1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar 13,70 persen pada tahun 2020 atau merupakan urutan kedua setelah sektor Industri Pengolahan. Salah satu sub sektor dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang cukup besar potensinya adalah sub sektor perkebunan.
Kontribusi sub sektor perkebunan dalam PDB yaitu sekitar 3,63 persen pada tahun 2020 atau merupakan urutan pertama di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Sub sektor ini merupakan penyedia bahan baku untuk sektor industri, penyerap tenaga kerja, dan penghasil devisa. Kopi merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Kopi juga salah satu komoditas ekspor Indonesia yang cukup penting sebagai penghasil devisa negara selain minyak dan gas. Selain peluang ekspor yang semakin terbuka, pasar kopi di dalam negeri juga masih cukup besar.
Tingkat produktivitas dan produksi kopi dalam negeri cenderung meningkat. Di Tabel 1 dapat dilihat perkembangan produksi kopi di Indonesia selama lima tahun terakhir.
Tabel 1. Luas Areal Dan Produksi Kopi di Indonesia Tahun 2016-2020 Tahun Luas Areal Kopi
(ha)
Produksi Kopi (ton)
2016 1.251.703 663.871
2017 1.238.466 716.089
2018 1.252.826 756.051
2019 1.245.359 752.512
2020 1.250.452 762.380
Sumber : Statistik Kopi Indonesia, 2020
Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa luas areal perkebunan kopi dan produksi kopi di Indonesia cenderung mengalami peningkatan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, Pada tahun 2016 produksi kopi sebesar 663.871 ton dan pada tahun 2020 produksi kopi meningkat menjadi 762.380 ton atau meningkat sebesar 12,9%.
Provinsi Jambi merupakan salah satu Provinsi yang banyak mengusahakan tanaman perkebunan baik perkebunan rakyat maupun perkebunan besar negara atau swasta. Kopi merupakan salah satu komoditas yang menjadi unggulan di Provinsi Jambi hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perkembangan Luas Areal Dan Produksi Perkebunan Kopi di Provinsi Jambi Tahun 2016-2020
Tahun Luas Areal (ha) Produksi (ton)
2016 25.847 13.395
2017 27.160 14.395
2018 2019 2020
27.274 29.438 30.650
15.461 16.393 18.713
Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, 2021
Berdasarkan data Tabel 2 terlihat bahwa perkembangan luas areal kopi pada tahun 2016 sampai dengan 2020 mengalami peningkatan sebesar 15,6%.
Selain itu, produksi kopi cenderung mengalami peningkatan mengalami peningkatan setiap tahunnya dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020. Pada tahun 2016 produksi kopi di provinsi jambi sebesar 13.395 ton dan pada tahun
2020 produksi kopi di provinsi jambi sebesar 18.713 ton atau meningkat sebesar 28,4%. Kopi yang dibudidayakan di Provinsi Jambi antara lain: kopi arabika, kopi robusta dan kopi liberika.
Kopi arabika merupakan kopi yang berasal dari Ethiopia, kopi jenis ini merupakan kopi yang paling banyak di kembangkan di dunia maupun di Indonesia khususnya. Kopi ini ditanam pada dataran tinggi yang memiliki iklim kering sekitar 1350-1850 m dari permukaan laut, sedangkan di Indonesia sendiri kopi ini dapat tumbuh dan berproduksi pada ketinggian 1000 – 1750 m dari permukaan laut, tetapi kopi jenis ini cenderung tidak tahan terhadap hemilia vastatrix atau jamur karat daun. Hidup di daerah sejuk dan dingin membuat kopi
arabika mempunyai ciri-ciri aromanya wangi dan sedap seperti perpaduan antara bunga dan buah. Kopi arabika memiliki citarasa yang asam dan sangat pahit, selain itu kopi arabika merupakan salah satu kopi yang memiliki grade terbaik untuk kategori sertifikasi speciality coffee (Haryono dan Kurniati, 2013).
Produsen kopi arabika di Provinsi Jambi adalah Kabupaten Kerinci yang berada dikawasan kaki Gunung Kerinci dengan ketinggian 1.000-1.500 mdpl dan luas wilayah mencapai 4.200 km2 serta memiliki topografi berbukit dan bergelombang. Luas areal dan produksi kopi arabika paling tinggi di Provinsi Jambi berada di Kecamatan Kayu Aro.. Peningkatan produksi kopi arabika di Kabupaten Kerinci dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.
Tabel 3. Perkembangan Luas Areal Dan Produksi Kopi di Kabupaten Kerinci Tahun 2016 - 2020
Tahun Luas Areal (ha) Produksi (ton)
2016 8.533 4.125
2017 7.723 4.086
2018 8.039 4.008
2019 8.622 4.232
2020 9.124 4.232
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci, 2021
Berdasarkan data Tabel 3 menujukkan perkembangan luas areal, produksi kopi di Kabupaten Kerinci setiap tahunnya cenderung mengalami peningkatan.
Kenaikan luas areal pada tahun 2016 - 2020 yaitu sebesar 6,4% atau meningkat sebesar 591 ha. Jumlah produksi kopi juga cenderung mengalami kenaikan dari tahun 2016 – 2020. Tetapi pada tahun 2018 produksi kopi Kerinci mengalami penurunan dari 4.008 ton dibandingkan dari tahun 2017 yaitu sebesar 4.086 ton.
Pola budidaya yang dilakukan oleh petani kopi Arabika adalah pola subsisten yaitu masih diusahakan dalam skala kecil guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta masih ditanam secara tumpang sari dengan tanaman-tanaman lain yang diusahakan oleh petani.
Kecamatan Kayu Aro merupakan salah satu daerah penghasil kopi Arabika di Kabupaten Kerinci. Dimana sebagian besar penduduk Kayu Aro berusahatani kopi Arabika, mengingat tanaman ini cocok dengan lingkungan dan kondisi tanah di daerah ini. Selain itu juga, dari segi permintaaan komoditi kopi mempunyai peluang pasar, dan nilai jual yang tinggi. Produksi kopi Arabika yang berasal dari Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci, sudah dijual ke beberapa daerah di Indonesia seperti Payakumbuh, Solok, dan Medan bahkan juga sudah ke luar negeri seperti Swiss, California, Jerman, Brasil, Australia dan Belgia, kopi Arabika yang dijual dalam bentuk bubuk kopi yang sudah dikemas dan berlabel.
Pengukuran efisiensi produktivitas serta aktivitas ekonomi sangatlah penting sebagai tolak ukur antara selisih input dan output yang dihasilkan. Proses mengalokasikan input (faktor produksi) untuk memaksimumkan produksi dapat diupayakan melalui langkah-langkah yang diambil guna memperoleh efisiensi ekonomi yang optimal, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani.
Berdasarkan fenomena diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian secara langsung mengenai “Analisis Pendapatan Petani Kopi Arabika di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci”
1.2. Perumusan Masalah
Kopi merupakan salah satu komoditas yang menjadi unggulan di Provinsi Jambi. Produsen kopi arabika di Provinsi Jambi adalah Kabupaten Kerinci. Luas lahan dan produksi kopi di Kabupaten Kerinci cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020. Kecamatan Kayu Aro merupakan salah satu daerah penghasil kopi Arabika di Kabupaten Kerinci.
Dimana sebagian besar penduduk Kayu Aro berusahatani kopi Arabika, mengingat tanaman ini cocok dengan lingkungan dan kondisi tanah di daerah ini.
Selain itu juga, dari segi permintaaan komoditi kopi mempunyai peluang pasar, dan nilai jual yang tinggi. Petani kopi di Kabupaten Kerinci masih mengusahakan usahatani kopi dengan pola subsisten yaitu ushatani masih diusahakan dalam skala kecil guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta masih ditanam secara tumpang sari dengan tanaman-tanaman lain yang diusahakan oleh petani.
Pengukuran efisiensi produktivitas serta aktivitas ekonomi sangatlah penting sebagai tolak ukur antara selisih input dan output yang dihasilkan. Proses
mengalokasikan input (faktor produksi) untuk memaksimumkan produksi dapat diupayakan melalui langkah-langkah yang diambil guna memperoleh efisiensi ekonomi yang optimal, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani.
Oleh sebab itu Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana gambaran umum usahatani kopi arabika di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci?
2. Berapa besar pendapatan petani kopi arabika di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci?
3. Berapa besar kontribusi pendapatan usahatani kopi arabika terhadap pendapatan petani kopi arabika di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui gambaran umum usahatani kopi arabika di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci.
2. Untuk menganalisis pendapatan petani kopi arabika di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci.
3. Untuk menganalisis besarnya kontribusi pendapatan usahatani kopi arabika terhadap pendapatan petani kopi arabika di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci.
1.4. Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini dilaksankan diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi tingkat sarjana pada Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
2. Sebagai bahan masukan dan informasi bagi Pemerintah Provinsi Jambi maupun pihak-pihak yang terkait untuk menentukan kebijakan dan membantu petani kopi arabika meningkatkan produksi kopi arabika.
3. Sebagai bahan informasi dan menambah literatur bagi pihak-pihak lain yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang produksi kopi arabika.