TINDAK TUTUR DIREKTIF DAN EKSPRESIF DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR GURU DAN SISWA DI SMP NEGERI 1 PANCUR
BATU: KAJIAN PRAGMATIK
SKRIPSI
OLEH :
DEBY RATNA SARI 120701056
DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
2
TINDAK TUTUR DIREKTIF DAN EKSPRESIF DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR GURU DAN SISWA
DI SMP NEGERI 1 PANCUR BATU: KAJIAN PRAGMATIK
DEBY RATNA SARI NIM 120701056
Skripsi ini diajukan untuk melengkapi persyaratan memeroleh gelar sarjana dan telah disetujui oleh:
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. Dwi Widayati, M.Hum. Drs. Asrul Siregar, M.Hum.
NIP.19650514 198803 2 00 NIP. 19590502 198601 1 001
Departemen Sastra Indonesia Ketua,
Prof. Dr.Ikhwanuddin Nasution, M.Si.
NIP 19620925 198903 1 017
i
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memeroleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya perbuat ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar yang saya peroleh.
Medan, 13 Januari 2017 Hormat saya,
Deby Ratna Sari 120701056
ii
TINDAK TUTUR DIREKTIF DAN EKSPRESIF DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR GURU DAN SISWA DI SMP NEGERI 1 PANCUR
BATU: KAJIAN PRAGMATIK DEBY RATNA SARI
120701056
ABSTRAK
Penelitian ini membahas tindak tutur direktif dan ekspresif dalam interaksi belajar mengajar guru dan siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu dengan kajianpragmatik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk tindak tutur direktif dan ekspresif, menentukan tindak tutur yang dominan, dan alasan tindak tutur tersebut dominan terdapat dalam interaksi belajar mengajar guru dan siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu. Penelitian ini menggunakan teori tindak tutur, pragmatik, dan konteks situasi tutur. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode simak dengan teknik dasar teknik sadap, teknik simak libat cakap dan teknik catat. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode padan dengan teknik dasar pilah unsure penentu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat terdapat 10 bentuk tindak tutur direktif, antara lain meminta, memerintahkann, mempertanyakan, memohon, melarang, menyuruh, memohon, menyarankan, menuntut, mengajak, memberi nasihat, dan 6 bentuk tindak tutur ekspresif, antara lain mengucapkan selamat, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, meminta maaf, dan mengucapkan terima kasih. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tindak tutur yang dominan digunakan dalam interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu adalah tindak tutur direktif yang berupa meminta, memerintahkan, mempertanyakan, melarang, menyuruh , memohon, menyarankan, menuntut, mengajak, memberi nasihat. Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dominan dibanding tindak tutur ekspresif karena dalam interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu, guru merupakan orang yang berperan dominan dalam melakukan tindak tutur. Dalam melakukan tindak tutur, guru lebih dominan menggunakan tindak tutur direktif yang berupa meminta, memerintahkan, mempertanyakan, melarang, dan menyuruh, memohon, menyarankan, menuntut, mengajak, dan memberi nasihat.
Kata Kunci: Tindak Tutur Direktif, Tindak Tutur Ekspresif, Pragmatik, Interaksi Belajar Mengajar, Guru danSiswa.
iii PRAKATA
Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Judul skripsi ini adalah“Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif dalam InteraksiBelajar Mengajar Guru dan Siswa di SMP NEGERI 1 PANCUR BATU:
Kajian Pramatik”. Penelitian ini berguna untuk mendapatkan data yang digunakan untuk menyusun skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Sastra di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan karena bantuan dari beberapa pihak.Untuk itu penulis dengan segala kerendahan hati menyampaikan rasa hormat dan mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak berikut.
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum., selaku rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. Drs. Budi Agustono, M.S., selaku dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan izin penelitian.
3. Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si., sebagai Ketua Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan dan perhatian kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.
4. Drs. Haris Sutan Lubis, M.SP., selaku sekretaris Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan dukungan dan perhatian kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.
5. Dr. Dwi Widayati, M.Hum., selaku dosen pembimbing skripsi I yang telah berkorban waktu serta tenaga, memberikan ide kreatif, arahan, nasehat, motivasi, dan motivasi dalam penulisan skripsi ini.
iv
6. Drs. Asrul Siregar, M.Hum., selaku dosen pembimbing skripsi II yang juga telah berkorban waktu serta tenaga, memberi ide kreatif, arahan, nasihat, dan motivasi dalam penulisan skripsi ini.
7. Dr. Gustianingsih, M.Hum selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah memberikan bimbingan dan nasehat selama proses perkuliahan.
8. Bapak dan Ibu dosen serta staff administrasi Departemen Sastra Indonesia, yang telah banyak memberikan nasehat bagi penulis.
9. Ayah dan Ibu tercinta yang senantiasa memberikan segala bentuk dukungan, doa, kasih sayang, semangat serta perhatiannya.
10. Adikku Fandy Siswanto, Mhd Ahza Pranaja, dan abang sepupuku Ramadani yang selalu memberikan dukungan, perhatian, semangat, serta menjadi penghibur bagi penulis.
11. Sahabat-sahabat penulis khususnya Nindika Diah Ayu, Eko Brahmana, Riska Mayasari, Lovita Justin, Masito Nasution, Budi Halim Lubis, Gilang Tirta Arya , Jefry Andreas, Yohanes Nataleo, Ivan Halim yang senantiasa memberikan dukungan, perhatian,dan doa bagi penulis. Terima kasih sudah menjadi sahabat serta saudara yang selalu ada dan penuh kasih sayang bagipenulis.
12. Sahabat-sahabat khususnya Keluarga Safari dan teman-teman jurusan Sastra Indonesia angkatan 2012 lainnya, terima kasih atas dukungan dan segala bentuk bantuannya.
13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah tulus ikhlas membantu penyusunan skripsi ini hingga selesai disusun.
Semoga semua kebaikan yang telah diberikan tersebut mendapatkan balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari
v
kesempurnaan.Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun. Penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya peminat bidang linguistik dan bagi pembaca pada umumnya.
Medan, 13 Januari 2017 Penulis,
Deby Ratna Sari 120701056
vi DAFTAR ISI
PENGESAHAN ... i
PERNTYATAAN ……….. ii
ABSTRAK ………. iii
PRAKATA……….. .... vi
DAFTAR ISI……… ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.4.1 ManfaatTeoritis ... ……… 5
1.4.2 ManfaatPraktis……… ... 5
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA . 6 2.1 Konsep ... 6
2.1.1 TindakTuturDirektif ... 6
2.1.2 Tindak TuturEkspresif ... 6
2.1.3 Tindak Tutur dalam Interaksi Belajar Mengajar ... 7
2.2 Landasan Teori ... 8
2.2.1 Pragmatik ... 8
2.2.2 Tindak Tutur... 9
vii
2.3 Tinjauan Pustaka ... 13
BAB III METODE PENELITIAN ... 17
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian... 17
3.1.1 Lokasi Penelitian ... 17
3.1.2 Waktu Penelitian ... 17
3.2 Sumber Data ... 17
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 18
3.4 Metode dan Teknik Analisis Data ... 20
3.5 Metode Penyajian Data ... 23
BAB IV PEMBAHASAN……… ... 24
4.1 Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu ………... 24
4.1.1 Tindak Tutur Direktif dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu ... ... 24
4.1.2 Tindak Tutur Ekspresif dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu ... ... 39
4.2 Tindak Tutur Dominan yang Terdapat dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu ... 48
4.3 Alasan Tindak Tutur Direktif Dominan Dibanding Tindak Tutur Ekspresif dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu ... 49
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ………... 51
5.1 Simpulan………... 51
viii
5.2 Saran……… 52
DAFTAR PUSTAKA ... 53
LAMPIRAN ... 55
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk sosial, memerlukan sebuah alat komunikasi untuk berhubungan atau berinteraksi dengan sesamanya.Alat komunikasi tersebut digunakan untuk menyampaikan ide, gagasan, atau pun alat pendapat.Alat komunikasi itu disebut bahasa.Bahasa merupakan alat atau sarana komunikasi yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar.Bahasa sebagai alat komunikasi digunakan oleh guru dan siswa untuk saling berinteraksi. Melalui kegiatan berkomunikasi yang baik akan menciptakan interaksi belajar mengajar yang berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, peran bahasa dalam pembelajaran tidak dapat dipisahkan karena interaksi belajar mengajar tidak bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya fungsi bahasa.
Menurut Chaer dan Agustina (2004: 11), fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau alat interaksi.Melalui kegiatan komunikasi, setiap penutur hendak menyampaikan tujuan atau maksud tertentu kepada mitra tutur. Komunikasi yang terjadi harus berlangsung secara efektif dan efisien, sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan jelas oleh mitra tutur yang terlibat dalam proses komunikasi. Proses komunikasi yang efektif dan efesien tidak akan terjadi dengan baik, apabila bahasa yang digunakan oleh penutur tidak mampu dipahami oleh mitra tutur. Dengan demikian, untuk mempermudah proses komunikasi, bahasa yang digunakan oleh penutur harus bahasa yang mudah dipahami oleh mitra tutur.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam interaksi belajar mengajar merupakan salah satu bentuk komunikasi. Melalui proses komunikasi akan memunculkan peristiwa tutur
2
dan tindak tutur. Peristiwa tutur merupakan proses terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam suatu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua belah pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Tindak tutur merupakan gejala individual yang bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu (Chaer dan Agustina, 2004: 50).
Tindak tutur dalam interaksi belajar mengajar di kelasdapat dimanfaatkan sebagai pengajaran pragmatik.Pragmatik adalahsuatu ilmu yang mengkaji makna tuturan (Leech, 1993: 21).Pragmatik mengkaji makna tuturan yang dikehendaki oleh penutur dan menurut konteksnya.Konteks dalam hal ini berfungsi sebagai dasar pertimbangan dalam mendeskripsikan makna tuturan dalam rangka penggunaan bahasa dalam komunikasi.Salah satu objek kajian pragmatik yaitu tindak tutur.Tindak tutur dalam interaksi belajar mengajar merupakan salah satu bentuk pemakaian bahasa yang sesuai dengan topik pembicaraan, tujuan pembicaraan, situasi dan tempat berlangsungnya pembicaraan tersebut.
Dalam interaksi belajar mengajar bahasa Indonesia, peran guru tidak terlepas dari usaha membimbing siswa agar mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk berkomunikasi sesuai konteksnya. Selain itu, guru harus mampu membimbing dan menarik minat siswanya agar mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik dan tekun. Dengan demikian, penggunaan tindak tutur yang baik dan sesuai dengan konteks dalam interaksi belajar mengajar akan menciptakan susasana belajar mengajar yang mengesankan bagi guru dan siswa.
Faktor terbesar yang berpengaruh dalam komunikasi pembelajaran BahasaIndonesia adalah karakteristik kemampuan pengetahuan kebahasaan yang
3
dimiliki oleh pendidik dan peserta didik.Oleh karena itu, guru harus mampu memahami semua karakteristik pembelajaran agar interaksi belajar mengajar berlangsung efektif dan efisien. Kemahiran guru dalam tindak tutur berperan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, secara lisan maupun tertulis.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan realitas komunikasi yang berlangsung dalam interaksi kelas. Dalam interaksi tersebut, guru selalu menggunakan bahasa Indonesia untuk memperlancar proses menyampaikan maksud. Guru sebagai orang yang mempunyai peranan penting dalam interaksi belajar mengajar selalu menggunakan tuturan sebagai media untuk menyampaikan ide kepada siswa. Penggunaan tuturan oleh guru sebagai media penyampai ide kepada siswa tidak selalu setia pada satu ragam tindak tutur tertentu.
Dalam interaksi belajar mengajar guru dan siswa, banyak ditemukan jenis tindak tutur direktif dan ekspresif. Jenis-jenis tindak tutur direktif (permintaan, pertanyaan, perintah, larangan, pemberian izin, nasihat) dan ekspresif (memuji, mengucapkan terimakasih, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, menyatakan rasa takut) sering digunakan oleh guru dan siswa dalam interaksi belajar mengajar tanpa sadar penggunaannya.
Sehubungan dengan hal itu, melalui penelitian ini peneliti akan mengkaji pemakaian tindak tutur direktif dan ekspresif dalam interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penulis memilih tempat penelitian di sekolah karena penulis bermaksud mengetahui secara langsung bagaimana bentuk tindak tutur direktif dan ekspresif dalam interaksi belajar mengajar di sekolah tersebut.
4 1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimana bentuk-bentuk tindak tutur direktif dan ekspresif dalam interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara?
2. Tindak tutur apakah yang lebih dominan, direktif atau ekspresifkah yang terdapat dalam interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara?
3. Mengapa salah satu tindak tutur itu menjadi lebih dominan dibandingkan dengan tindak tutur lain dalam interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan bentuk-bentuk tindak tutur direktif dan ekspresif dalam interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
2. Menentukan tindak tutur direktif atau ekspresifkah yang lebih dominan yang terdapat dalam interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
3. Mendeskripsikan sebab salah satu tindak tutur itu menjadi lebih dominan dibandingkan dengan tindak tutur lain di dalam interaksi belajar mengajar mata
5
pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan judul di atas, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretis maupun praktis.
1. Secara teoretis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasipengetahuan mengenai studi tindak tutur, khususnya tindak tutur direktif dan ekspresif dalam pragmatik.Selanjutnya, penelitian ini diharapkan juga dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan dan juga metode pembelajaran ilmu pragmatik pada khususnya.
2. Secara praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca mengenai tindak tutur direktif dan ekspresif dalam interaksi belajar mengajar di kelas.Selain itu, penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi guru dan siswa, terutama tentang pemanfaatannyayang berupa pembelajaran keterampilan berbicara dalam jenis tindak tutur direktif dan ekspresif yang sesuai dengan interaksi belajar mengajar.
6 BAB II
KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
Dalam penelitian ini, konsep perlu dibatasi untuk menghindari salah tafsir pembaca. Ada beberapa konsep yang digunakan yaitu tindak tutur direktif, tindak tutur ekspresif, dan tindak tutur dalam interaksi belajar mengajar. Konsep-konsep tersebut dipaparkan sebagai berikut.
2.1.1 Tindak Tutur Direktif
Tindak tutur direktif merupakan salah satu kategori tindak ilokusi. Menurut Tarigan (1986:47), tindak tutur direktif dimaksudkan untuk menimbulkan beberapa efek melalui tindakan sang penyimak. Menurut Searle (Leech, 1993: 163), tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh petutur, misalnya, memesan, memerintah, memohon, menuntut, memberi nasihat.
2.1.2 Tindak Tutur Ekspresif
Rustono (2000: 82) berpendapat bahwa tuturan ekspresif merupakan tindak tutur yang dimaksudkan penuturannya agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturannya itu. Menurut Searle (Leech, 1993: 164), tindak tutur ekspresif ialah mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya, mengucapkan terima kasih,
7
mengucapkan selamat, memberikan maaf, mengecam, memuji, mengucapkan belasungkawa, dan sebagainya.
2.1.3 Tindak Tutur dalam Interaksi Belajar Mengajar
Menurut Rohmadi (2004: 26), tindak tutur merupakan produk tindak verbal yang terlihat dalam setiap percakapan lisan maupun tertulis antara penutur dengan lawan tutur. Pendapat tersebut sesuai dengan interaksi yang terjadi antara guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi.
Seorang guru diharuskan memiliki kecenderungan yang baik dalam bertindak tutur terutama dalam interaksi belajar mengajar, sehingga siswa pun dapat menginterpretasikan tindak tutur yang dimaksud oleh gurunya secara tepat dan interaksi belajar mengajar berlangsung secara baik dan lancar, sedangkan siswa diharuskan sadar bahwa dalam bertutur kata dengan orang lain tentunya ada perbedaan antara bertindak tutur kepada temannya atau kepada gurunya.
Purwo (1990: 30) menyatakan bahwa sekalipun benar penutur asli bahasa Indonesia tanpa harus berpikir panjang, namun sama-sama menyatakan pendapat tentunya ada perbedaan di antara menyatakan kepada teman sebaya, kepada seorang atasannya, atau kepada seorang yang belum dikenalnya. Dengan demikian, dalam bertindak tutur guru dan siswa harus selalu mempertimbangkan dengan siapa ia menyampaikan tuturannya dan dalam situasi apa tuturan tersebut yang disesuai dengan konteks.
Selanjutnya, guru dan siswa khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, selain harus mampu bertindak tutur sesuai dengan konteks dan situasi, serta diharapkan
8
dapat menggunakan tuturan beraneka ragam. Hal ini diperlukan untuk membantu pembelajaran keterampilan berbicara guru dan siswa dalam interaksi belajar mengajar.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Pragmatik
Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca) (Yule, 2006: 3). Sebagai akibatnya, studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Jadi, pragmatik sama dengan studi tentang penutur.
Menurut Tarigan (1987:34), pragmatik merupakan telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi cara kita menafsirkan kalimat. Teori tindak ujar adalah bagian dari pragmatik, dan pragmatik itu sendiri merupakan bagian dari performansi linguistik. Dengan kata lain, pengetahuan mengenai dunia adalah bagian dari konteks. Pragmatik mencakup bagaimana cara pemakai bahasa menerapkan pengetahuan dunia untuk menginterpretasikan ucapan-ucapan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pragmatik menurut beberapa ahli merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji penutur untuk menyesuaikan kalimat yang diujarkan sesuai dengan konteksnya, sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar.
Pragmatik dapat dimanfaatkan setiap penutur untuk memahami maksud lawan tutur.Penutur dan lawan tutur dapat memanfaatkan pengalaman bersama untuk memudahkan dalam berinteraksi.Dalam hal ini, perlu dipahami bahwa kemampuan berbahasa yang baik tidak hanya terletak pada kesesuaian aturan gramatikal, tetapi juga
9
pada aturan pragmatik.Jadi, secara garis besar definisi pragmatik tidak dapat dilepaskan dari bahasa dan konteks.
2.2.2Tindak Tutur
Teori tindak tutur sendiri (speech acts) berawal dari ceramah yang disampaikan oleh filsuf berkebangsaan Inggris yaitu John L. Austin, pada tahun 1955 di University Harvard, yang kemudian diterbitkan pada tahun 1962 dengan judul „How To Do Things With Words’, kemudian teori ini berkembang dan terkenal pada tahun 1969 setelah Searle mengembangkan teori tersebut. Austin (Nadar, 2009:11) menyatakan bahwa pada dasarnya saat seseorang mengatakan sesuatu, maka ia juga melakukan sesuatu.
Searle (dalam Nadar, 2009:12) menyatakan bahwa unsur yang paling kecil pada suatu proses komunikasi adalah tindak tutur seperti menyatakan, membuat pernyataan, memberi perintah, menguraikan, menjelaskan, minta maaf, berterima kasih, mengucapkan selamat, dan lain-lain. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak tutur merupakan suatu kegiatan yang diungkapkan melalui sebuah tuturan dengan makna yang tersirat untuk menjelaskan maksud dari penutur kepada mitra tuturnya.
Austin (Tarigan, 1987: 37) membagi tindak tutur menjadi tiga jenis, yaitu (1) tindak tutur lokusi, (2) tindak tutur lokusi, dan (3) tindak tutur perlokusi. Ketiga jenis tindak tutur tersebut secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Tindak lokusi
Tindak lokusi merupakan tindak tutur yang berfungsi melakukan tindakan untuk menyatakan sesuatu.
2. Tindak ilokusi
10
Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang berfungsi untuk melakukan suatu tindakan dalam mengatakan sesuatu. Searle (Tarigan, 1987: 47) mengklasifikasikan tindak ilokusi ke dalam berbagai kriteria.
(a) Asertif adalah tindak tutur yang melibatkan pembicara pada kebenaran proposisi yang diekspresikan, misalnya: menyatakan, memberitahukan, menyarankan, membanggakan, mengeluh, menuntut, atau melaporkan.
(b) Direktif adalah tindak tutur sebagai usaha si penutur untuk meminta mitra tutur melakukan sesuatu. Hal tersebut dapat berupa usaha seperti ajakan atau saran untuk melakukan suatu hal, bahkan usaha yang lebih keras misalnya bersih keras agar orang lain melakukan apa yang anda mau. Tuturan yang termasuk dalam jenis tindak tutur ini antara lain mengajak, menyuruh, melarang, mendesak, memesan, memerintahkan, memohon, meminta, menyarankan, menganjurkan, menentang, dan sebagainya.
(c) Komisif adalah tindak tutur yang melibatkan pembicara pada beberapa tindakan yang akan datang, misalnya: menjanjikan, bersumpah, menawarkan, memanjatkan (doa).
(d) Ekspresif adalah tindak tutur yang mempunyai fungsi mengekspresikan, mengungkapkan, atau memberitahukan sikap psikologis sang pembicara menuju suatu pernyataan keadaan yang diperkirakan oleh ilokusi, misalnya:
mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memaafkan, mengampuni, menyalahkan, memuji, menyatakan belasungkawa, dan sebagainya.
(e) Deklaratif adalah tindak tutur ilokusi yang bila performasinya berhasil akan menyebabkan korespondensi yang baik antara proposisional dengan realitas,
11
misalnya: menyerahkan diri, memecat, membebaskan, membaptis, memberi nama, mengucilkan, menunjuk, menentukan, menjatuhkan hukuman, memvonis dan sebagainya.
3. Tindak perlokusi
Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang berfungsi melakukan suatu tindakan dengan menyatakan sesuatu.
2.2.3 Konteks Situasi Tutur
Mulyana (2005: 21) menyebutkan bahwa konteks ialah situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi. Konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tuturan, seperti kaitannya dengan arti, maksud, maupun informasinya, sangat tergantung pada konteks yang melatarbelakangi peristiwa tuturan itu.
Menurut Dell Hymes (dalam Chaer dan Agustina, 2004: 48-49), bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, yang disingkat menjadi SPEAKING, yakni sebagai berikut.
a. S= Setting and Scene
Setting berkenaan dengan tempat dan waktu tuturan berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi, tempat, dan waktu atau situasi psikologis pembicara.
b. P= Participants
Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima.
c. E= Ends
12
Ends menunjuk pada maksud dan tujuan pertuturan.
d. A= Act Sequences
Act Sequences mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran.
e. K= Key
Key mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan disampaikan;
dengan senang hati, dengar serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek, dan sebagainya.
f. I= Instrumentalities
Instrumentalities mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon.
g. N= Norms of Interaction and Interpretation
Norms of Interaction and Interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi.
h. G= Genres
Genre mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainya.
Imam Syafi‟ie (Mulyana, 2005:24) menambahkan bahwa, apabila dicermati dengan benar, konteks terjadinya suatu percakapan dapat dipilih menjadi empat macam, yakni sebagai berikut.
a. Konteks linguistik (linguistic context), yaitu kalimat-kalimat dalam percakapan.
b. Konteks epistemis (epistemis context), adalah latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh partisipan.
c. Konteks fisik (phsycal context), meliputi tempat terjadinya perckapan, objek yang disajikan dalam percakapan, tindakan para partisipan.
13
d. Konteks sosial (social context), yaitu relasi sosial-kulyural yang melengkapi hubungan antarpelaku atau partisipan dalam percakapan.
Uraian tentang konteks terjadinya suatu percakapan (wacana) menunjukkan bahwa konteks memegang peranan penting dalam memberi bantuan untuk menafsirkan suatu wacana. Dengan demikian dapat disimpulkan secara singkat bahwa dalam berbahasa (berkomunikasi), konteks adalah segala-galanya (Mulyana, 2005: 24).
2.3 Tinjauan Pustaka
Penelitian tindak tutur telah banyak dilakukan oleh sejumlah peneliti. Tinjauan pustaka berguna untuk memposisiskan penelitian ini dari penelitian sebelumnya.
Adapun penelitian-penelitian berikut sebagai berikut.
Ginting (2009) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Tindak Tutur dalam Dialog Film Perempuan Punya Cerita”, Universitas Sumatera Utara, menggunakan metode simak yang kemudian dilanjutkan dengan metode catat sebagai lanjutan, sedangkan pengkajiannya digunakan metode deskriptif. Teori yang digunakan adalah teori J.L. Austin. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi banyak terdapat dalam dialog film Perempuan Punya Cerita. Tindak lokusi adalah bentuk tindak tutur yang paling banyak ditemukan dalam dialog tersebut. Selanjutnya, bentuk tindak tutur yang lebih sedikit ditemukan dalam dialog film tersebut ialah tindak tutur ilokusi dan perlokusi. Penelitian Ginting memberikan sumbangannya dalam segi teori yang menggunakan teori tindak tutur J.L.
Austin.
Jamilatun (2010) dalam skripsinya yang berjudul “Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif pada Rubrik “Kriing Solopos” (Sebuah Tinjauan Pragmatik)”, Universitas
14
Sebelas Maret, membahas tentang wujud tindak tutur direktif dan ekspresif dalam RKS.
Penelitian Jamilatun termasuk jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Dalam pengumpulan data, menggunakan tenik pustaka, teknik simak, dan teknik catat. Teknik analisis data dalam penelitiannya menggunakan teknik analisis padan dan teknik analisis tujuan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pragmatik.
Hasil dari penelitiannya berupa keseluruhan tuturan yang mengandung tindak tutur direktif dan tindak tutur ekspresif pada harian Solopos yang terdapat dalam RKS yang terbit pada bulan Februari, Maret, dan April 2010. Kontribusi penelitian Jamilatun dalam penelitian ini ialah memberikan pencerahan dalam menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam tindak tutur direktif dan ekspresif.
Gultom (2011) dalam skripsinya yang berjudul “Tindak Tutur Ilokusi dalam Novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf”, Universitas Sumatera Utara.Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak bebas libat cakap (SBLC) yang dilanjutkan dengan pencatatan dan klasifikasi serta metode padan dan teknik pilah unsur penentu (PUP) dengan daya pilah pembeda reaksi dipilih dalam menganalisis data dengan menggunakan teks percakapan yang terdapat dalam novel Tanah Tabu.Data dianalisis dengan menggunakan teori pragmatik yang dikemukakan oleh J.R. Searle.Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan jenis tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam novel Tanah Tabu serta mengungkapkan fungsi tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam novel Tanah Tabu. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tindak tutur percakapan dalam novel Tanah Tabu terdapat empat jenis tindak tutur ilokusi, yaitu (1) tindak tutur ilokusi representatif, (2) tindak tutur ilokusi komisif, (3) tindak tutur ilokusi direktif, (4) tindak tutur ilokusi ekspresif. Selain tindak tutur ilokusi, ditemukan juga fungsi tindak ilokusi dalam novel Tanah Tabu, dan setelah
15
dianalisis ditemukan empat fungsi tindak ilokusi yaitu, (1) fungsi tindak ilokusi kompetitif, (2) fungsi tindak ilokusi menyenangkan, (3) fungsi tindak ilokusi bekerja sama, (4) fungsi tindak ilokusi bertentangan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa wacana percakapan dalam novel tersebut merupakan wacana yang padu sehingga setiap partisipan dapat saling memahami maksud tuturan tersebut. Penelitian Gultom memberikan banyak masukan dari segi teori dan cara menganalisis data.
Yahya (2013) dalam skripsinya yang berjudul“Tindak Tutur Direktif dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Negeri 1 Mlati Sleman Yogyakarta”,Universitas Negeri Yogyakarta, membahas tentang tindak tutur direktif yang merupakan aspek penting yang digunakan dalam interaksi belajar mengajar. Teori yang digunakan dalam penelitiannya merupakan teori pragmatik.
Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu. Penelitiannya bersifat deskriptif. Hasil analisisnya menunjukkan bawa penggunaan jenis pertanyaan dan fungsi bertanya lebih banyak digunakan, apabila dibandingkan jenis dan fungsi tindak tutur direktif yang lain.
Penelitian Yahya memberikan sumbangan dari segi pengalaman dalam menganalisis tindak tutur di dalam interaksi belajar mengajar guru dan siswa.
Tarigan (2014) dalam skripsinya yang berjudul “Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif dalam Dialog Film Alangkah Lucunya Negeri Ini”, Universitas Sumatera Utara, menyatakan bahwa dari hasil analisis yang dilakukan teori pragmatis untuk menganalisa direktif dan pidato ekspresif tindakan dialog film dialog ini . Sumber data direkam untuk dialog film yang analisis dan data adalah teks lisan yang diucapkan oleh Deddy Mizwar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk
16
menganalisis data.Hasil analisis tindak tutur direktif yang terdapat dalam penelitian ini ialah mengajak, mempersilahkan, menasehati, menyuruh, menyarankan, melarang, dan mendesak. Sedangkan hasil analisis tindak tutur ekspresifnya ialah menyatakan terima kasih, permohonan, maaf, rasa takut, rasa kaget, terkejut, marah, rasa senang, dan menyatakan rasa memuji. Penelitian Tarigan memberikan kontribusi dalam segi cara menganalisis tindak tutur direktif dan ekspresif.
17 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi
Lokasi penelitian ini berada di SMP Negeri 1 Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Lokasi SMP Negeri 1 Pancur Batu ini cukup strategis karena terletak di pinggir jalan utama Jalan Jamin Ginting-Pancur Batu dan tidak jauh dari pusat pemerintahan Kecamatan Pancur Batu. Sekolah ini terdaftar sebagai salah satu sekolah negeri yang ada di Kecamatan Pancur Batu. Penulis memilih SMP Negeri 1 Pancur Batu agar mempermudah proses penelitian, karena penulis pernah bersekolah di sekolah tersebut.
3.1.2Waktu Penelitian
Dalam penelitian ini, guna memperoleh data, penelitian dilakukan dalam kurun waktu sebulan. Penelitian dilakukan bertahap sampai akhirnya dilakukan penelitian secara intensif terhadap objek penelitian tersebut.
3.2 Sumber Data
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan untuk memperoleh data mengenai tindak tutur direktif dan ekspresif yang digunakan dalam
18
interaksi belajar mengajar guru dan siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kelas VIII.Data yang ada pada penelitian ini adalah berupa dialog interaksi guru dan siswa di dalam kelas saat mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu. Objek penelitian adalah tindak tutur direktif dan ekspresif yang dituturkan oleh guru terhadap murid dan tuturan murid kepada guru.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.
Penggunaan metode deskriptif diharapkan dapat memberikan gambaran yang objektif tentang jenis-jenis tindak tutur di dalam interaksi guru dan siswa di kelas, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif ini digunakan untuk mendeskripsikan penggunaan bahasa, khususnya tindak tutur direktif dan ekspresif.
Dalam pengumpulan data, kualitas data sangat ditentukan oleh pengambilan data tersebut. Untuk itu, metode pengumpulan data merupakan cara yang digunakan untuk memperoleh data-data yang berkualitas. Dalam kaitannya untuk memperoleh data, data diperoleh dari sumber lisan. Data lisan diperoleh dengan cara menyimak tuturan guru terhadap siswa, tuturan siswa kepada guru, tuturan siswa dengan siswa dalam interaksi belajar mengajar dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak. Disebut
“metode simak” atau “penyimakan” karena memang berupa penyimakan: dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993: 133). Adapun teknik dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sadap. Pada praktiknya, penyimakan atau metode simak itu diwujudkan dengan penyadapan, maksudnya menyadap
19
penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang (Sudaryanto, 1993: 133). Metode simak memiliki teknik lanjutan yaitu teknik SBLC (Simak Bebas Libat Cakap). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik SBLC, yaitu peneliti tidak terlibatdalam dialog, konverensi, atau imbal wicara; jadi tidak ikut serta dalam proses pembicaraan orang-orang yang saling bicara. Peneliti hanya sebagai pemerhati yang dengan penuh minat tekun mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang-orang yang hanyut dalam proses berdialog (Sudaryanto 1993: 134).
Untuk teknik lanjutan, dapat dilakukan pula perekaman dengan voice recorder sebagai alatnya. Disamping perekaman itu, peneliti melakukan pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi. Kartu data tersebut dilengkapi dengan kode nomor data yang meliputi nomor rekam dan nomor urut tuturan guru. Penulis menggunakan kartu data ini untuk memudahkan klasifikasiatau pengelompokkan “kartu data”.
Nomor/data : 01.01
Hari/tanggal : Senin, 19 September 2016 Kelas: VIII - 1
Guru : Dra. MDS Tindak Tutur Direktif Perintah
Data :
Guru : “Silahkan, bukunya disimpankan ke dalam tas!”
20 Konteks :
Pada saat guru hendak memberikan ulangan harian, siswa dilarang membuka buku. Untuk itu, guru memerintahkan siswa untuk menyimpan bukunya ke dalam tas sebelum ulangan dimulai.
Keterangan:
Data tersebut dapat ditemukan dalam interaksi belajar mengajar pada nomor data 01 di kelas VIII, pada hari Rabu, 19 September 2016. Data penelitian ditulis dan dikelompokkan kemudian dianalisis.
Pada saat meneliti, peneliti membawa instrumen penelitian, antara lain buku, kartu data, dan voice recorder. Dalam proses penelitian, kemampuan dan wawasan peneliti menjadi kunci pokok dalam keberhasilan penelitian.
3.4 Metode dan Teknik Analisis Data
Tahap analisis data merupakan upaya sang peneliti menangani langsung masalah yang terkandung pada data (Sudaryanto, 1993: 6). Dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan metode padan. Metode padan adalah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (language) yang bersangkutan (Sudaryanto 1993: 13). Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi satuan kebahasaan menurut reaksi atau akibat yang terjadi atau timbul pada lawan atau mitra wicaranya ketika satuan kebahasaan itu dituturkan oleh penuturnya.
Dalam penelitian ini, teknik dasar yang digunakan untuk menganalisis data tersebut adalah teknik pilah unsur penentu atau teknik PUP yang memiliki suatu alat
21
yaitu daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh peneliti(Sudaryanto 1993: 21).
Kemudian untuk teknik lanjutan, penelitian ini menggunakan teknik baca markah atau BM sebagai teknik analisis. Dalam hal ini, yang dimaksudkan adalah: pemarkahan itu menunjukan kejatian satuan lingual atau identitas konstituen tertentu; dan kemampuan membaca peranan pemarkah itu (marker) berarti kemampuan menentukan kejatian yang dimaksud (Sudaryanto, 1993: 95).
Untuk menjawab pertanyaan pertama dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori tindak tutur direktif dan ekspresif menurut Searle. Metode yang digunakan berupa metode padan. Kemudian teknik dasar yang digunakan ialah teknik PUP (Pilah Unsur Penentu).Selanjutnya digunakan teknik lanjutan baca markah. Jenis tindak tutur ditentukan/dikelompokkan/dimarkahi oleh penanda-penanda tertentu dalam kelompoknya.
Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan bekal pengetahuan tentang tindak tutur direktif dan ekspresif dalam interaksi belajar mengajar. Kemudian data di pilih dan diklasifikasikan sesuai teknik berdasarkan jenis dan bentuknya. Setelah kegiatan memarkah data dilakukan, selanjutnya peneliti melakukan tahap analisis data.
Kegiatan analisis data dilakukan dengan menggunakan kartu data yang sudah tersedia.
1. Jenis Tindak Tutur Direktif dalam interaksi belajar mengajar guru dan siswa di SMP Negeri 1 Pancur Batu
a. Perintah
Tindakan perintah menindikasi bahwa ketika mengucapkan suatu tuturan, penutur menghendaki mitra tutur untuk melakukan perbuatan. Penutur mengekspresikan keinginan bahwa ujarannya dalam hubungan di atas posisi mitra tutur, merupakan alasan yang cukup untuk mitra tutur melakukan tindakan.
22
(1) Guru : “Silahkan, bukunya disimpankan ke dalam tas!”
Siswa : (Diam dan menyimpan buku ke dalam tas.) Data No. 01.01
Konteks:
Pada saat siswa hendak ulangan harian, ia masih meletakkan bukunya di atas meja. Kemudian guru memerintahkan untuk menyimpan bukunya ke dalam tas karena tidak boleh membuka buku saat ulangan.
Data (1) merupakan proses interaksi yang dilakukan guru kepada siswanya. Apa yang diekspresikan guru merupakan kepercayaan bahwa ujarannya mengandung alasan yang cukup bagi siswa untuk melakukan tindakan. Guru sebagai penutur memberi anggapan bahwa ia sebagai guru memiliki kewenangan yang lebih tinggi daripada siswa. Tuturan tersebut mengandung maksud agar siswa segera menyimpan bukunya ke dalam tas karena pada saat ulangan, siswa tidak diperkenankan membuka buku.Tindak tutur tersebut digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata
“silahkan”.
Dari hasil analisis pertama, barulah analisis permasalahan kedua dan ketiga dapat kemudian dilakukan. Untuk selanjutnya peneliti dapat menghitung secara kuantitatif tindak tutur mana yang lebih dominan dan menganalisis sebab tindak tutur tersebut lebih dominan.
Untuk menjawab pertanyaan kedua dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sistem hitungan sederhana untuk mendapatkan tindak tutur mana yang lebih dominan di antara tindak tutur direktif dan ekspresif melalui hasil analisis permasalahan pertama.
Untuk menjawab pertanyaan ketiga, penelitian ini menggunakan teori tindak tutur dalam interaksi di dalam kelas. Interaksi antara guru dan murid di dalam kelas
23
diinterpretasi dari jumlah yang di dapat pada jawaban pertanyaan kedua. Hasil interpretasi akan menjadi jawaban terhadapan kedominanan jenis tindak tutur terlebih digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar.
2.4 Metode Penyajian Data
Metode penyajian data yang peneliti gunakan adalah metode dengan penyajian informal dan dengan formal. Metode penyajian informal adalah penyajian data dengan kata-kata biasa, Metode sajian informal dimaksudkan sebagai cara penyajian hasil dengan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993:145). Dengan demikian, sajian hasil analisis data dalam penelitian ini tidak memanfaatkan berbagai lambang, tanda, singkatan, seperti yang biasa digunakan dalam metode penyajian hasil analisis data secara formal.Metode sajian informal digunakan dalam menuangkan hasil analisis pada tulisan ini karena pada dasarnya penelitian ini tidak memerlukan notasi formal sedangkan metode penyajian formal adalah perumusan dengan tanda atau lambang.Contohnya tanda kurung biasa (()), tanda petik (“), tanda apostrof („) dan tanda lainnya.
24
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu
Data-data yang diperoleh dan dibahas merupakan tindak tutur direktif dan ekspresif yang digunakan pada saat interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu.
4.1.1 Tindak Tutur Direktif dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu
Jenis tindak tutur direktif yang terjadi dalam interaksi belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu akan dideskripsikan pada bagian ini.
a. Meminta
Tindak tutur direktif meminta menunjukkan bahwa dalam mengucapkan sesuatu tuturan , penutur meminta kepada mitra tutur untuk melakukan suatu perbuatan. Penutur mengekspresikan keinginan dan maksud agar mitra tutur melakukan tindakan atas keinginan penutur. Tindak tutur direktif meminta dapat dilihat pada data berikut.
1. Guru : “Pertemuan selanjutnya, ibu mau semuanya sudah menyelesaikan tugas-tugas di LKS kalian di rumah agar disini tinggal kita
bahas.”
25 Siswa : “Iya buk..”
Konteks :
Saat guru dan siswa sedang membahas soal-soal di dalam LKS, guru memotong pembicaraan dengan meminta siswa untuk pertemuan
selanjutnya sudah menyelesaikan semua tugas yang ada di LKS di rumah agar di sekolas tugas-tugas tersebut hanya tinggal dibahas saja.
Data (1) merupakan interaksi yang dilakukan guru terhadap siswa. Tuturan guru pada data (1) mengekspresikan keinginannya agar siswa melakukan tindakan.
Tuturan guru tersebut mengandung maksud bahwa ia meminta kepada semua siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada di dalam LKS di rumah agar dalam pertemuan selanjutnya di sekolah, guru dan siswa hanya tinggal membahasnya saja.
Tindak tutur tersebut digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “mau”.
2. Guru : “Baiklah, sekarang ibu minta yang ibu panggil namanya jawab pertanyaan yang akan ibu berikan untuk nilai tambahan ya.”
Siswa : (diam dan membuka-buka bukunya) Konteks:
Setelah guru mengulang apa yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, guru meminta siswa yang dipanggil namanya untuk menjawab pertanyaan yang akan ia berikan sebagai nilai tambahan bagi siswa.
Data (2) merupakan interaksi yang dilakukan guru terhadap siswa. Tuturan guru pada data (2) mengekspresikan keinginannya agar siswa melakukan tindakan.
Tuturan guru tersebut mengandung arti bahwa ia meminta kepada siswa yang dipanggil
26
namanya agar menjawab pertanyaan yang diberikan sebagai nilai tambah bagi siswa.
Tindak tutur tersebut digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “minta”.
b. Memerintahkan
Tindak tutur direktif memerintahkan mengindikasikan bahwa ketika mengucapkan suatu tuturan, penutur menghendaki mitra tutur untuk melakukan perbuatan. Penutur mengekspresikan bahwa ujarannya dengan hubungan dengan posisi di atas mitra tutur, merupakan alasan yang cukup bagi mitra tutur untuk melakukan tindakan. Penutur mengekspresikan maksud agar mitra tutur
melakukan tindakan (paling tidak sebagian) dari keinginan penutur. Tindak tutur direktif perintah dapat dilihat pada data berikut.
3. Guru : “Silahkan baca-baca dulu bukunya selama sepuluh menit!”
Siswa : (membuka dan membaca buku) Konteks:
Sebelum guru memulai pelajaran hari ini, guru memerintahkan kepada siswa untuk membaca bukunya terlebih dahulu selama sepuluh menit.
Data (3) merupakan interaksi yang dilakukan guru terhadap siswa. Apa yang diekspresikan oleh guru adalah kepercayaan bahwa ujarannya mengandung alasan yang cukup bagi siswa untuk segera melakukan tindakan. Guru sebagai penutur memberikan anggapan bahwa ia memiliki kewenangan yang lebih tinggi daripada siswa.
Pada data (3) mengandung maksud agar siswa membaca bukunya terlebih dahulu selama sepuluh menit sebelum guru memulai pelajaran hari ini. Tindak tutur
27
pada data (3) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata
“silahkan”.
4. Guru : “Silahkan yang ingin bertanya!”
Siswa : (bertanya) Konteks:
Setelah guru selesai memberikan penjelasan mengenai drama kepada siswa, guru memerintahkan siswa agar memberikan pertanyaan apabila ada yang masih belum dipahami.
Data (4) merupakan interaksi yang dilakukan guru terhadap siswa.Apa yang diekspresikan oleh guru adalah kepercayaan bahwa ujarannya mengandung alasan yang cukup bagi siswa untuk segera melakukan tindakan. Guru sebagai penutur memberikan anggapan bahwa ia memiliki kewenangan yang lebih tinggi daripada siswa.
Pada data (4) mengandung maksud agar siswa memberikan pertanyaan apabila ada yang masih belum dipahami oleh siswa. Tindak tutur pada data (4) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “silahkan”.
5. Guru : “Perhatikan saya menjelaskan!”
Siswa : (memperhatikan) Konteks :
Saat guru sedang menerangkan pelajaran di depan kelas, salah satu siswa terlihat sedang sibuk dengan urusan lain. Guru pun bertanya tentang apa yang baru saja ia terangkan, namun siswa tersebut tidak dapat menjawabnya.
28
Kemudian guru terlihat kesal dan memerintahkan siswa tersebut untuk memperhatikannya saat ia sedang menerangkan pelajaran.
Data (5) merupakan interaksi yang dilakukan guru terhadap siswa. Apa yang diekspresikan oleh guru adalah kepercayaan bahwa ujarannya mengandung alasan yang cukup bagi siswa untuk segera melakukan tindakan. Guru sebagai penutur memberikan anggapan bahwa ia memiliki kewenangan yang lebih tinggi daripada siswa.
Pada data (5) mengandung maksud agar siswa memperhatikan guru saat sedang menerangkan. Tindak tutur pada data (5) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “perhatikan”.
6. Siswa : “Berikan salam kepada ibu guru kita!”
Siswa : (mengucapkan salam) Konteks :
Pada saat akan memulai kegiatan belajar mengajar, setelah berdoa, siswa diwajibkan memberi salam terlebih dahulu kepada guru sebagai ucapan rasa hormat siswa terhadap guru.
Data (6) merupakan interaksi yang dilakukan siswa terhadap siswa. Apa yang diekspresikan oleh salah seorang siswa yang merupakan ketua kelas adalah kepercayaan bahwa ujarannya mengandung alasan yang cukup bagi siswa lain untuk segera
melakukan tindakan. Ketua kelas sebagai penutur memberikan anggapan bahwa ia memiliki kewenangan yang lebih tinggi daripada siswa lain.
Pada data (6) mengandung maksud agar para siswa memberikan ucapan selamat pagi kepada guru sebelum memulai kegiatan pembelajaran. Tindak tutur pada
29
data (6) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata
“berikan”.
c. Mempertanyakan
Tindak tutur direktif mempertanyakan mengandung pengertian bahwa penutur memohon kepada mitra tutur agar memberikan informasi tertentu.
Berdasarkan ciri formalnya, pola intonasi kalimat tanya ditandai dengan tanda (?). Ciri lain yang menandai kalimat tanya adalah penggunaan kata tanya seperti:
apa, siapa, dimana, kemana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Tindak tutur direktif pertanyaan dapat dilihat pada data berikut.
7. Guru : “Coba Rizky! pengertian drama apa?”
Siswa : (menjawab) Konteks:
Setelah guru mengulang apa yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, guru kemudian bertanya kepada salah seorang siswa apa pengertian drama.
8. Guru : “Revina, apa saja yang termasuk ke prosa?”
Siswa : (menjawab) Konteks:
Setelah guru mengulang apa yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, guru kemudian bertanya kepada salah seorang siswa apa saja yang termasuk ke dalam prosa.
30
9. Guru : “Coba Mesa! apa ciri pantun pantun?”
Siswa : (menjawab) Konteks:
Setelah guru mengulang apa yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, guru kemudian bertanya kepada salah seorang siswa apa ciri pantun.
10. Guru : “Coba dulu kamu! apa persyaratan sebuah syair?”
Siswa : (menjawab) Konteks:
Setelah guru mengulang apa yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, guru kemudian bertanya kepada salah seorang siswa apa persyaratan sebuah syair.
11. Guru : “Dora, semalam kemana kok gak datang?”
Siswa : (menjawab) Konteks:
Pada saat guru sedang memberikan pertanyaan dengan cara menunjuk salah satu siswa untuk menjawab, guru menunjuk salah seorang siswa untuk menjawab pertanyaan yang akan diberikan, namun sebelumnya guru bertanya kepada siswa tersebut mengapa kemarin ia tidak hadir ke sekolah.
12. Guru : “Oke Dora, apa syarat pantun?”
Siswa : (menjawab)
31 Konteks :
Setelah guru mengulang apa yang telah disampaikan pada pertemuan
sebelumnya, guru kemudian bertanya kepada salah seorang siswa apa syarat pantun.
13. Siswa : “Buk, unsur instrinsik itu bagaimana buk?”
Guru : (menjawab) Konteks:
Setelah guru selesai memberikan penjelasan mengenai drama kepada siswa, guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya. Kemudian salah satu siswa mengangkat tangannya dan bertanya kepada guru bagaimana yang dimaksud dengan unsur intrinsik dalam drama.
Data (7), (8), (9), (10), (11), dan (12) merupakan interaksi yang dilakukan guru terhadap siswa. Tuturan pada data (7), (8), (9), (10), dan (12) merupakan tuturan yang mengandung arti bahwa guru menginginkan siswa yang ditunjuk mampu menjawab pertanyaan yang diberikan. Penutur mengekspresikan pertanyaan untuk meyakinkan bahwa pelajaran yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya masih dapat diingat oleh siswa. Tindak tutur pada data (7), (8), (9), (10), dan (12) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “apa”.
Pada data (11), penutur mengerkspresikan pertanyaan agar mitra tutur memberikan informasi berkenaan dengan ketidak hadirannya kemarin. Tindak tutur pada data (11) digolongkan sebagai jenis tindak tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “kemana”.
32
Data (13) merupakan interaraksi yang dilakukan siswa terhadap guru. Tuturan pada data (13) merupakan tuturan yang mengandung arti bahwa siswa ingin guru menjawab apa yang belum diketahui atau dipahami oleh siswa. Tindak tutur pada data (13) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata
“bagaimana”.
d. Melarang
Tindak tutur direktif melarang merupakan suatu tindakan yang
menunjukkan bahwa ketika mengucapkan suatu ekspresi penutur melarang mitra tutur untuk melakukan tindakan. Tindak tutur direktif melarang dapat dilihat pada data berikut.
14. Guru : “Jangan berisik ketika temannya menjawab!”
Siswa : (diam) Konteks:
Saat guru menunjuk dan memberikan pertanyaan kepada Dora, namun ada siswa lain yang berisik mengganggu Dora yang sedang berusaha menjawab pertanyaan guru. Kemudian guru pun melarang siswa yang mengganggu tersebut dengan menegurnya agar tidak berisik ketika siswa lain sedang menjawab.
Data (14) merupakan interaksi yang dilakukan guru kepada siswa. Tuturan tersebut mengandung arti bahwa guru melarang salah seorang siswa untuk berisik pada saat siswa lainnya sedang menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Tindak tutur pada data (14) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata
“jangan”.
33
15. Guru : “Jangan ganggu temanmu yang mau belajar!”
Siswa : (diam) Konteks:
Saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung, beberapa siswa laki-laki terlihat sibuk mengobrol di bangkunya sehingga mengganggu konsentrasi siswa lainnya yang sedang fokus mendengarkan guru menerangkan di depan kelas. Guru pun menegur siswa tersebut agar jangan berisik karena akan mengganggu teman lainnya yang sedang fokus belajar.
Data (15) merupakan interaksi yang dilakukan guru kepada beberapa siswa yang dianggap membuat keributan di kelas. Tuturan tersebut mengandung arti bahwa guru melarang siswa untuk tidak mengganggu siswa lainnya yang sedang fokus belajar.
Tindak tutur pada data (15) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “jangan”.
e. Menyuruh
Tindak tutur menyuruh menunjukkan bahwa dalam mengucapkan sesuatu tuturan , bentuk menyuruh digunakan penutur untuk menyuruh mitra tutur untuk melakukan suatu perbuatan. Tindak tutur menyuruh dapat dilihat pada data berikut.
16. Guru : “Tolong simak! Karena ini nanti masuk dalam ujian kalian.”
Siswa : (diam dan menyimak apa yang diterangkan oleh guru) Konteks :
Saat guru sedang membacakan teks yang ada di buku sekaligus
menerangkannya kepada siswa, ada salah seorang siswa yang sibuk dengan
34
urusan lain. Guru pun menyuruh siswa tersebut untuk menyimak bukunya karena yang diterangkan oleh guru saat itu merupakan bahan ujian.
17. Guru : “Dengarkan ya, nak!”
Siswa : (diam dan mendengarkan) Konteks :
Saat guru sedang membacakan teks yang ada di buku sekaligus
menerangkannya kepada siswa, ada salah seorang siswa yang sibuk dengan urusan lain. Guru pun menyuruh siswa tersebut untuk mendengarkan apa yang sedang dibacakan dan diterangkan oleh guru di depan kelas.
Data (16) dan (17) merupakan interaksi yang dilakukan guru kepada siswa.
Tuturan pada data (16) dan (17) dimaksudkan guru kepada salah satu siswa yang dimaksud untuk melakukan suatu tindakan.
Pada data (16) mengandung arti bahwa guru menyuruh salah seorang siswa untuk menyimak bukunya, sebab itu merupakan bahan yang masuk dalam ujian nanti.
Dan pada data (17) mengandung arti bahwa guru menyuruh salah seorang siswa untuk mendengarkan apa yang ia terangkan di depan kelas. Tindak tutur pada data (16) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “tolong”, sedangkan pada data (17) juga digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “dengarkan ya, nak!
18. Guru : “Kutip dulu sampah di dekat meja kalian itu!”
Siswa : (melihat sekitar meja dan mengutip sampah).
Konteks :
35
Saat pembelajaran belum dimulai, guru memerintahkan siswa untuk memperhatikan sampah sekelilingnya, agar saat proses belajar mengajar, guru dan siswa nyaman dengan kelas yang bersih.
Data (18) merupakan interaksi yang dilakukan guru kepada siswa. Tuturan pada data (18) dimaksudkan guru kepada seluruh siswa untuk melakukan suatu tindakan.
Pada data (18) mengandung arti bahwa guru menyuruh seluruh siswa untuk memperhatikan dan memunguti apabila ada sampah disekeliling meja mereka. Tindak tutur pada data (18) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “kutip dulu”.
f. Memohon
Tindak tutur direktif memohon menunjukkan bahwa dalam
mengucapkan sesuatu tuturan , penutur memohon kepada mitra tutur untuk melakukan suatu perbuatan. Penutur mengekspresikan permohonan dan maksud agar mitra tutur melakukan tindakan atas keinginan penutur. Tindak tutur direktif memohon dapat dilihat pada data berikut.
19. Siswa : “Buk, izin ke toilet bentar boleh ya, buk?”
Guru : “iya, silahkan.”
Konteks :
Pada saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, salah seorang siswa tiba-tiba maju ke depan dan memohon izin untuk pergi ke toilet kepada guru.
Data (19) merupakan interaksi yang dilakukan siswa terhadap guru. Tuturan siswa pada data (19) mengekspresikan permohonannya agar guru melakukan suatu
36
tindakan. Tuturan siswa tersebut mengandung maksud bahwa ia meminta kepada guru agar diberikan izin pergi ke toilet sebentar. Tindak tutur tersebut digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “boleh ya, buk?”.
g. Menyarankan
Tindak tutur direktif menyarankan menunjukkan bahwa dalam
mengucapkan sesuatu tuturan , penutur menyarankan kepada mitra tutur untuk melakukan suatu perbuatan. Penutur menyarankan kepada mitra tutur dengan maksud agar mitra tutur melakukan tindakan atas keinginan penutur. Tindak tutur direktif menyarankan dapat dilihat pada data berikut.
20. Guru : “Banyak-banyaklah belajar dirumah, Dinan!”
Siswa : “Iya buk.”
Konteks :
Pada saat guru sedang memberikan pertanyaan sebagai nilai tambahan kepada siswa, guru menunjuk salah seorang siswa untuk menjawab pertanyaan yang diberikan, namun siswa tersebut tidak dapat menjawab pertanyaan yang diberikan. Guru pun memberikan saran kepada siswa tersebut agar banyak belajar di rumah.
Data (20) merupakan interaksi yang dilakukan guru terhadap siswa. Tuturan guru pada data (20) merupakan pemberian saran agar siswa melakukan suatu tindakan.
Tuturan guru tersebut mengandung maksud bahwa ia menyarankan kepada siswa agarrajin belajar di rumah. Tindak tutur tersebut digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “banyak-banyaklah belajar”.
37 h. Menuntut
Tindak tutur direktif menuntut adalah tindak tutur yang digunakan penutur untuk menyuruh mitra tutur melakukan hal yang disebutkan dalam tindak tutur yang dilakukan penutur. Dalam pembelajaran di kelas, guru
menggunakan bentuk tindak tutur direktif menuntut agar agar siswa aktif dalam pembelajaran.Tindak tutur direktif menuntut dapat dilihat pada data berikut.
21. Guru : “Oh iya! Untuk tugas yang minggu kemarin ibu kasih, bawa hari Kamis, dan jangan sampai ada alasan tinggal.”
Siswa : “Iya buuk.”
Konteks :
Saat hendak mengakhiri kegiatan pembelajaran, guru mengingatkan kepada siswa bahwa tugas yang minggu kemarin diberikan untuk dibawa pada hari kamis.
Data (21) merupakan interaksi yang dilakukan guru kepada siswa.Guru melakukan tuturan yang bermaksud menuntut siswa melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Tuturan tersebut mengandung arti bahwa guru menuntut siswa untuk membawa tugas yang telah diberikan minggu lalu pada hari kamis. Tindak tutur pada data (21) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata
“bawa”.
38
22. Guru : “Kalau membaca itu harus diperhatikan titik dan komanya. Jangan seperti kereta api!”
Siswa : “Iya buk.”
Konteks :
Saat salah seorang siswa sedang membaca kuat bukunya di dalam kelas,kemudian guru memotongnya. Guru menuntut agar siswa tersebut membacadengan memperhatikan titik dan koma dpada teks bacaan.
Data (22) merupakan interaksi yang dilakukan guru kepada siswa di dalam kelas. Guru melakukan tuturan yang bermaksud menuntut siswa melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Tuturan tersebut mengandung arti bahwa guru menuntut siswa untuk harus memperhatikan titik dan koma saat membaca. Tindak tutur pada data (22) digolongkan sebagai jenis tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata
“harus”.
i. Mengajak
Tindak tutur direktif mengajak adalah tindak ketika mengucapkan suatu ekspresi, penutur mengajak penutur untuk melakukan tindakan. Penutur
mengekspresikan bahwa mitra tutur dimaksudkan mengikuti apa yang diinginkan oleh penutur.
23. Siswa : “Sebelum memulai pelajaran hari ini, marilah kita berdoa menurut
39
kepercayaan dan keyakinan kita masing-masing. Doa dimulai!”
Siswa : (berdoa) Konteks :
Sebelum memulai pelajaran pada pagi itu, salah seorang siswa selaku ketua kelas memimpin seluruh siswa untuk berdoa sebelum memulai pelajaran pada pagi hari itu.
Data (23) merupakan interaksi siswa terhadap siswa di dalam kelas sebelum memulai pelajaran. Tuturan tersebut mengandung maksud untuk mengajak seluruh siswa dan guru untuk memanjatkan doa menurut agama dan kepercayaannya masing- masing sebelum memulai pelajaran pada hari itu. Tindak tutur tersebut digolongkan sebagai tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kata “marilah”.
j. Memberi Nasihat
Tindak tutur direktif memberi nasihat adalah tindak tutur ketika mengucapkan suatu ekspresi, penutur menasihati mitra tutur untuk melakukan tindakan. Penutur mengekspresikan bahwa terdapat alasan bagi mitra tutur untuk melakukan tindakan. Apa yang diekspresikan penutur adalah kepercayaan akan suatu tindakan yang baik untuk kepentinganmitra tutur. Tindak tutur pemberian nasihat dapat di lihat pada data berikut.
24. Guru : “Jangan kalian kecewakan keringat orang tua yang susah payah menyekolahkan kalian, nak!”
Siswa : (diam dan mendengarkan)
40 Konteks :
Pada saat guru sedang menerangkan di depan kelas, beberapa siswa terlihat sibuk melakukan urusan lain sehingga kelas menjadi tidak kondusif. Guru pun menasihati para siswa dengan menasihati agar jangan sampai orang tua yang bersusah payah menyekolahkan anak-anaknya dibuat kecewa.
Data (24) merupakan interaksi guru terhadap siswa di dalam kelas. Tuturan tersebut mengandung maksud untuk menasihati siswa agar tidak mengecewakan orang tua yang sudah bersusah payah menyekolahkan anak-anaknya. Tindak tutur tersebut digolongkan sebagai tindak tutur direktif yang dimarkahi oleh kalimat“Jangan kalian kecewakan keringat orang tua yang susah payah menyekolahkan kalian, nak!”
4.1.2 Tindak Tutur Ekspresif dalam Interaksi Belajar Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Pancur Batu
Tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang menggambarkan apa yang penutur rasakan yaitu apa yang guru atau siswa rasakan ketika berbicara dan mengungkapkannya secara spontanitas yang mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis penutur terhadap suatu keadaan baik itu keadaan yang meliputi rasa syukur, gembira, khawatir ataupun rasa tidak suka dengan suatu hal.Menurut Searle ( dalam Tarigan, 1987: 47), tuturan ekspresif memiliki beberapa fungsi yang terdiri dari mengucapkan terimakasih, mengucapkan selamat, memaafkan, menyanjung, mengampuni, menyalahkan, memuji, menyatakan belasungkawa.
a. Mengucapkan Selamat
41
Tindak tutur ekspresif ucapan selamat merupakan tindak tutur yang terjadi karena beberapa faktor, yakni penutur mendapatkan sesuatu yang istimewa, penutur memberikan sambutan istimewa kepada mitra tutur, atau sebagai sambutan atau salam penanda waktu. Tuturan ekspresif menucapkan selamat dapat di lihat pada data berikut.
25. Siswa : “Selamat pagi bu.”
Guru : “Pagi.”
Konteks :
Pada saat guru memasuki kelas dan berada di mejanya, ketua kelas berdiri memimpin seluruh siswa untuk mengucapkan salam kepada guru. Siswa pun mengucapkan selamat pagi kepada guru, sebab waktu menunjukkan pukul 07:40 WIB pada saat itu.
Data (25) merupakan interaksi siswa terhadap gurudi kelas. Tuturan tersebut merupakan pemberian ucapan selamat siswa kepada guru sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.
Kata „selamat‟ sebenarnya merupakan pemberian salam agar mudah-mudahan orang yang bersangkutan dalam keadaan baik, sehat, dan sejahtera. Pada data (24), tuturan selamat malam mengandung arti mudah-mudahan selamat di pagi hari. Tindak tutur tersebut digolongkan sebagai tindak tutur ekspresif yang dimarkahi oleh kata
“selamat”.