• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sampah

Hadiwiyoto (1983), mendefinisikan sampah adalah sisa-sisa bahan yang telah mengalami perlakuan-perlakuan baik karena telah diambil bagian utamanya atau karena pengolahan dan sudah sudah tidak bermanfaat. Jika ditinjau dari segi ekonomi tidak ada harganya dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan kesehatan. Seiring dengan semakin meningkatnya populasi manusia dan bertambah banyaknya kebutuhan manusia, mengakibatkan semakin besar pula terjadinya masalah-masalah pencemaran lingkungan, termasuk masalah sampah.

Pada dasarnya alam secara alamiah mampu mendaur ulang berbagai jenis limbah yang dihasilkan oleh makhluk hidup, namun bila konsentrasi limbah yang dihasilkan sudah tak sebanding lagi dengan laju proses daur ulang maka akan terjadi pencemaran. Pencemaran timbul apabila suatu zat atau energi dengan tingkat konsentrasi yang demikian rupa hingga dapat mengubah kondisi lingkungan, baik langsung atau tidak, dan pada akhirnya lingkungan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya (Barros dalam Siahaan, 2004). Pengertian pencemaran lingkungan hidup menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.

Pencemaran lingkungan hidup di perkotaan adalah salah satu penyebab

terjadinya ketidakefisienan ekonomi dan bahkan menimbulkan skala disekonomis

bagi kota tersebut, karena pencemaran dapat menimbulkan dampak (eksternalitas)

yang bersifat negatif yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat kesejahteraan

masyarakat. Eksternalitas yang bersifat negatif inilah yang menimbulkan biaya

bagi kegiatan pihak lain di luar pelaksanaan kegiatan tersebut yang oleh Coase

dalam Dewi (1997) disebut sebagai biaya sosial (social cost)

(2)

Terjadinya eksternalitas negatif menurut Mishan dalam Dewi (1997) adalah karena orang tidak hanya memproduksi barang dan jasa (goods and services) tetapi juga barang negatif (bads) yaitu barang dan jasa yang menimbulkan kerusakan. Secara ekonomis perbedaan pokok antara barang positif dan barang negatif adalah kemauan orang dalam mengenakan biaya. Pada barang positif untuk memperolehnya orang mau mengeluarkan biaya sedangkan pada barang negatif untuk menghindarinya orang perlu biaya. Salah satu barang negatif itu adalah sampah yang menyebabkan pemandangan tak sedap (kotor), bau busuk, media bagi perkembangan penyakit menular, dan lain-lain.

Menurut Amsyari (1997) jika masalah sampah tidak segera ditanggulangi, maka akan menimbulkan pencemaran dan akhirnya merusak lingkungan.

Rusaknya lingkungan dapat menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan hidup, sedangkan kualitas lingkungan hidup sangat mempengaruhi kelangsungan hidup manusia, karena dalam lingkungan hidup terjadi hubungan timbal balik antara manusia dengan unsur-unsur fisik, biologi maupun sosial.

Sampah pada dasarnya adalah bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber dan merupakan hasil aktivitas manusia yang tidak atau belum memiliki nilai ekonomi (Murtadho dan Said, 1987). Karena sampah merupakan hasil aktivitas manusia sendiri, maka orang tidak mempunyai hak untuk menolaknya. Jumlah sampah yang dihasilkan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kegiatan manusia, baik kegiatan produksi maupun kegiatan konsumsi. Sementara itu lahan tempat penampungannya semakin terbatas, sehingga masalah sampah kota dewasa ini menjadi masalah serius.

Pengertian sampah menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 18 Tahun

2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia

dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sedangkan pengertian sampah dalam

dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 20 Tahun 2008 tentang

Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan adalah limbah berbentuk padat,

berasal dari kegiatan orang pribadi atau badan yang terdiri dari bahan organik dan

anorganik, yang harus dikelola agar tidak merusak lingkungan, tetapi tidak

termasuk buangan biologis/kotoran manusia, sampah berbahaya dan juga bukan

merupakan sisa hasil olahan proses industri.

(3)

Departemen Pekerjaan Umum (2002) memberikan definisi sampah sebagai limbah yang bersifat padat terdiri dari bahan organik dan bahan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi bangunan. Sampah perkotaan adalah sampah yang timbul di kota dan tidak termasuk sampah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Menurut Azwar (1990), sampah adalah sesuatu yang tidak dipergunakan lagi, yang tidak dapat dipakai lagi, yang tidak disenangi dan harus dibuang yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi yang bukan biologis (karena kotoran manusia tidak termasuk ke dalamnya) dan umumnya bersifat padat. Kodoatie (2003) mendefinisikan sampah adalah limbah atau buangan yang bersifat padat, setengah padat yang merupakan hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau siklus kehidupan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan sebenarnya hanya sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kelangsungan hidup.

Berdasarkan beberapa pengertian tentang sampah seperti di atas maka dapat didefinisikan sampah adalah sisa bahan, limbah atau buangan yang bersifat padat, setengah padat yang merupakan hasil sampingan dari kegiatan atau siklus kehidupan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.

Menurut Slamet (2000), ada beberapa faktor yang mempengaruhi sampah baik kuantitas maupun kualitasnya, yaitu :

1. Jumlah penduduk. Dapat dipahami dengan mudah bahwa semakin banyak penduduk, semakin banyak pula sampahnya. Pengelolaan sampah inipun berpacu dengan laju pertambahan penduduk.

2. Keadaan sosial ekonomi. Semakin tinggi keadaan sosial ekonomi masyarakat,

semakin banyak jumlah perkapita sampah yang dibuang. Kualitas

sampahnyapun semakin banyak bersifat tidak membusuk. Perubahan kualitas

sampah ini, tergantung pada bahan yang tersedia, peraturan yang berlaku serta

kesadaran masyarakat akan persoalan persampahan. Kenaikan kesejahteraan

inipun akan meningkatkan kegiatan konstruksi dan pembaharuan bangunan-

(4)

bangunan, transportasipun bertambah, dan produk pertanian, industri, dan lain-lain akan bertambah dengan konsekuensi bertambahnya volume dan jenis sampah.

3. Kemajuan teknologi. Kemajuan Teknologi akan menambah jumlah maupun kualitas sampah, karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam, cara pengepakan dan produk manufaktur yang semakin beragam pula.

Sumber sampah berasal dari seluruh rangkaian kehidupan berlangsung, dari seluruh pelosok kehidupan masyarakat, namun dalam hal ini dititikberatkan pada sumber sampah di perumahan perkotaan, dimana saat ini menjadi suatu permasalahan yang sangat kompleks, rumit dan memerlukan penanganan multi disiplin, baik dengan pendekatan teknis, maupun dengan pendekatan sosial.

Menurut Departemen Kesehatan (1987) pada dasarnya sampah dapat diklasifikasi dalam beberapa kategori, yaitu :

1. Pemukiman penduduk,

2. Tempat-tempat umum dan tempat perdagangan, 3. Sarana Pelayanan masyarakat milik pemerintah, 4. Industri berat ringan,

5. Pertanian.

Sementara menurut Ditjen Cipta Karya (1991) sumber sampah berasal dari:

1. Daerah pemukiman (Rumah tangga), 2. Daerah komersil (Pasar dan pertokoan), 3. Daerah Industri,

4. Perkantoran, pariwisata, sarana umum, 5. Kandang hewan atau pemotongan hewan, 6. Jalan dan taman.

Sumber-sumber sampah biasanya berkaitan erat dengan penggunaan lahan,

atau daerah terbangun atau penentuan zona wilayah, sehingga secara umum

sumber sampah (Tchobanoglous,1993) berasal dari :

(5)

1. Perumahan atau rumah tangga. Sampah dari rumah tangga biasanya berasal dari aktivitas, seperti memasak, disebut juga sampah domestik.

2. Daerah komersil. Meliputi sampah yang berasal dari aktifitas perdagangan, seperti toko, restoran, pasar, hotel, pusat pelayanan jasa dan lain-lain.

3. Institusi. Sampah berasal dari sekolah, rumah sakit, pusat-pusat perkantoran dan lainnya.

4. Konstruksi dan penghancuran. Sampah yang berasal dari aktifitas pembangunan gedung, perbaikan jalan dan reruntuhan gedung.

5. Aktifitas gedung. Sampah yang berasal dari penyapuan jalan, taman dan pantai, area rekreasi, pembersihan sekolah dan pertamanan.

6. Tempat pengolahan. Sampah berasal dari aktifitas pengolahan air bersih, air buangan dan proses pengolahan dalam industri.

7. Industri. Sampah yang berasal dari proses indistri berat, ringan, proses kimiawi, tenaga listrik, proses pembuatan tekstil, pembongkaran dan proses penyulingan.

8. Pertanian.

Menurut Hadiwiyoto (1983), klasifikasi sampah berdasarkan sifatnya dibagi menjadi 2 macam yaitu :

1. Sampah organik, yaitu sampah yang terdiri dari daun-daunan, kayu, kertas, karton, tulang, sisa-sisa makanan ternak, sayur dan buah. Sampah organik adalah sampah yang mengandung senyawa-senyawa organik yang tersusun oleh unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Bahan-bahan ini mudah didegradasi oleh mikrobia.

2. Sampah anorganik, yaitu sampah yang terdiri dari kaleng, plastik, besi dan logam-logam lainnya, gelas, mika atau bahan-bahan yang tidak tersusun oleh senyawa-senyawa organik. Sampah ini tidak dapat terdegradasi oleh mikrobia.

Sementara Murthado dan Said (1987) membedakan sampah berdasarkan istilah teknis, yaitu :

1. Sampah yang bersifat semi basah. Golongan ini merupakan bahan-bahan

organik, misalnya sampah dapur dan sampah restoran, yang kebanyakan

(6)

merupakan sisa buangan sayuran dan buah-buahan. Sampah jenis ini bersifat mudah terurai, karena mempunyai ikatan kimiawi yang pendek.

2. Sampah anorganik, yang sukar terurai karena mempunyai rantai ikatan kimia yang panjang, misalnya plastik dan kaca.

3. Sampah berupa abu yang dihasilkan pada proses pembakaran. Secara kuantitatif sampah jenis ini sedikit, tetapi pengaruhnya bagi kesehatan cukup besar. Sampah berupa jasad hewan mati, misalnya bangkai tikus, anjing, ayam dan lain-lain.

4. Sampah jalanan, yakni semua sampah yang dapat dikumpulkan secara penyapuan di jalan-jalan, misalnya daun-daunan, kantung plastik, kertas dan lain-lain.

5. Sampah industri, yakni sampah yang berasal dari kegiatan produksi di industri. Secara kuantitaatif jenis limbah ini banyak, tetapi ragamnya tergantung pada jenis industri tersebut.

Jenis dan sumber sampah menurut Widyatmoko (2002), dapat dikelompokan menjadi :

1. Sampah rumah tangga, terdiri dari:

a. Sampah basah yaitu sampah yang terdiri bahan-bahan organik yang mudah membusuk yang sebagaian besar adalah sisa makanan, potongan hewan, sayuran dan lain-lain.

b. Sampah kering yaitu sampah yang terdiri dari logam seperti besi, kaleng bekas dan sampah kering yang non logam misalnya kertas, kayu, kaca, keramik, batu-batuan dan sisa kain.

c. Sampah lembut, misalnya sampah debu yang berasal dari penyapuan lantai, penggergajian kayu dan abu dari sisa pembakaran kayu.

d. Sampah besar yaitu sampah yang terdiri dari buangan rumah tangga yang besar-besar seperti meja, kursi dan lain-lain.

2. Sampah komersial, yaitu sampah yang berasal dari kegiatan komersial pasar,

pertokoan, rumah makan, tempat hiburan, penginapan dan lain-lain.

(7)

3. Sampah bangunan, yaitu sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan termasuk pemugaran dan pembongkaran suatu bangunan seperti semen, kayu, batubata dan sebagainya.

4. Sampah Fasilitas umum, yaitu sampah yang berasal dari kegiatan pembersihan dan penyapuan jalan, trotoar, taman, lapangan, tempat rekreasi dan fasilitas umum lainnya.

2.2 Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008, yang dimaksud dengan pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan timbulan sampah; pendauran ulang sampah; dan/atau pemanfaatan kembali sampah. Penanganan sampah meliputi kegiatan :

a. pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;

b. pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu;

c. pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;

d. pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau

e. pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

Strategi pelayanan sistem pengelolaan sampah mendahulukan pencapaian

keseimbangan pelayanan dilihat dari segi kepentingan sanitasi dan ekonomis,

kualitas pelayanan dan kuantitas pelayanan. Dalam menentukan skala kepentingan

daerah pelayanan dapat dibagi dalam beberapa kondisi sebagai berikut :

(8)

1. Wilayah dengan pelayanan intensif adalah daerah jalan protokol, pusat kota, kawasan permukiman tidak teratur dan daerah komersial;

2. Wilayah dengan pelayanan menengah adalah kawasan permukiman teratur;

3. Wilayah dengan daerah pelayanan rendah adalah daerah pinggiran.

Untuk menentukan kualitas operasional pelayanan didasarkan pada kriteria tipe kota, sampah terangkut dari lingkungan, frekuensi pelayanan, jenis dan jumlah peralatan, peran aktif masyarakat, retribusi, timbunan sampah.

(Departemen Pekerjaan Umum, 2002)

Teknis operasional pengelolaan sampah perkotaan terdiri dari kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir harus bersifat terpadu. Skema teknik operasional pengelolaan persampahan dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Skema Teknik Operasional Pengelolaan Persampahan Saat ini sistem pengelolaan sampah masih banyak menggunakan paradigma konvensional yang menitikberatkan pada kegiatan ”kumpul – angkut – buang”. Sistem konvensional ini dilaksanakan berpedoman pada Standar Nasional Indonesia yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Spesifikasi yang digunakan adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 19-2454-2002 tentang

Timbulan Sampah

Pewadahan,Pemilahan dan Pengolahan di Sumber

Pengumpulan

Pemindahan Pemilahan

dan Pengolahan

Pengangkutan

Pembuangan Akhir

(9)

Tata Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan, SNI No. 19- 39464-1994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan, Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor S-04- 1993-03 tentang Spesifikasi Timbulan Sampah untuk Kota Kecil dan Sedang di Indonesia, serta Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.

534/KPTS/M/2001 tentang Standar Pelayanan Minimal untuk Permukiman.

Teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri dari kegiatan:

2.2.1 Pewadahan

Pewadahan sampah adalah aktivitas menampung sampah sementara dalam suatu wadah individual atau komunal di tempat sumber sampah. Dalam operasional pengumpulan sampah, masalah pewadahan memegang peranan yang sangat penting, tempat penyimpanan sampah pada sumber diperlukan untuk mencegah sampah agar jangan berserakan yang akan memberi kesan atau terlihat kotor serta untuk mempermudah proses kegiatan pengumpulan, sampah yang dihasilkan perlu disediakan tempat untuk penyimpanan/penampungan sambil menunggu kegiatan pengumpulan sampah.

Dalam melakukan pewadahan harus disesuaikan dengan jenis sampah yang telah terpilah, yaitu :

1) sampah organik seperti daun sisa, sayuran, kulit buah lunak, sisa makanan dengan wadah warna gelap;

2) sampah anorganik seperti gelas, plastik, logam, dan lainnya, dengan wadah warna terang;

3) sampah bahan berbahaya beracun (B3) rumah tangga dengan warna merah yang diberi lambang khusus atau semua ketentuan yang berlaku (Departemen Pekerjaan Umum, 2002).

Dalam menunjang keberhasilan operasi pengumpulan sampah, perlu

adanya pewadahan yang sebaiknya dilakukan oleh pemilik rumah. Tempat

sampah juga harus direncanakan dengan pertimbangan kemudahan dalam proses

pengumpulan, higienis untuk penghasil sampah maupun petugas penumpul, kuat

dan relatif lama serta mempertimbangkan segi estetika. Kapasitas pewadahan ini

(10)

diperhitungkan berdasarkan rata-rata laju timbulan sampah per orang per hari, jumlah anggota keluarga serta frekuensi pengumpulan.

Timbulan sampah adalah sampah yang dihasilkan dari sumber sampah.

Menurut Departemen Pekerjaan Umum, bila data pengamatan lapangan belum tersedia, maka untuk menghitung timbulan sampah dapat digunakan nilai timbulan sebagai berikut :

a. Satuan timbulan sampah kota besar : 2- 2,5 liter/orang/hari atau 0,4-0,5 kg/orang/hari

b. Satuan timbulan sampah kota sedang/kecil : 1,5-2 liter/orang/hari atau 1,3 – 1,4 kg/orang/hari.

Menurut penelitian Puslitbang Permukiman (Ditjen Cipta Karya, 1991) didapatkan angka-angka laju timbulan sampah sebagai berikut:

1. Kota Kecil

• Laju timbulan sampah permukiman 2,0 liter/orang/hari

• Persentase total sampah permukiman 75 % – 80 %

• Persentase sampah non permukiman 20 % - 25 % 2. Kota Sedang

• Laju timbulan sampah permukiman 2,25 liter/orang/hari.

• Persentase total sampah permukiman 65 % – 75 %.

• Persentase sampah non permukiman 25 % - 35 %.

Persyaratan bahan yang digunakan sebagai pewadahan sampah adalah tidak mudah rusak dan kedap air, ekonomis, mudah diperoleh/dibuat oleh masyarakat serta mudah dan cepat dikosongkan (Departemen Pekerjaan Umum, 2002). Sedangkan penentuan ukuran volume ditentukan berdasarkan :

1. Jumlah penghuni tiap rumah;

2. Timbulan sampah;

3. Frekuensi pengambilan sampah.

4. Cara pengambilan sampah.

5. Sistem pelayanan (individual atau komunal)

Adapun jenis pewadahan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut :

(11)

Tabel 1. Jenis Pewadahan No. Jenis

Wadah

Kapasitas (liter)

Pelayanan Umur Wadah

Keterangan

1. Kantong 10 - 40 1 KK 2-3 hari Individual

2. Bin 40 1 KK 2-3 tahun Maksimal Pengambilan

3 hari 1 kali

3. Bin 120 2-3 KK 2-3 tahun Toko

4. Bin 240 4-6 KK 2-3 tahun -

5. Kontainer 1.000 80 KK 2-3 tahun -

6. Kontainer 500 40 KK 2-3 tahun komunal

7. Bin 30-40 Pejalan kaki

taman 2-3 tahun komunal

Sumber : Departemen PU, 1990

Untuk mencegah sampah berserakan yang akan memberikan kesan kotor serta mempermudah proses kegiatan pengumpulan maka dari sampah yang dihasilkan perlu disediakan tempat untuk penyimpanan/penampungan sambil menunggu kegiatan pengumpulan sampah. Namun pendekatan untuk perwadahan sampah harus mendukung dan sesuai dengan persyaratan sistem pengelolaan sampah di sumbernya, dan sesuai dengan persyaratan sistem pengolahan dan pemanfaatan sampah kota yang direncanakan. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan pewadahan atau penampungan sampah (Tchobanoglous, 1993) adalah:

1. Jenis sarana pewadahan yang digunakan.

2. Lokasi penempatan sarana pewadahan.

3. Kesehatan dan keindahan lingkungan.

4. Metode pengumpulan yang digunakan 2.2.2 Pengumpulan

Pengumpulan sampah adalah cara atau proses pengambilan sampah mulai

dari sumber atu tempat pewadahan penampungan sampah sampai ke Tempat

Pembuangan Sementara (TPS). TPS yang digunakan biasanya kontainer kapasitas

10 m

3

, 6 m

3

, 1m

3

, transper depo, bak pasangan batubata, drum bekas volume 200

(12)

liter, dan lain-lain. TPS-TPS tersebut penempatannya disesuaikan dengan kondisi lapangan yang ada. Pola pengumpulan sampah terdiri dari :

1. Pola Individual Langsung, adalah cara pengumpulan sampah dari rumah- rumah/sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemindahan. Pola individual langsung dengan persyaratan sebagai berikut:

a. Kondisi topografi bergelombang (rata-rata > 5%) sehingga alat pengumpul non mesin sulit beroperasi.

b. Kondisi jalan cukup lebar dan operasi tidak mengganggu pemakai jalan lainnya.

c. Kondisi dan jumlah alat memadai.

d. Jumlah timbulan sampah > 0,3 m3/hari

2. Pola Individual Tak Langsung, adalah cara pengumpulan sampah dari masing- masing sumber sampah dibawa ke lokasi pemindahan (menggunakan gerobak) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. Dengan persyaratan sebagai berikut:

a. Bagi daerah yang partisipasi masyarakatnya rendah.

b. Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia.

c. Alat pengumpul masih dapat menjangkau secara langsung.

d. Kondisi topografi relatif datar (rata-rata < 5%).

e. Kondisi lebar jalan dapat dilalui alat pengumpul.

f. Organisasi pengelola harus siap dengan sistem pengendalian.

3. Pola Komunal Langsung, adalah cara pengumpulan sampah dari masing- masing titik wadah komunal dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir, dengan persyaratan sebagai berikut:

a. Bila alat angkut terbatas

b. Bila kemampuan pengendalian personil dan peralatan relatif rendah.

c. Alat pengumpul sulit menjangkau sumber-sumber sampah.

d. Peran serta masyarakat tinggi.

e. Wadah komunal mudah dijangkau alat pengangkut.

(13)

f. Untuk permukiman tidak teratur.

4. Pola Komunal Tak Langsung, adalah cara pengumpulan sampah dari masing- masing titik wadah komunal dibawa ke lokasi pemindahan (menggunakan gerobak) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir, dengan persyaratan sebagai berikut :

a. Peran serta masyarakat tinggi.

b. Penempatan wadah komunal mudah dicapai alat pengumpul.

c. Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia.

d. Bagi kondisi topografi relatif datar (< 5%), dapat menggunakan alat pengumpul non mesin (gerobak, becak), bagi kondisi topografi > 5 % dapat menggunakan cara lain seperti pikulan, kontainer kecil beroda dan karung.

e. Lebar jalan/gang dapat dilalui alat pengumpul.

f. Organisasi pengelola harus ada

Tata cara operasional pengumpulan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1) Rotasi 1-4 rit/hari.

2) Periodisasi 1 hari, 2 hari atau maksimal 3 hari tergantung kondisi komposisi sampah, yaitu :

(1) semakin besar prosentasi sampah organik periodisasi pelayanan maksimal sehari 1kali;

(2) untuk sampah kering, periode pengumpulannya di sesuaikan dengan jadwal yang telah ditentukan, dapat dilakukan lebih dari 3 hari 1 kali;

(3) untuk sampah B3 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku;

(4) mempunyai daerah pelayanan tertentu dan tetap;

(5) mempunyai petugas pelaksana yang tetap dan dipindahkan secara periodik;

(6) pembebanan pekerjaan diusahakan merata dengan kriteria jumlah sampah terangkut, jarak tempuh dan kondisi daerah.

Pelaksanaan pengumpulan sampah dapat dilaksanakan oleh institusi

kebersihan kota, lembaga swadaya masyarakat, swasta, masyarakat ( RT/RW ).

(14)

Jenis sampah yang terpilah dan bernilai ekonomi dapat dikumpulkan oleh pihak yang berwenang pada waktu yang telah disepakati bersama antara petugas pengumpul dan masyarakat penghasil sampah.

2.2.3 Pemindahan

Pemindahan sampah adalah kegiatan memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk di bawa ke tempat pembuangan akhir (Departemen Pekerjaan Umum, 2002). Operasi pemindahan dan pengangkutan menjadi diperlukan apabila jarak angkut ke pusat pemrosesan/TPA sangat jauh sehingga pengangkutan langsung dari sumber ke TPA dinilai tidak ekonomis. Hal tersebut juga menjadi penting bila tempat pemrosesan berada di tempat yang jauh dan tidak dapat dijangkau langsung.

Tempat penampungan/pembuangan sementara (TPS) merupakan istilah yang lebih popular bagi sarana pemindahan dibandingkan dengan istilah transfer depo. Persyaratan TPS/transfer depo yang ramah lingkungan adalah :

a. Bentuk fisiknya tertutup dan terawat.

b.TPS dapat berupa pool gerobak atau pool kontainer.

c. Sampah tidak berserakan dan bertumpuk diluar TPS/kontainer

Tipe pemindahan sampah menggunakan tranfer depo antara lain menggunakan Tranfer tipe I dengan luas lebih dari 200 m

2

yang merupakan tempat peralatan pengumpul dan pengangkutan sebelum pemindahan serta sebagai kantor dan bengkel sederhana, tranfer tipe II dengan luas 60-200 m

2

yang merupakan tempat pertemuan peralatan pengumpul dan pengangkutan sebelum tempat pemindahan dan merupakan tempat parkir gerobak atau becak sampah.

Transfer tipe III dengan luas 10-20 m

2

yang merupakan tempat pertemuan gerobak dan kontainer (6-10 m

3

) serta merupakan lokasi penempatan kontainer komunal (1–10 m

3

)

2.2.4 Pengangkutan

Pengangkutan sampah adalah tahap membawa sampah dari lokasi

pemindahan atau langsung dari sumber sampah menuju ke tempat pembuangan

akhir.

(15)

Untuk mengangkut sampah dari tempat penampungan sementara (TPS) ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA), digunakan truk jenis Dump Truck, Arm Roll Truck, dan jenis Compactor Truck

Jenis dan karakter alat angkut dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini : Tabel 2. Jenis Dan Karakteristik Alat Pengangkut

Jenis Kendaraan Kapasitas Kekurangan Kebaikan Catatan

Truk bak terbuka (kayu)

8 m3 10 m3 12 m3

- Tenaga kerja banyak - Perlu penutup bak - Operasinya lambat

- Biaya O&M rendah

- Cocok sistem door to door

- Umur produksi 5 tahun

- 2 – 3 rit/hari

Tidak dianjurkan

Dump Truck

6 M3 8 m3 10 m3

- Tenaga kerja banyak - Perlu penutup bak - Biaya O&M relatif

Tinggi

- Bisa door to door - Mobilitas tinggi,

2-3 rit/hari - Umur 5 – 7 tahun - Cepat operasi

pembongkaran

Kurang dianjurkan

Armroll Truck Container

5 m3 7 m3 8 m3

- Mahal

- Butuh container - Biaya O&M tinggi

- Mobilitas tinggi - Cocok untuk

permukiman dan pasar

- Tenaga kerja sedikit

- Umur 5 tahun - 4-5 rit/hari

- Cocok untuk lokasi sampah yang banyak - Dianjurkan.

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, 2002

Pola pengangkutan adalah sebagai berikut:

1) Pengangkutan sampah dengai sistem pengumpulan individual langsung (door to door), yaitu :

a) truk pengangkut sampah dari pool menuju titik sumber sampah pertama untuk mengambil sampah;

b) selanjutnya mengambil sampah pada titik-titik sumber sampah berikutnya sampai truk penuh sesuai dengan kapasitasnya;

c) selanjutnya diangkut ke TPA sampah ;

d) setelah pengosongan di TPA, truk menuju ke lokasi sumber sampah berikutnya, sampai terpenuhi ritasi yang telah ditetapkan.

2) Pengumpulan sampah melalui sistem pemindahan di transfer depo tipe I dan II

dilakukan dengan cara sebagai berikut :

(16)

a) kendaraan pengangkut sampah keluar dari pool langsung menuju lokasi pemindahan di transfer depo untuk mengangkut sampah ke TPA;

b) dari TPA kendaraan tersebut kembali ke transfer depo untuk pengambilan pada rit berikutnya;

3) Pengumpulan sampah dengan sistem kontainer (transfer tipe III), pola pengangkutan adalah sebagai berikut

(1) Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 1, dengan proses :

a) kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke TPA;

b) kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula;

c) menuju ke kontainer isi berikutnya untuk diangkut ke TPA;

d) kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula;

e) demikian seterusnya sampai rit terakhir.

(2) Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 2, dilakukan sebagai berikut :

a) kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkat sampah ke TPA;

b) dari TPA kendaraan tersebut dengan kontainer kosong menuju lokasi ke dua untuk menurunkan kontainer kosong dan membawa kontainer isi untuk diangkut ke TPA;

c) demikian seterusnya sampai pada rit terakhir;

d) pada rit terakhir dcngan kontainer kosong, dari TPA menuju ke lokasi kontainer pertama, kemudian truk kembali ke pool tanpa Kontainer.

(3) Pengangkutan sampah dengan sistem pengosongan kontainer cara 3, denga proses

a) kendaraan dari pool dengan membawa kontainer kososng menuju ke lokasi kontainer isi untuk mengganti /mengambil dan langsung rnembawanya ke TPA;

b) kendaraan dengan membawa kontainer kosong dari TPA menuju ke

kontainer isi berikutnya;

(17)

c) demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir.

(4) Pola pengangkutan sampah dengan sistem kontainer tetap biasanya untuk kontainer kecil serta alat angkut berupa truk pemadat atau dump truk atau truk biasa, dengan proses

a) kendaran dari pool menuju kontainer pertama, sampah dituangkan ke dalam truk kompaktor dan meletakkan kembali kontainer yang kosong;

b) kendaraan menuju ke kontainer berikutnya sehingga truk penuh, untuk kemudian langsung ke TPA;

c) demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir.

Frekuensi pengangkutan perlu ditetapkan dengan teratur, disamping untuk memberikan gambaran kualitas pelayanan, juga untuk menetapkan jumlah kebutuhan tenaga dan peralatan, sehingga biaya operasi dapat diperkirakan.

Frekuensi pelayanan yang teratur akan memudahkan bagi para petugas untuk melaksanakan kegiatannya. Frekuensi pelayanan dapat dilakukan 3 hari sekali atau maksimal 2 kali seminggu. Meskipun pelayanan yang lebih sering dilakukan adalah baik, namun biaya operasional akan menjadi lebih tinggi sehingga frekuensi pelayanan harus diambil yang optimum dengan memperhatikan kemampuan memberikan pelayanan, jumlah volume sampah, dan komposisi sampah (Irman, 2002).

Perencanaan frekuensi pengangkutan sampah dapat bervariasi tergantung kebutuhan misalnya satu sampai dua hari sekali dan maksimal tiga hari sekali, tergantung dari komposisi sampah yang dihasilkan dimana semakin besar prosentase sampah organik semakin kecil periodesasi pengangkutan. Hal ini dikarenakan sampah organik lebih cepat membusuk sehingga dapat menimbulkan gangguan lingkungan di sekitar TPS. Makin sering frekuensi pengangkutan maka semakin baik, namun biasanya biaya operasinya akan lebih mahal. Penentuan frekuensi pengangkutan juga akan bergantung dari jumlah timbulan sampah dengan kapasitas truk pengangkut yang melayani (Tchobanoglous,1993).

Setiap 2.000 rumah dibutuhkan alat pengumpul yang berupa gerobak

sampah atau becak sampah sebanyak 16 buah, 1 truk sampah atau arm roll truck

dengan 3 kontainer sebanyak 1 unit, kebutuhan transfer depo sebanyak 1 unit.

(18)

2.2.5 Pembuangan Akhir

Prinsip dari pembuangan akhir sampah adalah untuk memusnahkan sampah di suatu lokasi pembuangan akhir dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya setelah dilakukan pengolahan. Teknik-teknik pengolahan sampah dapat berupa :

1) pengomposan :

a) berdasarkan kapasitas ( individual, komunal, skala lingkungan)

b) berdasarkan proses (alami, biologis dengan cacing, biologis dengan mikro organisme tambahan )

2) insenerasi atau pembakaran sampah yang berwawasan lingkungan 3) daur ulang

a) sampah an organik disesuaikan dengan jenis sampah

b) menggunakan kembali sampah organik sebagai makanan ternak;

4) pengurangan volume sampah dengan pencacahan atau pemadatan;

5) biogasifikasi (pemanfaatan energi hasil pengolahan sampah).

Sistem pembuangan akhir sampah yang selama ini diterapkan pada sebagian besar lokasi TPA di Indonesia adalah sistem landfill, diantaranya : 1. Pembuangan akhir sampah dengan sistem open dumping (pembuangan

terbuka)

Sistem ini merupakan cara pembuangan yang paling sederhana karena sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi dan dibiarkan terbuka tanpa pengaman dan ditinggalkan setelah lokasi penuh. Cara ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya potensi pencemaran lingkungan yang ditimbulkannya seperti:

• Perkembangan vektor penyakit seperti lalat, tikus dan sebagainya;

• Pencemaran polusi udara oleh bau dan gas yang dihasilkan;

• Polusi air akibat banyaknya lindi (cairan sampah) yang timbul;

• Berpotensi terjadinya bahaya kebakaran yang sulit dipadamkan;

• Estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor.

2. Metode controlled landfill (penimbunan terkendali) adalah sistem open

dumping yang diperbaiki atau ditingkatkan. Pada cara ini setelah TPA penuh

(19)

dengan timbunan sampah dilakukan penutupan dengan tanah. Memang sepanjang belum dilakukan penutupan dengan tanah kondisinya mirip dengan sistem open dumping.

3. Metode sanitary landfill ( lahan urug saniter)

Sistem ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional dimana penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setiap hari akhir operasi sehingga setelah operasi berakhir tidak akan terlihat adanya timbunan sampah. Pada sistem ini, sampah diratakan pada permukaan yang cekung.

Pada dasar dari konstruksi sanitary landfill dilapisi menggunakan suatu lapisan kedap air yang dilengkapi dengan pipa-pipa pengumpul dan penyimpan air lindi yang terbentuk dari proses penguraian sampah organik yang ditimbun.

4. Pembakaran (incenerator) merupakan metode pengolahan sampah secara kimiawi dengan proses oksidasi (pembakaran) dengan maksud stabilisasi dan reduksi volume dan berat sampah.

2.3 Kualitas Pelayanan

Kualitas pelayanan jauh lebih sukar didefinisikan, dijabarkan dan diukur bila dibandingkan dengan kualitas barang. Bila ukuran kualitas dan pengendalian kualitas telah lama eksis untuk barang-barang berwujud, maka untuk pelayanan, berbagai upaya sedang dikembangkan untuk merumuskan ukuran-ukuran semacam itu.

Pada dasarnya, definisi kualitas pelayanan terfokus pada upaya pemenuhan

kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk

mengimbangi harapan pelanggan. Menurut Lovelock (1994) kualitas pelayanan

merupakan tingkat kesempurnaan yang diharapkan dan pengendalian atas

kesempurnaan tersenbut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Parasuraman

dalam Ekaningtiyas (2009) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi

kualitas pelayanan adalah layanan yang diharapkan dan layanan yang

dipersepsikan, sehingga implikasi baik buruknya layanan tergantung pada

kemampuan penyediaan layanan memenuhi harapan pelanggannya secara

konsisiten.

(20)

Terbentuknya harapan atas layanan dari para pelanggan dipengaruhi oleh berbagai kegiatan marketing seperti iklan, penjualan, harga, tradisi maupun adanya kontak konsumen dengan penyediaan layanan sebelumnya. Sementara layanan yang diterima dipengaruhi oleh kontak antar personel dengan penyediaan layanan, fasilitas fisik, prosedur yang merupakan bagian dari sistem layanan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lovelock (1994) bahwa pelayanan pelanggan dapat diartikan sebagai suatu sistem manajemen, diorganisir untuk menyediakan hubungan pelayanan yang berkesinambungan antara waktu pemesanan dan waktu barang atau pelayanan yang diterima dan digunakan dengan tujuan memuaskan pelanggan dalan jangka panjang.

Menurut Goetsch dan Davis yang dikutip oleh Tjiptono (1996) mendefiniskan kualitas secara lebih luas cakupannya yaitu : kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Selanjutnya Triguno (1997) mengartikan kualitas sebagai standar yang harus dicapai oleh seorang/kelompok/lembaga/organisasi mengenai kualitas sumber daya manusia, kualitas cara kerja, proses dan hasil kerja atau produk yang berupa barang dan jasa. Berkualitas mempunyai arti memuaskan kepada yang dilayani atas tuntutan/persyaratan pelanggan/masyarakat.

2.4 Pelayanan Publik

Salah satu tugas pokok pemerintah yang terpenting adalah memberikan pelayanan umum kepada masyarakat. Oleh karena itu, organisasi pemerintah sering disebut sebagai “Pelayan Masyarakat” (public service). Kegiatan pelayanan pada dasarnya menyangkut pemenuhan suatu hak, ia melekat pada setiap orang, baik secara pribadi maupun berkelompok (organisasi) dan dilakukan secara universal. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Moenir (1995) bahwa hak atas pelayanan itu sifatnya sudah universal, berlaku terhadap siapa saja yang berkepentingan atas hak itu, dan oleh organisasi apapun juga yang tugasnya menyelenggarakan pelayanan.

Menurut Koetler dalam Lukman (2000), pelayanan adalah setiap kegiatan

yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan dan menawarkan

kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik.

(21)

Selanjutnya Lukman berpendapat bahwa pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antar seseorang dengan orang lain dan menyediakan kepuasan pelanggan.

Istilah publik berasal dari bahasa inggris public yang berarti umum, masyarakat, negara. Syafiie (1999) mendefinisikan publik adalah sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang mereka miliki.

Oleh karena itu pelayanan publik diartikan sebagai setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap sejumlah manusia yang memiliki setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik. Dari sisi pemerintahan maka pelayanan adalah proses kegiatan pemenuhan kebutuhan masyarakat berkenaan dengan hak-hak dasar dan hak pemberian, yang wujudnya dapat berupa jasa dan layanan.

Dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik disebutkan bahwa pelayanan publik adalah rangkaian atau kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa dan/atau pelayanan administratif yang diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

Menurut Kurniawan dalam Sinambela (2008) pelayanan publik diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. Bagi pemerintah, masalah pelayanan menjadi semakin menarik untuk dibicarakan karena menyangkut salah satu dari tiga fungsi hakiki pemerintah, disamping fungsi pemberdayaan dan pembangunan.

Pelayanan publik juga diartikan sebagai pemenuhan keinginan dan

kebutuhan masyarakat oleh penyelenggara negara (Sinambela, 2008). Negara

didirikan oleh publik (masyarakat) tentu saja dengan tujuan agar dapat

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada hakikatnya negara dalam hal ini

pemerintah haruslah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan disini

bukanlah kebutuhan secara individual tetapi berbagai kebutuhan yang

(22)

sesungguhnya diharapkan oleh masyarakat, misalnya kebutuhan akan kesehatan, pendidikan, kebersihan dan lain-lain.

2.5 Kajian Terdahulu

Muthmainah (2008) telah melakukan penelitian yang berjudul “ Pengelolaan Sampah Kota Berbasis Partisipasi Masyarakat Menuju Zero Waste di TPA Galuga Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor. Hasil penelitian tersebut adalah :

1. Kegiatan pengomposan, pengarangan dan pemanfaatan bahan dauran oleh pengusaha kompos dan pemulung secara ekonomi menguntungkan.

2. Kelembagaan pengelolaan sampah di TPA Galuga secara keseluruhan tidak berjalan optimal karena tidak ada kerjasama antara pemerintah dengan pemulung dan masyarakat sekitar tetapi hanya bermitra dengan pengusaha kompos.

Terdapat persamaan dan perbedaan antara kajian yang akan dilakukan oleh

penulis dengan kajian terdahulu. Persamaan kajian penulis dengan kajian

Muthmainah adalah keduanya melakukan penelitian mengenai pengelolaan

sampah. Sedangkan perbedaannya adalah Muthmainah melakukan kajian pada

kelembagaan pengelolaan sampah khusus di TPA Galuga dan pelayanan

persampahan ynag dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Lingkungan Kota Bogor,

sedangkan penulis melakukan kajian pengelolaan sampah perumahan oleh Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Bogor.

Gambar

Gambar 1. Skema Teknik Operasional Pengelolaan Persampahan  Saat  ini  sistem  pengelolaan  sampah  masih  banyak  menggunakan  paradigma konvensional yang menitikberatkan pada kegiatan ”kumpul – angkut –  buang”
Tabel 1.  Jenis Pewadahan  No.  Jenis  Wadah  Kapasitas  (liter)  Pelayanan  Umur  Wadah  Keterangan

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu tujuan penelitian ini akan mengkaji secara keseluruhan terhadap fenomena yang sebelumnya belum diteliti dengan menggabungkan antara orientasi

Kecerdasan emosi tinggi yaitu mampu mengendalikan perasaan marah, tidak agresif dan memiliki kesabaran, memikirkan akibat sebelum bertindak, berusaha

Karena semakin tinggi kuantitas buah-buahan yang laku di jual, semakin tinggi volume penjualan buah-buahan mengakibatkan semakin meningkat pendapatan pedagang buah.. Semakin

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hasil belajar fisika siswa pada ranah kognitif dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa music engagement untuk meregulasi emosi, yang menggambarkan keterlibatan individu dengan musik untuk mengelola kondisi emosi

koordinasi motorik halus Anak belum mampu Mengkombinasikan warna krayon dalam melukis alat- alat kebersihan sehingga masih membutuhkan arahan guru. 2 Fajar

Selama pelaksanaan penelitian terhadap sistem yang berjalan pada unit packer PT.Semen Tonasa dapat kami temukan beberapa hal-hal: Sistem monitoring laporan produksi

Orang Lampung Saibatin pada dasarnya dapat diketahui dengan kesempatan untuk menduduki atau meningkatkan kedudukan dalam adat diperoleh dari keturunan, dan hanya