12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Humas
A. Tugas Humas
Aktivitas humas dalam organisasi atau perusahaan berkaitan dengan tugas yang harus dijalankannya. Inti tugas humas pada dasarnya adalah sinkronisasi antara informasi dari perusahaan dengan reaksi dan tanggapan publik sehingga mencapai suasana akrab, saling mengerti, dan muncul suasana yang menyenangkan dalam interaksi perusahaan dengan publik.
Oxley dalam (Iriantara, 2010) menjelaskan tugas-tugas yang dijalankan humas terdiri atas:
1. Memberi saran kepada manajemen tentang semua perkembangan internal dan ekternal
2. Meneliti, menafsirkan dan mengantisipasi sikap publik terhadap organisasi
3. Menjadi penghubung antara manajemen dengan publiknya
4. Memberi laporan berkala kepada manajemen tentang semua kegiatan yang mempengaruhi hubungan publik dengan organisasi.
Lebih detail lagi, menurut Collin Coulson-Thomas, tugas-tugas pokok humas/ public relations adalah:
13 1. Mengevaluasi kekuatan dan kelemahan perusahaan/organisasi, baik perusahaan sendiri maupun perusahaan saingan, juga ancaman dan peluangnya; mendiagnosis masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui saran-saran publik relation; mengidentifikasi masyarakat yang dituju dan saluran-saluran yang paling efektif digunakan untuk menjangkau mereka;
2. Memberi nasihat kepada pihak manajemen di semua tingkatan, terutama mengenai perkembangan intern dan ekstern, yang mungkin dapat mempengaruhi reputasi perusahaan/organisasi dalam hubungannya dengan kelompok-kelompok lain yang menjadi sasaran komunikasi perusahaan/organisasi tersebar;
3. Menjadi ahli depositor karena itu harus mengetahui semua aspek komunikasi perusahaan, baik intern maupun ekstern. Dengan cara mempertahankan para ahli, baik yang sudah ada maupun yang baru masuk, sehubungan dengan teknik-teknik yang relevan dan kemudahan-kemudahan serta kontak-kontak yang mungkin digunakan mereka;
4. Membuat kontak dengan para pengambil keputusan ekstern yang penting. Selain itu, mengontak pula para pencetus ide dan sumbersumber informasi lain;
5. Memastikan arus informasi yang efektif untuk kelompok-kelompok masyarakat yang terpilih, guna memanfaatkan saluran-saluran
14 komunikasi yang cocok untuk mereka, seperti buku, majalah keluarga, surat kabar, radio, televisi, brosur, wawancara dan lain sebagainya;
6. Membentuk komisi-komisi riset untuk proyek-proyek khusus, agar dapat menentukan dan memperkirakan situasi dan masalah, atau untuk mengukur efektivitas program-program dari public relations yang telah dilaksanakan;
7. Mengevaluasi masalah-masalah dan aktivitas public relations sehingga dapat memberikan laporan-laporan yang teratur kepada pihak manajemen;
8. Merencanakan dan memanajemen kegiatan-kegiatan delegasi perusahaan/ organisasi. Misalnya, pameran, kunjungan, pertemuan, dan lain sebagainya;
9. Membantu bagian-bagian lain dengan menganalisis masalah-masalah komunikasi, menulis dan menerbitkannya, memberikan keterangan baik dengan audio-visual maupun sarana-sarana pendukung lain serta bekerjasama untuk menanggulangi masalah-masalah yang telah ditentukan;
10. Memastikan seluruh perusahaan/organisasi dan tidak melakukan sesuatu tindakan yang dapat mencemarkan nama baik perusahaan/
oganisasi (Coulson-Thomas, 2002).
Pelaksaan tugas humas dalam suatu lembaga tentu sangat kompleks. Salah satunya yang ada pada Sekertariat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah pada jurnal berjudul “Analisis Peran dan Fungsi Humas
15 Pemerintah di Era Keterbukaan Informasi pada Sekertariat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah”. Secara garis besar tugas humas adalah merekap kegiatan yang dilakukan oleh DPRD, yang kemudian akan dipublikasikan melalui mitra humas yaitu media massa yang meliputi media cetak maupun media elektronik. Terdapat tiga tugas humas yang dilakukan sehari-hari. Yang pertama ialah mencatat media cetak yang masuk dan mendistribusikan pada pimpinan dewan, komisi- komisi dan sekwan.
Yang kedua menghubungi media cetak dan elektronik untuk meliput kegiatan sidang paripurna dan sidang-sidang lainnya. Yang ketiga yaitu memediasi pertemuan pendemo dengan anggota DPRD (Fahri & Unde, 2018).
B. Fungsi Humas
Humas dalam suatu instansi dikatakan berfungsi apabila humas itu menunjukan kegiatan yang jelas dan dapat dibedakan dari kegiatan lainnya. Seperti yang sudah ditulis pada latar belakang, fungsi humas adalah menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antar lembaga (organisasi) dengan publiknya, internal maupun eksternal dalalm rangka menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik dalam upaya menciptakan iklim pendapat (opini publik) yang menguntungkan lembaga organisasi (Nova, 2009).
Mengenai konsep fungsional public relations, Scott M. Cutlip dan Allen Center dalam bukunya Effective Public Relations, memberikan penjelasan sebagai berikut:
16 1. Memudahkan dan menjamin arus opini yang bersifat mewakili dari publik- publik suatu organisasi, sehingga kebijaksanaan beserta operasionalisasi organisasi dapat dipelihara keserasiannya dengan ragam kebutuhan dan pandangan publik-publik tersebut.
2. Menasehati manajemen mengenai jalan dan cara menyusun kebijaksanaan dan operasionalisasi organisasi untuk dapat diterima secara maksimal oleh publik.
3. Merencanakan dan melaksanakan program-program yang dapat menimbulkan penafsiran yang menyenangkan terhadap kebijaksanaan dan operasionalisasi organisasi.
Berdasarkan uraian mengenai ciri-ciri public relations beserta penegasan kegiatan humas menurut Cutlip, Center, dan Bloom diatas maka fungsi humas dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi.
2. Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publik baik itu internal maupun eksternal.
3. Menciptakan komunikasi dua arah demi memperoleh feedback dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada organisasi.
4. Melayani publik dan menasehati pimpinan organisasi demi kepentingan umum (Cutlip dkk, 2016).
Salah satu fungsi humas yang dijalankan oleh suatu lembaga adalah pelaksanaan fungsi humas pemerintahan pada Sekertariat DPRD Provinsi
17 Sulawesi Tengah. Sekertariat DPRD lebih banyak berfungsi dalam menciptakan komunikasi dua arah antara DPRD dengan masyarakatnya.
Mereka terlibat dalam proses unjuk rasa dan sebagai jembatan yang mempertemukan pengunjuk rasa dengan anggota DPRD yang dapat membantu masalah mereka.
Selain itu humas DPRD Provinsi Sulawesi Tengah juga menjalankan fungsi melayani publik dalam memperoleh segala informasi dengan memfasilitasi mengundang media untuk meyebarluaskan kegiatan DPRD secara masal dan memberitakan proses tentang isu tertentu menggunakan media internal seperti majalah, buletin maupun website DPRD. Humas bekerjasama dengan media eksternal seperti Radar sulteng, Mercusuar, Media Al-Khairat, Metro Sulawesi dan Sulteng Raya. Bahkan humas juga bekerjasama sengan media elektronik seperti TVRI dan Palu TV (Fahri & Unde, 2018).
Secara praktis, diketahui bila berbicara mengenai fungsi dari humas itu sendiri, tentu ada kaitannya dengan kegiatan humas. Karena melalui kegiatan humas nantinya dapat secara jelas diketahui mengenai fungsi apa saja yang dikakukan oleh kegiatan humas tersebut, baik internal ataupun eksternal.
C. Peran Humas
Mewujudkan visi dan misi perusahaan untuk menjadi besar dan maju bukanlah pekerjaan mudah, hambatan dari lingkungan internal maupun eksternal merupakan hal-hal yang tidak dapat diduga. Oleh sebab
18 itu, humas sebagai salah satu fungsi manajemen di perusahaan yang berperan untuk menyaring informasi yang berhubungan dengan perusahaan dan memfasilitasi kegiatan komunikasi untuk memberikan pemahaman kepada publik internal dan eksternalnya. Menurut (Cutlip, dkk, 2016), peran humas terbagi atas 4 yaitu:
1. Penasehat Ahli (Expert Prescriber)
Seorang praktisi pakar public relations yang berpengalaman dan memiliki kamampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya (public relationship).
2. Fasilitator Komunikasi (Communication Facilitator)
Dalam hal ini, praktisi PR bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak menajemen dalam hal mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya. Di pihak lain, dia juga dituntut mampu menjelaskan kembali keinginannya, kebijakan dan harapan organisasi kepada pihak publik. Sehingga dengan komunikasi timbal balik tersebut dapat tercipta saling pengertian, mempercayai, menghargai, mendukung dan toleransi yang baik dari kedua pihak.
3. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah (Problem Solving Process Fasilitator)
Peranan praktisi PR dalam proses pemecahan persoalan public relations ini merupakan bagian dari tim manajemen. Hal ini
19 dimaksudkan untuk membantu pimpinan orgnisasi baik sebagai penasihat (adviser) hingga mengambil tindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional.
4. Teknisi Komunikasi (Communication Technician)
Peran Communication Technician ini menjadiakan praktisi PR sebagai Jurnalist in Resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan method of communication. Sistem komunikasi dalam organisasi tergantung dari masing-masing bagian atau tingkatan (level), yaitu secara teknis komunikasi, baik arus maupun media komunikasi yang dipergunakan dari tingkat pimpinan dengan bawahan akan berbeda dari bawahan ke tingkat atasan. Hal yang sama juga berlaku pada arus dan media komunikasi antar karyawan satu departemen dengan lainya (employee relations and communication media model).
Peran humas khususnya teknisi komunikasi ada pada pelaksanaan peran humas Sekertariat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah. Hal ini ditunjukan dengan implementasi tugas mereka dalam menjalankan fungsi- fungsi publikasi seperti melakukan pemberitaan di media-media internal maupun eksternal. Humas Sekertariat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah juga menjalankan peran sebagai Fasilitator Komunikasi. Hal ini ditunjukan dengan implementasi tugas mereka dalam menjalankan fungsi-fungsi
20 fasilitator dalam menghubungkan antara masyarakat dengan Pimpinan dan Anggota DPRD (Fahri & Unde, 2018).
Dalam kaitan menjalankan fungsi membina saling pengertian dengan publiknya menurut Indrawadi Tamin (2004) yang dikutip oleh Lena Satlita (2011), menyatakan ada empat peran yang dapat dimainkan oleh PR, yaitu:
1. Interpreter atau in the middle, yaitu PR berperan sebagai sumbu antara manajemen dengan publik internal maupun eksternal. PR harus mampu menginterpretasikan dinamika dan kebutuhan serta perilaku publik terhadap manajemen dan sebaliknya. Untuk bisa memikul peran ini, PR harus punya akses pada manajemen bahkan top manajemen.
2. Lubricant, pelumas atau pelicin untuk terciptanya hubungan internal yang harmonis dan efisien. Peran ini memungkinkan PR mencegah timbulnya kemungkinan friksi-friksi atau perpecahan dalam organisasi.
3. Monitoring dan Evaluasi, Peran ini untuk mengantisipasi setiap perubahan yang mungkin saja berdampak negatif terhadap organisasi.
4. Komunikasi, komunikasi dilakukan baik pada publik eksternal maupun internal untuk terciptanya saling pengertian.
21 D. Tujuan dan Manfaat Humas
Menurut (Widjaja, 2010), tujuan humas yaitu untuk mengembangkan hubungan harmonis dengan pihak lain yakni publik (umum, masyarakat). Tujuan humas adalah untuk menciptakan, membina dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi lembaga atau organisasi di suatu pihak dan dengan publik di lain pihak dengan komunikasi yang harmonis dan timbal balik.
Frank Jefkins mendefinisikan dari sekian banyak hal yang dapat dijadikan tujuan public relations sebuah perusahaan, beberapa diantaranya yang pokok adalah:
1. Untuk mengubah citra umum di mata khalayak/masyarakat sehubungan dengan adanya kegiatan-kegiatan baru yang dilakukan oleh perusahaan.
2. Untuk meningkatkan bobot kualitas calon pegawai.
3. Untuk menyebarluaskan suatu cerita sukses yang telah dicapai oleh perusahaan kepada masyarakat dalam rangka mendapatkan pengakuan.
4. Untuk memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat luas, serta membuka pasar-pasar baru.
5. Untuk mempersiapkan dan mengkondisikan masyarakat bursa saham atas rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru atas saham tambahan.
22 6. Untuk meperbaiki hubungan antara perusahaan itu dengan khalayak/masyarakatnya, sehubungan dengan telah terjadinya suatu peristiwa yang mengakibatkan kecaman, kesangsian, atau salah paham di kalangan khalayak/masyarakat terhadap niat baik perusahaan.
7. Untuk mendidik para pengguna atau konsumen agar mereka lebih efektif dan mengerti dalam memanfaatkan produk-produk perusahaan.
8. Untuk meyakinkan khalayak bahwasanya perusahaan mampu bertahan atau bangkit kembali setelah terjadinya suatu krisis.
9. Untuk meningkatkan kemampuan dan ketahanan perusahaan dalam menghadapi risiko pengambilalihan (take-over) oleh pihak-pihak lain.
10. Untuk menciptakan identitas perusahaan yang baru.
11. Untuk menyebarluaskan informasi mengenai aktifitas dan partisipasi para pimpinan perusahaan organisasi dalam kehidupan sosial sehari- hari.
12. Untuk mendukung keterlibatan suatu perusahaan sebagai sponsor suatu acara.
13. Untuk memastikan bahwasanya para politisi benar-benar memahami kegiatan-kegiatan atau produk perusahaan yang positif, agar perusahaan yang bersangkutan terhindar dari peraturan, undang- undang, dan kebijakan pemerintah yang merugikan.
23 14. Untuk menyebarluaskan kegiatan-kegiatan riset yang telah dilakukan perusahaan, agar masyarakat luas mengetahui betapa perusahaan itu mengutamakan kualitas dalam berbagai hal (Jefkins, 2004).
Adapun manfaat dari public relations menurut Frank Jefkins adalah:
1. Menciptakan dan memelihara citra yang baik dan tepat atas organisasinya di dalam kaitannya dengan produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan.
2. Membantu pendapat umum mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan citra, kegiatan organisasi maupun kepentingan organisasi dan menyampaikan suatu informasi secara langsung kepada manajemen perusahaan.
3. Memberi nasihat dan masukan kepada manajemen perusahaan mengenai berbagai masalah komunikasi yang sedang terjadi, sekaligus mengenai cara penanganannya.
4. Menyediakan berbagai jasa informasi kepada publik mengenai kebijakan perusahaan, produk, jasa personil selengkap mungkin untuk menciptakan suatu pengetahuan yang maksimal dan mencapai pengertian publik (Jefkins, 2004).
E. Kegiatan Humas
Frida Kusumastuti mengungkapkan sasaran humas adalah publik, yakni sekelompok orang dalam masyarakat yang memiliki karakteristik kepentingan yang sama (Kusumastuti, 2002 dalam Hari, 2013). Publik
24 adalah kelompok atau orang–orang yang berkomunikasi dengan suatu organisasi, baik secara internal, maupun eksternal (Jefkins, 2004).
Kegiatan humas adalah kegiatan yang ditujukan untuk publiknya.
Berdasarkan jenis publiknya kegiatan humas terbagi menjadi dua yaitu:
1. Kegiatan Internal Humas
Publik internal humas adalah salah satu bentuk dari humas yang menitik beratkan ke dalam perusahaan itu. Istilah ke “dalam”
maksudnya, publik tersebut berlaku kepada hubungan publik yang ada didalam instansi atau perusahaan. Publik internal mempunyai tugas menjalin hubungan baik dan harmonis antara manajemen perusahaan dengan karyawannya.
Menurut Griswold, “mencapai karyawan yang mempunyai kegairahan kerja adalah tujuan internal publik” (Abdulrachman, 2001) Seperti:
a. Hubungan dengan karyawan (Employe Relations).
b. Hubungan manusiawi (Human Relations).
c. Hubungan dengan buruh (Labour Relations).
d. Hubungan dengan pemegang saham (Stockholder).
2. Kegiatan Eksternal Humas
Kegiatan eksternal humas bertugas untuk membina hubungan dengan orang–orang di luar perusahaan dan juga harus dapat menciptakan citra positif perusahaan.
Publik eksternal terbagi kepada beberapa bentuk, yaitu:
25 a. Hubungan dengan pers (Press Relations).
b. Hubungan dengan media
c. Hubungan dengan pelanggan (Coustemer Relations) d. Hubungan dengan masyarakat (Community Relations).
Salah satu tujuan ekstenal umas adalah untuk mengeratkan hubungan dengan orang-orang diluar badan/instansi hingga terbentuklah opini publik yang favorable terhadap badan itu.
Perhatian yang besar terhadap kepentingan publik dan bertindak sesuai dengan kepentingan mereka akan membangkitkan simpati dan salah satu tugas humas adalah memikirkan serta memperhatikan kepentingan publiknya.
Di lain pihak, Public Relations Society of America (PRSA), sebuah organisasi public relations yang terbentuk pada tahun 1947 di Amerika pada tahun 2002 merumuskan aktivitas-aktivitas humas sebagai berikut:
a. Community Relations. Hubungan publik yang memfokuskan diri pada komunitas yang berkaitan dengan keberlangsungan organisasi/
perusahaan.
b. Counseling. Para profesional public relations hendaklah secara rutin memberikan masukan/pertimbangan kepada pihak manajemen sebelum mereka mengambil keputusan, membuat kebijakan, membangun relasi atau melakukan komunikasi dengan berbagai macam publik. Jajaran manajemen menyatakan kepada publik “apa yang mereka lakukan” sedangkan profesional atau bagian humas
26 membantu mendefinisikan dan mempresentasikan pesan tersebut untuk sampai ke publik.
c. Development/Fundraising. Semua organisasi baik yang profit maupun non-profit dapat bertahan karena ada kontribusi dari pihak lain dalam bentuk waktu maupun uang. Peran humas yang menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan organisasi tersebut kepada pihak-pihak yang memiliki peluang atau kemampuan memberikan kontribusi
d. Employee/Member Relations. Sebagai bagian inti dari jalannya perusahaan, tugas public relations untuk menciptakan hubungan- hubungan yang baik, tidak hanya sekedar pada para pekerja melainkan juga kepada keluarga pekerja. Dengan demikian akan terbentuk motivasi yang baik pula dan moral yang tinggi dari para pekerja sehingga loyal pada perusahaan.
e. Financial Relations. Investor merupakan salah satu bagian terpenting dari sumber pendanaan perusahaan. Peran public relations adalah membangun jembatan komunikasi antara inverstor pemilik perusahaan, para pemegang saham, komunitas finansial seperti bank, dan publik.
f. Government Affairs. Inilah tipe aktivitas public relations yang memfokuskan diri menjalin hubungan baik dengan pihak pemerintahan. Karena sebagai perusahaan publik, tidak bisa dilepas- pisahkan hubungan dengan pemerintah.
27 g. Industry Relations. Perusahaan tidak hanya menjalin relasi yang terbatas pada konsumen/pelanggan semata, malainkan juga harus menciptakan relasi yang baik dengan perusahaan lain yang secara langsung berkaitan dengan bisnis perusahaan seperti pada supplier, distributor, agen bahkan relasi terhadap perusahaan kompetitor sekaligus.
h. Issues Management. Manajemen isu melibatkan publik dalam jumlah besar demi terciptanya citra produk maupun citra perusahaan.
Aktivitas public relations untuk mengembangkan manajemen isu ini sebagai bagian dari kekuatan perusahaan atau organisasi.
i. Media Relations. Perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap bentuk-bentuk media massa memberikan pengaruh yang berari bagi perusahaan. Liputan yang baik di media akan memberikan pencitraan yang baik pula bagi perusahaan, meingkatkan kepercayaan pelanggan dalam memakai produk perusahaan, dan akhirnya menumbuhkan minat pemodal untuk menginvestasikan modalnya pada perusahaan.
Aktivitas Public Relations inilah yang menjalin relasi dengan media dan mendapatkan kepercayaan dari liputan media.
j. Marketing Communication. Komunisa dari aktivitas menjual produk, servis, maupun ide. Iklan-iklan yang dilakukan melalui berbagai media memberikan efek yang menguntungkan pada aktivitas public relations. Bentuk kemasan produk yang unik dan bagaimana
28 memajang produk di pasar merupakan terapan dari pembentukan citra perusahaan yang membedakan dari peusahaan lainnya.
k. Minority Relations/Multicultural Affairs. Aktivitas humas yang memfokuskan diri pada terbentuknya relasi pada kelompok minoritas yang secara langsung maupun tidak akan memberikan dampak publisitas perusahaan/lembaga.
l. Public Affairs. Interaksi humas yang melibatkan para official dan pemimpin dari berbagai bentuk organisasi atau para pemegang kekuasaan. Relasi dengan komunitas maupun pemerintahan merupakan fokus dari aktivitas public relations.
m. Special Event and Public Participant. Aktivitas langsung yang melibatkan publik dan dilakukan oleh humas untuk menjalin interaksi antara oraganisasi/lembaga dengan publik (Azam, 2017).
F. Program Humas
Menurut (Widjaja, 2010), ada 3 program humas, yaitu:
1. Program Pelayanan
Program ini berupa pelayanan data atau informasi baik secara lisan maupun tertulis, termasuk penyelenggaraan display tetap dan pameran.
2. Program Mediator
Program ini berupa penerbitan berbagai media massa, peyelenggaraan konferensi pers, wisata pers, menjawab surat pembaca, menanggapi tajuk rencana yang negatif dan lain-lain.
29 3. Program Dokumenter
Program ini berupa pembuatan dokumentasi film, foto rekaman (kaset audio dan vidio) transkrip pidato dan lain-lain.
Salah satu contoh pelaksanaan program humas khususnya program dokumenter terdapat pada lembaga pendidikan Universitas Jambi. Humas memiliki dokumentasi kegiatan pada tahun 2005 tentang kegiatan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang sedang gencar dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Unja turut serta dalam mensukseskan program tersebut dengan mengadakan PIN di TK Pinang Masak Unja yang diikuti oleh siswa TK dan masyarakat sekitar Kampus.
Kegiatan tersebut dapat diungkapkan kepada publik bahwa Unja sudah ikut serta menjalankan program pemerintah yang peduli terhadap masa depan anak bangsa melalui PIN. Tetapi jika diutarakan hanya dengan menggunakan kata-kata dan `seingatnya` tentu orang tidak akan percaya namun dengan jejak digital yang ada masyarakat akan mempercayainya, humas akan memperlihatkan bukti tersebut dengan dokumentasi berupa foto dan diterbitkanya di koran `Suara Unja`. Selain itu pada tahun 2008 Unja menerima kunjungan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X pada acara wisuda ke-51 Universitas Jambi, ini dapat dikatakan hoax jika tidak dibuktikan dengan kumpulan foto dan koran `Suara Unja`.
30 2. Humas Pemerintah
Pada hakikatnya humas dalam pemerintahan dengan humas dalam instansi non pemerintahan memiliki kesamaan dalam hal pengorganisasian dan mekanisme bekerja. Tetapi tentu saja terdapat berbedaan diantara keduanya yaitu dari ruang lingkupnya. Meski begitu hal terpenting yang perlu diperhatikan ialah fungsi dan tercapainya tujuan humas sebagai penerapan konsep ilmu pengetahuan.
Keberadaan humas dalam organisasi pemerintah sangat penting sebagai penyampaian informasi atau kebijaksanaan dari pemerintah kepada publik. Hal ini dikarenakan sebagai lembaga pemerintah, instansi-instansi pemerintah memerlukan dukungan masyarakat untuk mendukung kebijaksanaan yang dibuat, selain itu dukungan itu diperlukan untuk mensukseskan program pemerintah karena tanpa dukungan maka penilaian orang tentang tindakan pemerintah dapat merugikan pemerintah. (Susanta dalam Ade Chusnul, 2003).
Keberadaan unit humas di sebuah instansi milik pemerintah merupakan suatu keharusan secara fungsional dan operasional dalam upaya menyebarluaskan atau mempublikasikan tentang suatu kegiatan atau aktivitas Instansi bersangkutan yang ditujukan baik untuk hubungan masyarakat ke dalam, maupun kepada masyarakat luar (Ruslan, 2012).
Humas Pemerintahan memiliki dua tugas yaitu: pertama, menyebarkan informasi secara teratur mengenai kebijaksanaan, perencanaan dan hasil yang telah dicapai; Kedua, menerangkan dan mendidik publik mengenai perundang- undangan dan hal-hal yang bersangkutan dengan kehidupan rakyat sehari-hari.
31 Selain itu adalah tugasnya pula menasehati pimpinan departemen dalam hubungannya dengan reaksi atau tanggapan publik terhadap kebijaksanaan yang dijalankan. (Effendy, 2002).
Selain membahas mengenai tugas humas pemerintah, Onong Uchjana Effendy mengemukakan dua tugas humas pemerintahan pusat dari Sam Black, yaitu: (1) Menyebarkan informasi secara teratur mengenai kebijaksanaan, perencanaan, dan hasil yang telah dicapai. (2) Menerangkan dan mendidik publik mengenai perundang-undangan, peraturan-peraturan, dan hal-hal yang bersangkutan dengan kehidupan rakyat sehari-hari. Sedangkan untuk humas pemerintahan daerah, Sam Black mengemukakan empat tujuan utama, yakni:
(1) Memelihara penduduk agar tahu jelas mengenai kebijaksanaan lembaga beserta kegiatannya sehari-hari. (2) Memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyatakan pandangannya mengenai proyek baru yang penting sebelum lembaga mengambil keputusan. (3) Memberikan penerangan kepada penduduk mengenai cara pelaksanaan sistem pemerintahan daerah dan mengenai hak-hak dan tanggungjawab mereka. (4) Mengembangkan rasa bangga sebagai warga Negara (Effendy, 2002).
Untuk mencapai tujuannya, humas pemerintah diharapkan dapat menjalankan fungsi-fungsinya. Fungsi-fungsi tersebut menurut Mordecai, antara lain: (1) mengimplementasikan kebijaksanaan publik, (2) membantu media dalam memberitakan pemerintah, (3) melaporkan pada publik mengenai aktivitas organisasi tersebut, (4) meningkatkan kebersamaan dalam organisasi,
32 (5) meningkatkan sensivitas organisasi terhadap publiknya, (6) memberikan dorongan kepada organisasi itu sendiri (Cutlip dkk, 2016).
Aktivitas humas pemerintahan banyak dicakup oleh istilah seperti urusan publik, informasi publik, dan komunikasi publik telah berkembang sebagai tanggapan politis dan administratif untuk mencapai bermacam-macam tujuan keorganisasian. Aktivitas itu adalah komponen utama sistem administratif, yang secara khusus dirancang untuk menjembatani jurang antara pemerintah yang merakyat dan yang demokratis (Cutlip dkk, 2016). Untuk dapat mencapai sasaran organisasi seefisien mungkin maka humas mengadakan kegiatan-kegiatan. Kegiatan humas pemerintah menurut Rachmadi adalah; (1) membina pengertian khalayak atas kebijakan instansinya, (2) menyelenggarakan dokumentasi mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan instansinya, (3) memonitor dan mengevaluasi tanggapan dan pendapat umum masyarakat dalam kegiatan ini, humas harus melakukan komunikasi dan membina hubungan baik dengan masyarakat, (4) mengumpulkan data dan informasi, (5) mengkoordinasikan lalu lintas informasi di dalam lingkungan instansinya, (6) mengatur penyelenggaraan konferensi pers, press tour, press interview dengan pimpinan. (Rachmadi, 1993 dalam Anggrahini dkk, 2008).
Kegiatan kehumasan yang disebutkan diatas merupakan praktek nyata dari berbagai tugas dan fungsi humas yang dijalankan baik di suatu perusahaan maupun di instansi/lembaga pemerintahan. Untuk menjalankan tugas humas
33 pemerintahan tersebut, hendaklah seorang humas pemerintahan harus memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. Mengamati dan mempelajari tentang hasrat, keinginan-keinginan dan aspirasi yang terdapat dalam masyarakat (Learning about public desires and aspiration).
b. Kegiatan memberikan nasehat atau sumbang saran untuk menanggapi apa sebaiknya dilakukan oleh instansi/lembaga pemerintahan seperti yang dikehendaki oleh pihak publiknya (Advising the publics about what is should desire).
c. Kemampuan untuk mengusahakan terjadinya hubungan memuaskan yang diperoleh antara hubungan publik dengan para aparat pemerintahan (Ensuring satisfactory contact between public and government official).
d. Memberikan penerangan dan informasi tentang apa yang telah diupayakan oleh suatu lembaga/instansi pemerintahan yang bersangkutan (Informing and about what an agency is doing). (Ruslan, 2012).
Humas pemerintah pada dasarnya tidak mempunyai sesuatu yang diperjual belikan, penggunaan teknik periklanan dan publisitas terbatas pada menyadarkan masyarakat atau khalayak akan hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan instansi bersangkutan. (Susanto dalam Ad e Chusnul, 2003).
Pendapat di atas menjelaskan bahwa adanya perbedaan antara humas yang terdapat pada organisasi pemerintah dengan humas pada lembaga non pemerintah. Humas pada lembaga pemerintah bertujuan menyampaikan informasi atau kebijaksanaan pemerintah kepada khalayak intern yaitu para
34 karyawan yang ada dalam instansi pemerintahan tersebut dan khalayak ekstern yaitu instansi-instansi lain serta masayarakat umum, sedangkan pada humas organisasi non pemerintah cenderung menjual produk yang ada dalam perusahaan tersebut (Anggrahini dkk, 2008).
3. Strategi
A. Strategi Humas
Strategi dapat diartikan sebagai serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi (Siagian, 2001 dalam Ratna, 2018). Secara umum strategi diartikan sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Strategi merupakan salah satu cara untuk membantu organisasi mengatasi lingkungan yang selalu berubah serta membantu organisasi untuk memecahkan masalah terpenting yang dihadapi (Bryson, 2001 dalam Ratna, 2018). Strategi adalah cara dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Strategi harus mampu membuat semua bagian dari suatu organisasi yang luas menjadi satu kesatuan untuk mencapai tujuan akhir (Gani dalam Jainuddin 2012). Menurut Bryson strategi dapat dipandang sebagai pola tujuan kebijakan, program tindakan keputusan atau alokasi sumber daya organisasi, bagaimana melakukannya, apa yang dilakukan dan mengapa organisasi melakukannya (Bryson, 2001 dalam Ratna, 2018).
35 Dapat dikatakan bahwa strategi merupakan suatu rencana yang disusun oleh manajemen puncak untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Rencana ini meliputi: tujuan, kebijakan, dan tindakan yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan atau organisasi. Rencana yang dibuat dalam mencapai suatu tujuan harus mencakup baik itu tujuan jangka pendek, tujuan jangka menengah, maupun tujuan jangka panjang. Adanya pemikiran strategis nantinya akan digunakan untuk memprediksikan atau mentukan tujuan masa depan yang diharapkan dapat menentukan kekuatan apa yang akan membantu atau menghalangi upaya organisasi dalam mengejar tujuan, dan merumuskan rencana untuk mencapai keadaan yang diharapkan tersebut (Cutlip dkk, 2016).
Fred R. David (2002) menjelaskan bahwa strategi juga melalui tahapan-tahapan dalam menjalani prosesnya, secara garis besar strategi melalui tiga tahapan yakni:
1. Perumusan strategi
Perumusan strategi merupakan tahapan pertama dalam strategi.
Dalam tahapan ini para pencipta, perumus, perkonsep, harus berfikir matang mengenai kesempatan dan ancaman dari luar perusahaan dan menetapkan kekuatan dan kekurangan dari dalam perusahaan, serta menentukan sasaran yang tepat, menghasilkan strategi cadangan dan memilih strategi yang akan dilaksanakan. Dalam perumusan strategi berusaha menemukan masalah-masalah di dalam perusahaan. Setelah
36 itu dilakukan analisis tentang langkah-langkah yang dapat diambil untuk keberhasilan menuju tujuan strategi tersebut.
Hal-hal yang termasuk dalam perumusan strategi adalah pengembangan tujuan, mengenai peluang dan ancaman eksternal, penetapan kekuatan dan kelemahan secara internal, menghasilkan strategi untuk dilaksanakan. Didalam merumuskannya di dalamnya ada mengembangkan tujuan, mengenali peluang dan ancaman eksternal, menetapkan kekuatan kelemahan internal, menetapkan suatu objektivitas, menghasilkan strategi juga ditentukan suatu sikap untuk menentukan, memperluas, menghindari atau melakukan suatu keputusan dalam proses kegiatan. strategi dapat dilihat dari dua prespektif yang berbeda: pertama dari perspektif mengenai apa yang hendak dilakukan oleh sebuah organisasi, dan kedua dari apakah tindakan sejak semula dimaksud tidak.
2. Implementasi Strategi
Implamentasi strategi atau disebut juga pelaksanaan strategi, karena implementasi berarti memobilisasi untuk mengubah strategi yang dirumuskan menjadi suatu tindakan. Kegiatan yang termasuk dalam implementasi strategi adalah pengembangan budaya yang mendukung strategi, menciptakan struktur yang efektif, mengubah arah, menyiapkan anggaran, mengembangkan dan memanfaatkan sistem informasi yang masuk agar tercapai kesuksesan strategi, maka dibutuhkan kedisiplinan, motivasi, dan kerja keras. Selain itu
37 implementasi strategi, adalah dimana tahapan pelaksanaan strategi yang telah ditetapkan. Pelaksanaan tersebut berupa penerapan atau aksi strategi.
Strategi yang dimaksudkan adalah strategi yang telah direncanakan pada tahap pertama yaitu perumusan strategi. Apabila kita telah merumuskan dan memilih strategi yang telah ditetapkan, langkah berikutnya adalah melaksanakan strategi yang telah ditetapkan tersebut. Dalam hal ini tahapan pelaksanaan strategi yang telah dipilih sangat membutuhkan komitmen dan kerja sama dari seluruh unit, tingkat, dan anggota organisasi. Karna apabila tidak tercipta suatu komitmen dan kerja sama dalam melaksanakan strategi, maka formulasinya dan analisis strategi hanya akan menjadi impian yang jauh dari kenyataan. Implementasi strategi bertumpu pada alokasi dan perorganisasian sumber daya yang akan ditampakkan melalui penetapan struktur organisasi dan mekanisme kepemimpinan yang dijalankan bersama budaya perusahaan dan organisasi.
3. Evaluasi Strategi
Tahap ketiga atau tahapan terakhir ini merupakan tahapan yang sangat diperlukan karena dalam tahapan ini keberhasilan yang telah dicapai dapat diukur kembali untuk penetapan tujuan selanjutnya. Evaluasi strategi adalah proses dimana manager membandingkan antara hasil- hasil yang diperoleh dengan tingkat pencapai tujuan. Tahap akhir dalam strategi adalah mengevaluasi strategi yang telah dirumuskan.
38 Evaluasi menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya maksudnya adalah tahap ini bisa terlihat bagaiamana strategi yang dijalankan atau yang dilaksanakan telah benar atau masih ada perbaikan.
Contohnya, dari strategi yang direncanakan awal belum tentu pada saat penerapan situasi serta kondisinya berjalan lancar dan beriringan atau sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Terkadang ada suatu kendala atau halangan yang menghambat meskipun tidak banyak. Tahap ketiga evaluasi implementasi strategi sangat diperlukan karena keberhasilan yang telah dicapai dapat diukur kembali untuk menetapkan tujuan berikutnya.
Evaluasi menjadi tolak ukur untuk strategi yang akan dilaksanakan kembali oleh suatu organisasi dan evaluasi sangat diperlukan untuk memastikan sasaran yang dinyatakan telah tercapai.
Ada tiga kegiatan mendasar untuk mengevaluasi strategi, yaitu
1. Meninjau faktor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi.
2. Mengukur prestasi (membandingkan hasil yang diharapkan dengan kenyataan).
3. Mengambil tindakan kreatif untuk memastikan bahwa prestasi sesuai dengan rencana (Kurnia, 2018).
Adapun strategi humas adalah alternatif optimal yang dipilih untuk ditempuh guna mencapai tujuan humas dalam kerangka suatu rencana humas (Ruslan, 2012). Kaitan humas dengan strategi adalah yang
39 menjalankan strategi dan mengaturnya bersama pimpinan adalah seorang praktisi PR. Karena sesuai fungsinya seorang praktisi PR mempunyai pekerjaan untuk mengawasi segala macam kegiatan, baik itu ke dalam maupun ke luar lembaga. Sehingga apabila lembaga tersebut memiliki permasalahan praktisi PR dari lembaga tersebut yang harus mengetahui terlebih dahulu, agar dapat menyusun strategi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Landasan umum dalam proses penyusunan strategi public relations, menurut Ahmad S. Adnanputra dalam makalah “PR Strategy”
(1990), yang berkaitan dengan fungsi-fungsi public relations / humas secara integral melekat pada manajemen suatu perusahaan / lembaga, yaitu sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi permasalahan yang muncul.
2. Mengidentifikasi unit-unit sasarannya.
3. Mengevaluasi mengenai pola dan kadar sikap tindak unit sebagai sasarannya.
4. Mengidentifikasi tentang struktur kekuasaan pada unit sasaran.
5. Pemilihan opsi atau unsur taktikal strategi public relations.
6. Mengidentifikasi dan evaluasi terhadap perubahan kebijaksanaan atau peraturan pemerintahan dan lain sebagainya.
7. Langkah terakhir adalah menjabarkan strategi public relations, dan taktik atau cara menerapkan langkah-langkah program yang telah
40 direncanaan, dilaksanakan, mengkomunikasikan, dan penilaian / evaluasi hasil kerja. (Ruslan, 2012)
Menurut Ruslan humas berfungsi menciptakan iklim yang kondusif dalam mengembangkan tanggung jawab serta parisipasi antar pejabat humas dan masyarakat (khalayak sebagai sasaran), fungsi tersebut diwujudkan dengan pendekatan atau strategi humas sebagai berikut:
1. Strategi Operasional
Melalui pelaksanaan program humas yang dilakukan dengan pendekatan kemasyarakatan (sociologi approach), melalui mekanisme sosial kultural dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dari opini publik atau kehendak masyarakat terekam pada setiap berita atau surat pembaca yang dimuat di media massa.
2. Pendekatan Persuasif dan Edukatif
Fungsi humas adalah menciptakan komunikasi dua arah (timbal balik) dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publiknya yang bersifat mendidik dan memberikan penerangan, maupun dengan melakukan pendekatan persuasif, agar tercipta saling pengertian.
3. Pendekatan Tanggung Jawab
Menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial bahwa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai tersebut bukan ditujukan untuk mengambil keuntungan sepihak dari publik sasarannya, namun untuk memperoleh keuntungan bersama.
4. Pendekatan kerjasama
41 Berupa membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan berbagai kalangan, baik hubungan ke dalam maupun keluar untuk menigkatkan kerja sama. (Ruslan, 2012)
Adapun tahap-tahap strategi humas dalam buku Effective Public Relations milik Scott M. Cutlip yang biasa digunakan dalam dunia public relations yakni:
1. Fact Finding
Langkah pertama yang sangat penting adalah pencarian data dan fakta yang mendukung program mengenai situasi, kondisi, pendapat publik, sikap, dan reaksi publik terhadap perusahaan. Berdasarkan data dan fakta yang diperoleh kemudian dianalisis hingga didapatkan interpretasi-interpretasi. Interpretasi ini akan berguna untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Selain itu pada tahap ini akan ditemukan apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat kegiatan dari perusahaan.
2. Planning
Apabila sudah diperoleh data dan fakta, pada tahap selanjutnya adalah perencanaan mengenai langkah-langkah, perumusan tujuan, hingga perincian waktu dan biaya yang harus dikeluarkan.
3. Actuating/Communicating
Pada tahap selanjutnya yaitu mengkomunikasikan atau pelaksanaan kegiatan yang telah disusun pada tahap sebelumnya. Pada tahapan ini perlu diperhatikan prinsip-prinsip proses komunikasi meliputi
42 kredibilitas, keterkaitan, kejelasan isi, saluran-saluran atau media, dan kemampuan khalayak dalam menerima kegiatan. Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan guna tercapainya tujuan yang ditetapkan.
4. Evaluating
Pada tahapan yang terakhir setelah melakukan serangkaian kegiatan komunikasi maka dipelukan suatu penilaian dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Pada tahapan ini sangat penting untuk dilakukan karena dapat memberikan suatu penilaian dari kegiatan untuk dilakukan perbaikan-perbaikan yang berguna juga untuk melaksanakan kegiatan pada masa mendatang (Cutlip dkk, 2016).
B. Strategi Humas Pemerintah
Menurut (Ruslan, 2012) peran taktis dan strategi kehumasan pemerintah menyangkut beberapa hal sebagai berikut:
1. Secara taktis dalam jangka pendek, humas/PR instansi pemerintah berupaya memberikan pesan-pesan atau informasi yang efektif kepada masyarakat sebagai khalayak sasaran nya. Kemampuan untuk melaksanakan komunikasi yang efektif, memotivasi dan memiliki pengaruh terhadap opini publik sebagai upaya “menyamakan persepsi” dengan tujuan dan maksud dari instansi/lembaga yang bersangkutan.
2. Secara strategi (jangka panjang) humas/PR instansi pemerintah berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan (decision making process), dalam memberikan sumbang saran, gagasan dan ide kreatif
43 serta cemerlang untuk menyukseskan program kerja lembaga bersangkutan, hingga mampu menunjang keberhasilan pembangunan nasional jangka panjang serta mendorong melalui kerjasama dan mendapat dukungan masyarakat.
Pelaksanaan strategi humas pemerintah dalam jangka pendek ataupun jangka panjang, sudah dilaksanakan oleh humas Kabupaten Boyolali dalam upaya mendorong kebijakan Boyolali Pro Investasi. Secara taktis (jangka pendek), humas Kabupaten Boyolali melakukan pendekatan kepada masyarakat Boyolali guna mensosialisasikan kebijakan Boyolali Pro Investasi. Adapun strategi jangka panjangnya, dalam memperkenalkan sekaligus mensosialisasikan kebijakan Boyolali Pro Investasi kepada para penanam modal, humas melakukan hubungan dengan menggunakan berbagai media. Humas menganggap bahwa dengan menggunakan media, informasi yang akan disampaikan dapat tersebar luas dalam satu waktu dan lebih efisien. Dalam hubungannya dengan media tersebut humas melakukan beberapa kegiatan diantaranya yaitu Press Conference, Press release, pemberitaan ditelevisi baik lokal maupun nasional, dan juga pemberitaan diradio-radio (Suprihatini, 2016).
Humas pemerintah harus mampu menyamakan persepsi dengan tujuan dan maksud dari instansi/lembaga yang bersangkutan, baik itu tujuan menciptakan, meningkatkan, mempertahankan sampai dengan mempengaruhi pendapat publik (opini publik), dan koordinasi yang baik dengan pihak internal maupun eksternal lembaga.
44 C. Unsur Strategi Komunikasi Humas
Dalam kegiatan humas, komunikasi memiliki peran yang sangat dominan. Kegiatan komunikasi secara efektif ditentukan dengan strategi komunikasi. Karenanya stategi komunikasi harus dapat menunjukan bagaimana operasionalnya secata taktis dilakukan.
Perlu diketahui, bahwa strategi dipengaruhi oleh unsur-unsur tertentu yang berkaitan dengan lingkungan, kondisi, visi atau arah, tujuan dan sasaran, dari suatu pola yang menjadi dasar budaya perusahaan bersangkutan;
1. Secara makro, lingkungan perusahaan/lembaga tersebut akan dipengaruhi oleh unsur-unsur kebijakan umum, budaya yang dianut, sistem perekonomian dan teknologi yang dikuasai oleh organisasi bersangkutan.
2. Secara mikro, tergantung dari misi perusahaan, sumber-sumber yang dimiliki (sumber daya manusia dan sumber daya guna lainnya yang dikuasai, sistem pengorganisasian, dan rencana atau program dalam jangka pendek atau panjang, serta tujuan dan sasarannya yang hendak dicapai (Sari, 2012).
Perkembangan profesionalisme humas yang berkaitan dengan pengembangan peran humas, baik secara praktisi maupun profesional dalam suatu organisasi atau perusahaan, merupakan salah satu kunci untuk
45 memahami fungsi humas dan komunikasi organisasi (Dorier, 1992 dalam Adeputra, 2014).
4. Covid-19
A. New Normal
Pada latar belakang telah dijelaskan sedikit mengenai new normal yang resmi diterapkan di Indonesia mulai 1 Juni 2020. Alasan utama new normal digaungan menjadi solusi di tengah pandemi Covid -19 yang kian meluas, dikarenakan perekonomian mulai terguncang sehingga membuat sejumlah negara harus mulai melonggarkan kebijakan terkait mobilitas warganya. Hal ini dikarenakan vaksin yang menjadi satu-satunya senjata untuk menghentikan penyebaran Covid-19 sampai saat ini masih diupayakan untuk disempurnakan pengembangannya oleh sejumlah ilmuwan dunia. Selama upaya tersebut belum membuahkan hasil atau belum mendapatkan hasil terbaik yang dapat disepakati untuk digunakan di seluruh dunia, satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga agar tidak tertular (Dewi, 2020). Prinsip utama yang perlu diperhatikan dari penerapan new normal, adalah menyesuaikan dengan pola hidup.
New normal adalah skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan
46 regional. New normal secara sederhana dapat diartikan sebagai perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal. Masyarakat akan terus menjalani kehidupan new normal hingga ditemukan vaksin yang dapat digunakan untuk menangkal virus Covid-19. New normal adalah kondisi di mana masyarakat harus berdamai dan hidup berdampingan dengan Covid-19 karena virus itu tak akan hilang. Lebih jelas lagi Jokowi menegaskan bahwa berdampingan bukan berarti menyerah, tetapi menyesuaikan diri dengan bahaya Covid-19 (Nurwigati, 2020).
Setiap negara yang hendak melakukan transisi, pelonggaran pembatasan, dan skenario new normal, WHO mengingatkan harus adanya perhatian pada hal-hal berikut ini:
1. Bukti yang menunjukkan bahwa transmisi Covid -19 dapat dikendalikan.
2. Kapasitas sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit tersedia untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak, dan mengkarantina.
3. Risiko virus corona diminimalkan dalam pengaturan kerentanan tinggi, terutama di panti jompo, fasilitas kesehatan mental, dan orang- orang yang tinggal di tempat-tempat ramai.
4. Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja ditetapkan dengan jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, dan kebersihan pernapasan.
5. Risiko kasus impor dapat dikelola.
47 6. Masyarakat memiliki suara dan dilibatkan dalam kehidupan new
normal (Putsanra, 2020b).
Negara yang bersiap atapun sudah menjalankan new normal seperti Indonesia, harus memperhatikan langkah-langkah inti kesehatan masyarakat agar terus diterapkan. Pendekatan seluruh pemerintah dan masyarakat sangatlah penting. Seluruh kalangan masyarakat harus tetap memerhatikan dan mengikuti aturan protokol kesehatan Covid -19. Saat ini cara terbaik untuk melawan Covid -19 adalah mengedepankan dan mewajibkan protokol kesehatan dengan ketat.
B. Protokol Kesehatan
Protokol kesehatan menjadi aturan yang disebutkan dalam implementasi new normal, yakni dengan jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, dan kebersihan pernapasan (menggunakan masker). Perlu adanya perubahan-perubahan seperti rajin mencuci tangan, rutin olahraga, menghindari berdekatan dengan orang atupun berkumpul.
Implementasi new normal diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi, Adapun sebagai berikut:
1. Perusahaan wajib membentuk Tim Penanganan Covid -19 di tempat kerja yang terdiri dari pimpinan, bagian kepegawaian, bagian K3 dan
48 petugas Kesehatan yang diperkuat dengan surat keputusan dari pimpinan tempat kerja.
2. Pimpinan atau pemberi kerja memberikan kebijakan dan prosedur untuk pekerja melaporkan setiap ada kasus dicurigai Covid -19 (gejala demam atau batuk/pilek/nyeri tenggorokan/sesak napas) untuk dilakukan pemantauan oleh petugas kesehatan.
3. Tidak memperlakukan kasus positif sebagai suatu stigma.
4. Pengaturan bekerja dari rumah (work from home) dengan menentukan pekerja esensial yang perlu tetap bekerja/datang ke tempat kerja dan pekerja yang dapat melakukan pekerjaan dari rumah.
5. Di pintu masuk tempat kerja lakukan pengukuran suhu dengan menggunakan thermogun, dan sebelum masuk kerja terapkan Self Assessment Risiko Covid-19 untuk memastikan pekerja yang akan masuk kerja dalam kondisi tidak terjangkit Covid -19.
6. Pengaturan waktu kerja tidak terlalu panjang (lembur) yang akan mengakibatkan pekerja kekurangan waktu untuk beristirahat yang dapat menyebabkan penurunan sistem kekebalan/imunitas tubuh.
7. Jika memungkinkan tiadakan shift 3 (waktu kerja yang dimulai pada malam hingga pagi hari). Bagi pekerja shift 3 atur agar yang bekerja, terutama pekerja berusia kurang dari 50 tahun.
8. Mewajibkan pekerja menggunakan masker sejak perjalanan dari/ke rumah, dan selama di tempat kerja.
49 9. Mengatur asupan nutrisi makanan yang diberikan oleh tempat kerja, pilih buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C seperti jeruk, jambu, dan sebagainya untuk membantu mempertahankan daya tahan tubuh. Jika memungkinkan pekerja dapat diberikan suplemen vitamin C.
10. Memastikan seluruh area kerja bersih dan higienis dengan melakukan pembersihan secara berkala menggunakan pembersih dan desinfektan yang sesuai (setiap 4 jam sekali). Terutama pegangan pintu dan tangga, tombol lift, peralatan kantor yang digunakan bersama, area dan fasilitas umum lainya.
11. Menjaga kualitas udara tempat kerja dengan mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk ruangan kerja, pembersihan filter AC.
12. Menyediakan hand sanitizer dengan konsentrasi alkohol minimal 70 persen di tempat-tempat yang diperlukan (seperti pintu masuk, ruang meeting, pintu lift, dll).
13. Menyediakan sarana cuci tangan (sabun dan air mengalir). Kemudian memberikan petunjuk lokasi sarana cuci tangan. Lalu memasang poster edukasi cara mencuci tangan yang benar.
14. Physical distancing dalam semua aktivitas kerja. Pengaturan jarak antar-pekerja minimal satu meter pada setiap aktivitas kerja (pengaturan meja kerja/workstation, pengaturan kursi saat di kantin, dll).
50 15. Mengampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) melalui Pola Hidup Sehat dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tempat kerja seperti makanan seimbang dan olahraga teratur.
16. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Mendorong pekerja mencuci tangan saat tiba di tempat kerja, sebelum makan, setelah kontak dengan pelanggan/pertemuan dengan orang lain, setelah dari kamar mandi, setelah memegang benda yang kemungkinan terkontaminasi.
17. Hindari penggunaan alat pribadi secara bersama seperti alat shalat, alat makan, dan lain lain (Idris, 2020).
Selain itu Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum.
Tempat dan fasilitas umum yang dimaksud dalam Keputusan Menteri Kesehatan tersebut antara lain pasar dan sejenisnya, mall/pertokoan dan sejenisnya, hotel/penginapan/homestay/asrama dan sejenisnya, rumah makan/restoran dan sejenisnya, sarana dan kegiatan olahraga, moda transportasi, stasiun/terminal/pelabuhan/bandar udara, lokasi daya tarik wisata, jasa perawatan kecantikan/rambut dan sejenisnya, jasa ekonomi kreatif, kegiatan keagamaan di rumah ibadah, jasa penyelenggaraan event/pertemuan.
51 Protokol kesehatan berlaku bagi siapa saja yang terlibat atau berada di tempat dan fasilitas umum. Prinsipnya protokol kesehatan di tempat dan fasilitas umum harus memuat perlindungan kesehatan individu seperti memakai masker, cuci tangan dengan sabun, jaga jarak fisik dengan orang lain, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Dalam penerapan protokol kesehatan harus melibatkan peran pihak-pihak yang terkait, termasuk aparat yang akan melakukan penertiban dan pengawasan. Protokol kesehatan yang telah dibuat harus terus disosialisasikan secara masif kepada masyarakat (Menkes RI, 2020).
5. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan peneliti dalam melakukan penelitian sehingga peneliti dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, peneliti tidak menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian peneliti. Namun peneliti mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperkaya bahan kajian pada penelitian. Berikut merupakan penelitian terdahulu berupa Skripsi terkait dengan penelitian yang dilakukan peneliti.
52 Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu Peneliti & Judul
Penelitian
Hasil Penelitian Perbedaan
Ismitaru Nurilla Sujianti, 2018 (Strategi Humas dalam
Meningkatkan Citra Positif DPRD Kota Malang
Studi pada Humas Sekretariat DPRD Kota Malang)
Hasil dari penelitian ini dapat diketahui tidak ada pembaruan strategi oleh humas sekretariat DPRD Kota Malang pasca kasus korupsi mantan ketua DPRD Kota Malang periode 2014- 2019. Selain itu, tidak ada tindakan mengelola manajemen krisis oleh humas sekretariat DPRD Kota Malang. Humas sekretariat DPRD Kota Malang hanya menggunakan strategi humas dalam bentuk open house maupun publikasi kinerja melalui media sosial.
penelitian Ismitaru Nurilla Sujianti mengkaji strategi humas dalam meningkatkan citra positif DPRD Kota Malang.
Sedangkan, pada penelitian peneliti mengkaji strategi humas Pemkab Lamongan dalam menginformasikan seputar Covid-19 di era new normal.