BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa “mungkin untuk pertama kali dalam sejarah, demokrasi dinyatakan sebagai nama yang paling baik dan wajar untuk semua sistem organisasi politik dan sosial yang diperjuangkan oleh para pendukungnya yang berpengaruh” (UNISCO 1949).
Mungkin karena hal tersebut, demokrasi menjadi sebuah animo besar yang sangat diidam-idamkan oleh setiap bangsa. Tidak terkecuali di Indonesia, demokrasi telah mengalami beberapa penyesuaian sehingga lebih sejalan dengan falsafah hidup bangsa yakni pancasila. Maka dari itu, Indonesia memiliki sebuah ideology politik yang lebih khas dari bangsa lain, demokrasi pancasila.
Namun di umurnya yang lebih dari setengah abad, ternyata demokrasi di Indonesia belum mampu terealisasi dengan baik. Masyarakat kita bahkan terkadang belum bisa memahami demokrasi dengan bijak. Masalah itulah yang akan kita bahas di dalam makalah ini, yakni mengenai upaya penegakan demokrasi di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan kita bahas dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut.
1. Apa itu pengertian demokrasi, pendidikan demokrasi dan demokratisasi serta bagaimana proses demokrasi menuju masyarakat madani ?
2. Bagaimana upaya penegakan demokrasi di Indonesia ? 3. Bagaimana pelaksanaan demokrasi pancasila di Indonesia ?
C. Tujuan dan Manfaat Pembuatan Makalah
Makalah ini dibuat dengan tujuan-tujuan dan manfaat seperti yang tercantum di bawah ini.
2. Menambah wawasan pembaca mengenai demokrasi, pendidikan demokrasi dan demokratisasi serta proses demokrasi menuju masyarakat madani
3. Menambah wawasan pembaca mengenai upaya penegakan demokrasi di Indonesia
BAB II PEMBAHASAN
A. Demokrasi, Pendidikan Demokrasi dan Demokratisasi serta Proses Demokrasi Menuju Masyarakat Madani
1. Pengertian Demokrasi
Secara etimologis, demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti pemerintahan atau kratein yang berarti memerintah. Demokrasi dapat diterjemahkan sebagai “rakyat berkuasa”. Dengan kata lain demokrasi adalah pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat baik secara langsung maupun tidak langsung, setelah melalui proses pemilihan umum secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Dalam suatu negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi, kekuasaan tertingginya berada ditangan rakyat. Jadi demokrasi berarti kekuasaan dari rakyat.
Secara historis demokrasi telah tumbuh sejak zaman yunani kuno yaitu pada masa Negara Kota (City State) Athena sekitar abad ke 6 sampai abad ke 3 sebelum Masehi. Sehingga sampai kini dikenal bahwa Negara Kota Athena Kuno merupakan negara demokrasi pertama di dunia yang mampu menjalankan demokrasi secara langsung dengan majelis sekitar 5000 sampai 6000 orang.
Dalam demokrasi para pejabat membuat undang-undang dan menjalankan program untuk kepentingan umum atas nama rakyat. Hak-hak rakyat di hormati dan di junjung tinggi, karena pejabat dipilih dan diangkat oleh rakyat.
Dalam negara yang demokratis warganya bebas mengambil keputusan melalui kekuasaan mayoritas, namun tidak dibenarkan bahwa kekuasaan mayoritas itu selalu demokratis. Suatu negara dapat dikatakan demokratis bila kekuasaan mayoritas disandingkan dengan jaminan Hak Asasi Manusia. Sehingga kelompok mayoritas dapat melindungi kaum minoritas, dan hak minoritas tidak dapat di hapuskan oleh suara mayoritas.
Budiardjo (1918) mengategorikan aliran/tipe demokrasi menjadi dua bagian yaitu:
diberbagai negara dengan berbagai variasi, misalnya dengan nama demokrasi liberal yang banyak diterapkan di negara barat. Demokrasi pancasila yang diterapkan di Indonesia juga dapat dikatakan dmokrasi kostitusional.
b. Demokrasi / Demokrasi Rakyat, merupakan tipe demokrasi yang lebih mendasarkan diri kepada komunisme. Tipe demokrasi yang seperti ini banyak di terapkan di negara-negara komunis di eropa timur, juga di RRC dan Korea Utara. Tipe demokrasi ini dianggap tidak demokratis, sebab menurut peristilahan komunis, Demokrasi rakyat adalah bentuk khusus demokrasi yang memenuhi fungsi diklatur ploretariat.
2. Pendidikan Demokrasi dan Demokratisasi
Pendidikan Demokrasi diartikan sebagai upaya sistematis yang dilakukan Negara dan masyarakat untuk memfasilitasi individu warganegaranya agar memahami, menghayati, mengamalkan, dan mengembangkan konsep, prinsip, dan nilai demokrasi sesuai dengan tugas dan peranannya dalam masyarakat. Misi dari Pendidikan Demokrasi adalah:
a. Memfasilitasi warga negara untuk mendapatkan berbagai akses dan menggunakan secara cerdas berbagai sumber informasi tentang demokrasi dalam teori dan praktek untuk berbagai konteks kehidupansehingga memiliki wawasan yang luas dan memadai.
b. Memfasilitasi warga negara agar dapat melakukan kajian konseptual dan operasional secara cermat dan bertanggung jawab terhadap berbagai cita-cita, instrumentasi, dan praksis demokrasi guna mendapatkan keyakinan dalam melakukan pengambilan keputusan individual dan atau kelompok dalam kehidupan sehari-harinya.
c. Memfasilitasi warga negara untuk memperoleh dan memanfaatkan kesempatan berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam praksis kehidupa demokrasi di lingkungannya, seperti mengeluarkan pendapat, berkumpul dan berserikat, memilih serta memonitor dan mempengaruhi kebijakan publik.
Demokrasi bertujuan menghasilkan demokrasi yang mengacu pada ciri-ciri sebagai berikut.
b. Bersifat evolusioner, dalam arti di lakukan secara perlahan, bagian demi bagian.
c. Perubahan bersifat damai, dalam arti tanpa kekerasan.
d. Berjalan memlalui cara musyawarah, dalam arti perbedaan yang ada diselesaikan dengan cara musyawarah.
Menurut zamroni (2001) menyatakan “Demokrasi akan tumbuh kokoh bila di kalangan masyarakat tumbuh kultur dan nilai-nilai demokrasi sebagai berikut:
a. Toleransi
b. Bebas memngemukakan dan menghormati perbedaan pendapat c. Memahami keanekaragaman dalam masyarakat
d. Terbuka dalam berkomunikasi
e. Menjunjung nilai dan martabat kemanusiaan f. Percaya diri atau tidak tergantung pada orang lain g. Saling menghargai
h. Mampu mengekakng diri
i. Kebersamaan dan keseimbangan
Masyarakat yang menerima dan melaksanakan terus menerus nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan akan menghasilkan budaya demokrasi. Budaya demokrasi di masyarakat akan terbentuk bila mana nilai-nilai demokrasi itu sudah berkembang luas, merata, dihayati, dan di jalankan sebagai sikap dan prilaku hidup.
3. Proses Demokrasi Menuju Masyarakat Madani
Bagi bangsa Indonesia, pemerintahan yang demokratis sudah menjadi cita-cita yang hendak di wujudkan sejak awal kemerdekaan. UUD 1945 yang telah di sahkan oleh PKI pada tanggal 18 Agustus 1945-pun telah membuat berbagai hak dan kewajiban warga negara serta pemerintah agar terwujud hubungan politik yang demokratis.
Di era reformasi sekarang ini, Indonesia mendambakan suatu masyarakat yang damai dan sejahtera. Untuk mencapai masyarakat yang seperti itu tiap WNI harus berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Dalam masyarakat yang seperti ini setiap masyarakat harus terbebas dari rasa takut, bebas berkreasi untuk menyumbangkan kemampuannya kepada negara. Masyarakat inilah yang disebut sebagai masyarakat madani, suatu masyarakat yang aman, adil, damai, dan sejahtera. Jadi masyarakat yang demokratis merupakan syarat penting terciptanya masyarakat madani.
tinggi terhadap negara, dan keterkaitan kepada nilai-nilai hukum yang disepakati bersama”.
B. Upaya Penegakan Demokrasi di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu dari sekian Negara yang menerapkan politik kerakyatan. Politik yang tertanam dan terlaksan mulai dari saat kita baru merdeka dan ternyata bertahan sampai saat ini. Berikut adalah beberapa pelaksanaan sistem pemerintahan demokrasi yang pernah berlaku di Indonesia adalah:
1. Demokrasi Liberal (1945-1959)
a. Setelah proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, ada peristiwa penting yang dilakukan PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, yaitu: disahkannya UUD 1945 sebagaiUUD Negara RI, disahkannya Pancasila sebagai dasar Negara RI, di tetapkannya Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Waki Presiden Negara RI, di tetapkannya KNIP sebagai badan pembantu presiden dan kemudian di anggap sebagai MPR dan DPR.
b. Keluarnya Maklumat pada tanggal 3 November 1945 yang memperbolehkan membentuk multi partai. Dan pada tanggal 14 November 1945 terbentuk susunan cabinet berdasarkan system parlementer (Demokrasi Liberal).
c. Pemerintah secara politis harus menerima berlakunya Konstitusi RIS 1949 sebagai hasil KMB di Den Haag (Belanda). System pemerintahan yang diterapkan demokrasi parlementer dengan multi partai.
d. Selama berlakunya UUDS 1950 pada tanggal 17 Agustus 1950, system demokrasi liberal selama sekitar Sembilan tahun tidak menunjukan hasil yang di harapkan rakyat. Cabinet mengalami tujuh kali pergantian, semua aspek kehidupan mengalami instabilitas. Konstituante (Badan Pembentuk UUD) juga tidak kunjung berhasil membentuk sebuah UUD baru.
2. Demokrasi Terpimpin (1959-1965) atau Masa Orde Lama
b. Kekuasaan di dominasi oleh presiden, peranan partai politik terbatasnya partai komunis, dan makin meluasnya peranan TNI/POLRI sebagai unsur social politik.
c. Banyak terjadinya penyelewengan terhadap pancasila dan UUD 1945, antara lain: pembentukan NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis); terbitnya TAPMPRS No.III/MPRS/1963 tentang pengangkatan Soekarno sebagai Presiden seumur hidup; Pembubaran DPR hasil pemilu oleh presiden, pengangkatan ketua DPRGR/MPR menjadi mentri negara oleh presiden.
d. Jika tidak terjadi mufakat dalam siding legislatif, maka perasalahan di serahkan pada presiden sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Maka wakil rakyat yang duduk dalam lembaga legislatif tidak memiliki peranan penting.
e. Pemerintah Orde Lama beserta demokrasi terpimpinnya jatuh setelah pemberontakan G30S/PKI di tahun 1965, diikuti oleh krisis ekonomi yang cukup parah.
3. Orde Baru (1966-1998)
a. Sejak tahun 1966 Soeharto, sebagai pengemban SUPERSEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret), memegang kendali kekuasaan dan menyebut pemerintahannya sebagai orde baru, dengan tekad melaksanakan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan Konsekuen. Pada awalnya dilakukan kembali kehidupan politik, ekonomi, social budaya, dan hakam.
b. Di bidang politik telah terjadi penyederhanaan partai-partai politik yang terdiri dari PPP, GOLKAR, dan PDI, DENGAN Pancasila sebagai satu-satunya asas.
c. Krisis ekonomi melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997. d. Penyalahgunaan wewenang berlangsung meluas dan sistematis, hingga
kepercayaan rakyat pada pemerintah ini memudar.
e. Soeharto mundur sebagai presiden RI pada tanggal 21 Mei 1998 setelah memperoleh desakan luar biasa dari segenap rakyat.
f. BJ. Habibie yang menjabat sebagai wakil presiden pada saat itu, di tunjuk sebagai presiden hingga siding umum MPR tahun 1999.
a. Reformasi terlahir sebagai anti klimaks pemerintahan Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun, namun belakangan banyak diketahui banyak melakukan pelanggaran HAM serta maraknya KKN (Korupsi, Kolusi, dam Nepotisme).
b. Kepemimpinan Habibie tidak mendapat dukungan sosial politik dari sebgaian besar rakyat. Melalui pemilu berikutnya, KH. Abdurahman Wahid (Gusdur) terpilih sebagai Presiden RI, Akibatnya beberapa kebijakan yang kurang sejalan dengan proses demokratisasi Abdurahman Wahid tersingkir, lalu di gantikan oleh wakilnya Megawati Soekarno Putri.
c. Pemilu secara langsung oleh rakyat di selenggarakan pada tahun 2004 dan berhasil menobatkan pasangan Soesilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
C. Pelaksanaan Demokrasi Pancasila Di Indonesia
Pengertian demokrasi pancasila secara umum adalah Demokrasi yang berintikan sila keempat pancasila, dan diintegrasikan dengan sila-sila pancasila yang lainnya.
Dardji Darmodihardjo dalam Budiyanto (2004: 135) mengemukakan bahwa demokrasi pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber kepada kepribadian dan falsafah hidup bangsa Indonesia, yang perwujudannya seperti dalam ketentuan-ketentuan Pembukaan UUD 1945. Menurut Ruyadi demokrasi pancasila memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Pelaksanaan demokrasi harus berdasarkan atas Pancasila. 2. Bertolak dari paham kekeluargaan.
3. Ada jaminan keselarasan antara kepentingan perorangan dan kepentingan masyarakat.
4. Menghargai hak-hak asasi manusia, serta menjamin hak-hak minoritas. 5. Pelaksanaan kehidupan ketatanegaraan berdasarkan atas kelembagaan
(institusional).
6. Bersendi atas hukum.
7. Menjamin untuk menyampaikan pendapat dan berbeda pendapat.
melaksanakan voting (pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak).
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, beberapa hal yang telah kita tegakan dengan berlandaskan demokrasi pancasila adalah seperti berikut ini.
1. Kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, sehingga kapanpun dan bagaimanapun rakyat bisa saja menggulingkan kekuasaan pemerintah yang sedang berkuasa dengan alasan kuat yang rasional
2. Segala kegiatan dilakukan dengan berasaskan kekeluargaan dan gotong-royong
3. Pengambilan keputusan didasari dengan musyawarah untuk mencapai mufakat, hal ini bisa terlihat pula dari organisasi-organisasi intra dan ekstrakurikuler di sekolah ataupun di perguruan tinggi.
4. Tidak ada partai pemerintah atau oposisi, semua partai berlandaskan untuk kepentingan bersama rakyat Indonesia
5. Hak dan kewajiban dijalankan dengan seimbang, tidak berat sebelah ke satu sisi
6. Hak Asasi Manusia dijunjung tinggi dan dilindungi oleh hukum yang jelas 7. Pendapat rakyat disampaikan melalui lembaga perwakilan rakyat dan tidak
menganut sistem partai tunggal
8. Pemilu dilaksanakan secara LUBERJURDIL dan sistem hukum diterapkan secara fleksibel (tidaak kaku terhadap perkembangan zaman namun juga tidak mudah terbawa arus perubahan), dll.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan pembahasan makalah Upaya Penegakan Demokrasi di Indonesia ini diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Demokrasi, pendidikan demokrasi dan demokratisasi tidak lain dilaksanakan demi tercapainya masyarakat madani yang makmur dan sejahtera.
2. Upaya penegakan demokrasi di Indonesia telah dilaksanakan cukup lama dengan menggandeng beberapa sistem yang disesuaikan dengan zamannya, mulai dari demokrasi liberal hingga demokrasi pancasila. 3. Pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini harus mulai kita perhatikan
kembali, karena dengan sengaja ataupun tidak ternyata kita telah menyimpang dari cita-cita demokrasi yang sebenarnya.
B. Saran