51
Dalam bab ini disajikan mengenai hasil penelitian beserta interpretasinya.
Berturut-turut berikut disajikan mengenai deskripsi data, uji persyaratan analisis data, pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian.
A. Deskripsi Data
Hasil penelitian diperoleh 42 data dari hasil tes keseimbangan dinamis (Time Up and Go Test ) dari keseluruhan populasi yang berjumlah 75 Lansia.
Data tersebut diperoleh dari sampel penelitian yang tersebar dalam dua kelompok perlakuan dengan perincian 21 Lansia yang diberi perlakuan menggunakan Senam Sehat Indonesia dan 21 Lansia yang diberi perlakuan menggunakan Senam Sang Surya. Masing–masing kelompok perlakuan dibagi lagi ke dalam tiga kelompok, yaitu 7 Lansia yang memiliki kategori IMT Overweight, 7 Lansia yang memiliki kategori IMT Normal, dan 7 Lansia yang memiliki kategori IMT Underweight.
Dengan menggunakan instrumen yang telah disusun sesuai dengan jenis variabel yang diteliti, maka akan diadakan analisis secara deskriptif dan inferensial. Analisis tersebut berupa 1) Deskripsi data penelitian, dan 2) Pengujian hipotesis. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian persyaratan analisis data. Pengujian hipotesis menggunakan analisis variansi (ANAVA) dengan mempertimbangkan faktor = 0,05. Deskripsi data akan disesuikan dengan jenis-jenis variabel penelitian. Sesuai dengan variabel penelitian ini, yaitu dengan menggunakan instrumen penelitian tes Keseimbangan Dinamis Lansia.
Berikut ini akan disajikan deskripsi data hasil penelitian secara ringkas tentang kategori IMT dan keseimbangan dinamis Lansia.
Tabel 4.1. Deskripsi Hasil Tes Peningkatan Keseimbangan Dinamis Tiap Kelompok Berdasarkan Jenis Senam dan IMT
Jenis Senam IMT Rata-rata Pre-test Rata-rata Post-test Senam Sehat
Indonesia
Over Weight 11,30 9,53
Normal 10,75 7,55
Under weight 10,00 8,59
Total 10,68 8,56
Senam Sang Surya
Over Weight 10,76 10,06
Normal 10,02 8,89
Under weight 10,71 9,64
Total 10,50 9,53
Dari deskripsi data hasil tes keseimbangan dinamis berdasarkan jenis senam Lansia : Nilai rata-rata pre test kelompok Lansia yang melakukan Senam Sehat Indonesia adalah 10,68, rata-rata post test 8,56, sedangkan nilai rata-rata pre test kelompok Lansia yang melakukan Senam Sang Surya adalah 10,50, rata- rata post test 9,53, Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Histogram dibawah.
Gambar 4.1. Histogram Nilai Rata-rata Hasil Pre Test dan Post Test Keseimbangan Dinamis Lansia Pada Kelompok Senam Sehat Indonesia dan
Senam Sang Surya
0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00
Pre test Post test
Kesembangan
Senam Sehat Indonesia Senam Sang Surya
Hasil tes peningkatan keseimbangan dinamis tiap kelompok perlakuan berdasarkan jenis Senam Lansia dan IMT memiliki rata-rata nilai yang berbeda, agar lebih jelas akan disajikan dalam bentuk histogram sebagai berikut:
Gambar 4.2. Histogram Nilai Rata-rata Hasil Pre Test dan Post Test Keseimbangan Dinamis Lansia Pada Kelompok Senam Sehat Indonesia Menurut
Kategori IMT
Nilai rata-rata pre test kelompok Senam Sehat Indonesia yang memiliki IMT Over weight adalah 11,30, sedangkan rata-rata post test 9,53. Nilai rata-rata pre test kelompok Senam Sehat Indonesia yang memiliki IMT normal adalah 10,75, sedangkan rata-rata post test 7,55. Nilai rata-rata pre test kelompok Senam Sehat Indonesia yang memiliki IMT under weight adalah 10,00, sedangkan rata- rata post test 8,59.
0,00 5,00 10,00 15,00
Over Weight Normal Under weight
Keseimbangan
IMT
Senam SSI
Pre-Test Post Test
Gambar 4.3. Histogram Nilai Rata-rata Hasil Pre Test dan Post Test Keseimbangan Dinamis Lansia Pada Kelompok Senam Sang Surya Menurut
Kategori IMT
Pada kelompok Senam Sang Surya, nilai rata-rata pre test yang memiliki IMT Over weight adalah 10,76, sedangkan rata-rata post test 10,06, rata-rata pre test kelompok Senam Sang Surya yang memiliki IMT normal adalah 10,02, sedangkan rata-rata post test 8,89, Nilai rata-rata pre test kelompok Senam Sang Surya yang memiliki IMT under weight adalah 10,71, sedangkan rata-rata post test 9,64.
B. Pengujian Persyaratan Analisis
1. Uji Normalitas
Sebelum dilakukan analisis data perlu diuji distribusi kenormalannya. Uji normalitas populasi dalam penelitian ini digunakan metode Kolmogorov Smirnov untuk taraf signifikansi 5%.
0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00
Over Weight Normal Under weight
Keseimbangan
IMT
Senam Sang Surya
Pre-Test Post-test
Tabel 4.2. Rangkuman Hasil Uji Normalitas Data
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Keseimbangan
N 42
Normal Parametersa Mean 9.0436
Std. Deviation 1.18998
Most Extreme Differences
Absolute .104
Positive .104
Negative -.103
Kolmogorov-Smirnov Z .674
Asymp. Sig. (2-tailed) .754
Dari hasil uji normalitas yang dilakukan dengan metode Kolmogorov Smirnov (dilakukan dengan bantuan komputer), diperoleh nilai sig sebagai dasar penolakan hipotesis nol. Jika nilai sig lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak dan ini berarti bahwa residu tidak berdistribusi normal dan sebaliknya, dapat disimpulkan bahwa residu berdistribusi normal jika nilai sig yang diperoleh lebih besar dari 0,05. Selain itu jika Dhitung ≤ Dtabel maka data dinyatakan terdistribusi normal dan sebaliknya. Dari hasil uji normalitas diperoleh nilai sig = 0,754 > 0,05 sehingga diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk menguji kesamaan varians antara kelompok yang melakukan Senam Sehat Indonesia dengan kelompok yang melakukan Senam Sang Surya. Uji homogenitas pada penelitian ini dilakukan dengan Levene’s Test. Hasil uji homogenitas data antara kelompok yang melakukan Senam Sehat Indonesia dengan kelompok yang melakukan Senam Sang Surya adalah sebagai berikut:
Table 4.3. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Data
F df1 df2 Sig.
1,530 5 36 0,205
Dari hasil uji homogenitas yang dilakukan dengan metode Levene’s Test (lakukan dengan bantuan 56ipótesi), diperoleh nilai Sig sebagai dasar penolakan hipotesis nol. Jika nilai Sig lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak dan ini berarti bahwa ketiga kelompok tidak memiliki varian yang sama, jika H0 diterima dan ini berarti bahwa kedua kelompok memiliki varian yang sama. Selain itu jika Fhitung ≤ Ftabel maka data dinyatakan homogen dan sebaliknya. Dari hasil uji levene’s test diperoleh nilai Sig = 0,205 > 0,05 sehingga diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok memiliki varian yang sama/ 56ipótesi.
C. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis penelitian dilakukan berdasarkan hasil analisis data dan interpretasi analisis varians. Uji Post Hoc dengan Uji Scheffe ditempuh sebagai langkah-langkah uji rata-rata setelah ANAVA guna mengetahui secara terperinci rata-rata yang berbeda. Berkenaan dengan hasil analisis varians dan uji Post Hoc ada beberapa hipotesis yang harus diuji. Urutan pengujian disesuaikan dengan urutan 56ipótesis yang dirumuskan pada bab III.
Tabel 4.4. Ringkasan Hasil Analisis Varians Untuk Jenis Latihan Senam Sehat Indonesia dan Senam Sang Surya (a1, a2)
Sumber Variasi DF SS MS Fhitung Sig
A Kekeliruan
1 9,938 9,938 12,140 0,001 36 29,469 0,819
Tabel 4.5. Ringkasan Analisis Variansi Untuk IMT (b1, b2 dan b3)
Sumber Variasi DF SS MS Fhitung Sig
B Kekeliruan
2 17,447 8,723 10,657 0,000 36 29,469 0,819
Tabel 4.6. Ringkasan Hasil Analisis Varian Dua Faktor
Sumber Variasi DF SS MS Fhitung Sig
Rata-rata Perlakuan
A 9,938 1 9,938 12,140 0,001
B 17,447 2 8.,723 10,657 0,000
AB 1,205 2 0,603 0,736 0,486
Kekeliruan 29,469 36 0,819
Total 58,058 41
Berdasarkan tabel ringkasan anava diperoleh dan ditolak. Pada perlakuan A hanya ada dua kelompok yaitu Lansia yang mengikuti Senam Sehat Indonesia dan lansia yang mengikuti Senam Sang Surya. Karena hanya dua kelompok yang dibandingkan dan ditolak maka jelas terdapat perbedaaan yang signifikan pada rerata keseimbangan dinamis Lansia yang mengikuti Senam Sehat Indonesia dan Senam Sang Surya sehingga tidak perlu dilakukan uji lanjut pasca anava.
Selain itu ditolak sehingga ada perbedaan rerata pada perlakuan B.
Karena perlakuan B ada tiga jenis yaitu IMT over weight, normal, dan under weight maka perlu diuji keberartian perbedaan rata-ratanya. Untuk melakukan pengujian terhadap perbedaan rerata pada perlakuan dengan menggunakan uji lanjut pasca anava. Uji lanjut yang digunakan adalah metode Scheffe. Rangkuman uji lanjut anava pada Tabel.
Tabel 4.7 Uji Komparasi Ganda
(I) IMT (J) IMT Mean
Difference (I-J)
Std.
Error
Sig. 95% Confidence Interval Lower
Bound
Upper Bound Over
Weight
Normal 1.5736* .34196 .000 .7005 2.4467
Under Weight
.6764 .34196 .156 -.1967 1.5495 Normal Over
Weight
-1.5736* .34196 .000 -2.4467 -.7005 Under
Weight
-.8971* .34196 .043 -1.7702 -.0240 Under
Weight
Over Weight
-.6764 .34196 .156 -1.5495 .1967
Normal .8971* .34196 .043 .0240 1.7702
Berdasarkan hasil analisis data di atas dapat dilakukan pengujian hipotesis sebagai berikut:
1. Pengujian Hipotesis I
Berdasarkan analisis pada hasil penelitian diperoleh bahwa kelompok lansia yang mengikuti Senam Sehat Indonesia dan Senam Sang Surya memiliki keseimbangan dinamis yang berbeda. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat nilai Sig untuk perlakuan A (Senam) yaitu Sig = 0,001 < 0,05 sehingga ditolak. Dengan menolak berarti bahwa kelompok lansia yang mengikuti Senam Sehat Indonesia memiliki keseimbangan dinamis yang berbeda dengan kelompok lansia yang mengikuti Senam Sang Surya dan terbukti kebenarannya.
Jika dilihat dari rata-rata skor keseimbangan dinamis lansia yang mengikuti Senam Sehat Indonesia adalah 8,58 menit lebih baik dari rata-rata skor lansia yang mengikuti Senam Sang Surya yaitu 9,53 menit.
2. Pengujian Hipotesis II
Berdasarkan analisis data penelitian diperoleh hasil bahwa ada perbedaan keseimbangan dinamis lansia antara lansia yang memiliki IMT over weight, normal, dan under weight. Hal ini ditunjukkan dari nilai . Dengan demikian ditolak. Dengan menolak maka terdapat
perbedaan rerata keseimbangan dinamis antara lansia yang memiliki IMT over weight, normal, dan under weight.
Untuk melihat keberartian rataan pada perlakuan B (IMT) dilihat dari hasil uji lanjut pasca anava. Pada hasil pasca anava untuk IMT normal dan overweight diperoleh nilai yang berarti bahwa terdapat perbedaan keseimbangan dinamis yang signifikan pada lansia yang memiliki IMT normal dan overweight. Keseimbangan lansia yang memiliki IMT normal adalah 8,22 menit lebih baik dari rata-rata keseimbangan lansia dengan IMT over weight yaitu 9,79 menit.
Selain itu pada hasil pasca anava untuk perbedaan keseimbangan dinamis lansia yang memiliki IMT normal dan under weight diperoleh nilai yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok. Rata-rata keseimbangan dinamis lansia yang memiliki IMT normal adalah 8,22 menit lebih baik dari rata-rata keseimbangan lansia dengan IMT under weight yaitu 9,18 menit.
Untuk menguji keberartian perbedaan rata-rata keseimbangan dinamis lansia yang memiliki IMT under weight dan over weigh diperoleh nilai berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Jadi rata-rata keseimbangan dinamis lansia dengan IMT under weigt dan over weight cenderung sama atau tidak ada perbedaan yang signifikan.
3. Pengujian Hipotesis III
Berdasarkan analisis pada hasil penelitian diperoleh tidak ada interaksi yang signifikan antara Senam Sehat Indonesia dan Senam Sang Surya dengan IMT over weight, normal, dan under weight. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil analisis anava diperoleh nilai . Dengan demikian diterima. Ini berarti tidak ada interaksi yang signifikan antara Senam Sehat Indonesia dengan IMT over weight, normal, dan under weight dan telah ditunjukkan. Gambar 4.4 menunjukkan profil interaksi.
Gambar 4.4 Profil Interaksi Jenis Senam Lansia dan IMT
Berdasarkan Gambar dapat dilihat profil variabel bebas IMT dan jenis senam tidak berpotongan, maka pada kedua variabel bebas cenderung tidak ada interaksi.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan hasil penelitian ini memberikan penafsiran yang lebih lanjut mengenai hasil-hasil analisis data yang telah dikemukakan. Berdasarkan pengujian hipotesis menghasilkan dua kelompok kesimpuan analisis yaitu:
1. Perbedaan pengaruh yang bermakna antara faktor-faktor utama penelitian . Faktor utama yang diteliti meliputi:
a Perbedaan pengaruh Senam Sehat Indonesia dan Senam Sang Surya terhadap keseimbangan dinamis Lansia.
b Perbedaan keseimbangan dinamis antara Lansia dengan Indeks Massa Tubuh Overweight, Normal, dan Underweight.
2. Pengaruh interaksi antara jenis senam Lansia dan indeks massa tubuh terhadap peningkatan keseimbangan dinamis Lansia.
Kelompok kesimpulan analisis dapat dipaparkan lebih lanjut sebagai berikut:
1. Perbedaan pengaruh Senam Sehat Indonesia dan Senam Sang Surya terhadap keseimbangan dinamis.
Berdasarkan hipotesis pertama ternyata ada perbedaan pengaruh Senam Sehat Indonesia dan Senam Sang Surya terhadap keseimbangan Dinamis. Lansia yang melakukan Senam Sehat Indonesia memiliki skor keseimbangan dinamis lebih baik dibandingkan dengan Lansia yang mendapatkan perlakuan Senam Sang Surya.
Senam Sehat Indonesia terdiri dari 12 gerakan yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan fungsional raga. Pada dasarnya dengan berolahraga secara teratur dengan Senam Sang Surya maupun Senam Sehat Indonesia akan berdampak positif bagi lansia. Dengan berolahraga secara teratur dan terarah Lansia dapat memperlambat proses degenerasi yang disebabkan perubahan usia.
Karena dalam pergerakan apapun, kontraksi secara aktif (agonist) bersamaan dengan relaksasi atau pertentangan otot (antagonist), otot akan mudah mengalahkan resistensinya. Kapasitas urat otot untuk mempertahankan posisinya dalam waktu tertentu akan meningkat sebagai hasil dari latihan.
Dalam Senam Sehat Indonesia terdapat gerakan yang merangsang otot ekstremitas bawah yang berperan penting dalam mobilitas lansia. Berbeda dengan Senam Sang Surya, Senam Sehat Indonesia memiliki gerakan yang lebih variatif dan dengan hitungan tiap gerakan yang lama sehingga akan memicu sistem reseptor, vestibular dan susunan susunan saraf pusat. Sebagai contoh sistem reseptor yang berada pada sistem propioseptif yaitu muscle spindle yang berperan terhadap peningkatan kekuatan otot dan kelenturan otot yang hubungannya dengan tonus otot . peningkatan kekuatan otot terjadi karena adanya aktifasi serabut saraf yang kemudian mengkontraksikan otot.
Keseimbangan merupakan interaksi yang komplek dari interaksi sistem sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioseptor) dan muskuloskeletal (otot, tulang, sendi, dan jaringan lunak yang lain), faktor faktor ini banyak di stimulasi oleh Senam Sehat Indonesia. Jadi pada Senam Sehat Indonesia memiliki banyak variasi gerakan yang berdampak pada jumlah stimulasi reseptor yang semakin banyak, baik pada neurologis,muskuloskeletal, dan cardiovaskulernya.
Ada beberapa gerakan pada Senam Sehat Indonesia yang memberikan pengaruh sangat besar terhadap peningkatan massa otot ekstremitas bawah, yaitu gerakan ke 4 (Jurus Elang Merentang Sayap), gerakan ke 6 (Jurus Menyangga Langit Menekan Bumi), gerakan ke 8 ( Jurus Menadah Mutiara), gerakan ke 11 (Jurus Santai Penuh Siaga), dan gerakan ke 12 (Jurus Langkah Bangau).
2. Perbedaan peningkatan keseimbangan dinamis antara Lansia dengan IMT tubuh overweight, normal, dan underweight
Berdasarkan pengujian hipotesis kedua, ternyata ada perbedan pengaruh keseimbangan dinamis Lansia dengan IMT overweight, normal, dan underweight.
Pada Lansia dengan IMT overweight akan terjadi perubahan dari Center of gravity atau pusat gravitasi, hal ini akan menimbulkan problem keseimbangan, karena keseimbangan juga bisa diartikan sebagai kemampuan relatif untuk mengontrol pusat massa tubuh (center of mass) atau pusat gravitasi (center of gravity) terhadap bidang tumpu (base of support). Pada dasarnya pusat gravitasi terdapat pada semua obyek misalnya benda, pusat gravitasi terletak tepat di tengah benda tersebut. Pusat gravitasi adalah titik utama pada tubuh yang akan mendistribusikan massa tubuh secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh titik ini, maka tubuh dalam keadaan seimbang. Pada manusia, pusat gravitasi berpindah sesuai dengan arah atau perubahan berat, dan pada orang yang kelebihan berat badan itu akan terjadi perubahan letak dari center of gravity atau pusat gravitasi, hal ini bisa berpengaruh pada keseimbangan (Suhartono, 2005).
Pusat gravitasi manusia ketika berdiri tegak adalah tepat diatas pinggang diantara depan dan belakang vertebra sakrum ke dua. Sehingga pada Lansia yang memiliki
berat badan berlebih akan terjadi perubahan letak center of gravity, dengan keadaan tersebut Lansia harus mengantisipasi dengan lebih berhati-hati dalam melangkah dan bermobilitas, hal ini menyebabkan kelambanan gerak dalam mobilitas Lansia. (Andre L and David, 2011).
Pada Lansia dengan IMT normal, center of gravity berada pada 2cm ± vertebra Sacrum 2, hal ini sesuai dengan pendapat O Sullivan,1993 bahwa keseimbngan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak dan bergerak. Bila Lansia mampu menyeimbangkan massa tubuh dengan bidang tumpu maka Lansia tersebut dapat beraktivitas dinamis secara efektif dan efisien. Pengaruhnya pada Lansia dengan indeks massa tubuh yang normal atau ideal akan terjaga keseimbangannya baik saat bergerak maupun diam.
Pada lansia dengan indeks massa tubuh underweight, terjadi karena status gizi yang kurang, gangguan metabolisme tubuh ataupun faktor bawaan.
Dampaknya adalah penurunan kekuatan otot, fleksibilitas sendi dan permasalahan yang lain pada Lansia berlangsung lebih cepat, hal ini berpotensi menimbulkan gangguan keseimbangan. Karena keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari interaksi sistem sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan muskuloskeletal (otot, sendi, dan jaringan lunak lainnya) yang diatur dalam otak.
3. Pengaruh interaksi antara jenis senam dan IMT terhadap peningkatan keseimbangan dinamis Lansia.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil bahwa faktor-faktor utama penelitian yaitu jenis senam Lansia dan IMT tidak menunjukkan pengaruh interaksi yang nyata terhadap peningkatan keseimbangan dinamis Lansia. Ini dimungkinkan terdapat beberapa faktor di luar dugaan peneliti, diantara lain : Pekerjaan masa lalu responden yang berbeda-beda, semangat responden, tingkat pendidikan, aspek psikologis, seperti motivasi responden saat dilakukan pengambilan data atau tes. Penguasaan senam, konsentrasi dan semangat sangat
berperan dalam memperbaiki keseimbangan pada Lansia dan bila semua aspek tadi ada, maka akan tercapai hasil yang lebih memuaskan.