• Tidak ada hasil yang ditemukan

Intisari Dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Andi Djemma ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Intisari Dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Andi Djemma ABSTRACT"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

A. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia diperoleh dalam bentuk tempe. Konsumsi tempe rata-rata pertahun di Indonesia saat ini sekitar 6,45 kg/orang. Sebagai sumber bahan pangan, tempe merupakan salah satu makanan pokok yang dibutuhkan oleh tubuh.

Pada zaman pendudukan Jepang di

Indonesia, para tawanan perang yang diberi makan tempe terhindar dari disentri dan busung lapar. Sejumlah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1940-an sampai dengan 1960-an juga menyimpulkan bahwa banyak tahanan Perang Dunia II berhasil selamat karena tempe.

Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedela iatau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti ANALISIS KELAYAKAN USAHA TEMPE DI DESA SUKAMAJU

KECAMATAN SUKAMAJU, KABUPATEN LUWU UTARA

Intisari

Dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Andi Djemma

ABSTRACT

This study aims to analyze the feasibility of tempe in Sukamaju village, District Sukamaju, North Luwu.

Intake of respondents in this study using census method, which takes all those who seek tempe in Sukamaju village, District Sukamaju, North Luwu, amounting to eight people. Analysis of the data used in this research is the analysis of R / C Ratio and BEP analysis.

The results showed that the soybean business in Sukamaju village to be developed either from the analysis of R / C Ratio and of BEP analysis. Based on the analysis of R / C Ratio obtained a value of 2.92 which means that the business is feasible to be developed because the value of R / C ratio is greater than one. BEP Analysis of results showed that the average amount of production per one production per respondent is 659,99buah greater (>) than with the BEP production (units) that is equal to 7.00021 fruit. Similarly, the calculation results BEP receipts (IDR) also shows that businesses in the village Sukamaju tempe feasible to be developed, because the average amount of revenue (USD) per one production per respondent is Rp. 1.467.661,29lebih large (>) compared with BEP receipts (IDR) Rp. 15566.82006.

(2)

Rhizopusoligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe". Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjad isenyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia.

Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan anti oksidan pencegah penyakit degeneratif. Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miseliakapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat.

Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam. Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe sangat

baik untukdiberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.

Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging.

Akibatnya, sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengembangan tempe sudah merambah sejumlah Negara seperti: Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat (Hermana & Karmini, 1999).

Di Desa Sukamaju, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara adalah salah satu desa yang memilki industri tempe yang cukup besar, dengan adanya usaha ini dapat mengurangi pengangguran di daerah tersebut, tetapi para pemilik usaha pembuatan tempe selama ini tidak pernah menghitung tentang kelayakan usahanya, tidak menghitung titik impas baik dalam produksi maupun penerimaan, padahal konsep analisis titik impas dapat membantu para pengambil keputusan dalam merencanakan laba dan pengendalian aktivitas bisnis sehingga kerugian yang menjurus ke arah penutupan usaha bisa diminimalkan.

(3)

Oleh karena itu, penulis terdorong melakukan penelitian tentang analisis kelayakan usaha tempe.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah layakkah usaha tempe di Desa Sukamaju, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara dikembangkan? Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kelayakan usaha tempe di Desa Sukamaju, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu

Utara

Kegunaan Penelitian

1. Sebagai bahan informasi bagi pengusaha tempe di Desa Sukamaju dalam mengelola dan mengembangkan usahanya.

2. Sebagaibahan referensi, bahan pembanding bagi peneliti lainnya dengan kajian yang sama.

B. METODE PENELITIAN Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukamaju, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara. Pemilihan lokasi didasarkan atas pertimbangan bahwa di desa ini merupakan daerah penghasil tempe.

PenentuanResponden

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara sensus dengan memilih semua orang yang mengusahakan pembuatan tempe di DesaSukamaju, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara yaitu delapan orang.

Jenis Data

1. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden melalui wawancara dengan berpedoman pada daftar pertanyaan (kuisioner).

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari kantor atau instansi terkait yang berhubungan dengan penelitian ini, diantaranya Pemerintah Desa,serta buku – buku literatur yang terkait.

Analisis Data

Untuk menganalisis kelayakan usaha tempe di Desa Sukamaju maka digunakan analisis R/C Ratio dan BEP: 1. R/C Ratio

Penerimaan

R/C Ratio = Total Biaya

(Soekartawi, 2000)

Kriteria R/C Ratio adalah : Bila nilai R/C > 1 berarti menguntungkan (layak) Bila nilai R/C = 1 berarti tidak untung tidak rugi

(4)

2.a. BEP Produksi (unit), dengan rumus: Biaya Tetap

BEP (Unit) =

Penerimaan /Unit – Biaya Variabel / Unit

(Sabar dan Briman, 2010)

Dimana menurut Ken Suratiyah (2009), bahwa evaluasi kelayakan usaha berdasarkan beberapa kategori, dikatakan layak jika memenuhi persyaratan antara lain :

Produksi (unit) > BEP Produksi (unit)

Penerimaan (Rp) > BEP Penerimaan (Rp)

b. BEP Penerimaan (Rp), dengan rumus: Biaya Tetap BEP (Rp) = Biaya Variabel 1 – Penerimaan

(Sabar dan Briman, 2010)

Dimana menurut Ken Suratiyah (2009), bahwa evaluasi kelayakan usaha berdasarkan beberapa kategori, dikatakan layak jika memenuhi persyaratan antara lain :

Produksi (unit) > BEP Produksi

(unit)

Penerimaan (Rp) > BEP Penerimaan (Rp)

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. R/C Ratio

R/C ratio adalah besaran nilai yang menunjukan perbandingan antara penerimaan usaha (Revenue = R) denganTotal Biaya (Cost = C). Dalam batasan besaran nilai R/C dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak menguntungkan. Secara garis besar dapat dimengerti bahwa suatu usaha akan mendapatkan keuntungan apabila penerimaan lebih besar dibandingkan dengan biaya usaha.

Ada 3 (tiga) kemungkinan yang diperoleh dari perbandingan antara Penerimaan (R) dengan Biaya (C), yaitu:

a. R/C > 1 = Layak / Untung b. R/C = 1 = Impas

c. R/C < 1 = TidakLayak / Rugi

Dari analisisbiaya dan penerimaan (Lampiran 1), dapat dihitung R/C ratio yaitu: Penerimaan R/C Ratio = Total Biaya 1.467.661,2 = 503.124,35

(5)

= 2,92

Nilai R/C ratio sebesar2,92 yang berartiusaha yang dikelola layak untuk dikembangkan, karena nilai R/C Ratio lebih besar dari (>) 1. Nilai R/C Ratio sebesar 2,92 juga menunjukkan bahwa

setiap pengeluaran Rp.100,- dapat menghasilkan penerimaan sebesar Rp. 290,-. Hal ini menunjukkan bahwa ada keuntungan yang diperoleh pengusaha/pemilik usaha tempe di Desa Sukamaju, Kecamatan Sukamaju,

Kabupaten Luwu Utara sebesar Rp. 190,- (selisih antara penerimaan senilai Rp.

290 dengan pengeluaran senilai Rp. 100).

2. BEP Produksi (Unit) dan BEP Penerimaan (Rp)

Tingkat break even dapat dilakukan terhadap jumlah barang yang diproduksi atau dijual maupun terhadap besarnya

jumlah penghasilan dalam jumlah uang (Sabar Sutia dan Brima Tambunan, 2010).

Berdasarkan data biaya tetap, biaya variabel, dan penerimaan dari responden (Lampiran 1) maka nilai kelayakan dengan menggunakan analisis BEP dapat kita hitung sebagai berikut :

Dari hasil perhitungan terlihat bahwa usaha tempe di Desa Sukamaju layak untuk dikembangkan, dimana jumlah produksi per satu kali produksi setiap responden lebih besar (>) dibanding dengan BEP produksi (unit) yaitu 659,99

buah tempe diproduksi setiap satu kali produksi sedangkan hasil hitungan BEP (unit) sebesar 7,00021 buah. Seperti yang dikatakan oleh Ken Suratiyah (2009), bahwa evaluasi kelayakan usaha berdasarkan beberapa kategori, dikatakan Biaya Tetap a. BEP (Unit) =

Total Penerimaan /Unit – Biaya Variabel / Unit 10.340,08 = (1.467.661,29/659,99) – (492.784,27/659,99) 10.340,08 = (2.223,76) – (746,65) = 7,00021 buah tempe

(6)

layak jika memenuhi persyaratan antara lain Produksi (unit)

>BEP Produksi (unit)

Dari perhitungan tersebut juga terlihat bahwa usaha tempe di Desa Sukamaju mengalami titik impas atau break even atau tidak untung dan tidak rugi jika responden dapat memproduksi atau menjual sebesar 7,00021buah tempe per satu kali produksi.

Biaya Tetap b.BEP (Rp) = Biaya Variabel 1 – Penerimaan 10.340,08 = Jadi, responden akan mengalami

keuntungan apabila dapat

memproduksi/menjual lebih dari 7,00021buah tempe. Dan akan mengalami kerugian apabila hanya mampu memproduksi/menjual di bawah dari 7,00021 buah tempe per satu kali produksi.

Dari hasil perhitungan terlihat bahwa usaha tempe di Desa Sukamaju layak untuk dikembangkan, dimana jumlah penerimaan (Rp) per satu kali produksi setiap responden lebih besar (>) dibanding dengan BEP penerimaan (Rp) yaitu Rp. 1.467.661,29 rata-rata

penerimaan yang bisa diperoleh per satu kali produksi per responden sedangkan hasil hitungan BEP (Rp) sebesar Rp. 15.566,82006. Seperti yang dikatakan oleh Ken Suratiyah (2009), bahwa evaluasi kelayakan usaha berdasarkan beberapa kategori, dikatakan layak jika

memenuhi persyaratan antara lain Penerimaan (Rp) > BEP Penerimaan (Rp)

Dari perhitungan tersebut juga terlihat bahwa usaha tempe di Desa Sukamaju mengalami titik impas atau break even atau tidak untung dan tidak

rugi jika responden dapat memperoleh penerimaan rata-rata sebesar Rp. 15.566,82006 per satu kali produksi per responden. Jadi, pengusaha/pemilik usaha tempe akan mengalami keuntungan apabila dapat memperoleh rata-rata penerimaan per satu kali produksi per 492.784,27

1 –

1.467.661,29

(7)

responden lebih dari Rp. 15.566,82006 dan akan mengalami kerugian apabila hanya memperoleh penerimaan di bawah dari Rp. 15.566,82006 rata-rata per satu kali produksi per responden.

D. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa usaha tempe di Desa Sukamaju, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara layak dikembangkan.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disarankan bahwa ketika menjalankan suatu usaha apakah itu skala besar, menengah, bahkan usaha sekecil apapun, pemilik usaha harusnya mengetahui tingkat kelayakan usahanya dari berbagai aspek antara lain dari aspek finansial.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. "Tempe: Sumbangan Jawa untuk Dunia", Diunduhlewat internethttp://web.archive.org/web/ 20010215035727/http://www.komp as.com/ kompascetak/millenium/data2000/ temp39. htm ………., 2012. "Tempeh History". http://www.tempeh.info/tempehisto ry.php. Diaksespada 19 November 2012.

Debby Sumantri. 2010. Teknologi Fermentasi. Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian

Kementerian Pertanian, Jakarta.

Dwidjoseputro. 1990. Proses Pembuatan Tempe. CV. Yasaguna, Jakarta.

Hermana &Karmini, 1999. “The Development of Tempe

Technology”. Di dalam Agranoff, J (editor dan penerjemah), The Complete Handbook of Tempe: The Unique Fermented Soyfood of Indonesia. The American Soybean Association, Singapura.

Ken Suratiyah. 2009. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sabar Sutia dan Briman Tambunan. 2010. Analisa Break Even. Mitra Wacana Media, Jakarta.

Soekartawi. 1996. Ekonomi Produksi. Penebar Swadaya, Jakarta. ... 2000. Pengantar Ekonomi Produksi. Rajawali Perindo. Jakarta.

Sudarmadi, 2012. Rekayasa Teknologi Fermentasi Pada Pembuatan

Tempe. Bina Aksara, Bandung. Syahsa Almasdi. 2010. Manajemen

(8)

Dirjen Pengolahan Hasil Pertanian,

Jakarta.

Syarief R. 1999. Wacana Tempe Indonesia. Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya.

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Pengelolaan Ekosistem Mangrove dalam Upaya Meningkatkan Produksi Perikanan di Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.. Dibimbing

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) motivasi pemuda tani dalam regenerasi usaha pertanian di Desa Buttu-Batu, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang Yaitu berpengaruh

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Analisis Kelayakan Usaha Agroindustri Kopi Bubuk di Desa Bonto Tengnge Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai

Sementara itu dari data di atas dapat diketahui besarnya pendapatan usaha tani hidroponik kale di Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang dalam

Objek penelitian ini dilaksanakan pada usaha budidaya ikan Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Ngaol Jaya di Desa Sungai Ulak Kecamatan Nalo Tantan Kabupaten

Jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan tiap unit usaha kurang dari 20 orang sehingga jika diklasifikasikan sentra kerajinan rambut di Desa Karangbanjar ini merupakan

Keterampilan Petani Padi di Desa Harapan Kecamatan Walenrang Kabupaten Luwu Sumber Data : Data Primer Diolah 2022 Dari Tabel 9 menunjukkan bahwa keterampilan berusahatani padi yang

ANALISIS KERAGAAN USAHA INDUSTRI KEMBANG TAHU STUDI KASUS : DESA PADANG BRAHRANG, KECAMATAN SELESAI, KABUPATEN LANGKAT SKRIPSI OLEH TASYA ELSHAFIERA LUBIS 71170712034