• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laprak Fitri - CANTIK .docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laprak Fitri - CANTIK .docx"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEM KENDALI

SISTEM KENDALI

PENGENALAN MATLAB UNTUK

PENGENALAN MATLAB UNTUK

PERANCANGAN, ANALISIS DAN SIMULASI

PERANCANGAN, ANALISIS DAN SIMULASI

SISTEM KENDALI POSISI

SISTEM KENDALI POSISI

Disusun Oleh :

Disusun Oleh :

Fitri Dwi Fani - 1510631160049

Fitri Dwi Fani - 1510631160049

LABORATORIUM DASAR TEKNIK ELEKTRO

LABORATORIUM DASAR TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2018

2018

(2)

MODUL 3 PENGENALAN M

MODUL 3 PENGENALAN MATLAB UNTUKATLAB UNTUK

PERANCANGAN, ANALISIS DAN SIMULASI SISTEM PERANCANGAN, ANALISIS DAN SIMULASI SISTEM

KENDALI POSISI KENDALI POSISI

Fitri Dwi Fani (1510631160049) Fitri Dwi Fani (1510631160049)

Dosen Pengampu: Mochamad Mardi Marta Dinata, ST., MT. Dosen Pengampu: Mochamad Mardi Marta Dinata, ST., MT.

Tanggal Percobaan: 19/03/2017 Tanggal Percobaan: 19/03/2017 TEL51650-Praktikum Sistem Kendali TEL51650-Praktikum Sistem Kendali Laboratorium Fakultas Teknik

Laboratorium Fakultas Teknik –  –  Universitas Singaperbangsa Universitas Singaperbangsa Karawang

Karawang

Abstrak

Abstrak

 Pada

 Pada modul modul 3 3 ini ini akanakan

mempelajari tentang

mempelajari tentang

 pengenalan

 pengenalan matlab matlab untukuntuk  perancangan,

 perancangan, analisis analisis dandan  simulasi

 simulasi sistem sistem kendali poskendali posisi.isi.  Percobaan

 Percobaan pertama pertama akanakan membuat fungsi transfer dan membuat fungsi transfer dan mencari nilai pole dan zero mencari nilai pole dan zero

nya. Selanjutnya adalah

nya. Selanjutnya adalah

mensimulasikan sistem

mensimulasikan sistem

 pengendali

 pengendali posisi posisi motor motor DCDC lingkar terbuka dalam waktu lingkar terbuka dalam waktu diskrit dan waktu kontinyu. diskrit dan waktu kontinyu. Terakhir adalah membuat Terakhir adalah membuat

diagram Simulink untuk

diagram Simulink untuk

kontrol PID. Harapan dari kontrol PID. Harapan dari  praktikum

 praktikum kali kali ini ini adalahadalah  praktikan

 praktikan mengerti mengerti tentangtentang

alat-alat yang sering

alat-alat yang sering

digunakan khususnya bidang digunakan khususnya bidang elektro yaitu dalam

elektro yaitu dalam praktikumpraktikum

ini adalah menggunakan

ini adalah menggunakan

 software

 software mathlab. mathlab. Selain Selain ituitu

dapat membuat sebuah

dapat membuat sebuah

rancangan mengenai sistem rancangan mengenai sistem kendali posisi pada waktu kendali posisi pada waktu

diskrit maupun waktu

diskrit maupun waktu

kontinyu serta dapat

kontinyu serta dapat

melakukan analisis pada

melakukan analisis pada

 fungsi

 fungsi transfer transfer model model yangyang diperoleh.

diperoleh.

Kata kunci: Mathlab, Kendali Kata kunci: Mathlab, Kendali  posisi

 posisi motor motor DC DC lingkarlingkar

terbuka dan Rancangan

terbuka dan Rancangan

control  control  PID. PID.

1. PENDAHULUAN

1. PENDAHULUAN

Percobaan modul 3 ini Percobaan modul 3 ini

adalah awalan untuk

adalah awalan untuk

 praktikan memah

 praktikan memahami konsepami konsep Mengenai pengenalan matlab Mengenai pengenalan matlab untuk perancangan, analisis untuk perancangan, analisis dan simulasi sistem kendali dan simulasi sistem kendali  posisi menggunakan software  posisi menggunakan software Matlab. Ada pun tujuan Matlab. Ada pun tujuan  praktikum adal

 praktikum adalahah 1.

1. Mampu Mampu melakukanmelakukan analisis dan simulasi analisis dan simulasi

sistem pengendalian

sistem pengendalian

waktu kontinyu maupun waktu kontinyu maupun diskrit.

(3)

2. Memahami konsep kestabilan sistem  pengendalian posisi motor DC. 3. Mampu memahami  pengaruh periode sampling terhadap

kestabilan sistem pada waktu diskrit.

4. Melakukan perancangan

sistem pengendali PID menggunakan software Matlab

.

5. Melakukan simulasi sistem pengendalian  posisi motor DC menggunakan software Matlab.

2. STUDI PUSTAKA

2.1

Pengendalian Posisi

Berdasarkan fungsi

transfer motor yang telah diperoleh dari percobaan pada modul

sebelumnya, maka hubungan antara tegangan input motor Vm dengan posisi sudut

motor Om  dalam domain

Laplace sebagaimana

dinyatakan dalam persamaan  berikut:

Pada dasarnya terdapat dua  jenis sistem pengendalian,

yaitu pengendalian lingkar terbuka dan pengendalian

lingkar tertutup. Pada

 pengendalian lingkar terbuka,

keluaran sistem tidak

diumpanbalikkan untuk

dibandingkan dengan sinyal referensi. Hal

ini bisa menimbulkan

kesalahan keadaan tunak. Berikut ini adalah gambar diagram blok

sistem pengendalian lingkar terbuka:

Sedangkanpada pengendalian lingkar tertutup, keluaran

sistem diumpan balikkan

untuk dibandingkan dengan sinyal referensi. Hal ini

 bertujuan agar keluaran

sistem bisa diminimalkan. Berikut ini adalah gambar

diagram blok sistem

(4)

2.2

Pengendali

PID

Diskrit

Prinsip dari pengendali PID diskrit secara umum sama dengan pengendali PID kontinyu. Berikut ini adalah  bentuk pengendali PID diskrit dalam domain z dengan U(z) sebagai sinyal kendali dan E(z) sebagai sinyal eror, yang dalam proses integrasinya

menggunakan metode

forward Euler:

serta tuning parameternya. Lebih dari 95% proses di

industri menggunakan

 pengendali ini. Pengendali ini merupakan gabungan dari  pengedali proportional (P), integral (I), dan derivative (D). Berikut ini merupakan  blok diagram dari sistem  pengendali dengan lingkar

tertutup (closed loop):

Keluaran pengendali PID

akan mengubah respon

mengikuti perubahan yang ada pada hasil pengukuran sensor dan set point yang

ditentukan. Pembuat dan

 pengembang pengendali PID menggunakan nama yang

 berbeda untuk

mengidentifikasi ketiga mode

 pada pengendali ini

diantaranya yaitu:

Karakteristik Pengendali

PID

Sebelum membahas

tentang karakteristik

Pengendali PID maka perlu diketahui bentuk

respon keluaran yang akan menjadi target perubahan yaitu :

Pengendali Proposional

Pengendali Proposional

memiliki keluaran yang

sebanding dengan besarnya sinyal kesalahan. Secara lebih sederhana dapat dikatakan,  bahwa keluaran Pengendali

Proposional merupakan

 perkalian antara konstanta

Proposional dengan

masukannya. Perubahan pada sinyal masukan akan segera menyebabkan sistem secara

(5)

langsung mengubah

keluarannya sebesar

konstanta pengalinya.

Gambar berikut menunjukan grafik antara PB, keluaran kontroler dan kesalahan yang

merupakan masukan

controller. Ketika kontanta  proporsional

 bertambahsemakin tinggoi,

 pita proporsional menunjukan

 penurunan yang semakin

kecil, sehingga lingkup kerja yang dikuatkan akan semakin sempit.

Ciri-ciri kontroler

 proporsional harus

diperhatikan ketika kontroler tersebut diterapkan pada suatu sistem. Secara eksperimen

 pengguna kontroler

 proporsional harus

memperhatikan

ketentuan-ketentuan berikut ini :

1. jika nilai Kp kecil, kontroler proporsional hanya

 bisa melakukan koreksi

kesalahan yang kecil.

Sehingga akan menghasilkan respon yang lambat.

2. jika nilai Kp dinaikkan, respon sistem menunjukan

semakin cepat mencapai

keadaan mantabnya.

Kontroler Integral

Kontroler Integral

 berfungsi menghasilkan

respon sistem yang memiliki kesalahan keadaan mantap nol. Kalua sebuah plant tidak memiliki unsur integrator (1/s). kontroler proporsional tidak akan mampu menjamin

keluaran sistem dengan

kesalahan keadaan

mantapnya nol.

Sinyal keluaran

kontroler integral merupakan luas bidang yang dibentuk

oleh kurva kesalahan

 penggerak lihat konsep

numerik. Sinyal keluaran akan berharga sama dengan

harga sebelumnya ketika

sinyal kesalahan berharga nol. Gambar berikut menunjukan

sinyal kesalahan yang

disulutkan kedalam Kontroler

Integral dan keluaran

Kontroler Integral terhadap  perubahan sinyal kesalahan

(6)

Kontroler Diferensial

Keluaran Kontroler

Diferensial memiliki sifat seperti hanya seperti operasi derivatif. Perubahan yang mendadak pada masukan

kontroler, akan

mengakibatkan perubahan

yang sangat besar dan cepat. Gambar berikut menunjukan

 blok diagram yang

menggambarkan hubungan

natara sinyal kesalahan

dengan keluaran kontroler.

Gambar dibawah ini

menyatakan hubungan antara sinyal masukan dengan sinyal keluaran kontroler diferensial. Ketika masukannya tidak

mengalami perubahan,

keluaran kontroler juga tidak

mengalami perubahan,

sedangkan apabila sinyal

masukan berubah mendadak

dan menaik, keluaran

menghasilkan sinyal

 berbentuk impulse. Jika

sinyal berubah naik secara  perlahan, keluarannya justru merupakan fungsi step yang

 besar magnitudenya sangat dipengaruhi oleh kecepatan naik dari fungsi ramp dan

factor konstanta

diferensialnya tadi.

Kontroler PID

Setiap kekurangan dan kelebihan dari masing-masing kontroler P, I dan D dapat

saling menutupi dengan

menghasilkan ketiganya

secara parallel menjadi

kontroler proporsional plus

integral plus diferensial.

Elemen-elemen kontroler P, I dan D masing-masing secara

keseluruhan menghasilkan

 perubahan awal yang besar. Gambar berikut menunjukan  blok diagram kontroler PID.

Sistem pengendali PID

(Proporsional Integral

(7)

sistem pengendali yang digunakan secara luas di

 berbagai bidang industri.

Pengendali PID terdiri dari 3 komponen pengendali, yaitu  proporsional, integral, dan

derivatif.

1. Proporsonal

Dalam domain waktu

kontinyu, hubungan antara sinyal eror B dengan sinyal kontrol u  dinyatakan dalam  persamaan berikut:

Dari persaamaan (2.1) terlihat

 bahwa pengendali

 proporsional menghasilkan sinyal kontrol berupa sinyal

eror yang dikalikan

(proporsional) dengan

konstanta proporsonal Kp.

Pengendali proporsional

digunakan untuk

memperbesar penguatan dan mempercepat respon transien. 2. Integral

Dalam pengendali

integral, nilai eror  B

diumpankan sebagai laju

 perubahan sinyal kontrol u

sebagaimana dinyatakan

dalam persamaan berikut ini: Pengendali integral berfungsi untuk menghilangkan galat atau steady state error

meskipun juga dapat

menyebabkan terjadinya

overshoot dan osilasi yang

mengakibatkan keadaan

tunak lama dicapai. 3. Derivatif

Pengendali derivatif akan

memberikan suatu sinyal

kontrol u  yang bersesuaian dengan laju perubahan sinyal

eror  B  sebagaimana

dinyatakan dalam persamaan  berikut ini:

Pengendali ini digunakan untuk mempercepat respon transien meskipun memiliki

kekurangan, yaitu dapat

meningkatkan derau sistem. Sistem pengendali PID bisa

 berupa kombinasi antara

 proporsional, integral, dan derivatif, bergantung pada

respon sistem yang

diinginkan. Apabila ketiga  jenis

 pengendali tersebut

digunakan, maka persamaan

yang menyatakan antara

sinyal eror  B dengan sinyal

kontrol u  dalam domain

waktu kontinyu adalah:

Dalam domain Laplace

dinyatakan sebagai:

(8)

Berikut ini adalah diagram  blok sistem secara umum

yang menggunakan

 pengendali PID:

Keluaran kontroler PID

merupakan jumlahan

kontroler proporsional,

kepuaran kontroler integral.

Gambar dibawah ini

menunjukan hubungan

tersebut.

2.3 Identifikasi Sistem

Estimasi Orde Sistem

Orde atau dikenal dengan derajat suatu sistem dapat diestimasi dari fungsi step

(step response) yang

dipergunakanatau dengan

 penggunaan Bode Plot.

Derajat relative suatu sistem yaitu perbedaan antara orde

dari denominator (penyebut) dan orde dari numerator (pembilang) dari fungsi alih

Step Response Jika

respon respon sistem

merupakan non-zero step input akan memiliki slope yang bernilai 0 ketika t=0, sistem harus merupakan orde kedua atau lebih tinggi lagi sebab sistem memiliki derajat relative dua atau lebih. Jika step respon menunjukkan osilasi sistem juga harus menunjukkan orde kedua atau lebih dengan sistem yang underdamped.

Bode Plot  –   Penggambaran

fasa (phase plot) juga dapat

menjadi indikator untuk

mencari orde yang baik. Jika fasa turun hingga dibawah -90 degrees, sistem merupakan orde kedua atau lebih tinggi.

Derajat relative sistem

memiliki nilai paling kecil atau sama besar dengan  bilangan dari perkalian -90 degrees hingga dicapai nilai asymtot pada nilai paling rendah pada penggambaran fasa (phasa plot) sistem.

(9)

IDENTIFIKASI

SISTEM DARI STEP

RESPONSE

Dumping Ration  –   Untuk

kondisi underdamped dari

sistem orde dua, Nilai

dumping ratio dapat dihitung dari persentase overshoot dengan menggunakan rumus

sebagai berikut : ζ =

-ln(%OS/100) /

sqrt(π2+ln2(%OS/100))

dimana %OS merupakan

 persentase overshoot, yang

dapat diperkirakan dari

 penggambaran nilai off dari step response.

DC Gain - Nilai Penguatan

DC (DC gain) merupakan  perbandingan dari kondisi steady state dari step response dengan nilai magnitude dari step input. DC Gain = steady state output / step magnitude

Natural Frequency  – 

Frekuensi alami (natural

frequency) dari kondisi

underdamped sistem orde dua dapat ditentukan dari nilai damped frekuensi alami yang

dapat diukur dari nilai

 penggambaran off step

response dan nilai damping ratio seperti yang telah dihitung diatas. ωn = ωd /

sqrt(1 - ζ2) dimana ωd

merupakan damped frekuensi dalam rad/s yang bernilai 2π/Δt dimana Δt merupakan interval wakti antara dua consecutive peaks dari step response.

IDENTIFIKASI SISTEM DARI BODE PLOT

DC GAIN  –   Nilai DC

Gain sistem dapat dihitung dari nilai magnitude bode plot ketika s=0. DC Gain = 10M(0)/20 where M(0) is the magnitude of the bode plot when jω=0.

NATURAL FREQUENCY  –   Frekuensi alami (natural frequency) dari sistem orde dua terjadi ketika fasa dari

respon mencepai sudut

relative -90 terhadap fasa input. ωn = ω90° dimana ω-90° merupakan frekuensi  pada saat phase plot di -90

degree.

DAMPING RATIO - Nilai

damping ratio sistem

ditemukan dengan nilai DC Gain dan nilai magnitude dari  bode plot ketika fasa plot -90 degrees. ζ = K /

(2*10(M-90°/20)) dimana M-90°

merupakan nilai magnitude  bode plot ketika fasa -90

(10)

IDENTIFIKASI

PARAMETER SISTEM Jika tipe sistem telah diketahui, parameter khusus sistem dapat ditentukan dari step response atau bode plot. Bentuk umum fungsi alih dari sistem orde satu yaitu : G(s) =  b / (s+a) = K / (τs+1).

Sedangkan bentuk umum fungsi alih dari sistem orde dua yaitu : G(s) = a/(s2+bs+c) = Kωn 2 / (s2+2ζωns+ωn 2)

2.4 Software MATLAB

Matlab adalah suatu

 bahasa tingkat tinggi untuk

komputasi numerik,

visualisasi dan pemrograman. Matlab bisa digunakan untuk  berbagai aplikasi, termasuk

 pemrosesan sinyal dan

komunikasi, gambar dan

 pemrosesan video, sistem kontrol, uji dan pengukuran, keuangan komputasi, dan  biologi komputasi. Di dalam Matlab, terdapat suatu tools yang bisa digunakan untuk

simulasi, yaitu Simulink.

Simulink menyediakan fungsi - fungsi yang diprogram

secara grafik untuk

melakukan simulasi berbagai sistem.

Simulink

Perangkat lunak

SIMULINK dikembangkan

oleh MATHWORK, untuk

melakukan modelling,

simulasi, dan analisis

dinamika sistem proses.

Dengan demikian sangat

 bermanfaat dalam

 perancangan kendali dan

 pemrosesan sinyal, baik

dalam bentuk kontinyu

maupun digital. Didalam

folder MATLAB, Simulink

menempati satu directory

tersendiri, terlepas dari

directory “TOOLBOX”,

sehingga diperlukan

perhatian tersendiri saat

menginstal paket program

MATLAB. Penyajian

“statement” dalam bentuk

diagram blok, yang

berinteraksi dengan function, mfile dalam MATLAB, juga dapat berinteraksi perangkat

luar dengan pemrogram

dalam bahasa C maupun fortran. Blok-blok statement dikelompokkan pustaka blok diagram (“Simulink Library

Browser”). Setiap Blok

Statement dilengkapi dengan minimal salah satu jalur I/O

(“port input/output”),

digunakan sebagai perangkat

antarmuka dengan blok

statement yang lain. Adapun parameter blok statement dapat diubah-ubah sesuai

(11)

dengan kebutuhan saat melakukan simulasi. Semua kemudahan tersebut sangat didukung dengan sistem GUI (graphic user interface) yang ada dalam paket program MATLAB. Untuk mengawali

penggunaan SIMULINK,

program MATLAB dijalankan

terlebih dahulu, setelah

muncul prompt pada

“COMMAND WINDOW”,

tekan icon simulink pada

toolbar MATLAB (lihat

Gambar berikut)

Atau tulis “simulink” di

 prompt MATLAB pada

Command Window, seperti terlihat pada gambar berikut.

Beberapa saat kemudian akan muncul window “Simulink Library Browser”, seperti  pada gambar berikut.

Simulink merupakan bagian dari Matlab yang memiliki

fasilitas untuk

mensimulasikan sistem

kendali tanpa harus

menuliskan program terlebih dahulu, tetapi dengan cara

menyusun blok-blok yg

menggambarkan function

dalam Matlab. Dibawah ini  bagian sistem terpenting dari  blok  –   blok untuk proses

 program pengendali dari

Simulink.

Dari blok  –   blok diagram diatas masing diklasifikasikan lagi beberapa blok sesuai dengan kegunaannya. Berikut akan diberikan contoh dari masing  –   masing blok dan

kegunaannya masing  – 

masing.

Untuk mewewakili input atau masukan

Untuk melihat Sinyal

(12)

Untuk mewakili suatu  pengendali / controller

Untuk bentu suatu sistem atau Plant

3. METODOLOGI

3.1 MENCARI POLE DAN ZERO 3.2 PENENTUAN FUNGSI TRANSFER MOTOR DC DISKRIT 3.3 MENCARI RESPON WAKTU KONTINU Setelah mendapatkan fungsi tarnsfer pole(sysd) Zero(sysd) Hasil

Menentukan persamaan mana yang diakan di tentukan fungsi transfernya

Masukan nilai num dan den di matlab. Num untuk nilai pembilang dan zero untuk nilai penyebut

Tuliskan sysd=c2d(s ys,Ts) untuk menentukan fungsi transfer sistem waktu diskrit dari persamaan diatas.

Menentukan

fungsi

transfer dari

persamaan

impulse(sys)

untuk melihat

sinyal impulse

step(sys)untu

k melihat

sinyal step

[u,t]=gensig('sine',t, tf,dt); lsim(sys,u,t) untuk melihat sinyal sinusoidal. [u,t]=gensig(squa re',t,tf,dt); lsim(sys,u,t) untuk melihat sinyal kotak

(13)

3.4 MENCARI RESPON WAKTU

DISKRIT

3.5 MENCARI ROOT

LOCUS, NYQUIST, DAN BODE PLOT KONTINU

Menentuka

n fungsi

transfer

dari

persamaan

impulse(sysd

) untuk

melihat

sinyal ipulse

step(sysd)un

tuk melihat

sinyal step

[u,t]=gensig('sine', t,tf,dt); lsim(sysd,u,t) untuk melihat sinyal sinusoidal. [u,t]=gensig(squ are',t,tf,dt); lsim(sysd,u,t) untuk melihat sinyal kotak Menentukan fungsi transferdari persamaan

rlocus(sys) untuk melihat grafik root locus

nquist(sys) untuk melihat grafik nyquist

bode(sys) untuk melihat grafik bode plot

margin(sys) untuk mencari gain margin dan phase margin

(14)

3.6 MENCARI ROOT LOCUS, NYQUIST, DAN BODE PLOT DISKRIT

3.7 PENENTUAN NILAI

PENGUATAN YANG

MEMBUAT SISTEM

MULAI TIDAK STABIL

3.8 MENCARI FUNGSI TRANSFER DAN GRAFIK

RESPON WAKTU DENGAN NILAI PERIODE SAMPLING YANG BERBEDA 3.9 Perancangan Pengendali PID

3.10

Simulasi Sistem Pengendali menggunakan Simulink Menentukan fungsi tarnsfer rlocus(sys) untuk kontinyu rlocus(sysd) untuk diskrit mencari nilai parameter penguatan yang membuat sistem mulai tidak stabil. Menentukan fungsi transfer waktu diskrit sysd=c2d(sys,Ts) masukan tiga nilai

sampling yang berbeda melihat pengaruh sampling terhadap kestabilan sistem membuat fungsi transfer pengendali PID melakukan tuning PID otomatis Hasil rangkai kecepatan motor DC Run Hasil Menentukan fungsi transferdari persamaan

rlocus(sysd) untuk melihat grafik root locus

nquist(sysd) untuk melihat grafik nyquist

bode(sysd) untuk melihat grafik bode plot

margin(sysd) untuk mencari gain margin dan phase margin

(15)

3.11 Pengendali Kecepatan Motor DC menggunakan Simulink

3.12 Kontrol PID pada

Kecepatan Motor DC

Menggunakan Simulink

4. HASIL DAN ANALISIS

4.1 Percobaan 1 Script

Matlab.

Tugas 1 membuat fungsi transfer motor DC waktu kontinyu.

Gambar Tugas 1

Pada percobaan fungsi

transfer motor DC untuk  pengendalian posisi dengan nilai input K=28,9rad/V.s dan

τ

  = 0,0909s. maka diperoleh hasil:

Persamaan, fungsi transfer =

28,9 0,0909 + 

Yang menghasilkan nilai pole = 0 dan -11.0011 dan nilai zero tidak ada.

rangkai pengendali P, PI dan PID masukan parameter Run Hasil rangkai pengendali PID masukan parameter Run Hasil

(16)

Tugas 2 mengubah fungsi transfer motor DC ke dalam waktu diskrit.

Gambar Tugas 2

Pada percobaan mengubah fungsi transfer motor DC yang telah dibuat dalam tugas 1 sebelumnya lalu diubah kedalam waktu diskrit dengan nilai T=0,01s maka diperoleh hasil:

Persamaan fungsi transfer  =

0,01533 + 0,01478  − 1,896 + 0,8958

 Nilai pole 0.8979 dan zero = 0

Tugas 3 membuat plot respon sistem DC lingkar terbuka

Persamaan waktu kontinyu

Gambar Tugas 3 Sinyal Impulse Kontinyu

Terlihat pada gambar impulse respon diatas bahwa sinyal dalam keadaan baik serta tidak terjadi under damp dan diperoleh hasil rise time pada 0.5s sampai menuju steady state eror pada 28.9amplitudo dan sistem tetap stabil.

Gambar Tugas 3 Sinyal Step Kontinyu

Terlihat pada gambar respon sistem terhadap sinyal step diatas konstan naik dan

menunjukan nilai peak

amplitudo > 4.5x10^4 dengan waktu 1500s.

(17)

Gambar Tugas 3 Sinyal Sinusioidal Kontinyu

Terlihat pada gambar diatas sinyal sinusoidal memperoleh nilai peak amplitudo pada respon sinus adalah 20 dengan

waktu 2.9s dan peak

amplitudo pada input -1 dengan waktu 8.7s.

Persamaan waktu diskrit

Gambar Tugas 3 impulse diskrit

Pada percobaan diatas dengan inputan t=5s, tf=10 dan dt=0.01. Maka diperoleh hasil respon waktunya seperti pada

gambar diatas, dimana terjadi kenaikan yang sinyal atau

overshoot yang tidak

langsung mengalami

hambatan 0.2s baru sinyal over damp dan mengalami rise time atau stabil pada

waktu 0.52s sebesar

2amplitudo. Apabila kita

menggunakan waktu diskrit maka sinyal outputnya akan seperti gelombang gergaji.

Gambar Tugas 3 step diskrit

Terlihat pada gambar respon sistem terhadap sinyal step diatas konstan naik dan

menunjukan nilai peak

amplitudo > 6.6x10^4 dengan waktu 100s.

(18)

Gambar Tugas 3 sinusoidal diskrit

Terdapat 2 buah sinyal, sinyal  berwarna biru merupakan

sinyal output sedangkan

 berwarna abu-abu sinyal

input/referensinya. Nilai peak amplitudo pada respon sinyal impulse kurang lebih 20 dengan waktu 1.3s sedangkan  peak amplitudo pada input -1 dengan waktu 8s. sistem stabil karena pole sistem bernilai negatif.

Tugas 4 plot root locus, Nyquist dan bode plot

Persamaan waktu kontinyu

Gambar Tugas 4 Plot Root Locus Kontinyu

Pada percobaan root locus diatas waktu kontinyu bersifat stabil karena menghasilkan root locus dengan nilai pole- polenya berada disebelah kiri

dan kanan sumbu imajiner.

Gambar Tugas 4 Plot nyquist Kontinyu

Dari hasil percobaan nyquist kontinyu diatas dihasilkan nilai GM = 20.2dB dan nilai PM = 36.4dB.

(19)

Dari hasil percobaan bode plot kontinyu diatas diperoleh nilai GM = -0.588dB(at 314rad/s)

dan nilai PM tidak

terdefinisikan.

Persamaan waktu diskrit

Gambar Tugas 4 Plot Root Locus Diskrit

Pada hasil percobaan root locus diatas dapat kita lihat  bersifat stabil karena

pole- polenya berada diluar

lingkaran satuan.

Gambar Tugas 4 Plot Nyquist Diskrit

Dari hasil percobaan nyquist kontinyu diatas dihasilkan

nilai GM = 20.2dB dan nilai PM = 36.4dB.

Gambar Tugas 4 Plot bode diksrit

Pada percobaan bode plot diatas dapat kita lihat dan

diperoleh nilai GM =

20.2dB(at 46rad/s) dan PM = 36.4 deg(at 12.8rad/s).

Tugas 5 nilai penguatan sistem mulai tidak stabil

Gambar Tugas 5

Berdasarkan hasil percobaan diatas untuk mencari nilai  penguatan sistem mulai tidak

stabil yaitu dengan

menggunakan Root Locus

dan didapatkan hasil

(20)

grafik diatas, terlihat menyerupai diperoleh nilai root locusnya -0.5.

Tugas 6 kestabilan sistem dengan periode sampling 100hz, 1000hz dan 10Khz

Gambar Tugas 6 100hz

Berdasarkan pada percobaan diatas dimana kita ingin mencari respon waktu dan

fungsi transfer dengan

menggunakan periode

sampling sebesar 100hz dan didapatkan fungsi transfer dan grafik responnya seperti pada gambar diatas menyerupai

sinyal impulse dan

gelombang gergaji. terjadi

overshoot pada 0.1s sebesar 2

amplitudo dan diperoleh

steady state eror stabil pada

waktu 0.52s sebesar

amplitude = 20.

Gambar Tugas 6 1000hz

Berdasarkan pada percobaan diatas dimana kita ingin mencari respon waktu dan

fungsi transfer dengan

menggunakan periode

sampling sebesar 1000hz dan didapatkan grafik respond an fungsi transfernya seperti  pada gambar diatas dimana

overshootnya mulai dari

waktu 0s, peak amplitudo sebesar 18 pada waktu 0.2s dan mengalami steady state eror stabil pada detik ke 0.62s sebesar 20 amplitudo.

(21)

Gambar Tugas 6 10khz

Berdasarkan pada percobaan diatas dimana kita ingin mencari respon waktu dan

fungsi transfer dengan

menggunakan periode

sampling sebesar 10khz dan didapatkan grafik respon dan fungsi transfernya seperti  pada gambar diatas dimana

overshootnya mulai dari

waktu 0.001s, peak amplitudo sebesar 16 pada waktu 0.15s dan mengalami steady state eror stabil pada detik ke 0.45s sebesar 20 amplitudo.

4.2 Perancangan Pengendali PID

Tugas 7 merancang

pengendali untuk sistem pengendali PI

Gambar tugas 7 waktu kontinyu

Pada hasil percobaan

 pengendali sistem PI pada waktu kontinyu. Pada waktu

kontinyu dengan input

settling time kurang dari 0.2s dan overshoot maksimal 15%

maka terjadi overshoot

sebesar 6.5% pada waktu 0.102s nilai peak amplitude sebesar 1.06s dan mengalami akhirnya mengalami settling time tanpa adanya under damp pada waktu 0.211s. Dari  perbandingan antara waktu kontinyu dan waktu diskrit dapat kita lihat pada gambar diatas bahwa sinyal lebih cepat mengalami stabil pada waktu kontinyu dibandingkan dengan waktu diskrit.

(22)

4.3 Simulasi Sistem Pengendali menggunakan Simulink

Tugas 8 simulasi sistem pengendali posisi motor DC

lingkar terbuka waktu

diskrit

Gambar tugas 8 Ts 0.01s waktu diskrit

Gambar tugas 8 Ts 0.001s waktu diskrit

Gambar tugas 8 Ts 0.0001s waktu diskrit

Pada hasil percobaan posisi motor DC lingkar terbuka waktu diskrit diatas dengan 3

sample periode sampling

yaitu, 0.01s, 0.001s dan 0.0001s. Terlihat dari hasil ketiga output pada masing -masing sinyal gambar diatas terlihat bahwa pada waktu diskrit semakin besar nilai  periode samplingnya maka hasil sinyal dihasilkan akan mengalami steady state eror atau stabil semakin cepat

stabilnya. Pada saat

menggunakan nilai input

ts=0.01 sinyal stabil pada waktu 0.56s, 20 amplitudo lebih cepat jika dibandingkan

dengan menggunakan

ts=0.001 stabil pada waktu 0.58s 20 amplitudo.

Tugas 9 simulasi sistem pengendali posisi motor DC lingkar tertutup dengan pengendali PID

(23)

Gambar tugas 9 waktu kontinyu

Pada hasil percobaan

 pengendali posisi motor DC

lingkar tertutup dengan

 pengendali PID dengan waktu diskrit dan waktu kontinyu dapat kita lihat perbedaannya yaitu apabila pada waktu diskrit sinyalnya bergejolak seperti gelombang gergaji dan overshoot pada waktu 0.2s sebesar 0.1 ampllitudo dan stabil pada waktu 0.37s

sedangkan pada waktu

kontinyu sinyal mengalami overshoot pada waktu 0s sebesar 0.2 ampllitudo dan stabil pada waktu 0.348s.

dapat dilihat dari hasil

 perbandingan sinyal lebih cepat mengalami steady state eror pada waktu kontinyu.

Tugas 10 simulasi sistem pengendali posisi motor DC lingkar tertutup

Gambar tugas 10 Ts 0.01s

Gambar tugas 10 Ts 0.001s

Gambar tugas 10 Ts 0.0001s

Pada hasil percobaan simulasi

sistem pengendali posisi

motor DC lingkar tertutup dengan nilai Kp=1.75 dan

menggunakan 3 sample

(24)

0.001 dan 0.0001 didapatkan hasil sinyal pada grafik diatas.

Jika pada percobaan

menggunakan nilai ts sebesar 0.01s lebih sering naik turun sinyal secara berulang kali sedangkan saat menggunakan nilai ts sebesar 0.001 dan

0.0001s setelah sinyal

overshoot pada waktu 0s sebesar 0.92 amplitudo dan langsung stabil, jika kita lihat  pada gambar diatas sinyal lebih cepat stabil pada saat menggunakan nilai ts sebesar 0.0001s pada waktu 0.035s sudah mengalami steady state eror.

Tugas 11 grafik respon open loop hasil ekstraksi linier

Gambar tugas 11 1ekstraksi linier

Pada hasil percobaan open loop ekstraksi linier sinyal yang dihasilkan overshootnya lemah, tidak langsung terjadi

over damp. Nilai peak

amplitude > 1.9x10^4 pada waktu 1500s.

Tugas 12 close loop dengan

lag compensator pada

sistem kontinyu

Gambar tugas 12 lag compensator

Pada hasil percobaan close loop lag compensator pada waktu kontinyu sinyal yang

dihasilkan overshootnya

lemah, tidak langsung terjadi over damp. Sinyal mengalami settling time pada waktu 0.008s.

Tugas 13 membuat simulasi kontrol proporsional

Gambar tugas 13

Ket :  warna kuning = 3 Kp,

warna biru muda = 2 Kp, warna merah = 1 Kp, warna

(25)

hijau = 0.75 Kp, warna biru = 0.5 Kp.

Pada hasil percobaan simulasi kontrol proporsional dengan menggunakan 5 parameter inputan sample Kp yang  berbeda yaitu, 3, 2, 1, 0.75, 0.5. dapat dilihat pada gambar diatas hasil output bentuk sinyal, semakin besar kita

menginput nilai Kp

(Contohnya Kp 3) maka

sinyal keluarannya akan

mengalami overshoot /

overdamp yang besar / tinggi dan setelah itu terjadi osilasi  beberapa kali baru sinyal tersebut mengalami settling time pada 0.69s. tetapi apabila kita menginput nilai Kp 0.5 maka sinyal dikatakan stabil tidak terjadi overdamp yang

melebihi sinyal referensi

 bahkan langsung mengalami settling time pada 0.64s. dapat disimpulkan bahwa nilai Kp sangat mempengaruhi output sinyal, semakin besar dari nilai 1 maka sinyal akan mengalami overshoot yang sangat tinggi dan melebihi nilai referensi, tetapi apabila semakin kecil dari nilai 1 Kpnya sinyal tersebut tidak akan mengalami osilasi dan dikatakan baik.

Tugas 14 membuat simulasi kontrol PI (NPM)

Gambar tugas 14

Ket : warna kuning = 20 Ki,

Kp = 4.9 (NPM).

Pada percobaan simulasi

control PI menggunakan

 parameter Kp NPM yaitu 4.9, sedangkan Ki = 20 serta menggunakan 4 sample nilai Ki. Dapat kita lihat pada gambar diatas hasil percobaan yaitu dari ke 4 sample tersebut

 bentuk sinyalnya seperti

gelombang longitudinal

terjadi osilasi beberapa kali  baru sinyal tersebut akan stabil. Contohnya apabila kita menginput nilai Ki 20 maka

sinyal tersebut akan

mengalami overshoot yang tinggi sehingga terjadi osilasi

 beberapa kali dan

membuatnya menjadi lama

untuk mencapai waktu

stabilnya. Karena pada

 percobaan sebelumnya

apabila nilai Kp melebihi dari 1 maka overshoot sinyal akan melebihi sinyal referensi. Oleh sebab itu agar sinyal

(26)

disini tidak terlalu besar overshoot/overdampnya

maka disarankan input Ki kurang dari 0.

Tugas 15 membuat simulasi kontrol PD (NPM)

Gambar tugas 15

Ket : warna biru muda = 0.03

Kd,

Kp = 4.9 (NPM).

Pada percobaan simulasi

control PD menggunakan  parameter nilai Kp dari NPM yaitu 4.6 dan 5 sample nilai Kd. Dapat ki4a lihat pada gambar diatas dari hasil  percobaan bahwa semakin  besar nilai Kdnya maka

overshoot sinyal akan

semakin kecil dan cepat untuk mencapai waktu stabilnya,

contohnya pada

menggunakan Kd sebesar 0.1 sinyal lebih cepat stabil jika dibandingkan dengan input nilai Kd lainnya.

Tugas 16 membuat simulasi

kontrol P dengan

pembebanan (NPM)

Gambar tugas 16

Ket : warna kuning = 0 beban,

warna biru muda = 0.001 Kp = 4.9 (NPM)

Pada percobaan simulasi

control P menggunakan

 beban. Dapat kita lihat pada gambar diatas bahwa apabila input beban 0 maka sinyal akan lebih cepat mengalami waktu stabilnya walaupun terjadi overshoot yang tinggi dan osilasi beberapa kali karena disebabkan oleh input nilai Kp lebih dari 1. Apabila  beban semakin kecil (kurang dari 0) maka overshoot sinyal akan semakin tinggi dan waktu stabil akan lebih lama walaupun tidak terlalu jauh nilainya.

(27)

Tugas 17 membuat simulasi

kontrol PD dengan

pembebanan (NPM)

Gambar tugas 17

Ket : warna kuning = 0.001

 beban,

Kp dan Kd = 4.9 (NPM)

Pada percobaan simulasi

control PD dengan beban. Dapat kita lihat pada gambar diatas dari hasil percobaan  bahwa semakin kecil kita menginput nilai beban maka sinyal tersebut lebih cepat mengalami stabil dan tidak terjadi overshoot yang tinggi

 juga contohnya 0.001.

dikarenakan apabila input nilai Kpnya besar dan Kdnya  besar atau bahkan sama.

Maka sinyal tersebut

seimbang dan semakin besar  beban maka sinyal tersebut

tidak akan mengalami

overshoot yang besar

melewati nilai referensi dan tidak terjadi osilasi.

5. KESIMPULAN

1. Software matlab dapat

mencari fungsi transfer dari semua persamaan, mencari pole dan zero

serta menampilkan

grafik sinyal inpulse, step , sinusoidal dan sinyal kotak. Lalu dapat menampilkan plot Root Locus , Nyquist dan  bode plot.

2. Rangkaian motor DC terdiri dari beberapa komponen diantaranya

Vm, ωm,  Lm, Im, Rm, Tm dan Vb.

3. Untuk membuat respon

waktu dapat

menggunakan fungsi

transfer waktu diskrit. 4. Pengendali proporsional

mampu mengurangi

nilai steady state eror, dan memperkecil nilai settling time.

5. Pengendali proporsional yang diberikan pada sistem memiliki batas nilai maksimal yang bisa

diberikan untuk

menghasilkan respon

transient terbaik. Jika

melebihi batas

maksimalnya maka akan muncul overshoot dan memperburuk keadaan sistem sinyal.

6. Dalam menentukan

(28)

memperhatikan

kombinasi terbaik akan mendapat output yang maksimal. DAFTAR PUSTAKA

1. Dinata

Mochamad

Mardi

Marta

dkk.

 Modul

Praktikum

 sistem

kendali.

Laboratorium

Dasar

Teknik

Elektro.

Karawang, 2018

Gambar

Gambar  berikut  menunjukan grafik  antara  PB,  keluaran kontroler dan kesalahan yang
Gambar  berikut  menunjukan  blok  diagram  yang menggambarkan  hubungan natara  sinyal  kesalahan dengan keluaran kontroler.
Gambar  dibawah  ini menunjukan  hubungan tersebut.
Gambar Tugas 1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jaringan distribusi tegangan menengah adalah jaringan tenaga listrik yang menyalurkan daya listrik dari gardu induk sub transmisi ke gardu distribusi.. Jaringan Distribusi

 Walau pun sedang menjalani pemeriksaan bersama dengan seseorang dari departemen lain, pihak luar atau bahkan presiden sekali pun atau setiap orang yang pada

Seminar yang dilakukan di kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) 6irebon, dilakukan dalam a6ara peringatan hari %usantara yang ke & pada tanggal

Penelitian ini akan difokuskan pada pembahasan terkait peran guru sebagai perencana, pelaksana, dan pengevaluasi dalam penerapan model pembelajaran Problem Based

Berdasarkan perhitungan dapat diketahui kemampuan menulis cerpen oleh siswa kelas IX F SMPN.24 Kota Jambi dalam unsur alur (plot) adalah 64,84 % , indek penilaian ini masuk

Lampiran Peraturan Bupati Kudus Nomor 37 Tahun 2009 tentang Pendelegasian Wewenang dan Pemberian Mandat Penandatanganan Keputusan dan Surat Dinas Bidang Kepegawaian

KELUARGA BESAR YAYASAN MAUNG

Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara aktivitas fosfolipase-A 2 sekretoris plasma dengan derajat trombositopenia pada penderita demam berdarah