses water birth dilakukan sesuai prosedur dan

tidak menyalahi agama dan adat di Aceh. Dan untuk paramedis di Aceh terutama

bidan harus diberikan pelatihan agar bidan mengetahui dan bisa menolong persalinan

(43)

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada 70 responden

didapatkan hasil sebagai berikut :

1. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan bidan tentang

water birth di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda.

2. Ada hubungan antara sumber informasi dengan pengetahuan bidan tentang water

birth di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh.

B. Saran

1. Bagi institusi Pendidikan

Adanya menambahkan water birth kedalam kurikulum kebidanan, dan

disediakannya modul-modul atau buku-buku tentang water birth.

2. Bagi tempat penelitian

Melakukan sosialisasi tentang water birth, melakukan pelatihan dan seminar

tentang water birth dan menyediakannya fasilitas untuk water birth.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Agar dapat menjadikan penelitian ini sebagai data dasar untuk melakukan

(44)

DAFTAR PUSTAKA

JNPK-KR/POGI. Asuhan Persalinan Normal, 2008. Jakarta

Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta; Jakarta

Akiraalie. 2010. Pendidikan. http://akiraalie.blogspot.com (dikutip 13 Juni 2013)

Bagus. 2012. Artikel Pendidikan http://www.artikelbagus.com (dikutip 30 Juni 2013)

Bayuningrat. 2008. Artikel Water Birth. Jakarta.

Elsya, Cut. 2013. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Persalinan Water Birth Diwilayah Kerja Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh {internet} http://simtakp.stmikubudiyah.ac.id/dockti (di kutip 5 Februari 2014)

Fatamorgana. 2010. Informasi. http://www.fatamorgana.com (dikutip 27 Juni 2013)

Febrina. (2010). Artikel Melahirkan dalam Air. Diakses dari http://bidanshop. blogspot.com/2010/04/water-birth-melahiirkan-dalam-air.html (dikutip 5 Februari 2013)

J.PediatricsSingh U, Schereiner A, Macdermott R, Johnston D, Seymour J,Garland D, Davidson J.(2006).Guidelines for Water Birth within themidwifery led unit and at home (Dartfordand Gravesham-NHS Trust). Dalam http://simtakp.stmikubudiyah.ac.id/dockti (di kutip 5 Februari 2014)

Journal New Zealand College of Midwives. Waterbirth protocols: five North Island hospitals in New Zealand. 2004. Dikutip 6 Februari 2014 dari http://ayurosma.blogspot.com

Maryunani, Anik. 2010. nyeri dalam persalinan . cv. Trans info media.jakarta.

Marseno, Rhudy. 2011. Water Birth. Jakarta.www.scribd.com/doc/48191599/water-birth diakses tanggal 15 Agustus 2013

Notoatmodjo S, 2005 . Metodelogi penelitian kesehatan, jakarta ; Rineka Cipta

, 2005 . Ilmu untuk kesehatan masyarakat, jakarta ; Rineka Cipta

, 2007 . Pendidikan dan perilaku kesehatan, jakarta ; Rineka Cipta

, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta; Rineka Cipta

Nursalam, 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta: Selemba Medika

Pendidikan. 2011 Pentingnya Pendidikan karakter Dalam Dunia Pendidikan. http://www.pendidikankarakter.com (dikutip 18 Juni 2013)

(45)

Dikutip 6 Februari 2014 dari http://ayurosma.blogspot.com

Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan. Bina Pustaka Sarwono; Jakarta

Sugiyono, 2009, Statistika Untuk Penelitian, Cetakan Kedua belas, Alfabeta, Bandung.

Siswosuharjo, Suwignyo, dr. Panduan Lengkap Hamil Sehat. Jakarta : Penebar plus. 2011. Dikutip 6 Februari 2014 dari http://ayurosma.blogspot.com

Tiyani, Sulis. (2012). Artikel Water Birth. Dikutip pada tanggal 4 Februari 2014 dari: http://midewifehomes.blogspot.com/2012/07/water-birth.html

(46)

KUESIONER PENELITIAN

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN SUMBER INFORMASI

DENGAN PENGETAHUAN BIDAN

TENTANG WATER BIRTH DI RUMAH SAKIT

IBU DAN ANAK BANDA ACEH

DATA UMUM

NO. RESPONDEN :

TANGGAL PENGISIAN :

NAMA :

UMUR :

AGAMA :

ALAMAT :

DATA KHUSUS A. Pendidikan

Petunjuk pengisian : Berilah tanda checklist () pada jawaban yang menurut anda benar. Pendidikan terakhir anda :  Tamat D4/S1 dan S2

 Tamat D3

 Tamat D1

B. Pengetahuan

Petunjuk pengisian : Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang menurut anda benar. 1. Yang dimaksud dengan water birthadalah……

a. Melahirkan dengan cara di tempat tidur

b. Melahirkan dengan cara di dalam air

c. Melahirkan dengan cara caesar

2. Water birth baiknya dilakukan setelah dilatasi (pembukaan) mencapai ?

a. 3 cm

(47)

c. 6 cm

3. Pengertian dari metode water birth murni adalah...

a. Ibu masuk ke kolam persalinan setelah mengalami pembukaan 6 sampai proses

melahirkan terjadi.

b. Ibu hanya berada di dalam kolam hingga masa kontraksi akhir, proses melahirkan

tetap dilakukan di tempat tidur.

c. Ibu hamil aterm tanpa komplikasi bersalin dengan jalan berendam di air hangat

(yang dilakukan pada bathtub atau kolam) dengan tujuan mengurangi rasa nyeri

kontraksi dan memberi rasa nyaman.

4. Pengertian dari metode Water birth emulsion adalah...

a. Ibu masuk ke kolam persalinan setelah mengalami pembukaan 6 sampai proses

melahirkan terjadi.

b. Ibu hanya berada di dalam kolam hingga masa kontraksi akhir, proses melahirkan

tetap dilakukan di tempat tidur.

c. Ibu hamil aterm tanpa komplikasi bersalin dengan jalan berendam di air hangat

(yang dilakukan pada bathtub atau kolam) dengan tujuan mengurangi rasa nyeri

kontraksi dan memberi rasa nyaman.

5. Keuntungan dari persalinan water birth bagi ibu adalah...

a. Mengurangi rasa nyeri dan terjadi aspirasi air

b. Rasa nyaman pada saat berendam di dalam air membuat ibu malas mengejan

c. Perineum manjadi lebih elastis dan rileks, robekan/episiotomi dapat terhindari

6. Keuntungan dari persalinan water birth bagi bayi adalah...

a. Mengurangi rasa nyeri dan terjadi aspirasi air

b. mencegah trauma atau resiko cedera kepala bayi, kulit menjadi lebih bersih,

(48)

c. Perineum manjadi lebih elastis dan rileks, robekan/episiotomi dapat terhindari

7. Syarat melakukan persalinan water birth adalah...

a. Hamil dengan resiko rendah

b. Tanda vital dan CTG normal

c. Semua benar

8. Denyut jantung normal , janin tunggal presentasi kepala merupakan...

a. Syarat dari water birth

b. Indikasi dari water birth

c. Kontraindikasi dari water birth

9. Yang termasuk kedalam kontraindikasi persalinan water birth adalah....

a. Ketuban pecah spontan < 24 jam

b. Ketuban pecah spontan > 24 jam

c. Hamil tidak mengalami infeksi vagina saluran kencing dan kulit

10. Yang termasuk kedalam kontraindikasi persalinan water birth adalah....

a. Ketuban pecah spontan < 24 jam

b. Infeksi dan demam pada ibu

c. Hamil tidak mengalami infeksi vagina saluran kencing dan kulit

11. Kekurangan dari persalinan water birth adalah....

a. Rasa nyaman pada sang ibu saat berendam di dalam air membuat ibu malas untuk

mengejan.

b. Persalinan di air menyebabkan terbatasnya pemberian analgesia yang lain.

c. Semua benar

12. Yang termasuk kedalam kekurangan persalinan water birth terhadap bayi adalah....

Gambar

Tabel 2.1 Definisi Operasional
Tabel 4.5
Tabel 4.7

Referensi

Dokumen terkait

rosul tidak boleh atau kurang baik kalau dihalangi, saya rasa pemberian hadiah atau apa dari adik itu bukan suatu masalah dan Itu sudah menjadi hak adik saya, memang

Selaras dengan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) untuk mengetahui pemahaman wirausahawan kecil dan mene- ngah

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pembelajaran demokratis pada 3 mata pelajaran (Bahasa Indonesia, IPS dan PPKn) masih menunjukkan fenomena yang belum menggembi-

Ketika menderita penyakit wasir ambeien terkadang pada saat sedang buang air besar pun juga bisa mengeluarkan feses yang akan bercampur darah segar, atau juga bisa

Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu, sehingga dapat ditentukan untuk penelitian ini adalah menggunakan variabel independen profitabilitas,

Metode yang digunakan untuk pengukuran produktivitas pada penelitian ini yaitu metode produktivitas parsial POSPAC, keuntungan model tersebut menyajikan secara

Table : 25 Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Selama Seminggu yang lalu Menurut Provinsi dan Status Pekerjaan Utama/ Population 15 Years of Age and Over Who Worked

Selanjutnya, pengambilan telur dan sperma 1) Ikan mas (Cyprinus carpio L) betina dan jantan diletakkan dalam satu kolam pemijahan sampai memijah kemudian dilakukan stripping.