• Tidak ada hasil yang ditemukan

STIKES NGUDI WALUYO ARTIKEL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STIKES NGUDI WALUYO ARTIKEL"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

STIKES NGUDI WALUYO

ARTIKEL

PERBEDAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT BERDASAR PROGRAM USAHA KESEHATAN SEKOLAH

DI SD NEGERI WILAYAH KECAMATAN PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG

Disusun Oleh Rofiyati NIM : 010112A089

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO UNGARAN

2016

(2)

PERBEDAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT BERDASAR PROGRAM USAHA KESEHATAN SEKOLAH DI SD NEGERI

WILAYAH KECEMATAN PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG

Rofiyati*) Raharjo Apriyatmoko **) Suwanti **) STIKES NGUDI WALUYO

2016

*) Mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES NGUDI WALUYO

**) Dosen Program Studi Keperawatan STIKES NGUDI WALUYO ABTRAK

Latar Belakang: Penerapan kebutuhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sangat penting di sekolah seiring banyaknya penyakit pada anak sekolah dari 8 indikator PHBS tingkat sekolah yaitu: diare, keracunan makanan, sakit gigi, gizi buruk, obesitas, demam berdarah, batuk dan sebagainya yang tidak lain berkaitan dengan PHBS itu sendiri. Pendidikan kesehatan yang diberikan sejak dini yakni dengan adanya Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) akan membentuk kesadaran untuk berperilaku sehat sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Berdasar Program Usaha Kesehatan Sekolah di SD Negeri Wilayah Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang

Metode: Jenis penelitian ini adalah survey dengan metode penelitian comparative study. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa-siswi kelas 3,4 dan 5 di SD Negeri Wonoyoso dan Penawangan 2 yang berjumlah 130 siswa sebagai sampel dari jumlah populasi 164 siswa. Analisa data dilakukan dengan kuesioner analisaa data dengan analisa univariat dan bivariat dengan uji Chi- square.

Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang sekolah dengan program UKS tidak baik sebagian besar memiliki PHBS yang kurang yaitu sejumlah 28 siswa (44,4%). Sedangkan siswa yang sekolah dengan program UKS baik sebagian besar memiliki PHBS yang baik sejumlah 42 siswa (62,7%). Berdasarkan hasil p-value 0,000<α (0,05), maka Ho ditolak,

Simpulan: Ada perbedaan yang signifikan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Berdasar Program Usaha Kesehatan Sekolah di SD Negeri Wilayah Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang.

Saran: Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan perhatian masyarakat luas dan institusi pendidikan lainya agar memperhatikan PHBS pada anak usia sekolah

Kata Kunci : Usaha Kesehatan Sekolah, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Kepustakaan : 51 pustaka (2000-2013)

ABSTRACT

Background: Application of needs of clean and healthy behaviors (PHBS) is very important in school.

Many diseases in school are seen from 8 indicators of PHBS such as diarrhea, food poisoning, toothache, poor nutrition, obesity, dengue fever, cough, etc. PHBS in school age children have to be upgraded with school health program (UKS) that can establish awareness for healthy behaviors in early age. The purpose of this study is to know the difference between clean and healthy behaviors (PHBS) based on school health program (UKS) at Elementary Schoool at The Region Of Pringapus Semarang Regency

Method: The method of this study was comparative study. Population used in this study was 164 students from third until five grade students at Elementary Schoool a Wonoyoso and Penawangan 2 with 130 samples. Data analysies used univariat and bivariat with chi-square test.

Results: The result of this study showed that students studying at school wite less good health program (UKS) did not have good PHBS who were 28 students (44,4%), while the students with good school health program (UKS) had good PHBS who were 42 students (62,7%). Based on p-value result 0,000<α (0,05), then

Conclusion: there is a signifikan difference of clean and healthy behaviors (PHBS) based on school health program (UKS) at Elementary Schoool at The Region Of Pringapus Semarang Regency

Suggestion: The results of this study are expected to be attract public attention and other educational institutions to give PHBS to school age children.

Key word : Clean and Healthy Behaviors (PHBS), School Health Program (UKS) References : 51 (2000-2013)

(3)

PENDAHULUAN

Anak sekolah merupakan generasi penerus bangsa yang perlu dijaga kesehatanya, sehingga anak sekolah berpotensi besar sebagai agen perubahan untuk mempromosikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Sekolah juga diharapkan berperan aktif dalam upaya pemberdayaan perilaku hidup sehat baik untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Berdasarkan Depkes RI (2010) jumlah usia sekolah sebesar 73 juta orang (30%) dari penduduk Indonesia, dengan jumlah sebesar ini maka masalah kesehatan yang dihadapi anak usia sekolah tentu sangat kompleks dan bervariasi.

Menurut WHO (World Health Organization) (2000), masalah kesehatan yang paling banyak terjadi pada usia sekolah dari 8 indikator PHBS adalah diare, penyakit gigi, keracunan makanan, obesitas, Demam Berdarah, batuk dll.

Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, anggota guru dan anggota dokter kecil di SD yang memiliki UKS, pelaksanaan pendidikan kesehatan tergolong cukup, pelaksanaan pelayanan kesehatan tergolong cukup, dan pelaksanaan pembinaan lingkungan sekolah tergolong cukup. Dari 8 indikator PHBS di SD Negeri Wonoyoso masih terdapat siswa yang makan kadang- kadang tidak mencuci tangan pakai sabun dan air yang mengalir, ada juga siswa yang masih jajan sembarangan diluar sekolah padahal sudah disediakan kantin sekolah bagi siswa.

Sedangkan hasil wawancara dengan kepala sekolah di SD Negeri Penawangan 2 Kepala Sekolah mengatakan sudah mempunyai UKS tetapi belum berjalan dengan baik. Guru dan siswa kurang memperhatikan tentang kesehatan sekolah seperti pemeliharaan kesehatan dasar dan kebersihan lingkungan sekolah.

Walaupun di SD Negeri Penawangan 2 UKS belum terlaksana dengan baik, namun disini

terlihat ada 1 indikator PHBS pada siswa di SD Negeri Penawangan 2 siswa membuang sampah pada tempatnya.

Berdasarkan data diatas bahwa murid- murid di sekolah yang memiliki dan tidak memiliki UKS yang baik sama-sama terpapar dengan lingkungan yang kurang sehat.

Diluar gedung sekolah terdapat banyak pedagang makanan dengan berbagai jajanan yang telah terpapar debu jalanan, banyak sampah yang berserakan di tempat penampungan sampah sementara, jumlah jamban yang tersedia tidak memenuhi syarat kesehatan. Terpapar dengan lingkungan yang hampir sama namun dengan adanya program UKS di sekolah yang memiliki UKS baik murid diharapkan memiliki perilaku kesehatan yang lebih daripada murid yang bersekolah di sekolah yang memiliki UKS tidak baik.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dapat diidentifikasikan permasalahan terkait dengan kurangnya kesadaran siswa tentang pola hidup bersih & sehat dan apakah kegiatan UKS yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Sekolah sudah berjalan dengan efektif.

Maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: “ Adakah Perbedaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Berdasar Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SD Negeri Wilayah Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang”.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum: Mengetahui Perbedaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Berdasar Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SD Negeri Wilayah Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang.

METODE PENELITIAN Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survey

menggunakan pendekatan kuantitatif dengan

(4)

menggunakan desain penelitian deskriptif (Comparative Study) (Notoatmodjo, 2010).

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di SD Negeri Wonoyoso (UKS baik) dan di SD Negeri Penawangan 2 (UKS tidak baik) pada Tanggal 03-04 Agustus 2016.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah di SD Negeri Wonoyoso dan SD Negeri Penawangan 2 Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang sebanyak 164.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengambilan sampel dengan purposive sampling. jumlah sampel yang dihitung dengan menggunakan rumus Slovin.

Analisa bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi-square untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel melalui program computer dengan nilai α (0,05).

Intrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesiner untuk variabel UKS dengan 62 item soal dan PHBS 21 item soal.

HASIL PENELITIAN A. Karakteristik responden

1. Distribusi frekuensi berdasarkan kelas responden pada Siswa di Sekolah Yang Memiliki Program UKS Baik (SD Negeri Wonoyoso)

a. Karakteristik Responden Berdasarkan Kelas

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi berdasarkan kelas pada siswa di SD Negeri Wonoyoso (n=67)

Kelas Frekuensi Persentase (%) 3

4 5

21 21 25

31,3 31,3 37,3

Jumlah 67 100,0

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden yang

yang baik adalah siswa yang duduk di kelas 5 sebanyak 25 siswa (37,3%), kelas 4 sejumlah 21 siswa (31,35%) dan yang duduk di kelas 3 sejumlah 21 siswa (31,3%).

b. Karakteristik Responden Berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin pada siswa di SD Negeri Wonoyoso (UKS baik)

PHBS Frekuensi Persentase (%) Laki-Laki

Perempuan

25 42

37,3 62,7

Jumlah 67 100,0

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa responden yang paling banyak pada program UKS yang baik adalah siswa yang berjenis kelamin perempuan sejumlah 42 siswa (62,7%) dan untuk responden yang laki-laki sejumlah 25 siswa (37,3%).

2. Distribusi frekuensi berdasarkan kelas responden pada Siswa di Sekolah Yang Memiliki Program UKS Tidak Baik (SD Negeri Penawangan 2)

a. Karakteristik Responden Berdasarkan Kelas.

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi berdasarkan kelas pada siswa di SD Negeri Penawangan 2

Kelas Frekuensi Persentase (%) 3

4 5

22 20 21

34,9 31,7 33,3

Jumlah 63 100,0

Berdasarkan tabel 4.3

menunjukkan bahwa responden

yang paling banyak pada progam

UKS yang tidak baik adalah siswa

(5)

yang duduk di kelas 3 sebanyak 22 siswa (34,9%), untuk kelas 4 sebanyak 20 siswa (31,7%) dan kelas 5 sejumlah 21 siswa (33,3%).

b. Karakteristik Responden Berdasarkan jenis kelamin

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin pada siswa di SD Negeri Penawangan 2 (UKS tidak baik)

PHBS Frekuensi Persentase (%) Laki-Laki

Perempuan

28 35

34,4 55,6

Jumlah 63 100,0

Berdasarkan tabel 4.5 bahwa responden yang paling banyak pada program UKS yang tidak baik adalah siswa yang berjenis kelamin perempuan sejumlah 35 siswa (55,6%) dan yang berjenis kelamin laki-laki sejumlah 28 siswa (34%).

B. Analisis Univariat

1. PHBS pada Siswa di Sekolah Yang Memiliki Program UKS Baik

Distribusi Frekuensi Berdasarkan PHBS pada Siswa di Sekolah Yang Memiliki Program UKS Baik (SD Negeri Wonoyoso)

Tabel 4.5 Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di SD Negeri Wonoyoso (n=67)

PHBS Frekuensi Persentase (%) Kurang

Cukup Baik

10 15 42

14,9 22,4 62,7

Jumlah 67 100,0

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada siswa di sekolah yang memiliki program UKS baik, sebagian besar dalam kategori

baik sebanyak 42 siswa (62,7%), untuk kategori cukup sebesar 15 siswa (22,4%) dan dalam kategori kurang sebanyak 10 siswa (14,9%).

2. PHBS pada Siswa di Sekolah Yang Memiliki Program UKS Tidak Baik Distribusi Frekuensi Berdasarkan PHBS pada Siswa di Sekolah Yang Memiliki Program UKS Tidak Baik (SD Negeri Penawangan 2)

Tabel 4.6 Berdasarkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di SD Negeri Penawangan (UKS tidak baik) (n=63)

PHBS Frekuensi Persentase (%) Kurang

Cukup Baik

28 22 13

44,4 34,9 20,6

Jumlah 63 100,0

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada siswa di sekolah yang memiliki program UKS tidak baik, hampir separuhnya dalam kategori kurang, yaitu sejumlah 28 orang (44,4%). Yang diikuti PHBS kategori cukup sebanyak 22 siswa (34,9%) da untuk kategori baik sejumlah 13 siswa (20,6%).

C. Analisis Bivariat

Pada analisis bivariat disajikan hasil analisis perbedaan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) berdasarkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SD Negeri Wilayah Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang. Untuk menganalisis perbedaan ini digunakan uji Chi Square, yang mana hasilnya disajikan berikut ini.

Tabel 4.7 Perbedaan antara Perilaku

Hidup Bersih dan Sehat

(PHBS) berdasarkan Program

Usaha Kesehatan Sekolah

(6)

(UKS) di SD Negeri Wilayah Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang

Program UKS

PHBS

Total 2 p- value Kurang Cukup Baik

f % f % f % f % Tidak Baik

Baik 28 10

44,4 14,9

22 15

34,9 22,4

13 42

20,6 62,7

63 67

100 100

25,04 0,000 Total 38 29,2 37 28,5 55 42,3 130 100

Hasil tabulasi silang sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.3 diketahui bahwa siswa yang sekolah dengan program UKS tidak baik, sebagian besar memiliki PHBS yang kurang, sejumlah 28 siswa (44,4%). Sedangkan, siswa yang sekolah dengan program UKS baik, sebagian besar memiliki PHBS yang baik, sejumlah 42 siswa (62,7%).

Hasil uji Chi Square diperoleh nilai Chi Square 25,042 dengan p-value 0,000. Oleh karena p-value 0,000 < α (0,05), maka disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) berdasarkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SD Negeri Wilayah Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian berdasarkan tabel 4.3 dapat menunjukkan bahwa perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa di sekolah yang memiliki program UKS baik, dalam kategori baik sejumlah 42 siswa (62,7%), dalam kategori cukup sejumlah 15 siswa (22,4%), dan dalam kategori kurang sejumlah 10 siswa (14,9%). Ini menunjukkan bahwa perilaku hidup bersih siswa di SD Negeri Wonoyoso yang memiliki program UKS baik, sebagian besar dalam kategori baik.

Dari hasil jawaban responden dengan kuesioner 21 soal di SD Negeri

18 siswa dari 67 siswa tidak pernah mengikuti olahraga dan juga ada 18 siswa dari 67 siswa tidak ikut membersihkan kaleng-kaleng yang dapat terisi air pada waktu musim hujan ataupun kerja bakti yang diadakan oleh SD Negeri Wonoyoso hal itu yang menyebabkan presentase dari hasil penelitian lebih rendah/ kecil dari pada penelitian sebelumnya oleh Waluyo 2012 Di dalam penelitiaan sebelumnya yaitu Waluyo (2012) dalam penelitianya menunjukkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang memiliki UKS baik sebesar 70% siswa. Sedangkan penelitian di SD Negeri Wonoyoso Kecamatan Pringapus yang program UKS nya juga baik hanya mendapatkan 62,7% siswa, berarti di SD dalam penelitiaan ini Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tergolong lebih rendah/kecil dibandingkan PHBS pada penelitian sebelumnya. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi di SD Wonoyoso mendapatkan presentase labih kecil daripada penelitian sebelumnya kemungkinan dikarenakan faktor kemungkinan pendukung dari lingkungan, sosial, budaya maupun dari kesadaran peran orang tua siswa akan pentingnya Perilaku hidup Bersih dan Sehat yang masih kurang yaitu kebiasaan siswa yang masih jajan sembarangan pada saat pulang sekolah walaupun sudah tersedianya kantin siswa hal itu terbukti dari hasil penelitian pada soal nomor 7 yaitu kebiasaan jajan sembarangan sejumlah siswa 45 dari 67, siswa kadang-kadang membeli makanan sembarangan tidak dikantin atau membawa bekal dari rumah.

Kebiasaan/kesadaran orang tua yang

yang tiin sekolah tidak mencegah suatu

penyakit tetapi kebanyakan memilih

untuk mengobati suatu penyakit yang

(7)

sudah terjadi dan parah baru di tindak lanjuti.

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa di sekolah yang memiliki program UKS tidak baik, sebagian besar dalam kategori kurang, yaitu sejumlah 28 orang (44,4%). Dari hasil jawaban responden di SD Negeri Penawangan walaupun tidak mempunyai UKS baik tetapi ada 39 siswa dari 63 siswa di SD Negeri Penawangan 2 mencuci tangan sebelum makan dan juga 28 siswa dari 63 siswa mencuci tangan setelah buah air besar dan buang air kecil pada saat disekolah maupun dirumah

Hasil tabulasi silang sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.3 diketahui bahwa siswa yang sekolah dengan program UKS tidak baik, sebagian besar memiliki PHBS yang kurang, sejumlah 28 siswa (44,4%). Hal ini karena sekolah yang tidak mempunyai UKS baik tentu kurang dalam hal sarana dan prasarana yang menunjang PHBS siswa, yang mana perilaku akan terjadi jika ada fasilitas yang mendukung. Tidak ada fasilitas seperti: tempat cuci tangan dan kantin akan menyebabkan perilaku hidup bersih dan sehat tidak bisa dilaksanakan dengan baik.

Sebaliknya, siswa yang sekolah dengan program UKS baik, sebagian besar memiliki PHBS yang baik, sejumlah 42 siswa (62,7%). Hal ini karena sekolah yang memiliki UKS baik memiliki tim pelaksana UKS, dimana pelaksanaan UKS juga dilaksanakan dengan cukup baik, termasuk mengenai perilaku hidup bersih dan sehat bagi siswa. Hal ini akan mendorong siswa untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.

Keterbatasan peneliti pada saat penelitian di 2 SD yaitu Negeri Wonoyoso (67 siswa) dan di SD Negeri

Penawangan 2 (63 siswa) yaitu pada saat penelitian pada program UKS peneliti mengumpulkan siswa dari kelas 3-5 menjadi 1 ruangan sedangkan kapasitas dari ruangan sejumlah 50 siswa.

Sehingga data yang diberikan dari kuesioner tersebut kurang maksimal karena ruangan yang kecil sedangkan jumlah siswa yang banyak. Peneliti memiliki keterbatasan tidak bisa mengendalikan semua faktor-faktor yang dapat mempengaruhi PHBS anak sekolah karena faktor yang mempengaruhi PHBS anak sekolah tidak hanya dari UKS saja yaitu faktor dari lngkungan masyarakat, peran orang tua,teman sebaya, guru, budaya setempat, sarana prasarana di sekolah yang mendukung untuk terwujudnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa di sekolah yang memiliki program UKS baik, sebagian besar dalam kategori baik, yaitu sejumlah 42 orang (62,7%).

Perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa di sekolah yang memiliki program UKS tidak baik, sebagian besar dalam kategori kurang, yaitu sejumlah 28 orang (44,4%).

Terdapat perbedaan yang signifikan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) berdasarkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SD Negeri Wilayah Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang.

Saran

1. Bagi Siswa

Bagi siswa diharapkan dapat mengaplikasikan hidup bersih dan sehat baik di sekolah dan di rumah sebagaimana apa yang diajarkan oleh guru dan petugas lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Khususnya pada aspek olahraga yang

(8)

teratur dan terukur dan siswa ikut kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah maupun di luar sekolah

2. Bagi Masyarakat

Masyarakat diharapkan dapat memberikan motivasi kepada lingkungan, kelompok, komunitas ataupun keluarga untuk dapat melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan mengaplikasikan pada kehidupan sehari- hari.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Bagi institusi pendidikan atau sekolah yang memiliki UKS baik, diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kegiatan UKS-nya agar para warga sekolah terutama siswa terbiasa melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Sedangkan bagi sekolah yang tidak memiliki UKS baik, diharapkan dapat memperbaiki dan melaksanakan program UKS-nya dengan bekerja sama dengan instansi setempat sehingga para guru pendidik, dan pengelola sekolah dapat mengaplikasikan perannya sebagai edukator dalam memberikan informasi atau pengetahuan tentang perlunya berperilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari bagi siswa-siswi, agar siswa-siswa mampu melakukan pencegahan terhadap terjadinya penyakit.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan hasil peneliian ini sebagai data informasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut, tentang perilaku hidup bersih dan sehat dengan melibatkan banyak faktor seperti: ketersediaan fasilitas, pengetahuan, dan peran lembaga setempat seperti Puskesmas. Peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian di semua SD Wilayah Kecamatan Pringapus tidak hanya di 2 SD saja, peneliti lain diharapkan dapat lebih dalam tentang menggali PHBS siswa dengan pengisian kuesioner penelitian dan observasi siswa.

Untuk penelitian mengenai kualitas UKS peneliti selanjutnya diharapkan untuk lebih dalam meberikan kuesioner penelitian, mengobservasi, dan melakukan wawancara lebih dalam sehingga dapat mendapatkan hasil yang lebih maksimal dan akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Black, J. Champion. (2009). Metode dan Masalah Penelitian Sosial.

Bandung: Refika Aditama.

Depkes RI. 2008. Pedoman Pengelolahan Promosi Kesehatan Dalam Pencapaian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta: Depkes RI

Depkes RI. 2009, Sistem Kesehatan Nasiona, http://www.depkes.go.id/downloads/

SKN%20final.pdf, diakses tanggal 6 Mei 2010

Depkes RI. 2010, Visi Depkes 2010 – 2010 http://dinkeslampung.blogspot.com /2009/12/visi-misi-depkes-ri-

2014.html. diakses tanggal 10 April 2012

Notoatmodjo, S . 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Notoatmodjo, S. 2012. Promosi kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka cipta

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta : Salemba Medika.

Riskesdas. 2008. Riset Kesehatan Dasar 2007, Laporan Nasional 2007.

Jakarta: Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan

Kemenkes RI.

(9)

Sugiyono. 2006. “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D”.

Bandung: Alfabeta

Sugiyono. 2011. Metode penelitian pedidikan. Bandung; Alfabeta

Waluyo. 2012. Pelayanan UKS di SD Negeri Se- Kecamatan Batur Kabupaten Bajarnegara. Jurnal Bajarnegara Summary Executive. Pola Penyakit

Penyebab Kematian di Indonesia.

Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT). 2001: 2.

World health Organization (WHO), 2000, WHO Oral Health Country/Area

Profil Programme,

http://www.whocollab.od.mah.se/inde

x.html, diakses tanggal 6 Mei 2010.

Referensi

Dokumen terkait

Sejalan dengan hal tersebut, uji-t menunjukkan hasil uji beda sebesar 14,20 lebih besar dari ttabel 2,092, sehingga dapat disimpulkan penerapan media video berpengaruh

Menyatakan bahwa Karya Seni Tugas Akhir saya tidak terdapat bagian yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi mana pun dan juga

Sistem ini juga terdapat sensor photo dioda sebanyak 4 buah untuk mengetahui halaman banner yang diinginkan menggunakan pembacaan biner, dan juga untuk menentukan

Sebab Pasal 18B ayat (2) sebagaimana telah diterangkan sebelumnya hanya mengakomodir kesatuan masyarakat hukum adat yang dalam terminologi Undang Undang Nomor 6 tahun

Terdapat pengaruh nyata dan interaksi ekstrak daun lidah buaya dan sirih dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans sehingga menyebabkan perbedaaan besar

disahkan oleh fungsi Bunker Operational &amp; Compliance (BOC) atau Planning &amp; Ship Performance (PSP) Pertamina, maka peserta pengadaan tidak diwajibkan untuk

Peraturan Komisi Pemilihan umum Nomor 3 Tahun 2018 tentang Pembentukan dan Tata Kerja Panitia Pemilihan Kecamatan, Panitia Pemungutan suara dan Kelompok

Sedangkan kompensasi merupakan sebagai akibat yang ditimbulkan atas konsekuensi dari hasil penilaian tersebut atau dengan kata lain kompensasi adalah segala sesuatu