• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.5. Hubungan Karakteristik Individu dengan Keluhan MSDs

Karakteristik demografi yang dilakukan perhitungan statistik meliputi umur, pendidikan, status gizi, dan kebiasaan merokok. Sedangkan untuk variabel jenis kelamin tidak dapat dilakukan perhitungan statistik karena sebaran datanya homogen, yaitu seluruhnya adalah laki-laki. a. Umur

Hasil uji statistik mencatat nilai p = 0,169 (p > 0,05) maka H0 diterima, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang

0 1 2 3 4 5 6 7

59

bermakna antara umur dengan keluhan MSDs. Hal ini disebabkan karena perusahaan tidak mengadakan penerimaan karyawan baik teknisi ataupun staff selama 3 tahun pada kurun waktu tahun 2013 hingga 2015. Sehingga kondisi ini menyebabkan sebaran distribusi umur yang tidak normal, dimana umur responden lebih dominan pada usia <30 tahun, sedangkan sebaran usia >30 tahun sangat sedikit.

Selanjutnya, pada pekerja dengan usia yang lebih tua objek pekerjaan greasing dilakukan oleh pekerja yang masih muda sehingga durasi kerja lebih sedikit tidak sampai memakan waktu 1 jam untuk greasing dan tidak sampai 3 jam untuk proses pelumasan. Selain itu, pada pekerja dengan usia yang lebih tua cenderung sangat jarang diberikan lembur kerja dariapada pekerja dengan usia yang lebih muda. Hal ini disebabkan karena kebijakan perusahaan yang mengutamakan kesempatan lembur kerja pada pekerja dengan usia yang lebih muda. Selain itu, dari sisi ekonomi jelas pekerja dengan usia yang lebih tua dan memilki masa kerja yang lama cenderung memilki penghasilan lebih besar daripada pekerja usia muda. Sehingga pada pekerja dengan usia yang lebih tua tidak tertarik dengan lembur kerja. Rincian selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.19.

60

Tabel 4.19. Hubungan Umur dengan Keluhan MSDs

Umur Keluhan MSDs P PR 95% CI Ya Tidak Jumlah > 27 tahun 4 0 4 0,169 1,670 0,826 – 3,380 ≤ 27 tahun 3 5 8 Jumlah 7 5 12 b. Pendidikan

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,229, karena nilai p > 0,05 maka H0 diterima, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan keluhan Musculoskeletal disorders. Adapun yang menyebabkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan tingkat keluhan nyeri otot skeletal ini adalah karena jumlah pekerja yang memilki tingakat pendidikan D3/ Perguruan Tinggi ini hanya sebanyak 1 orang dengan usianya 20 tahun. Dengan usia yang dini ini, tentu frekuensi melakukan pekerjaan Greasing ini masih sangat sedikit dibandingkan dengan pekerja SMA/ SMK dengan usia yang lebih tua, sehingga pekerja dengan pendidikan D3/ Perguruan Tinggi ini masih kurang terampil dalam menghadapi bahaya ergonomi dari pekerjaan greasing ini. Rincian selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.20.

Tabel 4.20. Hubungan Pendidikan dengan Keluhan MSDs

Pendidikan Keluhan MSDs P PR 95% CI Ya Tidak Jumlah SMA/ SMK 6 5 11 0,229 0,483 0,331 – 0,704 Perguruan Tinggi 1 0 1 Jumlah 7 5 32

61

c. Status Gizi

Berdasarkan perhitungan dari uji statistik ini diperoleh nilai p = 0,038, karena nilai p < 0,05 maka H0 ditolak, artinya ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan keluhan Musculoskeletal disorders. Kemudian nilai PR= 2,545 ini menunjukkan bahwa pekerja yang mengalami obesitas memiliki kecenderungan 2,545 kali lebih besar mengalami keluhan Musculoskeletal disorders daripada kelompok yang tidak mengalami obesitas.

Keadaan gizi yang berlebihan (obes) dapat berpengaruh terhadap keluhan nyeri otot. Keadaan tubuh yang obes dengan postur tubuh yang harus menmbungkuk merupakan tambahan beban yang menyebabkan peregangan otot berlebih karena tubuh akan berusaha lebih kuat untuk menyangga berat badan dari depan dengan mengontraksikan otot punggung bawah. Dan bila hal ini berlanjut terus–menerus, akan menyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang dapat mengakibatkan HNP (Hernia Nucleus Pulposus).

Pekerja yang memiliki berat badan berlebih akan mengganggu kecepatan kerja, sehingga dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja. Selain itu, obesitas juga memicu terjadinya berbagai macam penyakit seperti penyakit jantung, stroke, diabetes mellitus, hipertensi, dan lain-lain. Jika kondisi ini tidak dikendalikan maka dapat mengurangi kinerja karyawan. Rincian selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.21.

62

Tabel 4.21. Hubungan Status Gizi dengan Keluhan MSDs

Status Gizi Keluhan MSDs P PR 95% CI Ya Tidak Jumlah Obes (> 24) 0 0 0 0,038 2,545 1,606 – 4,034 Tidak Obes (≤ 24) 7 5 12 Jumlah 7 5 12 d. Kebiasaan Merokok

Dari hasil analisis bivariat didapatkan nilai p = 0, 008, karena nilai p <0,05 maka H0 ditolak, artinya ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan keluhan Muskuloskeletal disorders. Adanya hubungan antara kebiasaan merokok dengan keluhan nyeri otot rangka ini adalah karena seluruh pekerja yang berjenis kelamin laki-laki pada dasarnya memiliki kegemaran merokok lebih besar daripada wanita. Kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen menurun dan sebagai akibatnya tingkat kesegaran tubuh juga menurun.

Laporan hasil pertemuan tahunan American Association of Orthopedy dic Surgeons di San Fransisco tahun 2001, mendukung teori mekanisme cedera pada nyeri pinggang, yaitu adanya kerusakan struktur pembuluh darah pada diskus dan sendi. Pada saat merokok terjadi pelepasan bahan-bahan beracun yang dapat merusak lapiasan dalam dinding pembuluh darah. Pembuluh darah yang mengalami kerusakan terlebih dahulu adalah pembuluh darah kecil, yang berperan menyalurkan zat nutrisi dan oksigen ke diskus intervertebralis. Selain itu, karbon monoksida juga akan terbawa ke

63

dalam aliran darah yang mengakibatkan kurangnya jumlah asupan oksigen ke dalam jaringan. Semua hal di atas menyebabkan jaringan kekurangan nutrisi, terjadi proses degenerasi dan dapat berakibat kematian jaringan sehingga menimbulkan kelemahan dinding diskus dan dapat menimbulkan rasa nyeri dan hernia.

Berdasarkan hasil temuan di lapangan, perusahaan memberlakukan kebijakan mengenai larangan merokok di area perusahaan. Larangan merokok tersebut selain ditujukan untuk mencegah terjadinya kebakaran dan ledakan, juga bermaksud untuk meningkatkan derajat kesehatan seperti jantung dan paru-paru sehingga produktivitas kerja terus meningkat.

Dari hasil perhitungan statistik, juga didapatkan nilai PR= 3,900 yang menunjukkan bahwa kelompok yang memilki kebiasaan merokok mempunyai kecenderungan 3,900 kali lebih besar mengalami keluhan Musculoskeletal disorders daripada kelompok yang tidak merokok. Rincian selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.22.

Tabel 4.22. Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Keluhan MSDs Kebiasaan Merokok Keluhan MSDs P PR 95% CI Ya Tidak Jumlah Merokok 5 0 5 0,008 3,900 1,057 – 14,388 Tidak Merokok 0 7 7 Jumlah 7 5 12 e. Lama Kerja

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,106, karena nilai p > 0,05 maka H0 diterima, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara lama kerja dengan keluhan Musculoskeletal disorders. Kondisi ini disebabkan

64

karena semakin lama masa kerja karyawan, maka tingkat keterampilan dan pengetahuan karyawan akan semakin bertambah. Dengan jam kerja yang semakin tinggi dan durasi semakin banyak, maka pekerja sudah terbiasa dan semakin lebih waspada dalam menghadapi bahaya-bahaya ergonomi seperti postur tubuh yang janggal terkait kegiatan cleaning ini.

Kemudian, dari hasil penelitian juga mencatat kelompok masa kerja ≤ 2 tahun sebanyak 75% yang dominan ini dan usia pekerja yang kebanyakan masih muda atau ≤ 27 tahun belum terlalu meninggalkan dampak yang sangat besar terhadap rasa sakit atau nyeri otot rangka sceara menetap karena kekuatan otot masih lebih kuat. Rincian selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.23.

Tabel 4.23. Hubungan Lama Kerja dengan Keluhan MSDs

Lama Kerja Keluhan MSDs P PR 95% CI Ya Tidak Jumlah > 2 tahun 6 2 8 0,106 2,000 1,041 – 3,844 ≤ 2 tahun 1 3 4 Jumlah 7 5 12

4.6. Hubungan Karakteristik Pekerjaan dengan Keluhan MSDs

Dokumen terkait