I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan pasar modal Indonesia tercermin melalui peningkatan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), yang merupakan indeks yang menggambarkan perkembangan nilai pasar dari waktu ke waktu. Struktur IHSG terdiri atas indeks sektoral yang terbagi dalam 9 sektor, yaitu: sektor pertanian, pertambangan, industri dasar dan kimia, aneka industri, industri bahan konsumsi, property, real estate dan konstruksi, infrastruktur, utilitas dan transportasi, keuangan dan perdagangan, jasa dan investasi.
Kondisi ekonomi pertambangan mampu berdampak positif atau negatif bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Kegiatan bisinis industri pertambangan di Indonesia telah berkembang dengan pesat. Makin canggihnya tekonologi dalam bidang pertambangan, maka sumber daya alam seperti emas, perak, tembaga dan batubara menjadi industri pertambangan yang banyak dieksplorasikan. Sektor pertambangan juga memberikan lapangan pekerjaan yang cukup besar, baik yang terlibat secara langsung maupun dalam berbagai bentuk produk dan jasa pendukung pertambangan (www.jurnal-ekonomi, 2009)
Hambatan yang kerap terjadi pada perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan adalah adanya keterbatasan sumberdaya dengan jumlah permintaan akan kebutuhan bahan tambang. Oleh karena itu, suatu perusahaan dituntut untuk dapat lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya dengan baik.
Jumlah emiten dalam sektor pertambangan sebanyak 18 emiten yang tersebar dalam 4 subsektor, yaitu: pertambangan batubara, pertambangan minyak dan gas alam, pertambangan logam dan mineral dan pertambangan batu-batuan. Adapun 20 emiten pada sektor pertambangan dirinci menurut sub sektornya adalah sebagai berikut: (www.bei, 2009)
1. Sub sektor pertambangan batubara.
a. Adaro Energy (ADRO) b. APTK Resources (ATPK) c. Bumi Resources (BUMI)
d. Indo Tambang Raya Megah (ITMG) e. Perdana Karya Perkasa (PKPK) f. Petrosea (PTRO)
g. Resources Alam Indonesia (KKGI) h. Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) 2. Sub sektor minyak dan gas alam
a. Apexindo Pratama Duta (APEX) b. Elnusa (ELSA)
c. Energi Mega Persada (ENRG)
d. Medco Energy Internasional (MEDC) e. Radiant Utama Interinsco (RUIS) 3. Pertambangan logam dan mineral
a. Aneka Tambang (ANTAM) b. Citra Mineral Investindo (CITA) c. Internasional Nickel Indonesia (INCO) d. Timah (TINS)
4. Pertambangan batu-batuan
a. Central Korporindo (CNKO) b. Citatah Industri Marmer (CTTH) c. Mitra Investindo (MITI)
Data Bank Indonesia menunjukkan, hingga triwulan II-2009 kredit ke sektor pertambangan menurun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, per September 2009 kredit sektor pertambangan naik 4,99 persen dari posisi yang sama tahun sebelumnya. Sementara besarnya kredit yang belum direalisasikan turun 6,87 persen. Sektor pertambangan menjadi penopang ekspor nonmigas Indonesia selama Januari-Agustus 2009, ekspor pertambangan 11,6 miliar dollar AS atau naik 21,42 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008 (www.kompascetak, 2009).
Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA) Priyo Pribadi Soemarno (www.bisnis, 2009) mengemukakan bahwa investasi sektor pertambangan diperkirakan bisa menembus Rp20 triliun tahun 2010, untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 1. Namun, prediksi investasi itu
akan terhambat bila pemerintah tidak segera menuntaskan masalah di sektor itu dan hambatan sektor pertambangan diantaranya adalah harmonisasi regulasi dan masalah perpajakan. Berkaitan dengan iklim bisnis pertambangan tahun ini, pemerintah diminta memprioritaskan pengembangan proyek tambang mineral dan batu bara yang sudah menyelesaikan tahap feasibility studies untuk meningkatkan kinerja pertambangan 2010.
Menurut beliau, investasi baru di sektor pertambangan Indonesia sepanjang 2010 tidak akan mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, mengingat kondisi industri pertambangan belum sepenuhnya pulih akibat krisis ekonomi global.
Tabel 1. Investasi di sektor pertambangan
Sumber : Departement ESDM
1.2. Perumusan Masalah
Harga saham merupakan indikator utama yang pertama kali dilihat oleh para investor. Harga saham juga merupakan cerminan dari kondisi perusahaan dan ekspektasi investor. Sebelum melakukan investasi saham di pasar modal, para investor harus menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi investasinya tersebut. Karena dengan melakukan analisis para calon investor dapat mengurangi resiko kerugian yang sangat besar.
Sebaliknya apabila para calon investor tidak melakukan analisis maka bisa berakibat fatal yang sangat beresiko. Dua resiko terbesar adalah mengalami capital loss, yaitu kerugian dari hasil jual beli saham, serta opportunity loss,
yaitu kerugian yang terjadi karena perusahaan atau emiten dilikuidasi. Untuk mengantisipasi perubahan harga saham maka diperlukan analisis saham.
Investasi di sektor pertambangan (dalam Rp miliar)
2010 20.020
2011 30.770
2012 50.080
2013 46.800
2014 74.680
Analisis harga saham dapat dilakukan dengan dua metode yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.
Melalui analisis fundamental, investor dapat menaksir nilai intrinsik dari suatu saham. Dengan analisis teknikal, investor dapat melihat pergerakan harga saham dalam kurun waktu tertentu. Dari kedua analisis ini dapat dilakukan secara bersamaan untuk menganalisis suatu saham.
Sesuai dengan hal yang telah disampaikan, maka dapat diketahui perumusan masalah dari penelitian ini yaitu :
1. Bagaimana kondisi perusahaan-perusahaan pertambangan di BEI (Bursa Efek Indonesia) pada periode 2006-2008 ?
2. Bagaimana nilai intrinsik harga saham pada perusahaan-perusahaan pertambangan selama periode 2006-2008 melalui analisis fundamental dan membandingkannya dengan harga pasar di BEI (Bursa Efek Indonesia) ?
3. Bagaimana suatu perbandingan saham yang paling murah dan paling mahal dalam lima perusahaan pertambangan dalam periode 2006-2008 melalui analisis fundamental ?
4. Bagaimana pergerakan harga saham pada perusahaan-perusahaan pertambangan selama periode 2006 hingga triwulan I tahun 2010 melalui analisis teknikal ?
1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pengkajian masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi kondisi lima perusahaan pertambangan di BEI (Bursa Efek Indonesia) periode 2006-2008.
2. Menganalisis nilai intrinsik harga saham lima perusahaan pertambangan periode 2006-2008 dengan menggunakan analisis fundamental dan membandingkannya dengan harga pasar.
3. Menganalisis harga saham yang paling murah atau paling mahal pada lima perusahaan pertambangan di BEI (Bursa Efek Indonesia) periode 2006-2008 dengan menggunakan analisis fundamental.
4. Menganalisis suatu pergerakan harga saham lima perusahaan pertambangan selama periode 2006 hingga triwulan I tahun 2010 dengan menggunakan analisis teknikal.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan, diharapkan penelitian ini dapat menambah khasanah dinamika keilmuan dalam teknik analisis surat berharga selain analisis fundamental yang telah banyak dilakukan di pasar modal Indonesia.
2. Bagi pihak-pihak yang ingin melakukan kajian lebih dalam mengenai analisis fundamental dan analisis teknikal, diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi dan landasan bagi penelitian selanjutnya.
3. Bagi para investor saham, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan analisis investasi di pasar modal melalui dua pendekatan, yaitu dengan analisis fundamental dan analisis teknikal.
1.5. Batasan Penelitian
Penelitian ini terbatas pada suatu kinerja perusahaan secara domestik saja atau dengan kata lain adalah perusahaan-perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI (Bursa Efek Indonesia), baik melalui pendekatan fundamental maupun pendekatan teknikal. Hal ini dilakukan karena operasional perusahaan-perusahaan yang diteliti berlokasi di Indonesia. Data yang diambil untuk analisis fundamental terbatas pada periode 2006-2008, karena data penutupan harga saham harian tahun 2009 belum diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia, data tersebut akan diterbitkan pada bulan Juli 2010 dan untuk analisis teknikal digunakan data penutupan harga saham bulanan pada tahun 2006 hingga triwulan 1 tahun 2010.
Penelitian ini dilakukan di BEI (Bursa Efek Indonesia), dengan mengambil data saham yang termasuk ke dalam harga saham sektor pertambangan, di antaranya ANTM (Aneka Tambang), BUMI (Bumi Resources), ENRG (Energi Mega Persada), TINS (Timah), PTBA (Tambang
Batubara Bukit Asam). Saham 5 perusahaan pertambangan tersebut termasuk saham unggulan (blue chips stock). Blue chips stock atau saham unggulan merupakan suatu saham yang manajemennya memiliki reputasi yang baik. Di samping itu dari 5 perusahaan tersebut sudah cukup menggambarkan dalam menganalisis harga saham baik dari segi fundamental maupun teknikalnya.
Pada kesempatan ini penulis menganalisis faktor fundamental dan teknikal. Analisis fundamental dapat dilakukan dengan dua model, yaitu dengan pendekatan present value dan model kelipatan laba atau Price Earning Ratio (PER). Analisis fundamental ini bertujuan untuk
memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang dan menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.
Analisis teknikal dalam penelitian ini peneliti memilih menggunakan eksponential moving average. Analisis ini dapat dihasilkan informasi
pergerakan harga saham yang akan terjadi selanjutnya atau peramalan tentang harga saham. Informasi ini berguna bagi investor untuk melakukan transaksi saham baik jual maupun beli.