• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN A. Dampak Keadaan Darurat Negara Di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV PEMBAHASAN A. Dampak Keadaan Darurat Negara Di Indonesia"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PEMBAHASAN A. Dampak Keadaan Darurat Negara Di Indonesia

Dalam situasi yang tidak menentu (darurat/bahaya), diperlukan kebijakan hukum atau produk hukum yang dibuat secara cepat dan efektif dalam menangani permasalahan yang terjadi.

Seperti yang telah dijelaskan pada bagian latar belakang, pada dasarnya produk kedaruratan negara di Indonesia tercatat oleh sejarah adalah Dekrit Presiden dan Perppu (Asshiddiqie 2006).

dalam konteks ini jelas berlandaskan pada konstitusi Indonesia yang menjelaskan bahwa dalam perihal keadaan bahaya dan hal ihwal kegentingan yang memaksa sebagai dasar dari tindakan pemerintah untuk membentuk Perppu dalam rangka penyelamatan kepentingan bangsa dan negara, dapat ditemukan landasan hukumnya pada Pasal 12 dan Pasal 22 UUD 1945. Pasal 12 menegaskan bahwa, “Presiden menyatakan keadaan bahaya, syarat-syarat dan akibatnya keadaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang”. Pasal 22 menegaskan bahwa, “Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa Presiden menetapkan peraturan pemerintah pengganti undang- undang”.

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka dapat diketahui adanya 2 (dua) kategori dari adanya keadaan yang tidak biasanya (luar biasa) dari negara atau keadaan darurat negara (state of emergency), yaitu Pertama, keadaan bahaya, dan Kedua, hal ihwal kegentingan yang memaksa.

Kedua kategori tersebut mempunyai makna yang sama sebagai keadaan darurat negara (state of emergency), namun keduanya mempunyai perbedaan pada penekanannya yaitu istilah keadaan bahaya lebih menekankan pada strukturnya (faktor eksternal) sedangkan dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa lebih menekankan pada isinya (faktor internal) (Nuh 2011).

Penggunaan kedua pasal tersebut sangat berbeda. Pasal 12 UUD 1945 lebih berfokus pada kewenangan Presiden selaku kepala negara untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari gangguan luar negara, sedangkan Pasal 22 UUD 1945 berada pada ranah (domain) pengaturan yang berkenaan dengan kewenangan Presiden untuk menetapkan Perppu, lebih menekankan aspek internal negara terhadap kebutuhan hukum yang bersifat mendesak.

Produk darurat negara memang menjadi problematika hukum tata negara terkait dengan Siapa yang dapat menafsirkan atau menentukan standar kegentingan yang memaksa. Secara

(2)

legalistik, Karena kewenangan menetapkan Perppu dan sejarah terbitnya Dekrit ada pada Presiden, Presidenlah yang secara hukum menentukan kegentingan yang memaksa (N. Huda 2013). Bagir Manan dan Kuntana Magnar dalam buku Beberapa Masalah Hukum Tata Negara Indonesia mengemukakan bahwa yang juga merupakan masalah Hukum Tata Negara Indonesia adalah bentuk dan teknik perancangan peraturan perundang-undangan (Magnar 1993). artinya konteks pembentukan peraturan perundang-undangan dalam keadaan darurat negara juga akan berpengaruh pada hal yang lain.

Tertaut dengan pandangan di atas, Ni‟matul Huda kemudian lebih menekankan pada segi kajian teoretis dan yuridis terhadap konstitusi Indonesia sebagai objek kajian Hukum Tata Negara. Oleh karena itu, ruang lingkup kajiannya mencakup mengenai gagasan cita negara dalam UUD NRI 1945; analisis yuridis terhadap naskah UUD NRI 1945, konstituante dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959; hukum darurat negara di Indonesia; masa jabatan, peralihan kekuasaan dan pertanggungjawaban presiden; kedudukan, peranan, dan pertanggungjawaban wakil presiden;

jaminan hak asasi manusia dalam konstitusi Indonesia; hak uji materiil terhadap undang-undang;

reformasi konstitusi Indonesia; susunan dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD; dan konvensi ketatanegaraan di Indonesia. (Ni‟matul Huda 1999)

Meskipun pembahasan Dekrit terkesan sangat historis, namun Dekrit pernah menjadi produk darurat negara di Indonesia, sehingga sangat relevan bagi penulis untuk menjadikan Dekrit sebagai acuan dalam tesis ini. Oleh karena itu, dalam perkembangan Hukum Tata Negara, dikenal pula metode historis sistematis (historische systematische methode) yang dikembangkan oleh S.W. Couwenberg dalam bukunya Modern Constitutioneelrecht Emancipate van de Mens (Yusa 2016). Dengan metode ini, pendekatan masalah diambil dari sudut historis dan dianalisa secara sistematis untuk mendapatkan pengertian yang tepat, baik mengenai teori maupun peraturan ketatanegaraan. Hal itu hanya dapat dipahami secara tepat berdasarkan kondisi-kondisi historis yang melahirkannya. Setiap konsep maupun ide, betapapun abstraknya terikat pada situasi tertentu. Oleh karena itu, pemahamannya secara tepat tidak dapat dilepaskan dari situasi yang melahirkannya (Philipus M. Hadjon 1986)

Selaras dengan Harmaily Ibrahim dan M. Kusnardi, Usep Ranawijaya juga menggunakan metode historis dalam arti pendekatan sejarah. Dikatakan bahwa Hukum Tata Negara tidak dapat dimengerti dengan hanya semata-mata melihat dan mempelajari bentuk-bentuk perumusan kaidah hukum yang dapat diketahui dari hasil perundang-undangan, kebiasaan, yurisprudensi dan

(3)

penemuan ilmu pengetahuan, melainkan juga harus mendekati persoalan Hukum Tata Negara salah satunya dari segi sejarah (Yusa 2016).

Menurut Usep Ranawidjaja, Hukum Tata Negara yang mengatur persoalan-persoalan ketatanegaraan, yaitu:

1. Struktur umum dari organisasi negara yang terdiri dari bentuk negara, bentuk pemerintahan, sistem pemerintahan, corak pemerintahan (diktator atau demokrasi), sistem pemencaran kekuasaan negara (desentralisasi), garis-garis besar tentang organisasi pelaksana (perundang-undangan, pemerintahan, peradilan), wilayah negara, hubungan antara negara dengan rakyat, cara rakyat menjalankan hak-hak ketatanegaraan (hak politiknya), dasar negara, ciri-ciri lahir dari kepribadian negara Republik Indonesia (lagu kebangsaan, bahasa nasional, lambang, bendera dan sebagainya).

2. Badan-badan ketatanegaraan yang mempunyai kedudukan di dalam organisasi negara.

Penyelidikan mencakup cara pembentukan, susunan, tugas dan wewenang, cara bekerja masing-masing, hubungannya satu dengan yang lain, dan masa jabatan.

3. Pengaturan kehidupan politik rakyat. Substansi ini mencakup partai politik, hubungan antara kekuatan-kekuatan politik dengan badan-badan negara, kekuatan politik dan pemilihan umum, arti dan kedudukan golongan kepentingan dan golongan penekan, pencerminan pendapat, dan cara kerja sama antar kekuatan-kekuatan politik (koalisi, oposisi, kerja sama atas dasar kerukunan).

4. Sejarah perkembangan ketatanegaraan sebagai latar belakang dari keadaan yang berlaku.

(Ranawijay 1983) Philipus M. Hadjon mengatakan bahwa metode historis sistematis menggantikan metode historis yuridis yang sudah ditinggalkan oleh negara asalnya.

Sebab metode ini hanya berorientasi pada masa lampau dan hanya menerima sejarah serta tidak mengadakan analisa lebih lanjut terhadap masalah yang ditelaah. Sedangkan, metode historis sistematis dengan tajam menganalisa dan menilai suatu masalah dan berusaha mencari relevansi masalah tersebut terhadap perkembangan ketatanegaraan.

Metode ini berorientasi pada masa lampau, masa sekarang dan masa depan. Salah satu contohnya adalah pemahaman terhadap Dekrit Presiden 5 Juli 1959. (Philipus M. Hadjon 1986)

Dekrit Presiden merupakan dasar berlakunya kembali UUD 1945, Dekrit keluar atas dasar hukum darurat negara (Staatsnoodrecht). Adapun isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yaitu:

(4)

a. Pembubaran Konstituante;

b. Berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950;

c. Pembentukan MPRS dan DPAS.(Mustaín ramli 2017)

Sepintas sejarah terbentuknya Dekrit Presiden sebagai produk darurat negara adalah UU Federal No. 7 Tahun 1950 tentang Perubahan KRIS menjadi UUDS RI (Lembaran Negara RIS No. 56 Tahun 1950), maka KRIS berubah menjadi UUDS. Secara formil, UUDS 1950 merupakan perubahan dari KRIS 1949, namun pada hakikatnya merupakan penggantian dari KRIS. Istilah perubahan dipakai karena, berdasar Pasal 190 dan 191 KRIS, Konstitusi hanya dapat diubah dengan UU Federal, sedangkan mengganti harus dilakukan oleh lembaga konstituante (Pasal 186 KRIS). UU Federal No. 7 Tahun 1950 secara subtansial berisi yaitu:

pertama, berisi ketentuan perubahan KRIS menjadi UUDS dengan diikuti naskah UUDS selengkapnya, kedua, tentang UUDS berlaku tanggal 17 Agustus 1950, dan ketiga, aturan peralihan bahwa alat-alat perlengkapan negara sebelum pengundangan undang-undang ini tetap berlaku.

Dengan UUDS, maka bentuk negara federal berubah menjadi negara kesatuan (Pasal 1 Ayat 1). UUDS sifatnya adalah sementara. Hal ini dapat dilihat dari Pasal 134 UUDS yang menentukan bahwa: konstituante bersama-sama pemerintah selekasnya menetapkan UUD RI.

Sebagai realisasi Pasal 134 tersebut kemudian dilaksanakan pemilu untuk memilih anggota DPR pada bulan September 1955 dan memilih anggota konstituante pada bulan Desember 1955.

Konstituante yang diberi tugas untuk menyusun UUD yang tetap, setelah bersidang selama kurang lebih dua setengah tahun tidak mampu menyelesaikan tugasnya. Hal ini disebabkan karena konstituante tidak pernah mencapai kuorum, 2/3 dari jumlah anggota seperti yang ditentukan.(Yusa 2016)

Karena keadaan tersebut, pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden, yang berisi: Pembubaran Konstituante, UUD 1945 berlaku kembali untuk seluruh wilayah RI dan tidak berlakunya UUDS dan pembentukan MPRS/DPRS dan DPAS dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dasar hukum keluarnya Dekrit Presiden ini tidak dijumpai dalam peraturan perundang-undangan yang ada, tetapi keluar didasarkan pada

“„Staatsnoodrecht” (Hukum/Hak Darurat Negara), yaitu hukum yang memberi hak kepada penguasa untuk mengambil tindakan atau keputusan yang penting demi kesatuan bangsa dan keselamatan negara. Staatsnoodrecht ada yang bersifat objektif dan subjektif. Dikatakan objektif

(5)

bila tindakan penguasa didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelumnya. Subjektif apabila tindakan penguasa tidak didasarkan pada peraturan yang sudah ada, tetapi didasarkan pertimbangan subjektif dari penguasa sendiri. Dasar dari penguasa untuk melaksanakan Hukum Darurat Negara (Ni‟matul Huda 2001) yang ekstra konstitusional adalah pada asas Salus Populi Suprema Lex (kepentingan rakyat merupakan hukum yang tertinggi).

Dekrit Presiden tersebut kemudian dikuatkan (dilegitimasi) dengan TAP MPRS XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR GR mengenai Sumber Tertib Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. UUD 1945 yang berlaku kembali atas dasar Dekrit Presiden 5 Juli 1959 terdiri dari Pembukaan dan Batang Tubuh (16 Bab, 37 Pasal, 4 Aturan Peralihan dan 2 Aturan Tambahan) serta Penjelasan. Sebagaimana halnya dengan UUD 1945 yang pertama kali berlaku tanggal 18 Agustus 1945, UUD 1945 yang berlaku kembali dengan Dekrit ini juga masih bersifat “sementara”, karena tidak ditetapkan oleh MPR meski kemudian dibenarkan oleh TAP MPRS XX/MPRS/ 1966 jo TAP MPR (Abdullah Zaini 1991) V/MPR/1973.44 Dekrit itu sendiri hanya menetapkan bahwa UUD 1945 berlaku bagi seluruh bangsa Indonesia. Dengan demikian, berlaku pula ketentuan Pasal 3 Ayat 2 Aturan Tambahan UUD 1945, yang berdasarkan kedua pasal tersebut maka UUD 1945 masih bersifat sementara.(JCT Simorangkir 1983) Dengan berlakunya kembali UUD 1945, maka asas ketatanegaraan dan sistem pemerintahan mengalami perubahan, yaitu dari asas Demokrasi Liberal menjadi asas Demokrasi Terpimpin, dari sistem parlementer menjadi sistem presidensiil.

Tentang asas demokrasi terpimpin, presiden dalam sidang konstituante tanggal 22 April 1959 menegaskan bahwa Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi yang didasari “kerakyatan” yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Jadi inti dari demokrasi terpimpin adalah permusyawaratan, tetapi suatu permusyawaratan yang “Dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan”, bukan oleh perdebatan dan penyiasatan yang diakhiri dengan pengadaan kekuatan dan perhitungan (Abdullah Zaini 1991) suara pro dan kontra.

Isi pokok dari Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah:

1. Menetapkan pembubaran Konstituante;

2. Menetapkan kembali UUD 1945 bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan tidak berlaku lagi UUDS 1950;

3. Membentuk MPRS yang terdiri atas anggota-anggota DPR ditambah dengan utusan- utusan golongan dari daerah;

(6)

4. Membentuk Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sementara. Kedua badan yang disebut di atas akan dibentuk dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Secara konseptual, Hukum darurat negara dibedakan menjadi 2 yaitu:

a. Hukum darurat Negara yang objektif/kontitusional (objectief staatsnoodrecht), ialah hukum yang mengatur kemungkinan penguasa untuk mengambil tindakan dalam keadaan darurat. Adapun tindakan yang diambil tersebut berdasarkan peraturan yang sudah ada sebelumnya. Objektif berarti syarat suatu keadaan bahaya telah ditentukan terlebih dahulu baik tindakan serta akibatnya.

b. Hukum darurat negara subjektif/ inkonstitusional (subjectief staatsnoodrecht), ialah tindakan penguasa tidak didasarkan atas peraturan yang sudah ada tetapi didasarkan atas penilaian penguasa sendiri. Contohnya dengan keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Terkait produk darurat negara, di Indonesia tidak hanya Dekrit Presiden yang terbit berdasarkan dalih “keadaan darurat”, namun juga Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang/ Perppu juga diterbitkan dengan alasan darurat atau hal ikhwal kegentingan yang memaksa. (Siwu 2019). Perppu menjadi bentuk decretismo (governing by decree), bahkan sekedar instrumentalisasi hukum dan kekuasaan oleh kepentingan tertentu kalau kegentingan yang memaksa penerbitannya tak sesuai kondisi sosiologis.(N. Huda 2013) Di Indonesia, perihal keadaan bahaya dan hal ihwal kegentingan yang memaksa sebagai dasar dari tindakan pemerintah untuk membentuk Perppu dalam rangka penyelamatan kepentingan bangsa dan negara, dapat ditemukan landasan hukumnya pada Pasal 12 dan Pasal 22 UUD 1945.

Pasal 12 menegaskan bahwa, “Presiden menyatakan keadaan bahaya, syarat-syarat dan akibatnya keadaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang”. Pasal 22 menegaskan bahwa,

“Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa Presiden menetapkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang”. Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat diketahui adanya 2 (dua) kategori dari adanya keadaan yang tidak biasanya (luar biasa) dari negara atau keadaan darurat negara (state of emergency), yaitu keadaan bahaya, dan hal ihwal kegentingan yang memaksa.

Kedua kategori tersebut mempunyai makna yang sama sebagai keadaan darurat negara (state of emergency), namun keduanya mempunyai perbedaan penekanan. Keadaaan bahaya lebih menekankan pada struktur (faktor eksternal) sedangkan hal ihwal kegentingan yang memaksa lebih menekankan pada isi (faktor internal) ((Nuh 2011).

(7)

Penggunaan kedua pasal tersebut sangat berbeda. Pasal 12 UUD 1945 lebih berfokus pada kewenangan Presiden selaku kepala negara untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari gangguan luar negara, sedangkan Pasal 22 UUD 1945 berada pada ranah (domain) pengaturan yang berkenaan dengan kewenangan Presiden untuk menetapkan Perppu, lebih menekankan pada aspek internal negara berupa kebutuhan hukum yang bersifat mendesak. Itulah sebabnya apabila dicermati ketentuan UUD 1945 terdapat 3 (tiga) unsur penting secara bersama-sama (kumulatif) yang membentuk pengertian keadaan darurat negara (state of emergency) yang menimbulkan kegentingan yang memaksa, yaitu: pertama, unsur adanya ancaman yang membahayakan (dangerous threat); kedua, unsur adanya kebutuhan yang mengharuskan (reasonable neccesity), dan ketiga, unsur adanya keterbatasan waktu (limited time) yang tersedia.

(Jimmly Asshiddiqie 2007)

Kewenangan Presiden untuk menetapkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) didasarkan atas Pasal 22 Ayat 1 UUD RI Tahun 1945 yang menentukan bahwa hanya presiden yang mengeluarkan Perppu. Pasal 22 Ayat 2 dan 3 adalah proses sebuah Perppu harus mendapat persetujuan oleh DPR dan apabila tidak mendapatkan persetujuan maka harus dicabut.

Kewenangan Presiden menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) adalah kewenangan luar biasa di bidang perundang-undangan. Sedangkan kewenangan ikut membentuk Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Presiden merupakan kewenangan biasa. Dalam hal ini, Presiden Republik Indonesia berdasarkan UUD Tahun 1945 jo Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, memiliki kewenangan untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) menjadi Undang- Undang (UU), menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang (Perppu), Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Presiden.

Pada UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yaitu Pasal 52 Ayat 1 menyatakan: “Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke DPR dalam persidangan yang berikut”. Yang dimaksud “persidangan berikut”

adalah masa sidang pertama DPR setelah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditetapkan.

Jika pada waktu DPR tidak dalam masa sidang, sementara Presiden perlu mengadakan suatu peraturan yang seharusnya adalah Undang-Undang. Misalnya peraturan tersebut perubahan dari suatu undang-undang atau materinya memuat ancaman hukuman pidana sehingga harus

(8)

dibuat dalam bentuk undang-undang. maka Presiden mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan Perppu. (Ghoffar 2009) Setelah Perppu diberlakukan Perppu tersebut harus disidangkan ke persidangan DPR. Perppu harus mendapat persetujuan dari DPR dalam persidangan berikut. Jika dalam sidang tersebut DPR menyetujui maka Perppu tersebut dapat ditetapkan menjadi UU, tetapi jika dalam persidangan tersebut DPR tidak menyetujui Perppu yang diajukan Pemerintah, maka Perppu tersebut harus dicabut. Oleh karena penggunaan wewenang ini semata-mata ditentukan oleh Presiden, sehingga pertimbangan-pertimbangan subjektif dapat dijadikan alasan untuk menetapkan Perppu, maka disinilah pentingkan persetujuan DPR. (Ni‟matul Huda 2001)

Pada tahun 2009, Mahkamah Konstitusi mengatur ukuran dan tafsir hal ikhwal kegentingan yang memaksa dalam pembentukan Perppu yang didasarkan pada kekosongan hukum yang terjadi dan mengatur ukuran hal ikhwal kegentingan yang memaksa tersebut.

Penting bagi penulis untuk menjelaskan sebab terbitnya ukuran atau indikator dari hal ikhwal kegentingan yang memaksa oleh Mahkamah Konstitusi tersebut. Yaitu semua bermula dari Uji Material Perppu Nomor 4 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. bahwa peristiwa yang mendasari dikeluarkannya Perppu ini adalah ketika Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi yang aktif terdiri dari dua orang sedangkan 3 orang tidak aktif/diberhentikan sementara karena sedang dalam menjalani proses hukum karena diduga telah melakukan tindak pidana, sehingga dengan demikian Presiden menganggap terdapat kekosongan pimpinan dalam Lembaga KPK yang dapat menghambat pemberantasan korupsi. di Indonesia. Presiden menganggap bahwa kondisi tersebut merupakan kondisi genting sehingga Presiden pada saat itu mengeluarkan Perppu Nomor 4 Tahun 2009. (Septiandy 2018)

Uji Material Perppu Nomor 4 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tersebut melahirkan tafsir Mahkamah Konstitusi terkait hal ikhwal kegentingan yang memaksa, Kekosongan yang terjadi pada tahun sebelum 2009, dimana pada tahun tersebut belum adanya ukuran mengenai syarat hal ikhwal kegentingan yang memaksa untuk menetapkannya suatu Perppu. Pembentukan Perppu sebelum tahun 2009 murni atas penilai subyektif Presiden.

Presiden menafsirkan sendiri ukuran mengenai hal ikhwal kegentingan yang memaksa dalam menetapkan suatu Perppu. (Septiandy 2018)

(9)

Pada Tahun 2009 melalui putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 138/PUU-VII/2009 Menetapkan beberapa indikator yang dikeluarkan oleh Mahkamah Konstitusi dalam menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ada beberapa hal yang diperlukan, yaitu: (Reza Haryo Mahendra Putra 2015)

1. Adanya keadaan yaitu kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan masalah hukum secara cepat berdasarkan Undang-Undang;

2. Undang-Undang yang dibutuhkan tersebut belum ada sehingga terjadi kekosongan hukum, atau ada Undang-Undang tetapi tidak memadai;

3. Kekosongan hukum tersebut tidak dapat diatasi dengan cara membuat Undang Undang secara prosedur biasa karena akan memerlukan waktu yang cukup lama sedangkan keadaan yang mendesak tersebut perlu kepastian untuk diselesaikan;

Secara normatif, Penetapan Perppu juga dilakukan oleh Presiden yang tertulis dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan (sebagaimana diubah terakhir Menjadi UU No.15 Tahun 2019) yang menyebutkan bahwa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundangundangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. Sehingga pasal tersebut dapat dipahami bahwa syarat presiden mengeluarkan Perppu adalah dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. Pada dasarnya Perpu hanya dapat ditetapkan oleh Presiden apabila persyaratan “kegentingan yang memaksa” terpenuhi sebagaimana mestinya. Keadaan

“kegentingan yang memaksa” yang dimaksud disini berbeda dan tidak boleh dicampuradukan dengan pengertian “keadaan bahaya”. (Jimmly Asshiddiqie 2007)

Sebagaimana yang telah penulis paparkan secara implisit terkait produk hukum kedaruratan terbaru di Indonesia pada bagian latar belakang. dalam pembahasan tesis ini, penulis juga akan memotret contoh terbaru dampak keadaan darurat negara yang terjadi di Indonesia. Landasan yuridis dari keadaan darurat terebut berawal dari Keputusan Presiden No. 11 Tahun 2020 Tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2020 (Keppres No. 11/2020), Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (PP No. 21/2020) dan Perppu No. 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 dan/atau dalam rangka Menghadapi

(10)

Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan (Perppu No. 1/2020, yang akhirnya disepakati DPR dan Pemerintah untuk menjadi Undang- Undang dan diundangkan menjadi UU Nomor 2 Tahun 2020). (Disantara 2020)

Produk hukum tersebut kemudian disusul dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disesase 2019 (Permenkes COVID-19) dan Keputusan Presiden No.

12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 Sebagai Bencana Nasional (Keppres No. 12/2020). Lahirnya Permenkes COVID-19 merupakan tindak lanjut dari PP No. 21/2020, sedangkan lahirnya Keppres No. 12/2020 merupakan tindak lanjut dari Undang Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Nasional, oleh sebab pandemi Covid-19 ini juga merupakan bencana non alam sebagaimana diatur dalam Undang Undang No. 24 Tahun 2007. Berlakunya peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) semuanya didasarkan pada kedaruratan kesehatan yang ditetapkan oleh Presiden. (Widodo and Disantara 2021)

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan memangkas hak-hak warga negara menjadi salah satu dampak dari penerapan kedaruratan negara. Pelaksanaan PSBB selain meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan dam pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, PSBB juga dapat meliputi pembatasan kegiatan sosial dan budaya, pembatasan moda transportasi; dan pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait aspek pertahanan dan keamanan. (Hairi 2020) Sehingga dalam hal ini jelas bahwa keadaan darurat negara berdampak pada pembatasan hak-hak warga negara hingga hak asasi manusia, instrumen hukum di Indonesia (UU No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan) memang membuka ruang pembatasan hak warga negara dalam situasi darurat namun juga harus memenuhi kebutuhan warga negara sebagai konsekuensi dari dampak kedaruratan tersebut.

(Susanto and Asmara 2020) hal ini sebagai perwujudan nilai demokrasi sebagai paham kedaulatan rakyat menempatkan rakyat pada centrum kekuasaan yang harus diprioritaskan pemenuhan hak dan kewajibannya. Begitu pula dengan ciri negara hukum (the rule of law) yang memiliki karakteristik jaminan hak asasi manusia dalam bingkai hukum. (Dinata and Akbar 2021) penulis berpandangan, bahwa pada dasarnya darurat negara atau status kedaruratan negara dengan segala padanannya terbukti sangat berdampak pada sejumlah hal di Indonesia, pada

(11)

tataran historis tahun 1959 dalam produk hukum darurat negara yaitu Dekrit, berdampak pada terdegradasi kualitas demokrasi dengan tersentralnya kekuasaan pada eksekutif serta pembatasan hak-hak politik warga negara, dan contoh terbaru dalam penanganan Covid 19 dengan Perppu sebagai landasan kedaruratan berdampak pada pemberlakuan PSBB bagi warga negara.

1. Implementasi Ideal Teori Darurat Negara Berdasarkan Negara Indonesia

Bertalian dengan bentuk-bentuk Produk kedaruratan tersebut di atas, penulis akan menjelaskan bahwa secara teoritis, penetapan berlakunya keadaan darurat harus dilakukan oleh Presiden sebagai kepala negara (the sovereign head of state). Penetapan dapat dilakukan dalam bentuk Peraturan Presiden, apabila isinya hanya bersifat “Beschikking” yang mengadung norma konkret dan individual. Jika normanya mengandung penetapan (beschikking) yang bersifat konkret dan individual serta sekaligus norma pengaturan (regelingen) yang bersifat umum dan abstrak, maka bentuk hukum yang dipilih dapat berbentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Peppu) (Jimmly Asshiddiqie 2007)

Setelah keadaaan darurat atau keadaaan bahaya ditetapkan dalam bentuk hukum tertentu, langkah selanjutnya adalah:

1. Pendeklarasian atau proklamasi secara terbuka;

2. Penerbitan atau pengundangan dalam Lembaran Negara; dan

3. Penyebarluasan naskah deklarasi kepada pihak-pihak yang terkait, baik menurut ketentuan hukum nasional mapun ketentuan hukum internasional. (Matompo 2014) Selain deklarasi atau proklamasi, penting juga untuk dilakukan pemberitahuan resmi.

Pemberitahuan resmi dimaksud dapat dibedakan dari surat yang berisi permintaan persetujuan dari DPR atas berlakunya keadaan darurat tersebut atau berbeda yang memang diharuskan oleh undang-undang, tetapi dapat pula kedua kepentingan itu dijadikan satu. Tetapi pemberlakuan keadaan bahaya atau darurat tidak ditentukan harus mendapatkan persetujuan DPR, kecuali undang-undang mengatur dan menentukan demikian. (Jimmly Asshiddiqie 2007) Naskah hukum pemberlakuan keadaan bahaya ataupun keadaan darurat harus disampaikan kepada pihak-pihak terkait menurut ketentuan hukum nasional dan ketentuan hukum internasional. Menurut ketentuan hukum nasional, beberapa lembaga negara yang perlu diberitahu oleh Presiden setelah ditetapkannya keputusan mengenai pemberlakuan keadaan darurat itu adalah semua lembaga negara yang terkait melalui pimpinannya masing-masing. Berdasarkan sistem ketatanegaraan yang berlaku dewasa ini, lembaga-lembaga negara yang perlu diberitahu secara resmi akan

(12)

adanya pemberlakuan keadaan darurat atau keadaan bahaya itu adalah (Jimmly Asshiddiqie 2007):

1. Dewan Perwakilan Rakyat;

2. Dewan Perwakilan Daerah;

3. Majelis Permusyawaratan Rakyat;

4. Mahkamah Konstitusi;

5. Mahkamah Agung;

6. Badan Pemeriksa Keuangan;

7. Tentara Nasional Indonesia;

8. Kepolisian Negara RI;

9. Bank Indonesia;

10. Para Menteri Kabinet; dan

11. Kepala Daerah dan DPRD yang di daerahnya berlaku keadaan darurat.

Berdasar artikel 40 ICCPR (International Covenant an Civil and Political Rights) yang dikutip Jimmly Asshiddiqie, negara anggota yang menjadi pihak dalam kovenan atau yang sudah meratifikasinya, diharuskan menyampaikan laporan, terutama apabila diminta oleh United Nations Human Rights Committee, atau pada setiap kurun waktu lima tahun. Berdasarkan artikel 41 ICCPR, Komite HAM PBB diberi kewenangan untuk membuat “general comments”

mengenai kondisi hak asasi manusia di tiap-tiap negara anggota, termasuk kondisi hak asasi manusia di masa berlakunya keadaan darurat (state of emergency). Setelah keadaan darurat dideklarasikan dan diundangkan, naskah pemberitahuan keadaan darurat perlu diberitahukan dan disampaikan secara resmi kepada Sekretariat Jendral PBB (Jimmly Asshiddiqie 2007)

Dalam praktik di Indonesia, menurut Pasal 1 Ayat 1 UU Nomor 23 Tahun 1959, Presiden/Panglima tertinggi angkatan perang dapat menyatakan seluruh atau sebagian dari wilayah Negara Republik Indonesia dalam keadaan bahaya dengan tingkatan darurat sipil atau keadaaan darurat militer atau keadaan darurat perang apabila:

1. Keamanan atau ketertiban hukum di seluruh wilayah atau di sebagian wilayah Negara Republik Indonesia terancam oleh pemberontakan, kerusuhan-kerusuhan atau akibat bencana alam sehingga dikhawatirkan tidak dapat diatasi oleh alat-alat perlengkapan secara biasa;

(13)

2. Timbul perang atau bahaya perang atau dikhawatirkan perkosaan wilayah Negara Republik Indonesia dengan cara apapun juga; dan

3. Hidup negara berada dalam keadaan bahaya atau dari keadaan-keadaan khusus ternyata ada atau dikhawatirkan ada gejala-gejala yang dapat membahayakan hidup negara.

Di masa berlakunya keadaan darurat, harus dipastikan bahwa semua institusi negara yang diperlukan dan masih dapat berfungsi dengan baik sebagaimana di dalam keadaan normal, harus tetap difungsikan sebagaimana mestinya dan tidak perlu diganti dengan lembaga yang khusus diadakan untuk menopang kekuasaan pelaksana keadaaan darurat. Misalnya, lembaga perwakilan rakyat dan pengadilan, jika selama masa berlakunya keadaan darurat masih dapat berfungsi, maka lembaga harus tetap berjalan sebagaimana biasanya. Jangan sampai atas nama keadaan darurat, pelaksana kekuasaan keadaan darurat secara semena-mena membubarkan perwakilan rakyat atau pengadilan.(Jimmly Asshiddiqie 2007)

Kegentingan yang memaksa sebagai dasar pembentukan suatu Perppu tidaklah sama pengertiannya dengan “keadaan bahaya” yang dimaksud dalam Pasal 12 UUD 1945, meskipun keduanya merupakan penjabaran yang lebih konkret dari kondisi darurat pada suatu sistem ketatanegaraan tertentu. Penentuan syarat-syarat dan akibat “keadaan bahaya” dalam Pasal 12 UUD 1945 memerlukan keterlibatan DPR untuk ditetapkan dengan undang-undang, sedangkan

“kegentingan yang memaksa” dalam Pasal 22 UUD 1945 bergantung pada subjektivitas Presiden, meski nantinya akan bergantung pada persetujuan objektif para wakil rakyat di DPR (Almanar, Husni Jalil 2015).

Sebagai gambaran dan contoh, sejumlah Perppu yang pernah dibentuk di antaranya adalah Perppu No. 1 Tahun 2015 tentang Perubahan atas UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah disetujui oleh DPR dan ditetapkan dalam UU No. 10 Tahun 2015 tentang Penetapan Perppu No. 1 Tahun 2015 tentang Perubahan atas UU No.

30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menjadi UU. Perppu yang mengatur mengenai penggantian anggota pimpinan KPK sementara ini pernah dilakukan oleh Presiden SBY melalui Perppu No. 4 Tahun 2009.

Materi pengaturannya sama dan kondisi-kondisi kekosongan anggota pimpinan KPK juga tidak jauh berbeda. Perppu No. 4 Tahun 2009 tersebut juga sempat diajukan uji materiil di MK.

Yang menarik adalah, dengan materi pengaturan yang sama dan kondisi-kondisi kekosongan anggota pimpinan KPK juga tidak jauh berbeda, Perppu No. 4 Tahun 2009 ketika diajukan

(14)

persetujuan ke DPR ternyata ditolak. Hal ini memperlihatkan bagaimana kekuatan politik bisa lebih dominan berperan dalam pengajuan persetujuan DPR terhadap Perppu.

Pada tanggal 25 Mei 2016, diundangkan Perppu No. 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang dilatarbelakangi maraknya kasus pemerkosaan terhadap anak. Tidak tanggung-tanggung, Perppu ini memuat pidana mati dan pidana kebiri terhadap pelaku. Kegentingan yang Memaksa terletak pada vonis hakim yang sejak berlakunya Perppu ini, maka pidana mati dan pidana kebiri dapat dijatuhkan kepada pelaku. Meski pelaksanaan Perppu kebiri masih harus menunggu Peraturan Pemerintah terlebih dahulu, namun esensi Kegentingan yang Memaksa masih dapat terlihat, yaitu pada penjatuhan sanksi pidana mati dan pidana kebiri tersebut. Dari sejarah Perppu-Perppu yang ada, Perppu ini merupakan salah satu Perppu yang memuat sanksi pidana, dan pidana yang dimuat pun merupakan pidana paripurna, yaitu pidana mati. Perppu ini hadir diantara kontroversi Perppu yang memuat sanksi pidana masih marak dibicarakan. UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dengan sangat jelas mengizinkan sanksi pidana hanya dimuat dalam UU dan Perda. Namun Perppu yang memiliki materi muatan yang sama dengan UU dianggap termasuk mengenai pengaturan sanksi pidana.

Pada tahun 2020, DPR telah mensahkan Perppu No. 1 Tahun 2020 menjadi undang- undang, kedepan Pemerintah sebaiknya membuat aturan pelaksana yang memuat prosedur pengawasan serta mekanisme penggunaan kewenangan setiap organ pemerintah di dalam Perppu No 1 Tahun 2020. Mekanisme pengawasan serta pertanggungjawaban yang jelas semata-mata untuk mencegah penyalahgunaan dana penanganan Covid-19 sekitar dua minggu pemerintah daerah bergerak sendiri tanpa koordinasi dengan pemerintah pusat untuk menanggulangi dampak penularan Covid-19, baru Pemerintah pusat mengeluarkan beberapa produk hukum. Produk itu adalah Keputusan Presiden No. 11 Tahun 2020 Tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2020 (Keppres No. 11/2020), Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 (PP No. 21/2020) dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau dalam rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan (Perppu No. 1/2020, yang akhirnya

(15)

disepakati DPR dan Pemerintah untuk menjadi Undang-Undang dan diundangkan menjadi UU Nomor 2 Tahun 2020).

Dari pemaparan, contoh, dan penjelasan tersebut, idealnya sebuah Produk Darurat Negara di Indonesia baik berupa Dekrit atau Perppu, memerlukan limitasi general yang secara ekplisit menjelaskan tentang batasan subtansi hingga daya ikat produk darurat negara pada tataran Undang-Undang, sehingga hakikat lahirnya Perppu (Produk Darurat Negara) adalah untuk antisipasi keadaan yang “genting dan memaksa”. Jadi ada unsur paksaan keadaan untuk segera diantisipasi (dalam situasi darurat negara) namun masih dalam koridor hukum. (Ni‟matul Huda 2005) Pun demikian siapa yang berwenang secara formil dalam menafsirkan atau menentukan standar kegentingan yang memaksa. meskipun Secara legalistik, kewenangan menetapkan Perppu dan sejarah terbitnya Dekrit ada pada Presiden, sehingga Presidenlah yang secara hukum dapat menentukan kegentingan yang memaksa. (N. Huda 2013). Hal ini bersebrangan dengan prinsip demokrasi yang menginginkan distribusi kekuasaan. (Sunarso 2018) Bagir Manan dan Kuntana Magnar dalam buku Beberapa Masalah Hukum Tata Negara Indonesia mengemukakan yang juga menjadi masalah Hukum Tata Negara Indonesia adalah “bentuk dan teknik perancangan peraturan perundang-undangan”.(Magnar 1993) artinya konteks pembentukan peraturan perundang-undangan dalam keadaan darurat negara juga akan berpengaruh pada hal yang lain.

2. Komparasi Bentuk Produk Kedaruratan Negara Dan Pengaruhnya Terhadap Demokrasi

Sangat penting bagi penulis untuk memotret pola, subtansi, bahkan redaksional, serta implementasi Produk hukum darurat negara di sejumlah negara di dunia, untuk dapat menjadi variable yang akan menjawab Pengaruh hukum yang muncul dalam hukum darurat negara. oleh karena Penelitian terhadap perbandingan hukum pada dasarnya adalah membangun pengetahuan umum mengenai hukum positif dengan membandingkan sistem hukum disuatu Negara dengan sistem hukum di Negara lainnya. (Muhaimin 2020) Akan lebih komprehensif kajiannya jika peneliti melakukan pendekatan studi perbandingan dengan konstitusi negara lain yang juga mengatur lembaga judicial review, sehingga hasil kajiannya dapat memperkaya wawasan peneliti dalam penyusunan laporan hasil penelitian. (Bachtiar 2018)

Sejumlah negara yang menerapkan kebijakan hukum darurat negara di antaranya ialah:

1. Martial Law’ Amerika Serikat

(16)

Di kalangan negara-negara Anglo seperti Amerika memakai praktik martial law. Aturan ini sama sekali tidak diatur dalam naskah undang-undang dasar. Doktrin martial law berkembang tersendiri dalam praktik melalui peranan pengadilan atas dasar prinsip judge made law. Istilah martial law biasa dikaitkan dengan pengertian hukum yang berlaku atau diberlakukan dalam keadaan darurat atau in a state of emergency. Penerapan atau pemberlakuan hukum darurat atau martial law dipandang sebagai sesuatu yang biasa dipraktikkan. Dalam pelaksanaan martial law setidaknya dapat dikemukakan setidaknya adanya empat hal penting yang relevan:

a. Kewenangan Presiden untuk memberlakukan martial law atas alasan keadaan darurat (the authority of the president to declare martial law);

b. Peninjauan Peradilan atau judicial review atas keputusan-keputusan dan peraturan- peraturan yang dibuat di bawah martial law (judial review of decisions made under martial law);

c. Penggunaan Peradilan Militer di daerah-daerah yang diberlakukan keadaan darurat atau martial law (the use of military tribunals in territorie under martial law); dan

d. Pembatasan-pembatasan yang dibebankan atas kebebasan individu warga setelah martial law tersebut diberlakukan (the limitations on individual liberties once martial law has been declared). (Jimmly Asshiddiqie 2007)

Menurut Mary Maxwell hal yang menghambat penerapan martial law di Amerika Serikat adalah Posse Comitatus Act 1878. (Jimmly Asshiddiqie 2007) Undang-undang ini secara eksplisit melarang tentara untuk terlibat dalam urusan penegakan hukum di dalam negeri. Namun jika dikehendaki, undang-undang ini dapat diubah dan dicabut oleh kongres.(Jimmly Asshiddiqie 2007)

2. Model ‘Etat De Siege’ Prancis

Hukum tata negara Prancis dapat dibagi ke dalam dua kategori. Kategori pertama adalah hukum yang berlaku dalam keadaan normal (istilah bahasa Prancis/Inggris). Kategori kedua

(17)

adalah hukum yang berlaku dalam keadaan yang tidak/luar biasa (etat de siege/state of siege), atau dalam sistem Prancis disebut etat de siege atau state of siege. Keadaaan etat de siege atau keadaan darurat dibedakan menjadi etat de siege reel (actual state of siege) dan etat de siege fictif (contructive state of siege.) Keadaan darurat yang bersifat aktual atau riil berkenaan dengan situasi di mana suatu wilayah negara secara nyata telah diduduki atau dikuasai oleh musuh negara atau di mana operasi milliter nyata-nyata memang sedang berlangsung. Keadaan yang demikian secara nyata menyebabkan semua norma hukum yang biasa berlaku dalam keadaan normal tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Dalam kondisi tersebut tindakan militer harus segera dilakukan Tanpa mempertimbangkan penilaian/pengujian dari lembaga peradilan/legislatif. Dalam keadaan yang bersifat fiktif, kehidupan normal tidak sepenuhnya atau seluruhnya terganggu, meskipun banyak gangguan bahaya yang dapat mengancam. Keadaaan bahaya itu bersifat konkruktif, yaitu ada karena kontruksi hukum, bukan ada secara riil dalam keadaan nyata. Dalam constructive state of siege atau keadaaan darurat yang bersifat fiktif ini, fungsi institusi-institusi civil memang terganggu, tetapi tetap dapat berfungsi untuk memenuhi kewajiban dan memelihara tertib hukum (legal order) dan jaminan sistem konstitusional.

Konstitusi Prancis 1958 (Republik Kelima) membawa pendekatan baru terhadap keadaaan darurat negara (etat de siege) dan penyelenggaraan pemerintah dalam keadaan darurat itu dalam praktik. Ketentuan mengenai keadaaan darurat (etat de siege) itu tercantum tegas dalam 2 (dua) Artikel UUD 1958, yaitu Artikel 16 dan 36. Artikel 16 menentukan bahwa keadaan memberikan kewenangan pada presiden untuk menyatakan atau mendeklarasikan keadaan darurat (etat de siege) secara unilateral. Artikel 36 berisi ketentuan yang secara khusus mengatur tentang pemberlakuan keadaaan darurat atau pendeklarasian etat de siege.

Setelah keadaan darurat diberlakukan, menurut ketentuan Artikel 7 UU Tahun 1878, pelaksanaan tugas-tugas kepolisian yang berada dalam otoritas sipil beralih ke tangan penguasa militer. Militer atau pejabat sipil yang menjalankan penegakan dan mempertahankan ketertiban umum. Penguasa militer tidak berwenang untuk ikut campur dalam urusan daerah yang murni bersifat sipil, seperti pengelolaan pelayanan pajak dan lain sebagainya. (Jimmly Asshiddiqie 2007)

3. Emergency Law di India

(18)

Sejak kemerdekaannya, India tercatat telah beberapa kali memberlakukan keadaan darurat. Pada UUD India, (Jimmly Asshiddiqie 2007) ketentuan mengenai pemberlakuan keadaan darurat diatur secara terperinci dalam Part XXVIII Konstitutusi India, yaitu Artikel 352 sampai dengan Artikel 360. Artikel 352 mengatur tentang “Proclamation of emergency”, Artikel 353 mengatur tentang “Effect of proclamation of emergency”, Artikel 354 tentang “Application of provisions relating to distibution of revenues while a proclamation of emergency is in operation”, Artikel 355 tentang “Duty of the union to protect state against external aggression and internal disturbance”, Artikel 356 mengenai “Provision in case of failfure of constitutional machinery in states”, Artikel 357 tentang “Exercise of legislative powers under proclamation issued under article 356”, Artikel 358 tentang “Suspension of provisions of article 18 during emergencies”, Artikel 359 mengenai “Suspension of the enforcement of the rights conferred by part III during emergencies” dan Artikel 360 mengatur tentang “Provision as financial emergency”.

Dari artikel-artikel di atas dapat disimpulkan bahwa dalam konstitusi India, keadaan darurat dibedakan dalam 3 (tiga) tipe, yaitu:

1. Keadaan darurat yang timbul karena ancaman terhadap keselamatan India atau bagian dari wilayahnya (emergency arising from a threat to securityof india or any part of its territory);

2. Kegagalan fungsi-fungsi aparatur dalam menjalankan tugas konstitusionalnya dalam negara (failure of constitutional machinery in a State);

3. Darurat keuangan (financial emergency). (Jimmly Asshiddiqie 2007)

Pada tahun 1975-1977, Pemerintah India di bawah naungan Perdana Menteri Indira Gandhi menyatakan keadaan darurat bagi seluruh negeri yang berlangsung selama 21 bulan, mulai dari 25 Juni 1975 sampai 21 Maret 1977. Secara resmi, Presiden India Fakhruddin Ali Ahmed mengeluarkan pernyataan tersebut berdasarkan Pasal 352 Konstitusi akibat adanya

“gangguan internal” yang berlaku. Pernyataan ini secara resmi dikeluarkan oleh Presiden Fakhruddin Ali Ahmed berdasarkan Pasal 352 Konstitusi karena "gangguan internal" yang berlaku. Keadaan darurat berlaku mulai 25 Juni 1975 Sampai 21 Maret 1977. Perintah tersebut juga memberikan kewenangan luas kepada Perdana Menteri untuk memerintah dengan keputusan yang luas, yang membuat pemilihan umum (pemilu) ditangguhkan dan kebebasan sipil dibatasi. Selama masa darurat, sebagian besar lawan politik Indira Gandhi dipenjara dan

(19)

kebebasan pers dibatasi. Beberapa pelanggaran hak asasi manusia juga dilaporkan banyak terjadi, termasuk kampanye sterilisasi paksa massal yang dipelopori oleh Sanjay Gandhi, putra Perdana Menteri. Alibi Keadaan Darurat adalah salah satu periode paling kontroversial dalam sejarah hukum India. (John Dayal 2013)

Subtansi dan kekuatan Dekrit dari kebijakan Darurat Negara di India terletak pada kekuatan luar biasa yang dimiliki Negara menguasai masyarakat tanpa kemauan dan batasan moral di belakangnya secara historikal. Keputusan untuk memberlakukan keadaan darurat diusulkan oleh Indira Gandhi, disetujui oleh Presiden India, dan diratifikasi oleh kabinet dan parlemen (dari Juli hingga Agustus 1975), dengan alasan adanya ancaman internal dan eksternal yang akan segera terjadi ke negara bagian India. Sejumlah media bahkan menyebut bahwa keadaan Darurat yang diberlakukan secara luas dianggap sebagai Era Kegelapan dalam demokrasi India DP di India bahkan memberi kewenangan kepada Perdana Menteri Ghandi untuk melakukan penundaan Pemilihan Parlemen dan pemerintah negara bagian. Gandhi dan mayoritas anggota parlementer koalisi dapat mengubah subtansi undang-undang negara karena partai Kongresnya memiliki mandat yang diperlukan untuk mencapai mayoritas dua pertiga di Parlemen. Ketika Perdana Menteri Ghandi menganggap undang-undang yang ada 'terlalu lambat', Perdana Menteri meminta Presiden untuk mengeluarkan 'Ordinances' sebuah kekuasaan pembuat hukum (John Dayal 2013) pada saat-saat mendesak, digunakan dengan waktu yang singkat sepenuhnya melewati Parlemen, memungkinkan Ghandi untuk memerintah dengan Dekrit.

4. Martial law Inggris

Kewenangan untuk menentukan keadaan darurat dan memberlakukan martial law dalam sejarah Inggris dipahami sebagai hak preogatif Raja atau Ratu sebagai Kepala Negara. Dalam tradisi common law di Inggris, dalam keadaan darurat, Raja atau Ratu dapat mengintervensi urusan tanah-tanah milik pribadi untuk tujuan mempertahankan dan menjaga kedamaian serta mengatasi sebab-sebab keadaan darurat. Keadaan darurat dideklarasi untuk memungkinkan kepala negara menggunakan kekuatan guna memulihkan keadaan (public order) dengan mengesampingkan hukum yang berlaku (to override the ordinary law.) (Jimmly Asshiddiqie 2007)

Namun dalam perkembangan sejak abad ke-20, penggunaan hak prerogatif Raja atau Ratu untuk memberlakukan martial law terus-menerus dibatasi berdasarkan undang-undang.

(20)

Petition of rights 1628 justu melarang pemberlakuan martial law sama sekali. Namun petition of rights itu sendiri hanyalah resolusi parlemen (a resolution of parliament) yang kemudian diterima oleh Raja, yang tidak mempunyai kekuatan yang mengikat (legal force). Raja atau Ratu Inggris tetap memegang kekuasaan mutlak untuk mendeklarasikan keadaan perang.

Pembatasan-pembatasan dalam penggunaan kewenangan untuk memberlakukan keadaan darurat atau martial law pada umumnya diatur berdasarkan peraturan tertulis (statutory basis).

Pada 1920, ditetapkan undang-undang khusus yang mengatur hal ini, yaitu Emergency Power Act 1920 yang Yang terus disempurnakan hingga menjadi Civil Contingencies Act 2004, yang memberi wewenang kepada privy council atau Perdana Menteri untuk menetapkan Emergency regulation apabila negara berada dalam keadaan darurat.

Mengenai peraturan tentang kewenangan untuk menetapkan peraturan khusus dalam keadaan darurat (emergency regulations), terakhir diadakan penyempurnaan berdasarkan Civil Contingecies Act 2004. Penetapan emergency regulations ketika negara dalam keadaan darurat berdasarkan Civil Contigencies Act 2004 adalah:

1. Ancaman yang serius terhadap kesejahteraan manusia (a serious threat to human welfare);

2. Ancaman serius terhadap lingkungan;

3. Dalam hal terjadi perang (in case of war) dan;

4. Terjadinya delik terorisme

Wewenang ini akan berarkhir dengan sendirinya jika tidak mendapat persetujuan Parlemen dalam kurun tujuh hari sejak peraturan tersebut ditetapkan. (Jimmly Asshiddiqie 2007)

5. Martial Law Pakistan

Hukum darurat di Pakistan erat kaitannya dengan pengubahan konstitusional dan pelanggaran demokrasi. Sejak kemerdekaan Pakistan tahun 1947 banyak masalah Konstitusional berasal dari peran tentara di negara bagian. Meningkatnya kekuatan tentara dan melemahnya partai-partai politik membuat tentara menjadi kekuatan politik utama di negara ini. Pada tanggal 7 Oktober 1958, Presiden Iskander Mirza mencabut Konstitusi dan mengumumkan Darurat Militer di Pakistan berdasarkan Dekrit. Hal ini menjadi yang pertama dari banyak rezim militer dalam sejarah Pakistan. Dengan langkah ini, UUD Pakistan 1956 dibatalkan, menteri

(21)

diberhentikan, Majelis Pusat dan Provinsi dibubarkan dan semua kegiatan politik dilarang.

(Munim 1960)

Presiden Iskandar Mirza saat membatalkan Konstitusi mengatakan:

“The constitution, which was brought into being on 23rd March, 1956 after so many tribulations, is unworkable. It is full of dangerous compromises that will soon disintegrate Pakistan internally if the inherent malaise is not removed. To rectify them the country must first be taken to sanity by a peaceful revolution, then it is my intention to collect a team of patriotic persons to examine our problems in the political field and devise a constitution more suitable to the genius of the Muslim people. When it is ready at appropriate time it will be submitted to the referendum of the people”. (Pardesi 1969)

Jenderal Muhammad Ayub Khan, Panglima Angkatan Bersenjata saat itu, menjadi Kepala Administrator Darurat Militer. Sistem parlementer di Pakistan berakhir. Dalam waktu tiga minggu sejak menjabat pada 27 Oktober 1958, Iskander Mirza digulingkan oleh Jenderal Ayub Khan, yang kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden. Ayub Khan membentuk Komisi Konstitusi yang tidak hanya ditugaskan membuat rekomendasi tentang Konstitusi masa depan (draft konstitusi baru), tetapi juga memeriksa penyebab kegagalan pemerintahan parlementer di Pakistan. Konstitusi 1962 sangat berbeda dari rekomendasi Komisi Konstitusi, karena Ayub Khan lebih menyukai bentuk pemerintahan presidensial. Konstitusi 1962 diumumkan pada 1 Maret mengakhiri tiga setengah tahun rezim Darurat Militer Ayub Khan.

Pemerintahan konstitusional sipil di bawah Ayub Khan menggantikan rezim militer sebelumnya.

(Pardesi 1969)

Yasmeen Yousif Pardesi dalam penelitian bertajuk “An Analysis of the Constitutional Crisis in Pakistan (1958-1969)” menjelaskan bahwa Konstitusi dan demokrasi Pakistan menjadi pengaruh dan korban sikap diktator dari Presiden dan ambisi politiknya. Liga Muslim yang dulu sangat populer pada saat kemerdekaan Pakistan telah kehilangan popularitasnya. Politisi lain tidak mendapat kepercayaan masyarakat. Bangsa ini telah kehilangan Tuan Jinnah dan Liaquat Ali Khan masing-masing pada tahun 1948 dan 1951. Kekacauan politik memberi peluang bagi kekuatan non-politik untuk mendominasi. Selain itu, ada pemecatan inkonstitusional Ketua Menteri dan Gubernur di Pakistan Timur. Pada pertengahan tahun 1958, kondisi ekonomi

(22)

termasuk rendahnya devisa menjadi indikasi runtuhnya sistem moneter dan perbankan di negara tersebut. Namun pemerintah tidak mengambil tindakan perbaikan.

Ketika darurat militer diumumkan pada tahun 1958, Konstitusi 1956 dibatalkan. Jenderal Ayub Khan mengubah Konstitusi ini menjadi Konstitusi 1962 dengan alasan bahwa Konstitusi 1956 telah gagal. Sistem pemerintahan parlementer yang diberikan pada tahun 1956 memberikan gambaran tentang sistem presidensial di mana Presiden memiliki kekuasaan yang sangat besar atas parlemen. Kekuasaan 'konstitusional' memberikan kontrol kepada Presiden dan eksekutifnya atas badan legislatif. Para penguasa militer mengeluarkan perintah untuk mendapatkan kekebalan melalui surat perintah apa pun. Tidak ada pengadilan atau orang yang diizinkan untuk mempertanyakan aksi militer, proklamasi darurat militer, gubernur provinsi atau pengadilan militer. Tidak sulit untuk memahami situasi yang dialami pengadilan. Untuk memperpanjang kekuasaannya, Jenderal Ayub Khan memperkenalkan Demokrasi Dasar (yang sebetulnya jauh dari nilai demokrasi) (Pardesi 1969)

6. Emergency Law Myanmar

Keadaan darurat di Myanmar, secara faktual mendegradasi kualitas demokrasi di Myanmar (Kivimäki et al. 2010) secara konstitutif, darurat negara di Myanmar termaktub di dalam pasal 417 konstitusi Myanmar yang secara subtantif mengharuskan Presiden untuk menyatakan keadaan darurat ketika ada risiko terhadap kedaulatan negara. Kemudian pada pasal 418 mengharuskan Presiden untuk menyerahkan semua kekuasaan kepada Panglima Angkatan Darat. Pola normatif darurat negara di Myanmar memberi kekuasaan penuh kepada militer untuk memegang kekuasaan tanpa batas dalam dalih keadaan darurat negara. (Buente 2012) hal ini kemudian dipertegas dalam pasal 432 konstitusi Myanmar yang secara pokoknya memberi imunitas terhadap kebijakan hukum militer Myanmar dalam keadaan darurat dengan tidak bisa diuji keabsahannya. (ICJ 2021)

Fakta terbaru terkait darurat negara di Myanmar berdasarkan pada data dari International Commission of Jurist (ICJ) menyebutkan bahwa pada tahun 2021, pengimplementasian status darurat negara di Myanmar melanggar sejumlah prinsip demokrasi seperti kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat, hingga penangguhan hak asasi manusia. (ICJ 2021) Menurut Naing Ko Ko dalam jurnal “Democratisation in Myanmar: Glue or Gloss?”, berkesimpulan bahwa Myanmar masih dalam kediktatoran militer dan hal ini memicu terhambatnya demokratisasi di Myanmar sehingga sulit mencapai tahap konsolidasi.(Ko Ko 2018). Langkah

(23)

refresif militer Myanmar dengan dalih darurat negara justru berpengaruh pada demokrasi, karena menekan dan mengekang hak sipil dan hak asasi manusia yang merupakan sendi demokrasi.

(Moran and Parry 2015)

Pada dasarnya Hukum Darurat (Emergency Law) bukan hal yang “haram” untuk diterbitkan, selama tetap berada pada koridor dan ketentuan hukum yang baik dan benar. Sonya Siwu dalam penelitian tahun 2000 menjelaskan bahwa di Indonesia, dalam keadaan bahaya, negara boleh memberlakukan hukum darurat negara yang mengesampingkan hak-hak sipil dan hak-hak politik untuk sementara, selama tidak mengesampingkan Hak Asasi Manusia. (Siwu 2000) Hakim U.S, Richard Posner berkata, “A constitution that will not bend will break”. Posner menjelaskan bahwa terdapat kedinamisan yang dibutuhkan untuk diatur untuk menghadapi kondisi-kondisi yang tidak normal dalam konstitusi. Tidak selamanya negara dapat selalu berjalan dalam kondisi normal, di mana seluruh perangkat negara berfungsi baik sesuai desain tata negara ideal. Terdapat situasi-situasi tertentu di mana negara dihadapkan pada kondisi tidak lazim yang memerlukan pendekatan ketatanegaraan yang spesial melalui peraturan keadaan darurat (emergency regulation) (Arsil and Ayuni 2020). Dalam hukum internasional, instrumen yang dianggap utama yang mengatur pemberlakuan keadaan darurat ini ada tiga, yaitu:

1. Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia atau European Convertion Human Rights (ECHR) 1950;

2. Konvensi Inter-Amerika tentang Hak Asasi Manusia atau Inter-American Convention Human Right (IACHR) 1969;

3. Konvenan Internasional Hak-Hak Sipil atau International Convenant on Civil adn Political Rights (ICCPR) Perserikatan Bangsa-Bangsa 1966. (Jimmly Asshiddiqie 2007)

B. Pengaruh Darurat Negara Dalam Demokrasi

Telusur akademis penulis terkait perbandingan hukum di sejumlah negara tersebut membuka paradigma bahwa pada dasarnya konsep hukum kedaruratan akan berdampak pada pada sejumlah hal, seperti Hak Asasi Manusia (Siwu 2000) bahkan Demokrasi. Konsep dan subtansi Produk darurat negara secara factual bermuatan kebijakan yang mengharuskan negara melakukan langkah apapun dengan boleh menangguhkan atau pengabaian hak-hak warga negara.

(Suhariyanto 2021) dalam konteks ini, dapat dilihat bahwa produk darurat negara jelas akan berpengaruh pula pada Demokrasi dalam sebuah negara.

(24)

Robert A. Dahl mendefinisikan Demokrasi dengan lima kriteria bagi demokrasi sebagai sebuah ide politik, yaitu : (1) persamaan hak pilih dalam menentukan keputusan kolektif yang mengikat; (2) partisipasi efektif, yaitu kesempatan yang sama bagi semua warga negara dalam proses pembuatan keputusan secara kolektif; (3) pembeberan kebenaran, yaitu adanya peluang yang sama bagi setiap orang untuk memberikan penilaian terhadap jalannya proses politik dan pemerintahan secara logis; (4) kontrol terakhir terhadap agenda, yaitu adanya kekuasaan eksklusif bagi masyarakat untuk menentukan agenda mana yang harus dan tidak harus diputuskan melalui proses pemerintahan, termasuk mendelegasikan kekuasaan itu pada orang lain atau lembaga yang mewakili masyarakat; dan (5) pencakupan, yaitu terliputnya masyarakat mencakup semua orang dewasa dalam kaitannya dengan hukum. (Ladiqi and Suarde Wekke 2018) Dalam definisinya ini Dahl tampak mementingkan keterlibatan masyarakat dalam proses formulasi kebijakan, adanya pengawasan terhadap kekuasaan dan dijaminnya persamaan perlakukan negara terhadap semua warga negara sebagai unsur-unsur pokok demokrasi.

Secara sederhana, dari kriteria Dahl, Larry Diamond dkk mendefinisikan demokrasi atas kriteria- kriteria sebagai berikut. Pertama, rakyat berpartisipasi dalam pemilihan pemimpin pemerintahannya. Kedua, Kandidat-kandidat pemimpin yang hendak dipilih memiliki ruang berkompetisi dengan yang lain. Dan Ketiga, pemerintah mengijinkan berlangsungnya kebebasan politik dan kebebasan sipil. (Ladiqi and Suarde Wekke 2018) Senada dengan Dahl, Clark mendefinisikan demokrasi bukan saja menyangkut hak untuk bersuara dalam pemerintahan, namun juga meliputi hak-hak yang lain, yaitu kebebasan berbicara, pers yang bebas, akses untuk mendapatkan informasi dan hak untuk berkonsultasi dalam pembuatan keputusan serta kebebasan dari diskriminasi antara pria dan wanita dan ras. (Ladiqi and Suarde Wekke 2018).

April Carter bahkan menafsirkan Demokrasi secara singkat dan jelas yaitu Carter mendefinisikan demokrasi secara ringkas, padat dan tepat sebagai “membatasi kekuasaan” (Sunarso 2018)

Berdalil dari tafsir para ahli tentang kriteria dan makna dari Demokrasi tersebut, dapat dimengerti bahwa konsep demokrasi erat kaitannya dengan hak-hak dan kedaulatan berada di tangan rakyat melalui kepemimpinan yang dipilih oleh rakyat (pemilu), hal ini juga mengindikasikan bahwa demokrasi identik dengan kebebasan, mulai dari kebebasan memilih, menentukan pendapat, hingga kebebasan berekspresi. Robert A Dahl bahkan menjelaskan rigid bahwa Demokrasi menegaskan sejumlah kesempatan untuk rakyat agar dapat partisipatif,

(25)

kesamaan secara politik, hingga pengendalian terhadap kebijakan. (Ladiqi and Suarde Wekke 2018) Senada dengan hal tersebut, jelas bahwa Henry B Mayo juga menerangkan diantara nilai penting dan fundamental dari demokrasi adalah adanya pergantian rutin kekuasaan (pemilihan umun) hingga penghormatan terhadap kebebasan sipil (Miriam Budiardjo 2008)

Secara sederhana, penulis mencoba mevisualisasikan silang sengkarut antara prinsip demokrasi secara harfiah dengan potret produk hukum darurat negara dengan contoh Dekrit, berdasarkan Tabel berikut:

Demokrasi Dekrit Presiden (DP) Kriteria

Konsep

Tujuan/ Hasil

Tabel.

Dari ilustrasi tersebut dapat dipahami bahwa terdapat pertentangan antara nilai demokrasi dengan konsep Dekrit terlebih lagi jika Dekrit belum memiliki landasan dan definisi yang jelas tentang apa yang dimaksud keadaan darurat serta luasan cakupan subtansi DP sebagai norma darurat Negara yang diterbitkan Presiden. Konsep dan muatan DP yang belum terang tafsir keadaan daruratnya menjadi penghalang Demokratisasi dalam sebuah Negara. konsep Demokratisasi yang pada hakikatnya bertumpu pada nilai- nilai kebebasan, pergantian kekuasaan, hingga pembagian kekuasaan (tidak tersentral

-Kebebasan Publik -Partisipasi Politik -Pembatasan Kekuasaan

-Kebebasan Berpendapat -Terbatas secara Normatif -Kontrol Kekuasaan -Pergantian rutin kekuasaan

Kebebasan &

Pembatasan kekuasaan

-Subtansi Luas -Penafsiran Subjektif -Superioritas Kekuasaan

-Berdasarkan teori darurat -Kekuasaan tanpa batas

Superioritas Kekuasaan

& Pengendalian Negara tanpa batas Normatif

(26)

pada satu cabang kekuasaan) bertentangan dengan penerapan Dekrit secara factual sebagai norma darurat negara.

Dari penjelasan tersebut, titik hubung dengan DP terletak pada point kebebasan dan pergantian kekuasaan. Definisi demokrasi yang demikian (menjunjung nilai kebebasan dan pergantian kekuasaan) jelas bertolak belakang dengan prinsip-prinsip dasar subtansi Produk darurat negara yang dalam praktiknya bermuatan sentralisasi kekuasaan pada salah satu cabang kekuasaan yaitu eksekutif dengan alasan kedaruratan.

(Neysa Changnata 2015)

Sebagaimana telah penulis jelaskan sebelumnya bahwa produk hukum darurat negara selain dekrit yang juga berlandaskan kedaruratan dan berpotensi bertentangan dengan nilai demokrasi ialah Perppu. Sebagai Negara Hukum (ps 1 (3) UUD NRI 1945), Indonesia berkewajiban untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan ketentuan hukum yang diterbitkan memiliki landasan yuridis yang jelas dan berkepastian (Julyano and Sulistyawan 2019), dalam situasi dan kondisi apapun, (termasuk dalam keadaan bahaya ataupun darurat negara). idealnya instrument hukum negara harus memiliki landasan yuridis yang jelas, hal ini juga bertujuan agar terciptanya keadilan dan kemanfaatan hukum (Ali 2002). Disisi lain, negara hukum dalam implementasinya juga harus melaksanakan ketertiban yang berlandaskan pada Hukum (rule of law), dengan tujuan negara kesejahteraan (welfare state).(Bima 2019).

Demokrasi dan negara hukum adalah dua konsepsi yang saling berkaitan yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Pada konsepsi demokrasi, di dalamnya terkandung prinsip-prinsip kedaulatan rakyat (democratie) sedangkan di dalam konsepsi negara hukum terkandung prinsip-prinsip negara hukum (nomocratie), yang masing- masing prinsip dari kedua konsepsi tersebut dijalankan secara beriringan sebagai dua sisi dari satu mata uang. Paham negara hukum yang demikian dikenal dengan sebutan

“Negara hukum yang demokratis” (democratische rechtsstaat) atau dalam bentuk konstitusional disebut constitutional democracy. Disebut sebagai negara hukum yang demokratis, karena di dalamnya mengakomodasikan prinsip-prinsip negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi, yaitu: (Muntoha 2009)

(27)

1. Prinsip-prinsip Negara Hukum : berupa Asas legalitas; Perlindungan hak-hak asasi manusia (HAM); Keterikatan pemerintah pada hukum; Monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hukum; dan Pengawasan oleh hakim yang merdeka dalam hal organ-organ pemerintah melaksanakan dan menegakkan aturan- aturan hukum.

2. Prinsip-prinsip Demokrasi : Perwakilan politik, kekuasaan politik tertinggi dalam suatu negara dan dalam masyarakat hukum yang lebih rendah diputuskan oleh badan perwakilan, yang diisi melalui pemilihan umum; Pertanggungjawaban politik, organ- organ pemerintahan dalam menjalankan fungsinya sedikit banyak tergantung secara politik yaitu kepada lembaga perwakilan; Pemencaran kewenangan, konsentrasi kekuasaan dalam masyarakat pada satu organ pemerintahan adalah kesewenang- wenangan. Oleh karena itu, kewenangan badan-badan publik itu harus dipencarkan pada organ-organ yang berbeda; Pengawasan dan kontrol (penyelenggaraan) pemerintahan harus dapat dikontrol; Kejujuran dan terbuka untuk umum; dan Rakyat diberi kemungkinan untuk mengajukan keberatan.

Lebih lanjut Jimly Asshiddiqie, menegaskan bahwa negara hukum yang bertopang pada sistem demokrasi pada pokoknya mengidealkan suatu mekanisme bahwa negara hukum itu haruslah demokratis, dan negara demokrasi itu haruslah didasarkan atas hukum.

Menurutnya, dalam perspektif yang bersifat horizontal gagasan demokrasi yang berdasarkan atas hukum (constitutional democracy) mengandung 4 (empat) prinsip pokok, yaitu:(Muntoha 2009)

1. Adanya jaminan persamaan dan kesetaraan dalam kehidupan bersama;

2. Pengakuan dan penghormatan terhadap perbedaan atau pluralitas;

3. Adanya aturan yang mengikat dan dijadikan sumber rujukan bersama; dan

4. Adanya mekanisme penyelesaian sengketa berdasarkan mekanisme aturan yang ditaati bersama dalam konteks kehidupan bernegara, di mana terkait pula dimensi-dimensi kekuasaan yang bersifat vertikal antar institusi negara dengan warga negara.

Oleh karena itu, negara hukum itu harus ditopang dengan sistem demokrasi karena terdapat korelasi yang jelas antara negara hukum yang bertumpu pada konstitusi, dengan kedaulatan rakyat yang dijalankan melalui sistem demokrasi. (Muntoha 2009)

(28)

Dalam sistem demokrasi partisipasi rakyat merupakan esensi dari sistem ini. Akan tetapi, demokrasi tanpa pengaturan hukum akan kehilangan bentuk dan arah, sementara hukum tanpa demokrasi akan kehilangan makna. Menurut Frans Magnis Suseno, demokrasi yang bukan negara hukum bukan demokrasi dalam arti yang sesungguhnya. Demokrasi merupakan cara yang paling aman untuk mempertahankan kontrol atas negara hukum.

Dengan demikian dalam negara hukum yang demokratis, hukum dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan, dan ditegakkan dengan “Tangan besi” berdasarkan kekuasaan semata (machtsstaat). Sebaliknya, demokrasi haruslah diatur berdasar atas hukum (rechtsstaat) karena perwujudan gagasan demokrasi memerlukan instrumen hukum untuk mencegah munculnya monokrasi, yang mengancam pelaksanaan demokrasi itu sendiri (Muntoha 2009)

Hal ini dapat dimaknai bahwa nilai dari negara hukum menempatkan bahwa Hukum merupakan ketentuan paling tinggi (supremasi) baik dalam mengatur hubungan antara negara dengan masyarakatnya, maupun mengatur antara anggota masyarakat.

Makna atau nilai dari negara hukum tersebut adalah bahwa hukum merupakan sumber tertinggi dalam mengatur dan menentukan mekanisme hubungan hukum antara negara dan masyarakat, maupun antara anggota atau kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya dalam mewujudkan tujuannya (Nuh 2011)

Pada Era reformasi, diadakan pembedaan yang tegas antara aturan hukum yang bersifat mengatur disebut peraturan, yang bersifat penetapan disebut keputusan, dan yang bersifat menghakimi disebut putusan. Hal ini tercermin dalam UU No. 12 tahun 2011 (sebagaimana telah diubah menjadi UU No.15 Tahun 2019) tentang Pembentukan Peaturan Perundang-Undangan, dimana pada Pasal 7 ditegaskan hierarki Peraturan Perundang- undangan terdiri atas:

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;

d. Peraturan Pemerintah;

e. Peraturan Presiden;

f. Peraturan Daerah Provinsi; dan

Referensi

Dokumen terkait

Melalui hasil penelitian dapat diketahui bahwa Peranan POLRI dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Senjata Api oleh Masyarakat Sipil di Kota Surakarta, dalam hal ini

Pemeliharaan tanaman pakcoy harus dilakukan dengan prosedur yang sudah diten- tukan seperti layaknya melakukan penyiraman pagi dan sore setiap hari, memberikan pupuk pada tanaman

100% Kegiatan administrasi yang benar dalam menunjang penjualan alat berat / Better administrative process in supporting unit sales. Melakukan surat menyurat dan

1) Jika suatu pidana menurut penilaian dianggap tidak perlu diancam dengan pidana penjara atau bobotnya dinilai kurang dari 1 tahun penjara, digolongkan sebagai tindak

Berdasarkan keputusan yang diperolehi daripada pembangunan dan pengujian topologi, saiz kekisi 0.380m dan jarak ke akses paling hampir digunakan dalam analisa

Berdasarkan pemikiran di atas dan melihat realitas dunia pendidikan sekarang, khususnya dengan adanya ujian nasional yang memberikan berbagai dampak psikologis siswa, maka

Remaja juga ingin menghindari penolakan, pelecehan atau ejekan (Janes & Olson dalam Taylor, Peplau & Sears, 2009, h.259). Sebagaimana ditemukan pada penelitian ini bahwa

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) pengaruh secara individual premium (hadiah pemberian), hadiah (kontes, undian, permainan), dan imbalan berlangganan