• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ergonomi

2.4. Metode Pengukuran Ergonomi Terkait Musculoskeletal Disorders

2.4.1. Penilaian Keluhan MSDs dengan NBM

NIOSH Nordic Body Map merupakan metode yang digunakan untuk melakukan evaluasi ergonomi dalam suatu bentuk kuisioner dengan menggunakan lembar kerja berupa peta tubuh (body map). Metode ini dikembangkan oleh Nordic Council Ministers dan bertujuan untuk mengukur gejala dan faktor risiko MSDs. Dengan kuisioner NBM ini dapat diketahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan.

Dalam aplikasinya, metode NBM merupakan cara yang sangat sederhana, mudah dipahami, murah, dan memerlukan waktu yang sangat singkat per individu. Observer dapat langsung menanyakan kepada responden pada otot-otot skeletal bagian mana saja yang mengalami gangguan kenyerian/ sakit, atau dengan menunjuk langsung pada setiap otot skeletal sesuai yang tercantum dalam lembar kerja kuisioner gambar tubuh manusia yang sudah dibagi menjadi 9 bagian utama, yaitu:

28

Gambar 2.2. NIOSH Nordic Body Map

Sumber : Kroemer 200120 2.4.2. Penilaian Posisi Kerja dengan REBA

REBA atau Rapid Entire Body Assessment dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn Mc Atamney yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of Nottingham’s Institute of Occuptaional Ergonomic). Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan pergelangan tangan dan kaki seorang operator. Selain itu metode ini juga dipengaruhi faktor coupling, beban eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktifitas pekerja. Penilaian dengan menggunakan REBA tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melengkapi dan melakukan scoring general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya pengurangan resiko yang diakibatkan postur kerja operator (Mc Atamney, 2000). Metode ergonomi tersebut mengevaluasi postur, kekuatan, aktivitas dan faktor coupling yang menimbulkan cidera akibat

Leher Bahu Punggung Atas Siku Punggung Bawah Pergelangan Tangan Paha Lutut Tungkai / kaki

29

aktivitas yang berulang–ulang. Penilaian postur kerja dengan metode ini dengan cara pemberian skor resiko antara satu sampai lima belas, yang mana skor yang tertinggi menandakan level yang mengakibatkan resiko yang besar (bahaya) untuk dilakukan dalam bekerja. Hal ini berarti bahwa skor terendah akan menjamin pekerjaan yang diteliti bebas dari ergonomic hazard. REBA dikembangkan untuk mendeteksi postur kerja yang beresiko dan melakukan perbaikan sesegera mungkin. REBA dikembangkan tanpa membutuhkan piranti khusus. Ini memudahkan peneliti untuk dapat dilatih dalam melakukan pemeriksaan dan pengukuran tanpa biaya peralatan tambahan. Pemeriksaan REBA dapat dilakukan di tempat yang terbatas tanpa menggangu pekerja. Pengembangan REBA terjadi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto, tahap kedua adalah penentuan sudut–sudut dari bagian tubuh pekerja, tahap ketiga adalah penentuan berat benda yang diangkat, penentuan coupling, dan penentuan aktivitas pekerja. Dan yang terakhir, tahap keempat adalah perhitungan nilai REBA untuk postur yang bersangkutan. Dengan didapatnya nilai REBA tersebut dapat diketahui level resiko dan kebutuhan akan tindakan yang perlu dilakukan untuk perbaikan kerja. Penilaian postur dan pergerakan kerja menggunakan metode REBA melalui tahapan–tahapan sebagai berikut (Hignett dan McAtamney, 2000) :

1. Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto. Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher, punggung, lengan, pergelangan tangan hingga kaki secara terperinci dilakukan dengan merekam atau memotret postur tubuh

30

pekerja. Hal ini dilakukan supaya peneliti mendapatkan data postur tubuh secara detail (valid), sehingga dari hasil rekaman dan hasil foto bisa didapatkan data akurat untuk tahap perhitungan serta analisis selanjutnya.

2. Penentuan sudut–sudut dari bagian tubuh pekerja. Setelah didapatkan hasil rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja dilakukan perhitungan besar sudut dari masing – masing segmen tubuh yang meliputi punggung (batang tubuh), leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan kaki. Pada metode REBA segmen – segmen tubuh tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu grup A dan B. Grup A meliputi punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sementara grup B meliputi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Dari data sudut segmen tubuh pada masing–masing grup dapat diketahui skornya, kemudian dengan skor tersebut digunakan untuk melihat tabel A untuk grup A dan tabel B untuk grup B agar diperoleh skor untuk masing–masing tabel.

Gambar 2.3. Postur Tubuh Bagian Punggung

31 Gambar 2.4. Postur Tubuh Bagian Leher

Sumber: Mc. Atamney and Hignett 2000) Based on REBA.

Gambar 2.5. Postur Tubuh Bagian Kaki

32 Gambar 2.6 Postur Tubuh Lengan Bawah

Sumber: Mc. Atamney and Hignett 2000) Based on REBA.

Gambar 2.5. Postur Tubuh Lengan Bawah

33 Gambar 2.5. Postur Tubuh Pergelangan Tangan

Sumber: Mc. Atamney and Hignett 2000) Based on REBA.

2.4.3. Pengukuran Beban Kerja

Setiap aktivitas kerja fisik yang dilakukan akan mengakibatkan terjadinya suatu perubahan fungsi pada alat-alat tubuh terutama pada sistem kardiovaskuler. Sistem kardiovaskuler juga dikenal sebagai sistem peredaran darah adalah sistem dari tubuh yang terdiri dari jantung, darah, dan pembuluh darah. Mengingat sistem kardiovaskuler menggerakkan darah ke seluruh tubuh, sehingga sel-sel akan menerima oksigen dan nutrisi. Pemeriksaan denyut nadi dan pengukuran tekanan darah merupakan faktor yang dapat dipakai sebagai indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler

a. Denyut Nadi

Denyut nadi adalah denyutan arteri dari gelombang darah yang mengalir melalui pembuluh darah sebagai akibat dari denyutan jantung. Kecepatan denyut jantung

34

memilki hubungan yang sangat erat dengan aktifitas fungsi faal apada manusia. Beban kerja fisik yang terpapar pada tenaga kerja dapat diukur secara objektif salah satunya dengan cara menghitung denyut nadi selama bekerja. Denyut nadi merupakan respon fisiologis yang dapat dihitung secara praktis pada saat ingin mengetahui beban kerja seseorang, karena untuk mengetahui jumlah denyut nadi per menit cukup dilakukan dengan meraba pada radialis dengan teknik palpasi atau dengan alat pulsemonitor. Parameter fisiologis dengan denyut nadi per menit tersebut lazim digunakan sebagai indikator penilaian beban kerja karena proses pengukurannya sederhana, biaya murah dan tidak terlalu banyak mengganggu pekerja.

Denyut nadi dapat digunakan untuk memprediksi atau sebagai indikator penilaian beban kerja seseorang, yaitu dengan mengkonversikan pada tabel kategori beban kerja. Menurut Christensen (1991) dengan menghitung frekuensi denyut nadi per menit, seperti dapat dilihat pada tabel 2.16.

Tabel 2.16. Klasifikasi Frekuensi Denyut Nadi Kerja

No Denyut Nadi Kerja

(Denyut Per Menit) Kategori Beban Kerja 1 60 – 70 Sangat ringan = Istirahat

2 75 – 100 Ringan 3 100 – 125 Sedang 4 125 – 150 Berat 5 150 – 175 Sangat berat 6 > 175 Ekstrim Sumber : Christensen.1991

35

Cara untuk mengetahui denyut nadi dengan metode palpasi dilakukan dengan diraba pada:

1) Pergelangan tangan dibagian depan sebelah atas pangkal ibu jari (arteri radialis)

2) Leher sebelah kiri atau kanan di depan otot sterno cleido mastoideus (arteri carotis),

3) Dada sebelah kiri tepat di apex jantung (arteri temporalis).

Denyut nadi yang dihitung adalah denyut nadi kerja yang merupakan rerata denyut nadi selama bekerja. Cara menghitung denyut nadi secara manual dengan teknik palpasi dapat dilakukan dengan cara:

1) Denyut nadi dihitung selama 10 detik hasilnya dikalikan 6

2) Denyut nadi dihitung selama 15 detik hasilnya dikalikan 4

3) Denyut nadi dihitung selama 30 detik hasilnya dikalikan 2.

Selain dengan cara manual berupa palpasi, pengukuran denyut nadi juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat pulsemeter, dengan metode auskultasi menggunakan stetoskop, metode elektrokardiografi (EKG), metode spor tester.

b. Pengukuran Tekanan Darah

Tekanan darah merupakan tenaga yang dipompakan dari jantung untuk melawan tahanan pembuluh darah atau sejumlah tenaga yang dibutuhkan untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh. Sepanjang hari, tekanan darah akan berubah-ubah tergantung dari aktivitas tubuh.23

36

Perubahan pada sistem kardiovaskuler misalnya arteri yang kehilangan elastisitasnya, dinding aorta yang menurun elastisitasnya, tetapi pada katup jantung justru menebal dan menjadi kekakuan. Hal ini dapat menyebabkan kemampuan jantung memompa darah menurun sehingga menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya, peningkatan nadi dan tekanan sistolik. darah. Tekanan darah yang meningkat biasanya akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

Dalam pengukuran tekanan darah dikenal dua jenis tekanan darah:

1) Tekanan darah sistol, yaitu tekanan tertinggi yang terjadi saat ventrikel berkontraksi dan

2) Tekanan darah diastol, yaitu tekanan terendah yang terjadi saat jantung berada dalam fase relaksasi.

Menurut WHO bahwa tekanan darah dalam keadaan normal, jika tekanan darah sistol kurang atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah diastol kurang atau sama dengan 90 mmHg. Di kalangan medis alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah disebut sphygmomanometer, sedangkan di masyarakat lazim disebut dengan tensimeter. Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan darah pada pembuluh arteri perifer.

Persiapan pengukuran tekanan darah yaitu:

1) Pastikan responden duduk dengan posisi kaki tidak menyilang tetapi kedua telapak kaki datar menyentuh lantai.

2) Letakkan lengan kanan responden di atas meja sehinga mancet yang sudah terpasang sejajar dengan jantung responden.

3) Singsingkan lengan baju pada lengan bagian kanan responden dan memintanya untuk tetap duduk tanpa

37

banyak gerak, dan tidak berbicara pada saat pengukuran.

4) Apabila responden tidak bisa duduk, pengukuran dapat dilakukan dengan posisi berbaring, dan catat kondisi tersebut di lembar catatan.

5) Apabila responden menggunakan baju berlengan panjang, singsingkan lengan baju ke atas tetapi pastikan lipatan baju tidak terlalu ketat sehingga tidak menghambat aliran darah di lengan.

6) Biarkan lengan dalam posisi tidak tegang dengan telapak tangan terbuka ke atas. Pastikan tidak ada lekukan pada pipa mancet.

Gambar 2.10. Tensimeter Air Raksa

Cara pengukuran tekanan darah dengan menggunakan tensimeter air raksa adalah yaitu pada lengan atas dan selangnya dipasang tepat pada pembuluh arteri, selain itu, juga dipasang stetoskop pada pangkal siku bagian dalam. Kemudian dipompa sampai pada tekanan 150 mmHg dan selanjutnya diturunkan secara perlahan sambil memdengarkan bunyi detakan pada stetoskop. Bunyi detakan atau 'dug' yang pertama kali terdengar adalah merupakan

38

tanda tekanan darah sistol dan dari sini terus akan terdengar bunyi 'dug' yang semakin melemah sampai hilang. Tepat pada saat bunyi 'dug' menghilang adalah tanda dari tekanan darah diastol. Pengukuran dilakukan 2 kali berturut-turut dengan interval 2 menit. Apabila terdapat selisih tekanan darah >10 mmHg pada pengukuran ke 1 dan ke 2 baik pada sistol dan atau pada diastol, kembali perlu

2.5. Profil PT. Harmoni Panca Utama 2.5.1 Sejarah PT. HPU

PT Harmoni Panca Utama. (HPU) adalah perusahaan yang didirikan tanggal 25 Januari 2011 berfokus pada pelayanan jasa kontraktor tambang. Komposisi pemegang saham HPU adalah sinergi antara dua perusahaan dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda:

1) PT. Harita Mitra Sentosa, perusahaan yang berfokus dibidang pertambangan dengan struktur keuangan yang kuat;

2) PT Panca Sejahtera Mandiri, perusahaan dengan kompetensi yang kuat pada penyediaan layanan pertambangan.

Meskipun perusahaan ini masih terbilang baru, manajemen HPU mempunyai keyakinan akan tumbuh dan berkembang secara sejajar dengan perkembangan industri di Indonesia, karena dikelola oleh personil berpengalaman dengan standar kualitas yang diterima di seluruh dunia dalam jasa pertambangan. PT HPU sangat menyadari bahwa peran penting dalam perkembangan perusahaan adalah sumber daya manusia. Oleh karena itu, HPU berkomitmen dan bertanggung jawab untuk mengoptimalkan serta meningkatkan kompetensi para personil, sikap moral, dan keterampilan yang tinggi sesuai dengan tanggung jawabnya.

39

PT HPU akan memberikan jasa penambangan yang handal, terpadu, dan pelayanan terbaik berdasarkan prinsip dan praktik pertambangan yang mana pelanggan akan merasa puas serta aman juga akan dibantu oleh keberadaan kita dalam business portfolio pelanggan.

2.5.2 Visi, Misi, dan Nilai Inti PT. HPU Visi

“To Be the First Class Total Mining Services Solution.” (Untuk menjadi kelas pertama dalam total solusi pelayanan pertambangan.)

Misi

“To Provide Reliable Green Mining Services through HSE Excellence, Operation Excellence, People Excellence and Proper Community Development implementation.” (Untuk memberikan pelayanan pertambangan hijau yang handal berdasarkan keunggulan dari HSEM operasi, dan sumber daya serta implementasi pembangunan komunitas yang tepat).

Nilai 1) Integritas

Ada kesamaan antara perilaku dan ucapan berdasarkan pada kebenaran hakiki dari dasar lubuk hati paling dalam diri individu.

2) Kerja Keras

Untuk mencapai goals & objectives segala aspek perusahaan dituntut bekerja keras, karena tanpa kerja keras tidak akan tercapai goals & objectives tersebut.

3) Kerja Cerdas

High attitude, pengetahuan dan kemampuan yang tinggi diperlukan untuk mendukung pencapaian dari visi dan misi perusahaan.

40

4) Kerja Tuntas

Perusahaan tidak mentoleransi adanya ketidakefisiensi, pekerjaan harus diselesaikan secara menyeluruh.

5) Kerja Ikhlas

Keikhlasan adalah penghargaan tertinggi untuk mencapai penghargaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa dimana hal tersebut menjadi kebutuhan spiritual para pekerja

2.5.3 Lokasi Kerja dan Wilayah Operasi

Saat ini HPU menangani proyek – proyek potensial yang akan menjadi dasar dari pengembangan bisnis perusahaan, yaitu:

1) PT Tanito Harum (PKP2B)

Sebuah perusahaan pertambangan yang terkenal dan terkemuka yang terletak di site Pondok Labu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Jangka waktu kontrak selama periode lima (5) tahun.

2) PT Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKP2B)

Sebuah perusahaan pertambangan terkemuka yang merupakan anak perusahaan dari PT Bhakti Energi Persada, terletak di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Jangka waktu kontrak selama periode lima (5) tahun.

3) PT Tambang Damai (PKP2B Gen. III)

Sebuah perusahaan pertambangan batu bara, anak perusahaan dari PT Tanito Harum yang terletak di Kabupaten Kutai Timur. Jangka waktu kontrak selama periode lima (5) tahun.

41

Dokumen terkait