PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA 2016
Fachrir Muhammad Saputro
EfektivitasTerapiMurottalTerhadap Tingkat
KecemasanPasienDenganPenyakitJantungKoroner di Ruang ICU RumahSakitUmumAsyifaSambi Abstrak Tingkat pasienpenderitaPenyakitJantungKoroner (PJK) sudahmeningkatkusus di RumahSakitAsyifaSambiBoyolalidalam 3 bulanmencapai 40 penderitadisertaidenganpeningktankecemasansehinggaperluadaterapiuntukmenuru nkantingkatkecemasantersebutyaitudenganterapimurotal
Metode penelitian eksperimen dengan metode kuantitatif dengan tekhnik accidental sampling dengan jumlah sampling 20 responden analisa bivariatmenggunakan uji Wilcoxon sign rank Test. Hasildari 20 respondenmengalamitingkatcemassedangyaitu 8 orang (40%), 8 respondenkecemasanberat (40%), dankecemasanberat/panik 4 responden (20%). Setelahpemberianterapimurottaldidapatkanhasilmengalamikecemasanringanseban yak 7 responden (35%) dankecemasansedangsebanyak 6 responden (30%), 7 responden (35%) mengalamikecemasanberat.
Ada bedatingkatkecemasansebelumdansesudahdilakukanperlakuan, terapimurotalbekerjamelaluireseptor-reseptor yang adadidalamotakdanmenghasilkan hormone endofrin yang memicuketenanganhati Kata kunci :Kecemasan, PenyakitJantungKoroner (PJK),TerapiMurottal
BACHELOR PROGRAM IN NURSING SCIENCE KUSUMA HUSADA HEALTH COLLEGE OF SURAKARTA
2016
Fachrir Muhammad Saputro
MurottalTherapeuticeffectivenessagainstanxiety level ofpatientswithcoronaryheartdisease in thegeneral hospital ICU asyfa Sambi Boyolali
Abstrak
The level ofpatientswithcoronaryheartdisease has increased, especially in hospital asyifa samba boyolali in 3 monthsreached 40 patientsaccompaniedbyincreasedanxietysoneedtherapytoreducetheanxietythatthera pymurottal
Experimental research methods with quantitative methods with techniques accidental sampling with 20 respondent sampling test bivariat analysis using wiccoxon signed rank test. The result of 20 respondents had anxiety were 8 people is 40 %, 8 respondents had aanxiety severe, severe anxiety panic 4 respondent is 20 %. After therapy showed murottal experiencing mild anxiety respondents 35% and anxiety were as much as 6 of respondents 30 % and respondents experiencing severe anxiety 35 %
There are different level ofanxietybeforeandaftertreatment,
murottaltherapyworksthroughreceptors-receptors in
thebrainandproduceshormonesthattriggersobrietyendofrin
Keywords : Anxiety, CoronaryHeartDisease, MurottalTherapeutic Daftar pustaka : 15 (2006-2014)
PENDAHULUAN PenyakitJantungKoroner (PJK) merupakanjenispenyakit yang banyakmenyerangpenduduk Indonesia. PJK initerjadiakibatpenyempitandindingarterik oronerkarenaadanyaendapanlemakdankole sterolsehinggamengakibatkansuplaidarahk ejantungmenjaditerganggu (Kasron, 2012). Penyakitjantungterusmeningkatdana kanmemberikanbebankesakitan, kecacatandanbebansosialekonomibagikelu argapenderita, masyarakat, dannegara. Pravalensi PJK di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnose doktersebesar 0,4%. Sedangkanberdasarkan diagnosis doktergejalasebesar 1,5% .Sementaraitu, pravalensipenyakitgagaljantung di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis doktersebesar 0,13% (Depkes 2007).
Para ahli spiritual
danpengobatansejak zaman
Nabisampaisekarangmenyatakanbahwadzi kirdando’amerupakansuatukesatuanutuh yang mengandungkekuatanluarbiasa yang mampumemberikankeyakinandalamseman gathidupdanmemulihkankesehatanseseora
ngkeyakinaninisangatdiperlukanolehsiapap un, terlebihbagi orang yang menderitasakitterutamapenyakittergolongd apatdisembuhkan (Haryono,2005). Dalamkehidupanmanusiatidakadaseo rangpun yang dapatterbebasdariperasaancemas. Kecemasanmerupakanhal yang lazimdirasakanolehpenderitapenyakitjantu ngkarenaseringnyamendengarbahwapenya kitjantungsangatsulitdisembuhkandanbera khirdengankematian (Soeharto, 2008). Diperkirakanjumlahmerekayang menderitagangguankecemasaninibaikakut maupunkronikmencapai 5% darijumlahpenduduk, denganperbandinganantarawanitadanpria 2 banding 1. Dan diperkirakanantara 2% - 4%
pendudukdisuatusaatdalamkehidupannyap ernahmengalamigangguankecemasan (Hawari, 2008).
Ada beberapacara yang
dilakukanatauterapi yang
digunakanuntukmengurangitingkatkecema sanpadapasienpenyakitjantungkoroner, mengacupadarumahsakit yang berlandas
digunakanyaituterapimurottal, terapaimurottalsendiriyaitusenimelagukana yat-ayatsuci AL-Quran, terapimurottaldapatmmpercepatpenyembu han, halinidibuktikanolehbeberpaahliseperti yang telahdilakukan Ahmad al khadidirekturutama Islamic Medicine Institute for Education and Research di Florida, Amerika serikat. Dalamkonfrensitahunanke XVII
Ikatandokter Amerika,
denganhasilpenelitianbahwamendengarkan ayatsuci Al-Quran memilikipengaruh yang signifikandalammenurunkanketeganganura tsarafreflektifdanhasiltercatatdanterukurse carakuantitatifdankalitatifolehalatberbasis computer (Remolda, 2009). Sedangkandarihasilwawancaradenga n 3 pasien yang terdiagnosapenyakitjantungkoroner, hampirsemuamengatakanjantungberdebar- debar danhatitidaktenangdansaaatditanyamereka mengatakancemaskarenatakutpenyakitjant ungmerupakan organ vital yang sangatpentingbagitubuh,
dansaatdikajitentangcaramengatasicemasp asienmengatakanhanyaberdzikirdansetelah berdzikirpasienmengatakancemassedikitbe rkurangdansaatditawarkanmetode lain atauterapi lain untumengurangi rasa cemaspasienantusiasdaninginmencobamet odetersebutyaituterapimurottal . Dari pernyataandiataspenelititertarikuntukmela kukanpenelitian yang berjudulefektifitasterapimurottalterhadapp enurunantingkatkecemasanpasiendengan PJK, karenapadasaatmengkajiataumelakukanwa wancarasesuaidenganfenomena yang terjadihampirsemuaperawatbelummelakuk anterapimurottal. HASIL PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di RS Asyifa’ Sambi Boyolali pada tanggal 1 Mei 2016 sampai dengan 30 Mei 2016. Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien yang terdiagnosa Penyakit Jantung Koroner (PJK) di Ruang ICU RS Asyifa Sambi Boyolali dengan teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling diperoleh sampel 20 responden sebagai sampel penelitian . Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi dan wawancara langsung terhadap responden dan keluarga pasien sebelum dilakukan terapi murrotalqur’an dan setelah dilakukan terapi murrotalqur’an.
Analisa Univariat
Setelahdilakukanpengumpulan data berdasarkankarakteristikdidapatkan data sebagaiberikut.
Usiaresponden
Tabel 4.1 karakteristik responden berdasarkan usia (n=20)
Klasifikasi Usia Frekuensi (orang) Presentas e (%) 50-60 tahun 5 25 61-70 tahun 4 20 71-80 tahun 10 50 > 80 tahun 1 5 Total 20 100
Berdasarkan tabel diatas seluruh responden dalam penelitian ini termasuk dalam kategori usia lansia. 50% responden berada pada usia 71-80 tahun, sebanyak 10 pasien. 25% responden berada pada usia 50-60 tahun, sebanyak 5 pasien. Sebanyak 20% responden berada pada usia 61-70 tahun, 4 pasien. Dan 5 % responden usia > 80 tahun 1 orang pasien.
Setelahdilakukanpengumpulan data berdasarkankarakteristikjeniskelamindidap atkan data sebagaiberikut.
JenisKelamin
Tabel 4.2 Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin (n = 20) Jenis kelamin Frekuensi
(orang) Presentase (%) Laki-laki 12 60 Perempuan 8 40 Total 20 100
Berdasarkan tabel diatas karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin terdiri dari 60% responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 12 orang, dan 40% responden berjenis kelamin perempuan sebanyank 8 orang. Tabel 4.3 karakteristik responden berdasarkan tingkakecemasanpasien PJK sebelum mendapat terapi murotalqur’an Kategori kecemasan Frekuensi (orang) Presentase (%) Sedang 8 40 Berat 8 40 Berat sekali (panik) 4 20 Total 20 100
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa tingkat kecemasan pasien PJK sebelum mendapat terapi murrotalqur’an adalah 40% pasien berada pada tingkat kecemasan sedang dan berat masing-masing sebanyak 8 pasien, sedangan 20% lainnya memiliki tingkat kecemasan berat sekali atau panik sebanyak 4 orang.
Tabel 4.4 Karakteristik responden berdasarkan tingkat kecemasan pasien PJK setelah mendapat terapi murotalqur’an pertama Kategori kecemasan Frekuensi (orang) Presentase (%) Ringan 7 35 Sedang 6 30 Berat 7 35 Total 20 100
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa tingkat kecemasan pasien PJK setelah mendapatkan terapi murrotalqur’an adalah 35% pasien berada pada tingkat kecemasan ringan sebanyak 7 pasien, 35% pasien tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang. Dan 30% berada pada tingkat kecemasan sedang, sebanyak 6 pasien. 35
Tabel 4.5 karakteristik responden berdasarkan tingkat kecemasan pasien PJK setelah mendapat terapi murotalqur’an kedua Kategori kecemasan Frekuensi (orang) Presentase (%) Normal (tidak ada kecemasan) 4 20 Ringan 8 40 Sedang 7 35 Berat 1 5 Total 20 100
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa tingkat kecemasan pasien PJK setelah mendapatkan terapi murrotalqur’an yang kedua kalinya adalah 40% pasien berada pada tingkat kecemasan ringan sebanyak 8 pasien, 35% pasien tingkat kecemasan sedang sebanyak 7 orang. Dan 20% berada pada tingkat kecemasan yang normal, sebanyak 4 pasien. Dan 5% pada tingkat kecemasan berat sebanyak 1 orang. Analisa Bivariat
Analisa bivariat merupakan analisa data yang digunakan untuk mengetahui interaksi antara dua variabel. Analisa bivariat dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi efektifitas pemberian terapi murrotalqur’an terhadap tingkat kecemasan pasien PJK di ruang ICU RS Asy Syifa’ Sambi Boyolali.
Berdasarkan analisa data menggunakan uji statistik menggunakan uji WilcoxonSignedRankTestpada pemberian terapi murrotalqur’an terhadap
kecemasan pada pasien PJK adalah sebagai berikut :
Tabel 4.6Crosstabs tingkat kecemasan pasien PJK sebelum dan sesudah terapi murrotalqur’an di ICU RS Asy Syifa’ Sambi Boyolali
Tingkat Kecemasan sebelum terapi
Tingkat kecemasan setelah terapi Tak ada kecemasan Ringan
∑ % ∑ %
Sedang 4 50% 3 37,5%
Berat 0 0% 4 50%
Berat sekali (panik) 0 0% 1 25%
Total 4 20% 8 40%
Berdasarkan hasil uji statistik WilcoxonSignRankTest, menunjukkan nilai signifikansi (p value = 0,000) dimana hal iniberarti p value kurang dari batas kritis penelitian yakni p < 0,05 sehingga H1 diterima. Artinya ada efektivitas tingkat kecemasanpasienpjksebelum pemberian perlakuan terapi murottal(Al-Qur’an). SIMPULAN
Berdasarkanhasil penelitian yang telahdipaparkanpadababsebelumnya, dapatdiambilkesimpulansebagaiberikut:
1. Tingkat kecemasan 20 respondensebelumdilakukanterapimur ottalyaitu8 orang atau 40% mengalamitingkatkecemasansedangda nsebagianpasienPenyakitJantungKoro ner (PJK) mengalamicemasberatyaitu 8 orang atau 40%, danpasien PJK yang mengalamikecemasanberat/panik
4 orang atau 20%. Dan setelah di lakukanperlakuanterapimurottal, Setelahdiberikanintervensiterapimurot tal (al-qur’an), 7 pasien (35%) mengalamitingkatkecemasanringanda n 6 pasien (30%) mengalamitingkatkecemasansedangda n 7 (35%) kecemasanberat. 2. Ada bedatingkatkecemasansebelumdanses udahdilakukanterapimurottaldengan p- value 0.00 SARAN
Berdasarkan hasil penelitian di atas. Untuk mengurangi tingkat kecemsan pada pasien penyakit jantung koroner :
1. Bagi pihak rumah sakit
Hendaknya memberikan terapi-terapi yang bermanfaat, salah satunya yaitu dengan menggunakan terapi murottal, sehingga pasien merasa lebih tenang dan lebih nyaman, karena berdasarkan hasil penelitian di dapatkan adanya pengaruh pemberian terapi murottal terhadap tingkat kecemasan pasien. 2. Bagi Institusi Keperawatan
Memberikan mata kuliah salah satunya adalah materi tentang terapi murottal untuk mengatasi kecemasan sehigga setelah bekerja mahasiswa mampu menerapkan terapi murottal tersebut 3. Bagi Masyarakat Menjadibahanatausebagaipengetahuan bagimasyarakatbilaterdiagnosa PJK lebihteangdanmampumengatasikecem asannyadengancaramelakukanterapim urottal 4. Bagipenelitiselanjutnya Penelitimemberikan saran bahwahasilpenelitianbelummampumenjaw abseberapabesarefektivitasdaripemberiante rapimurottal, Karenatidakadaperbandingandengankelom
pok yang lain.
Penelitiselanjutnyadiharapkanmampumela kukaneksperimendenganberbagaijenis model ataumetodeterapisehinggamendapatkantera pi yang efektifuntukmenurunkanskalakecemasanpa sienpenyakitjantungcoroner DAFTAR PUSTAKA
Aunun, Najjah. (2008). Hubungan Penerapan Terapi Religi Berdzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Hipertensi di Ruang penyakit dalam RSUD DR. h. Soewondo Kendal. JurnalIlmiah Keperawatan, 2(4).120-122.
Azizah, L. M. (2011). Keperawatan lanjut usia. Yogjakarta: Graha Ilmu. Candra, IW, Sumirta, IN, & Sudiantara IK.
(2009). Eksistensi terapi aktifitas Kelompok Dalam Tindakan
Keperawatan Jiwa.
JurnalIlmiahKeperawatan, 2(1). 110-101
Ernawati, (2012).Gambaran Tingkat Kecemasan dan Beban Keluarga pada Klien yang Menderita diabetes melitus di Rumah Sakit Aceh Tamiang. Fakultas Keperawatan Universitas medan, 28: 61
Harsepuny, (2012). Keperawatan jiwa, Aplikasi praktik klinik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Hawari, D. (2006). Manajemen stress, cemas dan depresi. Jakarta : FK UI.
Hidayat. (2007). Metode penelitian keperawatan dan teknik analisa data. Jakarta: Salemba Medika Imron, M. & Munif, A. (2010).
Metodologi penelitian bidang kesehatan. Edisi 1. Jakarta: CV. Sagung Seto
Kabo, R. & Peter, J.(2008). Mengungkap pengobatan penyakit jantung
koroner. Jakarta
:GramediaPustakaUtama.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta:Rineka Cipta
Putri, D.N. (2014). Pemberian terapi murottal terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien pada asuhan keperawatan Tn. K dengan Pre Operasi Fraktur CollumFemurSinestra di Ruang mawar RSUD Dr. Soedirman
Magun Sumarso
Wonogiri.JurnalIlmiah Keperawatan, Vol.3, No. 12 Soeharto, Iman. (2008). Penyakit jantung
koroner dan serangan jantung. Jakarta:GramediaPustakaUtama. Stuart, G. (2006). Buku saku keperawatan
jiwa .Jakarta:EGC
Sweden, P. A. (2010). : PhysicalActivity in preventionandtreatmentofdisease. Swedia: Swedish National InstituteOfPublicHelth
Widayarti, (2011).Pengaruh bacaan al-Quran terhadap intensitas
kecemasan pasien
sindromakoroner di RS Hasan Sadikin. JurnalIlmiah Keperawatan,3 (13).102-103.