• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agroteknologi, Kampus III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agroteknologi, Kampus III"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

15 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agroteknologi, Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, kecamatan Lowokwaru, Kabupaten Malang Jawa Timur selama 4 bulan, yaitu bulan April hingga Juli 2018.

3.2. Materi dan Alat 3.2.1. Materi Pengamatan

Benih jagung sebagai bahan penelitian diperoleh dari Balai Benih Induk (BBI) Palawija Jawa Timur Kebun Bedali, Lawang, Kabupaten Malang, dipanen pada minggu ke 3 bulan Maret 2018, varietas Bisma.

3.2.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eco-germinator, oven, timbangan analitik, cawan porselen, gelas ukur, gelas kimia, spatula, pisau, nampan plastik, pipet, magnetik stirrer, penyemprot air, rotary evaporator, blender kering, kertas saring, botol kaca kapasitas 50 dan 100 ml, kompor, autoclave, pembakar bunsen, tabung reaksi, cawan petri, mikro pipet, elenmeyer, Laminer Air Flow Cabinet, mikroskop, plastik kemas aluminium foil, alat tulis dan alat dokumentasi.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu daun sirih, daun lamtoro,

metanol, aquades, dicloromethane, benih jagung varietas Bisma, fungisida merk

dithane, asam asetat, kitosan, kertas merang, plastik, aluminium foil, kertas label,

(2)

spiritus, kapas, karet, media PDA, tissue steril, alkoholl 70%, masker dan sarung tangan.

3.3. Variabel Pengamatan

3.3.1. Uji Daya Berkecambah (%)

Pengujian daya berkecambah ditujukan untuk mengukur benih berdasarkan jumlah kecambah normal pada hari empat (pengamatan I) setelah tanam. Jumlah total kecambah normal dihitung pada hari tujuh setelah tanam (Pengamatan II), dengan perhitungan sebagai berikut (Dianawati, 2014).

DB=

× 100% …… (1)

3.3.2. Indeks Vigor (%)

Indeks vigor (IV), adalah persentase kecambah normal yang muncul pada hitungan pertama. Penilaian Indeks Vigor (IV) dilakukan dengan menghitung persentase kecambah normal yang muncul pada pengamatan pertama (Syafrudin, 2015). Rumus yang digunakan adalah :

IV=

×100% …….………….…………(2) 3.3.3. Potensi Tumbuh Maksimum

Potensi tumbuh (PTM) merupakan persentase munculnya kecambah yang dihitung berdasarkan jumlah benih yang tumbuh pada pengamatan hari ke-7 terhadap benih yang diuji (Syafrudin, 2015). Rumus yang digunakan adalah :

……….(3)

(3)

3.3.4. Intensitas Serangan Penyakit

Berdasarkan (Darwiati et al., 2013) penyakit tanaman dapat mudah diidentifikasi dengan cara pengamatan gejala dan tanda pada tanaman tersebut atau dibantu dengan pengamatan mikroskopis dengan membuat preparat dari bagian tanaman yang sakit. Besar persentase serangan (PS) pada masing-masing plot, dihitung dengan menggunakan rumus:

…………..(4) 3.3. Metode Penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium Agroteknologi menggunakan metode pengujian benih Uji diatas Kertas Digulung dan Diberdirikan dengan Plastik (UKDDP).

3.3.1. Rancangan Percobaan

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancang Acak Lengkap (RAL) sederhana dengan jumlah ulangan sebanyak 3 kali dan 8 perlakuan.

3.3.2. Perlakuan

Penelitian ini menggunakan 8 taraf perlakuan yang terdiri dari larutan kitosan 1% (V1), larutan kitosan 1% + ekstrak sirih 1% (V2), larutan kitosan 1%

+ ekstrak lamtoro 1% (V3), larutan kitosan 1% + ekstrak lamtoro 1%+ sirih 1%

(V4), kontrol positif (fungisida kimia berbahan aktif mankozeb merk Dagang

“Dithane”dengan dosis sesuai anjuran)(V5), kontrol negatif (tanpa perlakuan)

(V6), ekstrak sirih 1%, (V7), ekstrak lamtoro 1% (V8).

(4)

3.4.3. Denah Percobaan

Berikut merupakan denah rancangan percobaan pada penelitian ini:

Keterangan :

V1= Larutan kitosan 1%

V2= Larutan kitosan 1% + ekstrak sirih 1%

V3= Larutan kitosan 1% + ekstrak lamtoro 1%

V4= Larutan kitosan 1% + ekstrak lamtoro 1%+ sirih 1%

V5= Kontrol positif (fungisida kimia, dengan konsentrasi sesuai anjuran) V6= Kontrol negatif (tanpa perlakuan) V7= Sirih 1%

V8= Lamtoro 1%

U1= ulangan 1 U2= ulangan 2 U3= ulangan 3 3.5. Pelaksanaan Penelitian

3.5.1. Ekstraksi Daun sirih dan Daun Lamtoro

Ekstraksi daun sirih dan daun lamtoro dilakukan dengan pengirisan daun

sirih secara tipis dengan ukuran yang sama kemudian diletakkan pada nampan

lebar. Daun lamtoro dilepaskan dari tangkai daun kemudian diletakkan pada

nampan lebar. Daun sirih dan daun lamtoro dikeringanginkan selama 5-10 hari

pada suhu ruang (sekitar 23-25°C). Daun sirih dan daun lamtoro yang sudah

dikeringanginkan kemudian dihancurkan menggunakan blender kering hingga

membentuk serbuk. Serbuk sirih dan serbuk lamtoro masing-masing dimaserasi

(5)

dengan cara dilarutkan kedalam methanol 100% selama 3 hari untuk melarutkan senyawa aktif dari daun sirih dan daun lamtoro.

Setelah proses maserasi selesai, hasil larutan disaring dengan kertas saring untuk memisahkan serbuk padat dengan senyawa yang terlarut dalam methanol.

Larutan sirih dan lamtoro masing-masing kemudian dievaporasi menggunakan rotary evaporator selama 1.5-2 jam pada suhu 45.5°C hingga pelarut atau methanol terpisah dengan bahan aktif lamtoro dan sirih sehingga menghasilkan ekstrak kasar. Ekstrak kasar kemudian dilarutkan pada dicloromethane dengan perbandingan antara ekstrak dan pelarut yaitu 1:2 selama 1-2 jam, kemudian lakukan evaporasi kembali menggunakan rotary evaporator selama 30 menit-1 jam untuk memisahkan antara dicloromethane dengan ekstrak pekat lamtoro dan sirih. Ekstrak pekat kemudian diletakkan pada botol kaca gelap dan disimpan pada lemari es pada suhu 20-22°C sebelum digunakan kembali.

3.5.2. Pelapisan Benih

Benih dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan yang digunakan untuk

pengamatan selama 8 minggu. Selanjutnya dilakukan pembuatan larutan pelapis

benih. Pembuatan larutan kitosan 1% untuk perlakuan kitosan 1% (V1), kitosan

1%+ sirih 1% (V2) dan kitosan 1%+ lamtoro 1% (V3). Serbuk kitosan dilakukan

dengan mencampur antara asam asetat 1% (v/v). Asam asetat dilarutkan dengan

aquades sehingga membentuk larutan 1% (v/v). Kitosan 1% (m/v) ditimbang dan

dilarutkan pada asam asetat 1%, kemudian dihomogenkan dengan magnetic stirrer

selama 1.5 jam hingga tercampur. Untuk penggunaan sebagai pelapis benih pada

perlakuan kitosan 1%+ sirih 1% (V2) dan kitosan 1%+ lamtoro 1% (V3)

(6)

ditambahkan ekstrak pekat sirih atau lamtoro 1% (v/v). Adapun untuk pembuatan perlakuan pelapis sirih 1% (V7) dan lamtoro 1% (V8) dilakukan dengan mencampur ekstrak pekat 1% dengan methanol 40% (v/v). Perlakuan kontrol positif atau pestisida kimia menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb dengan merk dagang “Dithane” dengan dosis sesuai anjuran.

Pelapisan dilakukan dengan merendam benih jagung dalam media pelapis selama 2 menit untuk merekatkan bahan tanpa menimbulkan imbibisi. Kemudian benih jagung diangkat dari larutan pelapis dan dikeringanginkan pada wadah nampan pada suhu ruang. Benih yang sudah dikeringanginkan dikemas pada wadah aluminium foil. Kemasan benih diletakkan pada toples untuk digunakan selama 2 bulan pengamatan .

3.5.3. Pengujian Mutu Benih dan Pengamatan

Pengamatan yang dilakuakan diawal kegiatan adalah pengujian kadar air benih pada awal pengamatan sesuati metode ISTA. Kegiatan ini dilakukan dengan menghitung selisih berat dari cawan, cawan berisi benih sebelum dioven dan cawan berisi benih setelah dioven. Benih dicacah halus dan dioven pada suhu 133°C selama 4 jam. Pengamatan yang dilakukan setiap minggu yaitu uji daya tumbuh. Benih diuji kemampuan berkecambah pada media kertas buram secara Uji diatas kertas diberdirikan dan digulung plastik (UKDDP). Satu media kertas berisi 25 benih jagung, sehingga satu ulangan terdiri dari 4 kertas buram.

Pengujian diulang sebanyak 3 kali setiap ulangan yaitu 100 benih. Media

diletakkan pada eco-germinator untuk menjaga kelembaban. Pengamatan

(7)

dilakukan pada hari ke 4 dan hari ke-7, untuk menhitung persentase daya tumbuh, potensi tumbuh maksimum dan indeks vigor.

3.5.4. Isolasi Jamur pada Benih

Kegiatan ini dilawali dengan pembuatan stok media PDA, steriliasi peralatan dan bahan lain. Benih dicuci dengan aquades steril dan air cuciannya di tumbuhkan pada media PDA sebanyak 100 mikrolet dan diulang sebanyak 3 kali.

3.6. Analisis Data

Data selama 8 minggu pengujian daya tumbuh dianalisis dengan

menggunakan sidik ragam (ANOVA) untuk mengetahui adanya pengaruh dari

perlakuan yang diberikan. Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) taraf α 5% dilakukan

untuk mengetahui pengaruh taraf perlakuan yang terbaik.

Referensi

Dokumen terkait

Maserasi adalah proses pengambilan zat aktif dari daun sirih merah dengan cara merendam serbuk daun sirih merah kedalam pelarut (etanol 70 %) selama 5 hari dengan

Karakterisasi profil fisikokimia dilakukan terhadap ekstrak metanol daun sukun dimulai dengan proses ekstraksi dilakukan pada sampel daun sukun yang sudah dikeringkan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain yaitu benih melon varietas Sky Rocket Melon, Rock Melon, Golden Melon, tanah top soil, sekam padi yang telah

Penyemaian benih varietas pembeda yang sudah berkecambah pada pot-pot plastik kecil masing-masing2 benih, kemudian dilakukan penjarangan sehingga disisakan 1 tanaman yang

Media yang digunakan adalah TSA (Tryptic Soy Agar), dibuat dengan cara: 45,7 g serbuk TSA dituangkan ke dalam 1 L aquades mendidih pada labu Erlenmeyer, kemudian

Maserasi dilakukan selama 5 hari dengan cara serbuk simplisia kayu siwak (Salvadora persica L.) dan daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) yang telah ditimbang

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui potensi senyawa hasil ekstraksi dari daun lamtoro sebagai inhibitor korosi baja karbon unit heat.. exchanger

Variabel Bebas Variabel bebas pada penelitian ini adalah varietas jambu biji yaitu jambu biji merah dan jambu biji kristal serta jenis pelarut antara lain aquades, aquabides, dan asam