• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATI BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BUPATI BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BUPATI BANGKA

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN

PERATURAN BUPATI BANGKA NOMOR 6 TAHUN 2018

TENTANG

SATUAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT DI KABUPATEN BANGKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANGKA,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan ketertiban umum, ketentraman masyarakat dan perlindungan masyarakat diperlukan Satuan Perlindungan Masyarakat yang profesional dan terampil yang dibentuk di setiap desa/kelurahan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, maka pembentukan Satuan Perlindungan Masyarakat perlu ditetapkan dengan Peraturan Bupati Bangka;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 56) dan Undang-Undang Darurat Nomor 6 Tahun 1956 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 57) tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Termasuk Kotaparaja Dalam Lingkungan Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821);

2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 217, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4033);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

(2)

2 4. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satuan

Polisi Pamong Praja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5094);

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 10 Tahun 2009 tentang Penugasan Satuan Perlindungan Masyarakat Dalam Penanganan Ketenteraman, Ketertiban, dan Keamanan Penyelenggaraan Pemilihan Umum;

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 Tahun 2011 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 590);

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Masyarakat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1837);

8. Peraturan Bupati Bangka Nomor 54 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Penjabaran Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja Tipe A (Berita Daerah Kabupaten Bangka Tahun 2016 Nomor 65);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG SATUAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT DI KABUPATEN BANGKA.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Bangka

2. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

3. Bupati adalah Bupati Bangka.

4. Satuan Polisi Pamong Praja yang selanjutnya disebut SatPol PP adalah Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bangka.

5. Penyelenggaraan Perlindungan Masyarakat adalah pengorganisasian dan pemberdayaan perlindungan masyarakat.

6. Perlindungan Masyarakat adalah suatu keadaan dinamis dimana warga masyarakat disiapkan dan dibekali pengetahuan serta keterampilan untuk melaksanakan kegiatan penanganan bencana guna mengurangi dan memperkecil akibat bencana, serta ikut memelihara keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat, kegiatan sosial kemasyarakatan.

7. Satuan Perlindungan Masyarakat yang selanjutnya disebut Satlinmas adalah Organisasi yang dibentuk oleh pemerintah Desa/Kelurahan dan beranggotakan warga masyarakat yang disiapkan dan dibekali pengetahuan serta keterampilan untuk melaksanakan kegiatan penanganan bencana guna mengurangi dan memperkecil akibat bencana, serta ikut memelihara keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat, kegiatan sosial kemasyarakatan.

(3)

3 8. Anggota Satuan Perlindungan Masyarakat yang selanjutnya disebut

Anggota Satlinmas adalah Warga Negara Republik Indonesia yang memenuhi persyaratan dan secara sukarela turut serta dalam kegiatan perlindungan masyarakat.

9. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah Kabupaten Bangka.

10. Camat adalah pemimpin dan koordinator penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kerja kecamatan yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan kewenangan pemerintahan dari Bupati untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah, dan menyelenggarakan tugas umum pemerintahan.

11. Kelurahan adalah wilayah kerja lurah sebagai perangkat Daerah Kabupaten dalam wilayah kerja Kecamatan.

12. Lurah adalah pemimpin dan koordinator penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kerja kelurahan.

13. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

14. Kepala Desa adalah kepala Pemerintahan Desa yang memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

BAB II

KEDUDUKAN DAN WEWENANG Bagian Kesatu

Kedudukan Pasal 2

Satlinmas berkedudukan di wilayah kerja Desa/Kelurahan sebagai mitra kerja Pemerintah Daerah dan Kecamatan dalam bidang perlindungan masyarakat.

Bagian Kedua Wewenang

Paragraf 1 Pemerintah Daerah

Pasal 3

(1) Pemerintah Daerah berwenang melakukan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat serta perlindungan masyarakat.

(2) Dalam menyelenggarakan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat serta perlindungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bupati memberikan wewenang kepada Satpol PP untuk melaksanakan fungsi pembinaan dan pemberdayaan kapasitas penyelenggaraan perlindungan masyarakat di Daerah.

(3) Pemberian wewenang serta pelaksanaan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempedomani Peraturan Bupati terkait Kedudukan, Susunan Organisasi, Penjabaran Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Satpol PP sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

(4)

4 Paragraf 2

Kecamatan Pasal 4

(1) Bupati melimpahkan pelaksanaan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat serta perlindungan masyarakat, pada tingkat kecamatan kepada Camat.

(2) Pelaksanaan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat serta perlindungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempedomani Peraturan Bupati terkait Kedudukan, Susunan Organisasi, Penjabaran Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Kecamatan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB III

TUGAS, HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu

Tugas Pasal 5 Satlinmas mempunyai tugas sebagai berikut : a. membantu dalam penanggulangan bencana;

b. membantu keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat;

c. membantu dalam kegiatan sosial kemasyarakatan;

d. membantu penanganan ketentraman, ketertiban dan keamanan dalam penyelenggaraan pemilu; dan

e. membantu upaya Pertahanan Negara.

Pasal 6

Selain melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Satlinmas mempunyai tugas tambahan sebagai berikut :

a. melaksanakan piket di kantor desa/kelurahan/posko Satlinmas;

b. mengisi buku kejadian;

c. mengisi buku tamu;

d. mengisi buku absen;

e. melaksanakan patroli lingkungan/ronda;

f. menginformasikan dan melaporkan segala situasi yang dianggap berpotensi bencana dan gangguan keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat;

g. menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan; dan

h. melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada Kepala Desa/Lurah.

Bagian Kedua Hak dan Kewajiban

Pasal 7 Anggota Satlinmas, mempunyai hak :

a. mendapatkan pendidikan dan pelatihan;

b. mendapatkan kartu tanda anggota Satlinmas;

c. mendapatkan fasilitas, sarana dan prasarana penunjang tugas operasional;

(5)

5 d. mendapatkan biaya operasional dalam menunjang pelaksanaan tugas;

e. mendapatkan santunan apabila terjadi kecelakaan tugas;

f. mendapatkan piagam penghargaan sesuai masa bakti; dan g. mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan tugas.

Pasal 8 Anggota Satlinmas, mempunyai kewajiban :

a. menjunjung tinggi norma hukum, norma agama, hak asasi manusia, dan norma sosial lainnya yang hidup dan berkembang di masyarakat;

b. menaati disiplin dan berpegang teguh pada Sumpah Janji Satlinmas;

c. membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat; dan d. melaporkan secara berjenjang apabila ditemukan atau patut diduga adanya

gangguan perlindungan masyarakat.

BAB IV

SUSUNAN ORGANISASI DAN KEANGGOTAAN Bagian Kesatu

Susunan Organisasi Pasal 9

(1) Satlinmas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, terdiri dari : a. koordinator kecamatan;

b. pelaksana harian koordinator;

c. kepala Satlinmas desa/kelurahan;

d. kepala satuan tugas;

e. kepala regu; dan f. anggota.

(2) Satlinmas berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Desa/Lurah.

(3) Susunan organisasi Satlinmas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.

Pasal 10

(1) Koordinator kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, secara ex-officio dijabat oleh Camat.

(2) Pelaksana harian koordinator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b adalah Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban pada kecamatan.

(3) Kepala satuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, secara ex-officio dijabat oleh Kepala Desa/Lurah.

(4) Kepala satuan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf d secara ex-officio dijabat oleh Kepala Seksi Pemerintahan di tingkat Desa dan Kepala Seksi Pemerintahan, Ketentraman dan Ketertiban Umum di tingkat Kelurahan.

(5) Kepala Regu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf e ditunjuk oleh kepala satuan tugas.

(6)

6 (6) Anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf f, paling

sedikit 10 (sepuluh) orang.

Pasal 11

(1) Kepala satuan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) membawahi paling banyak 5 (lima) regu, terdiri dari :

a. regu kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini;

b. regu pengamanan;

c. regu pertolongan pertama pada korban dan kebakaran;

d. regu penyelamatan dan evakuasi; dan e. regu dapur umum.

(2) Jumlah regu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa/kelurahan.

Pasal 12

Regu kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a mempunyai tugas sebagai berikut :

a. melakukan upaya kesiapsiagaan dan peringatan dini terhadap segala bentuk ancaman bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat;

b. menginformasikan dan melaporkan segala situasi yang dianggap berpotensi bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat.

c. menjaring, menampung, mengoordinasikan, dan mengkomunikasikan data dan informasi dari masyarakat mengenai potensi bencana dan gangguan keamanan, ketenteraman, dan ketertiban masyarakat;

d. melakukan evakuasi terhadap warga masyarakat dari wilayah lokasi terjadi bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat ke wilayah aman; dan

e. melakukan rehabilitasi, relokasi, rekonsilisasi dan rekontruksi darurat pada fasilitas umum yang rusak akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat.

Pasal 13

Regu pengamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b mempunyai tugas sebagai berikut :

a. melakukan pemantauan dan mewaspadai segala bentuk ancaman bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat;

b. meminimalisir dan/atau mencegah segala bentuk potensi bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat;

c. melakukan pengamanan jalur penyelamatan, evakuasi dan distribusi bantuan bagi korban bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat;

d. melakukan pendataan dan melaporkan jumlah pengungsi, korban dan kerugian materi akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat; dan

e. melakukan rehabilitasi, relokasi, rekonsiliasi dan rekonstruksi darurat pada fasilitas umum yang rusak akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat.

(7)

7 Pasal 14

Regu pertolongan pertama pada korban dan kebakaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf c mempunyai tugas sebagai berikut : a. memberikan pertolongan pertama pada korban dan pengungsi akibat

bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat;

b. memberikan pertolongan pertama pada kebakaran;

c. melakukan pendekatan psikologis terhadap para korban dan pengungsi akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat;

d. melakukan rehabilitasi, relokasi, rekonsiliasi dan rekonstruksi darurat pada fasilitas umum yang rusak akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat.

Pasal 15

Regu penyelamatan dan evakuasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf d mempunyai tugas sebagai berikut :

a. melakukan pencarian dan penyelamatan pada korban akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat.

b. memberikan pertolongan pertama pada korban akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat.

c. melakukan evakuasi korban akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat; dan

d. melakukan rehabilitasi, relokasi, rekonsiliasi dan rekonstruksi darurat pada fasilitas umum yang rusak akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat.

Pasal 16

Regu dapur umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf e mempunyai tugas sebagai berikut :

a. mendirikan tenda darurat/tempat tinggal sementara bagi korban atau para pengungsi akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentramam, dan ketertiban masyarakat;

b. membuat dan/atau mendirikan dapur umum bagi korban atau para pengungsi akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat; dan

c. melakukan rehabilitasi, relokasi, rekonsiliasi dan rekonstruksi darurat pada fasilitas umum yang rusak akibat bencana dan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat.

Bagian Kedua Persyaratan

Pasal 17

(1) Perekrutan anggota Satlinmas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dilakukan terhadap masyarakat Desa/Kelurahan yang memenuhi persyaratan.

(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. warga Negara Indonesia;

b. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

(8)

8 c. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945;

d. berumur sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun dan/atau sudah menikah;

e. jenjang Pendidikan Minimal SLTP dan/atau sederajat;

f. sehat jasmani dan rohani;

g. ber-Kartu Tanda Penduduk di Daerah dan bertempat tinggal di wilayah desa/kelurahan setempat; dan

h. bersedia membuat pernyataan menjadi anggota Satlinmas secara sukarela dan kesanggupan untuk aktif dalam kegiatan perlindungan masyarakat.

Pasal 18

(1) Kepala Desa/Lurah merekrut calon anggota Satlinmas di desa/kelurahan.

(2) Perekrutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara sukarela dan terbuka bagi seluruh warga.

(3) Warga masyarakat yang telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) ditetapkan sebagai Satlinmas dengan Keputusan Bupati yang ditandatangani oleh Kepala Satpol PP.

Pasal 19

(1) Anggota Satlinmas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dilantik oleh Kepala Satpol PP.

(2) Pelantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan pembacaan Sumpah dan Janji Satlinmas.

(3) Sumpah dan Janji Satlinmas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.

Pasal 20

(1) Masa keanggotaan Satlinmas berakhir sampai dengan usia 56 (lima puluh enam) tahun atau diberhentikan.

(2) Diberhentikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) karena : a. meninggal dunia;

b. mengundurkan diri atas permintaan sendiri;

c. pindah domisili;

d. tidak lagi memenuhi persyaratan kesehatan;

e. melakukan perbuatan tercela; atau

f. melakukan tindak pidana yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

BAB V

PEMBERDAYAAN Pasal 21

(1) Pemberdayaan anggota Satlinmas dilakukan untuk meningkatkan kapasitas anggota Satlinmas dalam pelaksanaan tugas.

(9)

9 (2) Pemberdayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui

kegiatan :

a. pendidikan dan pelatihan;

b. peningkatan peran serta dan prakarsa;

c. peningkatan kesiapsiagaan;

d. penanganan tanggap darurat;

e. pengendalian dan operasi; dan f. pembekalan.

Pasal 22

Pemberdayaan anggota Satlinmas dilakukan dengan penyiapan posko Satlinmas di tiap-tiap desa/kelurahan.

Pasal 23

(1) Anggota Satlinmas dalam melaksanakan tugas piket atau tugas lapangan wajib mengenakan pakaian seragam.

(2) Pakaian seragam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pakaian Dinas Lapangan (PDL).

(3) Pakaian seragam sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi dengan : a. atribut;

b. perlengkapan; dan c. peralatan operasional.

BAB VI PEMBINAAN

Pasal 24

(1) Kepala Desa/Lurah sebagai kepala Satlinmas di desa/kelurahan melaksanakan pembinaan tekhnis operasional Satlinmas di desa/kelurahan.

(2) Camat sebagai koordinator melaksanakan pembinaan pembinaan tekhnis operasional Satlinmas di tingkat Kecamatan;

(3) Pembinaan teknis operasional di tingkat Daerah berada pada Seksi Perlindungan Masyarakat Satpol PP.

BAB VII PELAPORAN

Pasal 25

(1) Kepala Desa/Lurah menyampaikan laporan penyelenggaraan perlindungan masyarakat kepada Camat selaku koordinator.

(2) Camat menyampaikan menyampaikan laporan penyelenggaraan perlindungan masyarakat kepada Bupati c.q. Kepala Satpol PP.

(3) Bupati c.q. Kepala Satpol PP menyampaikan laporan penyelenggaraan perlindungan masyarakat kepada Gubernur c.q. Kepala Satpol PP Provinsi.

(4) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) dilakukan rutin setiap bulannya.

(10)

10 BAB VIII

PEMBIAYAAN Pasal 26

Pendanaan untuk penyelenggaraan perlindungan masyarakat dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah serta lain-lain pendapatan yang sah dan tidak mengikat.

BAB IX

KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 27

Anggota Satlinmas yang telah terbentuk sebelum Peraturan Bupati ini diundangkan, harus segera menyesuaikan dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam Peraturan ini.

BAB X

KETENTUAN PENUTUP Pasal 28

Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Bangka.

Ditetapkan di Sungailiat

pada tanggal 22 Januari 2018 BUPATI BANGKA,

Cap/dto TARMIZI SAAT Diundangkan di Sungailiat

Pada tanggal 22 Januari 2018 Plh. SEKRETARIS DAERAH

KABUPATEN BANGKA, Cap/dto

AKHMAD MUKHSIN

BERITA DAERAH KABUPATEN BANGKA TAHUN 2018 NOMOR 6

Salinan Sesuai Dengan Aslinya KEPALA BAGIAN HUKUM DAN HAM,

Cap/dto

TIAMAN FAHRUL ROZI, SH. MH PEMBINA TK I

NIP. 19660608 198603 1 004

(11)

1

BAGAN SUSUNAN ORGANISASI DAN GARIS KOORDINASI SATUAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT DI KABUPATEN BANGKA I. SATLINMAS KABUPATEN

BUPATI (PENASEHAT)

KEPALA SATPOL PP (PENANGGUNG JAWAB)

SEKRETARIS DAERAH (PEMBINA)

SEKRETARIAT

BIDANG PENANGGULANGAN

BENCANA DAERAH BIDANG

SARANA PRASARANA &

SDA BIDANG

KETERTIBAN UMUM, KETENTRAMAN MASYARAKAT & LINMAS BIDANG

PENEGAKAN PERUNDANG- UNDANGAN DAERAH

SEKSI OPERASIOANAL &

PENGENDALIAN

SEKSI PENGAMANAN ASET

& PENGENDALIAN

SEKSI PERLINDUNGAN

MASYARAKAT

SATLINMAS KECAMATAN

SATLINMAS KELURAHAN/ DESA LAMPIRAN I

PERATURAN BUPATI BANGKA NOMOR 6 TAHUN 2018

TENTANG

SATUAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT DI KABUPATEN BANGKA

(12)

2 II. SATLINMAS KECAMATAN

CAMAT (KEPALA SATUAN)

SEKRETARIS

SEKSI PEMERINTAHAN

SEKSI KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN UMUM (KEPALA SATUAN TUGAS)

KOMANDAN REGU SATLINMAS KECAMATAN

KOMANDAN REGU SATLINMAS KELURAHAN/DESA

SEKSI PELAYANAN UMUM SEKSI

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKSI

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

(13)

3 III. SATLINMAS KELURAHAN

LURAH (KEPALA SATUAN)

SEKRETARIS KELURAHAN

SEKSI PELAYANAN UMUM

SEKSI PEMERINTAHAN, KETENTRAMAN DAN

KETERTIBAN UMUM (KEPALA SATUAN TUGAS)

SEKSI KESEJAHTERAAN

MASYARAKAT

SEKSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN

PEMBANGUNAN

KEPALA REGU SATUAN LINMAS

(14)

4 IV. SATLINMAS DESA

KEPALA DESA (KEPALA SATUAN)

SEKSI

KESEJAHTERAAN RAKYAT

SEKRETARIS DESA

SEKSI PEMERINTAHAN (KEPALA SATUAN TUGAS)

SEKSI PELAYANAN

KEPALA REGU SATUAN LINMAS

KEPALA URUSAN

TATA USAHA KEPALA URUSAN

KEUANGAN KEPALA URUSAN PERENCANAAN

(15)

5 GARIS KOORDINASI SATLINMAS KABUPATEN BANGKA

BUPATI BANGKA, Cap/dto

TARMIZI SAAT

SATLINMAS

KABUPATEN KODIM/ POLRES

SATLINMAS

KECAMATAN KORAMIL/ POLSEK

SATLINMAS KELURAHAN/

DESA

BABINSA/

BABINKAMTIBMAS

(16)

6

SUMPAH/JANJI ANGGOTA SATLINMAS

1. Kami Anggota Satuan Perlindungan Masyarakat Adalah Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia Yang Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa Dengan Penuh Kesadaran Mengemban Hak Dan Kewajiban Dalam Memberikan Perlindungan Kepada Masyarakat Dan Melakukan Pembelaan Negara.

2. Kami Anggota Satuan Perlindungan Masyarakat Adalah Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia Yang Siap Membantu Pemerintah Daerah Dalam Meminimalkan Dan/ Atau Mencegah Segala Bentuk Potensi Bencana Dan Gangguan Yang Mengancam Keamanan, Ketentraman, Serta Ketertiban Masyarakat.

3. Kami Anggota Satuan Perlindungan Masyarakat Adalah Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia Yang Dalam Melaksanakan Tugas Selalu Mengutamakan Kepentingan Nasional Diatas Kepentingan Pribadi Dan Golongan Dengan Memegang Teguh Disiplin, Patuh Dan Taat Kepada Peraturan Perundang-Undangan Yang Berlaku.

BUPATI BANGKA, Cap/dto

TARMIZI SAAT

LAMPIRAN II

PERATURAN BUPATI BANGKA NOMOR 6 TAHUN 2018

TENTANG

SATUAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT DI KABUPATEN BANGKA

Referensi

Dokumen terkait

Bila pendapatan domestic regional bruto (PDRB) menurun maka permintaan kredit konsumsi akan menurun pula. Adapun rumusan masalah yang dapat diambil sebagai dasar

 Setelah membaca teks tentang sikap kerja sama, siswa mampu mengidentifikasi gagasan pokok dan gagasan pendukung setiap paragraf dari teks tulis dengan mandiri..

a. Aktifitas berpikir, kreativitas selalu melibatkan proses berpikir di dalam diri seseorang. Aktifitas ini merupakan suatu proses mental yang tidak tampak oleh

29 Studi berikutnya yang dibuat oleh Muhammad Tayeb bertajuk “Perubahan Tipologi Arsitektur Masjid Kesultanan Ternate di Maluku Utara,” penelitian dari Rosita

Sejarah Provinsi dilaksanakan oleh responden dimulai dari halaman Mesin Pencari (Search Engine) Google sampai responden menemukan informasi Sejarah Provinsi. Untuk Skenario 2 -

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal 49 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, maka perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Bupati Bangka

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang tata cara perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan Daerah, tata cara evaluasi rancangan