1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam perkembangannya, selama lebih dari beberapa dasawarsa terakhir penerimaan dari sektor perpajakan mengalami perubahan yang selalu meningkat. Hingga saat ini kurang lebih 70% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) didanai dari penerimaan sektor perpajakan. Hal ini dapat dilihat dari tabel persentase penerimaan pajak terhadap penerimaan negara berikut. Penerimaan dari sektor perpajakan ini diharap mampu mengurangi ketergantungan dari utang luar negeri serta mampu mebangkitkan kembali kepercayaan bangsa Indonesia diantara bangsa lain.
Tabel 1.1
Penerimaan Pajak dan Negara 2000-2009 (Rp. Triliun) Penerimaan Periode Pajak Negara % Penerimaan Pajak thd Penerimaan Negara 2000 97.57 205.33 47.52% 2001 158.58 301.08 52.67% 2002 211.84 298.53 70.96% 2003 213.72 336.16 63.58% 2004 238.63 403.37 59.16% 2005 298.52 495.22 60.28% 2006 358.19 637.99 56.14% 2007 425.37 707.81 60.10% 2008 *) 463.98 1007 46.08% APBN 2009 647.9 985.7 65.73%
Sumber : Departemen Keuangan RI *) Perkiraan realisasi
Madeo dalam bukunya Sommerfeld’s Concept of Taxation 1 menyatakan
bahwa tujuan pemungutan pajak ialah untuk terhimpunnya dana untuk pembiayaan administrasi publik, dan penyediaan jasa publik baik ekonomi maupun sosial. Jika perolehan dana untuk hal tersebut diatas tidak maksimal,
1 Diunduh dari : http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/pajak-bea-cukai/1id13560.html ” Penurunan tarif PPh dan implikasinya bagi usaha” Oleh Gunadi Guru Besar FISIP UI, 7 Juli 2007, Pukul 00.00 WIB
maka akan terdapat beberapa distorsi yang akan mengurangi kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi, oleh karena itulah maka perlu adanya reformasi pada perpajakan. Salah satu masalah utama yang dibahas dalam reformasi perpajakan sekarang ini ialah besaran tarif pajak.
Perubahan besaran tarif pajak,secara matematis memang akan diikuti oleh perubahan penerimaan negara dari sektor pajak. Masalahnya adalah jika terjadi perubahan tarif pajak, maka para pelaku ekonomi dapat memberikan respon yang tanpa sengaja berdampak sebaliknya dari keinginan pemerintah untuk memaksimumkan penerimaan negara dari sektor pajak, sehingga pemerintah perlu menetapkan kebijakan tarif pajak penghasilan yang dapat meningkatkan investasi dan penerimaan negara. Efektivitas pencapaian target penerimaan pajak uga ditentukan oleh respon wajib pajak terhadap tarif pajak yang ditetapkan.
Dengan penurunan tarif pajak maka cadangan dana yang dapat diinvestasikan akan bertambah oleh karena itu penurunan tarif akan dapat menyebabkan peningkatan investasi. Peningkatan investasi akan meningkatkan laba perusahaan sehingga walaupun pada periode berikutnya tarif diturunkan tetapi karena laba yang lebih besar,maka diharapkan penerimaan negara meningkat.
Kecenderungan sekarang para investor dalam negeri lebih menyukai untuk menginvestasikan usahanya melalui bentuk badan usaha global untuk menghindari pembayaran pajak-pajak di Indonesia. Para investor ini menggunakan badan-badan hukum asing untuk mendapatkan keuntungan dari pengenaan tarif pajak yang lebih rendah di negara-negara lainnya. Para investor tersebut merasa lebih efisien dan menguntungkan dengan membayar pajak-pajak luar negeri
Undang-undang pajak Indonesia "yang tidak kompetitif" ikut menyumbang pada penurunan besar-besaran realisasi investasi dalam negeri pada enam bulan pertama tahun ini yang mendorong para investor mencari status "asing" untuk mendapatkan tarif pajak yang lebih rendah di negara lain, seorang pejabat menyatakan.
(Mustaqim Adamrah melaporkan dalam harian The Jakarta Post 09/05/2008).2 Gambaran investasi semester pertama yang tidak biasa itu disebabkan kecenderungan para investor dalam negeri untuk menginvestasikan usahanya
melalui bentuk badan usaha global untuk menghindari pembayaran pajak-pajak di Indonesia. Realisasi investasi lokal turun 70 persen menjadi sekitar US$940 juta dolar AS dalam enam bulan pertama tahun ini dari $3.15 milyar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.Pada periode yang sama juga, realisasi investasi asing meningkat sampai $10.38 milyar dolar AS, kenaiikan153 persen, meningkat dari $4.1 milyar dalam periode yang sama dalam tahun 20073.Hal ini menunjukkan adanya keengganan untuk berinvestasi, namun lebih menunjukkan bahwa para investor dalam negeri telah memilih untuk berinvestasi melalui keagenan-keagenan asing.
Berikut data yang ada dari tarif PPh Badan beberapa negara per Juni 2008:
Tabel 1.2
Tarif PPh Badan Negara Tetangga per Juni 2008
Negara Asia Tarif PPh Yang Berlaku
Vietnam Korea Selatan Malaysia Singapura Hongkong Indonesia 28 % 27,5 % 26 % 20 % 17,5 % 28 % *)
*) Tarif PPh Badan UU No. 36 Tahun 2008 yang berlaku mulai 1 januari 2009 Sumber : Majalah Tempo , 16 Juni 2008
Disini terlihat bahwa tarif PPh Badan Indonesia tidak dapat bersaing dengan negara-negara lain, di sini terlihat Malaysia mengenakan pajak penghasilan sebesar 26 %, Singapura 20 % dalam hal ini Singapura sedang menuju suatu pajak penghasilan sebesar 18 % untuk bersaing dengan Hong Kong dimana tarif PPh nya sebesar 17,5%. Diharapkan perubahan
undang pajak terbaru ini akan menarik banyak investor sehingga Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara tetangga lainnya.
Undang-undang Pajak Penghasilan yang baru No. 36 Tahun 2008 yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, menetapkan bahawa Tarif PPh Badan yang lama yaitu Tarif progresif pada tahun 2009 akan menjadi tarif tunggal 28 persen, sebelum dikurangi lagi menjadi 25 persen dalam tahun berikutnya. Keputusan Perubahan Berlaku mulai 1 Januari 2009,tarif proporsional diturunkan menjadi 28% pada tahun 2009, dan menjadi 25% pada tahun 2010.
Berikut Perbandingan Tarif PPh Yang lama dengan yang baru : TARIF WP ORANG PRIBADI
Berdasarkan UU PPh No. 17 Tahun 2000 (Berlaku sampai dengan 31 Desember 2008).
No. Lapisan Penghasilan Tarif
1. S.d Rp 25.000.000,- 5%
2. Di atas Rp25.000.000,- s.d. Rp 50.000.000,- 10% 3. Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 100.000.000 15% 4. Di atas Rp100.000.000,- s.d.Rp200.000.000,- 25% 5. Di atas Rp200.000.000,- 35%
Berdasarkan UU No. 36 Tahun 2008 ( Berlaku Mulai 1 Januari 2009)
No. Lapisan Penghasilan Tarif
1. S.d. Rp 50.000.000,- 5%
2. Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 250.000.000 15% 3. Di atas Rp250.000.000,- s.d.Rp 500.000.000,- 25%
TARIF WP BADAN
Ketentuan UU No. 17 Tahun 2000 Berlaku sampai dengan 31 Desember 2008
Lapisan Penghasilan Tarif
s.d Rp 50.000.000,- 10% Di atas Rp
s.d. Rp 100.000.000,- 15% Di atas Rp 100.000.000,- 30%
Sebenarnya tarif yang ditetapkan dalam UU PPh. No. 36 Tahun 2008 bukanlah merupakan hal baru, di dalam UU PPh No 17 tahun 2000,telah disebutkan dalam pasal 17 ayat (2) bahwa dengan peraturan pemerintah tarif tertinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dapat diturunkan menjadi paling rendah 25 %. Demikian pula halnya mengenai besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak. Dalam pasal 17 ayat 3 dalam undang-undang sebelumnya juga telah disebutkan bahwa besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan4.
Realisasi Penerimaan Neto Direktorat Jenderal Pajak (DJP) periode Januari sampai dengan November sebesar Rp. 508.480,89,mengalami pertumbuhan 41,04 % dibandingkan realisasi penerimaan periode yang sama tahun 2007,sedangkan proporsi realisasi penerimaan periode Januari sampai dengan November sebesar 95,13% dan untuk Penerimaan Neto DJP tanpa PPh Migas sebesar 90,96%. Sedangkan pencapaian untuk periode yang sama tahun 2007 untuk Penerimaan Neto DJP sebesar 83,35% dan untuk penerimaan neto DJP tanpa PPh Migas sebesar 80,41%.Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu pencapaian tahun 2008 ini masih jauh lebih tinggi sebesar 11,78% untuk Penerimaan neto DJP dan 10,55% untuk Penerimaan Neto DJP tanpa PPh Migas5.
4
UU No. 17 Tahun 200 Tetntang PPh Pasal 17 (2), dan (3)
5 Siaran Pers diterbitkan Direktorat Jenderal Pajak, Penerimaan Direktorat Jenderal
Pertumbuhan Penerimaan Neto DJP Triwulan I sebesar 52,94%, semester I sebesar 50,78% sampai dengan Triwulan III sebesar 46,39%, dan sampai dengan November 2008 sebesar 41,04%.Trend ini menunjukan adanya perlambatan pertumbuhan penerimaan DJP dipengaruhi oleh krisis keuangan global. Di tahun 2009 penerimaan dari sektor perpajakan ini diperkirakan akan menurun juga seiring dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan 6,5% dikarenakan krisis global yang tengah melanda ditambah juga dengan pemberlakuan UU PPh yang memberikan berbagai penurunan tarif.
Uraian diatas menunjukkan adanya potensi keterkaitan antara tarif pajak besarnya penerimaan negara dari pajak penghasilan dan investasi yang dilakukan oleh badan usaha sebagai wajib pajak. Tarif pajak ditetapkan oleh pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat secara independen dan dikenakan atas laba usaha yang berasal dari selisih pendapatan dan biaya operasi yang menjadi fungsi dari sebuah keputusan investasi. Sudah menjadi suatu kelaziman dalam dunia usaha jika melakukan investasi sebagai kebijakan berorientasi penigkatan kesejahteraan pemililk modal tanpa mempertimbangkan secara khusus pengaruh tarif pajak yang akan dikenakan terhadap penghasilan dari investasi tersebut. Colander dan Gamber mengemukakan bahwa sebuah perusahaan akan melakukan investasi jika laba yang diharapkan dari penggunaan modal melebihi biaya yang harus dibayarkan untuk mendanai pembelian6. Lebih lanjut Samuelson dan Nordhaus mengemukakan bahwa biaya investasi tersebut tidak hanya meliputi harga barang modal tetapi juga tingkat bunga yang harus dibayarkan untuk mendanai modal dan pajak-pajak yang harus dibayarkan atas penghasilannya7. Estimasi pajak terhutang akan diperlakukan sebagai biaya tidak terhindarkan (unavoidable cost) dalam keputusan investasi karena adanya faktor undang-undang yang sifatnya memaksa.
6 David C, Colander,Gamber, Edward N. Macroeconomics, Prentice Hall – Pearson Education, Inc Upper Saddle River, New Jersey, 2002, hal 104
7 Samuelson, Paul A., Nordhaus, William D. Economics, Eighteen Edition, McGraw Hill Companies, Inc. New York, 2005.Hal 459
1.2. Perumusan Masalah
Dengan disahkannya Undang Pajak Penghasilan baru Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tanggal 23 September 2008 Tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan yang akan berlaku mulai 1 Januari 2009. Maka pengenaan tarif untuk PPh Badan dimana terdapat dalam 17 ayat 1 huruf (b) mengatur mengenai Tarif PPh Badan terbaru yaitu sebesar 28 % akan berlaku juga mulai 1 Januari 2009. Masalah yang akan diangkat dalam penelitian ini ialah :
1. Apakah yang menjadi latar belakang penurunan tarif PPh badan menjadi tarif proporsional (flat rate)?
2. Apakah penurunan tarif PPh Badan merupakan faktor yang signifikan dalam menentukan minat investor menginvestasikan modalnya di Indonesia ? 3. Bagaimana pengaruh penurunan tarif PPh Badan menjadi flat rate tersebut
terhadap penerimaan negara dari sektor perpajakan ? 1.3. Tujuan dan Signifikansi Penelitian
1.3.1. Tujuan Peneilitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui apa yang menjadi latar belakang perubahan tarif PPh Badan dalam UU No 36 tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
2. Menjelaskan pengaruh tarif PPh Badan dalam UU No. 36 tahun 2008 tersebut terhadap minat investor untuk menginvestasikan modalnya di Indonesia.
3. Menjelaskan pengaruh tarif PPh Badan dalam UU No. 36 tahun 2008 tersebut terhadap penerimaan negara dari sektor penerimaan pajak. 1.3.2. Signifikansi Penelitian
1.3.2.1. Signifikansi Akademis
Sebagai sarana untuk menambah pengetahuan, wawasan dan ketrampilan dan salah satu sarana bagi penulis untuk mengkaji dan menganalisa teori yang didapat.
1.3.2.2. Signifikansi Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan manfaat bagi perkembangan ilmu perpajakan dalam kebijakan investasi dan kebijakan penetapan tarif di masa yang akan datang.
1.4. Sistematika Penulisan
Sistematika merupakan urutan tertentu dari unsur-unsur yang merupakan suatu kebulatan. Sistematika ini akan menggambarkan keselarasan isi penulisan tesis ini. Penulisan tesis ini menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan signifikansi penelitian, serta sistematika penulisan.
Bab II : TINJAUAN LITERATUR DAN METODE PENELITIAN Bab ini akan mengetengahkan mengenai tinjauan kepustakaan yang berkaitan dengan tesis ini. Antara lain tentang sistem perpajakan, sistem pemungutan pajak, asas pemungutan pajak serta prinsip dan metode pajak penghasilan. Bab ini juga menjelaskan mengenai pendekatan penelitian, jenis / tipe penelitian,metode penelitian, narasumber/informan, proses penelitian, penentuan lokasi dan objek penelitian serta keterbatasan penelitian.
Bab III : GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
Bab ini akan menguraikan mengenai karakteristik dari objek penelitian yang terkait dalam hali ini Perubahan UU No. 17 Tahun 2000 sebagaimana dirubah dengan UU No. 36 Tahun 2008. Bab ini tidak hanya mengacu pada data statistik tetapi juga dilengkapi dengan hasil wawancara dengan beberapa informan yang menjadi narasumber.
Bab IV : PENGARUH PERUBAHAN TARIF PPH BADAN MENJADI TARIF TUNGGAL BERDASARKAN UU PPH NO. 36 TAHUN 2008 TERHADAP INVESTASI DAN PENERIMAAN NEGARA.
Bab ini akan menguraikan mengenai latar belakang perubahan tarif pph badan serta dampak atau pengaruh dari perubahan tarif tersebut bagi investasi dan penerimaan negara. Pada bab ini akan dijelaskan hasil temuan lapangan yang akan dikaitkan dengan konsep teori yang digunakan, serta analisis dari data olahan hasil wawancara dari pernyataan-pernyataan narasumber atau informan yang terkait.
Bab V : SIMPULAN DAN SARAN
Bab ini akan berisi jawaban pertanyaan penelitian yang didasarkan atas hasil analisis yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya serta mengajukan beberapa saran atas penyelesain masalah dari pertanyaan penelitian diatas.