Gambaran Pengetahuan, Sikap Dan Tindakan Terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri Dalam Penanganan Sampah Medis Pada Petugas Cleaning Service di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015

116  269 

Teks penuh

(1)

1

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN TERHADAP PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI DALAM PENANGANAN

SAMPAH MEDIS PADA PETUGAS CLEANING SERVICE DI RSUD Dr. PIRNGADI MEDAN TAHUN 2015

SKRIPSI

Oleh:

THERESIA VERONIKA NIM : 111000174

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

2

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN TERHADAP PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI DALAM PENANGANAN

SAMPAH MEDIS PADA PETUGAS CLEANING SERVICE DI RSUD Dr. PIRNGADI MEDAN TAHUN 2015

Skripsi ini diajukan sebagai

Salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh:

THERESIA VERONIKA NIM : 111000174

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

3

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN TERHADAP PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI DALAM PENANGANAN SAMPAH MEDIS PADA PETUGAS CLEANING SERVICE DI RSUD DR. PIRNGADI MEDAN TAHUN 2015”ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya

sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau mengutip dengan cara-cara

yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat

keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko atau sanksi yang

dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap

etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian

karya saya ini.

Medan, Oktober 2015 Yang membuat pernyataan

(4)
(5)

5 ABSTRAK

Rumah sakit merupakan tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, dan mudah terjangkit penyakit. Petugas cleaning service mempunyai risiko untuk terpajan bahan biologi berbahaya (biohazard). Kontak dengan alat medis sekali pakai (disposable equipment) seperti jarum suntik bekas maupun selang infus bekas, serta membersihkan seluruh ruangan di rumah sakit dapat meningkatkan risiko untuk terkena penyakit infeksi bagi petugas cleaning service rumah sakit.

Penelitian ini bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap pemakaian alat pelindung diri dalam penanganan sampah medis pada petugas cleaning service di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015. Populasi penelitian adalah seluruh petugas cleaning service dalam penanganan sampah medis RSUD Dr. Pirngadi Medan. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 11 orang responden.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan petugas cleaning service terhadap pemakaian alat pelindung diri dalam penanganan sampah medis termasuk dalam kategori baik (63,6%), untuk sikap termasuk dalam kategori positif (63,6%), sedangkan untuk tindakan termasuk dalam kategori tidak lengkap memakai alat pelindung diri (90,9%).

Pihak rumah sakit disarankan untuk meningkatkan pengawasan dan pembinaan dalam penggunaan alat pelindung diri, menyediakan alat pelindung diri tubuh berupa pakaian kerja khusus bagi petugas cleaning service dalam penanganan sampah medis, memberikan sanksi tegas bagi petugas cleaning service yang tidak patuh dalam menggunakan alat pelindung diri serta penghargaan bagi petugas cleaning service yang patuh dalam menggunakan alat pelindung diri. Petugas cleaning service hendaknya memakai alat pelindung diri secara lengkap sesuai dengan alat pelindung diri yang telah disediakan pihak rumah sakit berupa sarung tangan kulit, sepatu boot dan masker.

(6)

6 ABSTRACT

The hospital is a workplace which at risk of health hazards, and easily contract to the disease. Cleaning service are people at risk for exposure to hazardous biological substances (biohazard). Contacting to the disposable medical instruments (disposable equipment) such as used syringes and IV line scars, and cleaning the entire room in a hospital can increase the risk of infectious diseases for hospital cleaning service.

This is descriptive study that aims to describe the knowledge, attitudes and actions against the use of personal protective equipment in the handling of medical waste due to cleaning service at the Dr. Pirngadi Hospital Medan in 2015. The study population was all cleaning service in the handling of medical waste in Dr. Pirngadi Hospital Medan. The sampling was done by total sampling and obtained a total sample of 11 respondents.

The result showed that knowledge on the use of personal protective equipment in the handling of medical waste was in a good category (63,6%), the category of positive attitude (63,6%), while for the actions included in the category of incomplete wear personal protective equipment (90,9%).

The hospital advised to improve supervision and guidance in the use of personal protective equipment, providing personal protective equipment body in the form of working clothes specifically for the cleaning service in the handling of medical waste, providing strict punishment for cleaning service disobedient in the use of personal protective equipment and awards for cleaning service abiding in the use of personal protective equipment. Cleaning service should wear personal protective equipment in full accordance with the personal protective equipment has been provided by the hospital such as leather gloves, boots and a masks.

(7)

7

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

segala berkat dan anugerahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

yang berjudul “Gambaran Pengetahuan, Sikap Dan Tindakan Terhadap

Pemakaian Alat Pelindung Diri Dalam Penanganan Sampah Medis Pada Petugas

Cleaning Service di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015”.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar

Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Sumatera Utara.

Penulis juga menyadari dalam penulisan skripsi ini banyak sekali

memperoleh bantuan baik moril maupun material dari berbagai pihak, maka pada

kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus dan ikhlas

kepada:

1. Dr. Drs. Surya Utama, MS, selaku Dekan Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Ir. Gerry Silaban, M. Kes, selaku Ketua Departemen Keselamatan

dan Kesehatan Kerja Universitas Sumatera Utara.

3. dr. Mhd Makmur Sinaga, MS, selaku Ketua Pembimbing yang telah

meluangkan waktu dan pikirannya serta dengan sabar memberikan

bimbingan, saran dan pengarahan kepada penulis dalam

penyempurnaan skripsi ini.

4. Isyatun Mardhiyah Syahri, SKM.,M.Kes, selaku Dosen Pembimbing

(8)

8

memberikan bimbingan, saran dan pengarahan kepada penulis dalam

penyempurnaan skripsi ini.

5. Prof. Dr. Dra. Irnawati Marsaulina S, MS., selaku Dosen Pembimbing

Akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan.

6. Seluruh dosen khususnya Dosen Departemen Kesehatan dan

Keselamatan Kerja FKM USU yang telah memberikan pengarahan

dan bimbingan dalam mengikuti perkuliahan di Faklutas Kesehatan

Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

7. Seluruh staf pegawai dan karyawan FKM USU yang telah membantu

kelancaran skripsi ini.

8. Direktur RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan, Bapak Khairuddin, ST

selaku Kepala Bagian Perlengkapan dan Pemeliharaan (Koordinator

Cleaning Service), dan Bang Hera Isnandar selaku Pengawas

Cleaning Service RSUD Dr. Pirngadi Medan yang telah memberikan

izin dan bantuan bagi penulis dalam melaksanakan penelitian.

9. Orang tua tercinta (J. Napitupulu dan R. Sinaga) yang selalu memberi

dukungan, doa dan kasih sayang serta memberi motivasi untuk tetap

semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Kakak tersayang (Silvia Mika Yanti Napitupulu) dan adik tersayang

(Roy Bornok Napitupulu) yang telah memberi motivasi dan semangat

(9)

9

11. Sahabat-sahabatku tersayang : Christin Irianita Purba dan Rianta Sri

Karina Tarigan, yang selalu memberikan doa, semangat dan motivasi

dalam penulisan skripsi ini.

12. Sahabat-sahabatku SOLAFIDE : Lulu Marbun, Martha Helen, Nova

Sitinjak, dan Marini terimakasih atas persahabatan, motivasi, doa dan

kebersamaan kita selama ini.

13. Teman-teman QUASIMODOGENITI : Kak Heny, Elis, Lulu, Martha

Helen, Martharia, Ratna, terimakasih atas motivasi, doa dan

kebersamaan kita.

14. Seluruh rekan-rekan seperjuangan di Peminatan K3, terimakasih atas

kerjasama dan kebersamaan kita selama ini.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca

dan perkembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.

Medan, Oktober 2015

(10)

10

2.5.1 Pengertian Alat Pelindung Diri ... 15

2.5.2 Kriteria Alat Pelindung Diri ... 18

2.5.3 Macam-macam Alat Pelindung Diri ... 19

2.5.4 Jenis APD Bagi Petugas Cleaning Service ... 26

2.6 Rumah Sakit ... 26

2.7 Sampah Medis ... 28

2.7.1 Penanganan Sampah Medis ... 30

2.7.2 Tahapan Penanganan Sampah Medis ... 32

2.8 Petugas Cleaning Service ... 38

2.8.1 Tugas Pokok Petugas Cleaning Service ... 39

2.8.2 Sistem Kerja Petugas Cleaning Service di RSUD Dr. Pirngadi Medan ... 39

(11)

11

3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 43

3.6 Metode Pengukuran ... 44

3.7.1.2 Reliabilitas ... 46

3.7.2 Formulir Observasi ... 47

3.8 Pelaksanaan Perolehan Data ... 47

3.9 Metode Analisis Data ... 48

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 49

4.1 Gambaran Umum RSUD Dr. Pirngadi Medan ... 49

4.1.1 Sejarah RSUD Dr. Pirngadi Medan ... 49

4.1.2 Visi RSUD Dr. Pirngadi Medan ... 52

4.1.3 Misi RSUD Dr. Pirngadi Medan ... 52

4.2 Karakteristik Petugas Cleaning Service dalam Penanganan Sampah Medis diRSUD Dr. Pirngadi Medan ... 52

4.2.1 Umur ... 52

4.2.2 Tingkat Pendidikan ... 53

4.2.3 Masa Kerja ... 54

4.3 Gambaran Pengetahuan, Sikap Dan Tindakan terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis pada Petugas Cleaning Service Di RSUD Dr. Pirngadi Medan ... 55

4.3.1 Pengetahuan Responden terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis ... 55

4.3.2 Sikap Responden terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis ... 57

(12)

12

BAB V PEMBAHASAN ... 63

5.1 Gambaran Karakteristik Petugas Cleaning Service dalam Penanganan Sampah Medis diRSUD Dr. Pirngadi Medan ... 63

5.1.1 Umur ... 63

5.1.2 Tingkat Pendidikan ... 64

5.1.3 Masa Kerja ... 64

5.2 Pengetahuan Petugas Cleaning Service terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis di RSUD Dr. Pirngadi Medan ... 65

5.3 Sikap Petugas Cleaning Service dalam Penanganan Sampah Medis diRSUD Dr. Pirngadi Medan ... 67

5.4 Tindakan Petugas Cleaning Service dalam Penanganan Sampah Medis diRSUD Dr. Pirngadi Medan ... 69

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 73

6.2 Saran ... 74

(13)

13

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jenis Wadah dan Label Limbah Medis Sesuai Kategorinya...33

Tabel 3.1 Pelaksanaan Kegiatan Perolehan Data...47

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok

Umur di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015...52

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat .

Pendidikan di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015...53

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Masa Kerja di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015...54

Tabel 4.4 Distribusi Jawaban Pengetahuan Responden terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah

Medis di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015...55

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di RSUD

Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015...56

Tabel 4.6 Distribusi Jawaban Sikap Responden terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis

di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015...58

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Sikap Responden di RSUD

Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015...59

Tabel 4.8 Distribusi Observasi Tindakan Responden terhadap

Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015...60

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Tindakan Responden di RSUD

Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015...61

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Tabulasi Silang Pengetahuan

dengan Tindakan Responden di RSUD Dr. Pirngadi Medan

Tahun 2015………62

Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Tabulasi Silang Sikap dengan Tindakan Responden di RSUD Dr. Pirngadi Medan

(14)

14

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.9 Kerangka Konsep ...41

Gambar 4.1 Persentase distribusi frekuensi responden berdasarkan umur ...53

Gambar 4.2 Persentase distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikan ………....………..53

Gambar 4.3 Persentase distribusi frekuensi responden berdasarkan masa kerja ………..…..54

Gambar 4.4 Persentase distribusi frekuensi pengetahuan responden ... 57

Gambar 4.5 Persentase distribusi frekuensi sikap responden ...60

(15)

15

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian

Lampiran 2 Surat Permohonan Izin Penelitian

Lampiran 3 Surat Keterangan Telah Selesai Melakukan Penelitian

Lampiran 4 Master Data Kuesioner

Lampiran 5 Output

(16)

16

RIWAYAT HIDUP

Nama : Theresia Veronika Napitupulu

Tempat Lahir : Medan

Tanggal Lahir : 04 – Januari – 1994

Suku Bangsa : Batak Toba

Agama : Kristen Protestan

Nama Ayah : Jonny Napitupulu

Suku Bangsa Ayah : Batak Toba

Nama Ibu : Rumondang br. Sinaga

Suku Bangsa Ibu : Batak Toba

Pendidikan Formal

1. SD/Tamat Tahun : SD Swasta Methodist Pancurbatu/2005

2. SMP/Tamat Tahun : SMP Negeri 1 Pancurbatu/2008

3. SMA/Tamat Tahun : SMA Negeri 1 Pancurbatu/2011

(17)

5 ABSTRAK

Rumah sakit merupakan tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, dan mudah terjangkit penyakit. Petugas cleaning service mempunyai risiko untuk terpajan bahan biologi berbahaya (biohazard). Kontak dengan alat medis sekali pakai (disposable equipment) seperti jarum suntik bekas maupun selang infus bekas, serta membersihkan seluruh ruangan di rumah sakit dapat meningkatkan risiko untuk terkena penyakit infeksi bagi petugas cleaning service rumah sakit.

Penelitian ini bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap pemakaian alat pelindung diri dalam penanganan sampah medis pada petugas cleaning service di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015. Populasi penelitian adalah seluruh petugas cleaning service dalam penanganan sampah medis RSUD Dr. Pirngadi Medan. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 11 orang responden.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan petugas cleaning service terhadap pemakaian alat pelindung diri dalam penanganan sampah medis termasuk dalam kategori baik (63,6%), untuk sikap termasuk dalam kategori positif (63,6%), sedangkan untuk tindakan termasuk dalam kategori tidak lengkap memakai alat pelindung diri (90,9%).

Pihak rumah sakit disarankan untuk meningkatkan pengawasan dan pembinaan dalam penggunaan alat pelindung diri, menyediakan alat pelindung diri tubuh berupa pakaian kerja khusus bagi petugas cleaning service dalam penanganan sampah medis, memberikan sanksi tegas bagi petugas cleaning service yang tidak patuh dalam menggunakan alat pelindung diri serta penghargaan bagi petugas cleaning service yang patuh dalam menggunakan alat pelindung diri. Petugas cleaning service hendaknya memakai alat pelindung diri secara lengkap sesuai dengan alat pelindung diri yang telah disediakan pihak rumah sakit berupa sarung tangan kulit, sepatu boot dan masker.

(18)

6 ABSTRACT

The hospital is a workplace which at risk of health hazards, and easily contract to the disease. Cleaning service are people at risk for exposure to hazardous biological substances (biohazard). Contacting to the disposable medical instruments (disposable equipment) such as used syringes and IV line scars, and cleaning the entire room in a hospital can increase the risk of infectious diseases for hospital cleaning service.

This is descriptive study that aims to describe the knowledge, attitudes and actions against the use of personal protective equipment in the handling of medical waste due to cleaning service at the Dr. Pirngadi Hospital Medan in 2015. The study population was all cleaning service in the handling of medical waste in Dr. Pirngadi Hospital Medan. The sampling was done by total sampling and obtained a total sample of 11 respondents.

The result showed that knowledge on the use of personal protective equipment in the handling of medical waste was in a good category (63,6%), the category of positive attitude (63,6%), while for the actions included in the category of incomplete wear personal protective equipment (90,9%).

The hospital advised to improve supervision and guidance in the use of personal protective equipment, providing personal protective equipment body in the form of working clothes specifically for the cleaning service in the handling of medical waste, providing strict punishment for cleaning service disobedient in the use of personal protective equipment and awards for cleaning service abiding in the use of personal protective equipment. Cleaning service should wear personal protective equipment in full accordance with the personal protective equipment has been provided by the hospital such as leather gloves, boots and a masks.

(19)

17 BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009

tentang Kesehatan, pada Pasal 164 tertulis bahwa kesehatan kerja diselenggarakan

untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan

serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan dimana hal tersebut wajib

diselenggarakan kesehatan kerja setiap tempat kerja. Rumah sakit merupakan

tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, dan mudah terjangkit

penyakit.

Rumah sakit adalah industri yang bergerak dibidang pelayanan jasa

kesehatan yang tujuan utamanya memberikan pelayanan jasa terhadap masyarakat

sebagai usaha meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Dalam

setiap proses pelayanan kesehatan di rumah sakit, terlihat adanya faktor-faktor

penting sebagai pendukung pelayanan itu sendiri, yang selalu berkaitan satu

dengan yang lainnya. Faktor-faktor tersebut meliputi pasien, tenaga kerja, mesin,

lingkungan kerja, cara melakukan pekerjaan serta proses pelayanan kesehatan itu

sendiri. Di samping memberikan dampak positif, faktor tersebut juga memberikan

nilai negatif terhadap semua komponen yang terlibat dalam proses pelayanan

kesehatan yang berakhir dengan timbulnya kerugian (Puslitbag IKM FK, UGM

2000).

Menurut Depkes RI yang dikutip oleh Andarnita (2012), sampah medis

(20)

18

pelayanan kesehatan yang mana dapat membahayakan dan menimbulkan

gangguan kesehataan bagi pengunjung, masyarakat terutama petugas yang

menanganinya.

Penyakit akibat kerja di rumah sakit dapat menyerang semua tenaga kerja,

baik yang medis (seperti perawat, dokter dan dokter gigi), maupun non medis

seperti petugas kebersihan (cleaning service) rumah sakit. Petugas cleaning

service mempunyai risiko untuk terpajan bahan biologi berbahaya (biohazard).

Kontak dengan alat medis sekali pakai (disposable equipment) seperti jarum

suntik bekas maupun selang infus bekas, serta membersihkan seluruh ruangan di

rumah sakit dapat meningkatkan risiko untuk terkena penyakit infeksi bagi

petugas kebersihan (cleaning service) rumah sakit (Anies, 2005).

Risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat terjadi terhadap

petugas, jika petugas tidak melakukan pengelolaan limbah sesuai dengan

persyaratan yang telah diatur dalam Kepmenkes RI tentang kesehatan lingkungan

rumah sakit. Risiko tersebut seperti terjadinya gangguan kesehatan yang terjadi

karena terkontaminasinya limbah padat medis yang mengandung berbagai macam

bahan kimia beracun dan buangan yang terkena benda-benda tajam terhadap

petugas pengelola limbah padat medis di rumah sakit. Penyakit yang dapat timbul

seperti penyakit HIV/AIDS, hepatitis B dan C, Dermatitis Iritan Kronik serta

gangguan pernafasan (Depkes, 2010).

Dalam profil kesehatan Indonesia, Kementerian Kesehatan RI – Direktorat

Jenderal Bina Upaya Kesehatan (2014), diungkapkan seluruh rumah sakit di

(21)

19

nasional produksi sampah rumah sakit sebesar 835.350 ton/hari. Dari gambaran

tersebut dapat dibayangkan betapa besar potensi rumah sakit untuk mencemari

lingkungan dan kemungkinannya menimbulkan kecelakaan serta penularan

penyakit terhadap petugas yang bekerja di rumah sakit maupun masyarakat yang

berada di sekitar rumah sakit.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup yang dikutip oleh Febrina

(2012), hasil kajian terhadap rumah sakit yang ada di Bandung pada tahun 2005

menunjukkan jumlah sampah rumah sakit yang dihasilkan di Bandung sebesar

3.493 ton per tahun. Komposisi sampah padat rumah sakit terdiri atas 85% limbah

domestik, 15% limbah medis terdiri atas 11% limbah infeksius dan 4% limbah

berbahaya, dan limbah domestik yang sudah dimanfaatkan hanya sebesar 19%.

Dalam upaya pengelolaan sampah, setiap rumah sakit diharapkan

mempunyai petugas kebersihan yang akan mengelola sampah. Karena begitu

besarnya resiko yang dihadapi oleh tenaga penanganan sampah medis ini, maka

perlu perlindungan bagi tenaga kerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja

(K3) agar tidak terjadi resiko penyakit akibat kerja (PAK) dan kecelakaan akibat

kerja, alat pelindung diri (APD) yang seharusnya digunakan oleh petugas

penanganan sampah medis yaitu berupa helm, masker, sarung tangan, pakaian

kerja khusus, sepatu khusus (Bungawati, 2009).

Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja dengan

pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan

penyakit, (preventif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan

(22)

20

derajat kesehatan masyarakat yang optimal (Soeaidy, 1996). Menurut Peraturan

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi tentang Alat Pelindung Diri (APD)

(2010) pasal 2 pengusaha wajib menyediakan APD bagi pekerja atau buruh di

tempat kerja sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan diberikan secara

cuma-cuma.

Menurut Mackenbach et al, dalam Achmadi (2007), bahwa ada hubungan

antara tingkat pendidikan dengan angka kematian dimana kelompok yang tingkat

pendidikannya rendah cendrung angka kematiannya tinggi. Sebaliknya tingkat

pendidikan yang tinggi cenderung memiliki tingkat kematian yang rendah.

Menurut Budiono (2003), salah satu cara yang efektif agar para pekerja

menggunakan APD yaitu dengan meningkatkan pengetahuan, wawasan dan

kesadaran akan pentingnya penggunaan APD yang benar serta tepat dalam

pemeliharaan dan penyimpanan.

Hasil penelitian Evryanti (2012) dari identifikasi dan penilaian resiko yang

dilakukan di klinik X menyimpulkan bahwa petugas kebersihan di klinik X

mempunyai resiko tertular penyakit dari pekerjaannya melakukan pembersihan

limbah, baik limbah tajam maupun limbah medis yang kesemuanya merupakan

kontak dengan alat bekas pasien. Penyakit yang dapat menularkan seperti

Hepatitis, HIV/AIDS.

Hasil penelitian Tombili dan Mardewi (2010) menunjukkan petugas

pengumpul sampah Dinas Kebersihan Kota Kendari yang diteliti pengetahuannya

tentang alat pelindung diri kurang berjumlah 12 orang (11,7%), cukup berjumlah

(23)

21

pengumpul sampah yang sikapnya tentang alat pelindung diri kurang berjumlah

13 orang (12,6%), cukup berjumlah 66 orang (64,1%) dan sikapnya baik

berjumlah 24 orang (23.3%). Tindakannya tentang alat pelindung diri kurang

berjumlah 50 orang (48.5%), cukup berjumlah 40 orang (38.8%) dan baik

berjumlah 13 orang (12.6%).

Hasil penelitian Bungawati (2009) menunjukkan penggunaan alat

pelindung diri bagi petugas penanganan sampah rumah sakit di kota Palu, hanya

sebagian kecil (25 %). Sebanyak 27 % responden bekerja dengan keamanan kerja

yang kurang aman dan 11% responden pernah mengalami penyakit umum.

Keselamatan kerja responden, 19% kurang baik dan 5% responden pernah

mengalami kecelakaan akibat tertusuk/tergores benda tajam.

Petugas cleaning service di RSUD Dr. Pirngadi Medan keseluruhannya

berjumlah 116 orang. Secara khusus, petugas cleaning service yang menangani

sampah medis dan non medis hanya berjumlah 11 orang di RSUD Dr. Pirngadi

Medan dan memiliki tugas mengangkut sampah medis rumah sakit ke Incinerator

dan sampah non medis ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) .

Setiap harinya petugas cleaning service memulai pekerjaannya pada pukul

07.00-15.00 WIB untuk shift 1 dan pada pukul 14.00-22.00 WIB untuk shift 2.

Untuk shift pagi, istirahat pada pukul 12.00-13.00 sedangkan shift sore waktu

istirahat dimulai pada pukul 18.30-19.30 WIB. Pihak manajemen rumah sakit juga

menyediakan alat pelindung diri bagi petugas cleaning service berupa sarung

(24)

22

Dari hasil survey pendahuluan, terlihat bahwa petugas cleaning service

yang menangani sampah medis jarang memakai Alat Pelindung Diri (APD)

berupa masker, sarung tangan, dan sepatu boot pada saat bekerja dan pernah

mengalami kecelakaan akibat tertusuk/tergores benda tajam. Hal tersebut

disebabkan oleh pemanfaatan APD yang kurang maksimal dari petugas cleaning

service.

Berdasarkan uraian diatas penulis ingin mengetahui gambaran

pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap pemakaian alat pelindung diri dalam

penanganan sampah medis pada petugas cleaning service di RSUD Dr. Pirngadi

Medan Tahun 2015.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis ingin

mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap

pemakaian alat pelindung diri dalam penanganan sampah medis pada petugas

cleaning service di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran perilaku terhadap pemakaian alat pelindung

diri dalam penanganan sampah medis pada petugas cleaning service di

(25)

23 1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan terhadap pemakaian alat

pelindung diri dalam penanganan sampah medis pada petugas cleaning

service.

2. Untuk mengetahui gambaran sikap terhadap pemakaian alat pelindung diri

dalam penanganan sampah medis pada petugas cleaning service.

3. Untuk mengetahui gambaran tindakan terhadap pemakaian alat pelindung

diri dalam penanganan sampah medis pada petugas cleaning service.

4. Untuk mengetahui gambaran karakteristik umur, tingkat pendidikan dan

masa kerja petugas cleaning service.

1.4Manfaat Penelitian

1. Sebagai masukan bagi pihak RSUD Dr. Pirngadi Medan tentang gambaran

pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap pemakaian alat pelindung diri

dalam penanganan sampah medis pada petugas cleaning service.

2. Menambah pengetahuan penulis dalam melakukan penelitian.

(26)

24 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku

Menurut Skinner (1938) yang dikutip oleh Notoadmodjo (2003), perilaku

merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari

luar). Respon ini meliputi respons yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan

tertentu dan respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh

perangsang tertentu.

Menurut Notoadmodjo (2003), perilaku merupakan suatu kegiatan atau

aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi pada hakikatnya perilaku manusia

adalah tindakan atau aktivitas manusia itu sendiri baik yang dapat diamati maupun

yang tidak dapat diamati secara langsung.

2.1.1 Pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi

setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indera penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh

melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang

sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan (knowledge)

adalah hasil tahu dari manusia terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang

memungkinkan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapinya

(27)

25

Sedangkan menurut Notoadmodjo (2007), tahap-tahap pengetahuan

tercakup didalam domain kognitif yang mempunyai 6 tahapan yaitu:

1) Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari

atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat pengetahuan

yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang

apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,

mendefinisikan, menyatakan.

2) Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk dapat menjelaskan

secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan

materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau

materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.

3) Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi dapat

diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan

sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya, dapat

menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil

(28)

26

(problem solving circle) didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus

yang diberikan.

4) Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur

organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis

ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan

(membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan

sebagainya.

5) Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu

didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan

kriteria-kriteria yang telah ada.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian

(29)

27

ukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas

(Notoadmodjo, 2007).

2.1.2 Sikap

Sikap adalah reaksi atau respon seseorang terhadap stimulus atau objek

tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan

(Notoatmodjo, 2005).

Menurut Azwar (2007), sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau

kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial,

atau secara sederhana, sikap adalah respons terhadap stimuli sosial yang telah

terkondisikan.

Menurut Allport (1954) yang dikutip oleh Notoadmodjo (2003), membagi

sikap ke dalam 3 (tiga) komponen pokok yaitu :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

3. Kecenderungan untuk bertindak.

Menurut Notoatmodjo, seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai

tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut :

1. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus

yang diberikan (objek).

2. Menanggapi (responding)

Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap

(30)

28

3. Menghargai (valuing)

Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif

terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain

dan bahkan mengajak atau memengaruhi orang lain.

4. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab adalah tingkatan sikap yang paling tinggi, yaitu

bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan

menerima segala resiko.

Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara

langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pertanyaan responden

terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan

pernyataan-pernyataan hipotesis kemudian ditanyakan pada pendapat responden

(Notoatmodjo, 2007).

2.1.3 Tindakan

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt

behaviour). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbedaan nyata diperlukan

faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah

fasilitas (Notoatmodjo, 2007).

Tindakan yang tercakup dalam domain psikomotorik mempunyai 4

(31)

29

1. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai ojek sehubungan dengan tindakan yang

akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama. Misalnya,

seorang ibu dapat memilih makanan yang bergizi tinggi bagi anaknya.

2. Respon terpimpin (guided response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai

dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua. Misalnya,

seorang ibu dapat memasak sayur dengan benar, mulai dari mencuci,

memotong, lamanya memasak, menutup pancinya dan sebagainya.

3. Mekanisme (mecanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara

otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah

mencapai praktek tingkat tiga. Misalnya, seorang ibu yang sudah biasa

mengimunisasikan bayi pada umur-umur tertentu, tanpa menunggu

perintah dari orang lain.

4. Adaptasi (adaptation)

Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang

dengan baik. Seseorang sudah dapat memodifikasi tindakan tanpa

mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Misalnya, ibu dapat mengolah

makanan bergizi tinggi dengan bahan yang lebih murah.

2.2 Umur

Menurut Wawan dan Dewi (2010), usia adalah umur individu yang

(32)

30

tingkat kematangan dan kekuatan seseorang lebih matang dalam berpikir dan

bekerja.

Umur mendapat perhatian karena akan mempengaruhi kondisi fisik,

mental, kemauan kerja, dan tanggung jawab seseorang. Menurut teori psikologi

perkembangan kerja, umur dapat digolongkan menjadi dewasa awal dan dewasa

lanjut. Umur pekerja dewasa awal diyakini dapat membangun kesehatannya

dengan cara mencegah suatu penyakit atau menanggulangi gangguan penyakitnya.

Untuk melakukan kegiatan tersebut, pekerja muda akan lebih disiplin menjaga

kesehatannya. Sedangkan pada umur dewasa lanjut akan mengalami kebebasan

dalam kehidupan bersosialisasi, kewajiban pekerja dewasa lanjut akan berkurang

terhadap kehidupan bersama.

2.3 Pendidikan

Pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan itu

terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang lebih

baik, lebih matang dan lebih dewasa pada diri individu, kelompok ataupun

masyarakat (Notoatmodjo,2007).

Pendidikan formal memberikan pengaruh besar dalam membuka wawasan

dan pemahaman terhadap nilai-nilai baru yang ada dalam lingkungnnya.

Seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah untuk

memahami perubahan yang terjadi dilingkungannya dan orang tersebut akan

menyerap perubahan tersebut apabila merasa bermanfaat bagi dirinya. Seseorang

(33)

31

menerima dan mengerti tentang peranan kesehatan yang disampaikan melalui

penyuluhan maupun media masa (Notoatmodjo, 2003).

2.4 Masa Kerja

Masa kerja adalah jangka waktu orang sudah bekerja dari pertama mulai

masuk hingga sekarang masih bekerja. Masa kerja dapat diartikan sebagai

sepenggal waktu yang cukup lama dimana seseorang tenaga kerja masuk dalam

satu wilayah tempat usaha sampai batas waktu tertentu (Suma’mur P.K., 1996).

Masa kerja merupakan keseluruhan pelajaran yang dipetik oleh seseorang

dari peristiwa yang dilalui dalam perjalanan hidupnya. Semakin lama tenaga kerja

bekerja, semakin banyak pengalaman yang dimiliki tenaga kerja yang

bersangkutan. Sebaliknya semakin singkat masa kerja, maka semakin sedikit

pengalaman yang diperoleh. Pengalaman bekerja banyak memberikan keahlian

dan keterampilan kerja, sebaliknya terbatasnya pengalaman kerja mengakibatkan

keahlian dan keterampilan yang dimiliki makin rendah.

Tenaga kerja baru biasanya belum mengetahui secara mendalam

seluk-beluk pekerjaan dan keselamatannya. Selain itu, mereka sering mementingkan

dahulu selesainya sejumlah pekerjaan tertentu yang diberikan kepada mereka,

sehingga keselamatan tidak cukup mendapatkan perhatian.

2.5 Alat Pelindung Diri (APD)

2.5.1 Pengertian Alat Pelindung Diri (APD)

Alat pelindung diri adalah seperangkat alat keselamatan yang digunakan

(34)

32

adanya pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan

penyakit akibat kerja (Tarwaka, 2008).

Menurut Suma’mur (2009), alat pelindung diri adalah suatu alat yang

dipakai untuk melindungi diri atau tubuh terhadap bahaya-bahaya kecelakaan

kerja.

APD adalah seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk

melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau

kecelakaan kerja. Upaya mencegah penyakit khususnya pada tenaga kerja dapat

dilakukan dengan berbagai cara pengendalian secara teknik, administrasi, dan

penggunaan alat pelindung diri. Penggunaan atau pemakaian alat pelindung diri

merupakan cara terakhir guna menanggulangi bahaya yang terjadi di tempat kerja

(Budiono, 2003).

Suma’mur (1996) menunjukkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam

pemakaian alat pelindung diri, yaitu:

1. Pengujian mutu

Alat pelindung diri harus memenuhi standar yang telah ditentukan untuk

menjamin bahwa alat pelindung diri akan memberikan perlindungan sesuai

dengan yang diharapkan. Semua alat pelindung diri sebelum dipasarkan

harus diuji lebih dahulu mutunya.

2. Pemeliharaan alat pelindung diri

Alat pelindung diri yang akan digunakan harus benar-benar sesuai dengan

(35)

benar-33

benar dapat memberikan perlindungan semaksimal mungkin pada tenaga

kerja.

3. Ukuran harus tepat

Adapun untuk memberikan perlindungan yang maksimum pada tenaga

kerja, maka ukuran alat pelindung diri harus tepat. Ukuran yang tidak tepat

akan menimbulkan gangguan pada pemakaiannya.

4. Cara pemakaian yang benar

Sekalipun alat pelindung diri disediakan oleh perusahaan, alat-alat ini tidak

akan memberikan manfaat yang maksimal bila cara memakainya tidak

benar.

Tenaga kerja harus diberikan pengarahan tentang :

a) Manfaat dari alat pelindung diri yang disediakan dengan potensi bahaya

yang ada.

b) Menjelaskan bahaya potensial yang ada dan akibat yang akan diterima

oleh tenaga kerja jika tidak memakai alat pelindung diri yang diwajibkan.

c) Cara memakai dan merawat alat pelindung diri secara benar harus

dijelaskan pada tenaga kerja.

d) Perlu pengawasan dan sanksi pada tenaga kerja menggunakan alat

pelindung diri.

e) Pemeliharaan alat pelindung diri harus dipelihara dengan baik agar tidak

menimbulkan kerusakan ataupun penurunan mutu.

f) Penyimpanan alat pelindung diri harus selalu disimpan dalam keadaan

(36)

34 2.5.2 Kriteria Alat Pelindung Diri (APD)

Beberapa kriteria dalam pemilihan alat pelindung diri sebagai berikut

(Tarwaka, 2008) :

1) Alat pelindung diri harus mampu memberikan perlindungan efektif kepada

pekerja atas potensi bahaya yang dihadapi ditempat kerja.

2) Alat pelindung diri mempunyai berat yang seringan mungkin, nyaman

dipakai dan tidak menjadi beban tambahan bagi pemakainya.

3) Bentuknya cukup menarik, sehingga tenaga kerja tidak malu memakainya.

4) Tidak menimbulkan gangguan kepada pemakainya, baik karena jenis

bahayanya maupun kenyamanan dan pemakiannya.

5) Mudah untuk dipakai dan dilepas kembali.

6) Tidak mengganggu penglihatan, pendengaran dan pernafasan serta

gangguan kesehatan lainnya pada waktu dipakai dalam waktu yang cukup

lama.

7) Tidak mengurangi persepsi sensoris dalam menerima tanda-tanda

peringatan.

8) Suku cadang alat pelindung diri yang bersangkutan cukup tersedia

dipasaran.

9) Mudah disimpan dan dipelihara pada saat tidak digunakan.

10) Alat pelindung diri yang dipilih harus sesuai dengan standar yang

(37)

35

2.5.3 Macam-macam Alat Pelindung Diri (APD)

Menurut Tarwaka yang dikutip oleh Harwanti (2009), Alat Pelindung Diri

(APD) ada berbagai macam yang berguna untuk melindungi seseorang dalam

melakukan pekerjaan yang fungsinya untuk mengisolasi tubuh tenaga kerja dari

potensi bahaya di tempat kerja. Berdasarkan fungsinya, ada beberapa macam APD

yang digunakan oleh tenaga kerja, antara lain:

1. Alat Pelindung Kepala (Headwear)

Alat pelindung kepala ini digunakan untuk mencegah dan melindungi

rambut terjerat oleh mesin yang berputar dan untuk melindungi kepala dari

bahaya terbentur benda tajam atau keras, bahaya kejatuhan benda atau terpukul

benda yang melayang, melindungi jatuhnya mikroorganisme, percikan bahan

kimia korosif, panas sinar matahari dll. Jenis alat pelindung kepala antara lain:

a) Topi pelindung (Safety Helmets)

Alat ini berfungsi untuk melindungi kepala dari benda-benda keras yang

terjatuh, benturan kepala, terjatuh dan terkena arus listrik. Topi pelindung

harus tahan terhadap pukulan, tidak mudah terbakar, tahan terhadap

perubahan iklim dan tidak dapat menghantarkan arus listrik. Topi

pelindung dapat terbuat dari plastik (Bakelite), serat gelas (fiberglass)

maupun metal.

b) Tutup kepala

Alat ini berfungsi untuk melindungi/mencegah jatuhnya mikroorganisme

(38)

36

dan percikan bahan-bahan dari pasien. Tutup kepala ini biasanya terbuat

dari kain katun.

c) Topi/Tudung

Alat ini berfungsi untuk melindungi kepala dari api, uap-uap korosif, debu,

dan kondisi cuaca buruk. Tutup kepala ini biasanya terbuat dari asbestos,

kain tahan api/korosi, kulit dan kain tahan air.

2. Alat Pelindung Mata

Alat pelindung mata digunakan untuk melindungi mata dari percikan

bahan kimia korosif, debu dan partikel-partikel kecil yang melayang di udara, gas

atau uap yang dapat menyebabkan iritasi mata, radiasi gelombang

elegtromagnetik, panas radiasi sinar matahari, pukulan atau benturan benda keras,

dll. Jenis alat pelindung mata antara lain:

a) Kaca mata biasa (spectacle goggles)

Alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari partikel-partikel kecil, debu

dan radiasi gelombang elegtromagnetik.

b) Goggles

Alat ini berfungsi untuk melindungi mata dari gas, debu, uap, dan percikan

larutan bahan kimia. Goggles biasanya terbuat dari plastik transparan

dengan lensa berlapis kobalt untuk melindungi bahaya radiasi gelombang

elegtromagnetik mengion.

3. Alat Pelindung Pernafasan (Respiratory Protection)

Alat pelindung pernafasan digunakan untuk melindungi pernafasan dari

(39)

37

yang bersifat rangsangan. Sebelum melakukan pemilihan terhadap suatu alat

pelindung pernafasan yang tepat, maka perlu mengetahui informasi tentang

potensi bahaya atau kadar kontaminan yang ada di lingkungan kerja. Hal-hal yang

perlu diketahui antara lain:

a. Bentuk kontaminan di udara, apakah gas, uap, kabut, fume, debu atau

kombinasi dari berbagai bentuk kontaminan tersebut.

b. Kadar kontaminan di udara lingkungan kerja.

c. Nilai ambang batas yang diperkenankan untuk masing-masing

kontaminan.

d. Reaksi fisiologis terhadap pekerja, seperti dapat menyebabkan iritasi mata

dan kulit.

e. Kadar oksigen di udara tempat kerja cukup tidak, dll.

Jenis alat pelindung pernafasan antara lain:

a) Masker

Alat ini digunakan untuk mengurangi paparan debu atau partikel-partikel

yang lebih besar masuk kedalam saluran pernafasan.

b) Respirator

Alat ini digunakan untuk melindungi pernafasan dari paparan debu, kabut,

uap logam, asap, dan gas-gas berbahaya. Jenis-jenis respirator ini antara

lain:

a. Chemical Respirator

Merupakan catridge respirator terkontaminasi gas dan uap dengan

(40)

38

dan silicagel. Sedangkan canister digunakan untuk mengadsorbsi

khlor dan gas atau uap zat organik.

b. Mechanical Filter Respirator

Alat pelindung ini berguna untuk menangkap partikel-partikel zat

padat, debu, kabut, uap logam dan asap. Respirator ini biasanya

dilengkapi dengan filter yang berfungsi untuk menangkap debu dan

kabut dengan kadar kontaminasi udara tidak terlalu tinggi atau partikel

yang tidak terlalu kecil. Filter pada respirator ini terbuat dari fiberglas

atau wol dan serat sintetis yang dilapisi dengan resin untuk memberi

muatan pada partikel.

4. Alat Pelindung Tangan (Hand Protection)

Alat pelindung tangan digunakan untuk melindungi tangan dan bagian

lainnya dari benda tajam atau goresan, bahan kimia, benda panas dan dingin,

kontak dengan arus listrik. Jenis alat pelindung tangan antara lain:

a) Sarung tangan bersih

Sarung tangan bersih adalah sarung tangan yang di disinfeksi tingkat

tinggi, dan digunakan sebelum tindakan rutin pada kulit dan selaput lendir

misalnya tindakan medik pemeriksaan dalam, merawat luka terbuka.

Sarung tangan bersih dapat digunakan untuk tindakan bedah bila tidak ada

(41)

39

b) Sarung tangan steril

Sarung tangan steril adalah sarung tangan yang disterilkan dan harus

digunakan pada tindakan bedah. Bila tidak tersedia sarung tangan steril

baru dapat digunakan sarung tangan yang didisinfeksi tingkat tinggi.

c) Sarung tangan rumah tangga (gloves)

Sarung tangan jenis ini bergantung pada bahan-bahan yang digunakan:

a. Sarung tangan yang terbuat dari bahan asbes, katun, wool untuk

melindungi tangan dari api, panas, dan dingin.

b. Sarung tangan yang terbuat dari bahan kulit untuk melindungi tangan

dari listrik, panas, luka, dan lecet.

c. Sarung tangan yang terbuat dari bahan yang dilapisi timbal (Pb) untuk

melindungi tangan dari radiasi elegtromagnetik dan radiasi pengion.

d. Sarung tangan yang terbuat dari bahan karet alami (sintetik) untuk

melindungi tangan dari kelembaban air, zat kimia.

e. Sarung tangan yang terbuat dari bahan poli vinyl chlorida (PVC)

untuk melindungi tangan dari zat kimia, asam kuat, dan dapat sebagai

oksidator.

5. Baju Pelindung (Body Potrection)

Baju pelindung digunakan untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuh

dari percikan api, suhu panas atau dingin, cairan bahan kimia, dll. Jenis baju

(42)

40

a) Pakaian kerja

Pakaian kerja yang terbuat dari bahan-bahan yang bersifat isolasi seperti

bahan dari wool, katun, asbes, yang tahan terhadap panas.

b) Celemek

Pelindung pakaian yang terbuat dari bahan-bahan yang bersifat kedap

terhadap cairan dan bahan-bahan kimia seperti bahan plastik atau karet.

c) Apron

Pelindung pakaian yang terbuat dari bahan timbal yang dapat menyerap

radiasi pengion.

6. Alat Pelindung Kaki (Feet Protection)

Alat pelindung kaki digunakan untuk melindungi kaki dan bagian lainnya

dari benda-benda keras, benda tajam, logam/kaca, larutan kimia, benda panas,

kontak dengan arus listrik. Jenis alat pelindung kaki antara lain:

a) Sepatu steril

Sepatu khusus yang digunakan oleh petugas yang bekerja di ruang bedah,

laboratorium, ICU, ruang isolasi, ruang otopsi.

b) Sepatu kulit

Sepatu khusus yang digunakan oleh petugas pada pekerjaan yang

membutuhkan keamanan oleh benda-benda keras, panas dan berat, serta

(43)

41

c) Sepatu boot

Sepatu khusus yang digunakan oleh petugas pada pekerjaan yang

membutuhkan keamanan oleh zat kimia korosif, bahan-bahan yang dapat

menimbulkan dermatitis, dan listrik.

7. Alat Pelindung Telinga (Ear Protection)

Alat pelindung telinga digunakan untuk mengurangi intensitas suara yang

masuk ke dalam telinga. Jenis alat pelindung telinga antara lain:

a) Sumbat telinga (Ear plug)

Ukuran dan bentuk saluran telinga tiap-tiap individu dan bahkan untuk

kedua telinga dari orang yang sama adalah bebeda. Untuk itu sumbat

telinga (Ear plug) harus dipilih sedemikian rupa sehingga sesuai dengan

ukuran dan bentuk saluran telinga pemakainya. Pada umumnya diameter

saluran telinga antara 5-11 mm dan liang telinga pada umumnya berbentuk

lonjong dan tidak lurus. sumbat telinga (Ear plug) dapat terbuat dari kapas

plastik, karet alami dan bahan sintetis. Untuk Ear plug yang terbuat dari

kapas, spons, dan malam (wax) hanya dapat digunakan untuk sekali pakai

(Disposable). Sedangkan yang terbuat dari bahan karet plastik yang

dicetak dapat digunakan berulang kali (Non Disposable). Alat ini dapat

mengurangi suara sampai 20 dB.

b) Tutup telinga (Ear muff)

Alat pelindung tangan jenis ini terdiri dari dua buah tutup telinga dan

sebuah headband. Isi dari tutup telinga dapat berupa cairan atau busa yang

(44)

42

waktu yang cukup lama, efektivitas ear muff dapat menurun karena

bantalannya menjadi mengeras dan mengerut sebagai akibat reaksi dari

bantalan dengan minyak dan keringat pada permukaan kulit. Alat ini dapat

mengurang intensitas suara sampai 30 dB dan juga dapat melindungi

bagian luar telinga dari benturan benda keras atau percikan bahan kimia.

8. Sabuk Pengaman Keselamatan (Safety Belt)

Alat pelindung tangan digunakan untuk melindungi tubuh dari

kemungkinan terjatuh dari ketinggian, seperti pada pekerjaan mendaki, memanjat

dan pada pekerjaan konstruksi bangunan.

2.5.4 Jenis Alat Pelindung Diri Bagi Petugas Cleaning Service

Menurut KepMenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan

kesehatan lingkungan rumah sakit bahwa petugas pengelola sampah harus

menggunakan alat pelindung diri yang terdiri :

a) Topi/helm;

b) Masker;

c) Pelindung mata;

d) Pakaian panjang (coverall);

e) Apron untuk industri;

f) Pelindung kaki/sepatu boot; dan

g) Sarung tangan khusus (disposable gloves atau heavy duty gloves).

2.6 Rumah Sakit

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

(45)

43

rawat inap, rawat jalan, dann gawat darurat (Undang-Undang No. 44 Tentang

Rumah Sakit Tahun 2009).

Rumah Sakit mempunyai fungsi (Undang-Undang No. 44 Tentang Rumah

Sakit Tahun 2009) :

a. penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai

dengan standar pelayanan rumah sakit.

b. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan

kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan

medis.

c. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam

rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

d. penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi

bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan

memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Rumah sakit berfungsi untuk menyelenggarakan pelayanan medik,

pelayanan penunjang medik dan non medik, pelayanan dan asuhan keperawatan,

pelayanan rujukan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan serta

administrasi umum dan keuangan. Secara tradisional, maksud dasar keberadaan

rumah sakit adalah mengobati dan perawatan penderita sakit dan terluka.

Sehubungan dengan fungsi dasar ini, rumah sakit melakukan pendidikan terutama

bagi mahasiswa kedokteran, perawat dan personel lainnya. Penelitian telah juga

merupakan fungsi penting. Dalam zaman modern ini fungsi keempat yaitu,

(46)

44

fungsi rumah sakit. Jadi empat fungsi dasar rumah sakit adalah pelayanan

penderita, pendidikan, penelitian dan kesehatan masyarakat (Siregar, 2004).

Berbagai kegiatan rumah sakit menghasilkan bermacam-macam limbah

yang berupa benda cair, padat, dan gas. Hal ini mempunyai konsekuensi perlunya

pengelolaan limbah rumah sakit sebagai bagian dari kegiatan penyehatan

lingkungan rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya

pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah rumah sakit (Adisasmito,

2009).

2.7 Sampah Medis

Sampah rumah sakit adalah bahan yang tidak berguna, tidak digunakan

atau yang terbuang dapat dibedakan menjadi sampah medis dan non medis dan

dikategorikan sampah radioaktif, sampah infeksius, sampah citoktoksis dan

sampah umum atau domestik (Depkes RI, 2002).

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) sekitar 10-25%

limbah layanan kesehatan digolongkan sebagai limbah berbahaya. Sampah medis

atau limbah klinis adalah limbah berasal dari pelayanan medik, perawatan gigi,

farmasi, penelitian, perawatan, pengobatan atau pendidikan yang menggunakan

bahan-bahan beracun, infeksius, berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika

dilakukan pengamanan tertentu (Fauziah dkk., 2005;. Marinkovic et al., 2008).

Menurut Wicaksono yang dikutip oleh Widiartha (2012), bentuk sampah

klinis bermacam-macam dan berdasarkan potensi yang terkandung di dalamnya

(47)

45

1. Sampah benda tajam

Sampah benda tajam adalah obyek atau alat yang memiliki sudut tajam,

sisi, ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit

seperti jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan

gelas, pisau bedah. Semua benda tajam ini memiliki potensi bahaya dan

dapat menyebabkan cedera melalui sobekan atau tusukan. Benda-benda

tajam yang terbuang mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh,

bahan mikrobiologi, bahan beracun atau radio aktif.

2. Sampah Infeksius

Sampah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut:

a. Sampah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi

penyakit menular (perawatan intensif).

b. Sampah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan

mikrobiologi dari poliklinik dan ruang perawatan/isolasi penyakit

menular.

3. Sampah Jaringan Tubuh

Sampah jaringan tubuh meliputi organ, anggota badan, darah dan cairan

tubuh, biasanya dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi.

4. Sampah Sitotoksik

Sampah sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin

terkontaminasi dengan obat sitotoksik selama peracikan, pengangkutan

(48)

46

5. Sampah Farmasi

Sampah farmasi ini dapat berasal dari obat-obat kadaluwarsa, obat-obat

yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau

kemasan yang terkontaminasi, obat-obat yang dibuang oleh pasien atau

dibuang oleh masyarakat, obat-obat yang tidak lagi diperlukan oleh

institusi yang bersangkutan dan sampah yang dihasilkan selama produksi

obat-obatan.

6. Sampah Kimia

Sampah kimia adalah limbah yang dihasilkan dari penggunaan bahan

kimia dalam tindakan medis, veterinari, laboratorium, proses sterilisasi,

dan riset.

7. Sampah Radioaktif

Sampah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop

yang berasal dari penggunaan medis atau riset radio nukleida. Sampah ini

dapat berasal dari antara lain : tindakan kedokteran nuklir,

radio-imunoassay dan bakteriologis; dapat berbentuk padat, cair atau gas.

2.7.1 Penanganan Sampah Medis

Pengelolaan sampah harus dilakukan dengan benar dan efektif dan

memenuhi persyaratan sanitasi. Sebagai sesuatu yang tidak digunakan lagi, tidak

disenangi, dan yang harus dibuang maka sampah tentu harus dikelola dengan

baik. Syarat yang harus dipenuhi dalam pengelolaan sampah ialah tidak

mencemari udara, air, atau tanah, tidak menimbulkan bau (segi estetis) tidak

(49)

47

Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2008 pengelolaan sampah merupakan

kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi

pengurangan dan penanganan sampah (Siahaan, 2010).

Menurut KepMenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan

kesehatan lingkungan rumah sakit didalam pelaksanaan pengelolaan sampah

setiap rumah sakit harus melakukan reduksi limbah dimulai dari sumber, harus

mengelola dan mengawasi penggunaan bahan kimia yang berbahaya dan beracun,

harus melakukan pengelolaan stok bahan kimia dan farmasi. Setiap peralatan yang

digunakan dalam pengelolaan limbah medis mulai dari pengumpulan,

pengangkutan, dan pemusnahan harus melalui sertifikasi dari pihak yang

berwenang. Hal ini dapat dilaksanakan dengan melakukan :

1. Menyeleksi bahan-bahan yang kurang menghasilkan limbah sebelum

membelinya.

2. Menggunakan sedikit mungkin bahan-bahan kimia.

3. Mengutamakan metode pembersihan secara fisik daripada secara kimiawi.

4. Mencegah bahan-bahan yang dapat menjadi limbah seperti dalam kegiatan

perawatan dan kebersihan.

5. Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku sampai menjadi

limbah bahan berbahaya dan beracun.

6. Memesan bahan-bahan sesuai kebutuhan.

7. Menggunakan bahan-bahan yang diproduksi lebih awal untuk menghindari

kadaluarsa.

(50)

48

9. Mengecek tanggal kadaluarsa bahan-bahan pada saat diantar oleh

distributor.

Hal ini dilakukan agar sampah yang dihasilkan dari rumah sakit dapat

dikurangi sehingga dapat menghemat biaya operasional untuk pengelolaan

sampah (Dekpes RI, 2004).

Tietjen dan Bossemeyer (2004) mengatakan bahwa maksud pengelolaan

sampah rumah sakit ialah :

1. Melindungi petugas pembuangan sampah dari perlukaan;

2. Melindungi penyebaran infeksi terhadap para petugas kesehatan;

3. Mencegah penularan infeksi pada masyarakat sekitarnya;

4. Membuang bahan-bahan berbahaya (bahan toksin dan radioaktif) dengan

aman.

2.7.2 Tahapan Penanganan Sampah Medis

Menurut Depkes RI yang dikutip oleh Widiartha (2012), penanganan

limbah medis terdiri dari beberapa tahapan, antara lain sebagai berikut:

1) Pemilahan sampah

Secara umum pemilahan adalah proses pemisahan limbah dari sumbernya,

dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1204 Tahun 2004 Tentang

Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit menjelaskan bahwa pemilahan

jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang terdiri dari limbah infeksius,

limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksik, limbah

kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan

(51)

49

Kunci pengelolaan sampah layanan kesehatan secara efektif adalah

pemilahan dan identifikasi sampah. Pemilahan merupakan tanggung jawab yang

dibebankan pada produsen atau penghasil sampah dan harus dilakukan sedekat

mungkin dengan tempat dihasilkanya sampah. Cara yang tepat untuk

mengidentifikasi kategori sampah/limbah adalah adalah dengan melakukan

pemilahan sampah berdasarkan warna kantong dan kontainer yang digunakan

(WHO, 2005). Pemilahan sampah harus dilakukan mulai dari sumber yang

menghasilkan sampah (Depkes RI, 2004).

Tabel 2.1 Jenis Wadah dan Label Limbah Medis Sesuai Kategorinya

Kategori Warna

Infeksius Kuning Kantong plastik

kuat, anti bocor, atau kontainer yang dapat disterilisasi dengan otoklaf

Sitotoksis Ungu Kontainer

plastik kuat dan

(52)

50

2) Pengumpulan sampah

Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah tanpa

memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya. Sedangkan limbah jarum suntik

tidak dianjurkan untuk untuk dimanfaatkan kembali. Apabila rumah sakit maupun

puskesmas tidak memiliki jarum sekali pakai (disposable), limbah jarum suntik

dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui proses salah satu metode sterilisasi

(Permenkes RI, 2004).

Tempat-tempat penampungan sampah hendaknya memenuhi persyaratan

minimal sebagai berikut (Depkes RI, 2004) :

a. bahan tidak mudah karat ;

b. kedap air, terutama untuk menampung sampah basah ;

c. bertutup rapat ;

d. mudah dibersihkan ;

e. mudah dikosongkan atau diangkut ;

f. tidak menimbulkan bising ;

g. tahan terhadap benda tajam dan runcing.

Berikut beberapa rekomendasi khusus yang harus dipatuhi oleh tenaga

pendukung yang bertugas mengumpulkan limbah:

1. Limbah harus dikumpulkan setiap hari (atau sesuai frekuensi yang

ditetapkan) dan diangkut ke pusat lokasi penampungan yang ditentukan.

2. Jangan memindahkan satu kantong limbah pun kecuali labelnya memuat

keterangan lokasi produksi (rumah sakit dan bangsal atau

(53)

51

3. Kantong dan kontainer harus diganti segera dengan kantong dan kontainer

baru dari jenis yang sama (WHO, 2005).

3) Pengangkutan

Pengangkutan limbah medis dari setiap ruangan penghasil limbah medis

ke tempat penampungan sementara menggunakan troli khusus yang tertutup.

Penyimpanan limbah medis harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim hujan

paling lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam (Permenkes RI,

2004).

Pengangkutan sampah ke luar rumah sakit menggunakan kendaraan

khusus. Kantong sampah sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut harus

diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutup. Kantong sampah juga harus

aman dari jangkauan manusia maupun binatang (Depkes. RI, 2004).

a. Sampah medis hendaknya diangkut sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan. Sementara menunggu pengangkutan untuk dibawa ke

insinerator, atau pengangkutan oleh Dinas Kesehatan hendaknya:

1. Disimpan dalam kontainer yang memenuhi syarat.

2. Ditempatkan dilokasi yang strategis, merata dengan ukuran disesuaikan dengan frekuensi pengumpulannya dengan kantong

berkode warna yang telah ditentukan secara terpisah.

3. Diletakkan pada tempat kering/mudah dikeringkan, lantai tidak rembes, dan disediakan sarana pencuci.

Figur

Gambaran Umum RSUD Dr. Pirngadi Medan ...................................... 49
Gambaran Umum RSUD Dr Pirngadi Medan 49 . View in document p.11
Tabel 2.1 Jenis Wadah dan Label Limbah Medis Sesuai Kategorinya
Tabel 2 1 Jenis Wadah dan Label Limbah Medis Sesuai Kategorinya . View in document p.51
Tabel 3.1 Pelaksanaan Kegiatan Perolehan Data
Tabel 3 1 Pelaksanaan Kegiatan Perolehan Data . View in document p.65
Tabel 4.1  Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di
Tabel 4 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di . View in document p.70
Gambar 4.1 Persentase distribusi frekuensi responden berdasarkan umur
Gambar 4 1 Persentase distribusi frekuensi responden berdasarkan umur . View in document p.71
Tabel 4.2  Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 4 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan . View in document p.71
Tabel 4.3  Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Masa Kerja di
Tabel 4 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Masa Kerja di . View in document p.72
Tabel 4.4  Distribusi Jawaban Pengetahuan Responden terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis di RSUD Dr
Tabel 4 4 Distribusi Jawaban Pengetahuan Responden terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis di RSUD Dr. View in document p.73
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di RSUD Dr.
Tabel 4 5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di RSUD Dr . View in document p.74
Gambar 4.4 Persentase distribusi frekuensi pengetahuan responden
Gambar 4 4 Persentase distribusi frekuensi pengetahuan responden . View in document p.75
Tabel 4.6 Distribusi Jawaban Sikap Responden terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis di RSUD Dr.Pirngadi Medan
Tabel 4 6 Distribusi Jawaban Sikap Responden terhadap Pemakaian Alat Pelindung Diri dalam Penanganan Sampah Medis di RSUD Dr Pirngadi Medan . View in document p.76
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Sikap Responden di RSUD Dr. Pirngadi
Tabel 4 7 Distribusi Frekuensi Sikap Responden di RSUD Dr Pirngadi . View in document p.77
Gambar 4.5 Persentase distribusi frekuensi sikap responden
Gambar 4 5 Persentase distribusi frekuensi sikap responden . View in document p.78
Gambar 4.6 Persentase distribusi frekuensi tindakan responden
Gambar 4 6 Persentase distribusi frekuensi tindakan responden . View in document p.79
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Tabulasi Silang Pengetahuan dengan
Tabel 4 10 Distribusi Frekuensi Tabulasi Silang Pengetahuan dengan . View in document p.80
Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Tabulasi Silang Sikap dengan Tindakan
Tabel 4 11 Distribusi Frekuensi Tabulasi Silang Sikap dengan Tindakan . View in document p.80
Gambar 1 Pengisian Kuesioner & Wawancara
Gambar 1 Pengisian Kuesioner Wawancara . View in document p.114
Gambar 3 Petugas  cleaning service menggunakan APD secara lengkap
Gambar 3 Petugas cleaning service menggunakan APD secara lengkap . View in document p.115
Gambar 4 Petugas cleaning service hanya menggunakan masker dan sarung tangan saat menangani sampah medis
Gambar 4 Petugas cleaning service hanya menggunakan masker dan sarung tangan saat menangani sampah medis . View in document p.115
Gambar 5 Petugas  cleaning service hanya menggunakan masker dan sarung tangan saat menangani sampah medis
Gambar 5 Petugas cleaning service hanya menggunakan masker dan sarung tangan saat menangani sampah medis . View in document p.116
Gambar 6 Petugas cleaning service tidak menggunakan APD saat menangani sampah medis
Gambar 6 Petugas cleaning service tidak menggunakan APD saat menangani sampah medis . View in document p.116

Referensi

Memperbarui...