• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Prospek Pembangunan Sektor Pertanian di Kabupaten Karo Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Prospek Pembangunan Sektor Pertanian di Kabupaten Karo Chapter III V"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan

dalam pengumpulan data atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan

dan menguji hipotesis penelitian.

3.1.Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analisis dengan

pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk

diambil kesimpulan.

3.2.Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di kecamatan-kecamatan penghasil komoditi yang

diekspor yaitu Kecamatan Tiga Panah, Kecamatan Kabanjahe, Kecamatan

Simpang Empat, Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara.

3.3. Batasan Operasional

Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah

dikemukakan, maka variabel yang akan digunakan adalah, Pendapatan Domestik

Regional Bruto (PDRB), Prospek Pembangunan, dan Sektor Pertanian.

3.4.Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder

yang bersifat kuantitatif yaitu data dalam bentuk angka-angka dan berkala (time

series) dengan kurun waktu tujuh tahun (2008-2014). Sumber data diperoleh dari

(2)

33 3.5. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian

kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan melalui bahan

bahan kepustakaan berupa buku-buku, tulisan-tulisan ilmiah, jurnal, artikel, dan

laporan-laporan penelitian yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Teknik

pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan melakukan pencatatan langsung

berupa data time series dari tahun 2008-2014 dari BPS Provinsi Sumatera Utara.

3.6.Teknik Analisis

Untuk menjawab permasalahan pertama, maka diperlukan alat analisis

sebagai berikut:

3.6.1. Location Quotient

Location Quotient (LQ) merupakan suatu metode untuk menghitung

perbandingan relatif sumbangan nilai tambah sebuah sektor di suatu daerah

(Kabupaten/kota) terhadap nilai tambah sektor yang bersangkutan dalam skala

provinsi atau nasional. Dengan kata lain, metode ini dipergunakan untuk

menganalisis dan menghitung potensi ekonomi (sektor-sektor ekonomi) yang

dimiliki suatu daerah yang terdiri atas sektor basis dan sektor non basis. Dengan

menggunakan metode LQ ini maka akan diketahui sektor-sektor apa saja yang

menjadi sektor unggulan penunjang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi

suatu daerah.

(3)

Rumus LQ adalah sebagai berikut :

=

dimana :

LQij : Koefisien Location Quotient

: PDRB sektor i di Kabupaten Karo (Rupiah)

: PDRB Kabupaten Karo (Rupiah)

: PDRB sektor i di Provinsi Sumatera Utara (Rupiah)

Y : PDRB Provinsi Sumatera Utara (Rupiah)

Kriteria hasil perhitungan koefisien LQ adalah jika suatu sektor memiliki

koefisien LQ > 1, mengindikasikan adanya kegiatan ekspor di sektor tersebut atau

sektor basis, dan sekaligus mengindikasikan bahwa sektor tersebut merupakan

sektor yang berpotensi (sektor unggulan) dalam meningkatkan pertumbuhan dan

pembangunan ekonomi di daerah tersebut. Namun bila suatu sektor memilki

koefisien LQ < 1, mengindikasikan tidak ada kegiatan ekspor di sektor tersebut

atau disebut sektor non basis, yang berarti bahwa sektor tersebut tidak/kurang

potensional (unggul) untuk meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan

ekonomi di daerah tersebut. Dalam perhitungan nilai koefisien LQ ini, penulis

menggunakan data PDRB menurut lapangan usaha Atas Dasar Harga Konstan

(4)

35 3.6.2.Analisis Model Rasio Pertumbuhan

Analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP) merupakan kegiatan

membandingkan pertumbuhan suatu kegiatan baik dalam skala yang lebih kecil

maupun dalam skala yang lebih luas. Terdapat dua rasio pertumbuhan dalam

analisis tersebut, yaitu rasio pertumbuhan wilayah referensi dan rasio

pertumbuhan wilayah studi .

1.

=

2.

=

Dimana:

: Rasio pertumbuhan wilayah Provinsi Sumatera Utara.

: Rasio pertumbuhan wilayah Kabupaten karo.

: Yin(t+1) - Yin(t) adalah perubahan PDRB Provinsi Sumatera Utara di sektor i.

: PDRB Provinsi Sumatera Utara di sektor i awal periode penelitian.

: Yn(t+1) - Yn(t) perubahan PDRB Provinsi Sumatera Utara.

: PDRB Provinsi Sumatera Utara pada tahun awal periode penelitian.

(5)

: Yij(t+1) - Yij(t) adalah perubahan PDRB Kab. Karo di sektor i.

: PDRB Kabupaten Karo di sektor i tahun awal periode penelitian.

: Yj(t+1) – Yj(t) perubahan PDRB Kabupaten Karo.

: PDRB Kabupaten Karo pada tahun awal periode penelitian.

3.6.3.Analisis Trend

Analisis trend merupakan analisis data time series untuk mengamati

kecenderungan data dan meramalkan kondisi yang akan datang. Dalam penelitian

ini, analisis trend digunakan untuk melihat prospek setiap sektor ekonomi di

Kabupaten Karo kedepan. data analisis trend ini menggunakan data hasil

perhitungan LQ. Metode LQ ini dipergunakan untuk menganalisis dan

menghitung potensi ekonomi (sektor-sektor ekonomi) yang dimiliki suatu daerah

yang terdiri atas sektor basis dan sektor non basis.

Dalam penelitian ini menggunakan data time series selama tujuh tahun

yaitu mulai tahun 2008 sampai tahun 2014, untuk mengetahui bagaimana prospek

sector ekonomi ke depan dengan peramalan selama lima tahun ke depan. Berikut

persamaan linear untuk peramalan sektor ekonomi yaitu:

Yn = a +

Keterangan :

Y : variabel nilai LQ tahun ke n

X : variabel waktu (tahun).

a : konstanta

b : parameter

(6)

37 b : XY/

3.7. Definisi Operasional Variabel

1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah PDRB Kabupaten Karo dan

PDRB Provinsi Sumatera Utara, atas dasar harga konstan dalam satuan rupiah.

2. Pertumbuhan Ekonomi adalah persentase perubahan PDRB Kabupaten Karo

dan persentase perubahan PDRB Provinsi Sumatera Utara dari tahun ke tahun,

atas dasar harga konstan dalam satuan persen.

3. Sektor Potensial adalah sektor yang memiliki keunggulan atau kelebihan,

dilihat dari besar peranan sektor tersebut di Kabupaten Karo terhadap besar

peranan sektor tersebut di Provinsi Sumatera Utara.

4. Prospek sektor Pertanian adalah gambaran perkembangan sektor – sektor

ekonomi di Kabupaten Karo.

(7)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskriptif Daerah Penelitian

4.1.1.Geografis Daerah

Secara geografis daerah Kabupaten Karo terletak antara 02050’- 03019’ LU dan 97055’- 98038’ BT. Daerah Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi

bukit barisan dengan total luas administrasi 2.127 km2 atau 212.725 ha. Wilayah

Kabupaten Karo berbatasan dengan:

a. Kabupaten Langkat dan Deli Serdang dibagian Utara,

b. Kabupaten Simalungun dibagian Timur,

c. Kabupaten Dairi dibagian Selatan, dan

d. Propinsi Nanggro Aceh Darusalam dibagian Barat.

Ibukota Kabupaten Karo adalah Kabanjahe yang terletak sekitar 76 km

sebelah selatan kota Medan ibukota Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Karo yang

secara administratif dibagi atas 17 (tujuh belas) kecamatan, tujuh belas kecamatan

tersebut terdiri dari 248 (dua ratus empat puluh delapan) desa dan 10 (sepuluh)

(8)

39 4.1.2.Kondisi Iklim dan Topografi

Peta Prakiraan Sifat Hujan Kabupaten Karo

Tipe iklim daerah Kabupaten Karo adalah E2 menurut klasifikasi Oldeman

dengan bulan basah lebih tiga bulan dan bulan kering berkisar 2-3 bulan atau A

menurut Koppen dengan curah hujan rata-rata di atas 1.000 mm/ tahun dan merata

sepanjang tahun. Curah hujan tahunan berkisar antara 1000-4000 mm/ tahun, dimana

curah hujan terbesar terjadi pada bulan basah yaitu Agustus sampai dengan Januari

dan bulan Maret sampai dengan Mei.

(9)

Gambar 4.1 Curah Hujan Menurut Bulan (MM) Rainfall,According to Month (MM)

2014

Ditinjau dari kondisi topografinya, wilayah Kabupaten Karo terletak di

dataran tinggi bukit barisan dengan elevasi terendah +140 m diatas permukaan laut

(Paya lah-lah Mardingding) dan tertinggi ialah + 2.451 m diatas permukaan laut

(Gunung Sinabung). Daerah Kabupaten Karo yang berada di daerah dataran tinggi

bukit barisan dengan kondisi topografi yang berbukit dan bergelombang, maka

wilayah ini ditemui banyak lembah-lembah dan alur-alur sungai yang dalam dan

lereng-lereng bukit yang curam/ terjal. Sedangkan besar (90%) wilayah Kabupaten

Karo berada pada ketinggian/ elevasi + 140 m- 1400 m diatas permukaan laut.

Pada wilayah Kabupaten Karo terdapat dua hulu daerah aliran sungai (DAS)

yang besar yakni DAS sungai Wampu dan DAS sungai Lawe Alas. Sungai Wampu

bermuara ke Selat Sumatera dan Sungai Renun (Lawe Alas) bermuara ke Lautan

(10)

41 4.1.3. Kondisi Demografi

Ditinjau dari segi etnis, penduduk Kabupaten Karo mayoritas adalah suku

Karo, sedangkan suku lainnya seperti suku Batak Toba, Mandailing, Jawa,

Simalungun dan suku lainnya hanya sedikit jumlahnya (di bawah 5%). Jumlah

penduduk Karo jika dibandingkan dengan luas wilayah Kabupaten Karo yakni

2.127,25 km2 maka kepadatan penduduk Kabupaten Karo akhir tahun 2008 adalah

161,03 jiwa/km2.

Komposisi penduduk berdasarkan agama yang dianut memperlihatkan bahwa

penganut agama Kristen merupakan yang terbanyak baru disusul oleh pemeluk agama

Islam dan agama lainnya.

4.1.4. Potensi Wilayah

Wilayah Kabupaten Karo memiliki potensi lahan yang sangat luas dan

potensial yang dapat dikembangkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi.

Sebagian besar wilayah ini merupakan areal pertanian, oleh karena itu kegiatan

terpenting perekonomian masih mengandalkan sektor pertanian. Disamping itu danau

dan sungai tidak kalah pentingnya, ini digunakan sebagai potensi perikanan dan

pehubungan sedangkan keindahan alamnya merupakan potensi energik untuk

pengembangan industri, perdagangan dan lain-lain.

Daerah ini juga merupakan salah satu tujuan wisata yang utama di Provinsi

Sumatera Utara serta sudah banyak dikenal baik domestik maupun mancanegara. Hal

ini didukung oleh panorama yang indah dengan alam/ udara pegunungan yana sejuk

dan dekat dengan kota Medan sebagai salah satu pintu gerbang ke dunia internasional

di Provinsi Sumatera Utara.

(11)

4.2 Perkembangan Sektor Pertanian Kabupaten Karo

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak

kebijaksanaan pembagunan yang dilaksanakan, khususnya bidang ekonomi.

Pertumbuhan tersebut merupakan perubahan jumlah produksi yang dibentuk dari

berbagai macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung, hal ini merupakan

gambaran tingkat perubahan ekonomi yang terjadi di suatu daerah. Bagi suatu daerah

indikator ini penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan yang dicapai dan

juga berguna untuk menentukan arah kebijakan pembangunan yang akan datang.

Untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dapat dilihat melalui

perubahan PDRB atas dasar harga konstan, dimana pada tahun 2008 kegiatan

perekonomian di Kabupaten Karo mengalami peningkatan.

Pembangunan ekonomi dapat menumbuhkan kegiatan-kegiatan sektor

lapangan usaha sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui

usaha-usaha sektor informal maupun formal. Pada prinsipnya pembangunan ekonomi

itu sendiri merupakan rangkaian usaha yang bertujuan untuk meningkatkan

kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat dan memperluas lapangan kerja,

pemerataan pendapatan masyarakat dan peningkatan hubungan ekonomi regional

dalam peningkatan investasi daerah sehingga dapat menggairahkan lapangan usaha

dengan sektor-sektor ekonomi yang ada di Kabupaten Karo.

Sektor pertanian adalah penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten

Karo hingga saat ini. Hal tersebut dapat dipahami karena daerah Kabupaten Karo

merupakan daerah pertanian dataran tinggi. Perkembangan ini dapat dilihat pada tabel

4.1 dan 4.2 dimana pendapatan sektor pertanian memiliki persentase distribusi PDRB

(12)

43 Tabel 4.1.

Persentase Distribusi PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000

No. Jenis Sarana 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1 Pertanian 58,41 58,36 58,02 57,60 57,40 57,35 57,40 2 Pertambangan

dan Penggalian 0,36 0,35 0,37 0,39 0,38 0,38

0,35

3 Industri 0,75

0,76 0,73 0,72 0,71 0,71 0,71 4 Listrik, gas dan

air Minum 0,30 0,30 0,30 0,29 0,29 0,28

0,30

5 Bangunan 3,59 3,57 3,53 3,51 3,58 3,35 3,36

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran

14,35 14,36 14,56 14,75 14,96 15,16 15,10

7 Pengangkutan

dan Komunikasi 9,19 9,17 8,97 8,77 8,73 8,70 8,74 8 Keuangan, Usaha

Persewaan dan Jasa Perusahaan

1,57 1,64 1,64 1,64 1,65 1,53 1,56

9 Jasa – Jasa 11,48 11,49 11,88 12,33 12,30 12,36 12,48

Jumlah 100 100 100 100 100 100 100

Sumber : BPS Kabupaten Karo

(13)

Tabel 4.2.

Persentase Distribusi PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2008 – 2014 (persen)

No. Jenis Sarana 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1 Pertanian 61,54 60,46 61,08 60,94 60,98 60,54 61,42 2 Pertambangan

dan Penggalian 0,34 0,36 0,36 0,37 0,35 0,34

0,35

3 Industri 0,73 0,75 0,73 0,72 0,72 0,71 0,73

4 Listrik, gas dan

air Minum 0,32 0,36 0,33 0,30 0,29 0,28

0,30

5 Bangunan 3,51 3,76 3,58 3,52 3,56 3,51 3,52

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran

11,52 11,97 11,57 11,52 11,49 11,55 11,58

7 Pengangkutan

dan Komunikasi 7,73 7,72 7,73 7,04 7,19 6,98 7,19 8 Keuangan, Usaha

Persewaan dan Jasa Perusahaan

1,71 1,74 1,62 1,52 1,51 1,53 1,59

9 Jasa – Jasa 12,60 12,88 13,18 14,07 13,91 14,56 14,59

Jumlah 100 100 100 100 100 100 100

Sumber : BPS Kabupaten Karo

Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Karo merupakan indikator pertumbuhan

ekonomi makro Kabupaten Karo yakni menggambarkan tingkat pertumbuhan

ekonomi. Indikator ini bisa digunakan sebagai parameter penilaian sampai sejauh

mana keberhasilan pembangunan di suatu daerah dalam periode tertentu, sedangkan

pertumbuhan tersebut merupakan rangkuman laju pertumbuhan seluruh sektor

ekonomi.

Melihat besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB

Kabupaten Karo dapat menggambarkan bahwa sektor pertanian masih tetap menjadi

(14)

45

dengan karakteristik daerah dengan hamparan pertanian yang luas serta masyarakat

yang dikenal sebagai petani yang tangguh dan ulet.

4.2.1. Kondisi Perekonomian

Kondisi perekonomian suatu wilayah secara makro dapat digambarkan

oleh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan indikator ini seringkali

digunakan sebagai alat ukur tingkat pertumbuhan ekonomi maupun struktur

perekonomian sektoral. PDRB Kabupaten Karo pada tahun 2008 atas dasar harga

konstan 2000 sebesar 3.069.73 milyar meningkat sebesar 140,12 milyar

dibandingkan tahun 2007 sebesar 2.929.61 milyar. Bila nilai PDRB Kabupaten

Karo ini dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka didapatkan bahwa PDRB

perkapita Kabupaten Karo pada tahun 2008 atas dasar harga konstan 2000 adalah

sebesar Rp. 8.509.201 dengan jumlah penduduk 363.755 jiwa. PDRB perkapita

ini semakin meningkat dari tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2007 sebesar

Rp. 7.782.121.

(15)

Tabel 4.3

PDRB, PDRB Perkapita, dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo Atas Dasar Harga Konstan 2000, Tahun 2008 – 2014

Tahun

Sumber : BPS Sumatera Utara

Kabupaten Karo memiliki pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Bila

diperhatikan trennya, dari tahun 2008 hingga 2014, PDRB Kabupaten Karo

mengalami peningkatan pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo

adalah 7,50%.

4.3Analisis dan Pembahasan

4.3.1. Analisis Tipologi Klassen (Pola Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo)

Untuk menentukan pola pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo

digunakan metode Tipologi Klassen. Tipologi Klassen membagi daerah

berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah dan

(16)

47

sebagai sumbu vertikal dan rata-rata pendapatan perkapita sebagai sumbu

horizontal. Daerah yang diamati dapat dibagi menjadi empat klasifikasi yaitu:

a. Daerah cepat maju dan cepat tumbuh (High growth and high income) adalah

laju pertumbuhan PDRB dan pendapatan perkapita lebih tinggi dari rata –rata

pertumbuhan dan pendapatan perkapita rata- rata provinsi.

b. Daerah maju tapi tertekan. (high income but low growth ) yaitu daerah yang

relatif maju, tapi dalam beberapa tahun terakhir laju pertumbuhan menurun

akibat tertekannya kegiatan utama daerah yang bersangkutan. Daerah ini

merupakan daerah yang telah maju tapi di masa mendatang pertumbuhannya

tidak akan begitu cepat walaupun potensi pengembangan yang dimiliki pada

dasarnya sangat besar. Daerah ini mempunyai pendapatan perkapita lebih

tinggi tapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibandingkan

rata- rata provinsi.

c. Daerah berkembang cepat (high growth but low income) adalah daerah yang

dapat berkembang cepat dengan potensi pengembangan yang dimiliki sangat

besar tapi belum diolah sepenuhnya secara baik. Tingkat pertumbuhan

ekonomi daerah sangat tinggi, namun tingkat pendapatan perkapita yang

mencerminkan dari tahap pembangunan yang telah dicapai sebenarnya masih

relatif rendah. Daerah ini memiliki tingkat pertumbuhan tinggi tetapi tingkat

pendapatan perkapita lebih rendah dibandingkan dengan rata- rata provinsi.

d. Daerah relatif tertinggal (low growth and low income ) adalah daerah yang

masih mempunyai tingkat pertumbuhan dan pendapatan perkapita lebih

rendah dari pada rata- rata provinsi.

(17)

Pada Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa pola dan struktur pertumbuhan

Kabupaten Karo diklasifikasikan ke dalam kuadran IV, yaitu daerah yang relatif

tertinggal, yang memberikan arti bahwa tingkat pertumbuhan dan pendapatan per

kapita Kabupaten Karo lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan dan

pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara hasil analisis tipologi klassen

berdasarkan laju pertumbuhan dan PDRB perkapita Kabupaten Karo yang

dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2008-2014 yaitu

Kabupaten Karo memiliki laju pertumbuhan yang lebih rendah (-) dan PDRB

perkapita lebih rendah (-) daripada Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 4.4

Hasil Analisis Tipologi Klassen PDRBPerkapita

9.880.501 9.999.035 rendah (-) Rata-rata

5,85 5,94 rendah (-)

Sumber: BPS Sumatera Utara

(18)

49

yang relatif tertinggal, yang memberikan arti bahwa tingkat pertumbuhan dan

pendapatan per kapita Kabupaten Karo lebih rendah dibandingkan rata-rata

pertumbuhan dan pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 4.5

Klasifikasi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo Menurut Tipologi Klassen Tahun 2008-2014 PDRB

Sumber : Tabel 4.4 (data diolah)

4.3.2. Analisis Location Quotients (LQ)

Untuk mengetahui sektor potensial di suatu daerah, alat analisis yang

digunakan adalah dengan melihat nilai Location Quotients (LQ), yang merupakan

perbandingan kontribusi masing–masing sektor terhadap pembentukan PDRB

Kabupaten Karo dengan PDRB Provinsi Sumatera Utara. Jika nilai LQ > 1, maka

(19)

sektor tersebut dapat dikatakan sektor potensial (basis). Apabila nilai LQ < 1

maka sektor tersebut bukan merupakan sektor potensial (non basis). Pada Tabel

4.6 hasil analisis LQ menunjukkan bahwa tahun 2008-2014, hanya ada 2 (dua)

sektor yang nilai LQnya lebih besar dari satu, yaitu sektor pertanian dan sektor

jasa – jasa.

Tabel 4.6

Hasil Analisis LQ Kabupaten Karo Tahun 2008 - 2014

Lap. Usaha LQ Kabupaten Karo

Rata-rata 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Pertanian 2,36 2,44 2,43 2,42 2,43 2,45 2,45 2.42

Pertambangan

& Penggalian 0.292 0.28 0.30 0.32 0.32 0,31 0.35 0,31 Industri

Pengolahan 0,03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0,03 Listrik, gas &

air bersih 0,39 0.38 0.40 0.39 0.39 0.381 0.37 0,38 Bangunan 0,56 0.54 0.53 0.52 0.51 0.50 0.50 0,52 Perdagangan,

Hotel & Restoran

0,78 0.78 0.79 0.75 0.81 0.81 0.81 0,79 Pengangkutan

& Komunikasi 1,07 1.01 0.96 0.92 0.89 0.86 0.82 0,93 Keuangan,

Persewaan, & Jasa

Perusahaan

0,26 0.24 0.23 0.23 0.22 0.22 0.20 0,23 Jasa-Jasa 1,24 1.19 1.22 1.23 1.22 1.24 1.30 1,23

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara (data diolah)

Dari tabel di atas bisa disimpulkan bahwa yang menjadi sektor potensial

(20)

51

4.3.3. Analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP)

Analisis model rasio pertumbuhan (MRP) merupakan salah satu alat

analisis alternatif guna mendukung penentuan deskripsi kegiatan ekonomi yang

potensial bagi Kabupaten Karo. MRP ini memiliki kemiripan dengan LQ,

perbedaannya terletak pada cara menghitung, jika LQ menggunakan distribusi

sedangkan MRP menggunakan kriteria pertumbuhan. Pendekatan MRP dapat

dibagi menjadi dua, yaitu: (1) rasio pertumbuhan wilayah referensi (RPr), dan (2)

rasio pertumbuhan wilayah studi (RPs). RPr membandingkan pertumbuhan

masing – masing kegiatan dalam konteks Provinsi Sumatera Utara dengan PDRB

Provinsi Sumatera Utara (lingkup Provinsi). Analisis yang lebih jauh

membandingkan pertumbuhan masing – masing kegiatan dalam konteks wilayah

Kabupaten Karo dengan PDRB wilayah Kabupaten Karo (lingkup regional). Jika

nilai RPr lebih besar dari 1 maka RPr dikatakan (+) dan jika RPr lebih kecil dari 1

maka RPr dikatakan (-). RPr (+) menunjukkan bahwa pertumbuhan suatu kegiatan

tertentu dalam tingkat Provinsi Sumatera Utara lebih tinggi dari pertumbuhan

PDRB Provinsi Sumatera Utara. Demikian pula sebaliknya jika RPr (-).

Sedangkan RPs membandingkan pertumbuhan kegiatan dalam tingkat wilayah

Kabupaten Karo dengan pertumbuhan kegiatan yang bersangkutan pada tingkat

Provinsi Sumatera Utara. Bila pertumbuhan suatu kegiatan pada tingkat wilayah

Kabupaten Karo lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kegiatan tersebut

pada tingkat wilayah Provinsi Sumatera Utara diidentifikasikan sebagai (+),

demikian sebaliknya jika RPs (-).

(21)

Dari hasil analisis LQ sebelumnya diperoleh 2 sektor basis di Kabupaten

Karo dilihat dari sisi kontribusi. Dalam analisis MRP ini akan dilanjutkan

terhadap pertumbuhan kedua sektor tersebut. Dari Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa

semua sektor basis memiliki RPs positif kecuali sektor listrik, gas, dan air bersih.

Tabel 4.7

Hasil Analisis Model Rasio Pertumbuhan Kabupaten Karo Tahun 2008 – 2014

Listrik, gas & air bersih Bangunan

Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara (data dapat diolah)

4.3.4. Analisis Overlay

Analisis Overlay merupakan gabungan dari perhitungan LQ dan MRP

untuk mendapatkan hasil identifikasi kegiatan sektor yang unggul, baik dari sisi

kontribusi maupun sisi pertumbuhannya (Yusuf,1999). Dalam analisis ini kriteria

kontribusi yang dipergunakan adalah nilai LQ rata-rata selama periode

(22)

53

nilai RPs rata-rata selama periode 2008-2014. Hasil analisis overlay pada Tabel

4.8 menunjukkan bahwa sektor ekonomi yang sangat dominan dikembangkan

sebagai sektor potensial di Kabupaten Karo dengan LQ dan nilai MRP positif

selama periode tahun 2008-2014 yaitu dari sektor Pertanian dan sektor Jasa-jasa.

Tabel 4.8

Hasil Analisis Overlay Sektor Ekonomi di Kabupaten Karo Tahun 2008-2014

No Lapangan Usaha LQ (Kontribusi)

MRP Listrik, gas & air bersih Pembangunan

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara (data diolah)

Salah satu sektor yang potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Karo

adalah sektor Pertanian. Hal ini didukung beberapa hal, yaitu lahan yang bisa

dikembangkan untuk pertanian masih sangat luas. Selain itu ekosistem Karo yang

(23)

merupakan ekosistem hujan tropis juga sangat baik untuk pertanian. Bentangan

hutan yang panjang juga memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan.

Namun harus diikuti oleh kebijakan untuk tetap menjaga keberadaan hutan. Selain

sektor Pertanian yang potensial di Kabupaten Karo adalah sektor Jasa – jasa.

Terutama pada sub sektor Pemerintahan Umum, yang terdiri dari upah dan gaji

rutin pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Karo.

Jika kedua sektor ini dikembangkan sebagai sektor potensial/basis

diharapkan dapat menunjang pertumbuhan sektor-sektor lainnya sehingga

kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Karo dapat lebih meningkat dan sektor

potensial di Kabupaten Karo juga lebih beragam di masa mendatang. Namun

pengembangan sektor pertanian sebagai sektor potensial memiliki kendala antara

lain jenis tanah yang berbatu dan tingkat keasaman (Ph) juga tinggi, jadi perlu

penanganan khusus untuk meningkatkan kesuburan lahan.

4.3.5. Analisis Trend

Dalam penelitian ini, analisis trend digunakan untuk melihat prospek

setiap sektor ekonomi di Kabupaten Karo kedepan yaitu tahun 2015 sampai tahun

2021. Data untuk analisis trend ini menggunakan data hasil perhitungan LQ dan

MRP (yaitu Rps dan Rpr) dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2008 sampai tahun

2014 seperti perhitungan Overlay untuk menggambarkan deskripsi ekonomi.

Berikut persamaan linear untuk peramalan sektor ekonomi dalam analisis trend

(24)

55 Yn = a + bXn

Keterangan :

Y : variabel nilai LQ tahun ke n

X : variabel waktu (tahun).

a : konstanta

b : parameter a : ΣY / N

b : ΣXY/ΣX2

Berdasarkan persamaan linear di atas dapat diramalkan bagaimana

perkembangan sektor ekonomi Kabupaten karo dari tahun 2015 sampai 2021

menggunakan data hasil perhitungan LQ dan MRP (yaitu RPr dan RPs) dari tahun

sebelumnya yaitu tahun 2008 sampai tahun 2014 yaitu:

(25)

Tabel 4.9

Peramalan Nilai LQ Kabupaten Karo tahun 2015 – 2021

No Sektor 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021

Rata-Listrik, gas & air

bersih

Nilai LQ menggambarkan bagaimana kontribusi sektor-sektor ekonomi

kedepan yaitu tahun 2015 sampai 2021. Dalam periode ini terdapat dua sektor

yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Kabupaten Karo yaitu sektor

(26)

57 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka penulis mengungkapkan

beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:

1. Dari hasil analisis Tipologi Klassen dapat disimpulkan bahwa Pola

pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo dalam periode Tahun 2008- 2014

termasuk dalam klasifikasi relatif tertinggal.

2. Hasil analisis Overlay menunjukkan bahwa sektor ekonomi potensial di

Kabupaten Karo dengan LQ dan nilai MRP positif selama periode 2008-2014

yaitu sektor Pertanian dan sektor Jasa – jasa.

3. Prospek sektor ekonomi di Kabupaten Karo berdasarkan deskripsi

perekonomian melelui peramalan analisis trend tahun 2015-2021 yaitu sektor

pertanian dan jasa-jasa merupakan sektor yang memiliki kontribusi besar dan

pertumbuhan cepat dan tinggi.

5.2 Saran

Dari hasil analisis dan pembahasan, maka penulis memberikan saran

kepada pihak – pihak yang membutuhkan yaitu sebagai berikut:

1. Pola pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo yang relatif tertinggal dalam

periode Tahun 2008-2014 harus diperbaiki dengan mengutamakan

pengembangan sektor potensial/basis dengan tidak mengabaikan sektor non

basis dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sehingga PDRB dan

(27)

pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo dapat ditingkatkan. Sebaiknya

peluang untuk perusahaan jasa swasta lebih besar lagi, dan pemberdayaan

masyarakat petani yang sudah ada seperti PNPM tetap diberdayakan.

2. Sektor Jasa – jasa dan sektor pertanian yang memiliki prospek yang baik

untuk menjadi sektor potensial pada periode Tahun 2015-2021 sebaiknya

dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)

Gambar

Gambar 4.1 Curah Hujan Menurut Bulan (MM) Rainfall,According to Month (MM)
Tabel 4.1.
Tabel 4.2.
Tabel 4.3
+7

Referensi

Dokumen terkait

The proposed integration approach is based on the semantic web technology, where the integrated model is achieved by merging Resource Description Framework (RDF) graphs

To make it even more accessible, the Project Tango, leaded by Google, integrates in a simple Android tablet sensors that are able to perform acquisition of the 3D information of a

[r]

Bersama ini kami informasikan kepada Bapak/Ibu peneliti dan pengabdi, bahwa kontrak penelitian dan pengabdian skim kemenristek dikti yang sudah ditanda tangani ketua LPPM, sudah bisa

dapa, neoBajukstr R4(u, k.pada pcncnlur. dap4 E.DgajukD RsftNikcpda zcigad

adalah peserta didik yang ditunjuk bertugas menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu Mengheningkan Cipta, dan lagu wajib nasional lainnya pada saat yang telah ditentukan

[r]

Peneliti berpendapat,citra wanita ideal, seperti yang disajikan dalam iklan parfum Axe , telah menggiring wanita sebagai objek dari hasrat, waktu luang dan seks.. Kata