• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lebih dari 2,5 miliar orang yang merupakan lebih dari 40% populasi dunia, saat ini berisiko terkena demam berdarah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Lebih dari 2,5 miliar orang yang merupakan lebih dari 40% populasi dunia, saat ini berisiko terkena demam berdarah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah kesehatan yang sering terjadi di sekitar kita dapat di sebabkan oleh empat faktor yaitu lingkungan, prilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Dari keempat faktor tersebut, faktor lingkungan memegang peranan paling besar. Lingkungan memberi kontribusi positif terhadap terciptanya kesehatan. Dari empat faktor tersebut, lingkungan dan prilaku merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan.1

DBD ( Demam Berdarah Dengue) yakni kejadian penyakit yang masih jadi prioritas permasalahan kesehatan, mengingat senantiasa mengakibatkan KLB ( Peristiwa Luar Biasa) serta menimbulkan kematian. Jumlah pengidap serta luas posisi penyebarannya terus menjadi meningkat bersamaan dengan melesatnya aktivitas mobilitas serta keramaian penduduk.2

Demam berdarah saat ini menjadi endemik di lebih dari 100 negara.

Lebih dari 2,5 miliar orang yang merupakan lebih dari 40% populasi dunia, saat ini berisiko terkena demam berdarah. Di Wilayah Asia Tenggara, ini telah menyebar ke 10 dari 11 negara, menempatkan sekitar 52% dari populasi regional dalam bahaya. Wabah demam berdarah terjadi di komunitas pulau kecil seperti Maladewa, negara kontinental besar seperti India dan negara pegunungan dataran tinggi seperti Bhutan dan Nepal. Ini terlihat di daerah perkotaan dan pedesaan, menginfeksi tua dan muda, memberikan tekanan yang luar biasa pada sistem kesehatan.3 Menurut World Health Organization (2006), Indonesia sempat terjalin permasalahan Demam Berdarah Dengue (DBD) terbanyak di tahun 2005 se- Asia Tenggara ialah 95. 270 permasalahan dengan kematian 1. 298 orang (CFR= 1, 36%). Penyebaran penyakit Demam Berdarah dengue (DBD) di suatu kawasan wajib di kontrol supaya penyakit tersebut menemukan penanggulangan/ penindakan yang pas.

(2)

2 Beberapa daerah di Indonesia merupakan daerah endemik DBD, pada umumnya merupakan sumber penyebaran penyakit ke wilayah lain. Setiap kejadian luar biasa (KLB) DBD umumnya dimulai dengan peningkatan jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk membatasi penyebaran penyakit DBD diperlukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang terus menerus.

Vektor utama penyakit Demam Berdarah Dengue adalah nyamuk Aedes Ae dan Aedes Albo. Nyamuk yang menjadi vektor penyakit DBD adalah nyamuk yang terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit.4

Pelaporan pertamakali menimpa penyakit dengue di jakarta serta surabaya pada tahun 1968. Pada dikala tahun 2010 penyakit dangue sudah menyebar di 33 Provinsi, 440 Kabupaten/ Kota. Dikala di temukan nya awal kali permasalahan dengue terus bertambah apalagi pada tahun 2004 permasalahan bertambah sangat besar.5

Dari informasi profil kesehatan indonesia, di tahun 2017 ada 30 provinsi terdapat angka kesakitan pada nominal kurang dari 49 per 100.000 penduduk. Pada tahun 2018, provinsi yang terdapat angka kesakitan pada nominal kurang dari 49 per 100.000 penduduk, menyusut jadi 26 provinsi.

Peristiwa Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun 2018 berjumlah 65.602 peristiwa, serta jumlah kematian sebanyak 467 orang. Jumlah tersebut menyusut dari tahun tadinya, ialah 68.407 peristiwa dengan jumlah kematian sebanyak 493 orang. Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) di tahun 2018 menyusut dibanding tahun 2017, ialah dari 26,10 jadi 24,75 per 100.000 penduduk.6

Peristiwa Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dilaporkan di tahun 2019 tercatat sebanyak 138.127 permasalahan. Jumlah tersebut bertambah dibanding tahun 2018 sebesar 65.602 permasalahan.7

(3)

3 Gambar 1.1. Incidence Rate (IR) Per 100.000 Penduduk

Demam Berdarah Dengue (DBD) Tahun 2010-2019

Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2019

Dari gambar diatas, Incidence Rate DBD (Demam Berdarah Dengue) di tahun 2019 sebesar 51,48 per 100.000 penduduk. Angka tersebut menampilkan kenaikan, dibanding pada 2 tahun terakhir ialah tahun 2017 serta 2018 kala Incidence Rate (IR) Demam berdarah dengue (DBD) sebesar 26,10 serta 24,75 per 100. 000 penduduk. Pada gambar di atas Insidence Rate (IR) Demam Berdarah Dengue (DBD) di tahun 2010-2019 pula dikenal terdapatnya 3 puncak IR DBD, ialah pada tahun 2010, 2016, serta 2019.7

Pada bulan Januari hingga Juli tahun 2020, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik dr. Siti Nadia Tarmizi, M.

Epid, mengatakan bahwa kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) mencapai 71.633 kasus dan jumlah kematian sebanyak 459. Terdapat 10 provinsi yang melaporkan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan jumlah permasalahan paling banyak terdapat pada di wilayah Jawa Barat 10.772 permasalahan, Bali 8.930 permasalahan, Jawa Timur 5.948 permasalahan, NTT 5.539 permasalahan, Lampung 5.135 permasalahan, DKI Jakarta 4.227 permasalahan, NTB 3.796 permasalahan, Jawa Tengah 2.846 permasalahan, Yogyakarta 2.720 permasalahan, serta Riau 2.255 permasalahan.8

Berdasarkan data kejadian penyakit menurut kabupaten/ kota dan jenis penyakit di Provinsi Jambi yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi dari tahun 2018 dan 2019 bahwa kasus DBD di Kota Jambi sangat tinggi,

(4)

4 kejadian DBD di tahun 2018 berjumlah 831 kasus dengan Incidence Rate (IR) 23,28 per 100.000 penduduk, untuk tahun 2019 kasus meningkat sebanyak 2.229 kasus dengan Incidence Rate (IR) 62,43 per 100.000 penduduk.9

Dari data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota tahun 2020, jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Jambi pada tahun 2019 yang memiliki kasus tertinggi terdapat di Kelurahan Payo Selincah dengan jumlah penderita sebanyak 69 orang dan 2 orang meninggal dunia. Kelurahan Payo Selincah sendiri merupakan kelurahan yang berada di daerah Kecamatan Paal Merah, Kota Jambi.10

Penanganan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) bisa berbentuk menekuni sikap nyamuk serta bagaikan pemutusan rantai penularan vektor penyakit salah satunya ialah membasmi telur- telur ditempat perindukannya.

Pemutusan rantai penularan vektor sangat perlu untuk dilaksanakan sebab sampai dikala ini belum terdapat obat serta vaksin opsi yang direkomendasikan buat penyembuhan serta penangkalan penyakit DBD. Nyamuk Aedes berkembangbiak diwadah (Kontainer) yang terdapat air bersih di dalam rumah, misalnya gentong tempat penyimpanan air didapur, vas bunga, bak mandi, serta tandon. Tidak hanya itu, benda diluar rumah yang bisa menampung air hujan, misalnya gelas plastik, kotak plastik bekas, dan barang-barang bekas bangunan. Nyamuk tersebut bersarang dan berkembangbiak disana, nyamuk ini tidak hidup di air mengalir maupun comberan yang langsung berhubungan dengan tanah.11

Pengendalian vektor adalah tulang punggung pencegahan demam berdarah. Pengelolaan lingkungan yang baik, pengelolaan limbah padat yang efektif, serta pengelolaan air dan sumber daya air yang lebih baik merupakan elemen kunci pengendalian vektor.3

Pengendalian tempat perindukan nyamuk banyak dititik beratkan pada penutupan tempat penampungan air bersih serta abatesasi bak mandi, dan mengubur benda sisa di dekat posisi rumah penduduk yang berpeluang bagaikan penampung air hujan. Sedangkan penampungan air yang lain belum memperoleh atensi lebih, sementara itu kesempatan buat jadi tempat

(5)

5 perindukan nyamuk lumayan besar, semacam tempat air minum burung, pot bunga, pelepah daun, talang air serta pula sumur gali. Jenis nyamuk Aedes Sp lebih memilih berkembangbiak di penyimpanan air bersih yang tidak kontak langsung pada tanah. Melihat metamorfosa pada umum nya nyamuk Aedes Sp dari telur hingga menetas menjadi larva dalam kurun waktu selama 2 hari, dari larva jadi pupa memerlukan waktu 6–8 hari serta hingga jadi nyamuk berusia sepanjang 2 hari.12

Kejadian Demam Berdarah Dengue ( DBD) dipengaruhi oleh kepadatan populasi telur serta jentik Aedes Sp. Keberadaan telur serta jentik vektor DBD sangat mempengaruhi dari keberadaan tempat perindukan nyamuk (breeding places). Tempat yang berpotensi bagaikan tempat perindukan nyamuk semacam

bak di kamar mandi, ember air, kaleng sisa, drum sisa, ataupun toples.13

Kontainer merupakan tempat penampungan air yang dapat jadi posisi perkembangbiakan nyamuk Aedes Sp. Pada wilayah perkotaann habitat nyamuk Aedes Sp sangat bermacam- macam. Rentan 90% ada pada wadah buatan yang

dipakai bagaikan keperluan tiap hari semacam tempayan, drum ember, bak mandi. Keberadaan penempatan kontainer ini sangat mempengaruhi terhadap ke padatan vektor nyamuk Aedes Sp, terus menjadi banyak ada kontainer hingga terus menjadi tinggi pula tempat perindukan nyamuk serta kepadatannya.

Sehingga terus menjadi besar kepadatan nyamuk hingga terus menjadi besar pula efek terinfeksi virus DBD.14

Penelitian yang dilakukan Titha dkk terkait hubungan karakteristik tempat penampungan air dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik Aedes ae, menunjukkan bahwa selain karakteristik TPA yang mendukung

adanya tempat perindukan bagi nyamuk Aedes ae, perilaku masyarakat juga masih menjadi salah satu faktor yang menyebabkan keberadaan jentik Aedes ae di Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan.15

Penelitian Anny Vidiyani terkait hubungan kondisi lingkungan, kontainer dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes ae, pada perilaku masyarakat mengenai pengetahuan dan tindakan dalam mengurangi atau menekan kepadatan jentik nyamuk Aedes.16

(6)

6 Penelitian yang dilakukan Siregar L.G.A terkait hubungan keberadaan jentik Aedes ae pada tempat penampungan air dengan kejadian DBD, didapatkan tempat penampungan air yang paling banyak digunakan responden adalah ember (52,7%), tempat penampungan air yang paling banyak ditemukan jentik Aedes ae adalah dispenser (8,9%), keberadaan jentik Aedes ae pada tempat

penampungan air berhubungan terhadap kejadian DBD di Kecamatan Medan Sunggal (p = 0,018).17

Penelitian yang dilakukan oleh santoso (2018) didapatkan hasil Spesies jentik yang ditemukan terdiri dari tiga yaitu Aedes ae (144 ekor), Aedes al (26 ekor) dan Culex sp. (11 ekor). Terlihat bahwa jentik Aedes ae dan Culex sp. lebih banyak ditemukan di dalam bangunan, sedangkan jentik Aedes al lebih banyak ditemukan di luar gedung. Berdasarkan hasil analisis hubungan antara karakteristik kontainer dengan keberadaan jentik Aedes ae dan Aedes al ditemukan adanya perbedaan perilaku antara kedua spesies Aedes tersebut. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara letak kontainer dengan spesies jentik yang ditemukan (p<0,001).18

Berdasarkan uraian diatas, penyebab terjadinya DBD bukan hanya terjadi karena adanya vektor pembawa virus DBD saja, namun ada faktor lain seperti perilaku masyarakat berupa pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pemberantasan sarang nyamuk atau yang biasa dikenal yaitu PSN DBD dengan kegiatan 3M (Mengubur, Menutup dan Menguras) serta tempat penamungan air atau kontainer yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk yang bisa mempengaruhi keberadaan vektor tersebut yang menyebabkan keberadaan vektor tetap ada. oleh karena itu, peneliti ingin meneliti mengenai hubungan karakteristik kontainer dan perilaku masyarakat terhadap keberadaan jentik nyamuk Aedes Sp di Kelurahan Payo Selincah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan, maka rumusan masalah penelitian ini adalah Apakah Karakteristik Kontainer dan Perilaku

(7)

7 Masyarakat dapat mempunyai hubungan yang signifikan terhadap keberadaan jentik nyamuk Aedes Sp Di Kelurahan Payo Selincah.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan karaktersitik kontainer dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes Sp Di Kelurahan Payo Selincah.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarkat di Kelurahan Payo Selincah

2. Untuk mengetahui sikap masyarkat di Kelurahan Payo Selincah

3. Untuk mengetahui jenis, bahan, warna, letak dan kondisi kontainer di Kelurahan Payo Selincah

4. Untuk mengetahui keberadaan jentik nyamuk Aedes Sp di Kelurahan Payo Selincah

5. Menganalisa hubungan tingkat pengetahuan masyarakat, sikap masyarakat, jenis, bahan, warna, letak, dan kondisi kontainer dengan keberdaaan jentik nyamuk Aedes Sp di Kelurahan Payo Selincah

1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi Masyarakat

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang keberadaan perkembangbiakan nyamuk Aedes Sp sehingga dapat dilakukan pencegahan dan pengendalian DBD yaitu memutus mata rantai perkembang biakan nyamuk Aedes Sp.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai tambahan informasi dan bahan referensi bagi perpustakaan Universitas Jambi.

(8)

8 3. Bagi Penulis

Sebagai penerapan keilmuan penulisan dalam melaksanaan penelitian di bidang kesehatan masyarakat yang diperoleh selama mengikuti pendidikan di Universitas Jambi.

Referensi

Dokumen terkait

Kebutuhan alumina PT Inalum saat ini sebanyak 500.000 ton (setara 775.000 ton) per tahun, sementara kemampuan produksi bijih bauksit per tahun di Kalimantan Barat sebesar

Jadi Typhus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Salmonella Typhi mengenai saluran pencernaan ditandai adanya demam lebih dari 1 minggu, gangguan pada

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeteksi cacat bantalan bola lintasan luar pada fan industri berbasis classifier SVM menggunakan input parameter statistik

Pluralisme yang ditunjukkan pada Pura Kebo Edan dan Pura Pusering Jagat-Pusering Tasik menunjukkan fungsi infrastruktur religi dalam suatu sistem religi pada Kerajaan

Induksi laserpunktur pada titik reproduksi ikan lele (Clarias sp) dapat meningkatkan profil kadar hormon gonadotropin (GtH-II) pada kondisi sebelum memijah dan

Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam pembelajaran melalui pembelajaran model kooperatif TGT, 2) Meningkatkan kemampuan

kemandirian belajar siswa dalam pembelajaran biologi. Aspek memilih sumber belajar sendiri dengan 4 indikator yang meliputi memanfaatkan tempat atau lingkungan

tabaci yang tumbuh di area pertanaman cabai merah menunjukkan bahwa terdapat 27 spesies tanaman inang yang terdiri dari 22 genus dari 13 famili yang meliputi tanaman budidaya