Konsep Genius Loci Pada Arsitektur

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

Konsep Genius Loci Norberg-Schulz dalam Arsitektur

Putu Rahayu Sitha Dewi (25215014), Kresna Aditya Ramadhan P (25215015), I Gde Banyu Priautama(25215017)

ABSTRAK

Seperti yang diungkapkan Norberg-Schulz, seorang tokoh fenomenologi dalam arsitektur pada bukunya yang berjudul “Genius Loci : Towards the Phenomenology of Architecture”, bahwa sebuah tempat memiliki arti lebih dari hanya sekedar lokasi, karena setiap tempat memiliki “spirit/jiwa” yang tidak dapat dijelaskan secara analitis atau metode ilmiah. Ditegaskan pula bahwa ada relasi antara topografi (permukaan tanah), kosmologi (langit dan cahaya) dan makna simbolik dan eksistensial yang melekat pada budaya yang menjadi dasar kegiatan bermukim. Kekuatan dan karakter lokal dari sebuah tempat tidak boleh hilang dari sebuah karya arsitektur, walaupun mulai terdesak oleh perkembangan jaman. Norberg-Schulz sendiri sebenarnya tidak terlalu dikenal sebagai seorang arsitek dengan karya yang terkenal, tetapi melalui teori dan filosofinya mengenai fenomenologi. Makalah ini akan membahas mengenai konsep Genius Loci dari Norberg-Schulz dan beberapa karya arsitek lainnya yang menerapkan konsep Genius Loci dari Norberg-Schulz, antara lain Petter Zumthor dengan karyanya Therme Vals dan Geoffrey Bawa dengan karyanya Heritance Kandalama Hotel.

Keyword : Genius Loci, Norberg Schulz, Arsitektur

PENDAHULUAN

Karya-karya arsitektur berubah seiring dengan perkembangan jaman. Keindahan estetika semata yang terpengaruh modernisasi sepertinya menjadi tujuan utama sebagian besar karya arsitektur saat ini. Karya-karya tersebut seperti kehilangan esensi dan makna akan lokasi atau tempat karya arsitektur tersebut dibangun, di mana seharusnya esensi dan makna tersebut tidak boleh hilang dari sebuah karya arsitektur. Tujuan Arsitektur pada hakikatnya adalah menciptakan tempat penuh makna yang memungkinkan manusia untuk mampu menentukan orientasi dirinya terhadap lingkungan sekitar. Setiap tempat memiliki keunikan yang bersifat khusus yang membedakannya dengan tempat lain (Schulz, 1980:5). Berdasarkan kenyataan tersebut, sudah merupakan kewajiban bagi seorang arsitek untuk menempatkan karyanya dengan baik sesuai kondisi suatu tempat di mana karyanya akan dibangun. Penempatan karya yang baik merupakan realisasi dari pikiran yang mengacu pada keadaan setempat agar serasi dan sesuai untuk kebutuhan manusia di tempat tersebut.

Dalam bidang arsitektur, kajian yang meneliti tentang sifat, jiwa dan esensi suatu tempat berada dalam ranah fenomenologi arsitektur, di mana istilah Genius Loci yang banyak digunakan. Christian Norberg-Schulz adalah salah satu yang mempelopori pendekatan fenomenologi pada bidang arsitektur. Menurut Norberg-Schulz (1979) setiap tempat memiliki keunikan yang membedakannya dengan tempat lain. Ia juga mengatakan, Genius Loci adalah

(2)

2 tersebut dan dapat membedakannya dengan tempat yang lain, serta terbentuk dari suatu aktifitas khusus yang berhubungan dengan ritual religi, sosial dan budaya dari masyarakat/manusia penghuni tempat tersebut.

Kata “Genius” merujuk kepada karakter penanda elemen alam tertentu, sedangkan kata “Loci” berarti tempat atau lokal, sehingga kata Genius yang disandingkan dengan kata Loci menjadi bermakna keunikan lokal, potensi lokal, keotentikan suatu lokalitas tertentu (Primi Artiningrum, 2012). Dalam bukunya yang berjudul Genius Loci : Towards the Phenomenology

of Architecture, Norberg Schulz menegaskan relasi antara topografi (permukaan tanah),

kosmologi (langit dan cahaya) dan makna simbolik dan eksistensial yang melekat pada budaya yang menjadi dasar kegiatan bermukim (dwelling). Manifestasi dari elemen bermukim tersebut menjadikan sebuah keharmonisan yang akan memberikan identitas khusus pada sebuah lingkungan dan karya arsitektur yang dibangun di lingkungan tersebut.

Penerapan Genius Loci dalam karya arsitektur di era modernisasi ini seharusnya bukan merupakan sesuatu yang bertentangan. Harus ada hubungan antara keduanya, di mana kekhasan suatu tempat bisa dijadikan karakter karya arsitektur. Untuk lebih memahami konsep Genius Loci dari Norberg-Schulz maka dalam makalah ini dibahas konsep Genius Loci yang digunakan oleh Norberg-Schulz dalam arsitektur dan dipaparkan beberapa karya arsitek lain yang diciptakan menggunakan konsep Genius Loci.

BIOGRAFI NORBERG SCHULZ

Christian Norberg-Schulz adalah seorang arsitek Norwegia yang mempelopori penggunaan fenomenologi pada bidang arsitektur yang ditekuninya selama kira-kira tiga dekade (Gambar 1). Norberg-Schulz mengawali pemikirannya dengan pendekatan analitik dan psikologi seperti tampak pada buku-buku Intentions

in Architecture (1965, MIT Press) dan Existence, Space and Architecture (1971, Praeger Publisher).

Sebelum menulis buku pertamanya, pada tahun 1950 - 1960, Norberg-Schulz pernah berpraktik sebagai arsitek dan berkolaborasi dengan Arne Korsmo dan bersama-sama merancang Row Houses di Planetveien Street di Oslo di mana kemudian mereka menempatinya bersama keluarga masing-masing. Norberg-Schulz kemudian semakin mengurangi praktiknya seiring dengan penerbitan buku pertamanya yang membuat Norberg-Schulz mendapatkan pengakuan internasional dalam bidang teori arsitektur.

Pada tahun 1970 – 1980 Norberg-Schulz terus menekuni bidang teori arsitektur. Bukunya

Genius Loci : Towards a Phenomenology of Architecture (1980, Rizzoli, New York), merupakan Gambar 01 – Christian Norberg

Schulz Sumber : america.pink

(3)

3 tonggak awal kajian fenomenologi arsitektur. Dalam buku ini, Norberg-Schulz menyatakan bahwa semua tempat memiliki jiwa atau Genius Loci tersendiri. Suatu karya arsitektur berdiri berdasarkan pengaruh dan kenyataan yang ada di tempat di mana karya itu berada. Ia juga menegaskan relasi antara topografi (permukaan tanah), kosmologi (langit dan cahaya) dan makna simbolik dari eksitensial yang melekat pada budaya yang menjadi dasar kegiatan bermukim (dwelling) dan mengaitkan dengan konsep Genius Loci sebagai berikut :

Man dwells when he can orientate himself within and identity himself with an environment, or, in short, when he experiences the environment as meanigful. Dwelling therefore implies something more than a “shelter”. It implies that the spaces where life occurs are the “places”, in the true sense of the world. A place is a space that has character. Since ancient times Genius Loci, or Spirit of Place has been recognize as the concretereality man has to face and come to term with in his daily life.

Norberg-Schulz banyak membawa pemikiran fenomenologi filsuf Martin Heidegger hingga publikasi-publikasinya seperti Concept of Dwelling (1997, MIT Press) dan Architecture :

Presence, Language, Place (2000, Skira). Dari pengaruh Heidegger, ia menggali makna

keberadaan dan kehadiran ruang (baik natural maupun buatan) melalui fenomena yang ada agar muncul esensi tempat yang sering disebut sebagai Genius Loci. Kritik terhadap pemikiran Norberg-Schulz ini muncul dari kecenderungannya untuk menjadikan Genius Loci gagasan yang romantis milik masa lalu.

KONSEP GENIUS LOCI NORBERG SCHULZ

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani phainómenon yang berarti “apa yang tampak”, dan kata logos yang berarti “studi” atau “ilmu”. Secara lebih khusus, fenomenologi pada kajian filsafat menekankan pada studi terhadap pengalaman sadar atas fenomena.

Fenomenologi adalah sebuah sarana untuk merefleksikan secara intensif pengalaman sadar manusia (subyek) terhadap sesuatu (obyek). Manusia, sebagai subyek, pada kajian fenomenologi mendapat titik berat dalam kemampuannya memahami dunia melalui pengalaman dari keterlibatan atau kehadiran tubuh (Gunawan, 2012).

Norberg-Schulz merupakan salah satu pelopor pendekatan fenomenologi dalam bidang arsitektur. Di bawah pengaruh Heidegger, Norberg-Schulz menggali makna keberadaan dan kehadiran ruang (baik natural maupun buatan) melalui fenomena yang ada, agar muncul esensi tempat yang sering disebut sebagai Genius Loci.

Menurut Norberg-Schulz (1980:45) Genius Loci merupakan konsep yang berasal dari bangsa Romawi yang mempercayai bahwa tempat-tempat tertentu memiliki jiwa. Genius Loci merefleksikan keunikan dari sebuah tempat, yang membedakan satu tempat dengan tempat yang lain. Genius Loci dianggap menyimbolkan kekuatan yang menjadikan suatu tempat

(4)

4 memiliki kepribadian dan karakter berupa sebuah kualitas yang lebih dari hanya sekedar tempat.

Menurut Norberg-Schulz (1980: 47), Genius Loci dalam arsitektur adalah jiwa dari ruang dan waktu, lokalitas dan region-region di mana arsitektur tumbuh dan berkembang. Di dalamnya tercakup pelaku-pelaku, pengguna-pengguna, penikmat-penikmat dan keseluruhan masyarakat yang merasa dekat dan terwakili dalam kesadaran dan pengharapannya.

Norberg-Schulz mengeksplorasi karakter dari sebuah tempat dan maknanya terhadap penduduk setempat. Norberg-Schulz mengusulkan penggunaan metode fenomenologis untuk memahami dan menggambarkan “spirit/jiwa” dari sebuah tempat melalui penggambaran ciri– ciri fisik dan interpretasi pengalaman manusia pada tempat tersebut.

Menurut Norberg-Schulz, tempat terbentuk dari fenomena alami (natural) dan fenomena buatan manusia (man-made), atau yang dalam istilah konkretnya disebut lingkungan (landscape) dan pemukiman (settlement). Norberg-Schulz kemudian menjelaskan konsep ruang eksistensial, dan membaginya menjadi dua elemen, yakni “ruang” dan “karakter”, yang saling melengkapi satu sama lainnya. Sebuah ruang tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung (shelter), sebuah ruang adalah tempat (place) di mana kehidupan berlangsung. Sebuah “tempat” merupakan kumpulan “ruang” dengan “karakter” yang berbeda. Tempat inilah yang menjadi fokus pembahasan dari “genius loci (spirit of place)”. Tujuan dari ilmu arsitektur adalah untuk memvisualisasikan “spirit of place”, di mana tugas seorang arsitek adalah menciptakan tempat yang memiliki makna, sehingga mendorong manusia untuk bermukim (dwelling). Sebuah “ruang” merupakan perwujudan dari elemen tiga dimensi yang membentuk sebuah tempat, sedangkan “karakter” diwakili oleh “atmosfer”, yang merupakan elemen terpenting dari setiap tempat. Organisasi “ruang” yang sama pada tempat yang berbeda dapat memiliki “karakter” yang berbeda, tergantung pada perlakuan konkret pengguna/users terhadap elemen ruang.

Ketika seseorang bermukim, maka secara simultan ia akan berlokasi pada ruang, dan secara bersamaan ia juga mengekspos/mengungkap karakter lingkungan tersebut. Dalam hal ini, terlibat dua fungsi psikologi, yakni “orientasi” dan “identifikasi”. Untuk mendapatkan tumpuan eksistensial, maka seseorang harus dapat mengorientasikan dirinya. Ia harus tahu di mana ia berada. Selain itu, ia juga harus mengidentifikasi diri dengan lingkungannya, agar ia tahu bagaimana harus bersikap pada tempat-tempat tertentu.

Christian Norberg-Schulz menjelaskan bahwa ada empat fungsi yang harus dipenuhi arsitektur, yaitu :

1. Physical control. Peran physical control meliputi pengendalian iklim (udara, kelembaban, temperatur, angin, curah hujan, dll), cahaya, suara, bau, hal-hal lain seperti debu, asap, serangga, hewan serta radioaktif. Kebanyakan dari faktor-faktor tersebut di atas bersifat geographis dan berhubungan dengan bangunan dan

(5)

5 lingkungannya. Lingkungan mempengaruhi bangunan dengan energi-energi yang harus dikontrol tergantung pada kegiatan manusia yang harus dilayani dan ditampung oleh bangunan. Fungsi bangunan dapat mengubah kebutuhan akan pemanasan, iluminasi, akustik ataupun pengkondisian udara. Karena itu arsitek perlu mengetahui tentang hal-hal yang berhubungan langsung dengan aspek fisik bangunan. Misalnya kita bisa menyelidiki kemampuan bahan bangunan sebagai insulator terhadap dingin, suara, kelembaban dan sebagainya. Kita juga dapat memanfaatkan bantuan alat-alat secara mekanis untuk menciptakan “iklim artifisial”. Kita juga dapat mempelajari physical control sebagai sebuah “pertukaran energi”. Untuk itu kita dapat menggunakan konsep “filter” (saringan), “connector” (penghubung), “barier” (pemisah), “switch” (pengubah). Dinding tebal dapat berfungsi sebagai filter terhadap panas dan dingin, dan sebagai pelindung terhadap cahaya. Pintu dan jendela mempunyai karakter seperti “switch” (pengubah) karena mereka dapat memutus dan menghubungkan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan elemen-elemen untuk menghubungkan dan memisahkan. Physical control tidak hanya berpengaruh pada organisasi dalam ruang dan solusi teknik, tetapi juga orientasi terhadap sinar matahari dan angin. Pada daerah-daerah dengan iklim yang berat, dinding luar harus sependek mungkin atau menggunakan alat-alat pelindung seperti penonjolan atap dan sebagainya. Dalam hal ini physical control juga menentukan apa yang disebut “karakter regional”.

2. Functional frame. Pada functional frame akan banyak dibahas aspek-aspek fisik tingkah laku manusia. Pada dasarnya manusia selalu melakukan kegiatan, sehingga membutuhkan wadah arsitektural untuk menampung kegiatan tersebut. Perlu diingat bahwa dua bangunan dapat berperan dengan baik untuk fungsi yang sama tanpa harus menciptakan suasana yang sama. Suasana dapat berubah sejalan dengan sejarah, sementara fungsinya tetap. Fungsi akan berubah bila terjadi perubahan yang mendasar pada gaya hidup kita. Fakta menyatakan bahwa setiap kegiatan membutuhkan ruang (space) tertentu. Ruang dapat memiliki ukuran yang tepat (misalnya lapangan tenis). Tetapi dapat pula bervariasi (lebih kurang). Fungsi tidak hanya menentukan ukuran ruang-ruang, tetapi biasanya juga menentukan bentuk. Sejumlah restoran untuk sejumlah pengunjung tertentu bisa berbentuk lingkaran, bujur sangkar, persegi panjang atau tidak beraturan. Yang penting bentuk tersebut harus dapat menampung kegiatan/fungsi makan dan pelayanan secara nyaman. Functional frame harus dapat beradaptasi terhadap kekomplekan kegiatan. Secara umum dapat dikatakan bahwa functional frame harus merepresentasikan sebuah struktur kegiatan dengan memanifestasikan spatial, tipologi, dan karakter dinamis dari fungsi-fungsi.

3. Social Millieu. “Social millieu” bisa menjadi ekspresi statis, peranan, kelompok, perkumpulan, institusi dan sekelompok bangunan yang dapat mempresentasikan sistem sosial sebagai suatu kesatuan, suatu contoh Istana Raja dibuat lebih besar dari bangunan-bangunan lain dengan tujuan untuk menunjukan status sosial. Secara umum

(6)

6 dapat dikatakan peran serta aturan-aturan dalam hubungan manusia membentuk sebagian dari peran bangunan. Bangunan dan lingkungannya memberikan dan menampung kehidupan manusia dan lingkungan yang tepat untuk kegiatan-kegiatan umum atau khusus. Lingkungan memiliki karakter karena adanya kemungkinan-kemungkinan bagi kehidupan sosial, dimana kegiatan dan persepsi harus memenuhi kebutuhan lingkungan tersebut. Lingkungan mempunyai arti relatif terhadap kegiatan-kegiatan tertentu, lingkungan yang sama belum tentu tepat bagi segala macam interaksi. Idea dari perbedaan lingkungan menurut struktur sosial secara tidak sadar menentukan sebagian besar organisme urban pada masa lalu, dan juga bangunan-bangunan individual. Kita memiliki alasan-alasan untuk percaya bahwa masalah-masalah yang sama akan timbul lagi kepermukaan. Sejauh ini orang merasa puas dengan usaha-usaha membuat arsitektur fungsional yang lebih ekspresif tanpa menekankan kebutuhan akan ekspresi yang layak dan relevan untuk memecahkan masalah ini, arsitek perlu menggabungkan informasi psikologi dan sosiologi dalam mendefinisikan peran bangunan.

4. Cultural symbolization, Arsitektur adalah obyek budaya dan juga merupakan hasil karya manusia yang melayani aktivitas-aktivitas manusia secara umum. Kita telah sepakat bahwa seni mengekspresikan nilai, sementara sains menerangkan fakta-fakta, dan seni adalah salah satu alat untuk menyatakan nilai-nilai budaya untuk kemudian dimasyarakatkan. Seni juga melambangkan obyek-obyek budaya. Bahwa arsitektur dapat melambangkan obyek-obyek budaya adalah fakta empiris, karena sejarah arsitektur menunjukan bahwa aspek ini telah membentuk sebuah bagian penting dari peranan bangunan. Karena struktur sosial didasari nilai-nilai umum dan sistem lambang (simbol), hal ini membuktikan bahwa simbol budaya berhubungan erat dengan formasi “sosial milleu”. Dalam simbol milleu, sosial milleu menjembatani obyek-obyek budaya seperti nilai-nilai umum, konstruksi empiris (ilmiah), ide-ide filosofis, kodeetik, kepercayaan, dan kondisi ekonomi. Obyek-obyek dimanifestasikan melalui peranan sosial, kelompok dan institusi, serta melalui obyek-obyek fisik yang melayani kehidupan sosial. Diskusi tentang simbol milleu menjadi jelas jika kita menghindari pencampuran obyek budaya dan sosial secara baur. Adalah penting untuk memisahkan antara interaksi dan nilai, bahkan jika mereka muncul sebagai aspek-aspek dalam tingkat urusan yang sama. Kita dapat menyimpulkan bahwa setiap milleu sosial tidak langsung melambangkan obyek-obyek budaya, sementara perlambangan budaya dapat juga terjadi secara langsung dengan membiarkan mentuk-bentuk arsitektur tertentu menunjukan obyek budaya tertentu. kedua kemungkinan tersebut bisa saja digabungkan. Dapat dipertanyakan apakah penting bahwa arsitektur harus melambangkan obyek budaya secara langsung? Melalui simbolisasi budaya, arsitektur dapat menunjukan bahwa kehidupan sehari-hari memiliki makna yang melebihi situasi saat itu, bahwa arsitektur membentuk sebagian dari kesinambungan sejarah dan

(7)

7 budaya. Dalam perealisasian makna-makna arsitektur melengkapi satu titik tandas untuk perkembangan budaya.

PENERAPAN KONSEP GENIUS LOCI NORBERG-SCHULZ PADA KARYA ARSITEKTUR

Pada dasarnya konsep genius loci dari Norberg-Schulz berawal dari penerapan filsafat Fenomenologi di bidang Arsitektur, dimana hal ini dilakukan sebagai kritik terhadap arsitektur modern. Menurut Haddad & Ellie (2010) dalam terjemahannya konsep Genius Loci menegaskan relasi antara topografi tanah, kosmologi (langit dan cahaya) dan makna sombolik serta eksistensial yang melekat pada budaya yang menjadi dasar kegiatan bermukim (dwelling). Terdapat beberapa arsitek yang juga mengadopsi konsep dari Genius Loci (spirit of place) yang diaplikasikan ke dalam karya-karya mereka sebagai alat kritik terhadap arsitek modern, Rancangan arsitektur dengan konsep genius loci ditempuh dengan beberapa metode atau opsi perancangan, dimana penerapannya dipengaruhi oleh pemahaman perancangnya. Berikut merupakan beberapa contoh karya arsitektur dengan penerapan konsep Genius Loci.

1. Therme Vals – Petter Zumthor

Therme Vals adalah karya arsitek Petter Zumthor berupa hotel dan spa air panas. Tubuh manusia sebagai elemen penting dari kegiatan pemandian ini membentuk integral fungsi dan tujuan dari bangunan.

a. Lokasi

Therme Vals berada di Vals, sebuah lembah kecil di Graubunden di Switzerland. Bangunan berbentuk monolit dengan sebagian besar material berupa batu dari

Gambar 02 – Therme Vals di Switzerland Sumber : Pinterest

(8)

8 tambang lokal sehingga bangunan ini memiliki fasad yang menyatu dengan lingkungan pegunungan sekitar. Pembagian ruang dilakukan secara sistematis dan mengambil referensi bentuk gua untuk bagian ruang dalam. Therme Vals dibangun di satu-satunya mata air panas di daerah Vals, Switzerland yang dikelilingi padang rumput hijau pegunungan dan merupakan bangunan yang sangat responsif terhadap lingkungan sekitarnya. Zumthor sebagai arsitek berusaha mendalami tapak dan sumber daya lokal. Refleksi kenangan masa lalu, persepsi dan pengalaman ruang menjadi faktor utama Zumthor dalam mendesain bangunan yang menjadikannya menyatu antara alam dan lingkungan terbangun.

Seperti yang dikatakan Norberg-Schulz (1980), sebuah tempat memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan lokasi. Tempat didefinisikan oleh karakter, sebuah atribut yang dihasilkan melalui tindakan manusia dan persepsi, dimana tubuh dan pikiran akan terkait. Pikiran memainkan peran mendasar dalam pembentukan karakter tempat, mengacu pada apa yang dikenal dan terkait dengan masa kanak-kanak dan budaya seseorang. Oleh karena itu, karakter tempat tergantung pada hubungan seseorang dengan tempat dan kenangan yang dimilikinya.

Gambar 03 – Ilustrasi Potongan Tapak Therme Vals Sumber : www.dezeen.com

Gambar 04 – Salah Satu Sisi Bangunan Therme Vals Sumber : www.dezeen.com

Gambar 05 – Lembah Vals di Switzerland Sumber : www.dezeen.com

Gambar 06 – Pegunungan Swiss yang mengelilingi daerah Vals

(9)

9 b. Bangunan Therme Vals

Zumthor sebagai arsitek mengerjakan bangunan ini berdasarkan pendekatan sensitif. Ia ingin orang-orang dapat merasa seperti masuk ke dalam gua dan merasakan esensi mandi di kolam gua tersebut. Maka saat memulai desainnya, Zumthor memfokuskan pada tiga elemen pembentuk ruang. Pertama ia mengembangkan konsep struktur tambang batu bawah tanah yang terdiri dari pemikul beban dinding pendukung kantilever yang menciptakan tiga sisi ruang bebas. Kedua, tiga sisi ruang bebas ini kemudian digunakan sebagai ruang terbuka untuk pengunjung menikmati pemandangan Pegunungan Swiss. Ketiga, Zumthor menciptakan ruang-ruang tertutup untuk pemandian dan berusaha membuat atmosfer yang berbeda di tiap ruangan dengan memberikan suasana warna berbeda untuk setiap ruang tersebut.

Tempat beberapa ruang bertemu dan bertransisi menciptakan pengalaman tersendiri. Penataan ruang dalam yang lapang memberikan kebebasan bereksplorasi untuk kamar-kamar dan koridor. Koridor dibuat mengikuti jejak cahaya yang masuk ke ruangan melalui bukaan-bukaan. Hal ini membangkitkan rasa penasaran pengunjung akan ruangan-ruangan yang dimasuki. Ketika melewati koridor untuk memasuki ruang pemandian, dibuat jalan yang menyempit dan menurun jauh, terkadang terdapat pintu tersembunyi di dinding-dinding yang memberikan kesan menarik untuk ditemukan. Dan ketika tiba di ruang pemandian, pengunjung akan menemukan ukuran ruangan yang bervariasi.

Pendekatan yang digunakan Zumthor dalam mendesain Therme Vals menunjukkan bahwa teori ruang menjadi inspirasi dalam pengembangan desain bangunan ini.

Gambar 07 – Denah dan Potongan Therme Vals Sumber :

(10)

10 Pertama, desain ini menunjukkan sensitifitas arsitek dalam mengembangkan esensi yang dimiliki tapak. Bangunan seperti masuk ke dalam tapak dan terasa bangunan tersebut memang bagian dari tapak dan alam sekitarnya. Konsep massa dan material bangunan bangunan dibuat dengan material batu lokal yang bernama Valser Quarzite. Zumthor sendiri berbicara tentang aura dari tapak dan berusaha mewujudkannya ke dalam sebuah tempat yang aman, tenang dan memiliki “sense of belonging”. Zumthor juga telah mengaplikasikan konsep Genius Loci dari Norberg-Schulz seperti tertulis dalam buku The Phenomenology of Place.

Meskipun tujuan Zumthor adalah merancang sebuah pemandian, namun inspirasi untuk Therme Vals ini tidak selalu datang dari fungsinya, tetapi lebih dari materialitas dan lingkungan sekitar. Batu yang menjadi wadah air kolam ini juga dapat mengingatkan pada sejarah perayaan mandi orang-orang 3500 tahun yang lalu.

Gambar 09 – Hubungan Material dengan Alam Sumber :

https://danilalonde.files.wordpress.com/2012/12/danifinalca sestudy.pdf

Gambar 08 – Kerangka Konsep Desain Petter Zumthor Sumber :

(11)

11 Kedua, hubungan antar ruang juga menjadi landasan berpikir Zumthor. Penataan ruang memberikan eksplorasi bagi pengunjung yang bergerak dari ruang satu ke ruang lainnya melalui koridor, karena penataan tersebut menyebabkan banyaknya ruang-ruang yang tak terduga yang menarik bagi pengunjung. Kolom-kolom batu dan kantilever menciptakan ruang gerak sesuai modul struktur kolom batu yang membuat bagian-bagian tertentu menjadi

“infinite”. Seperti teras yang menonjol keluar seakan berada di ruang luar namun masih dalam

naungan bangunan (Gambar 10).

Ketiga, perbedaan lebar dan tinggi ruangan hanya dapat dirasakan secara langsung ketika memasuki bangunan dan ruang-ruang di dalamnya. Sensasi ini akan mempengaruhi orang-orang yang berada di dalamnya, di mana pengalaman ruang yang berbeda akan dirasakan di setiap ruangan yang mereka masuki. Ini merupakan suatu pengalaman yang tidak akan bisa dirasakan melalui peta atau gambar rencana saja. Jadi secara keseluruhan Therme Vals ini memberikan sesuatu yang nyata untuk pengalaman seseorang.

Gambar 11 – Interior Ruang Pemandian / Spa Therme Bath Sumber : Pinterest

Gambar 10 – Ilustrasi Penataan Ruang Therme Vals Sumber :

(12)

12

Gambar 12 – Diagram Fungsi Ruang Dalam Therme Bath Sumber :

https://danilalonde.files.wordpress.com/2012/12/danifinalca sestudy.pdf

(13)

13 Sebagai kesimpulan, pendekatan dasar yang dilakukan oleh Zumthor telah dipengaruhi oleh teori ruang yang menempatkan manusia dalam pengalaman untuk benar-benar merasakan esensi dari lingkungan dan alam sekitar yang dibuat nyata dalam bentuk karya arsitektur. Karya Therme Vals ini dapat dikatakan sebagai sebuah memori di masa sekarang dari konteks masa lalu dan masa depan. Therme Vals menjadi identitas, khususnya oleh masyarakat di daerah Vals. Untuk itu mereka menganggap bangunan ini sangat berharga dan melakukan perawatan dengan baik dengan membatasi orang yang berkunjung. Hal ini dilakukan demi menjaga arsitektur bangunan agar tetap terjaga dengan baik.

2. Heritance Kandalama Hotel, Sri Lanka by Geoffrey Bawa

Geoffrey Bawa adalah seorang arsitek dari Sri Lanka yang menerapkan konsep Genius Loci atau Sense of place dalam rancangannya. Salah satu karyanya adalah Heritance Kandalama Hotel di Sri Lanka. Lokasi Hotel ini terletak di Dambulla, Sri Lanka yang berdekatan dengan tempat historikal yaitu Sigirya.

a. Lokasi.

Pembangunan Hotel Kandalama adalah sebuah inisiatif dari owner dalam idenya untuk memperluas/menambah area dalam paket wisata di Sri Lanka sepanjang pantai di barat laut yang juga dikenal dengan “cultural Triangle”, bangunan dirancang oleh Geoffrey Bawa dan dibangun pada tahun 1992 dan opening dilakukan pada tahun 1995. Lokasi tapak terletak di sebuah tepi waduk/danau kuno yang mengelilingi sebuah area lereng berbatu di dembulla, Sri Lanka, yang lebih dikenal dengan cultural site Segirya.

Tapak ini memiliki karakter dan nilai historis, dalam dengan lanskap berbentuk lereng bebatuan dan hutan tropis yang dikelilingi oleh waduk/danau kandalama. Dalam hal ini Arsitek mendapat tantangan untuk mempertahankan nilai kontekstual atau karakteristik dari sebuah tapak tanpa mengurangi nilai-nilai arsitektur yang akan diwujudkannya.

Gambar 13 – Karakteristik Tapak di Kandalama Sumber :

http://www.hotels.com/ho247199/heritance-kandalama-dambulla-sri-lanka/

(14)

14 b. Kandalama Hotel.

Pada tahun 1991 Geoffrey Bawa ditugaskan untuk merancang hotel yang berdekatan dengan kota sejarah yaitu Sigirya. Posisi tapak yang awalnya ditentukan oleh owner dimaksudkan untuk menarik banyak wisatawan yang ingin secara langsung mengunjungi reruntuhan kuno kota di atas tebing Segirya. Namun Geoffrey Bawa sebagai arsitek tidak ingin bangunan justru mengganggu keberadaan dari lanskap Budaya Segirya ini, sehingga menyarankan kepada owner untuk menggeser posisi bangunan ke arah tenggara dari posisi awal. Lokasi tapak yang baru memberi tantangan kepada arsitek karena terdapat lanskap berbatu dengan lereng bukit yang menghadap langsung ke danau Kandalama. Lokasi tapak ini menjadi dasar Geoffrey Bawa untuk merancang bangunan di mana kondisi topografi dan lereng bebatuan yang “berombak” membantu untuk membentuk atau merancang bangunan hotel yang dasarnya mengikuti kontur eksisting pada tapak. Hal ini menjadi suatu sikap Geoffrey Bawa sebagai arsitek yang sensitif terhadap keadaan eksisting tapak, yang mana sebisa mungkin meminimalkan kerusakan dan mempertahankan karakter tapak.

Bebatuan pada tapak yang terintegrasi langsung ke dalam desain adalah salah satu dari upaya Geoffrey yang sensitif terhadap kondisi lanskap eksisting pada tapak. Tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah bangunan yang secara arsitektur dan eksisting lanskap terdefinisi dan terintegrasi secara baik, dengan lanskap eksisting.

Desain dari Geoffrey Bawa menghasilkan konsep “sustainable desain” jauh sebelum istilah ini diciptakan dan Geoffrey Bawa mengembangkan konsep desain yang kontekstual berdasarkan teori dan keadaan eksisting di dalam tapak. Desain Geoffrey Bawa juga meenjatuhkan konsep pembatas antara ruang dalam (indoor) dan ruang luar (outdoor), di mana dia justru

Gambar 14 – Siteplan Kandalama Hotel Sumber : https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/d3/59/21/d35921c3b1b3db

480612933892819e66.jpg

Gambar 15 – Potongan Kandalama Hotel Sumber :

http://www.archdaily.com/460721/remembering-

(15)

15 menggunakan bagian dari arsitektur lanskap menjadi bagian dari ruang interior, dan menciptakan ruang-ruang yang dipisahkan oleh courtyards dan kebun.

Pada Gambar 16 terlihat interior dari koridor hotel yang menggunakan bagian dari lereng bebatuan yang terdapat pada lahan eksisting. Melalui konsep kontekstual Geoffrey Bawa ingin memberikan pengalaman ruang kepada pengunjung hotel tentang apa dan bagaimana sebenarnya karakter dari sebuah tapak yang terletak di Dambulla dengan nilai historis dari reruntuhan Segirya. Pada gambar 17 tampak keadaan bangunan di dalam tapak, dengan bentuk siteplan yang mengikuti kontur atau topografi dari tapak, juga lereng bebatuan yang menjadi bagian dari rancangan arsitektur. Geoffrey Bawa secara konsisten berpegang pada konsep desain kontekstual dengan meminimalkan kerusakan pada tapak yang disebabkan oleh pembangunan.

Pendekatan yang dilakukan Geoffrey Bawa dalam rencangannya jika dikaitkan dengan konsep genius loci dari Norberg-Schulz memiliki kesamaan dalam mempertahankan nilai kontekstual dari tapak yang akan memunculkan sebuah genius loci atau spirit of place, yang akan menempatkan manusia di dalam pengalaman ruang yang menceritakan esensi dari lingkungan dan alam sekitar yang terintregasi dengan konsep dalam arsitektur.

KESIMPULAN

Genius Loci dalam arsitektur merupakan sebuah konsep yang mengalami perubahan mengkuti perkembangan zaman dari waktu ke waktu. Genius Loci yang pada masa Romawi Kuno merajuk pada arwah/spirit yang menempati suatu tempat, seiring dengan perkembangan zamannya kemudian berubah menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian pada suatu karya arsitektur yang menyesuaikan dengan kondisi fisik sekitar bangunan, tingkah laku manusia, kelompok, dan budaya setempat.

Therme Valz karya Zumthor telah berhasil menempatkan manusia dalam pengalaman otentik untuk benar-benar merasakan esensi dari lingkungan dan alam sekitar, yang dibuat nyata dalam bentuk karya arsitektur. Demikian juga yang dilakukan oleh Geoffrey Bawa dalam

Gambar 16 – Koridor pada hotel Sumber : Architecture Betwee the culture-nature

dualism : A-case study of Geoffrey Bawa’s Kandalama hotel”. International Journal of Architectural Research, Volume 2 – Issue 1 – March

2008 – (40-56)

Gambar 17 – Kandalama Hotel Aerial View Sumber :

https://thinkmatter.in/2014/10/24/remembering-bawa/aerial-photo/

(16)

16 Kandalama Hotel. Topografi tapak tertuang dalam desain bangunan secara terintregasi dan berhasil di dalam pengalaman otentik untuk benar-benar merasakan esensi dari lingkungan dan alam sekitar.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa bagi para Arsitek, penerapan konsep Genius Loci memiliki peran penting dalam isu-isu green building, dikarenakan konsep Genius Loci sangat mengutamakan kondisi alam, cuaca, tapak dan lingkungan disekitarnya. Selain itu konsep ini juga membantu pelestarian budaya lokal setempat yang di beberapa daerah sudah semakin memudar dikarenakan perkembangan zaman.

DAFTAR PUSTAKA

Ceriden Owen (2007).”Architecture Betwee the culture-nature dualism : A-case study of Geoffrey Bawa’s Kandalama hotel”. International Journal of Architectural Research, Volume 2 – Issue 1 – March 2008 – (40-56)

Dayang Fatin Nilisa. Tanya Eskander. Miranda McCabe. Timothy Smith. “The Kandalama Hotel-description” 06 Mei 2016.

http://geoffreybawa.wix.com/kandalamahotel#!description

Dwi Astuti Depari, Chatarina (2012). Transformasi Ruang Kampung Kauman Yogyakarta

Sebagai Produk Sinkretisme Budaya.

Haddad, Elie, (2010). Christian Norberg-Schulz's Phenomenological Project In Architecture,

Architectural Theory Review, 15:1, 88-101

Pagan, Sabine. Contemporary Jewellery : A Phenomenological Approach to Making Informed by

Architecture.

Punuh, Claudia Susana, 2014, Genius Loci Kampung Los di Kelurahan Malallayang | Timur

Manado diunduh dari

ejournal.unsrat.ac.id/index.php/SABUA/article/download/5330/4843

Teori Arsitektur – Phenomenology. 05 Mei 2016.

http://www.oocities.org/sta5_ar530_2/tugas_kel2/tgskel6/kel6.htm

https://www.academia.edu/1529176/_2012_Fenomenologi_Arsitektur_Konsep_Sejarah_dan _Gagasannya

Figur

Memperbarui...

Related subjects :