HUBUNGAN POSTUR TUBUH TERHADAP
KELUHAN MUSKULOSKELETAL DISORDERS PADA
PEKERJA
GREASING UNIT
TRUCK
DI PT. HARMONI PANCA UTAMA SITE DAMAI
SKRIPSI
Oleh
Nama : Dade Rosadi NIM : 031321108
PROGRAM STUDI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINAWAN
HUBUNGAN POSTUR TUBUH TERHADAP
KELUHAN MUSKULOSKELETAL DISORDERS PADA
PEKERJA
GREASING UNIT
TRUCK
DI PT. HARMONI PANCA UTAMA SITE DAMAI
SKRIPSI
Skripsi ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Terapan K3
Oleh
Nama : Dade Rosadi NIM : 031321108
PROGRAM STUDI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINAWAN
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :
Nama : Dade Rosadi
NIM : 031321108
Program Studi : Kesehatan dan Keselamatan Kerja Jenjang : Sarjana Terapan (D4)
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya susun dengan judul :
“Hubungan Fostur Tubuh Terhadap Keluhan Muskuloskeletal Dosorders Pada Pekerja Greasing Unit Truck di PT Harmoni Panca Utama Site Damai”.
Adalah benar – benar hasil karya saya sendiri dan bukan merupakan plagiat dari skripsi orang lain. Apabila pada kemudian hari pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademis yang berlaku (cabut predikat kelulusan dan gelar sarjana).
Jakarta, 21 Juli 2015
Dade Rosadi NIM : 031321108
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Binawan, saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Dade Rosadi
NIM : 031321108
Program Studi : Keselamatan dan Kesehatan Kerja Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Binawan Hak Bebas Royalti Non – Eksklusif (Non – Exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
“Hubungan Fostur Tubuh Terhadap Keluhan Muskuloskeletal Dosorders Pada Pekerja Greasing Unit Truck di PT Harmoni Panca Utama Site Damai”. Beserta perangkat yang ada (apabila diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non – Eksklusif ini Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja STIKes Binawan berhak menyimpan, mengalihmedia / format-kan mengelolahnya dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya, dan menampilkan/mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis / pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Segala bentuk tuntutan hukum yang timbul atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah ini tanggungjawab saya pribadi.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Jakarta
Pada Tanggal 21 Juli 2015 Yang menyatakan:
LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi ini telah di periksa, disetujui, dan dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Binawan
Jakarta, 29 Agustus 2015
Pembimbing Akademik
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Dade Rosadi
Alamat : Perum Metland Cibitung Cluster Taman Kemanggisan Blok O11 No. 06
Tempat Tanggal Lahir : Karawang, 17 Desember 1985 Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Nomor Hand phone : 081311224777
E-mail : [email protected]
Riwayat Pendidikan
1. Program Studi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) STIKes Binawan Jakarta
2013-2015 2. D3 Keperawatan Akademi Keperawatan
Sismadi
2003 - 2006 3. MAN Model Ciwaringin Cirebon 2000 - 2003 4. MTs Salafiyah Syafi’iyah Cirebon 1998 - 2000 5. MI Hidayatul Mubtadiin Karawang 1992 - 1998
Penulis,
ABSTRAK
Nama : Dade Rosadi
Program : Keselamatan dan Kesehatan Kerja STIKES Binawan
Judul : Hubungan Postur Kerja terhadap Keluhan Musculoskeletal Disorders
pada Pekerja Pelumasan (Greasing) Unit Truck di PT. Harmoni Panca Utama
Latar Belakang :PT. Harmoni Panca Utama merupakan perusahaan kontraktor batu bara yang dalam menunjang operasional nya terdapat bagian perawatan unit dan salah satu kegiatannya adalah pelumasan (greasing) unit truck. Proses pelumasan (greasing) unit truck ini masih dilakukan secara manual (manual handling) yang berpotensi menimbulkan bahaya ergonomi berupa keluhan nyeri otot atau yang disebut Musculoskeletal disorders. Berdasarkan data kesehatan dari klinik perusahaan didapatkan keluhan nyeri otot yang dialami pekerja greasing ini, sehingga perlu diadakan penelitian yang bertujuan untuk menilai hubungan antara posisi kerja dengan keluhan Musculoskeletal disorders. Diharapkan dari penelitian ini akan dihasilkan tentang faktor posisi kerja berhubungan/berpengaruh terhadap keluhan Musculoskeletal disorders dan dapat menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan dalam lingkup perusahaan PT. Harmoni Panca Utama.
Metode : Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode cross sectional pada bagian greasing unit truck. Penelitian ini melibatkan 12 responden dengan usia 20-51 tahun dan memiliki masa kerja minimal 1 tahun. Data tentang karakteristik demografi dan okupasi dikumpulkan dengan mengisi kuesioner Data status gizi dilakukan dengan menghitung indeks masa tubuh. Data beban kerja fisik dilakukan dengan pengukuran denyut nadi dan tekanan darah. Data posisi kerja dilakukan dengan pengukuran postur tubuh menggunakan lembar kerja REBA Rasa tidak nyaman/ keluhan Musculoskeletal disorders di bagian tubuh dillakukan dengan menggunakan pertanyaan Nordic Body Map.
Hasil : Penelitian ini menemukan bahwa karakteristik demografi berupa status gizi (P= 0,038), kebiasaan merokok (P= 0,008) dan karakteristik okupasi berupa beban kerja fisik yang didapat dari pengukuran denyut nadi (P= 0,001) ada hubungan bermakna dengan keluhan Musculoskeletal disorders. Kemudian posisi kerja juga berpengaruh terhadap keluhan Musculoskeletal disorders dengan adanya hasil resiko tinggi pada penilaian postur tubuh dengan menggunakan metode REBA pada setiap tahapan proses greasing. Selain itu, bagian tubuh yang paling banyak dikeluhkan responden adalah punggung bawah sebesar (46,9%).
Kesimpulan dan Saran : Pertanyaan peneliti tentang penelitian ini dapat terjawab dan disarankan untuk PT. Harmoni Panca Utama agar menyediakan stasiun kerja berupa area dimana pekerja dapat berdiri dan leluasa agar postur tubuh pekerja pada saat melakukan posisi kerja tidak mengalami postur tubuh janggal yang dapat menyebabkan keluhan Musculoskeletal disorders.
ABSTRACT
Name : Dade Rosadi
Program : Occupational Safety and Health of Binawan STIKES
Title : Relationship of Work Posture to Complaints on Musculoskeletal Disorders in Truck Unit Greasing at PT. Main Five Harmony
Background: PT. Harmoni Panca Utama is a coal contracting company that supports the operation of the unit and one of its activities is unit greasing. The greasing process of this unit truck is still done manually (manual handling) which has the potential to cause ergonomic hazards in the form of complaints of muscle pain or what is called Musculoskeletal disorders. Based on health data from the company's clinic, complaints of muscle pain were experienced by greasing workers, so studies need to be conducted that aim to assess the relationship between work position and complaints of Musculoskeletal disorders. It is expected that this research will produce work position factors related to / influence on complaints of Musculoskeletal disorders and can determine remedial actions that must be taken within the scope of the company PT. Main Five Harmony.
Method: This research was conducted using the cross sectional method in the part of the greasing unit truck. This study involved 12 respondents aged 20-51 years and had a minimum work period of 1 year. Data on demographic and occupational characteristics were collected by filling out questionnaires. Nutritional status data was carried out by calculating body mass index. Physical workload data is carried out by measuring pulse and blood pressure. Work position data is done by measuring body posture using the REBA worksheet Discomfort / complaints Musculoskeletal disorders in the body parts are done using the Nordic Body Map question.
Results: This study found that demographic characteristics in the form of nutritional status (P = 0.038), smoking habits (P = 0.008) and occupational characteristics in the form of physical workload obtained from pulse measurements (P = 0.001) had a significant association with complaints of Musculoskeletal disorders. Then the work position also affects the complaints Musculoskeletal disorders with the presence of high risk results in the assessment of posture using the REBA method at each stage of the greasing process. In addition, the most complained part of the body is the lower back (46.9%).
Conclusions and Suggestions: Questions from researchers about this study can be answered and it is recommended for PT. Main Panca Harmony in order to provide work stations in the form of areas where workers can stand up and be free so that the posture of the workers during work positions does not experience odd postures that can cause complaints of Musculoskeletal disorders.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT senantiasa penulis panjatkan atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga pembuatan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
Skripsi yang berjudul “Hubungan Postur Tubuh Terhadap Keluhan Muskuloskeletal Disorders Pada Pekerja Greasing Unit Truck di PT. Harmoni Panca Utama Site Damai” ini disusun dalam rangka memenuhi
program perkuliahan semester VIII. Atas tersusunnya skripsi ini, tidak lupa penulis sampaikan terima kasih yang tiada terhingga kepada:
1. Bapak Abbas, Ibu Dadah, selaku orang tua dan Yetti Nurhayati selaku istri penulis yang tak hentinya memberikan doa dan dukungan.
2. Bapak DR. M. Toriz, Z, MPH, SpKL selaku Ketua Prodi Jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja STIKes Binawan yang telah memberikan bimbingan serta restunya dalam penyusunan skripsi ini. 3. Ibu Nungki Agusti, ST, MKKK selaku dosen pembimbing yang telah
membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini.
4. Manajemen dan seluruh karyawan PT. Harmoni Panca Utama yang telah membantu dan memberikan kesempatan kepada peneliti untuk belajar dan melakukan proses penelitian
5. Bapak Ade Kurdiman, ST selaku pembimbing lapangan di PT. Harmoni Panca Utama dan seluruh staff CHSE departemen
6. Semua teman-teman K3 STIKes Binawan program B yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Akhir kata, mohon maaf bila ada kekhilafan dan kesalahan yang kurang berkenan di hati selama penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Jakarta, 29 Agustus 2015
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR GRAFIK ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
DAFTAR SINGKATAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 5 1.3. Tujuan Penelitian ... 5 1.4. Manfaat Penelitian ... 6 1.5. Ruang Lingkup ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ergonomi ... 7
2.1.1. Definisi Ergonomi ... 8
2.1.2. Maksud dan Tujuan Disiplin Ergonomi ... 11
2.2. Muskuloskeletal Disorders ... 13
2.1.1. Definisi Muskuloskeletal Disorders ... 13
2.1.3. Gejala Keluhan Muskuloskeletal Disorders ... 15
2.1.4. Diagnosis Kelainan Muskuloskeletal Disorders ... 16
2.1.5. Faktor Risiko Muskuloskeletal Disorders ... 18
2.3. Keterkaitan Ergonomi dengan Muskuloskeletal Disorders .... 24
2.4.1. Penilaian Keluhan MSDs dengan NBM... 26
2.4.2. Penilaian Posisi Kerja dengan RULA ... 26
2.4.3. Pengukuran Beban Kerja ... 42
2.6. Profil PT. Harmoni Panca Utama Site Damai ... 47
2.7. Kerangka Teori ... 50
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Konsep ... 51
3.2. Hipotesis ... 52
3.3. Jenis dan Rancangan Penelitian... 52
3.4. Populasi dan Sampel Penelitian ... 52
3.5. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 53
3.5. Definisi Operasional ... 54
3.6. Sumber Data Penelitian ... 54
3.7. Instrumen Penelitian ... 54
3.8. Pengumpulan Data ... 55
3.9. Pengolahan dan Analisis Data ... 56
3.10. Jadwal Penelitian ... 57
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 4.1. Karakteristik Demografi ... 64
4.2. Karakteristik Okupasi ... 66
4.3. Keluhan Musculoskeletal Disorders ... 68
4.4. Distribusi Keluhan MSDs Tiap Bagian Tubuh ... 70
4.5. Hubungan Karakteristik Demografi dengan Keluhan MSDs 73 4.6. Hubungan Karakteristik Okupasi dengan Keluhan MSDs ... 76
4.7. Penilaian Posisi Kerja dengan Metode RULA ... 81
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 81
5.2. Saran ... 83
5.2.1. Perusahaan ... 83
5.2.2. Karyawan……….………… ... 84
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR SINGKATAN
Depkes Departemen Kesehatan
IMT Indeks Masa Tubuh
K3 Keselamatan Kesehatan Kerja
MSDs Musculoskeletal disorders
NIOSH National Institute for Occupational Safety and Health
NBM Nordic Body Map
OSHA Occupational Safety and Health Administration
OHSAS Occupational Health and Safety Assessment Series
P Nilai Signifikasi
RP Rasio Prevalensi
REBA Rapid Entire Body Assessment
SMK3 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Keja
xviii
DAFTAR SINGKATAN
Depkes Departemen Kesehatan
IMT Indeks Masa Tubuh
K3 Keselamatan Kesehatan Kerja
MSDs Musculoskeletal disorders
NIOSH National Institute for Occupational Safety and Health
NBM Nordic Body Map
OSHA Occupational Safety and Health Administration
OHSAS Occupational Health and Safety Assessment Series
P Nilai Signifikasi
RP Rasio Prevalensi
REBA Rapid Entire Body Assessment
SMK3 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Keja
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Industri Pertambangan merupakan salah satu sumber daya alam potensial yang ada di Indonesia dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber devisa untuk pembangunan nasional. Kegiatan dalam industri tambang sarat akan risiko, dalam pelaksanaannya pekerjaan dalam industri ini banyak yang dilakukan dengan menggunakan mesin, mulai dari mesin yang sangat sederhana sampai dengan penggunaan mesin dengan berbasis teknologi tinggi, disisi lain, ternyata di berbagai industri juga masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan secara manual yang memerlukan tuntutan dan tekanan fisik yang berat. Salah satu akibatnya ternyata meningkatkan terjadinya keluhan dan komplain pada pekerja, seperti; terjadinya sakit punggung dan pinggang, ketegangan pada leher, sakit pergelangan tangan lengan dan kaki, kelelahan mata dan banyak komplain lainnya, maka barang tentu akan menurunkan performasi kerja yang pada kahirnya akan menurunkan produktivitas kerja (Tarwaka, 2012).
PT Harmoni Panca Utama adalah perusahaan nasional yang didirikan pada 25 Januari 2011 dan berfokus hanya pada jasa kontraktor pertambangan. PT. Harmoni Panca Utama merupakan gabungan antara 2 perusahaan dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda yaitu PT. Harita Mitra Sentosa dan PT. Panca Sejahtera Mandiri. PT. Harita Mitra Sentosa adalah sebuah perusahaan swasta yang berfokus pada pertambangan dengan struktur keuangan yang kuat dan PT. Panca Sejahtera Mandiri merupakan sebuah perusahaan swasta yang memiliki kompetensi kuat dalam penyediaan jasa pertambangan.
2 Dalam kegiatan produksinya, PT Harmoni Panca Utama menggunakan mesi n-mesin/alat berat (heavy equipment) dan untuk memastikan bahwa alat-alat tersebut selalu siap dalam menunjang operasionalnya maka terdapat departemen yang mempunyai tugas untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan (maintenance) diantara kegiatannya adalah proses pelumasan (greasing) pada unit truck. Kegiatan pelumasan (greasing) pada unit truck ini masih banyak dengan kegiatan manual handling dimana setiap pekerja akan bersentuhan langsung dengan peralatan dalam kegiatan pelumasan (greasing) ini tanpa menggunakan alat bantu yang memadai. Aktivitas manual handling merupakan aktivitas yang meliputi kegiatan seperti mengangkat, memindahkan, mendorong, menarik, membawa, menahan beban dengan tangan atau kekuatan tubuh (Ridley, 2006).
Aktivitas manual handling yang kurang tepat merupakan salah satu bahaya yang mungkin paling sering ditemui oleh pekerja di tempat kerja. Salah satu bahaya yang mungkin muncul adalah gangguan sistem otot dan tulang (Muskuloskeletal). Hal ini dapat terjadi karena manusia memiliki keterbatasan baik dari segi fisik, fisiologik maupun psikologik (Sahab, 1997). Menurut hasil analisis data kecelakaan yang dilaporkan badan eksekutif K3 di pabrik HM USA yang menunjukkan bahwa setiap tahunnya daritahun 1945-1980 pekerjaan manual handling merupakan penyebab utama yaitu sekitar 25-31% dari seluruh cidera yang ada di industri. Sedangkan untuk distribusi bagian tubuh yang terkena akibat kegiatan manual handling yang tidak tepat adalah 70% menyerang tulang punggung, 19% lengan atas, dan 18% lengan bawah (Pheasant, 1991). Berbagai macam aktivitas manual handling yang biasa dilakukan di tempat kerja seperti mengangkat, memindahkan, mendorong, menarik, membawa atau menahan beban sebanyak 61.3% dari cidera manual handling terkait dengan aktivitas mengangkat (lifting) dan membawa (carrying) (Bridger, 1995).
3 Pekerjaan pelumasan (greasing) pada unit truck ini dimulai dengan membawa perlengkapan yang disimpan di dalam kotak peralatan (toolbox) dengan berat 20 Kilogram, selanjutnya pekerja akan melakukan isolasi energi seperti mematikan mesin, memasang tanda perbaikan unit, dan memasang ganjal ban dengan berat 7 Kilogram, selanjutnya pekerja akan memasukkan pelumas yang sudah berada didalam manual greasing pump ke tempat-tempat yang disebut dengan nipple yang berada dibagian bawah (kolong) truck pada kegiatan ini dilakukan dengan posisi janggal karena area sempit. Kegiatan tersebut secara rutin dilakukan setiap hari dan rata-rata 5 unit perhari. Jenis pekerjaan ini bila dibiarkan secara terus-menerus akan menimbulkan masalah ergonomi berupa kelelahan dan keluhan rasa sakit pada sendi dan otot, keluhan inilah yang disebut Muskuloskeletal Disorders.
Keluhan muskuloskeletal merupakan masalah kesehatan pada organ penggerak (lokomotor) seperti otot, tendon, tulang, kartilago, ligamen, dan syaraf (Lutmann, et all., 2003). Hal tersebut disebabkan atau diperparah oleh kegiatan secara tiba-tiba atau pajanan faktor fisik yang sudah berlangsung lama seperti pengulangan, gaya atau tekanan, getaran, dan atau posisi yang janggal (NIOSH, 2012).
Keluhan muskuloskeletal dapat diterjemahkan sebagai kerusakan trauma kumulatif, dimana hal ini terjadi akibat penumpukan cedera kecil pada sistem muskuloskeletal akibat trauma berulang yang tidak dapat sembuh sempurna sehingga membentuk kerusakan yang cukup besar untuk menimbulkan rasa sakit (Humantech, 1995)
Hasil survey awal pada aktivitas pelumasan (greasing) yaitu ditemukan bahwa terdapat potensi risiko ergonomi ketika melakukan pekerjaan tersebut, dimana pekerja cenderung dalam keadaan postur janggal dan dilakukan secara berulang. Perusahaan belum melakukan penilaian risiko ergonomi, hal tersebut dibuktikan dengan
4 tidak adanya laporan penilaian risiko ergonomi. Dari hasil wawancara awal khususnya pada pekerja yang bekerja di area pelumasan ditemukan beberapa keluhan pada bagian tubuh seperti punggung, pinggang yang dapat diduga sebagai dampak dari pekerjaan.
Meskipun proses pelumasan (greasing) unit truck yang dilakukan di PT. HPU ini telah dilakukan dengan tenaga kerja yang terlatih dan adanya pembagian waktu kerja (shifting), namun pada kenyataannya upaya tersebut dinilai belum cukup efektif untuk menekan jumlah muskuloskeletal disorders ini. Hal ini terbukti dengan adanya data kesehatan pekerja di bagian pelumasan (greasing) selama 3 tahun terakhir dari tahun 2013 hingga 2015 (updated Mei 2015) yang didapat dari sentra gawat darurat / unit kesehatan kerja PT. HPU adalah sebagai berikut:
Diagram 1.1. Diagnosis Keluhan Nyeri Otot Skeletal
Sumber: Sentra Gawat Darurat PT. HPU Site DMI
Berdasarkan digram diatas, didapatkan diagnosa nyeri punggung bawah (low back pain) pada tahun 2013 sebanyak 2 kali, pada tahun 2014 sebanyak 6 kali, dan pada tahun 2014 sebanyak 7 kali. Kemudian nyeri otot (myalgia) pada tahun 2013 sebanyak 118 kali, pada tahun 2014 sebanyak 63 kali, pada tahun 2015 sebanyak 48 kali.
5 1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas sehingga timbul pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1.2.1. Bagaimana gambaran aktivitas proses pelumasan (greasing) unit truck di PT. Harmoni Panca Utama Site Damai
1.2.2. Bagaimana tingkat risiko ergonomi pada aktivitas proses pelumasan (greasing) unit truck di PT. Harmoni Panca Utama Site Damai?
1.2.3. Apakah faktor pekerjaan (beban fisik kerja, postur kerja) dan faktor individu (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama kerja, status gizi, kebiasaan merokok) ada kaitannya dengan timbulnya keluhan muskuloskeletal disorders?
1.2.4. Bagaimana gambaran keluhan Musculoskeletal disorders terhadap postur tubuh pada proses pelumasan (greasing) unit?
1.2.5. Bagaimana model pekerja yang baik untuk melakukan proses pelumasan (greasing) unit?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan postur tubuh terhadap keluhan muskuloskeletal disorders pada pekerja bagian pelumasan (greasing) unit di PT. Harmoni Panca Utama site DMI
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Didapatkannya gambaran aktivitas proses pelumasan (greasing) unit truck dari PT. Harmoni Panca Utama site DMI
6 b. Didapatkannya gambaran risiko ergonomi pada proses pelumasan (greasing) unit truck dari PT. Harmoni Panca Utama site DMI
c. Diketahuinya gambaran karakteristik/faktor individu (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama kerja, status gizi, kebiasaan merokok) dan karakteristik/faktor pekerjaan (beban kerja, dan postur kerja) di bagian pelumasan (greasing) unit truck dari PT. Harmoni Panca Utama site DMI
d. Diketahuinya skor/ nilai postur tubuh pekerja terkait posisi kerja pada tahapan pelumasan (greasing) unit truck dari PT. Harmoni Panca Utama site DMI
e. Diketahuinya pengaruh postur kerja terhadap keluhan Muskuloskeletal disorders pada proses pelumasan (greasing) unit truck dari PT. Harmoni Panca Utama site DMI
f. Diketahuinya keberhasilan pelaksanaan pengendalian risiko terjadinya muskuloskeletal disorders terhadap postur kerja pada aktivitas greasing/pelumasan unit di PT. Harmoni Panca Utama site DMI
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan evaluasi bagi perusahaan dalam melakukan tindakan pengendalian untuk meminimasi risiko terjadinya ganguan muskuloskeletal disorders yang dialami pekerja di bagian pelumasan (greasing) unit di PT. Harmoni Panca Utama site DMI
1.4.2. Bagi STIKES BINAWAN
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kuantitas serta kualitas pendidikan.
7 1.4.3. Bagi Dunia Pendidikan
Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat menjadi sumber informasi serta referensi bagi mahasiswa, dan dapat memperkaya khasanah karya tulis ilmiah di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
1.4.4. Bagi Mahasiswa
Kajian ini dapat menambah ilmu dan pengetahuan khususnya mengenai pengaruh aktivitas manual handling terhadap keluhan musculoskeletal disorders.
1.5. Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan di PT. Harmoni Panca Utama site Damai mulai dari bulan Mei tahun 2015. Objek penelitian adalah pekerja bagian pelumasan (greasing) unit di departemen Plant. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Data umum pegawai didapatkan dengan menggunakan kuesioner karakteristik umum. Untuk melihat keluhan muskuloskeletal disorders para pekerja dilakukan wawancara dan dilakukan pengisian kuesioner dengan gambar Nordic Body Map. Pengukuran denyut nadi dan tekanan darah dilakukan untuk mengetahui beban kerja fisik. Kemudian untuk antropometri dilakukan perhitungan indeks masa tubuh dengan cara melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan responden. Alat ukur yang digunakan adalah lembar kerja REBA (Rapid Entire Body Assessment) untuk mengukur postur kerja. Pada penelitian dengan menggunakan metode REBA tidak semua responden diambil gambarnya. Peneliti hanya mengambil beberapa model pekerja saja sesuai dengan jenit unit/alat berat yang dioperasikan, karena mayoritas responden melaksanakan pekerjaan sesuai posisi model tersebut serta karena adanya keterbatasan waktu dan biaya
8 sehingga peneliti hanya memilih satu model kerja yang mayoritas dikerjakan responden dengan posisi yang sama.
9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ergonomi
Istilah ergonomi diperkenalkan oleh W.B. Jastszebowzki tahun 1857, dimana terminologi dari kata ergonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu “Ergon” yang artinya kerja dan “nomos” yang berarti peraturan/hukum. Secara harfiah ergonomi diartikan sebagai ilmu tentang kerja (Budiono, 2003). Studi terhadap aspek pekerjaan dimulai sejak abad 20 dimana pengembangan terhadap pengukuran ini dikembangkan oleh Frank dan Lilian Gilbreth serta Frederick Taylor. Dalam ruang lingkup yang luas, ergonomi adalah sebuah studi multi disiplin mengenai hukum yang mengatur interaksi antara manusia, mesin, dan lingkungan.
2.1.1. Definisi Ergonomi
Definisi ergonomi telah banyak dijabarkan oleh peneliti maupun lembaga oleh karena itu untuk lebih memahami pengertian tentang ergonomi, penulis akan menjelaskan berbagai macam definisi ergonomi dari berbagai macam literatur, antrara lain:
a) Ergonomi adalah ilmu yang penerapannya berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang dan setinggi-tingginya melalui pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya, hal ini meliputi penyerasian pekerjaan terhadap tenaga kerja secara timbal balik untuk efisiensi dan kenyamanan kerja (Suma’mur, 1989)
b) Ergonomi adalah studi ilmiah terapan mengenai manusia terhadap desain objek, sistem, lingkungan untuk aplikasi kerja manusia (Pheasant, 1991)
10 c) Ergonomi adalah sudut pandang keilmuan, berfikir tentang manusia dan bagaimana interaksinya dengan seluruh aspek di dalam lingkungan, peralatan, dan situasi kerja (Oborne, 1995).
d) Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari mengenai interaksi antara manusia dan objek yang mereka pergunakan serta lingkungan kerjanya (Pulat, 1997).
e) Ergnomi didefinisikan sebagai penerapan ilmu biologi yang sejalan dengan ilmu rekayasa yang bertujuan agar didapatkan penyesuaian yang saling menguntungkan antara pekerja dan pekerjaannya secara optimal dengan tujuan agar bermanfaat untuk efisiensi dan kesejahteraan (ILO, 1998)
f) Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha menyerasikan pekerja dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal mungkin (Budiono, 2003)
g) Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dengan mesin serta faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi tersebut (Bridger, 2003)
h) Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka, 2004)
i) Ergonomi adalah ilmu pengetahuan uantuk menganalisa efek dari proses kerja, desain kerja, dan lingkungan kerja terhadap kinerja atau performa dan kesehatan manusia (Bird, 2005)
11 j) Ergonomi adalah istilah yang digunakan sebagai dasar studi dan desain hubungan antara manusia dan mesin untuk mencegah penyakit dan cidera serta meningkatkan prestasi atau kinerja (ACGIH, 2007)
Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa ergonomi adalah suatu konsep keilmuan dimana kajiannya adalah manusia yang didasarkan pada keterbatasan terhadap kemampuan maupun kapasitas manusia sehingga diperlukan penyerasian antara lingkungan kerja dan pekerjaan, dengan manusia yang berinteraksi dengan elemen tersebut sebagai upaya untuk mencegah cedera maupun gangguan, meningkatkan produktivitas dan upaya efisiensi serta efektivitas pada aspek manusia.
2.1.2. Ruang Lingkup Ergonomi
Ergonomi merupakan bidang antar cabanga ilmu pengetahuan yang melibatkan konsep-konsep yang terkait dengan biomekanik, rekayasa faktor manusia, kinesiologi, keselamatan dan kedokteran (Bird, 2005). Ergonomi merupakan perpaduan antara beberapa bidang ilmu antara lain: ilmu faal, anatomi dan kedokteran, psikologi faal, ilmu fifika dan teknik. Ilmu faal dan anatomi memberikan gambaran bentuk tubuh manusia, kemampuan tubuh/anggota gerak untuk mengangkat atau ketahanan terhadap suatu gaya yang diterimanya, satuan ukuran besaran panjangnya suatu anggota tubuh.
Psikologi faal memberikan gambaran terhadap fungsi otak dan sistem persyarafan dalam kaitannya dengan tingkah laku, sementara eksperimental mencoba memahami suatu cara bagaiman mengambil sikap, memahami, mempelajari, mengingat serta mengendalikan proses motorik. Sedangkan ilmu fisika dan teknik memberikan informasi yang sama untuk
12 desain dan lingkungan dimana pekerja melakukan pekerjaannya (Oborne, 1995).
Gambar 2.1
Ruang Lingkup Ergonomi dan Keterkaitan Dengan Ilmu Lainnya
Sumber: (Budiono, 2003)
Menurut International Ergonomic Asociation (IEA), dalam Rom (2007), disiplin keilmuan ergonomi terdiri dari 3 (tiga) bidang yaitu:
1. Physical Ergonomics Adalah ergonomi yang berfokus pada anatomi tubuh manusia, antropometri, fisiologi, dan karakteristik biomekanik yang berhubungan dengan aktivitas seperti berikut:
a. Postur tubuh b. Material handling
c. Pekerjaan yang berhubungan dengan keluhan musculoskeletal
d. Layout tempat kerja
e. Keselamatan dan kesehatan ERGONOMI ANATOMI FISIOLOGI PSIKOLOGI ENGINEERING DESAIN MANAGEMENT
13 2. Cognitive Ergonomics Adalah ergonomi yang berfokus pada berbagai proses mental, seperti persepsi, memori, respon motor yang mempengaruhi hubungan antara manusia dengan elemen sistem yang lainnya seperti berikut:
a. Mental workload b. Penetapan keputusan c. Skill performance
d. Interaksi antara orang dengan komputer e. Human reliability
f. Tekanan kerja
g. Pelatihan yang berhubungan dengan interaksi antara orang dan desain
h. sistem
3. Organizational Ergonomics Adalah ergonomi yang berfokus pada optimalisasi sistem sosioetnial termasuk struktur, kebijakan, dan beragam proses. Ergonomi organisasi menyangkut hal sebagai berikut.
a. Komunikasi
b. Manajemen sumber daya manusia c. Desain pekerjaan
d. Desain waktu kerja e. Kerjasama tim f. Desain partisipasi g. Ergonomi komunitas h. Cooperative work i. Paradigma kerja baru j. Pengorganisasian virtual k. Telework
14 2.1.3. Maksud dan Tujuan Ergonomi
Istilah ergonomi berasal dari bahasa Yunani: ergein artinya bekerja dan terdiri dari dua kata yaitu: ergos yang berarti kerja dan nomos berarti hukum alam (natural law), sehingga ergonomi merupakan studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain atau perancangan, sehingga ergonomi dapat diterapkan oleh ahli/ pakar diberbagai bidang seperti ahli anatomi, arsitektur, psikologi, teknik industri, evaluasi proses kerja bagi pemerintahan, militer, dan lain-lain.
Penerapan ergonomi umumnya diwujudkan dalam aktivitas rancang bangun (design) atau rancang ulang (redesign). Hal ini dapat meliputi perangkat keras seperti misalnya perkakas kerja (tools), bangku kerja (benches), platform, kursi, pegangan alat kerja (workholders), sistem pengendali (controls), alat peraga (displays), jalan/ lorong (access way), pintu (doors), jendela (windows), dan lain-lain. Di bidang industri juga terkait ergonomi yang disebut human engineering atau applied/ industrial ergonomic, karena banyak hal yang dihubungkan dengan aplikasi data maupun pertimbangan faktor manusia (human factors engineering) dalam proses perancangan, modifikasi dan evaluasi dari produk (peralatan atau fasilitas) yang digunakan dalam sebuah sistem kerja.
Berikut merupakan beberapa pokok-pokok kesimpulan mengenai disiplin ergonomi, yaitu
a. Pendekatan ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun secara mental psikologis dan interaksinya dalam sistem manusia mesin yang integral. Secara
15 sistematis pendekatan ergonomi kemudian akan memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga akan tercipta produk, sistem atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan manusia. Pada gilirannya rancangan ergonomi yang akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan yang cocok, aman, nyaman, dan sehat.
b. Pendekatan ergonomi akan mampu menimbulkan “fuctional effective” dan kenikmatan-kenikmatan dari peralatan fasilitas maupun lingkungan kerja yang dirancang.
c. Upaya memperbaiki performa kerja manusia seperti menambah kecepatan kerja, ketepatan (accuracy), keselamatan kerja disamping untuk mengurangi energi kerja yang berlebihan serta mengurangi datangnya kelelahan yang terlalu cepat. Disamping itu disiplin ergonomi diharapkan pula dapat memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia serta meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan oleh kesalahan manusia (human error).
d. Aplikasi sistematis dari segala informasi yang relevan dengan karakteristik dan perilaku manusia di dalam perancangan peralatan, fasilitas dan lingkungan kerja yang dipakai. Untuk ini analisis dan penelitian ergonomi akan meliputi hal-hal yang berkaitan dengan: 1) Anatomi (struktur), fisiologi (bekerjanya) dan
16 2) Psikologi yang fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem syaraf yang berperan dalam tingkah laku manusia.
3) Kondisi-kondisi kerja yang dapat mencederai baik dalam waktu yang pendek maupun dalam waktu yang panjang ataupun membuat celaka manusia, dan sebaliknya ialah kondisi-kondisi kerja yang dapat membuat nyaman kerja manusia.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut maka penelitian dan pengembangan ergonomi akan memerlukan berbagai keilmuan yang multidisiplin karena mempelajari pengetahuan dari ilmu kehayatan, kejiwaan dan kemasyarakatan berbagai disiplin keilmuan seperti: psikologi, anthopologi, faal/ anatomi dan teknologi (engineering).
2.2. Musculoskeletal Disorders
2.2.1. Definisi Musculoskeletal Disorders
Studi tentang MSDs pada berbagai jenis industri telah banyak dilakukan dan hasil studi menunjukkan bahwa bagian otot yang sering dikeluhkan adalah otot rangka yang meliputi otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah. Di antara keluhan sistem musculoskeletal tersebut, yang paling banyak dialami oleh pekerja adalah otot bagian pinggang (Low Back Pain = LBP). Laporan dari The Bureau of Labour Statistics (BLS) Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat yang dipublikasikan pada tahun 1982 menunjukkan bahwa hampir 20% dari semua kasus sakit akibat kerja dan 25% biaya kompensasi yang dikeluarkan sehubungan dengan adanya keluhan atau sakit pinggang. Besarnya biaya kompensasi
17 yang harus dikeluarkan oleh perusahaan secara pasti belum diketahui. Namun demikian, hasil estimasi yang dipublikasikan oleh National Institute of Occupational Safety Health (NIOSH) menunjukkan bahwa biaya kompensasi untuk keluhan musculoskeletal sudah mencapai 13 milyar US$ setiap tahunnya. Biaya tersebut merupakan yang terbesar bila dibansingkan dengan biaya kompensasi untuk keluhan atau sakit akibat kerja lainnya (NIOSH, 1996 dalam Tarwaka, 2010). Sementara itu National Safety Council melaporkan bahwa sakit akibat kerja yang frekuensi kejadiannya paling tinggi adalah sakit punggung, yaitu 22% dari 1.700.000 kasus (Waters dkk, 1996 dalam Tarwaka, 2010)
Menurut NIOSH dan WHO MSDs merupakan gangguan yang disebabkan ketika seseorang melakukan aktivitas kerja dan kondisi pekerjaan yang signifikan sehingga mempengaruhi adanya fungsi normal jaringan halus pada sistem muskuloskeletal yang meliputi sendi, ligamen, saraf, tendon, dan otot. MSDs adalah penyakit degeneratif dan kondisi peradangan yang menyebabkan rasa sakit dan mengganggu aktivitas normal. MSDs dapat mempengaruhi banyak bagian tubuh yang berbeda termasuk atas dan bawah punggung, leher, bahu, dan ekstrimitas (lengan, kaki, dan tangan).
MSDs dapat timbul akibat fatigue yang disebabkan oleh tingginya durasi dan frekuensi gerakan pada bagian tubuh yang sama secara terus-menerus. Selain itu, beban kerja yang berat dan pergerakan yang tidak terduga juga menjadi salah satu penyebab timbulnya MSDs. Beberapa hasil penelitian terkait MSDs menunjukkan bahwa bagian otot yang paling sering mengalami keluhan adalah otot pada bagian leher, bahu, punggung, pinggang, dan lengan.
18 Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:
a. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pemberian beban dihentikan sementara.
b. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun pemberian beban kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut. Keluhan otot biasanya terjadi karena kontraksi otot yang berlebihan dengan durasi yang cukup lama. 2.2.3. Gejala Musculoskeletal Disorders
Gejala yang dirasakan oleh tipe individu tidak sama, meskipun pekerjaan/ aktivitas yang dilakukan hampir sama. Macam-macam gejala dirasakan pekerja disebabkan karena faktor risiko MSDs yang memajan tubuhnya. Gejalanya antara lain: rasa nyeri/ sakit, pegal-pegal, mati rasa, gerakan menjadi lemah dan kaku, adanya rasa terbakar, kaku pada persendian, kemerahan bengkak dan hangat pada daerah yang dirasakan nyeri, kelelahan pada sebagian otot.
Adapun gejala-gejala MSDs yang biasa dirasakan oleh seseorang adalah:
a. Leher dan punggung terasa kaku
b. Bahu terasa nyeri, kaku, ataupun kehilangan fleksibelitas c. Tangan dan kaki terasa nyeri seperti tertusuk
d. Siku ataupun mata kaki mengalami sakit, bengkak, dan kaku
e. Tangan dan pergelangan tangan merasakan gejala sakit atau nyeri disertai bengkak.
19 g. Jari menjadi kehilangan mobilitasnya, kaku dan
kehilangan kekuatan serta kehilangan kepekaan.
h. Kaki dan tumit merasakan kesemutan, dingin, kaku ataupun sensasi rasa panas.
2.2.4. Diagnosa Kelainan Musculoskeletal Disorders Akibat Kerja Kelainan MSDs akibat kerja atau yang disebut WRMDs (Work Related Musculoskeletal Disorders) ada beberapa contoh, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Carpal Tunnel Syndrome (CTS)
Penyakit ini disebabkan karena tendon pada bagian carpal tunnel mengalami pembengkakan akibat memegang benda kerja/ perkakas dengan sangat erat, atau secara terus-menerus menekankan pergelangan tangan pada benda kerja yang keras. Gejala umum pada CTS ini adalah pergelangan tangan yang mati rasa, kebas, rasa terbakar, dan nyeri. Dalam beberapa kasus, bahkan timbul tonjolan otot di dasar ibu jari, telapak tangan yang kering dan memucat, serta keadaan tangan yang sulit digerakkan.
b. Low Back Pain (LBP)
Rasa sakit pada bagian tulang belakang, yaitu di daerah lumbosacral, pantat, dan paha yang disebabkan oleh kompresi pada bagian saraf, spasme otot, dan ligamentum otot. Gangguan pada tulang belakang bagian bawah ini diakibatkan oleh beban yang berat dengan postur yang buruk saat beraktivitas.
c. Sprain
Cedera akut pada persendian yang mengakibatkan robeknya kapsul sendi dan ligamen-ligamen disekeliling persendian. Penyebab terjadinya sprain adalah
20 terputusnya angkle sehingga ligamen-ligamen pada sisi lateral kaki menjadi robek.
d. Whisplash Injury
Ekstensi secara tiba-tiba pada bagian leher sehingga ligamen-ligamen dan jaringan sekitar vertebra cervicalis terkoyak.
e. Strain
Penggunaan yang berlebihan pada bagian otot sehingga menimbulkan robeknya otot atau perdarahan dan inflamasi ringan pada otot.
f. Hernia
Penyakit ini disebabkan oleh fleksi maksimal pada bagian lutut, pangkal paha dan tulang lumbal akibat mengangkat beban yang berlebihan
g. Tendinitis
Penyakit yang disebabkan oleh postur janggal dan pergerakan berulang dari sambungan tulang dan otot pada bagian pergelangan tangan, bahu, dan lengan bawah yang mengakibatkan inflamasi pada tendon.
2.2.5. Faktor Risiko Terjadinya Musculoskeletal Disorders
Berdasarkan studi yang dilakukan secara klinik, biomekanika, fisiologi, dan epidemiologi didapatkan kesimpulan bahwa terdapat dua faktor yang mnyebabkan terjadinya low back pain akibat bekerja yaitu:
a. Faktor Pekerjaan 1) Posisi kerja
Posisi kerja yang sering dilakukan oleh manusia dalam melakukan pekerjaan antara lain berdiri, duduk, membungkuk, jongkok, berjalan, dan lain-lain. Posisi kerja tersebut dilakukan tergantung dari kondisi dari
21 sistem kerja yang ada. Jika kondisi sistem kerjanya yang tidak sehat akan menyebabkan kecelakaan kerja, karena pekerja melakukan pekerjaan yang tidak aman. Sikap kerja yang salah, canggung, dan di luar kebiasaan akan menambah risiko cedera pada bagian sistem musculoskeletal.Sikap Kerja Membungkuk Salah satu sikap kerja yang tidak nyaman untuk diterapkan dalam pekerjaan adalah membungkuk. Posisi ini tidak menjaga kestabilan tubuh ketika bekerja. Pekerja mengalami keluhan nyeri pada bagian punggung bagian bawah (low back pain) bila dilakukan secara berulang dan periode yang cukup lama.
Sikap kerja membungkuk dapat menyebabkan “slipped disk”, bila diiringi dengan pengangkatan beban berlebih. Prosesnya sama dengan sikap kerja membungkuk, tetapi akibat tekanan yang berlebih menyebabkan ligamen pada sisi belakang lumbar rusak dan penekanan pembuluh syaraf. Kerusakan ini disebabkan oleh keluarnya material akibat desakan tulang belakang bagian lumbar.
2) Repetisi (pengulangan)
Pengulangan gerakan kerja dengan pola yang sama, hal ini dapat terlihat pada frekuensi pekerjaan yang tinggi, sehingga pekerja harus terus-menerus bekerja agar dapat menyesuaikan diri dengan sistem. Kegiatan yang tidak memerlukan banyak tenaga bisa mengakibatkan kerusakan otot jika aktivitas tersebut diulang cukup sering pada interval pendek.
22 3) Pekerjaan statis (statis exertions)
Pekerjaan statis merupakan pekerjaan yang menuntut seseorang tetap pada posisinya, perubahan posisi dalam bekerja akan menyebabkan pekerjaan terhenti. Pekerjaan statis ini memiliki risiko MSDs lebih besar dibandingkan pekerjaan dinamis karena postur tubuh statis berhubungan dengan menurunnya sirkulasi darah dan nutrisi pada jaringan otot.
4) Beban Kerja Fisik
Kerja fisik adalah kerja yang memerlukan energi fisik pada otot manusia yang akan berfungsi sebagai sumber tenaga. Pekerjaan yang memaksakan tenaga (forceful exertions) menggunakan tenaga besar dapat membebani otot, tendon, ligamen, dan sendi. Peregangan otot yang berlebih ini terjadi karena pengerahan tenaga yang diperlukan melampaui kekuatan optimum otot. Apabila hal serupa sering dilakukan, maka dapat mempertinggi risiko terjadinya keluhan otot, bahkan dapat menyebabkan cedera otot skeletal. Salah satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menilai sistem kardiovaskuler melaui denyut nadi dan tekanan darah.
b. Faktor Individu 1) Umur
Umur pada umumnya keluhan MSDs ini mulai dirasakan pada usia kerja yaitu antara 25 hingga 65 tahun. Hal ini disebabkan karena pada umur di atas 25 tahun, kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga meningkatkan risiko terjadinya keluhan MSDs.
23 2) Masa Kerja
Masa kerja dapat berupa masa kerja dalam suatu perusahaan dan masa kerja dalam suatu unit produksi. Semakin lama masa kerja seseorang dapat menyebabkan terjadinya kejenuhan pada daya tahan otot dan tulang secara fisik maupun secara psikis. Hal ini dikarenakan tingkat ketahanan otot yang sering digunakan untuk bekerja akan menurun seiring lamanya seseorang bekerja. Masa kerja sangat mempengaruhi risiko terjadinya MSDs terutama untuk jenis pekerjaan yang menggunakan kekuatan kerja yang tinggi karena masa kerja mempunyai hubungan yang kuat dengan keluhan otot.
3) Jenis Kelamin
Secara fisiologis kemampuan otot wanita memang lebih rendah daripada pria. Kekuatan otot wanita hanya sekitar dua per tiga dari kekuatan otot pria, sehingga daya otot pria pun lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Hasil penelitian Betti’e at al (1989) menunjukkan bahwa rerata kekuatan otot wanita kurang lebih hanya 60% kekuatan otot pria, khususnya untuk otot lengan, punnggung, dan kaki.
4) Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap wawasan dan cara pandangnya dalam menghadapi suatu masalah. Seseorang yang memilki tingkat pendidikan yang tinggi cenderung mengutamakan rasio saat menghadapi gagasan baru dibandingkan mereka dengan pendidikan yang lebih rendah. Hal ini merupakan cerminan kurangnya di dalam keterampilan dan pengetahuan pegawai yang
24 dapat diketahui dari penilaian kinerja. Berdasarkan penilaian kinerja, banyak diantara pegawai tidak mau mengikuti ketentuan yang sudah berlaku yang dapat disebabkan ketidaktahuan (ignorance) atau ketidakmauan (unwillingness).
5) Tingkat kesegaran jasmani
Tingkat kesegaran jasmani yang rendah akan menigkatkan risiko terjadinya keluhan otot. Bagi pekerja dengan kekuatan fisik yang rendah, risiko keluhan menjadi tiga kali lipat dibandingkan yang memiliki kekuatan fisik tinggi. Dengan berolahraga secara teratur dapat mencegah kegemukan dengan segala dampak negatifnya, menguatkan dan lebih mengefisienkan kinerja otot-otot tubuh, seperti otot jantung, otot pernafasan, dan otot-otot rangka tubuh, dan lebih melancarkan aliran darah ke dalam sel-sel tubuh, dan pembuangan bahan-bahan sisa dari sel-sel tubuh menjadi lebih baik.
6) Status Gizi
Status gizi juga berpengaruh terhadap keluhan nyeri pinggang, hal ini dapat dilihat apabila seseorang dengan kelebihan berat badan akan berusaha untuk menyangga berat badan dari depan dengan mengontraksikan otot punggung bawah. Dan bila ini berlanjut terus menerus, akan menyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang mengakibatkan kelelahan dan nyeri otot berat beban tubuh seseorang. Hal ini merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Status gizi pada seorang pekerja umur 18 tahun keatas ditandai dengan indeks masa tubuh. Indeks masa tubuh dapat
25 digunakan sebagai indikator kondisi status gizi pada pekerja.
Dengan menggunakan rumus berat badan dikali berat badan (kg), kemudian dibagi dengan tinggi badan (meter).
Tabel 2.1. Klasifikasi IMT Dewasa Kategori IMT Klasifikasi
< 17,0 Kurus (kekurangan berat badan tingkat berat)
17,0 – 18,4 Kurus (kekurangan berat badan tingkat ringan)
18,5 – 25,0 Normal
25,1 – 27,0 Kegemukan (kelebihan berat badan tingkat berat)
Sumber : Depkes RI 2003
7) Kebiasaan Merokok
Kebiasaan merokok dapat menurunkan kapasitas paru sehingga kemampuan pekerja untuk menghirup oksigen pun menurun. Akibatnya suplai oksigen ke otot berkurang dan produksi energi terhambat, kemudian terjadi penumpukan asam laktat di dalam otot, yang menyebabkan kekuatan dan ketahanan otot menurun serta menimbulkan rasa lelah hingga nyeri pada otot.
2.3. Keterkaitan antara Ergonomi dengan Musculoskeletal Disorders
Ergonomi berkaitan dengan anatomi manusia, dan beberapa antropometri, karakteristik mekanik fisiologis, dan biologi yang
26
berkaitan dengan aktivitas fisik. Prinsip-prinsip ergonomi telah banyak digunakan dalam desain dari konsumen dan produk industri.Ergonomi penting di bidang medis, khususnya mereka yang
didiagnosis dengan penyakit fisiologis atau gangguan seperti myalgia
(nyeri otot) dan arthritis (radang sendi) baik kronis maupun
sementara. Tekanan yang tidak signifikan atau tidak terlihat bagi mereka terpengaruh oleh gangguan ini mungkin sangat menyakitkan atau membuat perangkat tidak dapat digunakan. Banyak produk yang dirancang ergonomis juga digunakan atau direkomendasikan untuk mengobati atau mencegah gangguan tersebut, dan untuk mengobati tekanan terkait nyeri kronis.
Salah satu jenis yang paling umum dari cedera yang
berhubungan dengan pekerjaan adalah gangguan
muskuloskeletal. Gangguan muskuloskeletal disorders yang
berhubungan dengan pekerjaan (WRMDs) mengakibatkan nyeri persisten, kehilangan kapasitas fungsional dan bekerja cacat, tetapi diagnosis awal mereka sulit karena mereka terutama didasarkan pada keluhan nyeri dan gejala lainnya. Setiap tahun pengalaman 1,8 juta pekerja AS WRMDs dan hampir 600.000 dari cedera yang cukup serius untuk menyebabkan pekerja kehilangan pekerjaan. Pekerjaan tertentu atau kondisi kerja menyebabkan lebih tinggi keluhan pekerja tingkat ketegangan yang tidak semestinya, kelelahan lokal, ketidaknyamanan, atau sakit yang tidak hilang setelah beristirahat semalam. Jenis pekerjaan seringkali yang melibatkan kegiatan seperti pengerahan tenaga berulang dan kuat, frekuensi yang sering,
beban yang berat, overhead lift; posisi kerja janggal, atau
penggunaan peralatan bergetar. OSHA telah menemukan bukti substansial bahwa program ergonomi dapat memotong biaya kompensasi pekerja, meningkatkan produktivitas dan mengurangi pergantian karyawan. Oleh karena itu, penting untuk mengumpulkan data untuk mengidentifikasi pekerjaan atau kondisi kerja yang paling
27
bermasalah, dengan menggunakan sumber-sumber seperti cedera
dan diagnosa penyakit, catatan medis, dan analisis pekerjaan.19
2.4. Metode Pengukuran Ergonomi Terkait Musculoskeletal Disorders
2.4.1. Penilaian Keluhan MSDs dengan NBM
NIOSH Nordic Body Map merupakan metode yang digunakan untuk melakukan evaluasi ergonomi dalam suatu bentuk kuisioner dengan menggunakan lembar kerja berupa peta tubuh (body map). Metode ini dikembangkan oleh Nordic Council Ministers dan bertujuan untuk mengukur gejala dan faktor risiko MSDs. Dengan kuisioner NBM ini dapat diketahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan.
Dalam aplikasinya, metode NBM merupakan cara yang sangat sederhana, mudah dipahami, murah, dan memerlukan waktu yang sangat singkat per individu. Observer dapat langsung menanyakan kepada responden pada otot-otot skeletal bagian mana saja yang mengalami gangguan kenyerian/ sakit, atau dengan menunjuk langsung pada setiap otot skeletal sesuai yang tercantum dalam lembar kerja kuisioner gambar tubuh manusia yang sudah dibagi menjadi 9 bagian utama, yaitu:
28 Gambar 2.2. NIOSH Nordic Body Map
Sumber : Kroemer 200120
2.4.2. Penilaian Posisi Kerja dengan REBA
REBA atau Rapid Entire Body Assessment dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn Mc Atamney yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of Nottingham’s Institute of Occuptaional Ergonomic). Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan pergelangan tangan dan kaki seorang operator. Selain itu metode ini juga dipengaruhi faktor coupling, beban eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktifitas pekerja. Penilaian dengan menggunakan REBA tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melengkapi dan melakukan scoring general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya pengurangan resiko yang diakibatkan postur kerja operator (Mc Atamney, 2000). Metode ergonomi tersebut mengevaluasi postur, kekuatan, aktivitas dan faktor coupling yang menimbulkan cidera akibat
Leher Bahu Punggung Atas Siku Punggung Bawah Pergelangan Tangan Paha Lutut Tungkai / kaki
29 aktivitas yang berulang–ulang. Penilaian postur kerja dengan metode ini dengan cara pemberian skor resiko antara satu sampai lima belas, yang mana skor yang tertinggi menandakan level yang mengakibatkan resiko yang besar (bahaya) untuk dilakukan dalam bekerja. Hal ini berarti bahwa skor terendah akan menjamin pekerjaan yang diteliti bebas dari ergonomic hazard. REBA dikembangkan untuk mendeteksi postur kerja yang beresiko dan melakukan perbaikan sesegera mungkin. REBA dikembangkan tanpa membutuhkan piranti khusus. Ini memudahkan peneliti untuk dapat dilatih dalam melakukan pemeriksaan dan pengukuran tanpa biaya peralatan tambahan. Pemeriksaan REBA dapat dilakukan di tempat yang terbatas tanpa menggangu pekerja. Pengembangan REBA terjadi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto, tahap kedua adalah penentuan sudut–sudut dari bagian tubuh pekerja, tahap ketiga adalah penentuan berat benda yang diangkat, penentuan coupling, dan penentuan aktivitas pekerja. Dan yang terakhir, tahap keempat adalah perhitungan nilai REBA untuk postur yang bersangkutan. Dengan didapatnya nilai REBA tersebut dapat diketahui level resiko dan kebutuhan akan tindakan yang perlu dilakukan untuk perbaikan kerja. Penilaian postur dan pergerakan kerja menggunakan metode REBA melalui tahapan–tahapan sebagai berikut (Hignett dan McAtamney, 2000) :
1. Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto. Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher, punggung, lengan, pergelangan tangan hingga kaki secara terperinci dilakukan dengan merekam atau memotret postur tubuh
30 pekerja. Hal ini dilakukan supaya peneliti mendapatkan data postur tubuh secara detail (valid), sehingga dari hasil rekaman dan hasil foto bisa didapatkan data akurat untuk tahap perhitungan serta analisis selanjutnya.
2. Penentuan sudut–sudut dari bagian tubuh pekerja. Setelah didapatkan hasil rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja dilakukan perhitungan besar sudut dari masing – masing segmen tubuh yang meliputi punggung (batang tubuh), leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan kaki. Pada metode REBA segmen – segmen tubuh tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu grup A dan B. Grup A meliputi punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sementara grup B meliputi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Dari data sudut segmen tubuh pada masing–masing grup dapat diketahui skornya, kemudian dengan skor tersebut digunakan untuk melihat tabel A untuk grup A dan tabel B untuk grup B agar diperoleh skor untuk masing–masing tabel.
Gambar 2.3. Postur Tubuh Bagian Punggung
31
Gambar 2.4. Postur Tubuh Bagian Leher
Sumber: Mc. Atamney and Hignett 2000) Based on REBA.
Gambar 2.5. Postur Tubuh Bagian Kaki
32
Gambar 2.6 Postur Tubuh Lengan Bawah
Sumber: Mc. Atamney and Hignett 2000) Based on REBA.
Gambar 2.5. Postur Tubuh Lengan Bawah
33
Gambar 2.5. Postur Tubuh Pergelangan Tangan
Sumber: Mc. Atamney and Hignett 2000) Based on REBA.
2.4.3. Pengukuran Beban Kerja
Setiap aktivitas kerja fisik yang dilakukan akan mengakibatkan terjadinya suatu perubahan fungsi pada alat-alat tubuh terutama pada sistem kardiovaskuler. Sistem kardiovaskuler juga dikenal sebagai sistem peredaran darah adalah sistem dari tubuh yang terdiri dari jantung, darah, dan pembuluh darah. Mengingat sistem kardiovaskuler menggerakkan darah ke seluruh tubuh, sehingga sel-sel akan menerima oksigen dan nutrisi. Pemeriksaan denyut nadi dan pengukuran tekanan darah merupakan faktor yang dapat dipakai sebagai indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler
a. Denyut Nadi
Denyut nadi adalah denyutan arteri dari gelombang darah yang mengalir melalui pembuluh darah sebagai akibat dari denyutan jantung. Kecepatan denyut jantung
34 memilki hubungan yang sangat erat dengan aktifitas fungsi faal apada manusia. Beban kerja fisik yang terpapar pada tenaga kerja dapat diukur secara objektif salah satunya dengan cara menghitung denyut nadi selama bekerja. Denyut nadi merupakan respon fisiologis yang dapat dihitung secara praktis pada saat ingin mengetahui beban kerja seseorang, karena untuk mengetahui jumlah denyut nadi per menit cukup dilakukan dengan meraba pada radialis dengan teknik palpasi atau dengan alat pulsemonitor. Parameter fisiologis dengan denyut nadi per menit tersebut lazim digunakan sebagai indikator penilaian beban kerja karena proses pengukurannya sederhana, biaya murah dan tidak terlalu banyak mengganggu pekerja.
Denyut nadi dapat digunakan untuk memprediksi atau sebagai indikator penilaian beban kerja seseorang, yaitu dengan mengkonversikan pada tabel kategori beban kerja. Menurut Christensen (1991) dengan menghitung frekuensi denyut nadi per menit, seperti dapat dilihat pada tabel 2.16.
Tabel 2.16. Klasifikasi Frekuensi Denyut Nadi Kerja
No Denyut Nadi Kerja
(Denyut Per Menit) Kategori Beban Kerja 1 60 – 70 Sangat ringan = Istirahat
2 75 – 100 Ringan 3 100 – 125 Sedang 4 125 – 150 Berat 5 150 – 175 Sangat berat 6 > 175 Ekstrim Sumber : Christensen.1991
35 Cara untuk mengetahui denyut nadi dengan metode palpasi dilakukan dengan diraba pada:
1) Pergelangan tangan dibagian depan sebelah atas pangkal ibu jari (arteri radialis)
2) Leher sebelah kiri atau kanan di depan otot sterno cleido mastoideus (arteri carotis),
3) Dada sebelah kiri tepat di apex jantung (arteri temporalis).
Denyut nadi yang dihitung adalah denyut nadi kerja yang merupakan rerata denyut nadi selama bekerja. Cara menghitung denyut nadi secara manual dengan teknik palpasi dapat dilakukan dengan cara:
1) Denyut nadi dihitung selama 10 detik hasilnya dikalikan 6
2) Denyut nadi dihitung selama 15 detik hasilnya dikalikan 4
3) Denyut nadi dihitung selama 30 detik hasilnya dikalikan 2.
Selain dengan cara manual berupa palpasi, pengukuran denyut nadi juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat pulsemeter, dengan metode auskultasi menggunakan stetoskop, metode elektrokardiografi (EKG), metode spor tester.
b. Pengukuran Tekanan Darah
Tekanan darah merupakan tenaga yang dipompakan dari jantung untuk melawan tahanan pembuluh darah atau sejumlah tenaga yang dibutuhkan untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh. Sepanjang hari, tekanan darah akan berubah-ubah tergantung dari aktivitas tubuh.23
36 Perubahan pada sistem kardiovaskuler misalnya arteri yang kehilangan elastisitasnya, dinding aorta yang menurun elastisitasnya, tetapi pada katup jantung justru menebal dan menjadi kekakuan. Hal ini dapat menyebabkan kemampuan jantung memompa darah menurun sehingga menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya, peningkatan nadi dan tekanan sistolik. darah. Tekanan darah yang meningkat biasanya akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Dalam pengukuran tekanan darah dikenal dua jenis tekanan darah:
1) Tekanan darah sistol, yaitu tekanan tertinggi yang terjadi saat ventrikel berkontraksi dan
2) Tekanan darah diastol, yaitu tekanan terendah yang terjadi saat jantung berada dalam fase relaksasi.
Menurut WHO bahwa tekanan darah dalam keadaan normal, jika tekanan darah sistol kurang atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah diastol kurang atau sama dengan 90 mmHg. Di kalangan medis alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah disebut sphygmomanometer, sedangkan di masyarakat lazim disebut dengan tensimeter. Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan darah pada pembuluh arteri perifer.
Persiapan pengukuran tekanan darah yaitu:
1) Pastikan responden duduk dengan posisi kaki tidak menyilang tetapi kedua telapak kaki datar menyentuh lantai.
2) Letakkan lengan kanan responden di atas meja sehinga mancet yang sudah terpasang sejajar dengan jantung responden.
3) Singsingkan lengan baju pada lengan bagian kanan responden dan memintanya untuk tetap duduk tanpa
37 banyak gerak, dan tidak berbicara pada saat pengukuran.
4) Apabila responden tidak bisa duduk, pengukuran dapat dilakukan dengan posisi berbaring, dan catat kondisi tersebut di lembar catatan.
5) Apabila responden menggunakan baju berlengan panjang, singsingkan lengan baju ke atas tetapi pastikan lipatan baju tidak terlalu ketat sehingga tidak menghambat aliran darah di lengan.
6) Biarkan lengan dalam posisi tidak tegang dengan telapak tangan terbuka ke atas. Pastikan tidak ada lekukan pada pipa mancet.
Gambar 2.10. Tensimeter Air Raksa
Cara pengukuran tekanan darah dengan menggunakan tensimeter air raksa adalah yaitu pada lengan atas dan selangnya dipasang tepat pada pembuluh arteri, selain itu, juga dipasang stetoskop pada pangkal siku bagian dalam. Kemudian dipompa sampai pada tekanan 150 mmHg dan selanjutnya diturunkan secara perlahan sambil memdengarkan bunyi detakan pada stetoskop. Bunyi detakan atau 'dug' yang pertama kali terdengar adalah merupakan
38 tanda tekanan darah sistol dan dari sini terus akan terdengar bunyi 'dug' yang semakin melemah sampai hilang. Tepat pada saat bunyi 'dug' menghilang adalah tanda dari tekanan darah diastol. Pengukuran dilakukan 2 kali berturut-turut dengan interval 2 menit. Apabila terdapat selisih tekanan darah >10 mmHg pada pengukuran ke 1 dan ke 2 baik pada sistol dan atau pada diastol, kembali perlu
2.5. Profil PT. Harmoni Panca Utama 2.5.1 Sejarah PT. HPU
PT Harmoni Panca Utama. (HPU) adalah perusahaan yang didirikan tanggal 25 Januari 2011 berfokus pada pelayanan jasa kontraktor tambang. Komposisi pemegang saham HPU adalah sinergi antara dua perusahaan dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda:
1) PT. Harita Mitra Sentosa, perusahaan yang berfokus dibidang pertambangan dengan struktur keuangan yang kuat;
2) PT Panca Sejahtera Mandiri, perusahaan dengan kompetensi yang kuat pada penyediaan layanan pertambangan.
Meskipun perusahaan ini masih terbilang baru, manajemen HPU mempunyai keyakinan akan tumbuh dan berkembang secara sejajar dengan perkembangan industri di Indonesia, karena dikelola oleh personil berpengalaman dengan standar kualitas yang diterima di seluruh dunia dalam jasa pertambangan. PT HPU sangat menyadari bahwa peran penting dalam perkembangan perusahaan adalah sumber daya manusia. Oleh karena itu, HPU berkomitmen dan bertanggung jawab untuk mengoptimalkan serta meningkatkan kompetensi para personil, sikap moral, dan keterampilan yang tinggi sesuai dengan tanggung jawabnya.
39 PT HPU akan memberikan jasa penambangan yang handal, terpadu, dan pelayanan terbaik berdasarkan prinsip dan praktik pertambangan yang mana pelanggan akan merasa puas serta aman juga akan dibantu oleh keberadaan kita dalam business portfolio pelanggan.
2.5.2 Visi, Misi, dan Nilai Inti PT. HPU Visi
“To Be the First Class Total Mining Services Solution.” (Untuk menjadi kelas pertama dalam total solusi pelayanan pertambangan.)
Misi
“To Provide Reliable Green Mining Services through HSE Excellence, Operation Excellence, People Excellence and Proper Community Development implementation.” (Untuk memberikan pelayanan pertambangan hijau yang handal berdasarkan keunggulan dari HSEM operasi, dan sumber daya serta implementasi pembangunan komunitas yang tepat).
Nilai 1) Integritas
Ada kesamaan antara perilaku dan ucapan berdasarkan pada kebenaran hakiki dari dasar lubuk hati paling dalam diri individu.
2) Kerja Keras
Untuk mencapai goals & objectives segala aspek perusahaan dituntut bekerja keras, karena tanpa kerja keras tidak akan tercapai goals & objectives tersebut.
3) Kerja Cerdas
High attitude, pengetahuan dan kemampuan yang tinggi diperlukan untuk mendukung pencapaian dari visi dan misi perusahaan.