• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Hal tersebut dikarenakan pariwisata merupakan sektor yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian. Keindahan dan keanekaragaman budaya dapat menjadi sumber pendapatan negara melalui sektor pariwisata. Banyak negara yang bergantung dari industri pariwisata sebagai sumber pajak dan pendapatan. Oleh karena itu pengembangan sektor pariwisata ini adalah salah satu strategi yang digunakan untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata. Banyak sekali tempat di Indonesia yang dapat dijadikan destinasi wisata, salah satunya adalah Daerah Istimewa Yogyakarta. DIY merupakan salah satu kota yang dijadikan destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

Kabupaten Gunungkidul adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi DIY dan terletak diujung tenggara Kota Yogyakarta sejauh 39 km. Berbeda dengan empat kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta yang subur nan hijau, Kabupaten Gunungkidul merupakan kabupaten yang identik dengan pegunungan kapur tandus dan kekeringan saat musim kemarau, tetapi Kabupaten Gunungkidul juga mempunyai beragam potensi perekonomian, salah satunya adalah potensi pariwisata. Berada di pesisir selatan Pulau Jawa, Kabupaten Gunungkidul memiliki banyak potensi kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan. Potensi pariwisata tersebut berupa pantai, gunung, air terjun dan gua yang menyebabkan Kabupaten Gunungkidul menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Provinsi DIY. Perkembangan pariwisata di Kabupaten Gunungkidul dapat dilihat dari meningkatnya jumlah wisatawan. Peningkatan tersebut dapat dijelaskan pada tabel 1.1:

(2)

2 Tabel 1.1. Data Jumlah Kunjungan Wisatawan di Kabupaten

Gunungkidul Tahun 2010-2013

No Tahun

Anggaran

Wisatawan

Mancanegara Nusantara Jumlah

1 2010 585 548.272 548.857

2 2011 1.299 615.397 616.696

3 2012 238 736.519 736.757

4 2013 10.120 1.324.362 1.334.482

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Gunungkidul Tahun 2014

Berdasarkan tabel 1.1, jumlah wisatawan meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan yang terjadi menandakan bahwa pariwisata yang berada di Kabupaten Gunungkidul sudah mulai dikenal dan diketahui keberadaannya. Meningkatnya wisatawan mengharuskan Pemerintah daerah memiliki strategi untuk menggali objek wisata lebih banyak. Pengembangan objek wisata perlu dilakukan agar memiliki daya tarik yang lebih tinggi sehingga dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung.

Banyaknya objek wisata di Kabupaten Gunungkidul berpengaruh terhadap perkembangan wilayahnya. Namun, perkembangan wilayah di Kabupaten Gunungkidul tidak berlangsung merata, masih ada wilayah yang mengalami keterlambatan pertumbuhan. Terjadinya ketimpangan wilayah di Kabupaten Gunungkidul disebabkan oleh belum optimalnya pengelolaan sumberdaya alam, pemberdayaan sumberdaya manusia, dan pemanfaatan peluang ekternal. Sehingga untuk memacu perkembangan wilayah di Kabupaten Gunungkidul diperlukan konsep dan strategi yang tepat, salah satunya dengan mengoptimalkan potensi pertumbuhan kawasan- kawasan yang mempunyai prospek untuk dikembangkan (Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul, 2011).

Berdasarkan Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) Kabupaten Gunungkidul Tahun 2014-2025 secara garis besar terbagi dalam enam Kawasan Strategis Pariwisata (KSP), yaitu: (1) KSP I Daya Tarik Wisata unggulan alam pantai dengan pendukung wisata budaya,

(3)

3 (2) KSP II Daya Tarik Wisata unggulan alam pantai dengan pendukung wisata kuliner, (3) KSP III Daya Tarik Wisata unggulan alam pantai dengan pendukung wisata petualangan, (4) KSP IV Daya Tarik Wisata unggulan alam pegunungan dengan pendukung wisata pendidikan, konservasi dan petualangan, (5) KSP V Daya Tarik Wisata unggulan alam bentang alam karst dengan pendukung wisata petualangan, dan (6) KSP VI Daya Tarik Wisata unggulan alam pegunungan dengan pendukung wisata budaya.

Salah satu destinasi wisata alam yang sekaligus memiliki nilai sejarah dan bisa menjadi wisata spiritual di Kabupaten Gunungkidul adalah wisata Gunung Gambar yang terletak di Padukuhan Gunung Gambar. Berdasarkan Kawasan Strategis Pariwisata (KSP) tersebut, Gunung Gambar termasuk ke dalam KSP VI berupa pembangunan Daya Tarik Wisata unggulan alam pegunungan dengan pendukung wisata budaya.

Objek wisata Gunung Gambar dikenal sebagai petilasan atau tempat peninggalan. Setahun sekali di Gunung Gambar diadakan acara sadranan dan pada hari tertentu banyak orang yang ziarah ke Gunung Gambar. Bukit setinggi 200mdpl juga menyajikan panorama alam yang memukau. Hamparan sawah ladang pedesaan di lereng Gunung Gambar terbentang luas menjadi pemandangan yang bisa kita nikmati ketika berjalan menapaki bukit terjal menuju puncak Gunung Gambar. Dilihat dari kondisi yang ada, objek wisata Gunung Gambar yang ada di Kabupaten Gunungkidul merupakan objek yang sangat berpotensi dan menarik untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Wisata alam yang berjejer dengan Hutan Adat Wonosadi ini mungkin masih dibilang jarang dikunjungi oleh wisatawan lokal atau dari luar daerah.

Strategi untuk pengembangan KSP VI telah tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 3 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2014- 2025 sebagaimana dimaksud pada pasal 20 huruf f bahwa

“Pengembangan desa wisata dan desa budaya petilasan Gunung Gambar dengan cara pengembangan berbasis Wisata sejarah, pendidikan dan budaya”

(4)

4 Objek wisata Gunung Gambar keberadaannya sudah lama, akan tetapi wisatawan yang datang masih dapat dikatakan sedikit. Hal tersebut dapat dilihat dari data jumlah wisatawan yang walaupun mengalami peningkatan tetapi jika dilihat jumlah wisatawan setiap bulannya menunjukkan wisatawan tidak stabil bahkan terdapat penurunan. Selain itu pada bulan Juli mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Peningkatan tersebut disebabkan karena pada bulan Juli tersebut dilaksanakan upacara sadranan yang dapat dijelaskan pada tabel 1.2:

Tabel 1.2. Data Wisatawan Objek Wisata Gunung Gambar Tahun 2014-2015 No Bulan Tahun 2014 2015 1 Januari 159 345 2 Februari 247 123 3 Maret 214 137 4 April 173 122 5 Mei 235 182 6 Juni 150 256 7 Juli 860 595 8 Agustus 190 290 9 September 0 150 10 Oktober 105 290 11 Novembe 125 210 12 Desember 370 300 Jumlah 2828 3000

Sumber: Rekapitulasi Karcis Pos Retribusi Gunung Gambar 2014 dan 2015

Berdasarkan UU No. 10 Tahun 2009 telah menjelaskan bahwa sangat perlu dilakukan pembangunan pariwisata, hal ini dikarenakan dapat memberikan kesempatan berusaha serta dapat mengatasi perubahan kehidupan baik lokal, nasional maupun global. Dasar pembangunan pariwisata didasarkan pada tiga aspek, yaitu: (1) aspek ekonomi, dapat mendatangkan devisa bagi negara (2) aspek sosial, dapat meningkatkan jati diri bangsa (3) aspek lingkungan, dapat mengangkat produk dan jasa wisata.

(5)

5 Seperti yang telah dikemukakan oleh Yoeti (2000) bahwa seharusnya negara- negara berkembang seperti Indonesia dapat memanfaatkan potensi- potensi yang ada dengan baik sehingga mampu meningkatkan pembangunan di dalam negeri.

Keberhasilan pengembangan suatu pariwisata tidak hanya menjadikan target utama menarik wisatawan untuk datang, tetapi lebih mengembangkan peluang usaha-usaha masyarakat didalamnya untuk berkembang dan maju. Masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam pengembangan pariwisata. Tugas dari pemerintah serta masyarakat dalam pariwisata adalah membangkitkan kesadaran tentang pentingnya pariwisata dan menumbuh-kembangkan kreatifitas yang dapat mengundang perhatian untuk kemudian menjadi daya tarik pariwisata. Mengenai pengembangan atau menumbuhkan kesadaran pariwisata di kalangan masyarakat ini bukanlah hal yang mudah. Sampai saat ini usaha-usaha pengembangan objek wisata Gunung Gambar yang berorientasi pada masyarakat lokal masih kurang. Hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam berperan aktif untuk mengembangkan objek wisata Gunung Gambar karena dilihat dari matapencaharian masyarakat sebagai petani lebih memilih untuk mengurus sawah dibandingkan dengan membangun usaha-usaha untuk mengembangkan objek wisata Gunung Gambar.

1.2. Rumusan Masalah

Wilayah Kabupaten Gunungkidul bagian utara terdapat tempat wisata, yaitu Gunung Gambar yang berada di Padukuhan Gunung Gambar. Selain memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat, tempat wisata ini mempunyai pemandangan indah yang tidak kalah dengan gunung lain yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Sampai saat ini wisatawan paling banyak hanya saat upacara “nyadran” yang diadakan setahun sekali. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah wisatawan paling banyak saat dilaksanakannya upacara sadranan. Objek wisata ini telah dibangun dan telah melakukan perbaikan, yaitu akses jalan sudah berupa aspal tetapi sudah dalam keadaan kurang baik, area parkir yang cukup luas serta terdapat pendopo untuk istirahat atau

(6)

6 kumpul-kumpul bersama rombongan sebelum dan sesudah mengunjungi puncak Gunung Gambar.

Salah satu permasalahan utama pada objek wisata Gunung Gambar yaitu masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk mendukung pariwisata Gunung Gambar. Hal tersebut terlihat dari kurangnya peran dari masyarakat dalam pengembangan objek wisata. Kurangnya peran tersebut dapat dipengaruhi dengan masih belum memadainya kondisi Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), transportasi, komunikasi dan informasi yang terus meningkat. Sehingga untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu strategi pengembangan dengan mengetahui daya tarik dan mengidentifikasi faktor- faktor yang dapat mendukung dan menghambat pengembangan. Berdasarkan permasalahan tersebut, berikut rumusan masalah dalam penelitian ini:

1. Apa saja daya tarik yang dapat dikembangkan pada obyek wisata Gunung Gambar?

2. Apa saja strategi pengembangan yang perlu dilakukan dalam pengembangan Obyek Wisata Gunung Gambar?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan, adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu:

1. Mengidentifikasi daya tarik yang terdapat pada objek wisata Gunung Gambar

2. Merumuskan perencanaan strategis dalam pengembangan objek wisata Gunung Gambar

1.4. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan pada ilmu kepariwisataan. Pengetahuan yang diperoleh merupakan sarana untuk memaparkan beberapa ide hasil dari proses penelitian dengan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.

(7)

7 2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengelola wisata Gunung Gambar, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk mengembangkan dan mewujudkannya menjadi daerah tujuan wisata untuk dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

1.5.Tinjauan Pustaka

1.5.1. Geografi Pariwisata

Ilmu geografi pada dasarnya mempelajari tentang bumi beserta isinya serta hubungan antar keduanya. Semakin meningkat tuntuan dan kebutuhan manusia, maka tidak hanya sebatas mengetahui dan mempelajari, tetapi juga mampu memanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan. Pendekatan geografi mendasarkan pada aspek keruangan yang mempunyai kaitan erat dengan persebaran dari suatu objek. Secara umum pendekatan geografi dapat dilihat dari unsur letak, batas, bentuk dan luasan. Selain itu kedudukan objek yang lain juga mempunyai posisi yang baik dan kemungkinan untuk lebih mudah berkembang atau dikembangkan (Sujali, 1989).

Menurut UU No. 10 Tahun 2009, kepariwisataan merupakan keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha. Makna yang terkandung di dalam Undang- Undang 1945, pasal 33 ayat 3 yang menyebutkan bahwa; bumi air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kepentingan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Usaha tersebut sesuai untuk meningkatkan pemanfaatan sumber alam pada bidang kepariwisataan. Fenomena geografi dalam pengembangan kepariwisataan merupakan unsur keruangan serta kondisi fisik yang tidak dapat ditinggalkan, sehingga

(8)

8 dalam pengembangannya harus memperhatikan luasan objek dan keadaan lingkungan fisiknya. Pengembangan kepariwisataan tidak akan terlepas dengan unsur fisik dan non fisik (sosial, ekonomi, budaya). Menurut Sujali (1989) faktor geografi merupakan faktor penting untuk pertimbangan pengembangan kepariwisataan, diantaranya adalah: 1. Iklim 2. Tanah 3. Geologi 4. Hidrologi 5. Kemiringan 6. Vegetasi 1.5.2. Pariwisata

Pariwisata menurut Undang- Undang No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan disebut dalam Pasal 1 (3) adalah

“Berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah”

Pengertian yang lain menyebutkan bahwa pariwisata adalah kegiatan rekreasi di luar tempat tinggal untuk terlepas dari pekerjaan sehari- hari atau mencari suasana baru (Damanik & Weber, 2006). Pariwisata berkaitan dengan perjalanan wisata sebagai perubahan tempat tinggal sementara di luar tempat tinggalnya karena suatu alasan.

Pariwisata menjadi sumber daya yang sangat penting bagi suatu daerah sebagai tempat tujuan wisata. Selain sebagai sumber pemasukan uang, pariwisata juga dianggap sebagai sumber daya untuk melakukan upaya mempertahankan hasil dari masa lampau. Pariwisata dianggap sebagai fenomena geografis. Suatu pariwisata akan

(9)

9 tergantung pada ciri khas yang dimiliki oleh daerah wisata karena setiap daerah memiliki ciri khas masing- masing.

1.5.3. Wisatawan

Wisatawan merupakan seseorang yang terdorong untuk melakukan perjalanan dan dan persinggahan sementara di luar tempat tinggalnya untuk jangka waktu lebih dari 24 jam tidak dengan maksud bekerja atau mencari nafkah (Fandeli, 1995). Wahab (1975) menggolongkan motivasi berwisata atau tujuan wisatawan menjadi dua, yaitu:

1. Physical or physiological motivation yaitu motivasi yang bersifat fisik atau fisologis, antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai dan sebagainya

2. Cultural motivation yaitu untuk mengetahui budaya , adat, tradisi dan esenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan akan berbagai objek tinggalan budaya

3. Social or interpersonal motivation yaitu motivasi yang bersifat social, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi, melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang membosankan

4. Fantasy motivation yaitu adanya motivasi bahwa didaerah lain seseorang akan bias lepas dari rutinitas keseharian yang menjemuan dan yang memberikan kepuasan psikologis

Pengertian wisatawan (tourist) yang tertuang dalam Instruksi Presiden No. 10 Tahun 2009 dalam Pasal 1 (2) adalah

“Orang yang melakukan wisata”

Secara umum wisatawan dapat diartikan sebagai orang yang melakukan perjalanan dari tempat tinggalnya ke tempat yang didatanginya dan tidak menetap.

(10)

10 1.5.4. Objek dan Daya Tarik Wisata

Objek wisata merupakan sesuatu yang menjadi daya tarik sehingga dapat memberikan kepuasan bagi wisatawan. Masyarakat mengnjungi objek wisata karena memiliki daya tarik dan untuk dapat menikmati objek wisata seseorang harus melakukan perjalanan dari tempat tinggalnya menuju ke tempat wisata untuk dapat menikmati daya tarik pada objek wisata tersebut (Wardiyanta, 2006). Objek wisata sebagai suatu tempat yang memiliki keindahan alam atau buatan yang membuat orang tertarik untuk mengunjunginya.

Yoeti (1995) membagi objek wisata menjadi dua macam, yaitu:  Objek Wisata Alam, daya tariknya bersumber pada keindahan dan

kekayaan alam. Objek wisata alam meliputi antara lain meliputi; panorama keindahan alam yang menakjubkan seperti gunung, lembah, ngarai air tejun, danau, pantai, matahari terbit dan tenggelam, cuaca udara, flora fauna, dan lain-lain yang berkaitan dengan keadaan alam sekitarnya.

 Objek Wisata Budaya, bentuk dan wujudnya berupa monumental hasil peradaban manusia di masa silam, maupun atraksi atau kegiatan budaya manusia.

 Objek Wisata Buatan, berasal dari karya manusia dan dapat dijadikan sebagai objek wisata

Berdasarkan Undang- Undang No. 10 Tahun 2009 dalam Pasal 1 (5) mendefinisikan daya tarik sebagai:

“Segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan”. Objek dan daya tarik wisata dalam pengembangan memiliki arti yang strategis. Dari waktu ke waktu kebutuhan wisatawan terus berubah dan mengalami perkembangan yang sangat cepat, sehingga daya tarik

(11)

11 objek wisata harus selalu dikembangkan tetapi tetapi harus tetap menjaga kelestariannya

1.5.5. Aspek Penawaran Pariwisata

Menurut Medlik (1980), terdapat empat aspek (4A) yang harus di perhatikan dalam penawaran pariwisata, yaitu:

1. Attraction (daya tarik), dimana daerah tujuan wisata dalam menarik wisatawan hendaknya memiliki daya tarik baik daya Tarik berupa alam maupun masyarakat dan budayanya

2. Accessibility (akses/ketercapaian), hal ini dimaksudkan agar wisata domestic dan mancanegara dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata

3. Amenities (fasilitas), syarat yang ketiga ini memang menjadi salah satu syarat Daerah Tujuan Wisata (DTW) dimana wisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama di Daerah tersebut

4. Ancillary (Adanya Lembaga Pariwisata), adanya lembaga pariwisata wisatawan akan semakin sering mengunjungi dan mencari DTW apanila di daerah tersebut wisatawan dapat merasakan keamanan dan terlindungi

1.5.6. Pembangunan Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu sumber daya pembangunan nasional suatu negara dan menjadi salah satu sumber daya terpenting disamping sumber daya alam, sumber daya IPTEK, dan sumber daya yang lain dalam pembangunan nasional suatu bangsa. Tanpa sumber daya manusia tidak mungkin dapat dilakukan suatu kegiatan, termasuk kegiatan pembangunan. Pembangunan yang dilakukan oleh suatu sumber daya manusia ditujukan untuk kepentingan sumber daya manusia dan untuk meningkatkan kesejahteraan sumber daya manusia bangsa itu sendiri. Jadi salah satu syarat utama agar suatu negara dapat melakukan pembangunan adalah

(12)

12 tersedianya sumber daya manusia yang mencukupi, baik kualitatif maupun kuantitatif (Prawirosentono, 1995).

Mutu suatu sumber daya manusia dilandasi sikap dan sifat individual, tingkah laku sosial dan kemampuan para individu yang terdapat dalam masyarakat suatu bangsa. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah saja tidak cukup menjamin keberhasilan pembangunan suatu negara, kecuali ditopang pula oleh kekuatan sumber daya manusia yang handal. Pembangunan sumber daya manusia dapat diartikan sebagai usaha mempersiapkan orang baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dengan segala kedudukannya (Soerjani, dkk, 2008).

1.5.7. Strategi Pengembangan Pariwisata

Pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan kepariwisataan yang terdiri atas rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional, rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi dan rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota. Rencana induk pembangunan kepariwisataan meliputi perencanaan pembangunan industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran dan kelembagaan kepariwisataan.

Pengembangan pariwisata dilakukan secara sadar dan berencana yang bertujuan untuk memperbaiki objek wisata yang akan dipasarkan. Pengembangan yang dilakukan meliputi perbaikan objek dan pelayanan kepada wisatawan. Sesuai dengan Instruksi Presiden No. 9 Tahun 1969 dalam Pasal 2 (b) yaitu

“Memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia”

Pengembangan pariwisata harus direncanakan sedemikian rupa sehingga akan membawa kesejahteraan yang luas dalam masyarakat.

(13)

13 Pengembangan yang dilakukan harus sadar lingkungan karena pengembangannya mencerminkan ciri khas budaya dan lingkungan alam suatu negara.

“Strategi adalah prioritas atau arah keseluruhan yang luas yang diambil oleh organisasi: strategi adalah pilihan- pilihan tentang bagaimana cara terbaik untuk mencapai misi organisasi. Merumuskan strategi adalah merumuskan program-program strategi atau alternative kebijakan mendasar yang akan dilakukan organisasi untuk mengelola isu (Bryson, 2005)”

Perencanaan strategi merupakan proses penentuan strategi, kebijakan yang diperlukan untuk tujuan- tujuan dan menetapkan metode untuk menjamin bahwa strategi dan kebijakan yang dilakukan telah diimplementasikan (Handoko, 2003). Tujuan dari perencanaan strategis unttuk melihat secara objektif kondisi-kondisi internal dan eksternal sehingga organisasi dapat mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal.

1.6. Penelitian Terdahulu

Strategi pengembangan diartikan sebagai pengoptimalan potensi sumberdaya alam yang menjadikan pemerintah sebagai motivator, akselerator, fasilitator dan promotor (Edi, 2012). Stratetgi pengembangan objek wisata dapat memanfaatkan peluang yang ada dengan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki serta meminimalkan pengaruh negatif dari ancaman. Pengembangan pariwisata yang dilakukan harus sesuai dengan perencanaan yang matang sehingga akan bermanfaat baik bagi masyarakat, baik juga dari segi ekonomi, social dan budaya.

Penelitian Zega, dkk (2014) menerapkan pola bertahap dalam pengembangan keseluruhan objek wisata yang terdapat di Kabupaten Nias Utara. Pola yang dimaksudkan adalah dalam pengembangannya tidak semua daerah yang memiliki potensi pariwisata dibangun secara bertahap. Dengan membuat pola tahapan pada pengembangannya maka kendala yang ada dapat teratasi dan dapat memberikan kemudahan dalam pelaksanaan pengembangan. Ardiwidjaja (2008) menggunakan tiga komponen dalam

(14)

14 upaya menilai suatu potensi kelayakan destinasi wisata, yaitu daya tarik dan atraksi, aksesibilitas dan amenitas. Satu komponen yang tidak terdapat dalam penelitian tersebut adalah aktifitas. Sedangkan pada penelitian Santoso (2009) menggunakan empat komponen atau yang disebut pendekatan 4 A (Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, Aktifitas).

Dalam pengembangan suatu objek wisata perlu mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan pariwisata yaitu faktor-faktor pendorong dan faktor penghambat. Dari faktor-faktor pendorong dan penghambat dapat digunakan untuk mengetahui hal-hal yang dapat mempermudah ataupun mempersulit dalam pelaksanaan pengembangan objek wisata. Pada penelitian Nugraha (2013) dalam merumuskan strategi pengembangan dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal. Jika posisi eksternal lebih besar daripada internal, maka posisi strategis wisata belum mapan karena belum mempunyai sesuatu yang menarik dan diingat atau terspesifikasikan positif.

Penelitian ini berjudul “Strategi Pengembangan Objek Wisata Gunung Gambar di Desa Kampung Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul”. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui daya tarik yang ada dan merumuskan perencanaan strategis dalam pengembangan objek wisata Gunung Gambar Kabupaten Gunungkidul. Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu uraian daya tarik yang ada dan posisi strategi pengembangan objek wisata Gunung Gambar. Keaslian penelitian menunjukkan penelitian yang dibuat terdapat kesamaan dengan penelitian sebelumnya. Kesamaan tersebut terdapat pada bagian tujuan penelitian yaitu untuk merumuskan strategi pengembangan objek wisata. Tetapi penelitian yang dibuat juga memiliki perbedaan yaitu pada bagian pembahasan mengenai pembangunan sumber daya manusia. Adapun uraian penelitian sebelumnya ditujukan pada tabel 1.3:

(15)

15

No Judul Penelitian dan Peneliti Tujuan Metode Hasil

1 Potensi dan Pengembangan Objek Wisata Pantai Klayar Di Kabupaten Pacitan

Joko Santoso, 2009

Mengetahui potensi dan daya tarik yang dimiliki, mengetahui strategi pengembangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten, dan mengetahui partisipasi masyarakat dalam pengembangan objek dan daya tarik wisata terhadap Pantai Klayar

Deskriptif Uraian daya tarik Pantai Klayar untuk dikembangkan dan peran serta pemerintah untuk menangani kendala pengembangan objek wisata Pantai Klayar

2 Perencanaan Strategis Pengembangan Objek Wisata Candi Cetho Oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayanan kabupaten Karanganyar

Ulva Nila Santi, 2010

Mengetahui rencana strategis yang diambil oleh Dinas Pariwisata dalam pengembangan objek wisata Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar

Deskriptif kualitatif

Deskripsi tentang perencanaan strategi pengembangan

3 Strategi Pengembangan Objek Wisata Waduk Gunungrowo Indah Dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Asli daerah (PAD) Kabupaten Pati

Angga Pradikta, 2013

Mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat pengembangan objek wisata, mengetahui strategi pengembangan apa saja yang perlu dilakukan pemerintah dan mengetahui bagaimana kontribusi objek wisata Gunungrowo Indah dalam meningkatkan Pendapatan Asli daerah (PAD)

Kuantitatif Gambaran posisi strategi pengembangan objek wisata dan rata – rata kontribusi objek wisata Waduk Gunungrowo Indah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tabel 1.3. Penelitian Sebelumnya

(16)

16

No Judul Penelitian dan Peneliti Tujuan Metode Hasil

4 Strategi Pengembangan Wisata Agro Wonosari

Nugraha, 2013

Mengetahui strategi wisata agro Wonosari menggunakan analisis SWOT

Deskriptif Rekomendasi strategi pengembangan pada hal kebijakan, publisitas, pembangunan sumber daya manusia, terbangunnya daya tarik serta diferesiasi dan evaluasi segmentasi, target pasar dan positioning

5 Strategi Pengembangan Pariwisata Kota Tanjungpinang (Studi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang)

Wardani, 2013

Mengetahui strategi yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam pengembangan dan mengetahui faktor- faktor yang mendukung dan menghambat pengembangan pariwisata

Deskriptif kualitatif

Strategi yang diterapkan oleh Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang dan minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap pariwisata Kota Tanjungpinang

6 Startegi Pengembangan Pariwisata Mangrove Di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida,2013

Mengetahui daya dukung kawasan pariwisata mangrove dan menyusun rekomendasi strategi pengembangan pariwisata mangrove

Deskriptif Analisis daya dukung dengan kondisi beban pariwisata mangrove sekitar 4% dan startegi pengembangan

(17)

17

No Judul Penelitian dan Peneliti Tujuan Metode Hasil

7 Strategi Pengembangan Objek Wisata Gunung Gambar Di Kabupaten Gunungkidul

Fitri Wulandari, 2016

Mengetahui daya tarik dan merumuskan perencanaan strategi dalam pengembangan objek wisata Gunung Gambar

Deskriptif Kualitatif

Analisis daya tarik yang dapat dikembangkan dan rumusan strategi pengembangan objek wisata Gunung Gambar

(18)

18 1.7. Kerangka Pemikiran

Pengembangan pariwisata bertujuan memberikan keuntungan baik bagi wisatawan maupun warga setempat. Basis pengembangan pariwisata adalah potensi sumber daya keragaman budaya, seni, dan alam (pesona alam). Pengembangan sumber daya tersebut dikelola melalui pendekatan peningkatan nilai tambah sumber daya secara terpadu antara pengembangan produk pariwisata dan pengembangan pemasaran pariwisata melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat lokal dalam rangka pengembangan pariwisata.

Kabupaten Gunungkidul memiliki beragam kekayaan alam yang potensial untuk dikembangkan. Strategi pengembangan objek wisata diperlukan sebagai acuan dalam melakukan pembangunan agar suatu objek wisata dapat menarik wisatawan untuk lebih mengetahui dan menikmati keunikan maupun keindahan yang tgerdapat pada objek wisata tersebut. Dalam penelitian ini akan menggambarkan kerangka pemikiran yang mencakup konsep dan hasil yang diharapkan dari penelitian ini. Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini dijelaskan gambar 1.1:

(19)

19 Gambar 1.1. Bagan Kerangka Pemikiran

Perkembangan suatu objek wisata ditandai dengan adanya pembangunan objek wisata yang semakin pesat. Salah satu objek wisata yang dapat dikembangkan adalah objek wisata Gunung Gambar di Kabupaten Gunungkidul. Objek wisata Gunung Gambar dapat berkembang dikarenakan objek wisata Gunung Gambar memiliki potensi karakteristik atau ciri khas berupa wisata yang memiliki nilai sejarah, pemandangan sekitar yang terlihat juga memukau. Terlihat Gunung Merapi (Yogyakarta), obyek wisata alam Rawa Jombor (Klaten), dan

Pariwisata Gunung Gambar

Strategi pengembangan objek wisata Gunung Gambar  Lembaga pariwisata  Transportasi (rute angkutan, moda angkutan)  Prasarana (prasarana transportasi, utilitas)  Alam  Buatan  Budaya Ancillary Accesible Attraction Pengembangan pariwisata 1. Faktor Internal 2. Faktor Eksternal Amenities  Akomodasi (penginapan)  Pelayanan pendukung (pusat perbelanjaan)  Fasilitas lainnya (restoran, apotek)

(20)

20 Waduk Gajah Mungkur (Wonogiri).. Walaupun Gunung Gambar memiliki karakteristik dan cirri khas yang dapat menarik wisatawan untuk datang berkunjung, objek wisata ini juga memiliki faktor-faktor yang dapat mendukung dan menghambat pengembangan yang akan dilakukan dapat dilihat dari kondisi yang ada. Dari faktor-faktor internal dan eksternal dapat dilakukan untuk merumuskan strategi pengembangan objek wisata Gunung Gambar. Strategi tersebut nantinya dapat memberikan gambaran untuk Pemerintah setempat atau Pemerintah Kabupaten untuk dapat berperan dan berkontribusi dalam pengembangan objek wisata Gunung Gambar.

Gambar

Tabel 1.2. Data Wisatawan Objek Wisata Gunung Gambar  Tahun 2014-2015  No  Bulan  Tahun  2014  2015  1  Januari  159  345  2  Februari  247  123  3  Maret  214  137  4  April  173  122  5  Mei  235  182  6  Juni  150  256  7  Juli  860  595  8  Agustus  19

Referensi

Dokumen terkait

Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tertentu dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha tertentu atau dengan kata lain penyerapan tenaga kerja

1. Adanya perasaan senang terhadap belajar. Adanya keinginan yang tinggi terhadap penguasaan dan keterlibatan dengan kegiatan belajar. Adanya perasaan tertarik yang

hasil 2 citra dengan sensor yang berbeda menggunakan metode interpretasi hibrida, kondisi indikasi kepadatan dan densifikasi bangunan di Kota Salatiga serta perubahan

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk

46/PUU-VIII/2010 Terhadap Pasal 43 Ayat (1) UU No.1 Tahun 1974 Mengenai Hak Keperdataan Anak Ditinjau dari Asas Hukum Islam, disusun dalam rangka memenuhi salah

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak usia dini dan metode yang digunakan dalam

Modul ini dikembangkan dengan tujuan agar mahasiswa mengerti, memahami masalah Penggunaan Obat yang Rasional ( POR ); memahami dan berkemampuan cara mengidentifikasi masalah POR;

Pawito (2013) mendasarkan pada pandangan Rummens (2001) menyatakan bahwa identitas kultural biasanya dirasakan sangat penting oleh warga masyarakat/bangsa