• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SIFAT-SIFAT ZAT MURNI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II SIFAT-SIFAT ZAT MURNI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 9

BAB II

SIFAT-SIFAT ZAT MURNI

ZAT MURNI (PURE SUBSTANCE)

Merupakan zat yang mempunyai komposisi kimia yang tetap (stabil), misalnya : air (water) , nitrogen, helium, dan CO .

2

Zat murni bisa terdiri dari satu elemen kimia (N

2

) maupun campuran (udara).Campuran dari beberapa fase zat murni adalah zat murni, contohnya campuran air dan uap air. Tetapi campuran dari udara cair dan gas bukan zat murn karena susunan kimianya berubah atau berbeda.

N

2

Zat murni Udara

Liquid Vapor

H

2

O

Bukan zat murni Liquid

Vapor Udara

FASE dari ZAT MURNI

Diidentifikasi berdasarkan susunan molekulnya.

• Solid (padat) : jarak antar molekul sangat dekat sehingga gaya tarik antar molekul sangat kuat, maka bentuknya tetap. Gaya tarik antara molekul- molekul cenderung untuk mempertahankannya pada jarak yang relatif konstan.Pada temperatur tinggi molekul melawan gaya antar molekul dan terpencar.

• Liquid (cair) : Susunan molekul mirip dengan zat padat , tetapi terhadap yang lain sudah tidak tetap lagi. Sekumpulan molekul akan mengambang

satu sama lain.

• Gas : Jarak antar molekul berjauhan dan susunannya acak. Molekul

bergerak secara acak.

(2)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 10

PERUBAHAN FASA dari ZAT MURNI

Semua zat murni mempunyai mempunyai kelakuan umum yang sama. Sebagai contoh air (water).

State 1 : Pada state ini disebut compressed liquid atau subcooled liquid. Pada state ini penambahan panas hanya akan menaikkan temperatur tetapi belum menyebabkan terjadi penguapan (not about to vaporize)

State 2 : Disebut saturated liquid (cairan jenuh). Pada state ini fluida tepat akan berubah fasenya. Penambahan panas sedikit saja akan menyebabkan terjadi penguapan (about to vaporize). Akan mengalami sedikit penambahan volume.

State 3 : Disebut “Saturated liquid - vapor mixture” (campuran uap - cairan jenuh). Pada keadaan ini uap dan cairan jenuh berada dalam kesetimbangan. Penambahan panas tidak akan menaikkan temperatur tetapi hanya menambah jumlah penguapan.

State 4 : Campuran tepat berubah jadi uap seluruhnya, disebut

“saturated vapor” (uap jenuh). Pada keadaan ini pengurangan panas akan menyebabkan terjadi pengembunan (“about to condense”).

State 5 : Disebut “superheated vapor” (uap panas lanjut).

Penambahan panas akan menyebabkan kenaikkan suhu dan volume..

Gambar 2.1 Pemanasan Air

pada tekanan konstan

(3)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 11

Proses-proses tersebut di atas dapat digambarkan dalam diagram T - v. Diagram ini menggambarkan perubahan-perubahan temperatur dan volume jenis.

Gambar 2.2 Diagram T-v proses perubahan fase air pada tekanan konstan Proses 1-2-3-4-5 adalah pemanasan pada tekanan konstan

Proses 5-4-3-2-1 adalah pendinginan pada tekanan konstan .

PROPERTY DIAGRAM ( DIAGRAM SIFAT) Diagram T - v

Gambar 2.3 Diagram T- v perubahan fase zat murni (air) pada

berbagai variasi tekanan

(4)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 12

Dari gambar 2.3 dapat dilihat bahwa semakin tinggi tekanan air maka semakin tinggi pula titik didihnya. T

sat

merupakan fungsi dari P

sat

,(T

sat

= f P

sat

)

T

sat

= Saturation temperature , temperatur saat zat murni berubah phase pada tekanan tertentu.

P

sat

= Saturation pressure , tekanan saat zat murni berubah phase pada temperatur tertentu.

Garis yang menghubungkan keadaan cair jenuh dan uap jenuh akan semakin pendek jika tekanannya makin besar. Pada tekanan tertentu (22,09 MPa) keadaan cair jenuh dan uap jenuh berada pada satu titik. Titik ini disebut titik kritis (critical point). Untuk air (water) : T = 374,14

cr o

C ; P = 22,09 MPa. ; v

cr cr

= 0,003155 m

3

/kg. Jika titik-titik pada keadaan cair jenuh dihubungkan maka diperoleh garis cair jenuh. Jika titik-titik pada keadaan uap jenuh dihubungkan maka diperoleh garis uap jenuh. Kedua garis ini bertemu di titik kritis.

Gambar 2.4 Diagram T- v zat murni

Di atas titik tekanan kritis proses perubahan dari cair menjadi uap tidak lagi

terlihat jelas/nyata. Terjadi perubahan secara spontan dari cair menjadi uap.

(5)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 13

Diagram P - v

Gambar 2.5 Diagram P- v zat murni

Bentuk dari diagram P-v mirip dengan diagram T- v. Pada diagram P-v garis temperatur konstan mempunyai trend menurun sedangkan pada diagram T-v garis tekanan konstan mempunyai trend menaik.

Diagram P - v dan P-T fase padat, cair dan gas Mengecil sewaktu membeku

Kebanyakan zat murni akan menyusut saat membeku.

Gambar 2.6 Diagram P- v zat murni yang menyusut saat membeku

(6)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 14

Mengembang sewaktu membeku

Gambar 2.7 Diagram P- v zat murni yang mengembang saat membeku (contohnya adalah air)

Pada kondisi tertentu fase padat, cair dan gas berada dalam kesetimbangan. Pada diagram P-v dan T-v keadaan ini akan membentuk suatu garis yang disebut Triple line. Dalam diagram P-T keadaan ini nampak sebagai suatu titik dan disebut Triple point. Triple point air adalah T = 0,01

TR o

C dan P

TR

= 0,06113 kPa.

Gambar 2.8 Diagram P- T zat murni (diagram fase)

(7)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 15

Diagram P-T sering disebut sebagai diagram fase karena dalam diagram P- T, antar tiga fase dipisahkan secara jelas, masing-masing dengan sebuah garis.

Ketiga garis bertemu di triple point. Garis penguapan (vaporisation) berakhir di titik kritis karena tidak ada batas yang jelas antara fase cair dan fase uap. Tidak ada zat yang berada pada fase cair jika tekanannya berada di bawah tekanan Triple point. Ada dua cara zat padat berubah menjadi uap Pertama melalui proses mencair kemudian menguap dan kedua fase padat berubah langsung menjadi fase gas (disebut menyublim). Menyublim hanya dapat terjadi pada tekanan di bawah tekanan Triple point.

Diagram P - v - T

a. Menyusut saat membeku b. Mengembang saat membeku Gambar 2.8 Diagram P- T zat murni (diagram fase)

PROPERTY TABEL (TABEL SIFAT-SIFAT THERMODINAMIKA) Sebagai contoh akan dibahas tabel air (water), untuk zat yang lain analog.

Tabel jenuh air (saturated water table) :

Pada proses perubahan fase temperatur dan tekanan merupakan variabel yang

saling tergantung (dependent variable). Oleh karena itu disusun dua tabel yaitu

tabel dengan temperatur sebagai variable bebas dan tabel dengan tekanan sebagai

variabel bebas.

(8)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 16

Tabel Temperatur

Tabel Tekanan

(9)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 17

Volume jenis untuk fase cair jenuh

Volume jenis untuk fase uap jenuh indeks f = fluid : cairan jenuh ( v

f

, u h

f , f

, s

f

)

g = gas : uap jenuh (v

g

, u h

g , g

, s

g

)

fg = fluid - gas : selisih antara harga uap jenuh dan cairan jenuh ( v

fg

= v - v

g f

; u

fg

= u - u ;

g f

h

fg

= h - h ;

g f

s

fg

= s - s )

g f

h

fg

= entalpi penguapan(latent heat of vaporisation) yaitu jumlah energi yang diperlukan untuk menguapkan satu satuan massa cairan pada suatu temperatur dan tekanan tertentu. Jika tekanan dan temperatur bertambah maka h

fg

akan berkurang, dan pada titik kritik harganya nol ( h

fg

= 0 ). Enthalpy merupakan gabungan antara energi dalam, tekanan dan volume.

H = U + P V atau h = u + P v

Campuran uap dan cairan jenuh (saturated liquid vapor mixture)

Pada proses penguapan zat cair dan uap berada pada kesetimbangan atau zat berada pada fase cair dan fase uap secara bersama-sama. Untuk melakukan analisa pada fase ini dimunculkan suatu besaran yang disebut kualitas uap (fraksi uap).

total vapor

m

= m X

X = kualitas uap (quality)

(10)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 18

Gambar 2.9 Campuran cair jenuh dan uap m

total

= m + m

liq vapor

= m + m

f g

m = massa ; liq = cair ; vapor = uap

g g g f f f av

g f

.v m V

; .v m V ; v m V

V V V

=

=

= +

=

m .v m m

.v v m

.v m .v m v m

g f g

f av

g g f f av

+

=

+

=

X 1

m 1 m

m m - m m m

g f g

=

=

=

( )

v X v

v v X v

v X v ) X 1 ( v

fg f

f g f

g f

av

+

=

− +

=

+

=

Sifat-sifat termodinamika suatu campuran cair jenuh dan uap dengan kualitas X : u = u = u + X u

av f fg

h = h = h + X h

av f fg

s = s = s + X s

av f fg

secara umum y = y + X y

f fg

(11)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 19

Gambar 2.10 Kualitas (fraksi) uap Fraksi uap dapat dinyatakan

fg f

y y - X y =

Superheated vapor (uap panas lanjut)

Daerah di sebelah kanan garis uap jenuh.

(12)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 20

Compressed liquid

Daerah di sebelah kiri garis cair jenuh.

Apabila tabel Compressed liquid tidak dijumpai maka nilai properti didekati sebagai properti pada keadaan cair jenuh berdasarkan temperatur y ≈ y

f @ T

Atau untuk entalpi didekati dengan

Tabel Karakteristik tiap fase Given Compressed

liquid

Saturated liquid

Liquid - vapor mixture

Saturated vapor

superheated vapor T P > P

sat

P = P

sat

P = P

sat

P = P

sat

P < P

sat

P T < T

sat

T = T

sat

T = T

sat

T = T

sat

T > T

sat

P, T v < v

f

v = v

f

v < v <v

f g

v = v

g

v > v

g

P, T u < u

f

u = u

f

u < u <u

f g

u = u

g

u > u

g

P, T h < h

f

h = h

f

h < h <h

f g

h = h

g

h > h

g

P, T s < s

f

s = s

f

s < s <s

f g

s = s

g

s > s

g

Cara Menggunakan Tabel

Untuk membaca nilai properti gunakan tabel sesuai fasenya. Fase suatu zat

ditentukan dengan cara membandingkan properti yang diketahui dengan properti

pada keadaan jenuh (lihat karakteristik tiap fase).

(13)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 21

PERSAMAAN GAS IDEAL

Persamaan keadaan (equation of state) : persamaan yang menghubungkan tekanan, temperatur dan volume jenis suatu zat.

• fase uap suatu zat disebut gas jika berada di atas temperatur kritis.

• vapor (uap) : gas yang tidak jauh dari keadaan kondensasi 1

• Robert Boyle (Inggris, 1662) : P ~ v

T

• J. Charles dan J. Gay Lussac (Perancis 1810) : P = R v P v = R T ⇒ Persamaan gas ideal

P = Tekanan absolut : Tekanan terukur + tekanan atmosfir T = Temperatur absolut ( K atau R)

v = Volume jenis

R = konstante gas : udara R = 287 J/(kg K)

helium R = 2077 J/(kg K)

argon R = 208 J/(kg K)

nitrogen R = 296 J/(kg K)

M R = R

U

R

U

= konstanta gas umum = 8,314 kJ/(k mol K)

= 1,986 Btu/(lb mol R)

M = molar mass (berat molekul)

massa sistem : m = M N ; N = jumlah molekul

V = m v ⇒ P V = m R T

m R = M N R = N R

U

⇒ P V = N R

U

T

V = N v ⇒ P v = R

U

T

v = volume jenis molekul ( volume tiap satuan mole ) Untuk fixed mass system :

P V T

P V T

1 1 1

2 21 2

= = m R

(14)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 22

Gambar 2.11 Penyimpangan nilai volume jenis dengan asumsi steam sebagai gas ideal dibanding tabel

100%

x

tabel ideal tabel

v v error v

Percent = −

Pada tekanan rendah dan temperatur tinggi gas dapat dianggap sebagai gas ideal.

Awas :

Uap air bukan gas ideal. Untuk uap air jangan gunakan persamaan gas ideal.

Di sekitar garis uap jenuh kesalahan besar.

FAKTOR KOMPRESIBILITAS (Z)

Merupakan tolok ukur penyimpangan terhadap sifat gas ideal.

(15)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 23

CR R

CR R ideal

ideal actual

T

= T T duksi) (suhu tere e

Temperatur Reduced

*

P

= P P ereduksi) (tekanan t

Pressure Reduced

*

: kunci

P

= RT v

; v

v

= Z

T R Z

= v

T R

v

= P

Variable P Z

Z untuk semua gas sama pada P dan T

R R

yang sama ( “Principle of corresponding states)

Catatan :

1. P << 1 (regardless temperatur) : mendekati gas ideal

R

2. Temperatur tinggi ( T

R

> 2 ) : mempunyai ketelitian yang baik tanpa memperhatikan tekanannya, kecuali untuk P >> 1.

R

3. Deviasi dari gas ideal akan semakin besar bila dekat dengan titik kritis.

Gambar 2.12 Perbandingan nilai-nilai Z dari berbagai gas

(16)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 24

PERSAMAAN KEADAAN YANG LAIN 1. Persamaan Van Der Waals (1873)

( )

gas.

molekul ditempati

yang ruang olume pengaruh v

= b

molekul.

antar gaya - gaya pengaruh

=

P 8

T R

= b

P 64

T R 27

= a

T R

= b v v

+ a P

2

CR CR

CR CR2 2 2

v a

⎟ −

⎜ ⎞

2. Persamaan Beeattie - Bridgeman (1928)

Disusun dari grafik yang diperoleh dari data eksperimen

3 o o

2 2

U

T v

= c

v ) - b (1 B

=

v ) - a (1 A

=

v - A B) + v v (

) - (1 T

= R

ε

ε

B A P

Persamaan Beattie - Bridgeman digunakan untuk massa jenis kurang dari massa jenis pada titik kritis. Untuk massa jenis yang lebih besar dapat digunakan persamaan Benedict - Webb - Rubin .

3. Persamaan Benedict - Webb - Rubin (1940)

e

2

v 1

c

1

= R

2 2 3

6 3

2 2 U

v

U o

o U o

v T

v a v

T bR T v

A C T R B v

P T

γ

γ

α α

⎟⎟ ⎠

⎜⎜ ⎞

⎛ +

+

− + +

⎟ ⎠

⎜ ⎞

⎛ − −

+

(17)

Yosef Agung Cahyanta : Termodinamika I 25

Gambar 2.14 Penyimpangan nilai volume jenis Nitrogen dengan menggunakan persamaan dibanding tabel

100%

x

tabel persamaan tabel

v v error v

Percent

=

.

Referensi

Dokumen terkait

Proses 2 - 3 : adalah perpindahan kalor ke udara pada volume konstan yang diambil dari sumber luar ketika piston berada pada TMA..

• Untuk perhitungan pindah panas pada pemanasan/pendinginan bahan pangan secara komersial, ketelitian &gt; 2-5% jarang digunakan karena kesalahan dalam penentuan kondisi seperti

panas dari kondensor ke lingkungan. Proses 3-4 : Ekspansi yang berlangsung pada entalpi konstan. Proses 4-1 : Evaporasi refrigeran pada tekanan dan suhu tetap.. Semakin tinggi COP

Proses ekspansi isentropik terjadi dari kondisi 3 ke 4 untuk menghasilkan energi yang digunakan untuk menggerakkan kompresor ( menaikkan tekanan dari 1 ke 2) dan energi

Perlakuan panas (heat treatment) merupakan kombinasi suatu proses pemanasan dan pendinginan yang dilakukan secara terkontrol yang diterapkan pada logam tertentu

Pada prinsipnya mesin pengondisian udara adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk proses pendinginan atau pemanasan dengan cara memindahkan sejumlah panas/kalor dari

Proses adsorpsi menghasilkan efek pendinginan yang terjadi pada botol labu yang kedua, dimana pada tekanan rendah panas dari lingkungan diserap untuk menguapkan adsorbat

Proses ini dapat diartikan sebagai pemanasan dan mempertahankan pemanasan pada suhu yang sesuai diatas batas perubahan diikuti dengan pendinginan secara bebas di dalam