Teori Kebudayaan
Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
Saiful Anwar Matondang
Yuda Setiawan
Teori Kebudayaan Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
Saiful Anwar Matondang, Yuda Setiawan © 2015, CV. Perdana Mitra Handalan, Medan Editor: Febry Ichwan Butsi, Vinsensius Sitepu Tata letak visual: MahapalaMultimedia Hak cipta dilindungi undang-undang Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Perdana Mitra Handalan Jl. Puyuh II No. 19
Komplek Rajawali Indah
Medan 20122 | +6281360933347 [email protected]
ISBN: 978-602-73405-0-3
Penerbitan buku ini dibiayai oleh DIPA Kopertis Wilayah 1 pada tahun anggaran 2015 dengan nomor kontrak, 027/K1.1.1/AT.1/2015
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi uku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Daftar Isi
Pengantar Penulis i
Bab 1 Pendahuluan 1
Bab 2 Teori Antropologi Seni Budaya & Wisata 9 Bab 3 Antropologi Urban & Studi Lintas Budaya 17
Bab 4 Kebudayaan Etnik Kota Medan
& Wisata Global
31
Bab 5 Kesimpulan & Saran 61
Daftar Pustaka 64
Pengantar Penulis
Buku
ini adalah hasil penelitian empiris terhadap
pertumbuhan dan perkembangan potensi seni budaya
etnik yang pluralis di Kota Medan, Provinsi Sumatera
Utara. Proses pembentukan Kota Medan dari hasil
interaksi penduduk asli (Karo, Simalungun, Melayu, Toba,
dan Mandailing) dengan budaya transmigran dari Jawa
serta peradaban asing (India, Arab, Tionghoa, Portugis,
Inggris, Belanda, dan Jepang), menciptakan mosaik
warisan budaya tak benda (
intangible heritage
) yang sangat
fenomenal dan memiliki nilai epistemologis (teori dan
metode penelitian budaya) dan pragmatis (kebijakan
kebudayaan pemerintah, industri wisata berskala global,
ekonomi kreatif, dan pendidikan seni budaya).
Teori kebudayaan klasik: evolusionis, difusionis, struktur
fungsional dan
urban anthropology
(Chicago dan Manchester
School), memberikan fondasi ilmiah yang kokoh tentang
budaya dan masyarakat secara etnologis.
Pada buku-buku etnografi tentang teori kebudayaan yang
telah dikembangkan para pendiri etnologi dan
antropologi: evolusionis E.B. Taylor (Inggris) dan L.H..
Morgan (Amerika Serikat); difusionis Adolf Bastian,
Graber (Jerman) dan Wilhem Schmidt (Austria-Swiss)
serta Franz Boaz (Jerman Amerika); struktural
fungsionalis B. Malinowski dan E.E. Prichards (Inggris);
strukturalisme mitologi C. Levi Strauss (Perancis);
prosesual konflik dramatik Manchester School of
Anthropology, Max Gluckman, Fortes Meyers, Edmund
Leach, dan Victor W. Turner; simbolik interpretatif
Weberian oleh Clifford Geertz (Harvard -USA), dan M
5
dasar-dasar sebagai acuan kerangka berpikir tentang
perubahan sosial budaya yang disertai dengan interaksi
kultural yang unik, berproses, dan berkesinambungan.
Realitas sosial budaya menunjukkan, proyek modenisme
Eropa dan globalisasi Anglo-Amerika berintekasi secara
kultural dengan budaya lokal, sebagaimana ditemukan di
India oleh Arjun Appadurai
Global Scapes
dan Glocal dari
Robertson. Selanjutnya, proyek antropologis Manchester
di bawah Max Gluckman (1950-an), telah memrediksi
perubahan sosial budaya masif, yang sudah masuk sejak
Kolonialisme Inggris, khususnya di Afrika.
Senada dengan
urban anthropology
dari Chicago School yang
meneroka
blood ties
etnisitas di kota-kota besar di Amerika
Serikat, Max Gluckman dari Manchester Inggris
memberikan analisa kritis terhadap munculnya gejala
metropolitan yang membuat adaptasi budaya lokal dengan
modernise dan globalise.
Buku ini menunjukkan, setiap etnik yang bermukim di
Kota Medan, secara dinamis dan adaptif meneruskan
tradisi kultural yang terkait dengan religi, hubungan sosial
dan hubungan dengan alam sekitar.
Dengan pendekatan antropologi seni dan pariwisata,
buku ini berfokus pada dunia ide yang direalisasikan
secara kultural dalam bentuk ritual dan pertunjukkan
budaya. Seni budaya etnik dalam bentuk perilaku budaya
yang terkait dengan kepercayaan dan tradisi kultural etnik
Melayu, Jawa, Aceh, Minang, Batak Toba dan Mandailing
serta Tionghoa yang bermukim di kota Medan masih
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
6
meneruskan seni pertunjukkan dari warisan budaya
masing masing etnik.
Kegiatan ritual dan tradisi kultural pada perayaan hari
besar
agama,
hari
besar
nasional,
peresmian
gedung/rumah baru, festival, pesta perkawinan dan acara
etnik lainnya, merupakan realisasi dari kepercayaan dan
tradisi.
Dari berbagai seni budaya etnik Kota Medan yang masih
berlanjut, maka seni pertunjukan (
performance art
)
merupakan fokus utama dari penelitian fundamental ini.
Alasan pemilihan seni pertunjukan adalah, karena
kandungan nilai-nilai humanisme yang lebih kompleks
(
complexity of sensory
) jika dibandingkan dengan artefak.
Setiap etnik mengembangkan seni pertunjukan dari
kepercayaan (
beliefs
), yang terwujud dalam berbagai rupa
ritual (
ritual enactments
) dan pengaturan hubungan sosial
(
social relations
) dalam makna simbolis (
symbolic meaning
)
yang lebih mencerminkan perilaku sosial dalam konteks
budaya. Misalnya, Pertunjukan Tari Persembahan Melayu,
Tortor Somba Batak Toba dan Tortor Onang Onang
(Persembahan) Mandailing dan Tarian Barongsai
Tionghoa Medan bersumber dari ritual. Sedangkan Tarian
Zapin Melayu, Tari Kijom-kijom /Endeng Endeng
Mandailing dan Tortor Hata Sopisik Batak Toba
merupakan tarian pergaulan sosial yang dapat menghibur
pada berbagai acara-acara kultural.
Data kebudayaan etnik Kota Medan dari hasil survei seni
budaya etnik di kota Medan sebagai potensi wisata global,
yang dilanjutkkan dengan observasi lapangan, wawancara
dan studi pustaka menghasilkan data dasar tentang
7
Kebudayaan etnik Kota Medan. Data terkumpul atas
dukungan berbagai pihak, yakni pengelola Istana
Maimoon, Vihara Maitreya Cemara Asri, sanggar seni,
para penari, perpustakaan T. Luckman Sinar, tokoh
masyarakat, pengelola biro perjalanan dan hotel di Kota
Medan saling bertukar informasi dan pengetahuan dalam
sebuah perjalanan studi empiris di lapangan.
Dari semua kebaikan para pemangku kepentingan
(
stakeholder
) pada bidang seni budaya etnik dan wisata di
kota Medan, kami menghaturkan banyak terima kasih,
sehingga kami mendapatkan data empiris tentang seni
budaya kota Medan yang sangat berguna untuk
merumuskan teori ilmu humaniora yang berguna untuk
bidang bidang ilmu terapan dan kebijakan pemerintah
dalam bidang pariwisata (
tourism
).
Pada kesempatan ini juga kami secara khusus
mengucapkan terimakasih kepada: Bapak Direktur
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Dirjen Dikti-
Menristek & Dikti, Bapak Kordinator Kopertis Wilayah 1
Medan, Kadis Pariwisata Provinsi Sumatra Utara, Bapak
Rektor UMN Al Washliyah, Bapak Ketua LP2M UMN
Al Washliyah, dan Dekan FKIP UMN Al Washliyah.
Penulis
9
Bab 1
Pendahuluan
Merujuk pada Convention of the Safeguard of Intangible Cultural Heritage UNESCO tahun 2003 dan rekomendasi Konvensi UNESCO tahun 2008, identifikasi dan inventarisasi warisan budaya tak benda yang meliputi oral traditions (tradisi tradisi lisan) dan ekspresi budaya melalui bahasa, seni pertunjukan, praktik sosial, ritual, perayaan, festival, pengetahuan lokal tentang alam, dan tradisi kerajinan adalah warisan budaya vital karena terkait diversitas budaya dan kreatifitas manusia.
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
10
PENGKAJIAN warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) yang menjadi tradisi dari masing masing etnik di Kota Medan, belum banyak dipublikasikan, baik di tingkat regional maupun global. Dari sudut aspek warisan budaya tak benda, potensi seni budaya Medan dapat dihubungkan secara teoritis dalam kajian-kajian wisata global yang terus berkembang. Seni budaya lokal dan wisata global adalah dua variabel penting untuk terciptanya grounded theory dalam penelitian humaniora ini.
Jikalau kita merujuk pada Convention of the Safeguard of Intangible Cultural Heritage, UNESCO, tahun 2003 dan rekomendasi Konvensi UNESCO tahun 2008, identifikasi dan inventarisasi warisan budaya tak benda yang meliputi oral traditions (tradisi-tradisi lisan) dan ekspresi budaya melalui bahasa, seni pertunjukan, praktik sosial, ritual, perayaan, festival, pengetahuan lokal tentang alam, dan tradisi kerajinan adalah warisan budaya vital, karena terkait diversitas budaya dan kreatifitas manusia. Misalnya, warisan budaya Melayu seperti paket tarian Mak Inang, Kuala Deli, dan Serampang Dua Belas,dan etnis Tionghoa Medan mewariskan ritual ziarah Cheng Bengdan pertunjukan Barongsai (dragon and lions dances)
pada Hari Raya Imlek yang masih ditradisikan oleh masing-masing etnik. Akan tetapi, kekayaan seni budaya etnik Kota
11
Medan masih belum dikaji secara holistik pada ilmu humaniora, guna menghasilkan pengetahuan dasar.
Penelitian fundamental bidang humaniora berfaedah sebagai pengetahuan dasar dan kerangka teori dan diperlukan untuk menopang bidang ilmu lainnya, seperti ilmu pendidikan seni, pengelolaan wisata, ekonomi dan industri kreatif, serta kebijakan pemerintah dan publik.
Terkait dengan kelangkaan data empiris dan teori-teori yang dihasilkan oleh ilmuwan humaniora tentang potensi seni budaya untuk wisata global, maka masih dibutuhkan kajian yang berkelanjutan agar tersedia pengetahuan dasar. Kondisi ilmu humaniora kini masih berkutat pada hal falsafah normatif (yang diadaptasi dari Yunani Kuno dan Eropah Barat Modern), dan belum dikembangkan sesuai dengan warisan budaya lokal dan perkembangan ilmu yang semakin pesat, telah menyebabkan kekeringan pengetahuan dasar humaniora bagi mahasiswa, peneliti, dan pemangku kepentingan di Indonesia. Dengan kata lain, penelitian dan pengembangan seni budaya untuk budaya wisata global masih minim, dan belum banyak dikaji secara ilmiah dan berkelanjutan.
Mengingat minimnya penelitian dasar terhadap kekayaaan seni budaya Kota Medan seperti tradisi lisan, pantun, lagu, cerita rakyat, dan seni drama, dan tari, penelitian
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
12
fundamental ini dimaksudkan untuk mendapatkan modal ilmiah dalam upaya pengembangan budaya wisata global dari seni budaya etnik sebagai tambang budaya yang merupakan identitas nasional di tingkat global, sehingga penelitian fundamental yang menjadikan arena penelitian adalah kekayaan budaya yang dimiliki kelompok etnik yang ada di Kota Medan sangat mendesak untuk dilakukan, agar dapat memberikan sumbangan pada pengembangan dasar dalam bidang humaniora.
Penelitian ini menelisik lebih jauh kekuatan dan peluang seni budaya Kota Medan yang potensial untuk ditumbuhkembangkan menjadi wisata global. Berdasarkan penelitian Antropology of Tourism yang dilakukan oleh Storanza (2001), terungkap penelitian holistik dapat mengeksplorasi budaya lokal dan kaitan turisme dengan peningkatan keuntungan sosial ekonomi dan lingkungan pada daerah tujuan wisata. Kemudian, sejak tahun 1970-an, proses reinvensi
(reinvention) dan dinamika sosial terhadap tradisi budaya lokal akibat industri wisata, menjadi perhatian pengkajian humaniora.
Cangia (2012:40-41) menyelidiki proses konstruksi sosial dalam seni pertunjukan seni, Buraku oleh suatu kelompok etnik minoritas di tengah-tengah budaya modern Jepang.
13
Kelompok itu kerap bernegosiasi dengan pemerintah terkait perubahan kebijakan melestarikan budaya bangsa. Penelitian itu memberikan basis pemikiran untuk meneliti lebih jauh potensi seni pertunjukan oleh komunitas lokal pada situasi kota modern.
Kemudian, Gonzales (2008: 807) mengusulkan adanya penelitian terbaru yang berfokus pada identitas budaya lokal dan globalisasi industri wisata. Dengan kata lain, penelitian fundamental seperti ini adalah tindakan intelektual untuk melahirkan pengetahuan dasar humaniora dari data empiris seni budaya etnik sebagai potensi wisata global.
Beragam persoalan
Seni budaya etnik Kota Medan yang pluralis memiliki keragaman dan berpotensi menjadi wisata global. Buku ini menjawab mengenai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) apa sajakah yang masih dikenal, dimiliki, dan ditransmisikan, serta diteruskan oleh kelompok etnik sebagai identitas budaya di Kota Medan?
Lagi,prosesi ritual agama, upacara adat dan pertunjukan hiburan rakyat adalah potensi seni budaya yang sangat berharga jika dipetakan (mapping out) secara sistematik. Kita bisa membawa persoalan ini ke dalam pertanyaan: seni budaya apa
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
14
sajakah yang masih ditansmisikan oleh kelompok-kelompok etnis yang bermukim di Kota Medan?
Kemudian, jikalau menilik dari berbagai prosesi ritual agama, upacara adat dan pertunjukan hiburan rakyat yang masih ditradisikan dan dipertahankan di Kota Medan pada masa sekarang, akan dapat dijadikan sebagai sasaran penelitian humaniora. Dari situ kita dapat menggali ritual, upacara dan pertunjukan seperti apakah yang sangat mendasar untuk
grounded theory pada ilmu humaniora.
Hal penting lainnya adalah data empiris dan rumusan
grounded theory yang ditemukan dalam ilmu humaniora, terkait potensi seni budaya Kota Medan yang dapat dijadikan sebagai sumber rujukan. Data dan teori seni budaya manakah yang tepat untuk disarankan dan dipublikasikan sebagai pengetahuan dasar untuk pengembangan wisata global?
Mengapa penelitian ini penting
Penelitian fundamental humaniora terhadap potensi seni budaya Kota Medan bagi pengembangan wisata global, merupakan terobosan mendasar, dan secara khusus penelitian fundamental ini bertujuan untuk:
Mengindentifikasi dan menginventarisasi prosesi ritual, upacara adat, dan pertunjukan hiburan rakyat sebagai seni
15
budaya etnik Kota Medan sebagai sumber elaborasi ilmiah dan grounded theory.
Membuat pemetaan (mapping out) seni budaya etnik yang dapat dimanfaatkan secara sinambung dan invensi budaya berbasis masyarakat untuk pengembangan wisata global, melalui kebijakan kebudayaan oleh pemerintah.
Memublikasikan potensi seni budaya etnik Kota Medan di jurnal internasional, dan dalam bentuk buku serta artikel di media massa yang dapat digunakan sebagai pengetahuan dasar bagi ilmu terapan dan kebijakan. Urgensi penelitian
Berkenaan dengan pentingnya sumbangan data empiris dan rumusan teoritis (grounded theory) tentang seni budaya yang berasal dari budaya lokal melalui kajian humaniora untuk pengetahuan dasar bagi ilmu terapan dan kebijakan, penelitian fundamental ini memiliki fungsi dan peran yang urgen sebagai fondasi ilmiah.
Pijakan yang berasal dari pengetahuan dasar dan teori yang dihasilkan penelitian fundamental ini, menunjang pendidikan seni budaya, pengelolaan wisata, ekonomi, industri kreatif dan kebijakan pemerintah dan publik. Penelitian fundamental lebih mendalami fenomena seni budaya etnik di
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
16
perkotaan yang diperlukan untuk mendapat data empiris dan menghubungan potensi seni budaya etnik dan budaya wisata global.
Seni budaya etnik ini diinterpretasikan berasaskan kaidah ilmu humaniora, sehingga data empiris atas budaya tak benda
(intangible culture heritage) dan interaksi identitas antar budaya, mampu membangun teori yang mendasar bagi penelitian terapan dan praktik seni budaya dan wisata. Lebih jauh, ini menjadi kerangka dasar hasil penelitian yang eksploratif prinsipil.
Pada prinsipnya, fenomena seni budaya yang dielaborasi terhadap keaslian dan kreatifitas seni budaya, dapat menjadi rujukan yang sangat berguna. Kontribusi kekayaan tak benda Kota Medan, seperti drama sosial, teater, seni tari, folksong, dan pertunjukan hiburan rakyat dalam perhelatan ritual keagamaan, upacara adat, dan festival atau karnaval untuk pengembangan wisata, terpetakan. ●
17
Bab 2
Teori
Antropologi
Seni Budaya
& Wisata
Pada seni pertunjukan, seperti Zapin, Joget ataupun Rongengmasyarakat Melayu di Sumatera Timur,
menawarkan sebuah jalan cemerlang dalam
memahami proses kreatifitas budaya lokal dan regional untuk melahirkan identitas bangsa.
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
18
Kajian seni budaya dalam antropologi
Kajian seni budaya dalam ilmu antropologi dapat kita jumpai dalam dua bentuk, yakni karya etnografi(deskripsi dan interpretasi kebudayaan) dan etnologi (perbandingan dua atau beberapa budaya). Baik etnografi dan etnologi telah melahirkan teori mendasar (grounded theories) tentang fungsi seni dan maknanya dalam kontek sosial politik yang lebih luas.
Seorang antropolog Amerika Serikat kelahiran Inggris, Victor W. Tuner, mengembangkan Anthropology of Performance
(1987) yang berfokus pada drama sosial dengan menggunakan terminologi seni teater untuk meneroka hubungan seni pertunjukan dengan kegiatan simbolik religius, tradisi, siklus hidup manusia (rites of passage), dan konflik sosial pada masyarakat.
Kaeppler membuat elaborasi ilmiah dari festival yang menyertai seni puisi, musik, membuat pewangi, tari, busana, dan drama yang bermuatan sosial politik pada wilayah budaya Polinesia. Penampilan seni drama dan tari masyarakat Pasifik merupakan refleksi dari legenda, mitos, dan kepercayaan mereka yang dikreasikan dalam struktur, estetika, gaya, simbol dan makna dalam konteks sosial budaya yang luas (Kaeppler: 2002:12).
19
Dalam Deep Play: Notes on Balinese Cockfight (1972), karya antropolog terkemuka, Clifford Geetz, membuat sebuah teori yang diangkat dari makna budaya sabung ayam di Pulau Dewata, Bali. Geertz (1973:412-428), memberikan gambaran bagaimana hubungan antara dramaturgical sabung ayam di Bali dengan simbolisasi identitas pemilik ayam, dan pendukung yang sedang bertarung. Meskipun sabung ayam adalah ilegal, namun bagi masyarakat, pertunjukan ini adalah sebuah pertarungan harga diri dan uang.
Richard Schechner telah membangun teori performance studies (2008) yang membahas persamaan seni pertunjukan dengan ritual keagamanan. Setelah Schechner membandingkan budaya Amerika-Eropa dengan tradisi Hindu-India, ia menjelaskan, baik ritual maupun seni untuk hiburan berorientasi pada hati jemaat/penonton agar tetap menjaga perilaku dalam kehidupannya. Schechner menemukan adanya upaya kelompok untuk membangun dan mempertahankan
restored behavior melalui wahana teatrikal dalam ritual dan seni pertunjukan.
Dalam The Malay Dance (1995) dijelaskan, seni pertunjukan dalam kebudayaan Melayu terkait dengan ritualistik, folkloristik dan tarian istana (Nasuriddin, 1995:1). Dan sebagai bagian yang terintegrasi dan berguna bagi
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
20
masyarakat Melayu, seni pertunjukan memiliki dua fungsi, yakni spiritual dan hiburan. Antropolog Italia, Flavia Cangia menyatakan, seni pertunjukkan adalah hasil rekreasi, interpretasi yang dinamis oleh kelompok etnik melalui proses interaksi sosial yang berkelanjutan (Cangia, 2012:26-27).
Sejalan dengan pendapat Cangia, Tengku Luckman Sinar, menegaskan, bahwa sejatinya seni tari, drama, dan musik adalah hasil kreasi seni dan juga menjadi bagian dari sistem sosial dalam masyarakat Melayu (Sinar, 2012). Pada Seni pertunjukan, seperti Zapin, Joget ataupun Ronggeng, masyarakat Melayu di Sumatera Timur menawarkan sebuah jalan cemerlang dalam memahami proses kreatifitas budaya lokal dan regional untuk melahirkan identitas bangsa.
Seni menggerakan tubuh melalui tarian memiliki makna simbolis, baik secara konteks budaya, estetika maupun identitas kelompok etnik (Wulf, 2010) dan seni pertunjukan memberikan role of model bagi pemilik kebudayaan dan penonton yang hadir pada saat ritual, upacara, dan peringatan serta ajang festival/karnaval.
Kajian warisan budaya tak benda
Warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage)
21
dunia. Jikalau The World Heritage Sites UNESCO selama empat dekade (sejak 1972) telah melakukan proyek benda material
(tangible heritage) seperti museum, candi, situs-situs etnik di 157 negara (Meskell, 2013) untuk pelestarian budaya, sarana pendidikan dan industri wisata, maka sejak tahun 2003 perhatian pada kekayaan etnik berupa tradisi mulai dilaksanakan pada beberapa negara. Kekayaan budaya tak benda terkait dengan the human body as medium (Wulf 2010), berupa tradisi lisan dan modus ekspresi dalam bahasa dan gerakan, seni pertunjukan, praktik sosial dalam ritual dan perayaan, pengetahuan lokal tentang gejala alam, keterampilan dan pengetahuan tentang seni lukis, seni rupa, dan kerajinan.
Kekayaan budaya tak benda berimplikasi pada penguatan budaya lokal dan memberikan sumbangan pada diversitas budaya global (Kaufman, 2013 dan Shankar, 2010). Hasil riset Grunewald (2006) memberikan data tentang kekuatan budaya etnik untuk reproduksi seni. Lebih lanjut Grunewald (2006:7) menegaskan, "The ethnicity exercised in the terms of a cultural production of traditions, to be exhibited as distinctive features within the touristic ambit, that would signify the ethnic character of the interaction.”
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
22
Budaya etnik dalam kontelasi wisata global
Kekayaan budaya lokal untuk masuk pada tingkat global telah menjadi kenyataan, karena didorong oleh arus imigrasi, teknologi informasi, dan industri kreatif dan pengembangan wisata. Identifikasi terhadap hibrida budaya pada global yang terjadi di Asia, menurut Pieterse (2009:115-116) mengalami difusi budaya Timur dan Barat.
Metateori yang dipaparkan oleh Pieterse (2009), perbedaan budaya etnik sebagai bagian dari kebijakan negara, konvergensi budaya dalam penyebaran agama, revitalisasi dan pembaharuan budaya etnik yang didorong oleh industri. Pada artikel Tourism et confiance: un lien peu explore, yang ditulis seorang antropolog Swiss, Andrea Boscobonik (2010) disebutkan, industri wisata global beinteraksi mutual dengan pelestarian budaya lokal (hal. 267). Kajian pariwisata dalam The Anthropology of Tourism terdapat berbagai pendekatan dalam melihat fungsi budaya lokal dalam kerangka wisata global.
Ada teori antropologi yang menghubungkan keagamaan dan turisme, perubahan sosial budaya akibat kunjungan wisata, globalisasi dan budaya, komoditisasi budaya untuk turisme, dan interaksi pelancong dengan masyarakat lokal di tujuan wisata.
Kirshenblatt-Gimblett dalam Destination Culture: Tourism, Museums, and Heritage (1998) menjelaskan, nuansa warisan
23
budaya migran ke Amerika Serikat terwujud pada pusat budaya
the new heritage centre di Ellis Island, New York. Nilai diversitas etnik dari berbagai bangsa yang bermigrasi ke Amerika Serikat hadir dan dirayakan pada pusat budaya tersebut.
Senada dengan temuan Kirshenblatt-Gimblett pada Ellis Island, hasil pengembangan Celia Lury (1997:767) tentang makna budaya wisata bukan sekadar menikmati tempat tujuan wisata, tetapi memberikan pengalaman akan nilai-nilai yang dimiliki manusia. Budaya wisata global menurut Freitas Santos (2013) pada masa sekarang ini, tumbuh dan berkembang melampaui bangunan fisik dari museum dan situs-situs etnik ke arah pembentukan citra artistik warisan budaya tak benda, yang meliputi kesenian, dan drama yang masih terus tumbuh dalam festival budaya yang dikelola oleh kelompok etnik.
Destinasi turis, Logas Portugal, menurut Santos (2013) memberikan daya tarik wisata, karena seluruh kegiatan seni pertunjukan dilakukan sebagai ekspresi kultural atas anugerah keindahan laut yang teduh. ●
24
Lapangan Merdeka
25
Bab 3
Antropologi
Urban & Studi
Lintas Budaya
Jika antropolog Amerika mengambil area penelitian di Amerika Utara, dengan membandingkan budaya kulit putih dengan suku asli Amerika, sebaliknya, antropolog Inggris lebih banyak bekerja di Afrika, Australia & Polinesia, India dan beberapa di Asia Tenggara. The Manchester School membidik budaya urban yang tumbuh atas proyek modenisasi penjajah dan kapitalis di negeri jajahan.
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
26
Dari model klasik menuju model prosesual
Pemikiran (mentalitas), etos, dan perilaku setiap etnik atau kelompok suku yang bermukim di wilayah perkotaan, sejak modernisasi Eropah merebak dari zaman kolonial pada akhir abad ke-20 di beberapa kota besar di negeri-negeri jajahan, menarik perhatian para sosiolog dan antropolog. Perhatian terhadap kajian urban anthropology di sekitar perubahan sosial budaya dan difusi kebudayaan yang terjadi di wilayah perkotaan, meliputi beberapa faktor, yakni: sistem pengetahuan, sistem kepercayaan, sistem kesenian, sistem hukum dan moral serta kemajuan teknologi kelompok suku yang berimigrasi dari benua atau negara lain atau kelompok etnik yang berurbanisasi dari pedesaan ke wilayah urban.
Terdapat pula perubahan penelitian lapangan model klasik evolusionis, E.B. Taylor atau struktur fungsionalis, Malinowski dan Radcliff-Brown (Inggris), yakni dari suku terpencil menuju perkotaan, mengubah teori dan metodologi antropologi sosial-budaya yang sangat fenomenal. Antropologi urban tidak lagi berfokus pada satu etnik, juga bukan pada komunitas yang terisolasi dari transportasi dan komunikasi modern. Sebaliknya, antropologi urban menerapkan a multi-sited ethnography model George E. Marcus dan rebellion & processual social drama ala Manchester School untuk penelusuran adaptasi
27
kelompok etnik dan keberlangsungan identitas etnik di berbagai kota dalam berbagai kegiatan sosial budaya.
Berbagai kegiatan ritual dan festival budaya diselenggarakan untuk mengukuhkan solidaritas kelompok, yang dibingkai sistem kepercayaan dan nilai nilai yang diamalkan dan dipraktikkan, menjadi arena riset antropologi urban.
Berbeda dengan perintis antropologi urban dari Chicago School, Amerika Serikat, yang menelusuri jejak kelompok etnik pada tatanan multikulturalisme Amerika dengan pendekatan sosiologis, tim antropologi dari The Manchester School (Max Gluckman, Darryl Forde, Meyer Fortes, dan Victor W. Turner) dari Inggris lebih banyan berfokus pada perubahan sosial budaya (adat istiadat), kelompok suku di beberapa kota yang menjadi lokasi proyek industrialisasi Inggris.
Jika antropolog Amerika mengambil area penelitian di Amerika Utara dengan membandingkan budaya kulit putih dengan suku asli Amerika, sebaliknya, antropolog Inggris lebih banyak bekerja di Afrika, Australia & Polinesia, India dan beberapa di Asia Tenggara. The Manchester School membidik budaya urban yang tumbuh atas proyek modenisasi penjajah dan kapitalis di negeri jajahan. Max Gluckman berfokus pada
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
28
hubungan sosial antar suku dan bangsa (ritual of social relations)
bukan perilaku individu, karena seseorang terikat pada budaya di mana dia tumbuh dan dibesarkan (1956). Murid Max Gluckman di University of Manchester, Victor W. Turner dengan terminologi social drama (1974), secara operasional melakukan pengamatan langsung terhadap makna ritual bagi komunitas dan proses struktur dan anti-struktur (1969) dalam dinamika internal kelompok etnik melalui sistem simbol.
Model social drama Victor W. Turner
mengombinasikan alur rites de passage Eropa yang dikembangkan Arnold Van Gannep (1909) dengan tradisi drama Elizabethan Theater karya William Shakespeare sebagai fondasi dasar untuk mengobservasi ritual dan prosesi (drama sosial) suku Ndembu di Afrika dan membangun teori dasar yang baru dalam antropologi simbolik.
Antropologi simbolik membantu penelitian lapangan lintas budaya (bertemunya tradisi besar) pada sebuah lokasi. Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures (1975) dengan lugas menyatakan, adaptasi manusia dengan lingkungannya terealisasi dalam sistem simbol dan makna. Selanjutnya, Geertz, antropolog interpretatif simbolik ternama dari Amerika Serikat ini, memberikan alasan logis atas sistem sistem budaya yang saling terkait dalam kelompok suku.
29
Sebagai penganut Verstehen Weberian dari Jerman (manusia sebagai makhluk yang hidup pada laman-laman makna sosial budaya), Clifford Geertz (1973: 48) menyatakan:
“The increasing reliance upon systems of significant symbols (language, art, myth, ritual) for orientation, communication, and self-control all created for man a new environment to which he was then obliged to adapt. As culture, step by infinitesimal step, accumulated and developed, a selective advantage was given to those individuals in the population most able to take advantage of it-the effective hunter, the persistent gatherer, the adept toolmaker, the resourceful leader-until what had been a small-brained, protohuman Australopithecus became the large brained
fully human homo sapiens”.
Pada saat sekarang antropologi urban sudah menjadi subdisplin antropologi yang mapan di Eropa Barat dan para antropolog urban sudah menjadi anggota pada Union Antropologi dan Etnologi Dunia (IUAES) yang berpusat di Jepang. Berbagai studi etnografi dilakukan di Eropa Timur pasca runtuhnya komunisme Rusia oleh, tim antropologi Guilina Prato dari Universitas Kent di Inggris dan Presiden Institute of Interdisciplinary for East & Central Europe (Christian Giordano) dari Universite de Fribourg Swiss serta Paula Rubel (University of Columbia USA). Sejak tahun 2008 penelitian antropologi urban terhadap posisi budaya China di
silicon city, Pulau Pinang, Malaysia yang dipimpin antropolog Swiss, Christian Giordano.
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
30
Bentuk budaya urban Kota Medan
Gerakan revitalisasi dan kesadaran kultural dari akar rumput seiring dengan putaran globalisasi dan regionalisasi (Giordano, 2009), menguatkan karakter budaya Kota Medan yang unik. Upaya beberapa seniman, kelompok sanggar seni dan perguruan tinggi juga memberikan angin positif bagi setiap etnik di Kota Medan untuk menampilkan potensi budaya Kota Medan. Strategi untuk merekonstruksi pertunjukkan budaya dalam bentuk ritual, seni pertunjukan, dan kreasi seni, bukan hanya memberikan fondasi bagi ilmu pengetahuan, juga memberikan informasi bagi pengambil kebijakan (pemerintah) dan pelaku usaha pariwisata.
Teori antropologi telah banyak menyediakan elaborasi tentang sistem kepercayaan dan kaitannya dengan identitas budaya. Misalnya, perilaku budaya yang terkait dengan kepercayaan dan tradisi. Pada realitas sosial budaya Kota Medan, etnik Melayu, Batak Toba dan Mandailing serta Tionghoa yang bermukim di Kota Medan masih meneruskan seni pertunjukan warisan budaya masing-masing pada perayaan hari besar agama, hari libur nasional, peresmian gedung atau pun rumah baru. Berbagai festival untuk perayaan-perayaan pesta perkawinan dan acara etnik lainnya berevolusi dengan lingkungan budaya urban Kota Medan.
31
Selain Kota Medan yang plural bertipe polyethnic city
(Judith Nagata, 1979), Medan lahir dari sejarah budaya yang panjang, mulai dari Kerajaan Haru, Kesultanan Deli dan Modernisasi Penjajah Belanda (1860), hingga menjadi kota metropolitan seperti sekarang ini. Hal itu termasuk realitas sosial budaya yang terlihat melalui berbagai bangunan bersejarah sebagai simbol perpaduan Islam, etnik dan modernitas (Mesjid Raya, Istana Maimoon, Balai Kota, Stasiun Kereta Api, dan Rumah Tjong A Fie) dan ritual festival agama (Ramdhan Fair & Imlek) dan budaya suku-suku (Tari Persembahan dan Tortor) yang bermukim di Kota Medan serta berbagai urban arts and culinary. memberikan modal budaya yang vital bagi pertumbuhan kota.
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
32
Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) di Medan 2014
(Saiful Anwar Matondang)
Wajah budaya urban Kota Medan dari berbagai seni budaya etnik yang masih berlanjut, seni pertunjukan (performance art), merupakan primadona budaya urban dalam konstelasi wisata global. Inovasi dan invensi tradisi budaya etnik terus tumbuh dan berkembang dengan sentuhan teknologi dan pemikiran seni budaya untuk kegiatan ritual dan festival tahunan seni pertunjukan, merupakan realisasi nilai-nilai humanisme yang lebih kompleks (complexity of sensory).
Modal budaya berupa sistem kepercayaan dan nilai budaya yang berinteraksi di Kota Medan, memberikan modal kultural yang khas, apalagi jikalau kita sandingkan dengan artefak. Kekayaan nilai-nilai religi dan kultural Kota Medan
33
telah banyak berekonstruksi secara inovatif menjadi pementasan seni budaya, misalnya, tarian Barongsai oleh Masyarakat Tionghoa yang dipertunjukkan di Sun Plaza, Yuki, Center Point, Polonia BD, dan Kompleks Cemara Asri setiap Hari Raya Imlek. Semua itu adalah dunia ide yang diwujudkan secara kultural dalam bentuk ritual dan pertunjukkan budaya untuk memperkokoh identitas dan solidaritas suku Tionghoa yang bermukim di Kota Medan.
Agama dan adat membuat Kota Medan memiliki kekayaan budaya. Kota Medan muncul sebagai wilayah urban yang paling heterogen di Pulau Sumatera, karena setiap etnik memiliki ruang dan kesempatn untuk mengembangkan seni pertunjukkan dari kepercayaan (beliefs) yang terwujud dalam berbagai rupa ritual (ritual enactments). Keberlangsungan tradisi untuk pengaturan hubungan sosial (social relations) dalam makna simbolis (symbolic meaning) yang lebih mencerminkan perilaku sosial dalam konteks budaya ada pada kantong kantong budaya suku-suku yang bermukim di Medan.
Suku Melayu menunjukkan keseniannya di Istana Maimon, suku Mandailing di Jalan Letda Sujono Medan Tembung, dan suku Tionghoa di sekitar Jalan Asia atau Vihara Maitreya Cemara Asri. Misalnya, kita dapat menyaksikan Pertunjukan Tari Persembahan Melayu,Tortor Somba Batak
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
34
Toba dan Tortor Onang Onang (Persembahan) Mandailing dan Tarian Barongsai TionghoaMedan.
Berbagai atraksi ritual dan kultural adalah bersumber dari sistem kepercayaan dan nilai-nilai yang masih diyakini. Tradisi budaya etnik yang masih berlanjut dengan penuh inovasi dapat dinikmati dari Tarian Zapin Melayu, Tari Kijom-kijom/Endeng Endeng Mandailing dan Tortor Hata Sopisik Batak Toba. Tari-tarian tersebut merupakan tarian pergaulan sosial yang dapat menghibur pada berbagai acara budaya.
Simbol dan Tepak Sirih dalam Tari Persembahan Melayu 2014 (Saiful Anwar Matondang)
35
Simbol dan ikon memperkuat karakter budaya Kota Medan. Istana Maimoon adalah salah satu yang menjadi magnet dan ikon kota ini. Istana bukan hanya merupakan warisan dari Sultan Deli dan menyuguhkan live music, tarian tarian Melayu seperti Mak Yong, Mak Inang, dan Serampang XII, tetapi merupakan pusat peradaban Melayu modern dan Islam. Sebagai pusat peradaban dengan kekayaan budaya Melayu dan Islam, di kompleks Istana Maimoon dan Kompleks Mesjid Raya adalah warisan budaya yang sudah masuk kategori obyek wisata global. Tempat itu membuat lokasi Ramadhan Fair yang diadakan setiap tahun menjadi fenomenal. Karakter Melayu Islam dan modernisasi menjadikan potensi budaya dan Vihara Maitreya bagi suku Tionghoa mengekalkan Kota Medan sebagai kota wisata rohani global. Simbol-simbol kultural yang agung dan ikon pluralistik memiliki magnitude luas, menjadikan Kota Medan sebagai pusat peradaban yang sangat berguna bagi pembangunan wisata global.
Karakter yang kokoh dan berakar pada sistem kepercayaan dan nilai nilai budaya urban yang disertai modernisasi dan aplikasi teknologi, adalah modal yang tak habis walaupun berbagai acara budaya dihadirkan setiap tahun.
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
36
Potensi karakter budaya yang kokoh dan kemampuan membuat jaringan dan bentuk-bentuk paket wisata budaya adalah faktor yang penting bagi Kota Medan untuk meraih pasar wisata regional dan global. Agenda ritual, festival, dan karnaval budaya yang terorganisir adalah kunci sukses bagi kota wisata. Modal kultural yang sangat kaya dan juga unik membuka jalan dan peluang besar bagi Kota Medan untuk menjadi kota wisata budaya berskala global. Kerjasama sinergis dari berbagai pihak agar Kota Medan dapat memanfaatkan berkah budaya yang sangat bernilai.
Medan, dengan potensi sistem kepercayaan dan nilai-nilai budaya yang dipadukan dengan modenisasi serta teknologi. berpotensi besar menjadi destinasi wisata global di kawasan Selat Melaka. Upaya-upaya kolaboratif agar kekayaan budaya Kota Medan melalui penelitian budaya urban dan pendidikan budaya secara informal dan formal untuk mewariskan budaya etnik, masih memerlukan tangan-tangan profesional dan kreatif. Modal tradisi kultural melahirkan suasana Kota Medan lebih berkarakter.
Diversitas kultural Melayu, Karo, Simalungun, Toba, Mandailing, Jawa, India, dan China yang dilakukan dengan pengetahuan dan keterampilan, melambungkan Kota Medan
37
menjadi future polyethnic city di antara kota-kota di kawasan Asia Tenggara.
Kota Medan yang pluralis secara etnisitas, memiliki kekayaan budaya etnik untuk wisata global. Selain posisi geografis yang sangat strategis, potensi budaya Kota Medan jika dikembangkan secara maksimal, baik berdasarkan praktik yang sistematis, maupun pengkajian ilmiah yang berkelanjutan, akan membuat Kota Medan sebagai destinasi wisata berskala global. Mengacu pada rekomendasi Convention of the Safeguard Intangible Heritage UNESCO tahun 2003, potensi seni budaya etnik Kota Medan, seperti narasi oral, musik, seni tari dan drama, dan tradisi lisan lainnya, memerlukan upaya upaya sustainability yang konkret dari masyarakat, akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha wisata. ●
38
Pagelaran Barongsai di Komplek Cemara Asri
39
Bab 4
Kebudayaan
Etnik Kota
Medan &
Wisata Global
Seni pertunjukan mengandung makna simbolis yang memberikan kesempatan bagi komunitas untuk menafsirkan ide dari kepercayaan dan tradisi, agar dapat berinteraksi secara kreatif dan dinamis. Terkait dengan seni pertunjuukan etnik Kota Medan, data penelitian fundamental ini memberikan modal ilmiah bagipengembangan wisata global.
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
40
Potensi seni budaya etnik Kota Medan dan wisata global Seni pertunjukan (performance art) adalah fokus utama penelitian fundamental ini, sebab seni pertunjukan adalah mengandung nilai-nilai humanisme yang lebih kompleks jikalau dibandingkan dengan artefak. Dunia ide (fikiran) yang direalisasikan secara kultural dalam bentuk ritual dan pertunjukkan budaya, adalah perilaku budaya yang terkait dengan kepercayaan dan tradisi dalam bentuk simbol.
Pertunjukan seni dalam kegiatan ritual dan kultural Melayu, Aceh, Minang, Karo, Simalungun, Batak Toba, Mandailing, serta Tionghoa yang bermukim di Kota Medan adalah sumber data. Sekitar 35 kegiatan seni budaya masih terus dilaksanakan. Seni pertunjukkan, dari warisan budaya masing-masing etnik pada perayaan hari besar, peresmian gedung/rumah baru, festival, pesta perkawinan, dan acara etnik lainnya memiliki nilai luhur dan dapat dikemas untuk dipromosikan untuk pengembangan sektor pariwisata.
Kemudian, dalam interaksi budaya, setiap etnik mengembangkan seni pertunjukkan dari kepercayaan (beliefs) yang terwujud dalam berbagai rupa ritual (ritual enactments) dan pengaturan hubungan sosial (social relations) dalam makna simbolis (symbolic meaning) yang lebih mencerminkan perilaku sosial dalam konteks budaya. Misalnya, Pertunjukan Tari
41
Persembahan Melayu, Tortor Somba Batak Toba dan Tortor Onang-Onang (Persembahan) Mandailing dan Tarian Barongsai Tionghoa Medan bersumber dari ritual. Sedangkan Tarian Zapin Melayu, Tari Kijom-kijom/Endeng Endeng Mandailing, dan Tortor Hata Sopisik Batak Toba merupakan tarian pergaulan sosial yang dapat menghibur pada berbagai acara kultural.
Menurut Donald V. Kurtz, konseptualisasi prosessual analysis melibatkan deskripsi dan verifikasi perubahan sosial budaya dalam sebuah even atau situasi, di mana para aktor sosial dalam kompetisi untuk meraih tujuan khusus. Selanjutnya, ia menjabarkan metodologi yang diterapkan dalam
prosessual analysis sebagai berikut:
“The conceptualization of process derived from this
methodology is concerning with describing the empirical and verifiable changes inherent in an event or situation while role players within that situation are competing for specific
goals. „Change‟ in this context refers to the alternation in
alignments of personnel within an encapsulated time dimension, the period involved covering the inception of the
process to it termination: „process‟ seems to refer to an
endlessly unfolding development or to a series of overlapping and inextricably intertwined process. Change in the structural sense is simply not a concern since formal structures are presumed to be nonexistent.” (1979: 42)
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
42
Seni pertunjukan mengandung makna simbolis yang memberikan kesempatan bagi komunitas untuk menafsirkan ide kepercayaan dan tradisi agar dapat berinteraksi secara kreatif dan dinamis. Terkait dengan seni pertunjukan etnik Kota Medan, data penelitian fundamental ini memberikan modal ilmiah bagi pengembangan wisata global.
Dalam pembahasan pada tiga subpokok berikut, disajikan hasil studi lapangan terhadap seni pertunjukan dengan ekspresi budaya sebagai dasar ilmu humaniora. Data empiris dikelompokkan menjadi tiga, meliputi: (1) hasil survei pada seni budaya etnik Kota Medan yang sering dipertunjukkan oleh responden, (2) hasil pengamatan lapangan tentang fungsi sosial dan potensi seni yang dipilih untuk penggembangan wisata global (global tourism) Kota Medan, dan (3) hasil pengamatan untuk lokasi potensial bagi pengembangan wisata global di Kota Medan.
Hasil survei: Seni budaya etnik Kota Medan
Survei terhadap seni budaya yang sering dipertunjukkan kelompok etnik yang bermukim di Kota Medan bersumber dari religi, interaksi sosial, dan adaptasi lingkungan/dengan alam. Hasil survei menunjukkan tiga puluh lima daftar seni pertunjukan yang dikenal oleh para responden. Hasil survei ini
43
menunjukkan, kepercayaan (beliefs), dan hubungan sosial adalah referensi utama kegiatan ritual dan kultural. Terkait dengan simbolisasi religi dan hubungan sosial dalam kajian antropologi, maka pengembangan konsepsi seni sebagai perwujudan kebudayaan dalam dunia ide dan kaitannya dengan kesenian, identitas etnik merupakan modal dasar ilmiah/teoritis dan praktik sosial dalam ruang publik. Selain esensi kebudayaan mengandung eternalitas, genuitas, dan orisinalitas, kebudayaan yang juga menunjukkan identitas etnik semakin menguat pada kelompok komunitas di perkotaan.
Dari hasil survei, terdapat 35 seni pertunjukan budaya etnik Kota Medan yang masih diteruskan oleh komunitas dan sanggar seni. Data tersaji pada tabel 5.1 adalah seni yang cepat diingat kelompok etnik dan dipertunjukkan pada kegiatas religi dan kultural. Dari kelompok seni etnik tersebut, pada kegiatan religi dan interaksi sosial, ada kegiatan seni pertunjukkan tari persembahan dan tari pergaulan sosial (tabel 5.2) yang dapat dikembangkan menjadi modal kultural bagi pengembangan wisata global di Kota Medan.
44
Tabel 5.1
Hasil Survei: Tiga Puluh Lima Seni Budaya Etnik Kota Medan
No. Nama Fungsi Asal Etnik
1. Makyong Religi Siam Melayu
2. Ronggeng/Joget Pergaulan Sosial Portugis Melayu
3. Serampang XII Pergaulan Sosial Melayu Serdang Melayu
4. Hadrah Religi Timur Tengah Melayu/ Mandailing
5. Dzikir Religi Timur Tengah Melayu/ Mandailing
6. Mahaban Religi Timur Tengah Melayu/ Mandailing
7. Zapin/Gambus Religi Timur Tengah Melayu/ Mandailing
8. Tarian Naga Religi Tiongkok Tionghoa
45
10. Tari Persembahan Religi Melayu Melayu
11. Tortor Somba Religi Melayu Batak Toba
12. Tortor Raja/ Onang-Onang Religi Melayu Mandailing
13. Toping Huda Huda Religi Simalungun Simalungun
14. Gundala Gundala Religi Karo Karo
15. Tari Kijom Kijom Pergaulan Sosial Mandailing Mandailing
16 Tari Sitogol Pergaulan Sosial Mandailing Mandailing
17. Tari Hata Sopisik Pergaulan Sosial Batak Toba Batak Toba
18. Tari Nelayan Hubungan Alam Austronesia Melayu/ Pesisir
19. Zapin Pergaulan Sosial Timur Tengah Melayu
20. Sihutur Sanggul Pergaulan Sosial Batak Toba Batak Toba
21. Tari Endeng Endeng Pergaulan Sosial Mandailing Mandailing
22. Tari Saman Religi Aceh Aceh
23. Tari Rapa’i Religi Aceh Aceh
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
46
25. Tari Piring Religi Minang Minang
26. Tari Inai Religi Melayu/ Minang Melayu/ Minang
27. Tari Lilin Religi Minang Minang
28. Tari Mak Inang Pergaulan Sosial Melayu Melayu
29. Pencak Silat Pergaulan Sosial Melayu/ Minang Melayu/ Minang
30. Wayang Religi India/ Hindu Jawa/ Melayu
31. Kuda Kepang Religi Timur Tengah Jawa
32. Opera Batak Hiburan Batak Toba Batak Toba
33. Sam Pek Eng Hiburan Tionghoa Tionghoa
34. Bangsawan Hiburan Persia Melayu
47
Kota Medan yang pluralistik secara etnik budaya dan religi, memiliki sejarah yang panjang, sehingga terbentuk budaya perkotaan yang dinamis dari zaman penjajahan hingga kini. Menurut Luckman Sinar (2009:65):
“...tata kota di Medan mula-mula diatur melalui lembaga Commissie Tot Het Beheer Van Het Gemeente Fonds (Komisi untuk mengurus dana-dana
gemeente) yang lebih dikenal dengan nama Negorijraad, tetapi masih diperintah dan dicampuri oleh Residen Sumatera Timur/Asisten Residen Deli Serdang dan Kontrolir Deli. Tetapi bagaimanapun dengan adanya Negorijraad ini ia telah menjadi pelopor yang baik dalam menuju
suatu pemerintahan otonomi kotapraja.
Berdasarkan “Decerttralisatie Wet Stbl. 1903 No. 329” dibentuklah lembaga lain yang dinamakan “Afdeelingsraad Van Deli” yang berjalan di
samping Negorijraad tadi sampai dihapuskannya pada tanggal 1 April 1909 dibentuklah Cultuurraad untuk wilayah luar kota, yang menerima penyerahan baten en lasten dari bekas Negorijraad. Susunan keanggotaan Gemeente Raad tahun 1909 itu terdiri dari 15 orang (sebagian besar Belanda) yang diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda dan diambil dari anggota-anggota, Afdeelingsraad van Deli. Dengan adanya acte van schenking (akte hibah), tanah-tanah Kota Medan oleh Sultan Deli kepada Gemeente Medan di depan Notaris J.M. de Hondt Junior tanggal 30 November 1918 Akte No. 97, maka tanah-tanah itu masuk menjadi wilayah langsung (rechstreeks bestuurd gebied) Hindia Belanda...”
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
48
Dari sejarah Kota Medan kita dapat mengetahui, pertumbuhan Kota Medan sejak tahun sejak 1909 sebagai kotapraja yang otonom, membuat Kota Medan lebih modern. Pembangunan Kota Medan membuat migrasi penduduk semakin pesat, sehingga setiap etnik membentuk komunitas yang dapat meneruskan tradisi budaya yang mereka miliki. Selanjutnya T. Luckman Sinar (2009:65) menuliskan:
“Ketua dari Gemeente Raad Medan masa pembentukannya tanggal 1 April 1909 (Stbld 1909 No. 180) adalah tuan E.F.TH. Maier, yang menjabat Asisten Residen Deli dan Serdang ketika itu dan sidangnya yang pertama dilangsungkan tanggal 6 April 1909. Tapi ini belum berwujud Kotapraja karena syaratnya harus ada seorang Walikota yang khusus untuk itu.”
Baru pada tanggal 1 April 1918 Medan mendapat walikotanya yang pertama, yaitu Baron Daniel Mackay. Pada masa awal ini Kotapraja Medan terdiri dari 4 buah kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sei Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir. Belakangan baru tumbuh Kampung Aur, Kampung Keling dan lain-lain. Di samping kampung-kampung asli Melayu itu, ada lagi tempat pemukiman khusus untuk orang-orang kulit putih (Eropa) dan
Masing-49
masing terpisah dengan kehidupannya, bahkan di kalangan penduduk bumiputera ada pula kelompok-kelompok yang berdiam eksklusif seperti kampung Mandailing (Sinar, 2009:67).
Kemunculan kelompok-kelompok etnis yang mediami wilayah pengembangan Kota Medan sejak tahun 1918, Kota Medan memiliki wijk-wijk. Etnis Melayu mendiami wilayah Maimoon, Mandailing di Sungai Mati, Batak Toba tinggal di kampung Durian, dan Tionghoa mendiami wilayah pasar dan Jalan Asia. Kemudian, kelompok-kelompok etnik meneruskan kepercayaan/religi, dan sosialisasi tradisi kepada generasi muda secara dinamis.
Setelah dilakukan survei pada sepuluh sanggar seni dan beberapa lokasi pertunjukan di Kota Medan, maka kami mengamati dan melakukan wawancara untuk mendapatkan 10 seni budaya etnik Kota Medan yang memiliki potensi berkategori tinggi untuk dikembangkan menjadi modal pengembangan wisata global. Hasilnya menunjukkan, seni persembahan dan pergaulan sosial lebih memiliki tingkat yang relatif lebih tinggi, jika dikemas dan dipromosikan sebagai produk wisata yang dapat dirancang menjadi agenda tahunan bagi pemerintah dan stakeholder.
50
Hasil observasi: seni budaya etnik potensial bagi sektor wisata Tabel 5.2.
Hasil Pengamatan Lapangan: Seni Budaya Etnik Potensial untuk Pengembangan Wisata Global
No. Nama Fungsi Sosial Fungsi Wisata Potensi
1. Tari Persembahan Melayu Ritual Religi Menyambut Tamu Tinggi
2. Tortor Somba Batak Ritual Religi Menyambut Tamu Tinggi
3. Tortor Raja/ Onang onanang Mandailing Ritual Religi Menyambut Tamu Tinggi
4. Tarian Naga (dragon dance) Tionghoa Ritual Religi Menyambut Tamu Tinggi
51
6. Tarian Zapin Melayu Pergaulan Sosial Hiburan Tinggi
7. Tarian Hata Sopisik Pergaulan sosial Hiburan Tinggi
8. Tari Endeng Endeng Pergaulan Sosial Hiburan Tinggi
9. Serampang XII Pergaulan sosial Hiburan Tinggi
52
Terdapat tiga subpokok bahasan yang bersumber dari data empiris tentang potensi seni budaya etnik Kota Medan yang dilakukan melalui survei, observasi, wawancara, dan sumber bacaan (buku dan jurnal). Dari berbagai seni budaya etnik Kota Medan yang masih berlanjut, maka seni pertunjukan (performance art) merupakan fokus utama penelitian fundamental ini. Alasan pemilihan seni pertunjukan, karena kandungan nilai nilai humanisme yang lebih kompleks (complexity of sensory) jika kita membandingnya dengan artefak.
Dunia ide yang direalisasikan secara kultural dalam bentuk ritual dan pertunjukkan budaya adalah perilaku budaya yang terkait dengan kepercayaan dan tradisi dalam bentuk simbol. Pertunjukan seni dalam kegiatan ritual dan kultural oleh etnik Melayu, Aceh, Minang, Karo, Simalungun, Batak Toba dan Mandailing serta Tionghoa yang bermukim di Kota Medan adalah sumber data. Sekitar 35 kegiatan seni budaya masih terus dilaksanakan. Seni pertunjukkan dari warisan budaya masing masing etnik pada perayaan hari besar, peresmian gedung/rumah baru, festival, pesta perkawinan dan acara etnik lainnya memiliki nilai luhur dan dapat dikemas untuk dipromosikan untuk pengembangan sektor pariwisata.
Dalam interaksi budaya, setiap etnik mengembangkan seni pertunjukkan dari kepercayaan (beliefs) yang terwujud dalam berbagai rupa ritual (ritual enactments) dan pengaturan
53
hubungan sosial (social relations) dalam makna simbolis (symbolic meaning) yang lebih mencerminkan perilaku sosial dalam konteks budaya. Misalnya, Pertunjukan Tari Persembahan Melayu, Tortor Somba Batak Toba dan Tortor Onang Onang (Persembahan) Mandailing dan Tarian Barongsai Tionghoa Medan adalah bersumber dari ritual. Sedangkan Tarian Zapin Melayu, Tari Kijom-kijom /Endeng Endeng Mandailing dan Tortor Hata Sopisik Batak Toba merupakan tarian pergaulan sosial yang dapat menghibur pada berbagai acara kebudayaan.
Dalam teori drama sosial (social drama) yang dikembangkan Victor W. Turner (1969, 1967), route dari rites of passage dikembangkan menjadi empat (4) proses, yakni: (1)
Breach (kehidupan normal), (2) Liminality (transisi), (3) Redress
(pemulihan), dan (4) Reintegration (penyatuan kembali), memberikan fondasi bagi penelitian dan pengkajian ritual dan seni pertunjukkan dari sudut pandang etnologi dan antropologi.
Disertasi doktoral Victor W. Turner di Universitas Manchester Inggris tentang ritual dan simbol-simbol seremonial dan kaitannya dengan struktur sosial suku Ndembu Rhodesia, Afrika yang dibimbing oleh Max Gluckman, memberikan sebuah fondasi teori antropologi secara khusus dan metode ilmu sosial humaniora untuk menemukan makna
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
54
dari upacara inisiasi bagi anak yang akan akil balig, kesuburan wanita yang akan berumah tangga, pengobatan bagi pasien, bimbingan kepada anggota suku Ndembu Rhodesia yang akan pergi berburu ke hutan, serta sistem kekerabatan dalam tatanan matrilineal.
Richard Schehner menambahkan, teori social drama
Victor W. Turner yang bersifat ritual process, lebih aplikatif dalam mengalisis seni pertunjukan yang berkonsentrasi pada publik. Pertunjukan sosial dibandingkan dengan pendekatan semiotika yang bersifat strukturalisme (1986).
Lokasi potensial untuk agenda wisata budaya
Lokasi pertunjukan seni budaya etnik Kota Medan memberikan modal yang sangat prospektif untuk pengembangan wisata global Kota Medan. Pusat kebudayaan etnik Kota Medan tersebar di beberapa lokasi yang mudah dijangkau turis domestik dan mancanegara. Istana Maimoon di Jalan Brigjen Katamso, Medan menyuguhkan tarian-drama-musik Melayu Deli bagi para pengunjung. Para pengelola wisata dan hotel telah memiliki kemitraan dengan Istana Maimoon untuk menumbuhkan kegiatan seni budaya Melayu.
Pekan Raya Sumatera Utara dan Lapangan Merdeka/Merdeka Walk merupakan lokasi pertunjukan seni
55
budaya etnik Kota Medan yang menghadirkan seniman seniman Kota Medan untuk perayaan hari besar, hari raya keagamaan, festival, karnaval, dan pameran dagang. Selain itu, Vihara Maitreya Cemara Asri Medan secara khusus menampilkan seni tari Naga dan Singa/Barongsai untuk menyemarakkan hari raya besar agama bagi komunitas Tionghoa di Medan.
Beranjak dari pemikiran utama dari Mazhab Antropologi Manchester, yakni The Network Process Analysis dalam ritual dan hubungan sosial, pada intinya merevisi paradigma The British Structure-Functionalism-London School of Economic (LSE), pasca kejayaan bapak antropolog modern Inggris B. Malinowski dan Radcliff-Brown.
Maka, interpretasi makna interaksi sosial dan simbol-simbol dalam perhelatan ritual dan seni pertunjukan berkembang menjadi analisis yang lebih rasional dan sekular: (1) mengontrol penyelewengan (rebillions) perilaku anggota komunitas, (2) memastikan (confirm) perilaku sosial anggota komunitas berlangsung sesuai dengan siklus kehidupan, dan (3) idealisasi simbol dalam hirarki sosial komunitas, seperti suku Zulu di Afrika atau Karnaval yang diikuti oleh ritual Ash Wednesday dalam tradisi budaya Eropah (Gluckman, 1956).
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
56
Drama Sosial, bagi Victor W. Turner, atau lebih rinci lagi: kegiatan seremonial ritual rite of passages dalam komunitas bertujuan untuk membebaskan setiap anggota dari ikatan-ikatan menuju taraf yang lebih tinggi, misalnya Saturnalia dan Lupercalia dalam tradisi budaya Romawi.
Pengembangan teori Les Rites de Passage (Van Gannep, 1909) untuk mempertanyakan rasionalisasi ritual oleh komunitas pada setiap transisi musim dan perubahan status sosial individu oleh The Manchester School of Anthropology,
ditandai dengan munculnya karya-karya etnografi yang bertujuan untuk mengumpulkan data lapangan tentang tiga fase siklus hidup dari teori Van Gannep, yakni:
a). Separation (pemisahan), seperti upacara kelahiran bayi dan kematian,
b). Marginal or Transition (penyisihan), seperti upacara inisiasi sunatan dan puberitas,
c). Aggregation (menuju situasi baru) atau incorporation, seperti pernikahan, penobatan raja dan pemberian gelar.
57
Tabel 4.3
Hasil Pengamatan Lapangan: Lokasi Potensial untuk Wisata Budaya Global di Kota Medan
No. Lokasi Etnik Kegiatan Tingkat Potensi
1. Istana Maimoon Melayu Deli Tari, drama & musik Tinggi
2. Pekan Raya Sumatera Utara Melayu, Batak Toba, & Mandailing Tari, drama & musik Tinggi
3. Taman Sri Deli Melayu Deli Tari, drama & musik Tinggi
4. Lapangan Merdeka/ Merdeka Walk Melayu, Batak Toba, Mandailing & Tionghoa
Tari, drama
& musik Tinggi
5. Vihara Maitreya Tionghoa Tari, drama & musik Tinggi
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
58
Mandailing &
Tionghoa & musik
7. Taman Budaya Melayu/ Batak &Jawa Tari,drama & music Tinggi
59
Data seni budaya enik Kota Medan terkait dengan seni pertunjukan, berikutnya dianalisis dari konteks sejarah peradaban dan konteks masa kini. Beberapa kegiatan ritual dan tradisi kultural pada masa animisme, dengan pemujaan pada kekuatan yang Maha Kuasa (dewa-dewa) atau animisme dan hubungan sosial, telah mengalami adaptasi setelah Islam menjadi agama dominan di Kota Medan. Sejarah peradaban memberikan sumber rujukan dalam analisa data budaya.
Jika pada awalnya seni pertunjukkan bertujuan untuk mempertunjukkan keterkaitan kehidupan manusia dengan keagamaan (drama as ritual to show religioustic) dan tata hubungan individu dalam komunitas, maka setelah Islam masuk ke wilayah Sumatera, ada perubahan yang dinamis dan kreatif. Penjelasan relasi agama dengan seni pertunjukan, dipresentasikan Etnolog Inggris, Sir James G. Frazer (1922). Dalam sebuah koleksi folklore (The Golden Bough: A Study of Magic and Religion) mendeskripsikan ritual Arktika yang dilakukan oleh suku Eskimo di Utara Kanada.
Peserta upacara terbagi ke dalam dua kelompok, yakni: yang pertama memegang bebek jantan (ptarmigan) adalah peserta yang lahir di musim dingin (winter) dan yang kedua memegang bebek betina (duck) dari kelompok yang kelahirannya pada musim panas (summer). Ptramigan
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
60
musim panas. Pada ritual ini, suku Eskimo membuat lomba tarik tali tambang yang terbuat dari kulit singa laut dan bersifat seremonial ritual, yang menunjukkan gaya tarik menarik kelompok ptarmigan versus duck. Upacara ini untuk menghormati pergantian dari musim dingin ke musim panas.
Pada bagian berikutnya, Sir James Frazer juga menganalisis ritual meminta hujan pada suku Omaha. Upacara ini dimulai dengan melubangi tanah yang dipersiapkan bagi bibit jagung yang basah dan kering. Kemudian, kelompok orang suci dari Buffalo Society membawa tong besar yang bersisikan air, lalu mereka menari dan mengitari tong air, meminum isinya, dan memuntahkannya ke lubang-lubang itu, sehingga seluruh area upacara penuh dengan awan air dan berlumpur. Mereka kemudian mengusapkan lumpur ke wajah mereka, berharap mampu menciptakan awan hujan di angkasa. Interpretasi makna
Kajian antropologi mengaitkan ritual dengan seni pertunjukan sebagai pemujaan kepada Tuhan, Dewa, dan benda-benda magis. Ritual bertujuan untuk mempertunjukkan keterkaitan kehidupan manusia dengan keagamaan (drama as ritual to show religioustic). Secara konseptual, Max Gluckman (1966:30) menyatakan: “Ritual, that is to say, is associated with
61 notions that its performance in some mysterious way, by process out of sensory control, affects the well-being of the participants: it is believed to protect them or in other ways achieve their well- being.”
Ritual adalah upaya sekelompok komunitas untuk meraih keberhasilan dan menghindari bencana serta kerugian. Lanjut Gluckman, perhatian pada keselamatan, misalnya keberhasilan panen ubi, istri-istri yang subur, keberlanjutan generasi muda, serta terhindar dari kebakaran dan kebanjiran adalah upaya kolektif komunitas untuk mempertahanankan stabilitas organisasi sosial dalam sebuah desa (1966:32).
Interpretasi data untuk mengungkap makna pertunjukan tradisional berupa tarian dan opera dalam perwujudan simbolisme kultural, sangat berkaitan dengan konteksnya. Pada bagian interpretasi data seni budaya etnik Kota Medan, yang menjadi rangkanya, dengan tema religi dan hubungan sosial, pertunjukan sesuai dengan konteks situasi, melibatkan tafsiran dari perspektif emik (native eyes).
Perhelatan ritual dan kultural, sesuai peristiwa adat yang menjadi motif dari aktifitas seni budaya, ditafsirkan menjadi karya etnografi (Geertz, 1973 dan Cohen, 1985). Proses penulisan etnografi melibatkan mentalitas budaya, perilaku sosial, dan sikap manusia terhadap Tuhan dan lingkungannya.
Teori Kebudayaan: Interaksi Lokal dengan Wisata Regional dan Global
62
Perilaku sosial budaya yang dibingkai oleh kepercayaan pada Yang Maha Kuasa, seperti pada pertunjukan Tari Persembahan Melayu, Tortor Somba dan Tarian Singa Tionghoa terkait dengan upaya manusia untuk mendapat perlindungan.
Perumusan teori dasar ilmu humaniora dari data yang terkumpul melalui pola-pola dan ramuan kreatif dari interpretasi makna simbol-simbol budaya dalam tradisi, dilakukan untuk menjangkau nilai-nilai universal (yang tak terikat lagi pada batas etnik). Selain perspektif emik, rumusan teori dasar (grounded theory) dikaitkan dengan beberapa fungsi dari seni pertunjukkan, yakni: sebagai media religi/ritual, pengatur tata pergaulan sosial dan hiburan.
Formulasi teori juga dikaitkan dengan upaya kreatif dan kemampuan adaptif pemilik budaya, setelah bermukim di wilayah perkotaan. Sinar (1987:46-47) dalam Kebudayaan Melayu Sumatera Timur , menyatakan:
“Upacara atau istiadat ritual Tolak Bala dalam
masyarakat Melayu Sumatera Timur
berhubungan dengan sistem pencarian
penduduk daerah sebagai petani atau peladang
padi. Upacara itu kewujudannya dari
kepercayaan tradisional masyarakat, yaitu kepentingan keselamatan kampung, menangkal
penyakit, meminta pertolongan kepada
63
terhadap pelaksanaan persemaian, sehingga masa menuai padi. Para petani padi dalam
masyarakat Melayu Sumatera Timur
menganggap bahwa Dewi Seri yang
menjelmakan diri sebagai benih padi. Sebelum masa menuai padi, ia selalunya bepergian kemana kehendak ia suka.”
Interpretasi ritual dan seni pertunjukan dalam perspektif antropologi, sebagaimana dikembangkan oleh the Manchester School of Anthropology, menggunakan dua kutub yang saling bertentangan (paradox of rituals) (Gluckman, 1956), namun bertujuan untuk menafsirkan perilaku aktor-aktor utama ritual dan pertunjukkan seni, sebagai aktualisasi nilai ideologis kultural dalam praktik sosial budaya dalam sebuah komunitas (Turner, 1957).
Keberlangsungan dan rekonstruksi pertunjukkan ritual dan seni dalam masyarakat adalah untuk memberikan penghormatan kepada yang Maha Kuasa (Tuhan/Dewa-dewa) berdasarkan pergantian musim (season cycles), dan panen (harvest/vintage), serta ritus perjalananan individu (rites de passage) mulai kelahiran, pubertas, masa dewasa, dan perkawinan, hingga kematian. Itu semua adalah wahana bagi anggota komunitas dan sebagai cermin atas perjalanan hidup dalam interaksi sosial.