• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI KHANA ROSYIDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SKRIPSI KHANA ROSYIDA"

Copied!
173
0
0

Teks penuh

I. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan latar belakang pentingnya penelitian tentang neuropati perifer pada diabetisi. Neuropati perifer merupakan salah satu komplikasi umum dari diabetes mellitus (DM) yang dapat memperburuk kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian neuropati perifer di Puskesmas Kedungmundu, Semarang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi prevalensinya.

1.1 Latar Belakang

Latar belakang penelitian ini mengungkapkan bahwa neuropati perifer adalah komplikasi mikrovaskuler yang paling sering terjadi pada pasien DM, dengan prevalensi yang tinggi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penelitian ini penting untuk memahami dampak neuropati terhadap kualitas hidup pasien dan untuk memberikan dasar bagi upaya pencegahan.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran neuropati perifer pada diabetisi di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu. Ini mencakup identifikasi gejala, derajat keparahan, dan faktor risiko yang berkontribusi terhadap neuropati.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat neuropati perifer, karakteristik demografi pasien, serta kerusakan fungsi saraf pada diabetisi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi perawat dalam melakukan pemeriksaan dan pencegahan lebih dini terhadap neuropati.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini mencakup peningkatan pemahaman perawat mengenai neuropati perifer, penyediaan data aktual bagi institusi kesehatan, dan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang keperawatan dan penelitian terkait neuropati.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka mencakup teori-teori dasar mengenai neuropati perifer, termasuk pengertian, faktor risiko, gejala klinis, dan patofisiologi. Penelitian sebelumnya juga dibahas untuk memberikan konteks dan mendukung pentingnya penelitian ini.

2.1 Pengertian Neuropati Perifer

Neuropati perifer didefinisikan sebagai gangguan pada saraf tepi yang dapat menyebabkan kerusakan pada fungsi sensorik, motorik, dan otonom. Ini sering terjadi pada pasien DM dan dapat memperburuk kualitas hidup.

2.2 Faktor Risiko Neuropati Perifer

Beberapa faktor risiko yang diidentifikasi termasuk usia, jenis kelamin, lama menderita DM, dan riwayat kesehatan lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa semakin lama seseorang menderita DM, semakin tinggi risiko mengalami neuropati.

2.3 Gejala Klinis Neuropati Perifer

Gejala klinis neuropati perifer bervariasi, termasuk kehilangan sensasi, nyeri, dan deformitas pada kaki. Kerusakan saraf dapat menyebabkan komplikasi serius seperti ulkus kaki dan amputasi.

2.4 Patofisiologi Neuropati Perifer

Patofisiologi neuropati perifer melibatkan beberapa mekanisme, termasuk teori vaskular dan metabolik. Hiperglikemia berperan dalam kerusakan saraf melalui berbagai proses biokimia.

2.5 Instrumen Pemeriksaan Neuropati Perifer

Pemeriksaan neuropati perifer dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen seperti Michigan Neuropathy Screening Instrument (MNSI) dan Michigan Diabetic Neuropathy Score (MDNS) untuk menilai derajat neuropati.

III. METODE PENELITIAN

Metode penelitian menjelaskan rancangan penelitian, populasi, dan teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Ini juga mencakup alat dan teknik pengumpulan data serta analisis yang dilakukan.

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian ini menggambarkan hubungan antara diabetes mellitus, neuropati perifer, dan faktor risiko yang mempengaruhi kejadian neuropati. Ini memberikan panduan untuk analisis data yang dilakukan.

3.2 Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Ini memungkinkan peneliti untuk menggambarkan kondisi saat ini dari neuropati perifer pada pasien DM.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah semua pasien diabetisi yang berkunjung ke Puskesmas Kedungmundu. Sampel diambil menggunakan teknik total population sampling, sehingga semua pasien yang memenuhi kriteria dimasukkan dalam penelitian.

3.4 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Puskesmas Kedungmundu, Semarang, selama periode tertentu. Ini penting untuk memastikan konsistensi dalam pengumpulan data dan analisis.

3.5 Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran

Variabel yang diteliti meliputi karakteristik demografi pasien, tingkat neuropati, dan kerusakan fungsi saraf. Definisi operasional dan skala pengukuran dijelaskan untuk memastikan akurasi dalam pengumpulan data.

3.6 Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data

Alat yang digunakan dalam penelitian ini mencakup kuesioner dan instrumen pemeriksaan neurologis. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pemeriksaan fisik pada pasien.

3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis univariat untuk menggambarkan karakteristik dan tingkat neuropati. Ini membantu dalam menarik kesimpulan dari hasil penelitian.

3.8 Etika Penelitian

Etika penelitian dijelaskan untuk memastikan bahwa semua prosedur penelitian mematuhi prinsip-prinsip etika, termasuk persetujuan informan dan perlindungan data pribadi.

IV. HASIL PENELITIAN

Bagian hasil penelitian menyajikan data yang diperoleh dari penelitian, termasuk gambaran umum responden, distribusi frekuensi karakteristik demografi, dan tingkat neuropati pada pasien.

4.1 Gambaran Umum Penelitian

Gambaran umum penelitian mencakup karakteristik demografi dari 113 responden yang berpartisipasi, termasuk usia, jenis kelamin, dan lama menderita DM. Ini memberikan konteks untuk analisis lebih lanjut.

4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Demografi Diabetisi

Distribusi frekuensi karakteristik demografi menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan dan berusia dewasa tengah. Data ini penting untuk memahami populasi yang diteliti.

4.3 Distribusi Frekuensi Jenis Kerusakan Saraf

Distribusi frekuensi jenis kerusakan saraf menunjukkan bahwa kerusakan saraf otonom adalah yang paling umum ditemukan di antara responden. Ini berimplikasi pada strategi pencegahan yang perlu diterapkan.

4.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Neuropati Perifer pada Diabetisi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami neuropati ringan. Hal ini menekankan perlunya pemeriksaan rutin untuk mendeteksi neuropati lebih awal.

4.5 Distribusi Frekuensi Tingkat Neuropati Perifer Berdasarkan Karakteristik Demografi Diabetisi

Analisis berdasarkan karakteristik demografi menunjukkan adanya hubungan antara lama menderita DM dan tingkat neuropati. Ini memberikan wawasan penting untuk pencegahan dan perawatan.

V. PEMBAHASAN

Bagian pembahasan menginterpretasikan hasil penelitian dan membandingkannya dengan penelitian sebelumnya. Ini juga membahas implikasi dari temuan terhadap praktik keperawatan.

5.1 Kerusakan Fungsi Saraf

Pembahasan mengenai kerusakan fungsi saraf mencakup pengaruh neuropati pada kualitas hidup pasien. Kerusakan fungsi saraf dapat menyebabkan komplikasi serius yang memerlukan perhatian medis.

5.2 Tingkat Neuropati Perifer

Pembahasan mengenai tingkat neuropati perifer menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami neuropati ringan. Ini menyoroti pentingnya deteksi dini untuk mencegah perkembangan neuropati.

5.3 Tingkat Neuropati Perifer Berdasarkan Karakteristik Demografi

Diskusi tentang bagaimana karakteristik demografi mempengaruhi tingkat neuropati memberikan wawasan bagi perawat untuk menyesuaikan pendekatan perawatan berdasarkan profil pasien.

5.4 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini diidentifikasi untuk memberikan konteks pada hasil yang diperoleh. Ini termasuk keterbatasan dalam ukuran sampel dan metode pengumpulan data.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dari penelitian ini merangkum temuan utama dan memberikan rekomendasi untuk praktik keperawatan dan penelitian selanjutnya.

6.1 Kesimpulan

Kesimpulan menyatakan bahwa mayoritas responden mengalami neuropati perifer, dan pencegahan dini sangat penting untuk mengurangi komplikasi lebih lanjut.

6.2 Saran

Saran diberikan untuk perawat agar lebih proaktif dalam melakukan pemeriksaan neuropati pada pasien DM dan untuk penelitian selanjutnya agar mengeksplorasi lebih dalam mengenai aspek-aspek yang berkontribusi terhadap neuropati.

Gambar

Tabel 1.Gangguan Fungsi Saraf pada Diabetisi37Tipe Saraf,34  Gejala Bentuk
Gambar 1. Reaksi AGE dan RAGE dalam Patogenesis DN40
Tabel 2. Pemeriksaan Neuropati Perifer pada Diabetisi Jenis Pemeriksaan
Tabel 2. Pemeriksaan Neuropati Perifer pada Diabetisi (Lanjutan) Jenis Pemeriksaan
+7

Referensi

Dokumen terkait

6 Melakukan pemeriksaan eksopthalmus dengan cara melakukan inspeksi pada bola mata untuk membedakan dengan mata

 Mahasiswa dapat melakukan teknik pemeriksaan fisik jantung dan pembuluh darah melalui teknik inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi dengan tepat..  Mahasiswa dapat membedakan

a) Mampu melakukan asuhan kebidanan komprehensif pada ibu hamil trimester II dan trimester III, dimulai dari pengkajian, pemeriksaan umum, fisik, pemeriksaan

Pada pemeriksaan fisik kita dapat melakukan TTV karena pada sindrom turner biasanya ditemukan tanda-tanda hipertensi, kita bisa lakukan inspeksi dengan melihat

Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara melakukan inspeksi dan palpasi pada daerah genitalia, perineum, anus dan sekitarnya (Kemenkes RI, 2011).. • 1) Jangan lupa memeriksa

3.8 Keabsahan Data Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis melakukan pengkajian dengan cara wawancara, observasi, melakukan pemeriksaan fisik, melakukan fisioterapi dada dan

Sehingga tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik Menurut Astuti dkk 2017, pada pengkajian data obyektif melakukan pemeriksaan head to toe, pada pemeriksaan fisik ibu di

Studi kasus ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif yakni dengan melakukan pengkajian, pemeriksaan fisik pada ibu dan bayi, konseling seputar masa nifas