Proceedings Seminar Nasional Teknik Ketenagalistrikan (SNTK) 2007 Universitas Hasanuddin
Makassar, 17 – 18 Juli 2007 B - 48
FLASHOVER VOLTAGE, LEAK CURRENT AND ESDD
PERFORMANCE TEST ON EPOCSI RESIN POLYMER WHICH TO
EXPERIENCE DIFFERENT FILLER TREATMENT FOR HIGH
VOLTAGE ISOLATOR IN TROPIC REGION
Wa Ode Zulkaida & Tambi,
Department of Electric
Tecnique Faculty – University of Haluoleo Jl. Mayjend. S. Parman Tlp (0401) 327506 Kendari 93121,
E-mail : [email protected]
ABSTRAK
New alternative polymer material as alternative isolator material by using porselin or glass material has been developed for out door insulator necessary,because it has well characteristic and electricity. This research is a laboratory examinationresult which explained interaction between esdd performance and leak current against flashover voltage occoured on the surface of epocsi resin polymer isolation material which to experience filler treatment, uv and different contamination when made in oldest process applied. The arm of the research are:(1)To know flashover voltage performance and leak current on the surface of epocsi resin isolation material which to experience filler treatment and different polutan.(2)To know the ratio composition material effect of polymer isolator that consist of basic material,violation and filler against mechanic power,ATR and FTIR.(3)To determain optimalization material with the proper filler to fulfill the three esdd,flashover voltage and leak current performance.The Result of experiment conclude that the biger filler presentation will decrease esdd contains, to repair characteristic mechanic. By pulling test and violence and increase flashover voltage performance so that can decrease the presentation of surface leak current. The optimalization result stated material with 40% filler is the greatest test material which is able to fulfill esdd, flashover voltage and leak current performance.
Key Words : Flashover Voltage, Leak Current, Esdd, ATR-FTIR.
INTISARI
Alternatif baru bahan polimer pengganti material isolator dengan bahan porselin ataupun gelas telah dikembangkan untuk keperluan isolator pasangan luar (outdoor insulator),karena mempunyai watak mekanik dan sifat listrik yang baik.Penelitian ini adalah hasil pengujian laboratorium yang membahas hubungan antara kinerja esdd dan arus bocor terhadap tegangan flashover yang terjadi pada permukaan bahan isolasi polimer resin epoksi yang mengalami perlakuan filler, uv dan kontaminasi berbeda saat proses penuaan buatan diterapkan.Tujuan penelitian ini adalah :(1).Untuk mengetahui kinerja tegangan flashover dan arus bocor pada permukaan bahan isolasi resin epoksi yang mengalami perlakuan filler dan polutan berbeda.(2).Untuk mengetahui pengaruh perbandingan komposisi bahan penyusun isolator polimer yang terdiri dari bahan dasar, pengeras dan filler terhadap kekuatan mekanik, ATR dan FTIR.(3)Menentukan optimalisasi bahan dengan filler yang tepat dalam hal memenuhi ketiga kinerja esdd. tegangan flashover dan arus bocor. Hasil eksperimen menyimpulkan bahwa semakin besar prosentase filler akan menurunkan kandungan esdd, memperbaiki watak mekanik melalui uji tarik serta kekerasan dan meningkatkan kinerja tegangan flashover sehingga dapat menurunkan prosentase arus bocor permukaan. Hasil optimalisasi menetapkan bahan dengan filler 40% merupakan bahan uji terbaik yang dapat memenuhi kinerja esdd, flashover dan arus bocor.
Kata kunci : Tegangan Flashover, Arus Bocor, Esdd, ATR, FTIR
1. PENGANTAR
Penggunaan tenaga listrik yang semakin meningkat membutuhkan isolator untuk saluran transmisi maupun distribusi juga semakin banyak. Isolator berfungsi secara mekanik menahan beban kawat saluran, secara elektrik mengisolasi saluran
yang bertegangan dengan menara, atau saluran dengan saluran sehingga tidak terjadi kebocoran arus dan dalam hal gradien medan tinggi, tidak terjadi lompatan listrik berupa lewat denyar (flashover) atau percikan (sparkover).
Proceedings Seminar Nasional Teknik Ketenagalistrikan (SNTK) 2007 Universitas Hasanuddin
Makassar, 17 – 18 Juli 2007 B - 49
Isolator yang lazim digunakan di Indonesia dari bahan isolasi porselin dan gelas, sehingga untuk saluran transmisi bertegangan semakin tinggi tidak sesuai karena berat jenisnya cukup tinggi dan unit isolator semakin banyak menyebabkan semakin besarnya biaya menara. Disamping itu proses pembuatan porselin dan gelas memerlukan suhu diatas 10000 C, menyebabkan usaha kearah pabrikasinya di Indonesia kurang sesuai.
Material isolator dengan bahan isolasi polimer resin epoksi merupakan alternatif baru pengganti porselin dan/atau gelas, hal ini dikarenakan berbagai keunggulan yang dimilikinya, antara lain mempunyai rapat massa rendah, mudah dibentuk pada suhu ruang RTV (room Temperatur Vulkanisasi), memiliki konstanta dielektrik dan faktor disipasi jauh lebih baik dibandingkan gelas ataupun porselin.
Kontaminasi isolator menjadi masalah besar dalam operasi sistem tenaga listrik , kondisi atmosfir yang basah akan membentuk lapisan air yang tipis pada permukaan isolator, adanya kontaminasi akan menimbulkan arus bocor (Cherney dkk,1991; Gorur dkk, 1992).Polutan pada isolator akan berpengaruh pada tingkat ESDD (Equivalent Salt Deposit Density). Polutan tinggi, ESDD juga akan semakin tinggi, sehingga kinerja arus bocor permukaan juga akan semakin tinggi , tetapi tegangan kritis flashovernya semakin kecil (Berahim 2000).
Daerah tropis seperti Indonesia memiliki faktor iklim lebih tinggi dibanding daerah subtropis ditandai dengan lamanya penyinaran matahari sekitar 12 jam pada siang hari, dengan temperatur udara antara 16 – 35OC, Kelembaban nisbi mendekati 100% dini hari sampai pagi hari dengan curah hujan tahunan antara 40 – 500 mm (Soerjani, 1996). Penggunaan bahan isolasi polimer untuk
isolator tegangan tinggi pasangan luar akan mengalami pengaruh simultan dari terpaan iklim dan cuaca. Akumulasi lapisan kontaminan pada permukaan akan meningkatkan arus bocor dan mengakibatkan tegangan lewat denyar yang akhirnya dapat menyebabkan degradasi permukaan sehingga menurunkan kinerja dari isolator polimer (Guoxiang Xu and McGrath, 1996 ).
Resin epoksi dengan bahan dasar
Diglicydil Ether of Bisphenol A (DGEBA) beragen pematangan Methaphenylene – Diamine (MPDA), bahan pengisi pasir silika 325 mesh, telah dikembangkan dengan memberi silane (Silikon Rubber) pada bahan pengisi sehingga kinerja kelistrikannya dapat lebih baik (Ollier and Goose, 1998; Sampson, 2001). Salah satu parameter penting untuk mengetahui kinerja dari isolator adalah dengan menyelidiki perilaku tegangan flashover serta arus bocor bahan isolasi sebagai isolator pasangan luar yang diletakan pada kondisi lingkungan tertentu.
Penelitian ini mengkaji bagaimana perilaku tegangan flashover dan arus bocor bahan isolasi polimer resin epoksi dengan bahan dasar DGEBA agen pematangan MPDA serta bahan pengisi pasir silika 325 mesh yang dicampur silane, pada kondisi lingkungan tropis dan berpolutan buatan yang disimulasikan dalam laboratorium pada kondisi bersih dan terpolusi. Variabel berupa prosentase bahan resin epoksi DGEBA dan MPDA dengan perbandingan nilai stokiometrik (NS = 1 : 1 ), material pengisi (Filler) pasir silika 325 mesh yang ditangani silane (Silikon Rubber) pada perbandingan 1 : 1, mulai 10% sampai 60% dari berat keseluruhan bahan. Nilai stokiometrik (NS) 100 jika prosentase resin epoksi sama dengan prosentase agen pematangan, NS<100 jika prosentase agen pematangan lebih sedikit dari prosentase resin epoksi, NS>100 jika prosentase agen pematangan lebih banyak dari prosentasi resin.
Proceedings Seminar Nasional Teknik Ketenagalistrikan (SNTK) 2007 Universitas Hasanuddin
Makassar, 17 – 18 Juli 2007 B - 50
2. LANDASAN TEORI 2.1 Resin Termoset
Resin epoksi merupakan produk termoset yang terbuat dari resin epoksi bisphenol A dan agen
pematangan. Pembuatan produk termoset
menggunakan bahan tambahan (additif) berupa bahan pemercepat reaksi (accelerator), bahan pemlastik (plastisizer), bahan pengisi (filler), dan bahan pewarna (Colouring). Reaksi pembentukan diglysidil Ether of Bisphenol A sebagai berikut.
CH3 Epichlorohydrin OH 2 [ Cl ---CH2---CH---CH2 ] + HO C CH3 DGEBA Bisphenol A
Gambar-1. Pembentukan DGEBA
2.2 Pematangan Epoksi Resin
Penelitian ini menggunakan agen
pematangan resin epoksi dari grup amine MPDA (metaphylene – diamine), yang merupakan bahan cair berwarna kuning terang dengan berat molekul 108, struktur kimianya menyediakan 4 atom hidrogen aktif siap membentuk ikatan resin epoksi seperti gambar berikut :
NH 2
NH 2
Gambar-2. Struktur kimia MPDA
2.3 Bahan Pengisi
Untuk meningkatkan kinerja bahan isolasi padat adalah dengan jalan memberikan bahan tambahan (pengisi) berupa pasir silika kuarsa 325 mesh dicampur dengan silane. Divariasikannya bahan pengisi pada material isolasi diharapkan dapat memperbaiki kinerja isolasi, berupa pengurangan esdd dan arus bocor serta peningkatan tegangan flashover hingga beberapa persen.
2.4 Esdd,Tegangan Flashover dan Arus Bocor
Salah satu faktor yang mempengaruhi proses kegagalan isolator pasangan luar adalah akumulasi polutan yang terjadi dipermukaan isolator berupa kontaminasi lingkungan dinyatakan dengan ESDD (Equivalent Salt Deposit Density/Rapat Endapan Garam Ekivalent). Esdd adalah suatu larutan elektrolit yang berasal dari polutan garam ataupun debu industri yang menempel pada permukaan isolator. Penumpukan lapisan polutan dalam waktu lama bila mengalami pembasahan akan menurunkan tahanan permukaan, diindikatori oleh makin mebesarnya arus bocor yang mengalir dipermukaan isolator. Peningkatan arus bocor akan menyebabkan pemanasan dan penguapan disekitar lintasan pergerakan muatan yang bersifat sangat konduktif sehingga terbentuk pita kering (dry band). Pita kering merupakan lintasan bagi proses peluahan muatan (discharge). Dengan demikian intesitas medan menjadi sangat besar sehingga terjadilah
lucutan muatan, maka pada bagian yang
resistansinya lebih besar akan terhubung secara parallel akibatnya akan mengalir arus bocor pada permukaan. Apabila pita kering memanjang lebih luas melintasi seluruh permukaan isolator dalam waktu lama dan menghubungkan kedua elektroda yang dipisahkannya maka terjadilah lewat denyar (flashover) melalui permukaan isolator tersebut.
2.5 Degradasi
Metode efektif dalam mendeteksi gejalah penuaan material isolasi polimer, berupa kerusakan pada perubahan struktur kimia permukaan isolator
adalah menggunakan mikroskop metalurgi,
sedangkan metode spekstroskopi inframerah (ATR-FTIR) untuk mengamati perubahan komposisi gugus kimia permukaan bahan uji.
3. METODE PENELITIAN 3.1 Bahan Penelitian
Proceedings Seminar Nasional Teknik Ketenagalistrikan (SNTK) 2007 Universitas Hasanuddin
Makassar, 17 – 18 Juli 2007 B - 51
1) Spesimen uji DGEBA berpematang
MPDA berukuran 70 x 70 x 5 mm 2) Filler pasir silika 325 mesh ditreatmen
dengan silane bervarisi 10 %-60% 3) Polutan parangtritis (buatan).
4) Bahan pelengkap seperti
kertas,ember,kapas,air,botol dan lainnya.
3.2 Alat penelitian/pengujian
1) Trafo uji 220/100 KV, 5 KVA 2) Alat ukur tegangan puncak. 3) Pembagi tegangan
4) Sela Jarum.
5) Lemari Penyinaran Ultraviolet 6) Osiloskop dan Handycam panasonik. 7) Komputer, Printer dan kabel koaksial 8) Lemari uji tegangan dan arus dari kaca 9) Alat kontrol suhu dan kelembaban 10) Cetakan bahan uji
11) Timbangan Komposisi sampel uji 12) Konduktometer
13) Gelas ukur
14) Kompresor pemberi polutan 15) Mikroskop Metalurgi 16) Spectros copy ATR-FTIR.
3.3 Jalannya Penelitian
1) Pembuatan sampel uji yang dituang dalam bentuk cetakan kaca setebal 5 mm.
Gambar - 3. Cetakan sample uji
2) Pemberian polutan untuk simulasi
dilapangan dengan penyemprotan secara kontinyu selama 5 menit pada posisi penyemprotan 45o antara sampel uji,
45
Sampel uji Penyemprot dengan
kompressor
Gambar -4. Proses Penyemprotan Polutan
3) Penyinaran UV dengan simulasi kotak tertutup 1x1x1 m, setting kapasitas
penyinaran 3 v/cm, dengan lama
penyinaran bervariasi,
Gambar – 5. Simulasi Ultra Violet 4) Pengujian Tegangan Flashover dilakukan
dengan menjepit sampel uji pada 2 buah elektroda batang dalam lemari pengujian sambil terkabutkan sekitar 10 menit, kemudian dilakukan pengukuran tegangan flashover dengan menaikan tegangnan pada keceatan 1,5 KV/detik hingga tercapai kondisi flashover, A C V m a in s w itc h P r im e r s w itc h s e k u n d e r s w itc h T r a fo T T le m a r i u ji B a h a n u ji s p ra y e r V o l t m e t e r V o lta g e re g u la to r 1 0 0 p F k o m p r e s s o r
Gambar-6. Rangkaian Pengujian Tegangan Flashover
5) Pengujian Arus Bocor dilakukan pada tegangan operasional antar saluran 20 kv dan,
6) Pada 50% tegangan flashover-nya,dengan rangkaian pengujian berikut,
Proceedings Seminar Nasional Teknik Ketenagalistrikan (SNTK) 2007 Universitas Hasanuddin Makassar, 17 – 18 Juli 2007 B - 52 p r in t e r A C V m a in s w it c h P r im e r s w it c h s e k u n d e r s w it c h T r a f o T T le m a r i u ji is o la to r sp ra y e r V o lt m e t e r V o lta g e re g u la to r 1 0 0 p F I 1 I 2 Ib R 1 R 3 R 2 R 4 R 5 I c I 3 I 4 V a o s ilo s k o p k o m p r e s s o r
Gambar – 7. Rangkaian Pengujian Arus Bocor 7) Pengukuran Esdd dilakukan menggunakan
alat ukur konduktivitas berikut :
Gambar – 8. Konduktometer
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hubungan Tegangan Flashover terhadap esdd,filler dan uv.
VFLASH = 38.8177 – 2.70254 ESDD ; R2 = 0.7043 = 33.70130 + 0.097585 FILLER ; R2 = 0.4959 = 38.09301 – 0.48825 UV ; R2 = 0.3525 = 39.312 – 0.00346 UV – 2.38799 ESDD ; R2 = 0.87
Hasil pengujian menunjukan semakin besar konsentrasi esdd dan semakin lama perlakuan uv tegangan flashover cenderung menurun, Ditinjau dari prosentase filler tegangan flashover akan naik seiring dengan pertambahan filler. Penurunan tegangan flashover akibat kenaikan konsentrasi esdd dominant sebesar 2.70254 dengan faktor normalisasi 38.8177 berkorelasi sebesar 0.7043, dibanding perlakuan uv dan filler faktor korelasinya sebesar 0.5 dan 0.4. Nampak bahwa setiap kenaikan esdd sebesar 0.001 mg/cm2 menurunkan tegangan flashover sebesar 0.0027 kV, setiap kenaikan filler 10% diikuti kenaikan tegangan 0.97585 kv. Dari koefisien regresi prediksi esdd,filler dan uv serta faktor korelasinya dapat dikatakan kinerja tegangan flashover sangat riskan dengan kondisi lingkungan sehingga harus diminimalisasi dengan pembentukan komposisi filler terbaik guna mempertahankan kinerjanya.
Persamaan regresi keempat merupakan model persamaan bidang tiga dimensi, yang memberikan informasi bahwa pengaruh uv dan esdd secara simultan terhadap tegangan flashover adalah berbanding terbalik. Sumbangan uv dan esdd diberikan sebesar koefisien regresinya 0.00346 dan 2.388, ternormalisasi oleh koefisien 39.31 dengan faktor korelasi sebesar 0.872. Setiap keneikan esdd 0.001 mg/cm2 yang diterpa perlakuan uv
Proceedings Seminar Nasional Teknik Ketenagalistrikan (SNTK) 2007 Universitas Hasanuddin
Makassar, 17 – 18 Juli 2007 B - 53
akan menurunkan kinerja tegangan flashover sebesar 0.0058 kV. Nilai yang diperoleh merupakan nilai yang tepat berada pada bidang yang dimodelkan dengan signifikansi sebesar 87 %.
4.2 Hubungan arus bocor terhadap esdd,filler dan uv IBOCOR = 0.03123 +2.6131 esdd; R2 = 0.355 = 0.064288–0.000475 filler;R2 = 0.1498 = 0.03818 + 0.004747 uv; R2 = 0.1028 =0.028297 + 0.003597 uv +1.9368 esdd, R2 = 0.452
Kinerja arus bocor lebih signifikan oleh pengaruh esdd dengan faktor korelasi 0.36 dibandingkan dengan pengaruh filler dan uv. Makin besar esdd makin besar pula arus bocor permukaan sampel. Setiap kenaikan esdd berupa polutan garam pada kondisi lembab akan menyebabkan ion-ion garam terurai membentuk jalur konduktif. Apabila tegangan listrik diterapkan pada sampel uji semakin tinggi maka electron-elektron molekul
konduktif akan bergerak menyebabkan
mengalirnya arus bocor. Arus bocor yang mengalir melalui jalur konduktif akan menimbulkan panas, menyebabkan proses penguapan yang dipercepat oleh penerapan uv sehingga terbentuk pita kering pada permukaan sampel. Pada kondisi ini resistansi jalur konduktif bertambah besar. Jika permukaan sampel basah kembali akibat kelembaban atau rintik hujan maka resistansi jalur konduktif akan menurun dan arus bocor akan bertambah besar.
Arus bocor turun dengan kenaikan prosentase filler, karena bahan polimer dengan filler silicon yang makin tinggi akan memiliki sifat permukaan licin dan menolak air (hidrofilik) sebab semakin sedikit grup OH yang terbentuk seiring dengan dominasi pembentukan Si-O akibat perlakuan uv sehingga arus bocor cenderung kecil. Setiap kenaikan esdd sebesar 0.001 mg/cm2 akan diikuti kenaikan arus bocor sebesar 0.0026 mA. Setiap kenaikan filler 10% dapat menyebabkan penurunan arus bocor sebesar 0.00475 mA dengan korelasi sekitar 0.15. Dari koefisien regresi prediksi esdd, filler dan uv serta faktor korelasinya dapat dikatakan kinerja arus bocor sangat riskan dengan kondisi lingkungan sehingga harus diminimalisasi dengan membuat komposisi filler yang optimal. Persmaan regresi keempat menunjukan pengaruh uv terhadap kinerja arus bocor lebih kecil dibanding pengaruh esdd, ditunjukan dengan koefisien regresinya sebesar 0.452. Setiap kenaikan esdd sebesar 0.001 mg/cm2 disertai kenaikan penerapan uv maka akan meningkatkan arus bocor sebesar 0.006 mA.
4.3 Hubungan esdd terhadap filler, berat polutan dan uv
Proceedings Seminar Nasional Teknik Ketenagalistrikan (SNTK) 2007 Universitas Hasanuddin Makassar, 17 – 18 Juli 2007 B - 54 1016255 . 0 ; 1016255 . 0 0061293 . 0 791897 . 0 ; tan 00000941 . 0 00159 . 0 77639675 . 0 ; 00016219 . 0 013223329 . 0 2 2 2 = + = = + = = − = R UV R Beratpolu R filler ESDD
Sumbangan filler terhadap penurunan esdd sebesar 0.00016219 ditambah koefisien normalisasi sebesar 0.01322 dengan faktor korelasi 0.776. Sumbangan berat polutan dan uv terhadap kinerja esdd ditunjukan oleh koefisien regresi variabel bebasnya yaitu 9.41 x 10-6 dan 0.102 dinormalisasikan dengan konstanta 1.59 x 10-3 dan 6.13 x 10-3 pada faktor korelasi 0.8 dan 0.1.
4.4 Kinerja tegangan flashover terhadap arus bocor
BOCOR
FLASHOVER
I
V
=
41
.
68213
−
65
.
979758
Penurunan arus bocor terhadap
tegangan flashover ditunjukan oleh koefisien regresi 65.97976 dinormalisasikan oleh koefisien regresi β0 (41.68213) pada nilai signifikan sebesar 72.4%. Artinya penurunan
arus bocor sebesar 0.001 mA akan
meningkatkan kinerja tegangan flashover sebesar 0.066 k V (≈ 0.1k V).
4.5 Hasil uji ATR-FTIR
Proceedings Seminar Nasional Teknik Ketenagalistrikan (SNTK) 2007 Universitas Hasanuddin
Makassar, 17 – 18 Juli 2007 B - 55
Rujukan Type R7F3
Karakteristik spectrum infra merah memperlihatkan fenomena tidak terlalu berbeda antara sampel rujukan dan yang mengalami perlakuan uv. Serapan IR sampel yang mengalami perlakuan uv dan polutan buatan nampak lebih tinggi dibandingkan dengan sampel rujukan. Contoh sampel R7F3 vibrasi ikatan antara C-H alkana terdeteksi didaerah frekuensi yang masih sama yaitu 2925.8 cm-2 namun terjadi perbedaaan serapan intensitas untuk rujukan sebesar 27.965% dan saat dikenai perlakuan naik menjadi 31.821%. Semakin banyak prosentase filler, semakin lama penerapan uv dan semakin banyak esdd maka intensitas serapannya semakin tinggi ini berarti ikatan gugus atom yang terjadi akan semakin kuat. karena sifat senyawa silicon yang mengalami proses difusi MBR dan dipercepat oleh penerapan uv sehingga silicon segerah mentransfer sifat hidrofobiknya
kepermukaan sampel guna melindungi
permukaan dari konduktivitas yang tinggi dengan cara mempertinggi daya intensitas serapan infra merahnya sehingga daya ikat untuk tiap gugus fungsi makin tinggi walaupun diterapkan perlaukan uv dan polutan yang
besar. Salah satu rekomendasi yang
memperkuat material isolasi resin epoksi dengan filler yang tertangani oleh silane adalah
kemampuanya dalam mempertahankan
kestabilan ikatan struktur kimia bahan akibat pengaruh uv dan polutan ini ditunjukan oleh
puncak yang tidak banyak mengalami
perubahan dan semakin tingginya intensitas serapan selama masa penuaan buatan.
4.6 Hasil Uji Mikroskop Metalurgi
Pengujian mikroskop metalurgi
memperlihatkan gejala perubahan struktur permukaan antara material rujukan dan yang mengalami penuaan Kerusakan permukaan sampel uji nampak lebih jelas pada bahan yang mengalami perlakuan uv terlama dan polutan terbesar, namun gejala keretakan ini masih relative kecil karena pengaruh filler yang dicampur silicon rubber pada semua sampel. Keretakan yang nampak bukan hanya karena perlakuan uv dan polutan tetapi karena ketidak homogenan campuran sehingga terdapat
void-void yang dapat mendukung proses
terbentuknya penuaan cepat akibat dari penerapan tegangan yang diikuti dengan loncatan busur api saat pengujian flashover dalam waktu yang cukup lama.
5. KESIMPULAN
1. Kinerja tegangan flashover ditentukan oleh esdd, uv dan filler. Kenaikan esdd dan uv cenderung menurunkan tegangan flashover pada kisaran antara 0.003 kv – 0.006 kv untuk setiap kenaikan esdd 0.001mg/cm2, Sedang setiap kenaikan filler 10% diikuti kenaikan kinerja tegangan sebesar 0.97585 kv.
2. Kinerja arus bocor lebih signifikan ditentukan oleh pengaruh esdd dibanding pengaruh filler dan uv. Setiap kenaikan esdd 0.001 mg/cm2 akan diikuti kenaikan arus bocor pada kisaran antara 0.003 – 0.006 mA, Namun akan menurun
Proceedings Seminar Nasional Teknik Ketenagalistrikan (SNTK) 2007 Universitas Hasanuddin
Makassar, 17 – 18 Juli 2007 B - 56
sekitar 0.00475 mA untuk setiap kenaikan filler 10%.
3. Pengaruh berat polutan terhadap kinerja esdd lebih signifikan dibanding filler dan uv ditunjukan oleh nilai R2 tertinggi dengan urutan R2 BERAT > R2 FILLER > R2 UV. Fenomena
ini menunjukan bahwa kondisi isolator walaupun diterpa oleh perlakuan uv dan padat polusi namun dengan prosentase filler terbaik kinerjanya dapat memuaskan
4. Uji mikroskop metalurgi dan analisis
spectrotroscopy ATR-FTIR menujukan
informasi gejala perubahan degradasi dengan cara memperlihatkan fenomena keretakan, intensitas daya serap infrah mera dan perubahan puncak grafik yang tidak signifikan dalam mempengaruhi kinerja bahan uji penelitian.
6. DAFTAR PUSTAKA
Arismunandar, A., 1990, Teknik Tegangan Tinggi,
edisi ke-7, Pradnya Paramita, Jakarta. Berahim, H., 2002, “ Pengaruh Silane sebagai
Bahan Pengisi terhadap Kinerja Material Isolasi RTV Resin Epoksi di Daerah Beriklim Tropis “, Seminar Nasional dan Workshop Teknik Tegangan Tinggi V, UGM, Jogjakarta
Bruins, P.R. (1968), “ Epoxy Resin Technology “, Interscience Publisher, Copyright by John Wiley & Sons, Inc., LCCCN : 68-21489,1-2
Dissado, L.A and Forhergill, J.C., 1992, “ Electrical Degradation and Breakdown in Polymer ”, Peter Peregrinus Ltd.,London Fernando,M.A.R.M and Gubanski,1999, “Leakage
Current Patterns on Contaminated Polymeric Surface “, IEEE Transaction on Electrical Insulation , 6, no.5
Gorur, R.S., Karady, G.G., Jagota, A., Shah, M.m and Furumasu, B.C., 1992, “ Comparison of TRV Silicone Rubber Coatings Under Artificial Contamination in A Fog Chamber “, IEEE Transaction on Power Delivery, 7 (2) pp 713-719
IEC 60-1, 1989, “Artificial Pollution Test on High Voltage Insulator to be used on AC System”, Second Edition, Geneva
Kahar N., Y., dan Sirait K.T., 1999, ”Kajian Awal Tentang Kemungkinan Penggunaan
Epoksi Sikloalifatik Tuang (EST) Sebagai Material Isolasi Tegangan Tinggi di Indonesia”, Seminar Nasional dan Workshop Teknik Tegangan Tinggi II, pp D.2.1 – D.2.6, UGM, Yogyakarta Kind, D., 1993, Pengantar Teknik Eksperimental
Tegangan Tinggi, Penerbit ITB, Bandung Looms, J.S., 1988, ”Insulator for High Voltage”,
IEE Power Engineering Series 7, Peter Pregrinus Ltd. On behalfof the Institution of Electrical Engineers, London, 12-13 Lee, H., and Neville, K .,1976, “Hand Book Of
Epoxy Resin” , Mc Graw-Hill Book Company
Malik, N.H., Al-Arainy, A .A. Qureshi, M.I., 1998,” Electrical Insulation in Power System”, Marcel Dekker,Inc., New York
Muhaimin, 1991, “Bahan – Bahan Listrik Untuk Politeknik”, Pradnya Paramita, Jakarta Sahu, R., 1976, “Accelerated Ageing of Polymer
High Voltage Insulator Material Under UV Light and Temperature“, IEEE International Symposium on Electric Insulation, pp 24-27
Saunders, K. J., 1973, “Organic Polymer Chemitstery”, Juhn Weley & Sons, 382-384 Soerjani, M., 1996, “The Tropical Environment”,
Proceedings of Electropic ’96, Jakarta, paper I.2
Salama,1999,”Studi sifat hidrofobik polimer silicone rubber untuk bahan isolator tegangan tinggi “, Jurnal Teknik Tegangan Tinggi I, ITB Bandung