Tema:
Pertanyaan:
Kronik
A. PLG
- 1. Kepemilikan/akses (terhadap lahan) lahannya seperti apa, punya sendiri atau minjm atau beli atau banyak merata jumlahnya atau malah sedikit hanya pada orang elit2 politik saja yg banyak punya. Misalnya orang elit desa lebih banyak punya lahan dr pada pendatang yg miskin bru dikenal.
- 2. Bentuk pengelolaannnya seperti apa.
- 3. Pola pengorganisasian kerja (keluarga, misalnya perempuan ngapain, laki2 ngapain, anak2 ngapain )
- 4. Hutang atau tidak untuk modal mereka dalam mengelola ladang tersebut.
- 5. Hasil dari corak produksi/pengelolaan sda itu apa ?misalnya kebakaran hutan sehingga merubah kebiasaan dia dalam berladang/bertani, dan mungkin gagal panen dll, (dampak PLG) B. BOS MAWAS
Intinya dari referensi yang saya baca, kalau saat masa BOS MAWAS masyarakat jarang lagi nanam padi, tapi lebih kekebun karet dan cari ikan, karena ada bantuan biaya dari proyek tersebut.
I. Mega proyek Eks PLG
a. Akses masyarakat terhadap lahan
Akses ke lahan diartikan sebagai cara seseorang/kelompok untuk mendapatkan akses atau menggunakan lahan. Di pedesaan, akses ke lahan berbasis adat-istiadat setempat ditentukan oleh pimpinan adat yang memberikan hak pakai kepada anggota masyarakat.
Pada umumnya ladang masyarakat dayak selalu berbatasan dengan sekat bakar alami berupa sungai atau handil atau kanal yang dibuat sebelumnya. Sekat atau tatas hanya dibuat pada sisi-sisi ladang yang berbatasan dengan ladang yang lain atau hutan alam. Dalam acara-acara ritual keagamanaan dan melakukan aktivitas matapencaharian, tokoh-tokoh adat masih cukup berperan dalam memberi nasehat dan mengatur warga, sekaligus sebagai tokoh spiritual Hindu Kaharingan (Agama).
Selain itu, akses ke lahan dapat diperoleh dengan cara membeli, menyewa, sistem bagi hasil, mendapatkan warisan atau menempati lahan secara tidak sah. Misalnya di daerah transmigarsi dikabupaten kapuas, setiap kepala keluarga mendapatkan lahan seluas 2ha dengan pekarang dan rumah dibagi merata pada setiap kepala keluarga dari pemerintah. Studi ini mengenai bagaimana mata pencarian dibentuk oleh kepemilikan dan hak lahan dan bagaimana masyarakat mengelola sumberdaya alam di suatu wilayah.
Di lokasi yang terkena program baru REDD, para elit lokal yang memiliki modal kapital dan jaringan yang kuat mampu mendapatkan akses yang lebih besar untuk mendapatkan kepemilikan lahan. Mereka mengambil keuntungan dari masuknya berbagai proyek di lingkungannya. hutan yang semula bisa dimanfaatkan oleh masyarakat lokal secara bebas menjadi kawasan terbatas yang masuk dalam wilayah teritorial negara.1
Biasanya wilayah frontier (frontier merupakan daerah yang dengan sendirinya menjadi basis ekstraksi sumber daya alam (Tsing. 2005)) akan lebih mudah di menarik para investor dari luar yang bekerjasama dengan para swasta, negara, masyarakat umum dan menyerahkan nya pada elit lokal setempat, sehingga masyarakat lokal yang biasa kehilangan akses lahan pertanian atau perladangan mereka, padahal selama ini mereka bergantung pada hutan yang melimpah akan sumber daya alam.
b. Bentuk pengelolaan lahan
Wilayah domain ekonomi Dayak adalah Lahan dan Sumberdaya alam. Mereka berladang, berkebun, menanam rotan, pohon-buah-buahan, dalam skala besar. Ekonomi perspektif masa depan jangka panjang. Hutan dipelihara untuk tetap menghasilkan sumber hewani dan nabati bagi keluarga. Permukiman di tata untuk tidak meluas secara sporadis menghindari kawasan-kawasan yang sakral dan sumber daya bagi kehidupan masyarakat Dayak jangka panjang. Mereka dengan cerdik membangun perladangan berpindah, merotasi masa tanam memelihara kesuburan lahan. Pada awal pembukaan lahan, dilakukan pembuatan sekat bakar. Untuk membasmi hama. penyakit tanaman, lahan di bakar dan diolah mensterilkan lahan dari kera, babi, binatang perusak tanaman dan lahan lari dari lahan yang di bakar, menjadi siap tanam bebas hama-penyakit.
Perekonomian rakyat kalimantan, terutama suku dayak sering kali dipandang sebagai suatu sistem perekonomian bertipikal subsistem. Alasan yang mendukung adalah sistem perladangan sebagai ciri khasnya dan hasil produksinya hanya untuk kebutuhan konsumsi internal.2 Namun ada pandangan lain tentang perekonomian Kalimantan (Hoffman,1985), adalah benar,
bahwa perladangan padi dan tanaman nonpadi tertentu merupakan aspek penting. Namun tak disangkal bahwa aktivitas ekonomi lain seperti berburu, mencari ikan, mencari hasil hutan, berternak juga merupakan aspek penting secara sekunder menopang perekonomian rakyat kalimantan ( Widjono, 1990-1993 ).
Kehidupan tidak akan lepas dengan mata pencaharian untuk bertahan hidup seperti berladang. Berladang merupakan aktivitas kehidupan sosial ekonomi bagi suku dayak yang biasanya dinamakan sitem perladangan Huma Tugal. Menurut J.Danandjaya berladang merupakan suatu pekerjaan yang memakan banyak sekali tenaga. Untuk mengerjakannya, penghuni dari suatu rumah tangga saja tidak akan mencukupi; mereka harus memperoleh bantuan dari tetangga/orang lain. Di desa Telang daerah Ma’anyan misalnya, telah dikembangkan suatu sistem kerjasama dengan jalan membentuk kelompok gotong royong, yang biasanya ada hubungan persaudaraan atau kekerabatan yang secara bergiliran membuka hutan bagi ladang masing-masing anggota. Secara teoritis, sebuah rumah tangga yang sedang menerima bantuan, harus membayarnya kembali.3
Dalam pengerjaan ladang di kalimantan terdapat siklus tersendiri sesuai dengan apa yang hendak dikerjakan atau ditanam,musim sangat berpengaruh pada jenis pekerjaan mereka.4 Tanaman pertama, adalah padi dan jagung dan palawija lainnya. Selama sekitar tiga tahun pada saat kondisi lahan menurun, mulai ditanam tanaman keras berupa karet, rotan, jelutung, pohon buahan dan lainnya. Lahan dibuat jeda, seraya merawat tanaman keras yang ada, setelah penyiapan tanaman keras tersebut selesai, mereka membuka lagi lahan lain yang dianggap
3 Prof.Dr. Koentjaraningrat, Manusia dan kebudayaan Di Indonesia, Djambatan, 2007,
hlm.125-127
4 Alfrid Uga,dkk, Menengok Ke Tengah Tanah Borneo Saat Masyarakat Adat Dayak Ot Danum
sesuai untuk areal tanam baru. Setelah sekitar 5 (lima) tahun mereka kembali ke lahan pertama tadi untuk kembali mengolah lahan bagi penanaman padi dan palawija serta memelihara tanaman keras yang ada. Pada musim kemarau mereka mencari ladang yang baru, sesuai dengan pengetahuan tradisional mereka seperti melihat letak dan corak warna yang dipancarkan oleh bintang baur ataupun yang lain. Mereka berkerja keras memanen hasil tanaman. Karet di sadap dengan turun ke kebun dini hari, sebelum mata hari pertama menyapa pagi, getah karet akan mengucur deras pada dini hari, siang hari getah karet akan mengental. Masyarakat berubah mata pencaharian dengan berkebun karet, karena hasil padi dilahan gambut tidaklah cukup baik karena kadar kemasaman air.
Untuk memulai membuka ladangpun, orang dayak di sana selain melihat tanda-tanda alam juga melihat tanda dari binatang terutama burung, dengan kepercayaan mereka apabila tidak di hiraukan maka akan ada bencana dalam berladang tersebut. Menurut Daud (1997) ketika melakukan kegiatan mencari nafkah dan ada yang melakukan peramalan tentang waktu yang baik disamping tindakan religius/magis yang bermaksud agar kegiatan ekonomi tersebut mebuahkan hasil baik guna menjaga keselamatan sesuai keyakinan mereka, seperti rangkaian prosesi “huma tugal” yang dilakukan suku dayak5. Alat produksi dalam berladang biasanya menggunakan parang, taruh, linggis, ehek, salumbang dan dilengkapi dengan lanjung atau tas ari anyaman rotan yang dipgendong dipunggung.
Masyarakat suku dayak tidak hanya melakukan perladangan tetapi juga pertanian, seperti yang dilakukan masyarakat kapuas pada umumnya. Pertanian di lahan gambut
5 Edy Sedyawati dkk, Dinamika Kearifan Lokal, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda
secara tradisional dilakukan oleh suku Dayak, Bugis, Banjar, dan Melayu dalam skala kecil. Mereka memilih lokasi dengan cara yang cermat, memilih komoditas yang telah teruji, dan dalam skala yang masih dapat terjangkau oleh daya dukung/layanan alam.
Menurut Noorsyamsi dan Hidayat dalam Noor et al (1991) petani Banjar memanfaatkan lahan gambut dalam untuk persawahan dengan melakukan pengolahan tanah secara minimum. Mereka menggunakan alat tradisional tajak dalam pengolahan tanah untuk menghindari tersingkapnya lapisan pirit yang dapat menyebabkan peningkatan kemasaman tanah. Untuk meningkatkan kesuburan lahan gambut, umumnya petani menggunakan abu. Abu ini mereka peroleh secara beragam. Contohnya petani maju di Siantan mengumpulkan sisa-sisa tanaman dan tumbuhan pengganggu (gulma) untuk dibakar dan diambil abunya. Ada juga yang membeli abu serbuk gergaji hasil pembakaran di kilang-kilang kayu meskipun sekarang agak sulit mendapatkannya karena banyak kilang kayu yang tutup akibat penertiban penebangan liar (illegal logging). Di Kalampangan memanfaatkan abu sisa kebakaran lahan gambut pada musim kemarau. Dalam proses pembakaran, petani membuat tempat khusus (pondok) untuk membakar gulma dan sisa-sisa tanaman. Selain itu mereka juga membuat parit-parit di sekeliling lahan usaha taninya agar lahan selalu berair sehingga tetap basah dan dapat terhindar dari kebakaran.
Namun tidak hanya abu saja yang digunakan untuk penyubur pertanian dilahan gambut, ada petani keturunan Cina dan suku Jawa di Siantan, maupun petani suku Jawa di Kalampangan menggunakan pupuk kandang untuk memperkaya kandungan hara lahan usahataninya.
untuk pengolahan tanah. Cangkul ini dimodifikasi dari cangkul biasa yang kemudian dibelah sehingga menyerupai garpu.
Masyarakat kapuas, biasanya mengelola perladangan dan pertanian mereka dengan mengerjakan sendiri, namun ada pula yang mengambil upah dengan orang lain. Misalnya ada sistem bagi hasil dalam penyadapan getah karet, ataupun panen padi.
c. Pola pengorganisasian kerja pada setiap keluarga
Pada kegiatan berladang, biasanya dilakukan oleh masing-masing keluarga dan bergotong royong dengan tetangga berdasarkan hubungan kekeluargaan. Di dalam rumah tangga yang kekurangan kaum laki-laki, kaum wanitalah yang menggantikan pekerjaan tersebut, seperti membuka hutan, membersihkan semak-semak, bahkan menebang pohon yang biasanya pekerjaan laki-laki.6 Dengan pengerjaan berladang sesuai siklus musim yang dilakukan mereka, kira-kira pada bulan oktober dimulai untuk menanam padi tersebut. Para laki-laki berbaris di muka sambil menusuk-nusuk tanah dengan tongkat tugalnya (tongkat tugal biasanya terbuat dari kayu), sedangkan para wanita mengikuti berbaris dibelakang, sambil memasukkan beberapa butir padi ke dalam lubang-lubang yang dibuat oleh kaum laki-laki tadi. Setelah penanaman selesai mereka menjaga tanaman tersebut hingga musim panen tiba (pada bulan sesuai jenis padi yang ditanamkan). Di kalimantan tengah paling sedikit ada 3 jenis padi yang ditanam, yaitu padi enam bulanan, empat bulanan dan padi ketan empat bulanan. Padi ketn ditanam untuk keperluan acara adat, seperti membuat arak pada upacara adat oleh dayak ngaju, bila Ot-danum disebut anding.7
d. Upaya modal dalam pengelolaan lahan
Keadaan sosial ekonomi suatu masyarakat pada kenyataannya merupakan buah dari sikap hidup atau kebiasaan –
6 A.B Hudson, J.M Hudson, 1964
kebiasaan tertentu para warganya. Contoh kebiasaan orang dayak dalam bidang perekonomian, baik secara langsung ataupun tidak, seperti orang dayak belum banyak meninggalkan sifat-sifat sebagai manusia peramu. Kebiasaan menyimpan padi di lumbung bukan dimaksudkan untuk menabung, tetapi sekedar menyimpan padi untuk keperluan satu tahun siklus perladangan mereka. Manja pada alam, mereka terbiasa dengan mudah memperoleh sayur-sayuran, buah-buahan, ikan, dan daging binatang yang tersedia di alam sekitarnya. Tidak mengenal sistem dagang, baik dikalangan mereka sendiri maupun dengan kalangan luar. Apabila mereka pergi menukarkan hasil hutan atau hasil tani dengan barang lain yang mereka perlukan,maka itu dilakukan sepenuhnya dengan sikap ‘’terserah kepada taoke’’.8
Salah satu upaya dalam rangka peningkatan produksi pertanian untuk pembangunan ekonomi ialah pembentukan dan pembinaan kelembagaan formal maupun non formal antara lain meliputi pembinaan kelompok tani, peningkatan prasarana koperasi/KUD dan penyuluhan (Kasryno dan Rasahan, 1989).
e. Hasil corak produksi
Dalam suatu aktivitas proses produksi guna memenuhi kebutuhannya, manusia berhubungan dengan manusia lain, karena proses produksi selalu merupakan hasil saling hubungan antar manusia, maka sifat dari produksi juga bersifat Sosial. Saling hubungan antar manusia dalam suatu proses produksi ini disebut sebagai Hubungan Sosial Produksi. Dari kegiatan produksi ini muncul kegiatan berikutnya yaitu distribusi dan pertukaran barang. Hubungan Sosial produksi dalam sebuah masyarakat bisa bersifat kerja sama atau bersifat eksploitasi (penghisapan).9 Hal ini tergantung siapakah yang memiliki atau menguasai seluruh
alat produksi. Kerjasama atau gotong royong merupakan perwujudan dari hubungan sosial produksi dimana dalam masyarakat Dayak dikenal dengan istilah handep. Dimasa sekarang hubungan produksi sosial sudah digantikan dengan alat-alat produksi karena didasarkan kepada orientasi hasil produksi dengan skala besar dengan proses yang cepat.
Sedangkan corak produksi adalah hubungan antara produksi sosial dan tenaga produksi. Dimana seperti penjelasan diatas corak produksi menentukan terkait mekanisme mendapatkan hasil produksi jika lebih mengutamakan sebagai alat-alat produksi ketimbangan hubungan sosial produksi akan melahirkan sebuah penghisapan atas kerja produksi. Individu yang mempunyai alat produksi akan membuat manusia lain sebagai pembantu si-tuan untuk mengerjakan kerja-kerja produksi. Manusia yang tidak mempunyai alat produksi akan diperintah oleh sang punya alat sedangkan si-tuan tinggal menikmati hasil dari kerja-kerja produksi orang lain.
Pengembangan Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar membuat reklamasi berupa pembuatan kanal dan saluran terbuka sepanjang 2.114 km (Jaya, 2003) pada lahan gambut dengan kisaran ketebalan 0,5 hingga lebih dari 13 m tanpa diimbangi dengan fasilitas irigasi yang memadai telah menyebabkan kekeringan gambut disertai dengan peningkatan kemasaman pada taraf yang memprihatinkan.10
Lahan rawa gambut yang sudah dibuka dan dikeringkan sangat rentan terbakar. Kejadian kebakaran terbesar di Indonesia setelah tahun 1982/1983 terjadi lagi pada tahun 1997-2000 di areal ini. Bahkan para peneliti Internasional menemukan fakta bahwa emisi gas rumah kaca dari kebakaran lahan gambut di Eks PLG tahun 1997 sebesar 0.15-0.18 Gigaton (1 Giga = 1 Milyar) (Pages, dkk 2002). Setelah tahun 2000, lahan-lahan bekas kebakaran
menjadi langganan dilalap api setiap tahun hingga saat ini. Akibatnya lahan gambut yang terus terbakar menjadi miskin hara dan air menjadi masam.11
Perkembangan ekonomi diikuti oleh pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat sejak era orde baru, menuntut adanya pemenuhan kebutuhan di segala aspek kehidupan. Penebangan kayu merajalela, sistem perladangan dan penyiapan lahan perkebunan dengan cara bakar semakin meluas, dan eksploitasi hutan gambut menjadi tak terkendali.
Adanya pembuatan saluran-saluran air berupa handil muncul setelah letak ladang semakin jauh dari badan sungai yang dibangun sebagai alat transportasi. Dari budaya handil inilah dikembangkan oleh Proyek PLG menjadi kanal-kanal besar sebagai saluran drainase di lahan rawa gambut. Perladangan dan pertanian mengalami kendala saat musim kemarau tiba, terjadi kebakaran yang berakibat gagal panen ataupun padi rusak akibat pembukaan kanal/parit dilahan gambut tersebut.
II. Mega Proyek BOS MAWAS
Wilayah Hutan Mawas berbatasan dengan 59 Desa dan kampung yang dihuni sekitar 15.000 orang penduduk yang tersebar di dalam lima kecamatan dan dua wilayah kabupaten Kapuas. Dimana di Kabupaten ini penduduknya terdiri dari suku asli Dayak, sisanya berasal dari suku Banjar, Jawa, Bugis, Batak, dan Manado. Keturunan dari penduduk asli yang tersebar di wilayah ini adalah Dayak dengan kelompok etnis Ngaju, Ma'anyan dan Luangan. Sekitar 85% keturunan Dayak masih berdiam di wilayah kelola BOS Mawas.
Berdasarkan hasil penilaian Desa partisipatif oleh Tim BOS-Mawas tahun 2006, periode sejarah desa dan penduduk di sekitar wilayah ini dimulai sejak tahun 1600, 1700, 1800-an, atau jauh sebelum Proyek Bos-Mawas dimulai. Terbentuknya Desa-Desa atau
pemukiman pada umumnya dimulai dari sekelompok orang tertentu dengan tujuan menetap. Secara historis, cikal-bakalnya ada yang dimulai dari sekelompok masyarakat peladang yang secara turun temurun mengajak saudaranya. Pendapat lain mengatakan bahwa penduduk berasal dari keturunan Nyai Indu Runtun yang menjelma menjadi Batu Palan Tuhuk/Patahu. Sedangkan pendapat terakhir mengatakan bahwa berkembangnya suatu desa atau pemukiman itu berawal dari masuknya sekelompok misionaris yang mendirikan
sekola zending.12
Kebiasaan masyarakat sekitar daerah Mawas di mantangai saat membuka lahan perladangan pada musimnya mereka membuka lahan perladangan dengan cara membakar sesuai aturan nilai kearifan budaya mereka. Pembakaran terkontrol menurut kearifan lokal masyarakat Dayak adalah menyangkut alat, sumberdaya manusia, dan cara-cara membakar. Jika lahan untuk berladang sudah mengalami penebasan
dan kering, maka pembakaran pun dimulai. .13 Pembukaan lahan
berskala kecil dengan cara membakar di masyarakat Kalimantan dan Sumatra telah tumbuh sekitar 200 tahun yang lalu (Lawrence and Schlesinger, 2001; UNDP, 1998).
Pada jaman dahulu dalam satu kampung hanya bermukim 5 -10 kepala keluarga sehingga apabila ada api pembakaran, dapat dipastikan siapa yang membakar. Sejak zaman dahulu praktek bekerjasama sudah ada dimana menurut istilah Dayak tersebut “handep , bahkan ada peribahasa “Handep isen molang yang berarti gotong-royong pantang menyerah dianut ketika populasi suku Dayak sangat sedikit. Demikian pula masyarakat desa Katunjung
mengistilahkan kerjasama dengan istilah “hapakat . Zaman dahulu,
jarak ladang ke rumah rata-rata hanya kurang dari 1 km, sehingga kondisi ladang dapat diawasi setiap saat dan tanpa diawasipun api liar yang dihasilkan hanya sekitar 10-15 depa saja (10-15 meter), hal
12 Acep akbar, studi kearifan local penggunaan api persiapan lahan hutan MAWAS Kalimantan
tengah, balai penelitian kehutanan banjarbaru, kal-sel.
tersebut dikarenakan keadaan hutan masih baik, namun saat ini meningkatnya api liar terjadi setelah dibukanya saluran-saluran drainase (kanal) pada lahan gambut. Adanya intervensi orang luar dengan peralatan modern, contoh penggunaan alat gergaji mesin ( chainsaw) untuk menebang kayu, pohon hutan menjadi cepat habis. Keterbukaan tutupan hutan menjadikan hutan rawan kebakaran karena saat musim kering cuaca di sekitar hutan menjadi lebih panas daripada ketika masih lebat dan hijau.
Banyak mega proyek dalam menanggulangi kebakaran hutan guna pengamanan dalam berladang salah satunya BOS MAWAS, Sarana prasarana unit pengelola hutan BOS-Mawas yang berhubungan dengan kebakaran yaitu : (1) regu api internal, (2) 3 stasiun pengamatan (tower ), (4) lima camp lapangan dan beberapa pos pemantauan dan deteksi kawasan, dan 3 kantor perwakilan yang berada di Provinsi dan Kabupaten, (5) RPK bentukan sebanyak 15 regu di 15 desa sekitar hutan mawas.dan (6) pesawat mini “ultralight ”
sebagai sarana patrol dan pemantauan api hutan dan illegal logging .
Pelatihan pengendalian kebakaran hutan dalam tahun 2006 telah dilakukan 2 kali berlokasi di Mantangai dan Sungai Lui (Blok AB) (Wahono, 2006).
Menghadapi musim kemarau yang berhubungan dengan api
kebakaran masyarakat Dayak biasanya cukup dengan membuat “tatas”
atau sekat bakar pada “ume ” (ladang). Sistem kebersamaan membakar
Kelompok-kelompok tersebut terbentuk oleh adanya letak ladang dalam satu handil atau satu wilayah pinggiran sungai.
Dalam masyarakat Dayak Maanyan, pembukaan lahan
diistilahkan “panganraw”. Sedangkan lahan gambut disebut “lahan
luwaw ”, dan lahan mineral disebut “jawuk ”. Jawuk lebih disenangi untuk berladang. Namun ada jenis lahan kering tetapi bersifat asam disebut “janah”. Lahan janah dianggap lahan tidak subur. Lahan yang cocok untuk pertanian bagi para petani pioner ditentukan oleh jeluk mempan (kedalaman efektif) dan bau dari tanah lapisan atas yang diistilahkan dengan “bau harum” dan air yang keruh atau kecoklatan.
Bagi masyarakat Dayak Maanyan, semboyan “Daya pakat rano
welun” (Dengan bekerjasama akan sukses dan berkesinambungan) telah menjadi falsafah hidup.
Kegiatan pengelolaan sumber daya alam masyarakat dayak di sekitar MAWAS pada dasarnya masih sama seperti dulu yaitu berpindah-pindah mencari lahan baru yang subur atau perladangan
dilakukan secara berpindah-pindah ( shifting cultivation ) dan sistem
tabas bakar ( slash and burn ) yang biasa disebut “ swidden agriculture
”, namun pengetahuan mereka lebih terfokus pada melimpahnya ikan-ikan di sungai saat musim kering sehingga mereka segera memasang perangkap ikan atau saat yang tepat dimulainya menyadap karet karena telah terbebas dari banjir sungai. Pada umumnya ladang padi huma yang mereka kelola pada akhirnya akan menjadi kebun karet (kebun getah) manakala lahan sudah tidak dianggap subur lagi untuk tanaman
padi ( Oryza sativa ) yaitu setelah 2-3 tahun. Adanya peralatan yang
diberikan oleh pihak Pengelola Hutan Konservasi Mawas serta insentif yang diberikan kepada RPK desa ternyata telah membentuk jiwa korsa untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di desa.
perlunya pengaturan pembakaran daripada melarang untuk membakar dalam bertani (Dampha, 2001).
Memandang perlu untuk tetap melestarikan budaya asli masyarakat bukan malah mendorong dengan pola-pola baru. Karena pengetahuan lokal merupakan satu pengetahuan yang harus dihargai dan lindungi agar menjadi pengetahuan umum. Memang sulit untuk membenturkan cara mana yang paling baik namun masing-masing pola ini harus dipandang sebagai penyelamatan bukan malah menjadi suatu pola yang menghilangan pengetahuan lokal masyarakat. Permasalahan utama dalam kebakaran hutan yang terjadi bukan karena hanya kebiasaan membakar masyarakat untuk membersihkan lahan namun juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang tidak dapat lagi menyangga alam agar tetap lestari.