• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM SURAT AL-KAHFI AYAT 60-82 DI LINGKUNGAN PESANTREN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM SURAT AL-KAHFI AYAT 60-82 DI LINGKUNGAN PESANTREN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM

SURAT AL-KAHFI AYAT 60-82 DI LINGKUNGAN PESANTREN

Article details:

Received: 8 Okt 2019 Revision: 24 Okt 2019 Accepted: 8 Nov 2019 Published: 31 Des 2019

The most phenomenal story, contained in the Qur'an, is the story of the journey between the Prophet Musa and Kheer, which is contained in Surah al Kahf verses 60-82. Musa plays a role as a student, and Khidir acts as a teacher, these two components must be fulfilled in the world of education. This story contains several separate lessons, and if it is associated with the world of pesantren, then this is in line with the values contained in the story. There are at least 20 elements of educational values contained in it, and two of them have the same content, namely paragraph 71 with 74, and paragraph 72 with 75. The results of this study found that the pesantren model has adopted the educational values contained

in surah al kahfi, one of which is successfully combining external knowledge (knowledge) and internal science (value), or in the language of the surah al kahfi called

"majmul bahrain". As illustrated in the figure of Khidir as the figure of a teacher who can combine external

intelligence and internal intelligence. This is the reason why the pesantren education model is very suitable with the explanation contained in surah al kahfi verses 60-82.

Keywords: Islamic Education, Al Kahfi, Islamic Boarding School

Mohammad Yazid Mubarok [email protected]

Khoirul Ulum [email protected]

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) at-Taqwa Bondowoso

(2)

A. Pendahuluan

Salah satu metode pendidikan yang diajarkan Allah dalam Al-Qur‟an adalah melalui metode penyampaian kisah-kisah. Mendidik dengan metode ini, dapat mendorong seseorang untuk mengubah prilaku seseorang, sesuai dengan pengarahan dan pelajaran yang terdapat dalam kisah tersebut.1 Banyaknya ayat dalam Al-Qur‟an, yang menceritakan tentang kisah-kisah, memberi isyarat tentang betapa pentingnya metode melalui penyampaian kisah-kisah, dalam membentuk karakter pribadi seseorang. Bahkan ada surat yang secara khusus di dalam Al Qur‟an diberi nama al-Qashas yang artinya kisah-kisah. Penyampaian dengan metode ini, tidak lain dan tidak bukan, adalah untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia, yakni mendidik manusia mulai dari masa penciptaan, hingga menjelang ajalnya, agar senantiasa sadar akan jati dirinya.2

Kisah-kisah dalam al qur‟an terbagi menjadi dua macam yakni dari segi waktu dan dari segi materi. Dari segi waktu, kisah-kisah dalam al qur‟an terbagi lagi menjadi tiga bagian, yang pertama adalah kisah yang terjadi di masa lalu, seperti kisah dialog malaikat dengan Tuhannya mengenai khalifah di muka bumi.3 Lalu yang kedua adalah kisah yang terjadi di masa kini, seperti kisah tentang turunnya malaikat pada malam Lailatul Qadr.4 Kemudian yang ketiga adalah kisah yang terjadi pada masa yang akan datang, seperti kisah tentang akan datangnya hari kiamat.5 Sedangkan kisah dari segi materi, terbagi menjadi tiga bagian yakni kisah- kisah para Nabi, kisah tentang pristiwa-pristiwa yang terjadi di masa lampau yang tidak dapat dipastikan kenabiannya, dan kisah-kisah yang terjadi di masa Rasulullah.6

1 Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani, 1996), cet. II, h. 239-240

2 H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 156

3 QS. Al Baqarah 30-34

4 QS. Al Qadr 1-5

5 QS. Al Qariah, Al Zalzalah, dan lain sebagainya

6 Ahmad Syadali dkk, Ulumul Qur’an II Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MkDK, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hal. 27-30

(3)

Adapun kisah yang sangat fenomenal, yang terdapat dalam al qur‟an adalah kisah perjalanan antara Nabi Musa dan Khidir as. Musa berperan sebagai murid, dan Khidir berperan sebagai guru. Kisah perjalanan ini, diabadikan dalam surah al kahfi ayat 60 sampai dengan 82, yang disampaikan secara utuh dan kongrit dalam sebuah hadis Nabi. Karena itu, perlu kiranya penulis menyampaikan cerita tersebut dalam tulisan kali ini agar dapat memperjelas isi dari kandungan ayat tersebut.

Dari Ubay bin Ka‟ab, Rasulullah bersabda, “Pada suatu ketika Musa berbicara di hadapan Bani Israil, kemudian ada seseorang yang bertanya, „Siapakah orang yang paling pandai itu?‟ Musa menjawab, „Aku.‟ Dengan ucapan itu, Allah mencelanya, sebab Musa tidak mengembalikan pengetahuan suatu ilmu kepada Allah. Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, „Sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba yang berada di pertemuan antara dua laut, hamba-Ku itu lebih pandai daripada kamu!‟. Musa bertanya, „Ya Rabbi, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya?‟ Maka dijawab, “Bawalah seekor ikan yang kamu masukkan ke dalam suatu tempat, di mana ikan itu menghilang maka di situlah hamba-Ku itu berada!‟

Kemudian Musa pun pergi. Musa pergi bersama seorang pelayan bernama Yusya‟ bin Nun. Keduanya membawa ikan tersebut di dalam suatu tempat hingga keduanya tiba di sebuah batu besar. Mereka membaringkan tubuhnya sejenak lalu tertidur. Tiba-tiba ikan tersebut menghilang dari tempat tersebut. Ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut. Musa dan pelayannya merasa aneh sekali. Lalu keduanya terus menyusuri dari siang hingga malam hari. Pada pagi harinya, Musa berkata kepada pelayannya, „Bawalah ke mari makanan kita. Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.‟7 ‘Itulah tempat yang kita cari,’ lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.‟8 Setibanya mereka di batu tersebut, mereka mendapati seorang lelaki yang tertutup kain, lalu Musa memberi salam kepadanya. Khidir (orang itu) bertanya, „Berasal dari manakah salam yang engkau ucapkan tadi?‟ Musa

7 QS. Al Kahfi 62

8 QS. Al Kahfi 64

(4)

menjawab, „Aku adalah Musa.‟ Khidir bertanya, „Musa yang dari Bani Israil?‟ Musa menjawab, „Benar!‟. „‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab,

‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.’’9 Khidir berkata,

„Wahai Musa, aku ini mengetahui suatu ilmu dari Allah yang hanya Dia ajarkan kepadaku saja. Kamu tidak mengetahuinya. Sedangkan engkau juga mempunyai ilmu yang hanya diajarkan Allah kepadamu saja, yang aku tidak mengetahuinya.

Musa berkata, „Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.‟10

Kemudian, keduanya berjalan di tepi laut. Tiba-tiba lewat sebuah perahu.

Mereka berbincang-bincang dengan para penumpang kapal tersebut agar berkenan membawa serta mereka. Akhirnya, mereka mengenali Khidhir, lalu penumpang kapal itu membawa keduanya tanpa diminta upah. Tiba-tiba, seekor burung hinggap di tepi perahu itu, ia mematuk (meminum) seteguk atau dua kali teguk air laut.

Kemudian, Khidhir memberitahu Musa, „Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu tidak sebanding dengan ilmu Allah, kecuali seperti paruh burung yang meminum air laut tadi!‟. Khidhir lalu menuju salah satu papan perahu, kemudian Khidhir melubanginya. Melihat kejanggalan ini Musa bertanya, „Penumpang kapal ini telah bersedia membawa serta kita tanpa memungut upah, tetapi mengapa engkau sengaja melubangi kapal mereka? Apakah engkau lakukan itu dengan maksud menenggelamkan penumpangnya?‟. Khidhir menjawab, „Bukankah aku telah berkata,

‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku.’ Musa berkata, ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku.’’11 Itulah sesuatu yang pertama kali dilupakan Musa, kemudian keduanya melanjutkan perjalanan. Keduanya bertemu dengan seorang anak laki-laki sedang bermain bersama kawan-kawannya. Tiba-tiba Khidhir menarik rambut anak itu dan membunuhnya. Melihat kejadian aneh ini,

9 QS. Al Kahfi 66-67

10 QS. Al Kahfi 69

11 QS. Al Kahfi 72-73

(5)

Musa bertanya, „Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.‟12

Khidhir menjawab, „Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?‟.13 Maka, keduanya berjalan. Hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka.

Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh. „Khidhir berkata bahwa, melalui tangannya, dia menegakkan dinding itu. Musa berkata, ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidhir berkata,

‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.’„14 Semoga Allah menganugerahkan rahmat kepada Musa ‘alaihis salam. Tentu, kita sangat menginginkan sekiranya Musa dapat bersabar sehingga kita memperoleh cerita tentang urusan keduanya.”15

B. Tinjauan Surah Al Kahfi Ayat 60 – 82 Dan Relevansinya Dengan Lingkungan Pesantren

Berdasarkan penjelasan yang terdapat dalam surah al kahfi, maka dapat disimpulkan beberapa nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat tersebut, sebagaimana yang disajikan pada tabel 1 dibawah ini:

Tabel 1. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Kisah Nabi Musa dan Khidir No Ayat Nilai-Nilai Pendidikan

1 60 Pencarian seorang guru, membutuhkan sebuah pengorbanan, waktu, dan proses

2 61 Perpaduan antara ilmu eksternal dan ilmu internal

3 62 Dalam mencari ilmu dibutuhkan yang namanya perbekalan

4 63 Setan akan senantiasa selalu menggoda orang yang sedang

12 QS. Al Kahfi 74

13 QS. Al Kahfi 75

14 QS. Al Kahfi : 77-78

15 HR. Al-Bukhari no. 122 dan Muslim no. 2380

(6)

menuntut ilmu

5 64 Tidak malu mengakui kesalahan dan segera memperbaikinya 6 65 Semua ilmu datangnya dari Allah

7 66 Anjuran untuk berprilaku sopan dan tawadhu‟ dihadapan guru 8 67 Guru harus lebih awal mengenal pribadi calon muridnya, sebelum

diterima sebagai murid

9 68 Guru memberikan materi disesuaikan dengan tingkat pemahaman muridnya

10 69 Sebagai murid harus bisa mengupayakan sifat sabar dalam dirinya dan tidak menentang apa-apa yang disampaikan oleh gurunya 11 70 Jangan bertanya sebelum guru mengizinkan untuk bertanya 12 71 Jangan gampang menyalahkan guru sebelum bertabayun

13 72 Seorang guru tidak boleh bosan-bosan mengingatkan muridnya jika melakukan kesalahan

14 73 Jika murid melakukan kesalahan, jangan malu-malu untuk meminta maaf pada gurunya

15 74 Jangan gampang menyalahkan guru sebelum bertabayun

16 75 Seorang guru tidak boleh bosan-bosannya mengingatkan muridnya jika melakukan kesalahan

17 76 Murid harus tau diri, apabila berbuat salah pada gurunya

18 77 Membantu orang harus dengan tulus ikhlas, dan jangan mengharap imbalan

19 78 Dimana ada pertemuan antara guru dan murid, disitu juga ada perpisahan

20 79-82 Guru harus bisa menerangkan dan menguasai materi dengan sangat jelas dan lugas, sehingga murid dapat dengan mudah memahami isi pokok dari materi yang disampaikan oleh guru

(7)

Berdasarkan tabel diatas, ada dua ayat yang sengaja penulis samakan kandungan ayatnya, yakni surat al kahfi ayat 71 dengan ayat 74, dan surah al kahfi ayat 72 dengan ayat 75. Sengaja penulis menyamakan kandungan ayat tersebut, dikarenakan esensi dari ayatnya sama-sama mengalami isi pengulangan. Misalnya pada ayat 71 dan 74, dalam ayat ini Nabi Musa menyalahkan Khidir ketika melubangi perahu dan ketika membunuh anak kecil. Walaupun lafadz ayatnya dan pristiwanya berbeda satu sama lain, namun isi pokok yang terkandung didalamnya tetaplah sama, yakni menyalahkan Khidir terhadap keputusan yang dia ambil.

Lalu pada ayat 72 dan 75, sengaja penulis juga menyamakan kandungan isi ayatnya, dikarenakan lafadz yang digunakan itu sama antara yang satu dengan yang lain. Sehingga, penulis menganggap bahwa pesan yang disampaikan juga tidak jauh berbeda. Karena itu, penulis memberi kandungan yang sepadan dengan ayat yang sebelumnya. Di bawah ini penulis akan menjelaskan sekelumit tentang penjelasan dari tabel diatas, apabila dihubungkan dengan implementasi nilai-nilai pendidikan yang ada dipesantren, dan ternyata, setelah penulis kaji, antara surah al kahfi ayat 60-82 dengan nilai-nilai yang ada dipesantren, mempunyai keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.

Pencarian seorang guru, membutuhkan sebuah pengorbanan, waktu, dan proses.16 Hal ini menjadi titik awal bagi calon santri atau orang tua wali santri, untuk mempertimbangkan pilihan pesantren mana yang kira-kira akan dijadikan sebagai tempat untuk menimba ilmu agama, bagi putra-putrinya. Di Indonesia sendiri, seperti yang kita ketahui, banyak sekali macam-macam model pesantren, ada pesantren model tradisionalis dan ada pula pesantren model modernis. Kesemuanya itu tergantung dari selera masing-masing orang. Ada yang suka dengan pesantren yang hanya menerima kalangan mahasiswa saja, karena dirinya berstatus mahasiswa, dan ada pula pesantren yang hanya menerima dari anak yatim atau dhuafa. Semua Pilihan kembali kepada diri masing-masing, mau model pesantren

16 QS. Al kahfi 60

(8)

yang seperti apa, dan guru yang seperti apa, semuanya ada di Indonesia. Hanya saja, dalam pencarian seorang guru, sebagaimana yang dianjurkan dalam surah al kahfi ayat 60 di atas, harus didasarkan dan melalui petunjuk dari Allah. Misalnya dengan melalui shalat istikharah, agar dipertemukan dengan orang yang tepat dan shalih.

Perpaduan antara ilmu eksternal dan ilmu internal.17 Perpaduan ilmu ini, menurut penulis, hanya bisa ditemukan di dunia pesantren. Pasalnya, dipesantren selain kita diajarkan ilmu pengetahuan yang sifatnya eksternal (brain), kita juga diajarkan tentang nilai-nilai kehidupan yang sifatnya internal (heart), seperti ketawadhu‟an, keikhlasan, kepatuhan, ketaqwaan, dan lain sebagainya. Contoh yang paling sederhana, yang bisa kita lihat dalam dunia pesantren, adalah tidak adanya demontrasi atau penolakan dari para santri tentang kebijakan yang dibuat oleh pihak pesantren. Ini artinya, pesantren bukan hanya mendidik santri dari sisi eksternal, melainkan juga dari sisi internal. Karena itu, wajar apabila anak-anak santri dibeberapa pesantren sikapnya lebih banyak menaruh nilai-nilai tata kesopanan dari pada nilai-nilai keangkuhan.

Dalam mencari ilmu dibutuhkan yang namanya perbekalan.18 Perbekalan yang dimaksud disini, merupakan sebuah keniscayaan yang harus dipenuhi bagi segenap calon santri yang ingin mondok dipesantren. Bekal tersebut bisa berupa pakaian, makanan, atau peralatan mengaji seperti buku tulis, kitab kuning, dan lain sebagainya. Karena Nabi Musa pun, ketika berangkat untuk menuntut ilmu, dalam surah al kahfi ayat 62, juga menyediakan beberapa persiapan perbekalan, salah satunya adalah makanan, sebagai energi untuk menopang tubuhnya agar kembali bugar dan kuat dalam mencari ilmu.

Setan akan senantiasa selalu menggoda orang yang sedang menuntut ilmu.19 Setan selalu ada dimana-mana, karena itu orang yang menuntut ilmu, juga tidak luput dari godaannya. Setan sendiri terbagi menjadi dua macam, yakni setan dari bangsa

17 QS. Al kahfi 61

18 QS. Al kahfi 62

19 QS. Al kahfi 63

(9)

manusia, dan setan dari bangsa jin. Karena itu, dipesantren, setannya juga ada dua, yakni jin dan manusia. Terkadang para pengurus pesantren, harus membuat aturan dan beberapa sangsi hukuman, terhadap para santri yang kelihatan nakal tidak menghadiri pelaksanaan shalat, ataupun ketika jam pelajaran berlangsung.

Tidak malu mengakui kesalahan dan segera memperbaikinya.20 Hal yang paling sulit untuk dilakukan bagi seorang penuntut ilmu adalah mengakui kesalahan, ketika dia melakukan pelanggaran. Karena itu, para pimpinan pesantren, untuk mendidik santrinya agar tidak malu mengakui kesalahan yang ia buat, adalah dengan cara memberinya sebuah kepercayaan sebagai petugas keamanan di pondok pesantren.

Dengan demikian, santri dengan kesadarannya akan saling menasehati satu sama lain, tentang pentingnya menjaga nama baik pesantren, khususnya dilingkungan internal.

Semua ilmu datangnya dari Allah.21 Inilah yang diajarkan dipesantren, bahwa semua ilmu itu datangnya dari Allah, karena itu pesantren tidak pernah mengenal adanya dikotomi keilmuan. Sebagaimana yang terjadi di sekolah-sekolah pada umumnya, dimana mata pelajaran agama dipandang dengan sebelah mata. Mungkin karena alasan itulah, disekolah umum tidak ada materi pelajaran agama, karena dianggap sebagai simbol dari kemunduran dan keterbelakangan. Kalaupun ada, waktu yang diberikan belum mencukupi untuk mengkaji keseluruhan ilmu agama.

Hanya dipesantrenlah, waktu untuk mengkaji ilmu agama diberikan secara leluasa dan menyeluruh.

Anjuran untuk berprilaku sopan dan tawadhu’ dihadapan guru.22 Berbeda dengan model pendidikan non pesantren, yang saat ini tata nilai kesopanan dan ketawadhu‟an sudah mulai jarang sekali ditemukan. Bahkan yang ada, justru banyaknya para guru yang dilaporkan ke kepolisian, akibat adanya unsur kekerasan di dalamnya. Di pesantren, santri tidak dididik demikian, mereka didik untuk

20 QS. Al kahfi 64

21 QS. Al kahfi 65

22 QS. Al kahfi 66

(10)

menghormati guru, baik di dalam lingkungan pesantren ataupun diluar pesantren.

Karena itu, tidak hanya ketika dia menjadi santri saja menjaga kesopanan dan ketawadhu‟an dihadapan guru, bahkan ketika menjadi alumni pun, mereka masih memegang teguh nilai-nilai kepesantrenan. Sekali menjadi guru, selamanya akan tetap menjadi guru, itulah nilai-nilai pesantren yang masih belum hilang sampai saat ini, walaupun sudah menjadi alumni.

Guru harus lebih awal mengenal pribadi calon muridnya, sebelum diterima sebagai murid.23 Ini adalah satu hal yang cukup sulit untuk dilakukan, akan tetapi bagi yang paham ilmu psikologi, tentu ini bukan menjadi sebuah masalah. Di pesantren sendiri, para kyai atau ustad, sudah bisa memahami pola pikir dan gerak-gerik calon santrinya, dengan hanya mengkomunikasikan atau menanyakan langsung kepada wali santrinya. Wali santri mempunyai peranan penting dalam menyampaikan beberapa hal yang menyangkut tentang pribadi calon santri yang hendak mondok disebuah pesantren. Karena itu bagi seorang Khidir, dalam surah al kahfi ayat 67, hal ini merupakan bagian terpenting untuk menentukan langkah-langkah kedepannya, dalam mengantisipasi agar murid dapat menyerap ilmu dengan mudah serta dapat dipahami dengan seksama.

Guru memberikan materi disesuaikan dengan tingkat pemahaman muridnya.24 Tidak mungkin anak SD diberi materi anak SMA, ini juga berlaku di dunia pesantren.

Pemberian materi disesuaikan dengan tingkat keilmuannya dan tingkat kematangannya, jadi bukan semata-mata didasarkan karena tingkat usianya, itulah yang diberlakukan dalam dunia pesantren. Hal ini, tentu berbeda dengan aturan yang diberlakukan di sekolah-sekolah pada umumnya, yang masih mengacu pada batasan usia seseorang yang menuntut ilmu pada setiap jenjang pendidikan.

Sebagai murid harus bisa mengupayakan sifat sabar dalam dirinya dan tidak menentang apa-apa yang disampaikan oleh gurunya.25 Sudah menjadi tradisi di

23 QS. Al kahfi 67

24 QS. Al kahfi 68

25 QS. Al kahfi 69

(11)

pesantren, kalau santri itu patuh pada ucapan sang kyainya. Santri tidak berani melawan titah sang kyai, kalau kyai menyuruh santri ke barat, santri akan ke barat, demikian pula sebaliknya, jika kyai menyuruh santri ke timur, santri akan ke arah timur, tanpa perlu banyak bertanya, apalagi membantah. Itulah nilai-nilai tradisi pesantren yang masih dijaga sampai saat ini dan masih dipegang teguh oleh pemeluknya.

Jangan bertanya sebelum guru mengizinkan untuk bertanya.26 Seperti yang penulis katakan sebelumnya, santri itu tidak bisa membantah perintah sang kyai. Sifat santri adalah mematuhi semua anjuran dan perintah dari sang kyai. Jika santri membantah, itu sama dengan mendurhakainya. Karena itu Nabi Musa ketika berguru pada Khidir, dalam surah al kahfi ayat 70, dia dilarang untuk bertanya sebelum diizinkan untuk bertanya. Apabila melanggar, maka hal itu sama dengan mendurhakai sang guru, mendurhakai sang guru sama dengan tidak memperoleh apa-apa, keberkahannya hilang dan tidak berbekas.

Jangan gampang menyalahkan guru sebelum bertabayun.27 Ini juga bagian dari nilai-nilai pesantren, yang masih melekat sampai saat ini. Santri tidak diperkenankan dengan gampangnya menyalahkan sang guru, sebelum meminta penjelasan lebih lanjut. Itu artinya, santri tidak boleh mengedepankan sifat burung sangka terhadap gurunya, walaupun guru tersebut kelihatannya melakukan kesalahan di depan dirinya. Oleh sebab itu, seorang santri sangat hati-hati, manakala membicarakan aib gurunya. Karena boleh jadi, aib yang dibicarakan, bukanlah fakta yang sebenarnya, melainkan kebalikan dari fakta yang ada.

Seorang guru tidak boleh bosan-bosan mengingatkan muridnya jika melakukan kesalahan.28 Dan para Kyai di pesantren juga melakukan hal yang sama, mereka berdakwah kesana kemari, tanpa sedikitpun merasa bosan untuk mengingatkan umat tentang arti pentingnya beribadah kepada Allah. Bukan hanya pada santri saja,

26 QS. Al kahfi 70

27 QS. Al kahfi 71

28 QS. Al kahfi 72

(12)

yang Kyai beri nasehat dan petuah. Bahkan pada masyarakat sekitar lingkungan pesantren pun, juga tidak luput dari sentuhan dakwahnya. Maklum, Kyai pesantren secara umum, sudah terbiasa memberi tausiah dari rumah kerumah. Karena itu, mengingatkan murid jika melakukan kesalahan, sudah menjadi kebutuhan sehari- hari dan tanggung jawab bagi seorang Kyai di pesantren.

Jika murid melakukan kesalahan, jangan malu-malu untuk meminta maaf pada gurunya.29 Seorang santri di sebuah pesantren, pada dasarnya memang mempunyai rasa malu kepada kyainya, namun tatkala melakukan kesalahan, santri dengan senang hati akan meminta maaf kepada Kyainya. Mengingat, posisi santri di lingkungan pesantren adalah seorang murid yang selalu menjaga kehormatan dan harga diri sang Kyainya.

Murid harus tau diri, apabila berbuat salah pada gurunya.30 Santri apabila berbuat salah pada Kyainya, atau sebut saja melanggar aturan pesantren, dia harus sadar diri terkait apa sangsi yang akan dia peroleh. Sangsi yang paling berat biasanya adalah dikeluarkan dari pesantren, dengan cara hormat atau pun dengan tidak hormat.

Nabi Musa mencontohkan hal tersebut, dalam surah al kahfi ayat 76, beliau menepati janjinnya atas hukuman yang sudah disepakati bersama, yakni berpisah dengan guru, apabila ia melanggar dari kesepakatan. Dipesantren juga berlaku hal yang sama, tiga kali melanggar aturan, ancaman paling berat adalah dikembalikan kepada orang tua alias dikeluarkan dari pesantren. Jadi hitungan pelanggaran maksimalnya adalah tiga kali melakukan pelanggaran, sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam beberapa aturan dipesantren.

Membantu orang harus dengan tulis ikhlas, dan jangan mengharap imbalan.31 Hal ini juga terpatri dalam dunia pesantren, seorang kyai atau ustad, mengajar tanpa pamrih, dan tidak mematok biaya tertentu pada santrinya. Mereka dengan tulus ikhlas mengajar dengan sepenuh hati, yang diharapkan hanyalah keridhoaan Allah.

29 QS. Al kahfi 73

30 QS. Al kahfi 76

3131 QS. Al kahfi 77

(13)

Kalaupun ada rejeki, terkadang ia membaginya dengan para santri-santrinya, begitulah sifat mulia dari seorang Kyai atau ustad dilingkungan pesantren.

Dimana ada pertemuan antara guru dan murid, disitu juga ada perpisahan.32 Jadi jangan heran apabila tiap tahun, dipesantren diadakan jadwal perpulangan pada tiap-tiap santri, yang biasanya diadakan pada setiap bulan Ramadhan atau di bulan- bulan tertentu lainnya. Pertemuan dan perpisahan, itu hal yang mutlak terjadi. Santri yang sudah dianggap lulus dan mampu terjun ke masyarakat, akan diperintah oleh sang Kyai untuk kembali berkiprah ditengah-tengah masyarakat, demi mengimplementasikan ilmu yang selama ini ia dapat dari pesantren.

Guru harus bisa menerangkan dan menguasai materi dengan sangat jelas dan lugas, sehingga murid dapat dengan mudah memahami isi pokok dari materi yang disampaikan oleh guru.33 Hal yang tidak kalah pentingnya juga, adalah seorang Kyai atau ustad harus bisa menyampaikan materi-materi dengan sangat lugas dan mudah dipahami oleh sang murid. Jangan sampai penjelasan yang panjang lebar, tidak dimengerti oleh sang murid. Ini akan menjadi persoalan yang cukup serius, apabila yang disampaikan sang Kyai atau Ustad, tidak sejalan dengan apa yang ditangkap oleh sang murid, alih-alih ingin meluruskan pemahaman, yang terjadi justru malah penyesatan. Karena itu, keahlian dari seorang guru sangat diperlukan dalam kegiatan proses belajar mengajar khususnya di lingkungan pesantren, yang dikenal sebagai mercusuarnya pendidikan agama islam di Indonesia.

C. Nillai-Nilai Pendidikan Islam Di Pesantren Dan Relevansinya Dengan Surah Al- Kahfi Ayat 60-82

Menurut Ahmadi, nilai dapat dikategorikan pada dua bagian. Pertama, nilai- nilai yang disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur‟an dan al-Hadist yang terangkum dalam ajaran akhlak yang meliputi akhlak kepada Allah, diri sendiri, sesama manusia, dengan alam dan makluk lainnya. Kedua, nilai-nilai universal yang

32 QS. Al kahfi 78

33 QS. Al kahfi 79-82

(14)

diakui dan dibutuhkan oleh seluruh umat manusia, karena sesuai dengan fitrahnya, manusia itu cinta damai, menghargai hak asasi manusia, berkeadilan, demokrasi, dan mempunyai kepedulian sosial serta berkemanusiaan.34 Karena itu, dalam pengantar buku “Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam”, Mukani menjelaskan bahwa dalam dunia pendidikan terdapat dua unsur yang harus ditransfer kepada peserta didik yaitu knowledge dan value.35 Apabila kita kaitkan dengan surah al kahfi, maka kedua unsur yang dimaksud adalah berkaitan dengan ilmu eksternal (knowledge) dan ilmu internal (value), yang dalam bahasa surah al kahfi disebut dengan majmul bahrain (pertemuan dua lautan)36.

Munculnya lembaga-lembaga pendidikan pesantren di Indonesia, tujuan dasarnya tak lain dan tak bukan, adalah untuk membangun dan mengembangkan kepribadian muslim, bukan pada materi semata (eksternal), melainkan untuk menyebarkan ajaran dan spirit islam diantara manusia (internal).37 Hal ini sejalan dengan pandangan Helmy bahwa seorang murid tidak hanya memenuhi keingintahuan intelektual atau hanya berorientasi kepada kepentingan materi dunia, tetapi juga mengembangkan rasio, membentuk budi pekerti, dan mewujudkan kesejahteraan keluarga, masyarakat dan umat manusia baik secara spiritual, moral, maupun kejiwaan.38 Dengan demikian, pesantren dengan tradisi pendidikan yang dibawa didalamnya, telah membuktikan dapat mengintegrasikan antara knowledge (eksternal) dan value (internal) sebagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dalam diri individu santri.

34 Ahmadi, Ideologi Pendidikan Islam; Paradigma Humanisme Teosentris, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2005) hal. 122

35 Mukani, Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam; Refleksi Pendidikan Islam dalam Menemukan Identitas di Era Globalisasi, (Malang: Madani Media, 2011) hal. iii-iv

36 Syeikh Imran Nazar Hosein. Surat al Kahfi : teks, terjemahan dan tafsir modern. Sumber : https://id.scribd.com/document/348262184/Alkahfi-Tafsir-Akhir-Zaman, diakses pada 10 oktober, pukul 23.00 WIB

37 Ismail SM dkk (ed), Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002) hal. 55-56.

38 Mukani, Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam; Refleksi Pendidikan Islam dalam Menemukan Identitas di Era Globalisasi, (Malang: Madani Media, 2011) hal. 1

(15)

Salah satu literatur yang sangat berpengaruh dalam kehidupan warga pesantren adalah kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Syaikh Zarnuji, yang menekankan pada prinsip dan tegaknya sebuah nilai sehingga dijadikan sebagai rujukan utama dalam proses belajar mengajar di pesantren. Di dalam kitab tersebut dibahas tentang bagaimana cara santri menghormati kyai, guru, ilmu, orang tua dan lain sebagainya.39 Sehingga tidak salah jika kemudian pesantren disebut sebagai lembaga pendidikan yang lebih menekankan akan pentingnya moral agama islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari.40

Kapasitas pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan nyatanya juga telah mampu meciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang agamis. Hal ini dapat dibuktikan melalui sistem dan proses pembelajaran yang diterapkan oleh pesantren yang memadukan antara transfer of knowledge dan transfer of value. Karena itu, pesantren menyadari bahwa pengetahuan yang dipisah dari nilai-nilai spiritulitas hanyalah pengetahuan yang bersifat parsial, maka orang yang kehilangan kepercayaan pada Tuhan tidak dikenal dalam islam. Oleh sebab itu, sebanyak apapun pengetahuan yang didapat dari buku, itu hanyalah sepotong dari yang universal.41

Pesantren dalam perjalanannya, juga selalu memiliki upaya untuk mempertahankan nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan islam, baik itu ilmu eksternal maupun internal. Sehingga perubahan dan perkembangan yang diupayakan oleh pondok pesantren dengan berkolaborasi dengan dunia modern, serta kemampuannya dalam beradaptasi, telah menunjukkan bahwa kehidupan pesantren tidak lagi dianggap statis dan kuno. Karena itu, secara tidak sadar pesantren telah ikut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan berbangsa dan

39 Kitab ini dipelajari hampir di setiap pesantren di Indonesia. Karena isi dan kandungannya memuat makna yang cukup substansial mengenai tata cara menuntut ilmu sampai pada pola hidup yang harus dimainkan oleh seorang manusia dalam kehidupan ini.

40 Abbasi Fadlil, Sejarah Pendidikan, (Al-Amin Printing, 2001) hal. 169

41 Mukani, Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam; Refleksi Pendidikan Islam dalam Menemukan Identitas di Era Globalisasi, (Malang: Madani Media, 2011) hal. 26

(16)

bernegara melalui lembaga pendidikannya yang telah memiliki akar budaya yang kuat dimasyarakat.42

Perubahan yang semakin tidak menentu, ditandai dengan pesatnya kemajuan tekhnologi, informasi, dan transportasi, telah menjebak dan menyeret umat manusia pada pusaran dan telaga materialistik. Sehingga pola pikir manusia saat ini terbatas hanya pada persoalan materi (eksternal). Hal ini bukan hanya terjadi dalam kehidupan orang-orang yang tidak berpendidikan, melainkan telah mengakar dalam pola pikir orang-orang yang berilmu dan berpendidikan. Oleh karena itu, perlu adanya penyegaran kembali mengenai hakikat pendidikan, agar pandangan semacam ini dapat diminimalisir, khususnya bagi lingkungan pesantren sendiri.

Mengingat pesantren, dalam literatur sejarahnya merupakan lembaga pendidikan yang didirikan oleh wali songo pada abad 15 H,43 dengan tujuan utamanya adalah menyebarkan agama islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Dalam pandangan penulis ada dua tingkatan pengetahuan yang telah mengakar dalam dunia pesantren, sebagaimana yang disampaikan dalam surah al kahfi dari ayat 60-82. Pertama, pengetahuan eksternal yaitu ilmu yang dihasilkan melalui persinggungan dan pergesekan antara indera dan lingkungan sekitarnya, yang ditangkap melalui kacamata dhohir. Pengetahuan ini menempati posisi paling rendah dalam hirarki ilmu pengetahuan khususnya bagi dunia pesantren. Kedua, pengetahuan internal yaitu ilmu yang didapatkan melalui persinggungan dan pergesekan antara indera dan lingkungan sekitarnya, yang ditangkap melalui kacamata batin. Ilmu ini menempati posisi tingkat paling atas dibandingkan dengan ilmu pengetahuan yang lainnya, yang hanya menggunakan kacamata dhohir saja.

Dalam pandangan santri orang yang memiliki ilmu internal, yang dalam bahasa al- quran disebut dengan ilmu hikmah, dapat membuat seseorang berbicara dan bertindak dengan bijaksana. Ilmu ini tidak bisa diperoleh dengan cara yang normal, namun harus melalui pelbagai upaya untuk mempertajam nilai-nilai ketajaman

42 Sa‟id Aqiel Siraj, Pesantren Masa Depan, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999) hal. 181.

43 Abbasi Fadlil, Sejarah Pendidikan, (Al-Amin Printing, 2001) hal. 117

(17)

spiritualitas di dalam dirinya, yang dapat ditempuh melalui jalan riyadhah sebagai sarana untuk menyerap ilmu Allah secara langsung, tanpa belajar dan tanpa usaha yang keras, dan ilmu ini dikenal dengan sebutan ilmu ladunniy. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan dalam surah al kahfi, bahwa ketika seseorang ingin melatih ketajaman spiritulitas, maka dia harus membuang jauh-jauh sifat ketidaksabaran, kesombongan dan ketakaburan di dalam dirinya, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Khidir as kepada Nabi Musa as.

D. Kesimpulan

Apabila kita korelasikan surah al kahfi ayat 60-82 dengan dunia pesantren, maka hal ini sejalan dengan nilai-nilai yang telah lama diwariskan di dunia pesantren. Setidaknya ada 20 unsur nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam ayat tersebut, dan dua diantaranya memiliki kandungan yang sama, yakni ayat 71 dengan 74, dan ayat 72 dengan 75. Hasil penelitian ini, menemukan bukti bahwasanya model pesantren telah berhasil mengadopsi nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam surah al kahfi, salah satunya adalah memadukan antara ilmu eksternal (knowledge) dan ilmu internal (value), atau dalam bahasa surah al kahfi disebut dengan “majmul bahrain”.

Ilmu eksternal disebut juga dengan ilmu dhohir, sedangkan illmu internal disebut juga dengan ilmu batin. Kisah Khidir dalam surah al kahfi, adalah salah satu contoh figur seorang guru yang mempunyai kemampuan untuk memadukan antara keduanya. Hal inilah, yang menyebabkan kenapa model pendidikan pesantren sangat cocok dengan penjelasan yang terkandung dalam surah al kahfi ayat 60-82.

Karena di pesantren seorang santri diajarkan untuk mengharmati guru dengan setinggi-tingginya, tanpa melebih-lebihkan ataupun mengurang-nguraginya, apalagi sampai melakukan tindak kriminal yang dilarang oleh negara.

Berbeda dengan pendidikan yang ada disekolah-sekolah pada umumnya, pendidikan pesantren sejak awal memiliki ciri khas tersendiri dan berbeda dengan sistem nilai yang ada diluar pesantren. Sistem nilai pendidikan yang diajarkan di pesantren diantaranya adalah nilai keikhlasan, nilai kemandirian, nilai keteladanan,

(18)

nilai kesederhanaan, nilai kesopanan, serta nilai-nilai spiritualitas keimanan yang terus berjalan mengikuti perkembangan dan kemajuan pesantren.

Daftar Pustaka

Ahmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam ; Paradigma Humanisme Teosentris. Yokyakarta:

Pustaka Pelajar

An-Nahlawi, Abdurrahman. 1996. Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat.

Jakarta: Gema Insani,

Arifin, M. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Fadlil, Abbasi. 2001. Sejarah Pendidikan. Al-Amin Printing

Hosein, Syeikh Imran Nazar. Surat al Kahfi : teks, terjemahan dan tafsir modern. Sumber : https://id.scribd.com/document/348262184/Alkahfi-Tafsir-Akhir-Zaman, diakses pada 10 oktober, pukul 23.00 WIB

Ismail SM dkk (ed). 2002. Dinamika Pesantren dan Madrasah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Mukani. 2001. Pergulatan Ideologis Pendidikan Islam; Refleksi Pendidikan Islam dalam

Menemukan Identitas di Era Globalisasi. Malang: Madani Media.

Siraj, Sa‟id Aqiel. 1999. Pesantren Masa Depan. Bandung: Pustaka Hidayah

Syadali, Ahmad dkk. 2000. Ulumul Qur’an II Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MkDK.

Bandung: Pustaka Setia,

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dan pembahasan yang telah dijabarkan pada BAB IV, diperoleh simpulan bahwa penerapan media alat bantu tali dan audio visual sangat baik

manapun. Untuk itu diperlukanlah rasa hormat terhadap pluralisme sebagai basis.. 8 ideologi dari etika global dalam komunitas dunia. The Chicago Declaration of World

dikaitkan dengan peningkatan serum GGT yang diinduksi alkohol ditemukan pada moderat dan berat peminum .Tingkat GGT mungkin 2-3 kali lebih besar dari nilai

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan bahan antibakteri dari cac- ing tanah Al/olobophora rosea dan antibakteri yang dihasilkan oleh rnikroba dalam tubuh cacing tersebut

Dari latar belakang diatas, studi ini akan meneliti: Berapa besar komposisi penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah di Indonesia, berapa besar pengaruh komposisi

Kedudukan wanita muslimah dalam kehidupan sosial merupakan hal yang sangat berarti untuk bisa berintraksi dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya, dan bisa bekerja sama dalam

Hal ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa peningkatan kadar ovalbumin dalam butiran hasil enkapsulasi pada formula dengan konsentrasi

Hal yang ingin dicapai dalam permasalahan kendali optimal pada penelitian ini adalah mendapatkan aliran karbon dioksida yang optimal dengan nilai bobot minimal