• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ergonomi

2.2. Musculoskeletal Disorders

2.2.1. Definisi Musculoskeletal Disorders

Studi tentang MSDs pada berbagai jenis industri telah banyak dilakukan dan hasil studi menunjukkan bahwa bagian otot yang sering dikeluhkan adalah otot rangka yang meliputi otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah. Di antara keluhan sistem musculoskeletal tersebut, yang paling banyak dialami oleh pekerja adalah otot bagian pinggang (Low Back Pain = LBP). Laporan dari The Bureau of Labour Statistics (BLS) Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat yang dipublikasikan pada tahun 1982 menunjukkan bahwa hampir 20% dari semua kasus sakit akibat kerja dan 25% biaya kompensasi yang dikeluarkan sehubungan dengan adanya keluhan atau sakit pinggang. Besarnya biaya kompensasi

17

yang harus dikeluarkan oleh perusahaan secara pasti belum diketahui. Namun demikian, hasil estimasi yang dipublikasikan oleh National Institute of Occupational Safety Health (NIOSH) menunjukkan bahwa biaya kompensasi untuk keluhan musculoskeletal sudah mencapai 13 milyar US$ setiap tahunnya. Biaya tersebut merupakan yang terbesar bila dibansingkan dengan biaya kompensasi untuk keluhan atau sakit akibat kerja lainnya (NIOSH, 1996 dalam Tarwaka, 2010). Sementara itu National Safety Council melaporkan bahwa sakit akibat kerja yang frekuensi kejadiannya paling tinggi adalah sakit punggung, yaitu 22% dari 1.700.000 kasus (Waters dkk, 1996 dalam Tarwaka, 2010)

Menurut NIOSH dan WHO MSDs merupakan gangguan yang disebabkan ketika seseorang melakukan aktivitas kerja dan kondisi pekerjaan yang signifikan sehingga mempengaruhi adanya fungsi normal jaringan halus pada sistem muskuloskeletal yang meliputi sendi, ligamen, saraf, tendon, dan otot. MSDs adalah penyakit degeneratif dan kondisi peradangan yang menyebabkan rasa sakit dan mengganggu aktivitas normal. MSDs dapat mempengaruhi banyak bagian tubuh yang berbeda termasuk atas dan bawah punggung, leher, bahu, dan ekstrimitas (lengan, kaki, dan tangan).

MSDs dapat timbul akibat fatigue yang disebabkan oleh tingginya durasi dan frekuensi gerakan pada bagian tubuh yang sama secara terus-menerus. Selain itu, beban kerja yang berat dan pergerakan yang tidak terduga juga menjadi salah satu penyebab timbulnya MSDs. Beberapa hasil penelitian terkait MSDs menunjukkan bahwa bagian otot yang paling sering mengalami keluhan adalah otot pada bagian leher, bahu, punggung, pinggang, dan lengan.

18

Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

a. Keluhan sementara (reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pemberian beban dihentikan sementara.

b. Keluhan menetap (persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun pemberian beban kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut. Keluhan otot biasanya terjadi karena kontraksi otot yang berlebihan dengan durasi yang cukup lama. 2.2.3. Gejala Musculoskeletal Disorders

Gejala yang dirasakan oleh tipe individu tidak sama, meskipun pekerjaan/ aktivitas yang dilakukan hampir sama. Macam-macam gejala dirasakan pekerja disebabkan karena faktor risiko MSDs yang memajan tubuhnya. Gejalanya antara lain: rasa nyeri/ sakit, pegal-pegal, mati rasa, gerakan menjadi lemah dan kaku, adanya rasa terbakar, kaku pada persendian, kemerahan bengkak dan hangat pada daerah yang dirasakan nyeri, kelelahan pada sebagian otot.

Adapun gejala-gejala MSDs yang biasa dirasakan oleh seseorang adalah:

a. Leher dan punggung terasa kaku

b. Bahu terasa nyeri, kaku, ataupun kehilangan fleksibelitas c. Tangan dan kaki terasa nyeri seperti tertusuk

d. Siku ataupun mata kaki mengalami sakit, bengkak, dan kaku

e. Tangan dan pergelangan tangan merasakan gejala sakit atau nyeri disertai bengkak.

19

g. Jari menjadi kehilangan mobilitasnya, kaku dan kehilangan kekuatan serta kehilangan kepekaan.

h. Kaki dan tumit merasakan kesemutan, dingin, kaku ataupun sensasi rasa panas.

2.2.4. Diagnosa Kelainan Musculoskeletal Disorders Akibat Kerja Kelainan MSDs akibat kerja atau yang disebut WRMDs (Work Related Musculoskeletal Disorders) ada beberapa contoh, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Penyakit ini disebabkan karena tendon pada bagian carpal tunnel mengalami pembengkakan akibat memegang benda kerja/ perkakas dengan sangat erat, atau secara terus-menerus menekankan pergelangan tangan pada benda kerja yang keras. Gejala umum pada CTS ini adalah pergelangan tangan yang mati rasa, kebas, rasa terbakar, dan nyeri. Dalam beberapa kasus, bahkan timbul tonjolan otot di dasar ibu jari, telapak tangan yang kering dan memucat, serta keadaan tangan yang sulit digerakkan.

b. Low Back Pain (LBP)

Rasa sakit pada bagian tulang belakang, yaitu di daerah lumbosacral, pantat, dan paha yang disebabkan oleh kompresi pada bagian saraf, spasme otot, dan ligamentum otot. Gangguan pada tulang belakang bagian bawah ini diakibatkan oleh beban yang berat dengan postur yang buruk saat beraktivitas.

c. Sprain

Cedera akut pada persendian yang mengakibatkan robeknya kapsul sendi dan ligamen-ligamen disekeliling persendian. Penyebab terjadinya sprain adalah

20

terputusnya angkle sehingga ligamen-ligamen pada sisi lateral kaki menjadi robek.

d. Whisplash Injury

Ekstensi secara tiba-tiba pada bagian leher sehingga ligamen-ligamen dan jaringan sekitar vertebra cervicalis terkoyak.

e. Strain

Penggunaan yang berlebihan pada bagian otot sehingga menimbulkan robeknya otot atau perdarahan dan inflamasi ringan pada otot.

f. Hernia

Penyakit ini disebabkan oleh fleksi maksimal pada bagian lutut, pangkal paha dan tulang lumbal akibat mengangkat beban yang berlebihan

g. Tendinitis

Penyakit yang disebabkan oleh postur janggal dan pergerakan berulang dari sambungan tulang dan otot pada bagian pergelangan tangan, bahu, dan lengan bawah yang mengakibatkan inflamasi pada tendon.

2.2.5. Faktor Risiko Terjadinya Musculoskeletal Disorders

Berdasarkan studi yang dilakukan secara klinik, biomekanika, fisiologi, dan epidemiologi didapatkan kesimpulan bahwa terdapat dua faktor yang mnyebabkan terjadinya low back pain akibat bekerja yaitu:

a. Faktor Pekerjaan 1) Posisi kerja

Posisi kerja yang sering dilakukan oleh manusia dalam melakukan pekerjaan antara lain berdiri, duduk, membungkuk, jongkok, berjalan, dan lain-lain. Posisi kerja tersebut dilakukan tergantung dari kondisi dari

21

sistem kerja yang ada. Jika kondisi sistem kerjanya yang tidak sehat akan menyebabkan kecelakaan kerja, karena pekerja melakukan pekerjaan yang tidak aman. Sikap kerja yang salah, canggung, dan di luar kebiasaan akan menambah risiko cedera pada bagian sistem musculoskeletal.Sikap Kerja Membungkuk Salah satu sikap kerja yang tidak nyaman untuk diterapkan dalam pekerjaan adalah membungkuk. Posisi ini tidak menjaga kestabilan tubuh ketika bekerja. Pekerja mengalami keluhan nyeri pada bagian punggung bagian bawah (low back pain) bila dilakukan secara berulang dan periode yang cukup lama.

Sikap kerja membungkuk dapat menyebabkan “slipped disk”, bila diiringi dengan pengangkatan beban berlebih. Prosesnya sama dengan sikap kerja membungkuk, tetapi akibat tekanan yang berlebih menyebabkan ligamen pada sisi belakang lumbar rusak dan penekanan pembuluh syaraf. Kerusakan ini disebabkan oleh keluarnya material akibat desakan tulang belakang bagian lumbar.

2) Repetisi (pengulangan)

Pengulangan gerakan kerja dengan pola yang sama, hal ini dapat terlihat pada frekuensi pekerjaan yang tinggi, sehingga pekerja harus terus-menerus bekerja agar dapat menyesuaikan diri dengan sistem. Kegiatan yang tidak memerlukan banyak tenaga bisa mengakibatkan kerusakan otot jika aktivitas tersebut diulang cukup sering pada interval pendek.

22

3) Pekerjaan statis (statis exertions)

Pekerjaan statis merupakan pekerjaan yang menuntut seseorang tetap pada posisinya, perubahan posisi dalam bekerja akan menyebabkan pekerjaan terhenti. Pekerjaan statis ini memiliki risiko MSDs lebih besar dibandingkan pekerjaan dinamis karena postur tubuh statis berhubungan dengan menurunnya sirkulasi darah dan nutrisi pada jaringan otot.

4) Beban Kerja Fisik

Kerja fisik adalah kerja yang memerlukan energi fisik pada otot manusia yang akan berfungsi sebagai sumber tenaga. Pekerjaan yang memaksakan tenaga (forceful exertions) menggunakan tenaga besar dapat membebani otot, tendon, ligamen, dan sendi. Peregangan otot yang berlebih ini terjadi karena pengerahan tenaga yang diperlukan melampaui kekuatan optimum otot. Apabila hal serupa sering dilakukan, maka dapat mempertinggi risiko terjadinya keluhan otot, bahkan dapat menyebabkan cedera otot skeletal. Salah satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah dengan menilai sistem kardiovaskuler melaui denyut nadi dan tekanan darah.

b. Faktor Individu 1) Umur

Umur pada umumnya keluhan MSDs ini mulai dirasakan pada usia kerja yaitu antara 25 hingga 65 tahun. Hal ini disebabkan karena pada umur di atas 25 tahun, kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga meningkatkan risiko terjadinya keluhan MSDs.

23

2) Masa Kerja

Masa kerja dapat berupa masa kerja dalam suatu perusahaan dan masa kerja dalam suatu unit produksi. Semakin lama masa kerja seseorang dapat menyebabkan terjadinya kejenuhan pada daya tahan otot dan tulang secara fisik maupun secara psikis. Hal ini dikarenakan tingkat ketahanan otot yang sering digunakan untuk bekerja akan menurun seiring lamanya seseorang bekerja. Masa kerja sangat mempengaruhi risiko terjadinya MSDs terutama untuk jenis pekerjaan yang menggunakan kekuatan kerja yang tinggi karena masa kerja mempunyai hubungan yang kuat dengan keluhan otot.

3) Jenis Kelamin

Secara fisiologis kemampuan otot wanita memang lebih rendah daripada pria. Kekuatan otot wanita hanya sekitar dua per tiga dari kekuatan otot pria, sehingga daya otot pria pun lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Hasil penelitian Betti’e at al (1989) menunjukkan bahwa rerata kekuatan otot wanita kurang lebih hanya 60% kekuatan otot pria, khususnya untuk otot lengan, punnggung, dan kaki.

4) Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap wawasan dan cara pandangnya dalam menghadapi suatu masalah. Seseorang yang memilki tingkat pendidikan yang tinggi cenderung mengutamakan rasio saat menghadapi gagasan baru dibandingkan mereka dengan pendidikan yang lebih rendah. Hal ini merupakan cerminan kurangnya di dalam keterampilan dan pengetahuan pegawai yang

24

dapat diketahui dari penilaian kinerja. Berdasarkan penilaian kinerja, banyak diantara pegawai tidak mau mengikuti ketentuan yang sudah berlaku yang dapat disebabkan ketidaktahuan (ignorance) atau ketidakmauan (unwillingness).

5) Tingkat kesegaran jasmani

Tingkat kesegaran jasmani yang rendah akan menigkatkan risiko terjadinya keluhan otot. Bagi pekerja dengan kekuatan fisik yang rendah, risiko keluhan menjadi tiga kali lipat dibandingkan yang memiliki kekuatan fisik tinggi. Dengan berolahraga secara teratur dapat mencegah kegemukan dengan segala dampak negatifnya, menguatkan dan lebih mengefisienkan kinerja otot-otot tubuh, seperti otot jantung, otot pernafasan, dan otot-otot rangka tubuh, dan lebih melancarkan aliran darah ke dalam sel-sel tubuh, dan pembuangan bahan-bahan sisa dari sel-sel tubuh menjadi lebih baik.

6) Status Gizi

Status gizi juga berpengaruh terhadap keluhan nyeri pinggang, hal ini dapat dilihat apabila seseorang dengan kelebihan berat badan akan berusaha untuk menyangga berat badan dari depan dengan mengontraksikan otot punggung bawah. Dan bila ini berlanjut terus menerus, akan menyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang mengakibatkan kelelahan dan nyeri otot berat beban tubuh seseorang. Hal ini merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Status gizi pada seorang pekerja umur 18 tahun keatas ditandai dengan indeks masa tubuh. Indeks masa tubuh dapat

25

digunakan sebagai indikator kondisi status gizi pada pekerja.

Dengan menggunakan rumus berat badan dikali berat badan (kg), kemudian dibagi dengan tinggi badan (meter).

Tabel 2.1. Klasifikasi IMT Dewasa Kategori IMT Klasifikasi

< 17,0 Kurus (kekurangan berat badan tingkat berat)

17,0 – 18,4 Kurus (kekurangan berat badan tingkat ringan)

18,5 – 25,0 Normal

25,1 – 27,0 Kegemukan (kelebihan berat badan tingkat berat)

Sumber : Depkes RI 2003

7) Kebiasaan Merokok

Kebiasaan merokok dapat menurunkan kapasitas paru sehingga kemampuan pekerja untuk menghirup oksigen pun menurun. Akibatnya suplai oksigen ke otot berkurang dan produksi energi terhambat, kemudian terjadi penumpukan asam laktat di dalam otot, yang menyebabkan kekuatan dan ketahanan otot menurun serta menimbulkan rasa lelah hingga nyeri pada otot.

2.3. Keterkaitan antara Ergonomi dengan Musculoskeletal

Dokumen terkait