• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Badan Kerdja Depernas Komisi I (Keuangan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Laporan Badan Kerdja Depernas Komisi I (Keuangan)"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

BADAN KERDJA DEPERNAS

KOMISI

KEUANGAN

MASA SIDANG

(2)

48/Dkt/C/Dep./XII/’61. 100

-L A P O R A N

B A D A N K E R D J A D E P E R N A S

K O M I S I I ( K E U A N G A N )

M A S A S I D A N G II

(3)

I S I

BAB I. PENEGASAN TENTANG PROJEK-PROJEK PEMBANGUNAN.

BAB II. DISTRIBUSI UNTUK MELANTJARKAN PELAKSANAAN PROJEK-PROJEK PEMBANGUNAN.

BAB III. ANGGARAN PENDAPATAN UNTUK PEMBANGUNAN.

BAB IV. ANGGARAN PEMBANGUNAN 1962.

BAB V. PENETAPAN URUTAN URGENSI PROJEK-PROJEK.

(4)

---oOo---BAB I. PENEGASAN TENTANG PROJEK-PROJEK PEMBANGUNAN.

Membahas persoalan-persoalan jang berhubungan dengan Anggaran Belandja Pembangunan untuk tahun anggaran 1962 ternjata tidak da-gaimana dengan projek-projek jang dimadjukan dan akan dilaksanakan oleh Daerah-daerah Swatantra dan bagaimana pula dengan projek-haja terhadap pelaksanaan projek-projek Depernas itu Berhubung dengan itu Komisi I merasa perlu mengadjak Badan Kerdja Depernas memadjukan kepada Pemerintah suatu perumusan tentang apa jang se- harusnja dinamakan projek-projek pembangunan semesta dan mener- tibkan keadaan tersebut diatas.

1. Komisi berpendapat, bahwa jang dimaksudkan dengan projek-projek pembangunan dalam arti kata jang luas ialah : segala ke-giatan, segala usaha jang tidak bersifat pemeliharaan, tidak bersifat routine, akan tetapi djelas merupakan usaha baru, usaha penambahan atau perluasan, untuk mentjapai terwudjudnja Masjarakat Sosialis Indonesia berdasarkan Pantja Sila.

Projek-projek harus ditetapkan menurut rentjana, karena kita ingin mentjapai maksud kita dalam waktu sesingkat-sing-tjapai hasil jang setinggi-tingginja dan sebesar-besarnja.

Dengan sendirinja, tidak mungkin kita menjusun Rentjana jang menjantumkan semua projek-projek Pembangunan jang dimak- sud diatas, tidak mungkin kita menjusun suatu Pola Projekm, jang memuat semua projek-projek Pembangunan menurut prinsip diatas.

(5)

-Apa jang dapat kita masukkan didalam Pola Projek adalah Pro-jek-projek Pembangunan (Projek dengan huruf besar).

Dalam hal ini Komisi berpendapat, bahwa tjara jang paling mudah dan selaras ialah diambil dasar pembiajaannja. Semua projek jang pembiajaannja (akan) dilakukan dari sumber-sumber usaha pengerahan “funds and forces” oleh Pemerintah, hendak- nja ditjantumkan dalam Pola Projek.

Tjara ini memberikan kemungkinan kepada Pemerintah untuk memelihara keseimbangan antara kekuatan keuangan dan luasnja/ besarnja Projek-projek Pembangunan. “Funds” jang dikerah- kan melalui Bank-bank pembangunan.

Karena itu Komisi I menjarankan, agar semua projek-projek Pembangunan, jang pembiajaannja dilakukan oleh atau melalui Bank-bank Pembangunan, dianggap mendjadi Projek-projek (P hu-ruf besar) Pembangunan, dan harus ditjantumkan dalam Pola Pro-jek. Bank-bank Pembangunan, jang kini telah atau dirantjangkan akan didirikan ialah Bank Pembangunan Indonesia, Bank Pemba-ngunan Daerah dan Bank PembaPemba-ngunan Swasta. (Disini ditegas-kan Projek-projek Pembangunan. Untuk mentjegah kesimpang-si-uran dan agar kita tidak meningglkan prinsip bekerdja Beren-tjana dalam Pembangunan, hal ini memerlukan penindjauan kem-bali dari Pola Projek Depernas itu.

Dalam hal ini Komisi I menjarankan, agar penindjauan kembali itu melampaui prosedur berikut :

a. Pemerintah meminta Depernas melakukan perobahan-perobahan dari Pola projek Depernas untuk menampung projek-projek

(6)

Pembangunan baru jang disarankan oleh Presiden, Departemen-departemen dan Daerah-daerah Swatantra.

b. Setelah Pola Projek Depernas jang baru selesai, usul-usul jang datang kemudian mengenai pemasukan sesuatu projek Pembangunan dalam Pola Projek, dapat dilakukan oleh Badan Kerdja Depernas.

c. Dalam hal-hal jang mendesak, penerimaan sesuatu projek jang diusulkan mendjadi Projek Pembangunan, dilakukan oleh De-wan Pembangunan.

3. Selandjutnja perlu ditegaskan, bahwa ditjantumkannja se-suatu Projek Pembangunan dalam Pola Projek tidaklah berarti, bahwa projek-projek itu akan diselenggarakan Pelaksanaannja oleh Pemerintah, Badan-badan Negara atau Perusahaan-perusah-an Negara.

Dalam Pola Projek dimasukkan semua Projek Pembangunan dengan tidak membeda-bedakan apakah Projek itu akan dilakukan pelak-sanaan nja oleh Pemerintah Pusat, Daerah Swatantra atau Swasta. Karena itu, setelah Pola Projek Depernas baru tersusun, perlu Pemerintah menetapkan setjara nominatip dari Projek-projek Pembangunan itu :

a. mana jang mutlak pelaksanaannja harus diselenggarakan oleh Negara.

b. mana jang dapat diserahkan kepada Daerah Swatantra. c. mana jang dapat diserahkan kepada Swasta.

(7)

BAB II. DISTRIBUSI UNTUK MELANTJARKAN PELAKSANAAN PROJEK-PROJEK PEMBANGUNAN.

Tugas melakukan pemikiran tentang Projek-projek Pemba-ngunan mana jang sebaiknja dipilih untuk dilaksanakan dalam tahun 1962 dengan sendirinja membawa Komisi I kepada menelaah faktor-faktor jang mempengaruhi pelaksanaan Projek-projek Pem-bangunan pada umumnja.

Hal jang pertama adalah termasuk Projek Pembangunan jang disarankan oleh Depernas dan ditondjolkan disini mengingat kenjataan, bahwa keadaan Ekonomi Negara terasa bertambah be-rat, Guna memlihara semangat berdjoang dan kegairahan beker-dja dari rakjat (kedua-duanja sjarat mutlak dalam Membangun) perlu soal barang-barang keperluan pokok ini mendapat perhatian.

Berhubung dengan itu, disini disarankan oleh Komisi I, supaja Projek Distribusi, seperti jang direntjanakan Depernas dan terapat didalam hasil karyanja Buku ke-enam, djilid XV, hal 3281 s/d 3366, segera dilaksanakan sebagai Projek Pemba-ngunan.

Mengenai jang tersebut di nomor dua , oleh Komisi disa-ditudjukan (dalam tahun 1962) pada perbaikan2 fasilitas dan

(8)

“management”, seperti telah dikemukakan pula oleh panitia Ad Hoc B.

Meskipun pemikiran mengenai masalah distribusi itu ti- dak termasuk tugas Komisi, berhubung dengan pengaruhnja soal ini terhadap pelaksanaan Projek-projek, dibawah dimadjukan beberapa pokok pikiran sebagai sumbangan bahan dalam mentjahari pe -metjahan dari soal jang muskil dan kompleks itu.

Lebih dulu hendak dikemukakan adanja faktor2 didalam masjarakat jang sekurang-kurangnja tidak memperlantjar pere-daran bahan dan alat keperluan pembangunan, seperti :

(1). Sistim distribusi jang masih bersandar pada susunan apa-rat distribusi jang berlapis-lapis, jang ditandai oleh banjaknja perantara tangan tangan kesatu (distribusi be-sar, importir) dan tangan ketiga (pengetjer).

Kematjetan peredaran barang kerapkali ditimbulkan oleh adanja perantara2 jang sebenarnja tidak diperlukan, ka-rena hanja memperpandjang djalan peredaran barang dan me-naikkan harga konsumsi.

(2). Dengan adanja Djawatan Harga dari Departemen Perdagang-anpun, politik harga jang kita kenal hingga kini belum sesuai dengan ketetapan M.P.R.S. jang berbunji :

“5. Politik harga.

Politik harga barang2 konsumsi dalam negeri didasarkan kepada azas serendah mungkin sesuai dengan daja beli rakjat dengan ketentuan-ketentuan

persediaan jang tjukup, ditentukan oleh kepentingan produsen/pedagang dan tindak-an moneter.

Dalam usaha untuk menghilangkan disparitas harga kepen-tingan rakjat konsumen umumnja kurang diperhatikan. Se-harusnja Departemen Perdagangan mempertahankan harga jang sekali sudah ditetapkannja.

(9)

-(3). Politik moneter kerap kali mengganggu kelantjaran pro-duksi didalam negeri. Pungutan2 seperti “meerwinst”, komponen harga, padjak pendjualan, padjak pembangunan dll. tidak menstablisir pembentukan harga, melainkan merupakan faktor jang terus-menerus menjebabkan kenaik- an harga barang2, baik jang diimpor maupun jang di- hasilkan didalam negeri. Kenaikan harga membuat likwi- ditet perusahaan2 relatif berkurang, suatu hal jang pas- ti akan mengakibatkan mundurnja kapasitas dan produkti-vitas perusahaan2 itu.

Dan kemunduran produksi itu djelas tidak akan memperlan-tjar peredaran barang2, bahkan dapat menimbulkan semangat berspekulasi ditengah-tengah masjarakat, suatu hal jang sering mematjetkan distribusi bahan2, seperti umpamanja minjak tanah, minjak kelapa, beras, bahan2 bangunan dsb. (4). Belum tampak koordinasi dan pengawasan jang efektif

ter-hadap penjaluran barang2 jang sepenuhnja dikuasai oleh Pemerintah, umpamanj semen, pupuk dan gula.

(5). Penjaluran barang2 dari Perusahaan Dagang Negara ke-kon-sumen belum tjukp efisien, terutama oleh karena masih terlampau banjak perusahaan2 bajangan memainkan peran jang sebenarnja tidak perlu sepandjang saluran2 distri- busi antara P.D.N. dan konsumen itu.

(6). Terlampau banjaknja instansi, bukan sadja di Pusat, bah- kan terutama di Daerah, sampai pada Daerah2 asministra- tif jang paling ketjil, sering pula merupakan faktor peng-hambat kelantjaran distribusi. Sebagai tjontoh dapat dikemukakan pengalaman projek Djatiluhur, jang pada sua- tu ketika tidak dapat melandjutkan usahanja karena keku-rangan semen,

Terasa benar, bahwa seluruh sistim perlu direorganisasi dan diadakan politik personalia jang dapat mendjamin ber-langsungnja organisasi baru itu. Dalam memperbaharui sis-tim distribusi ini hendaknja diutamakan terwudjudnja sua- tu organisasi jang efektif dan efisien dengan mengadakan penjusunan dari bawah keatas. Penempatan petugas2 dida-lam organisasi itu seharusnja merupakan tindakan penjem-purnaan daripada djalannja distribusi.

(10)

Sebagai tindakan perbaikan dibidang distribusi oleh Komisi disarankan hal2 tersebut dibawah ini :

(1) Pemerintah seharusnja setjara konkrit dan beren-tjana menguasai dan mendjatah semua barang2 jang diperlukan untuk pembangunan projek-projek. Pe-njaluran barang2 itu keperusahaan-perusahaan Nega-ra atau ketempat2 pembangunan projek hendaknja di-laksanakan langsung oleh Perusahaan Dagang Nega-ra jang ditundjuk tanpa menggunakan peNega-rantaNega-raan pihak lain.

(2) Kepada sesuatu instansi jang harus mendistribusi-kan barang hendaknja diberimendistribusi-kan wewenang/kemudahan2 (“facileties”) jang tjukup besar untuk mengatur pengangkutan barang2 jang dikuasainja ketempat-tempat dimana barang2 itu diperlukan.

(3) Prosedur penjampaian bahan2 sandang-pangan dari importir atau grosser kerakjat konsumen hendaknja mengikuti djalan jang sependek-pendeknja tanpa menggunakan perantara2 jang tidak perlu.

(4) Semakin besar djumlah pengetjer jang wadjar sema-kin besar persaingan jang akan timbul diantara me-reka itu dan semakin bailah pelajanan jang dibe-rikan kepada konsumen. Berhubung dengan itu djum-lah pengetjer itu tidak perlu dibatasi.

Dalam pada itu disarankan pula agar supaja Peme-rintah mengembangkan dan menggiatkan koperasi2 primer sebagai pemegang peranan dalam penjampaian barang2 kepada para konsumen.

(5) Adanja tambahan2 wewenang instansi2 didaerah di-luar instansi sipil hendaknja ditjegah sedjauh mungkin.

Umumnja dapat dikatakan, bahwa bersimpang-siurnja wewenang dalam tubuh Pemerintah akan merupakan fak-tor penghambat dalam distribusi barang2.

(11)

BAB III. ANGGARAN PENDAPATAN UNTUK PEMBANGUNAN

Dengan adanja pemisahan antara Anggaran Pendapatan Routine dan Anggaran Pendapatan untuk Pembangunan, dapatlah setjara chu-sus diadakan penindjauan mengenai sumber2 pendapatan jang dapat digunakan untuk kelangsungan Pembangunan. Dalam hal ini dapat pula digariskan terlebih dahulu pemilihan/penentuan kebidjaksa-naan, bahwa jang primer adalah penjusunan Anggaran Pendapatan Pembangunan jang realistis, sedangkan Anggaran Pengeluaran Pem-bangunan disesuaikan pada Anggaran Pendapatan tersebut. Dengan perkataan lain djumlah pengeluaran untuk pembangunan sebesar 30 miljar setiap tahun seharusnja dipandang sebagai perkiraan jang bersifat “tentative”. Anggaran Pengeluaran jang bersifat defini-tif harus diselaraskan dengan pendapatan dari sumber2 pembiaja-an pembpembiaja-angunpembiaja-an.

Adanja Anggaran Pendapatan Pembangunan jang pasti, memberi-kan kemungkinan kepada kita untuk memadjumemberi-kan – dengan mengguna-kan pengalaman2 jang diperoleh pada tahun 1961 –saran2 mengenai “omvang” Pembangunan jang akan dilaksanakan urutan urgensi dari-pada Projek2 jang akan diselenggarakan dan mungkin pula djumlah biaja jang perlu disediakan untuk tiap2 projek itu.

Apabila dapat ditetapkan, bahwa Anggaran Pendapatan Luar Biasa tahun 1962 adalah Anggaran Pendapatan Pembangunan, maka Ko-msisi merasa perlu memadjukan pokok2 pikiran tersebut dibawah ini : (1) Komponen-komponen Anggaran Pendapatan Luar Biasa tahun 1961

perlu ditindjau dahulu, sebelum dapat ditjantumkan pula pula da-pat Anggaran Pembangunan tahun 1962.

Sebelum lebih landjut meneliti pos-pos Anggaran Pembangunan tersebut satu demi satu, perlu dikemukakan, bahwa berhubung sistim perhitungan pembiajaan Projek-projek Pembangunan ini memakai perhitungan-perhitungan kebutuhan biaja dalam Rupiah dan Devisen, maka penjusunan Anggaran Pendapatanpun akan di-susun sesuai hal tersebut diatas. Walaupun dalam kenjataan perbandingan 1 : 1 dalam kebutuhan Rupiah dan Devisen tidak setjara mutlak dapat dipakai, untuk menjusun Anggaran Penpatan ini, perbandingan tersebut masih diperlukan sebagai da-sar penentuan penjediaan-penjediaan fonds (batja: pos-pos) dalam masing-masing sektor Rupiah dan sektor Devisen.

(12)

(2) Djika sistim diatas dapat diterima dalam menjusun Anggaran Pen-dapatan Luar Biasa. Maka dapat ditentukan sebagai berikut :

A. Sektor Rupiah :

Pos-pos jang terdapat dalam Anggaran Pendapatan Luar Bia-sa 1961 pada daBia-sarnja dapat pula dipakai untuk penjediaan fonds-fonds Rupiah seperti :

1. Laba-laba Perusahaan Negara.

2. Hasil penarikan uang dari perdagangan a. Freelist

b. pendjualan barang modal c. pendjualan barang konsumsi 3. Penarikan uang dari masjarakat

a. Obligasi dan kertas Perbendaharaan

b. Penggunaan sebagian laba-laba perusahaan Swasta untuk keperluan Pembangunan dalam bentuk pindjaman djang-ka pandjang

c. Tabungan terpimpin d. Tabungan sistim kupon e. Simpanan masjarakat

4. Projek2 B, jaitu projek-projek jang telah dapat mengem-balikan modalnja dan keuntungannja dalam waktu pendek. 5. Hasil returns dari Projek-projek jang selesai sebelum sebut dapat disusun sebagai berikut :

(13)

(3) Sistim diatas erat hubungannja dengan pandangan bahwa dalam menjusun Anggaran Belandja untuk masa depan perlu ditempuh su -atu tjara baru, jaitu dengan menjusun su-atu Budget Moneter jang komplot, jang antara lain akan terdiri dari :

a. Anggaran Devisen. b. Anggaran Kredit.

c. Anggaran Belandja Negara.

(4) Dari program-program jang telah disusun oleh Komisi/Panitia2 Badan Kerdja Depernas berdasarkan angka-angka tahun 1961 dan laporan-laporan/djawaban-djawaban dari Departemen2, susunan rentjana sementara Anggaran Pendapatan Luar Biasa dapat digam-barkan sebagai berikut :

1. Laba2 perusahaan Negara 4 - a) tergantung da-2. Simpanan masjarakat 1 - ri keadaan de-6. Pendjualan barang2 konsumsi 5,75 c)

-7. Pendjualan barang2 modal 2 c) - c) lihat laporan 8. Hasil penarikan uang dari

Perdagangan 2 - Sub-panitya B/1. 9. Hasil landreform P.M.

-10. Hasil/return dari projek

jang sudah didirikan P.M. -11. Tabungan sistim kupon 1 c) -12. Hasil Kepariwisataan P.M. P.M. 19. Kredit Luar Negeri -

133.--21,155 + P.M.163,18+P.M.

(14)

BAB I. ANGGARAN PEMBANGUNAN 1962.

A. Azas-azas Penetapan Projek-projek.

Mengenai pelaksanaan Projek-projek, Komisi I bersandar pa-da pendirian-pendirian seperti tertjantum dipa-dalam Laporan Panitia Ad Hoc B.

Komisi merasa perlu menegaskan pendapatnja, bahwa jang ter-lebih dahulu harus diusahakan Pemerintah adalah penjediaan biaja untuk Pembangunan dengan djalan segera melantjarkannnja Projekpro -jek B dan usaha-usaha lain seperti digariskan oleh Anggaran Pen-dapatan Luar Biasa tahun 1961. Disamping itu dilaksanakan Projek-projek jang bersangkutan dengan Triprogram Kabinet dan Projek-pro-jek Komitmen.

Untuk sementara waktu Projek-projek ini dapat dibiajai dengan tja-ra “deficit spending”, djika tidak dapat disediakan dari Anggatja-ran Pendapatan Routine. Tidak seharusnja kita membalikkan tata-tjara kerdja, jaitu menetapkan lebih dahulu projek-projek jang akan kita laksanakan dalam setahun dan kemudian baru bersusah pajah mentja-ri biaja untuk pekerdjaan jang hendak diselenggarakan itu.

Pendapatan anggaran pendapatan untuk melantjarkan pembangunan merupakpembangunan masalah jpembangunang wadjib mendapat prioritas dalam pemikir -an kita ditah-an-tahun pertama ini.

Baru setelah ada kepastian mengenai biaja jang tersedia untuk pembangunan itu, dapat dimulai dengan pelaksanaan Projek-projek.

Djika biaja jang dapat disediakan telah tjukup, maka sejogjanja kita mulai membangun disegala bidang, tanpa ketjuali, jaitu :

(1) Bidang Mental/Rohani

Tjara-tjara pelaksanaan dilakukan dengan sendirinja de-ngan memperhatikan petundjuk-petundjuk Panitia Ad Hoc B.

Bagaimana keadaan Pembiajaan pada waktu sekarang, chusus-nja taksiran-taksiran untuk tahu 1962? Mengenai hal ini dapat dikemukakan sebagai berikut :

(15)

B. Prognose Anggaran Pendapatan untuk Pembangunan tahun 1962. Prognose mengenai penerimaan-penerimaan jang dapat diguna-kan untuk melantjardiguna-kan Pembangunan, seperti termuat didalam Lapor-an Sub PLapor-anitia PembiajaLapor-an dari PLapor-anitia Ad Hoc B (vide LaporLapor-an Pa-nitia Ad Hoc B, bab VII) tidaklah memberikan gambaran jang meng-gembirakan untuk tahun kedua Pembangunan Semesta (1962).

Hasil sementara dari penjusunan Anggaran Belandja 1962, jang oleh Departemen Keuangan diterbitkan di Tjipajung pada tanggal 2 September 1961 adalah seperti tertjantum dibawah ini :

A. Angka-angka permintaan (wensbegroting) dari Departemen-depar-temen adalah sebagai berikut :

I. Routine : Sipil Rp. Polisi “ Militer “ 37.795.000.000,-Djumlah Rp. 102.280.000.000,-II. Pembangunan : Sipil Rp.

Polisi “ Militer “ 13.000.000.000,-Djumlah Rp. 74.000.000.000,-Djumlah I dan II ialah Rp.

176.280.000.000,-Anggaran permintaan jang demikian besarnja itu oleh Departe-men Keuangan ditekan kebawah dengan berpedoman pada hal-hal terse-but dibawah ini :

1. Umum.

Menitik-beratkan usaha-usaha/kegiatan pada Triprogram Kabinet Kerdja, dengan mengingat djangka waktu jang telah ditetapkan untuk pelaksanaannja.

2. Belandja Pegawai.

a. Diperhitungkan kenaikan karena P.G.P.N. 1961. b. Diperhitungkan accres tahunan sebesar 5%.

3. Belandja barang, belandja pemelihraan dan perdjalanan dinas. a. Diperhitungkan naik 10%.

b. Untuk kepolisian dan kependjaraan kenaikan lebih dari 10% karena perluasan.

4. Subsidi/Bantuan kepada Daerah-daerah Otonom.

(16)
(17)

-5. Pembangunan Non-development.

a. Distribusi pada projek-projek jang sedang berdjalan. b. Kantor-kantor baru didaerah-daerah.

c. Dimana mungkin dikurangi dengan 20%. 6. Anggarn Perusahaan.

Berhubung dengan masih adanja 4 perusahaan I.B.W. jang belum/ tidak didjadikan Perusahaan Negara, anggaran ini masih tetap

Dibidang pembangunan kebidjaksanaan jang diikuti Departe-men Keuangan ialah :

1. U m u m.

M.P.R.S. menetapkan untuk tiap tahun sebesar Rp. 30 miljar.

Dalam rangka Rp. 30 miljar ini harus dimasukkan projek-projek pembangunan jang diadjukan oleh Departemen-repartemen.

2. Pertama-tama harus dimasukkan dalam Anggaran Pembangunan 1962 ini :

a. Projek-projek jang harus selesai dalam tahun 1962, misalnja Asian Games, Gedung Pola Pembangunan, Hotel Indonesia, Djakarta Bypass.

b. Projek-projek dari Anggaran tahun 1961 jang belum selesai. Sedapat-dapat mungkin projek-projek ini jang tidak begitu dak dapat discreen karena tidak ada bahan-bahan).

Soalnja dimana harus dimaukkan sisa permintaan-permintaan itu.

d. Projek-projek baru dari Departemen-departemen setelah dia-dakan screening dan disesuaikan dengan ketetapan M.P.R.S. Projek-projek diluar Departemen tidak dimasukkan ketjuali djika telah diputuskan oleh Presiden, misalnja Mesdjid Is-tiqlal, Tugu Nasional.

(18)

e. Untuk projek-projek B tetap disediakan Rp. 1.300 djuta.

3. Dengan adanja projek-projek besar jang sifatnja non-economical (misalnja Asian Games, Gedung Pola dsb).) jang harus selesai dalam tahun 1962 dan/atau sudah mendjadi Commitment baik dari 1961 maupun jang baru-baru jang telah ditetapkan oleh Pemerin- tah (mesdjid.Istiqlal, Tugu Nasional), maka pada hakekatnja tidak ada ruangan lagi dalam djumlah Rp. 30 miljar bagi pro- jek-projek baru jang bersifat ekonomis jang mempunjai arti pembangunan ekonomi kita.

Penindjauan permintaan-permintaan jang oleh Departemen Keuangan dilakukan menurut pedoman-pedoman tersebut diatas memberikan hasil sementara penjusunan Anggaran Belandja 1962 sebagai berikut :

I. Routine : Sipil Rp. Polisi “ Militer “ 31.000.000.000,-Djumlah Rp. 71.352.000.000,-II. Pembangunan : Sipil Rp. Polisi “ Militer “ 3.750.000.000,-Djumlah Rp. 31.202.000.000,-Djumlah I dan II ialah

Rp.102.554.000.000,-Belum ada kepastian mengenai pendapatan Negara untuk tahun 1962, akan tetapi menurut perkiraan Departemen Keuangan Anggaran Pendapatan Routine dan Anggaran Pendapatan Luar Biasa akan ber-djumlah ± Rp. 57.000.000.000,- sehingga Negara akan mengalami “deficit” jang agak besar, jaitu ± Rp. 45.554.000.000,- suatu djumlah jang menurut keterangan Pemerintah sendiri tidak dapat dipertanggung-djawabkan. Menurut angka-angka jang terdapat di-dalam Rentjana Anggaran Belandja jang disampaikan kepada D.P.R.-G.R. pengeluaran-pengeluaran telah ditekan lagi, sehingga Achirnja mendjadi :

1. Pengeluaran Rputine Rp. 70.671.984.900.-Sipil, Polisi dan Militer

2. Pengeluaran untuk Pemba- Rp. 20.978.800.000,-ngunan

Djumlah : Rp.

(19)

Pendapatan disektor Routine dan Pembangunan rupanja bertambah dari 57.000.000.000,- mendjadi

60.000.000.000,-Demikianlah perkiraan Anggaran Pendapatan dan Anggaran Penge-luaran tahun 1962 jang disusun menurut angka-angka jang dikutip dari Rantjangan Anggaran Belandja 1962 Departemen Keuangan.

Meskipun angka-angka jang ada sekarang ini masih bersifat sementara dan Anggaran Pendapatan belum tersusun, dari sekarang sudah dapat dipastikan, bahwa segala pendapatan jang dapat-dikum-pulkan dalam tahun 1962, termasuk pos-pos dari Anggaran Pendapatan Luar Biasa, masih lebih rendah djumlahnja daripada jang dianggap wadjar untuk keperluan Routine. Dengan demikian tidak tersedia biaja (ketjuali beberapa kredit dan “grants”) untuk projek-projek Pembangunan.

Mengingat keadaan keuangan seperti digambarkan diatas, men-dorong Komisi mengemukakan saran-saran ini :

1. Diusahakan oleh Pemerintah untuk tertjapainja keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran dalam Anggaran Belandja Routine.

Untuk ini perlu Pemerintah menetapkan kebidjaksanaan umum tentang Anggaran Belandja Routine itu dan selandjutnja melakukan penelitian jang mendalam tentang semua pos-pos dari Anggaran Belandja Routine jang diadjukan. Dengan berpedoman kepada kebidjaksanaan umum jang dimaksud diatas, Pemerintah melakukan pengurangan-pengurangan dan penghapus-an-penghapusan dari pos-pos, sehingga Anggaran Routine jang seimbang tertjapai.

2. Pemerintah dengan lebih giat mengusahakan penambahan pen-dapatan, diantaranja dipakai djalan-djalan seperti disa-rankan oleh Badan Kerdja Depernas.

Selandjutnja oleh Badan Kerdja Depernas masalah penggalian sumber-sumber baru untuk pembiajaan Pembangunan seharusnja didjadikan bahan pemikiran jang mendapat prioritas utama. 3. Projek-projek Pembangunan untuk tahun1962 dibiajai oleh

“deficit-spending”, dan karena itu ditetapkan jang paling urgen. Mengenai ini akan dibahas lebih landjut dalam Bab V.

(20)

BAB V. PENETAPAN URUTAN URGENSI PROJEK-PROJEK.

UMUM.

Sesuai dengan pendapat Panitia Ad Hoc B Badan Kerdja dan sesuai pula dengan jang telah dikemukakan oleh Komisi I dalam Laporannja jang ke-I, pada prinsipnja urutan pekerdjaan dita-hun-tahun pertama dalam melaksanakan Projek-projek Pembangu-nan Tahapan I hendaknja sebagai berikut :

1. Melaksanakan Projek-projek jang mendjadi sumber Pem-biajaan Pembangunan (Projek-projek B).

2. Projek-projek Pembangunan jang bersangkutan dengan Triprogram Pemerintah.

3. Projek-projek Komunikasi jang terpilih, jang chusus perlu untuk melantjarkan pelaksanaan Projek-projek ter-sebut di ad (1) dan (2) diatas.

4. Melakukan persiapan-persiapan untuk melaksanakan Projek-projek lainnja, terutama Projek-projek Indus-tri besar, jang dapat tjepat menghasilkan.

Dalam mendjalankan prinsip diatas untuk tahun 1962, ter-njata harus pula diperhitungkan faktor-faktor dibawah ini :

1. Adanja Projek-projek Pembangunan jang merupakan komit-men, diantaranja projek-projek landjutan jang telah dimulai sebelum tahun 1961.

2. Adanja projek-projek tambahan dari Pemerintah. 3. Adanja Keputusan Presiden No. 108 tahun 1961. 4. Keadaan Keuangan Negara dalam tahun 1962. Urutan Urgensi Projek-projek.

Keadaan keuangan Negara, chususnja berhubung dengan sangat ketjilnja biaja jang sebenarnja dapat disediakan untuk Projek-projek Pembangunan, mengharuskan kita untuk sangat teliti da-lam menetapkan Projek-projek Pembangunan untuk tahun 1962. Da-lam melakukan penerapan ini perlu pula diperhatikan bebera-pa pokok, jang telah ditandaskan oleh Panitia Ad Hoc B dan djuga oleh Komisi ini dilain tempat, jaitu :

1. Antara Projek-projek jang tali-menali satu sama lain harus ada sinkronisasi jang seksama mengenai waktu permintaan penjelenggaraan pelaksanaan Projek-projek ini.

2. Jang…………

(21)

-2. Jang ditetapkan akan dilaksanakan pada tahun 1962 hanja Pro-jek-projek jang benar-benar telah siap untuk diselenggarakan.

Hal tersebut diatas dikemukakan berhubung dengan kenjataan di-muatnja beberapa projek dalam Keputusan Presiden No. 108 tahun 1961, jang sebenarnja persiapannja belum selesai dan karena itu tidak dapat dimulai pelaksanaannja.

Karena keadaan diatas Komisi berpendapat bahwa kita tidak mung-kin melaksanakan Projek-projek Pembangunan disemua Bidang setjara se-rempak. Keadaan mengharuskan kita untuk melakukan pemilihan jang tjer-mat dari Projek-projek jang akan dilaksanakan pada tahun 1962.

Menarik apa jang dikemukakan diatas mengenai biaja Pembangunan untuk tahun 1962 (jang kiranja hanja dapat dilakukan dengan “deficit-spending”). Projek-projek jang dipilih untuk dilaksanakan pada tahun 1962 semestinja hanja Projek-projek Ekonomis, itupun sedapat-dapatnja berupa Projek-projek jang memberikan keuntungan jang segera dan mem-punjai ICOR jang rendah.

Disamping itu dinjatakan disini bahwa Komisi belum dapat membe-rikan sarannja tentang djumlah “deficit-spending” (demikian pula ten-tang biaja untuk Pembangunan) jang dapat dikeluarkan dan jang masih dapat dipikul akibatnja oleh masjarakat Indonesia.

Berdasarkan hal-hal diatas Komisi I berichtiar untuk menetapkan prioritas Proejk-projek, hal mana tidak sedjalan dengan ketentuan-ke-tentuan seperti tertjantum didalam Surat Keputusan Presiden No. 108.

Menurut pertimbangan Komisi djumlah biaja Pembangunan jang da-pat disediakan boleh djadi kurang dari Rp. 30.000.000.000,- Karena itulah disarankan perlu menetapkan prioritas Projek-projek jang disesu-aikan dengan besarnja biaja Pembangunan jang dapat disediakan. Adanja prioritas itu tidak perlu mengetjewakan, oleh karena menurut pengalam-an tahun 1961 Projek-projek jpengalam-ang dapat diselenggarakpengalam-an sesuai dengpengalam-an kemampuan kita tidaklah sesuai dengan rentjana.

Komisi menjarankan untuk menetapkan-diluar Projek-projek jang oleh Pemerintah dianggap mutlak untuk dilaksanakan atau diselesaikan dalam tahun 1962 – prioritas Projek-projek jang akan dimulai ataupun diteruskan pelaksanaannja menurut urutan golongan-golongan seperti tertera dibawah ini :

Prioritas I

(22)
(23)

-Dalam golongan prioritas Ia ini dimasukkan pula Projek-pro-jek komplementer jang diperlukan untuk memperlantjar dan un-tuk mempertinggi kegunaan Projek-projek penambah bahan ma-kanan tersebut, diantaranja industri alat-alat pertanian, pemu-garan beberapa bangunan pengairan tertentu dan sebagainja. b. Projek-projek Komunikasi jang urgen diselenggarakan untuk

memungkinkan penjelenggaraan jang seksama dan untuk memper-lantjar pelaksanaan dari Projek-projek jang termasuk golong-an prioritas Ia. Dalam golonggolong-an prioritas Ib ini dimasukkgolong-an antara lain djalan-djalan raya tertentu, fasilitas-fasilitas perhubungan laut dan sebagainja.

c. Projek-projek jang dapat mendjadi sumber pembiajaan Pembangun-an (pProjek-projek B).

Prioritas II

Projek-projek jang berhubungan dengan produksi bahan pakaian. Prioritas III

Projek-projek jang berhubungan dengan persiapan Projek-projek (terutama Projek-projek Industri Berat dan Industri Besar) seperti :

a. eksploitasi

b. penelitian-penelitian tertentu

c. usaha pentjukupan tenaga-tenaga pembangunan dari semua tingkatan

d. transmigrasi,

ditambah dengan projek-projek jang bersifat komplementer, seperti :

e. projek-projek industri jang berhubungan dengan Industri Pangan

f. projek-projek Pengairan g. projek-projek Tenaga Listrik

h. beberapa penambahan bahan-bahan galian tertentu i. beberapa industri bahan baku dan bahan penolong j. perbaikan djalan raya.

Prioritas IV.

Projek-projek Kesedjahteraan (diantaranja Industri Obat-obat-an) dan Projek-projek Kemasjarakatan, chusus jang berhubungan dengan usaha perobahan Struktur Masjarakat, jaitu struktur jang dapat didjadikan landasan Masjarakat Adil dan Makmur berdasar-kan Pantjasila.

(24)

Diantara Projek-projek ini dapat disebut : a. Projek-projek Koperasi.

b. Projek-projek jang berhubungan dengan Pembangunan Masjarakat Desa.

Disamping Projek-projek jang tertjantum dalam urutan prioritas tersebut diatas perlu disediakan pula bagian tertentu dari djum-lah pembiajaan untuk menampung kelangsungan pekerdjaan-pekerdja-an jpekerdjaan-pekerdja-ang sudah ataupun sedpekerdjaan-pekerdja-ang dimulai.

Komisi sedang berusaha untuk mengumpulkan bahan-bahan mengenai pembiajaan Pembangunan dan djuga bahan-bahan jang diperlukan untuk da-pat menetapkan projek-projek jang dada-pat diselenggarakan dalam tahun 1962.

Hingga saat ini keterangan-keterangan jang kita peroleh dari pelbagai Departemen untuk melandjutkan/memulai Projek-projek dalam tahun 1962 hanja mengenai golongan-golongan Projek-projek jang terte-ra dibawah ini :

1. Penambahan produksi beras ….. Rp. 4.178.000 +

$ 1.200.000 (taksiran Komisi III) + P.M.

2. Djalan-djalan raya ………... Rp. 5.677.000.000,-+ D.K.A. 5.677.000.000,-+ Pelajaran 5.677.000.000,-+

Pela-buhan.

(keterangan dari Departemen dan Keputusan Presiden No. 108.) 3. Pengairan ………. Rp. 1.477.000.000,-b. Nikel (Ket. Departemen) Rp.

+ $ 680.000,-6. Eksplorasi bahan galian ……….. Rp.

158.041.000,-(keterangan dari Departemen)

7. Transmigrasi ……… Rp. 192.345.000,-(keterangan dari Departemen)

(25)

10.Paberik Obat-obatan ……… Rp. 40.000.000,-Djika untuk projek-projek Pembangunan jang disarankan oleh ber-bagai Departemen untuk sementara (berhubung dengan belum terkumpul-kannja keterangan-keterangan) biaja jang diperlukan untuk tahun 1962 jang diperlukan untuk tahun 1962 adalah Rp.

17.724.653.000,-+ $ 1.800.000,- 17.724.653.000,-+ P.M. 17.724.653.000,-+ Rp. 12.275.347.000,- 17.724.653.000,-+ Rp. 38.000.000.000,-. Seperti dikemukakan diatas, perhitungan ini adalah hanja untuk tahun 1960 dan taksiran2 pada permukaan tahun 1961.

Penetapan prioritas, seperti tertera diatas, hendaknja digu-nakan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

1. Apabila djumlah ± RP. 38.000.000.000,- diatas tidak dapat disediakan, pelaksanaan sesuatu Projek ditunda atau tempo penjelenggaraannja diperlambat.

2. Projek-projek jang dipilih hendaknja benar-benar Projek- projek jang telah selesai persiapannja. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan jang teliti terlebih dahulu dan pene- litian itu dilakukan setjara Projek demi Projek.

(26)

3. Sambil melaksanakan Projek-projek Pembangunan jang harus dan dapat diselenggarakan sekarang, dilakukan benar-benar segala pekerdjaan-pekerdjaan persiapan agar Projek-projek Pembangun-an jPembangun-ang akPembangun-an dilaksPembangun-anakPembangun-an kemudiPembangun-an, baik setjara keseluruhPembangun-an maupun tiap-tiap Projek sendiri, dapat berdjalan dengan se-tinggi-tinggi kelantjaran. Dalam hal ini Komisi penundjuk pada hal-hal jang telah dikemukakan Panitia Ad Hoc B, dian-taranja :

a. memperbaiki prosedur-prosedur;

b. memperbaiki aparatur Negara jang bersangkutan dengan pekerdjaan jang berhubungan dengan pelaksanaan Pro-jek-projek Pembangunan;

c. mempersiapkan susunan tenaga jang tepat dan seksama jang akan diberi tugas melaksanakan pendirian Pro-jek dan melaksanakan/mendjalan ProPro-jek.

Referensi

Dokumen terkait

Seorang pelajar menjalankan satu eksperimen untuk menyiasat hubungan antara sudut tuju, i, dan sudut biasan, r, bagi cahaya yang bergerak dari udara ke dalam satu blok kaca..

Berkenaan dengan hal tersebut diatas, diharapkan agar Saudara dapat hadir tepat waktu dengan membawa dokumen asli dan 1 (satu) rangkap fotocopy untuk setiap data yang

Tata kelola Desa secara tegas juga menyaratkan hal itu, terlihat dari fungsi pokok Musyawarah Desa sebagai forum pembahasan tertinggi di desa bagi Kepala Desa

[r]

Kelompok II yaitu releve-releve yang berada pada zona terdepan dan zona tengah yaitu releve 1,2,3,4,7 dan 13 yang didominasi oleh jenis semai Avicennia marina dengan indeks nilai

Adapun sektor yang dipengaruhi oleh investasi ini adalah sektor bangunan sebesar Rp 483,29 triliun, pada sektor pengangkutan Rp 205,91 triliun, dan di sektor industri pengolahan Rp

Penyikapan pada umumnya mengandung unsur-unsur kognisi, afeksi, dan perlakuan terhadap objek konseling. 222 Unsur kognisi mengacu kepada wawasan, pemahaman, pertimbangan

Berdasarkan informasi diatas maka perlu dilakukan penelitian untuk menentukan waktu yang tepat memulai weaning pada larva betok pada umur 15, 20 dan 25 hari setelah