• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Menjamin Likuiditas Melalui Menjamin Likuiditas Melalui Menjamin Likuiditas Melalui Menjamin Likuiditas Melalui

Perbankan Perbankan

Dr Wimboh Santoso Dr Wimboh Santoso Dr. Wimboh Santoso Dr. Wimboh Santoso

Kepala Biro Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia

(2)

Agenda Pembahasan

22

I. Kondisi Sektor Keuangan dan Perbankan II. Kebijakan BI dalam menjamin likuiditas

perekonomian

III. Antisipasi Pemda terhadap Krisis

(3)

333333

Overview

• Secara fundamental, perbankan Indonesia tetap stabil dan menunjukkan kinerja yang itif dit h b b i j l k di k l b l

positif ditengah berbagai gejolak di pasar keuangan global.

• Tekanan likuiditas sempat terjadi, namun saat ini likuiditas pasar membaik. Bank Indonesia melakukan beberapa policy measures antara lain melalui penyesuaian Giro Wajib Minimum Bank. Disisi lain, perkembangan terakhir memperlihatkan adanya kenaikan DPK yang cukup tinggi melampaui kenaikan kredit.

• Dilihat dari permodalan bank yg relatif besar bank masih mampu untuk

• Dilihat dari permodalan bank yg relatif besar, bank masih mampu untuk menyalurkan tambahan kredit yang cukup besar. Bila hanya memperhitungkan SBI/Fasbi kemampuan tambahan lending masih sebesar Rp58 T.

• Meski demikian, BI mewaspadai hal-hal sbb:

– Likuiditas pasar keuangan lebih ketat, ditandai dengan penurunan IHSG (sebesar 13,5%) dan volatilitas yang lebih tinggi yang mencerminkan liquidity risk premium yang, ) y g gg y g q y p y g masih relatif tinggi.

– Tekanan inflasi yang masih cukup tinggi

D b d k l k k

– Debt repayment capacity dan kepemilikan aset keuangan yang menurun.

(4)

Indikator Utama Perbankan: Tetap Positif

Mar-07 Jun-07 Sep-07 Dec-07 Jan-08 Feb-08 Mar-08 Apr-08 May-08 Jun-08 Jul-08 Aug-08 Indikator Utama

4

Total Aset (T Rp) 1,704.6 1,770.8 1,850.5 1,986.5 1,940.3 1,940.7 1,944.7 1,949.3 1,972.5 2,040.9 2,057.1 2,066.6 DPK (T Rp) 1,291.4 1,353.7 1,400.6 1,510.7 1,471.2 1,474.5 1,466.2 1,481.8 1,505.6 1,553.4 1,532.9 1,528.1

- Giro 331.8 371.2 378.8 405.5 379.7 374.6 379.7 378.0 392.4 409.0 404.5 386.4

- Tabungan 333.4 354.6 378.5 438.5 429.3 430.1 428.0 434.1 440.5 457.4 453.6 450.9

Deposito 626 2 628 0 643 3 666 7 662 2 669 7 658 5 669 7 672 7 687 0 674 7 690 9

Indikator Utama

- Deposito 626.2 628.0 643.3 666.7 662.2 669.7 658.5 669.7 672.7 687.0 674.7 690.9

Aktiva Produktif (T Rp) 1,575.0 1,641.4 1,707.3 1,792.0 1,776.6 1,784.0 1,786.0 1,794.2 1,816.0 1,875.6 1,856.9 1,867.1 - Kredit (T Rp) * 843.0 904.1 956.7 1,045.7 1,031.1 1,045.9 1,080.1 1,103.1 1,137.7 1,190.0 1,210.9 1,246.6 - S B I (T Rp) 211.2 202.1 205.1 203.9 231.4 211.2 162.1 169.35 148.73 113.66 95.51 84.53 - FASBI (T Rp) 19.1 22.1 5.9 46.8 9.6 6.7 21.0 25.5 27.6 39.0 21.8 13.5 - SSB + Tagihan Lainnya 339 9 342 0 353 8 350 2 347 0 348 7 353 9 347 9 351 3 352 4 348 3 349 7 - SSB + Tagihan Lainnya 339.9 342.0 353.8 350.2 347.0 348.7 353.9 347.9 351.3 352.4 348.3 349.7 - Antar Bank Aktiva 155.6 165.1 180.4 139.8 151.7 165.6 162.9 142.6 144.7 174.5 174.3 166.5

- Penyertaan 6.1 6.0 5.3 5.6 5.7 5.8 6.0 5.9 6.0 6.1 6.1 6.2

NII (T Rp) 7.7 7.7 8.1 8.9 8.8 8.4 9.0 8.6 8.9 9.6 9.63 9.4 CAR (%) 20.7 20.7 20.0 19.3 20.1 19.2 18.6 18.4 17.1 16.4 16.2 16.0

Kredit/AP (%) 53.5 55.1 56.0 58.4 58.0 58.6 60.5 61.5 62.6 63.4 65.2 66.8

Kredit/AP (%) 53.5 55.1 56.0 58.4 58.0 58.6 60.5 61.5 62.6 63.4 65.2 66.8 NPLs (T Rp) 56.01 57.5 55.0 48.6 49.7 50.0 46.7 48.4 49.1 48.6 49.0 49.2 PPAP (T Rp) 41.39 43.4 42.5 41.3 41.6 41.0 40.9 41.8 42.7 43.1 44.4 46.4 NPLs Gross (%) 6.6 6.4 5.8 4.6 4.8 4.8 4.3 4.4 4.3 4.1 4.0 3.9 NPLs net (%) 3.1 2.9 2.6 1.9 2.0 2.1 1.8 1.8 1.8 1.7 1.6 1.4 ROA (%)( ) 2.7 2.8 2.8 2.8 3.2 2.9 2.7 2.6 2.6 2.5 2.7 2.7 NIM (NII/AP) (%) 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 BOPO (%) 88.1 84.6 84.2 78.8 79.4 78.7 79.7 81.3 80.7 80.9 79.5 79.3 LDR (%) 65.3 66.8 68.3 69.2 70.1 70.9 73.7 74.4 75.6 76.6 79.0 81.6 Aset Likuid/TA (%) 22.4 21.3 20.0 23.0 21.5 19.9 18.3 18.5 17.4 16.0 14.1 12.7 Core Deposits/TA (%) p ( ) 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5

Jumlah Bank 130 130 130 130 128 128 128 128 128 127 127 125

Jumlah Kantor 9,240 9,375 9,619 9,680 9,726 9,888 9,926 10,072 10,060 10,153 10,290 10,432

(5)

Proyeksi Financial Stability Index (FSI)

• FSI akhir Ags’08 sebesar 1,70, meningkat dibandingkan posisi akhir Jul’08 sebesar 1,60.

5

Peningkatan tersebut terutama merupakan dampak dari turunnya IHSG dari 2.300 pada (Juli’08) menjadi 2.165 (Ags’08) serta turunnya harga SUN. Tekanan juga timbul dari kenaikan suku bunga yang berpotensi meningkatkan NPL.

• Sejalan dengan naiknya ketidakpastian perekonomian global dan dampak tekanan inflasi

• Sejalan dengan naiknya ketidakpastian perekonomian global dan dampak tekanan inflasi yang berlanjut sampai akhir tahun yang mulai mempengaruhi kemampuan membayar korporasi dan rumah tangga, FSI pada Des’08 diperkirakan meningkat menjadi 1,79.

1.5 2 2.5

1.60

1.79 1.79 1.70

0.5 1

0

2003M04 2003M06 2003M08 2003M10 2003M12 2004M02 2004M04 2004M06 2004M08 2004M10 2004M12 2005M02 2005M04 2005M06 2005M08 2005M10 2005M12 2006M02 2006M04 2006M06 2006M08 2006M10 2006M12 2007M02 2007M04 2007M06 2007M08 2007M10 2007M12 2008M02 2008M04 2008M06 2008M08 2008M10 2008M12

Proyeksi FSI FSI Based on June 2008 FSI with  real data  of Jan‐Juli 2008

(6)

Agenda Pembahasan

66

I. Kondisi Sektor Keuangan dan Perbankan II. Kebijakan BI dalam menjamin likuiditas

perekonomian

III. Antisipasi Pemda terhadap Krisis

(7)

Peraturan Pemerintah Pengganti UU

Tujuan: Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dan nilai

7

tukar rupiah

Pre-emptive policy responses dari Pemerintah dan Bank Indonesia untuk mencegah dan Krisis:

A. Pemerintah menerbitkan 3 Perppu yaitu :

1. Perppu Jaring Pengaman Sektor Keuangan

2 Perppu mengenai Amandemen UU Bank Indonesia 2. Perppu mengenai Amandemen UU Bank Indonesia 3. Perppu mengenai LPS

B. Bank Indonesia :

1. Penyesuaian ketentuan GWM

2. Perpanjangan jangka waktu transaksi Swap dari sebelumnya 7 hari menjadi 1 bulanj

3. Pengaturan Mekanisme Transaksi Valas

4. Penyesuaian ketentuan terkait dengan pembatasan PLN Jangka Pendek

Pendek

(8)

• Mencermati kondisi saat ini, Pemerintah dan Bank Indonesia bertekad

k d l h b l k l l h d

Perppu No.4/2008: Jaring Pengaman Sistem Keuangan (1/2) 8

menciptakan dan memelihara stabilitas sistem keuangan melalui pencegahan dan penanganan Krisis.

• Untuk itu diterbitkan Perppu JPSK yang cakupannya adalah:

–– Pencegahan krisis,Pencegahan krisis, yaitu mengatasi permasalahan :

• Bank yang mengalami kesulitan likuiditas yang Berdampak Sistemik;

B k l i l h l bili k l l

• Bank yang mengalami permasalahan solvabilitas atau kegagalan pelunasan FPD yang Berdampak Sistemik; dan

• LKBB yang mengalami kesulitan likuiditas dan masalah solvabilitas yang Berdampak Sistemik

Berdampak Sistemik.

Penanganan krisis,Penanganan krisis, yaitu mengatasi permasalahan:

• Bank yang mengalami kesulitan likuiditas dan/atau solvabilitas yang secara individu Berdampak Sistemik atau bank yang secara individu tidak

individu Berdampak Sistemik atau bank yang secara individu tidak berdampak sistemik tetapi secara bersama-sama dengan bank lain berdampak sistemik, pada kondisi Krisis; dan

• LKBB yang mengalami kesulitan likuiditas dan/atau permasalahan solvabilitas yang Berdampak Sistemik.

(9)

1ntisari Perppu No.4/2008: Jaring Pengaman Sistem Keuangan (2/2)

Tujuan/

Ruang Lingkup Pengambilan Keputusan Keputusan Tool Kits / Mekanisme Sumber Pendanaan 9

Ruang Lingkup g p p

Pencegahan Krisis

1. Likuiditas Bank KSSK melakukan:

a. Evaluasi masalah 1. Pemberian bantuan likuiditas

FPD oleh BI, dijamin Pemerintah ƒ Sumber pendanaan Pemerintah untuk b. Penetapan masalah

c. Penetapan langkah penanganan masalah

pencegahan dan penanganan Krisis berasal dari APBN melalui penerbitan SBN atau tunai.

2. Solvabilitas Bank / Bank Gagal

2. a. Penyertaan Modal Sementara untuk Bank Sistemik

2. b. Penyelesaian Bank Non-sistemik

2.a. PMS oleh LPS

2.b. Penutupan Bank dan Pembayaran jaminan oleh LPS

ƒ BI dapat membeli SBN dimaksud di pasar primer.

ƒ Penggunaan dana APBN untuk Non sistemik

3. Likuiditas dan/atau

solvabilitas LKBB 3. Pemberian pinjaman atau

penyertaan modal untuk LKBB

3. Pinjaman atau penyertaan modal oleh Pemerintah

P K i i pencegahan dan

penanganan krisis harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari DPR

Penanganan Krisis 1. Likuiditas dan/atau

solvabilitas Bank

KSSK melakukan:

a. Evaluasi masalah b. Penetapan masalah c. Penetapan langkah

1.a. Pemberian bantuan likuiditas

1.b. Penyertaan Modal Sementara

1.a. FPD oleh BI

1.b. PMS oleh LPS atau Pemerintah atau Badan Khusus

p g

penanganan masalah 2. Likuiditas dan/atau

solvabilitas LKBB 2. Pemberian bantuan

likuiditas / Penyertaan Modal Sementara

2. Pinjaman/PMS oleh Pemerintah atau Badan Khusus.

(10)

Perppu Tentang LPS 1 N l d LPS d d b h k d

10

1.Nilai simpanan yang dijamin LPS dapat diubah jika terjadi:

• Bank run

• Inflasi yang cukup besar dalam beberapa tahun

• Pengurangan jumlah nasabah yang dijamin menjadi kurang dari 90% dari jumlah penyimpan seluruh bank

• ancaman krisis

2. PP No 66 Tahun 2008 jumlah simpanan yang dijamin menjadi paling banyak Rp 2 milyar jika terjadi hal-hal sebagaimana dimaksud angka (1)

sebagaimana dimaksud angka (1).

(11)

UU No. 3 Tahun 2004 PERPU No. 2/2008 TENTANG PERUBAHAN UU No 3 TAHUN 2008

Perppu Tentang Amandemen UU BI

11

UU No.3 TAHUN 2008

Penjelasan Pasal 11 Penjelasan Pasal 11

Ayat (2)

Y di k d d b k lit ti i

Ayat (2)

Y di k d d b k lit ti i

Yang dimaksud dengan agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan meliputi surat berharga dan atau tagihan yang diterbitkan oleh Pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai peringkat tinggi berdasarkan hasil penilaian lembaga pemeringkat yang

Yang dimaksud dengan agunan yang berkualitas tinggi meliputi surat berharga dan atau tagihan yang

diterbitkan oleh Pemerintah atau badan hukum lain yang mempunyai peringkat tinggi berdasarkan hasil penilaian lembaga pemeringkat yang kompeten dan berdasarkan hasil penilaian lembaga pemeringkat yang

kompeten dan sewaktu-waktu dengan mudah dapat dijual ke pasar untuk dijadikan uang tunai.Yang dimaksud dengan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah misalnya bagi hasil atau risiko yang ditanggung

penilaian lembaga pemeringkat yang kompeten dan sewaktu-waktu dengan mudah dapat dijual ke pasar untuk dijadikan uang tunai dan asset kredit

kolektibilitas lancar.

y y g y g gg g

bersama secara proporsional.

Ayat (5)

Ketentuan dan tatcara pengambilalihan keputusan

k l k B k b d k

Yang dimaksud dengan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah misalnya bagi hasil atau risiko yang ditanggung bersama secara proporsional.

A (5) mengenai kesulitan keuangan Bank yang berdampak

Sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat, dan sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara diatur dalam Undang- Undang tersendiri yang ditetapkan selambat

Ayat (5)

Ketentuan dan tatcara pengambilalihan keputusan mengenai kesulitan keuangan Bank yang berdampak Sistemik, pemberian fasilitas pembiayaan darurat, dan sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran

Undang tersendiri, yang ditetapkan selambat- lambatnya akhir tahun 2004

sumber pendanaan yang berasal dari Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara diatur dalam Undang- Undang tersendiri.

(12)

12

Kebijakan BI: Penyesuaian GWM

12

• Bank Indonesia menempuh kebijakan pelonggaran likuiditas untuk memberikan fleksibilitas kepada perbankan dalam mengelola likuiditasnya shg tidak tjd keketatan likuiditas spt yg dialami banyak negara lain dan meminimalkan risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas sistem perbankan, yaitu a.l. melalui penurunan giro wajib minimum (GWM) :

P d h GWM R i h j di GWM t d GWM k d

• Penyederhanaan GWM Rupiah menjadi GWM utama dan GWM sekunder

• GWM Rupiah diturunkan dari efektif sebesar 9,01% menjadi 7,5%, terdiri dari:

5% GWM Utama (statutory reserve) dipenuhi dengan saldo giro bank di BI( y ) p g g – 2,5% GWM Sekunder dipenuhi dengan SBI/SUN dan atau excess reserve

• GWM valas diturunkan dari 3% menjadi 1%.

– Pemenuhan GWM sekunder diberikan masa transisi 1 tahun (paling lambat 24 Oktober 2009), guna memberi ruang bagi perbankan untuk melakukan penyesuaian terkait dgn aturan tsb sehingga tidak memberikan tekanan di pasar uang.

(13)

Kebijakan BI: Devisa

•Perpanjangan jangka waktu transaksi Swap dari sebelumnya 7 hari menjadi 1

13

•Perpanjangan jangka waktu transaksi Swap dari sebelumnya 7 hari menjadi 1 bulan yang dinyatakan dalam hari kalender dilakukan dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan OPT di pasar valuta asing dan mengantisipasi gejolak pasar keuangan global yang dikhawatirkan dapat mengantisipasi gejolak pasar keuangan global yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi stabilitas makroekonomi nasional.

•Pengaturan Mekanisme Transaksi Valas:

•Bank dapat mengajukan permintaan kebutuhan Valas terhadap Rupiah kepada Bank Indonesia untuk Korporasi Domestik dan / atau untuk instansi pemerintah.

•Pengajuan permintaan kebutuhan valas di atas wajib memiliki underlying kegiatan ekonomi di Indonesia yang meliputi:

) b t V l b) b i d / t ) k l

•a) pembayaran utang Valas; b) pembayaran impor; dan/atau c) keperluan lain yang didukung dengan dokumen, sepanjang tidak untuk diperjualbelikan (trading) dan tidak untuk investasi di pasar keuangan.

(14)

Kebijakan BI: Penyesuaian ketentuan PLN Bank Indonesia melakukan penyempurnaan terhadap Peraturan

14

p y p p

Bank Indonesia Nomor 7/1/PBI/2005 tentang Pinjaman Luar Negeri Bank yaitu penghapusan ketentuan terkait dengan pembatasan PLN Jangka Pendek sbb:

• Kewajiban bank membatasi posisi saldo harian PLN Jangka

P d k l 30% ( l h ) d M d l

PLN Jangka Pendek sbb:

Pendek paling tinggi 30% (tiga puluh per seratus) dari Modal Bank.

• P li t h d k jib b k b t i i i ld

• Pengecualian terhadap kewajiban bank membatasi posisi saldo harian PLN Jangka Pendek paling tinggi 30% (tiga puluh per seratus) dari Modal Bank.

• Sanksi terhadap bank yang melanggar kewajiban bank membatasi

posisi saldo harian PLN Jangka Pendek tersebut.

(15)

‰ F l d k d k (FPJP) d l h

Kebijakan BI: Perubahan FPJP

15

‰ Fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) adalah

fasilitas pendanaan dari Bank Indonesia kepada Bank untuk mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami oleh g y g bank

‰ Dalam ketentuan baru diatur mengenai antara lain:

ƒ Perubahan persyaratan bank yang dapat mengajukan permohonan FPJP

ƒ Perubahan pemberian FPJP dan jangka waktu FPJP

ƒ Perubahan pemberian FPJP dan jangka waktu FPJP

ƒ Penyesuaian persyaratan agunan dengan Perpu No.2 tahun 2008

ƒ Jenis dan nilai Surat berharga yang dapat diagunkan

(16)

16

Agenda Pembahasan

16

I. Kondisi Sektor Keuangan dan Perbankan II. Kebijakan BI dalam menjamin likuiditas

perekonomian

III. Antisipasi Pemda terhadap Krisis

(17)

Kredit Berbagai Daerah

‰ Kredit di Jawa (Rp850 T) lebih

Kredit beberapa Propinsi di Jaw a

17

besar drpd Kredit di Luar Jawa (Rp360 T)

500 600 700 800 900

un)

100 200 300 400 500

(Rp Triliu

Kredit Beberapa Propinsi Luar Jaw a 400

0

Jabar DKI DIY Jateng Jatim Total

Jaw a (data Agustus ’08)

200 250 300 350 400

Triliun)

- 50 100 150 200

(Rp T

Bengkulu Jambi

NAD Sumut

Sumbar Riau Sumsel

Lamp ung

Kalse l Kal

bar Kal

tim Kal

ten g Sulten

g Sulse

l Sulut

Sultra NT

BBali NT

T Ma

luku Papua

Ma lut

T L uar

Ja wa

(data Agustus ’08)

(18)

Dana Pihak Ketiga (DPK) Berbagai Daerah

DPK beberapa Propinsi di Jaw a ‰ DPK di Jawa (Rp1130 T) lebih

18

800 1,000 1,200

un)

besar drpd DPK di Luar Jawa (Rp400 T)

200 400 600

(Rp Triliu

0

Jabar DKI DIY Jateng Jatim Total

Jaw a

DPK Beberapa Propinsi Luar Jaw a

(data Agustus ’08)

250 300 350 400 450

riliun)

- 50 100 150 200

(Rp Tr

Bengkulu Jambi

NAD Sumut

Sumbar Riau

Sumsel Lam

pung Kalsel

Kalbar Kaltim

Kalteng Sulteng

Sulsel Sulut

Sultra NTB

Bali NTT

Maluku Papua

Malut T Luar

Jawa

(data Agustus ’08)

(19)

LDR Berbagai Daerah

‰ LDR Ja a (75%) < LDR Nasi nal (81 6%)

LDR Beberapa Propinsi di Jaw a 120

19

‰ LDR Jawa (75%) < LDR Nasional (81,6%)

‰ LDR Luar Jawa (90.5%) > LDR Nasional

‰ Lebih tingginya rasio LDR (kredit dibagi DPK) Luar Jawa dibandingkan dengan rasio LDR

60 80 100 120

L (%)

Luar Jawa dibandingkan dengan rasio LDR Jawa karena faktor pembagi yang lebih kecil (DPK) untuk Luar Jawa

0 20 40

r KI Y g m a al

NPL

Jaba

r DKI

DIY Jaten

g Jatim

Jawa

Nasional

LDR Beberapa Propinsi di Luar Jaw a 180

(data Agustus ’08)

100 120 140 160 180

(%)

0 20 40 60 80

LDR (

NAD Sumu

t Sumb

arRiau Sums

el Lampung

Kalse l Kalbar

Kaltim Kalteng

Sulteng Sulsel

Sulut Sultra

NTB Bali NT

T Maluku

Papua Maluku

Utara Luar Jawa

Nasional

(data Agustus ’08)

(20)

‰ Kredit di Luar Jawa lebih kecil drpd Kredit di Jawa

Potensi Luar Jawa

20

J p J

Æ masih ada potensi peningkatan kredit

‰ Namun demikian, DPK di Luar Jawa lebih kecil drpd

DPK di J Æ ih d i i k DPK

DPK di Jawa Æ masih ada potensi peningkatan DPK

‰ Diperlukan tindakan-tindakan untuk memobilisasi dana masyarakat

dana masyarakat

ƒ Pengenalan lebih dekat produk-produk perbankan (Program Ayo ke Bank dan sarana edukasi lainnya) (Program Ayo ke Bank dan sarana edukasi lainnya)

ƒ Pemanfaatan sarana kas keliling yang lebih baik

¾ Ti k t DPK l bih ti i k b ik

¾ Tingkat DPK yang lebih tinggi akan memberikan likuiditas yang lebih tinggi sehingga memungkinkan bank untuk melaksanakan fungsi intermediasi dengan l bih

lebih aman

(21)

‰ Monitoring terhadap sektor riil secara ketat

Antisipasi dalam Hadapi Krisis (1)

21

g p

ƒ Industri dengan orientasi ekspor

ƒ Industri terkait dengan komoditi Industri terkait dengan komoditi

ƒ Industri terkait dengan pariwisata dan transportasi

I d i h i i ( li

ƒ Industri yang human resource intensive (analisa dampak kemungkinan PHK)

ƒ UMKM (terutama usaha usaha yang mendapatkan

ƒ UMKM (terutama usaha-usaha yang mendapatkan

pendanaan dari bank)

(22)

‰ Dialog dan Komunikasi dengan instansi terkait (Bank

Antisipasi dalam Hadapi Krisis (I1)

22

g g (

Indonesia/Kantor Bank Indonesia (KBI)

ƒ Memberikan masukan terkait sektor riil

ƒ Memahami langkah-langkah yang diambil untuk kemudian dapat membantu memberikan

pemahaman kepada pelaku sektor riil (misal kredit pemahaman kepada pelaku sektor riil (misal kredit diprioritaskan untuk usaha produktif)

‰ Menjajagi kemungkinan diversifikasi tujuan ekspor bagi

‰ Menjajagi kemungkinan diversifikasi tujuan ekspor bagi industri ekspor

‰ Mempercepat penyelesaian proyek-proyek pemerintah p p p y p y p y p dan pembayarannya

‰ Melakukan efisiensi biaya diberbagai bidang

(23)

Terima Kasih

Terima Kasih

Referensi

Dokumen terkait

bahwa berat labur adalah banyaknya perekat yang diberikan pada permukaan kayu, berat labur yang terlalu tinggi selain dapat menaikkan biaya produksi juga akan mengurangi

Dalam Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pengaturan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima di Wilayah Kota Malang, disebutkan bahwa yang dimaksud sebagai PKL

Secara yuridis, penyelesaian sengketa melalui Peradilan Adat, sudah pernah dibakukan dalam peraturan daerah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, seperti Peraturan Daerah Nomor 7

Heat Exchanger Reboiler LS-E6 pada Unit RFCCU merupakan suatu alat penukar panas yang digunakan untuk memanaskan fluida pada bottom Stabilizer III dengan pemanas steam..

Tidak hanya gebyok, saya mendapatkan banyak mendengar cerita dari &#34;arga mengenai cerita kali 1engek, maupun cerita tokoh!tokoh yang kini makamnya berada di

Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Definisi lain Marketing communication adalah kegiatan pemasaran dengan menggunakan teknik-teknik komunikasi yang bertujuan untuk memberikan informasi pada orang banyak agar

Perbedaan skripsi ini dengan skripsi yang penulis bahas adalah skripsi di atas hanya menjelaskan tentang kecocokan teori al-Qur‘an dengan teori biologi, tapi