• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PEMBELAJARAN DENGAN MEDIA ELEKTRONIKA

PADA MADRASAH DINIYAH PONDOK PESANTREN AN-NUR II

BULULAWANG-MALANG

SKRIPSI

OLEH;

Badrut Tamami

05110181

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

(2)

STRATEGI PEMBELAJARAN DENGAN MEDIA ELEKTRONIKA

PADA MADRASAH DINIYAH PONDOK PESANTREN AN-NUR II

BULULAWANG-MALANG

SKRIPSI

OLEH;

Badrut Tamami

05110181

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

STRATEGI PEMBELAJARAN DENGAN MEDIA ELEKTRONIKA

PADA MADRASAH DINIYAH PONDOK PESANTREN AN-NUR II

BULULAWANG-MALANG

OLEH:

BADRUT TAMAMI

NIM :05110181

Telah Disetujui Oleh:

Dosen Pembimbing

Dra. Hj. Siti Annijat, M.Pd

NIP. 131121923

Tanggal, 30 Maret 2009

Mengetahui

Ketua Jurusan

Drs. Moh. Padil, S.Ag

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

STRATEGI PEMBELAJARAN DENGAN MEDIA ELEKTRONIKA PADA MADRASAH DINIYAH PONDOK PESANTREN AN-NUR II

BULULAWANG-MALANG

SKRIPSI

OLEH:

BADRUT TAMAMI NIM :05110181

Telah Dipertahankan Di Depan Dewan Penguji Skripsi Dengan Nilai: B

Dan telah dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pdi)

Tanggal 13 April 2009

Susunan Penguji (Tanda Tangan)

(Pembimbing/Ketua Sidang)

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang

(5)

PERSEMBAHAN

? Karya ini merupakan sebuah wujud baktiku kepada Kedua Orang Tuaku tersayang dan Kakakku yang telah membesarkan dan mendidikku sehingga menjadi orang yang berguna dan berpendidikan.

? Kepada para Guru dan Dosen yang dengan sabar Membimbing dan mendidikku serta Saudara-saudaraku Keluarga Besar Seni Religius yang telah banyak memberikan Motivasi dan Pengalaman yang barharga

(6)

M O T T O

????????

??

??????

???

??????

?

??????

??

???????

?????

?

??

????

???????

?????

?

????

??

??

??

????

??

?????

???

????

? ????

"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS:Al-Baqoroh: 250)

Kesabaran adalah kunci utama seseorang dalam menjalani kehidupan, karena dengan kesabaran seseorang akan menemukan hikmah di balik sesuatu yang sifatnya suka maupun duka, dan dengan kesabaran kita akan mendapatkan banyak keuntungan dan seorang sahabat.

(7)

Dra. Hj. Siti Annijat, Maimunah ,M.Pd Dosen Fakultas Tarbiyah

Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

NOTA DINAS PEMBIMBING

Malang, 13 April 2009

Hal : Skripsi Badrut Tamami Lamp : 5 (Lima) Eksemplar Kepada Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Di

Malang

Assalamu`alaikum Wr.Wb.

Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun tekhnik penulisan, dan setelah membaca skripsi tersebut di bawah ini : Nama : Badrut Tamami

NIM : 05110181

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi : Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronik Pada Madrasah Diniyah Dipondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang

Maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa Skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk di ujikan.

Demikian, mohon dimaklumi adanya.

Wassalamu`alaikum Wr.Wb.

Pembimbing,

Dra. Hj. Siti Annijat, M.Pd

(8)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Badrut Tamami

Nim : 05110181

Alamat : Ketawang Gede, Kerto Raharjo

Menyatakan bahwa Skripsi yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada Fakultas Tarbiyah UIN Malang yang berjudul:

“ Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronik Pada Madrasah Diniyah Di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang”

adalah hasil karya saya sendiri dan bukan “replikasi” dari karya orang lain, selanjutnya apabila dikemudian hari ada claim dari pihak lain, bukan menjadi tanggung jawab dosen pembimbing atau Fakultas Tarbiyah UIN Malang, tetapi menjadi Tanggung jawab Saya Sendiri.

Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Malang, 30 Maret 2009 Hormat Saya,

(9)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Illahi Robbi yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah dan Inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini, dengan judul: ”Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronika Pada Madrasah Diniyah Pondok Pesantren

An-Nur II Bululawang-Malang” Guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.PdI) pada fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang.

Semoga Allah tetap melimpahkan sholawat serta salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya yang senantiasa setia sampai akhir masa.

Selanjutnya, penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, telah banyak mendapat bantuan dari semua pihak, baik moril maupun materiil. Oleh karena itu penulis memohon kepada Yang Maha Kuasa agar semua itu dibalas sesuai dengan amal perbuatannya. Untuk itulah, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada:

1. Ayah dan Ibu tercinta, yang telah memberikan dukungan baik materiil maupun spiritual serta kasih sayangnya yang tiada batas demi tercapainya cita-cita penulis.

2. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor UIN Malang yang telah memberikan tempat bagi kami untuk menuntut ilmu.

3. Bapak Prof. Dr. H.M Djunaidi Ghony, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang yang telah banyak memberikan waktu dan kesempatan bagi penulis.

(10)

5. Kyai Kanjeng Romo Badrudin selaku pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang

6. Segenap pengurus Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang (mas Hadi kul, Maron, Ulum, mas Farid) yang telah memberikan izin dan keterangan yang penulis perlukan dalam penelitian.

7. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Malang, yang telah banyak memotivasi penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Saudara-saudaraku keluarga Besar SENI RELIGIUS yang telah banyak memberikan motivasi dan pengalaman yang barharga (mbak Ifatullailiyah, Aminullah, mas Hamim, mas Baharuddin, Habib Mustofa, Durrotul Abroor, mbak Vitri, hijjal, kholek, Dian, Santoso, Chamidiyah, Yusuf, Jama`arif, Ayik) dan yang tidak bisa tersebutkan satu persatu.

9. Teman-temanku senasib seperjuangan yang telah menjalani hari-hari bersama dengan penuh suka dan duka (Junaidah, Lutfi, Gus Samsul, Khoiron, Hasan Basri, Sholeh, Rafi,) serta yang tidak bisa kusebutkan satu persatu.

Sejalan dengan keterbatasan yang ada pada diri penulis maka skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dalam hal metodologi, sestematika maupun illustrasi pembahasannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya koreksi, saran dan kritik yang konstruktif dari segenap pembaca terhadap kekurangan dan kekeliruan yang terdapat pada skripsi ini.

Akhirnya penulis memohon taufiq serta hidayah-Nya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Malang, 30 Maret 2009

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Bukti Konsultasi

Lampiran 2 : Surat Penelitian Dari Fakultas Tarbiyah

Lampiran 3 : Surat Keterangan Penelitian Dari Pondok Pesantren An-Nur II Lampiran 4 : Struktur Organisasi Pondok Pesantren An-Nur II

Lampiran 5 : Dokumentasi Foto-Foto

Lampiran 6 : Jenis Pendidikan Formal Pondok Pesantren An-Nur II Lampiran 7 : Daftar Kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren An-Nur II Lampiran 8 : Data Santri Berdasarkan Daerah Asal

Lampiran 9 : Pedoman Wawancara

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGAJUAN... ii

HALAMAN PERSETUJUAN... iii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN... v

HALAMAN MOTTO... vi

HALAMAN NOTA DINAS... vii

HALAMAN PERNYATAAN... viii

KATA PENGANTAR... ix

DAFTAR LAMPIRAN... xii

DAFTAR ISI... xiii

HALAMAN ABSTRAK... xvi

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Fokus Penelitian... 4

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

E. Ruang Lingkup Penelitian... 6

(13)

BAB II KAJIAN PUSTAKA... 9

A. Pendidikan Agama Islam... 9

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam... 9

2. Dasar Pendidikan Agama Islam... 11

3. Tujuan Pendidikan Agama Islam... 14

4. Fungsi Pendidikan Agama Islam... 16

B. Iptek Dan Imtaq... 20

1. Pengertian Ilmu Pengetahuan & Teknologi... 20

2. Pengertian Iman & Taqwa... 27

C. Pondok Pesantren... 29

1. Definisi Pesantren... 29

2. Unsur-Unsur Pesantren... 31

3. Sistem Pendidikan Di Pesantren... 35

4. Bentuk-Bentuk Pesantren... 42

D. Media Pembelajaran... 44

1. Pengertian Media... 44

2. Jenis-Jenis Media Pembelajaran... 46

3. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran... 49

4. Manfaat Penggunaan Media Pembelajaran... 54

BAB III METODE PENELITIAN... 57

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian……… 57

(14)

C. Lokasi Penelitian………... 59

D. Sumber Data……….. 59

E. Prosedur Pengumpulan Data………. 61

F. Teknik Analisa Data………... 64

G. Pengecakan Keabsahan Temuan………. 64

H. Tahap-tahap Penelitian……… 66

BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN... 68

A. Latar Belakang Objek 1. Sejarah Singkat Pondok Pesantren An-Nur II……… 68

2. Visi dan Misi Pondok Pesantren An-Nur II... 75

3. Struktur Organisasi Pondok Pesantren An-Nur II... 77

4. Aktivitas Pondok Pesantren An-Nur II... 79

5. Denah Lokasi Pondok Pesantren An-Nur II... 81

B. Paparan Hasil Penelitian 1. Proses Belajar Mengajar Dengan Media Elektronik di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang... 82

(15)

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN………. 90

BAB VI PENUTUP……….. 95

A. Kesimpulan………... 95

B. Saran……….. 95

DAFTAR PUSTAKA

(16)

ABSTRAK

Badrut Tamami, 2009. Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronika Pada Madrasah Diniyah Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dra. Hj. Siti Annijat Maimunah, M.Pd.

Kata kunci :strategi pembelajaran, Media Elektronik, PondokPesantren

Pengggunaan strategi pembelajaran diperlukan media pembelajaran. Media elektronik adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran, proses pengajaran yang diperankan oleh seorang guru kepada siswanya, agar dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, minat serta motivasi belajar siswa sehingga terlaksananya proses belajar mengajar.

Perkembangan Abad mutakhir menghendaki adanya suatu sistem pendidikan yang komprehensif. Karena perkembangan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan siswa atau santri yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, kemampuan komunikasi, dan kesadaran akan ekologi lingkungan. Dengan kata lain seimbang antara IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan IMTAQ (Iman Dan Taqwa) yakni meliputi IQ (Intelectual Quotient), EQ (Emocional Quotient), Dan SQ (Spiritual Quotients)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses belajar mengajar kitab dengan media elektronika di Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang dan untuk mengeathui faktor penghambat dan pendukung strategi pembelajaran dengan media elektronika di Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang.

Penelitian yang penulis lakukan adalah termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Sedangkan pengumpulan data, penulis menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun informan dalam penelitian ini adalah Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, pengurus Pondok Pesantren Nur II Bululawang, Para ustadz dan santri Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang. Sedangkan analisis data digunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Uji keabsahan data dilakukan dengan tehnik ketekunan pengamatan, triangulasidan pemeriksaan sejawat melaui diskusi.

(17)
(18)

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Perkembangan Abad Mutakhir Menghendaki adanya suatu sistem pendidikan yang komprehensif. Karena perkembangan Masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan siswa / santri yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, kemampuan komunikasi, dan kesadaran akan ekologi lingkungan. Dengan kata lain seimbang antara IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dan IMTAQ (Iman Dan Taqwa) Yakni meliputi IQ (Intelectual Quotient), EQ (Emocional Quotient), Dan SQ (Spiritual Quotients)1

Dalam Masyarakat yang dinamis pendidikan di Pesantren memegang peranan yang sangat menentukan eksistensi dan perkembangan masyarakat. Oleh karena itu Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin merupakan konsekuensi logis bagi umatnya untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas, baik moral maupun intelektual serta berketerampilan dan bertanggung jawab. Salah satu upaya untuk menyiapkan generasi penerus tersebut adalah melalui lembaga pendidikan pesantren.

Pesantren merupakan salah satu wadah bagi seorang anak untuk belajar memperoleh pengetahuan keagamaan dan mengembangkan berbagai kemampuan dan keterampilan. Oleh karena itu, pengajaran di pesantren adalah salah satu usaha yang bersifat semi formal, sadar, bertujuan, sistematis dan terarah.

1

(19)

Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan agama Islam adalah salah satu usaha yang bersifat sadar, bertujuan, sistematis dan terarah pada perubahan tingkah laku atau sikap yang sejalan dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Islam. Sejalan dengan ini, Zakiyah Daradjat mengatakan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai way of life.2

Dengan Pendidikan Agama Islam itu, diharapkan santri mampu Mengamalkan dalam kehidupan Pribadinya, Sehingga menjadi Manusia yang dapat menjadi anggota Masyarakat luas yang sanggup Mandiri, Berjuang untuk kepentingan Bangsa, Negara dan Agama serta Mengabdi kepada Allah dan mencapai kebahagiaan Dunia Akhirat.

Salah satu fungsi pendidikan adalah memindahkan nilai-nilai, ilmu dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda untuk melanjutkan dan memelihara identitas masyarakat dan kebudayaan tersebut. Dalam hal ini bisa dilalui dengan proses pengajaran dan belajar. Dahulu orang menyangka bahwa mengajar adalah kegiatan memindahkan isi Kepala Seorang Guru, Kalaulah ilmu itu ada di Kepala, Kepada kepala seseorang atau beberapa santri. Dengan demikian terjadilah proses belajar. Dengan kata lain belajar sebenarnya, tidak ubahnya seperti memindahkan isi suatu keranjang kepada keranjang-keranjang lain.3

Pondok Pesantren sebagai salah satu Sarana Pendidikan Agama Islam memiliki sebuah harapan yang sangat besar, dimana Pondok Pesantren sendiri

2

Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 86. 3

(20)

merupakan lembaga pendidikan dalam membina peserta didik untuk menjadi manusia yang Berakhlak mulia

Pondok Pesantren merupakan sebagai salah satu wadah bagi anak untuk belajar memperoleh Pengetahuan dan mengembangkan berbagai kemampuan dan keterampilan terutama dalam segi Akhlak, Dimana dizaman yang serba maju dan teknologi ini bangsa ini sekarang mengalami kemunduran baik dari segi Moral maupun Akhlak. ini tebukti dengan banyak nya pemberitaan di media Massa dan Televisi tentang kenakalan-kenakalan Remaja.

Mulai dari meningkatnya kriminalitas yang dilakukan oleh Remaja yang semakin tinggi dan juga tawuran antar Remaja yang sekarang ini sangat marak sekali. Oleh karena itu, Pengajaran di Pondok Pesantren adalah salah satu usaha yang bersifat Sadar, Bertujuan, Sistematis dan Terarah untuk mencetak generasi yang dapat dibanggakan oleh Bangsa ini sekaligus sebagai generasi penerus Bangsa.

Hasan Langgulung Menyebutkan bahwa dalam Pendidikan mengandung dua Aspek, Pertama: Aspek Mengajar dan Kedua: Aspek belajar. Aspek mengajar itu hanyalah suatu cara untuk memantapkan proses belajar itu. Sedangkan proses belajar berlaku apa sebenarnya yang terjadi pada manusia.4

Dalam konteks pembaharuan pendidikan, ada tiga yang perlu disoroti, yaitu pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan efektifitas metode pembelajaran.5 Dunia pendidikan saat ini menuai berbagai kritik tajam karena ketidak mampuannya dalam menanggulangi berbagai isi penting dalam

4

Ibid., hlm. 23 5

(21)

kehidupan masyarakat. Selain itu, dunia pendidikan yang dijadikan kambing hitam pada saat masyarakat tidak mampu mencapai perubahan dalam kehidupan mereka.

Akan Tetapi Banyak Sekali Pondok-Pondok Pesantren Pada Zaman Sekarang Ini Mengalami Penurunan Jumlah Santri Bahkan Sampai Ada Pondok Pesantren Yang Mengalami Kemunduran, Dan Ini Dikarenakan Beberapa System Pendidikan Atau Metode Pengajaran Yang Di Terapkan Kurang Relevan Dengan Kemajuan Teknologi Yang Sekarang, Dimana Di Era Modernisasi Ini Manusia Telah Dimanjakan Dengan Perkembangan Teknologi

Dengan Keadaan Seperti Itu, Mendorong Peneliti Ingin Mengetahui Kenyataan Dengan Mengamati Secara Teliti Dan Sistematis Melalui Penelitian. kegiatan ini akan penulis terapkan Di Pondok Pesantern An-Nur II Bululawang-Malang. dengan mengambil judul : Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronik Pada Madrasah Diniyah Di Pondok Pesantren An-Nur II

Bululawang-Malang.

B. FOKUS PENELITIAN

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

A. Bagaimana Proses Belajar Mengajar Dengan Media Elektronik di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang.

(22)

C. TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelititan ini adalah:

1. Untuk Mendeskripsikan proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam Dengan Media Elektronik di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang. 2. untuk mendeskripsikan faktor-faktor penghambat dan pendukung Strategi

Pembelajaran Dengan Media Elektronik Pada Madrasah Diniyah Di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang.

D. MAFAAT PENELITIAN

Setelah menentukan tujuan, selanjutnya menentukan kegunaan penelitian atau manfaat dari dilaksanakannya suatu penelitian, baik untuk pengembangan teori, bagi peneliti maupun khalayak umum. Karena secara rinci guna penelitian dijadikan peta yang menggambarkan tentang suatu keadaan, sarana diagnosis mencari sebab akibat, menyusun kebijakan, melukiskan kemampuan dalam pembiayaan, pembekalan tenaga kerja dan lain-lain.

Adapun dalam penelitian ini memiliki kegunaan, sebagai berikut:

(23)

secara teoritis hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan ilmu pengetahuan tentang Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronik Pada Madrasah Diniyah Di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang.manfaat bagi peneliti lain dapat diperoleh informasi mengenai Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronik Pada Madrasah Diniyah Di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang. 2.Praktis Bermanfaat bagi;

a. Peneliti

Sebagai penambah pengetahuan, wawasan pengajaran serta pengalaman terutama penelitian mengenai Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronik Pada Madrasah Diniyah Di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang.

b. Pembaca

Dapat meningkatkan pemahaman, wawasan dan pengetahuan mengenai Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronik Pada Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang.

c. Lembaga Pondok Pesantren

(24)

E. RUANG LINGKUP PENELITIAN

Kajian mengenai Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronik di pondok pesantren sangat jarang sekali di gunakan, Oleh karena itu, pembahasan dalam penelitian ini di batasi agar tetap fokus pada rumusan masalah. Batasan-batasan tersebut meliputi Strategi Pembelajaran Dengan Media Elektronik Pada Madrasah Diniyah Di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang-Malang.

F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang pembahasan ini, secara singkat dapat dilihat dalam sistematika pembahasan dibawah ini:

BAB I Pendahuluan

Merupakan Kerangka Dasar Yang Berisi Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Ruang Lingkup Penelitian, Dan Sistematika Penulisan Pembahasan.

BAB II Kajian Pustaka

Berisi Tentang Kajian Pustaka, Dengan Bab Ini Dapat Dijadikan Dasar Untuk Penyajian Dan Analisis Data Yang Ada Relevansinya Dengan Rumusan Masalah

BAB III Metode Penelitian

(25)

Pengumpulan Data, Tekhnik Analisis Data, Dan Pengecekan Keabsahan Data

BAB IV Laporan Hasil Penelitian

Berisi tentang laporan hasil penelitian terdiri atas latar belakang obyek, penyajian dan analisis data

BAB V Pembahasan Hasil Penelitian

Berisikan tentang pembahasan apa yang telah diteliti dan disajikan dalam bentuk yang ringkas,padat,dan komunikatif sesuai dengan wilayah populasi dan objek penelitian.

BAB VI Penutup

(26)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. KAJIAN UMUM TENTANG PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pengertian pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dengan pengertian pendidikan pada umumnya, sebab pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan secara umum. Pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembanagan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama, sehingga pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama.

Dalam hal ini menurut Zuhairini, yang dikutip oleh Muhaimin menjelaskan bahwa dalam Islam pada mulanya pendidikan disebut dangan kata “ta’lim” dan “ta’dib” mengacu pada pengertian yang lebih tinggi, dan mencakup unsur-unsur pemgetahuan (‘ilm), pengajaran (ta’lim) dan pembimbingan yang baik (tarbiyah). Sedangkan menurut Langgulung (1997), pendidikan Islam itu setidak-tidaknya tercakup dalam delapan pengertian, yaitu Al-tarbiyah al-diniyah (pendidikan keagamaan), ta’lim al-din (pengajaran agama), al-ta’lim al-diny (pengajaran keagamaan), al-ta’lim al-Islamy (pengajaran keislaman), tarbiyah al-muslimin

(27)

Islam), dan al-tarbiyah al-Islamiyah (pendidikan Islam). (Muhaimin, 2002: 36)

Para ahli pendidikan biasanya lebih menyoroti istilah tersebut dari aspek perbedaan anatara tarbiyah dan ta’lim, atau antara pendidikan dan pengajaran, sebagaimana sering diperbincangkan dalam karya-karya mereka.Di kalangan para penulis Indonesia, istilah pendidikan biasanya lebih diarahkan pada pembimbingan watak, moral sikap atau kepribadian, atau lebih mengarah pada afektif, sementara pengajaran lebih diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan atau menonjolkan dimensi kognitif dan psikomotor.

Akhir-akhir ini di kalangan masyarakat Indonesia istilah “pendidikan” mendapatkan arti yang sangat luas. Kata-kata pendidikan, pengajaran, bimbingan dan pelatihan, sebagai istilah-istilah teknis tidak lagi dibeda-bedakan oleh masyarakat kita, tetapi ketiga-tiganya lebur menjadi satu pengertian baru tentang pendidikan. (Muhaimin 2000: 37)

(28)

Pengertian pendidikan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya secara sadar yang dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental dan sosial. Sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak. Oleh karena itu pendidikan Islam, berarti pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup yang bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah/Al-Hadits. Di dalam GBPP PAI 1994

sekolah umum, dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam menyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalaui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional.

2. Dasar Pendidikan Agama Islam

(29)

1. Undang-Undang RI No. 2, 1989, tentang sistem pendidikan Nasional Bab II pasal 2 yaitu,”pendidikan Nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

2. Undang-Undang RI tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 memuat Tujuan Pendidikan Nasional sebagai berikut: “Pendidikan Nasional bertujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berpendidikan agama Islam mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dengan demikian jelaslah bahwa dasar pendidikan di Indonesia adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Konsep dasar pendidikan agama Islam adalah konsep atau gambaran umum tentang pendidikan. Sumber pendidikan agama Islam adalah ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Tajab 1996: 40) Sebagai sumber dasar ajaran Islam, Al-Qur’an memang diturunkan oleh Allah kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad Saw. Untuk memberikan petunjuk dan penjelasan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan permasalahan hidup dan kehidupan umat manusia di dunia ini.

(30)

berbagai permasalahan yang ada dalam Al-Qur’an tersebut sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan situasi dan kondisi kehidupan nyata.

Dengan demikian dasar pendidikan agama Islam sudah jelas dan tegas yaitu firman Allah dan Sunnah Rasulullah SAW, maka isi Al-Qur’an dan Hadits-lah yang menjadi pedoman pendidikan agama Islam. Al-Qur’an adalah sumber kebenaran dalam agama Islam, sedangkan Sunnah Rasulullah yang dijadikan landasan pendidikan agama Islam adalah berupa perkataan, perbuatan, atau pengakuan Rasulullah SAW dalam bentuk isyarat. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

? ?? ? ??t ???? ?????????????? ???????????µ ?

Artinya: “ Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar

“(Q.s. Al-Ahzab: 71)

(31)

3. Tujuan Pendidikan Agama Islam

(32)

Zainuddin (1991: 59) tujuan pendidikan agama Islam menurut beberapa para ahli adalah:

a. Menurut Al-Ghazali, tujuan pendidikan Islam adalah: pertama kesempurnaan manusia yang puncaknya adalah dekat dengan Allah, kedua kesempatan manusia yang puncaknya kebahagiaan didunia dan akhirat, karena itu berusaha mengajar manusia agar mampu mencapai tujuan-tujuan yang dirumuskan tadi.

b. Menurut Athiya al-Abrasi, tujuan pendidikan Islam secara umum adalah:

1). Untuk membantu pembentukan pendidikan agama Islam yamg mulia

2). Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat

3). Persiapan mencari rezki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatan. 4). Menumbuhkan semangat ilmiah (scientific spirit) pada pelajar dan

memuaskan keinginan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.

(33)

Dari pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa aspek dari tujuan pendidikan agama Islam yaitu; aspek keimanan, ilmu dan amal, yang pada dasarnya berisi:

a. Menumbuhsuburkan dan mengembangkan serta membentuk sikap positif dan disiplin serta cinta terhadap agama dalam berbagai kehidupan anak yang nantinya diharapkan menjadi manusia bertaqwa kepada Allah SWT taat kepada perintah-Nya dan Rasul-Nya.

b. Ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya merupakan motivasi intrinsik terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang harus dimiliki anak. Berkat pemahaman tentang pentingnya agama dan ilmu pengetahuan (agama dan umum) maka anak menyadari keharusan menjadi seorang hamba Allah SWT yang beriman dan berilmu pengetahuan.

(34)

4. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Fungsi merupakan kegunaan Pendidikan Agama Islam secara operasional. Menurut Ramayulis (2001: 103), pendidikan agama Islam disekolah berfungsi:

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan kewajiban yang pertama yaitu kewajiban menanamkan ketaqwaan dan keimanan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi menumbuh kembangkan lebih lanjut pada diri anak melalui bembingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangan.

b. Penyaluran yaitu, untuk menyalurkan anak yang memiliki bakat khusus agama agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan orang lain. c. Perbaikan yaitu, untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan, dan

kelemahan peserta didik dalam keyakinan pemahaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

(35)

e. Penyesuaian yaitu, menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya dengan ajaran Islam.

f. Sumbernilai yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.

Untuk dapat melaksanakan fungsi tersebut, Faisal (1999)

berpendapat bahwa terdapat beberapa pendekatan yang digunakan dalam memainkan fungsi pendidikan agama Islam di sekolah sebagaimana dikutip oleh Majid (2004:135) sebagai berikut:

a. Pendekatan nilai universal (makro) adalah suatu program yang dijabarkan dalam bentuk kurikulum.

b. Pendekatan meso, adalah suatu pendekatan program pendidikan yantg memiliki kurikulum, sehingga dapat memberikan informasi dan kompetisi pada anak.

c. Pendekatan ekso, adalah suatu pendekatan program pendidikan yang memberikan kemampuan kebijakan pada anak untuk untuk membudidayakan nilai agama Islam.

(36)

Keempat pendekatan tersebut dapat digunakan untuk mencapai pendidikan agama Islam (PAI) yang berbasis kompetensi disekolah yang sudah menerapkan KBK.

Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam secara nasional dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi ditandai dengan ciri-ciri antara lain:

1. Lebih menitik beratkan pada target kompetensi dari pada penguasaan materi.

2. Lebih mengakomodasi keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia.

3. Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dam melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.

Ada beberapa pendapat yang mengkritisi Pendidikan Agama Islam di sekolah, di antaranya:

a. Hasil belajar PAI di sekolah-sekolah belum sesuai dengan tujuan-tujuan Pendidikan Agama Islam, (Mimbar Pendidikan, No. 1 tahun XIX, 2000).

b. Soedijarto (1999: 3): Pendidikan Nasional belum sepenuhnya mempu mengembangkan manusia Indonesia yang religius, berpendidikan agama Islam, berwatak kesatria dan patriotik.

(37)

bersifat fomal dan hafalan, bukan pada pemaknaannya, (Pikiran Rakyat, 30 Juni 2003).

d. Karo Hukum dan Humas Depag. RI mengutip pernyataan Presiden RI menyatakan bahwa: Pendidikan Agama Islam belum berhasil dengan baik, salah satu indikatornya adalah masih banyak kejadian perkelahian antar pelajar terutama di jakarta, (Repoblika, 28/1997).

e. Menteri Agama (Said Agil al-Munawar) bahawa Pendidikan Agama Islam di sekolah mengalami masalah metodologi, (Pikiran Rakyat, 2003:9).

(38)

B. KAJIAN UMUM TENTANG IPTEK DAN IMTAQ

1. Pengertian Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK)

Ilmu pengetahuan atau yang sering kita sebut dengan sains (science) merupakan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya melalui proses pengumpulan fakta dengan observasi maupun eksperimen dan menganalisisnya untuk menolak dan menerima suatu hipotesis yang diajukan.

Kesimpulan yang diperolehnya akan memberikan kontribusi khazanah ilmu pengetahuan jika telah diterima dan digunakan untuk pengembangan ilmu itu sendiri ataupun dalam penerapan praktis manusia. 6

Ada juga yang menyebutkan bahwasanya ilmu pengetahuan atau sains adalah suatu uraian yang Sistematis, Terarah, Dan Ilmiah, Untuk dapat dijadikan gagasan yang mendasar. Tak ada kehidupan di dunia ini yang terlepas dari jangkauan berpikir, Mulai dari soal yang paling Sederhana sampai pada soal yang paling asasi, Karena berpikirlah yang mencirikan hakekat manusia itu. Berpikir pada hakekatnya merupakan sebuah proses yang membuahkan ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan merupakan produk kegiatan berfikir manusia. Berbagai kemewahan di Dunia ini, Peradaban, Kebudayaan, dan lain-lain merupakan produk Manusia dengan jalan menerapkan ilmu pengetahuan yang di perolehnya. Dengan kekuatan ilmu pengetahuannya manusia mampu menyingkap segala rahasia yang ada di muka bumi ini. Melthat kenyataan seperti sekarang ini, kita tidak bisa memalingkan muka dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan telah berjasa kepada umat manusia. Karena itu piciklah apabila kita memalingnkan

6

(39)

muka drit ilmu pengetahuan. Namun demiklan jangan pula kita mendewa-dewa kan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

Memang ilmu memberikan kebenaran, namun kebenaran ilmu bukanlah satu-satunya kebenaran dalam hidup kita ini, terdapat sumber kebenaran lain yang memperkaya kehidupan kita ini, ilmu pengetahuan baru memberi makna atau manfaat bagi kehidupan manusia bila di letakkan pada tempatnya yang layak. Misalnya, orang sekarang ini bisa berpetualangan di bulan atau planet lain disebabkan karena kemajuan ilmu pengetahuan. Demikian pula berjuta-juta manusia mati, baik karena perang, pencemran, kebocoran nuklir, tikndakan kriminalitas, berbagai peristiwa yang tak bermoral adalah karena kemajuan ilmu pengetahuan. 7

Karena itu ilmu pengetahuan ini bemanfaat apabila diletakkan pada tempat yang layak dan ilmu pengetahuan menjadi pengkhianat apabila dipergunakan oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab atau yang tak bermoral8

Emil salim (1986) telah melaporkan jumlah korban kematian akikbat perang, korban terbesar terdapat dalam kawasan asia timur dan tenggara dengan jumlah sebesar 10.955.000 orang dalam 1945-1985 atau 56% dari seluruh korban. Pada tahun 1945- 1955 di korea selatan tercatat sebanyak 2.890.000 orang dan republik rakyat cina 2.000.000 orang. Akhir-akhir ini dalam tahun 1976- 1985 korban jatuh sebanyak 2.204.000 orang di kamboja. Asia selatan mencatat korban sebanyak 2.657,000 orang atau 14% dari seluruh korban di dunia, benua asia telah

7

Mulkhan munir, dkk, religiusitas iptek ( jogjakarta; pustaka belajar offset, 1998) 8

(40)

menelan korban. sebanyak 13,612.000 orang, dan atau sebanyak 70% dari seluruh dunia selama 1945- 1985.

Afilka menelan korban sebanyak 4.225.000 orang atau 21 % dari korban dunia selama ini. Timur tengah adalah Kawasan ketiga yang menderita korban sebanyak 902.000 orang atau 5 % dari korban seluruh dunia. Amerika Selatan mencatat kematian sebanyak 513.000 orang atau 3 % dari seluruh korban selama ini.

Di eropa hanya tercatat korban kematian perang sebesar 175.000 orang atau tak sampal I % dari seluruh jumlah korban. Semua peristiwa ini antara lain disebabkan oleh karena ilmu pengetahuan yang telah mereka peroleh tidak diletakan pada tempatnya yang layak. Ilmu pengetahuan benar-benar dijadikan senjata yang ampuh untuk membunuh sesama manusia, sehingga menimbulkan malapetaka besar bagi peradaban manusia di muka bumi ini. Karena itu sangat tepat pernyataan Einstein bahwa "ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh".

(41)

umat manusia, sehingga manusia di dunia ini tetap mendambakan perdamaian abadi dengan penemuan-penemuan ilmu yang modem dan canggih ini.9

Karena itu para ahli filsafat seperti Descartes menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan serba budi; menurut Immanuel Kant ilmu pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman. Dari pandangan di atas dapatlah dikemukakan bahwa ilmu pengetahuan selain tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran juga harus mengandung nilai etis atau moral. Ilmu pengetahuan dikatakan etis atau bermoral adalah harus mengandung nilai yang bermakna atau berarti, berguna bagi kehidupan manusia.

Ilmu pengetahuan bukan saja mengandung kebenaran-kebenaran tapi juga kebaikan-kebaikan, Jadi dalam menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, perlu diperhatikan Suatu Perpaduan dan pertimbangan antara aspek ilmiah dan moral. Pada umumnya manusia tidak sadar akan perpaduan di atas (aspek ilmiah dan moral), sehingga manusia hanya menerima informasi mengenai, kemungkinan yang di hasilkan oleh para peneliti sebelumnya. Dalam perkembangan sekarang ini manusia harus sudah mampu membedakan ilmu pengetahuan (kebenaran) dan etika(kebaikan).

Demikian pula manusia harus mampu mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan dan etika dalam suatu sikap yang dapat dipertanggung iawabkan, karena perkembangan, ilmu-ilmu modern, tidak ada alasan bahwa ilmu pengetahuan mempunyai tujuan sendiri, yaitu ilmu demi ilmu. Semua ilmu pengetahuan tidak bisa lepas dari lingkup kehidupan manusia sehari-hari.

9

(42)

Teknologi adalah untuk kesejahteraan. Teknologi diterapkan oleh manusia demi kesejahteraan manusia, untuk memenuhi kebutuhan manusia. Artinya menciptakan dan mencarikan kesenangan manusia, melindungi dari malapetaka kalaparan, dari bahaya kekejaman alam dan mampu memenuhi tiga kebutuhan pokok manusia, seperti sandang, pangan dan papan.

Noerdin (1985) menyatakan bahwa pengertian teknologi lebih luas, bukan sekedar mengkaitkan teknologi dengan engineering, perekayasaan. Misalnya, kita melihat jembatan yang megah, gedung, kapal, ruang angkasa, itu semuanya hanyalah hasil teknologi. Teknologi lebih tepat disebut proses teknologi, pemikiran teknologi yang sebagai hasil akhir memberikan kepuasan dan kesenangan materi kepada umat manusia. Kesemuanya memperlihatkan, bahwa tujuan teknologi adalah meningkatkan taraf kehidupan manusia, dengan memenuhi tuntutan materinya, bahwa teknologi adalah penerapan sains demi kesejahteraan manusia.

(43)

dengan kemiskinan dalam arti yang lebih luas, yaitu kemiskinan materi, kemiskinan sosial dan kemiskinan spiritual ternyata mungkin juga(Noerdin,1985).

Untuk suatu kehidupan yang serasi, la harus berada dalam keseimbangan dengan ketiga dunia itu. Apa yang terjadi saat ini bahwa kemajuan teknologi membawa kepada bidang kebendaan yang lebih tinggi sehingga timbul ketidak seimbangan dengan dunia lainnya. Acapkali perubahan teknologi sangat cepat, sedangkan manusianya sendiri tidak mampu untuk mengimbanginya. Ketim-pangan inilah yang akan menyebabkan keretakan sosial, yang mengakibatkan terjadinya pelapisan sosial yang sangat menyolok sekali, sehingga timbul sebutan kelas elite, kelas menengah, dan kelas bawah. kehidupan kelompok ini yang paling nampak sekali terjadi di kota-kota.

Gambaran ini kita..anggap sebagai suatu indikasi belum siapnya masyarakat menerima kemajuan teknologi, Kemajuan teknologi harus dibarengi dengan peningkatan kesadaran manusia, masyarakat sehingga kemajuan teknologi ini benar-benar membawa kepada kesejahteraan manusia.

(44)

Misalnya, Break dance, narkotika, gang remaja, kumpul kebo, kebebasan seksuil, dan lain-lain, yang merupakan transformasi dari dunia Barat mudah sekali diterima oleh remaja kita, dibandingkan dengan kerja keras, tekun dan memacu keberhasilan dalam belajar. Dalam pandangan etika atau moral merupakan bahaya yang paling besar, di mana sistem nilai budaya yang kita hormati jatuh nilainya, merosot, tak bermakna lagi dan ini merupakan suatu jenis kemiskinan yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kemiskinan materi.

Contoh lain, misalnya dari dunia Barat dan merupakan transformasi dunia Barat. Menurut para ahli pendidikan bahwa video membawa dampak negative terhadap sikap moral para pelajar. Banyak akses yang ditimbulkan akibat pemakaian video yang tak bartanggung jawab, pemutaran video banyak disalahgunakan dengan tak bertanggung jawab dan hanya memenuhi kepuasan nafsu tanpa mempertimbangka aspek etika atau moral.

Dari gambaran diatas jelaslah bahwa masyarakat kita belum siap semuanya untuk menerima suatu teknologi. Jika demikian halnya, maka perlu dibekali terlebih dahulu pengetahuan seperlunya tentang masalah teknologi, sehingga mereka siap dan matang untuk menuju kearah sana.

(45)

2. PENGERTIAN IMAN DAN TAQWA (IMTAQ)

Iman adalah kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyekinan, tidak bercampur dengan syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan pemiliknya sehar]-hari (Yusuf Qardlawi, 1977 ;25).

Iman bukanlah semata-mata dengan lidahnya, " saya beriman ". banyak orang mengaku beriman tetapi hatinya tidak percaya. Iman bukan pula semata-mata mengerjakan amal dan syari'at yang biasa dikerjakan oleh orang-orang beriman, karena banyak orang yang pada lahimya mengerjakan peribadatan dan perbuatan baik, tetapi hatinya kosong dari rasa kebaikan dan keikhlasan kepada Allah.10. Al-qur' an menyebutkan ;

Di antara manusia ada yang mengatakan, " kami beriman kepada Allah dan hari kemudian ", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orangorang yang beriman. mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka menipu diri sendiri, sedang mereka tidak sadar (Al baqoroh 2; 8-9).

Iman hendaknya berwujud pernyataan dengan lidah, dilandasi keyakinan dalam hati dan disertai perbuatan dengan ikhlas dan jujur dalam menjalankan perintah dan putusan Allah dan rosulnya.demikianlah, bahwa iman itu senantiasa mendorong seesorang untuk memilih kebenaran dan kebaikan, membenci segala macam keburukan, sesuai dengan bimbingan dan petunjuknya.

Iman yang tertanam di dada memberi inspirasi positif kepada seseorang untuk berlaku dan beramal salih. Iman yang benar membawa pribadi kearah perubahan jiwa dan Cara berpikir positif. Perubahan jiwa tersebut merupakan

10

(46)

suatu revolusi dan pembaharuan tentang tujuan hidup, pandangan hidup, cita-cita, keinginan dan kebiasaan.

Iman adalah suatu unsur yang dapat merubah jiwa manusia sehingga berubah tujuan hidup dan jalan yang ditempuhya.berubah tingkah laku, pandangan hidup, perasaan dan pertimbangannya, iman membangkitkan jiwa seseorang untuk hijrah dari dunia jahiliyyah menuju dunia iman. Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya yakni dua asas yang berlawanan. (Al-ahzab 33; 4).

Dalam Hadits Nabi SAW, menjelaskan bahwa salah satu karakteristik iman yang wajib adalah hendaknya seseoarang menyukai untuk saudaranya keutamaan-keutamaan yang manyangkut agama maupun dunia, Sebagaiman ia menyukainya untuk dirinya sendiri.juga membenci sesuatu menimpa saudaranya, sebagaimana ia tidak menyukai hal tersebut menimpa dirinya sendiri.11

taqwa itu sendiri mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun semuanya bermuara kepada satu pengertian yaitu seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah Subhannahu Wa Ta'ala dari adzabNya, hal ini dapat terwujud dengan melaksanakan apa yang di perintahkan-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya.

C. KAJIAN UMUM TENTANG PESANTREN

1. Definisi Pesantren

Dunia pesantren, dengan meminjam kerangka pikir Hussein Nasr, adalah dunia tradisional Islam, yakni dunia yang mewarisi dan memelihara kontinuitas

11

(47)

tradisi Islam yang dikembangkan ulama (kyai) dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu dalam sejarah Islam.

Sejak zaman penjajahan, Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Eksistensinya telah lama mendapat pengakuan dari masyarakat dan terlibat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak hanya dari segi moril namun juga memberikan sumbangsih yang signifikan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikan lain yang sejenis. Peserta didik di pesantren disebut santri yang umumnya menetap di pesantren. Tempat dimana santri menetap di lingkungan pesantren disebut dengan istilah Pondok. Dan dari sinilah timbul istilah Pondok Pesantren.12

Pesantren adalah komunitas tersendiri yang di dalamnya hidup bersama-sama sejumlah orang yang dengan komitmen hati dan keikhlasan atau kerelaan mengikat diri dengan kyai, tuan guru, buya, ajengan, abu atau nama lainnya untuk hidup bersama dengan standar moral tertentu, membentuk kultur atau budaya tersendiri. Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren terus melakukan akomodasi dan konsesi tertentu untuk menemukan pola yang dipandangnya cukup tepat guna menghadapi perubahan-perubahan yang kian cepat berdampak luas. Namun,

12

(48)

semua akomodasi dan penyesuaian itu dilakukan pesantren tanpa mengorbankan esensi dan hal-hal dasariah lainnya dalam eksistensi pesantren.

Pesantren telah teruji dan mampu bertahan bukan hanya karena kemampuannya melakukan adjustment dan readjustment, tetapi juga karakter eksistensialnya, yang dalam bahasa Nur Cholis Madjid disebut sebagai lembaga yang tidak hanya identik dengan makna keislaman, tatapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai lembaga indigenous, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya. Dengan kata lain, pesantren mempunyai keterkaitan erat dan tak terpisahkan dengan lingkungannya.13

2. Unsur-Unsur Pesantren

Pondok pesantren adalah sistem yang unik. Tidak hanya unik dalam pendekatan pembelajarannya, tetapi juga unik dalam pandangan hidup dan tata nilai yang dianut, cara hidup yang ditempuh, struktur pembagian wewenang dan semua aspek kependidikan dan kemasyarakatan lainnya. Oleh sebab itu, tidak tidak ada definisi yang dapat secara tepat mewakili seluruh pondok pesantren yang ada. Masing-masing pondok memiliki keistimewaan sendiri yang bisa jadi tidak dimiliki pesantren yang lain.

Sebuah lembaga pendidikan dapat disebut sebagai pondok pesantren apabila di dalamnya terdapat sedikitnya lima unsur, yaitu:

a. Kyai; b. Santri;

13

(49)

c. Pengajian; d. Asrama; dan

e. Masjid dengan segala aktivitas pendidikan keagamaan dan kemasyarakatannya.

Kyai, merupakan unsur yang paling esensial dari pesantren. Ia seringkali merupakan pendirinya. Sehubungan dengan itu, sudah sewajarnya jika pertumbuhan suatu pesantren semata-mata bergantung kepada kemampuan pribadi kyainya. Kebanyakan kyai beranggapan bahwa suatu pesantren dapat diibaratkan sebagai kerajaan kecil dimana kyai merupakan sumber mutlak dari kekuasaan dan kewenangan (power and authority) dalam kehidupan dan lingkungan pesantren. Tidak seorangpun santri atau orang lain yang dapat melawan kekuasaan kyai (dalam lingkungan pesantrennya) kecuali kyai lain yang lebih besar pengaruhnya. Para santri selalu mengharap dan berfikir bahwa kyai yang dianutnya merupakan orang yang percaya penuh pada dirinya sendiri (self confident), baik dalam soal-soal pengetahuan Islam maupun dalam bidang kekuasaan dan manajemen pesantren. Kyai dengan kelebihannya, terutama pengetahuannya tentang Islam, seringkali dilihat sebagai orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam, dan karenanya mereka dianggap memiliki kedudukan yang terjangkau, terutama oleh kebanyakan orang awam. Dalam beberapa hal mereka menunjukkan kekhususannya dengan bentuk-bentuk pakaian yang merupakan simbol kealiman yang berupa kopyah dan surban.14

14

(50)

Santri. Dalam tradisi pesantren dikenal adanya dua kelompok santri. Mereka adalah “santri mukim” dan “santri kalong”. Santri mukim adalah para santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap di pesantren pada pondok yang disediakan oleh pesantren yang bersangkutan. Sedangkan, santri kalong adalah murid-murid atau para santri yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap di pesantren. Untuk pelajarannya di pesantren mereka bolak-balik dari rumahnya sendiri.

Ada berbagai alasan mengapa santri menetap di suatu pesantren. Dhofier mengemukakan ada tiga alasan, yaitu: (1) ia ingin mempelajari kitab-kitab lain yang membahas Islam secara lebih mendalam di bawah bimbingan kyai yang memimpin pesantren; (2) ia ingin memperoleh pengalaman kehidupan pesantren baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian maupun hubungan dengan pesantren-pesantren terkenal; dan (3) ia ingin memusatkan studinya di pesantren tanpa disibukkan oleh kewajiban sehari-hari di rumah keluarganya.15

Pengajian. Pengajian adalah sebuah aktifitas belajar mengajar ilmu-ilmu keagamaan dengan berbagai metodenya. Bahan ajar yang digunakan dalam pengajian bersumber dari kitab-kitab kuning.

Metode pembelajaran di pondok pesantren ada yang bersifat tradisional, yaitu metode pembelajaran yang diselenggarakan menurut kebiasaan yang telah lama dilaksanakan di pesantren sebagai metode pembelajaran asli (orisinil) pondok. Di samping itu ada pula metode pembelajaran modern (tajdid). Metode pembelajaran modern merupakan metode pembelajaran hasil pembaruan kalangan

15

(51)

pondok pesantren dengan memasukkan metode yang berkembang pada masyarakat modern, walaupun tidak selalu diikuti dengan menerapkan sistem modern, yaitu sistem sekolah atau madrasah. Pondok pesantren sebenarnya telah pula menyerap sistem klasikal, tetapi tidak dalam batas-batas fisik yang tegas sebagaimana sistem klasikal pada persekolahan modern. Ada beberapa metode pembelajaran yang menjadi ciri utama pembelajaran di pondok pesantren. Yakni, metode sorogan, wetonan, musyawarah (bahtsul masa’il), pengajian pasaran, hafalan (muhafadhoh), dan demonstrasi (praktek ibadah).16

Asrama. Salah satu ciri dari sebuah pesantren adalah adanya pondok yang merupakan asrama bagi para santrinya. Dhofier mengemukakan adanya tiga alasan utama berkenaan dengan kenapa pesantren harus menyediakan asrama bagi para santrinya. Pertama, kemasyhuran seorang kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri dari jauh. Untuk menggali ilmu dari kyai tersebut, secara teratur dalam waktu yang lama, para santri tersebut harus meninggalkan kampung halamannya dan menetap di dekat kediaman kyai. Kedua, hampir semua pesantren berada di desa-desa dimana tidak tersedia perumahan atau akomodasi yang cukup untuk dapat menampung semua santri; dengan demikian perlulah adanya suatu asrama khusus bagi mereka. Ketiga, adanya sikap timbal balik antara kyai dan santri dimana para santri menganggap kyainya sebagai bapaknya sendiri, sedangkan kyai menganggap santri sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa dilindungi. Sikap timbal balik ini menimbulkan keakraban dan kebutuhan untuk saling berdekatan terus menerus.

16

(52)

Sikap ini juga menimbulkan perasaan tanggung jawab di pihak kyai untuk menyediakan tempat tinggal bagi para santrinya. Di samping itu, dari pihak para santri tumbuh perasaan pengabdian pada kyainya, sehingga para kyai memperoleh imbalan dari para santri sebagai sumber tenaga bagi kepentingan pesantren dan keluarga kyainya.17

Masjid. Masjid menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah pondok pesantren karena selain digunakan untuk sholat berjama’ah, masjid digunakan untuk I’tikaf, mengadakan pengajian, media dalam membentuk halaqoh-halaqoh, juga tempat bertemunya kyai dengan santri selain di dalam asrama pesantren. Di masjid pula, kyai dan santri dapat berkumpul, berdiskusi dan mempererat

ukhuwwah dengan penduduk kampung, karena terkadang para santri lebih disibukkan oleh pengajian demi pengajian serta aktifitas mereka di sekolah formal yang berdiri di lingkungan pesantren atau sekolah formal yang merupakan bagian dari wewenang pesantren secara penuh.

Demikian ulasan mengenai unsur-unsur yang terdapat di pondok pesantren.

3. Sistem Pendidikan di Pesantren

Sebagaimana sebuah sistem pendidikan nasional, maka sistem pendidikan pesantren juga mencakup tujuh komponen, yakni tujuan, guru, murid, kurikulum, metode, evaluasi, dan lingkungan. Hanya saja, pengejawantahan komponen pendidikan di pesantren tidak seformal di pendidikan di bawah naungan

17

(53)

pemerintah, karena pesantren merupakan lembaga otonom yang memiliki kewenangan penuh dalam mengatur kebijakan tanpa intervensi dari pihak luar.

Mengenai sistem yang seperti apakah yang diterapkan, amat tergantung pada kebijakan kyai selaku pemegang otoritas tertinggi di pesantren. Bila si kyai punya paradigma dan gaya hidup sufi maka lazimnya pesantren akan dibentuk dengan pola sufisme yang menuntut santri untuk bersikap qona’ah dan sebagainya, begitupun dengan kitab-kitab yang dikaji tentu tak jauh dari persoalan sufisme. Sedangkan apabila kyainya lebih modern, maka pondok pun biasanya diformat dalam bingkai modernitas tapi tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.

Komponen-komponen dalam pesantren dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Tujuan. Pada dasarnya tujuan dari pendidikan di pesantren adalah meningkatkan kadar ketaqwaan anak didiknya. Yang dimaksud ketaqwaan di sini melingkupi dimensi vertikal (ibadah mahdhoh) dan dimensi horizontal (ghoiru mahdhoh). Kita juga mengenal Tri Darma Pondok Pesantren yang menjadi tujuan pesantren secara lebih rinci, yakni, (1) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT, (2) Mengembangkan keilmuan yang bermanfaat, (3) Memupuk jiwa anak didiknya untuk melakukan pengabdian pada agama, masyarakat dan Negara.

(54)

kewajibannya sebagai tarnsformator ilmu keagamaan. Guru yang didatangkan biasanya santri senior atau alumni pondok tersebut. Seorang guru di dalam pesantren tidak harus menyandang gelar kesarjanaan, keahlian dalam ilmu-ilmu keagamaan secara praksis-lah yang lebih dipertimbangkan. Namun, setelah memasuki lembaga formal (sekolah formal) maka jenjang pendidikan mulai diperhitungkan.

c. Murid. Santri di sebuah pesantren biasanya ada yang sekolah dan ada yang cuma mengikuti pengajian dan diniyah di pesantren. Para santri yang bersekolah di lembaga formal terikat dengan peraturan baru yang sifatnya lebih ketat namun tetap berpijak dari tata aturan pesantren selaku induknya. Di sekolah, para santri tersebut lebih dikenal sebagai ‘murid’ karena biasanya di sekolah tersebut tidak hanya diminati oleh para santri tapi juga anak-anak lain yang tidak punya ikatan dengan pesantren. Penggunaan istilah ini bertujuan untuk menyetarakan posisi antara mereka yang nyantri dan mereka yang kampung

(istilah yang biasa digunakan untuk mereka yang non santri)

d. Kurikulum. Pada pondok pesantren salaf tidak dikenal kurikulum dalam pengertian seperti kurikulum dalam lembaga pendidikan formal. Kurikulum di pesantren salaf disebut manhaj, yang dapat diartikan sebagai arah pembelajaran tertentu. Manhaj ini tidak terdapat dalam bentuk jabaran silabus, tetapi berupa

funun kitab-kitab yang diajarkan pada santri.

(55)

ke kitab lain yang lebih tinggi tingkat kesukarannya. Dengan demikian, tamatnya program pembelajaran tidak diukur dengan satuan waktu dan penguasaan silabi atau topik bahasan tertentu, tetapi pada tamat atau tuntasnya santri mempelajari kitab yang telah ditetapkan. Kompetensi standar bagi tamatan pondok pesantren adalah kemampuan menguasai (memahami, menghayati, mengamalkan, dan mengajarkan) isi kitab tertentu yang telah ditetapkan itu.

Namun, dalam madrasah atau sekolah yang diselenggarakan oleh pondok pesantren menggunakan kurikulum yang sama di madrasah atau sekolah lain yang telah dibakukan oleh Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional.

e. Metode. Ada beberapa metode pembelajaran yang menjadi ciri utama pembelajaran di pondok pesantren. Yakni, metode sorogan, wetonan, musyawarah (bahtsul masa’il), pengajian pasaran, hafalan (muhafadzoh), dan demonstrasi (praktek ibadah). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 1) Metode sorogan

Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau badalnya. Sistem

(56)

pembelajaran bagi para santri yang lebih menitikberatkan pada pengembangan kemampuan perorangan, di bawah bimbingan seorang kyai atau ustadz.

2) Metode wetonan atau bandongan

Wetonan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan sholat fardhu. Metode ini merupakan metode kuliah dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekililing kyai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya. Istilah wetonan ini di Jawa Barat dikenal dengan sitilah bandongan. Metode ini dilakukan oleh seorang kyai terhadap sekelompok santri untuk mendengarkan atau menyimak apa yang dibacakan kyai dari sebuah kitab. Kyai membaca, menerjemahkan, menerangkan, dan seringkali mengulas teks-teks kitab berbahasa arab tanpa harokat atau gundul. Santri dengan memegang kitab yang sama, masing-masing melakukan pendhobitan harokat kata, langsung di bawah kata yang dimaksud agar dapat memahami teks.

3) Metode musyawaroh

(57)

kemampuan seseorang dalam menganalisis dan memecahkan suatu persoalan dengan argumen logika yang mengacu pada kitab-kitab tertentu. Musyawarah dilakukan juga untuk membahas materi-materi tertentu dari sebuah kitab yang dianggap rumit untuk memahaminya. Musyawarah dalam bentuk kedua ini bisa digunakan oleh santri tingkat menengah atau tinggi untuk membedah topik atau materi tertentu.

4) Metode pengajian pasaran

Metode ini merupakan kegiatan belajar para santri melalui pengkajian materi (kitab) tertentu pada seorang kyai atau ustadz yang dilakukan oleh sekolompok santri dalam kegiatan yang terus menerus (maraton/ kilatan) selama tenggang waktu tertentu. pada umumnya dilakukan pada bulan Romadhon selama setengah bulan, dua puluh hari, atau terkadang satu bulan penuh tergantung pada besarnya kitab yang dikaji. Metode ini lebih mirip dengan metode bandongan, tetapi pada metode ini target utamanya adalah “selesai”nya kitab yang dipelajari. Pengajian pasaran ini dahulu banyak dilakukan pesantren tua di Jawa dan dilakukan oleh kyai-kyai senior di bidangnya. Jadi titik beratnya pada pembacaan bukan pada pemahaman.

5) Metode Hapalan (Muhafadzoh)

(58)

periodik atau insidental tergantung kepada petunjuk kyai atau ustadz yang bersangkutan.

Materi dengan metode hapalan umumnya berkenaan dengan Al Qur’an,

nadzom-nadzom untuk nahwu, shorof, tajwid ataupun untuk teks-teks nahwu shorof dan fiqih. Titik tekan metode ini santri mampu mengucapkan atau melafalkan kalimat-kalimat tertentu tanpa teks. Pengucapan tersebut dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Metode ini juga dapat digunakan dengan metode sorogan atau bandongan.

6) Metode Demonstrasi atau Praktek Ibadah

Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan memperagakan (mendemonstrasikan) suatu keterampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan secara perorangan atau kelompok yang dilakukan dibawah petunjuk kyai atau ustadz, dengan kegiatan sebagai berikut:

1) Para santri mendapatkan penjelasan tentang tata cara (kaifiat) pelaksanaan ibadah yang akan dipraktekkan sampai mereka betul-betul memahaminya.

2) Para santri berdasarkan bimbingan kyai atau ustadz, mempersiapkan segala peralatan atau perlengkapan yang dibutuhkan untuk praktek. 3) Setelah menentukan waktu dan tempat para santri berkumpul untuk

(59)

4) Para santri secara bergiliran melaksanakan praktek ibadah tertentu dengan dibimbing dan diarahkan oleh kyai atau ustadz sampai benar-benar sesuai kaifiat (tata cara pelaksanaan ibadah sesungguhnya)18 f. Evaluasi. Bentuk evaluasi di pesantren tidak hanya berdasarkan aspek kognitif yang berupa penguasaan materi dan kitab-kitab pengajian saja tapi lebih ditekankan pada aspek perbaikan moral, baik yang berhubungan dengan pribadi, sosial dan alam semesta. Evaluasi terhadap perilaku dapat diamati langsung oleh kyai, ustadz atau diwakili oleh pengurus pondok.

Jika sebuah pesantren telah mendirikan lembaga formal, maka evaluasi dalam proses pendidikannya sama dengan lembaga formal yang lain, yakni dengan ulangan-ulangan, tugas-tugas maupun ujian akhir. Bila pesantren memakai sitem madrasah diniyah maka diadakan evaluasi yang biasa disebut imtihan.

g. Lingkungan. Sebuah sistem pendidikan yang baik mensyaratkan lingkungan yang menunjang. Lingkungan yang kondusif untuk sebuah proses pembelajaran adalah lingkungan yang senantiasa mendukung penuh proses pembelajaran, mengadakan kontrol terhadap pendidikan yang ada dan memberikan masukan konstruktif demi kemajuan pesantren dan pendidikannya. Jika lingkungan tidak mendukung, maka pendidikan pesantren jelas akan mengalami hambatan signifikan. Misalnya, jika pesantren sudah mati-matian menggembleng santri dan muridnya untuk berbuat kebajikan namun di masyarakat ternyata perjudian dan minum-minuman keras masih langgeng maka hasil yang didapat pun tidak akan maksimal. Namun, bagaimanapun pesantren

18

(60)

adalah lembaga yang berakar dari masyarakat, oleh karenanya pesantren seyogyanya bisa memberikan pengaruh positif kepada masyarakat dan bukan justru terpengaruh dengan lingkungan yang buruk.

4. Bentuk-Bentuk Pesantren

Sejak awal pertumbuhannya, dengan bentuknya yang khas dan bervariasi, pondok pesantren terus berkembang. namun perkembangan yang signifikan muncul setelah terjadi persinggungan dengan sistem persekolahan atau juga dikenal dengan sistem madrasi, yaitu sistem pendidikan dengan pendekatan klasikal sebagai lawan dari sistem individual yang berkembang di pondok pesantren sebelumnya.

Persentuhan pondok pesantren dengan madrasah mulai terjadi pada akhir abad XIX dan semakin nyata pada awal abad XX. Berkembangnya model pendidikan Islam dari sistem pondok pesantren ke sistem madrasi ini terjadi karena pengaruh sistem madrasi yang sudah berkembang lebih dahulu di Timur Tengah. Pada akhir abad XIX dan awal abad XX banyak umat Islam Indonesia yang belajar menimba ilmu-ilmu agama ke sumber aslinya, di Timur Tengah. Sebagian mereka bermukim di sana dan sebagian kembali ke tanah air.

(61)

Persentuhan sistem pondok pesantren dengan sistem madrasah ini membuat semakin tingginya variasi bentuk pondok pesantren. Namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat bentuk, sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Agama No.3 tahun 1979 tentang Bantuan Kepada Pondok Pesantren, yang mengkategorikan Pondok Pesantren menjadi:

a. Pondok Pesantren tipe A; yaitu pondok yang sepenuhnya dilaksanakan secara tradisional;

b. Pondok Pesantren tipe B; yaitu pondok yang menyelenggarakan pengajaran secara klasikal (madrasi);

c. Pondok Pesantren tipe C; yaitu pondok pesantren yang hanya merupakan asrama sedangkan santrinya belajar di luar;

d. pondok pesantren tipe D; yaitu pondok pesantren yang menyelenggarakan sistem pondok pesantren dan sekaligus sistem sekolah atau madrasah Dari keempat bentuk-bentuk pondok pesantren di atas, penulis mengarahkan pada pembahasan pondok pesantren tipe D. Hal ini dikarenakan semakin meluasnya pondok pesantren tipe D ini, sehingga memerlukan kajian yang mendalam untuk memperoleh formulasi baru yang lebih baik dalam dunia pendidikan Islam.19

D. KAJIAN UMUM MEDIA PEMBELAJARAN

1. Pengertian Media

Kata media merupakan bentuk jamak dari Medium yang secara harfiah tengah, pengantar, atau perantara. Dalam bahasa Arab media adalah perantara

19

(62)

atau pengantar pesan dari pengirim pesan dari pengirim pesan (Azhar Arsyad, 2002:3). Sedangkan dalam kepustakaan asing yang ada sementra para ahli menggunakan istilah Audio Visual Aids (AVA), untuk pengertian yang sama. Banyak pula para ahli menggunakan istilah Teaching Material atau Instruksional Material yang artinya identik dengan pengertian keperagaan yang berasl dari kata “raga” artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamanati melalui panca indera kita (Hamalik , 1994:11).

Dan sebelum diambil sebuah kesimpulan mengenai arti dari media pembelajaran ada baiknya penulis memaparkan tentang pengertian media yang telah dirumuskan oleh para ahli pendidikan diantaranya :

1. Menurut AECT (Assosiation for Educational Communication and Technology). Media merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan dalam proses penyampaian informasi (Azhar Arsyad, 2002:3)

2. Menurut NEA ( National Educational Assosiation). Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan di baca (Arif Sadiman , 2003:6 )

(63)

digunakan untuk menangkap, memproses, serta menyampaikan informasi. (Ahmad Rohani , 1997:2-3)

4. Menurut Asnawir dan Basyiruddin dalam bukunya mendefinisikan media adalah suatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran dan kemauan audiens (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses pendidikan (Asnawir, Basyiruddin, 2002:11)

5. Zakiah Darajat mengutip Rostiyah dkk. media pendidikan merupakan alat, metode, dan tehnik yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah ( Zakiah Darajat, 1992:80)

6. Muhaimin dalam bukunya mendefisinikan media pembelajaran agama adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan pendidikan agama dari pengirim atau guru kepada penerima pesan (siswa) dan dapat merangsang perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar pendidikan agama ( Muhaimin , 1992:9)

(64)

Apabila dalam satu dan hal lain media tidak dapat menjalankan sebagaimana fungsinya sebagai penyalur pesan yang diharapkan, maka media tersebut tidak efektif dalam arti tidak mampu mengkomunikasikan isi pesan yang diinginkan dan disampaikan oleh sumber kepada sasaran yang ingin dicapai.

2. Jenis-jenis Media Pembelajaran

Gearlach dan Elly, dalam bukunya yang berjudul "Teaching and Media", menggolonglan media atas dasar ciri-ciri fisiknya terdiri dari :

a. Benda Sesungguhnya Benda sebenarnya termasuk dalam katagoei ini meliputi : orang, kejadian, objek atau benda

b. Presentasi Verbal Presentasi verbal yang termasuk dalam katagori ini meliputi : media cetak, kata-kata yang diproyeksikan melalui slide, filmstrip, transparansi, catatan di papan tulis, majalah dinding, papan tempel, dan lain sebagainya

c. Presentasi Grafis Presentasi grafis, katagori ini meliputi : Chart, grafik, peta, diagram, lukisan/gambar yang sengaja dibuat untuk mengkomunikasikan suatu ide, ketrampilan/sikap.

(65)

e. Film (Motion picture) Artinya jenis media yang diperoleh dari hasil pemotretan benda/kejadian sebenarnya maupun film dari pemotretan gambar (film animasi)

f. Rekaman suara (audio recorder) Ialah bentuk media dengan menggunakan bahasa verbal atau efek suara, dalam hal ini sudah barang tentu dapat dimanfaatkan secara klasikal, kelompok atau bersifat individual.

g. Program atau disebut dengan "pengajaran Berprograma" Yaitu infomasi verbal, visual, atau audio yang sengaja dibuat untuk merangsang adanya respon dari siswa.

h. Simulasi Adalah peniruan situasi yang sengaja diadakan untuk mendekati/menyerupai kejadian sebenarnya, contoh : simulasi tingkah laku seorang pengemudi dalam mobil dengan memperhatikan keadaan jalan ditunjukkan pada layar (dengan film). Simulasi dapat pula dilakukan dengan permainan (permainan simulasi) (Mahfud, 1986 : 46-47)

Selanjutnya apabila penggolongan jenis media tersebut atas dasar ukuran serta kompleks tidaknya alat perlengkapan, maka dapat diklasifikasikan menjadi lima macam yaitu :

Gambar

Tabel 1: Jenis Pendidikan Formal Dalam Lingkungan Pondok Pesantren An-Nur
Table 2 : Kitab Kitab Yang Dipelajari Di Pondok Pesantren An-Nur II
Tabel 3 : Data Santri Berdasarkan Daerah Asal.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh antara harga dengan kepuasan konsumen diperkuat dengan jurnal Penelitian yang dilakukan oleh Indah Dwi Kurniasih dalam Jurnal Administrasi Bisnis (Vol.

Namun, ia juga percaya dengan Alin dan Aryo ,yang dengan yakin menjelaskan bahwa mereka ketika terbangun, tiba-tiba sudah berada di rumah amak!. Karena sudah paham kalau Aryo

Kategori kemampuan awal subyek Wy adalah cukup terampil , dimana subyek sudah mampu mempraktikkan gerakan takbiratul ikhram, bersedekap, iktidal, salam, dan

Abang tidak gemar akan makanan yang pahit seperti peria.. Menurut abang, dia tidak gemar akan rasa pahit

Selain itu hal ini juga di dukung dengan penelitian yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together dapat meningkatkan hasil

Masyarakat di pulau ini tetap mempertahankan keberadaan pohon-pohon besar di sepanjang aliran mata air tersebut sebab mereka yakin bahwa pohon besar tersebut mampu

Perbedaan dari penelitian yang peneliti lakukan adalah, lokasi penelitian dan waktu penelitian, dan jenis penelitian serta penelitian yang dilakukan Faizin Rofiq

As a result, how the modelling of the power grid infrastructure with Microgrid connected renewable energy resources are controlled and discussed here and the result of