• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh: ZULFA LUDFI DIANA SARI NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh: ZULFA LUDFI DIANA SARI NIM"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER DI LABORATORIUM PERFORMA MESIN JURUSAN

TEKNIK MESIN UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

SKRIPSI

Oleh:

ZULFA LUDFI DIANA SARI NIM 17050524060

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK MESIN

PROGRAM STUDI S-1 PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

2021

(2)

MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER DI LABORATORIUM PERFORMA MESIN JURUSAN

TEKNIK MESIN UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Negeri Surabaya untuk Memenuhi Persyaratan Penyelesaian Program Sarjana S-1 Pendidikan Teknik Mesin

Oleh:

ZULFA LUDFI DIANA SARI NIM 17050524060

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK MESIN

PROGRAM STUDI S-1 PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

2021

(3)
(4)
(5)
(6)

Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengembangan Sistem Kontrol Automatic

Fuel Meter Trainer Menggunakan Mikrokontroler Di

Laboratorium Performa Mesin Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya”.

Penulis menyadari bahwa di dalam penulisan skripsi masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran positif yang bersifat membangun dari berbagai pihak diharapkan untuk penyempurnaan skripsi ini. Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing dalam penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua, saudara, dan seluruh keluarga yang telah mendukung dan memberikan dorongan serta doa.

2. Dr. Maspiah, M. Kes., selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya.

3. Dr. H. Soeryanto, M.Pd., selaku Ketua Program Studi S1 Pendidikan Teknik Mesin sekaligus Kepala Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya.

4. Firman Yasa Utama, S.Pd., M.T., selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, saran, waktu, dan pikirannya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

5. Dr. Warju, S.Pd., S.T., M.T., selaku Dosen Penguji yang telah

memberikan bimbingan, saran, waktu, dan pikirannya

sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

(7)

vi

dan pikirannya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

7. Teman-teman PTM C 2017 dan PTM Otomotif 2017 serta teman-teman lainnya yang telah membantu meluangkan waktu untuk berbagi ilmu bersama.

8. Dan pihak lain yang ikut membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Dengan segala keterbatasan yang penulis miliki, penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Bila terdapat kekurangan penulis mohon maaf.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna khususnya bagi pembaca, semoga dapat menambah pengetahuan dan wawasan yang sesuai dengan tujuan penyusunannya.

Surabaya, 1 April 2021

Penulis

(8)

Zulfa Ludfi Diana Sari, lahir di Tulungagung, Jawa Timur pada tanggal 08 April 1999. Pen- didikan formal yang pernah ditempuh yaitu SDN 1 Kalibatur (2005-2011), SMP Negeri 2 Kalidawir (2011-2014), SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung (2014-2017) dan Universitas Negeri Surabaya Program Studi S-1 Pendidikan Teknik Mesin tahun 2017.

“TRY, TRY, TRY, and PRAY”

Persembahan dan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT atas segala karunia dan rahmat-Nya serta salam dan shalawat tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

2. Orang Tua (Bapak Mansyur Rhofi’i dan Ibu Sulis Setyowati), adik Falisa Azlin Amalia dan keluarga besar yang selalu mem- berikan dukungan dan doa dalam setiap langkah hidup penulis.

3. Firman Yasa Utama, S.Pd., M.T., selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu memberikan bimbingan yang terbaik, saran dan motivasi kepada penulis.

4. Dr. Warju, S.Pd., S.T., M.T., dan Akhmad Hafizh Ainur Rasyid, S.T., M.T., selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan ilmu, masukan dan saran kepada penulis.

5. Dosen, staff dan teknisi Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya yang telah memberikan ilmu kepada penulis.

6. Yossindra Aji Purnama, partner dalam segala hal yang baik dan juga banyak membantu, serta mendukung dalam proses penelitian skripsi sampai selesai.

7. Silvia Nurul Ashiva, teman sekaligus sahabat yang mem-

berikan dukungan dan bantuan kepada penulis.

(9)

viii

9. Sita Jihan Fadilah dan Amalia Forma Alfianti, teman sekaligus sahabat yang memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis.

10. Ahmad Bahar Fauzi D3 Teknik Mesin 2016, Agung Mulyo Aji S1 Teknik Mesin 2018, yang telah banyak membantu dan memberi dukungan kepada penulis.

11. Teman-teman PTM C 2017 dan PTM Otomotif 2017 serta te- man-teman lainnya yang memberikan dukungan dan bantu- annya dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Teman-teman Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Sura- baya yang memberikan dukungan dan bantuannya dalam me- nyelesaikan skripsi ini.

13. Teman-teman yang lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu

persatu.

(10)

PENGEMBANGAN SISTEM KONTROL AUTOMATIC FUEL

METER TRAINER MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER

DI LABORATORIUM PERFORMA MESIN JURUSAN TEKNIK MESIN UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Penelitian Oleh : Zulfa Ludfi Diana Sari

NIM : 17050524060

Program Studi : S1 Pendidikan Teknik Mesin

Jurusan : Teknik Mesin

Fakultas : Fakultas Teknik

Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Firman Yasa Utama, S.Pd., M.T.

Berdasarkan ketentuan SNI 7554:2010 menjelaskan

bahwasanya alat yang digunakan dalam mengukur konsumsi

bahan bakar yaitu mampu mengukur kuantitas yang dikonsumsi

dalam ketelitian ± 2%, dan jika menggunakan sistem katup untuk

perpindahan secara cepat dari jalur penggunaan bahan bakar

secara normal ke sistem pengukuran maka perpindahan tersebut

tidak boleh lebih lama dari 0,2 detik. Alat ukur konsumsi bahan

bakar sebenarnya sudah ada namun sistem kerja dalam

menghitung konsumsi bahan bakar dari ini dilakukan dengan

menggunakan parameter penginderaan visual caranya yaitu

mengkondisikan rpm motor pada posisi tertentu dan dihitung

berapa volume bahan bakar yang berkurang dalam satuan waktu

menggunakan stopwatch. Metode tersebut menyebabkan proses

pembacaan tidak akurat dan masih bergantung pada ketelitian

manusianya itu sendiri yang dipengaruhi faktor konsentrasi,

kelelahan, respon baca dan lainnya. Oleh karena itu, dilakukan

perancangan Automatic Fuel Meter untuk menjadi solusi akan

(11)

x

dapat menghitung konsumsi bahan bakar pada trainer menggunakan mikrokontroler dengan kelengkapan mekanik trainer yang telah tersedia.

Dalam perancangan ini menggunakan jenis penelitian (R&D) Research and Development atau penelitian pengembangan berbasis eksperimen. pada kasus ini peneliti melakukan rancang bangun sistem kontrol pada Automatic Fuel Meter. Dalam pelaksanaannya peneliti melakukan beberapa tahapan yaitu; menentukan target penelitian, menentukan konsep penyelesaian, mendesain sistem kontrol, membangun sistem kontrol dan menguji peforma kinerja sistem kontrol. Pengambilan data performa sistem kontrol dilakukan beberapa tahap yaitu pengujian sensor infrared, pengujian perangkat lunak arduino, dan pengujian presisi.

Hasil penelitian ini adalah Automatic Fuel Meter menggunakan

kontroler Arduino Nano sebagai kontrolernya, sensor infrared

digunakan sebagai timer atau penghitung waktu konsumsi bahan

bakar. Algoritma pekerjaan yang dilakukan dalam menghitung

konsumsi bahan bakar ini ada 3 tahap yaitu tahap pengisian,

tahap pembacaan, dan tahap penghitungan data. Automatic Fuel

Meter dapat menghitung konsumsi bahan bakar dengan nilai

presisi yang dicari dari simpangan bakunya diketahui yaitu

sebesar 0,194366778. Sehingga nilai persentase koefisian variasi

nya didapatkan sebesar 1,7057198596% ~ 1,7%. Respon time dari

sensor infrared membutuhkan waktu 0,202083 detik pada

pengujian di bahan bakar pertalite dan waktu 0,200521 detik di

bahan bakar pertamax. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan

nilai yang sudah sesuai berdasarkan data keterangan dari SNI

7554:2010 yang menyatakan bahwasanya alat yang digunakan

dalam mengukur konsumsi bahan bakar yaitu mampu

mengukur kuantitas yang dikonsumsi dalam ketelitian 2%, dan

(12)

pengukuran maka perpindahan tersebut tidak boleh lebih lama dari 0,2 detik.

Kata kunci: Automatic Fuel Meter, Uji Konsumsi Bahan Bakar,

Mikrokontroler, Sensor Infrared.

(13)

xii

DEVELOPMENT OF AUTOMATIC FUEL METER TRAINER CONTROL SYSTEM USING MICROCONTROLLER IN

MECHANICAL PERFORMANCE LABORATORY, MECHANICAL ENGINEERING DEPARTMENT, STATE

UNIVERSITY OF SURABAYA

Researcher : Zulfa Ludfi Diana Sari

NIM : 17050524060

Study Program : S1 Mechanical Engineering Education Majors : Mechanical Engineering

Faculty : Faculty of Engineering institution name : State University of Surabaya Lecturer : Firman Yasa Utama, S.Pd., M.T.

Based on the provisions of SNI 7554: 2010, it explains that the tool

used in measuring fuel consumption is able to measure the quantity

consumed with ± 2% accuracy, and if you use a valve system for rapid

displacement from the normal fuel usage line to the measurement system,

the displacement is it cannot be longer than 0.2 seconds. The fuel

consumption measurement tool actually already exists, but the working

system in calculating the fuel consumption from this is done using visual

sensing parameters, namely conditioning the motor rpm in a certain

position and calculating how much fuel volume is reduced in units of time

using a stopwatch. This method causes the reading process to be

inaccurate and still depends on the accuracy of the human being itself

which is influenced by the factors of concentration, fatigue, reading

response and others. Therefore, an Automatic Fuel Meter is designed to

be a solution to these problems. The purpose of this research is to design

and create an automatic control system that can calculate fuel

consumption on the trainer using a microcontroller with the available

trainer mechanics.

(14)

Development or experiment-based development research. This case the researcher designed the control system on the Automatic Fuel Meter. In implementation, the researcher carried out several stages, namely;

determine research targets, determine the concept of completion, design control systems, build control systems and test the performance of the control system. The control system performance data is collected in several stages, namely infrared sensor testing, Arduino software testing, and precision testing.

The result of this research is that the Automatic Fuel Meter uses the Arduino Nano controller as the controller, the infrared sensor is used as a timer or timer for fuel consumption. The algorithm of the work carried out in calculating fuel consumption has 3 stages, namely the filling stage, the reading stage, and the data calculation stage. The Automatic Fuel Meter can calculate fuel consumption with the precision value sought from the known standard deviation of 0.194366778. So that the percentage value of the variation coefficient is obtained at 1.7057198596% ~ 1.7%. The response time from the infrared sensor takes 0.202083 seconds in the test on pertalite fuel and 0.200521 seconds in the Pertamax fuel. Based on these results, it shows that the value is appropriate based on the information data from SNI 7554: 2010 which states that the tool used in measuring fuel consumption is able to measure the quantity consumed with an accuracy of 2%, and if using a valve system for fast moving from the line of use. normal fuel to the measurement system the displacement should not be longer than 0.2 seconds.

Keywords: Automatic Fuel Meter, Fuel Consumption Test,

Microcontroller, Infrared Sensor.

(15)

xiv

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ...iii

SURAT PERNYATAAN KEORISINILAN SKRIPSI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vii

ABSTRAK... ix

ABSTRACT ... xii

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Batasan Masalah ... 4

D. Rumusan Masalah ... 4

E. Tujuan Penelitian ... 4

F. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7

A. Pengukuran ... 7

B. Alat Ukur Waktu & Alat Ukur Volume ... 11

C. Konsumsi Bahan Bakar ... 13

D. Sensor Cahaya ... 16

E. Level Sensor ... 18

F. Flow Sensor ... 19

G. Infrared Transmitter ... 20

H. Infrared Receiver ... 21

I. Cara Kerja Infrared Optocoupler ... 23

J. Sistem Instrumentasi dan Kontrol ... 24

(16)

M. LCD ... 35

N. Penelitian Terdahulu ... 36

O. Konsep Penelitian ... 39

P. Hipotesis ... 44

BAB III METODE PENELITIAN ... 45

A. Jenis Penelitian ... 45

B. Tempat, Waktu, Subyek, Obyek penelitian ... 46

C. Rancangan Penelitian ... 46

D. Studi Pendahuluan ... 48

E. Menentukan konsep penyelesaian ... 51

F. Mendesain Sistem Kontrol ... 52

G. Membangun Sistem Kontrol ... 57

H. Menguji Peforma Kinerja Sistem Kontrol ... 58

I. Pengumpulan Data ... 64

J. Analisa hasil dan Kesimpulan ... 64

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 65

A. Automatic Fuel Meter Trainer ... 65

B. Perancangan Desain Sistem Kontrol ... 67

C. Perancangan Algoritme Sistem Kontrol Automatic Fuel Meter Trainer ... 72

D. Listing Program Sistem Kontrol Automatic Fuel Meter Trainer ... 74

E. Uji Peforma Sistem Kontrol Automatic Fuel Meter Trainer ... 80

BAB V SIMPULAN dan SARAN ... 91

A. Simpulan ... 91

B. Saran ... 93

DAFTAR PUSTAKA ... 95

LAMPIRAN ... 99

(17)

xvi

Gambar 2.1. Stopwatch ... 12

Gambar 2.2. Gelas Ukur... 13

Gambar 2.3. Pengujian Konsumsi Bahan Bakar Secara Gravimetrik ... 15

Gambar 2.4. Pengujian Konsumsi Bahan Bakar Secara Volumetrik... 15

Gambar 2.5. Sensor Cahaya ... 16

Gambar 2.6. Level Sensor... 18

Gambar 2.7. Flow Meter Sensor ... 20

Gambar 2.8. Sensor Infrared ... 23

Gambar 2.9. Diagram Blok Elemen Dasar Sistem Kontrol ... 25

Gambar 2.10. Peralatan Inputan ...25

Gambar 2.11. Peralatan Output ... 26

Gambar 2.12. Diagram Blok Loop Terbuka ... 26

Gambar 2.13. Diagram Blok Loop Tertutup ... 27

Gambar 2.14. ESP8266 ... 29

Gambar 2.15. Arduino Nano... 31

Gambar 2.16. LCD ... 35

Gambar 2.17. Automatic Fuel Meter ... 41

Gambar 2.18. Data Aquisting ... 41

Gambar 3.1. Flowchart Metode Perancangan Sistem Kontrol ... 47

Gambar 3.2.

Automatic Fuel Meter ... 53

Gambar 3.3. Tahap filling (Pengisian) Automatic Fuel Meter ... 53

Gambar 3.4. Tahap Scanning (Pembacaan) Automatic Fuel Meter ... 54

Gambar 3.5. Tahap Aquisting (Pendataan) Automatic Fuel

Meter ... 55

(18)

Gambar 3.7. Wiring Diagram Sistem Kontrol Automatic

Fuel Meter ... 57

Gambar 3.8. Compile program arduino IDE ... 60

Gambar 4.1. Automatic Fuel Meter ... 65

Gambar 4.2. Tahap filling (pengisian) ... 68

Gambar 4.3. Tahap Scanning (Pembacaan) ... 68

Gambar 4.4. Tahap Aquisting (Pendataan) ... 69

Gambar 4.5. Pemetaan Sistem Kontrol Automatic Fuel Meter Trainer ... 70

Gambar 4.6. Wiring Diagram sistem Kontrol ... 71

Gambar 4.7. Algoritme Sistem Kontrol ... 73

Gambar 4.8. Hasil compile program arduino IDE ... 83

(19)

xviii

Tabel 2.1. Proses Kerja Automatic Fuel Meter ... 42

Tabel 3.1. Perancangan sistem kontrol Automatic Fuel Meter ... 52

Tabel 3.2. Perancangan Program ... 57

Tabel 3.3. Pengujian sensor infrared pada bahan bakar pertalite ... 58

Tabel 3.4. Pengujian sensor infrared pada bahan bakar pertamax ... 59

Tabel 3.5. Pengukuran respon time sensor infrared bahan bakar pertalite ... 61

Tabel 3.6. Pengukuran respon time sensor infrared bahan bakar pertamax ... 61

Tabel 3.7. Pengujian akurasi ... 62

Tabel 3.8. Pengujian presisi ... 63

Tabel 4.1 Spesifikasi Automatic Fuel Meter Trainer ... 66

Tabel 4.2. Program Arduino Seluruh Tahapan Proses ... 74

Tabel 4.3. Pengujian sensor infrared pada bahan bakar pertalite ... 80

Tabel 4.4. Pengujian sensor infrared pada bahan bakar pertamax ... 81

Tabel 4.5. Pengukuran respon time sensor infrared bahan bakar pertalite ... 84

Tabel 4.6. Pengukuran respon time sensor infrared bahan bakar pertamax ... 86

Tabel 4.7. Pengujian presisi ... 88

Tabel 4.8. Perhitungan presisi ... 88

(20)

Lampiran 1. Blangko Bimbingan Skripsi ... 99

Lampiran 2. Matrik Seminar Skripsi ... 100

Lampiran 3. Surat Penunjukan Dosen Penguji ... 101

Lampiran 4. Lembar Revisi Dosen Penguji I ... 102

Lampiran 5. Lembar Revisi Dosen Penguji II ... 103

Lampiran 6. Lembar Revisi Dosen Penguji III ... 104

Lampiran 7. Dokumentasi ... 105

(21)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada tahun 2016 total kendaraan di Indonesia berjumlah 129.281.079, terdiri dari mobil penumpang 14.580.666, bus 2.486.898, mobil barang 7.063.433, dan sepeda motor 105.150.082 kendaraan.

Pertumbuhan kendaraan bermotor ini mempengaruhi meningkatnya penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di sektor transportasi. Tercatat pada tahun 2016 total penggunaan bahan bakar untuk transportasi di Indonesia mencapai 55.592.462 Kilo Liter (Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral). Dengan jumlah konsumsi bahan bakar yang sangat besar tersebut maka di dunia industri otomotif tentunya berkompetitif dalam hal produksi kendaraan yang hemat bahan bakar.

Konsumsi bahan bakar merupakan perbandingan antara bahan bakar yang terpakai sebagai input energi dengan daya yang dihasilkan sebagai output. Semakin tinggi nilai konsumsi bahan bakar, maka semakin banyak energi bahan bakar yang tidak terkonversi menjadi daya. Hal ini disebabkan karena beberapa bahan bakar yang masuk ke dalam silinder tidak terbakar dengan sempurna.

Konsumsi bahan bakar spesifik merupakan parameter prestasi mesin yang digunakan untuk mengukur nilai ekonomis suatu mesin, karena dengan mengetahui konsumsi bahan bakar spesifik maka dapat dihitung jumlah bahan bakar yang dibutuhkan per jam untuk menghasilkan sejumlah daya.

Prosedur perhitungan konsumsi bahan bakar berikut dapat

dilaksanakan bila untuk pemakaian bahan bakar sebesar

(22)

volume (ml) tertentu dibutuhkan waktu sebesar t (detik), sehingga dapat dihitung pemakaian bahan bakar.

Rata-rata untuk mengetahui konsumsi bahan bakar kendaraan umumnya masih menggunakan parameter jarak laju kendaraan (pengukuran secara gravimetrik), yaitu dengan cara berapa kilometer jarak tempuh kendaraan dengan 1 liter bahan bakar. Namun, dengan seiring perkembangan teknologi, terciptalah sebuah trainer yang berfungsi untuk mengetahui konsumsi bahan bakar kendaraan yang disebut Fuel Meter (pengukuran secara .volumetrik).

Fuel Meter ini sudah ada namun sistem kerja dalam

menghitung konsumsi bahan bakar dari alat ini masih dengan

menggunakan parameter penginderaan visual caranya yaitu

mengkondisikan rpm motor pada posisi tertentu dan dihitung

berapa volume bahan bakar yang berkurang dalam satuan

waktu menggunakan stopwatch. Metode tersebut menyebabkan

proses pembacaan tidak akurat dan masih bergantung pada

ketelitian manusianya itu sendiri yang dipengaruhi faktor

konsentrasi, kelelahan, respon baca dan lainnya. Sedangkan

berdasarkan ketentuan SNI 7554:2010 menjelaskan

bahwasanya alat yang digunakan dalam mengukur konsumsi

bahan bakar yaitu mampu mengukur kuantitas yang

dikonsumsi dalam ketelitian ±2%, dan jika menggunakan

sistem katup untuk perpindahan secara cepat dari jalur

penggunaan bahan bakar secara normal ke sistem pengukuran

maka perpindahan tersebut tidak boleh lebih lama dari 0,2

detik. Oleh karena itu, dilakukan perancangan Automatic Fuel

Meter dengan harapan didapatkan tingkat keakurasian dan

presisi pembacaan yang tinggi, mengurangi banyak faktor

gangguan pembacaan dan menemukan kondisi optimum dari

pengujian bahan bakar serta sesuai dengan ketentuan SNI.

(23)

Penelitian ini berfokus pada merancang dan membuat penyempurnaan Fuel Meter dengan meningkatkan keakurasian dan presisinya. Dalam perancangan kontrol automatic fuel meter ini menggunakan kontroler yang bisa beroperasi sesuai dengan sistem kerja yang akan dijalankan oleh trainer. Dimana terjadi pengkonversian sinyal analog ke dalam bentuk besaran yang merupakan rasio perbandingan sinyal input dan tegangan referensi atau yang disebut dengan ADC (Analog Digital Converter) yang dapat di proses oleh komputasi sehingga didapatkan hasil yang representatif pada keadaan yang sesungguhnya.

Diharapkan dengan terwujudnya Automatic Fuel Meter didapatkan hasil pengujian konsumsi bahan bakar yang akurat, tepat, hasil representatif, mudah dalam pengoperasian, memiliki log data input ke komputer, dan meminimalisir faktor gangguan pembacaan sehingga memudahkan user dalam melakukan pengujian.

B. Identifikasi Masalah

Pada sistem pengujian konsumsi bahan bakar yang telah ada ditemukan kekurangan dan masalah-masalah, berikut identifikasi masalah pada sistem pengujian konsumsi bahan bakar sebelumnya:

1. Pengujian konsumsi bahan bakar kendaraan dilakukan dengan metode pengindraan visual mempengaruhi banyaknya gangguan saat pembacaan.

2. Dibutuhkan hasil pembacaan konsumsi bahan bakar yang representatif dengan akurasi dan presisi yang tinggi.

3. Pengujian konsumsi bahan bakar yang ada belum

dilengkapi data log.

(24)

C. Batasan Masalah

Agar diperoleh hasil penelitian yang maksimal dikarenakan masalah yang teridentifikasi, maka perlu dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut:

1. Kelengkapan mekanik seperti spesifikasi mekanik, desain mekanik, analisa mekanik tidak dihitung, peneliti hanya berfokus pada perancangan sistem kontrol saja.

2. Sensor yang digunakan pada penelitian ini menggunakan Sensor Infrared tipe Optocoupler.

3. Bahan bakar yang digunakan untuk uji fungsi sistem kontrol fuel meter yaitu pertalite dan pertamax.

4. Dalam melakukan simulasi uji peforma tidak menggunakan kendaraan langsung, tetapi dilakukan simulasi bahan bakar dengan laju output bahan bakarnya dikendalikan oleh valve yang mempresentatifkan konsumsi bahan bakar kendaraan.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah karakter setiap bahan bakar terhadap nilai ADC (Analog Digital Converter)?

2. Bagaimanakah desain sistem kontrol Automatic Fuel Meter ? 3. Bagaimanakah performa Automatic Fuel Meter

menggunakan mikrokontroler yang digunakan?

E. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai diantaranya yaitu:

1. Untuk mengetahui karakter setiap bahan bakar terhadap

nilai ADC (Analog to Digital Converter)?

(25)

2. Untuk mendapatkan desain sistem kontrol Automatic Fuel Meter.

3. Untuk mengetahui performa Automatic Fuel Meter menggunakan mikrokontroler yang digunakan.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan mempunyai nilai guna bagi peneliti dan pembaca pada umumnya, yaitu :

1. Bagi Peneliti

a. Dapat mendesain dan membangun sistem kontrol Automatic Fuel Meter menggunakan mikrokontroler.

b. Mahasiswa mampu mengetahui performa sistem kontrol Automatic Fuel Meter menggunakan mikrokontroler.

c. Mengetahui prosedur pengujian guna mendapatkan kinerja sistem kontrol Automatic Fuel Meter menggunakan mikrokontroler.

d. Meningkatkan kreativitas peneliti dalam bidang inovasi produk teknologi.

e. Mahasiswa mampu menganalisis dan mengetahui karakteristik dari setiap komponen-komponen yang digunakan dalam proses penelitian.

f. Dapat menentukan pemilihan komponen kontrol dan menentukan list program dalam pembuatan sistem kontrol Automatic Fuel Meter menggunakan mikrokontroler.

2. Bagi Perguruan Tinggi

a. Sebagai referensi penelitian bagi mahasiswa aktif yang

berkenaan dengan pengembangan Automatic Fuel Meter .

b. Serta dapat menambah cakrawala ilmu pengetahuan dan

perbendaharaan kepustakaan serta sebagai salah satu

perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

(26)

c. Diharapkan hasil penelitian yang diperoleh ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian yang serupa.

3. Bagi Masyarakat

a. Sebagai salah satu sumber informasi mengenai Automatic Fuel Meter.

b. Sebagai rujukan bagi pembaca dalam membuat

penelitian pengembangan selanjutnya.

(27)

7

BAB II PENDAHULUAN KAJIAN PUSTAKA

A. Pengukuran

Menurut Sridadi, pengukuran adalah suatu proses yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh besaran kuanti- tatif dari suatu objek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku.

Definisi pengukuran adalah penentuan besaran, di- mensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan ukur. Selain itu, pengukuran juga dapat diartikan se- bagai pemberian angka terhadap suatu atribut atau karakteris- tik tertentu yang dimiliki oleh seseorang, hal, atau objek ter- tentu menurut aturan atau formulasi yang jelas dan disepakati.

Pengukuran menggunakan alat ukur yang baku dengan hasil pengukuran berupa besaran kuantitatif atau sistem angka. Pen- gukuran sendiri dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

1. Pengukuran Langsung, yaitu membandingkan nilai besaran yang diukur dengan besaran standart yang diterima sebagai satuan.

2. Pengukuran Tidak Langsung, yaitu pengukuran untuk mengukur suatu besaran dengan cara mengukur besaran lain.

Alat ukur juga terbagi menjadi beberapa kategori, diantaranya:

1. Alat Ukur Panjang, digunakan untuk mengukur panjang suatu benda. Penggunaan alat ukur panjang disesuaikan dengan tingkat ketelitian yang diinginkan sehingga dapat meminimalisir terjadinya kesalahan dalam proses penguku- ran.

2. Alat Ukur Massa, digunakan untuk mengukur massa

benda.

(28)

3. Alat Ukur Waktu, digunakan untuk mengukur lamanya sesuatu hal yang sedang terjadi.

4. Alat Ukur Kuat Arus Listrik, digunakan untuk mengukur suatu rangkaian listrik, terdapat dua macam alat ukur yang digunakan yaitu amperemeter analog dan amperemeter digital.

Di dalam pengukuran umumnya dibutuhkan suatu instrumen dan instrumen diperlukan:

1. Untuk menentukan suatu besaran (kuantitas) atau variabel.

2. Membantu peningkatan keterampilan manusia dan dalam banyak hal memungkinkan seseorang untuk menentukan nilai dari suatu besaran yang tidak diketahui, karena tanpa bantuan instrumen manusia tidak dapat menentukannya.

Dalam pengukuran, digunakan sejumlah istilah yang akan didefinisikan sebagai berikut:

1. Ketelitian (Accuracy), yaitu kemampuan alat ukur untuk memberikan nilai yang mendekati harga yang sebenarnya.

2. Ketepatan (Precision), yaitu kemampuan alat ukur untuk memberikan nilai yang sama dari beberapa pengukuran yang dilakukan.

3. Ukuran Dasar (Basic size), yaitu dimensi atau ukuran nominal dari suatu obyek ukur yang dinyatakan dalam gambar teknik dengan bilangan bulat.

4. Toleransi (Tolerance), yaitu perbedaan ukuran dari kedua harga batas yang diizinkan, dimana menjadi selisih ukuran maksimum dan minimum.

5. Harga batas (Limits), yaitu ukuran/dimensi maksimum dan minimum yang diizinkan.

6. Kelonggaran (Clearance), yaitu perbedaan ukuran

(29)

komponen yang lain dimana ukuran terbesar dari salah satu komponen adalah lebih kecil dari ukuran terkecil komponen yang lain.

7. Sensitivitas yaitu kemampuan alat ukur untuk menerima, mengubah, dan meneruskan isyarat sensor (sensor menuju penunjuk, pencatat, atau pengolah data pengukuran).

8. Kecermatan (Resolution), yaitu skala terkecil yang mampu dibaca oleh alat ukur. Ada yang menyamakan istilah ini dengan Readability (Kemampuan-baca), yaitu tingkat kemudahan untuk dibaca atau diketahui.

9. Error (kesalahan), yaitu Penyimpangan variable yang diukur dari harga/nilai sebenarnya. Jenis Kesalahan: Gross error; Systematic error; Random Error.

10. Significant figure yaitu indikasi bagi ketepatan pengukuran yang diperoleh dari banyaknya angka-angka yang berarti.

11. Suaian yaitu hubungan antara dua komponen yang akan dirakit, yang ditimbulkan adanya perbedaan ukuran bagi pasangan elemen geometrik saat mereka disatukan.

Dalam mengukur suatu besaran bisa menggunakan satu in- strumen atau lebih. Dalam menggunakan instrumen, harus bisa memilih dan merangkai alat ukur atau instrumen tersebut dengan benar. Selain itu, pembacaan nilai atau skala yang di- tunjukkan oleh instrumen harus benar karena itu untuk meminimalkan kesalahan pengukuran. Faktor ketelitian alat ukur atau instrumen juga mempengaruhi hasil pengukuran.

Ketelitian alat ukur atau instrumen dijamin sampai pada per-

sentase tertentu dari skala penuh. Ketelitian alat ukur terka-

(30)

dang menyebabkan hasil pengukuran mengalami penyimpan- gan dari yang sebenarnya. Batas-batas dari penyimpangan ini disebut dengan kesalahan batas.

Kesalahan-kesalahan pada pengukuran, umumnya dibagi da- lam 3 (tiga) jenis utama, yaitu:

1. Kesalahan-kesalahan umum (gross errors):

a. Kesalahan pembacan alat ukur b. Penyetelan yang tidak tepat

c. Pemakaian instrumen yang tidak sesuai d. Kesalahan penafsiran

2. Kesalahan -kesalahan sistematis (systematics errors):

a. Kerusakan atau adanya bagian-bagian yang aus.

b. Pengaruh lingkungan terhadap peralatan dan pemakai.

3. Kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja (random errors):

Disebabkan oleh penyebab-penyebab yang tidak dapat secara langsung diketahui, karena perubahan-perubahan parameter atau sistem pengukuran terjadi secara acak.

Kesalahan sistem matematis umumnya dikelompokkan ke da- lam dua bagian yaitu:

1. Kesalahan-kesalahan instrumental (instrumental errors), kesalahan-kesalahan yang tidak dapat dihindarkan dari in- strumen, karena struktur mekanisnya. Misalnya:

- Gesekan komponen yang bergerak terhadap bantalan, dapat menimbulkan pembacaan yang tidak tepat.

- Tarikan pegas yang tidak teratur, perpendekan pegas.

- Berkurangnya tarikan karena penanganan yang tidak tepat atau pembebanan instrumen secara berlebihan.

(31)

Jenis kesalahan instrumen lainnya:

- Kalibrasi yang menyebabkan pembacaan instrumen yang terlalu tinggi atau terlalu rendah sepanjang seluruh skala.

- Kegagalan mengembalikan jarum penunjuk ke angka nol sebelum melakukan pengukuran.

Kesalahan-kesalahan pada instrumen, dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap:

- Tingkah laku yang tidak umum terjadi - Kestabilan

- Kemampuan instrumen untuk memberikan hasil pen- gukuran yang sama

Kesalahan-kesalahan instrumen dapat dihindari dengan cara:

- Pemilihan instrumen yang tepat untuk pemakaian tertentu - Penggunaan faktor-faktor koreksi, jika mengetahui ban-

yaknya kesalahan instrumental.

- Mengkalibrasi instrumen tersebut terhadap instrumen standar.

2. Kesalahan-kesalahan lingkungan, yaitu yang disebabkan oleh keadaan-keadaan luar yang mempengaruhi pengukuran, seperti:

- Pengaruh perubahan temperatur.

- Kelembaban.

- Tekanan udara luar atau medan magnetik atau medan el- ektrostat.

B. Alat Ukur Waktu & Alat Ukur Volume 1. Alat Ukur Waktu

Alat ukur waktu adalah alat yang di gunakan untuk

menghitung besaran waktu, dan biasanya dalam satuan

(32)

detik. Secara umum waktu diartikan sebagai seluruh rangkaian saat ketika diproses, perbuatan atau keadaan atau berlangsung. Dalam hal ini skala waktu merupakan in- terval antara dua buah keadaan atau kejadian atau bisa juga lama berlangsungnya suatu kejadian. Contoh alat ukur waktu adalah stopwatch, arloji, dan jam dinding.

Gambar 2.1 Stopwatch Sumber: Azqiara, 2019

Digital timer adalah alat yang dapat membantu dalam proses pengujian dan menjadi item pendukung dalam kinerja alat uji yang berpangku terhadap waktu yang dibu- tuhkan. Digital timer juga baik dipergunakan dalam ruang lingkup laboratorium, dapur restaurant, alat pengujian, ru- ang penelitian, dll. Karena alat pengatur waktu berpengaruh besar dalam proses dan kinerja suatu pengujian atau pun kegiatan.

2. Alat Ukur Volume

Alat pengukur volume merupakan alat bantu yang penting

untuk setiap penentuan kualitatif. Dari sifat dan fungsi

dapat dibedakan atas pipet, buret, labu ukur, dan gelas

ukur. Dalam penggunaan alat ukur volume ini dapat ter-

jadi kesalahan. Salah satunya adalah kesalahan kalibrasi

karena volume yang tertera tidak sesuai dengan volume

(33)

yang sebenarnya. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan alat-alat ukur gelas volumetrika antara lain:

a. Koreksi suhu yang tidak sama.

b. Koreksi terhadap adanya gaya tekan keatas dari udara.

c. Koreksi adanya pemuaian dari kaca.

Gambar 2.2 Gelas Ukur Sumber: Salamadian, 2017 C. Konsumsi Bahan Bakar

Konsumsi bahan bakar menurut Wakhinuddin (2009:113), adalah “penyediaan bahan bakar ke injektor sesuai dengan (kecepatan kendaraan)“. Menurut David J (1993:265), menyatakan bahwa: “jumlah aliran bahan bakar biasanya diukur dengan menentukan waktu yang dibutuhkan mesin untuk mengkonsumsi volume bahan bakar yang terukur pada gelas buret. Dalam SNI 7554:2010, konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor merupakan salah satu parameter unjuk kerja yang penting, yang jika tidak dilakukan dengan cara yang benar sesuai standar, seringkali menimbulkan perdebatan atas berbagai klaim pengujian yang dilakukan dengan cara sendiri yang sederhana dan lebih banyak merupakan perkiraan kasar.

Pengukuran konsumsi bahan bakar yaitu Jarak tempuh harus-

lah diukur dengan ketelitian 0,3 % dan waktu diukur dengan

ketelitian 0,2 detik. Sistem pengukuran untuk konsumsi bahan

bakar, jarak yang ditempuh, dan waktu, harus dijalankan

(34)

secara bersamaan. Bahan bakar harus disuplai ke mesin melalui suatu alat yang mampu mengukur kuantitas yang dikonsumsi dalam ketelitian ± 2%. Alat tersebut tidak boleh mempengaruhi tekanan atau temperature bahan bakar pada inlet sistem meter- ing bahan bakar dalam kisaran ±10% untuk tekanan dan ± 5

0

C untuk temperature bahan bakar. Jika sistem pengukuran adalah volumetris, maka temperatur bahan bakar pada posisi pengukuran harus dicatat. Jika diperlukan, suatu sistem katup digunakan untuk perpindahan secara cepat dari jalur penggunaan bahan bakar secara normal ke sistem pen- gukuran. Pengukuran perpindahan tersebut tidak boleh lebih lama dari 0,2 detik.

Perhitungan konsumsi bahan bakar menurut SNI 7554:2010 dapat dilakukan secara gravimetrik dan volumetrik.

Pengukuran secara gravimetrik yaitu konsumsi “C“ dihitung (dalam liter/100 km) dengan menghitung pengukuran M (bahan bakar yang dikonsumsi dinyatakan dalam kg) menurut rumus:

C =

𝐷.𝜌F𝑀

100 (liter/100 km) Keterangan:

𝞺

F

adalah densitas bahan bakar (kg/dm

3

) pada temperatur acuan 20

0

C (293K)

D adalah jarak yang ditempuh selama pengujian

(35)

Gambar 2.3 Pengujian Konsumsi Bahan Bakar Secara Gravimetrik Sumber: Mochyuga, 2014

Sedangkan pengukuran secara volumetrik, konsumsi “C“

dihitung (dalam liter/100 km) dengan rumus:

C =

𝑉(1+𝛼(𝑇0−𝑇F))

𝐷

100 (liter/100 km) Keterangan:

V adalah volume bahan bakar yang dikonsumsi (liter)

α adalah koefisien muai volumetris bahan bakar (0,001/

0

C untuk solar maupun bensin)

T

0

adalah temperatur acuan: 20

0

C (293 K)

T

F

adalah temperatur bahan bakar rata-rata (dalam

0

C)

Gambar 2.4 Pengujian Konsumsi Bahan Bakar Secara Volumetrik

(36)

D. Sensor Cahaya

Sensor adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi dan mengetahui magnitude tertentu. Sensor merupakan jenis trans- duser yang digunakan untuk mengubah variasi mekanis, mag- netis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan dan arus listrik.

Sensor memegang peranan penting dalam mengendalikan proses pabrikasi modern. Sensor yang sering digunakan dalam berbagai rangkaian elektronik salah satunya adalah sensor ca- haya (LDR). Sensor cahaya adalah alat yang digunakan dalam bidang elektronika yang berfungsi untuk mengubah besaran cahaya menjadi besaran listrik. Sensor cahaya LDR (Light De- pendent Resistor) merupakan suatu jenis resistor yang peka ter- hadap cahaya. Nilai resistansi LDR akan berubah-ubah sesuai dengan intensitas cahaya yang diterima. Jika LDR tidak terkena cahaya maka nilai tahanan akan menjadi besar (sekitar 10MΩ) dan jika terkena cahaya nilai tahanan akan menjadi kecil (seki- tar 1kΩ). Cara kerja dari sensor ini adalah mengubah energi dari foton menjadi elektron, umumnya satu foton dapat mem- bangkitkan satu elektron. Sensor ini mempunyai kegunaan yang sangat luas salah satu yaitu sebagai pendeteksi cahaya pada tirai otomatis. Beberapa komponen yang biasanya digunakan dalam rangkaian sensor cahaya adalah LDR (Light Dependent Resistor), Photodiode, dan Photo Transistor.

Gambar 2.5 Sensor Cahaya

Sumber: Teknisi, 2017

(37)

Salah satu komponen yang menggunakan sensor adalah LDR (Light Dependent Resistor), adalah suatu komponen el- ektronika yang memiliki hambatan yang dapat berubah sesuai perubahan intensitas cahaya, resistensi dari LDR akan menurun jika ada penambahan intensitas cahaya yang mengenainya. Pada dasarnya komponen ini merupakan suatu resistor yang memiliki nilai hambatan bergantung pada jumlah cahaya yang jatuh pada permukaan sensor tersebut. LDR dapat dibuat dari semikonduktor beresistensi tinggi yang tidak dilin- dungi dari cahaya. Jika cahaya yang mengenainya memiliki frekuensi yang cukup tinggi, foton yang diserap oleh semikon- duktor akan menyebabkan elektron memiliki energi yang cukup untuk meloncat ke pita konduksi. Elektron bebas yang dihasilkan dan pasangan lubangnya akan mengalirkan listrik, sehingga menurunkan resistansinya. Komponen yang menggunakan sensor cahaya berikutnya adalah Photo Transis- tor, secara sederhana adalah sebuah transistor bipolar yang me- makai kontak (junction) base-collector yang menjadi permukaan agar dapat menerima cahaya sehingga dapat digunakan men- jadi konduktivitas transistor. Secara lebih detail Photo Transis- tor merupakan sebuah benda padat pendeteksi cahaya yang memiliki gain internal. Hal ini yang membuat foto transistor memiliki sensivitas yang lebih tinggi dibandingkan photodi- ode/foto diode, dalam ukuran yang sama. Alat ini dapat menghasilkan sinyal analog maupun sinyal digital. Photo Tran- sistor sejenis dengan transistor pada umumnya, bedanya pada Photo Transistor dipasang sebuah lensa pemfokus sinar pada kaki basis untuk memfokuskan sinar jatuh pada pertemuan PN.

Karena sensor ini mengandalkan kemampuan cahaya

maka kekurangan dari sensor cahaya ini yaitu banyak

(38)

gangguan terhadap cahaya lingkungan, sehingga berpengaruh pada hasil pembacaan.

E. Level Sensor

adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi keting- gian dari suatu aliran baik berupa bahan liquid, lumpur, pow- der maupun biji-bijian. Fungsi level sensor pada dasarnya ada- lah memberikan informasi baik berupa data maupun sinyal ka- rena adanya perubahan ketinggian matrial baik didalam tanki, silo ataupun tempat terbuka dikarena adanya aliran dari mate- rial tersebut.

Gambar 2.6 Level Sensor Sumber: Buana Karya, 2018

Pengukuran ketinggian atau level ini bisa dilakukan secara terus menerus sesuai dengan perubahan ketinggian dari fluida maupun untuk mengukur ketinggian dari matrial pada titik tertentu baik itu pada level terendah, level menengah mau- pun level puncak dengan menggunakan level sensor.

Jenis level sensor ini bermacam-macam disesuaiakn

dengan aplikasi dari material yang dideteksi dan wadah dari

wadah yang tertutup berupa tanki, wadah terbuka berupa silo

ataupun yang selalu berubah-ubah ketinggianya seperti sungai

ataupun danau dan laut.

(39)

Bisa juga jenis level sensor didasarkan pada jenis bentuk material atau jenis material berupa liquid, powder, maupun sul- lury, jenis level sensor didasarkan pada besarnya temperature, pressure, sifat kimia dan lainnya.

Namun kekurangan dari sensor ini yaitu invasif karena sensor memerlukan kontak langsung dengan cairan.

F. Flow Sensor

Flow meter Sensor adalah alat yang digunakan untuk menentukan keberadaan bahan aliran (cair, gas, bubuk) dalam jalur aliran, dengan semua aspek aliran itu sendiri, termasuk kecepatan atau laju aliran dan massa atau total volume material yang mengalir dalam lorong sering disebut totalizer.

Parameter aliran suatu material dengan mengukur Flow Meter Sensor yang dikirim sebagai data digital dan juga dapat dikirim untuk menghasilkan listrik atau Signal yang dapat digunakan sebagai input ke sirkuit kontrol atau sirkuit listrik lainnya. Da- lam beberapa kasus, flow meter dapat digunakan untuk men- capai efisiensi suatu proses dengan melakukan penyesuaian aliran fluida kecil. Seperti dalam industri manufaktur di mana kebutuhan air, udara bertekanan dan uap, tentu saja, ukuran kecil harus sesuai dengan kebutuhan jalur produksi sesuai dengan konsumsi mesin dalam proses produksi. Flow Meter Sensor dapat digunakan di sini sebagai referensi untuk ukuran kebutuhan udara, air dan uap dengan menyesuaikan katup se- hingga motor yang membutuhkan lebih sedikit udara dapat disesuaikan sesuai dan sebaliknya. Tidak ada kekurangan udara, air atau uap bagi mesin yang paling membutuhkannya.

Operasi flow meter lebih didasarkan pada jenis flow meter untuk

Flow Meter Sensor magnetik, yang beroperasi sesuai dengan

hukum Faraday bahwa Magmeters hanya dapat digunakan

pada cairan dengan konduktivitas tertentu.

(40)

Gambar 2.7 Flow Meter Sensor Sumber: Unknown, 2014

Kekurangan dari sensor ini jika digunakkan untuk men- gukur konsumsi bahan bakar pada fuel meter trainer yaitu sen- sor ini terlalu otomatis, sedangkan trainer ini nantinya digunakan oleh mahasiswa, jadi diperlukan visual fenomena pada kerja dari sensor tersebut.

G. Infrared Transmitter

Infrared transmitter merupakan suatu model pengirim data melalui gelombang infrared dengan frekuensi carrier sebesar 38 kHz. Modul ini dapat difungsikan sebagai output dalam aplikasi transmisi data nirkabel seperti robotic, sistem pengamanan, dan sebagainya. Pemancar yang digunakan pada sistem ini terdiri atas sebuah Light Emiting Diode (LED). LED adalah suatu bahan semi konduktor yang memancarkan cahaya monokromatik yang tidak koheren ketika diberi tegangan maju. LED infrared jenis diode yang memancarkan cahaya infrared, aplikasi sederhana penggunaan LED infrared ini adalah pada remote TV. LED infrared pada dasarnya adalah diode PN silicon biasa yang dikemas dalam kotak transparan.

Sinar infrared dihasilkan dari pertemuan Arsenida Galium

pada LED infrared merupakan salah satu komponen elektronika

yang akan mengantar arus jika dialiri bisa maju. LED infrared

(41)

terbuat dari bahan Arsenida Galium atau Fosfida Galium (GaAs atau Gap), dan ditempatkan di dalam suatu wadah yang tembus pandang.

Untuk membedakan antara katoda dan anodanya dapat dilihat dari bentuk elektrodanya yang besar adalah katoda.

Material yang digunakan dalam konstruksi LED akan menentukan jenis cahaya yang diradiasikan. Apakah cahaya tampak atau cahaya tidak tampak. Sebagai contoh material GaAlAs menghasilkan cahaya infrared (cahaya tidak tampak), sedangkan GaAsP menghasilkan cahaya tampak merah. Pada sistem ada dua jenis LED yang digunakan yaitu sebagai indikator dan juga sebagai komponen pengirim cahaya infared.

Cahaya LED timbul sebagai akibat penggabungan elektron dan hole pada persambungan antara dua jenis semikonduktor dimana setiap penggabungan disertai dengan pelepasan energi. Pada penggunaan LED infrared dapat diaktifkan dengan tegangan Direct Current (DC) untuk transmisi atau sensor jarak dekat, dan dengan tegangan Alternating Current (AC) (30-40 kHz) untuk transmisi atau sensor jarak jauh.

H. Infrared Receiver

Infrared receiver merupakan suatu modul penerima data

melalui gleombang infrared dengan frekuensi carrier sebesar 38

kHz. Modul ini dapat difungsikan sebagai input dalam aplikasi

transmisi data nirkabel seperti robotik, sistem pengaman, dan

sebagainya. Receiver (penerima) yang digunakan untuk sesnsor

infrared adalah jenis foto transistor, yaitu jenis transistor

bipolar yang menggunakan kontak (junction) base-collector

untuk menerima atau mendeteksi cahaya dengan gain internal

yang dapat menghasilkan sinyal analog maupun digital. Foto

transistor merupakan salah satu komponen yang berfungsi

(42)

sebagai detector cahaya yang dapat mengubah efek cahaya menjadi sinyal listrik. Karena itu foto transistor termasuk dalam detector optic.

Foto transistor dapat diterapkan sebagai sensor yang baik, karena memiliki kelebihan dibandingkan dengan komponen lain yaitu mampu untuk mendeteksi sekaligus menguatkan dengan satu komponen tunggal. Bahan utama dari foto transistor adalah silikon atau germanium sama seperti pada transistor jenis lainnya. Foto transistor juga memiliki dua tipe seperti transistor yaitu tipe NPN dan tipe PNP.

Foto transistor sebenarnya tidak berbeda dengan transistor biasa, hanya saja foto transistor ditempatkan di dalam suatu material; yang transparan sehingga memungkinkan cahaya (cahaya infrared) mengenainya (daerah basis), sedangkan transistor biasa ditempatkan pada bahan logam yang tertutup. Foto transistor memiliki beberapa karakteristik yang sering digunakan dalam perancangan, yaitu:

1. Dalam rangkaian jika menerima cahaya akan berfungsi sebagai resistan.

2. Dapat menerima penerimaan cahaya yang redup (kecil).

3. Semakin tinggi intensitas cahaya yang diterima, maka semakin besar pula resisten yang dihasilkan.

4. Memerlukan sumber tegangan yang kecil.

5. Menghantarkan arus saat ada cahaya yang mengenainya.

6. Penerimaan cahaya dilakukan pada bagian basis.

7. Apabila tidak menerima cahaya maka tidak akan menghantarkan arus.

Berdasarkan tegangan spectral, sifat-sifat dan cara kerja

dari foto transistor tersebut, maka perubahan cahaya yang

kecil dapat di deteksi. Oleh karena itu foto transistor

digunakan sebagai detektor cahaya yang peka, terutama pada

cahaya infrared.

(43)

I. Cara Kerja Infrared Optocoupler

Gambar 2.8 Sensor Infrared Sumber: Rayenvp97, 2015

Optocoupler dengan kombinasi LED-Foto transistor adalah optocoupler yang terdiri dari sebuah komponen LED yang memancarkan cahaya infrared (IR LED) dan sebuah komponen semikonduktor yang peka terhadap cahaya (Foto transistor) sebagai bagian yang digunakan untuk mendeteksi cahaya infrared yang dipancarkan oleh IR LED.

Optocoupler adalah komponen yang bekerja berdasarkan picu dari cahaya optik yang terdiri dari transmitter dan receiver.

Transmitter dibangun dari LED infrared yang cahayanya tidak dapat dilihat secara kasat mata. LED infrared memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap sinyal tampak jika dibandingkan dengan LED biasa. Receiver dibangun dari sebuah foto transistor yaitu transistor yang peka terhadap tenaga cahaya. Spektrum infrared yang merupakan sumber cahaya menghasilkan energi panas yangg lebih besar dibandingkan dengan cahaya tampak.

Ditinjau dari segi penggunaannya, fisik optocoupler

dapat.berbentuk bermacam-macam. Bila hanya digunakan

untuk mengisolasi level tegangan atau data pada sisi transmitter

(44)

dan sisi receiver, maka optocoupler ini biasanya dibuat dalam bentuk solid.

Sebagai pemancar atau transmitter dibangun dari sebuah LED infrared untuk mendapatkan ketahanan yang lebih baik daripada menggunakan LED biasa. Sensor ini bisa digunakan sebagai isolator dari rangkaian tegangan rendah ke rangkaian tegangan tinggi dan sebagai pendeteksi adanya penghalang antara transmitter dan receiver dengan memberi ruang uji dibagian tengah antara LED dengan foto transistor.

Sebagai piranti elektronika yang berfungsi sebagai pemisah antara rangkaian power dengan rangkaian kontrol.

Komponen ini merupakan salah satu jenis komponen yang memanfaatkan sinar sebagai pemicu on/offnya.

J. Sistem Instrumentasi dan Kontrol

Sistem instrumentasi menurut Bolton (2006), Sistem instru- mentasi adalah sistem yang digunakan untuk melakukan pen- gukuran yang memiliki masukan berupa nilai sebenarnya dari variable yang diukur, dan keluaran berupa nilai yang terukur.

Maksud dari sistem instrumentasi yang digunakan untuk melakukan pengukuran adalah untuk memberikan suatu nilai numerik yang sesuai dengan variabel yang diukur. Sistem in- strumentasi pengukuran terdiri dari beberapa elemen yang digunakan untuk menjalankan beberapa fungsi tertentu.

Sistem kontrol yaitu sistem yang mempunyai kemampuan

untuk melakukan start, mengatur dan memberhentikan suatu

proses untuk mendapatkan output yang sesuai dengan yang di-

inginkan. Apabila sistem kontrol bekerja secara otomatis (tanpa

menggunakan tenaga manusia) maka sistem tersebut di-

namakan sistem kontrol otomatis. Setiap sistem kontrol

mempunyai tiga elemen pokok, yaitu: input, proses, dan output

(Wahyu dan Agung, 2017).

(45)

Gambar 2.9 Diagram Blok Elemen Dasar Sistem Kontrol

Proses adalah operasi yang sengaja dibuat, berlangsung secara kontinyu, yang terdiri dari beberapa aksi atau peru- bahan yang dikontrol, yang diarahkan menuju ke suatu hasil atau keadaan akhir tertentu. Peralatan yang digunakan untuk mengontrol operasi disebut controller. Sedangkan obyek fisik yang dikontrol disebut plant. Bagian proses bertugas untuk memproses (mengontrol) sinyal input (masukan) untuk menghasilkan sinyal output (Wahyu dan Agung, 2017).

Input merupakan sinyal masukan yang umumnya dihasilkan dari sebuah sensor. Sensor ini adalah suatu alat pen- gubah (tranduser) yang bisa merubah kuantitas fisik menjadi kuantitas listrik. Sensor sering digunakan untuk pendeteksian saat melakukan pengukuran atau pengendalian. Sensor ini mengirimkan informasi mengenai nilai (kuantitas) yang diukur kemudian diproses oleh bagian pengontrol (controller) (Wahyu dan Agung, 2017).

Gambar 2.10 Peralatan Inputan Sumber: Wahyu dan Agung, 2017

Input

Proses

Output

(46)

Output merupakan sinyal yang dihasilkan dari bagian proses yang berupa sinyal listrik yang dipakai untuk mengaktifkan peralatan output yaitu actuator diantaranya mo- tor, solenoid, lampu indikator, buzer, heater, katup, dsb (Wahyu dan Agung, 2017).

Gambar 2.11 Peralatan Output (Sumber: Wahyu dan Agung, 2017)

1. Sistem Kontrol Loop Terbuka

Sistem kontrol loop terbuka adalah suatu sistem kontrol yang memiliki karakteristik dimana nilai keluaran tidak memberikan dampak pada aksi kontrol disebut Sistem Kontrol Loop Terbuka (Open-Loop Control System). Contoh dari sistem loop terbuka salah satunya yaitu operasi mesin cuci. Penggilingan pakaian, pemberian sabun pada pakaian, dan proses pengeringan pakaian yang bekerja sebagai operasi mesin cuci tidak akan berubah (hanya sesuai dengan yang diinginkan seperti semula) walaupun tingkat kebersi- han pakaian (sebagai keluaran sistem) kurang baik akibat adanya faktor-faktor yang kemungkinan tidak diprediksi- kan sebelumnya (Aris Triwiyatno, 2011).

Gambar 2.12 Diagram Blok Loop Terbuka

Plant

Input

Kontroler

Output

(47)

2. Sistem Kontrol Loop Tertutup

Sistem kontrol loop tertutup atau disebut dengan sistem kontrol umpan balik, dimana nilai dari keluaran akan ikut mempengaruhi pada aksi kontrolnya. Contoh dari sistem ini salah satu contohnya adalah operasi pendinginan udara (AC). Input dari sistem AC adalah derajat suhu yang di- inginkan user. Outputnya berupa udara dingin yang akan mempengaruhi suhu ruangan yang diharapkan akan sama dengan suhu yang diinginkan. Dengan memberikan sebuah umpan balik berupa suhu ruangan setelah diberikan aksi udara dengan suhu rendah, maka nantinya didapatkan se- buah kesalahan dari derajat suhu yang nyata dengan derajat suhu yang diinginkan. Melihat adanya kesalahan ini mem- buat kontroler memperbaikinya sehingga didapatkan kesalahan yang semakin lama semakin kecil. (Aris Triwiyatno, 2011).

+ _

Gambar 2.13 Diagram Blok Loop Tertutup

Definisi istilah dalam sistem kontrol adalah sebagai beri- kut (Aris Triwiyatno, 2011):

a. Sistem (system) merupakan sebuah kombinasi dari komponen-komponen yang bekerja bersama mem- bentuk suatu obyek tertentu.

b. Variabel terkontrol (controlled variable) merupakan se- buah besaran (quantity) atau kondisi (condition) yang

Plant

Input

Kontroler

Output

Sensor

(48)

terukur dan terkontrol. Pada keadaan normal meru- pakan output dari sistem.

c. Variabel termanipulasi yaitu sebuah besaran atau kondisi yang divariasi oleh kontroler sehingga mempengaruhi nilai dari variabel terkontrol.

d. Kontrol merupakan sebuah pengendali dari sebuah sistem

e. Plant merupakan sesuatu obyek fisik yang dikontrol.

f. Proses merupakan suatu operasi yang dikontrol.

Contoh: proses kimia, proses ekonomi, proses biologi, dll.

g. Gangguan merupakan sebuah sinyal yang mempengaruhi terhadap nilai keluaran sistem.

h. Kontrol umpan balik merupakan sebuah operasi un- tuk mengurangi perbedaan antara keluaran sistem dengan referensi masukan.

i. Kontroler merupakan suatu alat untuk memodifikasi sehingga karakteristik sistem yang dihasilkan sesuai dengan yang dikehendaki.

j. Sensor merupakan sebuah alat yang difungsikan un- tuk mengukur keluaran sistem dan menyetarakannya dengan sinyal masukan.

k. Aksi kontrol (control action) merupakan sebuah be- saran atau nilai yang dihasilkan oleh perhitungan kontroler untuk diberikan

l. Aktuator (actuator), merupakan sebuah peralatan

atau kumpulan komponen yang menggerakkan plant

Perangkat yang akan digunakan dalam penelitian ini

Menggunakan Arduino, sensor infrared, dan servo.

(49)

K. ESP8266

Gambar 2.14 ESP8266 Sumber: Tedy Tri Saputro, 2017

NodeMCU merupakan sebuah open source platform IoT dan pengembangan kit yang menggunakan bahasa pemrograman Lua untuk membantu dalam membuat prototype produk IoT atau bisa dengan memakai sketch dengan adruino IDE. Pengembangan kit ini didasarkan pada modul ESP8266, yang mengintegrasikan GPIO, PWM (Pulse Width Modulation), IIC, 1-Wire dan ADC (Analog to Digital Converter) semua dalam satu board.

NodeMCU berukuran panjang 4.83cm, lebar 2.54 cm, dan berat 7 gram. Board ini sudah dilengkapi dengan fitur WiFi dan Firm warenya yang bersifat open source.

Spesifikasi yang dimliki oleh NodeMCU sebagai berikut : 1. Board ini berbasis ESP8266 serial WiFi SoC (Single on

Chip)dengan on board USB to TTL. Wireless yang digunakan adalah IEE 802.11b/g/n.

2. 2 tantalum capasitor 100 micro farad dan 10 micro farad.

3. 3.3v LDO regulator.

4. Blue led sebagai indikator.

5. Cp2102 usb to UART bridge.

6. Tombol reset, port usb, dan tombol flash.

(50)

7. Terdapat 9 GPIO yang di dalamnya ada 3 pin PWM, 1 x ADC Channel, dan pin RX TX

8. 3 pin ground.

9. S3 dan S2 sebagai pin GPIO

10. S1 MOSI (Master Output Slave Input) yaitu jalur data dari master dan masuk ke dalam slave, sc cmd/sc.

11. S0 MISO (Master Input Slave Input) yaitu jalur data keluar dari slave dan masuk ke dalam master.

12. SK yang merupakan SCLK dari master ke slave yang berfungsi sebagai clock.

13. Pin Vin sebagai masukan tegangan.

14. Built in 32-bit MCU.

Modul ESP8266 merupakan mikrokontroler yang

mempunyai fasilitas koneksi WiFi, yang banyak digunakan

untuk aplikasi Internet of Things (IoT) seperti mengendalikan

aktuator dan membaca sensor. Mikrokontroler itu sendiri ada-

lah sebuah chip atau IC (integrated circuit) yang bisa di program

menggunakan komputer. Tujuan memberikan program pada

mikrokontroler supaya rangkaian elektronik tersebut dapat

membaca input (masukan), memproses input (masukan) terse-

but, serta kemudian menghasilkan output sesuai yang di-

inginkan. Jadi mikrokontroler bertugas sebagai otak yang men-

gendalikan proses input, dan output sebuah rangkaian el-

ektronik. Modul ESP8266 ini mempunyai processor dan

memory yang dapat diintegrasikan dengan sensor dan

aktuator melalui pin GPIO. Modul ini mempunyai fitur seperti

mendukung standart IEEE 802.11 b/g/n, bisa digunakan untuk

WiFi direct (P2P), Acces Point soft-AP, mempunyai RAM 81 Mb

dan Flash Memory 1 Mb, kecepatan hingga 160 MHz, serta

daya keluaran sebesar 19.5 dBm.

(51)

L. Arduino Nano

Spesfikasi Arduino Nano

Arduino Nano memiliki spesifikasi sebagai berikut:

Mikrokontroler: Atmel ATmega168 untuk Arduino Nano 2.x Atmer Atmega328 untuk Arduino Nano 3.x Tegangan kerja: 5 Volt

Tegangan input: Optimal : 7 – 12 Volt Minimum: 6 Volt

Maksimum: 20 Volt

Digital pin I/O: 14 pin yaitu pin D0 sampai pin D13 Dilengkapi dengan 6 pin PWM Analog pin: 8 pin yaitu pin A0 sampai pin A7 Arus listrik maksimum: 40 mA

Flash memori: 32 Mbyte untuk Arduino Nano 3.x 16 Mbyte untuk Arduino Nano 2.x

Besar flash memori ini dikurangi 2 kbyte yang digunakan un- tuk menyimpan file boatloader.

SRAM: 1 kbyte (ATmega168) dan 2 kbyte (ATmega328) EEPROM: 512 byte (Atmega168) dan 1 kbyte (Atmega328) Kecepatan clock: 16 MHz

Ukuran board: 4,5 mm x 18 mm Berat: 5 gram

Gambar 2.15 Arduino Nano

Sumber: Djukarna, 2015

(52)

Daya

Arduino Nano dapat menggunakan catudaya langsung dari mini-USB port atau menggunakan catudaya luar yang dapat diberikan pada pin30 (+) dan pin29 (-) untuk tegangan kerja 7 – 12 V atau pin 28(+) dan pin 29(-) untuk tegangan 5V.

Memori

Atmega 168 dilengkapi dengan flash memori sebesar 16 kbyte yang dapat digunakan untuk menyimpan kode program utama. Flash memori ini sudah terpakai 2 kbyte untuk program boatloader sedangkan Atmega328 dilengkapi dengan flash memori sebesar 32 kbyte dan dikurangi sebesar 2 kbyte untuk boatloader.

Selain dilengkapi dengan flash memori, mikrokontroller ATmega168 dan ATmega328 juga dilengkapi dengan SRAM dan EEPROM. SRAM dan EEPROM dapat digunakan untuk menyimpan data selama program utama bekerja. Besar SRAM untuk ATmega168 adalah 1 kb dan untuk ATmega328 adalah 2 kb sedangkan besar EEPROM untuk ATmega168 adalah 512 b dan untuk ATmega328 adalah 1 kb.

Input dan Output

Arduino Nano mempunyai 14 pin digital yang dapat digunakan sebagai pin input atau output. Pin ini akan enge- luarkan tegangan 5V untuk mode HIGH (logika 1) dan 0V un- tuk mode LOW (logika 0) jika dikonfigurasikan sebagai pin output. Jika di konfigurasikan sebagai pin input, maka ke 14 pin ini dapat menerima tegangan 5V untuk mode HIGH (logika1) dan 0V untuk mode LOW (logika 0). Besar arus listrik yang diijinkan untuk melewati pin digital I/O adalah 40 mA.

Pin digital I/O ini juga sudah dilengkapi dengan resistor pull-

Gambar

Gambar 2.1 Stopwatch  Sumber: Azqiara, 2019
Gambar 2.3 Pengujian Konsumsi Bahan Bakar Secara Gravimetrik  Sumber: Mochyuga, 2014
Gambar 2.5 Sensor Cahaya  Sumber: Teknisi, 2017
Gambar 2.11 Peralatan Output  (Sumber: Wahyu dan Agung, 2017)
+7

Referensi

Dokumen terkait

dan SIMPUS juga akan menambah waktu yang dibutuhkan untuk pengolahan data pasien JKN. Untuk mengatasi belum terintegrasinya antara P-Care dengan SIMPUS, Puskesmas

Alangkah kagetnya Jaka Tarub, karena ia melihat hanya ada satu padi yang dimasak oleh Nawang Wulan. Wie erschrak Jaka Tarub, weil er sah [dass] nur es war ein Reis [-korn?]

Dalam memenuhi Kerangka Acuan Kerja, lingkup dari layanan yang diberikan Konsultan akan dibatasi pada Perencanan Teknis Pekerjaan Jasa Konsultasi Perencanaan Teknis Pembangunan

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta di bagian perawatan Lantai VA, Lantai VC, Lantai IVA, Lantai IVC dan Emergency dilakukan pada bulan

Untuk meningkatkan keragaman genetik ikan betok, dilakukan dengan cara introduksi individu-individu baru yang memiliki keragaman genetik yang lebih tinggi kedalam populasi

Pengertian itu sesuai dengan defi nisi koperasi me nurut Undang-Undang Koperasi No.17 Tahun 2012 pasal 1 yang isinya: Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang

Judul Tesis : HUBUNGAN SOSIAL EKONOMI DAN INTAKE ZAT GIZI DENGAN TINGGI BADAN ANAK BARU MASUK SEKOLAH (TBABS) PADA DAERAH ENDEMIS GAKY DI KECAMATAN PARBULUAN

Hasil penelitian ini menggambarkan kebenaran teori yang dikemukakan oleh Tim Penulis PLPG Pendidikan Agama Kristen (2008: 49) bahwa guru Pendidikan Agama Kristen harus