BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan
dalam pengumpulan data atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan
dan menguji hipotesis penelitian.
3.1.Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analisis dengan
pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk
diambil kesimpulan.
3.2.Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di kecamatan-kecamatan penghasil komoditi yang
diekspor yaitu Kecamatan Tiga Panah, Kecamatan Kabanjahe, Kecamatan
Simpang Empat, Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara.
3.3. Batasan Operasional
Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah
dikemukakan, maka variabel yang akan digunakan adalah, Pendapatan Domestik
Regional Bruto (PDRB), Prospek Pembangunan, dan Sektor Pertanian.
3.4.Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder
yang bersifat kuantitatif yaitu data dalam bentuk angka-angka dan berkala (time
series) dengan kurun waktu tujuh tahun (2008-2014). Sumber data diperoleh dari
33 3.5. Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian
kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan melalui bahan
bahan kepustakaan berupa buku-buku, tulisan-tulisan ilmiah, jurnal, artikel, dan
laporan-laporan penelitian yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Teknik
pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan melakukan pencatatan langsung
berupa data time series dari tahun 2008-2014 dari BPS Provinsi Sumatera Utara.
3.6.Teknik Analisis
Untuk menjawab permasalahan pertama, maka diperlukan alat analisis
sebagai berikut:
3.6.1. Location Quotient
Location Quotient (LQ) merupakan suatu metode untuk menghitung
perbandingan relatif sumbangan nilai tambah sebuah sektor di suatu daerah
(Kabupaten/kota) terhadap nilai tambah sektor yang bersangkutan dalam skala
provinsi atau nasional. Dengan kata lain, metode ini dipergunakan untuk
menganalisis dan menghitung potensi ekonomi (sektor-sektor ekonomi) yang
dimiliki suatu daerah yang terdiri atas sektor basis dan sektor non basis. Dengan
menggunakan metode LQ ini maka akan diketahui sektor-sektor apa saja yang
menjadi sektor unggulan penunjang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi
suatu daerah.
Rumus LQ adalah sebagai berikut :
=
dimana :
LQij : Koefisien Location Quotient
: PDRB sektor i di Kabupaten Karo (Rupiah)
: PDRB Kabupaten Karo (Rupiah)
: PDRB sektor i di Provinsi Sumatera Utara (Rupiah)
Y : PDRB Provinsi Sumatera Utara (Rupiah)
Kriteria hasil perhitungan koefisien LQ adalah jika suatu sektor memiliki
koefisien LQ > 1, mengindikasikan adanya kegiatan ekspor di sektor tersebut atau
sektor basis, dan sekaligus mengindikasikan bahwa sektor tersebut merupakan
sektor yang berpotensi (sektor unggulan) dalam meningkatkan pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi di daerah tersebut. Namun bila suatu sektor memilki
koefisien LQ < 1, mengindikasikan tidak ada kegiatan ekspor di sektor tersebut
atau disebut sektor non basis, yang berarti bahwa sektor tersebut tidak/kurang
potensional (unggul) untuk meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi di daerah tersebut. Dalam perhitungan nilai koefisien LQ ini, penulis
menggunakan data PDRB menurut lapangan usaha Atas Dasar Harga Konstan
35 3.6.2.Analisis Model Rasio Pertumbuhan
Analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP) merupakan kegiatan
membandingkan pertumbuhan suatu kegiatan baik dalam skala yang lebih kecil
maupun dalam skala yang lebih luas. Terdapat dua rasio pertumbuhan dalam
analisis tersebut, yaitu rasio pertumbuhan wilayah referensi dan rasio
pertumbuhan wilayah studi .
1.
=
2.
=
Dimana:
: Rasio pertumbuhan wilayah Provinsi Sumatera Utara.
: Rasio pertumbuhan wilayah Kabupaten karo.
: Yin(t+1) - Yin(t) adalah perubahan PDRB Provinsi Sumatera Utara di sektor i.
: PDRB Provinsi Sumatera Utara di sektor i awal periode penelitian.
: Yn(t+1) - Yn(t) perubahan PDRB Provinsi Sumatera Utara.
: PDRB Provinsi Sumatera Utara pada tahun awal periode penelitian.
: Yij(t+1) - Yij(t) adalah perubahan PDRB Kab. Karo di sektor i.
: PDRB Kabupaten Karo di sektor i tahun awal periode penelitian.
: Yj(t+1) – Yj(t) perubahan PDRB Kabupaten Karo.
: PDRB Kabupaten Karo pada tahun awal periode penelitian.
3.6.3.Analisis Trend
Analisis trend merupakan analisis data time series untuk mengamati
kecenderungan data dan meramalkan kondisi yang akan datang. Dalam penelitian
ini, analisis trend digunakan untuk melihat prospek setiap sektor ekonomi di
Kabupaten Karo kedepan. data analisis trend ini menggunakan data hasil
perhitungan LQ. Metode LQ ini dipergunakan untuk menganalisis dan
menghitung potensi ekonomi (sektor-sektor ekonomi) yang dimiliki suatu daerah
yang terdiri atas sektor basis dan sektor non basis.
Dalam penelitian ini menggunakan data time series selama tujuh tahun
yaitu mulai tahun 2008 sampai tahun 2014, untuk mengetahui bagaimana prospek
sector ekonomi ke depan dengan peramalan selama lima tahun ke depan. Berikut
persamaan linear untuk peramalan sektor ekonomi yaitu:
Yn = a +
Keterangan :
Y : variabel nilai LQ tahun ke n
X : variabel waktu (tahun).
a : konstanta
b : parameter
37 b : XY/
3.7. Definisi Operasional Variabel
1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah PDRB Kabupaten Karo dan
PDRB Provinsi Sumatera Utara, atas dasar harga konstan dalam satuan rupiah.
2. Pertumbuhan Ekonomi adalah persentase perubahan PDRB Kabupaten Karo
dan persentase perubahan PDRB Provinsi Sumatera Utara dari tahun ke tahun,
atas dasar harga konstan dalam satuan persen.
3. Sektor Potensial adalah sektor yang memiliki keunggulan atau kelebihan,
dilihat dari besar peranan sektor tersebut di Kabupaten Karo terhadap besar
peranan sektor tersebut di Provinsi Sumatera Utara.
4. Prospek sektor Pertanian adalah gambaran perkembangan sektor – sektor
ekonomi di Kabupaten Karo.
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskriptif Daerah Penelitian
4.1.1.Geografis Daerah
Secara geografis daerah Kabupaten Karo terletak antara 02050’- 03019’ LU dan 97055’- 98038’ BT. Daerah Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi
bukit barisan dengan total luas administrasi 2.127 km2 atau 212.725 ha. Wilayah
Kabupaten Karo berbatasan dengan:
a. Kabupaten Langkat dan Deli Serdang dibagian Utara,
b. Kabupaten Simalungun dibagian Timur,
c. Kabupaten Dairi dibagian Selatan, dan
d. Propinsi Nanggro Aceh Darusalam dibagian Barat.
Ibukota Kabupaten Karo adalah Kabanjahe yang terletak sekitar 76 km
sebelah selatan kota Medan ibukota Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Karo yang
secara administratif dibagi atas 17 (tujuh belas) kecamatan, tujuh belas kecamatan
tersebut terdiri dari 248 (dua ratus empat puluh delapan) desa dan 10 (sepuluh)
39 4.1.2.Kondisi Iklim dan Topografi
Peta Prakiraan Sifat Hujan Kabupaten Karo
Tipe iklim daerah Kabupaten Karo adalah E2 menurut klasifikasi Oldeman
dengan bulan basah lebih tiga bulan dan bulan kering berkisar 2-3 bulan atau A
menurut Koppen dengan curah hujan rata-rata di atas 1.000 mm/ tahun dan merata
sepanjang tahun. Curah hujan tahunan berkisar antara 1000-4000 mm/ tahun, dimana
curah hujan terbesar terjadi pada bulan basah yaitu Agustus sampai dengan Januari
dan bulan Maret sampai dengan Mei.
Gambar 4.1 Curah Hujan Menurut Bulan (MM) Rainfall,According to Month (MM)
2014
Ditinjau dari kondisi topografinya, wilayah Kabupaten Karo terletak di
dataran tinggi bukit barisan dengan elevasi terendah +140 m diatas permukaan laut
(Paya lah-lah Mardingding) dan tertinggi ialah + 2.451 m diatas permukaan laut
(Gunung Sinabung). Daerah Kabupaten Karo yang berada di daerah dataran tinggi
bukit barisan dengan kondisi topografi yang berbukit dan bergelombang, maka
wilayah ini ditemui banyak lembah-lembah dan alur-alur sungai yang dalam dan
lereng-lereng bukit yang curam/ terjal. Sedangkan besar (90%) wilayah Kabupaten
Karo berada pada ketinggian/ elevasi + 140 m- 1400 m diatas permukaan laut.
Pada wilayah Kabupaten Karo terdapat dua hulu daerah aliran sungai (DAS)
yang besar yakni DAS sungai Wampu dan DAS sungai Lawe Alas. Sungai Wampu
bermuara ke Selat Sumatera dan Sungai Renun (Lawe Alas) bermuara ke Lautan
41 4.1.3. Kondisi Demografi
Ditinjau dari segi etnis, penduduk Kabupaten Karo mayoritas adalah suku
Karo, sedangkan suku lainnya seperti suku Batak Toba, Mandailing, Jawa,
Simalungun dan suku lainnya hanya sedikit jumlahnya (di bawah 5%). Jumlah
penduduk Karo jika dibandingkan dengan luas wilayah Kabupaten Karo yakni
2.127,25 km2 maka kepadatan penduduk Kabupaten Karo akhir tahun 2008 adalah
161,03 jiwa/km2.
Komposisi penduduk berdasarkan agama yang dianut memperlihatkan bahwa
penganut agama Kristen merupakan yang terbanyak baru disusul oleh pemeluk agama
Islam dan agama lainnya.
4.1.4. Potensi Wilayah
Wilayah Kabupaten Karo memiliki potensi lahan yang sangat luas dan
potensial yang dapat dikembangkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi.
Sebagian besar wilayah ini merupakan areal pertanian, oleh karena itu kegiatan
terpenting perekonomian masih mengandalkan sektor pertanian. Disamping itu danau
dan sungai tidak kalah pentingnya, ini digunakan sebagai potensi perikanan dan
pehubungan sedangkan keindahan alamnya merupakan potensi energik untuk
pengembangan industri, perdagangan dan lain-lain.
Daerah ini juga merupakan salah satu tujuan wisata yang utama di Provinsi
Sumatera Utara serta sudah banyak dikenal baik domestik maupun mancanegara. Hal
ini didukung oleh panorama yang indah dengan alam/ udara pegunungan yana sejuk
dan dekat dengan kota Medan sebagai salah satu pintu gerbang ke dunia internasional
di Provinsi Sumatera Utara.
4.2 Perkembangan Sektor Pertanian Kabupaten Karo
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak
kebijaksanaan pembagunan yang dilaksanakan, khususnya bidang ekonomi.
Pertumbuhan tersebut merupakan perubahan jumlah produksi yang dibentuk dari
berbagai macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung, hal ini merupakan
gambaran tingkat perubahan ekonomi yang terjadi di suatu daerah. Bagi suatu daerah
indikator ini penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan yang dicapai dan
juga berguna untuk menentukan arah kebijakan pembangunan yang akan datang.
Untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dapat dilihat melalui
perubahan PDRB atas dasar harga konstan, dimana pada tahun 2008 kegiatan
perekonomian di Kabupaten Karo mengalami peningkatan.
Pembangunan ekonomi dapat menumbuhkan kegiatan-kegiatan sektor
lapangan usaha sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui
usaha-usaha sektor informal maupun formal. Pada prinsipnya pembangunan ekonomi
itu sendiri merupakan rangkaian usaha yang bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat dan memperluas lapangan kerja,
pemerataan pendapatan masyarakat dan peningkatan hubungan ekonomi regional
dalam peningkatan investasi daerah sehingga dapat menggairahkan lapangan usaha
dengan sektor-sektor ekonomi yang ada di Kabupaten Karo.
Sektor pertanian adalah penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten
Karo hingga saat ini. Hal tersebut dapat dipahami karena daerah Kabupaten Karo
merupakan daerah pertanian dataran tinggi. Perkembangan ini dapat dilihat pada tabel
4.1 dan 4.2 dimana pendapatan sektor pertanian memiliki persentase distribusi PDRB
43 Tabel 4.1.
Persentase Distribusi PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000
No. Jenis Sarana 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1 Pertanian 58,41 58,36 58,02 57,60 57,40 57,35 57,40 2 Pertambangan
dan Penggalian 0,36 0,35 0,37 0,39 0,38 0,38
0,35
3 Industri 0,75
0,76 0,73 0,72 0,71 0,71 0,71 4 Listrik, gas dan
air Minum 0,30 0,30 0,30 0,29 0,29 0,28
0,30
5 Bangunan 3,59 3,57 3,53 3,51 3,58 3,35 3,36
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran
14,35 14,36 14,56 14,75 14,96 15,16 15,10
7 Pengangkutan
dan Komunikasi 9,19 9,17 8,97 8,77 8,73 8,70 8,74 8 Keuangan, Usaha
Persewaan dan Jasa Perusahaan
1,57 1,64 1,64 1,64 1,65 1,53 1,56
9 Jasa – Jasa 11,48 11,49 11,88 12,33 12,30 12,36 12,48
Jumlah 100 100 100 100 100 100 100
Sumber : BPS Kabupaten Karo
Tabel 4.2.
Persentase Distribusi PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2008 – 2014 (persen)
No. Jenis Sarana 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1 Pertanian 61,54 60,46 61,08 60,94 60,98 60,54 61,42 2 Pertambangan
dan Penggalian 0,34 0,36 0,36 0,37 0,35 0,34
0,35
3 Industri 0,73 0,75 0,73 0,72 0,72 0,71 0,73
4 Listrik, gas dan
air Minum 0,32 0,36 0,33 0,30 0,29 0,28
0,30
5 Bangunan 3,51 3,76 3,58 3,52 3,56 3,51 3,52
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran
11,52 11,97 11,57 11,52 11,49 11,55 11,58
7 Pengangkutan
dan Komunikasi 7,73 7,72 7,73 7,04 7,19 6,98 7,19 8 Keuangan, Usaha
Persewaan dan Jasa Perusahaan
1,71 1,74 1,62 1,52 1,51 1,53 1,59
9 Jasa – Jasa 12,60 12,88 13,18 14,07 13,91 14,56 14,59
Jumlah 100 100 100 100 100 100 100
Sumber : BPS Kabupaten Karo
Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Karo merupakan indikator pertumbuhan
ekonomi makro Kabupaten Karo yakni menggambarkan tingkat pertumbuhan
ekonomi. Indikator ini bisa digunakan sebagai parameter penilaian sampai sejauh
mana keberhasilan pembangunan di suatu daerah dalam periode tertentu, sedangkan
pertumbuhan tersebut merupakan rangkuman laju pertumbuhan seluruh sektor
ekonomi.
Melihat besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB
Kabupaten Karo dapat menggambarkan bahwa sektor pertanian masih tetap menjadi
45
dengan karakteristik daerah dengan hamparan pertanian yang luas serta masyarakat
yang dikenal sebagai petani yang tangguh dan ulet.
4.2.1. Kondisi Perekonomian
Kondisi perekonomian suatu wilayah secara makro dapat digambarkan
oleh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan indikator ini seringkali
digunakan sebagai alat ukur tingkat pertumbuhan ekonomi maupun struktur
perekonomian sektoral. PDRB Kabupaten Karo pada tahun 2008 atas dasar harga
konstan 2000 sebesar 3.069.73 milyar meningkat sebesar 140,12 milyar
dibandingkan tahun 2007 sebesar 2.929.61 milyar. Bila nilai PDRB Kabupaten
Karo ini dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka didapatkan bahwa PDRB
perkapita Kabupaten Karo pada tahun 2008 atas dasar harga konstan 2000 adalah
sebesar Rp. 8.509.201 dengan jumlah penduduk 363.755 jiwa. PDRB perkapita
ini semakin meningkat dari tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2007 sebesar
Rp. 7.782.121.
Tabel 4.3
PDRB, PDRB Perkapita, dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo Atas Dasar Harga Konstan 2000, Tahun 2008 – 2014
Tahun
Sumber : BPS Sumatera Utara
Kabupaten Karo memiliki pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Bila
diperhatikan trennya, dari tahun 2008 hingga 2014, PDRB Kabupaten Karo
mengalami peningkatan pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo
adalah 7,50%.
4.3Analisis dan Pembahasan
4.3.1. Analisis Tipologi Klassen (Pola Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo)
Untuk menentukan pola pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo
digunakan metode Tipologi Klassen. Tipologi Klassen membagi daerah
berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan
47
sebagai sumbu vertikal dan rata-rata pendapatan perkapita sebagai sumbu
horizontal. Daerah yang diamati dapat dibagi menjadi empat klasifikasi yaitu:
a. Daerah cepat maju dan cepat tumbuh (High growth and high income) adalah
laju pertumbuhan PDRB dan pendapatan perkapita lebih tinggi dari rata –rata
pertumbuhan dan pendapatan perkapita rata- rata provinsi.
b. Daerah maju tapi tertekan. (high income but low growth ) yaitu daerah yang
relatif maju, tapi dalam beberapa tahun terakhir laju pertumbuhan menurun
akibat tertekannya kegiatan utama daerah yang bersangkutan. Daerah ini
merupakan daerah yang telah maju tapi di masa mendatang pertumbuhannya
tidak akan begitu cepat walaupun potensi pengembangan yang dimiliki pada
dasarnya sangat besar. Daerah ini mempunyai pendapatan perkapita lebih
tinggi tapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibandingkan
rata- rata provinsi.
c. Daerah berkembang cepat (high growth but low income) adalah daerah yang
dapat berkembang cepat dengan potensi pengembangan yang dimiliki sangat
besar tapi belum diolah sepenuhnya secara baik. Tingkat pertumbuhan
ekonomi daerah sangat tinggi, namun tingkat pendapatan perkapita yang
mencerminkan dari tahap pembangunan yang telah dicapai sebenarnya masih
relatif rendah. Daerah ini memiliki tingkat pertumbuhan tinggi tetapi tingkat
pendapatan perkapita lebih rendah dibandingkan dengan rata- rata provinsi.
d. Daerah relatif tertinggal (low growth and low income ) adalah daerah yang
masih mempunyai tingkat pertumbuhan dan pendapatan perkapita lebih
rendah dari pada rata- rata provinsi.
Pada Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa pola dan struktur pertumbuhan
Kabupaten Karo diklasifikasikan ke dalam kuadran IV, yaitu daerah yang relatif
tertinggal, yang memberikan arti bahwa tingkat pertumbuhan dan pendapatan per
kapita Kabupaten Karo lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan dan
pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara hasil analisis tipologi klassen
berdasarkan laju pertumbuhan dan PDRB perkapita Kabupaten Karo yang
dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2008-2014 yaitu
Kabupaten Karo memiliki laju pertumbuhan yang lebih rendah (-) dan PDRB
perkapita lebih rendah (-) daripada Provinsi Sumatera Utara.
Tabel 4.4
Hasil Analisis Tipologi Klassen PDRBPerkapita
9.880.501 9.999.035 rendah (-) Rata-rata
5,85 5,94 rendah (-)
Sumber: BPS Sumatera Utara
49
yang relatif tertinggal, yang memberikan arti bahwa tingkat pertumbuhan dan
pendapatan per kapita Kabupaten Karo lebih rendah dibandingkan rata-rata
pertumbuhan dan pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara.
Tabel 4.5
Klasifikasi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo Menurut Tipologi Klassen Tahun 2008-2014 PDRB
Sumber : Tabel 4.4 (data diolah)
4.3.2. Analisis Location Quotients (LQ)
Untuk mengetahui sektor potensial di suatu daerah, alat analisis yang
digunakan adalah dengan melihat nilai Location Quotients (LQ), yang merupakan
perbandingan kontribusi masing–masing sektor terhadap pembentukan PDRB
Kabupaten Karo dengan PDRB Provinsi Sumatera Utara. Jika nilai LQ > 1, maka
sektor tersebut dapat dikatakan sektor potensial (basis). Apabila nilai LQ < 1
maka sektor tersebut bukan merupakan sektor potensial (non basis). Pada Tabel
4.6 hasil analisis LQ menunjukkan bahwa tahun 2008-2014, hanya ada 2 (dua)
sektor yang nilai LQnya lebih besar dari satu, yaitu sektor pertanian dan sektor
jasa – jasa.
Tabel 4.6
Hasil Analisis LQ Kabupaten Karo Tahun 2008 - 2014
Lap. Usaha LQ Kabupaten Karo
Rata-rata 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Pertanian 2,36 2,44 2,43 2,42 2,43 2,45 2,45 2.42
Pertambangan
& Penggalian 0.292 0.28 0.30 0.32 0.32 0,31 0.35 0,31 Industri
Pengolahan 0,03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0,03 Listrik, gas &
air bersih 0,39 0.38 0.40 0.39 0.39 0.381 0.37 0,38 Bangunan 0,56 0.54 0.53 0.52 0.51 0.50 0.50 0,52 Perdagangan,
Hotel & Restoran
0,78 0.78 0.79 0.75 0.81 0.81 0.81 0,79 Pengangkutan
& Komunikasi 1,07 1.01 0.96 0.92 0.89 0.86 0.82 0,93 Keuangan,
Persewaan, & Jasa
Perusahaan
0,26 0.24 0.23 0.23 0.22 0.22 0.20 0,23 Jasa-Jasa 1,24 1.19 1.22 1.23 1.22 1.24 1.30 1,23
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara (data diolah)
Dari tabel di atas bisa disimpulkan bahwa yang menjadi sektor potensial
51
4.3.3. Analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP)
Analisis model rasio pertumbuhan (MRP) merupakan salah satu alat
analisis alternatif guna mendukung penentuan deskripsi kegiatan ekonomi yang
potensial bagi Kabupaten Karo. MRP ini memiliki kemiripan dengan LQ,
perbedaannya terletak pada cara menghitung, jika LQ menggunakan distribusi
sedangkan MRP menggunakan kriteria pertumbuhan. Pendekatan MRP dapat
dibagi menjadi dua, yaitu: (1) rasio pertumbuhan wilayah referensi (RPr), dan (2)
rasio pertumbuhan wilayah studi (RPs). RPr membandingkan pertumbuhan
masing – masing kegiatan dalam konteks Provinsi Sumatera Utara dengan PDRB
Provinsi Sumatera Utara (lingkup Provinsi). Analisis yang lebih jauh
membandingkan pertumbuhan masing – masing kegiatan dalam konteks wilayah
Kabupaten Karo dengan PDRB wilayah Kabupaten Karo (lingkup regional). Jika
nilai RPr lebih besar dari 1 maka RPr dikatakan (+) dan jika RPr lebih kecil dari 1
maka RPr dikatakan (-). RPr (+) menunjukkan bahwa pertumbuhan suatu kegiatan
tertentu dalam tingkat Provinsi Sumatera Utara lebih tinggi dari pertumbuhan
PDRB Provinsi Sumatera Utara. Demikian pula sebaliknya jika RPr (-).
Sedangkan RPs membandingkan pertumbuhan kegiatan dalam tingkat wilayah
Kabupaten Karo dengan pertumbuhan kegiatan yang bersangkutan pada tingkat
Provinsi Sumatera Utara. Bila pertumbuhan suatu kegiatan pada tingkat wilayah
Kabupaten Karo lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kegiatan tersebut
pada tingkat wilayah Provinsi Sumatera Utara diidentifikasikan sebagai (+),
demikian sebaliknya jika RPs (-).
Dari hasil analisis LQ sebelumnya diperoleh 2 sektor basis di Kabupaten
Karo dilihat dari sisi kontribusi. Dalam analisis MRP ini akan dilanjutkan
terhadap pertumbuhan kedua sektor tersebut. Dari Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa
semua sektor basis memiliki RPs positif kecuali sektor listrik, gas, dan air bersih.
Tabel 4.7
Hasil Analisis Model Rasio Pertumbuhan Kabupaten Karo Tahun 2008 – 2014
Listrik, gas & air bersih Bangunan
Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara (data dapat diolah)
4.3.4. Analisis Overlay
Analisis Overlay merupakan gabungan dari perhitungan LQ dan MRP
untuk mendapatkan hasil identifikasi kegiatan sektor yang unggul, baik dari sisi
kontribusi maupun sisi pertumbuhannya (Yusuf,1999). Dalam analisis ini kriteria
kontribusi yang dipergunakan adalah nilai LQ rata-rata selama periode
53
nilai RPs rata-rata selama periode 2008-2014. Hasil analisis overlay pada Tabel
4.8 menunjukkan bahwa sektor ekonomi yang sangat dominan dikembangkan
sebagai sektor potensial di Kabupaten Karo dengan LQ dan nilai MRP positif
selama periode tahun 2008-2014 yaitu dari sektor Pertanian dan sektor Jasa-jasa.
Tabel 4.8
Hasil Analisis Overlay Sektor Ekonomi di Kabupaten Karo Tahun 2008-2014
No Lapangan Usaha LQ (Kontribusi)
MRP Listrik, gas & air bersih Pembangunan
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara (data diolah)
Salah satu sektor yang potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Karo
adalah sektor Pertanian. Hal ini didukung beberapa hal, yaitu lahan yang bisa
dikembangkan untuk pertanian masih sangat luas. Selain itu ekosistem Karo yang
merupakan ekosistem hujan tropis juga sangat baik untuk pertanian. Bentangan
hutan yang panjang juga memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan.
Namun harus diikuti oleh kebijakan untuk tetap menjaga keberadaan hutan. Selain
sektor Pertanian yang potensial di Kabupaten Karo adalah sektor Jasa – jasa.
Terutama pada sub sektor Pemerintahan Umum, yang terdiri dari upah dan gaji
rutin pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Karo.
Jika kedua sektor ini dikembangkan sebagai sektor potensial/basis
diharapkan dapat menunjang pertumbuhan sektor-sektor lainnya sehingga
kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Karo dapat lebih meningkat dan sektor
potensial di Kabupaten Karo juga lebih beragam di masa mendatang. Namun
pengembangan sektor pertanian sebagai sektor potensial memiliki kendala antara
lain jenis tanah yang berbatu dan tingkat keasaman (Ph) juga tinggi, jadi perlu
penanganan khusus untuk meningkatkan kesuburan lahan.
4.3.5. Analisis Trend
Dalam penelitian ini, analisis trend digunakan untuk melihat prospek
setiap sektor ekonomi di Kabupaten Karo kedepan yaitu tahun 2015 sampai tahun
2021. Data untuk analisis trend ini menggunakan data hasil perhitungan LQ dan
MRP (yaitu Rps dan Rpr) dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2008 sampai tahun
2014 seperti perhitungan Overlay untuk menggambarkan deskripsi ekonomi.
Berikut persamaan linear untuk peramalan sektor ekonomi dalam analisis trend
55 Yn = a + bXn
Keterangan :
Y : variabel nilai LQ tahun ke n
X : variabel waktu (tahun).
a : konstanta
b : parameter a : ΣY / N
b : ΣXY/ΣX2
Berdasarkan persamaan linear di atas dapat diramalkan bagaimana
perkembangan sektor ekonomi Kabupaten karo dari tahun 2015 sampai 2021
menggunakan data hasil perhitungan LQ dan MRP (yaitu RPr dan RPs) dari tahun
sebelumnya yaitu tahun 2008 sampai tahun 2014 yaitu:
Tabel 4.9
Peramalan Nilai LQ Kabupaten Karo tahun 2015 – 2021
No Sektor 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Rata-Listrik, gas & air
bersih
Nilai LQ menggambarkan bagaimana kontribusi sektor-sektor ekonomi
kedepan yaitu tahun 2015 sampai 2021. Dalam periode ini terdapat dua sektor
yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Kabupaten Karo yaitu sektor
57 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka penulis mengungkapkan
beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1. Dari hasil analisis Tipologi Klassen dapat disimpulkan bahwa Pola
pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo dalam periode Tahun 2008- 2014
termasuk dalam klasifikasi relatif tertinggal.
2. Hasil analisis Overlay menunjukkan bahwa sektor ekonomi potensial di
Kabupaten Karo dengan LQ dan nilai MRP positif selama periode 2008-2014
yaitu sektor Pertanian dan sektor Jasa – jasa.
3. Prospek sektor ekonomi di Kabupaten Karo berdasarkan deskripsi
perekonomian melelui peramalan analisis trend tahun 2015-2021 yaitu sektor
pertanian dan jasa-jasa merupakan sektor yang memiliki kontribusi besar dan
pertumbuhan cepat dan tinggi.
5.2 Saran
Dari hasil analisis dan pembahasan, maka penulis memberikan saran
kepada pihak – pihak yang membutuhkan yaitu sebagai berikut:
1. Pola pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo yang relatif tertinggal dalam
periode Tahun 2008-2014 harus diperbaiki dengan mengutamakan
pengembangan sektor potensial/basis dengan tidak mengabaikan sektor non
basis dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sehingga PDRB dan
pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo dapat ditingkatkan. Sebaiknya
peluang untuk perusahaan jasa swasta lebih besar lagi, dan pemberdayaan
masyarakat petani yang sudah ada seperti PNPM tetap diberdayakan.
2. Sektor Jasa – jasa dan sektor pertanian yang memiliki prospek yang baik
untuk menjadi sektor potensial pada periode Tahun 2015-2021 sebaiknya
dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)