dan Lokal pada Pasar Pembaca Daerah
Bestian Nainggolan
Universitas Indonesia
�
[email protected]
Pendahuluan
Karakteristik pasar industri media cetak daerah tidak hanya diisi oleh para pelaku industri yang berskala usaha lokal, namun ditandai pula oleh kehadiran dua pelaku utama industri media berskala nasional yang berekspansi secara masif. Pertama, kehadiran grup media cetak Jawa Pos yang semula berskala penerbitan lokal Jawa Timur, namun berkembang menjadi penguasa pasar media cetak berskala nasional. Kedua, grup Kompas Gramedia yang semenjak awal kehadirannya berskala penerbitan nasional dan dalam perjalanan bisnisnya gencar berekpansi kapital ke berbagai daerah. Kedua grup korporasi media cetak tersebut semenjak era liberalisasi media 1998 semakin masif berekspansi kapital dengan mengintegrasikan kepemilikannya secara horisontal, vertikal, maupun diagonal, hingga mampu membentuk pasar media cetak yang semakin bersifat oligopolistik (Nainggolan, 2015:45-46).
Pergerakan kapital ataupun pola ekspansi kapital yang dilakukan kedua grup media tersebut menunjukkan bagaimana format pengelolaan media cetak di negeri ini lebih banyak bersandar pada hakikat media sebagai komoditas industrial. Kondisi demikian dapat dijelaskan dalam pergerakan kapital (capital movement) kedua grup korporasi media nasional tersebut. Grup Jawa Pos, misalnya, merupakan pelaku pasar industri koran terbesar yang kini mengelola sekitar 195
penerbitan. Koran Jawa Pos, awal kehadirannya bernama Djava Post
sukses menerbitkan Majalah Tempo, mengambil alih kepemilikan
Jawa Pos yang dimiliki oleh Suseno Tedjo (he Chung Sen). Sosok
Eric Samola, pebisnis media ambisius sebagai pemegang saham Tempo
dari Jaya Raya, menjadi kunci awal dari pencapaian spektakuler Jawa Pos. Samola semenjak awal beranggapan bahwa surat kabar tidak lebih dari sebuah komoditas, seperti layaknya makanan dalam restoran (Dhakidae, 1991:354).
Kendali profesional bisnis Samola mendapat pijakan riil tatkala
ia menunjuk Dahlan Iskan, kordinator Tempo di Jawa Timur, untuk
mengelola sisi editorial Jawa Pos. Dahlan Iskan selanjutnya menjadi
sentral keberhasilan pertumbuhan kapital Jawa Pos, terutama sepak
terjang di dalam mengangkat Jawa Pos dari posisi “koran kuning”
menjadi “koran rujukan” Surabaya. Dalam dua tahun, pencapaian Jawa
Pos spektakuler. Selanjutnya, posisi Dahlan Iskan menjadi semakin
dominan.
Perubahan makro politik 1998 dan bergulirnya era otonomi daerah menjadi contoh bagaimana kepiawaian strategi kapital Jawa. Periode ini, Grup Jawa Pos masif merambah ke berbagai wilayah. Beragam strategi dilakukan diantaranya, pengakuisisian kepemilikan media cetak daerah yang secara bisnis tidak lagi sehat dan melalui strategi pendirian surat kabar baru. Sebagai contoh, Harian Fajar (1981) di Makassar, setelah bersatu dengan Jawa Pos tahun 1988, berkembang pesat. Begitu pun surat kabar
Riau Pos (1991) menguasai Provinsi Riau.
Ekspansi Jawa Pos juga di Semarang, Jawa Tengah, dan sekitarnya (PT Perintis Meteor Sejahtera), di Sumatera melalui Sumatra Ekspres
(PT Citra Bumi Sumatera) yang meliputi Palembang dan sekitarnya,
Akcaya (PT Akcaya Utama Press) di Kalimantan Barat, grup Manado
Post (PT Wenang Cemerlang Press) di Sulawesi Utara dan sekitarnya,
serta grup Manuntung (PT Duta Manuntung) di Kalimantan, Radar
Bogor (PT Bogor Ekspress Media) dengan wilayah Bogor, Cianjur,
Sukabumi, Lombok Post (PT Suara Nusa Media Pratama) dengan
wilayah Lombok, NTB, wilayah Papua dengan Cendrawasih Post
(PT Cendrawasih Arena Intim Press), dan berbagai media di wilayah rintisan (PT Perintis Media Utama).
pendirian usaha pendukung yang menjadi fokus produksi grup ini. Dalam pemenuhan kebutuhan kertas, tahun 1996 dibangun percetakan PT Temprina Media Graika di Gresik dan kini juga tersebar di wilayah-wilayah pusat produksi surat kabar grup Jawa Pos. Selain itu, Jawa Pos membangun pabrik kertas PT Adiprima Suraprinta di tahun 1994 dan sebagai pemasok energi listrik bagi pabrik tersebut grup ini melengkapinya dengan pengoperasian pembangkit listrik di Sidoarjo dalam naungan PT Prima Elektrik Power (2002). Bahkan, selepas
1998 perluasan bisnis ke berbagai bidang usaha media (cross media
integration) juga dilakukan grup Jawa Pos. Pendirian jaringan televisi Jawa Pos TV di tahun 2002 menjadi penanda keberadaan grup ini. Hingga akhir 2015 sekitar 46 stasiun lokal dikelola.
Apabila Grup Jawa Pos diawali oleh kemunculan koran Jawa
Pos, Grup Kompas Gramedia dimulai dari kehadiran koran Kompas.
Semula, tidak pernah terencanakan jika Kompas yang didirikan oleh Yayasan Bentara Rakjat, 28 Juni 1965, berkembang menjadi suatu grup korporasi media dengan pengakumulasian kapital di berbagai jenis usaha media maupun di luar industri media. Para pendiri yang berlatar belakang aktivis berbagai organisasi Katolik itu menggagas kehadiran suatu surat kabar sebagai penanding semakin kuatnya pengaruh berbagai media Partai Komunis Indonesia dalam membentuk opini publik maupun kebijakan-kebijakan negara (Dhakidae, 1991:237-238).
Pengelolaan kapital Kompas semenjak awal persiapan
pem-bentukkan surat kabar hingga pengelolaannya dilakukan oleh duet kepemimpinan Auwjong Peng Koen (PK Ojong) dan Jacob Oetama, sosok berlatar belakang guru dan wartawan.
Semenjak tahun 1970, pergerakan kapital Kompas menjadi lebih signiikan. Sebagaimana generasi industri media saat itu, pergerakan
kapital Kompas ditopang pula oleh perubahan makro politik
Indonesia. Perubahan politik dalam kepemimpinan Orde Baru lebih menunjukkan pada orientasi pembangunan perekonomian dengan mendukung segenap kegiatan industri. Dukungan negara terwujud dalam pemberian fasilitas serta subsidi terhadap industri pers. Tahun
1972, Kompas berinvestasi dengan membangun kapital percetakan
PT Gramedia. Dengan kepemilikan percetakan, sirkulasi Kompas
100 ribu eksemplar, tahun-tahun selanjutnya meningkat hingga mencapai angka 500 ribu eksemplar.
Pertumbuhan sirkulasi menjadi pendorong semakin banyaknya surplus nilai produksi yang dihasilkan. Tahapan selanjutnya mendorong proses pengakumulasian kapital grup ini. Dimulai pendirian toko buku Gramedia (1970), percetakan Gramedia (1972), Radio Sonora (1972),
penerbitan Gramedia (1973), penerbitan majalah Bobo (1973) serta
beberapa majalah lainnya hingga mengukuhkan diri sebagai suatu grup korporasi media Kompas Gramedia.
Ekspansi kapital menjadi semakin berwarna era 1980. Pola konsentrasi kepemilikan horizontal, vertikal, ataupun diagonal dilakukan. Secara horizontal, pendirian berbagai surat kabar daerah dilakukan, membentuk jaringan media lokal dalam kendali Grup Tribun (Indo Persda Primamedia). Koran daerah Sriwijaya Post (1987); Serambi Indonesia
(1988); Surya (1988); Pos Kupang (1992); Banjarmasin Post (1994); Warta Kota (1999); Metro Banjar (1999); Bangka Pos (1999); Pos Belitung (2001),
Tribun Batam (2004); Tribun Timur (2004); Tribun Jabar (2006); Prohaba
(2007); Tribun Pekanbaru (2007); Tribun Pontianak (2008); Tribun Medan
(2009), Tribun Lampung (2009); Tribun Jambi (2009); Tribun Menado
(2009); Tribun Jogya (2011), Tribun Sumsel (2012); Tribun Jateng (2013); dan Tribun Bali (2014) diterbitkan.
Pengembangan media cetak diikuti oleh dukungan vertikal berupa pendirian unit-unit usaha percetakan yang juga tersebar di berbagai daerah dalam jaringan percetakan Gramedia ataupun Indo Persda. Pola distribusi pemasaran dilakukan dengan pendirian perusahaan distribusi Jasatama Pola Media.
Ekspansi kapital Kompas Gramedia dan Jawa Pos ke seluruh pelosok negeri menjadi persoalan krusial. Bagaimana kondisi grup korporasi media yang berpusat operasi di berbagai daerah dapat terlepas dari ancaman penetrasi kedua grup korporasi media nasional tersebut? Apakah pola persaingan yang terbentuk berimplikasi ketersingkiran korporasi media lokal? Masih adakah ruang dimana pasar pembaca koran masih dikuasai oleh korporasi media lokal?
inventarisasi terhadap keberadaan media cetak berskala penerbitan lokal (daerah) menunjukkan, tidak kurang 10 grup korporasi media cetak, dengan perjalanan industri yang tergolong panjang. Di pulau Jawa, terdapat Grup Pikiran Rakyat (1966), Grup Suara Merdeka (1950), Grup Kedaulatan Rakyat (1945), Grup Pos Kota (1970), dan Grup Solo Pos (1985). Sementara di luar Jawa, terdapat Grup Bali Post (1971), di Sumatera di antaranya terdapat Grup Waspada (1947), Grup Analisa (1972), Sinar Indonesia Baru (1970), Grup Singgalang (1969), dan Grup Haluan/Basko (2010). Pergulatan industrial dalam mengantisipasi persaingan dan masa depan pengelolaan media tengah dihadapi setiap korporasi media.
Kajian Teori
Bagaimana suatu perubahan terjadi di dalam kehidupan industri, termasuk industri media, seringkali merujuk pada jalannya proses evolusi dalam kehidupan mahkluk hidup. Dimmick (2003) menguatkan hal ini dengan memaparkan bahwa upaya memahami organisasi media tidak lepas dari keberadaan pola-pola dalam hukum alam yang bersifat universal.
yang sekaligus mengindikasikan ketidakmampuan pelaku industri beradaptasi pada pasar persaingan yang terbentuk.
Keberhasilan dalam persaingan dan penguasaan pasar merupakan orientasi masyarakat dalam sistem produksi kapitalisme. Dalam sistem produksi masyarakat kapitalistik, Karl Marx (1867, 1997) menegaskan bahwa kapital menjadi konsep sentral dari suatu cara produksi (mode of production). Dalam hal ini, penguasaan kapital merupakan penentu dari relasi produksi yang ditujukan sebagai penciptaan “surplus nilai” (proit). Surplus nilai yang dihasilkan, selain digunakan untuk konsumsi para penguasa kapital, sebagian akan dikembalikan menjadi bentuk kapital, direproduksi, dan menghasilkan surplus nilai baru.
Berdasarkan konsep kapital, produksi, reproduksi, surplus nilai itulah pemahaman kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi dikenalkan. Intinya, kapitalisme merujuk pada suatu sistem ekonomi yang bersandar pada upaya penciptaan surplus nilai berulang. Penopang kondisi tersebut dikarakteristikkan adanya pengakuan terhadap kepemilikan privat, kebebasan dalam persaingan pasar, dan rasionalitas. Namun, sebagaimana yang ditambahkan Luxemberg (1913, 2003), bahwa skema reproduksi kapitalisme murni Marx tersebut harus bersifat terbuka dan mengkaitkan berbagai elemen lain di luar sistem produksi yang berlangsung sehingga proses kapitalisme (ekspansi kapital) semakin meluas, bahkan mengglobal.
Dengan konsep demikian, maka dalam sistem kapitalisme, kapital harus bergerak dan bekerja dalam berbagai usaha-usaha produktif agar surplus nilai diperoleh. Kapital yang tidak diproduktikan merupakan kapital “mati” yang dinilai tidak hanya membahayakan para pemilik kapital namun juga bagi sistem ekonomi serta masyarakat (Knoche, 1999).
Dalam pendekatan ekonomi politik, pola ekspansi kapital dilakukan secara terintegrasi yang sejalan dengan apa yang disebut sebagai proses spasialisasi (Mosco, 1996, 2009). Proses spasialisasi merujuk pada berbagai upaya yang dilakukan oleh kapitalis industri media dalam menghadapi hambatan-hambatan ruang (spasial) dan waktu.
Spasialisasi berlangsung sebagai suatu strategi gerak pengkonsentrasian kapital yang ditujukan dalam penguasaan pasar industri. Penguasaan pasar industri dapat dilihat dari corak konsentrasi pasar industri media yang terbentuk, yaitu bagaimana konsentrasi kepemilikan (concentration of ownership) yang berlangsung (Picard, 1991; Albaran, 1996). Semakin terkonsentrasi kepemilikan media pada sebagian kecil para pemilik kapital maka struktur pasar yang terbentuk semakin bersifat oligopolistik. Bagi penguasa kapital, dengan motif pencapaian surplus nilai maksimal, penciptaan pasar yang semakin terkonsentrasi menjadi tujuan. Hal semacam inilah menjadi strategi para pemilik kapital untuk terus-menerus menggerakan kapitalnya
melalui ekspansi, yang dilakukan secara horisontal (horizontal
integration), integrasi vertikal (vertical integration), dan integrasi diagonal (cross-media integration).
Integrasi horisontal dilakukan dengan upaya penguasaan kapital pada jenjang produksi yang sama. Dalam hal ini, suatu korporasi media cetak akan melakukan ekspansi kapital ke berbagai bidang usaha media cetak sejenis. Berbeda dengan pola pengintegrasian vertikal, pada pola demikian ekspansi kapital ditujukan pada lini produksi yang berjenjang. Suatu korporasi media cetak berintegrasi secara vertikal jika pengembangan kapital ditujukan dalam pendirian usaha yang
mendukung produksi media cetak (kapital media-oriented), seperti
pendirian percetakan, pendirian pabrik kertas, ataupun pembangunan infrastruktur media cetak (kapital media-infrastucture). Sementara
dalam pola pengintegrasian diagonal (cross-media integration)
Dari keseluruhan grup korporasi konglomerasi media nasional tersebut, terdapat dua grup korporasi, yaitu Jawa Pos dan Kompas Gramedia yang tergolong signiikan penguasaannya dalam pasar industri media cetak (Nainggolan, 2015). Di sisi lain, gerak kapital grup konglomerasi media nasional tersebut berhadapan pula dengan 10 grup korporasi media cetak lokal, yang sama-sama menggerakkan kapital media yang dimilikinya guna penciptaan surplus nilai berkelanjutan. Dalam lingkup pasar pembaca yang tersebar di berbagai daerah itulah, grup korporasi media nasional maupun grup korporasi media lokal saling bersaing, berkontestasi, dan mempraktikkan strategi kapital masing-masing guna menguasai pangsa pasar.
Metode Penelitian
Kajian ini bersifat eksploratif yang menelusuri gerak ekspansi kapital industri media cetak (surat kabar) nasional dan daerah. Picard (1989:17) menunjukkan di dalam industri media sekalipun di dalam
proses produksi media menghasilkan satu produk industri (one
product) berupa konten informasi atau hiburan, namun produk tersebut beroperasi pada dua pasar produk (dual product market) yaitu pasar audiens (audiences market) dan pasar pengiklan (advertiser market). Kajian ini memfokuskan analisisnya pada pasar audiens, pembaca koran semenjak tahun 2008 hingga kini.
Terdapat 8 daerah (ibukota provinsi) yang dijadikan lokasi kajian pasar media cetak, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar, dan Medan. Pertimbangannya, kota-kota tersebut menjadi pusat persaingan antara grup korporasi media cetak nasional dan grup korporasi media cetak berskala penerbitan lokal. Grup media cetak nasional yang dikaji yaitu Grup Jawa Pos dan Grup Kompas Gramedia. Di sisi lain, grup korporasi media cetak lokal: Grup Bali Post, Grup Pikiran Rakyat, Grup Kedaulatan Rakyat, Grup Pos Kota, Grup Waspada, Grup Analisa, Sinar Indonesia Baru, dan grup Suara Merdeka. Di luar korporasi di atas, terdapat pula beberapa grup media nasional ataupun daerah yang terpantau namun tidak signiikan pola penguasaan pasarnya.
Seluruh pelaku industri media dikaji dengan bersandar pada analisis Industrial Organization (IO theory). Analisis ekonomi media
Structure-Market Conduct-Structure-Market Performance (SCP). Dalam model analisis ini, fokus kajian pada bagaimana suatu satuan bisnis (korporasi media) sebagai pelaku industri media menentukan strategi dan kebijakan
industrialnya (market conduct) dalam merespons struktur pasar
industri yang terbentuk (market concentration dan market competition), dan bagaimana strategi dan kebijakan yang diterapkan pada akhirnya turut membentuk struktur pasar industri media (Albarran, 1996, 2002; 2010: 29-41; Young, 2000; Wirth & Bloch, 1995).
Analisis yang digunakan menitikberatkan pada analisis struktur
pasar (market structure), khususnya pencermatan terhadap gerak
ekspansi kapital industri yang terkonsentrasi pada berbagai bentuk integrasi kepemilikan kapital (horisontal, vertikal, maupun diagonal) maupun pola persaingan dan penguasaan pasar pembaca yang terbentuk di antara para pelaku pasar. Besaran penguasaan pasar
dihitung berdasarkan proporsi market share dari tiap-tiap pelaku
industri. Sebagai pembanding, digunakan juga model pengukuran
ceruk pasar yang didasarkan pada perhitungan niche overlap untuk
mengetahui pola kompetisi yang berlangsung di dalam memperebutkan sumber daya yang sama di antara masing-masing pelaku industri media (Dimmick, 2003). Data yang digunakan bersandar pada pencatatan survey pembaca koran (audience survey) yang dilakukan Nielsen Media secara berkala (1997-2015).
Hasil dan Pembahasan
Daerah Penguasaan Media Nasional
Di daerah pusat kehadiran kedua grup korporasi media cetak berskala penerbitan nasional, dapat dipastikan tidak tersedia ruang bagi korporasi media cetak lain dalam menguasai pembaca koran. Kota
Surabaya, tempat kemunculan Koran Jawa Pos, lebih tiga perempat
bagian pembaca terkuasai grup Jawa Pos. Dari waktu ke waktu, kekuatan grup Jawa Pos dalam menjaga wilayah penguasaannya relatif tidak berkurang, sangat dominan (Tabel 1).
Jika di Surabaya sebelumnya terdapat pelaku utama pasar pembaca
koran, Surabaya Pos, namun semenjak kemunculan Jawa Pos dan
berbagai konlik internal yang dihadapinya, membuat koran lokal ini tidak lagi berdaya. Berbagai upaya dilakukan, seperti pergantian manajemen pengelolaan, dukungan permodalan baru, tidak mampu mengatasi persoalan yang dialami. Bahkan kini, Surabaya Post tidak tampak dalam pasar persuratkabaran.
Sebaliknya, Jawa Pos berkembang menjadi grup korporasi media
yang menasional dan tetap mempertahankan basis pasar Surabaya dan Jawa Timur. Berbagai upaya dilakukan grup koran nasional lainnya seperti Grup Kompas Gramedia, Grup MNC, ataupun korporasi surat kabar nasional lain yang mencoba menguasai pasar Surabaya dan Jawa Timur tergolong gagal.
Tabel 1.
Pola Persaingan dan Penguasaan Pasar Pembaca Koran di Surabaya dan sekitarnya
No Korporasi Media Cetak
Penguasaan Pasar Pembaca (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
1 Grup Kompas Gramedia 2,3 13,2 12,5 18,8 18,5 12,9 13,4
2 Grup Jawa Pos 96,9 82,8 84,4 79,0 80,1 83,3 83,8 3 Media Nasional Lainnya 0,3 0,7 1,5 0,8 0,5 0,9 1,8
4 Surabaya Post (Lokal) 0,5 3,4 1,6 1,3 1,0 3,0 1,0 Total 100 100 100 100 100 100 100
Apabila Surabaya dan Jawa Timur menjadi basis penguasaan Grup Jawa Pos, Jakarta dan sekitarnya menjadi wilayah penguasaan
Grup Kompas Gramedia. Dua surat kabar grup ini, Kompas dan
Porsi penguasaan grup ini pun semakin membesar beberapa tahun terakhir (Tabel 2). Sebaliknya, para pesaing, termasuk koran yang mengkhususkan kota Jakarta sebagai konten penerbitan sekaligus
sebagai basis pasar pembacanya, semakin menyusut.
Tabel 2.
Pola Persaingan dan Penguasaan Pasar Pembaca Koran di Jakarta dan sekitarnya
No Korporasi Media Cetak
Penguasaan Pasar Pembaca (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
1 Grup Kompas Gramedia 43,4 43,4 39,4 40,0 43,8 44,5 48,7
2 Grup Jawa Pos 11,9 4,8 11,6 11,5 10,9 11,1 12,2 3 Media Nasional Lainnya 26,9 30,5 33,9 34,7 25,4 25,7 23,8
4 Grup Pos Kota (Lokal) 17,7 21,3 15,2 13,8 19,9 18,6 15,3 Total 100 100 100 100 100 100 100
Grup Pos Kota sebelumnya dikenal sebagai penguasa pasar pembaca koran di Jakarta dan sekitarnya. Koran Pos Kota (PT Media Antar Kota Jaya) yang terbit sejak 15 April 1970 mengkhususkan materi penerbitan pada berita-berita kondisi sosial ekonomi kota, secara khusus persoalan kriminalitas. Semenjak diterbitkan, perkembangan sirkulasi Pos Kota
tergolong spektakuler. Pada era tahun 1988, mampu menembus di atas 450 ribu eksemplar, menyaingi sirkulasi nasional Kompas. Pos Kota
yang didirikan oleh lima jurnalis pendiri, termasuk Harmoko (menteri penerangan era Orde Baru), berkembang menjadi grup media, berekspansi mendirikan koran sore Terbit, Metro Pos, Surya, majalah Warna Sari, Pos Film, majalah Film, majalah Serasih, dan bergerak pada agensi perilman dan rumah produksi perilman (Dhakidae, 1991:370-375). Di samping itu, integrasi kepemilikan secara vertikal dilakukan Grup Pos Kota dengan mendirikan percetakan Media Antar Kota Jaya juga pabrik kertas Gede Karang (PT Tridaya Kreasi) di kawasan Purwakarta, Jawa Barat.
Persoalan yang sama juga terjadi pada Grup Pikiran Rakyat, yang menjadikan Bandung dan Jawa Barat sebagai pusat produksi sekaligus pembacanya. Grup Pikiran Rakyat diinisiasi oleh kesuksesan koran Pikiran Rakyat yang terbit 24 Maret 1966. Semula, 30 Mei 1950, koran ini sudah muncul, namun terhenti karena situasi sosial politik yang mengharuskan harian ini berailiasi pada salah satu kekuatan politik. Campur tangan militer (Kodam Siliwangi) dan para wartawan,
Sakti Alamsyah, Atang Ruswita, dan lainnya, terbit koran Angkatan
Bersenjata edisi Jawa Barat, yang selanjutnya menjadi Pikiran Rakyat. Seperti juga pers industri yang tumbuh di masa Orde Baru, perkembangan bisnis Pikiran Rakyat pesat. Pada 9 April 1973, badan hukum berubah dari yayasan menjadi PT. Pikiran Rakyat Bandung. Berbagai ekspansi dilakukan, secara horisontal dengan mendirikan edisi Pikiran Rakyat di berbagai daerah. Di wilayah Banten, Pikiran
Rakyat berkembang menjadi Fajar Banten (PT Fajar Pikiran Rakyat).
Harian Galamedia juga menjadi salah satu perluasan usaha. Secara
vertikal, mendirikan percetakan Granesia. Grup Pikiran Rakyat juga
mengambangkan bisnis Radio PR (PT Mustika Parahyangan), dan
memiliki ijin pertelevisian (PT Pikiran Rakyat Televisi).
Namun, posisi bisnis Grup Pikiran Rakyat tidak lepas dari ancaman pesaing, terutama kehadiran koran-koran yang dikendalikan oleh Grup Kompas Gramedia dan Grup Jawa Pos. Pada tabel di bawah ini (Tabel 3), semenjak tahun 2008 hingga 2014 lalu, porsi penguasaan pasar pembaca Grup Pikiran Rakyat menurun secara signiikan. Jika pada tahun 2008, melalui koran Pikiran Rakyat dan Gala Media, masih menguasai hampir tiga perempat pasar pembaca di Bandung dan sekitarnya, kini merosot menjadi sepertiga bagian saja.
Kehadiran Tribun Jabar dan Kompas (Grup Kompas Gramedia)
menjadi pengganggu utama pasar koran di Bandung. Porsi penguasaan pasar pembaca grup ini meningkat signiikan, dari sekitar 24 persen dan kini menjadi 58 persen, sekaligus menempatkan grup ini sebagai penguasa pasar pembaca terbesar. Sementara itu, keberadaan Grup
Jawa Pos melalui koran Bandung Ekspres dan Radar Bandung, belum
terlalu signiikan. Begitu pun dengan koran-koran nasional seperti
Tabel 3.
Pola Persaingan dan Penguasaan Pasar Pembaca Koran di Bandung dan sekitarnya
No Korporasi Media Cetak
Penguasaan Pasar Pembaca (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
1 Grup Kompas Gramedia 23,9 28,5 40,6 50,1 46,4 56,7 58,1 2 Grup Jawa Pos 0,0 0,0 0,7 2,5 2,2 1,9 1,3
3 Media Nasional Lainnya 4,8 3,1 3,6 1,9 1,0 1,0 4,6 4 Grup Pikiran Rakyat (Lokal) 71,2 68,4 55,1 45,4 50,4 40,4 36,0
Total 100 100 100 100 100 100 100
Sepak terjang Grup Kompas Gramedia dalam penguasaan pasar pembaca daerah tidak hanya di Bandung dan sekitarnya, namun juga di Makassar. Pola penguasaan pasar grup ini melalui koran Tribun Timur dan Kompas mampu menguasai hingga dua pertiga pasar pembaca kota Makassar. Pesaing terdekatnya, Grup Jawa Pos, melalui Grup Fajar, mampu menguasai hingga sepertiga bagian (Tabel 4). Pada pasar kota Makassar, tidak tampak koran-koran lain baik koran lokal di luar kedua grup konglomerasi media tersebut ataupun koran nasional yang signiikan kehadirannya.
Tabel 4.
Pola Persaingan dan Penguasaan Pasar Pembaca Koran di Makassar dan sekitarnya
No Korporasi Media Cetak
Penguasaan Pasar Pembaca (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
1 Grup Kompas Gramedia 39,3 41,1 41,5 56,8 55,3 48,7 69,3 2 Grup Jawa Pos 58,9 56,0 52,7 41,3 38,9 41,7 30,1
3 Media Nasional Lainnya 1,8 2,9 5,8 1,9 5,7 9,6 0,6 Total 100 100 100 100 100 100 100
Kondisi yang agak berbeda terjadi di Medan dan sekitarnya. Sekalipun dua grup korporasi media nasional berhasil mengambil alih porsi dominan pasar pembaca koran, namun terdapat beberapa pelaku industri lokal ataupun media daerah yang tergolong signiikan
porsi penguasaan pasar pembaca koran. Grup koran Analisa (PT.
didirikan Mohammad Said dan Ani Idrus, dan posisi selanjutnya koran
Sinar Indonesia Baru (terbit sejak 9 Mei 1970) yang didirikan oleh GM Panggabean. Total penguasaan ketiga media tersebut mencapai sepertiga bagian dari total pasar pembaca koran di Medan. Sisanya, dikuasai oleh Grup Jawa Pos dan Kompas Gramedia (Tabel 5).
Tabel 5.
Pola Persaingan dan Penguasaan Pasar Pembaca Koran di Medan dan sekitarnya
No Korporasi Media Cetak
Penguasaan Pasar Pembaca (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
1 Grup Kompas Gramedia 2,4 2,6 2,7 8,5 14,4 17,6 21,4
2 Grup Jawa Pos 40,0 47,6 45,0 42,9 34,8 40,2 40,5 3 Media Nasional Lainnya 4,8 0,5 0,0 0,0 0,0 0,0 3,1
4 Analisa (Lokal) 30,6 29,4 31,6 29,0 25,8 25,2 19,4 5 Waspada (Lokal) 11,6 11,7 16,2 14,1 23,0 14,2 11,9
6 Sinar Indonesia Baru (Lokal) 10,5 8,4 4,4 5,5 2,0 2,8 3,6 Total 100 100 100 100 100 100 100
Kondisi yang mengkhawatirkan, porsi penguasaan ketiga korporasi media lokal tersebut cenderung menyusut. Dengan menggambil acuan tahun 2008, saat itu ketiga media lokal masih mampu menguasai hingga separuh pasar pembaca.
Daerah Penguasaan Media Lokal
Di tengah arus ekspansi kapital grup media cetak nasional dalam pasar pembaca di berbagai daerah, terdapat beberapa grup korporasi media daerah yang tetap mampu menjadi pemimpin pasar di daerahnya. Grup Bali Post, menjadi grup korporasi media yang mempertahankan dominasinya. Grup media yang diawali oleh kehadiran koran Bali Post
(1972) oleh Ketut Nadha itu semenjak era 1980-an sudah menguasai pasar media di Bali. Peningkatan kapital membuat grup ini mendirikan berbagai media cetak, terutama di tahun 1998 dengan menerbitkan berbagai media cetak, seperti Denpost (1998), Bisnis Bali, Suara NTB
(2004), dan Bisnis Jakarta (2008), tabloid Lintang, Wiyata Mandala, Tokoh (1998), Bali Travel News (1998).
semakin meluas ke berbagai bidang media, khususnya dalam industri radio seperti Radio Global (1999), Kini Jani, Suara Besakih, Genta FM (2002), Singaraja FM (2002), Suara Banyuwangi, Lombok FM, Negara FM. Dunia pertelevisian pun dimasuki dengan mendirikan Jaringan BaliTV (2002), BandungTV, JogyaTV, SemarangTV, MedanTV, Aceh TV, Sriwijaya TV, Makasar TV dan Surabaya TV. Pola ekspansi yang dilakukan Bali Post ini menunjukkan kekuatan grup korporasi media daerah yang berkembang secara nasional.
Dalam pasar media nasional, Grup Bali Post memang tidak menjadi pelaku utama. Namun, dalam pasar lokal, Bali khususnya, grup ini sangat dominan. Sebagai gambaran, sejak tahun 2008 hingga tahun 2014, porsi penguasaan pembaca di Denpasar dan sekitarnya tergolong stabil, menguasai hampir 60 persen. Porsi penguasaan yang sangat dominan tersebut tidak mampu tertandingi media nasional ataupun lokal lainnya. Grup Jawa Pos yang ikut meramaikan persaingan media cetak di Bali melalui Radar Bali hanya mampu menguasai hingga seperempat bagian. Begitupun Grup Kompas Gramedia, menguasai pasar tidak lebih dari 10 persen (Tabel 6).
Tabel 6.
Pola Persaingan dan Penguasaan Pasar Pembaca Koran di Denpasar dan sekitarnya
No Korporasi Media Cetak
Penguasaan Pasar Pembaca (%) 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
1 Grup Kompas Gramedia 1,8 0,5 1,4 0,0 4,4 0,0 9,7 2 Grup Jawa Pos 34,3 39,8 37,0 32,8 37,8 40,6 25,7
3 Media Nasional Lainnya 3,3 1,8 0,7 0,0 0,0 0,0 0,0 4 Grup Bali Post (Lokal) 52,4 50,7 53,6 63,8 51,1 52,9 57,6
5 Nusa Bali (Lokal) 8,1 7,2 7,2 3,4 6,7 6,5 6,9 Total 100 100 100 100 100 100 100
Grup Kedaulatan Rakyat. Hanya, agak berbeda dengan Grup Bali Pos, sekalipun menguasai pasar di daerahnya terjadi tren penurunan porsi penguasaan Suara Merdeka maupun Kedaulatan Rakyat.
Perjalanan industrial Grup Suara Merdeka diawali kehadiran
koran Suara Merdeka (PT Suara Merdeka Press) yang didirikan H.
Hetami sejak 11 Februari 1950. Sejak 1982, Budi Santoso, menantu Hetami, mengambil alih kendali dan mengembangkan Suara Merdeka menjadi grup korporasi media terbesar di Jawa Tengah. Suara Merdeka
mengembangkan sayap bisnisnya dengan berintegrasi secara horisontal
melalui pendirian Koran Wawasan, Tabloid Cempaka, maupun
Ototrack. Grup ini juga mengoperasikan stasiun radio Trax FM. Sejak 2010, generasi kepemimpinan beralih pada putra sulungnya, Kukrit Suryo Wicaksono.
Sekalipun masih menguasai pasar pembaca Jawa Tengah, jika dicermati ancaman penurunan porsi penguasaan Grup Suara Merdeka signiikan terjadi. Sebagai gambaran, di Semarang dan sekitarnya, pada era sebelum tahun 2012 koran-koran Grup Suara Merdeka masih mampu menguasai hingga tiga perempat bagian pasar pembaca. Namun, kini merosot tersisa separuh bagian dari total pembaca (Tabel 7).
Tabel 7.
Pola Persaingan dan Penguasaan Pasar Pembaca Koran di Semarang dan sekitarnya
No Korporasi Media Cetak
Penguasaan Pasar Pembaca (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
1 Grup Kompas Gramedia 8,8 9,4 6,5 8,4 9,4 21,0 32,9
2 Grup Jawa Pos 18,4 16,2 15,8 15,4 12,5 10,3 9,6 3 Media Nasional Lainnya 1,1 3,2 2,7 1,4 0,0 1,1 2,7
4 Grup Suara Merdeka (Lokal) 71,7 71,2 75,0 74,8 78,1 67,5 54,8 Total 100 100 100 100 100 100 100
Persoalan yang agak mirip juga terjadi pada Kedaulatan Rakyat (PT BP Kedaulatan Rakyat Yogyakarta). Grup media cetak yang dimotori oleh kehadiran koran Kedaulatan Rakyat (27 September 1945) oleh pendirinya HM. Samawi dan M. Wonohito, berkembang menjadi media cetak paling berpengaruh di Yogyakarta. Secara horisontal, Grup Kedaulatan Rakyat mendirikan Koran Merapi dan Minggu Pagi. Kini, dalam kepemimpinan Nugroho Samawi, sekalipun masih menjadi pemimpin pasar di Yogyakarta dan sekitarnya, Kedaulatan Rakyat bergulat menghadapi ancaman penurunan porsi pasar pembaca koran (Tabel 8).
Tabel 8.
Pola Persaingan dan Penguasaan Pasar Pembaca Koran di Yogyakarta dan sekitarnya
No Korporasi Media Cetak
Penguasaan Pasar Pembaca (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
1 Grup Kompas Gramedia 9,5 10,7 9,9 5,9 27,7 37,6 35,2
2 Grup Jawa Pos 9,3 5,7 11,7 3,3 2,9 2,4 3,4 3 Media Nasional Lainnya 1,8 1,6 5,8 1,7 2,0 1,6 4,3
4 Grup Kedaulatan Rakyat (Lokal)
75,6 77,7 68,5 87,3 65,9 56,8 55,1
5 Bernas (Lokal) 3,8 4,3 4,2 1,7 1,5 1,6 2,1 Total 100 100 100 100 100 100 100
Penurunan porsi pasar Kedaulatan Rakyat juga disebabkan oleh semakin membesarnya porsi penguasaan pasar Grup Kompas Gramedia di Yogyakarta. Kehadiran Tribun sejak 11 April 2011, secara signiikan meningkatkan porsi penguasaan Grup Kompas Gramedia di Yogyakarta dari sekitar 6 persen (2011) setahun selanjutnya menjadi 27 persen. Saat ini, tidak kurang sudah sepertiga bagian porsi pembaca koran di Yogyakarta dikuasai Grup Kompas Gramedia. Di sisi lain, Grup Kedaulatan Rakyat yang sebelumnya mampu menguasai hingga tiga perempat bagian pasar pembaca kini menyusut, menjadi 55 persen.
Penutup
(Yogyakarta), masih mampu menjadi penguasa pasar pembaca. Namun, apa yang terjadi di Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar, Medan, menjadi wilayah dimana penetrasi media cetak nasional mampu mengambil alih penguasaan pasar pembaca lokal.
Dalam perspektif ekonomi politik, kondisi persaingan dan penguasaan pasar daerah semacam ini memberikan implikasi berbeda bagi prospek industri media cetak di negeri ini. Di satu sisi, kemampuan grup korporasi media lokal mempertahankan pasar pembaca daerah menunjukkan tidak semua kekuatan kapital media nasional mampu mengambil alih pasar pembaca lokal. Media lokal, dengan segenap kekuatan dan kelemahannya, masih menjadi bagian dari sumber-sumber utama informasi di wilayah produksinya. Masyarakat pembaca daerah sebagai konsumen informasi pun masih menganggap proksimitas informasi (lokalitas) menjadi sisi penting dalam pemenuhan kebutuhan informasi.
Pada sisi lain, ketidakmampuan grup korporasi media nasional dalam menguasai pasar daerah menunjukkan masih terdapat peluang keragaman produk-produk informasi yang tersedia di daerah. Kondisi demikian potensial menguatkan terjadinya keragaman kepemilikan
media (external pluralism). Dengan keragaman kepemilikan media,
output (informasi) yang dihasilkan pun potensial menjadi semakin beragam (internal pluralism), tidak hanya terpaku pada kepentingan penguasa media. Keragaman semacam ini yang menjadi salah satu esensi demokratisasi media dalam kehidupan masyarakat (Doyle, 2002).
iklan tersebut pada keberadaan media sosial. Artinya, media cetak daerah tidak hanya terancam media nasional namun juga ancaman perubahan medium informasi.
Datar Pustaka
Albarran, B Alan. (1996). Media Economics: Understanding Markets,
Industries and Concepts. Iowa: Iowa State University Press.
Dhakidae, Daniel. (1991). he State, he Rise of Capital and he Fall
of Political Journalism. Political Economy of Indonesian News Industry. Disertasi Cornell University, tidak diterbitkan.
Dimmick, JW. (2003). Media Competition and Coexistence-he heory
of the Niche. London, Lawrence Erlbaum Associates.
Doyle, Gillian. (2002). Media Ownership: he Economics and Plitics of Convergence and Concentration in the UK and European Media. London: Sage Publications.
Fidler, Roger. (1997). Mediamorfosis: Understanding New Media.
housand Oaks, California, Pine Forge Press.
Knoche, Manfred. (1999). he Media Industry’s Structural Transformation in Capitalism and he Role of the State: Media Economics in the Age of Digital Communications. Triple C 14 (1): 1-47.
Lim, Merlyna, (2012). he League of hirteen Media Concentration in
Indonesia. Participatory Media Lab, Arizona State University & Ford Foundation.
Luxemburg (2003). he Accumulation of Capital. London, Routledge.
Marx, Karl. (1992). Capital: A Critique of Political Economy: he Process of Circulation of
Capital. Penguin Classics
Mosco, Vincent. (1996, 2009). he Political Economy of Communication. London: Sage.
Nainggolan, Bestian (2015). Konglomerasi Media Nasional: Tipologi,
Konsentrasi, dan
Kompetisi Pasar, dalam Menegakkan Kedaulatan Komunikasi. Jakarta: ISKI
Nielsen Media (2015, 1997). Media Scene 1997-2015. Jakarta: ITKP Mediatama Advertising
Picard, R.G, (1989). Media Economics. Beverly Hills: Sage.
Picard, R.G. (2009, 1988). Measures of Concentration in he Daily
Newspaper Industry.,
Journal of Media Economics, 1:1, 61-74.
Rogers, M.Everett. (1997). A History of Communication Study. A
Biographical Approach. New York:he Free Press.
Sen, Krishna; David T.Hill. (2000). Media, Culture and Politics in
Indonesia. Melbourne: Oxford University Press.
Young, D.P.T. (2000). Modelling Media Markets: How Important is
Market Structure? Journal of Media Economics, 13: 27-44.