BAB II
LANDASAN TEORI A. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Rahmawati, (2018) Melakukan penelitian tentang pengaruh Pengaruh pemeriksaan pajak, Sanksi pajak, sosialisasi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Lokasi peneltian dilakukan di KPP pratama kota Tangerang 100 responden digunakan untuk di jadikan sebuah sampel dengan mengunakan random sampling. Hasil dari penelitian ini Berdasarkan hasil pengolahan data, adanya pengaruh antara pemeriksaan pajak, sanksi pajak dan sosialisasi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak badan secara simultan, pengaruh simultan pemeriksaan pajak, sanksi pajak dan sosialisasi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak badan ialah sebesar 75.4%
Elsa, (2016) Melakukan peneltian tentang pengaruh pemahaman atas mekanisme pembayaran pajak, persepsi tarif pajak dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Lokasi penelitian dilakukan di KPP Pratama Batu 98 responden yang digunakan menjadi sebuah sampel penelitian dengan metode accidental sampling. Hasil dari peneltian ini menunjukan bahwa pemahaman atas mekanisme pembayaran pajak, persepsi tarif pajak dan sanksi pajak berpengaruh signifikan baik secara simultan maupun parsial.
Shinta, (2014) Melakukan penelitian tentang pengaruh pemeriksaan
pajak, kesadaran, kualitas pelayanan pada tingkat kepatuhan wajib pajak badan. Lokasi peneltian dilakukan di KPP pratama madya Denpasar dengan jumlah responden 100 wajib pajak badan terdaftar, dengan metode random
sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pemeriksaan pajak,kesadaran, kualitas pelayanan berpengaruh positif pada tingkat kepatuhan wajib pajak badan.
A. Teori Dan Kajian Pustaka
Ilmu pengetahuan Menurut Meliono, (2007:50) adalah sebuah Faktor yang dipengaruhi oleh pendidikan, informasi/media sosial, sosial budaya dan ekonomi, pengalaman, lingkungan dan usia.
Pengetahuan perpajakan ialah mengerti dan memahami tentang ketentuan umum perpajakan yang berlaku. Pengetahuan seseorang mengenai perpajakan merupakan tingkatan yang berkaitan untuk menentukan baik buruknya sebuah perilaku seseorang sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku atau bisa di sebut yang sudah di atur atau tetapkan. Tingginya pengetahuan WP menimbulkan baiknya pemahaman tentang pajak sehingga dapat mendorong kesadaran WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya untuk penyampaikan SPT Tahunan Nugroho, (2012).
Dari pernyataan tersebut, dapat dapat di simpulkan bahwa dengan
semakin rendahnya pengetahuan yang dimilliki WP, maka dapat diketahui
bahwa semakin rendah dan menyebabkan pula rendahnya kesadaran WP
dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
1. Pajak
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009. pajak adalah kontribusi wajib bagi negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang melakukan usaha yang bersifat memaksa. Berdasarkan Undang- Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan atau balasan secara langsung yang digunakan untuk keperluan negara dalam dalam berbagai bidang.
Subjek pajak ialah orang yang sudah di tentukan atau di tetapkan oleh UU untuk dikenakan pajak. Subjek pajak ialah berkenaan dengan penghasilan yang diperoleh dalam pajak. Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 yang dimaksud objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi dan menambah kekayaan Wajib Pajak, dengan nama dan dalam bentuk apapun. Adapun menurut Rahman, (2010:30) objek pajak ialah sasaran dengan pengenaan pajak dan dasar untuk menghitung pajakterutang. Kewajiban Wajib Pajak adalah sebagai berikut:
1) Kewajiban untuk mendaftarkan diri. Wajib Pajak wajib ikut serta dalam mendaftarkan diri ke kantor pajak untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak
2) Kewajiban untuk menghitung, memotong, memungut, melaporkan dan membayar pajak yang terutang di kantor kantor pajak (KPP).
3) Kewajiban untuk menunjukkan ataupun meminjamkan dokumen-
dokumen yang diminta oleh petugas pemeriksa ketika diadakan pemeriksaan ketika Wajib pajak juga wajib untuk memenuhi panggilan pemeriksaan dikantor tersebut
4) Kewajiban memberikan data yang diminta terkait perpajakan yang sesuai dengan peraturan perpajakan yang sudah di tetapkan. Wajib Pajak dalam melakukan kewajibannya adalah sebagai berikut yaitu :
a. Hak atas kelebihan dalam membayar pajak.
b. Hak kerahasiaan bagi semua wajib Pajak terdaftar.
c. Hak penundaan dan pengangsuran dalam pembayaran pajak.
d. Hak penundaan pelaporan SPT tahunan.
e. Hak pengurangan PPh pasal 25.
f. Hak pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan.
g. Hak pembebasan pajak.
h. Hak pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak.
i. Hak mendapatkan pajak ditanggung pemerintah.
j. Hak mendapat insentif perpajakan.
2. Sosialisasi Perpajakan
Sosialisasi adalah suatu proses untuk membangun dan menanamkan nilai bagi diri sendiri dan juga kelompok. Kegiatan sosialisasi dan juga penyuluhan perpajakan dapat dilakukan dengan dua cara antara lain sebagai berikut:
a. Sosialisasi langsung yaitu bentuk sosialisasi yang pernah diadakan antara
lain Pendidikan pajak dini, pajak masuk ke kampus atau sekolah dan
perlombaan perpajakan.
b. Sosialisasi tidak langsung ialah suatu kegiatan sosialisasi perpajakan yang sifatnya adalah langsung ke masyarakat dengan tidak atau sedikit melakukan interaksi dengan peserta sebagai contoh : sosialisasi tidak langsung melalui televisi/radio/dan penyebaran buku. Dapat di simpulkan bahwa sosialisasi perpajak justru meningkatkan kesadaran yang ada pada diri masyarakat untuk wajib pajak membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Menurut Winerungan, (2013) strategi sosialisasi meliputi:
1) Publikasi (publication).
2) Kegiatan (event) misalnya kegiatan olahraga.
3) Pemberitaan (news).
4) Keterlibatan komunitas.
5) Pencantuman identitas.
6) Pendekatan pribadi.
3. Pelayanan Fiskus
Pelayanan fiskus dapat diartikan sebagai cara petugas pajak untuk
memenuhi kewajibanya dalam hal membantu, mengurus dan menyiapkan
segala keperluan yang dibutuhkan dalam hal ini bisa di sebut ialah wajib
pajak. Untuk mengetahui bagaimana pelayanan terbaik yang seharusnya
dilakukan oleh fiskus kepada wajib pajak, diperlukan juga pemahaman
mengenai hak dan kewajiban sebagai Fiskus. Kewajiban fiskus yang diatur
dalam undang-undang perpajakan, yaitu kewajiban untuk membina wajib
pajak, menerbitkan surat ketetapan pajak lebih bayar, merahasiakan data wajib pajak, dan melaksanakan putusan. Sementara itu terdapat pula hak- hak fiskus yang diatur dalam undang-undang perpajakan antara lain, yaitu Hak menerbitkan NPWP dan NPPKP secara jabatan, surat ketetapan pajak, surat paksa dan surat perintah untuk melaksanakan penyitaan, melakukan pemeriksaan dan penyegelan, hak melakukan atau mengurangi sanksi administratif, melakukan penyidikan, pencegahan dan penyanderaan.
Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-27/PJ/2016 tentang setandar pelayanan di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) Kantor Pelayanan menetapkan sebagai adalah berikut :
Standar pelayanan pajak yang diselenggarakan di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) adalah sebagai berikut:
A. Pengaturan ruang lingkup pelayanan Pengaturan yang dimaksud ialah pelayanan yang dilakukan di loket TPT atau Help Desk dan Layanan Mandiri
B. Pengaturan jam pelayanan Ketentuan dalam jam pelayanan dijabarkan sebagai berikut:
1. Jam pelayanan di TPT pukul 08.00 - 16.00
2. Setiap petugas di TPT wajib untuk melayani Wajib Pajak pada jam pelayanan
3. Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan jam pelayanan dan
waktu pengambilan nomor antrean selain yang dimaksud poin I
4. Pemberian layanan di TPT tetap dilaksanakan di jam istirahat
5. Dalam hal pelayanan pada hari Jumat, Kepala KPP dapat mengatur
jam istirahat sesuai dengan situasi dan kondisi di unit kerjanya 6. Dalam hal pelayanan pada hari keagamaan, Kepala Kantor
Wilayah DJP dapat mengatur jam pelayanan sesuai dengan situasi dan kondisi di wilayah kerjanya tersebut.
7. Pengaturan sistem antrean meliputi:
I. Sistem antrean di TPT :
a) Antrean pelayanan di Help Desk.
b) Antrean untuk penerimaan surat/permohonan; dan Antrean untuk Nomor Pokok Wajib Pajak/Pengusaha Kena Pajak.
c) Petugas TPT harus memberikan layanan kepada Wajib Pajak sampai dengan antrean terakhir.
II. Antrean pelayanan di Loket TPT, meliputi:
Mekanisme pelayanan saat terjadinya gangguan teknis dan keadaan darurat Jika Terjadi gangguan teknis maka:
a) Petugas TPT memberitahukan secara lisan kepada Wajib Pajak dan masyarakat untuk datang langsung ke TPT dan membuat pengumuman tertulis tentang pemberitahuan adanya Gangguan Teknis yang terjadi.
b) Petugas TPT menerima setiap permohonan yang berlaku untuk syarat ketentuan dan memproses permohonan tersebut secara manual serta menerbitkan bukti penerimaan yang penomorannya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku; dan
c) Dalam hal Wajib Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT)
dalam bentuk elektronik (e-SPT) dan/atau membutuhkan layanan elektronik lainnya, maka SPT dan layanan tersebut diproses setelah sistem aplikasi berfungsi kembali dengan baik.
d) Terjadi keadaan darurat maka:
1. petugas TPT memberitahukan secara lisan dan membuat suatu pengumuman secara tertulis tentang terjadinya keadaan darurat 2. KPP dapat mencari tempat lain atau baru sebagai alternatif untuk tempat pelayanan baru dan segera membuat pengumuman resmi yang baru mengenai perpindahan alamat tersebut
III. Standar sumber daya manusia meliputi:
Pengaturan jumlah petugas yang melaksanakan pelayanan di TPT terdiri dari:
1)
Petugas Inti yang meliputi ialah koordinator harian, petugas help desk dan petugas loket TPT di kantor pajak2) Pendukung yang meliputi: pengarah layanan, resepsionis, petugas keamanan atau satpam dan petugas kebersihan meliputi :
a. Persyaratan petugas
Petugas pelayanan harus memenuhi syarat yaitu tingkat pendidikan, usia, jabatan dan kompetensi.
b. Alokasi jumlah petugas
Jumlah petugas yang dialokasikan tiap KPP berbeda tergantung
kebutuhan KPP tersebut
c. Standar berpakaian dan berperilaku
Standar berpakaian dan berperilaku diatur sendiri dalam peraturan lain.
I. Standar fasilitas adalah seagai berikut : 1) Standar pengaturan fasilitas di area TPT 2) Standar fasilitas yang tersedia di area TPT 3) Area TPT terdiri dari:
a) Area tunggu yaitu area atau tempat wajib pajak dan masyarakat menunggu layanan antrian
b) Area layanan mandiri adalah tempat dimana Wajib pajakmemperoleh layanan secara mandiri atau personal c) Area help desk yaitu tempat dimana dapat memperoleh
informasi atau konsultasi
d) Area loket TPT yaitu tempat Wajib Pajak menyampaikan surat pemberitahuan atau permohonan perpajakan
e) Area lainnya yaitu tempat selain area atau tempat tunggu, area layanan, area help desk dan loket TPT.
f) Area TPT harus dalam keadaan bersih dan rapi.
g) Petugas dan wajib pajak harus senantiasa menjaga kebersihan di area TPT. Fasilitas TPT juga harus dijaga akan kebersihannya agar tetap berfungsi dengan baik.
II. Standar pengawasan adalah sebagai berikut :
1) Penanggung jawab kegiatan
2) Aspek pelayanan yang diawasi 3) Tata cara pengawasan
4) Sanksi
Pelayanan sistem adminstrasi perpajakan yang diberikan kepada Wajib Pajak adalah sistem yang berbasis online. Sistem ini akan memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak dalam melakukan kewajiban perpajakannya. Menurut (Widayati dan Nurlis, 2010) hal-hal yang mengindikasikan efektivitas sistem adminstrasi perpajakan adalah:
1. Adanya suatu sistem pelaporan melalui e-SPT dan e-filing. Wajib pajak dapat melaporkan pajak secara lebih mudah, cepat dan akurat jika Aplikasi e-SPT adalah aplikasi buatan Dirjen Pajak untuk memudahkan Wajib Pajak dalam pelaporan SPT, sedangkan e-filing merupakan cara penyampaian SPT secara elektronik yang dilakukan secara online pada website Dirjen Pajak.
2. Pembayaran melalui e-banking yang memudahkan Wajib Pajak dapat melakukan pembayaran dimana saja dan kapansaja.
3. Penyampaian SPT melalui drop box yaitu dapat dilakukan di berbagai tempat, tidak harus di KPP tempat Wajib Pajak terdaftar
4. Peraturan perpajakan bisa diakses secara lebih cepat dan mudah melalui internet, tanpa harus menunggu adanya pemberitahuan dari KPP.
5. Pendaftaran NPWP yang dapat dilakukan berbasis online.
4. Sanksi Perpajakan
Sanksi perpajakan merupakan suatu jaminan atau ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi. Dan bisa dengan kata lain sanksi pajak ialah merupakan alat untuk pencegah wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan yang sudah di tetapkan. Sanksi perpajakan terbagi menjadi dua yaitu ialah sanksi administrasi dan sanksi pidana. Sanksi perpajakan berpengaruh tinggi terhadap kepatuhan wajib pajak yang dapat di artikan berarti semakin tinggi sanksi perpajakan, maka kepatuhan wajib pajak tax compliance semakin tinggi.
Menurut Mardiasmo, (2009) sanksi pajak terdapat 2 macam yaitu:1.
Sanksi Administrasi
Sanksi administrasi adalah pengenaan denda, bunga atau kenaikan atas ketidak patuhan yang dilakukan Wajib Pajak dalam menjalankan kewajiban administrasi perpajakan. Sanksi administrasi bukan sebagai penghukum. Sanksi bertujuan mengingatkan Wajib Pajak agar lebih teliti dan berhati-hati dalam menjalankan kewajibannya. Sanksi administrasi di bagi menjadi 3 yaitu sebagai berikut:
a. Sanksi administrasi berupa denda b. Sanksi administrasi berupa bunga c. Sanksi administrasi berupa kenaikan.
2.
Sanksi Pidana
Bidang perpajakan, mengenal istilah kealpaan, yaitu tidak sengaja,
lalai, tidak hati-hati, atau kurang mengindahkan kewajiban perpajakan
sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Tindak
kejahatan menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. Sanksi pajak yang berlaku tetap ada pengecualian jika beberapa hal sebagai berikut :
1. Wajib Pajak orang pribadi telah meninggal dunia
2. Wajib Pajak orang pribadi sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
3. Bentuk usaha tetap tidak akan melakukan kegiatan lagi 4. Wajib Pajak badan tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku 5. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi
6. Wajib Pajak terkena bencana atau musibah, yang ketentuannya diatur sendiri.
7. Wajib Pajak lain di atur berdasarkan Peraturan Menteri keungan
5. Kepatuhan Wajib PajakMerupakan suatu cerminan dalam situasi dimana wajib pajak mencoba memahami semua ketentuan peraturan perundang–undangan perpajakan yang berlaku untuk, mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas, menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar dan membayar pajak tepat pada waktu.
B. Perumusan Hipotesis
1. Pengaruh Sosialisasi terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Sosialisasi akan langsung di berikan kepada masyarakat yang
dimaksudkan adalah untuk memberitahukan pemahaman akan pentingnya
membayar pajak bagi negara. Sosialisasi ini akan menjadikan masyarakat
sadar akan pentingnya membayar pajak, sehingga dengan demikian sosialisasi yang berpengaruh penting untuk menambah jumlah wajib pajak dan dapat menimbulkan kepatuhan bagi wajib pajak itu sendiri. Dengan adanya sosilisasi ini di harapkan masyarakat dapat patuh dan taat dalam memenuhi kewajiban perpajakanya sesuai dengan undang undang yang sudah di tetapkan. (Purba dan Faizin, 2016) dalam penelitiannya menyatakan penyuluhan atau sosialisasi berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti membuat hipotesis sebagai berikut:
H1: Sosialisasi berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
2. Pengaruh Pelayanan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Pelayanan pajak merupakan cara membantu, mengurus segala
keperluan seseorang. Pelayanan yang handal ialah yang di tunjukan dengan
adanya rasa kepuasan oleh wajib pajak. Pelayanan tersebut dapat
mendorong atau meningkatkan kepatuhan bagi wajib pajak dalam hal
melaksanakan kewajibannya. Kulitas kantor pelayanan yang di berikan
kantor pajak yang sudah baik ialah memberikan suatu persesi positif yang
baik terhadap kantor pajak Yang dapat di harapakan meningkatkan motivasi
wajib pajak dalam membayar pajak. Pelayanan yang di berikan oleh
pelayanan fiskus selama proses perpajakan dapat berkaitan dengan sikap
wajib pajak. Jika pelayanan tersebut yang di berikukan sudah baik dan
maksimal maka wajib pajak dapat merasa terbantu dan juga puas akan
pelayanan yang di berikan, hal ini akan berdampak terhadap kepatuhan
wajib pajak. Ardiyansyah, (2016) menyatakan pelayanan berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti membuat hipotesis sebagai berikut:
H2: Pelayanan berpengaruh positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.
3. Pengaruh Sanksi terhadap kepatuhan wajib pajak
Wajib pajak akan memenuhi kewajibanya jika wajib pajak itu sendiri sadar akan sanksi yang akan merugikan dirinya. Adanya sanksi tersebut dapat mendorong naiknya kepatuhan perpajakan. Sanksi perpajakan bepengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak (Fuadi dan Mangoting, 2013). Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti membuat kesimpulan sebagaiberikut:
H3: Sanksi berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
4. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan pengembangan hipotesis, variabel-variabel yang berhubungan dengan kepatuhan wajib pajak maka dapat digambarkan dalam suatu model sepertiberikut:
PELAYANAN (X1)
KEPATUHAN WAJIB PAJAK (Y)
SANKSI (X3) SOSIALISASI (X2)