3.1. Paradigma Penelitian
Paradigma yang digunakan oleh Peneliti adalah paradigma konstruktivistik. Menurut Harmon, paradigma adalah cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang realitas27.
Bogdan & Biklen menyatakan bahwa paradigma adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi, konsep, atau proposisi yang berhubungan secara logis, yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian28. Sedangkan Baker mendefinisikan paradigma sebagai seperangkat aturan yang (1) membangun atau mendefinisikan batas-batas; dan (2) menjelaskan bagaimana sesuatu harus dilakukan dalam batas- batas itu agar berhasil.
Cohenn & Manion membatasi paradigma sebagai tujuan atau motif filsofis pelaksanaan suatu penelitian. Berdasarkan definisi definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa paradigma merupakan seperangkat konsep, keyakinan, asumsi, nilai, metode, atau aturan yang membentuk kerangka kerja pelaksanaan sebuah penelitian.
27 Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006. Hal 49
28 http://www.iier.or g.au/iier16/mackenzie.html
Paradigma konstruktivis ialah paradigma dimana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai hasil konstruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relative (nisbi), Pertama, dilihat dari penjelasan ontologisme (apa itu pengetahuan), realitas yang dikonstruksi itu berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial. Kedua, paradigma konstruktivis ditinjau dari konteks episemologis (bagaimana pengetahuan diperoleh), bahwa pemahaman tentang suatu realitas merupakan produk interaksi antara peneliti dengan objek yang diteliti.
Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digenerasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum klasik dan positivis. Paradigma konstruktivisme menilai perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam, karena manusia bertindak sebagai agen yang mengkonstruksi mereka, baik itu melalui pemberian makna ataupun pemahaman perilaku dikalangan mereka sendiri.
Kajian paradigma konstruktivisme ini menempatkan posisi peneliti setara dan sebisa mungkin masuk dengan subjeknya, dan berusaha memahami dan mengkonstruksikan sesuatu yang menjadi pemahaman si subjek yang akan diteliti, dengan alasan sesuai dengan makna dari konstruktivisme yaitu: Suatu proses pembelajaran yang bersifat generative (membangun), dimana bahwa suatu tindakan mencipta suatu makna dan apa yang dipelajari/diteliti sehingga dari proses ini kami/seseorang mendapatkan pengetahuan dan menjadi lebih dinamis kemudian mengkonstruksikan pengetahuan tersebut kedalam makna melalui
pengalaman nyata (penelitian ini). Hal ini lah yang menjadi alasan Peneliti menggunakan paradigma konstruktivistik.
3.2. Metode Penelitian
Metode erat kaitannya dengan bagaimana seorang peneliti menerapkan cara untuk melihat suatu masalah sesuai dengan cara untuk menuju hasil tertentu.
Metode berkaitan dengan suatu cara kerja yang sistematis dengan memahami suatu objek atau subjek penelitian sebagai suatu upaya untuk menemukan jawaban yang dipertanggungjawabkan secara ilmiah termasuk keabsahannya29.
Menurut Bogdan dan Taylor dalam bukunya mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati30.
Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya sehingga lebih mendalam membahas objek penelitiannya tidak hanya luarnya saja31.
Penelitian kualitatif ini menggunakan metode studi kasus dari Robert K.
Yin merupakan sebuah metode yang mengacu pada penelitian yang mempunyai unsur how dan why pada pertanyaan utama penelitiannya dan meneliti masalah- masalah kontemporer (masa kini) serta sedikitnya peluang peneliti dalam
29Rosady, Ruslan. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2004, Hal 2
30 Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung, 2005, Hal 4
31 Lexy J. Moleong, Op.cit, Hal 3
mengontrol peristiwa (kasus) yang ditelitinya32. Studi kasus adalah bentuk penelitian mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia didalamnya33.
Studi kasus adalah salah satu strategi dan metode analisis data kualitatif yang menekankan pada kasus-kasus yang terjadi pada objek yang dianalisis34. Menurut Robert K.Yin yang diterjemahkan oleh Djauzi Mudzakir menambahkan
“tahapan penting dalam pensandian dan penyelenggaraan kasus tunggal adalah menentukan unit analisis (atau kasus itu sendiri)35
Peneliti menggunakan metode studi kasus karena berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu banyaknya bermunculan media sosial serta kemudahan dalam mengakses melalui smartphone sehingga ramainya remaja akhir yang berkomunikasi atau mengekspresikan dirinya melalui status di media sosial di facebook. Mulai dari curhatan pribadi atas kejadian yang sedang atau pernah dialaminya sampai kekomentar status milik teman facebooknya. Oleh karena itu Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
32 Robert K. Yin. Studi Kasus Desain dan Metode. Rajawali Pres. Jakarta. 2012. Hal 1
33 S. Nasution. Metode Research Pendekatan Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara. 2007. Hal 27
34 Burhan Bungin. Penelitian Kualitatif. Komunikasi Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana. Hal 229
35 Robert K.Yin. Ibid. Hal.54
3.3. Subyek Penelitian
Kedudukan nara sumber dalam penelitan kualitatif ini sangat penting, sebab nara sumber tidak hanya menjadi responden melainkan juga sebagai pemilik informasi. Mereka disebut sebagai informan atau disebut juga sebagai subjek yang diteliti karena ia bukan saja sebagai sumber data melainkan juga pelaku yang ikut menentukan berhasil tidaknya sebuah penelitan berdasarkan informasi yang diberikan.
Subjek penelitian adalah remaja akhir dengan batasan usia 18-21 tahun.
Karakteristik dalam penelitian ini adalah wanita. Dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu key informan dan informan.
Key informan:
1. Indriyani, 21 tahun, Mahasiswi Sistem Informatika
Alasan Indriyani menjadi nara sumber adalah karena beliau terlihat pendiam dan pasif ketika berada dilingkungan sosial dari pada di sosial media facebook.
Informan
1. Prasetya, 20 tahun, Mahasiswi Kedokteran Gigi
Alasan Prasetya menjadi nara sumber adalah karena beliau adalah anak terakhir dari 3 (tiga) bersaudara, dimana memiliki saudara atau kakak kandung yang memiliki perbedaan umur yang jauh yaitu lima tahun.
2. Nurapriani, 21 tahun, Mahasiswa kebidanan
Alasan Nurapriani menjadi nara sumber karena beliau merupakan salah satu teman dekat prasetya dan indri ketika Sekolah Menengah Pertama dan masih sering bersilahturahmi satu dengan yang lainnya.
3. Oktarina, 21 tahun, Mahasiswa Teknik Informatika
Alasan Oktarina menjadi nara sumber karena beliau merupakan salah satu teman dekat prasetya ketika Sekolah Menengah Pertama dan masih sering bersilahturahmi satu dengan yang lainnya.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan36. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah dua macam, yaitu sebagai berikut:
3.4.1. Data Primer
Dengan melakukan wawancara (interview), yaitu melakukan tanya jawab antara peneliti dengan nara sumber yang dianggap layak dan relevan dalam penelitian ini. Teknik wawancara ini dilakukan secara terbuka dan mendalam untuk memberikan kesempatan kepada yang diwawancarai menjawab secara bebas. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh kejelasan yang belum didapat pada dokumentasi dan untuk mendapatkan pengertian dan penjelasan yang lebih mendalam tentang obyek yang diteliti.
Wawancara dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi (data) dari nara sumber dengan cara bertanya langsung
36 Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006. hal 40
secara bertatap muka (face to face). Namun, dengan adanya perkembangan dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan komunikasi lainnya, seperti internet dan telepon37.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder dilakukan dengan cara dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan berbagai data sebagai informasi yang terbukukan, terekam atau tersimpan sehingga dapat digunakan sebagai sumber data. Selain itu dapat dilakukan dengan cara studi perpustakaan dengan mengumpulkan buku-buku atau bahan-bahan yang dapat menjadi sumber data dalam melakukan penelitian mengenai pola komunikasi remaja introvert ini.
3.5. Teknik Analisis Data
Analisa data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterprestasikan. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis melalui teknik analisis data deskriptif dimana data yang terkumpul akan dibaca, ditelaah, dan diolah serta dicari hubungan antar fenomena sehingga dihasilkan suatu uraian yang runtut dan sistematis, yang pada akhirnya diperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai pokok permasalahan dalam penelitian ini38.
37 Musta’in Mashud. Metode Penelitian Sosial, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2006. Hal 40
38 Moleong. Op.cit. Hal 103
Peneliti memaparkan data yang diperoleh secara apa adanya. Hasil dari penelitian ini adalah gambaran menyeluruh mengenai pola komunikasi remaja introvert pada media sosial di facebook.
3.6. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Teknik pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan. Agar mendapatkan hasil yang dapat dipercaya baik oleh pembaca maupun responden sebagai informan dalam penyusunan skripsi yang berjudul “Analisis Komunikasi Remaja Introvert Pada Media Sosial di Facebook”, maka Peneliti menggunakan teknik triangulasi.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif dengan membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.39
Dalam konteks ini, upaya yang dilakukan peneliti dalam pengecekan data yaitu dengan menggunakan sumber data dalam pengecekan data yaitu dengan menggunakan sumber data dalam pengecekan data yaitu dengan menggunakan sumber data dalam penggaliannya, baik itu sumber data primer yang berupa hasil wawancara maupun sumber data sekunder yang berupa buku, majalah dan
39 Moleong. Loc.cit. Hal 330-331
dokumen lainnya. Sedangkan metode atau cara yang digunakan dalam analisis data adalah metode analisis kualitatif. Artinya analisis kualitatif dilakukan dengan memanfaatkan data (kualitatif) dari hasil observasi dan wawancara mendalam, dengan tujuan memberikan eksplanasi dan pemahaman yang lebih luas atas hasil data yang dikumpulkan, dan kemudian Peneliti melakukan langkah membandingkan atau mengkorelasikan hasil penelitian dengan teori yang telah ada. Hal itu dilakukan untuk mencari perbandingan atau hubungan antara hasil penelitian dengan teori yang telah ada.