MELAWAN EKSPLOITASI TUBUH ANTARA FEMINISME BARAT
DAN ISLAM
Ayub
(Pendidikan Agama Islam - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) Email: [email protected]
Abstract : This paper discusses about one of the major themes in the movement and thought in Western feminism namely the issue of the exploitation of women's bodies. The modern feminism was born in the context of Western civilization. This paper discussion starts from a review of how Western society treats women and an effort from feminism in changing the community. Then, this paper will explain the main point about how come the feminism stuck in a similar pattern to their opponent society. Islam will describe a unique way of looking at this issue.
Keywords: feminism, body exploitation, movement
Abstrak: Makalah ini mendiskusikan salah satu tema dalam pergerakan dan pemikiran feminism Barat, yakni persoalan eksploitasi terhadap tubuh perempuan Bagaimana pun feminism modern lahir dalam konteks peradaban Barat, olehnya Pembahasan dimulai dari tinjauan terhadap cara Barat memperlakukan perempuan, kemudian usaha feminisme dalam merombak masyarakat tersebut. Selanjutnya akan ditunjukan titik fatal yang membuat feminisme terjebak pada pola yang sama dengan masyarakat yang mereka lawan dan cara Islam yang unik dalam melihat persoalan ini.
Kata kunci : Feminisme, Eksploitasi Tubuh Perempuan, Hijab
PENDAHULUAN
Bagi kaum feminis, tubuh adalah aset terbesar perempuan dan selalu jadi sasaran objektifikasi, eksploitasi, segregasi, pembentukan citra ideal dan sederet dosa patriarkis lainnya. Olehnya, mereka beranggapan kontrol penuh atas tubuh adalah bentuk kebebasan yang perlu dicapai. Dari sinilah lahir slogan my body is my right dan menjadi slogan kampanye feminis (https://campaigns.amnesty.org/ campaigns/my-body-my-rights). Bentuk paling ekstrim bisa dilihat pada aksi nudis kelompok feminis ektrim Femen. Dengan menanggalkan pakaian dan menentang semua norma, para gadis Femen
beranggapan telah meruntuhkan alat kotrol musuh mereka. Pakaian adalah simbol fashion, alat perusahaan mengeksploitasi tubuh perempuan demi meraih keuntungan. Sedangkan norma terutama agama adalah konstruk masyarakat patriarkis untuk membatasi ruang gerak perempuan.
▸ Baca selengkapnya: catatan tubuh adalah
(2)tentang solusi tersebut. Pembahasan dimulai dari tinjauan singkat terhadap cara Barat memperlakukan perempuan, kemudian usaha feminisme dalam merombak masyarakat tersebut. Feminisme yang dimaksud di sini adalah gerakan perempuan yang mendapatkan momentum kelahirannya dari pemikiran Mary Wollstonecratf abad ke-18 di Eropa, dimana kemunculannya sangat kental dengan konteks peradaban Barat. Selanjutnya, akan ditunjukan titik fatal yang membuat feminisme terjebak pada pola yang sama dengan masyarakat yang mereka lawan. Berikutnya, dipaparkan cara Islam yang unik dalam melihat persoalan ini.
PEMBAHASAN
A.Perempuan Barat (Keterjebakan Pada Tubuh)
Menurut sejarah peradaban Barat, perempuan menjadi korban persekusi yang berlarut-larut. Pandangan rendah terhadap perempuan bisa ditarik hingga masa Yunani yang sering diagung-agungkan sebagai akar kebudayaan Barat. Aristoteles, filsuf agung Athena, berkata bahwa perempuan adalah “pria yang belum lengkap” (Jostein Gardner, 2013 : 193). Ketika peradaban Barat diambil alih oleh Kekristenan setelah masa Konstantin Agung, nasib perempuan tidak banyak
berubah. Pada masa dark age, Gereja menguasai seluruh lini kehidupan di Barat dan membentuk cara mereka melihat dunia (Adian Husaini, 2005: 33). Pandangan petinggi gereja yang sangat negatif terhadap perempuan otomatis mempengaruhi cara masyarakat Barat dalam memperlakukan perempuan (Hamid Fahmi Zarkasyi, 2012: xx).
terlarang, orang pertama yang mendustai hukum Tuhan, berani menggoda Adam yang Iblis pun tidak berani melakukannya, merusak imej Tuhan, dan penyebab kematian Anak Allah (Yesus) untuk menebus dosa manusia (Hendri Salahuddin, 2012 : 7).
Pandangan hina terhadap perempuan kemudian menjadi landasan dari pesekusi yang bisa terjadi melalui berbagai praktik. Pada masa ini perempuan mengalami penyiksaan yang dahsyat oleh gereja dengan institusi Inquisisi. Kedudukan perempuan yang rendah di mata Gereja membaut mereka gampang dituduh terlibat di dalam praktik heresy, atau perbuatan bidah melawan ortodoksi Gereja. Selain itu, peremuan juga kerap dihukum bakar hidup-hidup sebab dituduh sebagai penyihir. Praktek witch-hunt yang pernah dilakukan di daratan Eropa pada masa abab pertengahan ini merupakan bentuk penindasan perempuan yang paling kejam. Elspeth Whithney dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa, faktor gender sangat dominan dalam praktek perburuan penyihir tersebut. Kebanyakan korban adalah perempuan (Elspeth Whithney, 1995: 77).
Ketika Eropa memasuki masa pencerahan, perempuan menemukan celah untuk memperbaiki nasib mereka. Gerakan yang timbul dari kesempatan ini lambat laun berkembang menjadi feminisme.
liberal, maka cara mereka memperlakukan perempuan pun berubah. Pandangan dunia liberal menghasilkan gerakan feminisme liberal marxis-sosialis. Begitu juga ketika posmodernisme berkembang di Barat, gerakan perempuan di sana menjadi bercorak posmodernis dan melahirkan feminisme posmodernis (Hamid Fahmi Zarkasyi, 2012 : 265). Setiap gelombang gerakan tersebut menekankan tujuan perjuangan mereka pada hal-hal yang berbeda tergantung cara mereka melihat perempuan.
Apabila dicermati, setiap cara pandang di atas selalu melihat perempuan dengan penekanan pada tubuh mereka. Aristoteles menilai rendah perempuan sebab menurut pengamatannya, perempuan adalah lebih lemah secara fisik, pasif dan bagaikan kebuh yang siap ditanami para pria. Tokoh-tokoh Gereja yang berangkat dari doktrin original sin yang melimpahkan kesalahan kepada Eva melihat kutukan kepada perempuan termanifestasi dalam bentuk kehamilan yang menyakitkan. Ketika terbebas dari kekuasaan penuh Gereja pun, masyarakat Barat masih terus menilai perempuan berdasarkan tubuhnya. Akibatnya munculah objektifikasi dan idealisasi tubuh perempuan dimana masyarakat memberikan standar-standar tertentu yang harus dipenuhi oleh tubuh perempuan, para perempuan pun terpaksa mengikutinya
sehingga terkadang menghasilkan ketegangan mental (Barbara L. Fredrickson And Tomi‐Ann Roberts, 1997 : 73).
Objektivikasi menggambarkan tubuh perempuan direpresentasikan secara negatif sebagai objek dari pandangan laki-laki dalam konvensi-konvensi visual baik seni adiluhung maupun budaya populer (Sarah Gamble, 2010 : 148). Idealisasi di dalam seni adiluhung tampak pada tradisi The Old Master seniman-seniman ternama seperti Raphael, Da Vinci dan lainnya yang menggambarkan tubuh peremuan dengan bentuk tertentu, bentuk-bentuk tersebutlah yang disebut “cantik” atau “indah”.Sedangkan pada budaya populer tampak jelas pada iklan-iklan kosmetik atau pencitraan tokoh cantik di dalam film dan sinetron.
pihak lainnya justru stagnan dalam penderitaan (Brigitta Benzing et al, 2003: 21). Dalam konteks tubuh perempuan, industri membuat hubungan transaksional dengan perempuan dan memanfaatkan tubuhnya untuk berkembang tetapi pada saat yang sama perempuan dibiarkan tetap stagnan bahkan menderita. Eksploitasi tetap ada sebab masyarakat tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk keluar dari belenggu pesona tubuhnya sendiri. Pesona tersebut menjadi satu-satunya nilai jual sebab hanya pesona tubuhlah yang dianggap berharga darinya. Lingkaran ini terus berlanjut sebab pihak pengeksploitasi, meraih keuntungan dari tubuh perempuan.
Respon feminisme terhadap objektifikikasi, idealisasi, dan eksploitasi justru berangkat dari titik pandang yang sama; yakni tubuh perempuan. Feminisme gelombang kedua pada tahun 1970-an menitik beratkan wacana mereka salah satunya pada perlawanan terhadap objektifikasi. Perlawanan tersebut terepresentasikan dalam bentuk penolakan atas fesyen dan acara yang mengangungkan tubuh perempuan seperti pemilihan ratu kecantikan. Mereka hendak “mencemarkan” citra ideal yang dibentuk oleh masyarakat patrirkis atau industri terhadap tubuh perempuan (Sarah Gamble, 2010 : 148).
“Pencemaran” tersebut bermakna bahwa para feminis membuat representasi lain tentang tubuh perempuan yang berlawanan dengan idealisasi yang ada. Feminis menolak keras tubuh yang diidealkan di dalam fesyen ala industri sembari membentuk fesyen mereka sendiri dalam bentuk potongan rambut pendek, setelan laki-laki, dan telinga yang tertindik. Ironis memang, sebab protes tersebut malah membuat mereka semakin tenggelam menjadi male clone, (tiruan laki-laki) yang justru menegaskan kualitas maskulin sebagai parameter keunggulan (Ratna Megawangi, 1999 : 8).
tubuh perempuan. Fiona Carson ketika membahas persoalan tubuh dan feminisme menyatakan ;
Kritik feminis telah berkembang selama tiga puluh tahun terakhir sebagai sebuah penyeimbang dari proses konstan atas objektivikasi dan idealisasi yang dibangun oleh industri dan media, yang melalui proses-proses internalisasi telah menjadi sensor kultural di dalamnya. Seiring berjalannya waktu semakin beragam pula saura kritikan yang mencerminkan perbedaan-perbedaan sudut pandang dalam feminism (Sarah Gamble, 2010 : 161).
Feminisme melawan idealisasi tubuh dengan menciptakan bentuk tubuh yang mereka anggap melawan citra ideal. Sama seperti masyarakat yang hendak mereka lawan, feminisme juga terjebak pada penilaian utama dan ultima terhadap tubuh. Penilaian yang berbasis tubuh telah menjadi sumber penderitaan perempuan di Barat dan masyarakat lain yang telah terbaratkan. Naomi Wolf menegaskan bahwa bahkan setelah perempuan mendapatkan kebebasan seperti yang dituntut gerakan feminisme tahun 1970-an, perempuan masih terus menghadapi rintangan yang lebih mengerikan. Rintangan tersebut berupa citra-citra kecantikan yang lebih kejam dan berat yang hadir untuk diikuti (Naomi Wolf, 2010 : 10). Ketika feminis hendak
melawan citra tersebut, mereka justru menghadirkan citra lainnya yang secara tidak langsung adalah untuk menunjukan tubuh perempuan yang seharusnya.
Satu-satunya yang tetap dan bisa dijadikan landasan penilaian adalah tubuh material perempuan.
Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa akar dari objektvikasi, idealisasi dan berakhir pada eksploitasi yang kejam adalah bentuk penilaian yang terjebak pada tubuh. Gerakan feminisme yang melawan justru terjebak pada perangkap yang sama. Sebabnya karena feminsme, seperti semua bentuk penindasan yang hendak mereka lawan, adalah sama-sama produk dari worldview Barat. Islam yang memiliki wordview-nya sendiri yang berasal wahyu tentu memiliki pandangan dan solusinya sendiri. Berikutnya akan ditunjukan bagaiamana solusi Islam dalam melakukan liberasi terhadap perempuan baik secara historis maupun normatif.
Pembahasan dilanjutkan dengan gejala mutakhir dimana ajaran Islam yang liberatif justru menunjukan tanda-tanda eksploitatf disebabkan infiltrasi worldview Barat ke dalam benak kolektif kaum muslimin.
B. Liberasi Islam: Hijab
Islam menyelamatkan perempuan dengan cara yang unik dan efektif. Bukan hanya mengajak untuk mengasihinya, Islam bahkan merombak total cara masyarakat melihat perempuan. Eksploitasi terhadap tubuh perempuan berakar pada penilaian atas perempuan
hanya dari fisiknya semata. Titik salah inilah yang dirombak oleh Islam. Al-Qur’an mengakui bahwa perempuan dengan segala pesonanya fisiknya adalah hiasan dunia yang akan menimbulkan rasa ketertarikan dari lawan jenisnya (QS. Ali Imran (3) : 14). Namun demikian, al-Qur’an dengan jelas memerintahkan baik lelaki dan perempuan untuk menjaga pandangan (QS. an-Nur (24) : 30-31). Perintah ini adalah penegasan bahwa nilai manusia, teruama perempuan bukan ditentukan oleh ukuran material, terutama tubuh. Hal ini dipertegas di tempat lain di dalam al-Qur’an ketika Allah memaklumkan diversiti manusia mulai dari gender hingga suku bangsa, ditegaskan bahwa manusia terbaik adalah dia yang paling bertakwa (QS. Al Hujurat (49) : 13). Sedangkan derajat manusia di sisi Allah ditentukan oleh ilmu dan imannya (QS. Al-Mujaadalah (58) : 11). Dalam konteks perempuan, semangat ini menjadi spirit disyariatkannya hijab.
pun berasal dari anggapan bahwa tubuh perempuan adalah sumber godaan dan kotoran pada saat bersamaan. Olehnya diterapkan segregasi yang ketat.
Segregasi bahkan bisa menjadi ekstrim dan tidak rasional seperti kepercayaan menstrual taboo yang pernah ada pada peradaban Barat (Muchtar Rusli, 2009: 26). Mereka percaya bahwa selama masa menstruasi perempuan menjadi makhluk yang berbahya, hingga harus ditempatkan di pondok khusus yang disebut menstrual hut. Untuk memastikan hal seperti itu tidak terjadi kepada perempuan, hijab disyariatkan dengan ketentuan yang ketat. Di dalam al-Qur’an dan hadis diejaslkan bahwa hijab harus menyembunyikan tubuh perempuan kecuali wajah dan telapak tangan.
Dengan terbebas dari pemujaan fisik, hijab telah membentuk identitas muslimah sebagai perempuan-perempuan merdeka yang dinilai berdasarka iman dan kiprah salih mereka di dalam masyarakat. Di dalam ayat yang lain pun, Allah menyebutka bahwa manfaat hijab adalah agar perempuan yang mukmin jadi lebih dikenali dan olehnya terjaga dari tindakan buruk yang mungkin menimpa mereka yang tidak berhijab (Q.S Al-Ahzab (33) : 59). Sebagian penafsir modern seperti al-Asymawi menjadikan ayat tersebut sebagai alasan termporernya kewajiban hijab karena terikat konteks masyarakat
Madinah. Dengan pembacaan lain, sebenarnya ayat tersebut justru membuktikan bahwa hijab berhasil menyelamatkan muslimah dari keburukan pemuja fisik perempuan. Eksploitasi tubuh perempuan akan tetap ada,sehingga kewajiban hijab akan tetap relevan. Petunjuk lainnya, bahwa hijab adalah identitas penting bagi muslimah, sebagai deklarasi kebebasa mereka.
C. Hijab Sebagai Fashion : Bentuk Lain Eksploitasi?
Berbeda dengan fenomena hijab pada tahun 1970-an, saat ini seorang perempuan mengenakan hijab di ruang publik bukan lagi sesuatu yang spesial. Suatu kesyukuran, kini muslimah bisa mengenakan hijab tanpa takut pada penerapan peraturan seperti: Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82 yang kadang represif.
Pengusaha Mode Indonesia). Asosiasi ini bahkan membentuk divisi khusus busana muslim dan muslimah.
Awalnya bukan hanya hijab yang mengikuti fashion, baju koko pun masuk dalam fokus para desainer, tapi akhirnya fashion hijablah yang terus berkembang. Perkembangan didukung munculnya
komunitasyang menamakan
dirinya hijabers. Wadah komuntas bagi para perempuan yang memakai hijab tapi konon tidak mau ketingglan fashion. Jenis komintas ini berkembang bagai jamur di musim hujan. Mereka bahkan menjadi instrumen penting dalam bisinis hijab.
Di satu sisi, fenomena hijabers adalah bentuk dakwah kreatif yang patut diapresiasi. Meski hijab sudah menjadi sedemikian umum di negri ini, tidak bisa dipungkiri masih banyak muslimah yang enggan memakainya. Komunitas ini biasanya mampu menembus benalu dakwah yang tidak bisa ditembus oleh dai biasa. Tapi di sisi lain komunitas seperti ini tampaknya banyak terjebak hanya pada aspek fashion ketimbang mendalami makna hijab yang mereka kenakanan dan ajaran Islam secara umum. Hasil penelitian yang dilakukan pada komintas semacam itu di salah satu kota di Indonesai, Makassar, menunjukan fakta yang menyedihkan dimana mereka lebih peduli pada hal-hal luaran seperti penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam komunikasi
agar terlihat keren, mereka peduli pada perkembangan fashion hijab agar tidak ketinggalan jaman. Gaya hidup mereka pun dianggap konsumtif dan elitis (Rima Hardiyanti : 2012).
Di luar komunitas hijabers, perkembangan tren hijab berjalan jauh melewati batas. Semangat hijab yang pernah diperjuangkan dulu tampaknya kini pudar sehingga hijab menjadi sekedar kain penutup kepala bahkan sekedar gaya hidup. Ttragis lagi, hijab menjadi komoditi yang menguntungkan sehingga mereka yang terjun di dalamnya hanya mementingkan profit belaka. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu juga bisa berimbas baik bagi perkembangan ekonomi umat ( Dawam Ainurrofiq: 2007). Hijab sebagai komoditi akhirnya menjadikan mereka yang terus mengejar fashion menjadi sekedar objek eksploitasi dari perusahaan hijab atau butik. Semangat awal hijab yang bersifat liberatif dan melawan eksploitasi berbasis pemujaan fisik pun tampaknya telah terhianati.
PENUTUP
kekejaman masyarakat patriarkis masa dark age dan perlawanan terhadap penindasan perempuan masa modern, ternyata terjebak pada penilaian yang sama. Usaha mereka menentang objektivikasi, idealisasi, dan eksploitasi, justru melahirkan bentuk tubuh menurut mereka sendiri.
Solusi yang ditawarkan Islam bagi eksploitasi tubuh perempuan berangkat dari titik penting bahwa perempuan tidak dinilai berdasarkan tubuh mereka. Perempuan diapresiasi berdasarkan ketakwaan, amal ibadah, kontribusi sosial, serta tingkat intelektual mereka. Cara pandang ini merupakan buah dari worldview Islam yang berdasarkan pada al-Qur’an dan sunnah serta terwujud dengan nyata di dalam sejarah kaum muslimin. Bentuk paling nyata dari solusi tersebut adalah disyariatkannya hijab. Hijab, membebaskan perempuan dari penilaian berdasarkan tubuh mereka. Faktor fisik bukan lagi menjadi titik utama penilaian. Perempuan hanya dituntut untuk berkontribusi semaksimal mungkin bagi kemanusiaan sesuai fitrahnya, bukan untuk berpenampilan sedemikian rupa. Hal inilah bentuk pembebasan yang tuntas.
DAFTAR PUSTAKA
Amrullah, Eva F. 2008. "Indonesian Muslim Fashion Styles & Designs." ISIM Review 22.
Al-Attas, Syed Naquib. 2011. Islam dan Sekulersime, Bandung : PIMPIN. Benzing, Brigitta et al. 2003. Exploitation
and Overexploitation in Societies Past and Present, Munster : LIT Verlag.
Fredrickson, Barbara, L dan Tomi‐Ann Roberts. 1997. "Objectification Theory."Psychology Of Women Quarterly 21.2.
Gamble, Sarah. 2010. Feminisme dan Postfeminisme, Yogyakarta : Jalasutra
Gardner, Jostein. 2013. Dunia Sophie, Bandung : Mizan
Hardiyanti, Rima. 2012. Komunitas Hijab Kontemporer “Hijabers” Di Kota Makassar. Diss.
Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat ; Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekular-Liberal, Jakarta : Gema Insani Press
Kania, Dinar Dewi. 2010. “Isu Gender; Sejarah dan Perkembangannya” dalam Jurnal Islamia, vol. 3 no. 5 Megawangi, Ratna. 1999. “Sekapur Sirih”,
dalam Sachiko Murata, The Tao of Islam ; Kitab Rujukan Tentang Relasi Gender dalam Kosmologi dan Teologi Islam, Bandung : Mizan. Rusli, Muchtar. 2009. "Fiqh Hijab dan
Salahuddin, Hendri. ed. 2012. Indahnya Keserasian Gender dalam Islam Jakarta : KMKI.
Salahuddin, Hendri. 2012 “Konsep Gender, Agama dan Budaya”, Makalah disampaikan dalam acara “Gender Summit” di Smesco Exhibition & Convention Hall Jakarta pada pada 27 Juni 2012)
Whithney, Elspeth. 1995. "The Witch" She"/The Historian" He": Gender And The Historiography Of The
European Witch-Hunts." Journal of women's history 7.3.
Wolf, Naomi. 2002. The Beauty Myth How Images of Beauty Are Used Against Women, New York : Harper Collins Perrenial
Wulandari, B. Tjandra. 2010. "Perempuan dan Pornografi Sebuah Seni Ataukah Eksploitasi", dalam Jurnal Legality. Zarkasyi, Hamid Fahmi. 2012. Misykat;