FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BUNG HATTA
PERSETUJUAN ARTIKEL/JURNAL
Nama : Tri Andika Syam
Nomor Buku Pokok : 0810012111227 Program Kekhususan : Hukum Pidana
Judul Skripsi : Pelaksanaan Kewenangan Penyidik Dalam Melakukan Pengambilan Sidik Jari Di Polresta Padang
PELAKSANAAN KEWENANGAN PENYIDIK DALAM MELAKUKAN
PENGAMBILAN SIDIK JARI DI POLRESTA PADANG
Tri Andika Syam1, Uning Pratimaratri1, Yetisma Saini2
1
Jurusan Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta E-mail: [email protected]
Abstract
Investigation is an activity in order to find and make light of a crime that occurred and to find the culprit. First investigation activities conducted by investigators in unraveling a crime are found evidence at the crime scene. One of the important evidence that the investigator was sought fingerprints. This fingerprint is good evidence and effective, which can be used by investigators to prove in court. The problems are 1) How is the implementation of the authority of the investigators in conducting fingerprinting in Padang Police?, 2) What are the obstacles encountered by investigators in taking fingerprints for criminal investigation in Champaign Police?. This study uses a socio-legal approach. Data used include primary data and secondary data. Data collected circuitry interview techniques and study documents. Data were analyzed qualitatively. The results as follows, 1) The authority of the investigators in conducting fingerprinting in Padang Police have not run optimally. This is due to the activities taking fingerprints is still done manually with simple equipment. 2) Obstacles encountered investigator is frequently the case where the scene is changed or even damaged due to lack of public knowledge about the importance of the integrity of the crime scene that is hindering the completion of the case.
Keywords: Fingerprint, investigator, investigation, evidence.
Pendahuluan
Hukum Acara Pidana merupakan hukum yang memuat peraturan-peraturan untuk melaksanakan hukum pidana, karena hukum acara pidana mempunyai fungsi sebagai alat untuk menyelesaikan segala kepentingan yang berhubungan dengan perbuatan melawan hukum yang diatur dalam hukum pidana. Kegiatan pertama yang dilakukan dalam proses penyelesaian perkara pidana adalah penyidikan.
Tindakan penyidikan dimaksudkan untuk mencari serta mengumpulkan bukti supaya tindak pidana yang ditemukan dapat menjadi terang dan jelas, serta agar dapat
menemukan dan menentukan siapa pelakunya.
Bagian-bagian hukum acara pidana yang menyangkut penyidikan adalah:
1. Ketentuan tentang alat-alat penyidik,
2. Ketentuan tentang diketahuinya terjadinya delik,
3. Pemeriksaan di tempat kejadian, 4. Pemanggilan tersangka atau
terdakwa,
5. Penahanan sementara, 6. Penggeledahan,
2 8. Berita Acara (penggeledahan,
interogasi, dan pemeriksaan di tempat),
9. Penyitaan,
10. Penyampingan perkara,
11. Pelimpahan perkara kepada
penuntut umum dan
pengembaliannya kepada penyidik untuk disempurnakan. (Andi Hamzah, 1986: 118). Dari keterangan yang telah diuraikan Andi Hamzah tersebut di atas, bahwa tugas penyidik adalah dalam rangka persiapan ke arah pemeriksaan di muka sidang pengadilan. Para penyidik mempersiapkan alat-alat bukti yang sah, sehingga dapat dipergunakan untuk membuat suatu perkara menjadi jelas/terang dan juga mengungkap siapa pelaku kejahatan atau pelaku tindak pidana.
Aparat hukum yang berwewenang melakukan penyidikan berdasarkan Pasal 1 Butir ke-1 KUHAP adalah Polri dan PPNS. Selain itu ada juga Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang pada dasarnya mempunyai wewenang untuk menyidik yang bersumber pada ketentuan undang-undang pidana khusus yang ditetapkan dalam salah satu pasalnya. Kegiatan penyidikan merupakan kegiatan dalam rangka membuat suatu perkara menjadi terang/jelas dan dalam usaha untuk menemukan pelaku tindak kejahatan. Kegiatan penyidikan yang pertama kali dilakukan oleh penyidik dalam mengungkap suatu kejahatan adalah menemukan barang
bukti maupun bekas-bekas kejahatan yang tertinggal pada tempat kejadian perkara (TKP) atau bagian-bagian terjadinya kejahatan. Salah satu barang bukti penting yang dicari penyidik adalah sidik jari.
Penyidik dalam penyidikan mempunyai wewenang yang salah satunya adalah mengambil sidik jari dan memotret seseorang (Pasal 7 ayat (1) butir f KUHAP). Sidik jari mempunyai hubungan yang erat dengan pemotretan, dalam hal ini pemotretan terhadap sidik jari, dan kegiatan pemotretan mempunyai peran penting dalam kegiatan pengambilan sidik jari yaitu mengambil gambar sidik jari untuk kemudian dicocokkan untuk mencari keidentikan. Barang bukti yang sah, yang dapat ditemukan penyidik pada tempat kejadian perkara salah satunya adalah sidik jari. Sidik jari ini merupakan barang bukti yang baik dan efektif, yang dapat dipergunakan oleh penyidik untuk pembuktian di pengadilan. Dengan identifikasi sidik jari yang dilakukan oleh penyidik dimaksudkan untuk menghindari adanya kekeliruan dalam pembuktian di persidangan. Dengan begitu terlihat jelas bahwa sidik jari merupakan barang bukti yang praktis dan akurat.
Sidik jari dapat dikatakan sebagai alat bukti yang utama dalam mencari dan mengenali penjahat: Sidik jari tiap orang tidak sama, 1. Sidik jari manusia tidak berubah selama
3 2. Sidik jari dapat dirumus dan diklasifikasi
secara sistematis. (Markas Besar
Kepolisian Republik Indonesia, 1993: 7) Identifikasi sangat penting karena dapat menemukan pelaku tindak kejahatan. Identifikasi terhadap pelaku dapat dilakukan melalui seluruh atau salah satu cara: Tanda-tanda badaniah (signalement) seperti tinggi badan, warna kulit, rambut, hidung, bentuk muka, sikap dan seterusnya,
1. Foto atau potret si pelaku, 2. Jejak (sidik) jari (daktiloskopi),
3. Modus operandi atau cara kerja si pelaku. (Andi Hamzah, 1986: 13)
Identifikasi sidik jari mempunyai arti yang sangat penting bagi penyidik untuk membuat terang suatu perkara pidana dan mengungkap siapa pelaku tindak pidana tersebut, maka para penyidik harus berusaha untuk menjaga agar jangan sampai barang bukti berupa sidik jari yang terdapat atau tertinggal di tempat kejadian perkara menjadi hilang ataupun rusak. Hasil pemeriksaan tentang sidik jari dilakukan oleh Petugas Unit Identifikasi Daktiloskopi Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis akan membahas tentang:
1. Pelaksanaan kewenangan penyidik dalam melakukan pengambilan sidik jari di Polresta Padang?
2. Hambatan-hambatan yang ditemui oleh penyidik dalam pengambilan sidik jari
untuk penyidikan perkara pidana di Polresta Padang?
Metodologi
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Yuridis Sosiologis yaitu
berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dikaitkan dengan apa yang terjadi dipelaksanaannya, sehingga dalam penelitian ini peneliti menggunakan bahan hukum. (Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 1990: 15-16)
1. Sumber data a. Data Primer
Data primer yaitu data yang didapat langsung di lapangan dengan melakukan wawancara dengan AKP. Saridin Kanit, anggota polisi Polresta Padang.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen yang terdapat di Polresta Padang yang berupa data permintaan sidik jari beserta BAP.
2. Teknik Pengumpulan data
a. Wawancara yaitu dilakukan dengan wawancara dengan anggota Polresta Padang. Bentuk wawancara berupa wawancara semi terstruktur, yaitu peneliti membuat rancangan daftar pertanyaan terlebih dahulu.
4 b. Studi dokumen adalah studi yang
mempelajari dokumen yang terdapat di kantor Polresta Padang, berupa perkara yang memerlukan identifikasi dengan sidik jari.
3. Pengolahan dan Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang diambil dari dokumen, buku laporan dan buku catatan lainnya yang berhubungan dengan materi yang ditulis.
Dalam bidang reserse kriminil, penyidikan itu biasa dibedakan sebagai berikut:
a. Penyidikan dalam arti kata luas, yaitu meliputi penyidikan, pengusutan dan pemeriksaan, yang sekaligus rangkaian dari tindakan-tindakan dari terus-menerus, tidak ada pangkal permulaan dan penyelesaiannya, b. Penyidikan dalam arti kata
sempit, yaitu semua tindakan-tindakan yang merupakan suatu bentuk represif dari reserse kriminil Polri yang merupakan permulaan dari pemeriksaan perkara pidana.
Dalam proses penyidikan, yang berhak melakukan penyidikan adalah Pejabat Penyidik. Seorang penyidik melakukan penyidikan adalah dalam usaha menemukan
alat bukti dan barang bukti, guna kepentingan penyidikan dalam rangka membuat suatu perkara menjadi jelas/terang dan untuk mengungkap atau menemukan tersangka kejahatan.
Dalam Pasal 1 Butir ke-1 KUHAP dijelaskan pengertian penyidik. ”Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan”.
Dari pengertian tersebut di atas, dapat ditarik dua unsur penyidik, seperti tercantum dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) KUHAP, yaitu:
a. Penyidik adalah:
1) Pejabat Polisi Negara Indonesia; 2) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu
yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.
b. Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah.
Dalam Pasal 6 KUHAP tersebut di atas telah ditentukan mengenai instansi atau kepangkatan seorang pejabat penyidik adalah:
1. Pejabat Penyidik Polisi
Untuk melakukan penyidikan, pejabat penyidik polisi harus memenuhi syarat kepangkatan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (2) KUHAP. Mengenai kedudukan dan kepangkatan pejabat penyidik kepolisian
5 akan diatur dalam peraturan pemerintah yaitu
PP No. 27 Tahun 1983.
Memperhatikan kepangkatan yang diatur dalam Bab II PP No. 27 Tahun 1983 tersebut, syarat kepangkatan dari penyidik adalah sebagai berikut:
2. Pejabat Penyidik Penuh
Pejabat polisi yang dapat diangkat sebagai pejabat penyidik penuh harus memenuhi kepangkatan dan pengangkatan sebagai berikut:
(a) Sekurang-kurangnya berpangkat Pembantu Letnan Dua Polisi;
(b) Berpangkat Bripda di bawah Aipda apabila dalam sektor Kepolisian tidak ada pejabat penyidik yang berpangkat Aipda;
(c) Ditunjuk dan diangkat oleh Kepala Kepolisian RI.
3.Pejabat Penyidik Pembantu
(a) Sekurang-kurangnya berpangkat Bripda; (b) Pegawai Negeri Sipil dalam lingkungan
kepolisian negara dengan syarat sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda (golongan II/A);
(c) Diangkat oleh Kepala Kepolisian RI, atas usul komandan atau pimpinan kesatuan masing-masing. (Harun M. Husein, 1991: 87-89)
Khusus mengenai pengangkatan pegawai negeri sipil di lingkungan kepolisian untuk menjadi pejabat penyidik pembantu harus mempunyai keahlian dan kekhususan di bidang tertentu. Syarat kepangkatan
pejabat penyidik pembantu harus lebih rendah dari pangkat pejabat penyidik penuh.
Dalam hal ini perlulah kiranya diutarakan di sini, bahwa Surat keputusan Menteri Hankam/Pangab tanggal 13 Juli 1979 telah menentukan antara lain, bahwa penyidik pembantu yang dijabat oleh pejabat kepolisian Negara harus berpangkat Sersan Dua s/d Sersan Mayor dan kepolisian khusus yang atas usul komandan atau kepala Jawatan/Instansi sipil Pemerintah diangkat oleh Kapolri. Penyidik pembantu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (a) Berpendidikan sekurang-kurangnya
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau sekurang-kurangnya berpendidikan Sekolah Bintara Polisi;
(b) Mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan penyidikan
(c) Mempunyai kecakapan dan kemampuan baik psikis maupun fisik untuk melakukan tugas penyidikan;
(d) Berkelakuan baik atau tidak tercela. (R. Soesilo, 1980: 19)
b. Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Pegawai Negeri Sipil mempunyai fungsi dan wewenang sebagai penyidik. Pada dasarnya wewenang yang mereka miliki bersumber pada ketentuan pidana khusus, yang telah menetapkan sendiri pemberian wewenang penyidikan pada salah satu pasalnya. Jadi hanya terbatas hanya sepanjang menyangkut tindak pidana yang
6 diatur dalam undang-undang khusus tersebut.
(M. Yahya Harahap, 2002: 113) Hasil dan Pembahasan
1). Pelaksanaan Kewenangan Penyidik dalam Melakukan Pengambilan Sidik Jari di Polresta Padang
Semua pelaksanaan pengambilan sidik jari berdasarkan pada tahapan-tahapan yang ada pada buku petunjuk teknis di bidang identifikasi.
Pelaksanaan pengambilan sidik jari sangat erat hubungannya dengan fotografi (pemotretan) dan di Polresta Padang sendiri, Unit Identifikasi terdiri dari daktiloskopi (sidik jari) dan fotografi (pemotretan). Kegiatan penyidikan, Polresta Padang juga berkoordinasi dengan Polres-Polres lainnya. Terlebih lagi dalam kegiatan identifikasi, apakah di Polres yang dimaksud pernah mengambil data mengenai sidik jari orang tertentu yang dicurigai telah melakukan kejahatan, untuk kemudian dilakukan perbandingan dengan sidik jari yang ditemukan di tempat kejadian perkara yang masih berada di wilayah Polresta Padang.
Kegiatan pengambilan sidik jari harus didasarkan pada suatu teknik, yaitu teknik daktiloskopi (pengamatan sidik jari). Di Polresta Padang, pelaksanaan kegiatan pengambilan sidik jari dengan teknik daktiloskopi mengacu pada Petunjuk Teknis Polri di Bidang Identifikasi, yang kesemuanya ada sembilan, yaitu :
a. Petunjuk Teknis No. Pol.: Juknis/01/III/2000 Tentang Pencarian Sidik Jari Laten di Tempat Kejadian Perkara;
b. Petunjuk Teknis No. Pol.: Juknis/02/III/2000 Tentang Pengembang- an Sidik Jari Laten dengan Serbuk serta Pemindahannya / Pengangkatannya
(Lifting);
c. Petunjuk Teknis No. Pol.: Juknis/03/III/2000 Tentang Pengembang- an Sidik Jari Laten Secara Kimia;
d. Petunjuk Teknis No. Pol.: Juknis/04/III/2000 Tentang Pengembangan Sidik Jari Laten pada Kulit Manusia;
e. Petunjuk Teknis No. Pol.: Juknis/05/III/2000 Tentang Pemeriksaan Perbandingan Sidik Jari;
f. Petunjuk Teknis No. Pol.: Juknis/06/III//2000 Tentang Pengambilan Sidik Jari yang Baik;
g. Petunjuk Teknis No. Pol.: Juknis/07/III/2000 Tentang Penyimpanan Kertu Sidik Jari dan Kartu-Kartu Pembantunya Secara Manual Penuh; h. Petunjuk Teknis No. Pol.:
Juknis/08/III/2000 Tentang Perumusan Sidik Jari;
i. Petunjuk Teknis No. Pol.: Juknis/09/III/2000 Tentang Pengambilan Sidik Jari Telapak Bayi.
7 Dalam melakukan kegiatan
penyidikan terhadap suatu kasus, para penyidik terkadang dihadapkan pada suatu kasus yang sulit dan rumit. Maka dengan itu, para penyidik dituntut untuk mempunyai keahlian khusus dan ketrampilan. Selain itu juga diperlukan pengalaman dengan cara belajar dari seniornya di lapangan.
2. Hambatan-hambatan Yang Ditemui Oleh Penyidik dalam Pengambilan Sidik Jari Untuk Penyidikan Perkara Pidana di Polresta Padang
Dalam melakukan penyidikan pastilah tidak selalu berjalan lancar dan kadang menemui berbagai hambatan. Menurut bapak Sadikin AKP kanit Identifikasi Polresta Padang hambatan-hambatan inilah yang membuat penyidik kesulitan dalam mengungkap suatu kasus atau membuat jelas suatu perkara pidana. Hambatan-hambatan itu bisa datang dari dalam (intern) maupun dari luar (ekstern): a. Hambatan Intern, yaitu hambatan yang
dihadapi oleh penyidik dari dalam Lembaga Kepolisian itu sendiri, sedangkan
b. Hambatan Ekstern, merupakan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh penyidik dari luar Lembaga Kepolisian.
Penyidik di Polresta Padang, dalam melakukan kegiatan penyidikan suatu kasus juga menghadapi hambatan-hambatan seperti diatas :
Hambatan Intern:
a. Terbatasnya peralatan yang dimiliki oleh petugas identifikasi sehingga pelaksanaan pengambilan sidik jari masih menggunakan peralatan manual dan tentunya kegiatan pengambilan sidik jari hanya terbatas pada yang bisa dilakukan dengan peralatan manual tersebut;
b. Peralatan-peralatan yang digunakan belum memadai (di Polresta Padang, pengambilan sidik jari secara kimia dan sinar laser belum ada);
c. Barang-barang atau bahan-bahan habis pakai tidak disuplai dari pusat sehingga hanya menggunakan sisa-sisa alat yang ada.
Hambatan Ekstern:
a. Wilayah Kota Padang yang semakin berkembang menyebakan naiknya tingkat kriminalitas sehingga hal ini menyebabkan penyidik sering datang terlambat di tempat kejadian perkara, karena kewalahan dalam mengamankan tempat kejadian perkara.
b. Kurangnya pengetahuan dari masyarakat atau bahkan dari petugas kepolisian itu sendiri akan pentingnya tempat kejadian perkara (TKP), sehingga sering didapati TKP sudah berubah atau rusak pada saat petugas identifikasi datang, petugas akan kesulitan dalam melakukan olah TKP.
Sepanjang tahun 2012, untuk bulan Januari s/d Oktober, tempat kejadian perkara
8 yang berubah atau bahkan rusak dari 23
kasus yang terjadi di Polresta Padang prosentasenya mencapai angka lebih dari 80%. Tingginya prosentase tersebut manandakan bahwa masyarakat kurang memiliki pengetahuan tentang pentingnya keutuhan TKP sehingga menghambat penyelesaian kasus.
Simpulan
1. Pelaksanaan kewenangan penyidik dalam melakukan pengambilan sidik jari di Polresta Padang belum berjalan secara optimal. Hal ini disebabkan di Polresta Padang sendiri, kegiatan pengambilan sidik jari masih dilakukan secara manual dengan peralatan yang terbatas dan sederhana. Pengambilan sidik jari dilakukan oleh Petugas Unit Identifikasi yang tergabung dalam Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Padang. Petugas identifikasi tersebut dalam melakukan kegiatan pengambilan sidik jari berdasarkan pada tahapan-tahapan berikut:
a) Tahap pengamanan Tempat Kejadian Perkara (TKP),
a) Tahap pengumpulan barang-barang bukti,
b) Tahap pemilahan terhadap benda dimana bekas jari menempel, c) Tahap pengembangan dan
pengangkatan sidik jari laten,
d) Tahap pengambilan sidik jari laten di TKP,
e) Tahap pemrosesan terhadap sidik jari laten yang ditemukan di TKP, f) Tahap pemeriksaan perbandingan
sidik jari laten,
g) Tahap perumusan sidik jari,
h) Tahap penyimpanan kartu sidik jari dan kartu pembantunya,
Kesembilan tahapan tersebut di atas mengacu pada Petunjuk Teknis Polri di Bidang Identifikasi No. Pol. : Sprint/17/III/2000/Pusident dan pelaksanaan tahapan tersebut harus dilakukan secara urut, tersistematis dan hati-hati.
Setiap kegiatan pengambilan sidik jari laten di TKP maupun pemotretan harus dibuatkan berita acara oleh petugas identfikasi. Hal itu harus dilakukan guna kepentingan penyidikan. Apabila kegiatan tersebut menjadi satu dengan pengolahan TKP, maka hasil kegiatan tersebut harus dituangkan dalam Berita Acara Pengambilan Sidik Jari.
2. Hambatan-hambatan yang ditemui penyidik dalam pengambilan sidik jari untuk penyidikan perkara pidana di Polresta Padang diantaranya sering terjadi kasus dimana tempat kejadian perkara yang berubah atau bahkan rusak dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya keutuhan TKP sehingga menghambat penyelesaian kasus.
9 Daftar Pustaka
Andi Hamzah. 1986. Pengusutan Perkara
Kriminil Melalui Sarana Teknik dan
Sarana Hukum. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
---.2002. Hukum Acara Pidana Indonesia, Edisi Revisi. Jakarta: Sinar
Grafika.
Departemen Pertahanan Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia. 2000. Buku Petunjuk
Teknis Polri di Bidang Identifikasi.
Jakarta.
Bambang Poernomo. 1988. Orientasi Hukum
Acara Pidana, Edisi Revisi.
Yogyakarta: Amarta Buku.
Bruce A. Chadewick, Howard M. Bahr, Stan L. Albrecht. 1991. Social Science
Research Methods, Terjemahan
Sulistia “et al”.
Harun M. Husein. 1991. Penyidikan dan
Penuntutan dalam Proses Pidana.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hilman Hadikusuma. 1995. Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu Hukum. Bandung: Mandar Maju.
Intan Sukmonowati. 2005. Skripsi: Teknik
Daktiloskopi dalam Penyidikan (Studi Kriminalisik di Polres Banjarnegara).
Purwokerto.
Koentjaraningrat. 1983. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta :
Gramedia.
M. Karjadi. 1981. Tindakan dan Penyidikan
Pertama di Tempat kejadian Perkara.
Bogor : Politeia.
M. Yahaya Harahap. 2002. Pembahasan
Permasalahan dan Penerapan
KUHAP: Penyidikan dan Penuntutan,
Edisi Kedua. Jakarta: Sinar Grafika. R. Soesilo. 1980. Taktik dan Teknik
Penyidikan Perkara Kriminil. Bogor:
Politea.
Soerjono Soekanto. 1986. Pengantar
Penelitian Hukum. Jakarta :
Universitas Indonesia Press.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1988. Kamus
Besar Bahasa Indonesia, Cetakan
Pertama. Jakarta: Balai Pustaka. Undang-undangan :
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981, LN Nomor 76 Tahun 1981 TLN Nomor 3209.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, LN Nomor 2 Tahun 2002 TLN Nomor 4168.