• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PROFIL LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV PROFIL LOKASI PENELITIAN"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PROFIL LOKASI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yang berbeda, yaitu di PT.Unilever Indonesia sebagai penyelenggara program Jakarta Green and Clean, dan di lokasi salah satu peserta program Jakarta Green and Clean yaitu RW 13 Kelurahan Cipinang Melayu Jakarta Timur. Untuk lebih jelas mengenai profil lokasi penelitian akan dijelaskan dalam data berikut:

4.1 PT. Unilever Indonesia Tbk 4.1.1 Sejarah PT.Unilever

PT.Unilever Indonesia Tbk merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi sabun, deterjen, margarin, minyak sayur dan makanan yang terbuat dari susu, es krim, makanan ringan dan minuman dari teh, dan produk- produk kosmetik.

Merek-merek perawatan pribadi telah dikenal dan diakui di seluruh dunia.

Produk-produk tersebut membantu para konsumen menjadi tampak sehat dan merasa sehat dan mendapatkan nilai lebih dalam hidup ini. Produk tersebut yaitu Axe, Citra, Pepsodent, Lifebuoy, Clear, Lux, Ponds, Rexona, Sunsilk, Rinso, Sunlight, Bango, Blue band, Royco, Sari Wangi, Taro, Walls.

PT Unilever Indonesia Tbk didirikan pada 5 Desember 1933 sebagai Zeepfabrieken N.V. Lever dengan akta No. 33 yang dibuat oleh Tn. A. H. Van Ophuijsen, Di Batavia. Akta ini disetujui oleh Gubernur Jenderal Van Negerlandsch-Indie dengan surat No. 14 pada tanggal 16 Desember 1933, terdaftar di Raad Van Justitice di Batavia dengan No. 302 pada tanggal 22 Desember 1933 dan diumumkan dalam Javasche Courant pada tanggal 9 Januari 1934 Tambahan No. 3.

Pada tanggal 22 November 2000, perusahaan mengadakan perjanjian dengan PT Anugrah Indah Pelangi, untuk mendirikan perusahaan baru yakni PT Anugrah Lever (PT AL) yang bergerak di bidang pembuatan, pengembangan, pemasaran dan penjualan kecap, saus cabe dan saus-saus lain dengan merk dagang Bango, Parkiet dan Sakura dan merk-merk lain atas dasar lisensi perusahaan kepada PT Al.

(2)

Pada tahun 2007, PT Unilever Indonesia Tbk. (Unilever) telah menandatangani perjanjian bersyarat dengan PT Ultrajaya Milk Industry &

Trading Company Tbk (Ultra) sehubungan dengan pengambilalihan industri minuman sari buah melalui pengalihan merek “Buavita” dan “Gogo” dari Ultra ke Unilever.

4.1.2 Visi dan Misi PT.Unilever Visi PT. Unilever Indonesia:

“ Menjadi pilihan pertama bagi konsumen, pelanggan dan komunitas.”

Misi PT.Unilever Indonesia

“Meningkatkan vitalitas dalam kehidupan”.

Untuk lebih mendetail misi Unilever di uraikan sebagai berikut:

Menjadi yang pertama dan terbaik di kelasnya dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi konsumen

Menjadi rekan yang utama bagi pelanggan, konsumen dan komunitas.

Menghilangkan kegiatan yang tak bernilai tambah dari segala proses.

Menjadi perusahaan terpilih bagi orang-orang dengan kinerja yang tinggi.

Bertujuan meningkatkan target pertumbuhan yang menguntungkan dan memberikan imbalan di atas rata-rata karyawan dan pemegang saham.

Mendapatkan kehormatan karena integritas tinggi, peduli kepada masyarakat dan lingkungan hidup

4.1.3 Yayasan Unilever Peduli

Unilever Indonesia membentuk Yayasan Unilever Indonesia Peduli (UPF) pada tanggal 27 November 2000 sebagai langkah penting dari perwujudan komitmen tanggung jawab sosial perusahaan untuk berkembang bersama masyarakat dan lingkungan yang berkelanjutan. Perusahaan berupaya untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian kualitas hidup yang lebih baik.

Perusahaan membentuk Yayasan Unilever Indonesia Peduli dengan tujuan menjadi perwujudan utama CSR. Pendirian yayasan ini adalah langkah nyata untuk menuju pertumbuhan bersama dengan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.

(3)

Setiap inisiatif CSR dibangun dengan pemikiran dasar yang komprehensif.

perusahaan berupaya dari hal kecil untuk menjaga efektivitas pengembangan inisiatif. Setelah itu, segera mereplikasi atau mengembangkan keberhasilan yang telah dicapai, agar dampak sosial inisiatif yang bersangkutan menjadi lebih besar.

Perusahaan secara aktif mencari masukan, usulan dan komentar dari para stakeholder, terutama dari kalangan masyarakat yang menjadi sasaran. Hasilnya adalah kontribusi perusahaan yang lebih efektif, efisien dan tepat sasaran.

Yayasan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pengembangan inisiatif masyarakat. Yayasan juga memberi peluang bagi untuk saling berbagi pengetahuan antar program dan inisiatif, yang dikembangkan oleh berbagai brand Unilever di berbagai daerah. Dengan selalu mengupayakan berbagi sumber daya, yayasan dapat memberikan kontribusi yang lebih.

4.2 Gambaran Umum Wilayah RW 13 Kelurahan Cipinang Melayu

RW 13 merupakan salah satu dari 22 RW kelurahan Cipinang Melayu Kecamatan Makasar Jakarta Timur. RW 13 ini memiliki 9 RT (Rukun Tetangga).

Luas wilayah RT ini di perkirakan 12260 m. Sebagian besar peruntukan tanah di RW ini digunakan untuk pemukiman penduduk dan sebagian kecil untuk fasilitas umum.

RW 13 Kelurahan Cipinang Melayu terletak di Kecamatan Makassar, daerah Pangkalan Jati Jakarta Timur. Gang RW 13 berada di pinggiran jalan.

Daerah ini banyak dilalui angkutan umum K22 A, T02, M18, M19, M26, M29, K37. Aksesbilitas RW 13 tergolong baik. Pertama karena letaknya yang strategis, yakni di pinggir Jalan Pangkalan Jati juga tepat di samping jalan yang menghubungkan Kota Bekasi dan Jakarta. Jalan ini dilalui banyak angkutan umum, dari minibus sampai perkotaan. Kedua, RW 13 ini dapat dikatakan strategis dikarenakan dekat dengan fasilitas umum seperti Swalayan Naga, travel antar kota, akses pintu tol jatiwaringin dan restoran.

4.2.1 Demografi

Jumlah penduduk RW 13 Cipinang Melayu Jakarta Timur sampai bulan Februari 2009 adalah 262 jiwa, terdiri dari 671 laki-laki (50,38%) dan 661 perempuan (49,62%).

(4)

4.2.2 Kondisi Sosial Ekonomi

Mayoritas warga RW 13 Kelurahan Cipinang Melayu berpendidikan hingga sekolah menengah atas. Mayoritas mata pencaharian adalah wiraswasta dan buruh kasar.

Mayoritas warga RW 13 beragama islam. Terkait dengan agama, kelembagaan sosial keagamaan yang terdapat di RW 13 terdapat pengajian ibu-ibu dan pengajian bapak-bapak. Masing-masing diadakan setiap sebulan sekali pada sore atau malam hari. Kelembagaan sosial lainnya adalah lembaga arisan. Sama seperti pengajian, arisan yang dilakukan warga terdiri dari arisan bapak-bapak dan ibu- ibu yang diadakan setiap sebulan sekali.

Bangunan fisik yang terdapat di RW 13 Kelurahan Cipinang Melayu meliputi:

1. Bangunan pemukiman permanen

2. Balai pertemuan Gerbang Darling, sebagai tempat sosialisasi, pelatihan dan menjamu tamu dan lain-lain

3. Bank Sampah Gerbang Darling di bank sampah ini semua sampah domestic yang berasal dari rumah warga dikumpulkan, baik itu organik maupun non organik, untuk kemudian di olah sesuai jenisnya.

4. Tempat industri daur ulang sampah non-organik, lokasinya di rumah ibu RT, dimana warga melakukan pengolahan sampah anorganik untuk kemudian di jahit menjadi kerajinan tangan seperti tas dan payung.

5. Tempat pembibitan tanaman yang bertempat di halaman rumah ketua RW 13 kelurahan Cipinang Melayu dan Bank Sampah, tempat ini adalah tempat warga melakukan pembibitan tanaman baik hias maupun lainnya.

Hasil tanaman ini disalurkan kepada warga atau ke daerah lain yang membutuhkan.

4.2.3 Kondisi Lingkungan Hidup

Kondisi lingkungan daerah Cipinang Melayu bebas banjir. Hal ini dikarenakan saluran air di daerah ini lancar. Wilayah Cipinang Melayu dinyatakan bebas demam berdarah. Walikota Jakarta Timur menyatakan RW 13 Kelurahan Cipinang Melayu Kecamatan Makasar sebagai Laboratorium

(5)

Pemberantas Sarang Nyamuk (PSN). Penghargaan ini tidak terlepas dari sikap kepedulian masyarakat. Wilayah RW 13 Cipinang Melayu sering dijadikan tempat studi banding dari luar daerah maupun mancanegara.

Suhu di wilayah ini cukup sejuk. Hal ini dikarenakan letak rumah yang berdekatan sehingga menghalangi sinar matahari. Warga rajin menanam tanaman di halamannya, sepanjang jalan dan menggantung tanaman di depan jalan rumah mereka. Tanaman ini menambah kesejukan suasana.

Sampah yang terdapat di wilayah tersebut mayoritas berasal dari sampah rumhtangga atau sampah domestic, sisanya merupaakn sampah sisa daur ulang. Sampah yanga ada tergolong sebagai limbah padat domestik, yakni bahan sisa proses produksi atau hasil sampingan kegiatan rumah tangga.

Sampah tersebut dipisahkan lagi menjadi tidak mudah lapuk, seperti sampah plastic kemasan botol minuman dan sampah mudah lapuk seperti sisa sayuran dan daun-daun yang gugur. Pemerintah Daerah Kelurahan Cipinang Melayu juga menyediakan sarana dan prasarana kebersihan untuk tiap RW di wilayahnya. Sarana kebersihan antara lain dalam bentuk tong sampah, gerobak, petugas kebersihan dan lahan pembuangan sampah.

(6)

BAB V

GAMBARAN UMUM PROGRAM JAKARTA GREEN AND CLEAN 5.1 Profil Program

A. Latar Belakang Program

Jakarta sebagai ibu kota yang merupakan kota metropolitan, disisi lain juga mencerminkan kehidupan masyarakat yang padat aktivitas serta memiliki berbagai permasalahan, mulai dari permasalahan kependudukan sampai dengan masalah transportasi dan lingkungan.

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas masyarakat.

Setiap aktivitas masyarakat pasti menghasilkan buangan atau sampah.

Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu, pengelolaan sampah dipengaruhi juga oleh gaya hidup masyarakat.

Peningkatan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 perhari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar candi Borobudur (volume candi Borobudur = 55.000 ), (Bapedalda, 2000).

Selain itu, kurangnya ruang hijau di kawasan pemukiman dan ruang-ruang publik menjadi permasalahan tersendiri yang membutuhkan perhatian secara mendalam dari semua lapisan masyarakat.

Mengingat begitu besarnya dampak yang ditimbulkan oleh sampah dari lingkungan yang tidak sehat, maka diperlukan upaya-upaya strategis dan sinergis dari berbagai pihak yang concern dalam melakukan pelatihan dan pendampingan secara langsung kepada masyarakat. (Sumber: Buku Laporan Pelaksanaan Program PT.Unilever, 2008)

(7)

B. Tujuan Program

Tujuan Umum dari program adalah melakukan pengembangan masyarakat dengan cara pendampingan dan pelatihan. adapun tujuan khusus dari program adalah 1) Membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan terutama dalam pengelolaan sampah dengan cara pemisahan sampah organic dan non organic. 2) Meningkatkan penghijauan di sekitar area program (DKI Jakarta). 3) Memperbanyak daerah resapan air dengan pembuatan Lubang Resapan Biopori.

C. Penerima Manfaat

Penerima Manfaat dari program JGC 2008 ini adalah: 1) Warga RW peserta JGC. 2) Masyarakat DKI Jakarta pada umumnya. 3) Pemerintah dan dinas terkait. 4) Stakeholder program pada umumnya dan 5) Penerima manfaat langsung: sekitar 900000 jiwa (total penduduk dari 300 RW peserta JGC 2008)

D. Rentang Sasaran Program

Program dimulai sejak Juli 2008 dan berjalan selama 5 bulan hingga November 2008.

E. Manfaat yang akan diterima dengan adanya program ini adalah: 1) Terciptanya lingkungan Jakarta yang lebih bersih dan hijau, 2) Tumbuhnya kesadaran masayrakat untuk mengelola sampah yang merupakan masalah lingkungan yang cukup besar di DKI Jakarta 3) Terbentuknya paguyuban-paguyuban lingkungan yang merupakan wadah berkumpulnya fasilitator JGC 2008, 4) Terjaganya motivasi dan semangat para fasilitator untuk terus menerus bekerja dengan ikhlas dalam menghijaukan dan memelihara kebersihan di lingkungan mereka.

F. Stakeholders yang terkait dalam program: PT.Unilever Indonesia Tbk, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD), Radio Delta FM, Republika, dan LSM Aksi Cepat Tanggap (ACT).

(8)

5.2 Mekanisme Program Jakarta Green and Clean.

Program Jakarta Green and Clean merupakan bentuk serangkaian program yang diselenggarakan secara bertahap dan sistematis. Serangkaian program tersebut dilaksanakan dengan mengikuti alur yang telah ditentukan sebelumnya. Mekanisme dan alur program dijelaskan dalam bentuk mastriks yang disajikan dalam tabel 4.

Tabel 4: Matriks Mekanisme Kegiatan Jakarta Green and Clean.

Waktu

Pelaksanaan Kegiatan Penjelasan

Januari 2008 Sosialisasi program melalui radio Delta FM dan Harian Republika.

Sosialisasi dilakukan melalui radio, surat kabar dan pengumuman kepada pemerintah setempat. Sosialisasi kurang merata karena tidak semua target

terpenuhi.

Februari 2008 Pendaftaran dan pengembalian formulir melaui Radio Delta FM dan harian Republika.

Pendaftaran berlangsung lancar dan pengembalian formulir sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Banyak perwakilan RW yang mendaftar untuk menajdi peserta program.

Maret 2008 Seleksi peserta dan Tehcnical Meeting

Peserta yang masuk kemudian diseleksi dan terpilih 300 nominator dari lima wilayah di Jakarta. Kemudian peserta yang lolos seleksi akan diberikan pengarahan oleh tim panitia.

April 2008 Training fasilitator dan presentasi program

Dari masing-masing daerah diutus fasilitator untuk diberikan

pendampingan dan pelatihan, yang nantinya akan menjadi pemimpin dari daerahnya.

Mei-Juni 2008 Bedah lingkungan Fasilitator yang telah diberi pelatihan,

(9)

kemudian memberikan pelatihan kepada Kader Lingkungan yang dipercaya, biasanya kader lingkungan membawahi 10 rumah tangga. Setiap daerah pun memiliki pendamping dan motivator dari pihak stakeholders.

Juli-Agustus 2008

Seleksi 25 nominator

Setelah dilakukan bedah lingkungan, dilakukan penjurian untuk memilih 25 nominator terbaik yang nantinya akan diberikan pendampingan lebih

mendalam oleh pihak penyelenggara.

November 2008

Pengumuman pemenang, penyerahan hadiah dan penutupan program.

Puncak dari acara Jakarta Green and Clean 2008, dilaksanakan di Bunderan HI. 25 nominator terpilih

mengapresiasikan hasil yang diperoleh selama masa pelatihan dan

pendampingan dan dipilihlah 5 jawara Jakarta Green and Clean 2008.

Tim penilai menurunkan petugas lapang untuk melakukan penilaian secara terbuka maupun rahasia. Selama kegiatan berlangsung, tim Jakarta Green and Clean mengirim motivator sebagai pendamping yang bertugas membuat laporan peserta secara berkala untuk memantau proses kegiatan yang dilakukan oleh warga. Kriteria penilaian dari keseluruhan program JGC 2008 adalah: 1) Pemrosesan sampah organic, 2) Pengumpulan sampah kering 3) Penghijauan 4) Adanya lubang resapan biopori 5) Partisipasi masyarakat 6) Kemampuan menulari RW lain untuk menjalankan program kebersihan dan penghijauan.

Formulir Jakarta Green and Clean yang menjadi salah satu kelengkapan penyeleksian juga difungsikan sebagai alat sosialisasi program Jakarta Green and Clean. Penyeleksian dalam menyeleksi 300 RW kandidat peserta adalah kelengkapan administrasi, pemenuhan syarat umum dan pemenuhan syarat

(10)

khusus. Syarat umum yaitu: merupakan Rukun Warga (RW) di wilayah DKI Jakarta, belum pernah menjadi pemenang kebersihan dan penghijauan lingkungan (tingkat provinsi), mengisi formulir dengan menyertakan pernyataan kesediaan mengikuti lomba dari ketua RW serta mencantumkan 2 orang kader yang akan diutus, melampirkan foto-foto yang mencerminkan kondisi wilayah.

Syarat khususnya adalah memiliki kelompok kebersihan serta aktif memiliki setidaknya 2 kader penggerak yang akan mewakili RW nya untuk mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan lomba.

Setelah memasuki tahap 25 besar, dilakukan Pelatihan dan pengembangan fasilitator atau kader lingkungan dimana peserta pelatihan adalah 5 orang perwakilan RW yang telah dinobatkan sebagai kader lingkungan amsing-masing wilayahnya. Pelatihan fasilitator dan kader dalam program Jakarta Green and Clean dimaksudkan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan sampah serta kader tersebut bersedia menggerakan masyarakat dilingkungan untuk melaksanakan kegiatan kebersihan dan penghijauan di lingkungan masing-masing. Materi pelatihan yang disampaikan adalah sebagai berikut: 1) Pemahaman maksud, tujuan dan tata cara lomba 2) Pelatihan pengelolaan sampah dan penghijauan 3) Kiat memotivasi dan menggerakan masyarakat 4) Kiat penggalangan dana untuk kebersihan dan penghijauan lingkungan.

(11)

BAB VI

KEBIJAKAN DAN PELAKSANAAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PT. UNILEVER INDONESIA Tbk.

Analisis mengenai kebijakan perusahaan dalam program Corporate Social Responsibility akan dijelaskan secara mendalam dalam bab ini. Kebijakan merupakan cara pandang perusahaan mengenai program Corporate Social Responsibility, bentuk kebijakan dan implementasi dari kebijakan yang telah disusun perusahaan. Kemudian akan dianalisis wujud pelaksanaan Corporate Social Responsibility yang telah dilaksanakan perusahaan.

6.1 Kebijakan Perusahaan tentang Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan memandang bahwa pelaksanaan Corporate Social Responsibility merupakan investasi demi pertumbuhan dan keberlanjutan. Dalam menjalankan bisnis, perusahaan menyadari bahwa tanggung jawabnya bukan hanya mencari profit dan meningkatkan reputasi semata, melainkan tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungannya. Melalui motto “ Doing good is good for business” perusahaan memandang bahwa CSR merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan bisnis. Setiap aspek bisnis dilakukan dengan penuh tanggung jawab sehingga menciptakan dampak positif bagi masyarakat.

Bentuk kebijakan CSR yang di lakukan perusahaan diwujudkan dengan mendirikan Yayasan Unilever Indonesia Peduli yang didirikan pada tahun 2000.

Yayasan ini didirikan untuk meneruskan pemusatan sumber daya inisiatif yang akan memenuhi komitmen CSR perusahaan. Dalam meningkatkan reputasi, perusahaan menekankan pentingnya berkesinambungan dalam pelestarian lingkungan, kehidupan sosial, maupun pertumbuhan usaha.

Dalam mengembangkan programnya, yayasan berpegang pada 4 strategi utama yaitu:

Relevansi; mengembangkan program yang terkait usaha.

Model; merumuskan model kegiatan atau program percontohan yang dapat diterapkan di daerah lain;

Kemitraan; bekerja sama dengan unsur-unsur masyarakat seperti LSM, lembaga pemerintah, pranata pendidikan pelaku bisnis lain dan

Replikasi; membuat replikasi model di daerah-daerah lain.

(12)

Perusahaan memandang bahwa pelaksanaan CSR tidak hanya dikhususkan untuk masyarakat secara luas (eksternal), melainkan menitikberatkan juga kepada karyawan dan para stakeholders yang terlibat dalam perusahaan. Seperti yang di ungkapkan informan:

“..Bagi kami, CSR itu bukan hanya penting buat masyarakat saja, tapi internal perusahaan seperti karyawan dan stakeholder lainnya harus di berikan perhatian juga, maka tidak hanya ke eksternal saja melainkan internal perusahaan. Makanya kalau kamu liat di perusahaan ini ada PIAZZA dan Fitness Centre, itu merupakan salah fasilitas yang diberikan kepada karyawan debagai bentuk apresiasi kepada mereka..”. (Ibu NK)

Dalam menerapkan program Yayasan Unilever Peduli yang berkesinambungan, perusahaan selalu aktif mencari masukan, usulan dan komentar para stakeholder, terutama dari masyarakat agar dapat menciptakan kontribusi perusahaan lebih efektif, efisien dan tepat sasaran. Pertemuan bulanan dengan tokoh masyarakat dilakukan secara rutin, sebagai pendekatan yang bottom-up. Berfokus pada kekuatan Unilever, perusahaan yakin dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat sekitar khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

“...Kami percaya bahwa tanggung jawab sosial perusahaan itu tidak sebatas kontribusi sukarela,tapi mencerminkan seluruh kegiatan perusahaan...” (Ibu NK)

Pandangan perusahaan terhadap tanggung jawab sosial perusahaan mencakup seluruh kegiatan bisnis perusahaan. Perusahaan meyakini bahwa organisasi bisnis yang bertanggung jawab harus memberikan kontribusi yang bermakna bagi kesejahteraan masyarakat, perekonomian nasional, serta dasar- dasar pendidikan sosial dan lingkungan. Dengan tujuan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari sekedar perwujudan kedermawanan (philanthropy), perusahaan berusaha untuk berbagi teknologi dan keahilan, bahkan juga kemitraan, dalam pelaksanaan kontribusi sukarela perusahaan.

Perusahaan sudah mulai menerapkan konsep tanggung jawab sosialnya sejak perusahaan tersebut berdiri, jadi murni berasal dari dalam perusahaan tidak berdasarkan paksaaan atau tekanan. Adanya undang-undang yang mengatur yaitu UU No.40 Pasal 74 tahun 2007, tidak mempengaruhi perusahaan dalam kebijakan CSR, karena hal tersebut sudah diwujudkan sejak perusahan berdiri. Hanya saja

(13)

perusahaan menganggap undang-undang tersebut sebagai suatu aturan untuk memperjelas program saja. Seperti yang diungkapkan informan:

“...Sebenarnya ya.. sejak ada UU atau peraturan tentang CSR, kami sudah melaksanakan program CSR sejak lama, bahkan sejak perusahaan berdiri, hanya sejak adanya peraturan tersebut, program nya lebih terkonsep saja dan kami lebih mengembangkan program-program yang berprinsip pemberdayaan seiring dengan pengetahuan-pengetahuan yang bertambah..”

(Ibu NK).

Cara pandang atau alasan perusahaan melaksanakan CSR dapat dikategorikan internal driven, karena murni dorongan tulus dari dalam perusahaan, tidak karena ada paksaan atau tuntutan masyarakat, bahkan regulasi pemerintah sekalipun. Seperti yang telah di jelaskan di atas, perusahaan meyakini bahwa program CSR merupakan investasi demi pertumbuhan dan keberlanjutan usaha. Artinya, CSR bukan lagi dilihat sebagai sentra biaya (cost centre) melainkan sebagai sentra laba (laba centre) di masa mendatang. CSR disikapi secara strategis dengan melakukan alignment antara inisiatif CSR dengan strategi perusahaan.

6.2 Pelaksanaan CSR PT.Unilever Indonesia Tbk.

Analisis wujud pelaksanaan program CSR perusahaan dilihat dari konsep dan strategi yang telah diterapkan serta bentuk pelaksanaannya. Konsep dan strategi merupakan salah satu bentuk landasan yang mendasari pelaksanaan program yang disusun perusahaan.

6.2.1 Konsep dan Strategi Pelaksanaan CSR

Dengan berpijak pada strategi dan pandangan yang ditetapkan mengenai CSR, perusahaan berupaya membawa perubahan bagi mitra dalam rantai nilai dan lingkup stakeholder yang paling luas. Untuk melihat sesuatu tidak hanya dari kacamata bisnis, tetapi juga melalui kacamata sosial. Perusahaan merumuskan konsep dan strategi CSR dalam suatu piramida yang dipandang perusahaan sebagai piramida strategi CSR. Piramida tersebut dapat dilihat pada gambar 3.

(14)

Gambar 3: Piramida strategi pelaksanaan CSR PT.Unilever Indonesia Tbk

Piramida strategi pelaksanaan tersebut merupakan strategi dari dampak yang diakibatkan perusahaan sehingga dampak yang dirasa paling besar akan menjadi fokus paling besar pula dalam pelaksanaan program. Jadi adanya hubungan antara dampak dari aktivitas perusahaan dengan bentuk program yang dilaksanakan perusahaan. Perusahaan menggolongkan dampak tersebut ke dalam 3 tingkatan, yaitu:

Dampak Masyarakat Secara Luas (Kontribusi Sukarela / Voluntary Contribution)

Dampak paling besar yang dirasakan perusahaan adalah dampak terhadap masyarakat luas. Dampak tersebut dipandang perusahaan sebagai kontribusi sukarela terhadap masyarakat secara luas, yang dilakukan melalui kemitraan dengan LSM, badan pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat. Dampak tersebut terlihat seperti “puncak gunung es” yang merupakan dampak yang lebih besar dari kegiatan perusahaan yang sesungguhnya. Kontribusi tersebut mencakup program-program berkesinambungan, yang dilaksanakan secara profesional di bawah Yayasan Unilever Indonesia Peduli. Perusahaan mendorong para karyawan untuk ikut berbagai hati, pikiran dan pengalaman melalui kegiatan bakti sosial sukarela bagi yang membutuhkan, seperti yatim piatu, anak jalanan, penduduk (miskin) pedesaan, pengungsi dan lainn

Dampak Kegiatan Perusahaan (Impact From Operation)

Dampak utama kegiatan perusahaan tercipta dari operasi perusahaan.

Pendekatan dalam mengelola tanggung jawab sosial didasari pemikiran bahwa tanggung jawab sosial merupakan bagian dari kegiatan usaha, dan meliputi

(15)

keinginan untuk selalu belajar dari tindakan perusahaan serta pengalaman pihak lain. perusahaan menyempurnakan kinerja melalui penerapan petunjuk pelaksanaan kegiatan usaha skala nasional dan internasional, termasuk standar Program Peringkat Kinerja Lingkungan (PROPER) dan standar operasi internasional (ISO). Kegiatan usaha selain menciptakan lapangan pekerjaan, juga mengembangkan sumber daya manusia demi kepentingan perusahaan dan masyarakat.

Dampak Rantai Nilai (Impact Through Value Chain)

Dampak yang lebih luas diciptakan melalui rantai nilai, mulai dari pemasok, pelanggan, hingga konsumen. Perusahaan memperkenalkan standar perilaku usaha bagi pemasok, yang disebut Business Partner Code, dan menerapkan “Supplier Quality Management Programme” (SQMP) untuk mendorong pemasok dalam meningkatkan kemampuan dan kinerja mereka. perusahaan bermitra dengan berbagai jenis distributor independen untuk meningkatkan semangat kewirausahaan, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan keuntungan bagi usaha-usaha lokal.

Dari piramida tersebut, perusahaan mengartikan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan merupakan dampak dari seluruh kegiatan operasional perusahaan kepada masyarakat. Kontribusi sukarela memiliki tingkatan paling atas, merupakan salah satu bentuk kebijakan dan kesadaran perusahaan dalam memandang dampak paling besar yang akan dirasakan melalui kegiatan operasional bisnisnya. Untuk itu, perusahaan selalu menekankan konsep CSR dalam setiap aktivitas bisnisnya, baik itu ke dalam maupun keluar perusahaan.

Konsep CSR tersebut diimplementasikan perusahaan menjadi sebuah strategi dalam pelaksanaan CSR.

“...Kami selalu bekerja keras untuk memastikan kegiatan operasi kami itu ramah lingkungan dan bersahabat dengan masyarakat, salah satu caranya ya, Karyawan merupakan ujung tombak pada seluruh kegiatan usaha kami, sementara pelanggan, konsumen dan masyarakat merupakan penerima manfaat nantinya..”. (Ibu NK)

Dari pernyataan di atas, perusahaan menekankan bahwa strategi perusahaan dalam pelaksanaan CSR adalah “Menjadi Perusahaan Yang Ramah Lingkungan”. Dari strategi tersebut, perusahaan menciptakan nilai-nilai yang akan membantu

(16)

tercapainya strategi perusahaan dalam implemantasi CSR maupun pelaksanaan operasi perusahaan. Nilai-nilai yang diciptakan perusahaan, yaitu:

Dorongan Untuk Berkinerja Baik

Tidak mudah untuk membuktikan sebuah komitmen. Istilah “ramah lingkungan” mudah diucapkan, namun mengandung komitmen yang dalam.

Unilever Indonesia sangat memahaminya, oleh karenanya produk ramah lingkungan telah menjadi standar yang tidak dapat ditawar lagi bagi perusahaan. Produk detergen hanya boleh menggunakan soft alkylate, dan hanya material yang lolos uji analisis daur hidup (life cycle analysis) yang dapat dipakai sebagai bahan baku produk atau kemasan. Hal ini sebagai bentuk kepedulian kami atas kondisi lingkungan hidup dewasa ini, kami berusaha sekuatnya untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan alam.

Kinerja yang terbaik menjadi tonggak penting dalam perjalanan perusahaan menuju masa mendatang. Kepatuhan terhadap peraturan perundangan bukan akhir dari pencapaian, tetapi justru sebagai panduan penting bagi perjalanan bisni. perusahaan merasakan kebanggaan yang besar atas hasil jerih payah mereka mencapai kinerja terbaik, saat kedua pabrik kami memperoleh status hijau dalam program peringkat PROPER oleh pemerintah.

Hanya tujuh pabrik lain di Indonesia memperoleh status tersebut.

Mempromosikan Hidup Sehat

Perusahaan tidak saja mengembangkan iklan dan promosi yang bertanggung jawab, tetapi juga memadukan kampanye sosial kesehatan bersama promosi produk-produk yang dihasilkan. Hasilnya produk-produk tersebut telah memperoleh berbagai penghargaan, termasuk penghargaan Kepuasan Pelanggan Indonesia.. Di dalam bentuk dan proses komunikasi, perusahaan tidak saja menyampaikan tentang manfaat produk itu sendiri, tetapi juga pesan-pesan pendidikan mengenai kesadaran hidup sehat, seperti

“Lifebuoy Berbagi Sehat“.

Melebihi Unsur-Unsur Mendasar

Perusahaan berkomitmen mengembangkan sumber daya manusia lebih dari menciptakan lapangan pekerjaan demi kepentingan perusahaan dan masyarakat. Karyawan berasal dari berbagai kebangsaan, suku bangsa dan

(17)

agama, sebagai komitmen kami terhadap keragaman. Perusahaan berupaya mencari dan mempertahankan karyawan terbaik. Setiap tahun sejumlah karyawan dikirim untuk mengikuti pelatihan di luar negeri dan mensponsori kemajuan akademis mereka. Perhatian perusahaan tidak saja pada pendidikan formal, tetapi juga mencakup beberapa keahlian dan pengetahuan yang hanya dapat dipelajari melalui pekerjaan. Perusahaan berupaya untuk menyempurnakan sistem penempatan karyawan, sistem penggajian, kondisi kesehatan dan keselamatan kerja, serta sistem pemberian penghargaan.

Komitmen untuk mendukung hak azasi, keanekaragaman dan peningkatan karir atas dasar prestasi inilah yang memastikan perusahaan tetap akan memberikan kesempatan kerja yang terbaik. Perusahaan menyediakan berbagai fasilitas kesejahteraan karyawan, di antara adalah ruang penitipan bayi (nursery room) dan sarana olahraga (gym). Ibu menyusui dapat bekerja dengan tenang, karena bayinya aman dan berada dekat dengannya di bawah asuhan para staf profesional. Saat menjelang Idul Fitri, fasilitas ini menjadi Day-Care center, dimana karyawati dapat menitipkan bayinya apabila pengasuh bayi di rumah sedang pulang kampung. Sementara itu, para karyawan selalu dipantau kesehatannya oleh dokter dan perawat terlatih untuk mencapai kebugaran optimal melalui penggunaan fasilitas gym di bawah bimbingan instruktur berpengalaman.

Nilai ini menggambarkan bahwa bentuk tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya ke masyarakat luas saja, tetapi karyawan sebagai salah satu stakeholders internal harus mendapatkan kesejahteraan dan kepedulian dari perusahaan.

Memaksimalkan Potensi Pemasok

Dalam bisnis perusahaan, pertumbuhan berkelanjutan merupakan hal yang sangat penting. Karena itu, perusahaan mendorong mitra agar berbisnis dengan cara yang berkelanjutan. Melalui Program Manajemen Kualitas Pemasok (Supplier Quality Management Programme (SQMP), perusahaan mendorong para pemasok menerapkan standar tertinggi dalam berbisnis.

Penerima penghargaan SQMP tertinggi diberikan “Preferred Partner Certifi cation”, dimana dituntut memberikan kualitas barang pada level tertentu,

(18)

pengiriman dalam jumlah dan waktu tepat, menawarkan harga kompetitif, fleksibel dan menjaga kepercayaan. SQMP mencakup seluruh pemasok Unilever termasuk pemasok kemasan, bahan baku hingga bahan parfum.

Maksud program ini tidak hanya pada peningkatan hubungan berbisnis, tapi juga mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih baik. Kriteria penilaian program yang dilaksanakan sejak tahun 2000 ini selalu diperluas dari tahun ke tahun, saat ini telah mencakup bagaimana pemasok tersebut menangani masalah kesehatan, keselamatan dan lingkungan perusahaan, serta komitmen terhadap tanggung jawab sosial.

Menciptakan Kesempatan Bagi Pengembangan Ekonomi Lokal

Dalam melayani para pelanggan, perusahaan membutuhkan network distribusi yang besar dan efisien untuk produk. Dalam kompetisi yang kian ketat, distribusi produk yang efektif dan merata, menentukan sebuah produk menjadi pilihan pelanggan. Untuk menjaga dan memperkuat kelangsungan distribusi produk, perusahaan membina kerjasama yang harmonis dengan berbagai mitra distributor yang independen. Kemitraan ini termasuk pengembangan kewirausahaan, lapangan kerja dan bisnis bagi para pemilik usaha lokal. Sinergi di dalam rantai nilai ini akan secara berkesinambungan mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat luas.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip dan nilai yang dianut dalam perusahaan, konsep perusahaan dalam menjalankan sebuah program CSR tidak hanya sebatas membuat program, tetapi berdasar pada prinsip dan nilai tersebut.

Agar terlaksannaya konsep strategi piramida sebagai kebijakan CSR, maka nilai- nilai dan prinsip-prinsip tersebut bukan hanya sekedar nilai, melainkan harus diterapkan secara konsisten. Sejauh ini, kajian mengenai prinsip dan nilai yang diterapkan perusahaan sebagai kebijakan pelaksanaan CSR telah diaplikasikan dengan baik, namun penulis mengkaji ada baiknya konsep mengenai piramida tersebut diperjelas. Artinya secara logis apabila penulis kaji menurut konsep piramida, bagian teratas adalah konsep yang paling jumlahnya sedikit tetapi mempunyai pengaruh yang besar bagi bagian lain, sedangkan bagian paling bawah adalah bagian yang dirasa memiliki dampak paling besar bagi perusahaan.

Jadi, apabila akan menggunakan konsep dampak dalam strategi pelaksanaan CSR,

(19)

penulis menyarankan untuk membalik piramida tersebut menjadi piramida terbuka. Dampak yang paling besar menempati posisi paling atas dalam piramida terbuka tersebut.

6.2.3 Bentuk Pelaksanaan CSR PT.Unilever Indonesia Tbk

Pelaksanaan CSR PT.Unilever Indonesia dinaungi oleh Yayasan Unilever Peduli, yang berada di bawah direktur Human Resources and Corporate Relations. Misi dari Yayasan Unilever Indonesia Peduli adalah menggali dan memberdayakan potensi masyarakat, memberikan nilai tambah bagi masyarakat, memadukan kekuatan para mitra dan menjadi katalisator bagi pembentukan kemitraan.

Dalam pelaksanaannya, Yayasan Unilever Peduli memfokuskan pada program-program yang sesuai dengan visi dan misi serta prinsip bisnis perusahaan. Serta program tersebut selalu melibatkan dan bertujuan pada masyarakat (Community Engagement). Fokus program tersebut tergambar dalam bagan berikut.

Gambar 4: Bagan fokus program CSR PT.Unilever Indonesia melalui Yayasan Unilever Peduli.

1. Program Lingkungan (Environment Program)

Unilever Green and Clean yang telah dilaksanakan di beberapa kota besar di Indonesia, sampai saat ini program tersebut sudah dilaksanakan Di Surabaya, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Banjarmasin, dan Makassar. Jakarta Green Office

Community Engagement

Environment Program Small Medium Enterprise (SME)

Developments Programs

Public Health Education (PHE)

Programs

Humanitarian Aids

(20)

dengan sasaran para karyawan di perusahaan-perusahaan Jakarta dan Jakarta Green and School dengan target pelajar SMP yang ada di Jakarta.

2. Pengembangan Usaha Kecil Menengah melalui program Pemberdayaan Petani Kedele Hitam.

Sejak tahun 2000, perusahaan menjalin kerja sama dengan Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta untuk mengembangkan suatu program dengan mengajak para petani local memproduksi kedele hitam berkualitas. Adapun kedele hitam merupakan salah satu bahan baku dari produk Unilever yaitu Kecap Bango.

3. Program Kesehatan

Unilever melakukan praktik CSR dalam bidang kesehatan melalui Program Promosi Kesehatan Terpadu (Integrated Health Promotion Program/ IHPP).

Program ini merupakan inisiatif Unilever untuk menyatukan kegiatan-kegiatan promosi kesehatan yang telah dilakukan oleh berbagai pihak secara terpisah agar bersinergi. Dalam praktiknya, perusahaan menerapkan pendekatan integrative yang lebih menyeluruh sehingga memberikan dampak yang lebih besar kepada masyarakat.

4. Program Bantuan Kemanusiaan (Humanitarian Aid Program)

Unilever berupaya menjadi perusahaan terpercaya, sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat untuk memenuhi tanggung jawab di etmpat beroperasinya perusahaan. Secara aktif, perusahaan berkolaborasi dengan berbagai organisasi dengan bertujuan untuk menjangkau lebih banyak daerah dan korban bencana. Unilever menjadi anggota forum antar organisasi seperti Indonesia Peduli, Peduli Bengkulu dan Berbagi Untuk Indonesia, beberapa program kemanusiaan yang dilakukan Unilever yaitu: Can Do Aceh, Can Do Yogyakarta, Can Do Jakarta dan Can Do Bengkulu.

(21)

BAB VII

EVALUASI PROGRAM JAKARTA GREEN AND CLEAN

Program Jakarta Green and Clean merupakan salah satu program unggulan yang dilaksanakan PT.Unilever Indonesia Tbk. Program tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dan keprihatinan perusahaan terhadap sampah yang ada sekarang. Selain itu, perusahaan menyadari akan sampah yang ditimbulkan dari produk yang dihasilkan perusahaan. Program Jakarta Green and Clean, menerapkan unsur pemberdayaan dalam konsep dan pelaksanaanya. Bentuk pemberdayaan dapat dianalisis dari proses pelaksanaan dan tujuan program tersebut. Program Jakarta Green and Clean bertujuan untuk merubah perilaku masyarakat dengan memberikan pelatihan dan pertukaran informasi yang diberikan mengenai pengelolaan sampah sehingga nantinya masyarakat akan merubah pola perilakunya dalam pengelolaan sampah yang tentunya bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, dalam bidang ekonomi, masyarakat memiliki penambahan pendapatan. Pendapatan tersebut berasal dari aktivitas masyarakat dalam mengelola sampah kering menjadi bentuk kerajinan seperti tas, dompet, payung dan lain lain yang terbuat dari sampah plastik dan itu akan menambah pendapatan bagi masyarakat khususnya para ibu rumah tangga.

Input dalam program dilihat dari input perusahaan sebagai penyelenggara dan input masyarakat sebagai sasaran program. Input perusahaan dilihat dari kebijakan yang terdapat dalam perusahaan yang dilihat dari bentuk dan konsep strategi CSR. Kebijakan perusahaan mempunyai pengaruh dalam program Jakarta Green and Clean, program tersebut dikatakan berhasil apabila dikonsep dengan baik oleh perusahaan dan terinternalisasi dalam wujud pelaksanaan CSR perusahaan. Input yang terdapat dalam perusahaan yaitu dilihat dengan adanya rancangan program mengenai Jakarta Green and Clean, serta melibatkan stakeholders yang terkait dengan adanya program, dan tentunya dana. Perusahaan pun menyediakan beberapa peralatan kebersihan dan juga mesin jahit untuk membantu keberlangsungan program. Input masyarakat sebagai sasaran program dapat dilihat dari faktor internal yang dijelaskan secara mendetail pada sub bab 7.1.

(22)

7.1 Faktor Internal

Faktor internal dalam penelitian ini adalah karakteristik responden yang merupakan ciri-ciri pribadi individu peserta program Jakarta Green and Clean di lokasi penelitian. Responden berjumlah 40 orang yang diambil secara acak terdiri dari 20 orang laki-laki dan 20 orang perempuan. Pengambilan sampel yang rata dilakukan dengan sengaja untuk melihat perbandingan antara responden laki-laki dan perempuan dalam mengikuti program Jakarta Green and Clean. Karakteristik responden dapat dilihat dalam tabel yang berdasarkan enam kategori. Kategori- kategori tersebut adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status kependudukan, motivasi mengikuti program dan tingkat pengetahuan terhadap program.

Tabel 5: Jumlah dan Persentase Responden Peserta Program Jakarta Green and Clean berdasarkan faktor internal responden.

Karakteristik Responden

Jumlah Persentase (%)

Usia

Muda (≤20 th) 2 5,0

Dewasa (21 th - 30 th) 4 10,0

Tua (>30 th) 34 85,0

Jenis kelamin Laki-laki 20 50,0

Perempuan 20 50,0

Tingkat pendidikan

Rendah (SD) 3 7,50

Menengah (SMP-SMA) 31 77,5

Tinggi (D3/S1/S2) 6 15,0

Status

kependudukan

Warga tetap 26 65,0

Warga sementara 14 35,0

Motivasi

Memperbaiki lingkungan tempat

tinggal 18 45,0

Menambah pengetahuan dalam

mengelola lingkungan 21 52,5

Hanya ikut-ikutan warga yang

lain 1 2,50

Tingkat pengetahuan terhadap program

Rendah 6 15,0

Tinggi 34 85,0

Tabel 5 menyajikan data mengenai jumlah dan persentase responden menurut faktor internalnya. Jumlah reponden lebih banyak berada di usia tua yaitu sebesar 85 persen, sementara usia dewasa hanya 10 persen dan usia muda hanya 5 persen. Hal ini dikarenakan masyarakat yang sering berada di cipinang adalah

(23)

masyarakat yang tingkat kesibukannya rendah atau tidak memiliki kesibukan di luar. Biasanya, para Ibu Rumah Tangga yang tidak mempunyai pekerjaan sampingnya. Seperti yang diungkapkan responden

“…warga disini mah kebanyakan pada disibuk di luar, apalagi anak muda yang sekolah dan para pekerja, paling adanya malam sepulang kerja dan sekolah, itupun jarang berkumpul mas..ya jadi yang sering muncul ya ibu-ibu RT yang ga ada kerjaan mas.. (ibu HKM)

Responden yang bersedia di teliti, sebagian besar merupakan masyarakat yang memiliki waktu senggang. Jenis kelamin mempunyai porsi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan yaitu masing-masing 50 persen, hal ini dilakukan secara sengaja oleh peneliti, dengan tujuan untuk membandingkan output yang akan dihasilkan antara responden laki-laki dan perempuan.

Jumlah responden dengan tingkat pendidikan sedang (SMP-SMA) lebih banyak yaitu sebesar 77,5 persen, sementara sisanya sebesar 15 persen responden tergolong berpendidikan tinggi dan 7,5 persen responden berpendidikan rendah.

Dalam status kependudukan, sebagian besar responden merupakan penduduk tetap yaitu penduduk yang memiliki rumah tetap dan permanen di lokasi tersebut yaitu sebesar 65 persen, dan responden yang berstatus sebagai penduduk sementara artinya penduduk yang bukan penghuni permanen biasanya ditandai dengan menempati rumah kontrakan atau kos-kosan berjumlah 35 persen. Pada dasarnya tidak ada pembedaan dari aparat pemerintah mengenai status penduduk warga, selama warga tersebut melapor dan mempunyai izin yang jelas, seperti yang diungkapkan pihak RW:

“….selama ini tidak ada masalah yang berarti antara penduduk asli dan sementara mas, selama dia lapor dan terdfatar, ya nggak masalah..hubungannya pun dengan warga saya lihat baik baik saja….”

Mengenai keterkaitannya dengan program Jakarta Green and Clean, baik penduduk sementara maupun tetap sama-sama dilibatkan dan tidak ada pembedaan, hanya saja karena kesibukan dari tiap masing-masing individu masyarakat, maka yang ikut andil sebagian besar adalah penduduk tetap yang biasanya ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Sebagaimana dinyatakan dalam wawancara bersama Ibu HKM seorang kader lingkungan di daerah Cipinang.

“ ….disini siapa saja boleh ikutan mas, Cuma kan kita ga bisa maksa ya, baik penduduk tetep ato sementara pun boleh ikutan, cuam ya itu biasanya yang tinggal sementara disini itu kebanyakan ornag kantoran yang sibuk,

(24)

jadi mereka biasanya ikut bantu kalo lagi libur, ada juga memang yang ga pernah nongol sama sekali…” (Ibu hkm)

Motivasi masyarakat dalam mengikuti program Jakarta Green and Clean ini sebanyak 52,5 persen adalah untuk menambah pengetahuan meraka dalam mengelola lingkungan, sementara 45 persen responden menjawab untuk memperbaiki lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini dapat dikatakan bahwa motivasi masyarakat program ini adalah positif artinya mempunyai tujuan yang baik dan terarah. Hanya ada 2,5 persen responden yang hanya ikut-ikutan warga lain.

Tingkat pengetahuan warga terhadap program dikelompokan ke dalam faktor internal responden karena tingkat pengetahuan merupakan bentuk kepekaan responden terhadap program yang dijalankan. Untuk menguji tingkat pengetahuan tersebut, responden diberikan 10 pertanyaan terkait dengan program Jakarta Green and Clean, kemudian setelah diolah 85 persen responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi terhadap program artinya mereka mengetahui seluk beluk program, tujuan, penyelenggara dan manfaatnya. Seperti yang diutarakan oleh responden Mnr:

“...ya sebelum kita ikut program, kita harus tau dulu mas programnya apa kan biar kita juga ngerti mas programnya apa jadi ga asal-asalan...”(Ibu Mnr)

Sementara itu, terdapat 15 persen dengan tingkat pengetahuan rendah terhadap program, hal itu disebabkan karena diantara mereka hanya mengetahui programnya saja tanpa mengetahui lebih dalam lagi mengenai jenis, tujuan dan manfaat program Jakarta Green and Clean.

7.2 Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terdapat di luar internal responden yang dapat mempengaruhi ouput dari program Jakarta Green and Clean. Faktor eksternal dalam penelitian ini adalah regulasi pemerintah, hadiah atau penghargaan yang di terima, manajamen program yang dimulai dari tahap sosialisasi, pelaksanaan sampai evaluasi program, serta partisipasi masyarakat dalam program Jakarta Green and Clean. Secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel 6.

(25)

Tabel 6: Jumlah dan Persentase Penilaian Responden terhadap Faktor Eksternal Program

Faktor Eksternal Jumlah

(orang)

Persentase (%)

Regulasi pemerintah setempat Baik 10 25,0

Buruk 30 75,0

Penghargaan/hadiah yang diterima

Mempengaruhi 22 55,0

Tidak

mempengaruhi 18 45,0

Manajemen program CSR Baik 35 87,50

Buruk 5 12,50

Partisipasi masyarakat dalam program

Tinggi 24 60,0

Rendah 16 40,0

Tabel 6 menyajikan data menegnai jumlah dan persentase faktor eksternal yang dimiliki responden. Sebesar 75 persen responden menyatakan bahwa regulasi pemerintah setempat buruk, artinya pandangan mereka terhadap peraturan pemerintah setempat terkait dengan pengelolaan lingkungan tidak berpengaruh terhadap responden. Ada atau tidak ada aturan yang dibuat, amsyarakat akan tetap menjalankan program Jakarta Green and Clean. Dalam hal ini, pemerintah setempat adalah pihak kelurahan Cipinang Melayu Jakarta Timur. Hanya 25 persen responden yang menyatakan bahwa regulasi pemerintah setempat baik. Hal tersebut dikarenakan belum ada aturan yang jelas mengenai pengelolaan lingkungan, baik tertulis maupun tidak tertulis serta tidak ada sanksi-sanksi yang jelas yang diberikan pemerintah setempat terutama yang terkait dengan pelanggaran pengelolaan lingkungan. Secara garis besar aturan pemerintah setempat tidak mempengaruhi masyarakat dalam mengikuti program Jakarta Green and Clean. Seperti yang dinyatakan oleh reponden Bp.Shb

“ …Sebenernya mas aturan disini saya juga ga tau ya, tapi setau saya ga ada aturan yang resmi di kelurahan cipinang..ya orang lurahnya aja baru ganti kok, gimana mau jelas aturanya, lurah yang sekarang kurang begitu akrab sama masyarakat..tapi ada nggak adanya si ga berpengaruh ya mas kepada kami..” (Bp.Shb)

Di lain pihak, responden yang memiliki pandangan baik mengenai regulasi pemenrintah menyatakan:

“…Setahu saya ada si mas, aturan aturan itu, dimana kalo ga bersihin sampah itu sanksinya harus nanam pohon atau tanaman di depan rumahnya, dan saya pikir aturan itu baik ya karena mendidik juga, hanya emang jarang dilakukan masyarakat ya...” (Ibu WTN)

(26)

Setelah dikonfirmasi kepada pihak kelurahan mengenai aturan-aturan yang ditetapkan pihak kelurahan, ternyata aturan tersebut ada hanya saja belum dituliskan. Biasanya aturan tersebut disampaikan kepada tiap RW untuk disampaikan lansung kepada masyarakat seperti kewajiban untuk kerja bakti sebulan sekali. Adapun sanksi yang diterapkan pun baik dan bermanfaat, seperti kewajiban menanam tanaman bagi yang tidak ikut berpartisipasi. Hanya saja, aturan tersebut kurang disosialisasikan secara resmi oleh pihak kelurahan jadi , masyarakat kurang mengetahui aturan-aturan yang ada, sehingga jelaslah bahwa sebagian besar responden tidak terlalu mengetahui aturan pemerintah setempat.

Penghargaan atau hadiah yang akan diterima oleh masyarakat apabila memenangkan program Jakarta Green and Clean ini sebanyak 55 persen mempengaruhi masyarakat dalam mengikuti program, artinya masyarakat mengetahui hadiah yang akan diterima, serta merupakan salah satu faktor pendorong megikuti program tetapi bukan merupakan tujuan utama mengikuti program. Sebanyak 45 persen responden menyatakan hadiah atau penghargaan tersebut tidak mempengaruhi dalam mengikuti program, karena sebagian besar dari mereka pun tidak megetahui secara pasti hadiah yang akan diterima, dan ada atau tidak ada hadiah tersebut mereka akan ikut berpartisipasi dalam program Jakarta Green and Clean. Seperti yang dinyatakan responden Mnr

“..saya tau mas kalo menang uangnya dapet 20 juta, tapi kemarin kan RW 13 dapet juara 2 jadi dapet 15 juta..ya lumayan lah itu ngaruh juga ya, karena uangnya memang buat daerah kita sendiri..” (ibu Mnr).

7.3 Output Program Jakarta Green and Clean

Output program merupakan perubahan perilaku responden setelah diadakannya program, yaitu perubahan tingkat pengetahuan, perubahan sikap dan perubahan tindakan responden. Perubahan tingkat pengetahuan dinilai dari jumlah skor sepuluh pernyataan mengenai pengetahuan tentang pengelolaan lingkungan.

Perubahan sikap dan tindakan dinilai dari jumlah skor sepuluh pernyataan masing- masing untuk sikap dan tindakan dalam mengelola lingkungan sekitar dan mempraktekan materi yang telah diajarkan melalui Skala Likert dari skala 1 sampai dengan 4. Hasil perubahan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat dapat dilihat pada tabel 7.

(27)

Tabel 7: Jumlah dan Persentase Perubahan Perilaku Responden Sesudah Program.

Perubahan Perilaku Masyarakat Peserta Program Jumlah (orang)

Persentase (%) Pengetahuan masyarakat dalam

pengelolaan lingkungan setempat

Tinggi 32 80,0

Rendah 8 20,0

Sikap masyarakat dalam pengelolaan lingkungan setempat

Positif 35 87,5

Negatif 3 12,5

Tindakan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan setempat

Aktif 22 55,0

Pasif 18 45,0

Tabel 7 menyajikan data mengenai jumlah dan persentase perubahan perilaku responden setelah program selesai dilaksanakan. Tingkat pengetahuan responden terhadap pengelolaan sampah dapat dikatakan tinggi yaitu sebesar 80 persen, sementara 20 persen responden memiliki tengkat pengetahuan rendah terhadap program. Tingkat pengetahuan warga yang tinggi memang sebagian besar didapat setelah adanya program Jakarta Green and Clean tersebut.

Sebelumnya, masyarakat tidak mengetahui secara mendetail mengenai pengelolaan lingkungan yang baik dan benar, tetapi setalah dilakukan pelatihan dan pembinaan mereka menjadi lebih terbuka dan memahami. Seperti yang dinyatakan beberapa responden berikut ini:

“..program JGC ini bermanfaat sekali mas, dulu mana bisa saya menjahit dan memanfaatkan sampah sampai dibikin tas, yang namanya sampah ya saya buang aja mas..” (Ibu Hkm)

“...dulu si mas kalo sampah saya suka dibakar kan daripada menuh- menuhin, tetapi setelah adanya program saya jadi tau kalo sampah itu ga boleh dibakar, apalagi sekarang jadi gampang ya setelah ada bank sampah, nuker sampah tapi dapet uang juga...” (Ibu Mnr)

Hal tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat tingkat pengetahuannya meningkat setelah adanya program Jakarta Green and Clean.

Sementara untuk 20 persen yang memiliki pengetahuan rendah dikarenakan jarang berpartisipasi dalam beberapa kegiatan pelatihan yang diberikan.

Sebanyak 87,5 persen responden memiliki sikap positif terhadap pengelolaan sampah setelah adanya program, hal ini menandakan bahwa program berhasil merubah sikap atau pandangan masyarakat terhadap pengolaan sampah.

Setelah adanya program, masyarakat menjadi lebih peduli dan memperhatikan

(28)

kondisi lingkungan sekitarnya untuk menjadi lebih baik dan bersih dibanding sebelum adanya program.

Berdasarkan tabel 7, 55 persen responden memiliki tindakan yang aktif dalam mengelola lingkungan dimulai dari membuang sampah pada tempatnya, memanfaatkan bank sampah, menghadiri berbagai kegiatan lingkungan sampai tindakan menggunakan produk daur ulang sampah yang dibuat sendiri dan melaksanakan semua yang telah diajarkan dalam program Jakarta Green and Clean. Sementara, sisanya sebanyak 45 persen masih bersifat pasif artinya sebagian besar kurang melakukan apa yang telah diajarkan dalam program.

Apabila dilihat secara keseluruhan tindakan masyarakat dalam mengelola sampah memang tidak memiliki persentase yang menonjol atau terlalu besar, artinya tindakan masyarakat memang perlu diperbaiki lagi, jadi tidak hanya pengetahuan saja yang cenderung tinggi, karena harus dilandasi dengan tindakan yang aktif juga terhadap pengelolaan lingkungan.

7.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Output Program Jakarta Green and Clean.

7.4.1 Hubungan antara Karakteristik Faktor Internal dengan Perubahan Perilaku Sesudah Program Jakarta Green and Clean

Perubahan perilaku dalam penelitian ini mencakup perubahan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan peserta program. Hubungan antara perubahan tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan setelah adanya program dengan faktor internal responden yang mencakup usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status kependudukan, motivasi mengikuti program dan tingkat pengtahuan terhadap program dianalisis menggunakan tabulasi silang dan kemudian dilakukan uji statistik non parametik Chi Square. Uji-uji tersebut menggunakan skala nominal dan ordinal dalam bentuk angka dan frekuensi yang berupa data skor.

Patokan pengambilan keputusan berdasarkan nilai Asymp Sig adalah jika nilai Asymp Sig (2-sided) lebih kecil dari α = (0,05), maka Ho ditolak, yang berarti bahwa terdapat perbedaan antara variabel-variabel yang diuji.

(29)

Tabel 8: Hasil analisis Chi Square antara Faktor Internal responden dengan Perubahan Tingkat Pengetahuan Sesudah Program.

Faktor Internal Asymp. Sig. (2-sided)

/ p-value Keterangan

Usia

0,414 Tidak Signifikan

Jenis Kelamin 0,002 Signifikan

Tingkat Pendidikan 0,826 Tidak Signifikan

Status Kependudukan 0,507 Tidak Signifikan

Motivasi Mengikuti Program 0,853 Tidak Signifikan

Tingkat Pengetahuan Terhadap

Program 0,376 Tidak Signifikan

Ket: signifikan jika p-value < alpha (0,05)

Tabel 8 menyajikan data mengenai hasil analisis Chi Square antara faktor internal dengan tingkat pengetahuan. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa variabel-variabel faktor internal tidak memiliki perbedaan dengan perubahan tingkat pengetahuan. Hanya jenis kelamin yang menunjukan adanya hubungan yang signifikan pada perubahan tingkat pengetahuan.

Tabel 9: Jumlah dan Persentase Responden menurut Usia dan Tingkat Pengetahuan

Usia Tingkat Pengetahuan

Total

Tinggi Rendah

Muda 2 (100%) 0 (0 %) 2 (100%)

Dewasa 4 (100%) 0 (0%) 2 (100%)

Tua 26 (76,5%) 8 (23,5%) 34 (100%)

Keterangan: p-value = 0,414 , taraf nyata: 0,05

Tabel 9 menyajikan data mengenai hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan. Sebanyak 76,48 persen responden dengan usia tua memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, dan sebanyak 23,52 persen golongan usia tua memiliki tingkat pengetahuan rendah. Hasil uji Chi Square menunjukan terdapat hubungan yang tidak signifikan antara usia dengan tingkat pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Semakin tua usia responden tidak semata-mata berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan mereka tentang pengelolaan sampah. Hal ini sesuai dengan kenyataan, bahwa setiap golongan usia baik muda, dewasa dan tua memperoleh materi dan metode pelatihan yang sama dalam program dan tidak ada pembedaan materi sesuai golongan usia.

(30)

Tabel 10: Jumlah dan Persentase Responden menurut Jenis Kelamin dan Tingkat Pengetahuan

Jenis Kelamin

Tingkat Pengetahuan

Total

Tinggi Rendah

Laki-Laki 12 (60%) 8 (40%) 20 (100%)

Perempuan 20 (100%) 0 (0%) 20 (100%)

Keterangan: p-value: 0,002 Taraf nyata: 0,05

Tabel 10 menyajikan data mengenai hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan. Sebanyak 100 persen responden perempuan memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dalam pengelolaan lingkungan dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 60 persen. Hasil uji Chi Square menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan dalam pengelolaan lingkungan. Sesuai dengan kenyataan di lapangan, perempuan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi karena perempuan yang paling sering menghadiri pelatihan dan pemaparan program dibandingkan dengan laki-laki. Sedangkan laki-laki sangat jarang atau bahkan ada beberapa yang tidak pernah menghadiri pelatihan program karena kesibukan pekerjaan dan kendala waktu. Sementara perempuan yang sebagian besar ibu rumah tangga banyak memiliki waktu luang untuk mengikuti pelatihan program.

Tabel 11: Jumlah dan Persentase Responden menurut Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pengetahuan

Tk.Pendidikan Tingkat Pengetahuan

Total

Tinggi Rendah

Rendah 2 (66,7%) 1 (33,3%) 3 (100%)

Menengah 25 (80,7%) 6 (19,3%) 31 (100%)

Tinggi 5 (83,3%) 1(16,7%) 6 (100%)

Keterangan: p-Value: 0,826 Taraf Nyata: 0,05

Tabel 11 menyajikan data mengenai hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan. Responden dengan tingkat pendidikan rendah memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebesar 66,7 persen, responden dengan pendidikan menengah memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebesar 80,65 persen dan responden dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki tingkat pengetahuan

(31)

tinggi sebesar 83,3 persen. Hasil uji Chi Square menyatakan terdapat hubungan yang tidak signifikan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan dalam pengelolaan sampah. Semakin tinggi tingkat pendidikan responden tidak semata- mata berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan responden dalam pengelolaan sampah. Hal ini menggambarkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat dipahami dan dikerjakan oleh setiap masyarakat secara merata tanpa memandang tingkat pendidikan rendah, menengah atau tinggi.

Tabel 12: Jumlah dan Persentase Responden menurut Status Kependudukan dan Tingkat Pengetahuan.

Status Kependudukan

Tingkat Pengetahuan

Total

Tinggi Rendah

Warga Tetap 20 (76,9 %) 6 (23,1 %) 26 (100%)

Warga Sementara 12 (85,7%) 2 (14,3 %) 14 (100%)

Keterangan: p-Value = 0,507 Taraf Nyata: 0,05

Tabel 12 menyajikan data mengenai hubungan antara status kependudukan dengan tingkat pengetahuan dalam mengelola sampah. Sebanyak 76,93 persen responden dengan status kependudukan sebagai warga tetap memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, sementara responden dengan status kependudukan sebagai warga sementara sebanyak 85,71 persen memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Hasil uji Chi Square menyatakan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara status kependudukan responden dengat tingkat pengetahuan dalam pengelolaan lingkungan. Secara khusus, baik warga tetap maupun warga sementara tidak berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dalam pengelolaan lingkungan, karena baik warga tetap maupun sementara diberikan peluang yang sama untuk mengikuti pelatihan. Semakin tetap status kependudukan seseorang tidak semata-mata berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dalam mengelola sampah.

Tabel 13: Jumlah dan Persentase Responden menurut Motivasi Mengikuti Program dan Tingkat Pengetahuan.

Motivasi Tingkat Pengetahuan

Total

Tinggi Rendah

Memperbaiki 14 (77,8 %) 4 (22,2 %) 18 (100%)

(32)

Lingkungan Menambah

Pengetahuan 17 (54,8 %) 14 (45,2 %) 31 (100%)

Hanya Ikut-ikutan 1 (100%) 0 (0%) 1 (100%)

Keterangan: p-Value : 0,853 Taraf Nyata: 0,05

Tabel 13 menyajikan data mengenai hubungan antara motivasi dengan tingkat pengetahuan dalam pengelolaan sampah. Sebanyak 77,78 persen responden dengan motivasi untuk memperbaiki lingkungan mempunyai tingkat pengetahuan tinggi. Sebanyak 54,83 persen responden dengan motivasi untuk menambah pengetahuan memiliki tingkat pengetahuan tinggi, dan responden dengan motivasi hanya ikut-ikutan memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebesar 100 persen. Hasil uji Chi Square menyatakan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara motivasi mengikuti program dengan tingkat pengetahuan responden dalam pengelolaan sampah. Secara khusus, motivasi responden baik itu intrinsik maupun ekstrinsik tidak berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dalam mengelola lingkungan. Semakin baik motivasi responden, tidak semata- mata mempengaruhi terhadap peningkatan pengetahuan responden.

Tabel 14: Jumlah dan Persentase Responden menurut Tingkat Pengetahuan Terhadap Program dan Tingkat Pengetahuan.

Tingkat Pengetahuan

Tingkat Pengetahuan

Total

Tinggi Rendah

Tinggi 28 (82,3%) 6 (17,7 %) 34 (100%)

Rendah 4 (66,7 %) 2 (33,3 %) 6 (100%)

Keterangan: p-value: 0,376 Taraf Nyata: 0,05

Tabel 14 menyajikan data mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan terahdap program Jakarta Green and Clean dengan tingkat pengetahuan dalam pengelolaan sampah. Sebanyak 82,35 persen responden dengan tingkat pengetahuan tinggi terhadap program memilki tingkat pengetahuan yang tinggi dalam pengelolaan sampah. Responden dengan tingkat pengetahuan yang rendah terhadap program memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dalam mengelola sampah sebanyak 66,67 persen. Hasil uji Chi Square menyatakan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara tingkat pengetahuan responden terhadap program dengan tingkat pengetahuan responden terhadap pengelolaan lingkungan.

(33)

Secara khusus, baik responden yang mengetahui atau tidak terhadap program Jakarta Green and Clean tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan, karena sebagian besar responden hanya fokus terhadap program pelatihan saja tanpa mempedulikan dan memahami program secara lebih mendetail. Semakin tinggi tingkat pengetahuan responden terhadap program tidak semata-mata mempengaruhi responden dalam peningkatan pengetahuan dalam pengelolaan sampah.

Dari keseluruhan hasil uji Chi Square antara faktor internal dengan tingkat pengetahuan responden dalam pengelolaan lingkungan, hanya jenis kelamin yang memiliki hubungan yang signifikan sementara faktor lainnya tidak memiliki hubungan yang signifikan.

Tabel 15: Hasil Analisis Chi Square antara Faktor Internal Responden dengan Perubahan Sikap Sesudah adanya Program.

Faktor internal

Asymp. Sig. (2-

sided) / p-value Keterangan

Usia 0,206 Tidak Signifikan

Jenis Kelamin 0,151 Tidak Signifikan

Tingkat Pendidikan 0,219 Tidak Signifikan

Status Kependudukan 0,452 Tidak Signifikan

Motivasi mengikuti Program 0,889 Tidak Signifikan Tingkat Pengetahuan terhadap

Program 0,094

Tidak Signifikan Tabel 15 menyajikan data mengenai hasil analisis Chi Square secara keseluruhan. Variabel faktor-faktor internal responden tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan sikap responden dalam mengelola sampah sesudah adanya program

Tabel 16: Jumlah dan Persentase Responden menurut Usia dan Sikap.

Usia Sikap

Total Positif Negatif

Muda 1 (50%) 1 (50 %) 2 (100%)

Dewasa 4 (100 %) 0 (0%) 4 (100%)

Tua 30 (88,3 %) 4 (11,7 %) 34 (100%)

Keterangan: p-Value = 0,206 Taraf Nyata: 0,05

(34)

Tabel 16 menyajikan data mengenai hubungan usia dengan sikap dalam pengelolaan sampah. Sebanyak 88,23 persen responden dengan usia tua memiliki sikap positif dalam mengelola sampah. Golongan usia dewasa memiliki 100 persen sikap yang positif dalam mengelola sampah, sementara golongan usia muda memiliki porsi seimbang masing-masing 50 persen memiliki sikap positif dan 50 persen memiliki sikap negatif. Hasil uji Chi Square menunjukan terdapat hubungan yang tidak signifikan antara usia dengan sikap masyarakat dalam pengelolaan sampah. Semakin tua usia seseorang tidak semata-mata mempengaruhi peningkatan sikap mereka dalam pengelolaan sampah menjadi positif. Hal ini sesuai dengan kenyataan, bahwa terdapat responden dengan golongan usia muda, dewasa dan tua yang memiliki sikap positif terhadap lingkungan sekitar mereka.

Tabel 17: Jumlah dan Persentase Responden menurut Jenis Kelamin dan Sikap.

Jenis Kelamin Sikap

Total Positif Negatif

Laki-Laki 16 (80 %) 4 (20 %) 20 (100%)

Perempuan 19 (95 %) 1 (5 %) 20 (100%)

Keterangan: p-Value 0,151 Taraf Nyata: 0,05

Tabel 17 menyajikan data mengenai hubungan jenis kelamin dengan sikap dalam pengelolaan sampah. Sebanyak 95 persen responden perempuan memiliki sikap yang positif dalam pengelolaan sampah dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 80 persen. Sementara hanya 5 persen responden perempuan yang memiliki sikap negatif dan responden laki-laki sebanyak 20 persen. Hasil uji Chi Square menyatakan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara jenis kelamin dengan sikap dalam pengelolaan lingkungan. Secara khusus, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam memiliki sikap terhadap pengelolaan lingkungan, karena baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk memiliki sikap yang baik dalam lingkungan tempat tinggal mereka dan mengelola lingkungan sekitar.

Gambar

Tabel 4: Matriks Mekanisme Kegiatan Jakarta Green and Clean.
Gambar 3: Piramida strategi pelaksanaan CSR PT.Unilever Indonesia Tbk
Tabel 5:   Jumlah dan Persentase Responden Peserta Program  Jakarta Green and  Clean berdasarkan faktor internal responden
Tabel 6:   Jumlah dan  Persentase Penilaian Responden terhadap Faktor Eksternal  Program
+7

Referensi

Dokumen terkait

Secara periodik, sistem administrasi PT.(Persero) Bank Rakyat Indonesia Cabang Pembantu Unit Keera harus di teliti atau di periksa oleh pihak yang bebas dari tugas rutin yaitu

Motivasi kerja adalah sikap dan nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai kebutuhan, sikap dan nilai tersebut merupakan suatu yang memberikan kekuatan untuk

2 Wawancara Bapak Kristiono Tripriadi, 4 Mei 2014.. pelanggannya sehingga mereka akan tetap melakukan pembelian atau bahkan meningkatkan pembelian dari organisasi

Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan item-item pernyataan yang berkaitan dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan Perumahan Tipe

[r]

Dengan demikian, KPPU sebagai lembaga pengawas persaingan usaha harus memiliki komitmen yang kuat dalam melakukan investigasi terhadap pelaku usaha atau kegiatan usaha agar dapat

Diuretik adalah satu-satunya agen farmakologik yang dapat mengendalikan retensi cairan pada gagal jantung berat, dan sebaiknya digunakan untuk mengembalikan dan menjaga

A regio- nális tudomány részterületei közül is elsősorban a regionális és területi po liti- kai tartalmak hatják át mélyebben a gazdasági problémákat tárgyaló köz le mé