PERKEMBANGAN SOSIAL
Siti Nuraeni M.Pd
Pengertian Perkembangan Sosial
Hurlock : Pemelorehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bermasyarakat (sozialized) memerlukan tiga proses diantaranya belajar berprilaku yang dapat
diterima secara sosial, memainkan peran sosial yang
dapat di terima, dan perkembangan sifat sosial (Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak Jilid 1, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1995), h. 250
Ahmad Susanto, perkembangan sosial merupakan “ Pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma
kelompok, moral, dan tradisi, meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama (Ahmad Susanto,
perkembangan Anak Usia Dini :Pengantar dalam Berbagai Aspeknya,
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), 40
Robinson : Sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif (Ahmad Susanto,
Perkembangan Anak Usia Dini , pengantar dalam Berbagai
Aspeknya , (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h.
40
John.W. Santrock mengemukakan, bahwa perkembangan sosial anak dapat pula dilihat dari kemampuannya
bersosialisasi dengan teman sebayanya (John. W.
santrock, Perkembangan Anak Jilid 2, (Jakarta: Penerbit
Elangga, 2007), 210
6 Fungsi Pertemanan
(John. W. santrock, Perkembangan Anak Jilid 2, (Jakarta: Penerbit Elangga, 2007), 220
Persahabatan (companionship). Dengan pertemanan,anak-anak
menemukan seorang mitra yang familiar, seseor ng yang mau menghabiskan waktu dengan mereka dan bergabung dalam
aktivitas kolaboratif.
Stimulasi. Dengan pertemanan, anak-anak mendapatkan informasi yang menarik,kesenangan, dan hiburan.
Dukungan fisik. Dalam pertemanan, terdapat sumber daya dan bantuan.
Dukungan ego. Dalam pertemanan, terdapat harapan akan
dukungan, semangat, dan umpan balik yang membantu anak-anak memelihara kesan diri mereka sendiri sebagai individu yang
kompeten, menarik dan pantas ditemani.
Perbandingan sosial. Pertemanan menyediakan informasi tentang posisi anak-anak terhadp orang lain dan apakah anak-anak
tersebut berlaku baik.
Keintiman/afeksi. Dalam pertemanan, anak-anak mengalami hubungan yang hangat, dekat, dan saling mempercaya dengan individu lain, yaitu hubungan yang melibatkan keterbukaan diri
Indikator perkembangan sosial baik :
Lisa Nuryanti, Psikologi Anak, (PT.Indeks: 2008), 45
Anak semakin mandiri dan mulai menjauh dari orang tua dan keluarga
Anak lebih menekankan pada kebutuhan untuk berteman dan membentuk kelompok dengan sebaya
Anak memiliki kebutuhan yang besar untuk disukai dan diterima oleh teman sebaya
Anak mulai memiliki rasa tanggung jawab
Anak mampu mengidentifikasi dan memahami perasaaanya sendiri
Anak mampu mengatur perilakunya sendiri
Anak mampu mengembangkan empati pada orang/teman lain
Menjalin dan memelihara hubungan
Karakteristik Perkembangan Sosial Anak SD
Pemahaman tentang diri (sence of self atau self concept)
Self concept :body image, ideal self, & sosial self
Cenderung mendefinisan dirinya subyektif
Usia 7-11 tahun meluangkan waktu 40% tuk
berinteraksi dengan teman sebayanya/ kelompoknya.
Membentuk ikatan baru dengan teman sebayanya (peer group)
Timbul sikap kooperatif & sosiosentris dalam kelompok
(gang)
Teori Ekologi Bronfenbrenner terdiri :
Dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner (1917)yang fokus utamanya adalah pada konteks sosial
1. Mikrosistem adalah setting dimana individu menghabiskan
banyak waktu , setting disini misalnya keluarga, teman sebaya, sekolah, tetangga.
2. Mesositem adalah kaitan antar mikrosistem, contohnya adalah hubungan antara pengalaman dalam keluarga dengan
pengalaman di sekolah.
3. Ekosistem terjadi ketika pengalaman di setting lain (dimana murid tidak berperan aktif) mempengaruhi pengalaman murid dan guru dalam konteks mereka sendiri.
4. Makrosistem adalah kultur yang lebih luas, kultur disini adalah konteks terluas dimana murid dan guru tinggal, misalnya nilai dan adat istiadat
5. kronosistem adalah kondisi sosiohistoris dari perkembangan anak misalnya murid-murid yang saat ini berbeda dengan murid jaman dahulu misanya cara membesarkannya
John W.Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta:Kencana,2008) Hal.85
Teaching Stategi Mendidik Anak Berdasarkan Teori Brofenbrenner
1. Pandanglah anak sebagai sosok yang terlibat dalam berbagai sistem lingkungan dan dipengaruhi oleh sistem-sistem itu.lingkungan itu : sekolah dan guru, orangtua dan saudara & kandung, teman & rekan sebaya, media, agama dan kultur
2. Perhatikan hubungan antara sekolah dan keluarga, jalin hubungan ini melalui saluran formal dan informal
3. Sadari arti penting dari komunitas, status sosioekonomi, dalam perkembangan anak. Konteks sosial yang luas ini bisa sangat mempengaruhi perkembangan anak
(Valsiner, 2000)
John W.Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta:Kencana,2008) Hal.86
Erik H Erickson
Penjelasan singkat
Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini
dikarenakan ia menjelaskan tahap
perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia. Selain, teori Erikson juga membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya yang dianggap lebih realistis.
www. Deviarimariani.files.wordpress.com, diunduh 30 November, 20:28
Struktur Kepribadian
Sebagai pusat kepribadian, ego membantu kita beradaptasi dengan beragam konflik dan krisis kehidupan. Selama masa kanak-kanak, ego sangatlah lemah, fleksibel dan rapuh, tetapi pada masa remaja, ego mulai mengambil bentuk tertentu dan memperoleh kekuatannya.
Erickson meluaskan tahap perkembangan Freud sampai usia senja dan pusat dari teorinya lebih banyak menekankan peranan ego.
Erikson yakin bahwa ego merupakan kekutan positif yang menciptakan identitas diri.
Ego berdasarkan Erikson lebih mengarah kepada pentingnya
perubahan yang terjadi pada tahap perkembangan kehidupan
(tertuju pada masyarakat dan kebudayaan).
Menurut Erikson, lingkungan dimana anak-anak tinggal sangat menentukan perkembangan, penyesuaian, dan sumber dari kesadaran diri dan identitas.
Erikson berpendapat bahwa kepribadian seseorang tidak hanya apa yang dibawanya sejak lahir, tapi dalam perkembangannya muncul sifat-sifat baru, karena pengaruh lingkungan
Menurut Erikson, perluasan ego dipengaruhi oleh interaksi lingkungan sosial dimana semakin luas lingkungan sosialnya, semakin luas
perkembangan egonya.
Erickson mendefinisikan ego sebagai kemampuan pribadi untuk menyatukan pengalaman dan tindakan dengan cara yang adaptif.
Erikson menganggap ego sebagai sumber kesadaran diri seseorang.
Selama menyesuaikan diri dengan realita, maka ego
mengembangkan perasaan keberkelanjutan diri dengan masa lalu dan masa yang akan datang.
Erickson mengidentifikasikan tiga aspek ego yang saling berkaitan:
ego-tubuh, ideal-ego, dan identitas ego.
Sumber: Feist, 2008; 214 - 215
Mengacu pada pengalaman-
pengalaman dengan tubuh.
Melihat fisik kita sebagai hal yang berbeda dari milik oranglain.
Imajinasi yang kita miliki tentang diri kita di beragam peran sosial yang kita mainkan
Imajinasi yang kita miliki tentang diri kita sendiri yang
dibandingkan dengan gambaran ideal ego yang lain.
Ideal-ego bertanggung jawab bagi rasa puas atau tidak, terhadap seluruh identitas
personal kita
Ego - tubuh Ideal - ego
Identitas - ego
Dinamika
Kepribadian
Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme. Sehingga seseorang tersebut menjadi matang secara fisik dan psikologi.
Kemampuan bawaan penting dalam perkembangan kepribadian
namun, ego muncul karena dibentuk oleh masyarakat. Bagi Erickson , pada waktu manusia lahir, ego hadir hanya sebagai potensi
namun, untuk menjadi aktual dia harus hadir dalam lingkungan
kultural.
Masyarakat yang berbeda, dengan perbedaan kebiasaan cara mengasuh anak, cenderung membentuk kepribadian yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai budayanya
Erikson menganggap ego sebagai sumber kesadarn diri seseorang.
Selama menyesuaikan diri dengan realita, maka ego
mengembangkan perasaan keberkelanjutan diri dengan masa lalu dan masa yang akan datang.
Menurut Erikson, ego berkembang melalui berbagai tahap kehidupan mengikuti prinsip epigenetik, artinya tiap bagian dari ego
berkembang pada tahap perkembangan tertentu dalam rentangan waktu tertentu. Tahap perkembangan yang satu terbentuk dan dikembangkan di atas perkembangan sebelumnya (tetapi tidak mengganti perkembangan tahap sebelumnya itu).
Sumber: Feist, 2008; 215 - 217
Perkembangan Kepribadian
Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian
menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya yaitu di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak
bersifat sosial, dan setiap tahap mempuyai masa optimal atau masa kritis yang harus dikembangkan
dan diselesaikan. Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia
menurut Erikson adalah sebagai berikut :
www.deviarimariani.files.wordpress.com, diunduh 30 November 2016 16:28 www.wartawarga.gunadarma.ac.id, diunduh 30 November 2010, 15:12
Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini :
Developmental stage
Fase Bayi ( 0-1 tahun ) Fase anak-anak ( 2-3
tahun )
Fase Pra sekolah(4-6 tahun)
Usia Sekolah ( 6 -11 tahun )
Remaja ( 12 – 20 tahun ) Dewasa Awal (21-40
tahun)
Dewasa ( 41-65 tahun )
Usia tua ( >65 tahun )
Basic Components
Kepercayaan vs Kecurigaan
Otonomi vs Perasaan malu, ragu- ragu
Inisiatif vs Kesalahan Kerajinan vs Inferioritas
Identitas vs Kekacauan Identitas Keintiman vs Isolasi
Generativitas vs Stagnasi
Integritas vs Keputusasaan
Fase-fase Tujuan Akibatnya
Fase Bayi ( 0-1 tahun ) Kepercayaan vs Kecurigaan
pengharapan dan kepercayaan rasa curiga, distorsi indrawi dan penakut
Fase anak-anak ( 2-3 tahun ) Otonomi vs Perasaan malu, ragu-ragu
kehendak dan kemandirian tergantung pada orang lain, kurangnya harga diri, dan merasa malu atau ragu- ragu
Fase Pra sekolah(4-6 tahun) Inisiatif vs Kesalahan
tujuan dan keberanian malignasi berdiam diri, ketidakpedulian, takut mengambil resiko.
Usia Sekolah ( 6 -11 tahun ) Kerajinan vs Inferioritas
kompetensi Rendah diri, keahlian sempit dan lamban.
Remaja ( 12 – 20 tahun ) Identitas vs Kekacauan Identitas
kesetiaan dan loyalitas kejahatan, diskriminasi kelompok, fanatisme dan penolakan.
Dewasa Awal (21-40 tahun) Keintiman vs Isolasi
cinta
Dewasa ( 41-65 tahun ) Generativitas vs Stagnasi
kepedulian mandeg dan tidak produktif, penolakan.
Usia tua ( >65 tahun ) Integritas vs Keputusasaan
kebijaksanaan depresi dan keputusasaan.